MajalahDUTA.Com, Pontianak– Kisah Br. Rufinus (A.J.M) van DAL – (28-10-1890 – 08-01-1934). Bruder Rufinus, MTB Lahir di Tilburg pada 28-10-1890 dan masuk Kongregasi MTB pada 24-08-1907. Dia memperoleh Kaul Pertama pada 04-09-1909 kemudian Kaul Kekal pada 02-09-1911.
Bruder Rufinus, MTB berangkat ke Indonesia pada 26-04-1924 dan Kembali ke negeri Belanda awal tahun 1932. Ia Meninggal dunia di RS Breda 08-01-1934 karena sakit.
Baca Juga: Kisah Ransel & Hutan Belantara (Rimba)- Pastor Petrus, CP
Adapun tugas-tugas Guru dan studi di negeri Belanda sedari 1911 – 1924 yakni menjadi Guru ‘Hollans Chinese School (HCS) Singkawang pada 1924. Kemudian pernah menjadi Guru HCS Pontianak pada 1926 dan Guru kelas persiapan calon bruder pada 1932.
Anak sulung
Bruder Rufinus adalah anak sulung dari delapan anak, semuanya laki-laki. yang dilahirkan oleh Bernadine Mannaerts, isteri Bernardus van Dal. Tiga dari anaknya menjadi bruder MTB di Huijbergen. Adik Br. Rufinus yang namanya Sjef menjadi Br. Winfridus. yang ditunjuk akan berangkat ke Singkawang dalam tahun 1921, akan tetapi tidak jadi, karena dibedah pada maagnya. Seorang adik lagi menjadi Br. Borromeus, yang berkarya di Kalimantan Barat dari tahun 1946 sampai 1971.
Dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1890 lantas beliau dipermandikan di gereja St. Dyonisius di Goirle-Tilburg dan diberi nama Arnoldus Josephus Maria. Nama panggilannya “Noutje”.
Br. Rufinus menjadi guru pada sekolah kecil pertama dari konggregasi kita di Singkawang yakni HCS St. Dyonisius. Uang untuk mendirikan sekolah ini dikumpulkan oleh umat dari Paroki St. Dyonisius di Kota Tilburg.
Baca Juga: Perayaan Ulang Tahun Kongregasi Bruder MTB ke-166
Ayahnya mempunyai toko roti yang sekaligus juga “warung kopi” dan “tempat penginapan yang sederhana”, di mana petani-petani dari sekitar Sungai Bergse Maas dapat menginap, supaya pagi-paginya dapat menjual kentang, apel, pir dan sayurnya di pasar.
Belajar menjadi bruder
Ketika Noutje diberikan sepatu kayunya (klompen) yang pertama, sudah ada beberapa adik lagi: Sjefke, yang kemudian menjadi Br. Winfridus. Jan, yang pernah untuk beberapa tahun menjadi tentara “huzar” dan juga pemain sepak bola dalam kesebelasan “Willem II”.
Dan terus-menerus tambah adik lagi. Dalam tahun pemogokan kereta api dalam tahun 1903 sudah ada tujuh anak. Yang ketujuh adalah Gerard yang kemudian menjadi Br. Borromeus.
Maka baik sekali bahwa kedua anak pertamal Noutje dan Sjef, bertutut-turut dalam tahun 1906 dan 1907 meninggalkan rumahnya untuk pergi “belajar menjadi bruder”. Pada tanggal 24 Agustus 1907 si Noutje menerima jubah dan diberikan nama Bruder Rufinus. Pada tanggal 4 September 1909 Kaul Pertama dan Kaul Kekal diikrarkannya pada tanggal 2 September 1911.
Sesudah Kaul Pertamanya Br. Rufinus meneruskan studinya di SPG St.Fransiskus kita di Bergen op Zoom dan memperoleh Ijazah Guru pada tanggal 20 April 1911.
Pada tgl, 24 Agustus 1915 memperoleh ijazah “Hoofd Akte” dan kemudian pada tanggal 8 Agustus 1923 Ijazah Bahasa Perancis.
Sesudah memperoleh ijazah guru Br. Rufinus langsung ditugaskan sebagai guru di Sekolah St. Maria di Huybergen. Sesudah satu tahun mengajar di St. Maria, beliau ditugaskan di SD di Hoogstraat di Bergen op Zoom.
Misi di Kalimantan Barat
Sesudah memperoleh Ijazah “Hoofd Akte” pada tahun 1915, Rufinus terus menjadi guru pada SPG St Franciscus di Bergen op Zoom dan bersama SPG itu pindah ke Breda dalam tahun 1917, di dalam gedung yang pada waktu itu boleh disebut megah pada Lapangan Dr. Jan Ingenhousz.
Di antara siswa-siswanya ada juga adiknya yang bernama Gerard, yang kemudian menjadi Br. Borromeus. “Tak pernah”, kata Br. Borromeus ia, “abangku Rufinus memanggil aku dengan namaku sendiri di dalam kelas.
Jika ia memanggil saya untuk menertibkan kelakuanku (dan hal ini sering perlu karena saya bukan “anak manis”) maka ia panggil saja:”Hai kamu!” atau “Camkanlah lu”. Sesudah SPG itu Rufinus sebentar mengajar di SD St. Aloysius, Sekolah Latihan siswa SPG yang baru selesai dibangun di Breda.
Baca Juga: Surat Bapa Suci Kepada Brother Gerard Francisco Timoner, O.P., Master Jenderal Order of Preachers
Karena kesehatannya mulai terganggu, maka bulan April 1920 beliau dipindahkan ke Huijbergen dan mengajar di SD, Sta Maria. Dalam bulan Desember beliau terpaksa berbaring dan pada 2 Januari 1922 maagnya dioperasi di Bergen op Zoom.
Sesudah masa sakitnya Rufinus dipindahkan kembali ke Breda di SD St. Aloysius dan memperoleh ijazah Bahasa Perancis pada tahun 1923 itu. Kendati magnya lemah serta pembedahan itu namun beliau dipilih untuk Misi di Kalimantan Barat pada yanggal 11 Januari 1924. Tahun itu Bruder MTB akan membuka komunitas di Pontianak, Sekolah HCS dan asrama.
Pada tanggal 26 April 1924 Br. Rufinus bertolak naik kapal laut “Johan de Wit” bersama Br. Bertrandus, Edmundus dan Gonzaga ke West Borneo (Br. Hieronimus 1 tahun kemudian). Br. Rufinus ditempatkan di Singkawang dan mengajar di dalam gedung sekolah yang sangat sederhana dan kecil, yang dahulu disumbangkan oleh Paroki St. Dyonisius di Tilburg, di mana Rufinus dilahirkan. Pada tahun 1926 beliau pindah ke HCS di Pontianak.
Seperti saudara-saudaranya Rufinus berbakat musik, suaranya merdu dan sebab itu menjadi pemimpin koor gereja, pula dirigen apabilsekolah-sekolah berkumpul di muka istana residen di ‘Larive Park’ dan memperdengarkan lagu-1agu di muka umum pada hari-hari Raya seperti misalnya Hari Ulang Tahun Ratu Wilhelmina.
Br. Borromeus, adiknya berceritera tentang beliau
Akhir tahun 1931 penyakit mag menjadi parah dan Rufinus terpaksa pulang ke Negeri Belanda dan tiba di Huijbergen bulan April 1932. Sekali peristiwa di ruang studi di gedung yang tua biara Huijbergen Br. Bernulfus duduk di sampingnya dan berceritera: Apabila “ada”, artinya ada izin merokok, akan tetapi mengisap sigaret dilarang keras, dengan diam-diam Br. Rufinus menggulung sebatang rokok dengan tembakau shag dan mengajarkan saya bagaimana membuatnya. Waktu saya harus mencoba mengisapnya maka waktu itu sama sekali tidak enak untuk saya”.
Waktu Br. Rufinus kira-kira sembuh, beliau dipindahkan ke Bergen op Zoom dan mengajar di kelas persiapan untuk calon-calon bruder. Akhir tahun 1933 beliau dibedah lagi pada magnya dan meninggal pada 8 Januari 1934 di Rumah Sakit St. Ignatius Breda.
Br. Borromeus, adiknya berceritera tentang beliau: Noutje van Dal adalah anak yang halus dengan kulit yang agak berwarna sawo matang, berparas tampan dengan lekukan kecil di kedua pipinya, kemudian juga di dagunya. Bertakwalah dia dan saleh. Oleh ibunya dididik untuk sedikit terlalu bersopan santun, seperti kebanyakan anak pada waktu itu.
Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Nostalgia di Paroki St. Petrus dan Paulus Sekadau
Beliau meninggal jauh sebelum masa “emansipasi” dengan ia berdiri teguh di dalam “Zaman Kehidupan Roma Katolik yang Kaya”. Sampai hari yang terakhir beliau taat kepada aturan-aturan kuno. Pada waktunya ia dapat bergembira, bahkan kadang-kadang riuh sedikit.
Akhirnya Br. Hieronymus berkata tentang dia: “Saya kenal Br. Rufinus beberapa tahun di Singkawang sebagai seorang bruder yang sangat baik hati dan ramah.” (Sumber: Bruder Rafael, MTB Pemimpin Umum Kongregasi Bruder MTB Indonesia- diolah: Samuel Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak).












