Wednesday, April 15, 2026
More
    Home Blog Page 166

    FKRK: Evaluasi & Progja Panitia Sidang Pleno FKRK Masa Bakti 2021-2024

    Suasana Pertemuan Badan Pengurus dan Panitia Sidang Pleno FKRK Tahun 2021-2024. @komsoskap

    MajalahDUTA.Com,Pontianak- Di Provinsi Kalbar ada forum kerjasama lintas tarekat religius yang biasa disebut FKRK (Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat).

    Badan pengurus FKRK lintas ordo, kongregasi religius ini diwakili oleh para Provinsial/Pemimpin Umum Kongregasi/Ordo yang ada di Kalimantan Barat.

    FKRK ini biasanya mengemban tugas kepengurusan dalam periode empat tahun. Setelah masa bakti berakhir maka kepengurusan akan dipilih kembali.

    Bertempat di Rumah Retret St. Fransiskus Assisi Tirta Ria Pontianak, dilaksanakan pertemuan untuk mempersiapkan sidang pleno pemilihan kepengurusan FKRK yang baru.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Hadiri Misa Perdana Dua Imam Diosesan di Stasi St. Yosef Pagung Nahaya

    Dalam pengantar, Ketua FKRK sekaligus Pemimpin Umum Kongregasi Bruder MTB (Maria tak Bernoda), Br. Rafael MTB, menyampaikan bahwa ada dua agenda pertemuan yang dimulai pada Minggu sore 28 Maret 2021, pukul 15.00 WIB ini yakni:

    • Evaluasi program Kursus Gabungan Novis (KGN) 2020
    • Program kerja panitia sidang pleno pemilihan Badan Pengurus FKRK untuk periode empat tahun kedepan (2021-2024).

    Berikut ini jajaran badan pengurus FKRK Periode 2018-2021 yang hadir:

    • Ketua Br. Rafael MTB
    • Sekretaris: P. Herman Mayong OFM.
    • Bendahara: Sr. Irene SFIC dalam hal ini dihadiri oleh Sr. Yulita Imelda SFIC
    • Anggota: Sr. Kristina Unau SMFA

    Pertemuan ini juga dihadiri oleh para pengurus KGN:

    • Gabriella OSA
    • Immaculata SFIC
    • Yuli SMFA
    • Yulita KFS

    Dalam evaluasi, Sr. Gabriella OSA selaku ketua KGN menyampaikan laporan kegiatan KGN selama tahun 2020.

    Baca Juga: Mgr. Agus Ucapkan Terima Kasih untuk Indonesia Award Center

    Suster dari Ordo Agustinian ini mengatakan bahwa dari hasil evaluasi para formasi (Novis) setiap kongregasi secara umum merasa sangat senang dengan kegiatan KGN ini melalui perjumpaan maupun melalui materi-materi yang diberikan oleh para dosen.

    “Dengan adanya KGN ini para formasi memiliki wawasan yang luas untuk mendalami semangat kongregasi masing-masing. Selain itu mereka merasa diperkaya satu sama lain,” ungkap Sr. Gabriella OSA.

    Senada juga dengan pengalaman yang disampaikan oleh Suster Magistra Novis Kongregasi Suster Misionaris St. Antonius Padua (SMFA), Sr. Yuli SMFA.

    “Para novis ini juga memiliki semangat dan kebanggaan/kecintaan dengan kongregasi masing-masing,” pungkasnya.

    Menanggapi hasil evaluasi dari para formator ini, maka para badan pengurus FKRK bersama para pengurus KGN memutuskan bahwa kegiatan KGN 2021 dalam masa pandemi ini tetap akan dilaksanakan. Namun demikian, harus mengindahkan protokol kesehatan.

    Panitia Pleno FKRK 2021-2024

    Berdasarkan hasil rapat pengurus FKRK, 17 Maret 2021 yang lalu, yakni mengingat kepengurusan FKRK periode 2018-2021 akan segera berakhir.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan: Kematian adalah Jalan Menuju Hidup Kekal

    Maka dalam pertemuan yang berlangsung di Aula St. Bonaventura, Jl. Sepakat II ini dibentuk panitia rapat pleno pengurus FKRK.

    Rapat sidang pleno ini rencananya akan diadakan pada tanggal 15 Juni 2021 mendatang.

    Dalam pengantar yang disampaikan oleh Minister Provinsial Kapusin sekaligus Sekretaris FKRK, P. Hermanus Mayong OFM.Cap mengatakan bahwa ada dua agenda dalam rapat pleno pemilihan pengurus FKRK pada 15 Juni 2021 mendatang yakni:

    • Seminar tentang Ensiklik Fratelli Tuti dengan narasumber P. William Chang OFM. Cap
    • rapat sidang pleno pemilihan pengurus FKRK masa bakti 2021-2024

    Baca Juga: Memahami Iman Kristen dari Sudut Pandang Apologetika

    “Tamu undangan yang akan hadir yakni para formator; sekolah-sekolah, rumah pembinaan, dan asrama,” tutur P. Hermanus Mayong OFM. Cap.

    Namun mengingat situasi pandemi, tamu undangan akan dibatasi. Masing-masing Kongregasi/Ordo mengutus perwakilan dan tidak melebihi kuota yang sudah ditentukan oleh panitia.

    Pertemuan diakhiri dengan makan malam bersama di Rumah Retret St. Fransiskus Assisi Tirta Ria Pontianak. Sr. Maria Seba SFIC_KomsosKAP

    Memahami Iman Kristen dari Sudut Pandang Apologetika

    Albertus Chandra, Mahasiswa Magister Fisip Untan, Bekerja sebagai Owner Ranum & Dialekita (Sablon & Cloth). @komsoskap

    Oleh: Albertus Chandra, Mahasiswa Magister FISIP Untan, Owner Ranum Dialekita (Sablon dan Cloth)

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Kebangkitan era modern pada abad ke-17 sampai abad ke-19 cenderung mengutamakan rasionalitas sebagai dasar dari pikiran manusia. Oleh sebab itu, sulit rasanya bagi kita para umat kristiani di era ini untuk memahami iman kristen tanpa bertolak belakang dengan rasionalitas yang diwariskan oleh era modern di masa lampau. Munculnya kaum ateis baru beberapa tahun silam (tahun 2006) ikut meramaikan suasana, dengan memberikan kritik pedas dan menusuk hati umat-umat beragama, yang secara tidak langsung memperlemah keimanan Kristen pada setiap masing-masing umat Kristiani. Segala pengetahuan atas dunia diserahkan pada rasio dan nalar manusia tanpa mempertimbangkan potensi spiritual yang ada di dalam diri manusia.

    Salah satu kritik yang lumayan pedas terlontar dari argumen salah satu ateis militan, yaitu Richard Dawkins. Richard Dawkins menganggap bahwa “iman kepada Allah itu irasional”, baginya iman adalah tentang melarikan diri dari bukti, menyembunyikan kepala anda dalam pasir, dan menolak untuk berpikir. Hal tersebut menjadi sangat wajar di era pascamodernisasi saat ini, karena pada dasarnya para kaum ateis jelas lebih mempercayai rasionalitas daripada Allah yang mereka anggap hanya sekedar delusi semata. Namun pendapat tersebut mendapatkan kritik pula dari seorang apologis kristen, yaitu Aliester E. McGrath.

    Baca Juga: Apa Makna “Jalan Salib” Bagi Umat Katolik?

    Dalam bukunya yang berjudul “MERE APOLOGETICS : HOW TO HELP SEEKERS AND SKEPTICS FIND FAITH” tahun 2017, ia berkata bahwa hasil pengamatan dari Richard Dawkins masihlah terlihat dangkal, ateisme baru ini ternyata belum memiliki kepercayaan dan dogma yang belum terbukti dan tidak dapat dibuktikan, sama seperti pandangan lain.

    Kepercayaan 

    Mengapa Aliester dapat berpikir demikian? Mengapa Aliester berani menentang argumen ateisme di era yang telah dikuasai oleh kebutaan rasionalitas modern saat ini? Jawabannya adalah, karena Aliester memiliki ilmu apologetika untuk membela iman kristen dalam keadaan yang telah dikuasai oleh rasionalitas modern saat ini, yang cenderung mengenyampingkan Tuhan dalam setiap lini kehidupan kita, lantas apa itu apologetika?

    Apologetika berasal dari bahasa Yunani, yang bermakna “pembelaan, jadi apologetika dapat diartikan sebagai ilmu mengenai pembelaan iman kristen. Ilmu ini berusaha menjawab pernyataan sikap kaum skeptisme yang meragukan keberadaan Allah atau menyerang kepercayaan terhadap Allah yang terdapat pada Alkitab. Apologetika juga merujuk pada injil 1 Petrus 3:15, yang berbunyi; “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lembut dan hormat”

    Apologetika tidak semata hadir untuk membela iman kristen dari luar kristen saja, tetapi juga dapat digunakan sebagai pembelaan iman di dalam Kristen, bahkan sebagai pembelaan iman terhadap pikiran skeptis yang ada dalam diri kita sendiri. Dengan apologetika, kita dapat melihat bahwa ternyata iman kristen tidaklah selalu bertolak belakang dengan rasionalitas, bahkan iman kristen memungkinkan kita untuk melangkah lebih maju daripada rasionalitas, serta akan terasa lebih mencerahkan bila digunakan bersandingan dengan rasionalitas, ketimbang hanya mengandalkan rasio dari kaum ateis yang terasa suram dan kosong.

    Pembelaan 

    Walaupun begitu, apologetika tetap memiliki batasan-batasan tertentu. Sebab apologetika hanya hadir untuk menunjukkan jalan bagi para pencari kebenaran dari iman Kristen, namun apologetika sama sekali tidak memiliki kuasa untuk menyembuhkan kekosongan dalam hati pencarinya. Tuhan sendirilah yang jauh lebih layak dalam mengerjakan hal tersebut.

    Baca Juga: MENGENAL SOSOK USKUP AGUNG PONTIANAK, MGR. AGUSTINUS AGUS

    Apologetika dapat dianalogikan sebagai seorang dokter yang memberi resep obat pada seorang yang sedang sakit, serta obat itu sendiri dapat kita analogikan sebagai Tuhan. Pada kenyataanya, seorang dokter hanya mengarahkan orang sakit tersebut untuk mengkonsumsi obat-obatan tertentu, namun obat itu sendirilah yang menyembuhkan penyakit orang tersebut. Apologetika hanya mengarahkan kita pada resep-resep kebenaran, namun Tuhan sendirilah yang akan menyembuhkan kita dan mempertemukan kita pada kebenaran.

    Masih meminjam analogi dari dokter dan obat, jika seorang dokter harus memperhatikan dan memahami pendengarnya, maka apologis juga harus memperhatikan dan memahami pendengar. Seorang dokter haruslah memahami pasiennya, dengan begitu dokter tersebut dapat mengetahui dengan tepat jenis obat dan dosis obat seperti apa yang cocok diberikan kepada pasien. Begitu pula seorang apologis, haruslah memperhatikan dan memahami pendengarnya agar dapat mengetahui dengan tepat metode ber-apologetika seperti apa yang harus digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pendengarnya.

    Setiap apologetika haruslah disesuaikan dengan kemampuan individu yang mendengarnya. Bagi kita yang hidup di era saat ini, apologetika yang digunakan juga cenderung berbeda dengan apologetika di zaman Para Rasul, namun maknanya haruslah tetap sama. Perbedaan metode ber-apologetika tersebut juga sudah dilakukan di masa lampau oleh rasul Petrus dan Paulus. Hal ini dapat kita lihat pada khotbah Petrus di hari pentakosta (Kis 2) dan khotbah Paulus di Atena (Kis 17).

    Khotbah Petrus pada hari Pentakosta ditujukan bagi orang-orang Yahudi yang Sudah akrab dengan kisah-kisah di Perjanjian Lama, oleh sebab itu menggunakan kata Tuhan dan Mesias dalam khotbahnya bukanlah sebuah masalah. Berbeda halnya dengan Paulus yang berkhotbah di depan orang-orang Yunani di Atena yang tidak pernah mengetahui kisah-kisah perjanjian lama, oleh sebab itu Paulus harus menunjukkan benang merah antara Tuhan yang ada pada Alkitab dengan karya-karya filsuf Yunani, agar khotbahnya mengenai Yesus Kristus dapat meyakinkan pendengarnya.

    Apologetika adalah tentang meyakinkan seseorang bahwa iman Kristen itu rasional, seperti yang dikatakan oleh C.S Lewis seorang apologis Kristen terbesar di abad 20 “Saya percaya kepada Kekristenan seperti saya percaya bahwa matahari itu terbit, bukan karena saya melihatnya, tetapi karena melaluinya saya melihat segala sesuatu.” Disini Lewis menunjukkan suatu dasar bagi apologetika Kristen bahwa kekristenan itu sendiri masuk akal, dan memungkinkan kita untuk membuat segalanya masuk akal.

    Analogi 

    Seorang kritikus zaman pencerahan Alasadir MacIntyre berargumen bahwa pencarian pencerahan terhadap pondasi dan kriteria pengetahuan yang universal gagal dan akhirnya runtuh di bawah beban-beban bukti yang sebaliknya. Maksud Alasadir sendiri adalah bahwa visi untuk memiliki rasionalitas sendiri tidak dapat dipertahankan dan dicapai.

    Hal tersebut membuat kita sebagai manusia hidup dalam kebenaran rasionalitas yang abu-abu, ambigu, tidak absolut, dan tidak murni. Melihat kelemahan dari rasionalitas tersebut, harusnya menjadi kesempatan bagi kita untuk mengekspresikan dan membela kriteria yang dapat membela dan membenarkan iman kita orang Kristen, serta menyadari bahwa kepercayaan terhadap iman Kristen memungkinkan kita untuk melampaui bukti-bukti dari kebenaran rasionalitas yang masih ambigu dan abu-abu tersebut.

    Baca Juga: Walau Corona Datang, Berkat Takkan Hilang

    Sebagai contoh, dari pernyataan etis bahwa “memperkosa itu salah”, pernyataan itu jelas tidak bisa dibuktikan benar, entah secara rasio maupun ilmu pengetahuan. Dasar dari segala hal yang berhubungan dengan etika dan moral muncul dari nurani manusia atas dasar kepercayaan diluar rasionalitas. Dasar rasio manusia tidak dapat membuktikan bahwa ide tentang etika dan moral itu benar adanya, kecuali melalui kepercayaan manusia terhadap keyakinan yang dianutnya, yang dapat kita katakan sebagai Iman.

    Kekristenan 

    Aliester E. McGrath dalam bukunya mengatakan bahwa Alvin Platinga mencanangkan sebuah poin beberapa tahun yang lalu merujuk pada sebuah problem abadi tentang “pikiran lain”. Kita tidak bisa membuktikan secara absolut bahwa orang lain memiliki pemikiran. Tetap tidak ada yang bingung dengan hal ini. Asumsi ini menurutnya aman dan tampak sesuai dengan realitas yang kita hadapi. Platinga disini kemudian berargumen bahwa ada sebuah pararel antara keberadaan “pikiran lain” dengan membuktikan keberadaan Allah.

    Menurut Platinga Kedua-duanya tidak dapat dibuktikan, dan argumen yang baik bisa dikemukakan untuk menentang kedua-duanya, tetapi bagi para pembelanya, kedua teori tentang pikiran lain dan keberadaan Allah tersebut tetap terasa masuk akal. Disini kita dapat melihat sebuah kesamaan antara pendukung rasio yang menganggap bahwa pikiran lain yang tak dapat dibuktikan itu terasa masuk akal, serta begitu juga bagi para pendukung iman Kristen yang menganggap bahwa keberadaan Allah itu masuk akal.

    Semua orang secara rasional mempercayai sesuatu sebagai kebenaran walaupun mereka menyadari bahwa kepercayaan-kepercayaan itu tidak bisa dibuktikan secara tepat. Pengkritik agama sering berpendapat bahwa “iman” adalah semacam penyakit mental, khususnya bagi mereka yang beragama. Pendapat tersebut jelas salah, karena iman sendiri adalah bagian dari manusia. Aliester juga mengatakan dalam bukunya bahwa seorang filsuf Julia Kristeva baru-baru ini mengatakan; “Entah saya ada dalam sebuah agama, entah saya agnostik atau ateis, ketika saya mengatakan ‘Saya percaya’ maksud saya adalah ‘saya yakin benar’. Kepercayaan terhadap Allah juga merupakan problema yang sama.

    Penulis ateis sering kali gagal menyadari bahwa kemampuan rasio manusia, mereka meyakini bahwa keyakinan mereka tepat, bisa diandalkan, dan bertanggung jawab, padahal mereka sendiri yang bilang bahwa mereka tidak percaya apa pun dan membatasi diri bahwa mereka membatasi diri hanya pada sesuatu yang mereka anggap benar. Seperti yang dikatakan oleh seorang ateis Christopher Hitchens yang mendeklarasikan bahwa Ateisme Baru tidak memiliki kepercayaan. “Kepercayaan kita bukanlah kepercayaan”, begitulah katanya. Akhirnya dari sini kita dapat melihat sebuah pernyataan ambigu dan tidak konsisten dari Ateis Baru, yaitu “Kepercayaan yang bukan Kepercayaan”. Hal ini jelas keliru dan tampaknya Hitcens sedang menipu dirinya sendiri dengan pernyataan itu. Kritiknya terhadap agama jelas bergantung pada kepercayaan inti yang tidak dapat dibuktikan.

    Rasionalitas di Era Modern

    Dari penjelasan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa apologetika memungkinkan kita untuk menghadapi serangan yang datang dari rasionalitas di era modern, terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dari kaum-kaum Ateisme maupun Skeptisme, yang cenderung menyudutkan Iman Kristen yang dimiliki oleh segenap umat-umat Kristiani. Apologetika juga dapat digunakan sebagai ilmu untuk mempertahankan dan memperkokoh Iman Kristen yang kita miliki dalam diri, oleh sebab itu, penting bagi kita semua orang Kristen yang hidup di masa kini, untuk dapat belajar lebih banyak mengenai pengetahuan-pengetahuan baru, agar kita dapat terus bertanggung jawab atas segala hal yang berhubungan dengan keimanan kita sebagai orang Kristen.

    Saya menyadari bahwa tulisan ini masihlah jauh dari kata sempurna, namun saya percaya bahwa dengan campur tangan Tuhan Kita Yesus Kristus, tulisan ini dapat menjadi sebuah berkah yang bermanfaat bagi semua pembacanya. Terima Kasih, Tuhan Yesus Memberkati.

    Kepustakaan:

    McGrath, Aliester E., MERE APOLOGETICS : HOW TO HELP SEEKERS AND SKEPTICS FIND FAITH, Tanzil, Vincent. 2017. Literarur SAAT : Malang, Indonesia

    Uskup Agung Pontianak Nostalgia di Paroki St. Petrus dan Paulus Sekadau

    Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Nostalgia di Paroki St. Petrus dan Paulus Sekadau, Minggu 21 Maret 2021 pukul 07.00 WIB, Misa Dihadiri oleh Umat Paroki dengan Menerapkan Protokol Kesehatan Sesuai dengan Ketentuan Pemerintah. @komsoskap

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Nostalgia di Paroki St. Petrus dan Paulus Sekadau, Minggu 21 Maret 2021. Misa dihadiri oleh umat paroki dengan menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan ketentuan pemerintah. Seperti biasa, misa minggu pagi dimulai pukul 07.00 WIB, misa dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus didampingi oleh Pastor Paroki yakni Pastor Kristianus, CP dan Pastor Mingdry Hanafi Tjipto, OP.

    Dalam misa minggu itu, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan rasa rindunya dengan paroki sewaktu bertugas di Paroki tersebut pada tahun 1987.

    Mgr. Agustinus Agus mengisahkan sedari 19 Juni 1977 di tahbisan di Paroki St. Petrus dan Paulus Sekadau, yang kala itu ditahbiskan langsung oleh Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM. Cap. Dengan motto tahbisan diambil dari Mazmur 28: 8. “Tuhan adalah kekuatan bagi umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Hadiri Misa Perdana Dua Imam Diosesan di Stasi St. Yosef Pagung Nahaya

    Sebagai putra pertama orang Dayak di daerah itu, berbondong-bondong orang yang menggunakan motor air. Ada yang dari Meliau, Tayan, Sekadau, Sanggau dan sekitar daerah tersebut menggunnakan motor air yang kala itu akrab dengan sebutan motor air Bandung.

    Buah Sulung Telah Tiba

    Sebagai orang daerah itu juga, Arkady yang kini bekerja sebagai pegawai Keuskupan Agung Pontianak (driver) mengaku dahulu waktu tahun 1977 peristiwa tahbisan imam tersebut sudah ia ingat betul. Karena saat itu, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus adalah orang Dayak pertama dan putera daerah pertama yang ditahbiskan menjadi imam dengan mengangkat tema “Buah Sulung Telah Tiba”.

    Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus menceritakan secara singkat perjalanannya menjadi imam dan pemimpin umat sedari ditahbiskan.

    “Usai enam bulan ditahbiskan menjadi imam mulai 1 Januari 1978, saya  diangkat menjadi pastor paroki di Senanga. Dulu Senanga termasuk wilayahnya Kecamatan Nanga Taman dan Nanga Mahap. Sekarang kedua itu kan menjadi paroki sendiri-sendiri,” kata Mgr Agus.

    Ia mengisahkan dari tahun 1981-1983 mulai bertugas di Paroki St. Petrus dan Paulus Sekadau. Selanjutnya, Mgr. Agus melanjutkan kuliah di Amerika tahun 1983-1985. Selesai kuliah pada tahun 1985-1995 dan menjadi Pastor Paroki Katedral Keuskupan Sanggau.

    Mgr. Agus juga menceritakan saat ia diangkat menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Sintang 1 Januari 1996.

    Baca Juga: Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik

    Persis menjadi Uskup Sintang tertanggal 28 Oktober 1999 dan ditahbiskan menjadi Uskup Sintang pada 6 Februari 2000 oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ. Saat itu didampingi oleh Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM. Cap sebagai Co-Consecrator dan Mgr. Renzo Fratini sebagai Nuncio Apostolik.

    Ia mengisahkan dari Uskup Sintang kemudian diangkat menjadi Uskup Agung Pontianak, oleh Paus Fransiskus 3 Juni 2014. Penerimaan Pallium di Basilika Santo Petrus Vatikan (29 Juni 2014) dimana saat itu tepat pada perayaan Hari Raya Petrus dan Paulus. Dalam refleksinya, persis pada Paroki yang bernama St. Petrus dan Paulus, ia pun menerima Pallium pada hari Raya Petrus dan Paulus di Vatikan.

    Kampanye Vaksinasi Covid-19

    Dalam misa minggu itu, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengajak umat untuk tidak takut di vaksin. Karena berhubung dengan pandemi Covid-19 yang mewabah ini, salah satu partisipasi masyarakat yang nyata adalah mendukung program pendidikan.

    Sebagaimana yang beliau katakan, untuknya yang berusia 71 tahun pun tidak takut untuk divaksinasi.

    Sebagai Pastor Paroki Sekadau, Pastor Kristianus, CP berterima kasih dan turut bangga, karena kali ini bisa bersama Mgr. Agustinus Agus dalam misa minggu biasa di Sekadau, Minggu 21 Maret 2021.

    “Sebagai pemimpin paroki dan perwakilan umat di paroki, kami sangat senang. Semoga  Monsinyur bisa mampir di tempat kami jika kebetulan lewat. Kami sebagai umat paroki menerima dengan senang hati kedatangan Mgr. Agustinus Agus,” ucap Pastor Paroki.

    Rumus Iman Katolik

    Dalam homilinya, Uskup Agung Pontianak Mgr.Agustinus Agus mengatakan sebagai orang yang percaya akan Kristus, jangan pernah takut untuk menghadapi situasi apapun. Bahkan sebagai orang katolik, jangan pernah takut akan kematian.

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus Terima Plakat Professional Award 2021

    Kematian memang ditakuti oleh siapapun. Oleh karena itu Tuhan Yesus menyelamatkan manusia dengan kematian agar manusia jangan takut mati. “Jelas dalam Injil yang kita dengar tadi, bahwa orang yang mencintai nyawanya akan kehilangan nyawanya,” katanya.

    Mgr. Agus mengatakan bahwa nyawa yang kekal adalah hidup abadi di Surga. Ia mengatakan bahwa kadang-kadang, manusia bisa saja mengalami konflik batin. Misalnya, orang yang mengatakan peristiwa kematian sangat menakutkan.

    Justru ia mengungkapkan dengan terang hanya dengan melalui kematian manusia bisa mencapai hidup kekal. “Tapi jangan juga bunuh diri, karena bunuh diri adalah tindakan dosa,” katanya.

    Kenyataannya sekarang karena Covid-19 yang meresahkan bahkan membuat banyak orang semakin takut akan kematian. Uskup menceritakan sedikit tentang peristiwa belum lama ini terjadi tragedi Pesawat Sriwijaya yang jatuh dan semua yang ada di pesawat meninggal.

    Mgr. Agustinus Agus mengatakan jika hal itu terjadi yang bisa manusia lakukan hanya berdoa dan berserah dengan iman yang diyakini.

    “Jadi saudara-saudari yang terkasih sebetulnya kalau Yesus mengatakan siapa yang mencintai nyawanya, akan kehilangan nyawanya dan konteks ini hanya mau mengingatkan bahwa sebagai insan manusia harus saling memperhatikan,” ujar Uskup Agus.

    Baca Juga: Mgr. Agus Ucapkan Terima Kasih untuk Indonesia Award Center

    Uskup Agung Pontianak menarik sebuah contoh dari  teladan Yesus memperhatikan nyawa banyak orang. Mulai dari contoh saat ribuan orang lapar. Dalam Injil mengisahkan Yesus memberi makan dengan 5 roti dan 2 ikan. Orang bisu disembuhkan, orang lumpuh bisa berjalan, orang tuli mendengar bahkan Lazarus yang mati dihidupkan. Peristiwa itu adalah tanda bahwa Yesus juga ingin manusia mengalami kehidupan, tapi tidak terlena dalam ketakutan.

    Untuk itu seturut dengan rumus iman katolik Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Amin. “Itulah yang menjadi modal dasar kita sebagai pengikut kristus. Karena ada hidup kekal,” ujarnya.

    Sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus memaparkan bukti adanya hidup kekal di dunia ini adalah dengan adanya kaum berjubah. Kaum berjubah ada fungsinya, yaitu sebagai alarm bahwa hidup manusia akan mengalami kematian dan sebagai tanda adanya kehidupan kekal setelah kematian. “Untuk itu, rugi saya jadi imam kalau tidak ada hidup kekal,” canda Mgr. Agus dalam homili.

    Ia menegaskan juga kepada semua umat untuk jangan pernah takut untuk melakukan kebaikan, karena manusia menyadari bahwa setiap insan pasti punya kekurangan dan kelemahan. Justru karena itulah manusia harus menjadi kekuatan dan menjadikannya tonggak keyakinan iman dan kepercayaan sebagai pengikut Kristus.

    Mgr. Agustinus Agus Bertemu mantan Anak Asrama

    Minggu, 21 Maret 2021, ditengah khusyuknya misa Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus juga menyapa anak asramanya dulu, Aron, SH yang merupakan Calon Bupati Sekadau periode 2020-2025.

    Usai perayaan misa, Aron menemui Mgr. Agustinus Agus di Pastoran sembari minum kopi bersama Pastor paroki dan Monsinyur.

    Baca Juga: Apa Makna “Jalan Salib” Bagi Umat Katolik?

    Dari 65 wakil rakyat yang berasal keseluruhan dari 8 dapil ini dilantik oleh perwakilan dari Pengadilan Tinggi Kalbar. Satu diantara 65 nama tersebut ialah Bapak Aron, SH. Pria bernama lengkap Aron, SH ini berasal dari dapil Kalbar 6, Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sekadau.

    Ia dilahirkan di Nyonak, 3 Oktober 1974 beragama Katolik dan beralamat di Nanga Mahap, Sekadau. Aron mengenyam pendidikan SD Negeri 3 Batu Pahat 1989, SMP Suparna Nanga Taman 1992, SMU Swasta Karya diakui Sekadau 1995 dan S1 Untan 1999.

    Politisi Partai Demokrat ini juga aktif berorganisasi, diantaranya ialah Pengurus Ikatan Sarjana Katolik Sekadau.Ia juga Ketua Nasional Benteng Kerakyatan, Ketua DPAC Demokrat, Pengurus DAD Sekadau hingga Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Sekadau. Sebelum menjadi anggota DPRD Kalbar, Aron merupakan Anggota DPRD Sekadau tiga periode.

    Aron pernah menjadi ketua fraksi, selain itu ia juga pernah menjadi PPK Kecamatan Nanga Mahap. Bapak Aron bersama Bapak Subandrio anggota DPRD kab. Sekadau maju mencalonkan diri sebagai Bupati dan wakil bupati sekadau periode 2020-2025.

    Sebagai anak asrama yang pernah mengikuti Mgr. Agus, Aron menyempatkan diri untuk berbicara dan ngobrol santai sambil mohon doa untuk kesehatan, pekerjaan dan niat baiknya.- Samuel_ Komisi Komunikasi Keuskupan Agung Pontianak.

    Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan: Kematian adalah Jalan Menuju Hidup Kekal

    Misa Memperingati 100 Hari Almarhum Fransiskus Tjamang yang Merupakan Keluarga Dekat (Sepupu) dari Mgr. Agustinus Agus di Sekadau, Sabtu malam, 20 Maret 2021. @komsoskap

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Siapa sangka orang sehat dalam sekejap mata dipanggil Tuhan? Ada yang sakit bertahun-tahun tapi tak juga dipanggil oleh Tuhan. Ada juga kejadian orang yang berpergian dengan kondisi sehat bisa juga dipanggil karena peristiwa kecelakaan atau yang lain sebagainya.

    Banyak hal yang bisa menjadi faktor pemicu kematian. Sebagai insan yang percaya dengan Tuhan Yesus Kristus, dalam terang iman ketakutan akan kematian berubah menjadi persiapan untuk menuju hidup yang kekal.

    Sebagaimana Mgr. Agustinus Agus katakan dalam misa memperingati 100 hari Almarhum Fransiskus Tjamang yang merupakan keluarga dekat (sepupu) dari Mgr Agustinus Agus – di Sekadau, Sabtu malam, 20 Maret 2021. Dalam misa itu, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus mengatakan justru hanya dengan kematian manusia dapat masuk dalam kehidupan yang kekal dan abadi.

    Baca Juga: Misa Rabu Abu, Paus Ungkapkan: ‘Prapaskah adalah Perjalanan Kembali Kepada Allah’

    Misa malam itu dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dan didampingi oleh P. Sabinus Lohin, CP dan RD. Agustinus Rian Pastor Paroki Petrus Rasul Monumental Sekadau yang merupakan Imam Diosesan Sanggau.

    Keyakinan dan Iman

    Sebagaimana yang ia selalu katakan rumus iman Katolik yang tertuang dalam doa Aku Percaya. “Aku Percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan Para Kudus, Pengampunan dosa, Kebangkitan Badan dan Hidup Kekal, Amin,” ucapnya.

    Kebangkitan badan dan hidup kekal merupakan kunci keyakinan dan sekaligus modal iman yang harus diingat dan direnungkan sebagai penguatan diri dalam setiap peristiwa yang pengikut kristus alami.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Hadiri Misa Perdana Dua Imam Diosesan di Stasi St. Yosef Pagung Nahaya

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan setiap momen yang telah manusia lalui merupakan bukti dari jejak iman dan peristiwa hidup. “Untuk itu, mendoakan orang yang sudah dipanggil oleh Tuhan adalah kewajiban dari kita yang masih hidup didunia ini,” ujarnya.

    Dasar dari argumen tersebut Mgr. Agustinus Agus kuatkan dengan menyatakan bahwa orang mati tidak akan bisa mendoakan orang mati, untuk itu manusia yang hiduplah yang mendoakan mereka yang sudah meninggal. Samuel_Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    Uskup Agung Pontianak Berkati Rumah Dinas Bupati Kapuas Hulu, Ingatkan Bupati Milik Semua Orang

    Pemberkatan Rumah Dinas – Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus memberkati Rumah Dinas Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan, SH di Putusibau, Kamis Malam, 18 Maret 2021. - @komsoskap

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Pemilu Sudah Selesai tak ada lagi Bupati Kelompok tertentu, tapi yang ada adalah Bupati untuk semua orang. Hal ini Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus katakan dalam Misa pemberkatan Rumah Dinas Bupati Kabupaten Kapuas Hulu- Kamis malam, 18 Maret 2021 yang dimulai pada pukul 17.00 WIB.

    Dalam acara Misa Pemberkatan Rumah Dinas Bupati Kabupaten Kapuas Hulu diberlangsungkan doa syukur untuk ulang tahun yang ke tujuh (7) untuk Rizzerio Dante yang merupakan anak bungsu dari Bupati Fransiskus Diaan, SH.

    Misa pemberkatan rumah dipimpin langsung oleh selebran utama Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak, didampingi oleh Uskup Sintang Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM. Cap,  Pastor Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Putussibau yakni Pastor Yakobus Rua Bai, SMM alias P. Jack, SMM dan diikuti oleh 10 imam lainnya.

    Misa pemberkatan rumah dihadiri oleh masyarakat undangan dan sejumlah cendikiawan dan beberapa tokoh politik lainnya.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Hadiri Misa Perdana Dua Imam Diosesan di Stasi St. Yosef Pagung Nahaya

    Sebagai Pastor Paroki, Pastor Jack, SMM mengharapkan Bupati Kapuas Hulu agar menjadi pemimpin yang mengayomi dan melayani masyarakat. Artinya menjadi pemimpin yang mau melayani, bukan untuk dilayani. Ia menambahkan selain menjadi pemimpin yang melayani tentu harus bersinergi dengan visi misi saat kampanye calon Bupati dengan slogan (tagline) Kapuas Hulu HEBAT (Harmonis, Energik, Berdayasaing, Amanah dan Terampil).

    Pastor Jack, SMM mendoakan  Bupati Fransiskus Diaan atau yang akrab dipanggil Sis ini untuk kuat dan selalu ingat dengan Sang Pencipta agar selalu mengikuti misa mingguan maupun doa pribadi.

    Dalam sambutan pembukaan misa syukur itu, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa pemilu sudah selesai, untuk itu tidak ada lagi Bupati untuk kelompok A dan kelompok B.

    Tapi yang ada hanya Bupati untuk semua golongan masyarakat. “Inilah yang kita syukuri, yakni syukur atas mandat baru yang diemban oleh Fransiskus Diaan (Sis) sebagai Bupati Kapuas Hulu,” katanya.

    Selaras dengan itu sebagai warga Katolik, Mgr. Agustinus Agus juga merasa bangga karena warga katolik bisa diberi kepercayaan untuk memimpin. Syukur kepada Allah bahwa dari 7 Kabupaten yang menyelesaikan pilkada ada empat yang beragama katolik. “Maka dari itu pantas untuk kita syukuri dan kita doakan agar semua Bupati yang terpilih semakin kuat dan mengemban tugas dengan bertanggungjawab,” kata Mgr. Agus.

    Baca Juga: Mgr. Agus Ucapkan Terima Kasih untuk Indonesia Award Center

    Selanjutnya, Mgr. Agus mengungkapkan dengan kehadiran masyarakat dalam momen pemberkatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada Bupati Sis, dengan tidak mengabaikan identitas diri yakni  menjadi 100 persen katolik dan 100 persen Indonesia tanpa memandang ras dan latar belakang.

    Sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus  mendukung Bupati baru, untuk itu  Uskup Agung Pontianak rela berangkat jauh-jauh dari Pontianak dengan harapan agar cita-cita pembangunan daerah bisa terlaksana. “Sebab yang paling penting dari dukungan adalah kehadiran kita,” ungkapnya dalam homili.

    Alih Kelola Pendidikan dan Cita-cita Keuskupan Agung Pontianak untuk Universitas

    Malam sambutan itu, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan cita-citanya sebagai tokoh Agama Katolik dalam misi pendidikan di Kalimantan, terkait cita-citanya untuk mendirikan Universitas di Pedalaman dengan kualitas internasional.

    Ia juga menceritakan pada tanggal 27 Oktober 2020 lalu Akademi Kebidanan St. Benedicta dan Akademi Keperawatan Dharma Insan resmi ditangani oleh Yayasan Landak Bersatu.

    “Jadi STKIP Pamane Talino yang dirintis oleh Drs. Cornelis, MH dan Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si kemudian sekarang dilanjutkan dan dialih kelola oleh Keuskupan Agung Pontianak bekerja sama dengan pastor-pastor Dominikan dan Passionis serius menangani pendidikan,” katanya.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19

    Dalam momen itu, Uskup Agus menginformasikan yakni Selasa, 16 Maret 2021 lalu, STKIP Pamane Talino telah  melaksanakan wisuda yang ke V. Dalam kesempatan itu ada 164 Sarjana yang diwisudakan.

    Mgr. Agus menyampaikan berita gembira sebab Ketua Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XI oleh Prof. Dr. Ir. Haji. Udiansyah, MS merekomendasi dan mendukung Penggabungan Akademi Kebidanan St. Benedicta, Akademi Keperawatan Dharma Insan dan STKIP Pamane Talino untuk menjadi Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo yang dinyatakan dengan surat tertulis.

    “Ini adalah kebanggan kita karena tindak bukti perjuangan pendidikan dari pihak Keuskupan dalam mendirikan Universitas di Pedalaman. Dengan misi besar untuk orang-orang kecil bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang layak dan sama dengan kampus-kampus besar di kota,” ungkapnya.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus mengatakan Ngabang adalah tempat strategis untuk memulai misi Pendidikan dari Pinggir. Apalagi Ngabang, Sanggau dan Bengkayang merupakan kantong-kantong orang Katolik, Dayak dan terpencil. “Untuk itu doakan semoga misi ini cepat terlaksana,” tambah Uskup.

    Dalam kesempatan yang berbahagia malam itu Mgr. Agus juga menyampaikan bahwa tahun ini STKIP Pamane Talino Ngabang memberikan beasiswa untuk 350 mahasiwa selama 4 tahun studi.

    Sementara ini ada 3 jurusan yakni  Pendidikan Kesehatan Jasmani dan Rekreasi (Penjaskes S1), Pendidikan Matematika (S1) dan Pendidikan Bahasa Inggris (S1).

    Baca Juga: Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik

    Mgr. Agus mohon doa dan dukungannya agar kedepan di Ngabang bisa dibuka satu Jurusan lagi rencananya yakni Agribisnis (S1), kemudian di Pontianak untuk Kebidanan dan Akper ditingkatkan menjadi (S1) ditambah dengan dua jurusan baru diantaranya Progam Studi Teknik atau Rekayasa Logistik (S1) dan Sistem Informasi (S1) di Pontianak.

    Rangkaian Pelantikan Bupati oleh Gubernur Kalimantan Barat

    Kesempatan yang berbahagia bahwa telah dilaksananya Misa Pemberkatan Rumah Dinas Bupati Kabupaten Kapuas Hulu merupakan rangkaian dari Pelantikan Bupati oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Sutarmidji, S.H., M.Hum pada Jumat, 26 Februari 2021 lalu.

    Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan (Sis) mengungkapkan bahwa rumah jabatan yang diberkati ini merupakan fasilitas lengkap kepada kepala Daerah. Maka sebagai umat Katolik menurut tradisi sebelum menempatinya harus, patut dan selayaknya didoakan. “Agar kami yang tinggal ditempat ini, dilindungi dan dituntun oleh Roh Kudus,” ujarnya.

    Ia juga mengungkapkan syukur karena tepat pada hari ini (Kamis, 18 Maret 2021) merupakan ulang tahun anaknya yang ke tiga, yang sekarang berumur berumur tujuh (7) tahun. “Syukur atas berkat dari Tuhan dan mohon doa agar anak kami Rizzerio Dante tumbuh sehat, berbakti kepada orang tua dan negara,” tambah Sis.

    Sebagai Bupati Kapuas Hulu yang baru dilantik, Fransiskus Diaan mohon doa agar ia dapat menjalankan tugas dan jabatan yang diembannya selalu dalam lindungan Tuhan serta mampu menjalankan tugas-tugas sebagai Kepala Daerah di Kabupaten Kapuas Hulu.- Samuel-Komisi Komunikasi Keuskupan Agung Pontianak.

    Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Hadiri Misa Perdana Dua Imam Diosesan di Stasi St. Yosef Pagung Nahaya

    Misa Syukur sekaligus Misa Perdana Imam Keuskupan (Diosesan), RD. Victorius Reno dan RD. Fransiskus Peran di Stasi St. Yosef Pagung Nahaya Paroki Salib Suci Ngabang pada Rabu, 17 Maret 2021. Dihadiri oleh 11 orang Imam dan juga dihadiri langsung oleh Bapak Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus.- @komsoskap

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Injil hari itu mengingatkan umat untuk hidup bahagia dengan hidup harus berusaha. “Pendidikan paling baik berawal dari keluarga,” kata RD. Victorius Reno dalam homilinya di Misa Perdana Stasi Pagung Nahaya di kampung kelahiran RD. Fransiskus Peran.

    Misa syukur sekaligus misa perdana dua imam Keuskupan (Diosesan) yang berlangsung di Desa Pagung Nahaya dihadiri oleh 11 orang Imam dan juga dihadiri langsung oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus. Acara dimulai pukul 09.00 WIB yang dibuka dengan tarian penyambutan pada Rabu pagi, 17/03/2021.

    Baca Juga: Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik

    Setiap imam yang hadir diselempangkan kain kuning yang bertuliskan nama dua imam Diosesan Keuskupan Agung Pontianak yakni RD. Fransiskus Peran dan RD. Victorius Reno. Pemberian selempang juga diberikan untuk Uskup Agung Pontianak, Pastor Paroki Salib Suci Ngabang dan 10 orang imam lainnya.

    RD. Fransiskus Peran mengaku terharu dengan kehadiran Mgr. Agustinus Agus yang merupakan Uskup Agung Pontianak, bersedia datang ke Kampung kelahirannya. “Ini adalah kedatangan uskup pertama kalinya di Pagung Nahaya,” tutur RD. Peran dalam sambutan, Rabu pagi, 17/03/2021.

    Misa Perdana 

    Dalam homili RD. Victorius Reno, ia mengatakan bahwa Yesus adalah teladan yang taat serta sosok suci yang rendah hati. “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, begitu juga dengan Pastor Peran yang ternyata sejak dulu ayahnya bercita-cita ingin menjadi seorang imam namun tak kesampaian. Tapi sekarang kita menyaksikan semangat yang diwariskan oleh sang ayah sehingga bisa menjadi seorang imam,” katanya.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Tegaskan: Jadilah Imam Pembawa Perubahan

    Sebagai ketua panitia, Faskalis Alamin mengatakan bahwa kegiatan ini sudah disiapkan sedari satu bulan sebelumnya dengan dasar bahwa Pastor Peran berkewajiban misa di Kampung kelahirannya. Kedua, umat di kampung bangga dan sekalian bersyukur kepada Allah atas rahmat Tahbisan Imamat RD. Peran dan RD. Reno.

    Kemudian ia juga menambahkan misa ini merupakan sebuah kegiatan yang harapannya menggugah iman umat dan semoga dengan kehadiran misa perdana ini bisa memotivasi orang muda di Pagung Nahaya untuk menjawab panggilan menjadi kaum religius.

    Sebagai seorang ayah dan sekaligus ketua umat, Sodiram mengaku bangga dengan prestasi RD. Peran karena berhasil menyelesaikan studi untuk siap melayani dalam panggilan imamatnya. Sebagai seorang ayah, Sodiram mendoakan selalu anaknya menjadi pelayan yang setia baik mulai dari ia ditahbiskan sampai akhir hayatnya. “Sekali pastor, tetap pastor sampai akhir,” ucapnya.

    Pada kesempatan yang berbahagia itu, RD. Peran mengucapkan syukur kepada Allah karena atas kebaikan dan rahmat suci dari Allah ia bisa menyelesaikan dan boleh memulai pelayanannya untuk umat Katolik. RD. Peran berharap kepada umat kampung halamannya untuk mendoakan panggilan mereka supaya tetap setia dan teguh dalam jalan panggilan.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus: Jadilah Imam yang Inovatif dan Memiliki Kemampuan Membaca Tanda Zaman

    Pastor Bagara Darmawan, OFM. Cap turut bangga atas prestasi yang dicapai oleh putra daerah paroki yang menjadi imam yakni RD. Peran, karena sudah berani menerima dan mendengarkan panggilan. Sehingga sekarang ada Imam Diosesan dari kampung Pagung Nahaya Paroki Salib Suci Ngabang.

    Pastor Bagara mendoakan agar mereka setia dalam panggilan. “Maklum, seorang imam juga manusia oleh karena itu mereka juga punya kelemahan,” tuturnya. Ia juga menambahkan dengan kehadiran imam baru ini, semoga rahmat sukacita dan motivasi orang muda semakin banyak menjadi imam.

    Semangat Melayani 

    Dalam sambutan Mgr. Agustinus Agus menerangkan bahwa setiap Imam Projo yang ditahbiskan adalah milik keuskupan. “Jadi mereka imam projo adalah anak-anak saya. Untuk itu sebagai Bapak yang baik, saya juga mau memberikan  persembahan dan kehadiran yang terbaik untuk dua imam ini,” katanya.

    Baca Juga: Mgr. Agus Ucapkan Terima Kasih untuk Indonesia Award Center 

    Sebagai Gembala Umat, Uskup Agung Pontianak mengatakan bahwa Gereja tidak bisa bergerak sendiri, maka butuh kerja sama antara tarekat dan imam keuskupan. Sedangkan dilain sisi keuskupan juga membutuhkan imam projo (Diosesan) yang membantu karya keuskupan itu sendiri. “Maka beda dengan imam tarekat yang sewaktu-waktu bisa dialih tugaskan oleh pemimpin masing-masing tarekat. Tapi bagaimanapun, imam projo juga membutuhkan tarekat-tarekat dalam mengembangkan misi gereja katolik,” tuturnya.

    Mgr. Agustinus Agus menambahkan bahwa misi Pendidikan yang Keuskupan Agung Pontianak kerjakan di STKIP Pamane Talino Ngabang bertujuan untuk memulai misi pendidikan berkualitas dari pinggir. Untuk itu sebagai bentuk kerja sama Lembaga Pendidikan Keuskupan Agung Pontianak menjalin kerja sama dengan pemerintah setempat dalam menyediakan 350 beasiswa selama 4 tahun di tahun 2021 ini.

    “Bagaimanapun, kesadaran pendidikan adalah hal yang paling penting untuk membangun sebuah daerah. Termasuk mereka yang mau menjadi imam, haruslah melalui jenjang pendidikan,” katanya.

    Usai misa perdana di Stasi St. Yosef Pagung Nahaya, acara dilanjutkan dengan foto dan makan siang bersama, yang dipandu sesuai dengan penerapan protokol kesehatan, sesuai situasi saat ini yaitu pandemi Covid-19. –Samuel_Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik

    Wisuda V STKIP Pamane Talino pada Selasa, 16 Maret 2021 bertempat di Aula Kantor Bupati Landak, dihadiri oleh Mgr. Agustinus Agus dan Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa - @komsoskap

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan memiliki Universitas Katolik. Hal ini didukung dengan surat rekomendasi dari Ketua Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XI oleh Prof. Dr. Ir. H. Udiansyah, MS dalam rekomendasi Penggabungan Akademi Kebidanan St. Benedicta, Akademi Keperawatan Dharma Insan dan STKIP Pamane Talino menjadi Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Meski harus menggelar wisuda di tengah pandemi Covid-19, prosesi wisuda di Aula Kantor Bupati Landak yang diadakan virtual dan perwakilan wisudawan dan wisudawati berlangsung dengan khidmat, Selasa 16/03/2021.

    Sebelum acara wisuda berlangsung Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa menyumbangkan sebuah unit Bus untuk STKIP Pamane Talino yang diterima langsung oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak tepat pada pukul 07.45 WIB di Depan Kantor Bupati Landak.

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus Terima Plakat Professional Award 2021

    Dalam sambutan Ketua LLDIKTI Wilayah XI oleh Prof. Dr. Ir. H. Udiansyah, MS menyampaikan bahwa sekarang STKIP Pamane Talino sudah direkomendasikan untuk menjadi Universitas Katolik dengan nama Universitas Santo Agustinus Hippo.

    Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan STKIP Pamane Talino Ngabang  menggelar wisuda ke V (lima) pada Selasa, 16 Maret 2021. Sebanyak 164 wisudawan/i berhasil menyelesaikan perkuliahan dari 3 (tiga) program studi.

    Tiga program studi itu antara lain Pendidikan Kesehatan Jasmani dan Rekreasi (Penjaskes S1), Pendidikan Matematika (S1) dan Pendidikan Bahasa Inggris (S1).

    “Wisuda online ini tidak akan mengurangi makna dari upacara itu sendiri karena meski tahun ini merupakan tahun yang terbilang tak biasa. Terima kasih kepada panitia yang mempersiapkan dengan matang seturut mematuhi protokol kesehatan,” terang Dr. Albert Rufinus, MA sebagai Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pamane Talino- Ngabang.

    Prosesi wisuda mengundang perwakilan 70 wisudawan/i dengan pemberian penghargaan kepada mereka yang merupakan 3 lulusan dengan IPK tertinggi dari masing-masing program studi. Selebihnya mengikuti prosesi melalui aplikasi Zoom di Kampus STKIP PATA dan disiarkan langsung di Youtube STKIP Pamane Talino Official.

    Baca Juga: Mgr. Agus Ucapkan Terima Kasih untuk Indonesia Award Center

    Peserta yang mengikuti wisuda tahun 2021 ini adalah mereka yang sudah lulus dan menyelesaikan ujian dan pendidikan yang menjadi ketentuan. Adapun mereka yang sudah diwisuda antara lain dari program studi Pendidikan Matematika sebanyak 38 orang, untuk Pendidikan Bahasa Inggris sebanyak 60 orang dan dari Penjaskes sebanyak 66 orang.

    Dr. Albert Rufinus. MA,  berharap semoga wisudawan/i bisa hidup di tengah masyarakat dengan keterampilan ilmu dan menjadi panutan baik di tengah masyarakat. Ia juga mengharapkan semoga misi pendidikan dari Keuskupan Agung Pontianak ini, menjadi misi kemanusiaan demi kemajuan daerah.

    Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Pemda Landak dalam hal ini adalah dr. Karolin Margret Natasa sebagai Bupati Landak, dan Vinsensius selaku Sekda Landak yang memberikan perhatiannya kepada pendidikan di kabupaten Landak.

    Universitas Santo Agustinus Hippo

    Pandemi Covid-19 yang telah melanda seluruh dunia, menjadi alarm bahwa pentingnya teknologi komunikasi digital bahkan mengambil alih sebagian besar aktivitas kehidupan. Berhubungan dengan kondisi pandemi dalam acara wisuda kali ini juga dihadiri langsung oleh Ketua Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XI oleh Prof. Dr. Ir. H. Udiansyah, MS via aplikasi Zoom.

    Dua pantun dilantunkan oleh Prof. Dr. Ir. H. Udiansyah, MS dengan menerangkan bahwa pantun sudah resmi diakui oleh UNESCO sebagai kekayaan budaya.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19

    “Dengan rahmat Tuhan, kita bisa menjadi dermawan. Kalau tidak ada harta, kita bisa memberi senyuman. Selamat kepada para wisudawan, semoga wisuda ini merupakan awal kesuksesan kalian.”

    “Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa gosok gigi, mari kita doakan wisudawan/i, semoga nanti banyak rezeki,” katanya sembari membuka sambutan.

    Sebagai Ketua Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XI mengucapkan selamat kepada STKIP Pamane Talino, karena sudah menyelesaikan perkuliahan dalam masa pandemi sehingga anak didik bisa wisuda.

    “Ini menunjukkan bahwa standar Nasional Pendidikan Tinggi sudah diakui dan sudah terstandarkan. Kedatangan saya bukan sembarangan datang, sebab sekarang STKIP Pamane Talino sudah terverifikasi dan terakreditasi,” katanya sambil menuturkan pantun untuk STKIP Pamane Talino.

    Ia juga mengucapkan terima kasih kepada badan penyelenggara yaitu Yayasan Landak Bersatu, yang terdiri dari Akademi Kebidanan St. Benedicta, Akademi Keperawatan Dharma Insan dan STKIP Pamane Talino yang sudah menyelenggarakan pendidikan tinggi ini.

    Baca Juga: BBM Ramah Lingkungan Wujudkan Langit Biru

    Ia mengaku dengan adanya penyelenggaraan pendidikan tinggi ini, maka angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia sekarang bisa mencapai 36%.

    “Bayangkan Kalau tidak ada badan penyelenggara yang menyelenggarakan pendidikan tinggi seperti ini, kita pasti jauh tertinggal,” ungkapnya.

    Prof. Dr. Ir. H. Udiansyah menginformasikan bahwa sekarang di Negara tetangga Filipina sudah 55% dan Vietnam 60% untuk partisipasi kasar perguruan tinggi. Untuk itu kehadiran lembaga pendidikan ini sangat mendukung proyek pemerintah dalam memajukan masyarakat Indonesia yang lebih baik dan maju.

    Angka partisipasi kasar 36% ini berarti, diantara penduduk Indonesia yang berusia antara 19-23 tahun  hanya 36% saja yang masuk kuliah. Oleh karena itu, dengan kehadiran STKIP Pamane Talino di Ngabang ini, pasti memberikan kontribusi partisipasi kasar pendidikan baik Indonesia maupun Kabupaten Landak.

    Prof. Dr. Ir. H. Udiansyah, MS sangat mendukung kebijakan yang akan diambil oleh Yayasan Landak Bersatu, yang akan menyatukan Akademi Kebidanan St. Benedicta, Akademi Keperawatan Dharma Insan dan STKIP Pamane Talino menjadi Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Ia berharap dalam waktu yang tak lama lagi Universitas ini dapat terwujud. “Saya sangat mendukung kebijakan ini dan saya sudah memberikan rekomendasi akan berdirinya Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo ini,” tambahnya.

    Dalam kesempatan itu juga ia menyampaikan ada kebijakan dari pemerintah terkait dengan pendidikan yakni Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar.

    Baca Juga: Apa Makna “Jalan Salib” Bagi Umat Katolik?

    Dalam kesempatan itu sebagai Bupati Landak, dr. Karolin Margret Natasa mendukung adanya program-program yang diadakan terkait dengan aktivitas pendidikan. Karena memang dengan adanya pendidikan masyarakat bisa maju dan berkembang.

    Pendidikan dimulai dari Pinggir

    Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus menyebutkan bahwa misi Gereja yang mereka bangun memang dimulai dari pinggir. Artinya pendidikan yang Keuskupan Agung Pontianak lanjutkan ini merupakan tindak lanjut dari misi kemanusiaan yang real nyata adanya.

    Dalam kesempatan itu, Mgr. Agustinus Agus mengatakan kondisi pandemi sekarang memaksa manusia berpikir. Mau atau tidak, mahasiswa pun harus mampu belajar dan berubah untuk menyesuaikan diri dengan gejolak global yang selaras dengan perekembangan teknologi.

    “Kita harus mampu untuk melihat dan memprediksi perkembangan dan perubahan ke depan,” tuturnya.

    Selanjutnya, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan terima kasihnya kepada Pemda Landak, dr. Karolin Margret Natasa sebagai Bupati Landak, Vinsensius sebagai Sekda Landak dan segenap jajaran pemerintah yang mendukung misi pendidikan Gereja di tanah Kalimantan.

    Baca Juga: Harapan Pastor, Ketua Komisium dan Anggota dalam Momen Perayaan Acies Legio Maria Komisium Santa Maria Perawan yang Setia

    Uskup Agung Pontianak juga menegaskan bahwa pendidikan tidak melihat derajat sosial. “Orang miskin pun harus kita layani dengan maksimal agar ada kesamaan derajat sosial di tengah masyarakat,” katanya.

    Mgr. Agustinus Agus mengisahkan bahwa misi Pendidikan Gereja ini adalah menjadi dasar utama dan semangat Keuskupan Agung Pontianak untuk menerima peran secara lansgung dan hadir di tengah masyarakat dalam memajukan orang-orang pedalaman.

    Sebagai anggota Dewan Pembina Yayasan Landak Bersatu, P. Mingdry Hanafi Tjipto, OP  mewakili Ketua Yayasan Landak Bersatu berpesan untuk wisudawan/i untuk ingat beberapa prinsip utama sebagai kaum intelektual.

    Yang pertama, ia mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang percaya penuh dengan STKIP Pamane Talino. Kedua, selamat atas pencapaian yang sudah wisudawan/i capai dalam wisuda ini.

    “Selanjutnya, yang ketiga selamat berjuang dan yang terakhir selamat berkarya untuk wisudawan/i,” kata Pastor Ming.

    Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan prosesi wisuda dan ditutup dengan foto bersama.-Samuel_Komsos Keuskupan Agung Pontianak.

    Harapan Pastor, Ketua Komisium dan Anggota dalam Momen Perayaan Acies Legio Maria Komisium Santa Maria Perawan yang Setia

    Perayaan Acies di Gereja Katolik Santa Sesilia Pontianak pada Kamis, 11 Maret 2021, menjadi momen yang istimewa bagi para legioner Komisium Santa Maria Perawan yang Setia, karena menjadi momen pembaharuan Janji Penyerahan Diri para legioner-@komsoskap

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Perayaan Aciesmenjadi kesempatan bagi para legioner untuk membaharui Janji Penyerahan Diri, janji Legio Maria. Dengan memantapkan diri untuk tergabung bersama Legio Maria, maka sudah menjadi tanggung jawab bagi seluruh legioner untuk menyerahkan diri secara total, bersatu erat dengan Maria dan seutuhnya menjadi milik Maria.

    Ia bebas menggunakan kita demi mewujudkan apa yang Ia cita-citakan, yaitu menghantar kita kepada Yesus Kristus sang Juru Selamat kita.

    Perayaan Acies yang diadakan di Gereja Katolik Santa Sesilia Pontianak pada hari Kamis, 11 Maret 2021, menjadi momen yang istimewa bagi para legioner Komisium Santa Maria Perawan yang Setia karena perayaan ini menjadi momen pembaharuan Janji Penyerahan Diri untuk kembali menguatkan dan mengingatkan para legioner akan tugas yang mereka emban, juga sebagai tradisi rutin bulan Maret yang digelar setiap tahunnya.

    Penyerahan Diri

    Kegiatan yang dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan ini diawali dengan Doa Tessera, kemudian dilanjutkan dengan misa yang dipimpin oleh Pastor Yosef Astono Aji, OFM Cap.

    Acara dihadiri oleh 10 Presidium yang ada di Kota Pontianak, yakni presidium :

    1. Bejana Rohani – Katedral St. Yosep Pontianak
    2. Rumah Kencana – Katedral St. Yosep Pontianak
    3. Cermin Kekudusan – Katedral St. Yosep Pontianak
    4. Bunda Penasehat yang Baik – Katedral St. Yosep Pontianak
    5. Maria Bunda Segala Bangsa (Junior) – Katedral St. Yosep Pontianak
    6. BPSR – Sesilia Pontianak
    7. Ratu rosari – Kota Baru Pontianak
    8. BKK – Siantan Pontianak
    9. Maria Bunda Pengharapan Suci – Tanjung Hulu Pontianak
    10. Bintang Timur – Rasau Pontianak

    Dalam khotbahnya, Pastor Aji mengatakan bahwa setan selalu mencari jalan agar manusia mau dikuasai oleh kejahatan. “Setan itu bukan berwajah hitam, bertanduk, bertaring dan tinggal di tempat gelap. Setan yang sebenarnya bukan tampak dalam hal-hal lahiriah, tapi justru tampak pada orang yang memiliki tingkat egoisme yang tinggi,” ucapnya.

    Baginya, setan itu tampak pada orang yang mementingkan dirinya sendiri, tidak ada kerelaan berkorban untuk sesama, semua yang dilakukan hanya semata-mata untuk keuntungan dirinya sendiri, bahkan sampai merugikan orang lain.

    “Setan mempengaruhi manusia agar manusia merasa tidak memerlukan Tuhan, merasa setiap hal yang dikerjakan atas usahanya sendiri. Ketika egois muncul, disitulah sumber perpecahan antar manusia, terjadi perselisihan, kekacauan dan kehancuran,” tambahnya.

    Egoisme

    Pastor Aji mengatakan, dalam masa pandemi ini setan juga menggoda legioner untuk melalaikan tugas-tugas yang ada. Ia meminta para Legioner untuk selalu sadar bahwa Legioner sudah dipersatukan dengan Bunda Maria, maka dalam situasi apapun harus tetap semangat untuk menghantar orang lain kepada Kristus.

    Antonius Pranata, selaku ketua komisium Santa Maria Perawan yang Setia-KAP mengisahkan pengalamannya saat pertama kali bergabung bersama Legio Maria.  Pada tahun 2006 Ia tergabung bersama presidium Rumah Kencana Junior rata-rata anggotanya adalah anak sekolah. Ia mengaku senang bisa menjadi legioner karena dia bisa memberikan pelayanan dalam bentuk doa, pelayanan kepada pastoran dan masyarakat.

    “Jadi hal yang paling menarik yaitu kita bisa melayani sesama, melayani gereja, tugas kunjungan ke Rumah Sakit, Panti Jompo, ke rumah orang meninggal yang sifatnya memberikan penghiburan serta semangat,” ucapnya.

    Ia menambahkan bahwa di saat pandemi seperti sekarang ini, setiap legioner dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan media massa dalam pelayanan doa maupun pelayanan lainnya, contohnya doa secara virtual untuk mendoakan orang yang sakit, mencoba untuk tetap melayani dengan cara yang baru.

    Pelayanan

    ”Tetap semangat untuk para legioner, khususnya bagi Komisium Santa Maria Perawan yang Setia di Keuskupan Agung Pontianak untuk meniru semangat Bunda Maria.” Tutupnya.

    Di kesempatan yang baik itu pula, Anna Dorkas selaku Ketua Panitia 100 tahun Legio Maria – KAP juga membagikan pengalamannya selama menjadi Legioner. Ia mulai masuk di Legio Maria sejak komuni pertama dan tergabung bersama Legio Junior lainnya.

    “Anak-anak kan tugasnya jadi putra putri altar (misdinar), menemani oma-oma, menghibur dengan cara membaca buku cerita,” katanya.

    Pengalaman

    Anna mengakui bahwa peranan Bunda Maria terhadap dirinya sungguh luar biasa, jadi bukan sekedar ikutan saja, tetapi Bunda Maria betul-betul membantu dalam suka dan duka sebagaimana yang Ia katakan “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

    Ia juga mengutarakan harapannya untuk Legio Maria-KAP agar semakin hari semakin berkembang dan banyak anak-anak atau presidium junior yang tergerak untuk menjadi seorang legioner.

    “Kami selaku pengurus perlu regenerasi, jadi harapannya semoga semakin terpanggil, karena menjadi seorang legioner betul-betul panggilan, tetapi kita ini panggilan awam.” Tutupnya. Roman_KomsosKAP

    Melayani Tidak Harus Mahal

    Nama: Rosalia Dewi, Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang- @komsoskap

    Oleh: Rosalia Dewi, Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Ketika awal mendengar bahwa ada rencana Bakti Sosial di Dusun Selabih Atas, saya merasa senang sekali dan tidak sabar untuk segera menawarkan diri. Tetapi keinginanku tak sejalan dengan apa yang ada di pikiran kedua orang tuaku, mereka tidak menyetujui keinginanku.

    Mereka takut, apalagi mengetahui situasi saat ini yaitu Covid-19. Meskipun demikian, aku tetap berpikir positif bahwa kedua orang tuaku sunguh menyayangiku. Aku berusaha terus-menerus agar hati kedua orang tuaku menjadi lunak, sampai-sampai aku harus bertindak sedikit keras kepada orang tuaku. Dan syukur kepada Allah, akhirnya aku mendapatkan izin dari mereka.

    Ketika hendak berangkat, hatiku menjadi sedih oleh karena hujan tidak henti-hentinya menguyur perjalanan kami. Jadwal keberangkatan yang sudah kami tentukan terpaksa kami undur, sampai hujan berhenti.

    Baca Juga: Mgr. Agus Ucapkan Terima Kasih untuk Indonesia Award Center

    Dan syukur kepada Allah, hujan pun mulai reda dan akhirnya kami berangkat. Lalu tantangan lain lagi adalah bahwa ketika di dalam truck yang kami tumpangi, semua temanku yang perempuan mabuk perjalanan. Dan syukur kepada Allah, semuannya dapat kami tangani berkat kekompakan kaum adamnya.

    Bersyukur Kepada Tuhan

    Hari pun menunjukkan jam makan siang dan pak sopir kami segera mencari tempat persinggahan untuk makan. Awalnya beliau mengajak kami untuk rehat sejenak di area biara Bandol, namun karena sekarang sedang pandemi kami tidak diijinkan masuk. Akhirnya kami pun berhenti di teras rumah orang. Setelah selesai, kami pun melanjutkan perjalanan kami.

    Perjalanan kami berhenti sejenak di Paroki St. Pius X Bengkayang, demi mempersiapkan perjalanan ke lokasi Baksos.  Setelah itu, kami pun bersiap berangkat ke desa Sebalo. Tetapi sesampainya di sana, kami mendapatkan informasi yang sungguh mengejutkan, yakni telah terjadi longsor dan banjir setinggi dada orang dewasa di jalur transportasi utama.

    Saya dan teman-teman menjadi binggung tentang bagaimana carannya kami bisa ke sana, apalagi barang bawaan kami banyak. Aku saja membawa koper yang tidak ringan. Salah satu kekhawatiran ku adalah tentang barang bawaan pribadi yang begitu banyak dan berat.

    Baca Juga: Apa Makna “Jalan Salib” Bagi Umat Katolik?

    Tetapi kekhawatiran itu akhirnya sirna, ternyata sudah banyak umat yang menunggu kehadiran kami. Dan barang bawaan ku pun dibawa oleh mereka. “Terima kasih bapak-bapak”. Bersama umat, kami pun melakukan perjalanan dengan berjalan kaki.

    Ketika pemberitahuan awal, Fr. Ardi mengatakan bahwa jaraknya kurang lebih 200 meter, tetapi nyatannya adalah 5 kilometer. Dan dalam perjalanan, banyak sekali kisah baik suka maupun duka yang kami temui. Ada yang jatuh karena licin, ada kaki yang masuk ke dalam jalan yang berlumpur. Meskipun demikian, tetap ada teman yang selalu menghibur kami.

    Perjalanan

    Ketika sampai di dusun Selabih Atas, kami semua disambut dengan luar biasa oleh umat setempat. Di sinilah kami mulai dinamika keseharian kami selama sepuluh hari. Kebersamaan meskipun tanpa sinyal dan listrik, selalu terjadi dalam diri kami semua.

    Di sini kami bisa belajar tentang bagaimana menjadi pribadi yang sederhana dan menghargai setiap pekerjaan-pekerjaan kecil. Dan banyak lagi pelajaran berharga yang boleh saya temui. Aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas pengalaman yang boleh aku alami selama sepuluh hari di tempat ini.

    Baca Juga: Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar

    Aku dan teman-teman Ikatan Mahasiswa Katolik didampingi oleh seorang Frater yang memurutku keren, unik, berbeda dari frater lainnya.  Namanya adalah Frater Ardi. Ia mengarahkan kami tentang apa yang harus kami lakukan selama di sini.

    Untuk yang perempuan, kami diberi tanggung jawab mengajar anak-anak Sekolah Dasar hingga pada jenjang SMP. Lalu teman-teman laki-laki, mereka diberi tanggung jawab untuk membantu proses pembangunan gereja.

    Sederhana dan menghargai

    Adapun gebrakan yang aku lakukan, diantarannya: memberanikan diri untuk mengambil langkah selanjutnya yaitu membaur dengan masyarakat luar dan dengan anak-anak, membagikan apa yang aku ketahui dengan anak-anak dan orang tua, mendampingi dan mengarahkan mereka selayaknya seorang guru, mengamati sikap atau perilaku anak-anak yang tentunya akan bermanfaat bagi persiapanku kelak menjadi guru, mendekati dan mendampingi anak-anak yang dalam hal intelektual masih harus didampingi, dan masih banyak lagi.

    Baca Juga: Pentingnya Bersyukur Kepada Tuhan

    Dan pelajaran lain yang aku peroleh, terutama untuk memperbaiki kepribadianku, antara lain: belajar mengatur emosi, belajar menjadi pribadi yang penyabar, dll.

    Adapun hikmah yang bisa kuperoleh dari kegiatan Bakti Sosial ini adalah tentang indahnya kesederhaan, bersyukur, cinta dan kasih Tuhan selalu bersama kita. Yesus wafat di kayu salib  untuk menebus dosa kita, Dia menderita berjuang melawati maut hingga wafat di salib demi kita. Kabahagian tidak selalu tentang harta tahta dan gelar tetapi lewat kesederhanan ,pengorbanan dan tindakan kita yang membuat orang lain senang adalah sebuah kebahagian bagi kita.

    Tuhan Menghidupkan Api yang Padam

    Nama: Florensia Wiwin Winarti, Prodi Bahasa Inggris Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang-@komsoskap

    Oleh: Florensia Wiwin Winarti, Prodi Bahasa Inggris Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Tepat pada hari kamis, 4 Februari 2021, Pukul 07.55 WIB kami IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik) STKIP Pamane Talino Ngabang berangkat untuk melaksanakn Bakti Sosial di Dusun Selabih Atas, Desa Setia Budi, Kecamatan Bengkayang, Kabupaten Bengkayang.

    “Beratap langit, beralaskan bumi”. Itulah sebutan untuk Gereja stasi St. Matius Selabih Atas yang kami kunjungi. Dengan sebutan yang begitu menyayat hati, membuat hati ingin memaki. Perjuangan yang begitu panjang untuk dapat sampai di tempat tersebut. Dengan berbagai kejutan alam yang kami temui dan berbagai kendala dalam diri.

    Baca Juga: Tanda Kasih untuk Klinik Pratama St. Elisabeth- Bengkayang

    Mabuk perjalanan adalah rintangan pertama yang saya hadapi. Lemah, sesak, pusing, semuanya saya rasakan pada saat itu. Ingin menangis, dan ingin rasa nya pulang. Namun Tuhan menitipkan teman yang begitu peduli, yang merawat saya sehingga saya dapat tertidur di dalam mobil.

    Setelah sampai di Paroki St. Pius X Bengkayang, saya mendapatkan kabar duka, bahwa nenek dari pacar saya meninggal dunia. Hal itu membuat saya semakin ingin kembali ke Ngabang, untuk bertemu dengan mereka. Melihat sosok nenek untuk terakhir kalinya. “Tuhan, cobaan apalagi yang Kau berikan kepada ku” gumam ku dalam hati.

    Pergulatan

    Waktu terus berjalan, dan tibalah kami di rumah kepala desa Setia Budi. Setiba disana kami sudah di sambut oleh beberapa umat yang sangat antusias dan gembira dengan kehadiran kami. Disitu Tuhan menguatkan saya kembali. Membulatkan tekad awal untuk melayani.

    Sembari istirahat sejenak, ada salah satu umat yang berkata bahwa kami harus berjalan kaki dari rumah kepala desa menuju gereja dengan jarak yang sangat jauh, melewati banjir, jalan yang menanjak dan tanah longsor. Di situ muncul ketakutan dan kegelisahan bagi kami bagaimana cara nya membawa semua perlengkapan yang kami butuhkan.

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus Terima Plakat Professional Award 2021

    Namun, lagi dan lagi Tuhan membantu dan menghidupkan kembali semangat kami dengan mengirimkan umat-Nya yang luar biasa. Semua umat yang datang di rumah tersebut membantu kami membawa sebagian perlengkapan penting.

    Ternyata tidak hanya sedikit yang membantu kami, masih banyak umat lain nya yang menunggu di jalan untuk membawa perlengkapan kami secara bergantian, sehingga kami bisa sampai di tempat tujuan sekitar pukul 17.30 WIB. “07.55 WIB-17.30 WIB, wow perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan”.

    Melayani

    Selama berada disana, rasa haru, bahagia dan sedih saya rasakan. Saya sangat terharu melihat semangat anak anak disana.  Mereka yang dulu nya sudah vakum dan  tidak bersemangat untuk belajar, menjadi berkobar kembali dengan kehadiran kami disana. Mereka sangat gembira dan sangat semangat untuk belajar dan berdoa.

    Semua umat ikut bekerja sama dalam membangun gereja, tidak hanya bapak-bapak, tetapi ibu-ibu dan anak-anak juga ikut bekerja. Mencangkul dan mengangkut tanah. Semangat mereka untuk memiliki gereja baru tidak pernah padam, mereka terlihat kuat dan begitu ceria. Hal yang begitu menyayat hati saya adalah, pendidikan sangat sulit mereka dapat kan sehingga banyak yang putus sekolah.

    Baca Juga: Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar

    Mereka memiliki niat dan cita-cita yang sangat tinggi, namun keadaan membuat mereka terkunci dan membuat api menjadi mati.  Tetapi saya percaya, bahwa melalui kehadiran kami, Tuhan telah menghidupkan kembali api yang telah mati tersebut.

    Semangat

    Dan saya bersyukur, Tuhan telah mengutus Fr. Ardi untuk menjadi pendamping dan pembimbing kami disana, sehingga kami dapat bekerja dan melayani dengan baik. Tanpa beliau, mungkin kami tidak akan bisa mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa seperti ini.

    Dari pengalaman saya selama berada di Stasi St. Matius Selabih Atas, menyadarkan saya bahwa kita tidak pernah sendiri. Tuhan tidak pernah membiarkan umat nya kesusahan dan berada di dalam kegelapan.

    Tuhan akan menggerakan tangan nya untuk menghidupkan kembali api yang telah padam. Harapan saya, semoga semangat umat disana selalu berkobar dan semoga pemerintah memperhatikan pendidikan anak-anak disana.

    TERBARU

    TERPOPULER