Wednesday, April 15, 2026
More
    Home Blog Page 167

    BBM Ramah Lingkungan Wujudkan Langit Biru

    Ilustrasi: Mewujudkan Langit Biru dengan BBM Ramah Lingkungan. Foto: Oleh Eliska Winda pada Kamis, 11 Maret 2021 di Jalan Tanjungpura, Kota Pontianak Kalimantan Barat-@majalahduta

    Oleh: Eliska Winda 

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melaksanakan diskusi publik mengenai program Langit Biru yang bertemakan “Mendorong Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru.” Pelaksanaan kegiatan tersebut bekerja sama dengan Kantor Berita Radio (KBR) tepatnya pada Rabu, 10 Maret 2021 pukul 08.00 WIB sampai selesai melalui media luar ruang (online).

    “Kampanye BBM Ramah Lingkungan.” Itulah yang digaungkan oleh narasumber dalam kegiatan diskusi publik tersebut kepada peserta dan masyarakat luas. Perbincangan tersebut menghadirkan empat narasumber, Tulus Abadi-Ketua Pengurus Harian YLKI, Fabby Tumiwa-Executive Directo Institute Essential Service Reform (IESR), Ir. Ratna Kartikasari, M.Sc-Ketua Subdirektorat Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Bergerak KLHK dan Denny Djukardi W-VP Sales Support PT. Pertamina.

    BBM Ramah Lingkungan

    Berhadapan dengan pandemi seperti tiada habisnya bahkan tidak ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir di Indonesia, walaupun sedang dilaksanakannya vaksinasi. Permasalahan bukan hanya mengenai pandemi Covid-19, jauh sebelum pandemi Covid-19 sebetulnya sudah ada pandemi tetapi belum ada kesadaran akan hal itu. Pandemi yang sebenarnya adalah kerusakan lingkungan.

    Dikatakan oleh Tulus Abadi selaku Ketua Pengurus Harian YLKI dalam Talkshow sebelum dimulainya diskusi publik mengenai Program Langit Biru bersama KBR yang dipersembahkan oleh YLKI, “Itulah pandemi yang kita hadapi sekarang ini, The Rill Pandemi adalah rusaknya lingkungan karena polusi yang dipicu oleh pola konsumsi kita khususnya pola konsumsi yang berbasis energi fosil yaitu pemakaian BBM yang tidak ramah lingkungan dan segala macam serta sudah saatnya kita menggunakan BBM yang ramah lingkungan.”

    The Rill Pandemi

    Pembicaraan mengenai BBM ramah lingkungan tidak bisa dipisahkan dari program pemerintah itu sendiri yaitu  Program Langit Biru. Program Langit Biru sudah dicetuskan oleh pemerintah  seperempat abad yang lalu.

    “Program Langit Biru sudah didengungkan oleh pemerintah sejak seperempat abad yang lalu, sudah lama yaitu sejak tahun 1996 dengan maksud mewujudkan BBM ramah lingkungan sesuai standar EURO,” papar Tulus Abadi.

    Program Langit Biru mendapat dukungan penuh dari semua sektor hingga kaum muda. Bentuk dukungan setiap sektor berbeda-beda sesuai dengan ranah kerja dan program kerja dari sektor tersebut. Hal ini dapat menjadi ajang sosialisasi kepada masyarakat luas bahwa perhatian terhadap kerusakan lingkungan sangat tinggi dan perlu partisipasi dari semua pihak.

    Seperti disampaikan oleh pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kotawaringin Timur bahwa mereka bekerja sama dengan “Journey to Zero” untuk campaign dengan hastag #BirukanLangit.

    “Dalam hal program, Disperdagin Kotim tahun ini akan bekerja sama dengan Tim “Journey to Zero” untuk campaign #BirukanLangit yang akan melakukan pengecatan/pembuatan mural (grafiti) di Taman Jelawat Sampit yang dikelola oleh Disperdaging Kotim dan juga beberapa titik strategis yang dinilai dapat menarik perhatian masyarakat luas dan memberikan awareness tentang campaign #BirukanLangit.” Tulis pihak Disperdaging Kotim dalam kolom komentar di room zoom pelaksanaan diskusi publik Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru.

    Kerja Sama

    Dukungan dan persetujuan mengenai pelaksanaan Program Langit Biru juga disampaikan oleh Tommy dari pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan. “Sangat-sangat setuju dengan Program Langit Biru,” ungkapnya.

    Selain itu pihak Dinas Perhubungan Kota Balikpapan Izmir Novian Hakim mengatakan, “Memang sangat mendukung Program Langit Biru yang tentunya berkolaborasi dengan sektor lain, dibuktikan dengan adanya pengujian emisi berkala secara gratis terhadap kendaraan pribadi maupun angkutan umum,” jelasnya.

    Mengkampanyekan BBM ramah lingkungan untuk mewujudkan Program Langit Biru adalah tanggungjawab bersama, tidak bisa berdiri sendiri. Tak terkecuali kaum muda, karena kaum muda adalah agen perubahan yang memiliki andil besar untuk menyuarakannya.

    Kaum Muda

    Seperti yang dikatakan oleh  Ir. Ratna Kartikasari, M.Sc selaku kepala Subdirektorat Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Bergerak KLHK, “Ini adalah kerja bareng kita, tidak hanya dibagian pemerintahan tetapi juga dari masyarakat terutama untuk yang generasi milenialnya, yang merupakan Cyang kalau dizamannya sekarang ini merupakan pihak yang bisa membantu kami dari pemerintahan untuk merubah dan mengedukasi masyarakat jauh lebih baik, yang dapat dilakukan melalui medsos dan melalui apapun yang bisa dilakukan oleh teman-teman influencer semuanya. Jadi, memang sekali lagi kami tekankan bahwa ini adalah kerja bareng kita, kualitas udara inilah yang akan kita wariskan ke anak cucu kita nanti, saya tidak bosan-bosannya untuk menyampaikan ini. Jadi sekali lagi terima kasih, kami tunggu kiprah dari bapak-bapak dan ibu-ibu serta adek-adek semuanya,” jelasnya saat diminta untuk closing statement.

    Tanda Kasih untuk Klinik Pratama St. Elisabeth- Bengkayang

    Bertempat di Wisma KWI – Jakarta, pada tanggal 1 Maret 2021 , Yayasan BRIKasih bersama dengan Yayasan Sinlui PanGa memberikan “Tanda Kasih” kepada Klinik Pratama St. Elisabeth – Bengkayang, Kalimantan Barat berupa 1 unit Ambulance.- @Komsoskap

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Bertempat di Wisma KWI – Jakarta, Yayasan BRI Kasih bersama dengan Yayasan Sinlui PanGa memberikan “Tanda Kasih” kepada Klinik Pratama St. Elisabeth – Bengkayang, Kalimantan Barat berupa 1 unit Ambulance, (Senin, 1 Maret 2021).

    Ambulance ini diserahkan langsung oleh Bardiyono Wiyatmoko – Ketua Umum Yayasan BRIKasih dan Tikna G. Lukita – Ketua Yayasan Sinlui PanGa kepada Sr. Bonifasia Sinurat, KFS dan serah terima ini disaksikan langsung oleh  Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus.

    Tikna G. Lukita menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Yayasan BRIKasih sudah berjalan untuk Tahun Kedua dimana Program Donasi Ambulance ini disalurkan kepada Klinik-Klinik yang berada di pelosok Indonesia, sementara untuk Yayasan Sinlui PanGa Program Ambulance  ini sudah dimulai sejak Tahun 2017.

    Sejalan pula dengan Tahun Refleksi – Keuskupan Agung Jakarta “Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin Menjadi Berkat”, maka dengan adanya donasi Ambulance ini sebagai wujud bentuk “TANDA KASIH”  dari Yayasan Sinlui Panga bersama Yayasan BRIKasih sebagai satu bentuk keterlibatan dalam menjadi Saluran Berkat bagi sesama..

    Ketua Umum Yayasan BRIKasih – Bardiyono Wiyatmoko dalam kesempatan ini menjelaskan bahwa Yayasan BRIKASIH didirikan tahun 2018 oleh pekerja dan pensiunan Kristiani Bank BRI. Setiap bulan para pekerja mendonasikan sebagian pendapatan untuk disalurkan kepada  masyarakat yang membutuhkan untuk membangun infrastruktur sosial di seluruh Indonesia.

    Yayasan BRIKasih berharap kerja sama dengan Yayasan Sinlui PanGa dapat terjalin lagi dikemudian hari sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan sosial terutama dibidang kesehatan dan juga membantu pemerintah dalam menghadapi Pandemi Covid-19 yang sedang melanda Indonesia saat ini.

    Baca Juga: Mgr. Agus Ucapkan Terima Kasih untuk Indonesia Award Center

    Suster Bonifasia Sinurat, KFS selaku perwakilan dari Yayasan St. Elisabeth Hungaria menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian Yayasan BRIKasih dan Yayasan Sinlui PanGa yang telah berkenan memberikan bantuan 1 unit Ambulance untuk kelancaran dan peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Bengkayang – Kalimantan Barat khususnya bagi masyarakat kurang mampu.

    Sementara itu, dalam sambutannya Mgr Agus juga menyampaikan rasa senangnya dan terima kasihmya kepada Yayasan BRIKasih dan Yayasan Sinlui PanGa atas bantuan dan perhatiannya yang diberikan kepada salah satu Klinik yang berada di Keuskupan Agung Pontianak.

    Dalam obrolan kecil bersama Mgr Agus, ia pernah mengatakan bahwa Klinik Pratama St. Elisabeth- Bengkayang membutuhkan satu unit mobil Ambulance untuk operasional klinik di Bengkayang.

    Klinik St. Elisabeth ini berada didekat perbatasan dengan Sambas -Malaysia dan dikelola oleh Suster-suster dari Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS) sudah sejak 60 tahun lamanya.

    “Adanya Ambulance ini memang sangat dibutuhkan oleh Klinik Pratama St. Elisabeth, ditambah dengan medan-medan yang masih terbilang sulit,” kata Mgr. Agus.

    Usai kegiatan hari itu, Mgr Agustinus Agus memberkati Ambulance sebelum diberangkatkan ke Klinik Pratama St. Elisabeth- Bengkayang yang kemudian akan diserahkan langsung pada Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS) sebagai pengelola klinik.

    Penerimaan Mobil Ambulance Tanda Kasih 

    Syukur kepada Allah, Senin, 8 Maret 2021 penyaluran tanda kasih dari Yayasan BRI Kasih bersama dengan Yayasan Sinlui PanGa yaitu Ambulance untuk Klinik Pratama St. Elisabeth- Bengkayang sudah diterima oleh para suster-suster KFS di Bengkayang.

    Tampak dalam penyerahan itu dihadiri lansung dan diterima oleh lima suster KFS pengelola Klinik yang telah menerima sumbangan kasih dari Yayasan Sinlui PanGa dan Yayasan BRI Kasih.

    Dengan adanya Ambulance ini sebagaimana yang Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus harapkan agar dapat digunakan untuk pertolongan kemanusiaan sebagaimana dalam visi dan misi dari pelayanan kaum berjubah kepada masyarakat.

    Selaras dengan harapan itu, pertolongan dari Tanda Kasih Yayasan untuk Klinik ini merupakan bukti dan tanda nyata kepedulian sosial sesama manusia untuk wilayah pelayanan Keuskupan Agung Pontianak.- )*Sz 

    Mgr. Agus Ucapkan Terima Kasih untuk Indonesia Award Center

    Mgr. Agus Ucapkan Terima Kasih untuk Indonesia Award Center- @komsoskap

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus sampaikan ucapan terima kasih kepada Panitia Indonesia Award Center yang telah memberikan penganugerahan “Inspiring Professional Award 2021”.

    Awarding Ceremony, Jumat 26 Februari 2021 di Hotel Mercure Gatot Subroto – Jakarta.

    Hal itu Mgr. Agus sampaikan di Keuskupan Agung Pontianak bersama Tim Komsos Keuskupan Agung Pontianak untuk disampaikan kepada Panitia Indonesia Award Center.

    Sebuah kebanggan bagi Monsinyur karena telah dipilih menjadi salah satu tokoh inspirasi untuk Indonesia secara khusus umat Katolik Keuskupan Agung Pontianak.

    Cinderamata sudah beliau terima pada Senin, 8 Maret 2021. Dalam kesempatan itu, Uskup Agung Pontianak Menyampaikan terima kasih kepada panitia penyelenggara karena sudah memperhatikan jejak digital dan karya yang sudah beliau jajaki selama ini. )*- Sz.

    Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar

    Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar-@komsoskap

    Oleh: Romanus – Tim Majalah Duta 

    MajalahDUTA.Com,Pontianak- Telah dilaksanakan kegiatan Pemusnahan Barang Bukti Narkotika pada hari Rabu, 3 Maret 2021 di Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar pada pukul 09.00 WIB.

    Barang bukti yang dimusnahkan adalah hasil pengungkapan Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar dan penyerahan dari Bea dan Cukai bagian Kalimantan Barat dengan TKP mulai dari Kecamatan Pontianak Timur, Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau sampai dengan PLBN Entikong Kab. Sanggau.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19

    Tersangka yang berhasil diamankan berjumlah 5 orang pria dengan barang bukti Narkotika jenis Shabu sebanyak 20.141,24 gram.

    Kelima tersangka tersebut terdiri dari 3 orang sebagai kurir dan 2 orang lainnya sebagai pengedar.

    Dengan estimasi pemakaian 1 gram Narkotika jenis Shabu dapat digunakan oleh 8 jiwa, maka jumlah jiwa yang berhasil diselamatkan dalam kasus ini kurang lebih sebanyak 161.130 jiwa.

    Pentingnya Bersyukur Kepada Tuhan

    Nama: Yulita Oktaviana, Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino-Ngabang-@komsoskap

    Oleh: Yulita Oktaviana, Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino-Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Pada tanggal 4-14 Februari 2021, Aku, Fr. Ardi bersama keluarga IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik) STKIP Pamane Talino Ngabang mengadakan Baksos (Bakti Sosial) Di Desa Sebalo, Dusun Selabih Atas, Kab. Bengkayang.

    Kegiatan yang kami laksanakan ini adalah salah satu dari PROKER (Pogram Kerja) IMK. Disana kami menghabiskan waktu selama sepuluh hari lamanya. Tiga hari sebelum keberangkatan aku sempat merenung: “apakah tempatnya sangat jauh atau tidak, dingin/panas ya…di daerah sana dan apakah masyarakatnya sangat welcome dengan kedatangan kami ?

    Keluarga

    Dan ternyata apa yang aku pikirkan itu memang benar terjadi. Tempatnya sangat jauh dan ketika malam hari cuacanya dingin.

    Baca Juga: Apa Makna “Jalan Salib” Bagi Umat Katolik?

    Akan tetapi, yang membuat saya bersemangat adalah antusias masyarakatnya sangat tinggi. Hal itu diperlihatkan yakni ketika mereka menjemput kami di desa Setia Budi (Sebalo), dengan berjalan kaki dan jarak tempuh kurang lebih 5 km.

    Perjalanan kami sangatlah jauh, dan untuk menempuh kampung yang akan dituju kami
    harus jalan kaki sekitar kurang lebih 2 jam dikarenakan jalannya licin dan harus turun naik
    bukit.

    Ditambah lagi dengan peristiwa tanah longsor yang tak pernah aku duga sebelumnya.
    Dari peristiwa itu, awalnya aku yakin bahwa segala niat baik yang ingin kami kerjakan pasti
    dapat berjalan dengan baik, akan tetapi kenyataannya ternyata banyak sekali tantangan/cobaan yang harus kami hadapi.

    Antusiasme

    Atas itu semua, saya pun sadar bahwa ini semua adalah suatu sapaan dari Tuhan, dan tentunya menjadi pengalaman dan pelajaran hidup yang paling berharga bagiku dan teman-teman yang lain.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Tegaskan: Jadilah Imam Pembawa Perubahan

    Aku bersyukur bahwa dari awal hingga berakhirnya kegiatan ini, aku dan teman-teman lainnya tidak pernah patah semangat, tetap bersemangat dalam melayani masyarakat.

    Walau pun tempatnya jauh tanpa listrik, tanpa sinyal dan akses jalan yang kurang memadai, tetapi aku merasa bangga bisa memberikan yang terbaik untuk umat-umat di dusun Selabih Atas.

    Dan dari pengalaman itu pula, aku belajar akan pentingnya bersyukur kepada Tuhan, menerima dan menjalani segala keadaan dengan lapang dada.

    Pengalaman dan Pelajaran

    Kemudian pengalaman yang paling berkesan bagiku adalah pada cara masyarakat menjamu kami, mengajari kami bagaimana berucap dengan menggunakan bahasa Bekati.

    Itulah suatu pengalaman yang sangat mengesankan bagiku. Kemudian berkenaan dengan aktivitas kami selama di sana, memang tujuan kami ialah membangun gereja, seperti yang diceritakan Fr. Ardi bahwa gereja itu sudah tidak layak pakai: “beratap langit beralaskan bumi.”

    Baca Juga: Rumah Tuhan yang Telah Lama Dibiarkan Kesepian

    Akan tetapi, selain itu kami juga memberikan bimbingan belajar kepada adik-adik yang karena pandemi  COVID-19 mereka tidak bisa melakukan kegiatan belajar di sekolah. Pengalaman mengajar adalah salah satu pengalaman berharga bagiku, terutama berkenaan dengan profesiku sebagai calon guru.

    Melayani

    Aku bangga dan semakin bersemangat dalam menjalani proses perkuliahaan, apalagi melihat semangat belajar adik-adik yang kami bimbing sungguh luar biasa. Mereka pernah berkata bahwa: “kak kami biasanya pergi sekolah jalan kaki dan berangkat sekolahnya jam 4 subuh dari rumah”.

    Mendengar hal itu, tentu sebagai mahasiswa aku benar-benar terharu, apalagi aku sendiri tidak pernah mengalami hal sulit seperti itu. Dan yang lebih mirisnya lagi, banyak anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah terpaksa harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sebetulnya belum saatnya mereka alami yakni bekerja mencari emas.

    Baca Juga: KONGREGASI DOMINIKAN BUNDA MARIA ROSARIO SUCI

    Intinya adalah bahwa banyak pelajaran berharga yang bisa aku ambil dari pengalaman yang pernah aku lalui ini, semoga kenangan ini bisa menjadi sejarah dalam hidupku.

    Dan membuatku semakin sadar akan pentingnya keterlibatan dan kepedulian kepada masyarakat, terutama masyarakat kecil yang membutuhkan.

    Adapun makna rohani yang bisa kupetik adalah bahwa semua ini merupakan uluran
    tangan kasih Tuhan untukku dan keluarga besar IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik), supaya bisa menjadi pelayan dan membantu mereka yang membutuhkan. Tuhan pasti akan selalu
    memberikan rancangan yang indah dalam hidup kita.

    Tempat Yang Mengajariku Tentang Pentingnya Arti Sebuah Kehidupan

    Nama: Yulina Eviani, Prodi Bahasa Inggris, Semester II, Mahasiswa STKIP Pamane Talino-Ngabang-@komsoskap

    Oleh: Yulina Eviani, Prodi Bahasa Inggris, Semester II, Mahasiswa STKIP Pamane Talino-Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Pada Kamis, 4 Febuari 2021 aku dan teman-teman IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik) melakukan BAKSOS (bakti sosial) di  dusun Selabih Atas, Desa Setia Budi, kabupaten Bengkayang. BAKSOS yang kami lakukan berupa pembangunan Gereja di stasi St. Matius:  “beratap langit, beralaskan bumi” (kondisi gereja yang tidak memungkinkan lagi untuk ditempati).

    Semangat kami semakin berkobar-kobar ketika menyaksikan semangat dan iman umat yang begitu tangguh dalam memuliakan nama Tuhan. Semangat mereka tidak padam, meskipun keadaan gedung gereja mereka tidak layak pakai.

    Semangat dan Iman 

    Dalam perjalanan menuju dusun Selabih Atas, kami mendapat banyak sekali cobaan. Cobaan pertama, aku ingat bahwa waktu itu gerimis, dengan keadaan jalan yang begitu licin, yang kemudian membuat mobil yang aku tumpangi tidak bisa melanjutkan perjalanan kami ke tempat tujuan.

    Baca Juga: Dimana Ada Kasih, disitu ada Tuhan; Mgr. Agus

    Akhirnya, aku dan teman-teman harus berjalan kaki. Setelah lumanyan jauh berjalan kaki, kami dihadapkan lagi oleh cobaan kedua yakni terjadi tanah longsor yang menutup akses jalan untuk bisa masuk ke tempat tujuan. Dan kami pun terpaksa menerobos pepohonan dan dedaunan yang tumbang bersamaan dengan tanah-tanah pekat.

    Melihat situasi seperti ini, hati kecilku pun berkata: “baru kali ini aku disambut oleh bencana alam yang begitu kompak“. Akan tetapi aku percaya kepada Tuhan, apapun yang terjadi di perjalanan pasti ada hikmahnya.

    Yakin dan Percaya

    Meskipun banyak sekali cobaan, aku dan teman-teman tetap merasa gembira dan bahagia, oleh karena mengetahui bahwa kami akan datang, masyarakat sejak pagi sudah menunggu kedatangan kami di desa setia Budi.

    Baca Juga: Saya Semakin Yakin Bahwa Tuhan Tidak Diam

    Aku yakin bahwa Tuhan sungguh mendampingi perjalanan dan rencana kami di tempat ini. Hatiku sungguh senang dan gembira bisa menyaksikan mereka semua yang begitu baik dan sangat bersahabat.

    Hari pertama  di  Selabih, kami semua disambut dengan antusiasme anak-anak yang datang untuk belajar. Mereka semua sangat bersemangat, dan bahkan beberapa dari antara mereka ada yang ingin mengikuti jejak kami, yakni bercita-cita ingin menjadi guru. Menjadi guru supaya bisa mengajari anak-anak di kampung.

    Lalu di hari kedua, aku dan teman-teman melakukan kerja bakti bersama masyarakat yang ada yakni meratakan tanah yang akan dijadikan tempat pembangunan gedung gereja. Aku merasa senang bisa bersama mereka, terutama bisa mempelajari bahasa-bahasa daerah, khususnya bahasa “Bekati” (salah satu bahasa dari suku Dayak – Kalbar).

    Kebersamaan

    Canda dan tawa senantiasa menghiasi kegiatan kami meskipun di bawah teriknya matahari, saling bertanya dan mengucapkan kata menggunakan bahasa Bekati. Saya juga merasa senang, oleh karena masyarakat Selabih Atas sangatlah ramah, dengan itu pula aku bisa belajar banyak hal terutama belajar tentang pentingnya hidup bersama dalam suatu komunitas masyarakat.

    Baca Juga: Apa Makna “Jalan Salib” Bagi Umat Katolik?

    Akhirnya, sepuluh hari rasannya terlalu sebentar bagiku untuk meninggalkan kebahagiaan kami di tempat ini. Rasa sedih dan haru menyelimuti relung hatiku yang paling dalam.

    Meninggalkan tempat yang mengajariku tentang pentingnya artinya sebuah kehidupan; kehidupan dalam kebersamaan dan persaudaraan.

    Apa Makna “Jalan Salib” Bagi Umat Katolik?

    Ilustrasi: Apa Makna "Jalan Salib" Bagi Umat Katolik? oleh: P. Silvanus Ilwan, CP-@komsoskap

    Oleh : P. Silvanus Ilwan,  CP

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Jalan Salib adalah devosi yang mengarahkan pandangan spiritual kita pada peristiwa Yesus Kristus mulai dari keputusan hukuman mati pada Yesus hingga peristiwa pemakaman-Nya. Dalam bahasa Latin, Jalan Salib disebut Via Dolorosa artinya Jalan Penderitaan. Inilah saat-saat terakhir hidup Yesus secara historis di dunia. Devosi ini adalah peringatan akan peristiwa tersebut.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19

    Tradisi Jalan Salib dirintis oleh Santo Fransiskus Asisi, diperkenalkan oleh Ordo Fransiskan abad ke-14 lalu meluas di Gereja Katolik Roma pada abad pertengahan. Paus  Klemens XII menetapkan secara resmi terkhusus perhentian-perhentiannya secara definitif pada abad XVII yang berlaku sampai sekarang.

    Pandangan Spritual

    Devosi ini biasa dilaksanakan di biara-biara setiap hari Jumat.  Namun umumnya dilaksanakan oleh umat beriman pada masa Prapaska terutama Jumat Agung.

    Ada 14 perhentian atau stasi Jalan Salib:

    1. Yesus dijatuhi hukuman mati
    2. Yesus memanggul salib
    3. Yesus jatuh untuk pertamakali
    4. Yesus berjumpa dengan ibu-Nya
    5. Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene
    6. Wajah Yesus diusap oleh Veronika
    7. Yesus jatuh untuk kedua kalinya
    8. Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya
    9. Yesus jatuh untuk ketigakalinya
    10. Pakaian Yesus ditanggalkan
    11. Yesus disalibkan
    12. Yesus wafat di kayu salib
    13. Yesus diturunkan dari salib
    14. Yesus dimakamkan

    Dari 14 perhentian atau stasi itu, tidak semua tertulis secara detali atau sangat jelas dalam Kitab Suci, misalnya jumlah berapakali Yesus jatuh. Semua itu bersandar pada tradisi suci Gereja.

    Perhentian Jalan Salib

    Devosi Jalan Salib menjadi penting bagi iman Kristiani karena melalui devosi ini, umat diingatkan akan peristiwa Yesus menebus dosa manusia. Jalan Salib menjadi penguat iman akan inkarnasi Sabda menjelma menjadi manusia. Kita tidak melupakan bahwa dalam diri Yesus ada dua kodrat yaitu kodrat insani dan ilahi. Di sini juga Yesus membuktikan ketaatanNya kepada Allah Bapa. Manusia juga diingatkan akan kejahatan manusia akibat tipu daya iblis. Di sini juga orang belajar mempertahankan iman sampai akhir hayat meski jalan beriman itu penuh penderitaan.

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus Terima Plakat Professional Award 2021

    Akan tetapi, di sini juga orang beriman memiliki harapan. Bahwa kebenaran meski membuat seseorang menanggung penderitaan, namun jika diteruskan sampai selesai akan membawa orang pada kebangkitan, hidup baru bersama Allah sesudah kematian. Yesus memperlihatkan bahwa Dia sendiri meski tidak bersalah, namun dipersalahkan oleh pengadilan yang tidak adil. Ketika pengadilan tidak membela orang benar, Tuhan tetap dapat berkarya di dalam diri orang benar sehingga kebenaran tetap bersinar meski di awal kisah ditutup mendung penderitaan.

    Iman Kristiani 

    Pada peristiwa Jalan Salib orang beriman diyakinkan bahwa dosa manusia, tipu daya iblis, penderitaan hingga kematian tidak sanggup mengalahkan kesetiaan kasih Allah pada ciptaan. Sebab ciptaan dicipta untuk dicinta.

    Baca Juga: MENGENAL SOSOK USKUP AGUNG PONTIANAK, MGR. AGUSTINUS AGUS

    Di Jalan Salib, telah terbukti bahwa perjuangan iblis untuk mengalahkan Yesus menjadi sia-sia. Iblis telah mengerahkan segala daya upayanya untuk menakuti Yesus agar membelot dari visi misi kebenaran. Namun usaha itu sia-sia, sebab Yesus menjalani sampai selesai perintah Bapa yaitu menyelamatkan umat manusia. Dengan ketaatan itu Yesus menanggung kematian sementara agar manusia dapat peluang bebas dari kematian kekal.

    Hal ini dapat dimengerti bila kita konsisten pada kisah Alkitab tentang Adam manusia pertama. Adam yang ditempatkan di taman Eden telah melanggar perintah Allah dengan memakan buah terlarang. Dimana sanksinya adalah hukuman mati. Namun hukuman mati itu dibatalkan dengan digantikan anak domba yang terus menerus dikorbankan setiap tahun. Namun hal itu tidak sepadan sehingga pengorbanan itu tak pernah final dan kekal.

    Ciptaan Dicipta Untuk Dicinta

    Namun, Allah tetap mengasihi manusia dan tak ingin ciptaan-Nya musnah. Telah direncanakan-Nya pengganti Adam untuk menjalani sanksi hukuman mati yaitu Yesus Kristus, Putra Allah, yang berhasil memperbaiki kegagalan Adam dalam ketaatan. Itulah sebabnya Yesus disebut Anak Domba Allah, Adam Baru dan Mesias. Ia yang Terurapi, derajat-Nya paling tinggi dari semua manusia di bumi.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus: Jadilah Imam yang Inovatif dan Memiliki Kemampuan Membaca Tanda Zaman

    Pengganti sempurna Adam lama. Dia yang layak menggantikan Adam dan tidak gagal. Seluruh pengorbanan anak domba dalam Perjanjian Lama tidaklah seberharga darah-Nya, Anak Domba Allah. Darah-Nya yang tertumpah telah membasuh luka dan dosa manusia. Di situ juga terungkap bahwa penderitaan orang benar bukanlah aib, melainkan kesaksian akan ketaatan orang pada Allah yang suci.

    Rumah Tuhan yang Telah Lama Dibiarkan Kesepian

    Nama : Yopita Angel,Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswi STKIP Pamane Talino-Ngabang-@komsoskap

    Oleh: Yopita Angel,Prodi  Bahasa Inggris, Semester  IV, Mahasiswi STKIP Pamane Talino-Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Ini kisah ku, kisah dari pengalaman yang aku peroleh saat mengikuti BAKSOS  tepatnya di Dusun Selabih Atas, Desa Sebalo, Kec. Bengkayang, Kab. Bengkayang. Sepuluh hari lamanya kami berada di sana, suka dan duka dilalui bersama anggota yang berjumlah  21 orang.

    Tujuan kehadiran kami di sana adalah membantu masyarakat membangun Gereja, rumah Tuhan yang telah lama dibiarkan kesepian di tengah hutan dan yang telah dimakan rayap.  Selain itu, misi kami ialah menjadi pendamping bagi anak-anak desa yang sudah sekian lama merindukan ocehan dan bentakan guru di sekolah, akibat pandemi Virus Corona.

    Sembari membantu membangun gedung gereja dan mendampingi anak dalam belajar, kami juga belajar bersama dengan para ibu terutama dalam hal melantunkan nyanyian Gereja.

    Mendampingi Belajar

    Di awal perjalanan ketika hendak menuju kampung, hatiku begitu sedih dan gelisah apalagi ketika harus berjalan kaki sejauh 5 km dengan keadaan cuaca yang kurang mendukung, jalan licin, banjir, bahkan sampai melewati tanah longsor di pertengahan jalan.

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus Terima Plakat Professional Award 2021

    Namun kesedihan itupun akhirnya sirna, terutama setelah kusadari bahwa tujuan dari misi kami tidak lain adalah untuk pelayanan dan mewartakan Kerajaan Allah.

    Kebahagiaanku semakin mengebu-gebu yakni ketika menyaksikan semangat masyarakat yang menerima kami dengan penuh ketulusan. Aku dan teman-temanku dijemput dan ditemani dalam berjalan kaki.

    Setelah beberapa hari di tempat BAKSOS, aku sadar bahwa ternyata tidak semua orang bisa seberuntung hidupku. Aku bersyukur dengan apa yang telah kuterima saat ini, apalagi jika dibandingkan dengan keadaan masyarakat yang serba kekurangan.

    Pelayanan dan Mewartakan Kerajaan Allah

    Satu hal yang memberikanku harapan dan optimisme bahwa suatu saat masyarakat di tempat ini bisa maju, yakni ketika melihat semangat belajar anak-anak di sana. Semangat mereka ketika hendak diajak belajar sungguh luar biasa, sampai-sampai makan pun mereka lupa.

    Baca Juga: STKIP Pamane Talino – Ngabang Menjadi Sandaran dan Harapan Masyarakat Kalimantan Barat

    Dari pengalaman yang demikian pula, aku semakin termotivasi untuk belajar lebih giat lagi, terutama menyangkut profesiku yang kelak adalah menjadi seorang guru.

    Pernah suatu ketika aku menyodorkan pertanyaan kepada mereka: “Adik-adik, kira-kira seberapa jauh sih jarak antara rumah kalian dengan sekolah?” Lalu jawab mereka: “Rumah sekolah kami jauh kak, tempatnya di desa Sebalo dan kami harus berangkat dari rumah menuju sekolah pukul 04:00 WIB supaya tidak telat masuk”.

    Mendengar itu, hatiku pun menjadi semakin sedih. Apalagi ketika medengar laporan bahwa banyak anak-anak karena jarak tempuh sekolah sangat jauh akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.

    Menjadi Seorang Guru

    Kurang lebih sembilan hari aku dan teman-temanku berdinamika dalam hal mendampingi anak-anak belajar, perasaan bangga dan senang tentunya senantiasa mengiringi perjuanganku dan teman-teman.

    Paling tidak dari pengalaman itu, aku bisa menemukan banyak hal terutama pengalaman mengajar. Dan dari itu semua aku bisa belajar tentang bagaimana menjadi pribadi yang selalu percaya diri. Setelah mengajar, aku dan teman-teman perempuan lainnya pergi ke lokasi pembangunan gereja untuk membantu teman-teman yang laki-laki mencangkul dan mengangkut tanah.

    Baca Juga: Memaknai Arti Hidup dan Cinta Kasih Tuhan

    Meskipun memikul beban berat, letih dan sebagainya, tetapi semangatku dan teman-teman tidak pudar, apalagi disetiap moment selalu dihiasi dengan canda tawa bersama.

    Dan pada akhirnya, aku pun sadar bahwa kasih Tuhan begitu nyata dalam hidupku. Dia selalu menghadirkan orang-orang yang mau mengasihi dan menyayangiku,  itu sangat terbukti karena disana  aku bertemu dengan seorang ibu yang sudah menganggap ku sebagai anak kandungnya sendiri.

    Berdinamika

    Aku bahagia sekali bisa mengenal bahkan bertemu dengan nya. Dan aku juga bangga  bisa bersama Anak-anak IMK STKIP Pamane Talino, tanpa mereka aku bukan siapa-siapa, aku diterima dengan baik seperti keluarga sendiri, untuk Fr. Ardi aku juga banyak mengucapkan terima kasih.

    “Kebersamaan itu seperti permulaan, kemudian menjaga kebersamaan merupakan kemajuan dan bekerja bersama merupakan keberhasilan.” – Henry Ford…. Terima kasih untuk kebersamaannya selama sepuluh hari.

    Beratapkan Langit dan Beralaskan Bumi

    Nama: Yolanda Maranata, Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswi STKIP Pamane Talino -Ngabang-@komsoskap

    Oleh: Yolanda Maranata, Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswi STKIP Pamane Talino-Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Pelaksanaan BAKSOS di stasi St. Matius, di wilayah Paroki St. Pius X Bengkayang adalah lembaran baru bagi pengalamanku. Pengalaman yang tentunya tidak bisa kulupakan begitu saja.

    Meskipun letih dan lesu mengawali perjalananku, terutama perjalanan ketika keberangkatanku dan teman-teman ke stasi tersebut.

    Ada banyak hal indah yang kualami meskipun telapak kaki selalu dilumuri lumpur dan ditemani gelap gulita karena tak berlistrik. Panorama keindahan itu terlukis pada raut wajah umat yang menyambut dan menemani dinamika keseharian kami selama sepuluh hari di tempat ini.

    Baca Juga: “SEMAKIN BERIMAN SEMAKIN MEMILIKI ROH KESETIAKAWANAN”

    Dan biasannya dalam beberapa detik notifikasi smart phone selalu mengingatkan kami akan pesan-pesan baik suka maupun duka, di saat ini kami terpaksa harus beranjak untuk keluar dari kesibukan-kesibukan kami demi satu tujuan, tujuan yang membawa orang pada yang namanaya kebahagiaan.

    Membantu membangun rumah Tuhan adalah prioritas utama kami di tempat ini. Kami semua merasa terpanggil untuk memperbaiki rumah-Nya yang saat ini “beratapkan langit dan beralaskan bumi”.

    Beratapkan Langit dan Beralaskan Bumi

    Bangun pagi yang biasa jarang kulakukan, namun harus pula kulakukan. Tempat ini mengajariku untuk tidak terus bertahan dalam hangatnya selimut melainkan membiarkan embun membasahi sekujur tubuhku, membiarkan asap memerihkan mataku dan membiarkan aroma bumbu melekat di jemariku.

    Tempat ini mengajariku juga untuk menjadi pribadi yang tidak cengeng dan manja. Tempat ini mengajariku menjadi pribadi yang kuat. Dan tempat ini membuka kesadaran kepadaku bahwa hidup ternyata tak selamannya nyaman.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Tegaskan: Jadilah Imam Pembawa Perubahan

    Akan tetapi meskipun demikian, tak selamannya nyaman tetapi aku bersyukur bahwa di balik itu semua masih ada orang-orang yang memiliki hati dan kepedulian yaitu teman-temanku di IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik).

    Dari mereka aku belajar bahwa kekompakan itu adalah kunci keberhasilan. Dari kekompakan lahir yang namannya kepedulian dan kerendahaan hati. Ketika ada teman yang mengalami sakit, spontan yang lain langsung mengambil sikap untuk segera menolong.

    Kepedulian dan Kerendahaan Hati

    Ketika ada teman yang mulai marah, spontan semuannya memilih sikap untuk diam demi meredam kemarahannya. Ketika ada teman yang bercerita, spontan yang lain langsung menghentikan seluruh akrivitas pribadi untuk fokus mendengarkan.

    Dan ketika ada yang mengawali dan mengakhiri semuannya dengan doa, spontan yang lain mengambil sikap yang sama. Pengalaman kebersamaan ini telah membuat aku menjadi nyaman, nyaman karena kami semua adalah bersaudara.

    Baca Juga: Saya Semakin Yakin Bahwa Tuhan Tidak Diam

    Dan persaudaraan ini pulalah yang membuat kami menjadi kuat dan semangat, terutama dalam mendampingi anak-anak Allah untuk belajar segala hal. Belajar membaca, menulis, dan bagaimana berperilaku baik dan sehat.

    Di tempat ini juga, anak-anak Allah juga telah banyak mengajariku untuk menjadi seorang mahasiswa yang cerdas dan tangguh. Cita-cita dan harapan mereka telah memacu semangatku untuk menjadi orang yang berguna kelak.

    Persaudaraan dan Doa

    Semua itu mengajariku tentang bagaimana menjadi manusia yang mau bersyukur atas hidup yang hinga kini masih kualami.

    Ingat, “kemarin adalah sejarah, hari ini adalah hadiah, dan besok adalah misteri”. Belajar dari kemarin, berterima kasih untuk hari ini, dan bersiap-siap untuk besok. Terima kasih pengalamanku. Terkenang salamku untuk dusun Selabih Atas.

    Memaknai Arti Hidup dan Cinta Kasih Tuhan

    Nama: Yanto, Prodi Matematika, Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang-@komsoskap

    Oleh: Yanto, Prodi Matematika, Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Pada Kamis, 4 Februari 2021 aku bersama Fr. Ardi dan anggota IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik) melaksanakan BAKSOS (Bakti Sosial) di desa Sebalo, dusun Selabih Atas, kab. Bengkayang.

    BAKSOS yang kami lakukan berupa pembangunan gereja stasi st. Matius, pernah tertulis: ”beratapkan langit beralaskan bumi” (kondisi gereja yang tidak memungkinkan lagi untuk ditempati).

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19

    Semangat kami semakin berkobar-kobar ketika menyaksikan semangat dari umat yang begitu tangguh dalam memuliakan nama Tuhan. Semangat mereka tidak padam, meskipun keadaan gereja mereka tidak layak pakai.

    Memuliakan Tuhan dengan Pelayanan 

    Dalam perjalanan menuju dusun Salabih Atas, kami begitu banyak mendapat pengalaman, mulai dari senang hingga pada pengalaman susah. Ada teman yang mabuk, karena tidak kuat naik mobil, ada yang letih karena harus berjalan kaki sekitar kurang lebih 5 kilo.

    Baca Juga: OMK Santo Mikael Jagoi Babang Salurkan Bantuan Pada Korban Banjir di Desa Tadan, Kec. Seluas, Kab. Bengkayang

    Tetapi itu tidak menjadi masalah bagi kami, sebab dengan semangat iman yang teguh kami yakin kami bisa menghadapi segala rintangan yang ada.

    Musibah di dusun Selabih Atas sangat memperihatinkan, longsor yang menimpa akses jalan dan yang menghentikan seluruh rutinitas perekonomian masyarakat. Melalui pengalaman inilah saya sadar bahwa betapa susahnya ketika mengalami musibah.

    Dan bagi saya, musibah itu telah memperlengkap penderitaan masyarakat Selabih Atas, apalagi melihat situasi dan kondisi gedung gereja yang sungguh sangat memprihatinkan.

    Kondisi gereja yang atapnya bocor, lantainya masih tanah dan dinding papan yang sudah lapuk, membuat hati saya menjadi terharu. Dari pengalaman itulah saya kemudian yakin bahwa Tuhan pasti memberikan jalan terbaik untuk umat-Nya.

    Semangat Iman 

    Dari hari pertama hingga pada hari perpisahan yakni pada Minggu, 14 Febuari 2021, kami kembali ke Ngabang. Perasaan bahagia yang tercampur kesedihan membuat hati saya menjadi berat terutama ketika harus meninggalkan mereka.

    Baca Juga: Rencanaku Terkadang tak Sejalan dengan Rencana-Mu

    Di satu sisi kami juga harus kembali ketempat kami masing-masing, akan tetapi di sisi lain berat rasannya meninggalkan mereka.

    Banyak pengalaman yang berkesan yang tentunya memberikan kesadaran kepada saya bahwa bahagia dalam kesederhanaan membuat kami  bisa memaknai arti hidup dan cinta kasih Tuhan. Meskipun berada dalam keadaan yang serba terbatas yaitu tidak ada jaringan, tidak ada penerangan. Tetapi kami sama sekali tidak menyerah.

    TERBARU

    TERPOPULER