Monday, May 4, 2026
More
    Home Blog Page 159

    Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Konggregasi Bruder Maria Tak Bernoda- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Sebagaimana kata bijak yang berbunyi “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Hal serupa inilah yang dilakukan oleh para bruder-bruder dalam jejak misi pendidikan di Borneo, terutama di Kalimantan Barat.

    Catatan-catatan itu kini menjadi bukti rekam jejak dari gambaran perjuangan missionaris Negeri Belanda ke Indonesia untuk misi kemanusiaan dan mencerdaskan orang pribumi. Bruder Maria Tak Bernoda yang kerap di singkat MTB ini berkarya sesuai dengan ciri khas mereka yakni menjadi bruder yang melayani dalam pendidikan dan pengabdian untuk masyarakat.

    Baca Juga: Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    Jika ditinjau lebih dalam sejarah Kongregasi MTB Kongregasi Bruder MTB didirikan pada tanggal 25 September 1854 oleh Mgr. Van Hooydonk Uskup Breda. Kongregasi ini mewarisi semangat Mgr. J. Van Hooydonk, yaitu: Simpliciter et Confidenter”, yang dengan kepekaan hati menanggapi situasi zamannya.

    Seturut teladan Santo Fransiskus Assisi

    Dikutip dari Website Bruder Maria Tak Bernoda, para pendahulu kongregasi adalah orang-orang saleh sederhana, peka akan kebutuhan sesama dan tabah menanggung penderitaan hidup. Mereka berusaha hidup menjadi saudara bagi yang lain.

    Lewat keutamaan Santa Perawan Maria dan Santo Fransiskus Assisi, mereka berupaya mewujudkan kemuliaan Allah, khususnya dalam pembinaan kaum muda, serta mengutamakan mereka yang miskin dan lemah.

    Santa Maria Perawan dan Bunda Allah yang dikandung tanpa noda adalah pelindung kongregasi ini.

    Para Bruder hendak meneladani Santa Perawan Maria yang menyebut dirinya “Hamba Tuhan” dalam penghayatan ketaatan, kemiskinan dan kemurnian.

    Baca Juga: Kisah Sang Missionaris Bruder Rufinus, MTB berbakat musik, suaranya merdu dan Baik hati

    Sebagai anggota Ordo Ketiga Regular, para bruder mengikuti Yesus Kristus dengan berpegang teguh pada teladan Santo Fransiskus Assisi. Mereka berusaha mewujudkan nilai-nilai pertobatan, kemiskinan, kedinaan dan kontemplasi dalam hidup dan karya mereka.

    Para Bruder hendak memelihara khazanah warisan kongregasi ini dengan mengikuti teladan pendiri dan pendahulu sesuai dengan kenyataan semasa. (Sumber: Bruder Rafael, MTB- Diolah: Semz- MD).

    Bahas Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    Komisi Komunikasi Sosial keuskupan Agung Pontianak- Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus menemui Gubernur Kalbar Sutarmidji membahasa Polemik Penerimaan CPNS dan PPPK Guru Agama di Kalbar, Jumat (30/5)

    MajalahDUTA.Com, PONTIANAK, Jumat (28/05/2021), Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus beserta sejumlah tokoh pastor dan agama melakukan audensi kepada Gubernur Kalbar Sutarmidji, Jumat pagi (28/5/2021) di Pendopo Kantor Gubernur Kalimantan Barat. Pertemuan tersebut dalam rangka membahas polemeik penerimaan guru agama melalui CPNS maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

    Dalam kesempatan itu Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus didampingi oleh Pastor Paroki Katedral St Yosef, Pontianak, RD Alexius Alex Mingkar. Hadir pula RP Aloysius HO Tombokan MSC, RP Astanto CM, RP Leonard Paskalis Leo OFMCap.

    Selain itu hadir pula Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Kalbar Pdt. Paulus Ajong, Sekum PGIW Kalbar Pdt Filemon Adi Sukardi, Wakil Sekum PGIW Kalbar Pdt Emma dan Ketua Bidang Keesaan Pdt Henny Katuuk. Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Ketua DPRD Provinsi Kalbar Kebing Lyah.

    Mgr Agustinus Agus menyampaikan terima kasih kepada Gubernur karena sudah menerima dialog bersedia memberikan penjelasan terkait polemik yang sedang hangat. Mgr Agustinus Agus mengatakan bahwa pada dasarnya siapa pun Gubernurnya maka itulah pemimpin, orang tua yang harus didukung selama kepemimpinannya. “Kemudian sebagai masyarakat kita harus kritisi kalau memang kebijakan itu tidak berpihak bagi orang banyak,” katanya.

    Uskup Agung Pontianak dalam wawancara mengungkapkan sebagai masyarakat, tentu harus memikirkan masa depan negara. Selama ini banyak kegaduhan-kegaduhan yang ujung-ujungnya membuat kerugian bagi banyak masyarakat. Yang harusnya masalah substansi yang harus selesai jadi tidak terselesaikan.

    “Oleh karena itu paling tidak saya bertanggung jawab untuk umat saya dalam mencari motif informasi di belakang itu. Baik dari pijakan pemerintah itu seperti apa? Supaya disampaikan dengan benar. Andai kata disampaikan dengan benar ada kekeliruan dan kekurangan, mari kita beri masukan,” tambahnya.

    Uskup Agung Pontianak juga mengungkapkan bahwa negara ini sangat banyak problem, baik dari kemiskinan, disintegrasi dan vkelompok-kelompok yang garis keras. “Jadi inikan masalah kita bersama, untuk itu jangan karena hal kecil yang seharusnya bisa diselesaikan melalui dialog, kita selesaikan di jalan,” ujar Uskup.

    Baca Juga: Bagaimana melawan kemalasan bersama St. Jerome

    Jika ada polemik, Uskup menggaris bawahi, ia termasuk tidak suka aksi yang demo-demo semacam itu, karena ujung-ujungnya siapa yang diuntungkan. Uskup melanjutkan, jangan-jangan ada kelompok tertentu yang memang sengaja buat kegaduhan. “Maka saat ketua PGI bicara dengan saya apakah gereja harus memberikan pernyataan sikap dan saya katakan ‘jangan,’” katanya.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, mengingatkan bahwa lihat dulu, setiap pemimpin pasti punya kebijakan dan masyarakat harus dengar. Karena pimpinan yang punya kebijakan, untuk itu  punya hak dalam menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.

    Uskup berterima kasih nyatanya Gubernur merespon hal ini dan Uskup Agung Pontianak berharap kedepan harus selalu koordinasi seperti ini.

    Jika ada masalah, lanjut Uskup, “saya harapkan tokoh-tokoh agama harus juga memaklumi anak muda. Dan saya mengerti anak-anak muda yang penuh idealis kadang-kadang ada ide-ide mereka yang seakan-akan tersumbat, tentu kita bisa maklumi.”

    Uskup Agung Pontianak berpesan, bagi pihak pemerintah maupun tokoh yang adalah sebagai orang tua, tentu harus menyikapi secara bijaksana.

    Dalam pesannya, Mgr Agustinus Agus mengungkapkan setiap masyarakat juga punya hak untuk memperjuangkan keadilan, “tetapi saya selalu mengatakan, tidak ada pemimpin yang sempurna didunia ini. Pasti ada kelemahan disana-sini dan kelemahan itulah yang kita harus cari penyelesaiannya,” tambahnya.

    Dalam pertemuan Jumat tersebut, gubernur sudah menjelaskan ini dan ini memang kebijakan pusat, kalau memang ada kemungkinan untuk tambah guru dan sebagainya tentu dia akan usahakan seperti itu, tapi untuk ini kan pegawai pusat.”

    Uskup melanjutkan, karena hal ini tergantung anggaran, begitu juga dengan pegawai daerah tentu berdasarkan anggaran daerah. Jadi banyak faktor, disini juga sudah ada daftar berapa kebutuhan guru Islam, Katolik dan sebagainya. Berapa yang harus dipenuhi, dan saya sangka kalau target ini dia kejar itu justru sudah sangat baik.  “Maka itu dapat diakomodir semua untuk kebutuhan masyarakat banyak,” kata Uskup.

    Menutup wawancaranya, Uskup Agung Pontianak mengatakan “kita terpanggil untuk menjadi negara yang baik, damai dan berkeadilan.”

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Kurangnya Tenaga Imam

    Menyikapi isu harus bijaksana, masyarakat harus memberikan kesempatan kepada orang yang memberikan kebijakan untuk memberi penjelasan. Kemudian setelah ada penjelasan “tentu kalau ada penjelasan yang kurang memuaskan harus diberi masukan, karena demokrasi memang harus seperti itu,” tambahnya.

    Kepada media, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, mengatakan ia lebih menempuh upaya dialog terkait persoalan guru agama di Kalbar. Sehingga semua persoalan bisa dibicarakan.

    Polemik Formasi

    Sebelumnya, sejumlah kalangan menyikapi dan mempertanyakan terkait dengan formasi ASN untuk guru agama di tingkat Provinsi Kalbar. Ada pun yang menjadi polemik adalah terkait dengan formasi guru agama non Islam. Karena Pemprov sekarang ada menerima formasi guru agama P3K, tenaga kontrak, hanya ada yang guru agama Islam, guru agama lain nihil atau nol.

    Guru Agama

    Pertemuan dengan Gubernur Kalbar Sutarmidji tersebut, diawali oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, perihal maksud kedatangan Tim Keuskupan dan PGIW yaitu ingin mendengar penjelasan langsung dari Pak Gubernur terkait formasi CPNS & PPPK Guru Agama selain Agama Islam yang telah menimbulkan gejolak di masyarakat.

    Sementara itu Ketua PGIW Kalbar Paulus Ajong juga meminta penjelasan dari Gubernur Kalbar, tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah pengajuan quota CPNS & PPPK ke KEMENPAN-RB sudah mengakomodir kebutuhan semua agama? Lalu kenapa muncul quota dari KEMENPAN-RB terkesan tidak adil? Apakah perlu ditunda tes CPNS sekaligus diajukan revisi quota untuk mengakomodir kebutuhan formasi semua Guru Agama?

    Selanjutnya Gubernur Kalbar menjelaskan, bahwa data pengajuan quota CPNS & PPPK sudah disampaikan di hadapan Sidang istimewa DPRD Provinsi Kalbar. Dalam Sidang itu diajukan quota seperti dalam naskah Sidang DPRD Provinsi Kalbar, sbb:

    “Pemerintah pusat memberikan formasi dengan menghitung jumlah siswa dalam satu rombongan belajar terdiri dari 36 siswa, dibawah itu tidak mendapatkan formasi,” kata Sutarmidji.

    Adapun hasil dari data yang beredar selama ini informasi data yang diserahkan oleh Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat yakni bahwa Pemerintah Provinsi hanya diberikan kewenangan mengusulkan formasi untuk guru mata pelajaran umum, sedangkan kebutuhan guru agama menjadi ranah kewenangan Kementrian Agama.

    Pada saat ini, guru agama PNS yang bertugas di satuan pendidikan SMA dan SMK di Provinsi Kalimantan Barat sebanyak 393 (Tiga ratus sembilan puluh tiga) orang terdiri dari:

    1. Guru agama Islam sebanyak 198 (Seratus sembilan puluh delapan) orang;
    2. Guru agama Katholik sebanyak 91 (Sembilan puluh satu) orang;
    3. Guru agama Kristen sebanyak 29 (Dua puluh sembilan) orang;
    4. Guru agama Konghucu sebanyak 68 (Enam puluh delapan) orang, dan
    5. Guru agama Buddha sebanyak 7 (Tujuh) orang.

    Perlu disampaikan pada kesempatan yang mulia ini terkait dengan pembinaan guru agama, peran Pemerintah Daerah hanya melakukan pembayaran gaji, sedangkan pembinaan administrasi dan akademik dilakukan oleh Kementrian Agama, seperti memfasilitasi tahapan rangkaian guru agama yang berada di sekolah umum untuk mendapatkan sertifikas mulai dari pendaftaran di aplikasi sistem informasi Guru Agama (SIAGA), pengusulan dalam nomor unit Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK), memfasilitasi keikutsertaaan dalam pre tes Pendidikan Profesi Guru (PPG) sampai dengan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan PPG dalam jabatan.

    Baca juga: Mgr Agustinus Larang Orang Muda Katolik Ikuti Praktik Ilmu Kebal

    Sejalan dengan itu ada juga pengusulan guru agama untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi guru, serta memfasilitasi keikutsertaan berbagai kegiatan bimbingan teknis dalam rangka peningkatan kompetensi guru agama.

    Pemerintah pusat dalam memberikan formasi dengan menghitung jumlah siswa dalam satu rombongan belajar, satu rombongan belajar terdiri dari 36 (tiga puluh enam) siswa, apapabila jumlah siswa dalam satu rombongan belajar tidak cukup maka formasi tidak diberikan.

    Ketentuan dalam pemberian tunjangan sertifikasi guru dilakukan dengan menghitung jumlah jam mengajar.

    Jam mengajar seorang guru minimal 24 (dua puluh empat) jam dalam satu minggu, sehingga apabila jam mengajar seorang guru kurang dari 24 (dua puluh empat) jam per minggu, maka guru tersebut tidak dapat memperoleh tunjangan sertifikasi.

    Karena itu, apabila dalam satu sekolah yang mengamapu satu mata pelajaran tertentu lebih dari satu orang pada hal menurut perhitungan di sekolah tersebut hanya memerlukan saatu orang guru yang mengampu mata pelajaran tersebut, bisa berakibat guru lain yang memperoleh tunjangan sertifikasi, dengan demikian jumlah guru di suatu sekolah benar-benar harus dihitung jam mengajarnya agar tidak ada yang merasa dirugikan.

    Demikian paparan data siswa menurut agama yang dianut di sekolah negeri tingkat SMA, SMK dan SLB di Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut. Untuk Agama Islam 91.971 (Sembilan puluh satu ribu sembilan ratus tujuh puluh satu) siswa. Untuk Agama Kristen 19.532 (Sembilan belas ribu lima ratus tiga puluh dua) siswa.

    Untuk Agama Katolik 37.585 (Tiga puluh tujuh ribu lima ratus delapan puluh lima) siswa. Agama Hindu 86 (Delapan puluh enam) siswa. Agama Buddha 2.396 (Dua ribu tiga ratus sembilan puluh enam) siswa dan Agama Konghucu 44 (Empat puluh empat) siswa.

    Dengan data jumlah siswa dimaksud, bisa dihitung kebutuhan guru agama, sebagai berikut:

    1. Guru Agama Islam untuk 91.971 (Sembilan puluh satu ribu sembilan ratus tujuh puluh satu) siswa dibagi satu rombongan belajar 36 (Tiga puluh enam) siswa dan dibagi 8 (Delapan) kelas diperoleh hasil 319 (Tiga ratus sembilan puluh satu) guru Agama Islam;
    2. Guru Agama Kristen untuk 19.532 (Sembilan belas ribu lima ratus tiga puluh dua) siswa dibagi satu rombongan belajar 36 (Tiga puluh enam) siswa dan dibagi 8 (Delapan) kelas diperoleh hasil 68 (Enam puluh delapan) guru Agama Kristen;
    3. Guru Agama Khatolik untuk 37.585 (Tiga puluh tujuh ribu lima ratus delapan puluh lima) siswa dibagi satu rombongan belajar 36 (Tiga puluh enam) siswa dan dibagi 8 (Delapan) kelas diperoleh hasil 130 (Seratus tiga puluh) guru Agama Katholik;
    4. Guru Agama Hindu untuk 86 (Delapan puluh enam) siswa dibagi satu rombongan belajar 36 (Tiga puluh enam) siswa dan diperoleh hasil 3 (Tiga) guru Agama Hindu yang mengajar di Ketapang 10 (Sepuluh) siswa, Kayong Utara 27 (Dua puluh tujuh) siswa dan Kubu Raya 19 (Sembilan belas) siswa.
    5. Guru Agama Buddha untuk 2.396 (Dua ribu tiga ratus sembilan puluh enam) siswa dibagi satu rombongan belajar untuk 36 (Tiga puluh enam) dan dibagi 8 (Delapan) kelas diperoleh hasil 8 (Delapan) guru Agama Buddha.
    6. Guru Agama Konghucu untuk 44 (Empat puluh empat) siswa memerlukan 1 orang guru Agama Konghucu.

    Berdasarkan data kebutuhan guru agama tersebut di atas, dibanding dengan guru agama PNS yang sudah ada, maka masih diperlukan penambahan guru agama sebagai berikut:

    1. Guru Agama Islam yang diperlukan 319 (Tiga ratus sembilan belas) orang, sedangkan yang sudah ada 198 (Seratus sembilan puluh delapan) orang, maka masih diperlukan tambahan sebanyak 121 (Seratus dua puluh satu) orang;
    2. Guru Agama Kristen yang diperlukan 68 (Enam puluh delapan) orang, sedangkan guru yang sudah ada sebanyak 29 (Dua puluh sembilan) orang, maka perlu tambahan 39 (Tiga puluh Sembilan) orang;
    3. Guru Agama Katholik yang diperlukan 130 (Seratus tiga puluh) orang, sedangkan guru yang sudah ada sebanyak 91 (Sembilan puluh satu) orang, maka perlu tambahan 39 (Tiga puluh sembilan) orang;
    4. Guru Agama Hindu yang diperlukan 3 (Tiga) orang, sedangkan guru Agama Hindu belum ada, maka perlu tambahan 3 (Tiga) orang;
    5. Guru Agama Buddha yang diperlukan 8 (Delapan) orang, sedangkan yang sudah ada sebanyak 7 (Tujuh) orang, maka perlu tambahan 1 (satu) orang;
    6. Guru Agama Konghucu diperlukan 1 (satu) orang, sedangkan yang sudah ada sebanyak 68 (Enam puluh delapan) orang, sehingga kelebihan sebanyakk 67 (Enam puluh tujuh) orang.

    Untuk guru agama Konghucu yang saat ini kelebihan sebanyak 67 (Enam puluh tujuh) orang perlu Saya beritahukan bahwa semula adalah guru agama Konghucu PNS Kabupaten dan Kota se Kalimantan Barat yang mengajar di sekolah negeri SMA dan SMK, akibat perubahan kewenangan pengelolaan SMA dan SMK beralih menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi, secara otomaatis pengelolaan Personil, Pendanaan, Prasarana/Sarana dan Dokumen (P3D) SMA dan SMK beralih menjadi P3D Pemerintah Provinsi.

    Baca Juga: Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    Mengingat seleksi guru PPPK akan dilakukan dalam 3 tahun, maka kekurangan guru agama PPPK yang ada pada satuan pendidikan akan dikoordinasikan pengusulannya dengan Kementrian Agama untuk dapat dipenuhi penerimaannya pada tahun 2022 dan 2023.

    Sehubungan dengan penjelasan di atas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat tidak akan menunda pelaksanaan seleksi CPNS dan PPPK sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh Kementrian Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi karena apabila ditunda akan merugikan masyarakat Indonesia pada umumnya masyarakat Kalimantan Barat terutama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dianggap tidak bisa melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. (L). 

    Bagaimana melawan kemalasan bersama St. Jerome

    Barbari, Jacopo de': Saint Jerome Saint Jerome, engraving by Jacopo de' Barbari, 1501/1504; in the collection of the National Gallery of Art, Washington, D.C. Courtesy National Gallery of Art, Washington, D.C. (Ailsa Mellon Bruce Fund;1989.18.1)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Orang-orang kudus dapat mengajari kita bagaimana mengelola emosi kita dan menghadapi pergumulan. Artikel ini dirilis di media Aleteia pada 05/29/21 yang ditulis oleh Mathilde De Robien.

    Dalam tulisannya itu, dia menyajikan salah satu seri artikel tentang bagaimana para waligereja dapat membantu umatnya mengatasi keburukan dan mempraktikkan kebajikan.

    Dipandu oleh Edwige Billot, penulis buku terbaru tentang bimbingan dari para santo tentang cara menangani emosi (diterbitkan dalam bahasa Prancis: “Et si les saints nous coachaient sur nos émotions? ”).

    Kemalasan, ibu dari segala kejahatan

    Penundaan, kemalasan, kemalasan… Ini adalah godaan yang akrab bagi manusia dan tentu hal ini perlu diperangi. Bagi St. Paulus kemalasan adalah dosa melawan kasih.

    “Dengan tidak melakukan apa yang diharapkan dari kita, kita menyakiti orang lain dan diri kita sendiri, karena kita tidak menggunakan bakat kita,” kata Edwige Billot. Selain itu, kemalasan berbahaya sejauh itu memfasilitasi godaan.

    Hikmat populer memperingatkan “Kemalasan adalah ibu dari semua kejahatan.” Hal itu bukan satu-satunya sumber yang memberikan peringatan. Kitab Suci sudah jelas mengatakan:

    Seorang pemalas mirip dengan batu yang kotor, siapa saja bersiul karena jijiknya. Seorang pemalas mirip dengan sekepal kotoran, siapa saja menyentuhnya mengebaskan tangannya. (Sir 22:1-2)

    Keinginan orang malas berakibat fatal, karena tangan malas menolak untuk bekerja. (Amsal 21:25)

    Alkitab memuji wanita “yang tidak makan roti kemalasan.” (Amsal 31:27)

    St. Paul sama sekali tidak lembut pada orang-orang malas yang melalaikan tugas mereka sambil menikmati hiburan:

    “Siapapun yang tidak mau bekerja sebaiknya tidak makan. Karena kami mendengar bahwa beberapa dari Anda hidup dalam kemalasan, hanya orang-orang yang sibuk, tidak melakukan pekerjaan apa pun. Sekarang orang-orang seperti itu yang kami perintahkan dan kami anjurkan dalam Tuhan Yesus Kristus untuk melakukan pekerjaan mereka dengan tenang dan untuk mencari nafkah sendiri. ” (2 Tesalonika 3: 10b-12).

    St. Jerome yang merupakan seorang doktor Gereja dan penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Latin pada abad ke-5, berbicara tentang kejahatan kemalasan dan pentingnya menjaga kesibukan. Dalam sebuah surat kepada Rustics (125), dia berkata,

    “’Setiap orang yang menganggur adalah mangsa keinginan yang sia-sia.’ Di Mesir, biara-biara membuat aturan untuk tidak menerima siapa pun yang tidak mau bekerja; karena mereka menganggap kerja sebagai hal yang perlu tidak hanya untuk menopang tubuh tetapi juga untuk keselamatan jiwa. ”

    Untuk tujuan ini, ia merekomendasikan pengobatan yang sempurna untuk tidak jatuh ke dalam godaan yang terkait dengan kemalasan: Tetap bertindak setiap saat, sehingga iblis tidak memiliki kesempatan untuk merebut momen kosong. “Hiduplah sedemikian rupa sehingga iblis akan selalu menemukan Anda sibuk,” tulisnya.

    Jika kita sibuk melakukan kebaikan, maka kita menjadi kurang tersedia untuk permohonan kejahatan. Ini adalah nasihat yang bisa kita ingat hari ini juga. (Sumber: Aleteia, by: Mathilde De Robien- diolah kembali: Semz-MD).

    Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    (Menyambut 100 Tahun Bruder MTB di Indonesia. 1921 – 2021)- Dokumen Bruder MTB- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder (YPSB) ini merupakan Lembaga Pendidikan Katolik yang  menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal  bersifat keagamaan, sosial (pendidikan) dan kemanusiaan  dengan memberikan pelayanan yang memberdayakan kepada  mereka yang miskin dan lemah khususnya pembinaan  kaum muda yang berkesinambungan  dan sesuai dengan arah serta  tujuan  karya Yayasan Pendidikan  Sekolah Bruder. ( bdk. Mukadimah; Tambahan Berita-Negara R.I tanggal 08/7 – 2008 No. 55).

     Artikel ini diambil dari sebuah refleksi dalam menyambut 100 Tahun Bruder MTB di Indonesia. 1921 – 2021 yang dirilis dari Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder (YPSB) yang ditulis oleh Br. B. Sukasta, MTB.

    Kegiatan tersebut  merupakan  bentuk partisipasi yayasan dalam  upaya   mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

    Kegiatan partisipasi ini menjunjung tinggi tiga hal pokok sebagai acuan pengelolaan pendidikan sesuai dengan Nota Pastoral Tentang Pendidikan sebagai kekhasan dan inti pendidikan Katolik, yakni: Setia pada usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, Setia pada Ketentuan dan Ajaran  Gereja, dan Setia pada Semangat Luhur (Spiritualitas) Pendiri.

    Baca Juga: Kisah Sang Missionaris Bruder Rufinus, MTB berbakat musik, suaranya merdu dan Baik hati

    Ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yang integral dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. (Sumber: Nota Pastoral 2008:7-8).

    Dalam karya kerasulan, YPSB dijiwai oleh semangat “Menjadi Hamba Tuhan Demi Kemuliaan Allah Dalam Persaudaraan Injili dan dalam kesederhanaan – kepecayaan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia”.

    YPSB memberikan pelayanan yang memberdayakan yang miskin dan lemah khusunya kaum muda.

    Kaum Muda dalam binaan Semangat Bruder MTB

    Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa mulai di Belanda sejak awal tahun 1800an, para   bruder Maria Tidak Bernoda (MTB)  memiliki   perhatian yang tinggi  pada kaum muda.

    Perhatian pada yang muda telah dilakukan oleh para bruder waktu itu  dengan  “mengambil tindakan tegas untuk memberantas kenakalan di jalan dan ladang – ladang”… sedangkan di luar sekolah tentu saja selain asrama,   para bruder mengembangkan karya kepemudaan seperti: Pramuka, ‘Jonge Wacht’ dan Koor Gereja.

    Sejalan dengan itu untuk di Indonesia  para bruder sejak awal  kehadirannya pada 1900an tetap memperhatikan kaum muda dengan menangani asrama dan sekolah/pendidikan formal.

    Sekolah-sekolah tersebut  misalnya ‘Hollans Chinese School (HCS)’ dan Sekolah berbahasa Cina di Singkawang (Rob Wolf dalam Huijbergen Dan Ujung-ujung Dunia, 2004:162).

    Perhatian para bruder MTB pada kaum muda berkesinambungan sehingga menjadi perhatian dari awal sampai saat ini.

    Secuplik rintisan jejak pendidikan Bruder MTB

    Tahun 1950 an sampai tahun 1960an kongregasi bruder MTB di Belanda berkembang, saat itu Sekolah Dasar (SD) ada 27 unit  dan Sekolah Menengah Pertema (SMP) 5 unit.

    Tidak lama bertahan karena  sejak tahun 1970 an beberapa rumah biara/komunitas  di Belanda ditutup dengan dampak   karya-karya sekolah  kemudian juga tutup, karena berbagai alasan. Menjelang akhir tahun 1900 an dan awal tahun 2000 an para bruder tidak lagi menangani sekolah atau asrama,  karya yang telah sekian ratus tahun digelutinya.

    Baca Juga: HUT Tahbisan Episkopal ke-45 Emerius Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM. Cap- Keuskupan Agung Pontianak

    Meski semua karya di Belanda tidak ada lagi   tetapi “roh perhatian kepada  kaum muda”  selalu muncul; tidak putus dan tetap hidup. Selain  tercantum secara jelas  dalam naskah-naskah  seperti pada Anggaran Dasar Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder (naskah disusun  oleh Br. Gabriel RT MTB, Br. Bram H MTB dan Br. Petrus MTB; seperti tercantum dalam lembar berita ) yang disahkan oleh Direktorat Jendral Administrasi Hukum Umum pada tanggal 08/7 – 2008 N0. 55, pada bagian mukadimah.

    Dalam pertemuan-pertemuan yang bersifat pembinaan, pendampingan atau pemberdayaan masyarakat gereja, kata  “kaum muda” disebut-sebut  dalam suatu diskusi; misalnya saja pada  pertemuan Panitia   APP Regio Kalimantan 2019, tanggal 23 Oktober 2018’ di kantor PSE KA. Pontianak, Br. Krispinus, MTB; Ketua PSE KA. Pontianak,  mengemukakan bahwa “Wajah Gereja dapat disaksikan pada siswa – siswi  Sekolah Katolik, mereka adalah ‘kaum muda’  sebagai   wajah  Gereja masa depan”.

    Semangat misi memanusiakan manusia

    Akhir tahun 1800 an dan awal tahun 1900 an,  para bruder yang berkarya di sekolah formal mendapat nama harum sebagai “guru dan pendidik”, ini disebabkan banyak bruder yang belajar di  Sekolah Guru (Normaalschool dan Kweekschool) milik kongregasi dan menghasilkan banyak bruder-guru muda dan mendapat tugas  mengajar di banyak SD, SMP dan Sekolah Luar-biasa  ( Rob Wolf, Huijbergen dan ujung-ujung dunia, 2004: 21).

    Di Indonesia pada awal kehadirannya para bruder yang datang sebagai misionaris juga  berusaha  mencerdaskan kaum muda  melalui pendidikan formal. Sebut saja beberapa bruder pendahulu yang setia menekuni tugasnya sebagai guru atau Kepala Sekolah. Tahun 1937 Br. Bruno dan  para bruder lainnya mengelola Sekolah Dagang (Handelschool). Sebelumnya pada tahun 1934 Br. Canisius mendirikan sekolah Hoy Sen (Bintang Laut) di daerah Siantan. Sekolah itu sekarang dikenal dengan nama SD Bruder Kanisius.

