Wednesday, May 6, 2026
More
    Home Blog Page 160

    Kisah Sang Missionaris Bruder Rufinus, MTB berbakat musik, suaranya merdu dan Baik hati

    - Kisah Br. Rufinus (A.J.M) van DAL - (28-10-1890 - 08-01-1934). - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Kisah Br. Rufinus (A.J.M) van DAL – (28-10-1890 – 08-01-1934). Bruder Rufinus, MTB Lahir di Tilburg pada 28-10-1890 dan masuk Kongregasi MTB pada 24-08-1907. Dia memperoleh Kaul Pertama pada 04-09-1909 kemudian Kaul Kekal pada 02-09-1911.

    Bruder Rufinus, MTB berangkat ke Indonesia pada 26-04-1924 dan Kembali ke negeri Belanda awal tahun 1932. Ia Meninggal dunia di RS Breda 08-01-1934 karena sakit.

    Baca Juga: Kisah Ransel & Hutan Belantara (Rimba)- Pastor Petrus, CP

    Adapun tugas-tugas Guru dan studi di negeri Belanda sedari 1911 – 1924 yakni menjadi Guru ‘Hollans Chinese School (HCS) Singkawang pada 1924. Kemudian pernah menjadi Guru HCS Pontianak pada 1926 dan Guru kelas persiapan calon bruder pada 1932.

    Anak sulung

    Bruder Rufinus adalah anak sulung dari delapan anak, semuanya laki-laki. yang dilahirkan oleh Bernadine Mannaerts, isteri Bernardus van Dal. Tiga dari anaknya  menjadi bruder MTB di Huijbergen. Adik Br. Rufinus yang namanya Sjef menjadi Br. Winfridus. yang ditunjuk akan berangkat ke Singkawang dalam tahun 1921, akan tetapi tidak jadi, karena di­bedah pada maagnya. Seorang adik lagi menjadi Br. Borromeus, yang berkarya di Kalimantan Barat dari tahun 1946 sampai 1971.

    Dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1890 lantas beliau dipermandikan di gere­ja St. Dyonisius di Goirle-Tilburg dan diberi nama Arnoldus Josephus Maria. Nama panggilannya “Noutje”.

    Br. Rufinus menjadi guru pa­da sekolah kecil pertama dari konggregasi kita di Singkawang yakni HCS  St. Dyonisius. Uang untuk mendirikan sekolah ini dikumpul­kan oleh umat dari Paroki St. Dyonisius di Kota Tilburg.

    Baca Juga: Perayaan Ulang Tahun Kongregasi Bruder MTB ke-166

    Ayahnya mempunyai toko roti yang sekaligus juga “warung kopi” dan “tempat penginapan yang sederhana”, di mana petani-petani dari sekitar Sungai Bergse Maas dapat menginap, supaya pagi-paginya dapat menjual kentang, apel,  pir dan sayurnya di pasar.

    Belajar menjadi bruder

    Ketika Noutje diberikan sepatu kayunya (klompen) yang pertama, sudah ada be­berapa adik lagi: Sjefke, yang kemudian menjadi Br. Winfridus. Jan, yang per­nah untuk beberapa tahun menjadi tentara “huzar” dan juga pemain sepak bola dalam kesebelasan “Willem II”.

    Dan terus-menerus tambah adik lagi. Dalam ta­hun pemogokan kereta api dalam tahun 1903 sudah ada tujuh anak. Yang ketujuh adalah Gerard yang kemudian menjadi Br. Borromeus.

    Maka baik sekali bahwa kedua anak pertamal Noutje dan Sjef, bertutut-turut da­lam tahun 1906 dan 1907 meninggalkan rumahnya untuk pergi “belajar menjadi bru­der”. Pada tanggal 24 Agustus 1907 si Noutje menerima jubah dan diberikan nama Bruder Rufinus. Pada tanggal 4 September 1909 Kaul Pertama dan Kaul Kekal diikrarkannya pada tanggal 2 September 1911.

    Sesudah Kaul Pertamanya Br. Rufinus meneruskan studinya di SPG St.Fran­siskus kita di Bergen op Zoom dan memperoleh Ijazah Guru pada tanggal 20 A­pril 1911.

    Pada tgl, 24 Agustus 1915 memperoleh ijazah “Hoofd Akte” dan kemu­dian pada tanggal 8 Agustus 1923 Ijazah Bahasa Perancis.

    Sesudah memperoleh ijazah guru Br. Rufinus langsung ditugaskan sebagai guru di Sekolah St. Maria di Huybergen. Sesudah satu tahun mengajar di St. Maria, beliau ditugaskan di SD di Hoogstraat di Bergen op Zoom.

    Mi­si di Kalimantan Barat

    Sesudah memperoleh Ijazah “Hoofd Akte” pada tahun 1915, Rufinus terus menjadi guru pada SPG St Franciscus di Bergen op Zoom dan bersama SPG itu pindah ke Breda dalam tahun 1917, di dalam gedung yang pada waktu itu boleh disebut megah pada Lapangan Dr. Jan Ingenhousz.

    Di antara siswa-siswanya ada juga adiknya yang bernama Gerard, yang kemudian menjadi Br. Borromeus. “Tak pernah”, kata Br. Borromeus ia, “abangku Rufinus memanggil aku dengan namaku sendiri di dalam kelas.

    Jika ia memanggil saya untuk menertibkan kelakuanku (dan hal ini sering perlu karena saya bukan “anak manis”) maka ia panggil saja:”Hai kamu!” atau “Camkanlah lu”. Sesudah SPG itu Rufinus sebentar mengajar di SD St. Aloysius, Sekolah Latihan siswa SPG yang baru selesai dibangun di Breda.

    Baca Juga: Surat Bapa Suci Kepada Brother Gerard Francisco Timoner, O.P., Master Jenderal Order of Preachers

    Karena kesehatannya mulai terganggu, maka bulan April 1920 beliau dipindahkan ke Huijbergen dan mengajar di SD, Sta Maria. Dalam bulan Desember beliau terpaksa berbaring dan pada 2 Januari 1922 maagnya dioperasi di Ber­gen op Zoom.

    Sesudah masa sakitnya Rufinus dipindahkan kembali ke Breda di SD St. Aloy­sius dan memperoleh ijazah Bahasa Perancis pada tahun 1923 itu. Kendati magnya lemah serta pembedahan itu namun beliau dipilih untuk Mi­si di Kalimantan Barat pada yanggal 11 Januari 1924. Tahun itu Bru­der MTB akan membuka komunitas di Pontianak, Sekolah HCS dan asrama.

    Pada tanggal 26 April 1924 Br. Rufinus bertolak naik kapal laut “Johan de Wit” bersama Br. Bertrandus, Edmundus dan Gonzaga ke West Borneo (Br. Hieronimus 1 tahun kemudian). Br. Rufinus ditempatkan di Singkawang dan mengajar di da­lam gedung sekolah yang sangat sederhana dan kecil, yang dahulu disumbangkan oleh Paroki St. Dyonisius di Tilburg, di mana Rufinus dilahirkan. Pada tahun 1926 beliau pindah ke HCS di Pontianak.

    Seperti saudara-saudaranya Rufinus berbakat musik, suaranya merdu dan sebab itu menjadi pemimpin koor gereja, pula dirigen apabilsekolah-sekolah berkumpul di mu­ka istana residen di ‘Larive Park’ dan memperdengarkan lagu-1agu di muka umum pada hari-hari Raya seperti misalnya Hari Ulang Tahun Ratu Wilhelmina.

    Br. Borromeus, adiknya berceritera tentang beliau

    Akhir tahun 1931 penyakit mag menjadi parah dan Rufinus terpaksa pulang ke Negeri Belanda dan tiba di Huijbergen bulan April 1932. Sekali peristiwa di ruang studi di gedung yang tua biara Huijbergen Br. Bernul­fus duduk di sampingnya dan berceritera: Apabila “ada”, artinya ada izin merokok, akan tetapi mengisap sigaret dilarang keras, dengan diam-di­am Br. Rufinus menggulung sebatang rokok dengan tembakau shag dan mengajarkan saya bagaimana membuatnya. Waktu saya harus mencoba mengisapnya maka  waktu itu sama sekali tidak enak untuk saya”.

    Waktu Br. Rufinus kira-kira sembuh, beliau dipindahkan ke Bergen op Zoom dan mengajar di kelas persiapan untuk calon-calon bruder. Akhir tahun 1933 beliau dibedah lagi pada magnya dan meninggal pada 8 Januari 1934 di Rumah Sakit St. Ignatius Breda.

    Br. Borromeus, adiknya berceritera tentang beliau: Noutje van Dal adalah anak yang halus dengan kulit yang agak berwarna sawo matang, berparas tampan dengan lekukan kecil di kedua pipinya, kemudian juga di dagunya. Bertakwalah dia dan saleh. Oleh ibunya  dididik untuk sedikit terlalu bersopan santun, seperti kebanyakan anak pada waktu itu.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Nostalgia di Paroki St. Petrus dan Paulus Sekadau

    Beliau meninggal jauh sebelum masa “emansi­pasi” dengan ia berdiri teguh di dalam “Zaman Kehidupan Roma Katolik yang Kaya”. Sampai hari yang terakhir beliau taat kepada aturan-aturan kuno. Pada waktunya ia dapat bergembira, bahkan kadang-kadang riuh sedikit.

    Akhirnya Br. Hieronymus berkata tentang dia: “Saya kenal Br. Rufinus beberapa tahun di Singkawang sebagai seorang bruder yang sangat baik hati dan ramah.” (Sumber: Bruder Rafael, MTB Pemimpin Umum Kongregasi Bruder MTB Indonesia- diolah: Samuel Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak).

    Kisah Ransel & Hutan Belantara (Rimba)- Pastor Petrus, CP

    P. Pietro di Vincenzo (Pastor Petrus, CP)- Bersama Samuel Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, KubuRaya Kec. Sungai Ambawang- Ransel dan Rimba inilah yang menjadi rangkuman cuplikan 46 tahun bertugas di Kalimantan Barat. Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini menuturkan cerita singkatnya dari perjuangan kecil hingga menjadi seorang imam.

    Tulisan ini diambil dari cuplikan singkat hidup P. Petrus, CP Missionaris Passionis yang berkarya di Pulau Borneo, terlebih khusus di Kalimantan Barat dalam momen kata sambutan 50 Tahun Imamat di Lingga 15 Agustus 2020 (kenangan yang dimulai dari Padula 15 Agustus 1970).

    Dalam sambutannya, ia mulai dengan tutur kalimat dan cerita tangisan pengalamannya menjadi seorang Imam. Mari kita dengar cuplikan ceritanya

    Pietro di Vincenzo (Pastor Petrus, CP)

    Saudara-saudara yang saya hormati dan yang saya kasihi, perkenankanlah saya dalam kesempatan ini menyapaikan beberapa buah tangisan tentang hidup saya, yaitu dari  pengalaman saya sedari kecil.

    Saya berasal dari keluarga yang terlahir atas 7 bersaudara; 5 laki-laki dan 2 perempuan. Dari 7 bersaudara itu, saya adalah anak yang bungsu. Keluarga saya merupakan keluarga yang sederhana (miskin). Saya pernah menangis dirumah hanya karena lapar, dan ibu saya yang bernama Sesilia pergi ke rumah tetangga untuk meminjam satu buah roti dan kemudian dikembalikan.

    Baca Juga: Paus Fransiskus memuji biarawati AS untuk pekerjaannya menyambut para migran

    Saat itu, saya masih berumur belasan tahun, dan disitu saya sudah mengembalakan domba-domba di pegunungan pada musim panas di daratan dan pulang pada musim dingin di Italia Selatan.

    Kala itu saya berumur dua belas tahun (12 Tahun). Dari Italia Tengah melakukan perjalanan 300 Km lebih, untuk mengantar domba-domba ke Italia Selatan. Selama 3 minggu berturut-turut ditempuh dengan jalan kaki, demikian juga pada musim semi pada bulan Mei.

    Kembali ke pegunungan selama 3 minggu dan masih tetap ditempuh dengan berjalan kaki.

    Dalam keadaan cuaca apapun domba-domba tidak boleh ditinggalkan sendirian, karena serigala dan binatang-binatang buas lain akan menghancurkan (memangsa) seluruh kawanan.

    Pengalaman saya dalam mengerjakan tugas itu, melihat bahwa domba-domba adalah binatang paling jinak antara segala segala ternak di dunia, maka Yesus mengumpamakan diri sebagai “Anak Domba Allah” karena itu saya yang hidup dalam ketakutan agar jangan sampai domba-domba ku dicuri pada malam atau siang hari.

    Hidup dalam keadaan seperti ini menjadikan saya selalu waspada dan mulai saat itu ketika sudah datangnya malam, saya tidur dengan mata sebelah. Semua ini sudah saya cicipi sebelum umur 15 tahun.

    Pengalaman seperti ini sangat membantu saya dalam hidup yang saya jalani sampai saat ini yaitu menjadi missionaris di Kalimantan di antara suku Dayak yang saya kasihi.

    Umur saya baru genap 15 tahun kemudian saya masuk seminari dan kala itu tahun ajaran pun sudah 3 bulan dimulai. Secara otomatis dengan sendirinya saya terlambat 3 bulan masuk sekolah SD, sebab ayah saya tidak melepaskan ku untuk masuk seminari.

    Maka kelas III SD aku terpaksa meloncat dua kelas sekaligus (kelas IV dan kelas V) dan langsung duduk di bangku kelas VI untuk mengejar teman-teman saya.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus ungkapkan Manusia Menjadi Kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya

    Perjuangan ini tidaklah mudah, apalagi berusaha dalam studi untuk mengikuti ritme sekolah bersama teman-teman terutama di kelas VI SD. Meskipun kala itu terbilang sulit, namun saya mampu mengejar langkah teman-teman saya.

    Jadi, untuk menjadi seorang imam diperlukan 16 tahun studi; 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP dan 1 tahun di Novisiat, 2 tahun di ilmu filsafat, 3 tahun di ilmu teologi dan 1 tahun untuk spesialisasi tentang ilmu Teologi Parokial. Jadi sejumlah kurikulum studi untuk menjadi seorang imam diperlukan 16 tahun.

    Berangkat ke Kalimantan Barat

    Pada tahun terakhir kuliah, saya diberi gelar, Drs di Kota Roma tentang ilmu Teologi, yaitu tentang pengetahuan Ketuhanan belajar tentang Kitab Suci. Kemudian pada tanggal 14 Agustus 1970 saya ditahbiskan sebagai imam menurut kehendak Tuhan Yesus.

    Selanjutnya setelah 3 tahun lebih dari pentahbisan imam, dan tepat pada tanggal 25 Januari 1974, Pesta Santo Paulus Rasul (Pertobatan Santo Paulus, Rasul ) aku berangkat ke Indonesia dengan tempat keberangkatan menuju tanah Borneo.

    Kala itu, saya turun dari pesawat Garuda di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta pada pukul 10.00 WIB pagi. Kemudian dari Jakarta, kami 3 orang ( 2 Pastor dan seorang Bruder) langsung berangkat menuju ke Singkawang untuk belajar Bahasa Indonesia selama 2 Minggu.

    Baca Juga: HUT Tahbisan Episkopal ke-45 Emerius Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM. Cap- Keuskupan Agung Pontianak

    Kepada kami bertiga, masing-masing diberi seorang guru, kemudian kami berangkat ke Sekadau, dan 2 minggu kemudian saya diajak P. Gabriel Ramoc Chiaro, yang adalah seorang pastor dan sudah berpengalaman, lalu kami menuju ke Stasi Pakit, dan  kemudian beberapa kali saya berturne bersama dia sembari belajar.

    Sesudah itu turne saya melakukan perjalanan turne sendirian untuk mengunjungi umat di kampung-kampung, dan saya telah menjalankannya dengan komitmen yang tak henti-hentinya.

    Sekarang saya telah mencapai (mendapat) kewarganegaraan Indonesia pada tanggal 24 Januari 1985, terhitung sudah 35 tahun lebih yang lalu.

    Selama 46 tahun di tanah Kalimantan saya telah menggunakan waktu secara terus-menerus dan tidak terasa, tahun demi tahun, mengunjungi umat di mana saja mereka berada baik di kampung-kampung besar maupun di tempat sepi.

    Kabar gembira tetap diwartakan dalam kondisi cuaca apapun, sabda Tuhan tetap diprioritaskan sebagai tugas utama dalam hidup saya.

    Pulau Borneo adalah pulau nomor 3 yang terbesar di dunia. Iklimnya panas-lembab menjadi ujian bagi orang yang hidup di Kalimantan. Bagi saya hal itu “No Problem” sebab sejak kecil sudah biasa mengembala di hidup yang sulit.

    Pengalaman saya sebagai gembala domba telah membentuk diri pribadi untuk selalu bersikap tahan dalam segala kesulitan hidup dan menyesuaikan diri dengan segala keadaan sekalipun serba sulit.

    Semua masalah- no problem

    Segala jenis makanan, apapun itu yang diberikan kepada saya itu semua “No Problem” untuk menjadi santapan.

    Sejak awal saya hidup di Tanah Kalimantan, saya terjun secara total dalam kerasulan melalui turne berturut-turut dalam situasi apapun. Dalam turne itu yang menjadi prioritas dan fokus utama adalah menggerakkan segenap tenaga dan fisik untuk menggunjungi umat melalui Turne berkelanjutan.

    Baca Juga: https://pontianak.tribunnews.com/2020/09/09/kisah-pastor-petrus-cp-sang-misionaris-ransel-dan-rimba?page=4

    Selama 15 tahun, saya menjelajahi seluruh daerah sungai Belitang Hulu-Belitang Hilir sampai dekat perbatasan Sarawak, dan selama 25 tahun saya menelusuri sampai ke pelosok-pelosok daerah Sungai Menterap, Sungai Kerabat dan Sungai Sekadau.

    Bahkan seluruh daerah Suku Taman, hingga tanah Meliau dan itu juga sebagian dari Keuskupan Sintang. Kini sudah hampir 6 tahun saya bertugas di Paroki Sungai Ambawang yang berpusat di Lingga (Keuskupan Agung Pontianak).

    Kunjungan umat di daerah-daerah sebelumnya,  dilaksanakan terus-menerus dengan jalan kaki, kecuali di Paroki Sungai Ambawang yang adalah daerah banyak Sungai.

    Sejak semula, masuk di Tanah Kalimantan, saya sudah tertarik sekali dengan hidup orang Dayak yang mirip seperti kehidupan di waktu saya masih kecil- persis di Kampung Halaman, Padula yang letaknya sekitar 200 KM dari Roma.

    Dulu pada tahun 70an-80an, ketika musim kemarau dan musim hujan, masih tetap stabil dan teratur. Jadi, pada musim hujan, tetap hujan dan pada musim kemarau tetap kemarau. Di dalam kedua musin ini, umat di kampung-kampung tetap dikunjungi tanpa syarat dan dalam situasi apapun.

    Segala tantangan tak menurutkan ku

    Saya merasa dikhususkan, terpanggil untuk mewartakan Sengsara Yesus di antara Suku Dayak. Di tahun-tahun kehidupan saya sebagai Missionaris. Saya telah berjalan tanpa lelah dan mengalami segala bahaya yang tersembunyi di rimba belantara. Saya dapat merangkumnya dengan baik.

    Seluruh hidup saya yang  selama di tanah Borneo itu terrangkum dengan dua kata saja yaitu Ransel dan Hutan Belantara, ini berarti “angkat ransel dan berangkat turne.”

    Segala tantangan dalam hidupku sebagai missionaris tidak menyurutkan semangatku.

    Namun kerasulan mengandung serngasa; “ Jarak yang jauh antara kampung-kampung, lumpur setinggi lutut, mengigil karena demam malaria, lapar, sakit perut, kelelahan, sesat dalam perjalanan, hujan lebat, berjemur – disertai tifus, perut yang memberontak, bahaya ular berbisa, bahaya banjir yang dalam dan berkelanjutan, bahaya karam di sungai Kapuas, biasa lesu tetapi tidak hilang asa, biasa putus asa dan kesepian, namun dalam semuanya ini semangatku untuk merasul tetap bertahan, bahkan tidak meninggalkan tekad untuk mewartakan Injil.

    Baca Juga: Secuplik Surat Tentang Kisah Misi di Borneo- Keuskupan Agung Pontianak

    Dalam segala hal tersebut, saya merasa terkesan dengan hidup Paulus dari Tarsus yang oleh Injil melakukan segala-galanya.

    Menderita segala-galanya, mengorbankan segalanya, mengunjungi segala sudut dunia dimana orang belum mengenal Yesus Kristus. Rasul Paulus pada akhir hidupnya berkata: “ Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman,” (2 Tim 4,7).

    Rasul Paulus adalah seorang pejuang yang gigih, penjelajah tanpa kenal lelah, pembalab tangguh yang telah menacapai garis finish. Seluruh hidup Rasul Paulus adalah seperti seorang Petani Maraton, yang berlari untuk mewartakan Injil di mana saja.

    “Cinta Kasih memerlukan Hati Yang Tahan Uji”

    Dalam tugas perutusanku di Kalimantan perjumpaan pribadi ku dengan Yesus Kristus lebih meningkat karena Roh Kudus yang mendampingi ku dalam pewartaan Injil di antara Suku Bangsa Dayak.

    Puji Syukur kepada Tuhan yang maha Baik karena telah membimbing langkah-langkah ku selama ini, melalui segala “Jalan Tikus” di Borneo.

    Dua catatan penting dari cuplikan kisah singkat ini

    Pastor Petrus di Vincenzo sudah 46 tahun lebih bertugas di Kalimantan Barat, dan orang yang telah dipermandikan sebanyak 12.100. Kedua yaitu jumlah misa kudus yang telah dipersembahkan selama 50 tahun yaitu sebanyak 19.129 kali Misa. Termasuk misa yang baru dipersembahkan malam ini (15 Agustus 2020 di Stasi Lingga, Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang).  Atas perhatian para hadirin diucapkan dengan bulat hati, selamat malam, sekian dan Terima Kasih. ( P. Petrus di Vincenzo).

    Semoga dengan kisah iman yang inspiratif ini, bisa menjadi salah satu lilin terutama semangat dalam mewartakan Injil ditengah dunia dan didalam situasi apapun. Terima kasih kepada Pastor Petrus, CP sang Missionaris Ransel & Rimba. (Sumber: Catatan Pastor Petrus dalam wawancara Samuel Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak).

    Paus Fransiskus memuji biarawati AS untuk pekerjaannya menyambut para migran

    Sr. Norma Pimentel greets a family of asylum seekers in Brownsville, Texas, on 25 February 2021 (2021 Getty Images)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Francis mengirim pesan video kepada Sr. Norma Pimentel, MJ, dalam videonya dia berterima kasih atas kerja timnya dalam menyambut migran Amerika Latin yang memasuki Amerika Serikat.

    Sr. Norma Pimentel mengirim sepucuk surat kepada Paus pada tanggal 3 Mei, menjelaskan pekerjaan Badan Amal Katolik di Lembah Rio Grande, yang terletak di perbatasan selatan AS dengan Meksiko.

    Sebagai tanggapan Paus Fransiskus mengirim pesan video kepada suster religius Meksiko-Amerika, memuji karyanya.

    Baca juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    Dirilis dari Vatikan News yang ditulis oleh Devin Watkins, Paus katakan “Terima kasih atas apa yang Anda dan seluruh tim Anda lakukan.”

    Dalam videonya Paus Fransiskus juga mengungkapkan terima kasih karean telah menyambut dan menerima para migran yang datang untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

    “Terima kasih, Suster,” ulang Paus. “Terima kasih untuk tim Anda.”

    Bantuan kemanusiaan

    Paus juga melanjutkan dengan menegaskan bahwa para migran “harus disambut, karena mereka harus dilindungi, didampingi, dan diintegrasikan”.

    “Empat hal ini,” kata Paus. “Disambut, dilindungi, didampingi, dan terintegrasi.” Dia menambahkan bahwa tim Catholic Charities di perbatasan selatan Texas membantu orang-orang yang “meminta bantuan untuk hidup lebih bermartabat”.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus ungkapkan Manusia Menjadi Kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya

    “Saya menemani Anda dari sini,” kata Paus Fransiskus. “Saya berdoa untuk Anda dan untuk semua orang yang Anda dampingi melalui pekerjaan Anda.”

    Saat memberkati Sr. Norma dan timnya, Paus meminta mereka untuk mendoakannya.

    Layanan Konseling program bantuan darurat

    Sr. Norma adalah seorang biarawati Missionary of Jesus dan direktur eksekutif Catholic Charities di Rio Grande Valley. Mitra Caritas Internationalis menjalankan beberapa program di dekat perbatasan AS / Meksiko, termasuk Pusat Pengendalian Kemanusiaan di McAllen, Texas.

    Berdasarkan situs web organisasi, pusat tersebut “menyediakan tempat bagi pengungsi pria, wanita, anak-anak, dan bayi yang tak terhitung jumlahnya untuk beristirahat, makan hangat, mandi, dan berganti pakaian bersih, serta menerima obat-obatan dan persediaan lainnya, sebelum melanjutkan perjalanan mereka. ”

    Baca juga: Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja harus menjadi sarana pemersatu

    Lebih dari 23.000 orang telah dibantu sejak 2015, ketika pusat tersebut dibuka di Gereja Katolik Hati Kudus.

    Catholic Charities of the Rio Grande Valley juga menawarkan layanan konseling, program bantuan darurat, dan pusat konseling kehamilan, di antara layanan lainnya. (Sumber: VatikanNews; Devin Watkins– diolah: Semz-MD).

    HUT Tahbisan Episkopal ke-45 Emerius Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM. Cap- Keuskupan Agung Pontianak

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak- Divisi Katolik Pontianak (KAPON)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Uskup kelahiran Menawai Tekam, Sanggau, Kalimantan Barat 5 Agustus 1937 ini ditahbiskan sebagai imam Kapusin pada 27 Juli 1967 dan menerima tahbisan episkopal pada 27 Mei 1976 ketika berusia 39 tahun.

    Beliau menjawab setelah menggantikan Uskup Agung Pontianak Mgr Herculanus Joannes Maria Van der Burgt OFM Cap yang wafat 2 Juli 1976.

    Mulai saat itu, Mgr Bumbun ditunjuk menjadi Uskup Agung Pontianak pada 26 Februari 1977.

    Persis pada selasa 3 Juni 2014, Uskup Agung Emeritus Pontianak Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFM Cap mengajukan permohonan pensiun dan dikabulkan Takhta Suci.

    Baca Juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    Hari itu juga pada pukul 17.00 WIB atau pukul 12.00 waktu Roma diumumkan Uskup Sintang Mgr Agustinus Agus saat itu menggantikan Mgr Bumbun sebagai Uskup Agung Pontianak sampai hari ini.

    Emeritus Mgr Bumbun, merupakan Uskup Agung Pontianak yang banyak mengecap perkembangan dan pertumbuhan gereja. Mulai dari masa-masa yang sulit sekalipun bahkan sampai perkembangan teknologi informasi yang cepat. Namun, banyak kesaksian umat dan imam yang dekat dengan beliau melihat begitu sederhana dan bijaknya cara beliau memimpin Keuskupan Agung Pontianak kala itu.

    Baca juga: Museum Kapusin, Pusaka Dayak & Tionghua di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

    Untuk itu, mari kita doakan Emeritus Mgr Bumbun agar selalu sehat dan terus memberikan teladan kerendahan hati dan cara hidup religius ditengah perkembangan zaman yang kian memaksa manusia untuk berubah.

    Salam dan doa dari kami, untuk Uskup Emeritus Mgr Bumbun tercinta, doa dan salam dari kami- Komisi Sosial Keuskupan Agung Pontianak, Majalah DUTA dan Katolik Pontianak. (Berbagai Sumber: hidupkatolik.com, dokumen komsos dan Majalah Duta).

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus ungkapkan Manusia Menjadi Kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya

    Dokumentasi - Misa Krisma dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus diikuti oleh peserta sebanyak 242 Krismawan/Krismawati di Gereja Katolik Stasi Sta. Clara Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang Keuskupan Agung Pontianak. (Minggu, 23 Mei 2021)

    MajalahDUTA.Com, Kubu Raya– Sungai Ambawang, Minggu 23 Mei 2021 telah diadakannya misa Krisma oleh Mgr Agustinus Agus didampingi Pastor Paroki Pastor Lukas Ahon, CP dan Pastor Petrus, CP yang diikuti oleh 242 peserta krismawan dan krismawati di Gereja Katolik Stasi Santa Clara Korek Paroki Sungai Ambawang.

    Misa dimulai tepat pada pukul, 09.00 WIB dan dalam awal misa, Mgr Agustinus Agus mengatakan bahwa misa Krisma bertujuan untuk mendewasakan iman. Sebab sejak seseorang sudah dibabtis artinya mereka menjadi bagian dalam gereja.

    “Namun tak hanya sampai disitu, jadi mereka yang sudah menjadi Katolik harus menerima sakramen krisma agar orang yang sudah Katolik menjadi dewasa,” kata Mgr Agustinus Agus.

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja harus menjadi sarana pemersatu

    Pesta Minggu Pentakosta mengingatkan umat untuk meneladani para Rasul. Karena para Rasul juga telah dikuatkan dan diberanikan dengan karunia Roh Kudus.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mengisahkan bahwa minggu itu merupakan pesta Pentakosta, ketika Roh Kudus turun ke atas para Rasul di ruang atas dan memberanikan mereka untuk dengan berani membagikan kabar baik tentang Kristus. Kisah ini terdengar luar biasa dalam Alkitab, dengan “angin kencang” dan “lidah api” yang luar biasa.

    “Tetapi yang paling luar biasa adalah bahwa kita masing-masing telah berpartisipasi dalam Pentakosta, dan itu mengubah jiwa kita selamanya,” kata Mgr Agus.
    Selaras dengan itu, pengalaman para Rasul tentang Pentakosta adalah asal mula Sakramen Penguatan. Sama seperti pada hari Pentakosta, sakramen ini adalah pencurahan Roh Kudus.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Pastoran St. Paulus dari Salib Paroki Mandor

    Semua orang Kristen adalah anggota keluarga Allah berdasarkan Pembaptisan, tetapi menerima Penguatan memperkuat dan melengkapi rahmat yang pertama kali diterima saat Pembaptisan:

    Sejak peristiwa itu, baru muncul gereja dan para murid Yesus mulai menyebarkan Firman.
    “Itulah kisah yang bisa kita petik yakni manusia menjadi kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya,” kata Mgr Agus.

    Sakramen adalah tanda yang tak terhapuskan 

    Dalam homilinya, Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus menyampaikan bahwa setiap Baptisan dan Tahbisan Suci, Sakramen Penguatan meninggalkan tanda yang tak terhapuskan pada jiwa. Begitu juga krisma yang baru diterima oleh 242 krismawan-krismawati.

    Sebagai Pastor Paroki, Pastor Lukas Ahon CP mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang telah menerima sakramen Krisma. Dia berharap, semua krismawan-krismawati dapat menghayati hidup berdasarkan injil dan selalu mengandalkan Tuhan disetiap saat.

    Baca Juga: Kami Rindu Melayani Umat; Ungkap Denny

    Pastor Lukas mengucapkan terima kasih kepada Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus karena sudah memberikan sakramen Krisma di Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang. Sebagai bentuk ucapan syukur kepada Allah, usai misa dia mengajak seluruh umat untuk santap siang.- (Samuel- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak/ Video: Jhordy).

    Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja harus menjadi sarana pemersatu

    Dokumentasi Peresmian Gereja Stasi Sta. Clara Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang Keuskupan Agung Pontianak oleh Mgr. Agustinus Agus tanggal 22 Mei 2021 didampingi oleh Pastor Paroki RP. Lukas Ahon CP bersama sejumlah umat stasi- @komsoskap

    MajalahDUTA.Com, Kubu Raya- Perkembangan Gereja Katolik khususnya di Keuskupan Agung Pontianak menjadi semangat baru pula untuk paroki dan stasi yang ada di Keuskupan Agung Pontianak.

    Sejak 2014 Mgr Agustinus Agus menjadi Uskup Agung Pontianak, banyak gebrakan dan gerakan baru baik dalam perkembangan iman dan pembagunan gereja.

    Sejalan dengan itu tepat pada Sabtu, 22 Mei 2021 telah diresmikannya Stasi Santa Clara Korek Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang Keuskupan Agung Pontianak.

    Baca Juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    Gereja diberkati lansung oleh Mgr Agustinus Agus sebagai Uskup Agung Pontianak kemudian dilanjutkan dengan tanda tangan prasasati oleh Uskup Agung Pontianak dan RP Lukas Ahon, CP sebagai pastor Paroki.

    Aloysius sebagai ketua pantia mengungkapkan kepanitiaan pengembangan dan rehap total Gereja mulai dibentuk pada tahun 2013.

    Namun kegiatan pembangunan baru bisa dilaksanakan setelah kurang lebih dua tahun. Kegiatan pembangunan itu dimulai dengan menghimpun dana melalui swadaya umat dan donatur.
    Aloysius mengungkapkan sebagai tahap awal maka dikerjakanlah posisi depan untuk perluasan gereja dengan ukuran 10 x 12 meter persegi. Kemudian umat melakukan gotong royong penancapan tiang pondasi.

    Ditengah pengerjaan, ternyata terjadi jeda kurang lebih 3 tahun terhitung sejak 2015-2018. Pada masa jeda tersebut panitia mencoba membangun lagi dan memperluas relasi dengan membuka renening dengan niat mempermudah para donatur yang baik hati untuk menyumbangkan dana niat baik mereka.

    Baca Juga: Paus Fransiskus mendorong jurnalis untuk selalu mencari kebenaran

    Aloysius mengisahkan jatuh bangunnya perjuangan dalam renovasi gereja stasi Santa Clara Korek. Kegiatan pembangunan itupun dilakukan sebanyak lima tahap.

    Jika dikronogiskan, dia mengatakan diperlukan selama delapan tahun untuk menyelesaikan kelima tahapan pembangunan gereja sehingga menjadi sebagaimana yang diresmikan para Sabtu sore, 22 Mei 2021.

    Kemudian Aloysius menyampaikan serapan anggaran secara keseluruhan per tahun, kecuali untuk pengerjaan menara disampaikan secara paket. Fokusnya pada penggunaan anggaran untuk pembangunan sehingga akan muncul nilai total (tanpa memilah material dan upah) dari kegiatan pembangunan Gereja.

    Sebagai ketua panitia Aloysis mengungkapkan banyak terima kasih kepada segenap donatu-donatur yang bersedia dengan ringan tangan untuk membantu sehingga gereja dapat diselesaikan.

    Lihat Juga: https://www.instagram.com/p/CPQBKHQL7ij/

    Sebagai Pastor Paroki, RP Lukas Ahon, CP mengapresiasi usaha dan kerjasama baik panitia dan donatur yang sudah dengan riangan tangan untuk membantu. Sebagai pastor paroki, ia mengharapkan dengan adanya pembaharuan pemberkatan gedung baru di stasi Santa Clara ini tentunya bisa meningkatkan keimanan umat di stasi.

    “Saya tetap mendoakan dan dukung gerakan-gerakan pembangunan iman untuk stasi yang sudah berusaha. Sejauh ini saya melihat sangat besar antusias umat gotong royong untuk bahu membahu membangun gereja stasi dan ini adalah berkat dan buah baik yang muncul di tengah umat,” katanya.

    Sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus juga mengapresiasi kerjasama dan kekompakan umat dalam bahu-membahu membangun gereja baru.

    Baca Juga: Samuel Ungkapkan: Jurnalis Mengambil Andil Penting dalam Edukasi Masyarakat

    “Semangat inilah yang harus kita pertahankan dan kita tingkatkan sebagai umat Katolik,” ujarnya.

    Mgr Agustinus Agus juga menyampaikan gebrakan pembaharuan dan pembangunan gereja di paroki-paroki juga masih membutuhkan bantuan. Tetapi syukurlah, stasi Santa Clara mampu menyelesaikan proses pembangunan gereja dengan usaha dan kerjasama antar umat.

    Uskup Agus, mengisahkan perjalanannya sedari pertama kali sampai di Keuskupan Agung Pontianak sampai saat ini masih banyak yang mau dibenahi. Beberapa paroki sudah dimekarkan dan pembangunan juga dimulai dimana-mana. Untuk itu, Mgr Agustinus Agus juga mohon doa dari umat, agar usaha Keuskupan Agung Pontianak bisa tuntas.

    Sebagaimana yang ia sampaikan, adanya Gereja justru harus menjadi sarana pemersatu dan sumber berkat bagi sesama.- (Samuel: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak & Jhordy: Videografer (Youtube Majalah DUTA)).

    Tarian Kreasi Mangkok Merah oleh UKM Seni Tari Catur Merak di Wisuda STKIP Pamane Talino 2019

    Tarian Kreasi Mangkok Merah oleh UKM Seni Tari Catur Merak di Wisuda STKIP Pamane Talino 2019. @komsoskap

    Oleh: Selli, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak – Tari Mangkuk Merah merupakan salah satu tari tradisional Dayak Kanayatn. Tarian ini dipentaskan dengan Ritual Sakral adat Dayak yang berfungsi untuk memanggil roh suci leluhur atau yang juga disebut Jubata.

    Baca Juga: Lourdes melayani orang sakit selama pandemi COVID

    Menurut kerusuhan Dayak-Madura yang pernah terjadi di Singkawang pada tahun 1999, Mangkuk Merah digunakan dalam keadaan genting saja. Inilah salah satu cara masyarakat Dayak untuk berkomunikasi dan mengumpulkan massa kala itu.

    Mangkok Merah

    Dengan adanya legenda ini, diangkatlah tarian yang menggambarkan kisah serupa sesuai peristiwa tersebut. Kemudian ditampilkan dalam acara Wisuda Ke-IV  STKIP Pamane Talino  yang diwakili oleh Avila Perenanda, Ayu Sentia, Anas, Elisabet Nanda Ayu, Selli Klara, Sisilia Putri Nita, dan Philipinchia Vinny M.D.V. (14/09/2019).

    Baca Juga: Komisi Covid19 Vatikan Menyelenggarakan Acara Kehatan dan Ekologi di Minggu Laudato Si’

    Menurut Elisabet, Tari Mangkuk merah merupakan tanda komunikasi dalam keadaan darurat. “Kita mementaskan karena menyadari perlu adanya komunikasi dan kolaborasi dalam hidup ini. Sebab makhluk sosial perlu bantuan dan dukungan org lain” Ujarnya.

    Sedangkan menurut Sisil, Tari Mangkok Merah itu sendiri menceritakan tentang ritual adat istiadat yang merupakan tradisi asli masyarakat Dayak Kanayatn.

    “Semoga tarian ini terus dilestarikan, agar dapat  mengingatkan masyarakat kembali tentang pentingnya tradisi dalam adat Dayak Kanayatn,”  harap Sisil dan Elisabet.

    Dance “Taki-Taki” ikut memeriahkan Dies Natalis STKIP Pamane Talino

    Dance "Taki-Taki" ikut memeriahkan Dies Natalis STKIP Pamane Talino. @komsoskap

    Oleh: Philipinchia Vinny Ma Do Vantu, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang 

    MajalahDUTA.Com,Pontianak – Tanggal 29 April 2021 merupakan Dies Natalis STKIP Pamane Talino yang ke-8. Menurut KBBI Dies Natalis adalah hari ulang tahun suatu lembaga pendidikan tinggi.

    Dalam memeriahkan Dies Natalis STKIP Pamane Talino ada beberapa penampilan yang dipersembahkan dari mahasiswa masing-masing UKM yang ada di STKIP Pamane Talino.

    Salah satunya adalah dance yang di persembahkan dari UKM Seni Tari Catur Merak. Adapun personil dance yang berpartisipasi dalam  memeriahkan Dies Natalis tersebut adalah Nara dan Ulfani.

    Baca Juga: Tema Hari Komunikasi Sedunia 2021: “Datang dan Lihat”

    “Tarian modern dance di STKIP Pamane Talino sudah ada sejak kurang lebih sekitar awal bulan 7 tahun lalu dan yang mempelopori tarian modern dance tersebut yaitu Nara Romana Belola selaku Ketua UKM Seni Tari Catur Merak.” ujar Dolli salah satu mahasiswa dari  UKM seni Tari Catur Merak.

    Hari Ulang Tahun

    Karena mengingat sedang masa pandemi, pertunjukan dance dilakukan dalam bentuk rekaman atau video, yang dibantu oleh Rio sebagai kameramen. Pembuatan video tersebut juga sebagai bentuk mengenalkan potensi-potensi anak-anak STKIP Pamane Talino kepada khayalak ramai.

    “Dance yang di tampilkan dalam memeriahkan Dies Natalis tersebut adalah “Taki-Taki” dance tersebut kami pilih karena mengandung arti bahwa seorang  penari yang tak ingin berhenti dan ingin selalu terus menari.  Kami tampilkan karena kami ingin memberikan energi positif kepada orang-orang disekitar bahwa ketika kamu melakukan sesuatu yang kamu sukai lakukanlah terus menerus dan jangan menyerah sampai sesuatu itu berhasil,” ujar Nara.

    Baca Juga: Secuplik Surat Tentang Kisah Misi di Borneo- Keuskupan Agung Pontianak

    Adapun harapan dari ketua UKM Seni Tari Catur Merak untuk tarian modern dance adalah agar tarian modern ini berkembang, dicintai, dan didukung oleh seluruh pihak yang ada di STKIP Pamane Talino.

    Modern Dance 

    Salah satu mahasiswa UKM Seni Tari Catur Merak juga memberikan harapannya untuk tarian modern dance ini yaitu agar bisa lebih banyak diminati oleh para mahasiswa khususnya di STKIP Pamane Talino dan tarian modern dance bisa berkembang kemudian bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi kampus STKIP.

    Sejarah dan Filosofi Futsal di STKIP Pamane Talino

    Tim Futsal STKIP Pamane Talino. @komsoskap

    Oleh: Sandi, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak – Ekstrakurikuler futsal di kampus STKIP Pamane Talino yang berdiri pada tahun 2013. Kegiatan Ini merupakan salah satu cabang olahraga yang menjadi favorit para mahasiswa di kalangan laki-laki.

    Olahraga ini merupakan salah satu olahraga yang menguras tenaga dan fisik, sampai sekarang olahraga ini sangat berkembang pesat.

    Baca Juga: Paus Fransiskus mendorong jurnalis untuk selalu mencari kebenaran

    Saat ini olahraga futsal di kampus STKIP sudah ada perkembangan, Jack salah satu pelatih tim futsal STKIP mengatakan cabang olahraga futsal di STKIP sudah berkembang dan seiring berjalan nya waktu di tahun 2019, sudah rutin melaksanakan latihan dengan berbagai jenis latihan seperti latihan fisik dan teknik.

    Dikarenakan di  tahun 2020 dunia dilanda virus Covid 19 dan juga dan membuat futsal di STKIP harus berhenti untuk sementara waktu dan  itu membuat para pemain berhenti untuk melaksanakan latihan bersama-sama seperti sebelumnya.

    Sejarah dan Filosofi

    Tetapi itu tidak menyurutkan semangat para mahasiswa untuk selalu melakukan latihan secara berkala dengan mengikuti protokol kesehatan. Dikarenakan masih banyak mahasiswa yang mengikuti kegiatan yang lain, Jack mengatakan ia belum bisa melegalisasikan UKM tersebut.

    Baca Juga: Semangat dalam memutuskan pilihan hidup yang benar

    Banyak tim yang sudah pernah menjadi lawan tim futsal STKIP Pamane Talino pernah mengatakan. “tim futsal STKIP untuk saat ini sudah menjadi lawan yang serius dan menantang” Kata Viktor, salah seorang pemain dari tim futsal King City Fc.

    Saat ini sudah banyak sekali anggota yang bergabung di tim futsal. Harapan nya kedepan tim futsal STKIP bisa terus maju dan bisa menjadi tim kebanggaan di Landak untuk kalangan institusi maupun kalangan umum semoga juga pandemi bisa segera berlalu, agar bisa melakukan sesi latihan dan pertandingan secara normal seperti biasanya, Jumat/21/5/2021.

    Perkembangan Tim Bola Voli STKIP Pamane Talino di Masa Pandemi

    Tim Bola Voli STKIP Pamane Talino. @komsoskap

    Oleh: Stepanus Saulus, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Selama Masa Pandemi Tim Bola Voli STKIP Pamane Talino sekarang ini masih dalam proses pembinaan dari awal. Dari tahun 2020 UKM sudah mulai tidak melakukan aktivitas di lapangan sampai saat ini, dikarenakan adanya larangan pemerintah untuk melakukan aktivitas yang mengundang keramaian, sehingga memaksa anggota pemain harus menunggu selama masa yang belum bisa ditentukan.

    Arisman mengatakan, perkembangan tim bola voli masih dalam bentuk komunitas yang saat ini dalam proses perencanaan untuk progres kedepannya. Komunitas ini didirikan oleh mahasiswa mahasiswi yang senang dan ingin memperdalam kemampuan bermain bola voli.

    Baca Juga: Samuel Ungkapkan: Jurnalis Mengambil Andil Penting dalam Edukasi Masyarakat

    “Saya juga selaku dosen pengampu atau sebagai pelatih dituntut untuk mampu mencapai target yang baik untuk kedepannya. Kemudian saya merintis komunitas ini bersama mahasiswa mahasiswi yang senang bermain,” katanya.

    Komunitas 

    “Harapan kedepannya, semoga komunitas ini sudah bisa menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa. Semoga diberikan sarana yang memadai untuk melaksanakan proses latihan”, katanya.

    Muso Untung juga mengatakan untuk perkembangan tim bola voli di STKIP Pamane Talino pada masa pandemi, “dari apa yang saya dapatkan, selaku anggota dari tim, sama sekali tidak pernah melakukan atau melanjutkan kegiatan bermain bola voli. Karena mengingat masa pandemi dilarang untuk berkumpul, apalagi untuk bertemu secara fisik, untuk perkembangan diri sendiri saya tidak melihat perkembangan yang signifikan”, katanya.

    Baca Juga: Rest in peace: Errol Jonathans Direktur Utama Suara Surabaya

    “Berharap bisa Kembali dibuka dan dilaksanakan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Mengikuti protokol kesehatan dan aturan-aturan yang sudah dianjurkan, meskipun tidak berjalan dengan normal,” ujarnya.

    Kemampuan 

    “Kalau menurut saya perkembangan untuk sekarang ini masih dalam keadaan menurun atau masih dalam perencanaan, jadi seperti latihan juga kurang berjalan dengan lancar”, demikian pula yang dikatakan Adrianus Alvindo.

    Baca Juga: Kekuatan Kitab Suci dalam penyembuhan trauma

    “Harapan saya supaya semakin berkembang tentunya, kita harus mencari salah satu cara atau siasat. Bagaimana mensiasati supaya latihan bisa dilaksanakan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan”, katanya.

    Tentu saja ini akan sangat berpengaruh untuk perkembangan prestasi mahasiswa khususnya, dengan adanya latihan yang rutin setiap minggunya dapat membantu proses kemajuan mulai dari meningkatkan skill, stamina dan mental pemain untuk siap bersaing dengan pemain lainnya. Dengan adanya UKM Bola Voli STKIP Pamane Talino ini dapat membantu mahasiswa menggali kemampuan di bidangnya, Jumat malam (21/05/2021).

    TERBARU

    TERPOPULER