MajalahDUTA.Com | Sejarah sering kali ditulis dari sudut pandang mereka yang datang terakhir, tetapi berbicara paling lantang. Dalam kisah tentang “penemuan” Borneo, kita segera berhadapan dengan satu pertanyaan mendasar, benarkah pulau ini pernah tidak dikenal, hingga harus “ditemukan”?
Borneo—yang kini kita kenal sebagai Kalimantan—bukanlah ruang kosong dalam peta dunia sebelum kedatangan orang-orang Eropa.
Jauh sebelum layar-layar kapal Portugis dan Spanyol menyentuh perairannya, pulau ini telah menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan maritim Asia. Pedagang dari Tiongkok, India, hingga dunia Arab telah lama mengenal wilayah ini.
Fakta ini bahkan secara eksplisit diakui oleh Pieter Johannes Veth dalam karya monumentalnya. Ia mencatat bahwa hubungan dengan bangsa-bangsa asing telah berlangsung sejak masa yang sangat tua, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal wilayah ini.
Pernyataan ini penting, karena menunjukkan bahwa narasi “penemuan” sesungguhnya berdiri di atas kenyataan yang telah lebih dahulu ada.
Namun sejarah yang kita warisi kerap dimulai dari bab yang berbeda: bab kedatangan bangsa Eropa.
Catatan tentang siapa orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Borneo tidaklah tunggal. Sebagian sumber menyebut Lorenzo da Gomez pada tahun 1518 sebagai pelopor.
Sementara itu, sejarawan Portugis João de Barros berpendapat bahwa Borneo baru benar-benar dikenal oleh Eropa melalui perjalanan Jorge de Menezes pada tahun 1526.
Perdebatan ini menjadi semakin menarik ketika kita memasukkan catatan Antonio Pigafetta, yang mengikuti ekspedisi keliling dunia di bawah komando Ferdinand Magellan. Dalam kroniknya, Pigafetta mencatat bahwa armada Spanyol telah singgah di Borneo pada tahun 1521.
Di titik ini, kita tidak hanya berbicara tentang kronologi, tetapi juga tentang perspektif. Siapa yang dianggap “pertama” sering kali ditentukan oleh siapa yang mencatat. Dan siapa yang mencatat, biasanya adalah mereka yang memiliki kuasa.
Dalam kerangka yang lebih luas, kedatangan bangsa Eropa ke Borneo tidak bisa dilepaskan dari dinamika global setelah Treaty of Tordesillas. Dunia dibagi secara imajiner antara Spanyol dan Portugis, dan wilayah-wilayah di Asia Tenggara menjadi bagian dari perebutan pengaruh tersebut.
Namun, sekali lagi, kita perlu berhati-hati dengan istilah “penemuan”. Sebab, seperti dicatat oleh Pieter Johannes Veth, masyarakat lokal di wilayah ini telah memiliki sistem sosial dan ekonomi yang mapan.
Ia bahkan menggambarkan bahwa kehidupan perdagangan di pesisir telah berkembang cukup maju, dengan keterlibatan berbagai kelompok penduduk setempat maupun pendatang.
Pernyataan ini memperkuat satu hal, ketika bangsa Eropa datang, mereka tidak memasuki wilayah yang kosong. Mereka memasuki sebuah dunia yang sudah hidup—dengan logika, struktur, dan relasinya sendiri.
Dengan demikian, “penemuan” Borneo oleh Eropa lebih tepat dipahami sebagai perjumpaan antara dua dunia, bukan sebagai awal dari keberadaan pulau itu dalam sejarah.
Hari ini, ketika kita berbicara tentang Kalimantan dan identitasnya, kesadaran historis semacam ini menjadi penting. Ia mengingatkan kita bahwa kita bukan sekadar objek dalam sejarah global, tetapi subjek yang memiliki akar panjang dan kompleks.
Borneo tidak pernah benar-benar “ditemukan”. Ia hanya dikenali kembali—oleh mereka yang sebelumnya belum melihatnya.*Samuel- Dosen AKUB Pontianak (Unika San Agustin).
Sumber:
Pieter Johannes Veth. Borneo Bagian Barat (Geografi, Statistis, Historis), Jilid 1. Terjemahan oleh P. Yeri OFM.Cap. Cetakan ke-2, 2017.
Veth, P.J. Borneo’s Westerafdeeling: Geographisch, Statistisch, Historisch. Zaltbommel: Joh. Noman en Zoon, 1856.




