Tuesday, July 23, 2024
More

    Apa Makna “Jalan Salib” Bagi Umat Katolik?

    Oleh : P. Silvanus Ilwan,  CP

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Jalan Salib adalah devosi yang mengarahkan pandangan spiritual kita pada peristiwa Yesus Kristus mulai dari keputusan hukuman mati pada Yesus hingga peristiwa pemakaman-Nya. Dalam bahasa Latin, Jalan Salib disebut Via Dolorosa artinya Jalan Penderitaan. Inilah saat-saat terakhir hidup Yesus secara historis di dunia. Devosi ini adalah peringatan akan peristiwa tersebut.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19

    Tradisi Jalan Salib dirintis oleh Santo Fransiskus Asisi, diperkenalkan oleh Ordo Fransiskan abad ke-14 lalu meluas di Gereja Katolik Roma pada abad pertengahan. Paus  Klemens XII menetapkan secara resmi terkhusus perhentian-perhentiannya secara definitif pada abad XVII yang berlaku sampai sekarang.

    Pandangan Spritual

    Devosi ini biasa dilaksanakan di biara-biara setiap hari Jumat.  Namun umumnya dilaksanakan oleh umat beriman pada masa Prapaska terutama Jumat Agung.

    Ada 14 perhentian atau stasi Jalan Salib:

    1. Yesus dijatuhi hukuman mati
    2. Yesus memanggul salib
    3. Yesus jatuh untuk pertamakali
    4. Yesus berjumpa dengan ibu-Nya
    5. Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene
    6. Wajah Yesus diusap oleh Veronika
    7. Yesus jatuh untuk kedua kalinya
    8. Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya
    9. Yesus jatuh untuk ketigakalinya
    10. Pakaian Yesus ditanggalkan
    11. Yesus disalibkan
    12. Yesus wafat di kayu salib
    13. Yesus diturunkan dari salib
    14. Yesus dimakamkan

    Dari 14 perhentian atau stasi itu, tidak semua tertulis secara detali atau sangat jelas dalam Kitab Suci, misalnya jumlah berapakali Yesus jatuh. Semua itu bersandar pada tradisi suci Gereja.

    Perhentian Jalan Salib

    Devosi Jalan Salib menjadi penting bagi iman Kristiani karena melalui devosi ini, umat diingatkan akan peristiwa Yesus menebus dosa manusia. Jalan Salib menjadi penguat iman akan inkarnasi Sabda menjelma menjadi manusia. Kita tidak melupakan bahwa dalam diri Yesus ada dua kodrat yaitu kodrat insani dan ilahi. Di sini juga Yesus membuktikan ketaatanNya kepada Allah Bapa. Manusia juga diingatkan akan kejahatan manusia akibat tipu daya iblis. Di sini juga orang belajar mempertahankan iman sampai akhir hayat meski jalan beriman itu penuh penderitaan.

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus Terima Plakat Professional Award 2021

    Akan tetapi, di sini juga orang beriman memiliki harapan. Bahwa kebenaran meski membuat seseorang menanggung penderitaan, namun jika diteruskan sampai selesai akan membawa orang pada kebangkitan, hidup baru bersama Allah sesudah kematian. Yesus memperlihatkan bahwa Dia sendiri meski tidak bersalah, namun dipersalahkan oleh pengadilan yang tidak adil. Ketika pengadilan tidak membela orang benar, Tuhan tetap dapat berkarya di dalam diri orang benar sehingga kebenaran tetap bersinar meski di awal kisah ditutup mendung penderitaan.

    Iman Kristiani 

    Pada peristiwa Jalan Salib orang beriman diyakinkan bahwa dosa manusia, tipu daya iblis, penderitaan hingga kematian tidak sanggup mengalahkan kesetiaan kasih Allah pada ciptaan. Sebab ciptaan dicipta untuk dicinta.

    Baca Juga: MENGENAL SOSOK USKUP AGUNG PONTIANAK, MGR. AGUSTINUS AGUS

    Di Jalan Salib, telah terbukti bahwa perjuangan iblis untuk mengalahkan Yesus menjadi sia-sia. Iblis telah mengerahkan segala daya upayanya untuk menakuti Yesus agar membelot dari visi misi kebenaran. Namun usaha itu sia-sia, sebab Yesus menjalani sampai selesai perintah Bapa yaitu menyelamatkan umat manusia. Dengan ketaatan itu Yesus menanggung kematian sementara agar manusia dapat peluang bebas dari kematian kekal.

    Hal ini dapat dimengerti bila kita konsisten pada kisah Alkitab tentang Adam manusia pertama. Adam yang ditempatkan di taman Eden telah melanggar perintah Allah dengan memakan buah terlarang. Dimana sanksinya adalah hukuman mati. Namun hukuman mati itu dibatalkan dengan digantikan anak domba yang terus menerus dikorbankan setiap tahun. Namun hal itu tidak sepadan sehingga pengorbanan itu tak pernah final dan kekal.

    Ciptaan Dicipta Untuk Dicinta

    Namun, Allah tetap mengasihi manusia dan tak ingin ciptaan-Nya musnah. Telah direncanakan-Nya pengganti Adam untuk menjalani sanksi hukuman mati yaitu Yesus Kristus, Putra Allah, yang berhasil memperbaiki kegagalan Adam dalam ketaatan. Itulah sebabnya Yesus disebut Anak Domba Allah, Adam Baru dan Mesias. Ia yang Terurapi, derajat-Nya paling tinggi dari semua manusia di bumi.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus: Jadilah Imam yang Inovatif dan Memiliki Kemampuan Membaca Tanda Zaman

    Pengganti sempurna Adam lama. Dia yang layak menggantikan Adam dan tidak gagal. Seluruh pengorbanan anak domba dalam Perjanjian Lama tidaklah seberharga darah-Nya, Anak Domba Allah. Darah-Nya yang tertumpah telah membasuh luka dan dosa manusia. Di situ juga terungkap bahwa penderitaan orang benar bukanlah aib, melainkan kesaksian akan ketaatan orang pada Allah yang suci.

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles