Wednesday, May 20, 2026
More
    Home Blog

    Terbuka untuk Semua – Catholic Youth Revival (Volume 2.0) Menghadirkan “Set the Fire” di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak

    Catholic Youth Revival (Volume 2.0) - "Set the Fire"

    MAJALAHDUTA.COM, PONTIANAK– 22 September 2023 – Bertempat di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak dengan gembira mengundang semua orang untuk bergabung dalam perayaan spiritual yang luar biasa!

    Tanggal 27 September 2023, mulai pukul 19.00 WIB, kita akan mengalami momen rohani yang mendalam dalam “Catholic Youth Revival (Volume 2.0)” dengan tema utama: “Set the Fire”.

    Praise & Worship, Drama, Kesaksian, dan Pelayanan Doa akan menjadi bagian penting dari malam yang penuh berkat ini.

    Acara ini akan diramaikan oleh Metusalah Worship, yang akan membawa pengalaman penyembahan yang tak terlupakan.

    Acara ini terbuka untuk umum, jadi ajaklah keluarga dan teman-teman Anda untuk bergabung dalam kebahagiaan ini.

    Ini adalah kesempatan yang sempurna untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan membagikan momen kebersamaan dengan komunitas Anda.

    Jadi, tandai tanggalnya di kalender Anda, dan mari kita bersatu dalam cinta dan penyembahan di Catholic Youth Revival (Volume 2.0) – “Set the Fire” di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak pada tanggal 27 September 2023.

    Jangan lewatkan pengalaman spiritual ini yang memukau! Yuk ikuti…

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Panitia

    Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Orang yang bekerja di dalam lembaga misi pendidikan milik Keuskupan Agung Pontianak harus serius dan mampu melihat kemungkinan perkembangan zaman. Hal ini diungkapkan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus dalam sambutannya di Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021.

    Acara pelantikan direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dilaksanakan di Gedung Akper dan Akbid yang dihadiri langsung oleh segenap pengurus Yayasan dan Imam yang bertugas dalam misi Pendidikan itu.

    Acara tersebut dimulai tepat pada Pukul 10.00 WIB yang didahuli dengan menyayikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, doa pembukaan yang dibawa oleh RP Mingdry Hanafi Tjipto, OP dan langsung dilanjutkan pembukaan sidang senat terbuka.

    Acara tersebut dilakukan dengan pembacaan surat keputusan dan dilanjutkan dengan pelantikan direksi Akper Dharma Insan dan Direksi Akbid Santa Benedicta untuk masa bakti 2021-2022. Adapun yang dilantik yakni Ns Florensius Andri, M.Kep sebagai direktur Akper Dharma Insan, Ns Lydia Moji Lautan, M.Kep sebagai W.K I, Ns Eben Haezer Kristian, M.Kep sebagai W.K II dan Ns Usu Sius, S.Kep, M. Biomed sebagai W.K III.

    Baca Juga: Para Imam di Mozambik mengecam penculikan “ratusan” anak-anak oleh para Jihadis

    Sedangkan untuk kepengurusan Akbid yaitu, Trivina, SST., M.Kes sebagai Direktur Akbid St. Benedicta, Agnes Dwiana Widi Astuti, S.Si.T.,M.Kes sebagai W.K I, Tri Maharani, SST., M.K.M sebagai W.K II dan Efrosina Ludovika Kalista, SST., M.K.M sebagai W.K III.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus mengucapkan selamat kepada pengurus Direksi baru untuk Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dan sekaligus berterima kasih kepada pengurus yang lama karena paling tidak sudah pernah mengambil andil dalam kepengurusan dan perkembangan pendidikan selama ini.

    Dalam sambutannya, Mgr. Agustinus Agus mendukung penuh langkah-langkah yang diambil oleh ketua Yayasan.

    “Jangan menoleh ke belakang, kedepan kita harus berani berubah, berani mengambil langkah-langkah yang tidak biasa. Karena yang kita hadapi ini sudah tidak biasa lagi. Maka jika kita mengambil langkah yang biasa lagi maka kita akan ketinggalan,” kata Uskup Agus.

    Baca Juga: Paus Fransiskus ungkapkan bahwa orang miskin memungkinkan manusia untuk menemukan wajah sejati Bapa

    Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa hati nya sungguh ada untuk Akper dan Akbid selaras dengan mimpinya bahwa anak kampung pun bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

    “Saya tidak mau kembali pada politik masa lalu,” lanjut Uskup, “dan tolong mari kita bangkit bersama. Berani berubah dan berani mengambil langkah-langkah yang luar biasa. Agar eksistensi Akper dan Akbid sungguh-sungguh dirasakan semua orang.”

    Iman Katolik Harus Menjadi Inspirasi

    Sebagai pemilik Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa seluruh karya gereja dimanapun ia berada, harus mengedepankan kepentingan orang banyak Akper dan Akbid ini jelas milik Katolik dengan nuansa Katolik.

    “Dan iman katolik harus menjadi inspirasi dan kita harus melaksanakannya terutama pelayanan untuk kepentingan orang banyak tetap menjadi fokus utama dan harus kita kedepankan,” lanjut Uskup. “Bukan hanya untuk kepentingan umat katolik saja, apalagi untuk karyawan-karyawan saja tetapi untuk banyak umat dan banyak orang, mohon maaf.”

    Baca juga: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pintianak Periode 2021-2022

    Dalam sambutannya Uskup Agung Pontianak mengutip Gaudium et Spes nomor 1 dalam salah satu ensiklik yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan ke II tahun 1965 dikatakan “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Yesus.”

    Mgr. Agus menegaskan tidak pernah gereja Katolik hanya memperhatikan kelompoknya. “Ini harap diketahui,” tambah Uskup, Yang paling penting cara orang katolik berkarya harus didorong dari inspirasi iman katolik itu.

    Baca Juga: Tahta Suci: Tempat-tempat warisan budaya religius harus dilindungi dan dipromosikan

    Dalam sambutan itu, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus juga mengungkapkan pentingnya belajar teknologi yang ada dewasa ini. “Memang sekarang zamannya kecepatan dan perkembangan Teknologi, maka dari itu pentingnya kita menghayati itu semua dan mempraktekkanya untuk kepentingan banyak orang dan pelayanan.”

    Inovasi adalah kata kunci

    Kesempatan yang sama itu pula, RP Johanes Robini Marianto, OP sebagai ketua Yayasan mengisahkan kisah tentang brand HP Nokia yang melegenda namun sangat kelam perjalanan bisnis Nokia tersebut.

    RP Robini mengisahkan “siapa dari kita yang tidak kenal brand HP Nokia? Merk ini melegenda di akhir 1990-an dan tahun 2000-an,” katanya. “Kita semua pasti pernah memegang HP Nokia. Tetapi sekarang: “Siapakah yang memakai HP merk Nokia?” Nokia bahkan dikabarkan bangkrut dan diakuisisi oleh Microsoft di tahun 2013. Dikatakan factor utama dari awal kehancuran Nokia adalah mulai adanya Apple di tahun 2007 dengan Iphone.”

    Ia juga mengutip Kompas.com yang mengatakan ada tiga (3) kesalahan Nokia; yaitu (1) kualitas teknologi, (2) arogansi manajemen yang tidak mau mendengar dan melihat perubahan, dan (3) lemahnya visi misi (Kompas.com 30 Maret 2021). Ketiga kesalahan ini membuat Nokia tidak bisa inovasi. Inovasi adalah kata kunci untuk perkembangan (kemajuan), mendengarkan pasar, dan kreativitas untuk selalu memunculkan hal baru yang menantang dan canggih. Kegagalan ini membuat Nokia tidak lagi menjadi “leading” (bahkan jatuh terperosok) di teknologi HP dunia,

    Tiga puluh (30) tahun yang lalu semua pasti mengenal SPK yang kemudian berevolusi menjadi AKPER dan AKBID. Saat itu kita ini “leading industry” (kalau boleh dikatakan demikian) di dunia Pendidikan keperawatan dan kebidanan. Mungkin saat itu kita satu-satunya yang ada dan masyarakat Kalbar tidak ada pilihan.

    Baca Juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    “Sepuluhan (10-an) tahun yang lalu mulai muncul AKPER/AKBID lainnya di kota Pontianak atau Kalbar,” lanjut Pastor Robini, “Mereka bahkan sudah mendahului kita di program studi yang bukan hanya D3, melainkan S1. tu sudah satu inovasi! Kita belum bicara, dan saya belum tahu juga, bagaimana dosen mereka (tentu ada hubungan dengan rekruitmen) dan juga visi-misi mereka serta jaringan yang mereka miliki. Sekarang kita berteriak kurang mahasiswa/mahasiswi dst dst. Indikator utama memang angka mahasiswa. Belum lagi isu-isu yang berkembang tentang kita. Saya katakana “isu” karena bisa benar/bisa tidak.”

    “Kita memang masih punya nama. Yes! Bupati Carolin mengatakan di depan umum dan kepada saya pribadi. Namun banyak yang mengingatnya sebagai kejayaan tempo doeloe,” tambah Pastor Robini.

    Business is NOT as usual

    Dalam sambutan itu, RP Johanes Robini Marianto, OP mengungkapkan bahwa masalah manajemen menjadi besar kalau saya katakan, secara alam bawah sadar, kita jatuh pada “arogansi manajemen” yang turut menghancurkan Nokia; yaitu tidak mau mendengar pasar, tidak mau berubah dan adaptasi serta inovasi, dan hanya mengandalkan kejayaan masa lalu. “Kita kalau tidak sadar dan terbuka mengakui masalah kita (bukan hanya menyangkal atau denial), saya khawatir kita akan menjadi Nokia baru!” tambahnya.

    “Ketika kita melantik direksi-direksi baru, sebagai Ketua Yayasan, saya mengingatkan beberapa hal,” kata Pastor Robini.

    Business is NOT as usual! Hal ini diperparah dengan pandemi Covid-19. Tidak ada yang paten lagi. Dahulu kita tidak kenal Zoom. Sekarang semua tahu dan terpaksa harus tahu Zoom. Prediksi ke depan, paling tidak lima (5) tahun ke depan, masalah Covis-19 masih akan menghantui kita. Dan bukan hanya itu saja, pola yang tercipta dengan pemakaian tehnologi di dunia Pendidikan sudah mulai memasuki generasi 4.0. Disrupsi, kata orang.

    “Maka kalau kita masih berpikir, sadar atau di bawah sadar, dunia masih kayak 3 tahun yang lalu, kita sudah sangat sangat salah,” katanya.

    Untuk itu inovasi dibutuhkan. Inovasi di dalam kurikulum, metode pengajaran dengan mengikutsertakan tehnologi, kebutuhan akan daya saing dengan para “competitor,” dan strategi marketing yang up to date. Kalau tidak ada, maka kita akan menjadi Nokia.

    Baca Juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    Pandemi, sekali lagi, adalah “winter is coming!” Maka akan terjadi kompetisi hebat untuk bisa hidup; dan kompetisi kali ini bukan lagi dengan competitor melainkan dengan kenyataan pandemi dan pasca pandemi. Untuk menjadi inovatif, maka lepaskanlah arogansi masa lalu karena kenyataannya kita sudah jatuh banyak. Pengurus baru harus berani inovasi dan itu dibutuhkan bukan hanya keberanian melainkan kreativitas dan tidak bisa mengandalkan masa lalu.

    Pastor Robini mengingatkan pengurus agar perlu meredefinisikan masa depan institusi ini yang akan dituju. Untuk itu direvisi Statuta yang menekankan visi dan misi baru. Pendidikan kalau sekarang hanya mencari pemasukkan atau kasarnya uang; akan gagal. Institusi Pendidikan harus memberikan value (nilai).

    Nilai (value) ini akan menjadi uang! Value yang benar terletak pada efeknya dirasakan para mahasiswa-mahasiswi, masyarakat pengguna dan tentunya pemerintah daerah. Untuk meningkatkan value mereka harus mulai dengan Jaringan (supply chains) dan tentunya merupakan kerja berat tiga periode jabatan para direksi ini.

    Pengurus yang baru harus bisa membuat jaringan (supply chains), inovasi dan kerja keras. Ini tentu bukan hanya para direksi; melainkan semua. Sebenarnya, jujur, tugas Direktur adalah jalan-jalan membuka koneksi (connectedness). Kalau direktur selalu di kantor urus administrasi saja; maka anda semua bukan pemimpin.

    Baca Juga: Prajurit Yonzipur 6/SD Ikuti Uji Kenaikan Sabuk Hijau ke Putih

    Pengurus hanyalah “penjaga kendang/gawang.” Para Direktur haruslah menjadi leader yang bisa membuat koneksi dengan semua stakeholders untuk menaikkan nilai (value) kedua Lembaga ini dan menjadikan kedua Lembaga ini mempunyai reputasi. Koneksi yang pengurus bangun harus berbentuk program dan proyek yang, bisa mengembangkan kedua Lembaga ini. Pengurus dibantu para wakil direktur dan yayasan tambah lagi Sekjend. Itu artinya administrasi sudah ada yang urus. Tugas para direktur adalah bertemu dengan masyarakat, pemda dan users (pengguna lulusan).

    Maka Pastor Robini harap ini sungguh dipikirkan dan direnungkan.

    Pastor Robini mengharapkan dengan pelantikkan kali ini merupakan awal kebangkitan dari kedua Lembaga yang telah susah payah dirintis para Misionaris dalam Misi Gereja di Borneo.

    Baca Juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Sebagai Dewan Pembina Yayasan Landak Bersatu dan Anggota DPR RI, Dr. Adrianus Asia Sidot mendukung penuh misi pendidikan yang dimulai oleh Keuskupan Agung Pontianak.

    Ini adalah tonggak baru perkembangan pendidikan di Akademi Perawat Dharma Insan dan Akademi Kebidanan St. Benedicta.

    Ia berdoa dengan adanya tonggak baru dan sejarah baru ini, apa yang menjadi harapan oleh Uskup Agung Pontianak dan ketua yayasan harus betul diwujudkan, apalagi sekarang di era 4.0, atau barangkali di negara lain sudah 5.0.

    Kita sendiri masih berkutat pada 4.0 yang dimana kita sendiri juga masih belajar untuk menguasai perkembangan tersebut. Untuk itu harapan saya direksi yang baru ini harus responsive dan peka dengan perkembangan dunia yang terjadi, “ karena perubahan tidak bisa kita hindari.”-)*

    Dominasi AI, Paus Leo XIV Ingatkan Bahaya Kehilangan Kemanusiaan

    Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60

    MajalahDUTA.Com | Pesan Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga tentang krisis kemanusiaan yang perlahan tumbuh di era digital.

    Dalam refleksinya yang berjudul “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”, Paus mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat membuat manusia kehilangan kemampuan paling mendasar: berpikir, merasakan, dan berelasi secara autentik.

    Alih-alih memusatkan perhatian pada kecanggihan teknologi, Paus Leo XIV justru menyoroti dampak sosial dan spiritual dari budaya digital yang semakin menguasai kehidupan manusia.

    Menurutnya, manusia modern mulai hidup dalam dunia simulasi, ketika relasi nyata perlahan digantikan oleh interaksi artifisial.

    “Relasi dengan sesama manusia digantikan oleh relasi dengan kecerdasan buatan,” tulis Paus dalam pesannya yang diterbitkan di Vatikan, 24 Januari 2026.

    Bapa Paus menilai, situasi tersebut berbahaya karena manusia dapat kehilangan pengalaman dasar untuk bertemu dengan orang lain yang berbeda pandangan, berbeda karakter, dan berbeda pengalaman hidup.

    Padahal, perjumpaan dengan perbedaan adalah fondasi lahirnya dialog dan persahabatan sejati.

    Menurut Paus Leo XIV, teknologi digital saat ini tidak lagi sekadar alat bantu komunikasi, tetapi sudah masuk ke wilayah emosional manusia.

    Kehadiran chatbot, influencer virtual, dan sistem AI yang dirancang menyerupai manusia dinilai mampu menciptakan ilusi relasi yang semu.

    “Chatbot yang dibuat terlalu ‘penuh perhatian’ dapat menjadi pengatur tersembunyi emosi kita,” tegasnya.

    Dalam sudut pandang Paus, ancaman terbesar AI bukanlah robot yang menggantikan manusia secara fisik, melainkan ketika manusia secara sukarela menyerahkan daya pikir, kreativitas, bahkan kesadaran moralnya kepada mesin.

    Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60

    Ia mengkritik budaya digital yang membuat manusia semakin pasif menerima informasi tanpa proses refleksi mendalam. Algoritma media sosial, kata Paus, mendorong emosi sesaat dan kemarahan instan demi keterlibatan pengguna, sementara kemampuan berpikir kritis semakin melemah.

    “Algoritma ini melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis,” tulisnya.

    Paus Leo XIV juga memberi perhatian besar pada nasib dunia kreatif manusia. Ia mengingatkan bahwa karya seni, musik, sastra, dan tulisan manusia kini berisiko direduksi hanya sebagai “bahan pelatihan” bagi mesin kecerdasan buatan.

    Baginya, kreativitas bukan sekadar produksi konten, melainkan bagian dari perjalanan manusia untuk bertumbuh dalam relasi dengan Allah dan sesama. Karena itu, ketika manusia menyerahkan seluruh proses kreatif kepada mesin, manusia sebenarnya sedang “menyembunyikan wajahnya sendiri dan membungkam suaranya.”

    Di tengah kekhawatiran itu, Paus tidak mengajak manusia untuk menolak teknologi. Sebaliknya, ia mendorong penggunaan AI secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab. Ia menilai teknologi tetap dapat menjadi sekutu manusia bila dikendalikan dengan etika dan orientasi pada kesejahteraan bersama.

    Karena itu, Paus menekankan pentingnya literasi digital dan pendidikan humaniora agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi oleh algoritma dan disinformasi. Ia juga meminta negara, perusahaan teknologi, media, dan masyarakat sipil bekerja sama menjaga martabat manusia di era digital.

    Bagi Paus Leo XIV, persoalan AI pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan tentang arah peradaban manusia. Apakah manusia tetap menjadi pribadi yang bebas, reflektif, dan penuh kasih, atau justru berubah menjadi konsumen pasif yang hidup dalam dunia buatan algoritma.

    “Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia,” pungkasnya.*Samuel | Sumber: Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. 

    Paus Leo XIV Serukan Perlindungan “Suara dan Wajah Manusia” di Era Kecerdasan Buatan

    Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60

    MajalahDUTA.Com | Leo XIV menyerukan pentingnya menjaga martabat manusia di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).

    Seruan itu disampaikan dalam Pesan untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 bertema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia” yang diterbitkan di Vatikan pada 24 Januari 2026, bertepatan dengan Peringatan Santo Fransiskus de Sales.

    Dalam pesannya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa wajah dan suara merupakan identitas khas manusia yang tidak dapat digantikan. Menurutnya, keduanya menjadi dasar relasi dan komunikasi antarmanusia.

    “Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia,” tulis Paus Leo XIV.

    Ia menjelaskan bahwa wajah dan suara manusia memiliki nilai suci karena merupakan anugerah Allah. Karena itu, menjaga keduanya berarti menjaga tanda kasih Allah yang melekat dalam diri manusia.

    “Menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga martabat dan jati diri kita,” tegasnya.

    Dalam refleksinya, Paus Leo XIV menyoroti dampak perkembangan kecerdasan buatan terhadap kehidupan manusia, terutama dalam bidang komunikasi. Ia mengingatkan bahwa teknologi digital dapat mengubah secara mendasar relasi sosial bila tidak digunakan secara bijaksana.

    BACA JUGA: PESAN PAUS LEO XIV UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-60

    Menurut Paus, algoritma media sosial saat ini cenderung mendorong emosi yang cepat dan dangkal, sekaligus melemahkan kemampuan berpikir kritis dan mendengarkan. Kondisi tersebut, katanya, memperbesar polarisasi dalam masyarakat.

    “Algoritma ini melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis, serta memperbesar polarisasi dalam masyarakat,” tulisnya.

    Ia juga mengkritik kecenderungan sebagian orang yang terlalu mempercayai kecerdasan buatan tanpa sikap kritis, seolah AI menjadi sumber seluruh pengetahuan dan jawaban hidup. Sikap demikian dinilai dapat mengikis kemampuan manusia untuk berpikir analitis, kreatif, dan memahami makna secara mendalam.

    Paus Leo XIV turut menyoroti penggunaan chatbot dan influencer virtual yang semakin menyerupai manusia. Menurutnya, teknologi yang mensimulasikan relasi manusia dapat menyesatkan, terutama bagi mereka yang rentan secara emosional.

    “Chatbot yang dibuat terlalu ‘penuh perhatian’, selalu hadir dan selalu tersedia, dapat menjadi pengatur tersembunyi emosi kita dan masuk ke wilayah keintiman pribadi,” ungkapnya.

    Selain itu, ia mengingatkan bahaya manipulasi informasi, bias algoritma, dan penyebaran disinformasi yang dapat membentuk pemahaman realitas secara keliru. Paus menilai situasi ini semakin diperparah oleh lemahnya verifikasi fakta dan krisis jurnalisme lapangan.

    “Ketika verifikasi sumber diabaikan, ruang bagi disinformasi semakin luas, dan rasa tidak percaya, kebingungan, serta ketidakamanan pun meningkat,” katanya.

    Meski demikian, Paus Leo XIV tidak menolak perkembangan teknologi. Ia menegaskan bahwa tantangan utama bukan menghentikan inovasi digital, melainkan mengarahkannya demi kesejahteraan bersama.

    Ia menekankan tiga pilar penting agar teknologi menjadi sekutu manusia, yakni tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan.

    Menurut Paus, perusahaan teknologi harus memastikan strategi bisnis mereka tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat. Para pengembang AI juga diminta lebih transparan dalam merancang dan mengawasi algoritma yang mereka buat.

    Di bidang pendidikan, Paus menyerukan pentingnya literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan sejak dini. Pendidikan tersebut diperlukan agar masyarakat mampu berpikir kritis, memeriksa sumber informasi, serta memahami cara kerja algoritma digital.

    “Revolusi digital menuntut literasi digital—bersama dengan pendidikan humaniora dan budaya—agar kita memahami bagaimana algoritma membentuk persepsi kita tentang realitas,” tulisnya.

    Secara khusus, Paus Leo XIV mengajak umat Katolik untuk membantu kaum muda bertumbuh dalam kebebasan batin dan kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus teknologi digital.

    Menutup pesannya, Paus berharap wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia yang sejati, sehingga teknologi tetap berada dalam pelayanan terhadap martabat manusia, bukan sebaliknya.

    “Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia,” tandasnya.*Samuel | Sumber: Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. 

    Uskup Samuel Oton Sidin Ajak Umat Sukseskan PKSN XIII 2026 di Keuskupan Agung Pontianak

    Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. (Sumber: KomsosKAP)

    MajalahDUTA.Com | Uskup Samuel Oton Sidin OFMCap mengajak seluruh umat Katolik untuk bersama-sama menyukseskan pelaksanaan PKSN XIII yang akan digelar pada 26–31 Mei 2026 di Keuskupan Agung Pontianak.

    Ajakan tersebut disampaikan Uskup Samuel Oton Sidin dalam wawancara singkat oleh tim Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak pada 17 Mei 2026.

    Dalam pesannya, Bapa Uskup mengimbau seluruh umat, mulai dari orang tua hingga anak-anak, agar menjadikan momentum PKSN sebagai kesempatan memperkuat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.

    “Ibu, Bapak, Saudara-saudari serta anak-anak yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Saya menghimbau agar kita semua mensukseskan pelaksanaan PKSN yang akan dilaksanakan di Keuskupan Agung Pontianak sebagai tuan rumah,” ujar Uskup Samuel.

    Uskup Samuel menegaskan bahwa pelaksanaan PKSN bukan sekadar agenda gerejawi, tetapi juga momentum untuk membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi dan penuh kesejahteraan.

    “Jangan diabaikan. Sungguh menjadi kesempatan bagi kita untuk menjaga suara dan wajah manusia sehingga kehidupan dalam kebersamaan pada masa-masa mendatang sungguh lebih membahagiakan dan mensejahterakan kita berkat Tuhan,” katanya.

    Menurut Bapa Uskup, seluruh umat diharapkan dapat berpartisipasi aktif dan mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sesuai dengan semangat pelayanan dan kehendak Tuhan.

    “Mari kita berupaya agar PKSN kita laksanakan dengan baik seturut kehendak-Nya. Tuhan memberkati,” tuturnya.

    Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60

    Selain pesan resmi tersebut, Uskup Samuel juga menyampaikan sapaan penuh semangat kepada kaum muda dan seluruh peserta yang akan hadir dalam kegiatan PKSN XIII di Pontianak.

    Uskup Samuel mengundang masyarakat dan umat untuk datang serta memeriahkan kegiatan yang akan mempertemukan peserta dari berbagai daerah itu.

    PKSN XIII dijadwalkan berlangsung pada 26–31 Mei 2026 dengan Keuskupan Agung Pontianak sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan tersebut.

    Menurut keterangan panitia momentum itu diharapkan dapat mempererat persaudaraan, pelayanan, dan semangat kebersamaan umat Katolik di Indonesia maupun di Keuskupan Agung Pontianak.*Samuel – Sumber: KomsosKAP. 

    Mahasiswa AKUB Harus Jadi Generasi Dayak Tangguh dan Berbudaya

    Dokumentasi Stanislaus Andes: Mahasiswa AKUB Harus Jadi Generasi Dayak yang Tangguh dan Berbudaya (2026)

    MajalahDUTA.Com | Wakil Ketua I Panitia Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026,Stanislaus Andes, S.E., M.Pd., mengajak mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) untuk tampil sebagai generasi muda Dayak yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecintaan kuat terhadap budaya dan identitas leluhur.

    Pesan itu disampaikannya bertepatan dengan rangkaian Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026 yang diawali dengan Misa Syukur pada Jumat (15/5/2026).

    Menurut Andes, perayaan PGD bukan sekadar agenda budaya tahunan atau pesta panen, tetapi momentum penting untuk memperkuat jati diri generasi muda Dayak di tengah tantangan zaman modern.

    “Ajang Bujang dan Dara bukan sekadar kompetisi untuk mencari siapa yang paling menonjol. Ini adalah panggung pembuktian diri sebagai generasi muda yang berakar kuat pada tradisi, namun tetap visioner menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.

    Secara khusus, Andes memberikan motivasi kepada mahasiswa AKUB yang mengikuti ajang Bujang dan Dara PGD XL 2026.

    Andes menilai keberanian para mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan budaya merupakan bentuk nyata bahwa intelektualitas harus berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap budaya lokal.

    Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya mengejar pencapaian akademik semata, tetapi juga perlu memiliki kepedulian terhadap warisan budaya dan identitas masyarakat Dayak.

    “Kepada anak-anakku mahasiswa AKUB, saya menaruh harapan besar. Di AKUB, kita dididik untuk memiliki ketelitian, integritas, dan kecerdasan dalam mengelola masa depan. Bawalah semangat itu ke panggung Pekan Gawai Dayak ini,” katanya.

    Ia berharap mahasiswa AKUB mampu menjadi pribadi yang tidak hanya baik dalam penampilan dan komunikasi, tetapi juga memiliki wawasan mendalam tentang budaya Dayak yang luhur.

    “Jadilah sosok yang tidak hanya cakap dalam penampilan dan komunikasi, tetapi juga sosok yang memiliki kedalaman wawasan mengenai khazanah budaya Dayak,” pesannya.

    Andes melihat bahwa PGD XL 2026 adalah momentum sejarah bagi generasi muda Dayak untuk memperluas jejaring, membangun rasa percaya diri, dan memperkenalkan nilai-nilai positif budaya Dayak kepada masyarakat luas, termasuk di tingkat nasional maupun internasional.

    Andes bersama Istri dan mahasiswa/i AKUB Pontianak, Radangk Pontianak (2026)

    Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting sebagai wajah baru masyarakat Dayak yang modern, profesional, dan terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya.

    Dalam refleksinya mengenai Misa Syukur PGD XL 2026, Andes juga menegaskan bahwa budaya Dayak dan nilai-nilai Gereja dapat berjalan harmonis. Ia melihat liturgi inkulturatif dalam misa menjadi simbol bahwa adat dan iman saling menghidupi.

    Pandangan itu sejalan dengan pesan Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, yang menyebut bahwa di dalam budaya lokal terdapat benih-benih sabda Tuhan.

    Menurut Andes, nilai-nilai Dayak seperti gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan semangat kebersamaan merupakan modal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan global.

    Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dan generasi muda dalam seluruh rangkaian PGD XL 2026, mulai dari pelayanan liturgi, publikasi, hingga kegiatan budaya lainnya.

    “Keikutsertaan kalian adalah bukti keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan menunjukkan bahwa intelektualitas seorang mahasiswa harus berjalan selaras dengan kecintaan terhadap identitas budaya kita,” tuturnya.

    Meski kompetisi Bujang dan Dara menghadirkan persaingan, Andes mengingatkan bahwa menang atau kalah bukan tujuan utama. Baginya, proses belajar, kedisiplinan, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus berkembang jauh lebih penting.

    “Menang atau kalah adalah bagian dari proses pendewasaan. Namun memberikan yang terbaik adalah sebuah keharusan,” tegasnya.

    Ia pun mengajak seluruh mahasiswa AKUB untuk terus melangkah maju dan menjaga nama baik kampus, keluarga, dan masyarakat Dayak melalui dedikasi dan prestasi yang dimiliki.

    “Teruslah melangkah, tunjukkan yang terbaik, dan buatlah orang tua, kampus, serta masyarakat bangga atas dedikasi kalian,” pungkas Andes.*Samuel – AKUB Pontianak. 

    Sharing Research Journey Mahasiswa Gen Z di San Agustin

    Arie ketika membersamai kelas PBI 24A (2026)

    MajalahDUTA.Com | Kalimat sederhana itu menjadi pembuka suasana dalam perkuliahan Research and Methodology in Education and Applied Linguistics semester 4 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo pada tanggal 18 dan 19 Mei 2026.

    Mata kuliah yang biasanya identik dengan jurnal tebal, revisi tanpa akhir, dan overthinking tentang skripsi, hari itu justru terasa lebih hidup, santai, dan surprisingly fun.

    Melalui sesi guest lecturing yang juga dari sesama mahasiswa ini, mereka tidak hanya belajar teori tentang research methodology, tetapi juga mendengar langsung realita perjalanan riset dari salah satu kakak tingkat mereka sendiri, Arie, mahasiswa semester 8 yang saat ini sedang menjalani jalur publikasi artikel ilmiah sebagai pengganti skripsi konvensional.

    Menariknya, kegiatan ini digagas oleh dosen pengampu mata kuliah, Anton, yang menyadari bahwa learning style mahasiswa Gen Z tentu berbeda dari generasi dosen milenial.

    Menurutnya, mahasiswa sering kali lebih mudah relate dengan pengalaman nyata yang dibagikan oleh sesama mahasiswa yang baru saja melewati proses tersebut. “Sometimes students need to hear the story from someone who has just survived the process,” ungkapnya.

    Melalui sesi sharing seperti ini, ia berharap mahasiswa tidak lagi memandang penelitian sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai proses belajar yang dapat dijalani bersama, bertahap, dan saling mendukung.

    Harapan besarnya sederhana namun bermakna: semakin banyak mahasiswa yang mampu menyelesaikan tugas akhir mereka dengan lebih lancar, lebih percaya diri, dan lulus tepat waktu pada semester 8.

    Dan ternyata, pilihan untuk menghadirkan Arie memang terasa tepat. Arie tidak hanya berbicara sebagai mahasiswa yang sedang menjalani proses penelitian, tetapi juga sebagai seseorang yang memahami cara berpikir generasi mereka sendiri.

    Hal itu terlihat dari topik riset yang sedang ia kerjakan tentang motivasi Gen Z menjadi guru bahasa Inggris di daerah dengan keterbatasan fasilitas pendidikan di Kalimantan Barat.

    Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa mahasiswa Gen Z tidak semata-mata digerakkan oleh motivasi eksternal seperti gaji atau pekerjaan tetap, tetapi juga oleh nilai, makna, keinginan untuk berkembang, dan keinginan untuk memberi dampak pada lingkungan sekitar.

    Karena itulah, selama sesi sharing berlangsung, Arie terlihat sangat antusias membagikan pengalaman, tips, dan realitas perjalanan riset yang menurutnya perlu didengar oleh sesama mahasiswa Gen Z dengan pendekatan yang lebih dekat dan realistis.

    Dan justru di situlah sisi paling menariknya. Mahasiswa merasa sedang mendengar cerita dari “versi masa depan” dari diri mereka sendiri.

    Arie bukan sekadar mahasiswa biasa. Ia merupakan mahasiswa yang memilih jalur publikasi artikel ilmiah sebagai pengganti skripsi konvensional.

    Pada semester genap 2025–2026 ini, ia menjadi mahasiswa pertama yang maju ke Seminar Proposal (Sempro). Bahkan belum genap satu bulan setelah perkuliahan semester berakhir, ia sudah berhasil mendaftarkan diri untuk ujian Sempro dan mengirimkan full paper ke salah satu jurnal pendidikan terakreditasi SINTA 3.

    Bagi mahasiswa semester 4 yang baru mulai mengenal dunia penelitian akademik, pencapaian itu terasa inspiratif sekaligus membuka perspektif baru. Ternyata riset tidak harus menunggu semester akhir atau merasa “pintar” dulu. Research can start from curiosity.

    Arie membuka presentasinya dengan judul yang sangat Gen Z banget: “How I Turn a Complex Research Journey into Something That I’m Passionate About. Sejak awal sesi, atmosfer kelas langsung cair.

    Tidak ada kesan menggurui atau terlalu akademik. Yang ada justru cerita-cerita yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa: bingung menentukan topik, takut memulai menulis, revisi berkali-kali, sampai kebiasaan procrastinating yang ternyata dialami hampir semua orang di kelas.

    Salah satu bagian yang paling membuat mahasiswa tertawa sekaligus mengangguk setuju adalah ketika Arie membahas bagaimana Gen Z “survive” dalam proses penulisan riset. Menurutnya, banyak mahasiswa mengalami burnout bukan karena tidak mampu, melainkan karena memasang target yang terlalu besar dalam waktu singkat.

    Karena itu, ia memilih membuat small achievable targets seperti menyelesaikan satu halaman, membaca dua jurnal, atau memperbaiki satu bagian revisi dalam sehari.

    And yes, he also talked about self-reward. Setelah target kecil tercapai, ia memberi dirinya waktu untuk rebahan, menonton film, bermain game, atau nongkrong sebentar agar tidak kehilangan motivasi di tengah proses panjang penelitian.

    Namun, satu kalimatnya langsung menjadi quote favorit kelas hari itu: “Procrastinating boleh… tapi waktunya harus terukur. Jangan sampai niat istirahat berubah menjadi kehilangan semangat.” Simple, relatable, and painfully true.

    Diskusi kemudian berkembang semakin menarik ketika mahasiswa mulai bertanya tentang hal-hal yang selama ini sering membuat mereka merasa anxious dalam dunia penelitian.

    Mulai dari cara mencari referensi yang bagus, menentukan topik yang tepat, menggunakan Mendeley, hingga strategi memilih jurnal tujuan publikasi.

    Salah satu pertanyaan paling menarik datang dari seorang mahasiswa bernama Muti yang bertanya apakah topik penelitian sebaiknya dipilih berdasarkan bidang keahlian atau berdasarkan research interest.

    Pertanyaan itu langsung membuat suasana kelas menjadi lebih serius. Arie menjawab dengan membagikan pengalaman pribadinya. Menurutnya, meneliti sesuatu yang benar-benar membuat seseorang bersemangat justru membuka ruang pertumbuhan yang lebih besar.

    Ketika seseorang genuinely interested dengan topiknya, proses membaca jurnal, berdiskusi dengan dosen pembimbing, hingga melakukan revisi berkali-kali terasa lebih meaningful. “Research is tiring, but it becomes different when you love what you are learning,” jelasnya.

    Ia juga mengakui bahwa rasa penasaran terhadap suatu topik membuatnya lebih ingin membaca, lebih aktif berkonsultasi dengan dosen pembimbing, dan lebih tahan menghadapi revisi.

    Yang juga menarik perhatian mahasiswa adalah ketika Arie secara terbuka membahas bagaimana ia memanfaatkan AI dalam perjalanan risetnya.

    Namun, ia menegaskan bahwa AI bukan alat untuk menggantikan proses berpikir, melainkan partner untuk membantu mempersiapkan diri sebelum berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

    Ia menggunakan AI untuk membantu memahami feedback revisi, merapikan ide, mengecek struktur tulisan, hingga menyiapkan pertanyaan sebelum bimbingan. And, surprisingly, many students looked relieved to hear that.

    Di tengah perkembangan teknologi saat ini, pendekatan seperti ini terasa jauh lebih realistis dibandingkan sekadar melarang penggunaan AI tanpa membangun literasi AI yang sehat.

    Di balik perjalanan akademiknya, Arie ternyata juga merupakan salah satu mahasiswa San Agustin yang pernah mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Kampus Merdeka yang digagas oleh Nadiem Makarim.

