Monday, May 11, 2026
More

    Positioning Produk Antara Citra Merek dan Realitas Pasar

    DUTA, Pontianak – Dalam dunia bisnis yang kompetitif, positioning sering dipandang sebagai strategi penting untuk membangun citra produk di benak konsumen. Berbagai literatur pemasaran menjelaskan positioning sebagai upaya perusahaan menciptakan persepsi tertentu agar produknya memiliki tempat khusus di pasar. Namun, dalam praktiknya, positioning tidak selalu berjalan seideal teori.

    Citra merek yang dibangun perusahaan kerap berhadapan dengan realitas pasar yang lebih kompleks, di mana pengalaman konsumen, perubahan tren, dan persaingan justru menentukan bagaimana sebuah produk benar-benar dipersepsikan. Di sinilah positioning produk berada di antara citra merek yang dirancang dan realitas pasar yang tidak selalu bisa dikendalikan.

    Menurut Kotler dan Keller, positioning merupakan aktivitas perusahaan dalam membentuk citra dan penawaran agar sesuai dengan target pasar yang dituju. Definisi ini menegaskan bahwa positioning berkaitan erat dengan bagaimana perusahaan ingin produknya dipersepsikan oleh konsumen.

    Namun, definisi tersebut juga mengandung asumsi bahwa citra yang dibangun dapat sepenuhnya diterima oleh pasar. Padahal, persepsi konsumen tidak hanya dibentuk oleh pesan pemasaran, tetapi juga oleh realitas pengalaman penggunaan produk di lapangan.

    Tujuan utama positioning adalah menciptakan citra yang spesifik dan diinginkan perusahaan agar produk memiliki keunggulan dibanding pesaing. Secara konseptual, tujuan ini terdengar ideal.

    Namun, ketika citra yang ditanamkan tidak sejalan dengan realitas kualitas produk atau layanan yang dirasakan konsumen, positioning justru berpotensi menimbulkan kekecewaan dan menurunkan kepercayaan pasar. Dengan demikian, keberhasilan positioning tidak hanya ditentukan oleh kejelasan citra, tetapi juga oleh kesesuaiannya dengan kondisi pasar yang sebenarnya.

    Berbagai jenis positioning seperti brand positioning, market positioning, dan product positioning menunjukkan bahwa perusahaan memiliki banyak cara untuk menempatkan produknya di benak konsumen.

    Namun, banyaknya pilihan strategi ini juga meningkatkan risiko kesalahan. Brand positioning yang terlalu menonjolkan citra tanpa didukung kualitas nyata, atau product positioning yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, dapat menyebabkan kesenjangan antara janji merek dan realitas yang dirasakan konsumen.

    Salah satu contoh nyata kesenjangan antara citra merek dan realitas pasar dapat dilihat pada produk smartphone. Dalam iklan, sebuah smartphone sering ditampilkan memiliki performa yang cepat, kualitas kamera yang tajam, serta pengalaman penggunaan yang optimal. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit konsumen yang merasakan hal berbeda setelah beberapa bulan pemakaian.

    Performa perangkat mulai melambat, kualitas kamera tidak sebaik yang ditampilkan dalam iklan, bahkan hasil foto terlihat buram dalam kondisi tertentu. Ketidaksesuaian antara klaim pemasaran dan pengalaman nyata konsumen ini menunjukkan bahwa positioning yang dibangun lebih menekankan citra ideal dibandingkan kesiapan produk di pasar.

    Kondisi ini memperlihatkan bahwa positioning yang terlalu menonjolkan keunggulan visual dan klaim performa tanpa disertai transparansi mengenai batasan produk berpotensi menciptakan ekspektasi berlebihan di kalangan konsumen. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, kepercayaan terhadap merek pun menurun.

    Untuk menghindari kesenjangan tersebut, perusahaan perlu memastikan bahwa strategi positioning tidak hanya berfokus pada citra visual dalam iklan, tetapi juga selaras dengan kualitas dan daya tahan produk dalam jangka waktu penggunaan. Positioning yang jujur dan berbasis realitas pasar justru lebih berpotensi membangun loyalitas konsumen dibandingkan klaim berlebihan yang sulit dipertahankan.

    Oleh karena itu, positioning produk seharusnya tidak dipahami semata-mata sebagai upaya membangun citra yang menarik, melainkan sebagai proses berkelanjutan untuk menyesuaikan persepsi merek dengan realitas pasar.

    Positioning yang berhasil bukan yang paling persuasif secara komunikasi, tetapi yang paling jujur dan relevan dengan pengalaman konsumen. Tanpa keselarasan tersebut, citra merek hanya akan menjadi konstruksi semu yang mudah runtuh ketika diuji oleh pasar.

    SUMBER REFERENSI:
    Nursalamah, Arsidin Batubara, Fakhrurrozi, Imelda Marthauli Pardede & Edison Siregar (2025). Analisis Strategi Pemasaran Perusahaan Dagang Dalam Meningkatkan Penjualan. Jurnal Transformasi Pendidikan Indonesia (JTPI), Vol. 3 No. 3, Juli 2025, hlm. 338–340.
    https://instiki.ac.id/2024/03/04/mengenal-positioning-dalam-bisnis/

    * Martina Angelina_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles