Thursday, February 12, 2026
More
    Home Blog

    Terbuka untuk Semua – Catholic Youth Revival (Volume 2.0) Menghadirkan “Set the Fire” di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak

    Catholic Youth Revival (Volume 2.0) - "Set the Fire"

    MAJALAHDUTA.COM, PONTIANAK– 22 September 2023 – Bertempat di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak dengan gembira mengundang semua orang untuk bergabung dalam perayaan spiritual yang luar biasa!

    Tanggal 27 September 2023, mulai pukul 19.00 WIB, kita akan mengalami momen rohani yang mendalam dalam “Catholic Youth Revival (Volume 2.0)” dengan tema utama: “Set the Fire”.

    Praise & Worship, Drama, Kesaksian, dan Pelayanan Doa akan menjadi bagian penting dari malam yang penuh berkat ini.

    Acara ini akan diramaikan oleh Metusalah Worship, yang akan membawa pengalaman penyembahan yang tak terlupakan.

    Acara ini terbuka untuk umum, jadi ajaklah keluarga dan teman-teman Anda untuk bergabung dalam kebahagiaan ini.

    Ini adalah kesempatan yang sempurna untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan membagikan momen kebersamaan dengan komunitas Anda.

    Jadi, tandai tanggalnya di kalender Anda, dan mari kita bersatu dalam cinta dan penyembahan di Catholic Youth Revival (Volume 2.0) – “Set the Fire” di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak pada tanggal 27 September 2023.

    Jangan lewatkan pengalaman spiritual ini yang memukau! Yuk ikuti…

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Panitia

    Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Orang yang bekerja di dalam lembaga misi pendidikan milik Keuskupan Agung Pontianak harus serius dan mampu melihat kemungkinan perkembangan zaman. Hal ini diungkapkan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus dalam sambutannya di Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021.

    Acara pelantikan direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dilaksanakan di Gedung Akper dan Akbid yang dihadiri langsung oleh segenap pengurus Yayasan dan Imam yang bertugas dalam misi Pendidikan itu.

    Acara tersebut dimulai tepat pada Pukul 10.00 WIB yang didahuli dengan menyayikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, doa pembukaan yang dibawa oleh RP Mingdry Hanafi Tjipto, OP dan langsung dilanjutkan pembukaan sidang senat terbuka.

    Acara tersebut dilakukan dengan pembacaan surat keputusan dan dilanjutkan dengan pelantikan direksi Akper Dharma Insan dan Direksi Akbid Santa Benedicta untuk masa bakti 2021-2022. Adapun yang dilantik yakni Ns Florensius Andri, M.Kep sebagai direktur Akper Dharma Insan, Ns Lydia Moji Lautan, M.Kep sebagai W.K I, Ns Eben Haezer Kristian, M.Kep sebagai W.K II dan Ns Usu Sius, S.Kep, M. Biomed sebagai W.K III.

    Baca Juga: Para Imam di Mozambik mengecam penculikan “ratusan” anak-anak oleh para Jihadis

    Sedangkan untuk kepengurusan Akbid yaitu, Trivina, SST., M.Kes sebagai Direktur Akbid St. Benedicta, Agnes Dwiana Widi Astuti, S.Si.T.,M.Kes sebagai W.K I, Tri Maharani, SST., M.K.M sebagai W.K II dan Efrosina Ludovika Kalista, SST., M.K.M sebagai W.K III.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus mengucapkan selamat kepada pengurus Direksi baru untuk Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dan sekaligus berterima kasih kepada pengurus yang lama karena paling tidak sudah pernah mengambil andil dalam kepengurusan dan perkembangan pendidikan selama ini.

    Dalam sambutannya, Mgr. Agustinus Agus mendukung penuh langkah-langkah yang diambil oleh ketua Yayasan.

    “Jangan menoleh ke belakang, kedepan kita harus berani berubah, berani mengambil langkah-langkah yang tidak biasa. Karena yang kita hadapi ini sudah tidak biasa lagi. Maka jika kita mengambil langkah yang biasa lagi maka kita akan ketinggalan,” kata Uskup Agus.

    Baca Juga: Paus Fransiskus ungkapkan bahwa orang miskin memungkinkan manusia untuk menemukan wajah sejati Bapa

    Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa hati nya sungguh ada untuk Akper dan Akbid selaras dengan mimpinya bahwa anak kampung pun bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

    “Saya tidak mau kembali pada politik masa lalu,” lanjut Uskup, “dan tolong mari kita bangkit bersama. Berani berubah dan berani mengambil langkah-langkah yang luar biasa. Agar eksistensi Akper dan Akbid sungguh-sungguh dirasakan semua orang.”

    Iman Katolik Harus Menjadi Inspirasi

    Sebagai pemilik Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa seluruh karya gereja dimanapun ia berada, harus mengedepankan kepentingan orang banyak Akper dan Akbid ini jelas milik Katolik dengan nuansa Katolik.

    “Dan iman katolik harus menjadi inspirasi dan kita harus melaksanakannya terutama pelayanan untuk kepentingan orang banyak tetap menjadi fokus utama dan harus kita kedepankan,” lanjut Uskup. “Bukan hanya untuk kepentingan umat katolik saja, apalagi untuk karyawan-karyawan saja tetapi untuk banyak umat dan banyak orang, mohon maaf.”

    Baca juga: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pintianak Periode 2021-2022

    Dalam sambutannya Uskup Agung Pontianak mengutip Gaudium et Spes nomor 1 dalam salah satu ensiklik yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan ke II tahun 1965 dikatakan “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Yesus.”

    Mgr. Agus menegaskan tidak pernah gereja Katolik hanya memperhatikan kelompoknya. “Ini harap diketahui,” tambah Uskup, Yang paling penting cara orang katolik berkarya harus didorong dari inspirasi iman katolik itu.

    Baca Juga: Tahta Suci: Tempat-tempat warisan budaya religius harus dilindungi dan dipromosikan

    Dalam sambutan itu, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus juga mengungkapkan pentingnya belajar teknologi yang ada dewasa ini. “Memang sekarang zamannya kecepatan dan perkembangan Teknologi, maka dari itu pentingnya kita menghayati itu semua dan mempraktekkanya untuk kepentingan banyak orang dan pelayanan.”

    Inovasi adalah kata kunci

    Kesempatan yang sama itu pula, RP Johanes Robini Marianto, OP sebagai ketua Yayasan mengisahkan kisah tentang brand HP Nokia yang melegenda namun sangat kelam perjalanan bisnis Nokia tersebut.

    RP Robini mengisahkan “siapa dari kita yang tidak kenal brand HP Nokia? Merk ini melegenda di akhir 1990-an dan tahun 2000-an,” katanya. “Kita semua pasti pernah memegang HP Nokia. Tetapi sekarang: “Siapakah yang memakai HP merk Nokia?” Nokia bahkan dikabarkan bangkrut dan diakuisisi oleh Microsoft di tahun 2013. Dikatakan factor utama dari awal kehancuran Nokia adalah mulai adanya Apple di tahun 2007 dengan Iphone.”

    Ia juga mengutip Kompas.com yang mengatakan ada tiga (3) kesalahan Nokia; yaitu (1) kualitas teknologi, (2) arogansi manajemen yang tidak mau mendengar dan melihat perubahan, dan (3) lemahnya visi misi (Kompas.com 30 Maret 2021). Ketiga kesalahan ini membuat Nokia tidak bisa inovasi. Inovasi adalah kata kunci untuk perkembangan (kemajuan), mendengarkan pasar, dan kreativitas untuk selalu memunculkan hal baru yang menantang dan canggih. Kegagalan ini membuat Nokia tidak lagi menjadi “leading” (bahkan jatuh terperosok) di teknologi HP dunia,

    Tiga puluh (30) tahun yang lalu semua pasti mengenal SPK yang kemudian berevolusi menjadi AKPER dan AKBID. Saat itu kita ini “leading industry” (kalau boleh dikatakan demikian) di dunia Pendidikan keperawatan dan kebidanan. Mungkin saat itu kita satu-satunya yang ada dan masyarakat Kalbar tidak ada pilihan.

    Baca Juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    “Sepuluhan (10-an) tahun yang lalu mulai muncul AKPER/AKBID lainnya di kota Pontianak atau Kalbar,” lanjut Pastor Robini, “Mereka bahkan sudah mendahului kita di program studi yang bukan hanya D3, melainkan S1. tu sudah satu inovasi! Kita belum bicara, dan saya belum tahu juga, bagaimana dosen mereka (tentu ada hubungan dengan rekruitmen) dan juga visi-misi mereka serta jaringan yang mereka miliki. Sekarang kita berteriak kurang mahasiswa/mahasiswi dst dst. Indikator utama memang angka mahasiswa. Belum lagi isu-isu yang berkembang tentang kita. Saya katakana “isu” karena bisa benar/bisa tidak.”

    “Kita memang masih punya nama. Yes! Bupati Carolin mengatakan di depan umum dan kepada saya pribadi. Namun banyak yang mengingatnya sebagai kejayaan tempo doeloe,” tambah Pastor Robini.

    Business is NOT as usual

    Dalam sambutan itu, RP Johanes Robini Marianto, OP mengungkapkan bahwa masalah manajemen menjadi besar kalau saya katakan, secara alam bawah sadar, kita jatuh pada “arogansi manajemen” yang turut menghancurkan Nokia; yaitu tidak mau mendengar pasar, tidak mau berubah dan adaptasi serta inovasi, dan hanya mengandalkan kejayaan masa lalu. “Kita kalau tidak sadar dan terbuka mengakui masalah kita (bukan hanya menyangkal atau denial), saya khawatir kita akan menjadi Nokia baru!” tambahnya.

    “Ketika kita melantik direksi-direksi baru, sebagai Ketua Yayasan, saya mengingatkan beberapa hal,” kata Pastor Robini.

    Business is NOT as usual! Hal ini diperparah dengan pandemi Covid-19. Tidak ada yang paten lagi. Dahulu kita tidak kenal Zoom. Sekarang semua tahu dan terpaksa harus tahu Zoom. Prediksi ke depan, paling tidak lima (5) tahun ke depan, masalah Covis-19 masih akan menghantui kita. Dan bukan hanya itu saja, pola yang tercipta dengan pemakaian tehnologi di dunia Pendidikan sudah mulai memasuki generasi 4.0. Disrupsi, kata orang.

