Friday, April 17, 2026
More

    Kisah Ransel & Hutan Belantara (Rimba)- Pastor Petrus, CP

    MajalahDUTA.Com, KubuRaya Kec. Sungai Ambawang- Ransel dan Rimba inilah yang menjadi rangkuman cuplikan 46 tahun bertugas di Kalimantan Barat. Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Konggregasi Passionis ini menuturkan cerita singkatnya dari perjuangan kecil hingga menjadi seorang imam.

    Tulisan ini diambil dari cuplikan singkat hidup P. Petrus, CP Missionaris Passionis yang berkarya di Pulau Borneo, terlebih khusus di Kalimantan Barat dalam momen kata sambutan 50 Tahun Imamat di Lingga 15 Agustus 2020 (kenangan yang dimulai dari Padula 15 Agustus 1970).

    Dalam sambutannya, ia mulai dengan tutur kalimat dan cerita tangisan pengalamannya menjadi seorang Imam. Mari kita dengar cuplikan ceritanya

    Pietro di Vincenzo (Pastor Petrus, CP)

    Saudara-saudara yang saya hormati dan yang saya kasihi, perkenankanlah saya dalam kesempatan ini menyapaikan beberapa buah tangisan tentang hidup saya, yaitu dari  pengalaman saya sedari kecil.

    Saya berasal dari keluarga yang terlahir atas 7 bersaudara; 5 laki-laki dan 2 perempuan. Dari 7 bersaudara itu, saya adalah anak yang bungsu. Keluarga saya merupakan keluarga yang sederhana (miskin). Saya pernah menangis dirumah hanya karena lapar, dan ibu saya yang bernama Sesilia pergi ke rumah tetangga untuk meminjam satu buah roti dan kemudian dikembalikan.

    Baca Juga: Paus Fransiskus memuji biarawati AS untuk pekerjaannya menyambut para migran

    Saat itu, saya masih berumur belasan tahun, dan disitu saya sudah mengembalakan domba-domba di pegunungan pada musim panas di daratan dan pulang pada musim dingin di Italia Selatan.

    Kala itu saya berumur dua belas tahun (12 Tahun). Dari Italia Tengah melakukan perjalanan 300 Km lebih, untuk mengantar domba-domba ke Italia Selatan. Selama 3 minggu berturut-turut ditempuh dengan jalan kaki, demikian juga pada musim semi pada bulan Mei.

    Kembali ke pegunungan selama 3 minggu dan masih tetap ditempuh dengan berjalan kaki.

    Dalam keadaan cuaca apapun domba-domba tidak boleh ditinggalkan sendirian, karena serigala dan binatang-binatang buas lain akan menghancurkan (memangsa) seluruh kawanan.

    Pengalaman saya dalam mengerjakan tugas itu, melihat bahwa domba-domba adalah binatang paling jinak antara segala segala ternak di dunia, maka Yesus mengumpamakan diri sebagai “Anak Domba Allah” karena itu saya yang hidup dalam ketakutan agar jangan sampai domba-domba ku dicuri pada malam atau siang hari.

    Hidup dalam keadaan seperti ini menjadikan saya selalu waspada dan mulai saat itu ketika sudah datangnya malam, saya tidur dengan mata sebelah. Semua ini sudah saya cicipi sebelum umur 15 tahun.

    Pengalaman seperti ini sangat membantu saya dalam hidup yang saya jalani sampai saat ini yaitu menjadi missionaris di Kalimantan di antara suku Dayak yang saya kasihi.

    Umur saya baru genap 15 tahun kemudian saya masuk seminari dan kala itu tahun ajaran pun sudah 3 bulan dimulai. Secara otomatis dengan sendirinya saya terlambat 3 bulan masuk sekolah SD, sebab ayah saya tidak melepaskan ku untuk masuk seminari.

    Maka kelas III SD aku terpaksa meloncat dua kelas sekaligus (kelas IV dan kelas V) dan langsung duduk di bangku kelas VI untuk mengejar teman-teman saya.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus ungkapkan Manusia Menjadi Kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya

    Perjuangan ini tidaklah mudah, apalagi berusaha dalam studi untuk mengikuti ritme sekolah bersama teman-teman terutama di kelas VI SD. Meskipun kala itu terbilang sulit, namun saya mampu mengejar langkah teman-teman saya.

    Jadi, untuk menjadi seorang imam diperlukan 16 tahun studi; 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP dan 1 tahun di Novisiat, 2 tahun di ilmu filsafat, 3 tahun di ilmu teologi dan 1 tahun untuk spesialisasi tentang ilmu Teologi Parokial. Jadi sejumlah kurikulum studi untuk menjadi seorang imam diperlukan 16 tahun.

    Berangkat ke Kalimantan Barat

    Pada tahun terakhir kuliah, saya diberi gelar, Drs di Kota Roma tentang ilmu Teologi, yaitu tentang pengetahuan Ketuhanan belajar tentang Kitab Suci. Kemudian pada tanggal 14 Agustus 1970 saya ditahbiskan sebagai imam menurut kehendak Tuhan Yesus.

    Selanjutnya setelah 3 tahun lebih dari pentahbisan imam, dan tepat pada tanggal 25 Januari 1974, Pesta Santo Paulus Rasul (Pertobatan Santo Paulus, Rasul ) aku berangkat ke Indonesia dengan tempat keberangkatan menuju tanah Borneo.

    Kala itu, saya turun dari pesawat Garuda di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta pada pukul 10.00 WIB pagi. Kemudian dari Jakarta, kami 3 orang ( 2 Pastor dan seorang Bruder) langsung berangkat menuju ke Singkawang untuk belajar Bahasa Indonesia selama 2 Minggu.

    Baca Juga: HUT Tahbisan Episkopal ke-45 Emerius Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM. Cap- Keuskupan Agung Pontianak

    Kepada kami bertiga, masing-masing diberi seorang guru, kemudian kami berangkat ke Sekadau, dan 2 minggu kemudian saya diajak P. Gabriel Ramoc Chiaro, yang adalah seorang pastor dan sudah berpengalaman, lalu kami menuju ke Stasi Pakit, dan  kemudian beberapa kali saya berturne bersama dia sembari belajar.

    Sesudah itu turne saya melakukan perjalanan turne sendirian untuk mengunjungi umat di kampung-kampung, dan saya telah menjalankannya dengan komitmen yang tak henti-hentinya.

    Sekarang saya telah mencapai (mendapat) kewarganegaraan Indonesia pada tanggal 24 Januari 1985, terhitung sudah 35 tahun lebih yang lalu.

    Selama 46 tahun di tanah Kalimantan saya telah menggunakan waktu secara terus-menerus dan tidak terasa, tahun demi tahun, mengunjungi umat di mana saja mereka berada baik di kampung-kampung besar maupun di tempat sepi.

    Kabar gembira tetap diwartakan dalam kondisi cuaca apapun, sabda Tuhan tetap diprioritaskan sebagai tugas utama dalam hidup saya.

    Pulau Borneo adalah pulau nomor 3 yang terbesar di dunia. Iklimnya panas-lembab menjadi ujian bagi orang yang hidup di Kalimantan. Bagi saya hal itu “No Problem” sebab sejak kecil sudah biasa mengembala di hidup yang sulit.

    Pengalaman saya sebagai gembala domba telah membentuk diri pribadi untuk selalu bersikap tahan dalam segala kesulitan hidup dan menyesuaikan diri dengan segala keadaan sekalipun serba sulit.

    Semua masalah- no problem

    Segala jenis makanan, apapun itu yang diberikan kepada saya itu semua “No Problem” untuk menjadi santapan.

    Sejak awal saya hidup di Tanah Kalimantan, saya terjun secara total dalam kerasulan melalui turne berturut-turut dalam situasi apapun. Dalam turne itu yang menjadi prioritas dan fokus utama adalah menggerakkan segenap tenaga dan fisik untuk menggunjungi umat melalui Turne berkelanjutan.

    Baca Juga: https://pontianak.tribunnews.com/2020/09/09/kisah-pastor-petrus-cp-sang-misionaris-ransel-dan-rimba?page=4

    Selama 15 tahun, saya menjelajahi seluruh daerah sungai Belitang Hulu-Belitang Hilir sampai dekat perbatasan Sarawak, dan selama 25 tahun saya menelusuri sampai ke pelosok-pelosok daerah Sungai Menterap, Sungai Kerabat dan Sungai Sekadau.

    Bahkan seluruh daerah Suku Taman, hingga tanah Meliau dan itu juga sebagian dari Keuskupan Sintang. Kini sudah hampir 6 tahun saya bertugas di Paroki Sungai Ambawang yang berpusat di Lingga (Keuskupan Agung Pontianak).

    Kunjungan umat di daerah-daerah sebelumnya,  dilaksanakan terus-menerus dengan jalan kaki, kecuali di Paroki Sungai Ambawang yang adalah daerah banyak Sungai.

    Sejak semula, masuk di Tanah Kalimantan, saya sudah tertarik sekali dengan hidup orang Dayak yang mirip seperti kehidupan di waktu saya masih kecil- persis di Kampung Halaman, Padula yang letaknya sekitar 200 KM dari Roma.

    Dulu pada tahun 70an-80an, ketika musim kemarau dan musim hujan, masih tetap stabil dan teratur. Jadi, pada musim hujan, tetap hujan dan pada musim kemarau tetap kemarau. Di dalam kedua musin ini, umat di kampung-kampung tetap dikunjungi tanpa syarat dan dalam situasi apapun.

    Segala tantangan tak menurutkan ku

    Saya merasa dikhususkan, terpanggil untuk mewartakan Sengsara Yesus di antara Suku Dayak. Di tahun-tahun kehidupan saya sebagai Missionaris. Saya telah berjalan tanpa lelah dan mengalami segala bahaya yang tersembunyi di rimba belantara. Saya dapat merangkumnya dengan baik.

    Seluruh hidup saya yang  selama di tanah Borneo itu terrangkum dengan dua kata saja yaitu Ransel dan Hutan Belantara, ini berarti “angkat ransel dan berangkat turne.”

    Segala tantangan dalam hidupku sebagai missionaris tidak menyurutkan semangatku.

    Namun kerasulan mengandung serngasa; “ Jarak yang jauh antara kampung-kampung, lumpur setinggi lutut, mengigil karena demam malaria, lapar, sakit perut, kelelahan, sesat dalam perjalanan, hujan lebat, berjemur – disertai tifus, perut yang memberontak, bahaya ular berbisa, bahaya banjir yang dalam dan berkelanjutan, bahaya karam di sungai Kapuas, biasa lesu tetapi tidak hilang asa, biasa putus asa dan kesepian, namun dalam semuanya ini semangatku untuk merasul tetap bertahan, bahkan tidak meninggalkan tekad untuk mewartakan Injil.

    Baca Juga: Secuplik Surat Tentang Kisah Misi di Borneo- Keuskupan Agung Pontianak

    Dalam segala hal tersebut, saya merasa terkesan dengan hidup Paulus dari Tarsus yang oleh Injil melakukan segala-galanya.

    Menderita segala-galanya, mengorbankan segalanya, mengunjungi segala sudut dunia dimana orang belum mengenal Yesus Kristus. Rasul Paulus pada akhir hidupnya berkata: “ Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman,” (2 Tim 4,7).

    Rasul Paulus adalah seorang pejuang yang gigih, penjelajah tanpa kenal lelah, pembalab tangguh yang telah menacapai garis finish. Seluruh hidup Rasul Paulus adalah seperti seorang Petani Maraton, yang berlari untuk mewartakan Injil di mana saja.

    “Cinta Kasih memerlukan Hati Yang Tahan Uji”

    Dalam tugas perutusanku di Kalimantan perjumpaan pribadi ku dengan Yesus Kristus lebih meningkat karena Roh Kudus yang mendampingi ku dalam pewartaan Injil di antara Suku Bangsa Dayak.

    Puji Syukur kepada Tuhan yang maha Baik karena telah membimbing langkah-langkah ku selama ini, melalui segala “Jalan Tikus” di Borneo.

    Dua catatan penting dari cuplikan kisah singkat ini

    Pastor Petrus di Vincenzo sudah 46 tahun lebih bertugas di Kalimantan Barat, dan orang yang telah dipermandikan sebanyak 12.100. Kedua yaitu jumlah misa kudus yang telah dipersembahkan selama 50 tahun yaitu sebanyak 19.129 kali Misa. Termasuk misa yang baru dipersembahkan malam ini (15 Agustus 2020 di Stasi Lingga, Paroki St. Fidelis Sungai Ambawang).  Atas perhatian para hadirin diucapkan dengan bulat hati, selamat malam, sekian dan Terima Kasih. ( P. Petrus di Vincenzo).

    Semoga dengan kisah iman yang inspiratif ini, bisa menjadi salah satu lilin terutama semangat dalam mewartakan Injil ditengah dunia dan didalam situasi apapun. Terima kasih kepada Pastor Petrus, CP sang Missionaris Ransel & Rimba. (Sumber: Catatan Pastor Petrus dalam wawancara Samuel Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak).

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles