Monday, June 15, 2026
More
    Home Blog

    Terbuka untuk Semua – Catholic Youth Revival (Volume 2.0) Menghadirkan “Set the Fire” di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak

    Catholic Youth Revival (Volume 2.0) - "Set the Fire"

    MAJALAHDUTA.COM, PONTIANAK– 22 September 2023 – Bertempat di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak dengan gembira mengundang semua orang untuk bergabung dalam perayaan spiritual yang luar biasa!

    Tanggal 27 September 2023, mulai pukul 19.00 WIB, kita akan mengalami momen rohani yang mendalam dalam “Catholic Youth Revival (Volume 2.0)” dengan tema utama: “Set the Fire”.

    Praise & Worship, Drama, Kesaksian, dan Pelayanan Doa akan menjadi bagian penting dari malam yang penuh berkat ini.

    Acara ini akan diramaikan oleh Metusalah Worship, yang akan membawa pengalaman penyembahan yang tak terlupakan.

    Acara ini terbuka untuk umum, jadi ajaklah keluarga dan teman-teman Anda untuk bergabung dalam kebahagiaan ini.

    Ini adalah kesempatan yang sempurna untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan membagikan momen kebersamaan dengan komunitas Anda.

    Jadi, tandai tanggalnya di kalender Anda, dan mari kita bersatu dalam cinta dan penyembahan di Catholic Youth Revival (Volume 2.0) – “Set the Fire” di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak pada tanggal 27 September 2023.

    Jangan lewatkan pengalaman spiritual ini yang memukau! Yuk ikuti…

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Panitia

    Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Orang yang bekerja di dalam lembaga misi pendidikan milik Keuskupan Agung Pontianak harus serius dan mampu melihat kemungkinan perkembangan zaman. Hal ini diungkapkan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus dalam sambutannya di Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021.

    Acara pelantikan direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dilaksanakan di Gedung Akper dan Akbid yang dihadiri langsung oleh segenap pengurus Yayasan dan Imam yang bertugas dalam misi Pendidikan itu.

    Acara tersebut dimulai tepat pada Pukul 10.00 WIB yang didahuli dengan menyayikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, doa pembukaan yang dibawa oleh RP Mingdry Hanafi Tjipto, OP dan langsung dilanjutkan pembukaan sidang senat terbuka.

    Acara tersebut dilakukan dengan pembacaan surat keputusan dan dilanjutkan dengan pelantikan direksi Akper Dharma Insan dan Direksi Akbid Santa Benedicta untuk masa bakti 2021-2022. Adapun yang dilantik yakni Ns Florensius Andri, M.Kep sebagai direktur Akper Dharma Insan, Ns Lydia Moji Lautan, M.Kep sebagai W.K I, Ns Eben Haezer Kristian, M.Kep sebagai W.K II dan Ns Usu Sius, S.Kep, M. Biomed sebagai W.K III.

    Baca Juga: Para Imam di Mozambik mengecam penculikan “ratusan” anak-anak oleh para Jihadis

    Sedangkan untuk kepengurusan Akbid yaitu, Trivina, SST., M.Kes sebagai Direktur Akbid St. Benedicta, Agnes Dwiana Widi Astuti, S.Si.T.,M.Kes sebagai W.K I, Tri Maharani, SST., M.K.M sebagai W.K II dan Efrosina Ludovika Kalista, SST., M.K.M sebagai W.K III.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus mengucapkan selamat kepada pengurus Direksi baru untuk Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dan sekaligus berterima kasih kepada pengurus yang lama karena paling tidak sudah pernah mengambil andil dalam kepengurusan dan perkembangan pendidikan selama ini.

    Dalam sambutannya, Mgr. Agustinus Agus mendukung penuh langkah-langkah yang diambil oleh ketua Yayasan.

    “Jangan menoleh ke belakang, kedepan kita harus berani berubah, berani mengambil langkah-langkah yang tidak biasa. Karena yang kita hadapi ini sudah tidak biasa lagi. Maka jika kita mengambil langkah yang biasa lagi maka kita akan ketinggalan,” kata Uskup Agus.

    Baca Juga: Paus Fransiskus ungkapkan bahwa orang miskin memungkinkan manusia untuk menemukan wajah sejati Bapa

    Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa hati nya sungguh ada untuk Akper dan Akbid selaras dengan mimpinya bahwa anak kampung pun bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

    “Saya tidak mau kembali pada politik masa lalu,” lanjut Uskup, “dan tolong mari kita bangkit bersama. Berani berubah dan berani mengambil langkah-langkah yang luar biasa. Agar eksistensi Akper dan Akbid sungguh-sungguh dirasakan semua orang.”

    Iman Katolik Harus Menjadi Inspirasi

    Sebagai pemilik Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa seluruh karya gereja dimanapun ia berada, harus mengedepankan kepentingan orang banyak Akper dan Akbid ini jelas milik Katolik dengan nuansa Katolik.

    “Dan iman katolik harus menjadi inspirasi dan kita harus melaksanakannya terutama pelayanan untuk kepentingan orang banyak tetap menjadi fokus utama dan harus kita kedepankan,” lanjut Uskup. “Bukan hanya untuk kepentingan umat katolik saja, apalagi untuk karyawan-karyawan saja tetapi untuk banyak umat dan banyak orang, mohon maaf.”

    Baca juga: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pintianak Periode 2021-2022

    Dalam sambutannya Uskup Agung Pontianak mengutip Gaudium et Spes nomor 1 dalam salah satu ensiklik yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan ke II tahun 1965 dikatakan “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Yesus.”

    Mgr. Agus menegaskan tidak pernah gereja Katolik hanya memperhatikan kelompoknya. “Ini harap diketahui,” tambah Uskup, Yang paling penting cara orang katolik berkarya harus didorong dari inspirasi iman katolik itu.

    Baca Juga: Tahta Suci: Tempat-tempat warisan budaya religius harus dilindungi dan dipromosikan

    Dalam sambutan itu, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus juga mengungkapkan pentingnya belajar teknologi yang ada dewasa ini. “Memang sekarang zamannya kecepatan dan perkembangan Teknologi, maka dari itu pentingnya kita menghayati itu semua dan mempraktekkanya untuk kepentingan banyak orang dan pelayanan.”

    Inovasi adalah kata kunci

    Kesempatan yang sama itu pula, RP Johanes Robini Marianto, OP sebagai ketua Yayasan mengisahkan kisah tentang brand HP Nokia yang melegenda namun sangat kelam perjalanan bisnis Nokia tersebut.

    RP Robini mengisahkan “siapa dari kita yang tidak kenal brand HP Nokia? Merk ini melegenda di akhir 1990-an dan tahun 2000-an,” katanya. “Kita semua pasti pernah memegang HP Nokia. Tetapi sekarang: “Siapakah yang memakai HP merk Nokia?” Nokia bahkan dikabarkan bangkrut dan diakuisisi oleh Microsoft di tahun 2013. Dikatakan factor utama dari awal kehancuran Nokia adalah mulai adanya Apple di tahun 2007 dengan Iphone.”

    Ia juga mengutip Kompas.com yang mengatakan ada tiga (3) kesalahan Nokia; yaitu (1) kualitas teknologi, (2) arogansi manajemen yang tidak mau mendengar dan melihat perubahan, dan (3) lemahnya visi misi (Kompas.com 30 Maret 2021). Ketiga kesalahan ini membuat Nokia tidak bisa inovasi. Inovasi adalah kata kunci untuk perkembangan (kemajuan), mendengarkan pasar, dan kreativitas untuk selalu memunculkan hal baru yang menantang dan canggih. Kegagalan ini membuat Nokia tidak lagi menjadi “leading” (bahkan jatuh terperosok) di teknologi HP dunia,

    Tiga puluh (30) tahun yang lalu semua pasti mengenal SPK yang kemudian berevolusi menjadi AKPER dan AKBID. Saat itu kita ini “leading industry” (kalau boleh dikatakan demikian) di dunia Pendidikan keperawatan dan kebidanan. Mungkin saat itu kita satu-satunya yang ada dan masyarakat Kalbar tidak ada pilihan.

    Baca Juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    “Sepuluhan (10-an) tahun yang lalu mulai muncul AKPER/AKBID lainnya di kota Pontianak atau Kalbar,” lanjut Pastor Robini, “Mereka bahkan sudah mendahului kita di program studi yang bukan hanya D3, melainkan S1. tu sudah satu inovasi! Kita belum bicara, dan saya belum tahu juga, bagaimana dosen mereka (tentu ada hubungan dengan rekruitmen) dan juga visi-misi mereka serta jaringan yang mereka miliki. Sekarang kita berteriak kurang mahasiswa/mahasiswi dst dst. Indikator utama memang angka mahasiswa. Belum lagi isu-isu yang berkembang tentang kita. Saya katakana “isu” karena bisa benar/bisa tidak.”

    “Kita memang masih punya nama. Yes! Bupati Carolin mengatakan di depan umum dan kepada saya pribadi. Namun banyak yang mengingatnya sebagai kejayaan tempo doeloe,” tambah Pastor Robini.

    Business is NOT as usual

    Dalam sambutan itu, RP Johanes Robini Marianto, OP mengungkapkan bahwa masalah manajemen menjadi besar kalau saya katakan, secara alam bawah sadar, kita jatuh pada “arogansi manajemen” yang turut menghancurkan Nokia; yaitu tidak mau mendengar pasar, tidak mau berubah dan adaptasi serta inovasi, dan hanya mengandalkan kejayaan masa lalu. “Kita kalau tidak sadar dan terbuka mengakui masalah kita (bukan hanya menyangkal atau denial), saya khawatir kita akan menjadi Nokia baru!” tambahnya.

    “Ketika kita melantik direksi-direksi baru, sebagai Ketua Yayasan, saya mengingatkan beberapa hal,” kata Pastor Robini.

    Business is NOT as usual! Hal ini diperparah dengan pandemi Covid-19. Tidak ada yang paten lagi. Dahulu kita tidak kenal Zoom. Sekarang semua tahu dan terpaksa harus tahu Zoom. Prediksi ke depan, paling tidak lima (5) tahun ke depan, masalah Covis-19 masih akan menghantui kita. Dan bukan hanya itu saja, pola yang tercipta dengan pemakaian tehnologi di dunia Pendidikan sudah mulai memasuki generasi 4.0. Disrupsi, kata orang.

    “Maka kalau kita masih berpikir, sadar atau di bawah sadar, dunia masih kayak 3 tahun yang lalu, kita sudah sangat sangat salah,” katanya.

    Untuk itu inovasi dibutuhkan. Inovasi di dalam kurikulum, metode pengajaran dengan mengikutsertakan tehnologi, kebutuhan akan daya saing dengan para “competitor,” dan strategi marketing yang up to date. Kalau tidak ada, maka kita akan menjadi Nokia.

    Baca Juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    Pandemi, sekali lagi, adalah “winter is coming!” Maka akan terjadi kompetisi hebat untuk bisa hidup; dan kompetisi kali ini bukan lagi dengan competitor melainkan dengan kenyataan pandemi dan pasca pandemi. Untuk menjadi inovatif, maka lepaskanlah arogansi masa lalu karena kenyataannya kita sudah jatuh banyak. Pengurus baru harus berani inovasi dan itu dibutuhkan bukan hanya keberanian melainkan kreativitas dan tidak bisa mengandalkan masa lalu.

    Pastor Robini mengingatkan pengurus agar perlu meredefinisikan masa depan institusi ini yang akan dituju. Untuk itu direvisi Statuta yang menekankan visi dan misi baru. Pendidikan kalau sekarang hanya mencari pemasukkan atau kasarnya uang; akan gagal. Institusi Pendidikan harus memberikan value (nilai).

    Nilai (value) ini akan menjadi uang! Value yang benar terletak pada efeknya dirasakan para mahasiswa-mahasiswi, masyarakat pengguna dan tentunya pemerintah daerah. Untuk meningkatkan value mereka harus mulai dengan Jaringan (supply chains) dan tentunya merupakan kerja berat tiga periode jabatan para direksi ini.

    Pengurus yang baru harus bisa membuat jaringan (supply chains), inovasi dan kerja keras. Ini tentu bukan hanya para direksi; melainkan semua. Sebenarnya, jujur, tugas Direktur adalah jalan-jalan membuka koneksi (connectedness). Kalau direktur selalu di kantor urus administrasi saja; maka anda semua bukan pemimpin.

    Baca Juga: Prajurit Yonzipur 6/SD Ikuti Uji Kenaikan Sabuk Hijau ke Putih

    Pengurus hanyalah “penjaga kendang/gawang.” Para Direktur haruslah menjadi leader yang bisa membuat koneksi dengan semua stakeholders untuk menaikkan nilai (value) kedua Lembaga ini dan menjadikan kedua Lembaga ini mempunyai reputasi. Koneksi yang pengurus bangun harus berbentuk program dan proyek yang, bisa mengembangkan kedua Lembaga ini. Pengurus dibantu para wakil direktur dan yayasan tambah lagi Sekjend. Itu artinya administrasi sudah ada yang urus. Tugas para direktur adalah bertemu dengan masyarakat, pemda dan users (pengguna lulusan).

    Maka Pastor Robini harap ini sungguh dipikirkan dan direnungkan.

    Pastor Robini mengharapkan dengan pelantikkan kali ini merupakan awal kebangkitan dari kedua Lembaga yang telah susah payah dirintis para Misionaris dalam Misi Gereja di Borneo.

    Baca Juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Sebagai Dewan Pembina Yayasan Landak Bersatu dan Anggota DPR RI, Dr. Adrianus Asia Sidot mendukung penuh misi pendidikan yang dimulai oleh Keuskupan Agung Pontianak.

    Ini adalah tonggak baru perkembangan pendidikan di Akademi Perawat Dharma Insan dan Akademi Kebidanan St. Benedicta.

    Ia berdoa dengan adanya tonggak baru dan sejarah baru ini, apa yang menjadi harapan oleh Uskup Agung Pontianak dan ketua yayasan harus betul diwujudkan, apalagi sekarang di era 4.0, atau barangkali di negara lain sudah 5.0.

    Kita sendiri masih berkutat pada 4.0 yang dimana kita sendiri juga masih belajar untuk menguasai perkembangan tersebut. Untuk itu harapan saya direksi yang baru ini harus responsive dan peka dengan perkembangan dunia yang terjadi, “ karena perubahan tidak bisa kita hindari.”-)*

    Belajar Berjalan di Tengah Zaman AI

    Seminar Nasional PKSN XIII · Membumikan Pesan Paus Leo XIV - “Menjaga Wajah dan Suara Manusia” (Sumber: Bahan Seminar Romo Andre OP)

    MajalahDUTA.Com | Di tengah hiruk-pikuk perbincangan tentang kecerdasan buatan (AI), RP. Andreas Kurniawan, OP memilih memulai refleksinya dengan sesuatu yang tampak sederhana: seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan.

    Bukan grafik teknologi, bukan statistik perkembangan AI, melainkan sebuah lukisan karya Vincent van Gogh yang menggambarkan langkah pertama seorang anak menuju pelukan orang tuanya.

    Pilihan itu bukan tanpa alasan.

    Dalam Seminar Nasional PKSN XIII di Pontianak, Romo Andre mengajak peserta melihat bahwa pertanyaan terbesar di era kecerdasan buatan sesungguhnya bukanlah seberapa cerdas mesin dapat dibuat, melainkan apakah manusia masih mampu mempertahankan kemanusiaannya.

    Peserta pelatihan konten PKSN XIII Pontianak saat mendikusikan konsep sebelum eksekusi. Foto: Komsos KAP

    Dari sudut pandang budaya, pertanyaan itu menjadi semakin relevan. Sebab budaya pada dasarnya adalah cara manusia memberi makna pada hidupnya.

    Ia lahir dari perjumpaan, ingatan, simbol, cerita, seni, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Teknologi dapat membantu menyebarkannya, tetapi tidak dapat menggantikan sumbernya.

    Lukisan First Steps, after Millet yang dijadikan titik berangkat seminar itu menyimpan pesan yang dalam. Van Gogh melukisnya ketika dirinya sedang bergulat dengan kesepian dan luka batin.

    Namun di tengah kerapuhan itu, ia justru memilih menghadirkan keluarga, kasih, rumah, dan harapan.

    Di situlah seni berbicara. Seni tidak sekadar menampilkan bentuk, tetapi menghadirkan jiwa manusia.

    Seperti dikatakan Van Gogh tentang pelukis yang dikaguminya, Jean-François Millet, bahwa Millet melukis “suara jiwa manusia.”

    Dalam dunia yang semakin dipenuhi algoritma, pesan itu terasa semakin penting. AI dapat menghasilkan gambar, menulis puisi, menciptakan musik, bahkan meniru suara manusia.

    Namun kemampuan teknis itu belum tentu menghadirkan pengalaman manusiawi yang menjadi dasar lahirnya kebudayaan.

    Romo Andre mengingatkan bahwa peradaban manusia dibangun bukan hanya oleh kecerdasan, tetapi juga oleh imajinasi bersama.

    Berpose di depan rumah Cagar Budaya Melayu di Kampung Wisata Caping, Kota Pontianak, Jumat (29/05/2026). Foto: Komsos KAP

    Agama, hukum, uang, negara, dan berbagai bentuk kehidupan sosial lahir dari kemampuan manusia mempercayai makna yang dibangun secara kolektif.

    Karena itu, tantangan budaya pada zaman AI bukan sekadar menghadapi teknologi baru. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga ruang bagi refleksi, kontemplasi, dan relasi manusia yang menjadi sumber makna.

    Dalam pemaparannya, Romo Andre menggambarkan paradoks zaman digital. Manusia memiliki ribuan koneksi, tetapi sering kehilangan perjumpaan yang nyata.

    Kita dapat berbicara tanpa henti, tetapi semakin sulit mendengarkan. Kita dapat menjadi viral, tetapi tidak selalu benar. Kita mempunyai banyak pengikut, tetapi kehilangan wajah manusia.

    Fenomena itu tidak hanya soal komunikasi tetapi juga merupakan gejala budaya. Ketika segala sesuatu diukur dengan kecepatan, perhatian manusia menjadi dangkal.

    Ketika algoritma menentukan apa yang kita lihat setiap hari, perlahan-lahan cara berpikir dan cara merasakan kita pun ikut dibentuk.

    Dalam konteks itulah Romo Andre mengutip pesan Paus Leo XIV tentang pentingnya menjaga wajah dan suara manusia. Wajah dan suara bukan sekadar identitas fisik.

    Di dalamnya terkandung keunikan pribadi dan pantulan kasih Allah yang tidak dapat direduksi menjadi data digital.

    Budaya manusia selalu bertumbuh dari wajah dan suara yang nyata. Dari cerita yang dituturkan seorang nenek kepada cucunya.

    Dari lagu yang diwariskan turun-temurun. Dari bahasa daerah yang menyimpan ingatan kolektif suatu komunitas. Dari doa yang diucapkan bersama. Dari tatapan mata yang menghadirkan pengertian tanpa kata.

    AI dapat meniru semua bentuk luar itu. Namun, seperti ditegaskan Romo Andreas, AI tidak memiliki kehadiran, hati nurani, kasih, maupun kesaksian hidup.

    Memang AI dapat menghasilkan ekspresi, tetapi tidak mengalami kehidupan yang melahirkan ekspresi tersebut.

    Karena itu, kebudayaan manusia tidak pernah dapat direduksi menjadi sekadar informasi. Ada dimensi kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman, relasi, penderitaan, harapan, dan cinta.

    Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo (Mgr Didik). Foto: Komsos KAP

    Santo Thomas Aquinas menyebutnya sebagai perbedaan antara pengetahuan dan kebijaksanaan. AI mungkin unggul dalam informasi dan kalkulasi, tetapi kebijaksanaan tetap merupakan wilayah manusia.

    Pada akhirnya, seminar ini menghadirkan sebuah refleksi yang sangat budaya sekaligus sangat manusiawi. Di tengah perlombaan membuat mesin semakin pintar, manusia diajak kembali mengingat apa yang membuat dirinya sungguh manusia.

    Mungkin suatu hari AI mampu menciptakan karya seni yang menakjubkan. Mungkin ia mampu menghasilkan gambar yang lebih sempurna daripada pelukis mana pun. Namun seperti penutup refleksi Romo Andreas, hanya manusia yang dapat menemani manusia lain belajar berjalan.

    Dan mungkin, di situlah kebudayaan selalu menemukan rumahnya, pada kemampuan manusia untuk hadir bagi sesama manusia. Bukan sebagai algoritma, melainkan sebagai pribadi yang memiliki wajah, suara, hati, dan martabat.*Samuel (Sumber: Seminar Nasional PKSN 2026 – Rm. Andre, OP).

    Menjaga Manusia Tetap Manusia di Era AI

    Dokumentasi: Deeper dialog & Pertemuan Biarawan dan Biarawati Pertemuan Biarawan Biarawati & Peserta Nasional Menjaga Suara dan Wajah Manusia: Menjadi Imam dan Biarawan-wati (29 Mei 2026) Foto: Samuel.

    MajalahDUTA.Com | Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) sedang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Dalam hitungan detik, teknologi AI mampu menghasilkan tulisan, gambar, video, bahkan menjawab berbagai pertanyaan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan proses panjang untuk dikerjakan.

    Namun, di balik berbagai kemudahan itu, tersimpan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Pertanyaan penting yang muncul bukan lagi apakah AI bermanfaat atau tidak, melainkan bagaimana manusia menggunakan teknologi tersebut tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kebijaksanaan.

    Pesan itulah yang disampaikan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap saat Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII Tahun 2026 di Pontianak.

    “Untuk orang muda, saya berharap agar dengan bijak dan kritis memanfaatkan AI supaya jangan disesatkan,” ujarnya.

    Pesan singkat tersebut sesungguhnya menyentuh inti persoalan pendidikan di era digital. Kemampuan menggunakan teknologi tidak lagi cukup. Generasi muda juga dituntut memiliki kemampuan memilah informasi, memverifikasi kebenaran, dan mempertimbangkan dampak dari setiap teknologi yang digunakan.

    AI Membantu, Tetapi Tidak Menggantikan Proses Berpikir

    Dalam dunia pendidikan, AI menawarkan banyak peluang. Siswa dapat memperoleh penjelasan pelajaran dengan cepat, mahasiswa dapat mencari referensi lebih mudah, dan para pendidik dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

    Namun kemudahan ini dapat menjadi masalah ketika peserta didik mulai menggantungkan seluruh proses berpikirnya kepada mesin.

    Dokumentasi: Deeper dialog & Pertemuan Biarawan dan Biarawati Pertemuan Biarawan Biarawati & Peserta Nasional Menjaga Suara dan Wajah Manusia: Menjadi Imam dan Biarawan-wati (29 Mei 2026) Foto: Samuel.

    Dalam dialog bertema Menjaga Suara dan Wajah Manusia di Era Kecerdasan Buatan, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital, Rosarita Niken Widiastuti, mengingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu.

    “ChatGPT sungguh membantu kita, tetapi otaknya tetap harus dari kita. Kita ajak mereka berdiskusi, tetapi tidak menyerahkan proses berpikir kepada AI,” katanya.

    Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar, tetapi membentuk manusia yang mampu berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

    Jika siswa hanya menyalin jawaban dari AI tanpa memahami prosesnya, maka kemampuan berpikir kritis yang seharusnya berkembang justru dapat melemah.

    Tantangan Literasi Digital

    Pakar teknologi informasi Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit menjelaskan bahwa teknologi saat ini tidak lagi sekadar membantu pekerjaan fisik manusia. AI telah masuk ke wilayah yang lebih dalam, yaitu ranah kognitif dan emosional.

    Teknologi kini mampu meniru suara, menghasilkan wajah yang tampak nyata, menciptakan video yang meyakinkan, bahkan menyusun argumen yang terdengar logis.

    Karikatur, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. (Gambar olahan by. Samuel)

    Situasi ini membuat literasi digital menjadi semakin penting. Peserta didik perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang beredar di internet atau dihasilkan AI dapat dipercaya begitu saja.

    Kemampuan memeriksa fakta, membandingkan sumber, dan mempertanyakan informasi menjadi keterampilan dasar yang harus dimiliki generasi muda.

    Dalam konteks pendidikan, guru dan orang tua memiliki peran penting untuk mendampingi anak-anak dalam menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.

    Menjaga Keaslian Manusia

    Salah satu tantangan terbesar era digital adalah kecenderungan manusia menampilkan citra yang tidak sesuai dengan kenyataan. Media sosial dan algoritma sering mendorong seseorang untuk hanya menunjukkan sisi terbaik dirinya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.

    Fenomena ini dapat memengaruhi cara generasi muda memandang diri sendiri maupun orang lain.

    Karena itu, Prof. Eko menegaskan pentingnya menjaga otentisitas atau keaslian diri.

    “Kita tidak perlu takut memperlihatkan wajah dan suara kita yang penuh keterbatasan. Wajah dan suara kita adalah suci karena kita adalah gambar Allah,” katanya.

    Bagi dunia pendidikan, pesan ini mengandung makna penting bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga dari kemampuan mengenal dirinya sendiri, membangun karakter, dan menjalin relasi yang sehat dengan sesama.

    Pendidikan yang Memanusiakan

    Teknologi akan terus berkembang. AI kemungkinan akan menjadi bagian yang semakin tidak terpisahkan dari kehidupan manusia di masa depan. Namun pendidikan tetap memiliki tugas utama yang tidak dapat digantikan oleh mesin, yaitu memanusiakan manusia.

    Sekolah, keluarga, dan komunitas perlu membantu generasi muda mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, serta tanggung jawab moral. Semua kemampuan tersebut merupakan fondasi yang membedakan manusia dari mesin.

    Karena itu, pesan Mgr. Samuel Oton Sidin menjadi relevan bagi dunia pendidikan saat ini. AI dapat menjadi sahabat belajar yang bermanfaat, tetapi hanya jika digunakan dengan kebijaksanaan.

    Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan pertumbuhan karakter dan kedewasaan berpikir. Sebab pada akhirnya, yang menentukan masa depan bukanlah kecerdasan buatan, melainkan kecerdasan manusia dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.*Samuel. 

    Mgr. Samuel Oton Sidin: Orang Muda Harus Bijak dan Kritis Memanfaatkan AI

    Karikatur, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. (Gambar olahan by. Samuel)

    MajalahDUTA.Com | Masih hangat peristiwa mengenai pesan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap tentang kaum muda untuk tetap sadar dalam menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak dan kritis. Pesan tersebut disampaikannya saat ditemui di sela kegiatan Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII Tahun 2026 di Gedung Pasifikus, Pontianak, Jumat (29/5).

    “Untuk orang muda, saya berharap agar dengan bijak dan kritis memanfaatkan AI supaya jangan disesatkan,” kata Uskup Samuel.

    Dia mengajak generasi muda untuk memperhatikan ajaran dan nasihat Gereja mengenai perkembangan teknologi digital, khususnya dokumen Vatikan yang membahas kecerdasan buatan dan martabat manusia.

    “Perhatikan nasihat Bapa Suci dalam Antiqua et Nova yang baru saja dikeluarkan berkaitan dengan Artificial Intelligence. Pokoknya bijaklah memakai AI,” ujarnya.

    Pesan singkat tersebut sejalan dengan tema yang diangkat dalam sesi Deeper Dialog dan Pertemuan Biarawan-Biarawati bersama peserta nasional PKSN XIII 2026, yakni “Menjaga Suara dan Wajah Manusia: Menjadi Imam dan Biarawan-wati yang Otentik di Era AI.”

    Diskusi yang berlangsung di Gedung Pasifikus lantai 2 itu menghadirkan Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap, pakar teknologi informasi Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit, dan Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital, Rosarita Niken Widiastuti.

    Acara dipandu oleh moderator Jose Marwoto dan diikuti oleh pengurus Bidang Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) serta para biarawan dan biarawati dari berbagai keuskupan di Indonesia.

    Dalam paparannya, Uskup Samuel menekankan bahwa perkembangan teknologi, termasuk AI, membutuhkan kebijaksanaan dan kerja sama berbagai pihak.

    Deeper dialog & Pertemuan Biarawan dan Biarawati – Pertemuan Biarawan Biarawati & Peserta Nasional Menjaga Suara dan Wajah Manusia: Menjadi Imam dan Biarawan-wati Yang Otentik di Era AI | Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap – Prof.Dr.Richardus Eko Indrajit- Rosarita Niken Widiastuti _ Peserta: BP Komsos KWI, para biarawan/I _Moderator : Jose Marwoto (29 Mei 2026) Dokumentasi: Samuel.

    Menurutnya, dampak teknologi sangat bergantung pada niat orang yang menggunakannya serta kemampuan masyarakat untuk memahami dan mengelolanya secara benar.

    “Harus ada kebijaksanaan dan kerja sama. Semua tergantung intensi yang menggunakan dan siapa pendengarnya. Karena ini juga bagian dari pendidikan,” katanya.

    Sementara itu, Prof. Richardus Eko Indrajit menyoroti munculnya berbagai fenomena sosial baru akibat perkembangan teknologi digital dan AI. Salah satunya adalah budaya kepalsuan (curated self), ketika seseorang hanya menampilkan sisi terbaik dirinya demi mendapatkan pengakuan dan validasi dari lingkungan digital.

    Dia mengingatkan bahwa iman Kristiani justru mengajarkan kejujuran dan otentisitas. Allah, katanya, menunjukkan diri-Nya secara nyata melalui peristiwa Inkarnasi dan Salib.

    “Solusi dari krisis antropologi ini bukan membuang atau memusuhi teknologi, melainkan membangun perjumpaan nyata. Yesus tidak pernah berpura-pura dalam bayangannya,” ujarnya.

    Prof. Eko juga mengingatkan bahaya echo chamber dan komunitas-komunitas toksik di media sosial yang dapat memengaruhi cara berpikir dan perasaan manusia. Menurutnya, wajah dan suara manusia memiliki nilai luhur karena manusia diciptakan menurut gambar Allah.

    “Kita tidak perlu takut memperlihatkan wajah dan suara kita yang penuh keterbatasan. Wajah dan suara kita adalah suci karena kita adalah gambar Allah,” tegasnya.

    Dia menjelaskan bahwa teknologi saat ini telah memasuki ranah kognitif dan emosional manusia. Jika dahulu teknologi lebih banyak membantu pekerjaan fisik, kini AI mulai menyentuh aspek berpikir, berimajinasi, bahkan memengaruhi emosi dan pengambilan keputusan manusia.

    Karena itu, literasi digital dan literasi AI menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam manipulasi informasi.

    “Teknologi digunakan untuk menguatkan perjumpaan, bukan mengurangi perjumpaan,” katanya.

    Senada dengan itu, Rosarita Niken Widiastuti (Niken) mengingatkan bahwa teknologi AI saat ini mampu memanipulasi foto, video, dan teks hanya dalam hitungan detik.

    Kemampuan tersebut membuka peluang besar untuk kreativitas, tetapi sekaligus menghadirkan ancaman berupa penipuan, disinformasi, dan hilangnya kemampuan berpikir kritis.

    “ChatGPT sungguh membantu kita, tetapi otaknya tetap harus dari kita. Kita ajak mereka berdiskusi, tetapi tidak menyerahkan proses berpikir kepada AI,” ujarnya.

    Niken menegaskan bahwa AI tidak memiliki hati nurani seperti manusia. Karena itu, hasil yang diberikan AI harus selalu diperiksa dan diverifikasi kembali. Dia juga mengingatkan pentingnya pendampingan penggunaan gawai dan AI bagi anak-anak yang belum mampu membedakan informasi yang benar dan yang salah.

    Dokumentasi: Deeper dialog & Pertemuan Biarawan dan Biarawati – Pertemuan Biarawan Biarawati & Peserta Nasional Menjaga Suara dan Wajah Manusia: Menjadi Imam dan Biarawan-wati Yang Otentik di Era AI | Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap – Prof.Dr.Richardus Eko Indrajit- Rosarita Niken Widiastuti _ Peserta: BP Komsos KWI, para biarawan/I _Moderator : Jose Marwoto (29 Mei 2026) Dokumentasi: Samuel.

    Menurutnya, tantangan terbesar di masa depan adalah ketika manusia secara perlahan menyerahkan kemampuan berpikirnya kepada mesin. Jika hal itu terjadi, kemampuan bernalar dan refleksi manusia dapat mengalami penurunan.

    “Pemikiran adalah karunia yang diberikan Allah kepada manusia. Karena itu jangan sampai kita menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI,” katanya.

    Dialog malam itu, peserta diajak melihat bahwa perkembangan kecerdasan buatan tidak perlu ditanggapi dengan ketakutan. Sebaliknya, teknologi harus digunakan sebagai sarana untuk membangun kehidupan yang lebih baik, memperkuat relasi antarmanusia, dan menghadirkan wajah serta suara manusia yang autentik di tengah dunia digital yang semakin kompleks.

    Pesan utama yang mengemuka sepanjang pertemuan adalah bahwa AI harus menjadi alat yang membantu manusia berkembang, bukan menggantikan martabat, kebebasan, dan tanggung jawab manusia sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar Allah.*Samuel. 

    Kegelisahan tentang AI

    Karikatur Dr. E. Maran, S.E., M.E. (11 Juni 2026) - Kemahasiswaan UWDP

    MajalahDUTA.Com | “Gimana Sam? Nanti siang kita jumpa di kantor ya,” kata Pak Maran menjelang temu siang di UWDP.

    Ada perasaan yang selalu hadir ketika seseorang kembali ke tempat yang pernah membentuk dirinya. Masih hangat dalam ingatan, dahulu saya juga bagian dari mahasiswanya yang ikut dalam kelas.

    Kutipan menarik yang saya dapatkan beberapa kali bertemu beliau akhir-akhir ini. Begini katanya.

    “Sam, yang bahaya itu kalau orang tua selalu bilang – ‘dulu kami’ bla-bla-bla. Kata ‘dulu kami’ itulah masalahnya. Tidak sedikit orang yang ‘me-rasa’ senior mengatakan bahwa pengalaman mereka atau di zaman mereka lebih baik. Padahal belum tentu, oleh karena itu, penting melihat masa kini – bukan masa lalu,” ujarnya pada saya.

    Begitu pula yang saya rasakan ketika kembali menginjakkan kaki di Universitas Widya Dharma Pontianak. Bagi saya kampus ini bukan sekadar tempat saya menuntut ilmu, tetapi juga ruang di mana cara berpikir, cara memandang dunia, dan cara memahami kehidupan perlahan dibentuk.

    Siang tadi, Kamis, 11 Juni 2026, saya berkunjung ke Kantor Kemahasiswaan UWDP. Di sana saya bertemu dengan Dr. E. Maran, S.E., M.E.

    Pertemuan itu awalnya berlangsung santai. Kami berbincang tentang berbagai hal yang sedang berkembang dalam kehidupan mahasiswa saat ini. Namun, seperti banyak percakapan yang bermula dari obrolan ringan, diskusi kami perlahan mengarah pada satu topik yang kini sulit dihindari yakni Artificial Intelligence (AI).

    Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

    AI hadir di telepon genggam, komputer, ruang kerja, bahkan ruang kelas, bahkan banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit. Informasi yang dulu harus dicari melalui banyak buku kini dapat diperoleh dalam sekejap.

    Saya kemudian mengajukan pertanyaan sederhana kepada beliau: apakah perkembangan AI membantu manusia atau justru mengendalikan manusia?

    Beliau tidak langsung menjawab dengan nada khawatir.

    Sebaliknya, ia memulai dengan sebuah pengakuan yang rasional. Menurutnya, setiap kemajuan teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia.

    “Apapun kemajuan teknologi itu seharusnya membantu dan mempermudah pekerjaan manusia,” katanya.

    Saya mengangguk dan cukup sulit untuk membantah pernyataan itu.

    Teknologi memang lahir dari kebutuhan manusia untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan lebih efisien. AI pun tidak berbeda, maka kehadirannya menawarkan banyak manfaat dalam dunia pendidikan, penelitian, bisnis, dan berbagai bidang lainnya.

    Namun, kegelisahan beliau muncul bukan pada teknologinya, melainkan pada cara manusia menggunakannya.

    Beliau kemudian bercerita tentang fenomena yang sering ditemuinya di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas kuliah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut.

    Yang menjadi persoalan adalah ketika hasil yang diberikan AI langsung disalin dan ditempel begitu saja tanpa dibaca, dipahami, atau dianalisis kembali.

    “Harusnya dibaca, dipahami, lalu ditulis kembali dengan bahasa sendiri,” ujarnya.

    Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh inti dari persoalan pendidikan hari ini. Pendidikan bukan hanya soal menghasilkan tugas yang selesai tepat waktu. Pendidikan adalah proses melatih kemampuan berpikir. Ketika proses berpikir itu dilewati, maka yang tersisa hanyalah hasil tanpa pemahaman.

    Di titik itu saya mulai memahami arah kegelisahan yang ingin beliau sampaikan.

    Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan manusia. Teknologi bisa berkembang sangat cepat, sementara kemampuan manusia untuk menggunakannya secara bijaksana sering kali tertinggal.

    Menurut beliau, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu. Sama seperti buku, kalkulator, atau mesin pencari.

    Semua alat itu membantu manusia mencapai tujuan tertentu. Akan tetapi, alat tetaplah alat. Ia tidak boleh menggantikan fungsi utama manusia sebagai makhluk yang berpikir.

    Masalahnya, banyak orang mulai menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI.

    Ketika seseorang menghadapi persoalan, ia bertanya kepada AI.

    Ketika mendapat tugas, ia menyerahkannya kepada AI. Ketika membutuhkan pendapat, ia kembali bertanya kepada AI. Lama-kelamaan, tanpa disadari, kemampuan berpikir mandiri mulai melemah.

    Menjawab pernyataannya, saya jawab, “betul nih Pak.”

    Beliau bahkan menggunakan istilah yang cukup mengusik pikiran saya tentang ‘pen-jajah-an’ pikiran.

    Mungkin sebagian orang akan menganggap istilah itu terlalu berlebihan. Namun semakin lama saya mendengarkan penjelasannya, semakin saya memahami maksudnya.

    Penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan. Penjajahan juga bisa hadir dalam bentuk ketergantungan. Ketika seseorang tidak lagi mampu berpikir tanpa bantuan pihak lain, ketika ia kehilangan keberanian untuk menganalisis dan mengambil keputusan sendiri, maka sesungguhnya kebebasan berpikirnya mulai berkurang.

    “AI ini mengendalikan manusia tanpa kita sadari,” kata beliau.

    Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

    Dalam kehidupan sehari-hari, gejalanya mungkin sudah terlihat. Kita sering melihat dua orang duduk bersama, tetapi masing-masing sibuk menatap layar. Mereka berada di tempat yang sama, tetapi tidak benar-benar hadir satu sama lain. Di ruang kelas, di kantin kampus, bahkan di lingkungan keluarga, percakapan perlahan digantikan oleh interaksi dengan perangkat digital.

    Teknologi yang awalnya diciptakan untuk menghubungkan manusia kadang justru menciptakan jarak baru.

    Saya teringat masa-masa ketika masih menjadi mahasiswa di kampus ini. Kami sering berdebat panjang tentang tugas kuliah, berdiskusi tentang isu sosial, atau sekadar bertukar pandangan mengenai masa depan. Tidak semua pendapat benar, tetapi proses berpikir dan berdialog itulah yang membentuk kemampuan intelektual kami.

    Hari ini, banyak jawaban dapat ditemukan hanya dalam beberapa detik. Namun saya bertanya-tanya, apakah kemudahan menemukan jawaban selalu membuat manusia menjadi lebih bijaksana?

    Barangkali tidak.

    Karena yang paling penting bukanlah menemukan jawaban, melainkan memahami bagaimana sebuah jawaban diperoleh.

    Ketika saya menanyakan langkah yang dapat dilakukan agar mahasiswa tidak terjebak dalam ketergantungan terhadap AI, jawaban beliau kembali sederhana: kesadaran.

    Kesadaran bahwa AI hanyalah alat.

    Kesadaran bahwa hasil yang diberikan AI harus dibaca dan dianalisis kembali.

    Kesadaran bahwa kemampuan berpikir manusia tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada mesin.

    Beliau tidak pernah mengatakan bahwa AI harus ditolak. Justru sebaliknya. AI boleh digunakan. Bahkan dianjurkan. Tetapi penggunaannya harus disertai tanggung jawab intelektual.

    Mahasiswa tetap harus membaca.

    Mahasiswa tetap harus berpikir.

    Mahasiswa tetap harus menulis dengan pemahamannya sendiri.

    Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah ilusi kecerdasan. Tugas terlihat rapi. Kalimat tersusun baik. Argumen tampak meyakinkan. Namun di balik semua itu, belum tentu ada pemahaman yang sungguh-sungguh.

    Pada akhirnya, saya meninggalkan Kantor Kemahasiswaan UWDP siang menjelang pukul 13.00 itu dengan membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

    Saya tidak pulang dengan kesimpulan bahwa AI adalah ancaman. Saya juga tidak pulang dengan keyakinan bahwa AI adalah penyelamat.

    Saya pulang dengan sebuah kesadaran bahwa masa depan manusia tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa bijaksana manusia menggunakannya.

    Kegelisahan yang disampaikan Pak Maran bukanlah kegelisahan terhadap AI semata.

    Itu adalah kegelisahan tentang manusia yang perlahan kehilangan kebiasaan berpikir, kehilangan keberanian untuk menganalisis, dan kehilangan kesadaran bahwa teknologi seharusnya menjadi pelayan, bukan tuan.

    Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, mungkin inilah pertanyaan yang perlu terus kita ajukan kepada diri sendiri tentang – “apakah kita masih mengendalikan AI, atau tanpa sadar justru sedang dikendalikan olehnya?” (*Samuel).

    Pengangguran Rendah Belum Tentu Sejahtera: Membaca Paradoks Pembangunan Kabupaten Sintang

    Agusandi, S.E., M.E.- Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak

    MajalahDUTA.Com | Kabupaten Sintang patut bersyukur karena berhasil menjaga tingkat pengangguran pada angka yang relatif rendah.

    Data menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Sintang tahun 2024 hanya sebesar 2,85 persen, lebih rendah dibanding rata-rata nasional yang berada di atas 4 persen.

    Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar angkatan kerja telah terserap ke dalam aktivitas ekonomi.

    Namun, di balik capaian tersebut muncul sebuah pertanyaan penting.

    Jika pengangguran sudah rendah, mengapa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sintang pada tahun 2025 masih berada pada angka 69,53 dan belum menembus kategori tinggi?

    Secara logika sederhana, semakin banyak masyarakat bekerja maka semakin tinggi pendapatan yang diperoleh.

    Dengan pendapatan yang lebih baik, masyarakat seharusnya memiliki kemampuan lebih besar untuk membiayai pendidikan anak, menjaga kesehatan keluarga, serta meningkatkan kualitas hidup.

    Oleh karena itu, rendahnya pengangguran seharusnya berkontribusi terhadap peningkatan IPM.

    Namun kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu.

    Masalah utama bukan terletak pada ada atau tidaknya pekerjaan, melainkan pada kualitas pekerjaan yang tersedia. Banyak tenaga kerja di daerah masih bekerja pada sektor pertanian tradisional, usaha mikro, perdagangan kecil, maupun sektor informal yang menghasilkan pendapatan terbatas.

    Mereka memang tidak tercatat sebagai pengangguran, tetapi belum tentu memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi.

    Dalam ilmu ekonomi pembangunan dikenal istilah working poor atau masyarakat yang bekerja tetapi masih berada pada tingkat kesejahteraan yang rendah. Kelompok ini memiliki pekerjaan, namun pendapatannya belum cukup untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup secara signifikan.

    Di sisi lain, IPM tidak hanya mengukur aspek ekonomi.

    IPM dibentuk oleh tiga dimensi utama, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak. Dengan demikian, peningkatan pendapatan saja tidak otomatis meningkatkan IPM apabila belum diikuti peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.

    Fenomena Kabupaten Sintang menunjukkan bahwa pembangunan ke depan tidak cukup hanya berfokus pada penciptaan lapangan kerja. Yang lebih penting adalah menciptakan lapangan kerja yang produktif, bernilai tambah tinggi, dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.

    Pemerintah daerah perlu mendorong pengembangan sektor-sektor unggulan yang mampu menghasilkan nilai ekonomi lebih besar, memperkuat pendidikan vokasi dan keterampilan kerja, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas.

    Jika strategi pembangunan hanya berorientasi pada penurunan angka pengangguran, maka yang tercipta hanyalah masyarakat yang bekerja. Namun jika pembangunan diarahkan pada peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia, maka yang akan tercipta adalah masyarakat yang sejahtera.

    Kabupaten Sintang saat ini sedang menghadapi tantangan tersebut. Angka pengangguran yang rendah merupakan modal yang baik, tetapi belum cukup. Target berikutnya adalah memastikan bahwa setiap pekerjaan mampu memberikan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat.

    Karena pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari berapa banyak orang yang bekerja, melainkan dari seberapa besar pekerjaan tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. (*).

    Prof. Purnomo Yusgiantoro Kunjungi STT Pastor Bonus, Dukung Pengembangan Pendidikan Teologi dan Kemajuan Kalimantan Barat

    Remove term: Prof. Purnomo Yusgiantoro Kunjungi STT Pastor Bonus Prof. Purnomo Yusgiantoro Kunjungi STT Pastor Bonus disambu oleh Emeritus Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus. Kamis 4 Juni 2026. (Foto: Samuel)

    MajalahDUTA.Com | Ketua Dewan Pembina dan Pendiri Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., M.A., Ph.D., IPU, mengunjungi Sekolah Tinggi Teologi (STT) Pastor Bonus Pontianak, Jalan Kebangkitan Nasional Nomor 5, Pontianak, Kamis (4/6/2026).

    Kunjungan tersebut adalah momentum penting bagi pengembangan pendidikan teologi di Kalimantan sekaligus ruang dialog mengenai pembangunan daerah, energi, dan penguatan semangat kebangsaan.

    Kedatangan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta mantan Menteri Pertahanan Republik Indonesia itu disambut oleh Emeritus Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, Rektor STT Pastor Bonus RP Gregorius Kukuh Nugroho, CM, para dosen, frater calon imam, serta sejumlah tamu undangan.

    Dalam kesempatan tersebut, Prof. Purnomo menyampaikan apresiasinya terhadap peningkatan status STT Pastor Bonus.

    Menurutnya, peningkatan tersebut merupakan langkah penting dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi teologi di Kalimantan.

    “Ini sesuatu yang bagus sekali. Adanya peningkatan kualitas dari STT ini menunjukkan bahwa lembaga ini terus berkembang ke arah yang lebih baik,” ujarnya, (04/06).

    Kunjungan tersebut juga membangkitkan kenangan lama bagi Prof. Purnomo. Dia mengingat keterlibatannya bersama Uskup Agustinus dalam merintis dan mendukung pengembangan seminari tersebut sejak masa-masa awal.

    “Yang penting saya ingin sampaikan bahwa saya punya kenangan manis di STT ini. Saya bersama Monsinyur Agus dulu berpikir bersama bagaimana seminari ini bisa kita kembangkan. Saya ingat betul ketika kami datang ke sini untuk peresmiannya. Jadi saya punya kenangan yang indah dan manis dengan seminari ini,” katanya.

    Menurut Prof. Purnomo, keberadaan STT Pastor Bonus memiliki peran strategis dalam mempersiapkan calon-calon pemimpin Gereja yang tidak hanya memiliki kedalaman spiritual, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman.

    Prof. Purnomo Yusgiantoro bersama istri, Uskup Agustinus, Pastor Greg dan Sumirat (Unika San Agustin) meninjau kembali Prasasti yang pernah ia tandatangani. Kamis 4 Juni 2026. (Foto: Samuel)

    Kagum dengan Semangat Bhinneka Tunggal Ika di Kalimantan Barat

    Selain berbicara mengenai perkembangan pendidikan teologi, Prof. Purnomo mengungkapkan kekagumannya terhadap kehidupan sosial masyarakat Kalimantan Barat yang menurutnya telah berhasil mengimplementasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika secara nyata.

    Sebelum mengunjungi STT Pastor Bonus, dia hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar yang diselenggarakan DPD Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Kalimantan Barat.

    Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum IKAL, dia menyaksikan langsung bagaimana keberagaman menjadi kekuatan masyarakat Kalimantan Barat.

    “Saya kagum dengan Pontianak dan Kalimantan Barat. Ternyata di sini Bhinneka Tunggal Ika sudah dilaksanakan dengan baik. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Saya bertemu dengan profesor dari sekolah tinggi agama Hindu, sekolah tinggi agama Islam, dan sekarang ada sekolah tinggi agama Katolik. Ini sangat baik sekali,” ujarnya.

    Menurutnya, suasana harmonis yang tercipta di Kalimantan Barat merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan daerah dan bangsa.

    Karena itu, dia menilai kehadiran STT Pastor Bonus perlu terus dikembangkan dan diperkuat agar dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang inklusif, toleran, dan berwawasan kebangsaan.

    Dukung Pemanfaatan Energi untuk Kemajuan Kalimantan Barat

    Dalam dialog bersama sivitas akademika STT Pastor Bonus, Prof. Purnomo juga menyinggung potensi besar sektor energi yang dapat menjadi pendorong kemajuan Kalimantan Barat di masa depan.

    Sebagai Penasihat Presiden Bidang Energi, dia mengungkapkan gagasan lama mengenai pemanfaatan cadangan gas raksasa D-Alpha Natuna atau Natuna Timur yang dapat disalurkan ke Kalimantan melalui Pontianak.

    Menurutnya, proyek tersebut sangat memungkinkan secara teknis mengingat pengalaman Indonesia dalam menyalurkan gas dari wilayah Natuna ke berbagai kawasan lain di Asia Tenggara.

    “Tadi juga saya sampaikan kepada Bapak Gubernur bahwa aspirasi daerah perlu terus disampaikan ke pusat. Kalau gas besar dari Natuna Timur itu bisa ditarik ke Kalimantan Barat, maka daerah ini akan berkembang sangat pesat,” katanya.

    Dia menjelaskan bahwa pemanfaatan sumber energi tersebut tidak hanya dapat memperkuat ketahanan energi Kalimantan Barat, tetapi juga mendukung kebutuhan listrik wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    “Gas itu sangat besar, terbesar di kawasan regional ini. Kalau bisa dikembangkan, kita dapat membangun pembangkit listrik dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat bagi Kalimantan,” ujarnya.

    Aktualisasi Nilai Kebangsaan bagi Generasi Muda

    Prof. Purnomo juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila dan semangat Kebangkitan Nasional.

    Dia mengapresiasi berbagai kegiatan yang mendorong generasi muda untuk menghidupi nilai-nilai kebangsaan melalui tindakan nyata.

    “Yang saya lihat bagus sekali adalah bagaimana anak-anak muda diberi ruang untuk melakukan aktualisasi diri. Mereka tidak hanya memahami teori tentang Pancasila dan Kebangkitan Nasional, tetapi benar-benar mempraktikkannya. Pendekatan seperti ini perlu terus dikembangkan,” katanya.

    Prof. Purnomo Yusgiantoro Foto bersama dengan tamu undangan, sebagai dokumentasi undangan. Kamis 4 Juni 2026. (Foto: Samuel)

    Menurutnya, lembaga pendidikan, termasuk STT Pastor Bonus, memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang mampu mengintegrasikan nilai, pengetahuan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    STT Pastor Bonus Siapkan Graduate School of Theology Bertaraf Internasional

    Sementara itu, Rektor STT Pastor Bonus, RP Gregorius Kukuh Nugroho, CM, menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya saat ini menjadi pusat studi bagi para calon imam dari seluruh Pulau Kalimantan.

    “Pastor Bonus merupakan tempat studi para calon imam dari delapan keuskupan di seluruh Kalimantan dan dua tarekat religius, yaitu Kongregasi Misi (CM) dan OFM Kapusin,” ujarnya.

    Menurut Pastor Greg, kunjungan Prof. Purnomo memiliki makna historis karena tokoh nasional tersebut telah mengikuti perkembangan STT Pastor Bonus sejak awal berdirinya.

    “Beliau dahulu pernah menandatangani prasasti di sini pada tahun 2004. Karena itu kami mengundang beliau untuk kembali hadir dan mendengarkan berbagai rencana pengembangan yang sedang kami siapkan,” katanya.

    Dia mengungkapkan bahwa STT Pastor Bonus tengah mempersiapkan transformasi besar melalui pengembangan Graduate School of Theology bertaraf internasional.

    “Kami sedang mempersiapkan sekolah internasional dengan afiliasi bersama University of St. Thomas. Nantinya kami ingin membuka program Master of Divinity in Preaching dan program lisensiat dalam Teologi Pastoral Kontekstual,” jelasnya.

    Menurut Pastor Greg, rencana tersebut membutuhkan dukungan luas dari berbagai pihak, baik Gereja maupun masyarakat.

    “Perlu banyak dukungan dan bantuan dari masyarakat Gereja. Saya yakin kolaborasi antar lembaga dan antar tingkatan akan menjadi kekuatan bagi kita semua,” ujarnya.

    Dia menjelaskan bahwa STT Pastor Bonus saat ini berfungsi sebagai Graduate School of Theology atau lembaga pendidikan pascasarjana teologi.

    Para mahasiswa yang belajar di Pontianak telah menyelesaikan pendidikan filsafat dan teologi dasar di berbagai lembaga pendidikan calon imam di Indonesia sebelum melanjutkan studi di Pontianak.

    Dalam kunjungan tersebut, Prof. Purnomo menerima paparan mengenai rencana pengembangan kampus, meninjau fasilitas yang ada, serta berdialog dengan para dosen, frater, dan pimpinan Gereja.

    “Kehadiran beliau menjadi berkat bagi kami semua. Dukungan seperti ini memberi semangat untuk terus mengembangkan STT Pastor Bonus menjadi pusat pendidikan teologi yang unggul bagi Kalimantan dan Indonesia,” kata Pastor Greg.

    Emeritus Uskup Agung Pontianak Katakan, Ini Dukungan Moral yang Sangat Berarti

    Emeritus Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, menyambut baik kunjungan Prof. Purnomo dan menilai kehadiran tokoh nasional tersebut memberikan dukungan moral yang sangat penting bagi perkembangan lembaga pendidikan Gereja di Kalimantan Barat.

    “Tanggapan saya tentu mengucapkan terima kasih. Kami di daerah ini memerlukan dukungan moral dari tokoh-tokoh nasional. Apalagi beliau memiliki pengalaman yang luar biasa, baik sebagai Menteri ESDM, Menteri Pertahanan, maupun sekarang sebagai penasihat presiden,” ujarnya.

    Menurut Uskup Agustinus, perhatian yang diberikan Prof. Purnomo menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan di daerah tetap menjadi bagian penting dari agenda pembangunan bangsa.

    Prof. Purnomo Yusgiantoro disambut dengan pengalungan bunga. Kamis 4 Juni 2026. (Foto: Samuel)

    Dia juga mengungkapkan bahwa STT Pastor Bonus terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, termasuk dalam upaya menyiapkan kader-kader pemimpin Gereja dari Kalimantan sendiri.

    “Kami merasa didukung. Ini memberikan semangat kepada kami untuk terus berjalan dan terus maju. Kami berharap semakin banyak putra-putra Kalimantan yang nantinya dapat mengambil peran penting dalam pengelolaan dan pengembangan lembaga pendidikan ini,” katanya.

    Bagi Uskup Agustinus, perkembangan STT Pastor Bonus bukan hanya menjadi kebanggaan Gereja Katolik, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi nyata bagi pembangunan sumber daya manusia di Kalimantan Barat. (*Sam).

    Ruang Orang Muda Dayak Menjadi Diri

    Momen Anak Muda di PGD. Dokumentasi Foto PGD 2025. Sumber: Panitia.

    MajalahDUTA.Com | Pekan Gawai Dayak (PGD) selama ini dikenal sebagai perayaan budaya terbesar masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.

    Namun di balik berbagai pertunjukan seni, ritual adat, dan kemeriahan yang ditampilkan setiap tahun, PGD sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih ‘men-Dalam’.

    Pekan Gawai Dayak bukan sekadar agenda budaya, tetapi ruang bagi masyarakat Dayak untuk mengekspresikan diri, memperkuat identitas, dan meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya.

    Bagi generasi muda Dayak, PGD 2026 dapat menjadi momentum penting untuk mengambil peran lebih besar.

    Panggung budaya yang tersedia bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah memiliki nama besar atau pengalaman panjang, tetapi juga bagi anak-anak muda yang sedang belajar, mencoba, dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

    Belakangan, perbincangan di media sosial sempat menyoroti penampilan seorang artis Dayak yang dianggap melakukan kesalahan saat tampil.

    Berbagai kritik bermunculan dan menjadi konsumsi publik. Namun di balik peristiwa itu terdapat pelajaran penting bahwa proses belajar dan keberanian untuk terus melanjutkan penampilan setelah melakukan kesalahan merupakan bagian dari perjalanan seorang seniman.

    Dalam dunia seni maupun kehidupan, tidak ada seorang pun yang langsung menjadi sempurna. Setiap penyanyi hebat pernah mengalami kesalahan.

    Setiap seniman besar pernah memulai langkahnya dari panggung-panggung kecil. Karena itu, ruang budaya seperti PGD seharusnya tidak hanya menjadi tempat menampilkan hasil terbaik, tetapi juga menjadi wadah bagi proses pembelajaran dan pertumbuhan.

    Pekan Gawai Dayak dapat menjadi kesempatan bagi para pemuda Dayak yang selama ini berkarya di berbagai bidang.

    Mereka yang menulis puisi, memainkan alat musik tradisional, menciptakan lagu, merancang motif tenun, membuat karya visual, hingga mengembangkan kreativitas melalui media digital memiliki tempat yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka.

    Keberanian untuk tampil sering kali menjadi tantangan terbesar. Banyak anak muda memiliki bakat, tetapi memilih diam karena takut dinilai, takut melakukan kesalahan, atau takut dibandingkan dengan mereka yang sudah lebih dahulu dikenal.

    Padahal, setiap perjalanan menuju kemajuan selalu diawali dengan keberanian untuk melangkah.

    Momen Anak Muda di PGD. Dokumentasi Foto PGD 2025. Sumber: Panitia.

    Karena itu, PGD perlu terus menjadi ruang yang terbuka dan inklusif. Ruang yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk belajar di hadapan publik, menerima masukan, memperbaiki kekurangan, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

    Budaya tidak berkembang karena kesempurnaan, melainkan karena adanya generasi yang berani mencoba dan terus berkarya.

    Melalui semangat tersebut, masyarakat Dayak dari berbagai daerah di Kalimantan diharapkan dapat memanfaatkan PGD 2026 sebagai ajang untuk menunjukkan kreativitas dan semangat kebudayaan.

    Setiap karya, sekecil apa pun, memiliki arti penting dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya Dayak di tengah perubahan zaman.

    Pada akhirnya, keberhasilan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh tokoh-tokoh besar yang dimilikinya. Lebih dari itu, keberhasilan juga ditentukan oleh sejauh mana generasi mudanya memperoleh kesempatan untuk tampil, belajar, dan berkembang.

    Dalam konteks itulah Pekan Gawai Dayak memiliki makna penting, menjadi ruang bersama tempat orang muda Dayak bertumbuh, menemukan jati diri, dan mengambil bagian dalam masa depan budayanya sendiri. (*).

    Untuk Tri dan Anjeli, Brand Diri Anda Dimulai Hari Ini

    Foto: Enjelika Oktaviani Demitri, panggilan Tri (kanan) - Samuel (tengah) - Anjeli (kiri) - momen foto bersama di malam penutupan, Sabtu (30/05/2026). (Foto: Tri).

    MajalahDUTA.Com | Sebagai seorang dosen, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga berani terjun langsung ke lapangan untuk mengasah kemampuan dan membuktikan kompetensinya.

    Bagi saya, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan mahasiswa yang mampu menjawab soal ujian, tetapi juga membentuk pribadi yang siap menghadapi tantangan kehidupan nyata.

    Pada Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, saya mendapat kesempatan mengirim dua mahasiswi dari Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, (AKUB GAK) Unika Santo Agustinus Kampus II Pontianak untuk terlibat dalam kegiatan tersebut.

    “Sam, nanti bantu saya kirimkan mahasiswa dari kampus mu ya. Kalau bisa agak ramai,” ujar Ketua KOMSOS KAP, Paulus Mashuri bulan lalu, (lupa tanggal berapa kami bertemu, hehe).

    Melihat padatnya kegiatan kampus, tampaknya sulit mengirimkan lebih banyak, namun syukurlah ada dua mahasiwi yang berpotensi (sekurang-kurangnya di mata saya), mereka adalah Enjelika Oktaviani Demitri dan Anjeli, mahasiswi Semester IV Kelas B.

    Selama pelaksanaan PKSN XIII, Enjelika menurut pengamatan saya sudah menunjukkan disiplin yang luar biasa.

    Selain menjadi peserta dan ikut kepadatan kegiatan, dia juga setia mengikuti berbagai kegiatan dan menulis rilis-rilis berita yang menjadi bagian penting dari dokumentasi acara.

    Di balik setiap tulisan yang terbit, terdapat proses belajar yang tidak sederhana, mulai dari kemampuan mengamati, mengolah informasi, berpikir kritis, bekerja tepat waktu, dan bertanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan.

    Sementara itu, Anjeli tidak hanya aktif menulis rilis berita, tetapi juga berhasil mengukir prestasi yang membanggakan, (Nice…Anjeli).

    Kurang lebih 30an peserta yang merupakan perwakilan berbagai paroki di Keuskupan Agung Pontianak, dia bersama rekannya (pasangan dari paroki lain) berhasil meraih Juara I dalam Lomba Jurnalistik yang diselenggarakan selama PKSN XIII.

    Prestasi ini tentu bukan sekadar soal piala atau penghargaan, bagi saya lebih dari itu, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, keberanian untuk mencoba, dan kemauan untuk terus belajar akan selalu menemukan jalannya menuju keberhasilan.

    Marketing

    Dalam perspektif manajemen pemasaran, pengalaman seperti ini sesungguhnya merupakan proses membangun nilai diri dan personal branding.

    Di era yang kompetitif, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki nilai akademik yang baik.

    Mereka juga perlu memiliki portofolio pengalaman, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, dan keberanian untuk menunjukkan kapasitasnya di ruang publik.

    Apa yang dilakukan Enjelika dan Anjeli selama PKSN XIII merupakan investasi penting bagi masa depan mereka.

    Dari sudut pandang manajemen perubahan, pengalaman ini menunjukkan bahwa pertumbuhan selalu terjadi ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman. Tidak ada perubahan tanpa keberanian mengambil langkah baru.

    Ketika mahasiswa memilih terlibat dalam kegiatan di luar kampus, menghadapi tantangan, menerima kritik, dan berkompetisi dengan peserta lain, sesungguhnya mereka sedang membangun kapasitas diri untuk menghadapi dunia yang terus berubah.

    Lebih jauh lagi, pendidikan mengajarkan bahwa tujuan belajar bukan hanya memperoleh pengetahuan, melainkan membentuk manusia yang utuh.

    Pendidikan sejati bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses pembentukan karakter, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberi makna bagi kehidupan.

    Pengalaman di PKSN XIII menjadi ruang pembelajaran yang hidup, tempat teori bertemu praktik, dan tempat mahasiswa belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas karya dan pilihannya.

    Sebagai dosen, saya merasa bangga melihat perkembangan kalian berdua. Apa yang kalian capai hari ini adalah hasil dari proses yang tidak instan.

    Kalian telah menunjukkan bahwa mahasiswa mampu hadir, berkontribusi, dan bersaing secara positif di ruang publik.

    Namun perjalanan masih panjang, ya..

    Setelah kegiatan ini berakhir, saatnya kembali ke rutinitas sebagai mahasiswa. Kembali ke ruang kelas, kembali membuka buku, kembali berdiskusi, dan kembali belajar dengan sungguh-sungguh.

    Pengalaman di lapangan adalah bekal yang berharga, tetapi pendidikan tetap menjadi fondasi utama untuk masa depan.

    Untuk Enjelika (Tri) dan Anjeli, teruslah berjuang. Jangan cepat puas dengan apa yang telah diraih.

    Jadikan pengalaman dan prestasi ini sebagai motivasi untuk melangkah lebih jauh lagi.

    Teruslah mengembangkan kemampuan menulis, berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan orang lain.

    Dunia kerja masa depan membutuhkan pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu beradaptasi, berinovasi, dan terus belajar.

    Belajarlah dengan tekun, manfaatkan setiap kesempatan yang ada, dan persiapkan diri sebaik mungkin agar ketika tiba di penghujung masa perkuliahan nanti, kalian dapat menyelesaikannya dengan hasil yang membanggakan.

    Saya percaya, masa depan yang baik sedang menanti mereka yang mau terus belajar, bekerja keras, berani menghadapi perubahan, dan menjaga semangat untuk berkembang.

    Prestasi hari ini bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang.

    Sekali lagi, selamat atas pencapaian kalian, tetap rendah hati dalam keberhasilan, tetap tekun dalam proses, dan teruslah berkarya.

    Catatan penting untuk kita bersama bahwa pendidikan yang sejati adalah perjalanan tanpa akhir untuk menjadi manusia yang semakin berpengetahuan, berkarakter, dan bermanfaat bagi sesama. (*).

    PKSN XIII Pontianak Ditutup, Estafet Tuan Rumah Beralih ke Keuskupan Manado

    Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap, memukul gong menutup rangkaian PKSN XII di penghujung Misa, Minggu (31/05/2026). Foto: Samuel

    MajalahDUTA.Com | Rangkaian kegiatan Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII yang berlangsung di Keuskupan Agung Pontianak (KAP) resmi berakhir pada Minggu (31/5/2026).

    Selama sepekan, sejak 26 hingga 31 Mei 2026, para pegiat media Gereja Katolik dari 18 keuskupan di Indonesia berkumpul untuk memperdalam tata kelola komunikasi gerejawi di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).

    Pada malam penutupan, Sabtu (30/5/2026), Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KAP, Paulus Mashuri, menyerahkan kembali mandat penyelenggaraan PKSN kepada Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang diwakili Sekretaris Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng.

    Selanjutnya, estafet penyelenggaraan PKSN akan diteruskan kepada Komisi Komsos Keuskupan Manado sebagai tuan rumah PKSN XIV pada tahun 2027.

    Melalui tayangan video di videotron Aula Magna Gedung Pacifikus Bos, Kompleks Katedral Santo Yosep Pontianak, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Manado, RD Yohanes I Made Pantyasa, menyampaikan kesiapan keuskupannya menjadi tuan rumah kegiatan nasional tersebut.

    “Bapa Uskup Manado menyatakan, kami siap menjadi tuan rumah PKSN XIV tahun depan. Bagi para pegiat Komsos se-keuskupan di Indonesia, kami tunggu kehadiran Anda nanti,” ujar Made.

    Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap, para pastor konselebran dan sebagian peserta PKSN XIII foto bersama usai Misa, Minggu (31/05/2026). Foto: Samuel. 

    Seluruh rangkaian PKSN XIII ditutup dengan perayaan Misa Kudus di Katedral Santo Yosep Pontianak pada Minggu pagi.

    Misa dipimpin Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Samuel Oton Sidin, OFM Cap, bersama sejumlah konselebran, antara lain RD Petrus Noegroho Agoeng, Sekretaris KAP RP Aloysius Adiantus, CP, dan Pastor Kepala Paroki Katedral, RD Alexius Alex.

    Dalam kesempatan tersebut, Uskup Samuel mengapresiasi pelaksanaan PKSN XIII yang dinilai mampu mendorong semangat pelayanan komunikasi sosial Gereja, khususnya dalam menyikapi perkembangan kecerdasan buatan yang memiliki dampak positif maupun negatif.

    Dia berharap seluruh peserta dapat menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan di paroki dan keuskupan masing-masing.

    “Kiranya apa yang kita terima di sini telah menginspirasi kita semua. Kita hidupi dan praktikkan di paroki dan keuskupan masing-masing. Kalian telah mengalami perjumpaan meski singkat dengan umat di sini. Sekembalinya ke keuskupan masing-masing, sampaikan salam hangat saya kepada Uskup kalian,” kata Uskup Samuel.

    PKSN merupakan tindak lanjut dari peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang tahun ini memasuki perayaan ke-60.

    Award Ceremony pada malam penutupan PKSN XIII 2026 di Pontianak, Sabtu (30/05/2026). Foto: Komsos KAP

    Sejak 2014, KWI menggagas kegiatan tahunan tersebut sebagai wadah bersama bagi pegiat komunikasi sosial Gereja Katolik di Indonesia untuk mendalami pesan-pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia agar semakin dipahami dan diterapkan secara konkret dalam kehidupan umat.

    Ketua Komsos KAP, Paulus Mashuri, menjelaskan bahwa PKSN XIII mengangkat tema yang terinspirasi dari pesan Paus Leo XIV, yakni “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”.

    Tema tersebut menjadi respons Gereja terhadap derasnya perkembangan teknologi komunikasi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan.

    Menurut Paulus, teknologi AI perlu ditempatkan secara bijaksana sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia.

    “Para pegiat media Gereja Katolik diharapkan bijaksana menempatkan AI sebatas alat bantu. Dengan begitu, suara dan wajah manusia yang otentik tetap terpelihara, tidak justru terseret kecenderungan manipulasi yang menghilangkan jati diri,” ujarnya.

    Melalui PKSN XIII, para peserta diharapkan dapat membawa pulang berbagai gagasan dan rancangan tata kelola komunikasi yang akan dikembangkan di keuskupan masing-masing, sehingga pelayanan komunikasi Gereja semakin relevan, humanis, dan bertanggung jawab di era digital. (*)

    Pastor Diri dan Kampung yang Mengajarinya Arti Persaudaraan

    Foto Pastor Diri Setelah Sesi Seminar di Gedung Pasifikus Bos, Sabtu (30/5/2026) (Foto: Rosinta)

    MajalahDUTA.Com | Menjadi satu-satunya keluarga Katolik di sebuah desa yang mayoritas penduduknya Muslim mungkin terdengar tidak mudah bagi sebagian orang.

    Namun, pengalaman itulah yang justru membentuk hidup dan panggilan imamat RD. Ardianus Diri, Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Sintang.

    Dalam sesi seminar bertajuk Diseminasi Konten kepada Dunia pada rangkaian Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Gedung Pasifikus Bos, Kompleks Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu 30 Mei 2026, Pastor Diri membagikan kisah masa kecilnya yang bertumbuh di tengah masyarakat Muslim di Desa Kebebu, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

    Bukan kisah tentang keterasingan. Bukan pula cerita tentang diskriminasi.

    Yang ia kenang justru adalah pengalaman diterima, dihargai, dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat desa.

    Satu-satunya keluarga Katolik

    Pastor Diri lahir dan besar di Desa Kebebu. Saat itu, keluarganya merupakan satu-satunya keluarga Katolik yang tinggal di desa tersebut.

    Sebagai umat Katolik, mereka tidak memiliki gereja di kampung. Untuk mengikuti Perayaan Ekaristi, keluarga harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju Nanga Pinoh, baik melalui jalur sungai maupun jalur darat.

    Meski hidup sebagai kelompok minoritas, ia mengaku tidak pernah merasakan tekanan atau perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat sekitar.

    “Kami tidak pernah merasa diintimidasi. Mereka menerima kami sebagai keluarga dan membuat kami merasa nyaman tinggal di sana,” tutur Pastor Diri.

    Baginya, kenangan masa kecil di kampung halaman justru dipenuhi pengalaman kebersamaan dengan warga Muslim yang hidup berdampingan secara harmonis.

    Ketika warga pergi berburu ke hutan, hasil buruan sering dibagikan kepada keluarganya. Tidak ada sekat yang membatasi relasi sosial. Tidak ada kecurigaan yang memisahkan.

    Yang ada adalah semangat berbagi dan saling menjaga sebagai sesama warga kampung.

    Dari kampung Muslim lahir panggilan imamat

    Lingkungan tempat Pastor Diri bertumbuh hampir seluruhnya beragama Islam. Karena itu, ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari akan menjadi seorang imam Katolik.

    Namun justru dari kampung sederhana itulah benih panggilan tumbuh perlahan dalam hidupnya.

    “Lingkungan saya sejak kecil adalah lingkungan Muslim. Saya tidak pernah membayangkan menjadi imam. Namun, dari kampung itu Tuhan memanggil saya untuk melayani Gereja,” katanya.

    Foto Pastor Diri Setelah Misa Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, Rabu (1/1/2025) (Foto: Komsos Paroki Pandan)

    Perjalanan panggilan tersebut akhirnya mengantarkan dirinya menjadi imam Keuskupan Sintang.

    Ketika tahbisan imamat berlangsung, sukacita ternyata tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan umat Katolik. Warga Desa Kebebu yang mengenalnya sejak kecil juga ikut berbangga.

    Mereka merasa bahwa salah seorang anak kampung mereka telah menempuh jalan hidup yang istimewa.

    Persaudaraan yang tetap terjaga

    Hubungan baik yang terjalin sejak masa kecil itu tidak berhenti setelah Pastor Diri menjadi imam.

    Hingga kini, warga Muslim di kampung halamannya masih datang berkunjung saat Natal untuk menyampaikan ucapan selamat dan menikmati kebersamaan bersama keluarga.

    Sebaliknya, Pastor Diri dan keluarganya juga berusaha hadir ketika Idul Fitri tiba.

    Tradisi saling mengunjungi itu menjadi cara sederhana untuk merawat silaturahmi dan persaudaraan yang telah tumbuh selama puluhan tahun.

    Di tengah berbagai tantangan kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk, pengalaman tersebut menjadi kesaksian bahwa toleransi tidak selalu lahir dari program besar atau slogan yang sering diucapkan.

    Toleransi tumbuh dari perjumpaan sehari-hari, dari kebiasaan saling menyapa, saling membantu, dan saling menghormati.

    Minoritas yang menjadi prioritas

    Salah satu kalimat yang paling membekas dari kesaksian Pastor Diri adalah pengakuannya bahwa keluarganya tidak hanya diterima sebagai kelompok minoritas, tetapi bahkan memperoleh perhatian yang besar dari masyarakat sekitar.

    “Kami merasakan bahwa walaupun minoritas, kami menjadi prioritas dalam perhatian dan kepedulian masyarakat. Di situlah persaudaraan sejati tumbuh dan berkembang,” ungkapnya.

    Kesaksian Pastor Diri menjadi pengingat bahwa keberagaman tidak selalu melahirkan jarak.

    Sebaliknya, ketika perbedaan diterima sebagai anugerah, keberagaman justru dapat melahirkan persaudaraan yang semakin kuat.

    Di tengah Indonesia yang dibangun di atas berbagai suku, budaya, dan agama, kisah dari Desa Kebebu ini menunjukkan bahwa persaudaraan sejati bukanlah impian yang jauh. Ia dapat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, ketika orang memilih untuk saling menerima, menghormati, dan mengasihi satu sama lain sebagai sesama anak bangsa. (*Ros)

    TERBARU

    TERPOPULER