Monday, May 4, 2026
More
    Home Blog Page 154

    Uskup Agung Pontianak Berkati Busana Calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Diakon Yohanes Febi Toring, MSA , - Frater Fransiskus Roke, MSA-Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus- RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA sebagai animator untuk MSA Indonesia (Pakai Baju Biru), - Diakon Blasius Hide Waton, MSA- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak– Pakaian ini adalah makna dan sekaligus tanda bahwa panggilan itu istimewa. Hal itu Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak ungkapkan dalam ibadat pemberkatan busana Imam untuk calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA) pada 28 Juni 2021 di Kapel Immaculata, Suster SFIC Pontianak.

    “Sebagai kaum berjubah ditambah lagi kondisi pandemi covid-19 saat ini,” imbuh Uskup. “Masa covid-19 saat ini, justru kesempatan kita untuk mewartakan dan menyebarkan ajaran kasih Allah.”

    Baca juga: Paus ungkapkan Perawatan kesehatan adalah misi yang menyatukan sains dan kepenuhan umat manusia

    Dalam homilinya, Mgr Agustinus Agus menggarisbawahi kalau imam sudah menerima pakaian busana imam tersebut dan sudah ditahbiskan menjadi Imam, maka janganlah berpikir untuk berpaling dan mengundurkan diri.

    Ibadat pemberkatan busana tersebut dihadiri juga oleh, RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA sebagai animator untuk MSA Indonesia didampingi juga oleh RP Ruben Ruruk Sandalajuk, MSA sebagai wakil animator MSA dan dihadiri pula sejumlah keluarga dari kedua Calon Imam MSA yaitu Diakon Blasius Hide Waton, MSA dan Diakon Yohanes Febi Toring, MSA serta sejumlah keluarga dari calon Diakon yakni Frater Fransiskus Roke, MSA.

    Hidup doa

    Uskup Agung Pontianak juga menyampaikan bahwa sumber kekuatan dari seorang imam adalah hidup doa dan selalu mempersembahkan ekaristi. Dimana ekaristi merupakan sebuah peristiwa seorang imam mengambil peran Yesus saat malam terakhir-Nya didunia untuk menebus dosa-dosa manusia.

    “Dengan ibadat berkat busana imam ini sekaligus mau menunjukkan bahwa panggilan menjadi seorang Imam adalah panggilan yang istimewa,” lanjut Uskup. “Saya selalu mengatakan campur tangan Tuhan sangat jelas yakni dengan kehadiran Tuhan Yesus ke dunia ini untuk menebus dosa-dosa manusia.”

    Baca Juga: Yang Mana Ya, Bapak Uskup Agung Pontianak itu?

    Pada bagian penutup, Mgr Agustinus Agus mengajak semua umat untuk mendoakan dua calon imam dan satu calon diakon yang esok (29 Juni 2021) akan menerima tugas baru, agar tetap setia dengan tugasnya menjadi bagian dari kaum berjubah.

    Usai ibadat pemberkatan busana imam Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak diajak untuk foto bersama dengan tiga calon tersebut, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.- Samuel-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    Paus ungkapkan Perawatan kesehatan adalah misi yang menyatukan sains dan kepenuhan umat manusia

    Pope Francis highlights need for a culture of community against the "throw-away" mentality (Vatican Media)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Vatikan- Dalam sebuah pesan kepada para peserta Konferensi Nasional Kesehatan Mental Italia kedua, Paus Fransiskus memuji pengorbanan petugas kesehatan di tengah pandemi Covid-19 dan menyoroti bahwa menjaga sesama terwujud sepenuhnya ketika pengetahuan ilmiah bertemu dengan kemanusiaan dan kelembutan.

    Paus Fransiskus pada hari Jumat, berbicara kepada para peserta pada Konferensi Nasional Kesehatan Mental kedua yang dipromosikan oleh Kementerian Kesehatan Italia.

    Baca juga: Paus Fransiskus meminta umat Katolik untuk berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah Middle

    Menyampaikan salamnya kepada mereka, Paus mengatakan bahwa acara tersebut memberinya kesempatan untuk mengungkapkan penghargaannya dan Gereja kepada para dokter dan petugas kesehatan yang terlibat dalam bidang yang sulit ini.

    Lebih lanjut menggarisbawahi pentingnya pekerjaan mereka, Bapa Suci mencatat bahwa komitmen mereka untuk menawarkan perawatan yang tepat kepada orang-orang yang menderita gangguan mental adalah “kebaikan besar bagi orang-orang dan masyarakat” terutama karena mereka “telah merasakan dengan gravitasi tertentu, efek psikologis yang menghancurkan dari pandemi.”

    Kebutuhan akan sistem perawatan kesehatan yang lebih baik

    “Oleh karena itu diinginkan,” tegas Paus, “ di satu sisi, untuk memperkuat sistem perawatan kesehatan untuk perlindungan penyakit mental” termasuk memberikan dukungan bagi mereka yang terlibat dalam penelitian ilmiah tentang patologi semacam itu.

    “Di sisi lain,” lanjutnya, perlu “mempromosikan asosiasi dan organisasi sukarelawan yang bekerja bersama orang sakit dan keluarga mereka.”

    Baca juga: Momen Persaudaraan: Mengenang Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak

    Paus Fransiskus melanjutkan untuk menyoroti perlunya melibatkan konteks hidup pasien kesehatan mental sehingga mereka tidak kekurangan “kehangatan dan kasih sayang dari sebuah komunitas.”

    “Profesionalisme medis itu sendiri mendapat manfaat dari perawatan integral orang tersebut,” tegas Paus, seraya menambahkan bahwa merawat sesama bukan hanya pekerjaan terampil tetapi misi nyata yang sepenuhnya terwujud ketika “pengetahuan ilmiah memenuhi kepenuhan kemanusiaan dan diterjemahkan ke dalam kelembutan yang tahu bagaimana mendekati dan mengambil hati orang lain.”

    Kepekaan baru terhadap pasien kesehatan mental

    Mengalihkan perhatiannya ke konferensi, Paus mengungkapkan harapan bahwa itu akan mengilhami lembaga, lembaga pendidikan dan masyarakat, “kepekaan baru” terhadap mereka yang menderita masalah kesehatan mental untuk menanamkan “kepercayaan yang lebih besar pada saudara-saudari kita, ditandai dengan kerapuhan”.

    Baca juga: Audiensi Mgr Agustinus Agus dalam Safari Kanvas dalam rangka hut 100 th Legio Maria

    Dia melanjutkan dengan mencatat bahwa ini adalah pertanyaan untuk membantu mengatasi stigma yang melekat pada masalah kesehatan mental dan untuk membuat “budaya masyarakat” menang atas mentalitas “membuang” yang lebih menghargai mereka yang membawa keuntungan produktif bagi masyarakat dan lupa bahwa “mereka yang menderita membuat keindahan martabat manusia yang tak tertahankan bersinar dalam hidup mereka yang terluka.”

    Covid-19

    Di tengah keadaan darurat kesehatan yang sedang berlangsung, Bapa Suci menyoroti pengorbanan para petugas kesehatan dan mendorong mereka untuk melanjutkan “di jalan kepedulian dalam solidaritas.”

    Dia mencatat bahwa pandemi menghadapi petugas kesehatan dengan tantangan besar yang mengemuka, kebutuhan untuk memiliki sistem perawatan kesehatan yang tepat yang tidak meninggalkan siapa pun tetapi merawat semua orang “dengan cara yang inklusif dan partisipatif.”

    Mengakhiri pesannya, Paus Fransiskus menyampaikan harapan baiknya kepada para peserta konferensi dan meyakinkan mereka akan doanya untuk semua petugas kesehatan, sukarelawan, pasien, dan keluarga mereka.

    Paus Fransiskus meminta umat Katolik untuk berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah Middle

    Altar inside the Church of the Holy Sepulchre in Jerusalem (AFP or licensors)- VatikanNews- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Vatikan- Paus Fransiskus menulis surat kepada para Patriark Katolik di Timur Tengah, saat mereka bergabung secara spiritual dalam merayakan Liturgi Ilahi untuk perdamaian di wilayah tersebut.

    Dirilis dari VatikanNews yang dilaporkan oleh Devin Watkins pada 27 Juni 2021, 12:48 waktu Vatikan. Dalam tulisan itu dituliskan ketika umat Katolik di Timur Tengah mengambil bagian dalam Liturgi Ilahi pada hari Minggu untuk berdoa bagi perdamaian, Paus Fransiskus mengirim surat kepada Imam mereka dan berterima kasih atas inisiatif mereka.

    Baca juga: Misa syukur Penutupan Tahun Ajaran di STT Pastor Bonus

    Para Patriark Katolik Timur Tengah juga menahbiskan wilayah itu kepada Keluarga Kudus.

    Berbicara di Angelus Minggu, Paus mendesak umat Kristen di seluruh dunia untuk berdoa bagi perdamaian di wilayah tersebut.

    “Semoga Tuhan menopang upaya mereka yang bekerja untuk dialog dan koeksistensi persaudaraan di Timur Tengah, di mana iman Kristen lahir dan hidup, terlepas dari penderitaan,” katanya. “Untuk orang-orang terkasih, semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketekunan, dan keberanian.”

    Baca juga: Audiensi Mgr Agustinus Agus dalam Safari Kanvas dalam rangka hut 100 th Legio Maria

    Secara terpisah, dalam suratnya kepada para Patriark Katolik, Paus mengenang Kunjungan Apostoliknya ke Timur Tengah, dimulai dengan ziarah ke Tanah Suci, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Irak.

    “Sejak awal kepausan saya, saya telah berusaha untuk dekat dengan penderitaan Anda,” katanya, menunjukkan bahwa dia sering mengundang Gereja untuk berdoa dan membantu Suriah dan Lebanon.

    Keluarga Kudus: identitas dan misi

    Paus Fransiskus kemudian merenungkan Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf, di mana Timur Tengah ditahbiskan pada hari Minggu.

    Dia mengatakan Keluarga Kudus mewakili identitas dan misi Katolik Timur Tengah. “Di atas segalanya, itu melindungi misteri Inkarnasi Anak Allah, dan dibangun di sekitar Yesus dan hidup untuk Dia.”

    Baca juga: Mengapa ada Spider Man pada Audiensi Umum Paus Fransiskus?

    Paus menyebut Keluarga Kudus sebagai “misteri kerendahan hati dan ketundukan”, yang diakui secara luas oleh yang besar maupun yang kecil, tetapi yang dianiaya oleh mereka yang hanya mencari kekuatan duniawi.

    Panggilan yang diilhami oleh Roh

    Paus Fransiskus mendesak semua umat Katolik di Timur Tengah untuk menemukan kembali bagaimana setiap komunitas dapat memenuhi panggilannya dalam konsekrasi kepada Keluarga Kudus.

    Dia mengatakan ini berarti “tidak hanya meminta pengakuan yang adil atas hak-hak Anda sebagai warga negara dari tanah tercinta itu, tetapi juga menjalankan misi Anda untuk menjaga dan bersaksi tentang asal-usul kerasulan Anda.”

    Baca juga: Ucapan terima kasih Paus kepada mereka yang melayani Kristus pada orang miskin dan terpinggirkan

    Paus menyesali kekerasan yang sering melanda wilayah tersebut, mengingat bahwa proyek manusia untuk perdamaian harus bergantung pada “kekuatan penyembuhan Tuhan.”

    “Jangan mencoba memuaskan dahagamu pada mata air kebencian yang beracun,” katanya, “tetapi biarkan ladang hatimu diairi oleh sinar Roh, seperti yang telah dilakukan oleh para santo besar dari tradisimu masing-masing: Koptik, Maronit , Melkit, Syria, Armenia, Kasdim, dan Latin.”

    Cahaya iman

    Paus mengakhiri pesannya dengan mengingat banyak peradaban yang telah lahir dan mati di Timur Tengah.

    “Namun, dimulai dari ayah kita Abraham, Firman Tuhan tetap menjadi pelita yang menerangi dan menerangi langkah kita,” katanya.

    Baca juga: Mgr Agus dalam Audiensi: Semangat Kebersamaan Sebagai Satu Keluarga

    Dan dia mendesak umat Katolik Timur Tengah untuk bertekun dalam iman dan dalam doa-doa mereka untuk perdamaian, di bawah panji “nubuat persaudaraan manusia.”

    “Semoga Anda benar-benar menjadi garam bagi tanah Anda,” katanya. “Memberi cita rasa pada kehidupan masyarakat kita, berusaha berkontribusi untuk membangun kebaikan bersama, menurut prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja”.

    RIP P. Firminus Andjioe, OFM. Cap, Wafat di Usia 68 Tahun

    RIP Pastor Firminus Andjioe, OFM. Cap. – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak Umat katolik kembali berduka, kabar dukacita datang dari seorang pastor dari Ordo Fransiskan Kapusin Pontianak yang saat ini bertugas sebagai Pastor Paroki Kristus Raja Sambas. Kita harus merelakan kepergian P. Firminus Andjioe, OFM. Cap kembali ke panggkuan Allah Bapa di surga, biarlah ia beristirahat dalam damai Tuhan.

    Pastor Firminus Andjioe, OFM. Cap lahir di Singkawang pada tanggal 25 September 1953 dan wafat pada Minggu, 27 Juni 2021 pukul 06.15 WIB di Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak. Hasil swab tgl 23 dan 24 Juni 2021 menunjukkan almarhum tidak terindikasi Covid-19.

    Pastor Firminus Andjioe, OFM. Cap (1953 – 2021)

    Almarhum akan disemayamkan di kapel Tirta Ria. Sore ini (27 Juni 2021) pkl. 18.30 Misa Requiem. Pemakaman akan dilangsungkan besok pada Senin, 28 Juni 2021 di Pemakaman St. Yusup Sungai Raya Pontianak, yg didahului dgn Misa Requiem pkl 10.00 WIB pagi di kapel Tirta Ria.

    Semoga jiwa-jiwa kaum beriman beristirahat dengan kekal karena kerahiman Tuhan.

    Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pontianak Periode 2021-2022

    Foto: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pintianak Periode 2021-2022- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Pada Hari Senin, 21 Juni 2021, bertempat di AULA Kampus Lantai 4 Gedung B, Ketua Yayasan Landak Bersatu secara resmi melantik NERS FLORENSIUS ANDRI, MAGISTER KEPERAWATAN dan TRIVINA SARJANA SAINS TERAPAN, MAGISTER KESEHATAN, masing-masing sebagai Direktur Akademi Keperawatan Dharma Insan Pontianak dan Direktur Akademi Kebidanan Santa Benedicta Pontianak, serta melantik:

    Wakil Direktur Akper: NERS LYDIA MOJI LAUTAN MAGISTER KEPERAWATAN, NERS EBEN HAEZAR KRISTIAN, MAGISTER KEPERAWATAN, NERS USU SIUS, SARJANA KEPERAWATAN, MAGISTER BIOMEDIK.

    Wakil Direktur Akbid: AGNES DWIANA WIDYASTUTI, SARJANA SAINS TERAPAN, MAGISTER KESEHATAN, TRI MAHARANI, SARJANA SAINS TERAPAN, MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT, EFROSINA LUDOVIKA KALISTA, SARJANA SAINS TERAPAN,  MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT.

    Baca juga: Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    masing-masing sebagai Wakil Direktur Bidang Akademik, Bidang Administrasi Umum dan Bidang Kemahasiswaan yang baru di Akademi Keperawatan Dharma Insan Pontianak dan A kademi ebidana Santa Bendicta Pontianakmasa bakti 2021 -2022.

    Bapak Ns. Florensius Andri, M.Kep menggantikan direktur Akasdemi Keperawatan Dharma Insan Pontianak sebelumnya yaitu Ibu Ns. Sisilia, M.Kep, M.Kes dan Ibu Trivina mengganti Ibu Theresia Wijayanti sebagai direktur Akademi Kebidanan Santa Benedicta Pontianak.

    Acara pelantikan dan serah terima jabatan ini berjalan dengan sukses, lancar dah penuh hikmat, yang dihadiri oleh pera tamu undangan diantaranya Uskup Agung Pontianak MGR. Agustinus Agus Keuskupan Agung Pontianak selaku pemilik, Bapak Adrianus Asia Sidot, Para Pembina, Pengawas dan Pengurus dam Ketua Yayasan Landak Bersatu, Pejabat dilingkungan Rumah Sakit Santo Antonius, AIBKIN, PPNI serta IBI Perwakilan Kota Pontianak.

    Baca juga: Yang Mana Ya, Bapak Uskup Agung Pontianak itu?

    Dalam sambutannya  Romo Robini berharap agar para direksi yang dilantik pada hari ini mampu bekerja lebih dari yang biasa, membangun relasi dengan semua pihak, menjalin kekompakan di dalam maupun diluar perguruan tinggi, menjaga nama baik dan kehormatan.

    Dengan dilantiknya Para Direktur dari Kedua Program Studi ini, harapan Bapak Uskup Agung Pontianak serta kita semua, semoga dapat bekerja dengan baik dan amanah dalam menjalankan tugasnya untuk perkembangan Pendidikan Kesehatan sebagai karya Keuskupan Agung Pontianak di Bidang kesehatan ke arah yang lebih baik, serta tidak bekerja seperti biasa-biasa saja, karena kalau seperti itu kita akan ditingglkan.

    Acara ditutup dengan Doa bersama yang dibawakan oleh Romo Mingdry, OP dan diakhiri dengan berkat penutup oleh Bapak Uskup Agung Pontianak.

    Baca juga: Surat Bapa Suci Kepada Brother Gerard Francisco Timoner, O.P., Master Jenderal Order of Preachers

    Pelantikan dan serahterima jabatan Direksi ini berkangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, sehingga para undangan yang hadir secara langsung maupun secara daring melalui aplikasi zoom.

    Selamat kepada Para Direksi, Selamat bekerja Tuhan Yesus menyertai Kita semua.

    Yang Mana Ya, Bapak Uskup Agung Pontianak itu?

    Dalam kunjungan Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dalam progres pembangunan persiapan paroki di Meranti- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Meranti/Landak- “Yang mana ya Bapak Uskup Agung Pontianak itu?” Demikian tanya seorang ibu paruh baya sembari menggiring anaknya  mencari yang mana Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus yang ia maksudkan itu.

    Perjumpaan sore itu dirangkum oleh RP Aloysius HO Tombokan MSC dalam sambutan malam ramah tamah pada kunjungan Mgr Agustinus Agus,  Uskup Agung Pontianak dalam Progres Pembangunan Persiapan Paroki di Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak.

    Kunjungan Pastoral Uskup Agus ke wilayah Meranti

    Kecamatan Meranti saat ini termasuk Kecamatan yang bisa dikatakan mayoritas umat Katolik. Jika dilihat dari pemetaan wilayahnya, Kecamatan Meranti masih termasuk dalam Paroki Santo Agustinus dan Mattias Darit, Kecamatan Menyuke.

    Dalam kunjungan Mgr Agustinus Agus,  Uskup Agung Pontianak dalam progres pembangunan persiapan paroki di Meranti, yang dilaksankan pada Selasa, 22 Juni 2021 sore ia jelaskan bahwa pusat paroki harus berdiri di Pusat pemerintahan setempat, karena Katolik menyadari bahwa Katolik tidak bisa berdiri sendiri.

    Baca juga: Kunjungan Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dalam Progres Pembangunan Persiapan Paroki Di Meranti

    “Dipusat pemerintahan juga terdapat pelayanan kesehatan, pendidikan, listirk dan jalan yang terbilang baik,” kata Mgr Agus.

    Pusat pemerintahan memang harusnya ada perwakilan macam-macam agama. Dan itu yang saya tekankan di Paroki Mempawah saat peresmian tanggal 3 Desember 2020 lalu. Pemekaran paroki pada dasarnya tergantung dari Uskup namun jika dimekarkan menjadi Paroki, tentunya Keuskupan tidak bisa bekerja sendiri, untuk itu Mgr Agustinus Agus berterima kasih kepada tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) yang bersedia untuk mengembangkan dan mengemban tugas pemekaran paroki baru kedepan.

    Baca juga: Mengenal Tarekat MSC (Societas Missionarium sacratissimi Cordis Iesu)

    Didampingi oleh RP Aloysius HO Tombokan MSC sebagai Pastor Paroki Stella Maris Siantan, Pontianak Utara, Mgr Agustinus Agus melakukan kunjungan pastoral ini dengan tujuan untuk memantau perkembangan progres pembangunan persiapan Paroki Meranti dan meneguhkan umat katolik yang berada di wilayah Meranti.

    Acara kunjungan tersebut dihadiri oleh Elly Kornelia sebagai Camat di Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak. Sebagai Camat, Elly mengaku senang mendapat kunjungan dari yang Mulia Uskup Agung Pontianak. Karena memang selama ini masyarakat setempat terlebih khusus umat Katolik merindukan kedatangan sosok Uskup Agung yang selama ini hanya didengar lewat media massa.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja Harus Berjalan Bersama Pemerintah

    Sebagai Pastor rekan di Paroki Darit yang ditugaskan untuk memantau perkembangan pembangunan progres paroki baru di Meranti, RP Mikael Jeksen Warouw MSC mengaku selama ini ada kerjasama yang sangat baik antara Imam dan umat.

    Efekif pembangunan

    Tak hanya sampai disitu saja, kerjasama yang dilakukan oleh umat sampai saat ini juga dirasakan juga oleh pihak pemerintahan setempat.

    Pembangunan yang efektif selama ini kurang lebih baru satu bulan ini. Memang sebelumnya sudah ada panitia, tetapi mungkin kurang didampingi maka ketika kurang lebih 4 bulan RP Mikael Jeksen Warouw MSC masuk diwilayah Meranti mulai satu bulan lalu baru jalan progres pembangunan Gereja Paroki.

    “Selama disini, kami mencoba untuk berkumpul kembali bersama umat, menyatukan motivasi apalagi saat peletakan batu pertama oleh Bupati Landak sehingga memicu semangat dari umat,” kata Pastor Jeksen.

    Baca juga: Kisah Ransel & Hutan Belantara (Rimba)- Pastor Petrus, CP

    Kecintaan mereka untuk iman Katolik memang menjadi utama yang ditumbuhkan, lanjut Pastor Jeksen, “Karena selama ini, umat daerah ini terbilang kurang dilayani karena wilayah Paroki dari terbilang besar sehingga pelayanan dari paroki kurang.”

    Pastor Jeksen juga menyampaikan dengan adanya kondisi semacam ini justru menjadi peluang untuk membangkitkan semangat iman mereka. Bahkan disaat iman katolik umat mulai redup namun sekarang ada kunjungan pastor satu bulan satu kali sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa bagi perkembangan umat.

    “Buah dari semangat itu adalah dukungan umat dengan pembangunan ini. Untuk itu, mulai gencarnya pembangunan dimulai saat dukungan umat dari stasi-stasi. Jika di Meranti sendiri terbilang kecil jumlah umatnya, sehingga pembangunan dikatakan lambat,” katanya.

    Namun setelah di dukung oleh 18 stasi maka pembangunan ini bisa berjalan dengan baik dan lancar, lanjut Pastor Jeksen “Memang ada kendala besar soal keuangan dan dana, tetapi gerakan panitia selama ini yang dibuat rasanya bisa memicu banyak sumbangan yang masuk untuk membangun.”

    Lokasi gereja

    “Dengan mempertimbangkan luas lokasi maka coba kami bangun sebesar 10 x 30 ditambah lebar 5 meter untuk sisi kanan dan kiri,” tutur Pastor Jeksen.

    Untuk rancangan pembangunannya sendiri, berhubung tanah lokasi pembangunan agak rendah maka dibawah gereja kami maksimalkan dengan aula atau tempat pertemuan dan sementara itu diatasnya adalah gereja.

    Jumlah kepala keluarga yang ada di wilayah Meranti ada kurang lebih sekitar 1100-an, dan perkiraan 4000-an jiwa.

    Baca juga: Mengapa ada Spider Man pada Audiensi Umum Paus Fransiskus?

    Sebagai Imam yang bertugas di Meranti, Pastor Jaksen mendukung apa saja yang sudah dibangun dan apa yang sudah diperjuangkan selama ini. Teristimewa kekokohan iman sebagai orang Katolik. Kami berharap dukungan dari pihak Keuskupan dan Paroki untuk turut membantu semangat moral, bukan hanya sekedar material saja.

    “Dukungan spirit dari paroki dan Keuskupan. Terakhir kami juga meminta dukungan dari donatur terutama dana, karena mengingat kami disini masih kekurangan finansial,” lanjutnya.

    Sejalan dengan itu, kedatangan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus menguatkan terutama apa yang Pastor Jeksen yakini selama ini yaitu Meranti adalah tempat yang istimewa dan luar biasa.

    “Mengingat untuk peletakan batu pertama saja lansung didatangi oleh Bupati Landak, berkaca dari itulah semua tampak sangat istimewa, meskipun Meranti bisa dikatakan agak tertinggal, terpencil dan sulitnya akses,” tutur Pastor Jeksen.

    Terima kasih kepada Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus

    Sebagai camat sebagai di wilayah meranti, Elly Kornelia sangat berterima kasih kepada Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak yang telah sudi hadir di wilayah Meranti.

    “Terutama memberikan motivasi di daerah kami, Khususnya umat yang ada di wilayah Meranti,” kata Elly Kornelia.

    Elly Kornelia berharap semoga kedepannya di wilayah Meranti segera berdiri Paroki baru. Bahkan ia mengakui kalau selama ini sudah terjalin dengan baik kerjasama antara pemerintah setempat dengan umat dan imam yang ada di wilayah ini.

    Baca juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Sama halnya dengan dengan itu, sebagai temenggung di Wilayah Meranti, Hermanto Ace menyambut baik dan sangat mendukung adanya pembangunan untuk berdirinya paroki.

    Selama ini Hermanto Ace bersama umat Katolik yang ada di wilayah tersebut sangat merindukan kedatangan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus. “Terutama hari ini, banyak umat yang tahu Bapak Uskup akan datang, maka tak heran banyak perwakilan stasi baik ibu-ibu maupun bapak-bapak ingin melihat Uskup Agung nya,” tambah Hermanto.

    Kecintaan Uskup Agus dengan umatnya

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus menyampaikan salam dan berkat untuk persiapan Paroki untuk daerah kecamatan Meranti. Dalam dengan Uskup mengungkapkan bahwa kunjungan semacam ini adalah salah satu bentu cintanya dengan umatnya.

    Mgr Agus juga mengapresiasi Pastor tarekat MSC yang sudah dengan bersusah payah membangun dan menyatukan umat dalam hal ini adalah iman Katolik. Uskup juga menjelaskan Keuskupan Agung Pontianak tidak bisa bekerja sendiri, untuk itu membutuhkan banyak tangan, banyak tenaga dan pikiran untuk mengembangkan iman umat dan terutama mewartakan keselamatan.

    Sebagai Pastor Paroki Stella Maris Siantan, RP Aloysius HO Tombokan MSC menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Uskup Agung Pontianak karena sudah mau mengujungi tempat misi dari saudaranya  MSC di Paroki Darit.

    Pastor Aloysius HO juga menceritakan perjalanan seharian Mgr Agus dan perhatian Uskup untuk umat yang berada di wilayah Meranti. Bahkan Pastor Ho dengan terharu-nya menjelaskan bagaimana umat yang selama ini belum pernah melihat seorang Uskup Agung.

    Baca juga: Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    “Permisi-permisi, yang mana ya Bapak Uskup Agung Pontianak itu? Saya dan anak saya mau lihat dan salam dengan Bapak Uskup Agung,” tutur Pastor Ho.

    Kunjungan tersebut ditutup dengan makan bersama dan santap malam bersama umat perwakilan stasi. Berhubung kondisi Pandemi Covid-19, maka kegiatan kunjungan Pastoral Uskup Agung Pontianak dilaksanakan dengan Protokol Kesehatan.-)*

    Mgr Agus dalam Audiensi: Semangat Kebersamaan Sebagai Satu Keluarga

    Mgr Agus dalam Audiensi: Semangat Kebersamaan Sebagai Satu Keluarga- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Jawa Timur– Pada perjumpaan Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dengan para Frater Keuskupan Agung Pontianak di Trawas Jatim, pada 12-13 Juni 2021. Mgr Agustinus Agus mengingatkan cara hidup religius harus didasarkan pada semangat persaudaraan.

    Dalam pertemuan itu, Mgr Agus ditemani oleh RD Alexius Alex sebagai ketua Unio Diosesan Keuskupan Agung Pontianak merancang kegiatan dengan harapan calon imam saat masa pendidikan bisa saling menguatkan dalam menghayati perjalanan panggilan sesama frater projo.

    Baca juga: Kegiatan Persaudaraan Para Frater Keuskupan Agung Pontianak

    Dalam wawancara dengan RD Alexius Alex dikatakan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya sekedar pertemuan semata, namun lebih dari itu bahwa satya pertemuan itu mengajak frater-frater untuk kembali merefleksikan diri untuk saling belajar dan menguatkan.

    “Jika bukan sesama kami yang menguatkan, siapa lagi? Untuk itu sebenarnya kegiatan ini sudah ada di zaman kami imam projo yang dimana kala itu masih dalam pendidikan,” lanjut RD Alex. “Lambat laun dan entah kapan persisnya kegiatan semacam ini sudah menghilang. Maka dari itu kegiatan ini saya coba untuk mengajak para frater untuk kembalikan semangat pertemuan ini agar terjadi siklus berkesinambungan.”

    Baca juga: Apasih Bedanya Imam Diosesan & Imam Religius?

    Pertemuan itu juga menyentuh pada topik-topik sikap moral dalam pelayanan dalam komisi yang dipercayakan untuk diemban.

    Hingga topik baru terkait kegiatan apa yang mungkin dilakukan semasa menempuh pendidikan calon imam. Kedepannya RD Alexius Alex berharap pertemuan semacam ini terus dilakukan dan kalau bisa dikembangkan secara lebih serius.

    Baca juga: Mgr Agus: Saling Mendukung adalah Hal Paling Pokok dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

    Pertemuan dengan Frater-frater Keuskupan Agung Pontianak di Trawas, Jatim pada 12 – 13 Juni 2021 itu di dahului pertemuan pada 10 Juni 2021 yang dibawa oleh RD. Alexius Alex setelah itu ditutup pada minggu siang dengan misa bersama umat di Kapel Santo Yohanes Trawas.

    Dalam pertemuan itu yang saya tekankan adalah semangat kebersamaan sebagai satu keluarga, sebagai kata kunci untuk menentukan hidup seorang imam, lanjut Uskup Agus “Hal itu harus dimulai sejak pendidikan. Karena “Kebersamaan sebagai satu keluarga merupakan kunci hidup seorang imam.”-)*

    Kegiatan Persaudaraan Para Frater Keuskupan Agung Pontianak

    Kegiatan Persaudaraan Para Frater Keuskupan Agung Pontianak-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Jawa Timur- Satu bulan sebelum pelaksanaan kegiatan persaudaraan sekaligus rekreasi bersama para frater Keuskupan Agung Pontianak (KAP), kami mendapat informasi dari Pastor Alexius Alex bahwa dalam kegiatan tersebut akan dihadiri oleh beliau dan juga Mgr. Agustinus Agus.

    Kegiatan persaudaraan tersebut dilaksanakan selama empat hari, yaitu 10-13 Juni 2021 di Villa Nyiur Mas, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Kami yang akan mengikuti kegiatan tersebut awalnya berjumlah 29 peserta, yang terdiri dari 21 frater Seminari Tinggi, 5 frater Tahun Rohani, 1 Postulan, Pastor Alex, dan Mgr. Agustinus Agus.

    Baca juga: Amal kepausan mengumpulkan $146 juta untuk orang-orang Kristen yang menderita dan teraniaya

    Para frater Seminari Tinggi terbagi atas 4 tingkat, yaitu tingkat I berjumlah 3 frater, tingkat II berjumlah 9 frater, tingkat III berjumlah 6 frater, dan tingkat IV berjumlah 3 frater. Kami sangat antusias menerima kabar sukacita tersebut dan dengan senang hati mempersiapkan semuanya dengan dengan maksimal dari jauh hari sebelum hari pelaksanaannya.

    Kami mempersiapkan banyak hal seperti menyusun jadwal dan bentuk kegiatan yang akan dilakukan. Sebelum kedatangan Pastor Alex di Seminari, kami mendapat informasi dari beliau bahwa tidak semua frater dapat mengikuti kegiatan yang sudah direncanakan, karena dari rektor Tahun Orientasi Rohani (TOR) tidak memberikan izin kepada lima frater KAP untuk mengikuti kegiatan dengan alasan utamanya karena masih masa Pandemi Covid-19, sehingga jumlah keseluruhan kami yang mengikuti kegiatan di Trawas tersebut menjadi 24 peserta.

    Berbagai rangkaian kegiatan

    Rabu 9 Juni 2021, kami para frater KAP yang ada di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang dengan sukacita menyambut kedatangan Pastor Alexius Alex, Ketua UNIO Projo KAP. Beliau tiba di Seminari sekitar pukul 12.00 WIB.

    Kemudian Pastor Alex ikut makan siang bersama beberapa formator yang ada di Seminari, di antaranya Romo Basilius Soedibjo, SJ., Romo Suhardiyanta, SJ., dan Pastor Donatus Dole, Pr. Ketika menjelang malam, Pastor Alex mengajak frater tingkat IV untuk menemani beliau ke luar Seminari untuk menikmati suasana malam di kota Malang.

    Baca juga: Audiensi Mgr Agustinus Agus dalam Safari Kanvas dalam rangka hut 100 th Legio Maria

    Kamis 10 Juni 2021, sebelum kami berangkat menuju Trawas, kami terlebih dahulu mengikuti tes Rapid Antigen yang dilakukan di Seminari. Tes tersebut menjadi salah satu syarat bagi kami untuk dapat mengikuti kegiatan bersama. Selain itu, syarat yang lainnya ialah mengikuti protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

    Tes Rapid Antigen tersebut menunjukkan hasil yang negatif semua, sehingga pelaksanaan kegiatan kami dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Setelah makan siang di Seminari, kami berangkat menuju tempat yang telah direncanakan dengan menggunakan satu bus besar yang telah kami sewa bersama sopirnya.  Kami yang berangkat siang itu berjumlah 20 peserta, karena 3 frater menyusul keberangkatannya.

    Baca juga: Bahas Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    Sepanjang perjalanan, kami mendengarkan beberapa jenis musik seperti Pop, Rock, dan Dangdut, sehingga perjalanan kami terasa sangat menyenangkan. Di tengah perjalanan hingga tiba di tempat tujuan, hujan turun begitu deras. Ketika tiba di Villa, kami disambut dengan sopan dan ramah oleh Bapak Alpian dan Ibu Tira yang bertugas menjaga Villa dan juga yang akan melayani kami selama tinggal di Villa tersebut. Kami tiba di Villa sekitar pukul 17.00 WIB. Kami beristirahat sejenak seraya menunggu datangnya malam.

    Kemudian kami mandi dan makan malam bersama pada pukul 19.00 WIB. Acara selanjutnya kami melakukan ibadat penutup (Completorium) bersama. Setelah itu kami mendengarkan pengarahan dari Pastor Alex terkait persiapan dan pelaksanaan yang akan dilakukan dalam kegiatan selama 4 hari di Trawas. Kemudian acara kami dilanjutkan dengan rekreasi bersama.

    Coretio Fraterna

    Jumat 11 Juni 2021, kami mengawali pagi dengan senam bersama pada pukul 05.00 WIB. Dilanjutkan mandi, ibadat pagi, Perayaan Ekaristi, dan sarapan. Kegiatan kami selanjutnya yaitu mengadakan Coretio Fraterna yang dimulai pukul 08.00-12.30 WIB.

    Dalam Coretio Fraterna, setiap frater mendapat kesempatan untuk mengoreksi dan dikoreksi oleh frater-frater yang lainnya. Tujuan dari Coretio Fraterna ini salah satunya ialah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain yang mungkin selama ini belum atau bahkan tidak tahu kepribadian-kepribadian diri sendiri yang tersembunyi.

    Baca juga: Mgr Agustinus Larang Orang Muda Katolik Ikuti Praktik Ilmu Kebal

    Kegiatan ini diakhiri dengan pengarahan sekaligus peneguhan kembali dari Pastor Alex terkait pentingnya pengolahan diri secara berlanjut terutama sebagai calon imam bahkan sampai menjadi imam pun akan terus berproses mengolah diri. Yesus sendiri mengatakan bahwa hendaklah kamu sempurna seperti Bapa yang adalah sempurna. Kemudian kami melanjutkan kegiatan dengan makan siang dan istirahat.

    Kegiatan sore hari yaitu mengadakan lomba-lomba yang bertujuan untuk mengakrabkan kebersamaan dalam komunitas atau kelompok kecil. Kemudian setelah ibadat sore dan makan malam, dilanjutkan dengan acara pelepasan dengan para frater tingkat IV yang akan kembali ke keuskupan untuk berpastoral.

    Dalam kegiatan tersebut, para frater yang akan berpastoral menyampaikan kesan dan pesan selama berdinamika bersama para frater sekeuskupan di Seminari Tinggi kepada adik-adik tingkat. Selain tingkat IV, satu orang dalam setiap angkatan diminta perwakilan untuk menyampaikan kesan dan pesannya selama berdinamika bersama dengan para frater tingkat IV.

    Baca juga: Mgr Agus: Saling Mendukung adalah Hal Paling Pokok dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

    Setelah itu, kesempatan diberikan kepada Pastor Alex untuk menyampaikan hal-hal penting yang bersifat wejangan atau nasehat-nasehat bagi kami sebagai calon imam. Kegiatan pada malam itu diakhiri dengan rekreasi bersama, misalnya nonton film bersama, main remi, main catur, karaoke dan sebagainya.

    Sabtu 12 Juni 2021, kami mengawali hari dengan ibadat pagi dan Perayaan Ekaristi. Kemudian kami sarapan bersama, dan dilanjutkan dengan berkunjung ke tempat wisata Air Terjun Dlundung Trawas. Jarak air terjut tersebut cukup dekat dari kompleks Villa tempat kami menginap, yaitu sekitar 1 km. Kami berangkat ke sana dengan berjalan santai sambil menikmati suasana alam di lingkungan sekitar.

    Di pertengahan jalan, kami dihadang hujan deras sehingga kami terpaksa singgah untuk berteduh di sebuah Pos satpam. Ketika sampai di tempat tujuan, bendahara kami mengurus biaya tiket masuk.

    Adapun biaya tiketnya seharga Rp 12.500,- per orang. Kegiatan di tempat wisata Air Terjun tersebut berlangsung sekitar dua jam lebih.  Di sana kami bisa menikmati pemandangan alam dan air terjun yang cukup menarik, dan tidak lupa kami mengabadikan momen langka tersebut. Kemudian kami kembali ke Villa sekitar pukul 11.30 WIB. Ketika tiba di Villa, ternyata kami sudah ditunggu oleh Mgr. Agus beserta Bapak Nardi dan Ibu Femmy (pemilik Villa).

    Mereka datang dari Surabaya menuju Villa. Kami pun sangat senang ketika berjumpa dengan mereka, dan langsung memberi salam dan hormat. Mgr. Agus pun memperkenalkan pasutri tersebut kepada kami, dan juga memperkenalkan kami kepada mereka. Kemudian kami makan siang bersama. Pada sore jam 15.00 WIB, Monsinyur bersama beberapa frater mulai memasak daging menurut versinya Monsinyur, yaitu masak daging dengan bumbu-bumbu khas Dayak.

    Baca juga: Mengapa ada Spider Man pada Audiensi Umum Paus Fransiskus?

    Hal yang menarik dari kegiatan masak tersebut ialah Monsinyur sudah menyiapkan bumbu-bumbu khusus yang dibawa dari Pontianak, salah satu bumbu legendarisnya ialah asam kandis. Pada malam harinya kami makan malam bersama, dilanjutkan dengan rekreasi bersama. Monsinyur dan Pastor Alex masing-masing mempersembahkan suara untuk berkaraoke. Sementara para frater sembari menunggu giliran untuk berkaraoke, ada yang bermain catur, remi, nonton film, dan ngobrol. Keakraban persaudaraan sangat terasa di antara kami.

    Ramah tamah dalam satu keluarga

    Minggu 13 Juni 2021, setelah sarapan kami bersiap untuk berangkat menuju kapel Griya Samadhi Yohanes Trawas. Kami berangkat pada pukul 09.00 WIB. Di Kapel tersebut, kami Misa bersama umat di Trawas. Umat yang hadir berjumlah sekitar 80 orang, berdasarkan muatan kapel yang telah diatur di masa Pandemi Covid-19. Adapun Selebran utamanya Mgr. Agustinus Agus, sementara konselebrannya Romo RD. Alexsius Alex dan Romo RP. Dwijoko, CM. Seluruh petugas liturgi diambil alih oleh para frater KAP, seperti Koor, Lektor, Organis, Pemazmur, dan Koster.

    Baca juga: Tujuh Pesan Fatima: Penjelasan Kardinal Ratzinger (Paus Benediktus XVI)

    Setelah Misa, kami mengabadikan momen kebersamaan tersebut dengan beberapa umat yang juga ikut berfoto bersama. Di sana juga hadir Romo RP. Andreas Kurniawan, OP. Kemudian kami kembali menuju ke Villa bersama beberapa Romo dan beberapa umat. Setiba di Villa, telah tersedia beberapa jenis makanan yang dijaga oleh Mas-nya di halaman depan Villa. Makanan yang tersedia tersebut berupa Sate Ayam, Bakso, dan makanan-makanan lainnya yang juga disediakan oleh pemilik Villa.

    Di sela kami menikmati makanan yang tersedia, Mgr. Agus menyumbangkan suara emasnya dengan berkaraoke lagu-lagu kesukaannya. Begitu pula denga Pastor Alex dan para frater yang juga ikut menyumbangkan suara untuk menyemarakkan suasana siang itu.

    Setelah acara ramah-tamah berakhir, kami pun bersiap-siap untuk kembali ke Malang. Pada pukul 14.00 WIB kami berangkat menuju Malang. Sebelum berangkat, rombongan kami yang akan ke Malang pamit sekaligus mengucapkan terima kasih serta mohon doa restu agar selamat sampai ke tujuan kepada Mgr. Agus. Kami semua bersalaman dengan beliau. Selain kepada Monsinyur, kami juga pamit dan mengucapkan terima kasih serta permohonan maaf kepada pemilik Villla, jika ada kekurangan atau pun hal-hal yang kurang berkenan di hati mereka selama kami menginap di Villa mereka.

    Kebersamaan kami berpisah di Villa tersebut, rombongan kami yang kembali ke Malang menggunakan dua Bus ukuran sedang. Pastor Alex masih bersama kami menuju ke Malang. Sementara Monsinyur dan Romo Andre beserta pasutri pemilik Villa juga akan kembali ke Surabaya melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan masing-masing.

    Kami yang kembali ke Malang sudah merencanakan akan singgah ke Seminari TOR untuk mengunjungi lima frater di sana. Setiba di TOR, kami disambut oleh Romo RP. Broto, SJ. dan Romo RD. Louis (Romo Rektor) beserta lima frater KAP di halaman depan Seminari.

    Ada beberapa frater dari kami dan juga Pastor Alex ikut masuk bersama Romo Broto untuk melihat situasi dan kondisi baru Seminari sekaligus bernostalgia ketika masih menjalani formatio sebagai calon imam di TOR. Sementara para frater yang lainnya masih menunggu di halaman sambil bercerita dengan para frater TOR lainnya. Setelah melepas rindu satu sama lain kami pun segera kembali menuju Malang. Kami tiba di Seminari pada pukul 18.25 WIB.

    Baca juga: Ucapan terima kasih Paus kepada mereka yang melayani Kristus pada orang miskin dan terpinggirkan

    Senin 14 Juni 2021 pagi, para frater tingkat II bersama dengan Pastor Alex melakukan tes Swab PCR di RS Panti Nirmala. Siangnya, Pastor Alex bersama para frater Tingkat IV berkunjung ke Kota Batu untuk menikmati suasana kota dingin tersebut. Pada malam hari, kami para frater KAP bersama Pastor Alex makan malam bersama di aula Seminari.

    Selain makan bersama, kami juga ngobrol santai mengenai dinamika kehidupan di Seminari Tinggi. Setelah itu kami kembali ke kamar masing-masing untuk packing karena keesokan harinya kami akan berangkat ke tempat tujuan masing-masing dan meninggalkan Seminari dalam jangka waktu yang cukup lama.

    Selasa 15 Juni 2021 subuh, para frater tingkat II dan Pastor Alex berangkat ke Bandara Juanda menggunakan Travel untuk kembali ke Keuskupan. Sementara para frater tingkat III dan tingkat I berangkat liburan atau live in ke tempat tujuan masing-masing pada sore hari.

    Adapun para frater tingkat IV akan berangkat menyususl sesuai tanggal keberangkatan mereka. Demikianlah serangkaian kegiatan persaudaraan kami para frater Keuskupan Agung Pontianak bersama Yang Mulia Mgr. Agustinus Agus dan RD. Alexius Alex.

    Audiensi Mgr Agustinus Agus dalam Safari Kanvas dalam rangka hut 100 th Legio Maria

    Audiensi Mgr Agustinus Agus dalam Safari Kanvas dalam rangka hut 100 th Legio Maria-Majalah DUTA

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Penandatangan kanvas ini adalah hal yang kecil, namun kalau digabungkan maka inilah bentuk semangat persetuan semangat gereja dalam mewartakan teladan Bunda Maria yang suci itu. Hal ini dikatakan Uskup Agung Pontianak dalam audiensi bersama perwakilan Legioner yang hadir dalam kegiatan pada Senin 21 Juni 2021 malam.

    Dalam audiensi tersebut Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus didampingi oleh RP Yosef Astono Aji, OFMCap, mengajak Legioner untuk melihat teladan Bunda Maria yang dengan selalu mengingat kata-kata Bunda Maria yakni “terjadilah pada ku menurut kehendak Mu”.

    Baca juga: Mengapa ada Spider Man pada Audiensi Umum Paus Fransiskus?

    Pernyataan ini bagi Mgr Agus, adalah perkataan yang membuktikan bahwa Bunda Maria pantas untuk menjadi Bunda Allah.

    “Seorang wanita sederhana dipilih Allah untuk menjadi Bunda Tuhan Yesus Kristus dan kemudian menebus dosa-dosa manusia itu adalah salah satu tanda bahwa penyelenggaraan Ilahi bekerja diluar dari kemampuan manusia,” kata Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus pada Audiensi bersama Legioner.

    Tengah pandemi Covid-19 tak menyurutkan iman

    Ditengah Pandemi Covid-19 saat ini banyak aktivias dan kegiatan terpaksa tertunda bahkan ada yang dibatalkan. Kalaupun ada yang hendak akan melakukan kegiatan maka dalam acara pun dilaksanakan  pembatasan yang berdasarkan protokol kesehatan.

    Sehubungan dengan itu, meskipun ditengah pandemi dan kesibukan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus bisa menyempatkan diri untuk hadir dan audiensi bersama para legioner yang ikut dalam audiensi Safari Kanvas dalam rangka menyambut hut 100 th Legio Maria dunia.

    Baca juga: Misa syukur Penutupan Tahun Ajaran di STT Pastor Bonus

    Aana Dorkas selaku ketua Panitia, mengatakan kegitan audiensi Safari Logo dan Penandatanganan Kanvas menuju 100 tahun Legio Maria di dunia akan ditutup pada tanggal 7 September 2021 mendatang.

    Tepat pada tanggal 7 september 2021 juga merupakan puncak perayaan 100 tahun Legio Maria seluruh dunia.

    Dorkas menjelaskan bahwa kanvas tersebut keliling ke beberapa Keuskupan, dan di setiap Keuskupan Bapa Uskup setempat diminta untuk menandatangani kanvas yang dibawa.

    Aana Dorkas juga mengaku bangga karena Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus sangat mendukung kegiatan Legio Maria. Harapannya kedepan Legio Maria bisa semakin maju dan semakin berkembang dan semakin banyak yang tertarik menjadi Legioner.

    Legio Maria di Kalimantan Barat

    Perkembangan iman katolik di wilayah Keuskupan Agung Pontianak kini tampak buahnya. Bibit yang ditaman oleh para pendahulunya (Missionaris Jesuit dan dilanjutkan oleh Kapusin) saat ini sudah berkembang dengan pesat. Salah satu bibit iman yang tumbuh itu yakni hadir dan aktifnya Legio Maria di Keuskupan Agung Pontianak.

    Saat ini Dorkas menyampaikan berdasarkan data terakhir jumlah anggota legioner Seluruh Kalimantan sekitar 500an orang.

    Sedangkan dalam audiensi dengan Uskup Agung Pontianak, yang hadir antara itu ada perwakilan Perwira Komisium (Perwira adalah pengurus di Komisium). Kemudian para ketua Komisium dan Panitia, karena ini terbatas maka kami tidak bisa mengundang banyak orang dalam hal ini.

    Baca juga: 104 Tahun RS Kusta Alverno Singkawang: Resmi Tutup dan Ganti Status Panti Lepra

    Mulai tertanggal 22 Juni kanvas ini berjalan dari Paroki Keluarga Kudus bersama Presidium Ratu Rosari, Presidium BPSR yang ada di Paroki Sisilia.

    Sedangkan di Rasau Jaya ada Presidium Bintang Timur, dan dari situ kembali ke Katedral bersama Legioner Katedral dan tanggal 26 pagi kami akan berangkat ke Singkawang, kemudian balik kembali tanggal 27 dan lanjut dan hari seninnya tepat pada tanggal 28 kanvas ini kami kirimkan ke Keuskupan Bandung.

    Menjadi bagian Legio Maria harus melakukan sesuatu

    Uskup Agus berharap Legio Maria bisa berkembang bukan hanya dalam kualitas, tetapi juga dalam kuantitas. Selaras dengan itu pada puncak perayaan bahwa seluruh legioner harus menyadari bahwa menjadi bagian dari Legio Maria adalah sebuah panggilan.

    Menjadi bagian dari Legio Maria, lanjut Uskup Agus, “Kita harus melakukan sesuatu, yang saya maksudkan adalah jangan segala sesuatu harus kita kondisikan, tetapi seorang legioner harus mampu mengadapi dan menyelesaikan sesuatu yang diluar dari kendali kita maka itulah yang disebut dengan tindakan iman. Itulah yang paling sulit.”

    Mgr Agustinus Agus menyampaikan bahwa perkembangan zaman sekarang ini, ia melihat banyak pastor yang bingung untuk menghadapi sesuatu yang tiba-tiba terjadi.

    “Harapan saya, Legio Maria jangan reaktif artinya sudah terjadi sesuatu baru berbuat. Tetapi Legio Maria harus berani melakukan sesuatu diluar kemampuan kita,” kata Mgr Agus.

    Baca juga: Menilik kembali perjalanan Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak 1909-2009

    Inilah yang dilakukan Bunda Maria, lanjut Uskup. “Kenapa Bunda Maria mengatakan Fiat Voluntas Tua? Saya yakin bahwa Bunda Maria tidak tahu begitu besar rencana Tuhan. Namun yang hanya Bunda Maria ketahui adalah jika Tuhan meminta sesuatu harus ia laksanakan.”

    Istilah Fiat Voluntas Tua berasal dari bahasa Latin dan dapat ditemui di Wikipedia (internet) dengan narasi yang berarti: “biarlah dilakukan” atau: “jadilah menurut kehendak-Mu” atau “Ketaatan membawa sukacita”.

    Hal yang unik dari Bunda Maria, meskipun Ia tidak mengerti namun Ia percaya bahwa ini dari Tuhan maka Bunda mengikuti apa yang malaikat itu katakan kepada-Nya, lanjut Mgr Agus. “Semangat inilah yang harus ada dihati para Legio Maria.”

    Baca juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    Audiensi malam itu ditutup dengan penandatanganan Kanvas dan foto bersama. Kemudian dilanjutkan dengan doa penutup dan berkat untuk Legio Maria dari tangan Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak.-)*

    Misa syukur Penutupan Tahun Ajaran di STT Pastor Bonus

    Misa syukur Penutupan Tahun Ajaran di STT Pastor Bonus- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Telah dilaksanakan misa syukur atas tahun ajaran 2020/2021 di STT Pastor Bonus Jl. 28 Oktober, yang dihadiri oleh Uskup Agung Pontianak, Rektor, Para Dosen, Suster, Gotaus, Mahasiswa STT Pastor Bonus dan beberapa umat.

    Perayaan itu diselenggarakan pada hari Jumat tanggal 25 Juni 2021, pukul 17.00 WIB, dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, pengecekan suhu tubuh, menggunakan masker dan menjaga jarak.

    Homili Mgr Agustinus Agus

    “Dampak covid 19 terhadap gereja, menjadi keprihatinan kita bersama, yaitu memudarnya iman umat. Pastor tidak perlu takut untuk ke kampung, karena justru di kampung itulah yang masih zona hijau. Bacaan pertama jelas, para gembala itu pro aktif, mencari domba. Yg kedua, gembala datang bukan untuk mereka yg sehat, tetapi mereka yang sakit. Yang sakit kita selamatkan,” ucap Mgr. Agustinus Agus.

    Baca juga: Para Uskup AS Melihat Ancaman Terhadap Institusi Katolik Menjelang Pekan Kebebasan Beragama

    Lanjutnya menjelaskan tentang semangat kegembalaan “Kalau cari yg sehat apa untungnya? Apa hebatnya kita sebagai gembala? Betapa kita bangga jika ada 1 domba yg hilang kembali kemari daripada memperhatikan yg sudah ada. Jadi ketika dikatakan kita dipanggil untuk mencari yang hilang, itu artinya kita diangkat menjadi gembala, jangan cari tempat yang mudah, karna yang mudah tidak perlu perhatian khusus dari gembala, mereka sudah patuh.”

    Uskup mengatakan, dewasa ini banyak Imam yang cenderung memperhatikan domba yang baik-baik saja. Baginya, merupakan suatu kebahagiaan dapat membantu yang sakit daripada membantu yang sehat, karna yang sehat semua orang bisa perhatikan.

    “Kalau kita diberi peranan seperti peranan Tuhan, itu merupakan kehormatan yang luar biasa. Pastor jangan sampai takut ketemu umat, kita bisa cuci tangan pakai masker, ketemu tamu. Jika sampai takut ketemu umat, mohon maaf jadi kamu kesannya tidak baik. Kalau pastor aja takut mati, apalagi umat. Jadi para frater, memang tidak mudah menjadi orang yang proaktif, misioner, menjadi orang yang bisa membaca situasi. Jangan takut untuk menjadi gembala yang baik, Tuhan pasti menuntun kita,” lanjutnya.

    Baca juga: Mengapa ada Spider Man pada Audiensi Umum Paus Fransiskus?

    Mgr. Agustinus Agus juga mengaku banyak orang muda yang bertanya ‘kenapa Bapak Uskup berani memberi krisma?’ maka ia menjawab “Saya sudah menerapkan protokol kesehatan, sudah pakai sarung tangan, sudah pakai masker, menandai dahi orang dengan pantas, apa salahnya? Andai kata saya terpapar, itu karna melayani.”

    Pesan dan kesan

    Sebelum misa berakhir, Frater Rupinus Kehi mewakili teman-temannya mengucapkan terima kasih dan meminta maaf atas segala perkataan dan tindakan yang menyinggung para dosen, staff dan teman-temannya yang lain.

    “Para dosen di kelas mungkin kami sering tidur, mengantuk, atau tidak menjawab pertanyaan. Tugas-tugas terlambat dikumpulkan, ujian yang salah-salah, tapi kembali lagi itulah belas kasihan Allah dan belas kasihan dosen. Bagi teman-teman, Beno mohon maaf sampai patah bahunya ketika bermain bola bersama.”

    Baca juga: Paus dalam Audiensi: Evangelisasi mengharuskan kita untuk mengikuti jalan yang tidak terduga

    Frater Kehi mengatakan, STT Pastor Bonus adalah contoh gambaran gereja yang universal dimana ordo dan terekat serta diosesan belajar, melayani, berkumpul bersama dalam satu atap institusi STT Pastor Bonus. “Kita belajar di kelas yang sama, kita minum kopi yang sama, kita juga duduk merokok di serambi yang sama. Di depan kapel itu tertulis dengan bahasa Dayak Kanayatn, Nang tarigas ak kemuliaan Jubata yang artinya adalah yang terbaik untuk kemuliaan Allah. Rasanya tidak pantas jika melihat diri sendiri dan kami semua bahwa para dosen, staf seminari meluluskan kami semua, untuk dipersembahkan kepada Allah menjadi calon-calon Imam.” tutupnya di akhir sambutannya

    Setelah Frater Kehi, Pastor William selaku Rektor STT Pastor Bonus juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan membantu selama proses belajar-mengajar di sana.

    Baca juga: HUT Tahbisan Episkopal ke-45 Emerius Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM. Cap- Keuskupan Agung Pontianak

    “Selamat kepada para frater tingkat akhir yang telah menyelesaikan program pendidikan disini. Para frater tetaplah serius belajar, walaupun matanya mengantuk tapi hatinya harus tetap terjaga. Walaupun tidak bisa tatap muka, lewat zoom itu juga merupakan bukti bahwa kita serius belajar jarak jauh dan sekaligus memanfaatkan waktu dengan sangat baik.”

    Pastor juga berharap agar apa yang telah para dosen dan staff bagikan bisa bermanfaat di lapangan.

    Semangat Persaudaraan

    Di akhir sambutannya, Uskup Agung Pontianak menyampaikan harapannya agar langkah yang diambil para Frater kedepannya bisa berjalan lancar.

    “Tuhan mengatakan hukum pertama adalah cintailah Allahmu dan hukum yang kedua cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri,” lanjut Uskup. “Yang luar biasa Tuhan memanggil kita ciptaan-Nya ini bukan lagi hamba, tapi sahabat, dan Yesus pun sampai membasuh kaki para murid.”

    Baca juga: Misa Krisma Oleh Mgr. Agustinus Agus di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak

    Mgr Agustinus Agus menambahkan bahwa kunci semangat persaudaraan yakni saat manusia bisa menganggap orang lain sebagai saudara dan salah satunya tutur kata yang santun adalah termasuk bagian yang sangat penting dalam pembinaan persaudaraan satu dengan yang lain.

    Setelah misa berakhir, diadakan sesi foto bersama Uskup dan para Imam, santap bersama, sekaligus penyerahan cenderamata dari Gotaus kepada para Frater.

    TERBARU

    TERPOPULER