Monday, May 4, 2026
More
    Home Blog Page 158

    Pandemi Telah Menjadi Waktu yang Menegangkan Bagi Para Imam

    Pascal Deloche | Godong. - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Imam-psikolog menawarkan ide-ide tentang cara untuk mengatasinya, dan bagaimana kaum awam dapat membantu pastor mereka.

    Dirilis dari Aleteia, diterbitkan pada 06/02/21. Selama 15 bulan terakhir pandemi COVID-19 membuat banyak imam Katolik melaporkan perasaan kehilangan identitas, menurut seorang psikolog Kanada.

    Baca Juga: Momen Persaudaraan: Mengenang Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak

    Harus berkhotbah di bangku-bangku kosong dan harus membatasi orang masuk ke gereja, tidak dapat mengunjungi orang sakit atau yang terikat di rumah, membatalkan acara, dan tidak mendengar jemaat bernyanyi, semuanya “sangat sulit” bagi para imam, kata Pastor. Stephan Kappler, presiden dan kepala psikolog di Southdown, sebuah organisasi berbasis di Ontario yang mendukung kesehatan mental umat beragama dan pendeta.

    Imam Katolik

    “Banyak yang berkata kepada saya, ‘kami tidak pernah berpikir bahwa kami akan menjadi petugas polisi di paroki,’” Fr. Kappler mengatakan kepada B.C. Catholic, surat kabar Keuskupan Agung Vancouver, British Columbia. “Alih-alih merawat secara pastoral untuk orang-orang mereka, yang mereka lakukan hanyalah mengatakan, ‘Tidak, maaf, Anda harus mendaftar.’”

    Tidak berakhir di sana. Surat kabar itu melaporkan:

    “Apa yang saya lihat bekerja adalah agar orang yang benar-benar sadar tentang dukungan sosial,” kata Kappler kepada surat kabar itu. “Dengan kata lain, Anda harus berusaha dan berencana untuk menjangkau dan terhubung.”

    Baca Juga: Proyek “Alasan untuk Harapan Kita” mempromosikan dialog Kristen-Muslim

    Isolasi dan kesepian untuk waktu yang lama “biasanya tidak memberi makan strategi positif atau adaptif,” katanya. “Mereka biasanya makan hal-hal yang maladaptif, seperti terlalu banyak konsumsi alkohol atau hal-hal lain yang mematikan.”

    Perfeksionisme 

    Dia mendorong para imam untuk menyisihkan waktu melakukan percakapan berkualitas dengan orang-orang yang mereka percayai, lakukan setiap hari pada satu waktu, tetap membumi di dalam Yesus, dan mencari bantuan jika mereka membutuhkannya.

    “Ada persentase yang tinggi dari kita pendeta yang perfeksionis,” lanjutnya. “Perfeksionisme di satu sisi adalah hal yang baik karena membuat anda efisien, bertanggung jawab, dan anda ingin melakukan hal-hal dengan standar yang sangat tinggi, tetapi juga membutuhkan biaya yang cukup tinggi, dan biaya itu adalah tidak ada ruang untuk kelemahan.”

    Sumber Asli Naskah: https://aleteia.org/2021/06/02/the-pandemic-has-been-a-stressful-time-for-priests/

    Sementara orang-orang pada umumnya mengalami kesulitan meminta bantuan, masalahnya lebih buruk bagi pendeta, katanya kepada B.C. Katolik. “Saya telah mengalaminya dengan para pendeta, secara eksponensial lebih menantang untuk mengatakan ‘Saya butuh bantuan.’ Terkadang para pendeta diletakkan di atas alas dan masih ada stigma yang melekat pada kesehatan mental.”

    Orang awam tentu saja bisa membantu dengan doa. Tetapi Kappler juga menyarankan untuk menulis sebuah kartu atau surat dengan pesan dorongan sederhana, jaminan doa, dan kemungkinan tawaran dukungan.

    “Hanya untuk mengetahui bahwa Anda dipikirkan dan Anda tidak sendirian dalam hal ini,” katanya, “itu sudah sangat jauh.” (Sumber: Aleteia/diolah kembali Winda-MD). 

    Michael Haddad: Paus memberkati aktivis iklim, meminta doa di Kutub Utara

    Pope Francis blesses Michael Haddad at Wednesday's General Audience - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Setelah pertemuan singkat dengan Paus Fransiskus di Audiensi Umum mingguan, Michael Haddad menjelaskan berkat Paus atas tujuannya untuk berjalan 100 km melintasi Arktik.

    Diterjemahkan dari Vatikan News pada 02 Juni 2021, 17:03 waktu Vatikan, Michael Haddad yang telah lumpuh dari pinggang ke bawah sejak ia berusia enam tahun, setelah kecelakaan jet ski yang menyebabkan cedera tulang belakang. Namun, dia tidak membiarkan peristiwa tragis itu memengaruhi dorongannya untuk menjalani hidup sepenuhnya.

    Lahir di daerah Gunung Lebanon Lebanon, Michael menjadi atlet profesional dan, sejak 2016, menjadi Duta Besar Niat Baik Regional untuk Aksi Iklim dari Program Pembangunan PBB. Pada hari Rabu, ia bertemu sebentar dengan Paus Fransiskus di akhir Audiensi Umum mingguan.

    “Kecacatan hanyalah keadaan pikiran.”

    Berbicara kepada Vatican News setelah pertemuan itu, Michael menggambarkan bagaimana dia bangkit setelah kecelakaannya pada usia enam tahun dan memulai hidup baru.

    Baca juga: “Kami Bersyukur, Masih Ada Orang yang Peduli,” ujar Asong

    Pekerjaannya sangat berat, kelelahannya luar biasa, dan tantangannya bermacam-macam, katanya. Pada awalnya satu-satunya kemungkinan gerakannya adalah kursi roda, lalu kruk, dan akhirnya beberapa langkah pertama yang tidak pasti.

    Michael, bagaimanapun, telah mengatasi mereka semua. Berkat kemajuan medis dan penelitian ilmiah, ia sekarang dapat bermain ski dan mendaki gunung dengan bebas, dan ia memegang tiga rekor dunia. Berkat imannya, ia didorong oleh nyala api yang membantunya tidak hanya menjadi damai (“Biarkan Disabilitas Anda Menjadi Kekuatan Anda”, yang merupakan motonya, tetapi juga seorang pembicara motivasi dan contoh bagi banyak orang yang menghadapi kesulitan serupa.

    “Tidak ada yang tidak mungkin,” kata Michael kepada Vatican News. “Sebagai orang yang tidak mungkin berjalan atau bahkan berdiri tanpa bantuan, atau bahkan duduk tanpa bantuan, saya memutuskan untuk menggali potensi saya. Dan saya menemukan bahwa tidak ada yang tidak mungkin.

    Dibutuhkan dua hal: Iman dan tekad. Jadi, iman adalah keyakinan pada diri kita sendiri, keyakinan pada Pencipta dan keyakinan bahwa di dalam diri kita ada kekuatan tak terbatas untuk melampaui. Dan tekad adalah bahwa tidak ada yang datang dengan mudah. ​​Kita harus membuat pilihan ini, bertekad dan bergerak maju.”

    Berjalan berkat alat bantu

    Michael dapat bergerak dan berjalan dengan bantuan kerangka luar (exoskeleton) khusus yang dikembangkan oleh tim insinyur, dokter, dan peneliti yang memberikan stabilitas pada batang tubuh, bahu, dan lengannya.

    Dengan demikian, ia mampu mendorong tubuhnya ke depan dan berjalan selangkah demi selangkah. Bangun dari kursi roda, terutama setelah lama duduk, sangat melelahkan, tetapi Michael tidak menyerah.

    Alih-alih duduk, dia bersikeras diwawancarai sambil berdiri di Lapangan Santo Petrus.

    Baca juga: Momen Persaudaraan: Mengenang Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak

    “Aku kuat,” dia meyakinkan. Dia pertama-tama meregangkan kaki kanannya, lalu kirinya, dan akhirnya berdiri dan menyesuaikan dasinya. Tidak pernah sekalipun selama upaya ini dia meringis kesakitan. Senyum terus menyebar di wajahnya, yang—pada usia 40—masih mempertahankan beberapa fitur kekanak-kanakan.

    “Tersenyum, itu juga misi. Itu adalah ekspresi kebahagiaan yang saya bawa ke dalam. Salah satu tujuan hidup adalah bahagia; Yesus menyuruh kita mengubah ketakutan menjadi sukacita.”

    Pertolongan iman

    Michael adalah seorang yang percaya: “Saya seorang Kristen, dan saya percaya kepada Yesus Kristus,” katanya, menegaskan bahwa iman telah membantunya dalam setiap pertempuran. Imannya juga telah membantunya dalam pertempuran sehari-hari—yang disebutnya sebagai “misi agungnya”: untuk menarik perhatian dunia pada masalah lingkungan.

    Baca juga: Kisah Sang Missionaris Bruder Rufinus, MTB berbakat musik, suaranya merdu dan Baik hati

    “Saya memutuskan untuk berjalan,” jelasnya, “karena bumi duduk di kursi roda. Kita harus bersatu untuk menyelamatkan diri kita sendiri, untuk menyelamatkan planet kita dan saya melakukannya di bawah satu panji. Perserikatan Bangsa-Bangsa kita berdiri bersama di seluruh dunia. dunia untuk membuat perubahan ini. Dan kita harus melakukannya sekarang.”

    Mendaki, bermain ski, maraton, dan sekarang: Kutub Utara

    Michael telah mendaki gunung dan melintasi gurun. Dia juga telah berpartisipasi dalam dua maraton: satu di Kairo, yang lain di Beirut—di negara asalnya, Lebanon—untuk mengumpulkan dana bagi rekonstruksi rumah sakit yang hancur akibat ledakan di pelabuhan pada Agustus 2020.

    Sekarang dia memiliki misi lain: berjalan 100 kilometer di Kutub Utara. Itu adalah petualangan yang seharusnya dia lakukan pada tahun 2020, tetapi ditunda karena pandemi. Misi sekarang dijadwalkan untuk Februari atau Maret 2022.

    Baca Juga: Tujuh Pesan Fatima: Penjelasan Kardinal Ratzinger (Paus Benediktus XVI)

    “Tentu saja, ini sebuah tantangan,” kata Haddad. “Perjalanan 100 kilometer ke Kutub Utara bukan hanya sebuah pesan, tetapi juga kontribusi bagi sains. Saya bekerja dengan tim sains yang hebat dan telah dianggap sebagai salah satu dari sedikit orang di dunia yang dapat melakukan hal seperti ini dalam kondisi saya. Jadi, semua yang kami rencanakan sebelum, selama, dan setelah perjalanan ini akan berkontribusi pada penelitian ilmiah untuk membantu orang lain berjalan lagi melalui teknologi baru.”

    Kata Paus kepada Michael: “Berdoalah untukku di Kutub Utara”

    Saat dia duduk di barisan depan Audiensi Umum di Halaman San Damaso Vatikan pada hari Rabu, didampingi oleh Theresa Panuccio, perwakilan resmi dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), Michael memberi tahu Paus tentang tujuannya, dan memintanya untuk berkat untuk misinya di Kutub Utara.

    “Ketika saya menceritakan kisah saya kepada Bapa Suci, dia meletakkan tangannya di atas kepala saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa kami mencoba membawa pesan kemanusiaan, demi bumi dan lingkungan. Dia memberkati saya, dan saya berkata, ‘Bapa , tolong doakan saya.’ Dia menjawab, ‘Anda berdoa untuk saya di Kutub Utara.’ Saya tidak bisa menghilangkan kalimat itu dari kepala saya. Itu memberi saya kekuatan dan begitu banyak bahan untuk dipikirkan. Saya merasa lebih berkomitmen, dan Saya akan menghadapi tantangan ini bersama dengan Paus daripada sendirian.”

    Dua hadiah: simbol Lebanon

    Michael bahkan membawa dua hadiah untuk Paus Fransiskus.

    Yang pertama adalah cabang pohon cedar, simbol tanah airnya, Lebanon, sebuah negara yang oleh Paus St. Yohanes Paulus II disebut “sebuah pesan”.

    “Pohon cedar Lebanon adalah pohon abadi. Disebutkan beberapa kali dalam Alkitab, dan disebut cedar Tuhan,” jelas Michael.

    Dia juga memberi Paus foto sebuah gereja yang terletak di salah satu hutan cedar tertua di dunia.

    Baca juga: Pembedaan Roh: Pastor Eksorsis Keuskupan Agung Pontianak, P. Johanes Robini Marianto, OP

    “Kayu cedar menghubungkan Bumi 10.000 tahun yang lalu. Dengan kayunya, kapal dibuat dan koneksi menyebar ke seluruh dunia. Tanpa planet yang sehat tidak ada manusia yang sehat.”

    “Terima kasih,” ulang Paus beberapa kali, dan Michael meminta Bapa Suci untuk berfoto selfie dengannya. Sekarang dia dengan bangga bisa menampilkan foto itu di layar smartphone-nya. (Sumber terjemahan: VatikanNews- Salvatore Cernuzio & Felipe Herrera-Espaliat/ L-MD).

    Momen Persaudaraan: Mengenang Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak

    Pope Francis in Mosul during his Apostolic Journey to Iraq (Vatican Media)-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Para pemimpin Kristen dan Muslim berkumpul pada hari Kamis untuk webinar untuk berbagi wawasan mereka tentang kunjungan bersejarah Paus ke Irak pada awal Maret.

    Dirilis dari Vatikan News pada 03 Juni 2021, 14:56 waktu vatikan, dikatakan Komite Tinggi untuk Persaudaraan Manusia menyelenggarakan webinar tentang “Momen Persaudaraan Manusia: Dampak dari kunjungan bersejarah Paus Fransiskus ke Irak” pada hari Kamis.

    Acara tersebut mempertemukan para pemimpin agama dan sipil dari seluruh Timur Tengah untuk berbagi wawasan mereka tentang pentingnya Perjalanan Kerasulan Paus ke Irak, dan menawarkan pemikiran mereka tentang langkah selanjutnya dalam membangun kembali Irak, dan bagaimana negara tersebut dapat mempromosikan stabilisasi, rekonsiliasi, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

    Mosaik yang indah untuk koeksistensi (coexistence:  hidup berdampingan)

    Sekretaris Jenderal Komite Tinggi, Hakim Mohamed Abdelsalam, membuka webinar, menjelaskan, “Kita berkumpul di sini hari ini untuk memikirkan bersama tentang bagaimana kita dapat menginvestasikan kunjungan Paus ini dan membantu saudara-saudara kita di Irak tercinta, sebuah negara yang membentuk tatanan sosial yang indah dan mosaik yang indah untuk koeksistensi manusia.”

    Baca juga: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Gambaran indah ini, bagaimanapun, telah dirusak oleh perang, konflik dan terorisme, yang telah “meninggalkan luka besar di tubuh Irak.”

    Perjuangan Irak “menggerakkan Bapa Suci, yang tidak bisa melihat air mata orang-orang ini tanpa ingin menghapusnya.”

    Hakim Abdelsalam meyakinkan peserta bahwa Komite Tinggi akan “melakukan yang terbaik untuk membangun kunjungan bersejarah Bapa Suci ini,” menambahkan bahwa dia berharap Imam Besar Al-Azhar juga dapat mengunjungi Irak, untuk “menyelesaikan gambaran Persaudaraan Manusia.”

    Kita semua bersaudara

    Di antara pembicara utama di webinar adalah Kardinal Luis Raphaël I Sako, Patriark Babel dan kepala Gereja Katolik Kasdim. Dia menyatakan harapannya bahwa para peserta akan “mencapai visi dan rencana kerja untuk mengimplementasikan apa yang ditunjukkan Paus dalam pidato dan pertemuannya.”

    Kardinal Sako menjelaskan bahwa Paus Fransiskus, yang datang ke Irak di tengah konflik, ekstremisme, dan pandemi virus corona, membawa “satu pesan yang berpengaruh”: “Kita semua adalah saudara terlepas dari perbedaan kita, kita harus menghormati keragaman dan bergandengan tangan untuk membangun masyarakat yang lebih baik.”

    Baca Juga: Paus Fransiskus memuji biarawati AS untuk pekerjaannya menyambut para migran

    Patriark mencatat bahwa Paus juga menunjukkan “satu-satunya cara untuk menempuh jalan untuk mencapai perdamaian, stabilitas, kebebasan, dan martabat bagi setiap manusia adalah dengan menahan senjata.”

    Sebuah tonggak untuk dialog antaragama

    Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Kardinal Miguel ngel Ayuso Guixot, mengatakan, “Seluruh perjalanan ke Irak sangat penting. Setiap momen ditandai dengan gerakan dan kata-kata yang meninggalkan bekas.” Bersamaan dengan penandatanganan Document on Human Fraternity di Abu Dhabi pada 2019, kunjungan ke Irak merupakan “tonggak penting dalam jalur dialog antaragama.”

    Menggemakan Patriark, Kardinal Ayuso mengatakan Paus Fransiskus, “pergi ke Irak sebagai seorang pendeta untuk memberi tahu rakyat Irak: Anda semua adalah saudara.” Ini bukan sekadar “persaudaraan teoretis,” Kardinal Ayuso menjelaskan. Sebaliknya, itu adalah panggilan bagi setiap orang “untuk berkomitmen ‘sehingga impian Tuhan menjadi kenyataan: bahwa keluarga manusia dapat menjadi ramah dan menyambut semua anak-anaknya, yang, memandang langit yang sama, berjalan dalam damai di jalan yang sama. bumi.'”

    Baca juga: Paus Fransiskus mengirimkan pesan video untuk Minggu ke-50 Hidup Bakti

    Kardinal Ayuso menyoroti kunjungan kehormatan Paus ke Grand Ayatollah Sayyid Ali al-Husayni al-Sistani sebagai kontribusi yang “sangat penting” untuk membangun persaudaraan di antara orang Kristen dan Muslim.

    Demikian pula, pertemuan doa di Dataran Ur – rumah Abraham, ayah dari tiga agama monoteistik besar – “adalah kesempatan untuk berdoa bersama dengan orang-orang percaya dari tradisi agama lain … untuk menemukan kembali alasan koeksistensi antara saudara, untuk membangun kembali tatanan sosial di luar faksi dan etnis, dan untuk mengirim pesan ke Timur Tengah dan ke seluruh dunia.” Di Ur, lanjutnya, Paus menjelaskan bahwa “religiusitas sejati” adalah yang “menyembah Tuhan dan mencintai sesama.”

    Membangun kembali Irak

    Webinar hari Kamis juga menyertakan Asisten Direktur Jenderal UNESCO, Ernesto Ottone Ramirez yang, bersama dengan Pastor Olivier Poquillon dari Dominika, menyoroti inisiatif “Bangkitkan Semangat Mosul” UNESCO.

    Menteri kebudayaan dari Irak dan UEA menekankan tantangan bersama yang dihadapi masyarakat di wilayah tersebut. Perwakilan komunitas Islam Irak – Dr Sayyed Jawad Al-Khoei, salah satu pendiri Dewan Irak untuk Dialog Antaragama; dan Sheich Abdel-Wahab Taha Al-Sammerai, Imam Masjid Abu Hanifa di Baghad – juga berbicara di acara tersebut. (Sumber: VatikanNews/Christopher Wells-diolah: Semz-MD).

    Proyek “Alasan untuk Harapan Kita” mempromosikan dialog Kristen-Muslim

    Reasons for Our Hope project promotes Christian - Muslim dialogue (©koszivu - stock.adobe.com)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Proyek “Alasan untuk Harapan Kami”,yang dipromosikan oleh Oasis International Foundation dan McGrath Institute for Church Life, bertujuan untuk membantu orang Kristen mencapai “pemahaman baru tentang iman mereka dengan menanggapi pertanyaan Muslim dengan serius.”

    Dirilis dari Vatikannews oleh Vatican News staff writer pada 02 Juni 2021, 13:43 waktu vatikan. Dalam tulisan  berita tersebut mengungkapkan usaha menjawab pertanyaan dan stereotip yang mungkin dimiliki umat Islam tentang Kekristenan, Oasis International Foundation, bekerja sama dengan McGrath Institute for Church Life, telah meluncurkan proyek “Alasan untuk Harapan Kita” untuk membuka jalur pertukaran.

    Rangkaian video dalam proyek ini bertujuan untuk menjelaskan “mengapa orang Kristen tetap menjadi orang Kristen” dan berbagi “alasan untuk harapan kita.” Pada saat yang sama, ia berusaha membantu orang Kristen mencapai “pemahaman baru tentang iman mereka dengan menanggapi pertanyaan Muslim secara serius.”

    Baca Link: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Didirikan pada tahun 2004 di Venesia oleh Kardinal Angelo Scola, Oasis International Foundation mempelajari interaksi dan menumbuhkan saling pengertian antara orang Kristen dan Muslim, di dunia kita yang ditandai dengan hibridisasi peradaban dan budaya.

    Terinspirasi oleh Paus St. Yohanes Paulus II

    Informasi tersebut dijelaskan lebih lanjut bertujuan untuk proyek dan yayasan mengambil inspirasi dari kata-kata Paus St. Yohanes Paulus II dalam suratnya tahun 2001 kepada semua umat Katolik (Novo Millennio ineunte, 55 – 56), di mana ia menguraikan prioritas Gereja untuk milenium baru.

    Paus St. Yohanes Paulus II memberikan tempat khusus untuk berdialog, menekankan bahwa itu “akan menjadi sangat penting dalam membangun dasar yang pasti bagi perdamaian dan menangkal momok yang menakutkan dari perang agama yang telah begitu sering berdarah dalam sejarah manusia.”

    Baca juga: Dari Berpikir Terus-Menerus Menuju Berdoa Terus-Menerus

    Namun, santo Polandia memperingatkan bahwa dialog tidak dapat didasarkan pada ketidakpedulian agama. Sebaliknya, orang Kristen “berkewajiban, ketika terlibat dalam dialog, untuk memberikan kesaksian yang jelas tentang harapan yang ada di dalam kita”, sementara “mendekati dialog dengan sikap kesediaan yang mendalam untuk mendengarkan.”

    Percaya pada Roh Allah yang “bertiup ke mana Dia kehendaki” dan yang membantu “para pengikut Kristus untuk memahami lebih dalam pesan yang mereka bawa,” Paus St. Yohanes Paulus II mendesak umat beriman untuk mengambil “sikap keterbukaan, dikombinasikan dengan penegasan hati-hati” yang diadopsi oleh Konsili Vatikan II dalam kaitannya dengan agama-agama lain.

    Serangkaian video

    Dalam tiga video pendahuluan yang telah dirilis, proyek ini menjawab pertanyaan-pertanyaan penting dan menyajikan pola-pola di alam semesta baik Alkitab maupun Al-Qur’an.

    Video pertama menguraikan persamaan dan perbedaan antara Al-Qur’an dan presentasi Alkitab tentang Yesus dan misinya.

    Sumber Asli Naskah: https://www.vaticannews.va/en/church/news/2021-06/reasons-for-our-hope-oasis-christian-muslim-mcgrath.html 

    Video kedua menunjukkan tempat Yesus dalam Al-Qur’an, mengeksplorasi pemahaman Islam tentang sejarah, hukum yang mengaturnya dan bagaimana Yesus cocok dengannya; sedangkan yang ketiga mengeksplorasi tempat Yesus, Juruselamat kita, di dalam Alkitab.

    Video lebih lanjut akan dirilis dalam beberapa hari mendatang. (Sumber: VatikanNews- oleh Vatican News staff writer/ diolah kembali Semz-MD).

    Memahami Makna Perayaan Pentakosta

    Memahami Makna Perayaan Pentakosta. @komsoskap

    MajalahDUTA.Com,Pontianak – Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Pentakosta, yaitu hari turunnya Roh Kudus atas para Rasul. Apa kiranya makna perayaan ini dalam Gereja Katolik? Mari kita bahas sejarah dan makna perayaan ini untuk iman kita:

    1. Perjanjian Lama

    Dalam tradisi perjanjian lama, perayaan ini dikenal dengan nama “khag syavu’ot” atau Hari Raya Tujuh Minggu (Kel 34:22, Ul 16:9), yaitu 50 hari setelah Paskah Yahudi dirayakanlah Hari Pentakosta. Hari Pentakosta tersebut menandakan selesainya menuai jelai yang dihitung mulai dari sejak pertama kalinya menyabit gandum (Ul 16:9), dan waktu imam mengunjukkan berkas tuaian itu “pada hari sesudah sabat itu” (Ima 23:11).

    Baca Juga: Doa adalah Akar Kehidupan Spiritual Katolik

    Hari Pentakosta disebut juga “khag haqqatsir” / Hari Raya Menuai dan “yon habbikkurim” / Hari Buah Bungaran (Kel 23:16, Bil 28:26). Hari Pentakosta tidak hanya dirayakan pada zaman Pentateukh, bahkan hingga zaman Salomo pun, Hari Pentakosta masih dirayakan (2 Taw 8:13) sebagai hari raya kedua dari ketiga pesta tahunan (bdk Ul 16:16).

    Tiga hari raya besar yang diperingati bangsa Israel adalah: Hari Raya Roti Tidak Beragi (Paskah), Hari Raya Tujuh Minggu (Pentakosta), dan Hari Raya Pondok Daun.

    1. Makna dari Hari Pentakosta dalam Perjanjian Lama
    • Hari Pertemuan Kudus (Ima 23:21)

    Pada hari tersebut tidak boleh dilakukan pekerjaan berat, dan semua laki-laki Israel harus hadir di tempat kudus (Ima 23:21). Pada hari itu dua buah roti bakar, yang dibuat dari tepung halus yang baru dan beragi, diunjukkan oleh imam di hadapan Allah, pada saat imam mempersembahkan korban-korban binatang untuk menghapus dosa dan memperoleh keselamatan (Ima 23:17-20).

    Baca Juga: “Kami Bersyukur, Masih Ada Orang yang Peduli,” ujar Asong

    • Hari Bersukaria (Ul 16:15)

    Pada hari itu orang Israel saleh mengungkapkan rasa terima kasihnya karena berkat tuaian gandum dan sekaligus menyatakan rasa takut dan hormat kepada Yahweh (Yer 5:24).

    1. Perjanjian Baru

    Dalam perjanjian baru, Hari Pentakosta berubah maknanya setelah terjadi peristiwa yang mengherankan, dimana Roh Kudus turun memenuhi para rasul di Yerusalem (Kis 2:1-13). Hari ini juga dimaklumkan sebagai hari lahirnya Gereja. Sesudah kebangkitan dan kenaikan Kristus (sekitar tahun 30M), persis pada hari Pentakosta yang diperingati seperti dalam zaman PL, murid-murid berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem, dan Roh Kudus turun atas mereka dengan tanda-tanda yang dapat didengar dan dilihat: “tiupan angin keras” dan “lidah-lidah seperti nyala api” (Kis 2:2-3).

    Selanjutnya, para rasul mulai berkata-kata dalam berbagai bahasa asing dari orang-orang yang juga berkumpul di Yerusalem. Sehingga orang banyak yang sedang berkumpul itu dapat mengerti karena para rasul berbicara dalam bahasa daerah mereka masing-masing tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kis 2:5-13).

    Baca Juga: Kepemimpinan yang melayani

    Kedatangan Roh Kudus adalah pemenuhan nubuat Yohanes (Luk 3:15-16) dan janji Yesus Kristus (Luk 24:49). Petrus menyatakannya sebagai penggenapan nubuat Nabi Yoel (Kis 2:16-21) dan suatu bukti dari kebangkitan Kristus sendiri (Kis 2:32-36). Ia mempersatukan orang-orang yang percaya menjadi satu kelompok, memberinya suatu pemersatu yang sebelumnya tidak mereka miliki, dan memberi mereka keberanian untuk menghadapi ancaman dan siksaan (Kis 2:4, 4:8,31, 6:8-15).

    Selanjutnya, peristiwa turunnya Roh Kudus inilah yang diperingati oleh orang-orang Kristen sebagai Hari Pentakosta.

    1. Makna Perayaan untuk Kita:
    • Hidup Menurut Bisikan Roh

    Hidup menurut bisikan Roh berarti hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan Roh Kudus, berarti juga menghayati keutamaan-keutamaan Kristiani seperti yang dikatakan Paulus dalam Galatia 5:22-23 “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”.

    Baca Juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Keutamaan ini hendaknya terlihat dalam kata, sikap tubuh dan perilaku setiap hari, sehingga kita dapat saling memahami satu sama lain walua kita beda suku, bahasa dan agama.

    • Roh Kudus sebagai Pembaharu Hidup Manusia

    Sebagai pembaharu, Roh Kudus akan membuka telinga yang telah tuli, mata yang telah buta, hati yang telah bebal sehingga kita dapat mendengarkan Kristus dengan baik, melihat melihat Kristus dengan lebih terang dan membuka hati kepada Kristus sehingga Ia dapat tinggal berdiam di hati kita.

    • Roh Kudus Memberikan Keberanian Untuk Bersaksi

    Dewasa ini kita membutuhkan Roh Kudus untuk memberikan kita keberanian seorang nabi, supaya bisa memberikan kesaksian yang benar terhadap korupsi, disintegrasi, ras dan suku yang semakin tajam antar golongan. Pada waktu Roh Kudus hadir, mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan bersaksi dengan penuh kuasa.

    Baca Juga: Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    • Roh Kudus Menguatkan untuk Bertahan Dalam Kesulitan

    Allah mengutus Roh-Nya dengan kuasa untuk mempersiapkan suatu umat yang akan mampu hidup ditengah kekacauan dan kesulitan apa pun. Ia menciptakan suatu Pentakosta baru untuk generasi pertama kaum beriman, dan St. Paulus adalah satu orang tersebut yang mendapatkan karunia dari bahasa roh.

    Di samping itu juga, karunia-karunia tersebut sungguh luar biasa. Bahkan pada Pentakosta Kristiani yang pertama itu, adegan para Rasul berbicara dalam bahasa-bahasa asing itu, tampak tidak cocok dengan tradisi setempat. “Mereka semua tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain, ‘Apakah artinya ini?” (Kis 2:13).

    SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA PENTAKOSTA!

    Sumber: amorpost[.]com

    Dari Berpikir Terus-Menerus Menuju Berdoa Terus-Menerus

    Dari Berpikir Terus-Menerus Menuju Berdoa Terus-Menerus- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Budi kita selalu aktif. Kita membuat analisis, merenung, melamun, bermimpi. Kita tidak pernah berhenti berpikir. Dapat kita katakan bahwa kita terus-menerus berpikir.

    Kadang-kadang kita berharap untuk dapat berhenti berpikir sebentar, agar dapat bebas dari perasaan cemas, takut, dan bersalah.

    Baca Juga: Doa adalah Akar Kehidupan Spiritual Katolik

    Kemampuan kita untuk berpikir adalah anugerah yang paling besar, tetapi sekaligus merupakan sumber kesusahan kita yang paling besar pula.

    Kemampuan Berpikir adalah Anugrah

    Apakah kita harus menjadi korban dari pikiran kita yang terus berjalan? Tidak, kita dapat mengubah diri kita yang terus-menerus berpikir menjadi terus-menerus berdoa. Ini kita lakukan dengan mengubah monolog batin kita menjadi dialog dengan Allah kita, yang merupakan sumber segala cinta.

    Dialog Dengan Allah

    Marilah kita keluar dari sikap mengurung diri, dan kita sadari bahwa Dia yang bersemayam di dalam pusat batin kita berkenan mendengarkan dengan penuh kasih segala sesuatu yang memenuhi diri kita dan membuat diri kita cemas.

    Baca Juga: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Ayat Kitab Suci:

    “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.”-(Yeremia 29:12-13)- (Sumber: Henri JM Nouwen-MD)

    Doa adalah Akar Kehidupan Spiritual Katolik

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak- Foto Stasi Pelanjau- Paroki Mempawah

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Sebaiknya anda tahu juga tentang artikel yang ditulis oleh Stacy Mitch yang pernah dirilis dari “Prayer: the Root of the Spiritual Life” tentang kekuatan doa dan doa itu sendiri adalah akar kehidupan spiritual katolik.

    Agaknya menarik  untuk dibaca dan dibagikan pengalaman unik dari sang penulis tentang gulatan dan kekuatan doa yang membangkitkan semangat hidup sebagai identitas katolik.

    Mari kita dengarkan ceritanya:

    Belakangan ini, saya menemukan satu studi yang menceritakan apa yang orang Amerika yakini tentang Tuhan. Salah satu statistik yang menonjol adalah hampir tiga perempat orang Amerika berdoa setidaknya sekali seminggu. Reaksi saya terhadap fakta sederhana itu membuat hati saya campur aduk.

    Di satu sisi, saya pikir itu cukup baik karena begitu banyak jumlah orang yang berdoa. Namun di sisi lain, percakapan apa yang mereka lakukan jika mereka hanya berdoa sekali seminggu?

    Baca juga: Dalam Audiensi Umum Paus Ungkapkan: Mengatasi kesulitan dalam doa

    Jangan salah paham, sedikit berdoa itu lebih baik daripada tidak berdoa sama sekali. Tapi, bagaimana jika saya hanya berbicara dengan suami saya hanya sekali seminggu, apa yang Anda pikirkan tentang perkawinan kami? Saya kira Anda akan meragukan kekuatan dan kedekatan hubungan kami. Dan Anda tepat sekali untuk meragukannya.

    Tidak ada perkawinan yang bisa bertahan, apalagi berkembang, jika suami istri hanya melakukan pembicaraan singkat seminggu sekali. Sama dengan hubungan dengan Tuhan, hubungan kita dengan-Nya tidak akan menopang dan membawa perubahan jika kita berpaling kepada-Nya hanya seminggu sekali.

    Membangun hubungan dengan Tuhan

    Doa merupakan cara kita membangun hubungan dengan Tuhan. Tentu saja Dia tahu apa yang kita pikirkan tanpa kita memberitahukan kepada-Nya. Meskipun demikian, Dia ingin kita memberitahukan kepada-Nya. Dia ingin kita berpaling kepada-Nya bukan hanya seminggu sekali, atau sekali sehari, tetapi terus menerus sepanjang hari. Itulah sebabnya Alkitab menasihati kita untuk “berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Lukas 8:1) dan “berdoa dengan tekun dan siap siaga, sambil mengucap syukur kepada Allah” (Kolose 4:2).

    Allah tidak ingin kita berdoa karena Dia membutuhkan doa-doa kita. Dia ingin kita berdoa, karena kita yang membutuhkan-Nya. Kita perlu berpaling kepada-Nya terus menerus, berulang kali, lagi dan lagi supaya kita bisa belajar mendengar suara-Nya yang berbicara kepada kita dan melihat tangan-Nya yang menuntun kita. Kita perlu berpaling kepada-Nya sehingga kita dapat diubah oleh-Nya sekaligus menerima rahmat yang kita perlukan untuk menghidupi kehidupan yang Allah berikan kepada kita untuk kita jalani.

    “Yesus, saya ingin melihat wajah-Mu” merupakan doa dari hati yang merindukan Juruselamatnya.

    Tanpa doa, keberanian dan kemurahan hati hanyalah khayalan belaka, seperti pemikiran yang menyenangkan tetapi tidak nyata. Jika kita tidak berdoa sebagaimana mestinya, mungkin kita belum memahami dengan jelas tentang sifat dari doa itu sendiri. Kerendahan hati merupakan kebajikan di mana kita memiliki pengetahuan diri atau “citra diri” yang akurat.

    Iman yang menuntun dalam jalan kebajikan

    Kerendahan hati memberi tahu kita bahwa terpisah dari Yesus, kita tidak bukan apa-apa dan tidak bisa melakukan apa yang bernilai. Melalui kerendahan hati pula, kita diajarkan bahwa dalam Dialah, kita adalah putra-putri dari Raja Surgawi yang memiliki semua yang kita perlukan dan yang memberikan kita kekuatan untuk melakukan karya-Nya di dunia. Segala yang baik dalam diri kita berasal dari kebaikan Ilahi-Nya dan semua kegagalan kita dapat diatasi melalui kasih karunia-Nya yang besar.

    Tetapi doa tidak cukup hanya dengan kerendahan hati saja, tetapi memerlukan iman juga. Menurut Ibrani 11:1, iman adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Iman merupakan kebajikan yang memampukan kita untuk percaya akan kebenaran Allah bahkan secara fisik kita tidak dapat melihat-Nya. Kita menerima kebenaran ini berdasarkan kesaksian dan kepercayaan akan Allah sendiri.

    Baca juga: Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    Dalam 1 Petrus 1:8-9, St. Petrus mengatakan demikian, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” (Sumber: “Prayer: the Root of the Spiritual Life”- diolah: Semz- MD).

    Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Pope Francis holds his weekly general audience at the Vatican on June 2, 2021. (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus melanjutkan katekese tentang doa Kristen pada Audiensi Umum hari Rabu, dan menjelaskan bahwa doa adalah hal mendasar dalam hubungan Yesus dengan murid-murid-Nya.

    Dirilis dari Vatikannews yang ditulis oleh Robin Gomes yang dirilis pada 02 Juni 2021, 09:44 Vatikan, Paus Fransiskus mengambil beberapa contoh dari Injil untuk menjelaskan bahwa doa adalah hal mendasar dalam hubungan Yesus dengan murid-murid-Nya.

    Memilih murid-murid-Nya

    Sebelum memilih murid-murid-Nya, kata Lukas, Yesus naik gunung untuk berdoa dan menghabiskan sepanjang malam berdoa kepada Tuhan. Pada siang hari, Dia memilih murid-murid-Nya menamai mereka rasul.

    Doa yang merupakan dialog dengan Bapa, kata Paus adalah kriteria dari pilihan ini, yang banyak tampaknya bukan yang terbaik, terutama yang berkaitan dengan Yudas, pengkhianat masa depan. Tetapi Paus mengatakan bahwa nama-nama para murid tertulis dalam rencana Tuhan.

    Baca juga: Paus Fransiskus memuji biarawati AS untuk pekerjaannya menyambut para migran

    Paus menunjukkan bahwa para rasul kadang-kadang menjadi penyebab keprihatinan bagi Yesus, tetapi Dia membawa mereka di dalam hati-Nya bahkan dalam kesalahan mereka dan ketika mereka jatuh karena Dia menerima mereka dari Bapa.

    “Oleh karena itu, doa bagi mereka terus muncul kembali dalam kehidupan Yesus,”katanya.

    Sabar menunggu konversi

    Sebagai seorang guru dan sahabat, Bapa Suci melanjutkan, Yesus menunggu dengan sabar untuk pertobatan murid, seperti yang terbukti dengan Petrus pada Perjamuan Terakhir. Yesus memberi tahu Petrus bahwa Dia telah berdoa agar imannya tidak gagal dan ketika dia bertobat, dia harus meneguhkan saudara-saudaranya. “Kasih Yesus selama masa kelemahan murid-Nya tidak berhenti, melainkan menjadi lebih kuat, dan kita berada di pusat doa-Nya.”

    Doa di titik balik

    Paus Fransiskus meyakinkan umat Kristiani bahwa Yesus terus mengasihi dan berdoa bahkan bagi mereka yang berada dalam dosa berat dan dosa yang paling buruk sekalipun.

    Kasih dan doa-Nya bagi kita masing-masing tidak pernah berhenti, malah menjadi semakin intens. Dia meyakinkan orang Kristen bahwa pada saat ini Dia sedang berdoa untuk kita menunjukkan kepada Bapa luka-lukanya, harga keselamatan kita.

    Baca juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    Sekali lagi, Yesus berada di tempat yang sunyi berdoa, ketika Dia ingin memverifikasi iman murid-murid-Nya. Ketika Dia bertanya kepada mereka, menurut mereka siapa Dia, Petrus menjawab, “Kristus dari Allah.”

     

    “Titik balik besar dari misi Yesus,” kata Paus, “selalu didahului dengan doa yang intens dan berkepanjangan.” Ujian iman ini adalah “titik awal yang diperbarui bagi para murid”, karena sejak saat itu, kata Bapa Suci, Yesus mengambil nada baru dalam misi-Nya, berbicara secara terbuka kepada mereka tentang sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya.