    Tahun 1951/1952 Br. Emmanuel Compiet mendapat ijin mendirikan Sekolah Menengah Umum (SMU) di Pontianak,  dan Br. Libertus menjadi Kepala Sekolah, bruder lain; Br. Emmanuel, Br. Bertrandus dan Br. Ansfridus menjadi guru di sekolah itu. Empat belas bulan kemudian sekolah ini diambil alih oleh pemerintah dan saat ini sebagai  SMA Negeri I, di Pontianak.

    Baca Juga: Mengenal Tarekat MSC (Societas Missionarium sacratissimi Cordis Iesu)

    Meskipun sekolah yang pernah dirintis oleh bruder-bruder pendahulu pengelolaannya telah diambil oleh pemerintah, namun melihat bahwa masih banyak tamatan   SMP yang tidak mendapat tempat untuk melanjutkan pendidikannya di SMU,  Br. Bernulfus Bosman MTB  dan Br. Bruno MTB merasa prihatin dan  tergerak hatinya untuk tetap  membantu mereka memperoleh pendidikan ke jenjang sekolah  yang lebih tinggi.

    Kehendak  untuk mendirikan SMU baru  mereka pikirkan kembali. Setelah mampu melalui berbagai rintangan akhirnya pada tanggal 1 September 1963, berkat dukungan dan kerjasama dengan tokoh-tokoh di Pontianak antara lain Dr. Gandawijaya berhasil mendirikan SMU, saat ini sebagai SMA Sto. Paulus Pontianak dengan Br. Bernulfus Bosman Kepala Sekolah.

    Perhatian kepada kaum muda juga dilakukan oleh para bruder di luar jam sekolah seperti kelompok koor, music harmoni dan kepramukaan.

    Br. Longinus dan Br. Valentinus Moonen tercatat sebagai Pembina atau pendiri kelompok musik harmoni yang terkenal di Pontianak pada jaman itu; tahun 1934.

    Menjawab kebutuhan zaman

    Membaca perjalanan karya para bruder MTB di Belanda dari awal berdirinya pada th. 1854 sampai awal tahun 2000 an sepertinya  sia-sia; dalam arti bahwa awalnya menunjukkan grafik berkembang, dan kemudian terasa tiba-tiba hilang, timbul perasaan sedih dan  kecewa; terutama  oleh para bruder yang langsung terlibat di dalamnya.

    Rob Wolf (2004:137) dalam buku ‘Huijbergen dan ujung-ujung Dunia’ mengungkapkannya dengan kalimat:”Teringat saat-saat suka dan duka. Kongregasi kehilangan sebagian dirinya” atau pada kalimat lain :”… maju selangkah lagi mendekati akhirnya. … merekahlah sakitnya hidup tanpa generasi penerus.”

    Walaupun demikian semangat mereka tetap kuat sampai akhir, jauh dari pikiran “mengapa susah-susah, toh nanti akan tutup”.

    Baca juga: Museum Kapusin, Pusaka Dayak & Tionghua di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

    Beberapa  sekolah atau asrama  yang didirikan atau dikelola oleh para bruder di Singkawang, Pontianak dan  di Banjarmasin pada awal kedatangannya;  diperuntukkan bagi mereka yang miskin.

    Misalnya Sekolah Hoy Sen dan Sekolah St. Mikael  di Pontianak, Sekolah Fang Tsi di Singkawang, atau menyediakan tempat di asrama bagi anak miskin; yang disebutnya sebagai ‘anak-anak misi’.

    Semangat dan perhatian kepada kaum muda dan kepada mereka yang miskin masih tetap dilanjutkan  oleh Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder  (YPSB)  sampai saat ini, antara lain menerima  siswa – siswi tanpa pilih kasih; kaya atau miskin, bahkan menerima siswa yang berkebutuhan khusus.

    Dalam perjalanan waktu yayasan memberikan berbagai bentuk  bantuan, antara lain pengurangan biaya sekolah atau bagi siswa – siswi  yang sungguh memerlukan dibebaskan dari biaya sekolah. Lebih dari itu semua bahwa semua personil yang terlibat dalam karya pendidikan diarahkan untuk mampu berkomunikasi dengan mereka yang datang; baik orang tua – wali siswa dengan mengedepankan komunikasi hati dan ramah. Inilah kebutuhan zaman, sehingga YPSB perlu membuka mata dan hati untuk menjawabnya.

    Semangat dan Keutamaan Bruder MTB.

    Dalam Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder (YPSB) didirikan pada hari Senin, 10 Oktober 1966. ( Akta Notaris Mochamad Damiri No. 10 tahun 1966 ) oleh Kongregasi,  dalam hal ini diwakili oleh Yayasan Pembinaan Jasmani dan Rohani yang saat itu menangani pendidikan formal.

    Secara garis besar YPSB menangani pendidikan formal, pendidikan non-formal dan pendidikan lingkungan.

    Dalam pendidikan formal YPSB  saat ini mengelola sekolah formal  sebanyak 18 (delapan belas) unit. TK (Taman Kanak-Kanak/PAUD  7 (tujuh) unit, SD (Sekolah Dasar) 6 (enam) unit, SMP (Sekolah Menengah Pertama) 3 (tiga) unit dan SMA (Sekolah Menengah Atas)  2 (dua) unit).

    Sekolah-sekolah itu berada di Pontianak, Singkawang dan Putussibau, dengan jumlah siswa tujuh ribuan. Tenaga Pendidik dan tenaga Kependidikan sejumlah empat ratusan.

    Para bruder yang bekerja di bidang pendidikan formal dan non formal (sekolah dan asrama) berusaha untuk mendalami semangat dan keutamaan bruder MTB, dengan maksud agar menjadi jelas apa  “roh” yang harus dihidupi di sekolah, asrama atau karya-karya kongregasi lainnya. Upaya itu ditindak lanjuti dengan pertemuan para bruder yang bekerja di sekolah formal, asrama dan di pengembangan lingkungan, pada tanggal 22 dan 23 April 2017 di Sepakat Pontianak.

    Baca juga: Kisah Ransel & Hutan Belantara (Rimba)- Pastor Petrus, CP

    Br. Petrus H, MTB  mendampingi peserta pertemuan. Para peserta pertemuan   berusaha mempertegas kembali (karena  sejak awal telah dihayati/dihidupi  oleh para pendahulu) semangat keutamaan bruder MTB dari AD Ordo III,  Konstitusi, semangat pendiri (sejarah bruder MTB, riwayat Mgr. Van Hooydonk, riwayat Rm. Adrianus Nelen, riwayat para pendahulu), latar belakang masyarakat dan gereja, ajaran Gereja tentang hidup bakti – Kanon 577 dan sifat khas tarekat – Kanon 578.

    Dalam pertemuan itu disepakati bahwa ada 4 (empat) nilai utama sebagai “semangat dan keutamaan Bruder MTB meliputi Simpliciter artinya melayani, belarasa, kerendahan hati, keramahan dan anti kekerasan. Semangat kedua yakni Confidenter artinya bersandar pada iman akan Allah, rasa hormat terhadap tata ciptaan, transformasi diri dan estetika.

    Selanjutnya semangat yang ketiga yaitu Competency yang artinya tangguh, kreatif, jujur, bertanggung jawab, menjunjung kebenaran/logika. Kemudian semangat yang keempat yaitu Community memiliki arti persaudaraan egaliter, relasional, komunikatif, universal dan etika yang didasarkan dari kebaikan.

    “Keterangan untuk point 1 dan 2 tercantum dalam logo kongregasi yang ada pada gambar

    Selanjutnya tim kecil sebagai tim revisi visi/misi yayasan (Br. Petrus H, MTB,  Br. Dionisius, MTB,  Br. Theofanus,MTB,  Br. Vianney, MTB dan Br. Bernardinus, MTB) dalam beberapa kali pertemuan  menyepakati bahwa 4 (empat) nilai dasar  tersebut  menjadi nilai yang akan dikembangkan menjadi : ”Pedoman  Pendidikan Karakter  Berdasarkan Nilai-Nilai Spiritualitas Kongregasi Bruder MTB”

    Inti sari pergulatan hidup para bruder sejak awal sampai saat ini pada dasarnya adalah meneladani semangat hamba Bunda Maria serta sikap  Kesederhanaan (Simpliciter) dan Kepercayaan (Konfidenter) yang juga bersumber dari semangat Sto. Fransiskus Asisi.

    Visi – Misi Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder

    Adapun visi dan misi Yayasan pendidikan Sekolah Bruder di bawah ini disetujui dan disahkan oleh Kapitel Bruder MTB Propinsi  Indonesia tahun 2017.

    Visi: Komunitas pendidikan Katolik yang dijiwai semangat bruder MTB (Simplisiter, Confidenter, Competency, Community), setia menumbuhkembangkan kaum muda, yang miskin, lemah  dan tersingkir dengan memberi pendampingan agar menjadi pribadi utuh dan bermartabat.

    Misi: Melaksanakan pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter bangsa yang sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945 dan Pancasila. (Wawasan Kebangsaan)

    Mendukung dan melaksanakan pendidikan Gereja Katolik dengan semangat dan seturut arah kebijakan Tarekat Bruder MTB. (Gereja dan Tarekat MTB).

    Membangun kerjasama dengan pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan Gereja, pemerintah, masyarakat maupun lembaga yang terkait. (Jejaring).

    Membangun komunitas dan memberdayakan kaum muda, miskin dan tersingkir dan mengusahakan sarana prasarana yang memadai dengan perkembangan dan tuntutan jaman (gedung dan sarana/prasarana).

    Baca Juga: Gubernur Kalbar Resmikan Rumah Retret Johanes Paulus II Anjongan

    Dalam suasana kertebukaan bermusyawarah dan saling menghormati mengupayakan peningkatan tata kelola komunitas pendidikan dan lingkungannya agar proses pendidikan dan pendampingan dapat berjalan tertib, disiplin, konsisten dan berkualitas. (Profesional – Manajemen).

    Mengupayakan agar keutamaan yang diyakini Tarekat Bruder MTB berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, baik rohani dan jasmani.

    Mendorong komunitas-komunitas pendidikan untuk peduli akan sampah dan melestarikan lingkungan sekitar, serta menolak segala bentuk kekerasan dan pelecehan.

    Makna logo Yayasan

    Logo ini dirancang oleh Br. Bonaventura MTB untuk  mengungkapkan nilai – nilai keutamaan dan semangat  bruder MTB yang  ingin dihidupi dalam karya – karya   yang dikelola oleh yayasan PSB.

    Logo ini tertera di pojok kanan atas Surat – surat resmi dari YPSB sejak tahun ajaran 2013/2014.

    Secara umum logo di atas  diartikan sebagai berikut:  “Dengan bimbingan Roh Allah (burung merpati) kita para saudara (Tau) berusaha membangun ikatan  persaudaraan sejati (rantai) dengan cara mau dan  berani berbagi – karunia – untuk keselamatan dan kesejahteraan bersama (Hosti dipecah).

    Sebagai penutup Br. B. Sukasta, MTB menyampaikan harapan semoga semua tim yang terlibat baik langsung maupun yang tidak langsung, sebagai tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder dalam karya dan tugasnya  yang sedang dihadapi atau digeluti  terarah kepada  tujuan-tujuan mulia.

    Ia juga melanjutkan semua ini semata – mata demi Kemuliaan Allah  yang setiap kali memang harus selalu ada pembaharuan, sebagaimana dialami oleh para bruder pendahulu yang jatuh bangun dalam menapaki panggilan hidup dan karya-karyanya. (Sumber: Website Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder (YPSB). Pontianak, 16 Januari 2021 oleh Br. B. Sukasta, MTB, diolah oleh: Samuel Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak).

     Lihat Juga: https://www.ypsbr.org/2021/01/16/refleksi-100-tahun-bruder-mtb-dalam-karya/

    Kisah Sang Missionaris Bruder Rufinus, MTB berbakat musik, suaranya merdu dan Baik hati

    - Kisah Br. Rufinus (A.J.M) van DAL - (28-10-1890 - 08-01-1934). - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Kisah Br. Rufinus (A.J.M) van DAL – (28-10-1890 – 08-01-1934). Bruder Rufinus, MTB Lahir di Tilburg pada 28-10-1890 dan masuk Kongregasi MTB pada 24-08-1907. Dia memperoleh Kaul Pertama pada 04-09-1909 kemudian Kaul Kekal pada 02-09-1911.

    Bruder Rufinus, MTB berangkat ke Indonesia pada 26-04-1924 dan Kembali ke negeri Belanda awal tahun 1932. Ia Meninggal dunia di RS Breda 08-01-1934 karena sakit.

    Baca Juga: Kisah Ransel & Hutan Belantara (Rimba)- Pastor Petrus, CP

    Adapun tugas-tugas Guru dan studi di negeri Belanda sedari 1911 – 1924 yakni menjadi Guru ‘Hollans Chinese School (HCS) Singkawang pada 1924. Kemudian pernah menjadi Guru HCS Pontianak pada 1926 dan Guru kelas persiapan calon bruder pada 1932.

    Anak sulung

    Bruder Rufinus adalah anak sulung dari delapan anak, semuanya laki-laki. yang dilahirkan oleh Bernadine Mannaerts, isteri Bernardus van Dal. Tiga dari anaknya  menjadi bruder MTB di Huijbergen. Adik Br. Rufinus yang namanya Sjef menjadi Br. Winfridus. yang ditunjuk akan berangkat ke Singkawang dalam tahun 1921, akan tetapi tidak jadi, karena di­bedah pada maagnya. Seorang adik lagi menjadi Br. Borromeus, yang berkarya di Kalimantan Barat dari tahun 1946 sampai 1971.

    Dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1890 lantas beliau dipermandikan di gere­ja St. Dyonisius di Goirle-Tilburg dan diberi nama Arnoldus Josephus Maria. Nama panggilannya “Noutje”.

    Br. Rufinus menjadi guru pa­da sekolah kecil pertama dari konggregasi kita di Singkawang yakni HCS  St. Dyonisius. Uang untuk mendirikan sekolah ini dikumpul­kan oleh umat dari Paroki St. Dyonisius di Kota Tilburg.

    Baca Juga: Perayaan Ulang Tahun Kongregasi Bruder MTB ke-166

    Ayahnya mempunyai toko roti yang sekaligus juga “warung kopi” dan “tempat penginapan yang sederhana”, di mana petani-petani dari sekitar Sungai Bergse Maas dapat menginap, supaya pagi-paginya dapat menjual kentang, apel,  pir dan sayurnya di pasar.

    Belajar menjadi bruder

    Ketika Noutje diberikan sepatu kayunya (klompen) yang pertama, sudah ada be­berapa adik lagi: Sjefke, yang kemudian menjadi Br. Winfridus. Jan, yang per­nah untuk beberapa tahun menjadi tentara “huzar” dan juga pemain sepak bola dalam kesebelasan “Willem II”.

    Dan terus-menerus tambah adik lagi. Dalam ta­hun pemogokan kereta api dalam tahun 1903 sudah ada tujuh anak. Yang ketujuh adalah Gerard yang kemudian menjadi Br. Borromeus.

    Maka baik sekali bahwa kedua anak pertamal Noutje dan Sjef, bertutut-turut da­lam tahun 1906 dan 1907 meninggalkan rumahnya untuk pergi “belajar menjadi bru­der”. Pada tanggal 24 Agustus 1907 si Noutje menerima jubah dan diberikan nama Bruder Rufinus. Pada tanggal 4 September 1909 Kaul Pertama dan Kaul Kekal diikrarkannya pada tanggal 2 September 1911.

    Sesudah Kaul Pertamanya Br. Rufinus meneruskan studinya di SPG St.Fran­siskus kita di Bergen op Zoom dan memperoleh Ijazah Guru pada tanggal 20 A­pril 1911.

    Pada tgl, 24 Agustus 1915 memperoleh ijazah “Hoofd Akte” dan kemu­dian pada tanggal 8 Agustus 1923 Ijazah Bahasa Perancis.

    Sesudah memperoleh ijazah guru Br. Rufinus langsung ditugaskan sebagai guru di Sekolah St. Maria di Huybergen. Sesudah satu tahun mengajar di St. Maria, beliau ditugaskan di SD di Hoogstraat di Bergen op Zoom.

    Mi­si di Kalimantan Barat

    Sesudah memperoleh Ijazah “Hoofd Akte” pada tahun 1915, Rufinus terus menjadi guru pada SPG St Franciscus di Bergen op Zoom dan bersama SPG itu pindah ke Breda dalam tahun 1917, di dalam gedung yang pada waktu itu boleh disebut megah pada Lapangan Dr. Jan Ingenhousz.

    Di antara siswa-siswanya ada juga adiknya yang bernama Gerard, yang kemudian menjadi Br. Borromeus. “Tak pernah”, kata Br. Borromeus ia, “abangku Rufinus memanggil aku dengan namaku sendiri di dalam kelas.

    Jika ia memanggil saya untuk menertibkan kelakuanku (dan hal ini sering perlu karena saya bukan “anak manis”) maka ia panggil saja:”Hai kamu!” atau “Camkanlah lu”. Sesudah SPG itu Rufinus sebentar mengajar di SD St. Aloysius, Sekolah Latihan siswa SPG yang baru selesai dibangun di Breda.

    Baca Juga: Surat Bapa Suci Kepada Brother Gerard Francisco Timoner, O.P., Master Jenderal Order of Preachers

    Karena kesehatannya mulai terganggu, maka bulan April 1920 beliau dipindahkan ke Huijbergen dan mengajar di SD, Sta Maria. Dalam bulan Desember beliau terpaksa berbaring dan pada 2 Januari 1922 maagnya dioperasi di Ber­gen op Zoom.

    Sesudah masa sakitnya Rufinus dipindahkan kembali ke Breda di SD St. Aloy­sius dan memperoleh ijazah Bahasa Perancis pada tahun 1923 itu. Kendati magnya lemah serta pembedahan itu namun beliau dipilih untuk Mi­si di Kalimantan Barat pada yanggal 11 Januari 1924. Tahun itu Bru­der MTB akan membuka komunitas di Pontianak, Sekolah HCS dan asrama.

    Pada tanggal 26 April 1924 Br. Rufinus bertolak naik kapal laut “Johan de Wit” bersama Br. Bertrandus, Edmundus dan Gonzaga ke West Borneo (Br. Hieronimus 1 tahun kemudian). Br. Rufinus ditempatkan di Singkawang dan mengajar di da­lam gedung sekolah yang sangat sederhana dan kecil, yang dahulu disumbangkan oleh Paroki St. Dyonisius di Tilburg, di mana Rufinus dilahirkan. Pada tahun 1926 beliau pindah ke HCS di Pontianak.

    Seperti saudara-saudaranya Rufinus berbakat musik, suaranya merdu dan sebab itu menjadi pemimpin koor gereja, pula dirigen apabilsekolah-sekolah berkumpul di mu­ka istana residen di ‘Larive Park’ dan memperdengarkan lagu-1agu di muka umum pada hari-hari Raya seperti misalnya Hari Ulang Tahun Ratu Wilhelmina.

    Br. Borromeus, adiknya berceritera tentang beliau

    Akhir tahun 1931 penyakit mag menjadi parah dan Rufinus terpaksa pulang ke Negeri Belanda dan tiba di Huijbergen bulan April 1932. Sekali peristiwa di ruang studi di gedung yang tua biara Huijbergen Br. Bernul­fus duduk di sampingnya dan berceritera: Apabila “ada”, artinya ada izin merokok, akan tetapi mengisap sigaret dilarang keras, dengan diam-di­am Br. Rufinus menggulung sebatang rokok dengan tembakau shag dan mengajarkan saya bagaimana membuatnya. Waktu saya harus mencoba mengisapnya maka  waktu itu sama sekali tidak enak untuk saya”.

    Waktu Br. Rufinus kira-kira sembuh, beliau dipindahkan ke Bergen op Zoom dan mengajar di kelas persiapan untuk calon-calon bruder. Akhir tahun 1933 beliau dibedah lagi pada magnya dan meninggal pada 8 Januari 1934 di Rumah Sakit St. Ignatius Breda.

    Br. Borromeus, adiknya berceritera tentang beliau: Noutje van Dal adalah anak yang halus dengan kulit yang agak berwarna sawo matang, berparas tampan dengan lekukan kecil di kedua pipinya, kemudian juga di dagunya. Bertakwalah dia dan saleh. Oleh ibunya  dididik untuk sedikit terlalu bersopan santun, seperti kebanyakan anak pada waktu itu.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Nostalgia di Paroki St. Petrus dan Paulus Sekadau

    Beliau meninggal jauh sebelum masa “emansi­pasi” dengan ia berdiri teguh di dalam “Zaman Kehidupan Roma Katolik yang Kaya”. Sampai hari yang terakhir beliau taat kepada aturan-aturan kuno. Pada waktunya ia dapat bergembira, bahkan kadang-kadang riuh sedikit.

    Akhirnya Br. Hieronymus berkata tentang dia: “Saya kenal Br. Rufinus beberapa tahun di Singkawang sebagai seorang bruder yang sangat baik hati dan ramah.” (Sumber: Bruder Rafael, MTB Pemimpin Umum Kongregasi Bruder MTB Indonesia- diolah: Samuel Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak).

    Kisah Ransel & Hutan Belantara (Rimba)- Pastor Petrus, CP

    P. Pietro di Vincenzo (Pastor Petrus, CP)- Bersama Samuel Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, KubuRaya Kec. Sungai Ambawang- Ransel dan Rimba inilah yang menjadi rangkuman cuplikan 46 tahun bertugas di Kalimantan Barat. Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini menuturkan cerita singkatnya dari perjuangan kecil hingga menjadi seorang imam.

    Tulisan ini diambil dari cuplikan singkat hidup P. Petrus, CP Missionaris Passionis yang berkarya di Pulau Borneo, terlebih khusus di Kalimantan Barat dalam momen kata sambutan 50 Tahun Imamat di Lingga 15 Agustus 2020 (kenangan yang dimulai dari Padula 15 Agustus 1970).

    Dalam sambutannya, ia mulai dengan tutur kalimat dan cerita tangisan pengalamannya menjadi seorang Imam. Mari kita dengar cuplikan ceritanya

    Pietro di Vincenzo (Pastor Petrus, CP)

    Saudara-saudara yang saya hormati dan yang saya kasihi, perkenankanlah saya dalam kesempatan ini menyapaikan beberapa buah tangisan tentang hidup saya, yaitu dari  pengalaman saya sedari kecil.

    Saya berasal dari keluarga yang terlahir atas 7 bersaudara; 5 laki-laki dan 2 perempuan. Dari 7 bersaudara itu, saya adalah anak yang bungsu. Keluarga saya merupakan keluarga yang sederhana (miskin). Saya pernah menangis dirumah hanya karena lapar, dan ibu saya yang bernama Sesilia pergi ke rumah tetangga untuk meminjam satu buah roti dan kemudian dikembalikan.

    Baca Juga: Paus Fransiskus memuji biarawati AS untuk pekerjaannya menyambut para migran

    Saat itu, saya masih berumur belasan tahun, dan disitu saya sudah mengembalakan domba-domba di pegunungan pada musim panas di daratan dan pulang pada musim dingin di Italia Selatan.

    Kala itu saya berumur dua belas tahun (12 Tahun). Dari Italia Tengah melakukan perjalanan 300 Km lebih, untuk mengantar domba-domba ke Italia Selatan. Selama 3 minggu berturut-turut ditempuh dengan jalan kaki, demikian juga pada musim semi pada bulan Mei.

    Kembali ke pegunungan selama 3 minggu dan masih tetap ditempuh dengan berjalan kaki.

    Dalam keadaan cuaca apapun domba-domba tidak boleh ditinggalkan sendirian, karena serigala dan binatang-binatang buas lain akan menghancurkan (memangsa) seluruh kawanan.

    Pengalaman saya dalam mengerjakan tugas itu, melihat bahwa domba-domba adalah binatang paling jinak antara segala segala ternak di dunia, maka Yesus mengumpamakan diri sebagai “Anak Domba Allah” karena itu saya yang hidup dalam ketakutan agar jangan sampai domba-domba ku dicuri pada malam atau siang hari.

    Hidup dalam keadaan seperti ini menjadikan saya selalu waspada dan mulai saat itu ketika sudah datangnya malam, saya tidur dengan mata sebelah. Semua ini sudah saya cicipi sebelum umur 15 tahun.

    Pengalaman seperti ini sangat membantu saya dalam hidup yang saya jalani sampai saat ini yaitu menjadi missionaris di Kalimantan di antara suku Dayak yang saya kasihi.

    Umur saya baru genap 15 tahun kemudian saya masuk seminari dan kala itu tahun ajaran pun sudah 3 bulan dimulai. Secara otomatis dengan sendirinya saya terlambat 3 bulan masuk sekolah SD, sebab ayah saya tidak melepaskan ku untuk masuk seminari.

    Maka kelas III SD aku terpaksa meloncat dua kelas sekaligus (kelas IV dan kelas V) dan langsung duduk di bangku kelas VI untuk mengejar teman-teman saya.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus ungkapkan Manusia Menjadi Kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya

    Perjuangan ini tidaklah mudah, apalagi berusaha dalam studi untuk mengikuti ritme sekolah bersama teman-teman terutama di kelas VI SD. Meskipun kala itu terbilang sulit, namun saya mampu mengejar langkah teman-teman saya.

    Jadi, untuk menjadi seorang imam diperlukan 16 tahun studi; 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP dan 1 tahun di Novisiat, 2 tahun di ilmu filsafat, 3 tahun di ilmu teologi dan 1 tahun untuk spesialisasi tentang ilmu Teologi Parokial. Jadi sejumlah kurikulum studi untuk menjadi seorang imam diperlukan 16 tahun.

    Berangkat ke Kalimantan Barat

    Pada tahun terakhir kuliah, saya diberi gelar, Drs di Kota Roma tentang ilmu Teologi, yaitu tentang pengetahuan Ketuhanan belajar tentang Kitab Suci. Kemudian pada tanggal 14 Agustus 1970 saya ditahbiskan sebagai imam menurut kehendak Tuhan Yesus.

    Selanjutnya setelah 3 tahun lebih dari pentahbisan imam, dan tepat pada tanggal 25 Januari 1974, Pesta Santo Paulus Rasul (Pertobatan Santo Paulus, Rasul ) aku berangkat ke Indonesia dengan tempat keberangkatan menuju tanah Borneo.

    Kala itu, saya turun dari pesawat Garuda di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta pada pukul 10.00 WIB pagi. Kemudian dari Jakarta, kami 3 orang ( 2 Pastor dan seorang Bruder) langsung berangkat menuju ke Singkawang untuk belajar Bahasa Indonesia selama 2 Minggu.

    Baca Juga: HUT Tahbisan Episkopal ke-45 Emerius Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM. Cap- Keuskupan Agung Pontianak

    Kepada kami bertiga, masing-masing diberi seorang guru, kemudian kami berangkat ke Sekadau, dan 2 minggu kemudian saya diajak P. Gabriel Ramoc Chiaro, yang adalah seorang pastor dan sudah berpengalaman, lalu kami menuju ke Stasi Pakit, dan  kemudian beberapa kali saya berturne bersama dia sembari belajar.

    Sesudah itu turne saya melakukan perjalanan turne sendirian untuk mengunjungi umat di kampung-kampung, dan saya telah menjalankannya dengan komitmen yang tak henti-hentinya.

    Sekarang saya telah mencapai (mendapat) kewarganegaraan Indonesia pada tanggal 24 Januari 1985, terhitung sudah 35 tahun lebih yang lalu.

    Selama 46 tahun di tanah Kalimantan saya telah menggunakan waktu secara terus-menerus dan tidak terasa, tahun demi tahun, mengunjungi umat di mana saja mereka berada baik di kampung-kampung besar maupun di tempat sepi.

    Kabar gembira tetap diwartakan dalam kondisi cuaca apapun, sabda Tuhan tetap diprioritaskan sebagai tugas utama dalam hidup saya.

    Pulau Borneo adalah pulau nomor 3 yang terbesar di dunia. Iklimnya panas-lembab menjadi ujian bagi orang yang hidup di Kalimantan. Bagi saya hal itu “No Problem” sebab sejak kecil sudah biasa mengembala di hidup yang sulit.

    Pengalaman saya sebagai gembala domba telah membentuk diri pribadi untuk selalu bersikap tahan dalam segala kesulitan hidup dan menyesuaikan diri dengan segala keadaan sekalipun serba sulit.

    Semua masalah- no problem

    Segala jenis makanan, apapun itu yang diberikan kepada saya itu semua “No Problem” untuk menjadi santapan.

    Sejak awal saya hidup di Tanah Kalimantan, saya terjun secara total dalam kerasulan melalui turne berturut-turut dalam situasi apapun. Dalam turne itu yang menjadi prioritas dan fokus utama adalah menggerakkan segenap tenaga dan fisik untuk menggunjungi umat melalui Turne berkelanjutan.

    Baca Juga: https://pontianak.tribunnews.com/2020/09/09/kisah-pastor-petrus-cp-sang-misionaris-ransel-dan-rimba?page=4

    Selama 15 tahun, saya menjelajahi seluruh daerah sungai Belitang Hulu-Belitang Hilir sampai dekat perbatasan Sarawak, dan selama 25 tahun saya menelusuri sampai ke pelosok-pelosok daerah Sungai Menterap, Sungai Kerabat dan Sungai Sekadau.

    Bahkan seluruh daerah Suku Taman, hingga tanah Meliau dan itu juga sebagian dari Keuskupan Sintang. Kini sudah hampir 6 tahun saya bertugas di Paroki Sungai Ambawang yang berpusat di Lingga (Keuskupan Agung Pontianak).

    Kunjungan umat di daerah-daerah sebelumnya,  dilaksanakan terus-menerus dengan jalan kaki, kecuali di Paroki Sungai Ambawang yang adalah daerah banyak Sungai.

    Sejak semula, masuk di Tanah Kalimantan, saya sudah tertarik sekali dengan hidup orang Dayak yang mirip seperti kehidupan di waktu saya masih kecil- persis di Kampung Halaman, Padula yang letaknya sekitar 200 KM dari Roma.

    Dulu pada tahun 70an-80an, ketika musim kemarau dan musim hujan, masih tetap stabil dan teratur. Jadi, pada musim hujan, tetap hujan dan pada musim kemarau tetap kemarau. Di dalam kedua musin ini, umat di kampung-kampung tetap dikunjungi tanpa syarat dan dalam situasi apapun.

    Segala tantangan tak menurutkan ku

    Saya merasa dikhususkan, terpanggil untuk mewartakan Sengsara Yesus di antara Suku Dayak. Di tahun-tahun kehidupan saya sebagai Missionaris. Saya telah berjalan tanpa lelah dan mengalami segala bahaya yang tersembunyi di rimba belantara. Saya dapat merangkumnya dengan baik.

    Seluruh hidup saya yang  selama di tanah Borneo itu terrangkum dengan dua kata saja yaitu Ransel dan Hutan Belantara, ini berarti “angkat ransel dan berangkat turne.”

    Segala tantangan dalam hidupku sebagai missionaris tidak menyurutkan semangatku.

    Namun kerasulan mengandung serngasa; “ Jarak yang jauh antara kampung-kampung, lumpur setinggi lutut, mengigil karena demam malaria, lapar, sakit perut, kelelahan, sesat dalam perjalanan, hujan lebat, berjemur – disertai tifus, perut yang memberontak, bahaya ular berbisa, bahaya banjir yang dalam dan berkelanjutan, bahaya karam di sungai Kapuas, biasa lesu tetapi tidak hilang asa, biasa putus asa dan kesepian, namun dalam semuanya ini semangatku untuk merasul tetap bertahan, bahkan tidak meninggalkan tekad untuk mewartakan Injil.

    Baca Juga: Secuplik Surat Tentang Kisah Misi di Borneo- Keuskupan Agung Pontianak

    Dalam segala hal tersebut, saya merasa terkesan dengan hidup Paulus dari Tarsus yang oleh Injil melakukan segala-galanya.

    Menderita segala-galanya, mengorbankan segalanya, mengunjungi segala sudut dunia dimana orang belum mengenal Yesus Kristus. Rasul Paulus pada akhir hidupnya berkata: “ Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman,” (2 Tim 4,7).

    Rasul Paulus adalah seorang pejuang yang gigih, penjelajah tanpa kenal lelah, pembalab tangguh yang telah menacapai garis finish. Seluruh hidup Rasul Paulus adalah seperti seorang Petani Maraton, yang berlari untuk mewartakan Injil di mana saja.

    “Cinta Kasih memerlukan Hati Yang Tahan Uji”

    Dalam tugas perutusanku di Kalimantan perjumpaan pribadi ku dengan Yesus Kristus lebih meningkat karena Roh Kudus yang mendampingi ku dalam pewartaan Injil di antara Suku Bangsa Dayak.

    Puji Syukur kepada Tuhan yang maha Baik karena telah membimbing langkah-langkah ku selama ini, melalui segala “Jalan Tikus” di Borneo.

    Dua catatan penting dari cuplikan kisah singkat ini

    Pastor Petrus di Vincenzo sudah 46 tahun lebih bertugas di Kalimantan Barat, dan orang yang telah dipermandikan sebanyak 12.100. Kedua yaitu jumlah misa kudus yang telah dipersembahkan selama 50 tahun yaitu sebanyak 19.129 kali Misa. Termasuk misa yang baru dipersembahkan malam ini (15 Agustus 2020 di Stasi Lingga, Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang).  Atas perhatian para hadirin diucapkan dengan bulat hati, selamat malam, sekian dan Terima Kasih. ( P. Petrus di Vincenzo).

    Semoga dengan kisah iman yang inspiratif ini, bisa menjadi salah satu lilin terutama semangat dalam mewartakan Injil ditengah dunia dan didalam situasi apapun. Terima kasih kepada Pastor Petrus, CP sang Missionaris Ransel & Rimba. (Sumber: Catatan Pastor Petrus dalam wawancara Samuel Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak).

    Paus Fransiskus memuji biarawati AS untuk pekerjaannya menyambut para migran

    Sr. Norma Pimentel greets a family of asylum seekers in Brownsville, Texas, on 25 February 2021 (2021 Getty Images)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Francis mengirim pesan video kepada Sr. Norma Pimentel, MJ, dalam videonya dia berterima kasih atas kerja timnya dalam menyambut migran Amerika Latin yang memasuki Amerika Serikat.

    Sr. Norma Pimentel mengirim sepucuk surat kepada Paus pada tanggal 3 Mei, menjelaskan pekerjaan Badan Amal Katolik di Lembah Rio Grande, yang terletak di perbatasan selatan AS dengan Meksiko.

    Sebagai tanggapan Paus Fransiskus mengirim pesan video kepada suster religius Meksiko-Amerika, memuji karyanya.

    Baca juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    Dirilis dari Vatikan News yang ditulis oleh Devin Watkins, Paus katakan “Terima kasih atas apa yang Anda dan seluruh tim Anda lakukan.”

    Dalam videonya Paus Fransiskus juga mengungkapkan terima kasih karean telah menyambut dan menerima para migran yang datang untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

    “Terima kasih, Suster,” ulang Paus. “Terima kasih untuk tim Anda.”

    Bantuan kemanusiaan

    Paus juga melanjutkan dengan menegaskan bahwa para migran “harus disambut, karena mereka harus dilindungi, didampingi, dan diintegrasikan”.

    “Empat hal ini,” kata Paus. “Disambut, dilindungi, didampingi, dan terintegrasi.” Dia menambahkan bahwa tim Catholic Charities di perbatasan selatan Texas membantu orang-orang yang “meminta bantuan untuk hidup lebih bermartabat”.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus ungkapkan Manusia Menjadi Kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya

    “Saya menemani Anda dari sini,” kata Paus Fransiskus. “Saya berdoa untuk Anda dan untuk semua orang yang Anda dampingi melalui pekerjaan Anda.”

    Saat memberkati Sr. Norma dan timnya, Paus meminta mereka untuk mendoakannya.

    Layanan Konseling program bantuan darurat

    Sr. Norma adalah seorang biarawati Missionary of Jesus dan direktur eksekutif Catholic Charities di Rio Grande Valley. Mitra Caritas Internationalis menjalankan beberapa program di dekat perbatasan AS / Meksiko, termasuk Pusat Pengendalian Kemanusiaan di McAllen, Texas.

    Berdasarkan situs web organisasi, pusat tersebut “menyediakan tempat bagi pengungsi pria, wanita, anak-anak, dan bayi yang tak terhitung jumlahnya untuk beristirahat, makan hangat, mandi, dan berganti pakaian bersih, serta menerima obat-obatan dan persediaan lainnya, sebelum melanjutkan perjalanan mereka. ”

    Baca juga: Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja harus menjadi sarana pemersatu

    Lebih dari 23.000 orang telah dibantu sejak 2015, ketika pusat tersebut dibuka di Gereja Katolik Hati Kudus.

    Catholic Charities of the Rio Grande Valley juga menawarkan layanan konseling, program bantuan darurat, dan pusat konseling kehamilan, di antara layanan lainnya. (Sumber: VatikanNews; Devin Watkins– diolah: Semz-MD).

    HUT Tahbisan Episkopal ke-45 Emerius Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM. Cap- Keuskupan Agung Pontianak

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak- Divisi Katolik Pontianak (KAPON)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Uskup kelahiran Menawai Tekam, Sanggau, Kalimantan Barat 5 Agustus 1937 ini ditahbiskan sebagai imam Kapusin pada 27 Juli 1967 dan menerima tahbisan episkopal pada 27 Mei 1976 ketika berusia 39 tahun.

    Beliau menjawab setelah menggantikan Uskup Agung Pontianak Mgr Herculanus Joannes Maria Van der Burgt OFM Cap yang wafat 2 Juli 1976.

    Mulai saat itu, Mgr Bumbun ditunjuk menjadi Uskup Agung Pontianak pada 26 Februari 1977.

    Persis pada selasa 3 Juni 2014, Uskup Agung Emeritus Pontianak Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFM Cap mengajukan permohonan pensiun dan dikabulkan Takhta Suci.

    Baca Juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    Hari itu juga pada pukul 17.00 WIB atau pukul 12.00 waktu Roma diumumkan Uskup Sintang Mgr Agustinus Agus saat itu menggantikan Mgr Bumbun sebagai Uskup Agung Pontianak sampai hari ini.

    Emeritus Mgr Bumbun, merupakan Uskup Agung Pontianak yang banyak mengecap perkembangan dan pertumbuhan gereja. Mulai dari masa-masa yang sulit sekalipun bahkan sampai perkembangan teknologi informasi yang cepat. Namun, banyak kesaksian umat dan imam yang dekat dengan beliau melihat begitu sederhana dan bijaknya cara beliau memimpin Keuskupan Agung Pontianak kala itu.

    Baca juga: Museum Kapusin, Pusaka Dayak & Tionghua di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

    Untuk itu, mari kita doakan Emeritus Mgr Bumbun agar selalu sehat dan terus memberikan teladan kerendahan hati dan cara hidup religius ditengah perkembangan zaman yang kian memaksa manusia untuk berubah.

    Salam dan doa dari kami, untuk Uskup Emeritus Mgr Bumbun tercinta, doa dan salam dari kami- Komisi Sosial Keuskupan Agung Pontianak, Majalah DUTA dan Katolik Pontianak. (Berbagai Sumber: hidupkatolik.com, dokumen komsos dan Majalah Duta).

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus ungkapkan Manusia Menjadi Kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya

    Dokumentasi - Misa Krisma dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus diikuti oleh peserta sebanyak 242 Krismawan/Krismawati di Gereja Katolik Stasi Sta. Clara Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang Keuskupan Agung Pontianak. (Minggu, 23 Mei 2021)

    MajalahDUTA.Com, Kubu Raya– Sungai Ambawang, Minggu 23 Mei 2021 telah diadakannya misa Krisma oleh Mgr Agustinus Agus didampingi Pastor Paroki Pastor Lukas Ahon, CP dan Pastor Petrus, CP yang diikuti oleh 242 peserta krismawan dan krismawati di Gereja Katolik Stasi Santa Clara Korek Paroki Sungai Ambawang.

    Misa dimulai tepat pada pukul, 09.00 WIB dan dalam awal misa, Mgr Agustinus Agus mengatakan bahwa misa Krisma bertujuan untuk mendewasakan iman. Sebab sejak seseorang sudah dibabtis artinya mereka menjadi bagian dalam gereja.

    “Namun tak hanya sampai disitu, jadi mereka yang sudah menjadi Katolik harus menerima sakramen krisma agar orang yang sudah Katolik menjadi dewasa,” kata Mgr Agustinus Agus.

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja harus menjadi sarana pemersatu

    Pesta Minggu Pentakosta mengingatkan umat untuk meneladani para Rasul. Karena para Rasul juga telah dikuatkan dan diberanikan dengan karunia Roh Kudus.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mengisahkan bahwa minggu itu merupakan pesta Pentakosta, ketika Roh Kudus turun ke atas para Rasul di ruang atas dan memberanikan mereka untuk dengan berani membagikan kabar baik tentang Kristus. Kisah ini terdengar luar biasa dalam Alkitab, dengan “angin kencang” dan “lidah api” yang luar biasa.

    “Tetapi yang paling luar biasa adalah bahwa kita masing-masing telah berpartisipasi dalam Pentakosta, dan itu mengubah jiwa kita selamanya,” kata Mgr Agus.
    Selaras dengan itu, pengalaman para Rasul tentang Pentakosta adalah asal mula Sakramen Penguatan. Sama seperti pada hari Pentakosta, sakramen ini adalah pencurahan Roh Kudus.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Pastoran St. Paulus dari Salib Paroki Mandor

    Semua orang Kristen adalah anggota keluarga Allah berdasarkan Pembaptisan, tetapi menerima Penguatan memperkuat dan melengkapi rahmat yang pertama kali diterima saat Pembaptisan:

    Sejak peristiwa itu, baru muncul gereja dan para murid Yesus mulai menyebarkan Firman.
    “Itulah kisah yang bisa kita petik yakni manusia menjadi kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya,” kata Mgr Agus.

    Sakramen adalah tanda yang tak terhapuskan 

    Dalam homilinya, Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus menyampaikan bahwa setiap Baptisan dan Tahbisan Suci, Sakramen Penguatan meninggalkan tanda yang tak terhapuskan pada jiwa. Begitu juga krisma yang baru diterima oleh 242 krismawan-krismawati.

    Sebagai Pastor Paroki, Pastor Lukas Ahon CP mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang telah menerima sakramen Krisma. Dia berharap, semua krismawan-krismawati dapat menghayati hidup berdasarkan injil dan selalu mengandalkan Tuhan disetiap saat.

    Baca Juga: Kami Rindu Melayani Umat; Ungkap Denny

    Pastor Lukas mengucapkan terima kasih kepada Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus karena sudah memberikan sakramen Krisma di Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang. Sebagai bentuk ucapan syukur kepada Allah, usai misa dia mengajak seluruh umat untuk santap siang.- (Samuel- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak/ Video: Jhordy).

    Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja harus menjadi sarana pemersatu

    Dokumentasi Peresmian Gereja Stasi Sta. Clara Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang Keuskupan Agung Pontianak oleh Mgr. Agustinus Agus tanggal 22 Mei 2021 didampingi oleh Pastor Paroki RP. Lukas Ahon CP bersama sejumlah umat stasi- @komsoskap

    MajalahDUTA.Com, Kubu Raya- Perkembangan Gereja Katolik khususnya di Keuskupan Agung Pontianak menjadi semangat baru pula untuk paroki dan stasi yang ada di Keuskupan Agung Pontianak.

    Sejak 2014 Mgr Agustinus Agus menjadi Uskup Agung Pontianak, banyak gebrakan dan gerakan baru baik dalam perkembangan iman dan pembagunan gereja.

    Sejalan dengan itu tepat pada Sabtu, 22 Mei 2021 telah diresmikannya Stasi Santa Clara Korek Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang Keuskupan Agung Pontianak.

    Baca Juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    Gereja diberkati lansung oleh Mgr Agustinus Agus sebagai Uskup Agung Pontianak kemudian dilanjutkan dengan tanda tangan prasasati oleh Uskup Agung Pontianak dan RP Lukas Ahon, CP sebagai pastor Paroki.

    Aloysius sebagai ketua pantia mengungkapkan kepanitiaan pengembangan dan rehap total Gereja mulai dibentuk pada tahun 2013.

    Namun kegiatan pembangunan baru bisa dilaksanakan setelah kurang lebih dua tahun. Kegiatan pembangunan itu dimulai dengan menghimpun dana melalui swadaya umat dan donatur.
    Aloysius mengungkapkan sebagai tahap awal maka dikerjakanlah posisi depan untuk perluasan gereja dengan ukuran 10 x 12 meter persegi. Kemudian umat melakukan gotong royong penancapan tiang pondasi.

    Ditengah pengerjaan, ternyata terjadi jeda kurang lebih 3 tahun terhitung sejak 2015-2018. Pada masa jeda tersebut panitia mencoba membangun lagi dan memperluas relasi dengan membuka renening dengan niat mempermudah para donatur yang baik hati untuk menyumbangkan dana niat baik mereka.

    Baca Juga: Paus Fransiskus mendorong jurnalis untuk selalu mencari kebenaran

    Aloysius mengisahkan jatuh bangunnya perjuangan dalam renovasi gereja stasi Santa Clara Korek. Kegiatan pembangunan itupun dilakukan sebanyak lima tahap.

    Jika dikronogiskan, dia mengatakan diperlukan selama delapan tahun untuk menyelesaikan kelima tahapan pembangunan gereja sehingga menjadi sebagaimana yang diresmikan para Sabtu sore, 22 Mei 2021.

    Kemudian Aloysius menyampaikan serapan anggaran secara keseluruhan per tahun, kecuali untuk pengerjaan menara disampaikan secara paket. Fokusnya pada penggunaan anggaran untuk pembangunan sehingga akan muncul nilai total (tanpa memilah material dan upah) dari kegiatan pembangunan Gereja.

    Sebagai ketua panitia Aloysis mengungkapkan banyak terima kasih kepada segenap donatu-donatur yang bersedia dengan ringan tangan untuk membantu sehingga gereja dapat diselesaikan.

    Lihat Juga: https://www.instagram.com/p/CPQBKHQL7ij/

    Sebagai Pastor Paroki, RP Lukas Ahon, CP mengapresiasi usaha dan kerjasama baik panitia dan donatur yang sudah dengan riangan tangan untuk membantu. Sebagai pastor paroki, ia mengharapkan dengan adanya pembaharuan pemberkatan gedung baru di stasi Santa Clara ini tentunya bisa meningkatkan keimanan umat di stasi.

    “Saya tetap mendoakan dan dukung gerakan-gerakan pembangunan iman untuk stasi yang sudah berusaha. Sejauh ini saya melihat sangat besar antusias umat gotong royong untuk bahu membahu membangun gereja stasi dan ini adalah berkat dan buah baik yang muncul di tengah umat,” katanya.

    Sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus juga mengapresiasi kerjasama dan kekompakan umat dalam bahu-membahu membangun gereja baru.

    Baca Juga: Samuel Ungkapkan: Jurnalis Mengambil Andil Penting dalam Edukasi Masyarakat

    “Semangat inilah yang harus kita pertahankan dan kita tingkatkan sebagai umat Katolik,” ujarnya.

    Mgr Agustinus Agus juga menyampaikan gebrakan pembaharuan dan pembangunan gereja di paroki-paroki juga masih membutuhkan bantuan. Tetapi syukurlah, stasi Santa Clara mampu menyelesaikan proses pembangunan gereja dengan usaha dan kerjasama antar umat.

    Uskup Agus, mengisahkan perjalanannya sedari pertama kali sampai di Keuskupan Agung Pontianak sampai saat ini masih banyak yang mau dibenahi. Beberapa paroki sudah dimekarkan dan pembangunan juga dimulai dimana-mana. Untuk itu, Mgr Agustinus Agus juga mohon doa dari umat, agar usaha Keuskupan Agung Pontianak bisa tuntas.

    Sebagaimana yang ia sampaikan, adanya Gereja justru harus menjadi sarana pemersatu dan sumber berkat bagi sesama.- (Samuel: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak & Jhordy: Videografer (Youtube Majalah DUTA)).

    TERBARU

    TERPOPULER