    “Maka kalau kita masih berpikir, sadar atau di bawah sadar, dunia masih kayak 3 tahun yang lalu, kita sudah sangat sangat salah,” katanya.

    Untuk itu inovasi dibutuhkan. Inovasi di dalam kurikulum, metode pengajaran dengan mengikutsertakan tehnologi, kebutuhan akan daya saing dengan para “competitor,” dan strategi marketing yang up to date. Kalau tidak ada, maka kita akan menjadi Nokia.

    Baca Juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    Pandemi, sekali lagi, adalah “winter is coming!” Maka akan terjadi kompetisi hebat untuk bisa hidup; dan kompetisi kali ini bukan lagi dengan competitor melainkan dengan kenyataan pandemi dan pasca pandemi. Untuk menjadi inovatif, maka lepaskanlah arogansi masa lalu karena kenyataannya kita sudah jatuh banyak. Pengurus baru harus berani inovasi dan itu dibutuhkan bukan hanya keberanian melainkan kreativitas dan tidak bisa mengandalkan masa lalu.

    Pastor Robini mengingatkan pengurus agar perlu meredefinisikan masa depan institusi ini yang akan dituju. Untuk itu direvisi Statuta yang menekankan visi dan misi baru. Pendidikan kalau sekarang hanya mencari pemasukkan atau kasarnya uang; akan gagal. Institusi Pendidikan harus memberikan value (nilai).

    Nilai (value) ini akan menjadi uang! Value yang benar terletak pada efeknya dirasakan para mahasiswa-mahasiswi, masyarakat pengguna dan tentunya pemerintah daerah. Untuk meningkatkan value mereka harus mulai dengan Jaringan (supply chains) dan tentunya merupakan kerja berat tiga periode jabatan para direksi ini.

    Pengurus yang baru harus bisa membuat jaringan (supply chains), inovasi dan kerja keras. Ini tentu bukan hanya para direksi; melainkan semua. Sebenarnya, jujur, tugas Direktur adalah jalan-jalan membuka koneksi (connectedness). Kalau direktur selalu di kantor urus administrasi saja; maka anda semua bukan pemimpin.

    Baca Juga: Prajurit Yonzipur 6/SD Ikuti Uji Kenaikan Sabuk Hijau ke Putih

    Pengurus hanyalah “penjaga kendang/gawang.” Para Direktur haruslah menjadi leader yang bisa membuat koneksi dengan semua stakeholders untuk menaikkan nilai (value) kedua Lembaga ini dan menjadikan kedua Lembaga ini mempunyai reputasi. Koneksi yang pengurus bangun harus berbentuk program dan proyek yang, bisa mengembangkan kedua Lembaga ini. Pengurus dibantu para wakil direktur dan yayasan tambah lagi Sekjend. Itu artinya administrasi sudah ada yang urus. Tugas para direktur adalah bertemu dengan masyarakat, pemda dan users (pengguna lulusan).

    Maka Pastor Robini harap ini sungguh dipikirkan dan direnungkan.

    Pastor Robini mengharapkan dengan pelantikkan kali ini merupakan awal kebangkitan dari kedua Lembaga yang telah susah payah dirintis para Misionaris dalam Misi Gereja di Borneo.

    Baca Juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Sebagai Dewan Pembina Yayasan Landak Bersatu dan Anggota DPR RI, Dr. Adrianus Asia Sidot mendukung penuh misi pendidikan yang dimulai oleh Keuskupan Agung Pontianak.

    Ini adalah tonggak baru perkembangan pendidikan di Akademi Perawat Dharma Insan dan Akademi Kebidanan St. Benedicta.

    Ia berdoa dengan adanya tonggak baru dan sejarah baru ini, apa yang menjadi harapan oleh Uskup Agung Pontianak dan ketua yayasan harus betul diwujudkan, apalagi sekarang di era 4.0, atau barangkali di negara lain sudah 5.0.

    Kita sendiri masih berkutat pada 4.0 yang dimana kita sendiri juga masih belajar untuk menguasai perkembangan tersebut. Untuk itu harapan saya direksi yang baru ini harus responsive dan peka dengan perkembangan dunia yang terjadi, “ karena perubahan tidak bisa kita hindari.”-)*

    Administrasi Penerbangan Jadi Kunci Keselamatan Penumpang

    Ilustrasi Administrasi: Sumber: iStock diakses 11 Februari 2026

    DUTA, Landak – Keselamatan penerbangan tidak semata-mata ditentukan oleh teknologi pesawat atau keahlian pilot. Di balik kelancaran setiap penerbangan, terdapat sistem administrasi transportasi udara yang mengatur perencanaan, pengawasan, dan operasional penerbangan. Di Indonesia, sistem ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keamanan penumpang, memastikan ketepatan jadwal, serta mendukung mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.

    Transportasi udara kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Perjalanan bisnis, aktivitas pariwisata, pengiriman logistik bernilai tinggi, hingga mobilitas antarwilayah sangat bergantung pada layanan penerbangan. Setiap hari, ribuan pesawat beroperasi di berbagai bandara nasional. Namun, kelancaran aktivitas tersebut tidak terjadi secara otomatis. Seluruh proses dikendalikan oleh sistem administrasi transportasi udara yang bekerja di balik layar.

    Administrasi transportasi udara mencakup proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga pengawasan operasional penerbangan.

    Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menegaskan bahwa sistem administrasi penerbangan bertujuan menjamin keselamatan, keamanan, keteraturan, serta efisiensi transportasi udara nasional. Tanpa pengelolaan yang terstruktur, operasional penerbangan berpotensi mengalami gangguan, baik dari sisi teknis maupun manajerial, yang pada akhirnya dapat membahayakan keselamatan penumpang.

    Salah satu komponen penting dalam sistem ini adalah perencanaan penerbangan. Perencanaan mencakup penentuan rute, pengaturan slot waktu keberangkatan dan kedatangan, pengembangan kapasitas bandara, serta integrasi dengan moda transportasi lain. Dalam praktiknya, perencanaan yang kurang optimal sering kali berdampak pada keterlambatan penerbangan dan kepadatan terminal penumpang, terutama pada musim liburan dan jam sibuk.

    Selain perencanaan, administrasi operasional bandara juga berperan besar dalam menentukan kualitas layanan penerbangan. Pengelolaan terminal, pengaturan pergerakan pesawat di apron, pelayanan penumpang dan kargo, hingga koordinasi ground handling harus berjalan sesuai standar operasional prosedur. Ketika sistem operasional tertata dengan baik, proses check-in, boarding, dan pengambilan bagasi dapat berlangsung lebih cepat, tertib, dan nyaman bagi penumpang.

    Aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam dunia penerbangan. International Civil Aviation Organization (ICAO) mewajibkan setiap negara dan operator penerbangan menerapkan Safety Management System (SMS) sebagai bagian dari sistem administrasi keselamatan. Melalui SMS, potensi bahaya dapat diidentifikasi lebih awal, risiko operasional dapat dikelola secara sistematis, serta budaya keselamatan dapat terus ditingkatkan di lingkungan penerbangan.

    Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat kerap merasakan dampak langsung dari kebijakan keselamatan ini. Prosedur pemeriksaan keamanan yang ketat di bandara, pembatasan barang bawaan, serta pengawasan area steril merupakan bagian dari upaya pencegahan terhadap ancaman keamanan penerbangan. Meski terkadang dianggap merepotkan, langkah- langkah tersebut terbukti penting untuk menjaga keselamatan seluruh pengguna jasa penerbangan.

    Kualitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penentu keberhasilan sistem administrasi transportasi udara. Pilot, teknisi pesawat, petugas lalu lintas udara (ATC), hingga petugas bandara diwajibkan memiliki sertifikasi kompetensi sesuai standar nasional dan internasional.

    Pelatihan rutin dilakukan agar setiap personel mampu mengikuti perkembangan teknologi, memahami prosedur terbaru, serta siap menghadapi kondisi darurat. Profesionalisme SDM ini berpengaruh langsung terhadap keselamatan operasional, ketepatan waktu penerbangan, dan kualitas pelayanan publik.

    Dari sisi regulasi, pemerintah memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas industri penerbangan nasional. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan menegaskan bahwa penyelenggaraan transportasi udara harus mengutamakan keselamatan, keamanan, dan pelayanan kepada masyarakat.

    Pengawasan dilakukan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang bertugas membina operator penerbangan, memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan, serta menegakkan regulasi yang berlaku.

    Administrasi transportasi udara juga berkontribusi besar dalam meningkatkan konektivitas wilayah Indonesia yang memiliki karakter geografis kepulauan. Program penerbangan perintis menjadi solusi untuk menghubungkan daerah terpencil dengan pusat ekonomi dan pemerintahan. Dengan sistem administrasi yang tertata, layanan penerbangan perintis dapat berjalan lebih efisien dan membantu pemerataan pembangunan nasional.

    Tidak hanya itu, sektor pariwisata nasional turut bergantung pada kualitas layanan penerbangan. Bandara yang tertata rapi, jadwal penerbangan yang tepat waktu, serta sistem keamanan yang andal menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan wisatawan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri pariwisata, tetapi juga oleh masyarakat lokal yang menggantungkan perekonomian pada sektor tersebut.

    Di sisi lain, masyarakat sebagai pengguna jasa penerbangan juga memiliki peran penting dalam mendukung sistem ini. Kepatuhan terhadap aturan bandara, kedisiplinan waktu, serta kesadaran akan prosedur keselamatan menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam menciptakan sistem transportasi udara yang tertib dan berkelanjutan.

    Administrasi transportasi udara tidak sekadar berkaitan dengan urusan administratif, tetapi menjadi fondasi utama dalam pengelolaan penerbangan nasional. Dengan perencanaan yang matang, operasional yang profesional, pengawasan keselamatan yang ketat, SDM yang kompeten, serta regulasi yang kuat, sistem transportasi udara Indonesia diharapkan mampu memberikan layanan yang aman, nyaman, dan andal bagi seluruh masyarakat.

    Daftar Referensi

    1Astri Rumondang Banjarnahor, 2Ovi Hamidah Sari, 3Mariana Simanjuntak, 4Nur Khaerat Nur, 5Sudirman Muhammad Ihsan Mukrim, 6Parea Rusan Rangan, 7Mahyuddin, 8Amin Ama Duwila, 9Miswar Tumpu, 10Erdawaty, 11Fatmawaty Rachim. 2021.

    Management Trasnportasi Udara

    International Civil Aviation Organization (ICAO). (2018). Safety Management Manual (SMM) – Doc 9859. Montreal: ICAO.

    Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. (2022). Direktorat Jenderal Perhubungan Udara: Kebijakan dan Sistem Transportasi Udara Nasional.

    Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 39 Tahun 2019. Tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.

    Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 55 Tahun 2015. T entang Sistem Manajemen Keselamatan Penerbangan (SMS).

    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009. Tentang Penerbangan.

    *Oleh: Rizal & Erna Susilawati – Mahasiswa Logistik – Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

    Keterlambatan Penerbangan Masih Menjadi Masalah Utama Transportasi Udara Indonesia

    Ilustrasi Penerbangan: Sumber Pngtree (diakses 11 Februari 2026)

    DUTA, Landak – Keterlambatan penerbangan masih menjadi permasalahan utama dalam sistem transportasi udara di indonesia yang berdampak langsung pada mobilitas masyarakat, terutama pada sektor ekonomi, pariwisata, dan distribusi logistik, meskipun jumlah penumpang sering meningkat setiap tahunnya.

    Transportasi udara memiliki peran strategis dalam mendukung pergerakan manusia dan barang di indonesia yang memiliki kondisi geografis kepulauan. Pesawat udara menjadi pilihan utama masyarakat karena kecepatan dan jangkauannya yang luas, terutama untuk perjalanan jarak jauh antar provinsi maupun antar pulau. Namun, di balik keunggulan tersebut, sektor transportasi udara masih dihadapkan pada berbagai permasalahan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

    Salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan oleh masyarakat adalah keterlambatan penerbangana atau delay. Keterlambatan ini di sebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari cuaca buruk, gangguan teknis pesawat, kepadatan lalu lintas udara, hingga keterbatasan fasilitas bandara (Rahimudin, 2014).

    Dampak dari keterlabatan penerbangan tidak hanya dirasakan oleh penumpang, tetapi juga oleh pelaku usaha yang bergantung pada ketepatan waktu pengiriman barang melalui jalur udara (Kadek, Dewi, & Syaputra, 2025).

    Menurut pengamatan di beberapa bandara besar di Indonesia, peningkatan jumlah penumpang tidak selalu diimbangi dengan kesiapan infrastruktur bandara. Kepadatan jadwal penerbangan pada jam-jam tertentu sering kali menyebabkan antrean pesawat di landasan pacu, baik saat lepas landas maupun mendarat. Kondisi ini berpotensi memperpanjang waktu tunggu dan meningkatkan risiko keterlambatan penerbangan (Marine, Ricardianto, & Setia, n.d.)

    Selain masalah keterlambatan, faktor keselamatan penerbangan juga menjadi perhatian penting dalam hal perawatan pesawat, kepatuhan terhadap prosedur operasional, serta pengawasan terhadap maskapai pengerbangan. Keslamatan menjadi aspek krusial karena menyangkut nyawa manusia dan kepercayaan publik terhadap layanan transportasi udara (Siahaan, Alzura, & Daffa, 2024).

    Permasalahan lain yang tidak kalah penting adalah tingginya biaya operasional penerbangan. Harga bahan bakar avtur, biaya perawatan pesawat, serta biaya pelayanan bandara menjadi komponen utama yang memengaruhi harga tiket pesawat. Kondisi ini sering kali bedampak pada naiknya harga tiket, terutama pada musim liburan atau periode permintaan tinggi.

    Akibatnya, sebagian masyarakat merasa terbebani dan memilih moda transportasi lain yang mudah terjangkau, meskipun membutuhkan waktu perjalanan yang lebih lama (Access, Alves, & Caetano, 2016)

    Dalam konteks kehidupan sehari-hari, permasalahan transportasi udara sangat berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat. keterlambatan penerbangan dapat menyebabkan penumpang kehilangan jadwal kerja, pertemuan bisnis, hingga kesempatan penting lainnya.

    Bagi pelaku usaha logistic, keterlambatan pengiriman jalur udara dapat berdampak pada rantai pasok, terutama untuk barang yanag bersifat mudah rusak atau memiliki batas waktu pengiriman yang ketat.

    Di sisi lain, kualitas pelayanan juga menjadi sorotan. Fasilitas ruang tunggu, sistem informasi penerbangan, serta pelayanan terhadap penumpang saat terjadi gangguan penerbangan masih perlu ditingkatkan.

    Informasi yang tidak jelas dan lambat sering kali memicu ketidakpuasan penumpang. Dalam situasi keterlambatan, penumpang membutuhkan kepastian informasi terkait jadwal keberangkatan, kompensasi, dan solusi alternatif yang disediakan oleh maskapai.

    Pemerintah melalui otoritas penerbangan sipil terus berupaya melalukan perbaikan dengan memperketat regulasi, meningkatkan pengawasan, serta mendorong pengembanagan infrastruktur bandara.

    Pembangunan dan perluasan bandara di berbagai daerah diharapkan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas udara dan meningkatkan efisiensi operasional penerbangan. Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi dalam pengelolaan lalu lintas udara menjadi langkah penting untuk meningkatkan ketepatan waktu penerbangan.

    Salah satu pengamat transportasi udara menyarakan bahwa permasalahan dalam transportasi udara tidak dapat diselesaikan secara parsial. “diperlukan sinergi antara pemerintah, pengelola bandara, maskapai penerbangan, dan penyedia layanan navigasi udara agar sistem transportasi udara dapat berjalan lebih efektif daqn efisien,” ujarnya. Pernyataan tersebutmenegaskan pentingnya koordinasi antar pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas layanan penerbangan.

    Dalam jangka panjang, perbaikan sistem transportasi udara diharappkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Transportasi udara yang andal dan tepat waktu akan memperlancar mobilitas masyarakat, meningkatkan daya saing sektor pariwisata, serta mempercepat distribusi barang ke berbagai wilayah di Indonesia. Oleh karena itu, penyelesaian permasalahan transportasi udara menjadi agenda penting yang harus terus diupayakan secara berkelanjutan.

    Permasalahan dalam transportasi udara, seperti keterlambatan penerbangan, keselamatan, biaya operasional, dan kualitas pelayanan, masih mejadi tantangan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

    Upaya perbaikan melalui pengingkatan infrastruktur, pengawasan, serta pemanfaatan teknologi diharapkan mampu menciptakan sistem transportasi uadara yang lebih aman, efisien, dan berorientasi pada kepentingan publik meningkatnya kebutuhan mobilitas dan distribusi barang di Indonesia.

    Daftar Pustaka

    Access, O., Alves, U., & Caetano, M. (2016). Analysis of ticket price in the airline industry from the perspective of operating costs , supply and demand Preços de passagens aéreas analisados sob a perspectiva dos, 7(2), 21–28.

    Kadek, N., Dewi, R., & Syaputra, A. (2025). Pengaruh Keterlambatan Penerbangan Terhadap Kepuasan Penumpang pada Maskapai Super Air Jet di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan Sekolah Tinggi Teknolgi Kedirgantaraan Yogyakarta , Indonesia Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan ( Kemenhub

    ) pada divisi Indonesia pada tahun 2023 . Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui penyebab, (1).

    Marine, J., Ricardianto, P., & Setia, J. (n.d.). On Time Performance pada Bandara Internasional On Time Performance of Soekarno-Hatta International Airport, 10(03), 203–214.

    Rahimudin. (2014). ANALISIS HUBUNGAN ANTARA KETERLAMBATAN AKIBAT AIRPORT FACILITIES TERHADAP TOTAL FLIGHT DEPART PESAWAT GARUDA INDONESIA DI BANDAR UDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA PERIODE BULAN FEBRUARI SAMPAI DENGAN, 7, 89–102.

    Siahaan, L. D., Alzura, W., & Daffa, M. H. (2024). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ON-TIME PERFORMANCE PADA PENERBANGAN MASKAPAI SRIWIJAYA AIR DI BANDAR UDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA TAHUN 2024, x(x).

    *Oleh: Emi Pebriyanti & VillariaMahasiswa Logistik – Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

    Manajemen Angkutan Barang Udara Jadi Kunci Distribusi Tepat Waktu

    Sumber: Unair Cargo (diakses 11 Februari 2026)

    DUTA, Landak – Manajemen angkutan barang udara menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga kelancaran distribusi barang di Indonesia, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pengiriman yang cepat, aman, dan tepat waktu. Sebagai negara kepulauan dengan kondisi geografis yang beragam, Indonesia sangat bergantung pada transportasi udara untuk menjangkau wilayah terpencil, perbatasan, serta daerah yang sulit diakses oleh moda transportasi lain.

    Dalam kehidupan sehari-hari, peran manajemen kargo udara sering kali tidak disadari, meskipun berpengaruh langsung terhadap ketersediaan barang, stabilitas harga, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

    Kondisi tersebut menjadikan manajemen angkutan barang udara tidak hanya berfungsi sebagai sistem operasional, tetapi juga sebagai penopang utama kelancaran rantai pasok nasional yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi, keberlanjutan distribusi, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas pengelolaan kargo udara memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung ketahanan distribusi nasional.

    Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi tantangan yang besar dalam pemerataan distribusi barang dan jasa. Kondisi geografis tersebut membuat transportasi udara menjadi salah satu moda yang sangat vital, terutama untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses melalui transportasi darat dan laut.

    Dalam konteks kehidupan sehari-hari, Masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa banyak kebutuhan pokok, obat-obatan, hingga barang bernilai tinggi sangat bergantung pada kelancaran transportasi udara.

    Transportasi udara memiliki karakteristik utama berupa kecepatan dan ketepatan waktu. Hal ini menjadikannya pilihan utama untuk pengiriman barang yang bersifat mendesak, mudah rusak, atau memiliki nilai ekonomis tinggi.

    Misalnya, distribusi vaksin, obat-obatan, organ medis, serta produk segar seperti ikan dan buah-buahan dari daerah produksi ke pusat konsumsi sangat mengandalkan moda udara agar kualitas barang tetap terjaga.

    Dalam praktik logistik modern, bandara tidak hanya berfungsi sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan penumpang, tetapi juga sebagai simpul utama dalam rantai pasok nasional. Pengamat transportasi udara dari perguruan tinggi negeri di Indonesia menyebutkan bahwa manajemen kargo udara yang baik berperan besar dalam menjaga ketepatan waktu distribusi barang, terutama untuk kebutuhan mendesak dan bernilai tinggi.

    Aktivitas kargo udara terus mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan e-commerce dan kebutuhan pengiriman cepat. Masyarakat yang memesan barang secara daring dan mengharapkan pengiriman dalam waktu singkat secara tidak langsung memanfaatkan sistem transportasi udara yang terintegrasi dengan pergudangan dan distribusi darat.

    Selain itu, fungsi transportasi udara juga sangat terasa dalam menjaga stabilitas harga barang di daerah terpencil. Berdasarkan kebijakan Kementerian Perhubungan, program jembatan udara terus diperkuat untuk menekan disparitas harga barang dan memastikan ketersediaan barang pokok di wilayah pedalaman dan perbatasan.

    Tanpa dukungan angkutan udara, biaya logistik ke wilayah pedalaman dan perbatasan akan menjadi sangat tinggi, sehingga berdampak pada melonjaknya harga kebutuhan pokok. Program jembatan udara yang dijalankan pemerintah menjadi salah satu contoh nyata bagaimana transportasi udara digunakan untuk mengatasi kesenjangan distribusi dan meningkatkan kesejahteraan masyakarat.

    Namun demikian, transportasi udara juga menghadapi berbagai tantangan. Biaya operasional yang tinggi, ketergantungan pada bahan bakar, serta keterbatasan infrastruktur bandara di daerah tertentu menjadi hambatan utama. Dalam kehidupan sehari-sehari, tantangan ini dapat terlihat dari mahalnya ongkos kirim udara dibandingkan moda lainnya. Meski demikian masyarakat tetap memilih transportasi udara ketika waktu menjadi faktor yang paling krusial.

    Transportasi udara memiliki standar operasional yang sangat ketat dalam hal keselamatan dan keamanan. Hal ini sejalan dengan regulasi penerbangan sipil yang mengatur penanganan kargo udara agar tetap aman, tertib, dan sesuai standar internasional.

    Hal ini penting untuk menjamin keselamatan penumpang dan keamanan barang yang diangkut. Dalam konteks distribusi logistik, sistem keamanan bandara dan prosedur penanganan kargo memberikan rasa aman bagi pelaku usaha maupun konsumen. Kepercayaan ini menjadi faktor penting dalam keberlangsungan aktivitas ekonomi yang bergantung pada pengiriman udara.

    Peran sumber daya manusia juga tidak dapat diabaikan. Pilot, teknisi, petugas ground handling, hingga petugas keamanan bandara memiliki kontribusi besar dalam memastikan

    kelancaran operasional transportasi udara. Dalam kehidupan sehari-hari, ketepatan jadwal penerbangan dan kondisi barang yang diterima masyarakat merupakan hasil kerja kolektif dari berbagai pihak dalam sistem transportasi udara.

    Seiring perkembangan teknologi, transportasi udara terus beradaptasi dengan sistem digital. Penggunaan teknologi informasi dalam pelacakan kargo, manajemen jadwal penerbangan, dan pelayanan pelanggan semakin meningkatkan efisiensi. Masyarakat kini dapat memantau status pengiriman barang secara real time, yang memberikan transparansi dan kepastian dalam aktivitas logistik.

    Korelasi antar materi transportasi udara dan masalah kehidupan sehari-hari terlihat jelas pada saat terjadi gangguan penerbangan akibat cuaca buruk atau kondisi darurat lainnya. Keterlambatan penerbangan tidak hanya berdampak pada penumpang. Tetapi juga pada distribusi barang, ketersediaan stok, dan aktivitas ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa transportasi udara memiliki peran yang saling terikat dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat.

    Transportasi udara merupakan moda yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern, terutama dalam mendukung distribusi logistik, mobilitas masyarakat, dan pemerataan Pembangunan.

    Dengan segala keunggulan dan tantangannya, transportasi udara tetap menjadi solusi strategis untuk menjawab kebutuhan akan kecepatan dan keandalan dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, peningkatan infrastruktur, efisiensi operasional, dan terintegrasi antarmoda diharapkan dapat semakin memperkuat peran transportasi udara dalam sistem transportasi nasional.

    *Oleh: Desika Mery Natalia & Brama Adiputra Mahasiswa Logistik – Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

    Literasi Keuangan Mahasiswa

    DUTA, Pontianak – Di tengah dinamika kehidupan kampus dan perkembangan teknologi finansial yang pesat, kemampuan mengelola keuangan menjadi keterampilan penting yang tak kalah penting dari kemampuan akademik. Mahasiswa baik yang tinggal jauh dari keluarga maupun yang menerima uang saku tetap dituntut untuk mampu mengambil keputusan finansial yang bijak agar tidak terjebak dalam konsumtifisme dan utang yang tidak produktif.

    Apa Itu Literasi Keuangan?

    Literasi keuangan adalah kemampuan memahami konsep dasar keuangan seperti pengetahuan anggaran, menabung, investasi, risiko, dan pengambilan keputusan finansial yang efektif. Literasi ini mencakup pengetahuan, keterampilan, serta sikap positif dalam menghadapi masalah keuangan.

    Kondisi Literasi Keuangan Mahasiswa di Indonesia

    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemahaman keuangan mahasiswa di Indonesia masih belum optimal. Banyak mahasiswa belum benar-benar memahami cara mengatur uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memahami risiko dari utang dan layanan keuangan digital. Padahal, di kehidupan sehari-hari mahasiswa sangat dekat dengan dompet digital, promo belanja, dan sistem paylater.

    Penelitian juga menemukan bahwa tidak semua mahasiswa memiliki tingkat literasi keuangan yang sama. Mahasiswa dari jurusan ekonomi umumnya lebih paham soal keuangan dibandingkan jurusan lain. Namun secara umum, masih banyak mahasiswa yang belum terbiasa membuat anggaran bulanan, menabung secara rutin, atau merencanakan keuangan untuk jangka panjang.

    Rendahnya literasi keuangan ini berdampak pada perilaku keuangan yang kurang sehat, seperti pengeluaran impulsif dan penggunaan utang tanpa perhitungan. Karena itu, literasi keuangan sangat penting untuk dibangun sejak bangku kuliah agar mahasiswa lebih bijak mengelola uang, terhindar dari masalah keuangan, dan siap menghadapi dunia kerja di masa depan.

     Mengapa Literasi Keuangan Penting bagi Mahasiswa?

    1. Membantu Pengelolaan Uang Sehari-hari
      Mahasiswa yang paham literasi keuangan lebih mampu menyusun anggaran bulanan, memprioritaskan pengeluaran, dan menghindari pemborosan impulsif. Dengan demikian, mereka terbantu dalam menjalani masa studi tanpa stres berlebihan terkait masalah keuangan.
    1. Menghindari Utang Tidak Produktif
      Pengetahuan tentang bunga dan risiko kredit membuat mahasiswa lebih berhati-hati saat menggunakan fasilitas kredit seperti paylater atau pinjaman tanpa perencanaan yang jelas.
    1. Mendorong Kebiasaan Menabung & Investasi
      Memahami konsep tabungan dan investasi sejak dini dapat membantu mahasiswa memulai kebiasaan positif yang berujung pada kemandirian finansial di masa depan.
    1. Menguatkan Ketahanan Finansial di Dunia Kerja
      Saat memasuki dunia kerja, mahasiswa yang memiliki pemahaman kuat tentang keuangan pribadi akan lebih siap dalam mengatur gaji pertama mereka dan membuat perencanaan finansial jangka panjang.

    Dukungan Akademik dan Implementasi di Kampus

    Peran institusi pendidikan dalam menyediakan pengajaran literasi keuangan melalui mata kuliah, workshop, dan program edukatif sangat penting. Tidak hanya memberikan teori, tetapi juga praktik langsung melalui simulasi anggaran, investasi, hingga penggunaan teknologi finansial.

    Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang mendapat edukasi literasi keuangan akan memiliki perilaku finansial yang lebih baik, termasuk kebiasaan menabung, membuat anggaran, dan menghindari utang konsumtif.

    Literasi Keuangan sebagai Kunci Kemandirian Mahasiswa

    Pada akhirnya, literasi keuangan bukan sekadar kemampuan teknis, tapi juga bagian dari kemandirian pribadi mahasiswa. Mahasiswa yang melek finansial tidak hanya cerdas dalam perencanaan akademik, tetapi juga lebih bijak dalam mengambil keputusan kehidupan yang berdampak pada masa depan mereka.

    * Sumitro, S.M., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan)

    Positioning Produk Antara Citra Merek dan Realitas Pasar

    DUTA, Pontianak – Dalam dunia bisnis yang kompetitif, positioning sering dipandang sebagai strategi penting untuk membangun citra produk di benak konsumen. Berbagai literatur pemasaran menjelaskan positioning sebagai upaya perusahaan menciptakan persepsi tertentu agar produknya memiliki tempat khusus di pasar. Namun, dalam praktiknya, positioning tidak selalu berjalan seideal teori.

    Citra merek yang dibangun perusahaan kerap berhadapan dengan realitas pasar yang lebih kompleks, di mana pengalaman konsumen, perubahan tren, dan persaingan justru menentukan bagaimana sebuah produk benar-benar dipersepsikan. Di sinilah positioning produk berada di antara citra merek yang dirancang dan realitas pasar yang tidak selalu bisa dikendalikan.

    Menurut Kotler dan Keller, positioning merupakan aktivitas perusahaan dalam membentuk citra dan penawaran agar sesuai dengan target pasar yang dituju. Definisi ini menegaskan bahwa positioning berkaitan erat dengan bagaimana perusahaan ingin produknya dipersepsikan oleh konsumen.

    Namun, definisi tersebut juga mengandung asumsi bahwa citra yang dibangun dapat sepenuhnya diterima oleh pasar. Padahal, persepsi konsumen tidak hanya dibentuk oleh pesan pemasaran, tetapi juga oleh realitas pengalaman penggunaan produk di lapangan.

    Tujuan utama positioning adalah menciptakan citra yang spesifik dan diinginkan perusahaan agar produk memiliki keunggulan dibanding pesaing. Secara konseptual, tujuan ini terdengar ideal.

    Namun, ketika citra yang ditanamkan tidak sejalan dengan realitas kualitas produk atau layanan yang dirasakan konsumen, positioning justru berpotensi menimbulkan kekecewaan dan menurunkan kepercayaan pasar. Dengan demikian, keberhasilan positioning tidak hanya ditentukan oleh kejelasan citra, tetapi juga oleh kesesuaiannya dengan kondisi pasar yang sebenarnya.

    Berbagai jenis positioning seperti brand positioning, market positioning, dan product positioning menunjukkan bahwa perusahaan memiliki banyak cara untuk menempatkan produknya di benak konsumen.

    Namun, banyaknya pilihan strategi ini juga meningkatkan risiko kesalahan. Brand positioning yang terlalu menonjolkan citra tanpa didukung kualitas nyata, atau product positioning yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, dapat menyebabkan kesenjangan antara janji merek dan realitas yang dirasakan konsumen.

    Salah satu contoh nyata kesenjangan antara citra merek dan realitas pasar dapat dilihat pada produk smartphone. Dalam iklan, sebuah smartphone sering ditampilkan memiliki performa yang cepat, kualitas kamera yang tajam, serta pengalaman penggunaan yang optimal. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit konsumen yang merasakan hal berbeda setelah beberapa bulan pemakaian.

    Performa perangkat mulai melambat, kualitas kamera tidak sebaik yang ditampilkan dalam iklan, bahkan hasil foto terlihat buram dalam kondisi tertentu. Ketidaksesuaian antara klaim pemasaran dan pengalaman nyata konsumen ini menunjukkan bahwa positioning yang dibangun lebih menekankan citra ideal dibandingkan kesiapan produk di pasar.

    Kondisi ini memperlihatkan bahwa positioning yang terlalu menonjolkan keunggulan visual dan klaim performa tanpa disertai transparansi mengenai batasan produk berpotensi menciptakan ekspektasi berlebihan di kalangan konsumen. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, kepercayaan terhadap merek pun menurun.

    Untuk menghindari kesenjangan tersebut, perusahaan perlu memastikan bahwa strategi positioning tidak hanya berfokus pada citra visual dalam iklan, tetapi juga selaras dengan kualitas dan daya tahan produk dalam jangka waktu penggunaan. Positioning yang jujur dan berbasis realitas pasar justru lebih berpotensi membangun loyalitas konsumen dibandingkan klaim berlebihan yang sulit dipertahankan.

    Oleh karena itu, positioning produk seharusnya tidak dipahami semata-mata sebagai upaya membangun citra yang menarik, melainkan sebagai proses berkelanjutan untuk menyesuaikan persepsi merek dengan realitas pasar.

    Positioning yang berhasil bukan yang paling persuasif secara komunikasi, tetapi yang paling jujur dan relevan dengan pengalaman konsumen. Tanpa keselarasan tersebut, citra merek hanya akan menjadi konstruksi semu yang mudah runtuh ketika diuji oleh pasar.

    SUMBER REFERENSI:
    Nursalamah, Arsidin Batubara, Fakhrurrozi, Imelda Marthauli Pardede & Edison Siregar (2025). Analisis Strategi Pemasaran Perusahaan Dagang Dalam Meningkatkan Penjualan. Jurnal Transformasi Pendidikan Indonesia (JTPI), Vol. 3 No. 3, Juli 2025, hlm. 338–340.
    https://instiki.ac.id/2024/03/04/mengenal-positioning-dalam-bisnis/

    * Martina Angelina_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Pemasaran Saat Daya Beli Masyarakat Menurun

    DUTA, Pontianak – Penurunaan daya beli masyarakat bukanlah hambatan yang harus dihindari, melainkan momentum bagi bisnis untuk melakukan reorientasi strategi secara radikal. Di tengah ketatnya anggaran konsumen, pemasaran tidak lagi bisa mengandalkan cara-cara konvensional fokus harus bergeser dari sekadar menjual produk menjadi menyediakan solusi yang bernilai nyata.

    Strategi yang efektif melibatkan kombinasi antara efisiensi biaya operasional, inovasi produk yang lebih terjangkau, dan penguatan loyalitas pelanggan. Alih-alih terjebak dalam perang harga yang destruktif, bisnis harus mampu mengomunikasikan relevansi produk mereka sebagai kebutuhan prioritas.

    Pada akhirnya, kemampuan untuk beradaptasi dengan lincah dan menjaga empati terhadap kondisi ekonomi konsumen adalah kunci untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga memenangkan pasar di masa sulit.

    Penurunan daya beli masyarakat sering kali dianggap sebagai masalah keterbatasan dana semata, padahal tantangan sesungguhnya jauh lebih kompleks: krisis kepercayaan diri konsumen dalam mengambil keputusan. Saat kondisi ekonomi tidak menentu, konsumen tidak hanya menjadi lebih hemat, mereka lebih takut melakukan kesalahan finansial daripada kehilangan peluang untuk memiliki sebuah produk.

    Dalam konteks ini, strategi pemasaran konvensional yang hanya mengandalkan “diskon besar-besaran” atau “dorongan penjualan yang agresif” justru bisa menjadi bumerang. Ketika daya beli menurun, desakan untuk membeli sering kali justru memperkuat mekanisme pertahanan diri konsumen, yang berujung pada pilihan untuk tidak membeli sama sekali.

    Di tengah merosotnya daya beli masyarakat, strategi pemasaran tidak boleh hanya terpaku pada taktik bertahan atau sekadar memotong harga. tantangan ini sebenarnya merupakan momentum bagi pemasar untuk memperkuat titik temu nilai antara kebutuhan mendesak pelanggan dan tujuan profitabilitas perusahaan. Saat anggaran konsumen mengetat, mereka tidak lagi mencari kemewahan melainkan nilai guna yang nyata dan efisiensi jangka panjang.

    Strategi yang efektif menuntut pemimpin pemasaran untuk bergerak melampaui sekadar promosi tradisional. Hal ini melibatkan kemampuan untuk menyelaraskan seluruh elemen internal perusahaan guna menciptakan efisiensi yang dapat dikonversi menjadi solusi yang lebih terjangkau bagi pelanggan tanpa mengorbankan kualitas.

    Pemasar harus mampu membuktikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan konsumen adalah keputusan yang cerdas dan memberikan dampak langsung bagi kehidupan mereka.

    Pada akhirnya, keberhasilan di masa sulit ini bergantung pada kepemimpinan pemasaran yang mampu menjembatani ekspektasi pasar dengan kemampuan organisasi. Dengan fokus pada penciptaan nilai yang jujur dan relevan, perusahaan tidak hanya sekadar bertahan dari penurunan ekonomi, tetapi juga membangun loyalitas yang lebih dalam karena hadir sebagai solusi di saat konsumen sangat membutuhkannya.

    Menghadapi fenomena penurunan daya beli masyarakat memerlukan pergeseran paradigma dari sekadar kompetisi harga menuju penciptaan nilai yang lebih mendalam strategi pemasaran di era daya beli rendah ini harus mampu menghadirkan nilai tambah melalui ekosistem yang lebih personal.

    Alih-alih hanya mengandalkan diskon yang sering kali menurunkan citra merek, perusahaan dapat memanfaatkan teknologi imersif untuk membantu konsumen melakukan validasi sebelum membeli.

    Dengan memberikan pengalaman “mencoba sebelum membeli” melalui simulasi digital atau interaksi yang lebih nyata di berbagai kanal, perusahaan secara efektif mengurangi kecemasan finansial konsumen. Hal ini menciptakan rasa aman dan keyakinan bahwa keputusan pembelian tersebut bukanlah sebuah pemborosan, melainkan investasi yang cerdas.

    Lebih jauh lagi, Marketing menekankan pentingnya keterhubungan yang konstan antara merek dan pelanggan. Dalam kondisi pasar yang lesu, bisnis harus hadir sebagai solusi yang terintegrasi dalam gaya hidup konsumen yang sedang melakukan efisiensi.

    Fokus pemasaran bergeser dari sekadar membujuk orang untuk membeli, menjadi upaya membangun loyalitas jangka panjang melalui kehadiran merek di setiap titik sentuh digital maupun fisik pelanggan. Dengan menciptakan pengalaman yang imersif dan bermakna, sebuah merek dapat memposisikan dirinya bukan sebagai beban pengeluaran tambahan, melainkan sebagai bagian penting dari solusi keseharian mereka.

    Pada akhirnya, memenangkan pasar saat daya beli menurun melalui pendekatan Marketing, berarti mengedepankan kualitas interaksi dan kedalaman hubungan. Ketika setiap rupiah yang dikeluarkan konsumen sangat diperhitungkan, perusahaan yang mampu menyuguhkan pengalaman yang transparan, mudah diakses, dan memberikan solusi nyata secara imersif akan menjadi pemenang.

    Ini adalah strategi untuk tetap kompetitif dengan cara menonjolkan keunikan nilai, memastikan bahwa merek tetap menjadi pilihan utama meskipun di tengah keterbatasan ekonomi yang menantang.

    DAFTAR REFERENSI:

    Strategi Bisnis untuk Menghadapi Penurunan Daya Beli Masyarakat
    https://uangonline.com/strategi-bisnis-untuk-menghadapi-penurunan-daya-beli-masyarakat/

    Buku
    1. The 12 Powers of a Marketing Leader
    https://www.elibrarynigeria.com.ng/files/books/0.529341001606904371The12PowersofaMarketingLeaderHowtoSucceedbyBuildingCustomerandCompanyValuebyThomasBarta%2CPatrickBarwise%28z-lib.org%29.epub.pdf
    2.The Joly Effect
    https://sellingsherpa.com/index.php/2022/09/29/the-jolt-effect-book-summary/

    3. Marketing
    https://www.google.co.id/books/edition/Marketing_6_0/K0s4EQAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Marketing+6.0:+The+Future+is+Immersive+(2024)&pg=PT4&printsec=frontcover

    * Davit Septianto _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

     

    Opini Pribadi Mengenai Faktor Ekonomi dan Manajemen di Pontianak

    DUTA, Pontianak – Sebagai mahasiswa yang sedang belajar ekonomi dan manajemen, saya melihat bahwa kondisi ekonomi di Pontianak dipengaruhi oleh beberapa faktor penting seperti aktivitas perdagangan, perkembangan UMKM, dan kualitas manajemen di tingkat lokal. Kota ini memiliki potensi besar karena posisinya sebagai pusat ekonomi di Kalimantan Barat.

    Pertama, menurut Paul A. Samuelson dalam bukunya *Economics*, perkembangan ekonomi sebuah daerah sangat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar. Di Pontianak, permintaan terhadap kebutuhan pokok dan barang konsumsi cukup tinggi karena kota ini menjadi pusat distribusi. Namun, tantangannya adalah biaya logistik yang masih relatif tinggi sehingga mempengaruhi harga barang.

    Kedua, dalam pandangan Michael Porter melalui teori daya saing yang dijelaskan di bukunya *Competitive Advantage*, kekuatan UMKM sangat berperan dalam meningkatkan perekonomian lokal. Di Pontianak, banyak UMKM kuliner, kerajinan, dan perdagangan yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi belum semua memiliki manajemen yang kuat terutama dalam hal pemasaran dan pengelolaan keuangan.

    Ketiga, menurut Philip Kotler dalam *Principles of Marketing*, manajemen pemasaran yang baik menentukan keberhasilan usaha. Banyak pelaku usaha di Pontianak masih menggunakan metode pemasaran tradisional. Padahal, peluang digital marketing di Pontianak cukup besar karena penggunaan internet dan media sosial yang semakin meningkat. Dengan memanfaatkan pemasaran digital, UMKM di Pontianak bisa memperluas pasar dengan biaya rendah.

    Secara pribadi, saya menilai bahwa Pontianak memiliki peluang ekonomi yang kuat, tetapi peningkatan kualitas manajemen sangat diperlukan. Penguatan kemampuan SDM dalam manajemen, penerapan strategi pemasaran modern, dan perbaikan infrastruktur logistik adalah langkah yang menurut saya penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.

    Dengan menggabungkan pandangan Samuelson, Porter, dan Kotler, saya melihat bahwa perkembangan ekonomi di Pontianak akan lebih optimal jika pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat bekerja sama meningkatkan daya saing daerah melalui perbaikan manajemen dan strategi ekonomi yang lebih terarah.

    * Antonio Fabio Cannavaro _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Jangan Sampai Iklan Digital Malah Bikin Kita Muak

    DUTA, Pontianak – Rasanya di tahun 2026 ini, HP kita sudah tidak ada bedanya dengan papan reklame berjalan yang menyala selama 24 jam. Setiap kali kita membuka Instagram, menonton video di TikTok, melihat marketplace, atau sekadar membaca berita pagi di portal online, yang muncul selalu saja iklan, endorsement, dan promosi yang tidak ada habisnya.

    Memang benar kalau pemasaran digital sekarang menjadi mesin utama yang menggerakkan ekonomi kita, tapi kalau polanya sudah berlebihan seperti ini, kita sebagai pengguna malah mulai merasa lelah. Fenomena banjir konten ini bukan lagi sekadar informasi yang berguna, melainkan sudah menjadi gangguan serius yang menurunkan kepercayaan kita terhadap pesan pemasaran.

    Kalau kita ingat-ingat lagi apa yang dijelaskan oleh Utomo, Risdwiyanto, dan Judijanto dalam buku Pemasaran Digital: Strategi dan Taktik, media sosial itu idealnya berfungsi untuk membangun kesadaran merek, keterlibatan, dan komunitas. Harapannya, media sosial menjadi ruang interaksi yang hangat antara merek dan kita sebagai konsumen. Tapi kenyataannya di lapangan pada tahun 2026 ini? Fungsi itu sudah melenceng jauh.

    Bukannya menjadi ruang dialog, media sosial lebih sering menjadi tempat pengeboman iklan yang muncul tanpa henti. Konten promosi terus muncul di feed, stories, reels, hingga masuk ke kolom komentar yang seharusnya menjadi tempat kita berdiskusi. Pengalaman kita sebagai pengguna pun berubah, dari yang tadinya mencari inspirasi menjadi perasaan jenuh dan penuh tekanan komersial yang seolah mengejar kita ke mana saja.

    Kondisi yang menyesakkan ini sebenarnya bisa kita pahami melalui teori yang disampaikan oleh Sudirman dalam buku The Art of Digital Marketing. Beliau menjelaskan bahwa kekuatan utama pemasaran digital memang terletak pada kemampuannya untuk menyasar orang dengan sangat tepat dan akurat. Namun, ada kelemahan besar yang menyertainya, yaitu persaingan yang sangat tinggi dan risiko kejenuhan audiens. Di tahun 2026, ramalan itu benar-benar menjadi kenyataan yang pahit.

    Karena hampir semua merek menggunakan strategi yang sama, yaitu membakar uang untuk iklan berbayar di media sosial dan mesin pencari, ruang digital kita menjadi sangat sesak dan padat. Akibatnya, alih-alih tertarik, otak kita secara otomatis mulai mengabaikan informasi tersebut sebagai “sampah visual”.

    Data dari LestariAds tahun 2026 pun memperlihatkan sebuah anomali yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Belanja iklan digital di Indonesia terus meningkat tajam, tetapi efektivitasnya justru semakin dipertanyakan. Banyak perusahaan mengeluarkan biaya miliaran rupiah agar bisa tampil di berbagai platform, tetapi kita sebagai konsumen justru semakin sulit untuk terpengaruh.

    Hal ini menunjukkan adanya jarak yang sangat lebar antara intensitas iklan yang muncul dengan tingkat kepercayaan kita. Logikanya sederhana saja: semakin sering sebuah iklan muncul secara paksa di depan mata kita, semakin besar pula kemungkinan kita merasa terganggu dan akhirnya memilih untuk mengabaikannya sama sekali, atau bahkan memblokir merek tersebut dari daftar belanja kita.

    Lebih dalam lagi, Sudirman dalam bukunya juga membedakan antara cara jualan inbound marketing dan outbound marketing. Inbound marketing itu seharusnya menarik konsumen melalui konten yang bernilai, edukatif, dan relevan. Sedangkan outbound marketing cenderung mendorong pesan promosi secara agresif kepada audiens. Sayangnya, realitas iklan digital tahun 2026 justru menunjukkan dominasi gaya jualan yang sangat agresif.

    Kita dipaksa menghadapi jendela pop-up yang tiba-tiba muncul, video iklan yang tidak bisa dilewati, hingga endorsement yang muncul di tengah-tengah konten hiburan yang sedang kita nikmati. Strategi ini mungkin berhasil meningkatkan angka tayangan secara teknis, tetapi sebenarnya justru merusak kepercayaan karena kita sebagai konsumen merasa sedang dimanipulasi secara psikologis.

    Masalah ini menjadi semakin serius ketika kita kaitkan dengan isu keamanan dan penipuan digital yang makin marak. Dalam buku  Digital Strategi dan Taktik, ditekankan berkali-kali bahwa kepercayaan dan keamanan adalah fondasi utama dalam dunia e-commerce. Tanpa rasa aman, tidak akan ada transaksi yang sehat.

    Namun, laporan dari Infobank News dan Kompas Money tahun 2026 menunjukkan fakta yang mengerikan. Ribuan orang Indonesia telah menjadi korban penipuan online dengan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah. Ironisnya, banyak dari penipuan ini bermula dari iklan atau promosi digital yang terlihat sangat profesional dan meyakinkan di media sosial. Ini membuktikan bahwa banjir iklan digital sekarang bukan cuma mengganggu ketenangan, tapi juga bisa membahayakan keamanan data dan isi rekening kita.

    Jika dilihat dari pandangan komunikasi pemasaran yang ditulis oleh Widyastuti dalam buku Manajemen Komunikasi Pemasaran Terpadu, komunikasi pemasaran modern itu harusnya bersifat dialogis dan berorientasi pada hubungan jangka panjang. Prinsip utama dari komunikasi pemasaran terpadu adalah konsistensi pesan dan pembangunan kepercayaan. Namun, praktik pemasaran digital tahun 2026 justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

    Banyak merek yang menyampaikan pesan berbeda-beda di setiap platform demi mengejar klik, memberikan diskon besar-besaran, atau sekadar ingin viral sesaat. Akibatnya, kita sebagai konsumen kesulitan untuk mempercayai identitas asli sebuah merek. Kita jadi ragu, apakah merek ini memang punya nilai yang bagus atau hanya jago jualan lewat iklan saja tanpa kualitas produk yang nyata.

    Selain itu, buku The Art of Digital Marketing juga mengingatkan pentingnya pemasaran media sosial yang berbasis pada interaksi dua arah dan mendengarkan apa yang diinginkan konsumen. Namun, karena adanya banjir iklan berbayar ini, interaksi organik yang jujur semakin terpinggirkan.

    Kita sebagai pengguna lebih sering melihat konten sponsor yang sudah diatur sedemikian rupa daripada konten komunitas yang asli. Dampaknya, hubungan emosional antara merek dan audiens pun semakin melemah, berganti menjadi hubungan transaksional yang dingin dan penuh kecurigaan.

    Menariknya, tren e-commerce tahun 2026 yang dilaporkan oleh WongKito menunjukkan bahwa kita sebagai konsumen sudah semakin kritis. Kita tidak lagi mudah percaya pada iklan dan promo yang muluk-muluk. Saat ini, orang lebih percaya pada ulasan jujur dari pengguna lain, diskusi di komunitas, dan pengalaman nyata orang di sekitar mereka dibanding klaim sepihak dari iklan.

    Ini adalah sinyal kuat bahwa kepercayaan telah menjadi mata uang utama dalam dunia pemasaran digital, menggantikan sekadar jumlah tayangan atau klik. Kita lebih butuh testimoni nyata daripada sekadar janji manis di caption Instagram.

    Sebagai penutup, banjir konten iklan digital di tahun 2026 ini memang telah menciptakan krisis kepercayaan publik yang cukup dalam. Teknologi memang memberi kita kemudahan untuk menjangkau siapa saja, namun tanpa etika, tanpa transparansi, dan tanpa pemahaman psikologis terhadap apa yang dirasakan konsumen, pemasaran digital justru akan kehilangan legitimasi atau harga dirinya.

    Seperti yang diingatkan oleh Widyastuti dan Sudirman, komunikasi pemasaran seharusnya adalah alat untuk membangun hubungan manusiawi, bukan sekadar alat untuk menjual barang. Jika para pelaku usaha dan pengiklan tidak segera merubah cara mereka berinteraksi dengan audiens, jangan kaget jika konsumen akan semakin menutup diri dari pesan iklan dan memilih sumber informasi lain yang jauh lebih jujur dan bisa dipercaya. Sudah saatnya kita kembali ke cara-cara yang lebih tulus.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    Utomo, S. B., Risdwiyanto, A., & Judijanto, L. (2024). Pemasaran digital: Strategi dan taktik.

    Widyastuti, S. (2017).Manajemen komunikasi pemasaran terpadu: Solusi menembus hati pelanggan.

    Jakarta: FEB-UP Press.Sudirman, A. (Ed.). (2022).

    The art of digital marketing: Strategi pemasaran generasi milenial. Bandung: Media Sains Indonesia.

    SUMBER INTERNET:

    Lestari Ads. (2026).

    Pergeseran belanja iklan di 2026: Di mana posisi OOH di Indonesia?

    https://www.lestariads.com/blog/ooh/pergeseran-belanja-iklan-di-2026-di-mana-posisi-ooh-di-indonesia.html

    WongKito.co. (2026).Cek 5 tren besar e-commerce Indonesia 2026.

    https://wongkito.co/read/cek-5-tren-besar-e-commerce-indonesia-2026

    Energy World Indonesia. (2026, 1 Januari).Outlook 2026: Media digital gagal dan bagaimana media Indonesia harus bertahan.

    https://energyworld.co.id/2026/01/01/outlook-2026-media-digital-gagal-dan-bagaimana-media-indonesia-harus-bertahan/

    Infobank News. (2026).Penipuan online kian mengkhawatirkan, OJK ungkap guru besar jadi korban.

    https://infobanknews.com/penipuan-online-kian-mengkhawatirkan-ojk-ungkap-guru-besar-jadi-korban/

    Kompas Money. (2026, 22 Januari).IASC kembalikan Rp161 miliar dana 1.070 korban penipuan digital.

    https://money.kompas.com/read/2026/01/22/061100326/iasc-kembalikan-rp-161-miliar-dana-1.070-korban-penipuan-digital

     

    * Jeremy Julius _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Analisis Reflektif Saat Daya Beli Masyarakat Menurun Pasca Kebakaran Ruko

    DUTA, Pontianak – Kebakaran ruko merupakan bencana yang tidak hanya menghancurkan fisik bangunan, tetapi juga meruntuhkan kehidupan ekonomi Masyarakat di sekitarnya. Ruko (rumah took) di Indonesia sering menjadi tempat usaha kuliner, perdagangan kecil, layanan jasa, atau UMKM lainnya yang menjadi tumpuan hidup keluarga. Ketika sebuah ruko terbakar, kerugian finansial tidak hanya dialami pemilik, tetapi juga konsumen yang bergantung pada layanan dan barang yang disediakan.

    Dampak yang timbul bukan hanya menurunkan daya beli lokal, tetapi juga mengubah perilaku konsumen dan strategi pemasaran pelaku usaha. Artikel opini ini mengeksplorasi bagaimana strategi pemasaran harus direfleksikan dan diadaptasi Ketika daya beli Masyarakat menurun pasca kebakaran ruko, terutama dalam konteks Indonesia tahun 2026.

    Kebakaran ruko secara langsung mengguncang rantai ekonomi mikro.
    Menurut laporan terbaru diindonesia, jumlah kebakaran bangunan komersial meningkat beberapa persen dalam beberapa tahun terakhir karena kelalaian Listrik dan kurangnya sistem proteksi kebakaran yang memadai.

    Sementara statistik resmi terbaru 2026 masih dalam pengolahan, data media lokal melaporkan bahwa puluhan ruko di beberapa kota besar seperti Jakarta, bandung, dan Surabaya mengalami kebakaran sepanjang awal tahun 2026, menyebabkan ribuan pelaku UMKM kehilangan sumber penghasilan utama mereka ( Kompas,2026).

    Dampaknya terhadap daya beli Masyarakat lokal signifikan. Sebagai contoh, konsumen setempat yang biasa berbelanja harian di ruko yang terbakar harus memutar anggaran untuk mencari alternatif lain yang mungkin lebih mahal atau kurang nyaman.

    Begitu pula pada karyawan ruko tersebut, yang menghadapi pengurangan pendapatan atau PHK, secara otomatis mrngurangi pengeluaran konsumsi mereka. Teori ekonomi dasar menjelaskan bahwa Ketika pendapatan turun, permintaan barang dan jasa non-esensial cenderung turun secara proporsional, yang berarti pemasaran di waktu seperti ini harus lebih sensitif terhadap prioritas konsumen ( sukirno, 2023 ). 

    Reorientasi strategi pemasaran : sensitif terhadap keadaan konsumen dalam kondisi penurunan daya beli akibat kebakaran ruko, strategi pemasaran tidak lagi bisa sekadar mempromosikan produk atau layanan. Sebaliknya, pendekatan yang bersifat empatik dan solutif jauh lebih relevan.

    1.pendekatan komunitas & solidaritas social
    Pelaku usaha di lingkungan terdampak kebakaran perlu membangun strategi pemasaran berbasis komunitas, yang mengutamakan solidaritas. Misalnya, kolaborasi antar pengusaha untuk mengadakan pasar darurat, flash sale donasi, atau program pemulihan ekonomi lokal. Strategi ini tidak hanya meningkatkan visibilitas ditengah krisis, tetapi juga memperkuat hubungan emosional antara merek dan konsumen.

    Komunitas lokal yang kuat dapat menjadi fondasi pemasaran berkelanjutan karena mereka berbagi cinta pengalaman Bersama yang membentuk loyalitas – bukan melalui doskon semata, tetapi melalui nilai-nilai solidaritas dan gotong royong ( Kotler & keller, 2024 ).

    1. penekanan pada nilai dan bukan harga
      Dalam masa penurunan daya beli, konsumen lebih memperhatikan nilai yang mereka dapatkan daripada sekadar harga murah. Ini berarti strategi pemasaran perlu menonjolkan manfaat fungsional dan emosional dari produk. Misalnya, merchant yang ruko-nya terbakar dan kemudian beralih ke model layanan online atau kolaborasi pop-up store dapat menekankan bahwa membeli dari mereka berarti menbantu pemulihan usaha lokal, bukan hanya mendapatkan barang. Perubahan perilaku konsumen pasca krisis.

    Pasca kebakaran, konsumen cenderung mengutamakan kebutuhan dasar dan mengurangi pengeluaran pada barang non- esensial. Data pemasaran digital terbaru 2026 menunjukkan peningkatan pencarian konsumen untuk produk lokal yang terjangakau dan dukungan terhadap usaha kecil pasca bencana.

    Misalnya, indeks pencarian Google trends di Indonesia menunjukkan lonjakan tertinggi pada istilah seperti “ dukungan UMKM kebakaran” , “ donasi usaha lokal” , dan “ promo kuliner pasca bencana” sejak awal tahun ini ( Google Trends, 2026 ).

    Perubahan ini menuntut pemasar untuk menyesuaikan pesan mereka menjadi lebih empatik, informatif, dan berfokus pada kebutuhan nyata masyarakat. Teknik pemasaran yang terlalu agresif atau tidak sesuai konteks bisa berakhir sebagai gangguan, atau lebih buruk lagi, dianggap tidak peka sosial.

    Teknologi Digital sebagai Alat Adaptasi
    Pemasaran digital menawarkan alat penting untuk adaptasi di masa krisis. Media sosial, situs belanja lokal, dan platform pesan instan dapat membantu usaha yang terdampak kebakaran tetap terhubung dengan konsumen tanpa harus bergantung pada lokasi fisik.

    Instagram dan Facebook misalnya, sering digunakan oleh pelaku UMKM untuk mengumumkan pembukaan sementara di lokasi baru, penawaran khusus bagi konsumen setia, atau kampanye crowdfunding untuk pemulihan.

    Namun, penting diingat bahwa pemasaran digital harus dilakukan dengan etika — tanpa mengeksploitasi tragedi. Ini berarti memprioritaskan transparansi, kejujuran, dan integritas dalam setiap komunikasi pemasaran (Solomon, 2025). Misalnya, bukti visual kerusakan ruko sebaiknya disertakan hanya bila relevan dan sopan, serta diiringi pesan solusi atau kontribusi nyata.

    Etika & Tanggung Jawab Pemasar dalam Krisis
    Krisis seperti kebakaran ruko bukan hanya soal strategi pemasaran, tetapi juga tanggung jawab moral pemasar. Pelaku usaha yang memanfaatkan situasi tanpa sensitivitas bisa kehilangan kepercayaan publik. Oleh karena itu, etika pemasaran.

    pasca bencana harus mencakup:
    Tidak memperbesar tragedi demi promosi, Mengutamakan pesan dukungan dan solusi, Berkolaborasi dengan masyarakat terdampak, Menyampaikan informasi yang jujur dan dapat diverifikasi, Strategi berorientasi nilai seperti ini, selain membantu pemulihan usaha, juga berkontribusi pada reputasi jangka panjang merek di mata konsumen.

    KESIMPULAN
    Kebakaran ruko adalah tragedi yang mengguncang perekonomian mikro dan menurunkan daya beli masyarakat di daerah terdampak. Dalam situasi seperti ini, strategi pemasaran harus bertransisi dari sekadar menarik pembeli menjadi alat pemulihan sosial-ekonomi yang sensitif dan bertanggung jawab.

    Pemasar harus memahami bahwa pesan pemasaran yang empatik, kolaboratif dengan komunitas, dan berbasis nilai bukan hanya relevan, tetapi juga diperlukan untuk membangun kembali kepercayaan dan stabilitas konsumsi di tengah krisis.

    Dengan mengutamakan nilai dan kebutuhan konsumen pasca kebakaran ruko — serta tetap berlandaskan etika dan tanggung jawab sosial — pemasar dapat membantu mempercepat proses pemulihan sambil tetap mempertahankan relevansi dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

    SUMBER REFERENSI:
    Sukirno, Sadono. Mikroekonomi Teori Pengantar. 11th ed., Jakarta: Rajawali Pers, 2023.

    Kotler, Philip, & Kevin Lane Keller. Marketing Management. 16th ed., Pearson, 2024.

    Solomon, Michael R. Consumer Behavior: Buying, Having, and Being. 14th ed., Pearson, 2025.

    Sumber Online / Data 2026:
    Peningkatan Kebakaran Ruko di Indonesia – Tiga Ruko di Pontianak Selatan Hangus Terbakar – SUARAKALBAR.CO.ID https://share.google/W26qkFhOuBdmTquk0

    Pencarian Konsumen & Pemasaran Lokal di Google Trends. Google Trends, 2026. 

    * Kornelia Rani _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Strategi Pemasaran di Tengah Penurunan Daya Beli Masyarakat

    DUTA, Pontianak – Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian global menjadi faktor utama yang menekan kemampuan konsumsi rumah tangga.

    Kondisi ini menyebabkan perubahan perilaku konsumen, di mana masyarakat menjadi lebih selektif, rasional, dan berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya. Akibatnya, banyak perusahaan mengalami penurunan volume penjualan dan kesulitan mempertahankan pertumbuhan bisnis.

    Dalam situasi seperti ini, strategi pemasaran memegang peranan yang sangat penting. Perusahaan tidak dapat lagi mengandalkan pendekatan pemasaran konvensional yang berfokus semata-mata pada peningkatan volume penjualan.

    Sebaliknya, dibutuhkan strategi pemasaran yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada nilai guna agar perusahaan mampu bertahan dan bahkan berkembang di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

    Strategi Pemasaran sebagai Kunci Keberlangsungan Usaha
    Menurut konsep dalam buku referensi strategi pemasaran, strategi pemasaran merupakan pendekatan terencana yang mengintegrasikan berbagai metode dan alat pemasaran untuk menciptakan nilai, menarik perhatian pelanggan, serta mencapai tujuan bisnis.

    Strategi pemasaran bukan hanya tentang promosi produk, melainkan mencakup analisis situasi pasar, penentuan target konsumen, perumusan bauran pemasaran, hingga evaluasi hasil pemasaran.

    Di tengah penurunan daya beli, peran strategi pemasaran menjadi semakin krusial. Perusahaan harus mampu memahami perubahan perilaku konsumen yang kini lebih sensitif terhadap harga, lebih mengutamakan manfaat produk, serta cenderung mengurangi pembelian impulsif. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk merancang strategi pemasaran yang tidak hanya menarik secara promosi, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang nyata bagi konsumen.

    Perubahan Perilaku Konsumen di Masa Penurunan Daya Beli

    Penurunan daya beli menyebabkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat. Konsumen menjadi lebih fokus pada kebutuhan dasar dan mengurangi pengeluaran untuk barang sekunder maupun tersier. Produk yang sebelumnya dianggap penting kini menjadi barang yang bisa ditunda pembeliannya. Selain itu, konsumen juga semakin membandingkan harga, kualitas, dan manfaat sebelum memutuskan pembelian.

    Fenomena ini menuntut perusahaan untuk memahami kebutuhan utama konsumen dan menyesuaikan strategi produknya. Produk yang menawarkan manfaat nyata, harga terjangkau, serta kualitas yang memadai cenderung lebih diminati. Dengan demikian, strategi pemasaran harus diarahkan pada penciptaan nilai yang relevan dengan kondisi ekonomi konsumen.

    Strategi Penyesuaian Produk dan Harga
    Salah satu langkah strategis yang dapat diterapkan perusahaan adalah penyesuaian produk dan harga. Dalam kondisi daya beli menurun, perusahaan dapat menawarkan produk dengan ukuran lebih kecil, varian ekonomis, atau paket bundling yang lebih terjangkau. Strategi ini memungkinkan konsumen tetap dapat membeli produk meskipun dengan anggaran terbatas

     Penetapan harga juga perlu disesuaikan dengan kemampuan pasar. Strategi penetapan harga yang fleksibel, seperti diskon berkala, promo paket hemat, dan potongan harga loyalitas, dapat mendorong konsumen untuk tetap melakukan pembelian. Namun, perusahaan harus tetap menjaga keseimbangan antara harga dan kualitas agar kepercayaan konsumen tidak menurun.

    Optimalisasi Promosi yang Efektif dan Efisien
    Promosi menjadi elemen penting dalam strategi pemasaran di tengah penurunan daya beli. Namun, promosi yang dilakukan harus tepat sasaran dan efisien. Pemanfaatan media digital seperti media sosial, marketplace, dan platform e-commerce memungkinkan perusahaan menjangkau konsumen secara luas dengan biaya yang relatif rendah.

    Konten promosi juga perlu disesuaikan dengan kondisi konsumen. Pesan pemasaran sebaiknya menekankan manfaat produk, nilai ekonomis, serta solusi yang ditawarkan bagi kebutuhan sehari-hari. Promosi berbasis edukasi, testimoni pelanggan, dan pendekatan emosional yang relevan dapat meningkatkan kepercayaan serta minat beli konsumen.

    Peningkatan Layanan dan Hubungan Pelanggan
    Selain aspek produk dan promosi, kualitas layanan menjadi faktor penting dalam mempertahankan loyalitas pelanggan. Di tengah keterbatasan daya beli, konsumen cenderung memilih merek yang memberikan pelayanan terbaik, kemudahan transaksi, serta pengalaman berbelanja yang memuaskan.

    Perusahaan perlu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan melalui komunikasi yang intensif, pelayanan responsif, dan program loyalitas. Hubungan yang baik dengan pelanggan dapat menciptakan kepercayaan dan meningkatkan kemungkinan pembelian ulang, meskipun kondisi ekonomi sedang kurang stabil.

    Inovasi sebagai Strategi Bertahan
    Inovasi merupakan kunci utama dalam menghadapi penurunan daya beli. Perusahaan harus mampu menciptakan produk baru, sistem distribusi yang lebih efisien, serta metode promosi yang kreatif. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru, tetapi juga dapat berupa perbaikan kemasan, peningkatan fitur, atau penyederhanaan proses produksi untuk menekan biaya.

    Perusahaan perlu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan melalui komunikasi yang intensif, pelayanan responsif, dan program loyalitas. Hubungan yang baik dengan pelanggan dapat menciptakan kepercayaan dan meningkatkan kemungkinan pembelian ulang, meskipun kondisi ekonomi sedang kurang stabil.

    Inovasi sebagai Strategi Bertahan
    Inovasi merupakan kunci utama dalam menghadapi penurunan daya beli. Perusahaan harus mampu menciptakan produk baru, sistem distribusi yang lebih efisien, serta metode promosi yang kreatif. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru, tetapi juga dapat berupa perbaikan kemasan, peningkatan fitur, atau penyederhanaan proses produksi untuk menekan biaya.

    Melalui inovasi, perusahaan dapat menawarkan solusi yang relevan dengan kebutuhan konsumen, sehingga tetap memiliki daya saing di pasar. Inovasi yang tepat dapat menjadi keunggulan kompetitif yang memungkinkan perusahaan bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi.

    Peran Strategi Pemasaran dalam Menjaga Stabilitas Usaha
    Strategi pemasaran yang tepat tidak hanya berperan dalam meningkatkan penjualan, tetapi juga menjaga stabilitas keuangan perusahaan. Dengan memahami kondisi pasar dan perilaku konsumen, perusahaan dapat mengatur produksi, distribusi, dan promosi secara lebih efisien. Hal ini membantu mengurangi risiko kerugian serta menjaga arus kas tetap stabil.

    Kesimpulan
    Penurunan daya beli masyarakat merupakan tantangan besar bagi dunia usaha, namun juga menjadi peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih adaptif dan inovatif.

    Dengan memahami perubahan perilaku konsumen, menyesuaikan produk dan harga, mengoptimalkan promosi, meningkatkan kualitas layanan, serta menerapkan inovasi berkelanjutan, perusahaan dapat tetap bertahan dan bahkan berkembang di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

    Strategi pemasaran bukan sekadar alat untuk meningkatkan penjualan, melainkan sarana untuk menciptakan nilai, membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan, serta menjaga keberlangsungan usaha. Oleh karena itu, perusahaan yang mampu merancang dan mengimplementasikan strategi pemasaran secara efektif akan memiliki keunggulan kompetitif yang kuat, meskipun berada dalam situasi penurunan daya beli masyarakat.

    DAFTAR REFERENSI:

    Sudirwo, Apriyanto, & Ohyver. (2025). Buku Referensi Strategi Pemasaran. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia. ISBN 978-623-514-424-5 (PDF). file:///C:/Users/ADVAN/Downloads/mergeSudirwo-2025-Buku%20Strategi%20Pemasaran%20(1)%20(1)%20(1).pdf

    * Wihemina Niwin _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    TERBARU

    TERPOPULER