    Pada saat pengumuman akhir-Nya, yang secara naluriah membangkitkan rasa jijik pada murid-murid-Nya dan di dalam kita, Paus berkata, “doa adalah satu-satunya sumber cahaya dan kekuatan”.

    “Dibutuhkan untuk berdoa lebih intens setiap kali jalan menanjak.”

    Transfigurasi

    Segera setelah berbicara tentang nasib-Nya di Yerusalem, episode Transfigurasi terjadi.

    Lukas mengatakan bahwa Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas gunung untuk berdoa, ketika wajah-Nya berubah rupa dan pakaian-Nya menjadi putih dan bercahaya. Musa dan Elia dalam kemuliaan mereka berbicara dengan Yesus tentang kepergian-Nya yang akan diselesaikan di Yerusalem.

    Baca juga: Bahasa Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    “Oleh karena itu,” jelas Paus, “perwujudan kemuliaan Yesus yang diantisipasi ini terjadi dalam doa, sementara Putra terbenam dalam persekutuan dengan Bapa dan sepenuhnya menyetujui kehendak kasih-Nya, pada rencana keselamatan-Nya.”

    Dan dari doa itu muncul kata yang jelas untuk ketiga murid yang terlibat: “Inilah Putraku, yang terpilih; dengarkan Dia”.

    Yesus yang menyempurnakan doa kita

    Dengan demikian, kata Paus, Yesus tidak hanya ingin kita berdoa sebagaimana Dia berdoa, tetapi meyakinkan kita bahwa, bahkan jika usaha kita untuk berdoa sama sekali sia-sia dan tidak efektif, kita selalu dapat mengandalkan doa-Nya.

    Paus mengingatkan semua umat untuk mengulangi dan menghafal bahwa Yesus selalu berdoa untuk kita.

    “Ketika ada beberapa kesulitan, ketika Anda berada di orbit gangguan: Yesus berdoa untuk saya,” katanya menambahkan, Yesus sendiri yang mengatakannya. “Janganlah kita lupa bahwa apa yang menopang kita masing-masing dalam hidup adalah doa Yesus untuk kita masing-masing, dengan nama, nama keluarga, di hadapan Bapa, menunjukkan kepada-Nya luka yang merupakan harga keselamatan kita.

    Sebagai penutup, Paus Fransiskus mengatakan “bahkan jika doa kita hanya tergagap, jika itu dikompromikan oleh iman yang goyah, kita tidak boleh berhenti untuk percaya kepada-Nya”.

    “Didukung oleh doa Yesus, doa kami yang malu-malu bertumpu pada sayap elang dan membubung ke Surga,” tutup Paus. (Sumber: VatikanNews, By. Robin Gomes- diolah: Semz-MD)

    “Kami Bersyukur, Masih Ada Orang yang Peduli,” ujar Asong

    Komisi Komunikasi Keuskupan Agung Pontianak- Stasi Santa Maria Ratu Rosari Pelanjau- Mempawah

    MajalahDUTA.Com, Mempawah- Kendala ekonomi membuat pembangunan gereja Stasi Santa Maria Ratu Rosari Pelanjau (Palanyo) tak kunjung selesai. Dengan kondisi yang cukup memprihatinkan, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak bekerjasama dengan Divisi Katolik Pontianak meninjau langsung ke lokasi gereja.
    Gereja ini terletak di Paroki St. Fransiskus Xaverius Mempawah, Dusun Pelanjau, Desa Amawang, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, Kalbar.

    Setibanya di lokasi, umat terlihat sedang bersiap-siap untuk mengikuti ibadat sabda hari Minggu pagi pukul 10.00 WIB.

    Sempit, sesak, panas dan berisiknya suara sound system, begitulah yang kami rasakan ketika kami membaur bersama umat dalam ibadat sabda itu. Terlihat beberapa orang tua menggendong anak sembari mengipasinya, membuat perasaan ini tercampur antara prihatin dan bangga. Prihatin karena suasana ibadat dilaksanakan di tempat yang sepanas dan sesempit itu, namun bangga melihat antusias masyarakat Dusun Pelanjau dalam mengikuti ibadat sabda.

    Baca Juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Setelah ibadat, kami memperkenalkan diri kami kepada umat di Pelanjau. Perkenalan diiringi ekspresi senyum ramah dari umat yang mendengarkan maksud dan tujuan kami mendatangi tempat mereka.

    Admin Katolik Pontianak menjelaskan secara singkat tentang KaPon yang bukan hanya mewartakan kabar melalui sosial media, namun dilain sisi tim Komsos ingin melakukan aksi nyata dengan ‘Datang dan Melihat’ langsung keadaan masyarakat, serta berkomunikasi dengan mereka.

    “Desa Sadaniang sebagai tempat bakti sosial berdasarkan usulan beberapa pengikut Instagram KaPon yang merekomendasikan gereja di stasi Pelanjau,” ungkap mimin.

    Sebagai Kepala Dusun, Niko mengatakan, Pelanjau terdiri dari 82 KK, dan umat yang ada berjumlah lebih dari 300 orang. Dengan kapasitas kapel dan tempat duduk yang terbatas, lanjut Kadus “kondisi gereja saat ini cukup susah saat umat mengikuti ibadat sabda dalam jumlah yang banyak.”

    Sejalan dengan itu, Rita selaku Ketua Umat di Stasi Santa Maria Ratu Rosari Pelanjau juga mengungkapkan awal mula berdirinya kapel yang saat ini mereka gunakan.

    “Dulu kalau mau ibadat susah, setiap hari raya kita harus pergi ke Pusat Desa dengan berjalan kaki kurang lebih 2 kilometer jaraknya, itu pun hanya sewaktu hari raya saja, jadi umat disini berinisiatif untuk membangun kapel terlebih dahulu,” kata Rita.

    Baca Juga: https://www.youtube.com/watch?v=SITgY1DWqEw

    Karena peningkatan jumlah umat dan saat stasi lain berkunjung, imbuh Rita: “Seringkali kapel ini kekurangan ruang (space) untuk duduk, “Jadi kita berinisiatif untuk membangun gereja yang berkapasitas besar.”

    Gotong royong umat

    Masyarakat di dusun Pelanjau mayoritas bekerja sebagai penyadap karet dengan penghasilan rata-rata kurang dari 1 juta perbulannya. Ketika musim hujan, karet bahkan sama sekali tidak menghasilkan.

    Rita berharap, kedepan umat bisa terus berjuang, saling memotivasi dan berkolaborasi dengan stasi lain dalam pembangunan yang lebih maju serta lebih kuat dalam iman, bersatu dan kerjasama untuk mendirikan sebuah bangunan dan inilah sebuah keyakinan supaya umat di Pelanjau tetap Katolik.

    “Harapan yang paling besar bisa terus dikunjungi seperti ini agar ada motivasi, masukan atau saran. Kami di tempat ini sangat susah mendapat informasi karena terkendala sinyal.” imbuh Ketua Umat.

    Kayus Asung yang merupakan Ketua Panitia Pembangunan Gereja Santa Maria Ratu Rosari Pelanjau menyampaikan, umat di Pelanjau berencana melanjutkan bangunan yang lama telah dibiarkan itu,” Selama 2014 kami merencanakan pembangunan itu sampai awal tahun 2021 kami melanjutkan kembali,” katanya.

    Lihat juga Link: Kapon https://www.instagram.com/p/CPkLX06tuoM/

    Ia mengakui kendala utama dalam pembangunan gereja baru itu yang paling utama yakni kekurangan modal. “Umat di Pelanjau mengumpulkan iuran sebesar Rp. 350.000 per Kepala Keluarga serta juga dilakukan pengumpulan iuran sebanyak dua ribu rupiah setiap minggunya secara rutin. Puji Tuhan dengan iuran 2 ribu rupiah umat tidak merasa terbebani dan dengan senang hati menyumbang,” katanya.

    Sekarang stasi masih dibantu oleh para donatur-donatur luar, ia mendoakan agar kiranya para donatur senantiasa diberikan kelancaran dlm usaha dan kesehatan.

    “Setelah sekian lama bangunan ini tersendat, kami merasa senang team dari kapon dan komsos KAP datang memberi angin segar untuk membantu mencarikan dana melalui para donatur,” kata Kayus Asung.

    Menutup wawancaranya Asung menyampaikan bahwa masyarakat disana bergotong royong untuk membangun gereja setiap hari Rabu dan Minggu pukul 14.00 WIB. Ia berharap umat di stasi lebih semangat dan memiliki keyakinan bahwa kerja keras mereka akan menjadi nyata.(Wawancara: Romanus-MajalahDUTA).

    Kepemimpinan yang melayani

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak- SD Nusa Indah- Bruder MTB

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Rabu 26 Mei 2021 telah berlansung rekoleksi sehari khusus untuk para guru SD Nusa Indah yang merupakan bagian dari Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder (YPSB) Bruder Maria Tak Bernoda. Rekoleksi diikuti oleh 28 peserta yang merupakan seluruh karyawan yang bekerja di SD Nusa Indah, mulai dari para guru, office boy (OB) dan petugas keamanan (satpam).

    Kegiatan hari itu berlangsung dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, mulai dari mencuci tangan, menjaga jarak hingga mengenakan masker.

    Rekoleksi ini dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kerjasama tim dalam organisasi sekolah, mulai dari guru-guru, satpam sampai dengan OB.

    Baca juga: Bahasa Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    Dalam sambutan pembukaan, Bruder Dismas, MTB berharap dengan adanya kegiatan tersebut dapat membuat karyawan menyegarkan pikiran dari segala kesuntukan mengajar selama masa pandemi, meningkatkan kekompakan dan menjalin kerjasama dalam satu lingkungan organisasi.

    Harapannya kegiatan ini, ungkap Br Dismas MTB “semoga semangat para anggota dalam satu organisasi semakin ditingkatkan, menumbuhkan rasa kepedulian dan tindakan yang membuahkan hasil kepemimpinan yang melayani.”

    Panggilan adalah rahmat

    Suasana cerah disambut dengan mentari mulai menghangati kulit, ditambah sambutan hangat guru-guru pada narasumber merupakan sebuah permulaan hari yang antusias dan penuh berkat.

    Rekoleksi karyawan SD Nusa Indah dari YPSB ini dipandu langsung oleh Bruder Agustinus MTB bersama Sdr Samuel OFS selama satu hari penuh. Kegiatan dibagi menjadi dua sesi, pertama sesi materi tentang kepemimpinan yang melayani. Kedua sesi permainan yang dipandu oleh Br Agus.

    Baca juga: Yayasan Perguruan Masyarakat Kalimantan Barat (YPMKB): Wujud Karya dan Pelayanan untuk Pendidikan

    Kegiatan dibuka dengan doa dan dilanjutkan dengan sesi pertama yang dibawa oleh Sdr Samuel OFS.

    Merujuk dari visi dan misi SD Nusa Indah yakni “Komunitas pendidikan Katolik yang dijiwai semangat MTB (Simplisiter, Convidenter, Competency, Community), setia menumbuhkembangkan kaum muda, yang miskin dan tersingkir dengan memberi pendampingan agar menjadi pribadi utuh dan bermartabat.”

    Sejalan dengan itu materi yang disampaikan juga berkaitan dengan visi dan misi dari SD Nusa Indah terutama dalam naungan besar Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder (YPSB).

    Baca juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Filosofi materi dimulai dengan paradigma bahwa ‘setiap organisasi tentu dan pasti memiliki sebuah tujuan’. Kemudian untuk mencapai tujuan tersebut setiap anggota tidak bisa bekerja sendiri.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh RP Timothy Radcliffe, OP, “kita tidak dapat sendirian, sebab kalau kita sendirian maka kita tidak ada,” demikian bunyi kutipannya. Untuk itu organisasi yang memang ditinjau secara filosofisnya membutuhkan tangan, tubuh, kepala dan kaki maka organisasi tersebut pasti  tidak bisa bekerja sendiri. Untuk itu sebuah organisasi harus memiliki kesatuan hati.

    Sebagai pemimpin yang menggembala artinya; baik kepala sekolah, para guru, OB dan satpam merupakan pemimpin dibidang mereka masing-masing. Selain menjadi pemimpin, mereka juga terpanggil untuk menggiring orang lain untuk memperoleh keselamatan, yang dalam hal inilah mereka disebut gembala.

    Kesatuan hati

    Tujuan dari rekoleksi ini tentu untuk menyatukan hati, budi, roh dalam doa dan belajar di kehidupan.

    Kemudian meningkatkan rasa kebersamaan dan persatuan serta menjunjung tinggi nilai-nilai untuk saling menghargai dan menerima perbedaan dalam hidup berSAMA dan berkarya.

    Usai sesi materi, semua peserta diajak untuk mengikuti berbagai permainan yang dipandu lansung oleh Br Agustinus MTB. Permainan yang dibawakan bruder pun bermacam-macam, mulai dari jenis permainan yang menggunakan bola, kayu, air dan tali.

    Baca juga: 

    Tampaknya tak ada kata letih dari perserta, yang ada hanya semangat yang kembali pulih dan disegarkan setelah suntuk dengan kesibukan mengajar dan bekerja ditengah pandemi covid19.

    Br Agus juga mengungkapkan semua permainan yang dibawa ini adalah permaian yang mengingatkan anggota untuk menghargai tim dan merangkul setiap anggota dalam mencapai tujuan yang sama yaitu memanusiakan manusia lewat pendidikan. – (Samuel- MajalahDUTA).

    TERBARU

    TERPOPULER