    Selama satu semester, ia belajar di Universitas Sanata Dharma dan merasakan atmosfer belajar yang berbeda, lebih menantang. Sebagai mahasiswa dari daerah, ia mengaku sempat merasa minder saat menghadapi kultur akademik di kampus yang besar.

    Namun, pengalaman itulah yang justru membentuk dirinya menjadi lebih disiplin, mandiri, dan terbiasa dengan budaya belajar kolaboratif. He learned that good academic culture is not about competing harshly, but about growing together.

    Menariknya, semua pengalaman belajar yang ia dapatkan di luar Kalimantan Barat tidak berhenti menjadi pengalaman pribadi semata. Ia membawanya kembali pulang ke San Agustin dan membagikannya kepada teman-teman serta adik tingkatnya, salah satunya melalui sesi sharing ini.

    Dan mungkin di situlah letak yang paling penting dari kegiatan tersebut. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang research methodology, tetapi juga melihat bahwa kesempatan untuk berkembang sebenarnya terbuka di kampus sendiri.

    San Agustin terus berupaya menghadirkan ruang belajar yang suportif, kolaboratif, dan memberi mahasiswa kesempatan untuk bertumbuh melalui riset, publikasi ilmiah, pertukaran mahasiswa, dan berbagai pengalaman akademik lainnya tanpa merasa tertinggal hanya karena mereka menempuh studi di kampus daerah.

    Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Ms. Upa, juga menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini.

    Menurutnya, pengalaman yang dibagikan Arie menjadi pembelajaran yang sangat berharga karena disampaikan dari sudut pandang yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.

    “The tips and tricks are very helpful for students, especially for those who are just starting their research journey,” ungkapnya. Beliau juga berharap kegiatan sharing seperti ini dapat terus dilakukan, tidak hanya pada mata kuliah penelitian, tetapi juga pada mata kuliah lain agar mahasiswa semakin termotivasi untuk belajar dari pengalaman nyata sesama mahasiswa.

    Pada akhirnya, sesi guest lecturing ini memperlihatkan satu hal sederhana: kuliah riset ternyata tidak selalu membosankan.

    Kadang, research journey hanya perlu dimulai dari satu rasa penasaran, satu keberanian untuk mencoba, dan satu lingkungan belajar yang membuat mahasiswa merasa didukung untuk berkembang. *Anton. 

    Bujang Dara Dayak Didorong Melek Finansial

    Bujang Dara Dayak Didorong Melek Finansial. (Agusandi) 2026.

    MajalahDUTA.Com | Literasi keuangan dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hal itu disampaikan dosen Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Pontianak, Agusandi, S.E., M.E., saat memberikan materi edukasi keuangan kepada para finalis Bujang Dara Pekan Gawai Dayak ke-40 Tahun 2026.

    Menurut Agusandi, peran finalis Bujang Dara tidak cukup hanya sebagai representasi budaya Dayak, tetapi juga harus mampu menjadi generasi muda yang memberi pengaruh positif di tengah masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial.

    Foto bersama Pak Didit Kepala Bank Kalbar Cabang Utama dan Pak Andes Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Pontianak (2026)

    Dalam paparannya, ia menyinggung data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalimantan Barat yang masih menunjukkan ketimpangan antarwilayah. IPM Kalbar tercatat berada pada angka 72,09, sementara beberapa daerah seperti Kayong Utara, Sekadau, dan Kapuas Hulu masih berada di bawah rata-rata provinsi. Di sisi lain, Kota Pontianak mencatat angka tertinggi dengan IPM 82,80.

    Agusandi menilai peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, dan pendapatan masyarakat menjadi faktor utama untuk memperkuat daya saing masyarakat Dayak di masa depan.

    Foto bersama dengan Finalis Bujang dan Dara Pekan Gawai Dayak ke 40 Tahun 2026

    Ia juga menyoroti keterbatasan anggaran pemerintah daerah yang membuat masyarakat perlu membangun kemandirian ekonomi. Menurutnya, generasi muda harus mulai kreatif dan produktif agar mampu menciptakan peluang usaha sendiri tanpa selalu bergantung pada bantuan pemerintah.

    Dalam sesi tersebut, Agusandi memperkenalkan konsep sederhana pengelolaan keuangan melalui rumus:

    Y = I + S + C

    Ia menjelaskan bahwa pendapatan sebaiknya tidak hanya digunakan untuk konsumsi, tetapi juga dialokasikan untuk tabungan dan investasi guna menciptakan ketahanan ekonomi jangka panjang.

    Selain isu ekonomi, Agusandi turut menyoroti persoalan ketenagakerjaan. Ia menilai masih banyak pekerja menerima upah di bawah standar dan berstatus harian lepas dalam waktu lama, sehingga perlindungan tenaga kerja belum berjalan optimal.

    Pemaparan materi Financial Literacy dengan Konsep Ilmu Ekonomi (Agusandi)

    Tak hanya itu, ia juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan narkoba yang kini mulai menjangkau wilayah pedalaman dan mengancam masa depan generasi muda Dayak.

    Agusandi berharap para finalis Bujang Dara dapat menjadi penyambung suara masyarakat sekaligus agen perubahan yang mampu mengedukasi dan memotivasi generasi Dayak agar semakin maju dalam bidang budaya, ekonomi, dan sosial.*Samuel, AKUB Pontianak. 

    Stanislaus Andes, Misa Syukur PGD XL Jadi Fondasi Spiritual dan Bukti Kematangan Budaya Dayak

    Wakil Ketua I Panitia Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026, juga sebagai Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, Unika San Agustin Kampus II Pontianak, Stanislaus Andes, S.E., M.Pd., - bersama Istri. (Dokumentasi PGD 2026 - 15 Mei 2026)

    MajalahDUTA.Com | Wakil Ketua I Panitia Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026, juga sebagai Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, Unika San Agustin Kampus II Pontianak, Stanislaus Andes, S.E., M.Pd., memandang pelaksanaan Misa Syukur PGD XL 2026 pada Jumat (15/5/2026) bukan sekadar seremoni pembukaan rangkaian Gawai Dayak, melainkan momentum spiritual yang memperlihatkan kuatnya persatuan masyarakat Dayak, budaya, dan Gereja.

    Menurut Andes, Misa Syukur menjadi ruang sakral untuk mengucap syukur kepada Jubata atas hasil panen, kehidupan, dan perjalanan masyarakat Dayak hingga hari ini.

    “Terlaksananya Misa Syukur Perayaan Pekan Gawai Dayak ke-XL ini merupakan sebuah momentum yang sangat sakral dan strategis. Ini bukan sekadar ritual pembuka, melainkan fondasi spiritual yang menyatukan tekad seluruh masyarakat Dayak dan panitia yang terlibat,” ujarnya.

    Mengawali refleksinya dengan falsafah Dayak “Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata”, Andes menilai semangat kebersamaan yang terlihat selama misa menjadi bukti nyata bahwa nilai gotong royong masih hidup kuat di tengah masyarakat Dayak.

    Dokumentasi PGD 2026 – Radangk (15/05).

    Sebagai koordinator bidang Usaha Dana, Dokumentasi dan Publikasi, serta Perlengkapan, ia melihat keberhasilan pelaksanaan misa tidak lepas dari soliditas seluruh panitia yang mampu bekerja melampaui sekat-sekat kepentingan.

    “Suksesnya Misa Syukur ini adalah bukti nyata dari sinergi dan gotong royong. Lintas seksi mampu meruntuhkan ego sektoral demi kelancaran ibadah,” katanya, (16/05).

    Menurut Andes, Pekan Gawai Dayak yang kini memasuki usia ke-40 menunjukkan kematangan dalam penyelenggaraan.

    Andes menilai PGD tidak lagi sekadar dipandang sebagai pesta budaya tahunan, tetapi telah berkembang menjadi ruang yang mampu mempertemukan profesionalisme modern dengan nilai tradisi dan iman.

    “Pelaksanaan misa yang tertata rapi menunjukkan bahwa manajemen modern dan nilai tradisi dapat berjalan beriringan dengan sangat anggun,” ujarnya.

    Ia juga menyoroti kuatnya pesan inkulturasi yang tampak dalam misa syukur tersebut. Liturgi yang dipadukan dengan unsur budaya Dayak, mulai dari penggunaan bahasa sub-suku dalam doa hingga nuansa adat dalam tata ibadah, menurutnya menjadi bukti bahwa budaya dan Gereja tidak saling bertentangan.

    Pandangan itu sejalan dengan pesan Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, yang menegaskan bahwa di dalam budaya lokal terdapat benih-benih sabda Tuhan. Dalam homilinya, Mgr. Pius mengaitkan nilai hukum adat Dayak dengan makna pengampunan dalam Ekaristi.

    “Perkara yang sudah diadatkan tidak boleh diungkit lagi,” kata Mgr. Pius dalam misa tersebut.

    Bagi Andes, pesan itu memperlihatkan bahwa nilai-nilai luhur masyarakat Dayak sejatinya memiliki kedekatan dengan ajaran Gereja tentang perdamaian, pengampunan, dan hidup bersama.

    Hal senada juga disampaikan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, yang mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebudayaan yang baik dan menyatukannya dengan kehidupan Gereja.

    Selain refleksi spiritual, Andes turut memberikan apresiasi kepada seluruh seksi yang bekerja di bawah koordinasinya. Ia menyebut dukungan para sponsor dan donatur menjadi tanda besarnya kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan PGD.

    Menurutnya, pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel menjadi bagian penting dalam menjaga marwah perayaan budaya Dayak.

    Ia juga menilai peran seksi Dokumentasi dan Publikasi sangat strategis dalam memperkenalkan budaya Dayak kepada masyarakat luas melalui media digital.

    “Rekaman visual, audio, dan publikasi yang tersebar di berbagai media berhasil menyampaikan pesan kedamaian, kesakralan, dan kemegahan budaya Dayak kepada khalayak luas,” tuturnya.

    Sementara itu, seksi Perlengkapan dinilai berhasil menghadirkan suasana ibadah yang nyaman dan bernuansa etnik Dayak melalui penataan altar, dekorasi, dan kesiapan teknis lainnya.

    Ke depan, Andes berharap semangat kebersamaan yang tampak dalam Misa Syukur dapat terus dijaga hingga seluruh rangkaian PGD XL 2026 selesai dilaksanakan.

    Andes juga berharap publikasi tentang budaya Dayak semakin luas dan positif sehingga masyarakat nasional maupun internasional dapat melihat Dayak sebagai komunitas yang maju, profesional, namun tetap berakar pada adat dan iman.

    “Perayaan ke-40 ini jangan hanya menjadi pesta seremonial, tetapi harus mampu mempererat tali silaturahmi dan meneguhkan identitas masyarakat Dayak yang maju, mandiri, namun tetap berakar pada adat istiadat dan iman kepada Tuhan,” tegasnya.

    Menutup refleksinya, Andes mengajak seluruh masyarakat Dayak menjaga persatuan dan martabat budaya yang diwariskan leluhur.

    “Selamat merayakan Pekan Gawai Dayak ke-XL. Mari kita jaga marwah, martabat, dan kebersamaan ini,” pungkasnya.*Sam – AKUB Pontianak. 

    Uskup Samuel Menegaskan, Gereja Katolik Sangat Terbuka Terhadap Kearifan Lokal

    Kiri: Uskup Pius (Ketapang), tengah: Ria (Sekberkesda), kanan Uskup Samuel OFMCap (Administrator KAP). (2026) - Radangk.

    MajalahDUTA.Com | Perdebatan mengenai posisi adat dan budaya lokal dalam kehidupan beragama masih kerap muncul di tengah masyarakat.

    Namun, suasana Misa Syukur Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026 pada Jumat (15/5/2026) menghadirkan gambaran berbeda Gereja dan budaya Dayak justru dapat berjalan berdampingan dalam harmoni melalui semangat liturgi inkulturatif.

    Dalam perayaan tersebut, Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, menegaskan bahwa nilai-nilai budaya lokal sejatinya mengandung benih-benih sabda Tuhan yang hidup di tengah masyarakat.

    Menurutnya, banyak kearifan adat Dayak yang memiliki makna mendalam dan sejalan dengan nilai-nilai Kristiani. Salah satunya tampak dalam hukum adat Dayak terkait penyelesaian persoalan hidup bersama.

    “Perkara yang sudah diadatkan tidak boleh diungkit lagi,” katanya, (15/05).

    Menyatukan Iman dan Tradisi, Misa Syukur PGD 2026 Wujud Nyata Liturgi Inkulturatif Gereja dan Budaya (2026) – Radangk.

    Uskup Pius kemudian menghubungkan filosofi adat tersebut dengan makna pengampunan dalam perayaan Ekaristi.

    Bapa Uskup juga mengutip kata-kata konsekrasi dalam misa yang berbicara tentang darah Kristus yang ditumpahkan demi pengampunan dosa manusia.

    Baginya, pesan itu mengandung ajakan agar manusia tidak terus-menerus hidup dalam kesalahan dan dendam masa lalu. Setelah pengampunan diberikan, manusia dipanggil untuk memperbarui hidup dan tidak kembali jatuh dalam dosa yang sama.

    Pandangan serupa juga disampaikan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, yang turut hadir dalam misa syukur tersebut.

    Sebagai putra Dayak berbahasa Banyadu, ia menilai Gereja Katolik memiliki keterbukaan terhadap kebudayaan lokal dan nilai-nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat.

    Menurut Uskup Samuel, OFMCap mengatakan bahwa Gereja menerima segala unsur budaya yang baik dan mendukung kehidupan manusia.

    Meski demikian, ia mengakui bahwa dalam perjalanan sejarah, terdapat pula aspek-aspek budaya lama yang tidak lagi relevan dan telah ditinggalkan.

    “Saya mengajak kita semua untuk terus mengusahakan kebudayaan yang baik dan menyatu dengan Gereja secara utuh,” katanya.

    Uskup Samuel OFMCap menilai nilai-nilai seperti kebersamaan, cinta kasih, penghormatan terhadap perempuan, serta penghargaan kepada Allah sebagai Sang Pencipta merupakan bagian penting dari budaya Dayak yang selaras dengan ajaran Gereja.

    Menutup sambutannya, Uskup Samuel OFMCap mengingatkan bahwa keberagaman bahasa sub-suku Dayak dalam doa-doa liturgi tidak menjadi penghalang bagi manusia untuk menyampaikan isi hati kepada Tuhan.

    Menurutnya, meskipun umat berdoa dengan bahasa yang berbeda-beda, doa yang lahir dari hati nurani yang tulus akan tetap sampai kepada Tuhan dengan sempurna.

    Misa Syukur PGD XL 2026 pun menjadi simbol bahwa iman dan budaya tidak harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat saling memperkaya dan menghadirkan wajah Gereja yang dekat dengan kehidupan masyarakat serta akar budayanya sendiri.*SJ- Sekberkesda. 

    Uskup Ketapang, Esensi Budaya Dayak adalah Kebersamaan dan Hati untuk Berbagi

    Mgr. Pius Riana Prapdi, didampingi Mgr. Samuel Oton Sidin, beserta jajaran pastor pendamping pada Misa Syukur Gawai Dayak Kalbar ke 40.

    MajalahDUTA.Com | Pekan Gawai Dayak (PGD) selama ini kerap dikenal sebagai perayaan pesta panen yang penuh kemeriahan. Namun, di balik suasana sukacita itu, tersimpan nilai-nilai budaya yang jauh lebih mendalam tentang kebersamaan, rasa syukur, dan semangat berbagi.

    Pesan itulah yang disampaikan Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, dalam homilinya pada Misa Syukur pembukaan Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026, Jumat (15/5/2026).

    Dalam refleksinya, Uskup Pius mengajak umat melihat kembali makna sejati budaya Dayak melalui kisah penciptaan manusia. Ia mengutip bagian Kitab Suci yang menyatakan bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri.

    Menurutnya, penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam memiliki makna bahwa laki-laki dan perempuan dipanggil untuk hidup sejajar, berdampingan, dan saling menopang dalam kehidupan bersama.

    “Itulah citra Allah yang sesungguhnya, yakni hidup bersama, saling membantu, dan menghidupi semangat gotong royong,” ungkapnya.

    Nilai kebersamaan tersebut, menurut uskup, menjadi salah satu kecerdasan hidup masyarakat Dayak yang diwariskan secara turun-temurun. Ia menilai budaya Dayak mengajarkan bahwa kebahagiaan dan sukacita akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan kepada sesama.

    “Membagikan makanan atau hasil panen adalah bentuk rasa syukur dan sukacita,” katanya.

    Ia juga menegaskan bahwa masyarakat yang berbudaya adalah masyarakat yang memiliki hati untuk berbagi. Karena itu, semangat berbagi perlu terus dijaga sebagai bagian penting dari identitas budaya Dayak.

    Selain menyinggung nilai kebersamaan, Uskup Pius juga mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda di era modern, untuk menerapkan pola hidup sehat dan bijaksana. Ia mengajak umat menjalani gaya hidup dengan prinsip “makan sehat, minum cerdas”.

    Dalam kesempatan itu, ia turut menyoroti fenomena “kemabukan” yang menurutnya tidak hanya berkaitan dengan minuman keras, tetapi juga dapat muncul dalam bentuk kerakusan terhadap kekayaan dan kekuasaan.

    Uskup kemudian mengenang pengalamannya ketika pertama kali datang ke Ketapang sekitar 14 tahun lalu. Ia mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Dayak yang menerimanya sebagai bagian dari keluarga melalui prosesi adat pemberian gelang.

    Menurutnya, budaya Dayak merupakan budaya luhur yang menjunjung perdamaian dan penghormatan terhadap sesama manusia.

    Ia juga menyinggung tradisi minum tuak yang sering disalahpahami sebagian orang. Dengan nada bercanda, ia mengungkapkan filosofi yang ia temukan di balik tradisi tersebut.

    “Setiap kali diberi minum tuak, saya menyadari bahwa tuak bisa berarti Tuhan adalah Kasih,” ujarnya yang langsung disambut senyum dan tawa umat.

    Bagi Uskup Pius, tradisi minum tuak dalam budaya Dayak bukan semata soal minuman, melainkan simbol penghormatan terhadap kehidupan, persaudaraan, dan penerimaan terhadap sesama.*SJ – Sekberkesda.

    Misa Syukur PGD Kalbar ke-40 Hadirkan Harmoni Budaya dan Kolaborasi Alumni Bujang Dara

    Penyerahan Plakat oleh Ketua Panitia PGD XL, Thomas Aleksander, S.Sos., M.Si. dan Ketua Sekberkesda, E. Yohanes Palaunsoeka, kepada Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap dan Mgr. Pius Riana Prapdi.

    MajalahDUTA.Com | Perayaan Misa Syukur Pekan Gawai Dayak (PGD) Kalimantan Barat ke-40 yang berlangsung pada Jumat, 15 Mei 2026, menjadi gambaran kuat tentang keberagaman budaya Dayak sekaligus keharmonisan masyarakat Kalimantan Barat. Seluruh rangkaian liturgi dikemas dengan nuansa adat Dayak Ketapang yang kental dan penuh makna budaya.

    Salah satu bagian yang paling menyita perhatian umat ialah Doa Umat yang dibawakan menggunakan enam bahasa dari sub-suku Dayak berbeda. Keberagaman bahasa itu menghadirkan suasana liturgi yang kaya akan identitas budaya lokal.

    Doa-doa diperdengarkan dalam bahasa Dayak Pesaguan oleh Helen Randi Febriana, S.Ak., M.Ak. Selain itu, turut digunakan bahasa Dayak Taman Kapuas Hulu, Dayak Tinying Sanggau, Dayak Kayaan Kapuas Hulu, Dayak Kanayatn, hingga Dayak Simpang.

    Ketua Panitia Pekan Gawai Dayak XL 2026, Thomas Aleksander, S.Sos., M.Si.

    Bendahara Panitia PGD 2026, Helena Ali, A.Md., yang juga merupakan Dara Gawai tahun 1998, ikut ambil bagian dengan membawakan doa dalam bahasa Dayak Sanggau.

    Misa syukur tersebut juga memperlihatkan kolaborasi lintas generasi melalui keterlibatan para alumni Bujang Dara Gawai dalam pelayanan liturgi. Lektor pertama dibawakan oleh Dr. Stefanus Barlian Soeryamassoeka, S.T., M.T., IPM, yang dikenal sebagai Bujang Gawai pertama tahun 1993. Tugas lektor berikutnya dilanjutkan oleh Valensia Flora, Juara 3 Dara Gawai 2024.

    Beberapa alumni lainnya juga mengambil peran penting selama misa berlangsung, di antaranya Kristian (Juara 2 Bujang 2025), Fransiskus Derek (Bujang 2005), Piet Meka (Bujang 2000), dan Kristina Michael Anjioe (Dara 2000).

    Setelah misa yang diiringi lantunan koor Gli Angeli Cantano selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama dalam suasana penuh kekeluargaan.

    Ketua Panitia PGD XL 2026, Thomas Aleksander, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya membuka acara menggunakan salam khas Dayak Simpang. Ia menegaskan bahwa salah satu tujuan utama PGD tahun ini adalah memperkenalkan budaya Dayak Ketapang kepada masyarakat luas.

    Ia juga menyampaikan semangat agar masyarakat Dayak terus berkembang, tidak hanya melalui kegiatan budaya dan festival tradisional, tetapi juga melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang profesional dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

    Menurut Thomas, seminar yang menjadi bagian dari rangkaian PGD nantinya akan membahas keterlibatan masyarakat Dayak Kalimantan dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), khususnya kontribusi masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.

    Acara kemudian ditutup dengan penyerahan plakat penghargaan khas Ketapang berupa Kembang Menjolang dan Jurongk kepada Uskup Ketapang serta Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak yang memimpin misa syukur tersebut.

    Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Ketua Dewan Pengarah sekaligus Ketua Sekberkesda, E. Yohanes Palaunsoeka, bersama Ketua Panitia PGD XL 2026, Thomas Aleksander.

    Dalam sambutannya, Yohanes menegaskan bahwa kerja sama yang terbangun dalam kepanitiaan PGD menjadi bukti bahwa sumber daya manusia Dayak memiliki kemampuan dan kesiapan untuk berkompetisi, termasuk dalam mengambil peran strategis di IKN.

    Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan PGD dan seminar menjadi cerminan bahwa masyarakat Dayak memiliki kapasitas untuk tampil dan berkontribusi dalam berbagai bidang di tingkat nasional.*SJ. Sekberkesda. 

    TERBARU

    TERPOPULER