Monday, January 12, 2026
More

    Tujuh Pesan Fatima: Penjelasan Kardinal Ratzinger (Paus Benediktus XVI)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Tujuh pesan Fatima yang berisikan penjelasan Kardinal Ratzinger alias Paus Benediktus XVI yang diambil dari sumber lux veritatis 7. Berikut Informasinya:

    1. Penampakan Maria di Fatima adalah Wahyu Pribadi

    Wahyu pribadi adalah pertolongan bagi iman ini, dan menunjukkan kredibilitasnya persis dengan menuntun saya kembali kepada Wahyu publik yang definitif. Berkenaan hal ini, Kardinal Prospero Lambertini, yakni Paus Benediktus XIV, berkata dalam risalah klasiknya yang kemudian menjadi standar untuk beatifikasi dan kanonisasi:

    “Sebuah persetujuan iman katolik tidak diberikan kepada wahyu-wahyu yang disetujui dalam cara ini; bahkan ini mustahil.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Kurangnya Tenaga Imam

    Wahyu-wahyu ini mencari persetujuan iman insani dalam menaati persyaratan kearifan, yang menempatkan dirinya di hadapan kita sebagai hal yang mungkin dan kredibel bagi kesalehan.”

    Teolog Denmark E. Dhanis, cendekiawan unggul dalam bidang ini, berkata dengan ringkas bahwa persetujuan gerejawi atas wahyu pribadi memiliki tiga unsur: pesannya tidak mengandung hal yang bertentangan dengan iman dan moral; sah untuk membuka pesannya kepada publik; dan umat beriman diberi kewenangan untuk menerimanya dengan kearifan (prudence).

    Pesan yang demikian dapat menjadi bantuan otentik dalam memahami Injil dan menghidupinya dengan lebih baik dalam kurun waktu tertentu; jadi ia tidak boleh diabaikan. Ini adalah pertolongan yang ditawarkan, tetapi tidak wajib digunakan.

    1. Neraka itu Nyata

    Bagian pertama dan kedua dari “rahasia” Fatima sudah didiskusikan dengan luas dalam literatur terkait sehingga kita tidak perlu menafsirkannya lagi. Saya hanya ingin mengingat pokok terpenting secara singkat.

    Dalam satu momen mengerikan, anak-anak diberikan penglihatan akan neraka. Mereka memandang kejatuhan “jiwa-jiwa pendosa malang”. Dan kini mereka diberitahu mengapa mereka dipaparkan dengan momen ini: “untuk menyelamatkan jiwa-jiwa” – untuk menunjukkan jalan keselamatan.

    1. Pentingnya Pertobatan dan Keselamatan Jiwa

    “Untuk menyelamatkan jiwa-jiwa” muncul sebagai kata kunci bagian pertama dan kedua “rahasia” Fatima dan kata kunci untuk bagian ketiga ialah tiga seruan: “Pertobatan, Pertobatan, Pertobatan!”. Permulaan Injil muncul dalam benak kita: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mark 1:15).

    Untuk memahami tanda-tanda zaman berarti menerima urgensi silih – pertobatan – dan iman.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja Harus Berjalan Bersama Pemerintah

    Inilah tanggapan yang tepat terhadap momen sejarah ini, yang ditandai oleh kesulitan besar yang diuraikan dalam gambaran-gambaran selanjutnya.

    Perkenankan saya menambahkan rekoleksi personal di sini: dalam percakapan dengan saya, Suster Lucia berkata bahwa tampak kian jelas baginya bahwa tujuan dari semua penampakan ini adalah untuk membantu orang-orang kian bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih – segalanya dimaksudkan untuk mengarah ke sini.

    1. Devosi kepada Hati Maria Tak Bernoda sebagai Sarana Menyelamatkan Jiwa

    Untuk mencapai tujuan ini – jalan yang diperlihatkan – secara mengejutkan bagi orang-orang dari Anglo-Saxon dan dunia budaya Jerman – adalah devosi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda.

    Komentar singkat cukup untuk menjelaskan ini. Dalam bahasa biblis, “hati” menandakan pusat kehidupan manusia, sebuah titik ketika akal budi, kehendak, tempramen dan sensitivitas bertemu, ketika seseorang menemukan kesatuannya dan orientasi batinnya.

    Menurut Matius 5:8, “hati yang tak bernoda” adalah hati yang, dengan rahmat Allah, telah tiba pada kesatuan batin sempurna dan karenanya “melihat Allah’. “Berdevosi” kepada Hati Maria yang Tak Bernoda artinya menganut sikap hati ini, yang menjadikan fiat – “terjadilah kehendak-Mu” – sebagai pusat yang menentukan seluruh hidup seseorang.

    Baca Juga: MUKJIZAT ROSARIO DI LEPANTO

    Seseorang dapat melontarkan keberatan bahwa kita tidak seharusnya menempatkan manusia di antara diri kita dan Kristus. Tetapi, kita mengingat bahwa Paulus tidak ragu untuk berkata demikian kepada komunitasnya: “turutilah teladanku” (1 Cor 4:16; Phil 3:17; 1 Th 1:6; 2 Th 3:7, 9).

    Dalam Sang Rasul mereka dapat melihat secara konkret apa artinya mengikuti Kristus. Tetapi, di setiap zaman, dari siapa lagi kita dapat belajar dengan lebih baik selain dari Bunda Tuhan?

    1. Gereja yang Menderita

    Sampai di sini pribadi manusia muncul: Uskup berjubah putih (“kesan kami dia adalah Bapa Suci”), Uskup-uskup lainnya, para imam, pria dan wanita anggota hidup bakti, dan pria dan wanita dari posisi dan tingkat sosial yang berbeda.

    Paus tampak mendahului yang lain, gemetaran dan menderita lantaran semua kengerian yang mengelilinginya. Tak hanya rumah-rumah di kota yang menjadi reruntuhan, tetapi ia berjalan di tengah jenazah orang mati.

    Jalan Gereja, dengan demikian digambarkan sebagai Via Crucis, sebagai perjalanan melintasi waktu kekerasan, kehancuran, dan penganiayaan.

    Sejarah seluruh abad dapat diwakili dalam citra ini. Sama seperti tempat-tempat di bumi secara sintetis digambarkan dalam dua citra, bukit dan kota, dan diarahkan menuju salib, demikian pula waktu dihadirkan dalam cara yang telah dipadatkan.

    Dalam penglihatan tersebut kita dapat mengakui abad lalu sebagai abad para martir, abad penderitaan dan penganiayaan Gereja, abad Perang Dunia dan banyak perang lokal yang memenuhi lima puluh tahun terakhir dan mengakibatkan bentuk-bentuk kekejaman yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Dalam “cermin” penglihatan ini kita melihat di hadapan kita para saksi iman yang melintas dari dekade demi dekade.

    Di sini tampaknya pantas untuk menyebut frase dari surat yang ditulis Suster Lucia kepada Bapa Suci tanggal 12 Mei 1982: “Bagian ketiga dari ‘rahasia’ tersebut mengacu kepada perkatan Bunda Maria: ‘bila tidak, [Rusia] akan menyebarkan kekeliruannya di seluruh dunia, menimbulkan perang dan penganiayaan Gereja.

    Mereka yang berkehendak baik akan dimartir; Bapa Suci akan menanggung banyak derita; berbagai bangsa akan dilenyapkan’”.

    1. “… iman dan doa adalah daya-daya yang dapat mempengaruhi sejarah.”

    Dalam Via Crucis seluruh abad, sosok Paus memiliki peran khusus. Dalam pendakian bukit penuh kesukaran, tak diragukan lagi, kita dapat melihat pertemuan Paus-paus yang berbeda.

    Bermula dari Pius X sampai Paus yang sekarang, mereka semua berbagi penderitaan abad ini dan berupaya melangkah maju melintasi semua derita di jalan yang mengarah menuju Salib.

    Dalam penglihatan tersebut, Paus juga dibunuh bersama dengan para martir. Setelah upaya pembunuhan 13 Mei 1981, ketika Bapa Suci menerima teks “rahasia” ketiga yang dibawa padanya, bukankah sudah pasti ia akan melihat takdirnya sendiri?

    Baca Juga: Kisah Neraka dalam Penglihatan Santa Veronica Giuliani

    Ia sangat dekat dengan ajal, dan ia sendiri menjelaskan kelangsungan hidupnya dalam perkataan berikut: “… tangan seorang ibu lah yang mengarahkan lintasan peluru dan dalam pergolakannya Paus berhenti di ambang kematian” (13 Mei 1994).

    Bahwa di sini “tangan seorang ibu” telah membelokkan peluru hanya memperlihatkan, sekali lagi, bahwa tidak ada takdir yang kekal, bahwa iman dan doa adalah daya-daya yang dapat mempengaruhi sejarah, dan pada akhirnya doa jauh lebih berkuasa daripada peluru dan iman lebih berkuasa daripada balatentara.

    1. “Hatiku yang Tak Bernoda akan Menang.”

    Terakhir, saya juga ingin menyebutkan ungkapan kunci lainnya dari “rahasia” Fatima yang menjadi terkenal: “Hatiku yang tak bernoda akan menang”. Apa artinya? Hati yang terbuka kepada Allah, yang dimurnikan kontemplasi akan Allah, jauh lebih kuat daripada bedil dan beragam jenis senjata.

    Fiat Maria, sabda hatinya, telah mengubah sejarah dunia, lantaran ia membawa Sang Penyelamat ke dunia – karena, berkat Ya Maria, Allah dapat menjadi manusia di dunia kita dan tetap demikian selamanya. Yang Jahat memiliki kuasa di dunia ini, seperti yang kita lihat dan saksikan terus meneru; ia memiliki kuasa karena kebebasan kita terus membiarkan dirinya menjauh dari Allah.

    Baca Juga: Peresmian Paroki dan Pelantikan Dewan Pastoral Paroki St Paulus dari Salib Mandor

    Tetapi karena Allah sendiri mengambil hati manusia, dan mengarahkan kebebasannya menuju yang baik, maka kebebasan untuk memilih yang jahat tidak lagi menjadi penentu segalanya. Dari saat itu, inilah perkataan yang jaya: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”. Pesan Fatima mengundang kita untuk percaya dalam janji ini. (L)- Sumber: lux veritatis 7

     

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles