Tuesday, May 12, 2026
More
    Home Blog Page 124

    Sikap Hati dan Budi dalam Alam Semesta

    JPIC Kalimantan Barat- Sikap Hati dan Budi dalam Alam Semesta- Oleh: Rofinus Emil Lejap

    MajalahDUTA.Com, JPIC- Fakta menunjukkan dari waktu ke waktu pembangunan pemukiman manusia, berdampak langsung juga bagi hidup manusia sendiri, segala margasatwa, tumbuh-tumbuhan, udara serta air.

    Pengaruh positifnya bahwa pertambahan pemukiman, perluasan lahan perkebunan dan pertanian yang dinikmati langsung oleh manusia dan semua binatang peliharaan.

    Baca juga: JPIC Bruder MTB: Ekopedagogi untuk Masa Depan

    Namun dampak negatifnya relasi kehidupan tidak harmonis lagi yang mendatangkan krisis-sakit sebagai akibat yang tidak dapat dihindarkan, sehingga diperlukan adanya solusi pembaharuan serta perbaikan.

    Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si mengajak seluruh umat manusia untuk merawat dan memelihara bumi sebagai rumah bersama. Memang bumi adalah ‘rumah’ bagi segala ciptaan, sehingga patut dirawat atau dipelihara tanpa tendensi agama, suku bangsa maupun aliran sosial dan politik.

    Teguran Sang Pencipta

    Bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi dan bencana alam lainnya yang sering terjadi, mungkin merupakan teguran Sang Pencipta serta keluhan alam sendiri karena banyak manusia semakin bersikap apatis.

    Pandemi virus corona (Covid-19) seharusnya menjadi kesempatan untuk berdamai dengan semua ciptaan lain, tetapi semua umat bertingkah seperti di “Pasar malam” dan menonjolkan kepercayaan sendiri, sehingga perilaku terhadap alam terabaikan.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Ada bermacam-macam penyebab kerusakan lingkungan alam seperti bencana alam, ulah manusia menggunakan pupuk serta pestisida yang tidak ramah lingkungan, dan sebagainya. Namun ada pihak yang memandang semua itu sebagai hal yang biasa, sehingga tidak perlu dirisaukan.

    Padahal semua bencana alam selalu mengakibatkan duka bagi yang berdampak, seperti bencana kebakaran di Australia, kebakaran di Sumatera dan Kalimantan, letusan gunung Semeru dan Merapi, tanah longsor, banjir bandang di Flores, banjir di Sintang, Melawi, Sekadau, Sanggau dan masih banyak bencana lain.

    Bencana sekecil apapun berdampak kepada kerusakan alam, penderitaan manusia serta semua binatang, dan kekacauan sistem ekologis yang dapat mendatangkan bencana lain. Misalnya bencana kebakaran di benua Australia mengakibatkan badai subtropis yang melanda negara Timor Leste dan Nusa Tenggara Timur.

    Solidaritas ekologis

    Bencana alam dan berbagai kerusakan akibat ulah manusia harus dicari jalan keluar atau solusi untuk mengantisipasi-mengatasinya.

    Manusia hidup di alam dan dari alam yang tidak terpisahkan, sehingga manusia sendiri wajib menjadi pemimpin perbaikan kerusakan alam dan juga duta perbaikan serta pembaharuan.

    Dengan hati manusia dapat merasa senang, gembira, susah dan sedih. Perasaan yang sama dirasakan juga oleh ciptaan yang lain, hanya mereka tidak dapat mengungkapkan semua perasan itu secara naluriah, maka kitalah yang berusaha memahami serta mengartikan perasaan hewani menggunakan rasa solidaritas ekologis.

    Sambil menangis beberapa wanita di Sidney Australia berusaha mengobati kuda, sapi dan kanguru yang luka terbakar dalam bencana kebakaran, sekelompok lain menyiram pepohonan yang sudah menjadi tunggul arang.

    Di Sumatera tampak petugas menarik slang panjang untuk menghentikan kobaran api. Tindakan tersebut dilakukan setelah ada bencana.

    Sikap Santo Fransiskus

    Sementara semua yang aman jauh dari ancaman bencana tersebut, apa yang dapat dibuatnya? Selain mereka hanya menonton, merasa kasihan dan mengelus dada? Tindakan seperti ini tidak akan menyelesaikan persoalan kerusakan lingkungan hidup.

    Untuk itu, kita perlu mengambil sikap hati dan budi dalam menjaga dan merawat alam ini. Kita perlu meningkatkan dan melatih rasa persaudaraan, sehingga memiliki hati dan budi seperti Santo Fransiskus Assisi kepada semua ciptaan.

    Baca juga: Lingkungan dan Kesehatan

    Sikap dan budi dari Santo Fransiskus Assisi seperti di bawah ini menjadi teladan yang harus kita ikuti dalam menjaga dan merawat ibu bumi rumah kita dari krisis multidimensi, sebagai berikut:

    1. Memelihara rasa solidaritas kepada semua ciptaan, biarpun mereka tidak berakal budi.

    2. Semua ciptaan tidak mau disakiti, maka jangan menyakiti mereka, kecuali tumbuh-tumbuhan (Bdk. Kejadian 1:29).

    3. Tanah atau bumi adalah ibu yang memberi makan, minum, dan sebagai tempat berekspresi.

    4. Air tercurah jauh dari langit untuk menghidupkan, menyegarkan, dan menjadi sarana kebersihan, gunakan air secara bermartabat; jaga kebersihan sungai, jangan membuang sampah sembarangan.

    5. Udara adalah napas hidup, minimalisir penggunaan kendaraan yang membuat polusi udara, asap dari cerobong pabrik perlu dicari solusi yang relatif aman untuk semua makhluk hidup.

    6. Untuk skala mini di rumah tangga, gunakan semua sarana secara bermartabat; sabun, sampho, odol gigi, pupuk tanaman pot, dan lain-lain.

    Manusia adalah citra Allah maka peliharalah martabat itu dengan sikap hati dan budi yang positif kepada semua ciptaan. []

    Apasih Tribunal Gerejawi ?

    Andrew Birrell (after Henry Fuseli), Caractacus at the Tribunal of Claudius at Rome (1792)- Gambar dari Wikipedia tentang Tribunal (Ilustrasi)

    MajalahDUTA.Com, TRIBUNAL- Hallo sahabat pembaca setia DUTA, apakah anda salah satu orang yang asing dengan istilah ‘tribunal gerejawi”? Atau apakah anda pernah mendengarnya tapi bingung untuk mengerti konteks itu secara garis besar?

    Semoga artikel ini bisa sedikit membantu para pembaca untuk mamahami garis besar tentang Tribunal Gerejawi.

    Data ini merupakan data yang dikumpulkan oleh Tim DUTA- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak khusus membahas secara singkat apa saja yang ada dalam Tribunal Gerejawi dan fungsinya dalam menangani kasus.

    Apa itu Tribunal Gerejawi?

    Istilah Tribunal Gerejawi umumnya diterjemahkan dengan kata “Pengadilan Gerejawi”. Perkembangan umat Katolik kian pesat. Seiring dengan pertambahan jumlah keluarga Katolik, rentetan masalah keluarga atau masalah-masalah lain mulai bermunculan.

    Terkadang suami -istri tidak sanggup mencapai kesepakatan untuk hidup bersama. Terkait dengan kasus-kasus ini, Gereja Katolik membentuk “Pengadilan Gerejawi”, supaya perkara-perkara ini dapat ditangani dengan baik dan adil.

    Berkenaan dengan pentingnya kesejahteraan umat Katolik, maka Keuskupan Agung Pontianak, tepat pada tanggal 12 Oktober 2010, telah membentuk Tribunal Gerejawi yang terdiri dari (1) Vikaris Yudisial (Vikyud) yang bertugas memimpin Tibunal Keuskupan dan dalam menunaikan tugas pelayanan Vikyud berada dibawah dan atas bimbingan Uskup Diosesan; (2) hakim memegang kuasa yudikatif yang menangani semua perkara di keuskupan.

    Hakim dalam Tribunal Gerejawi

    Berdasarkan kuasa kepemimpinannya, uskup diosesan sendiri adalah hakim tingkat pertama yang dapat melaksanakan kuasa yudisialnya secara pribadi ataupun melalui orang lain.

    Hakim diangkat olehh uskup diosesan untuk membantu vikyud. Hakim adalah orang yang bernama baik dan bergelar doktor atau licensiat dalam bidang hukum gereja (Kan 1421,3).

    Hak dan wewenang antara lain membatalkan keabsahan sebuah tindakan yang dilakukan hanya karena ketakutan yang besar atau yang timbul secara tak adil ataupun karena penipuan; menentukan hukum dalam kasus pidana; memperingan hukuman atau menggantikannya dengan penitensi bagi pelaku pelanggaran karena gangguan akal budi.

    Sedangkan tugas kewajibannya tidak menjatukan hukuman yang terlalu berat (censura) kecuali beratnya perkara menuntut demikian; menjunjung tinggi keadilan dan menolong pihak bersengketa mencari pemecahan dengan mengutamakan penyelesaian secara damai.

    Auditor dan Defensor vinculi

    Auditor ditunjuk oleh hakim atau ketua pengadilan kolegial untuk mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti perkara.

    Dia dapat dipilih dari salah seorang hakim pengadilan atau oranglain yang disetujui oleh uskup.

    Hak dan wewenangnya diatur sesuai mandat dari hakim. Dia tidak berkuasa menjatuhkan vonis di pengadilan. Tugas dan kewajibannya mengumpulkan bukti-bukti perkara sesuai dengan permintaan hakim, baik dari saksi-saksi maupun dokumen-dokumen yang diperlukan.

    Defensor vinculi adalah orang yang diangkat secara khusus untuk mengetengahkan dan menguraikan segala sesuatu secara wajar untuk membela keabsahan ikatan perkawinan dalam perkara pembatalan atau pemutusan perkawinan (Kan 1432).

    Defensor vinculi bertugas bertugas mengajukan kepada hakim daftar pertanyaan untuk menginterogasi pihak-pihak yang bersangkutan dan para saksi.

    Notarius dan Advocatus

    Notarius adalah jabatan yang tidak bisa digantikan dalam memproses sebuah perkara. Tanpa tanda tangannya secara pribadi, segala akta batal ipso iure (menurut hukum).

    Tugas utama, antara lain, menyiapkan data dan instrument mengenai dekrit-dekrit, menjaga kerahasiaan akta, harus hadir dalam pembahasan perkara pembatalan perkawinan.

    Tentu, di samping itu, masih ada promotor iustitia, imam yang ditugaskan untuk meneliti masalah-masalah kriminal yang bisa membahayakan kesejahteraan umum.

    Advocatus (pengacara) ditunjuk dengan bebas oleh pihak berperkara guna membela dan melindungi haknya melalui argument hukum dan fakta. Dia berhak mendampingi terdakwa dalam peradilan pidana.

    Hanya, sebelum sampai ke Pengadilan Gerejawi, sebaiknya, Pastor Paroki dan Komisi Keluarga berusaha menangani masalah-masalah keluarga dengan cara damai sehingga mereka dapat bersatu kembali. Semoga!!!

    JPIC Bruder MTB: Ekopedagogi untuk Masa Depan

    Ilustrasi: Ekopedagogi untuk Masa Depan

    MajalahDUTA.Com, JPIC- Pada tanggal 11 Maret 2021 Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) merayakan 100 tahun berkarya di Indonesia.

    Perayaan yubelium 100 thn tersebut mengusung tema “Mendidik Tanpa Batas.”

    Tema tersebut dimaksudkan bahwa kelima bruder misionaris awal (Br. Canisius van de Ven, Br. Martenus Brouwers, Br. Longinus, Br. Serafinus van Tilborg, dan Br. Leo Geers) datang ke Borneo, Indonesia dengan berkobar-kobar menyebarkan pengetahuan dan menebarkan iman kepada orang muda yang lemah jasmani dan rohani.

    Mereka mengabdikan diri di bidang pendidikan baik di sekolah maupun asrama. Dalam pengabdian tersebut mereka menghidupi semangat Simplisiter et Confidenter (kesederhanaan dan kepercayaan) yang merupakan moto dari Mgr. Johannes van Hooydonk Keuskupan Breda, pendiri Kongregasi Bruder MTB di Huijbergen-Belanda.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Mendidik tanpa batas dimaksudkan bahwa pendidikan atau belajar itu dilakukan terus-menerus sepanjang hayat (long life education). Pendidikan atau pembelajaran tidak terbatas di bangku sekolah. Di bangku sekolah hanya membuka jalan, selanjutnya kita terus-menerus belajar untuk memekarkan diri di segala tempat, waktu dan kesempatan.

    Kita juga dapat belajar dari pengalaman karena pengalaman merupakan guru terbaik. Dunia pengetahuan dan teknologi terus berubah dan sangat cepat perubahannya. Apalagi di saat menghadapi pandemi Covid-19, semua berubah sangat cepat.

    Pendidikan dan pembelajaran yang sebelumnya mengandalkan ruang kelas secara konvensional berubah menjadi pendidikan-pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan internet untuk belajar secara virtual (digital-online).

    Covid-19 mendorong kita berubah dan belajar menggunakan teknologi untuk membantu kita dalam pendidikan-pembelajaran. Dengan demikian, tiap pendidik mau tidak mau belajar menggunakan berbagai aplikasi untuk pembelajaran secara digital (online) bahkan blended learning.

    Pendidikan secara digital

    Pendidikan-pembelajaran secara digital di masa pandemi Covid-19 merupakan alat-sarana untuk membantu proses pemekaran diri orang muda bukan tujuan.

    Kadang-kadang kita sibuk, merasa puas dan berhenti pada penggunaan alat-sarana tersebut, sehingga tidak mencapai esensi dari pendidikan. Pendidikan itu memanusiakan manusia muda agar menjadi manusiawi.

    Artinya dengan pendidikan, pribadi-pribadi mampu membangun relasi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan hidup (alam semesta). Dengan kata lain, pendidikan itu memekarkan diri terutama akal budi (pikiran), hati (afeksi) dan tindakan berupa keterampilan anggota tubuh yang selaras dengan pikiran dan perasaan.

    Selain itu, pendidikan menumbuhkan dalam diri orang muda akan kepekaan, kepedulian, solider, bela rasa dan bela kasih yang sangat diperlukan untuk membangun kesadaran diri akan karakter dan nilai-nilai hidup.

    Pendidikan-pembelajaran secara digital juga perlu membantu orang muda agar memaksimalkan kemampuan mata untuk melihat, telinga untuk mendengarkan, mulut untuk berbicara dan tangan untuk menuliskan pikiran dan perasaannya.

    Baca juga: Tetap Berharap dalam Krisis Ekologi

    Empat hal tersebut dalam Bahasa dikenal sebagai kemampuan untuk membaca, menyimak, berbicara dan menulis. Hal ini menjadi kemampuan dasar dalam pendidikan-pembelajaran (literasi baca tulis). Mustahil kita mengharapkan orang muda belajar dan terus belajar tanpa menguasai kemampuan dasar tersebut.

    Pendidikan dan pembelajaran dewasa ini harus berakar pada konteks lingkungan hidup dan kearifan lokal orang muda (kebutuhan anak).

    Hal ini menjadi point penting yang perlu diperhatikan oleh para pendidik karena kita sedang mengalami Covid-19 dan krisis lingkungan hidup bahkan sedang bergulat dengan krisis multidimensi kehidupan.

    Virus yang menakutkan ini merupakan akibat dari krisis lingkungan hidup, sehingga kita diwajibkan mengikuti peraturan kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

    Walaupun demikian, kita perlu kritis bahwa jangan sampai memakai masker lalu menutup muka (mata) terhadap jeritan sesama dan alam; menjaga jarak lalu menjadikan kita individual; dan mencuci tangan menjadikan kita menjauhkan diri (tenang saja) dari segala krisis lingkungan hidup. Sesungguhnya, bukan alam yang krisis melainkan kita manusialah yang mengalami krisis.

    Generasi Penerus Bangsa

    Pendidikan-pembelajaran mesti peka terhadap krisis manusia dan lingkungan hidup. Perubahan iklim yang ekstrem, polusi atas tanah, air dan udara, kekurangan air bersih, populasi flora dan fauna semakin langka, sampah yang terus meningkat, dan sebagainya menjadi ancaman kehidupan sekarang dan mendatang. A

    kibat perubahan iklim yang ekstrem, ke depan kita akan mengalami kelaparan karena gagal panen dan sulit bagi petani untuk bercocok tanam.

    Maka, persoalan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan ke depan kita sangat tergantung pada impor. Untuk itu, pendidikan-pembelajar perlu mendesain kembali agar model pembelajaran yang menjawab-menanggapi kebutuhan dan kondisi tersebut.

    Orientasi pendidikan orang muda bukan lagi menjadi pegawai negeri karena semakin hari negara semakin sulit membayar gaji pegawainya. Ke depan pendidikan-pembelajaran mendekatkan orang muda pada konteks lingkungan hidup (ekologi) dan berbagai persoalannya.

    Baca juga: Persepsi kami Dayak merawat dan menjaga alam itu penting

    Orang muda diarahkan lebih akrab-dekat dengan tanah, air, flora dan fauna agar bereksplorasi dan kreatif mendayagunakan sumber daya alam tersebut untuk hidupnya. Dengan demikian, gaya hidup konsumsi menjadi penghasil (produsen), sehingga menciptakan lapangan kerja.

    Hal-hal tersebut mendesak ditanggapi, sehingga tiada alasan menjadikan ekologi sebagai bagian dari kurikulum atau diintegrasikan dalam mata pelajaran untuk pembelajaran orang muda sebagai generasi penerus masa depan.

    Dalam buku Punjuru Abad Baru, 100 Tahun Kongregasi Bruder MTB Berkarya di Indonesia telah mengulas persoalan edukasi ekologi dalam perspektif Ekopedagogi.

    Edukasi ekologi dimulai sejak dini dengan memperhatikan 3 pilar ini, pendidikan tentang lingkungan, pendidikan di atau dari lingkungan dan pendidikan untuk lingkungan. Dalam menerapkan ketiga pilar ini, pendidikan ekologi mengacu pada pendekatan ekopedagogi. Dengan demikian, sekolah-sekolah, asrama, kelompok binaan Bruder MTB perlu mendapatnya untuk masa depan.

    Apalagi dalam situasi dan kondisi sekarang ini ibu bumi rumah kita bersama ini sedang sakit-menderita (krisis multidimensi), sehingga sangatlah urgen akan edukasi ekologi dengan model pendekatan ekopedagogi.

    Belajar merespon kebutuhan

    JPIC Bruder MTB mencoba membantu edukasi ekologi dalam menanggapi persoalan krisis tersebut. JPIC menyiapkan tiga tempat (Selat Panjang, Kuala Dua dan Merauke) untuk pembelajaran.

    Pembelajaran yang berbasis lingkungan hidup, kearifan lokal (budaya) untuk menanggapi krisis yang ada. Kita belajar mengolah sampah menjadi pupuk organik, menanam sayuran, buahan, pohon, dan memelihara ikan, ayam, kambing dan sebagainya.

    Kita belajar membuat Eco Enzyme untuk membantu mengatasi pemanasan global-efek rumah kaca dan segala polusi dari bahan kimia. Kita belajar adat budaya kita dalam membangun relasi harmonis antarmanusia, dengan Tuhan pencipta, dan alam semesta beserta isinya.

    Kita belajar pro kehidupan bukan kematian, solider, bela kasih, peduli terhadap penderitaan ibu bumi rumah kita bersama. Dalam bidang Ekopastoral, JPIC Bruder MTB (Br. Joni) merespon kebutuhan anak-anak dengan pondok-bevak pintar kegiatan literasi, pembinaan iman, dan latihan keterampilan yang lain.

    Semuanya itu bermuara pada Gerakan Nurani Ekologi (GNE). Diharapkan dengan GNE dari JPIC Bruder MTB tersebut pada akhirnya untuk membangun gaya hidup cukup-tidak berlebihan, ugahari, bela kasih untuk membangun kasih persaudaraan semesta; gaya konsumsi makanan bukan yang instan melainkan yang alami-natural, organik karena badan-tubuh lebih bersahabat dengan yang organik daripada kimia.

    Baca juga: JPIC (Justice Peace And Integrity Of Creation)

    Selain itu, GNE mendorong kita belajar ramah terhadap lingkungan, merawat, menjaga, melestarikan dan membangun relasi yang harmonis-seimbang satu dengan yang lain.

    Di usia yang ke-100 tahun Kongregasi Bruder MTB, JPIC mendapat “kado”, yaitu rumah di Selat Panjang menjadi sekretariat JPIC dan sebagai tempat kegiatan edukasi ekologi. Gerakan dan kegiatan edukasi ekologi dapat berjalan bila di antara kita (sekolah, asrama, komunitas dan JPIC) mau bekerja sama, kolaborasi, dan bersinergis secara bertanggung jawab.

    Kita mendesain model pembelajaran ekologi dengan pendekatan ekopedagogi secara bersama. Walaupun gerakan kita itu kecil nan sederhana, tetapi bila dilakukan dengan hati yang tulus ikhlas tentu memberi sumbangan berarti dalam meretas krisis multidimensi dan masa depan yang lebih baik.

    Tetap Berharap dalam Krisis Ekologi

    JPIC- Kalimantan Barat

    MajalahDUTA.Com, JPIC- Pemanasan global berdampak langsung pada peningkatan suhu dipermukaan bumi.

    Lapisan ozon sudah berkurang-menipis, sehingga matahari terasa begitu panas yang menyengatkan, kemudian datang hujan dan angin yang dahsyat. Perubahan cuaca-iklim yang ekstrem ini menyebabkan bencana banjir bandang, tanah longsor seperti terjadi di Nusa Tenggara Timur (pulau Timor, Lembata, dan Adonara) setahun yang lalu.

    Selain itu, seperti di Melawi, Sintang, Sekadau, dan Sanggau (Kalimantan Barat) terjadi banjir karena air di sungai meluap, sehingga mengenangi kota dan perkampungan dalam beberapa hari.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Itu semua sebagai tanda bahwa alam-lingkungan hidup tidak bersahabat-harmonis lagi dengan manusia. Lingkungan hidup (ekologi) sedang mengalami krisis atau sakit-menderita bahkan manusia juga ikut merasakannya.

    Bencana yang demikian bukanlah hukuman dari Allah melainkan ulah dari perbuatan manusia sendiri.

    Cerita Nabi Nuh selaras dengan Krisis alam

    Kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya di planet bumi kita sekarang sangat terancam. Ancaman dahsyat dari pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem pada sumber kehidupan, yakni kematian. Hal ini karena egonya manusia yang mencemarkan sarangnya sendiri.

    Bencana banjir bandang dan sungai meluap dalam beberapa hari terendam air mengingatkan kita pada cerita air bah Nabi Nuh (Kej 7:1-24). Cerita itu bukan hanya tentang Allah dan nasib manusia melainkan pemusnahan dan penyelamatan seluruh alam ciptaan.

    Cerita Nabi Nuh ini sangat menarik dan membantu kita menggumuli krisis ekologi. Pengalaman tersebut dapat membangkitkan kesadaran ekologis, memberi peringatan keras akan kerusakan, dan memberi harapan baru bagi kita.

    Kabar Baik Tentang Dunia Ciptaan

    Daging memang lemah, tetapi Roh Allah kuat terus bekerja. Kita tidak dapat mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern mampu memberi solusi teknis atas krisis ekologi. Kita juga tidak terlalu banyak berharap bumi sendiri menyembuhkan dan memulihkan sakit-deritanya sendiri.

    Kita perlu menyadari dan mengakui kesalahan karena sifat serakah, arogan dan eksploitasi, sehingga menimbulkan adanya masalah serius krisis ekologi. Tidaklah cukup hanya menyadari dan mengakui, tetapi kita perlu bertobat secara ekologis. Dosa-dosa ekologis mendorong kita untuk berubah dalam cara pandang, sikap dan tindakan sesuai dengan rencana penciptaan.

    Baca juga: JPIC (Justice Peace And Integrity Of Creation)

    Di sini bukan hanya tugas agama, pendidikan, kebudayaan, melainkan semua bidang kehidupan memberi pencerahan dan dorongan kepada segenap masyarakat untuk menghayati relasi secara baik dan benar terhadap ekologi yang sedang menghadapi krisis dan mengancam kehidupan di planet bumi ini.

    Pertobatan Ekologis

    Pertobatan ekologis didasarkan pada iman. Iman akan Yesus Kristus memberi kita suatu visi yang lebih utuh tentang makna bumi, manusia dan semua makhluk hidup lainnya.

    Iman memotivasi kita untuk melindungi alam ciptaan dan sesama manusia yang paling rentan. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si menyerukan kita perlu menggali motivasi ekologis dalam tradisi iman dan Alkitab.

    Dalam Alkitab kita mendapatkan kabar gembira bagaimana Allah menciptakan alam semesta beserta isinya, kedudukan dan peran manusia atas ciptaan itu.

    Manusia sebagai Citra Allah diberi tanggung jawab untuk mengolah dan mengusahkan alam bukan mengeksploitasi dan merusaknya.

    Kabar gembira ini mestinya diwujudkan juga bila kita berhadapan atau memandang alam raya. Karena alam semesta ini merupakan karya tangan Allah dan jejak Allah, sehingga dengan memandangnya membawa kita sampai pada Sang Pencipta sendiri.

    Hikmat Ekologis dalam Penciptaan

    Kitab Kejadian 1-3 mengisahkan penciptaan dan manusia diberi tanggung jawab khusus terhadap karya ciptaan lainnya. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Manusia diundang untuk masuk dalam relasi harmonis dengan Allah, sesama manusia dan alam semesta.

    Dalam relasi tersebut, manusia berkewajiban merawat, menjamin keberlangsungan- kesuburan bumi demi kepentingan makhluk lain dan generasi yang akan datang. Manusia diberi tanggung jawab untuk menjaga keserasian, keharmonisan, dan keutuhan bumi ciptaan Allah. Hikmat ekologis dari Allah tersebut janganlah disia-siakan demi kepentingan dan kesenangan manusia serta mengorbankan yang lain.

    Bahkan manusia tidak mempunyai hak untuk merusak, mematikan, dan memusnahkannya. Semua ciptaan adalah milik Allah yang dititipkan kepada manusia.

    Walaupun manusia itu lemah, salah, dan dosa, Allah masih mengampuni dan tetap sayang peduli kepadanya. Seperti nabi Nuh, Allah berkenan dan melibatkannya untuk menyelamatkan segala jenis makhluk hidup dalam sebuah bahtera terhadap air bah yang menenggelamkan bumi (Kej. 6:8-10,14, 7:24).

    Pengalaman ini menunjukkan bahwa Allah menyelamatkan dan memulihkan kembali bumi bagi manusia (Kej 8:1-19). Allah tetap setia kepada bumi ciptaan-Nya dengan memanggil Abraham untuk menjadi berkat bagi segala kaum di bumi (Kej. 12:1-3).

    Krisis-krisis ekologi yang kita alami saat ini pun memberi sebuah harapan ada solusi. Krisis ini sebagai ujian bahwa badai pasti berlalu atau habis gelap terbitlah terang. Hikmat akan mendorong manusia selalu berharap pertolongan dan bantuan dari Allah.

    Kristuslah Pendamai Segalanya

    Yesus mendamaikan segala ciptaan, menegakkan keadilan, dan memulihkan keutuhan ciptaan. Hal ini mendorong kita belajar dari Yesus Kristus cara memandang dan menangkap pesan dari setiap makhluk.

    Yesus melihat alam semesta dan manusia sebagai tanda-tanda penyelenggaraan dan kasih Bapa untuk segala makhluk-Nya (Mat. 6:26-30). Mereka semua didandani, dibekali, dan diingat oleh-Nya, sampai yang terkecil pun (Luk. 12:6).

    Benih-benih yang ditaburkan dan jatuh di aneka macam tanah, atau pun biji paling kecil yang menjadi perdu sesawi yang besar, berbicara kepada Yesus tentang hal-ihwal Kerajaan Allah (Mat. 13). Yesus dapat menangkap pesannya sebab Ia hidup dalam keserasian-keharmonisan dengan alam ciptaan. Alam, danau, angin pun taat kepadanya (Mrk. 4:39-41).

    Perjanjian Baru mengajar kita bahwa Kristus berelasi dengan alam ciptaan. Relasi-Nya dengan dunia ciptaan mencakup seluruh perjalanan-Nya dari awal mula penciptaan sampai akhir zaman.

    Baca juga: Persepsi Masyarakat Adat dan Kapitalis terhadap Alam

    Asal dan tujuan seluruh ciptaan ada dalam misteri Kristus. Alam ciptaan bukan hanya baju yang akhirnya kita tanggalkan dan tinggalkan, tetapi berziarah bersama manusia menuju Allah. Di akhir zaman, Anak akan menyerahkan segala sesuatu kepada Bapa, supaya “Allah menjadi segala di dalam segalanya” (1Kor 15:28).

    Tujuan akhir alam semesta pun ada dalam kepenuhan Allah, dan bukan dalam manfaatnya bagi kita (LS 100). Manusia yang diberkati dengan kecerdasan dan cinta, serta ditarik kepada kepenuhan Kristus, dipanggil untuk mengantar semua makhluk kembali kepada Asal dan Tujuan mereka (LS 83).

    Laudato Si

    Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik Laudato Si, “Terpujilah Engkau” (24 Mei 2015) tentang perawatan bumi, rumah kita bersama. Diilhami oleh Gita Sang Surya Santo Fransiskus dari Asisi, Paus mengingatkan kita bahwa bumi bagaikan seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan sebagai seorang ibu yang mengasuh kita.

    Paus berseru agar umat Katolik bersama seluruh masyarakat dunia bangun dari sikap acuh, membuka mata bagi kerusakan bumi, mencari serta mengusahakan suatu solusi sebelum terlambat.

    Baca juga: Paus: Liturgi harus memandang Tuhan tanpa duniawi

    Kerusakan lingkungan hidup sekarang ini merupakan akibat kegiatan manusia dan bukanlah suatu proses alamiah yang memang juga sudah beberapa kali terjadi dalam sejarah panjang kehidupan di bumi.

    Dengan cerita Nabi Nuh, teladan Yesus Kristus dalam relasi serasi-harmonis dengan alam, dan ajakan Paus Fransiskus, kita selalu berharap dan optimis bahwa masih ada kemauan dan semangat dalam mencari solusi untuk mengatasi krisis lingkungan hidup ini.

    Persepsi kami Dayak merawat dan menjaga alam itu penting

    Rumah Betang (rumah adat Dayak Kota Singkawang)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Persepsi kami Dayak merawat dan menjaga alam itu penting karena ia bagian dari hidup.

    Kami sangat anti mereka yang merusak alam terutama di sekitar tempat tinggal masyarakat. Masyarakat Dayak mengikat dirinya dengan adat, sehingga selalu menjaga lingkungannya dan tetap bersahabat dengannya. Berkaitan dengan membuka lahan (ladang), kami sangat terikat dengan adat-budaya.

    Dalam membuka ladang, kami sangat berhati-hati, sehingga tidak menimbulkan kebakaran. Masyarakat adat tidak berdaya terkait dengan pembukaan lahan berskala besar dan pertambangan baik legal maupun ilegal serta perkebunan.

    Baca Artikel Sebelumnya: Persepsi Masyarakat Adat dan Kapitalis terhadap Alam

    Berhadapan dengan big power, masyarakat adat berharap pemerintah baik daerah maupun pusat dapat membantunya. Masyarakat menolak bila membuka lahan yang luas, pertambangan, perkebunan hanya untuk kepentingan-keuntungan pribadi atau golongan.

    Zaman Globalisasi

    Dewasa ini lahan menjadi konflik horizontal-veritakal. Menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat adat tetap mempertahankan, menjaga dan memelihara, tetapi kalah dengan big power (kapitalis).

    Apalagi di zaman globalisasi ini usaha mempertahankan itu diakhiri dengan kekerasan. Perkebunan, perusahaan, pertambang boleh masuk menggarap lahan asalkan sesuai dengan prosedur dan tidak merusak alam, ungkap ketua DAD.

    Usaha tersebut untuk kepentingan dan keuntungan (kesejahteraan dan kemakmuran) bersama tentu masyarakat adat pasti menerima, tetapi bila untuk keuntungan pribadi jelas kami menolaknya.

    Masyarakat adat tetap menolak kegiatan yang sifatnya merusak alam, kami berprinsip bahwa siapa saja boleh membuka usaha di lahan yang ada, tetapi janganlah merusak alam, tegas ketua DAD.

    Fokus ke SDM

    Untuk ke depan ketua DAD memberi fokus perhatian pada sumber daya manusia (SDM) dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, dan keamanan. Untuk bidang ekonomi, ketua DAD mendorong agar tercipta ekonomi kreatif yang berciri ekonomi ekologis.

    Di samping itu, ketua DAD tetap berkewajiban melindungi-mengawal masyarakat kampung dalam berladang karena itu merupakan warisan nenek moyang dahulu.

    Pengaruh arus globalisasi dan peran big power, tidak terelakkan, sehingga ketua DAD tetap bekerja sama dengan masyarakat setempat, berkolaborasi dengan pemerintah berkewajiban melindungi masyarakat yang masih berladang.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Ketua DAD juga terus berpikir dan berkoordinasi untuk pendidikan generasi muda dalam bidang budaya-kearifan lokal dan lingkungan hidup (alam) agar tetap berkelanjutan.

    Senada dengan itu, Bapak Yanto di Desa Pengadang Kec. Sekayam Kab. Sanggau -Kalbar yang diwawancarai oleh Gordianus G, S. Ag. mengatakan demikian juga.

    Bahwa leluhur masyarakat Dayak memiliki kearifan lokal dalam berelasi dengan alam. Tradisi-budaya tersebut diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Prilaku yang mendatangkan Krisis

    Dalam berelasi dengan alam semesta (hutan, tanah, sungai dan binatang), kami memandang alam merupakan bagian yang sangat penting dalam kelangsungan hidup. Maka kami menghormati, menghargainya dan menjaga-merawatnya.

    Namun, sungguh ironis di zaman sekarang ini manusia tidak lagi memikirkan sebab-akibat dari perbuatannya.

    Sebagai contoh manusia menebang pohon-pohon di hutan, membuka lahan perkebunan berskala besar (kelapa sawit), menambang emas secara legal atau ilegal di sungai, dan sebagainya, sehingga terjadi banjir dan merusak serapan air dalam tanah serta mencemarkan air, tanah, udara bagi warga di sekitarnya.

    Selain itu, orang zaman sekarang lebih suka membuang sampah organik dan anorganik, menggunakan pupuk dan pestisida yang kimia, dan limbah industry, sehingga menjadi polusi lingkungan hidup. Perilaku tersebut mendatangkan krisis bagi lingkungan hidup dan muncul wabah penyakit Covid-19 seperti yang kita alami.

    Baca juga: JPIC (Justice Peace And Integrity Of Creation)

    Lanjut Bapak Yanto, bahwa perilaku tersebut sangat bertentangan dengan tradisi-budaya warisan leluhur dan hati nurani. Lingkungan hidup kita sudah rusak, sehingga perlu disembuhkan dan dipulihkan oleh manusia.

    Tanpa terkecuali kita semua mulai bergerak menanam pohon, tidak membuang sampah ke sungai, menjaga dan mempertahankan lahan yang ada supaya tidak dibuka berskala besar lagi, tidak menggunakan bahan-bahan kimia seperti pupuk-pestisida kimia, dan sebagainya yang mana merusak lingkungan hidup.

    “Jika ingin hidup sehat, jagalah kebersihan lingkungan hidup, jika mau alam tetap indah dan lestari jangan menebang pohon dan membuka lahan berskala besar.

    Jika hendak bebas dari Covid-19 gunakan masker, cuci tangan dan jaga jarak-jauh dari kerumunan massa”, demikian pesan Bapak Yanto. Selain itu, dalam menjaga dan merawat lingkungan hidup, perlu ada proses penyadaran dan pendidkan kepada generasi muda zaman milenial ini. Pendidikan perlu mendekatkan mereka dengan lingkungan hidup sesuai dengan kearifan lokal.

    Sejak dini mereka perlu ditanamkan dan dibakali bahwa hidup kita sangat tergantung dan membutuhkan alam sesuai dengan kearifan lokal (adat-budaya Dayak).

    Masyarakat adat bertugas menjaga keharmonisan alam

    Sebagian besar masyarakat adat di setiap tempat memiliki nilai hidup organik, kearifan lokal dalam menjaga biodiversity (keanekaragaman hayati), memiliki perilaku konservasi (menjaga lingkungan secara berkelanjutan) sudah mengakar dan diturunkan dari generasi ke generasi dalam berelasi-berhubungan dengan alam.

    Lingkungan hidup telah membentuk budaya yang kompleks dan menjadi sistem keyakinan masyarakat adat. Perilaku masyarakat adat dalam mengelola lingkungan hidup masih mentaati aturan adat-budaya.

    Sebagai hukum, adat mengatur etika dalam pengelolaan lahan, pemanfaatan hutan dan sungai.

    Hal ini menjadi dasar atas pemikiran, persepsi dan sikap yang diwariskan sepanjang generasi. Masyarakat adat bertugas menjaga keharmonisan alam, dengan cara menghormati dan bertanggung jawab atas hewan dan tanaman (biosfer) di lingkungan hutan.

    Baca juga: Persaudaraan Kontradus OFS Pontianak: Fransiskan Ada Jalan Hidup

    Peralihan dari masyarakat agraris ke industri dan masuk zaman modern (globalisasi-teknologi) dapat menggeser relasi manusia dengan lingkungan hidup. Masyarakat kampung dihadapkan kepada pendatang baru yang bekerja di perkebunan, perkayuan dan pertambangan.

    Perubahan budaya dan sistem tradisional-modern sungguh berdampak pada cara berelasi dan memperlakukan alam sebagai sumber kehidupan.

    Agar pemberdayaan potensi masyarakat adat tetap memperhatikan nilai budaya (kearifan lokal), kesejahteraan, kemerdekaan akses atas hak masyarakat indigenous dalam menentukan (self-determine) model bagi komunitas mereka sendiri.

    Perilaku Ekologis

    Hal ini diperlukan ada perlindungan tata hukum lokal (adat) dan pranata berfungsi dalam mengatur perilaku masyarakat sebagai penguat dan pengontrol perilaku ekologis.

    Tanpa alam semesta kita manusia tidak akan hidup, artinya kita membutuhkan alam, sedangkan alam tidak membutuhkan manusia.

    Maka kita memerlukan persepsi yang sama atas alam-lingkungan hidup yang menyediakan kebutuhan bagi manusia baik masyarakat adat maupun kapitalis, sehingga tidak menimbulkan konflik.

    Paling tidak persepsi yang dibangun bukan lagi eksploitasi yang merusak yang menuju kepunahan melainkan konservasi yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kita semua dipanggil untuk menyembuhkan dan memulihkan ibu bumi rumah kita yang sedang sakit (krisis) ini.

    Selesai…

    Persepsi Masyarakat Adat dan Kapitalis terhadap Alam

    Panorama Sawit di Hutan Kalimantan

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Bumi menyediakan hal yang cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak cukup untuk orang-orang yang serakah (Mahatma Gandhi).

    Manusia terus bertambah, tetapi bumi (tanah, air, dan udara) tidak. Kebutuhan manusia kian meningkat sementara sumber daya alam semakin berkurang. Ada benarnya kata Mahatma Gandhi.

    Bila manusia tidak mengendalikan kebutuhannya, sumber daya alam di bumi ini tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Inilah bedanya, persepsi masyarakat adat dan kapitalis terhadap kebutuhan dan sumber daya alam yang tersedia di bumi.

    Masyarakat adat memandang alam sebagai bagian penting yang menyatu dengan hidupnya, sehingga perlu dijaga dan dirawat, diperlakukan secara hormat dan bernilai spiritual (rohani). Sementara kapitalis melihat alam sebagai sumber kekayaan, sehingga dieksploitasi untuk mendapat keuntungan yang banyak.

    Perbedaan persepsi tersebut mengakibatkan krisis lingkungan hidup yang mendera kita sekarang ini.

    Paradigma, sikap dan perilaku

    Fenomena pandemi Covid-19 mulai menurun – berkurang, tetapi kita perlu serius berpikir atas krisis lingkungan hidup bahkan multidimensi krisis. Paradigma, sikap dan perilaku manusia masih kurang menghormati, menghargai, peduli pada alam semesta beserta isinya dan memperlakukannya secara tidak bertanggung jawab.

    Ulah manusia tersebut menimbulkan masalah seperti banjir dan erosi akibat deforestation (penggundulan hutan), krisis energi, polusi atas tanah, air, dan udara yang mendatangkan penyakit. Di samping itu, masalah global warming (pemanasan global) berdampak pada anomali iklim dan panas bumi yang ekstrim.

    Perilaku manusia yang berlebihan mengeksploitasi alam dan landskap pembangunan tanpa mempertimbangkan fungsi ekologis merupakan ancaman pemanfaatan lahan secara berkelanjutan.

    Persoalan krisis lingkungan hidup dan pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa perilaku manusia telah kehilangan kepedulian akan lingkungan hidup, menurunnya relasi harmonis antara manusia dan lingkungan hidup, manusia gelap melihat kesakralan-spritual (rohani) dari alam, sehingga perlu dicari solusi agar dapat menyembuhkan dan memulihkan ibu bumi demi keberlangsungan hidup kini dan mendatang.

    Relasi manusia dengan hutan

    Kalimantan sebagai pulau terbesar dan memiliki hutan tropis menjadi penjaga ekosistem bumi dan paru-paru di kawasan Indonesia, Asia, bahkan dunia. Pohon-pohon yang melimpah di hutan dan emas di sungai kini terancam di ambang kepunahan akibat eksploitasi pemegang konsesi hutan dan penambang.

    Hal ini berdampak pada deforestasi dan menurunnya jumlah spesies hutan dan sungai, serta kualitas air yang buruk. Potret perilaku masyarakat industri hutan dan tambang ini bertolak belakang dengan perilaku ekologis masyarakat adat (Dayak) yang tinggal dan hidup selama berabad-abad di sekitar hutan dan sungai.

    Baca juga: JPIC (Justice Peace And Integrity Of Creation)

    Masyarakat lokal memiliki cara tersendiri dalam memelihara dan menjaga hutan, tanah, sungai, binatang, dan sumber daya alam lainnya. Masyarakat mempunyai nilai kearifan lokal yang membangun perilaku dalam menjaga dan merawat lingkungan hidup. Leluhur telah mewariskan nilai-nilai rohani dan etika hidup bagaimana memperlakukan alam semesta dan berelasi dengannya.

    Relasi manusia dengan hutan, tanah, sungai pada masyarakat adat merupakan suatu jalinan yang menyatu dan utuh.

    “Kami selalu ingat Adat dan Budaya”

    Dalam berelasi dengan alam, menurut Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Singkawang, Drs. Stepanus Panus mengatakan bahwa setiap orang Dayak pada dasarnya taat dan patuh kepada adat.

    Setiap kali melangkah dan melakukan, kami selalu ingat akan adat dan budaya. Sejak zaman dahulu leluhur kami sudah terbiasa hidup dengan alam.

    Oleh karena itu, kami menyadari bahwa alam itu sungguh sangat penting, sehingga perlu dijaga dan dirawat ekosistem yang ada di dalamnya. Untuk menjaga relasi ini, DAD menjadi garda terdepan.

    Relasi manusia dengan alam bukan hanya berfungsi sosial melainkan menyatu, sehingga dikatakan alam itu sakral.

    Dalam hal ini ada kebiasaan orang Dayak ketika hendak melakukan sesuatu dengan alam dimulai dengan ritual adat. Artinya kami berelasi-berkontak dengan pemilik alam, yang disebut “Jubata” (Tuhan) untuk mendapat petunjuk dan direstui atau tidak. Misalnya ketika membuka ladang, kami pergi membawa batu asa ke suatu tempat.

    Selang dua atau tiga hari, kami akan mendengar tanda-tanda kicauan burung, apakah boleh atau tidak? Kalau boleh-diizinkan, kami mulai membuka lahan itu karena ada keyakinan tidak ada yang akan merusak ekosistemnya.

    Baca juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Jika tidak direstui, kami akan membatalkannya. Berkaitan dengan tempat sakral itu tergantung di daerah masing-masing. Ketua DAD menegaskan jika itu tempat sakral biasanya dibuat ritual berupa tolak bala, di Singkawang itu namanya “besam besam.”

    Kami membuat ritual bersama-sama di kampung itu, setelah ritual dibuat masyarakat tidak boleh keluar lagi dari kampung selama sehari-semalam, sehingga dengan begitu kampung tersebut dianggap bersih dari macam-macam gangguan atau untuk mengusir roh jahat.

    Berlanjut, Baca Bagian 2…

    JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Hari ini telah resmi dipilihnya Kepengurusan Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Kalimantan Barat. Ketua: Pastor Pionius Hendi, OFMCap Wakil: Bruder Gerardus, MTB Sekretaris: Suster Priska, SFC Bendahara: Suster Loysa, SFD Humas: Suster Zenobia, SMFA Liturgi: Suster Anna, KFS Media: Sdr. Samuel, OFS

    MajalahDUTA.COm, Pontianak- Pada sore yang cerah pada Selasa 6 september 2022, bertempat di Biara Susteran Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS), jalan Pancasila Pontianak, telah disepakati terbentuknya badan pengurus Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Fransiskan-Fransiskanes Kalimantan Barat.

    Sebuah organisasi dibawah naungan Gereja yang bergerak dibidang lingkungan hidup dan isu sosial.

    Baca juga: Persaudaraan Kontradus OFS Pontianak: Fransiskan Ada Jalan Hidup

    Rapat kecil yang dipimpin oleh Bruder Gerardus, MTB itu mendapuk Pastor Pionius Hendi, OFM. Cap sebagai ketua. Nantinya organisasi JPIC untuk wilayah Kalimantan Barat ini berfokus pada isu pengelolaan sampah yang berpotensi merusak lingkungan hidup.

    Adapun susunan kepengurusan Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Fransiskan-Fransiskanes Kalimantan Barat adalah sebagai berikut:

    Pastor Pionius Hendi, OFM. Cap (ketua); Bruder Gerardus, MTB (Wakil Ketua); Suster Priska, SFIC (Sekretaris); Suster Maria Loysa Saragih, SFD (Bendahara).

    Baca juga: Museum Kapusin, Pusaka Dayak & Tionghua di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

    Serta, anggota bidang Humas dipercayakan kepada suster dari kongregasi SMFA, Liturgi dipercayakan kepada suster dari kongregasi KFS dan bidang Multimedia dipercayakan kepada Saudara Samuel, OFS.

    Kepengurusan yang beru terbentuk ini mengemban tugas untuk penyelenggaraan temu aktivis JPIC seluruh Indonesia yang akan diselenggarakan di Kota Pontianak pada bulan Agustus 2023.

    Pastor Pio mengatakan bahwa akan berkoordinasi dengan Bapa Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus dan Pemerintah Daerah terkait agenda yang akan dilaksanakan. Kiranya Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Fransiskan-Fransiskanes Kalimantan Barat membawa angin segar bagi pelestarian alam ciptaan.

    Tentang Teks Amos 5:4-6 dan Penafsiran Teks

    Tentang Teks Amos 5:4-6 dan Penafsiran Teks

    MajalahDUTA.Com, BKSN, (Series II & III)– Teks Amos 5:4-6 (4) Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup! (5) Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.” (6) Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel.

    Penafsiran Teks

    Konteks Am. 5:4-6 merupakan salah satu bagian dari rangkaian yang panjang Am. 5:1-17 yang berisikan kumpulan seruan kepada orang Israel agar bertobat. Seruan ini dimulai dengan undangan awal pada ay. 1-2 yang menubuatkan tentang hal buruk yang akan menimpa Israel jika mereka tidak bertobat.

    Secara bertahap, Tuhan meminta mereka untuk meninggalkan berhala dan mencari Dia (ay. 4-6), melakukan keadilan (ay. 7-13), mencari yang baik dan membenci yang jahat (ay. 15-16), sebelum tibanya hari Tuhan (ay. 16-17).

    Baca juga: Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu

    Karena itu, Am. 5:4-6 merupakan ajakan untuk meninggalkan segala yang lain untuk hanya mencari Tuhan sebagai satusatunya harapan dan pegangan hidup orang Israel.

    Perikop ini tersusun dengan baik. Pada ay. 4 dan 6 disebutkan ungkapan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup”.

    Kedua ayat ini membungkus ay. 5 yang berkonsentrasi pada larangan untuk mencari tempattempat yang mengalihkan perhatian orang Israel dari pertemuan sejati dengan Tuhan. Ketiga tempat itu, yakni Betel, Gilgal, dan Bersyeba, memang dikenal sebagai tempat-tempat untuk mempersembahkan kurban.

    Baca juga: Mendalami Teks dari Nabi Amos dan Nabi Hosea

    Betel yang berarti “rumah Allah” merupakan sebuah tempat kudus yang sudah lama dikenal sejak Yakub (Kej. 28:10-22; 31:13; 35:7). Sebelum adanya kenisah di Yerusalem, Betel menjadi tempat di mana orang mempersembahkan kurban. Samuel sendiri mengunjungi tempat ini setiap tahun (1Sam. 7:16; 10:3).

    Ketika kerajaan Israel terpecah menjadi dua, Betel menjadi tempat kebaktian bagi masyarakat di kerajaan bagian utara. Sayangnya, di tempat kudus ini didirikan patung anak lembu emas (1Raj. 12:28-30). Itulah sebabnya para nabi memberikan kritik bahwa di sana berlangsung praktik penyembahan berhala (Hos. 10:5; Yer. 48:13).

    Salah satu larangan untuk pergi ke Betel terungkap di Am. 5:5 ini. Gilgal merupakan tempat berkumpulnya orang Israel ketika mereka menyeberangi Sungai Yordan untuk merebut tanah Kanaan (Yos. 4:19).

    Di tempat ini pula mereka menyunat orang-orang Israel yang belum disunat agar mereka dikuduskan (Yos. 5:9). Untuk mengenang penyeberangan Sungai Yordan, mereka lalu mendirikan dua belas batu peringatan di tempat ini (Yos. 4:20).

    Jadi, Gilgal mengingatkan orang Israel akan peralihan dari Mesir memasuki Tanah Perjanjian. Sementara itu, Bersyeba merupakan nama tempat di bagian paling selatan, yang biasanya bersamaan dengan Dan di utara dipakai sebagai penanda wilayah Israel dalam ungkapan “dari Dan sampai Bersyeba” (Hak. 20:1). Abraham pernah tinggal di sini (Kej. 22:19), demikian juga Ishak (Kej. 28:10), sedangkan Yakub berhenti di sini untuk mempersembahkan kurban (Kej. 46:1).

    Penyebutan nama tempat-tempat itu bermaksud mengingatkan orang Israel bahwa Tuhan tidak dapat dicari di tempat-tempat tertentu dengan harapan kosong.

    Baca juga: Allah sebagai Harapan Hidup Baru

    Yang paling penting adalah keterbukaan hati dalam mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Itulah sebabnya ungkapan “carilah Tuhan” disebutkan dalam perikop ini dua kali.

    Dengan menyatakan ungkapan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup” sampai dua kali, perikop ini sebenarnya mau menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menjamin kehidupan. Iman yang sejati terletak dalam pencarian akan Tuhan dan semangat untuk meninggalkan berhala-berhala yang menjadi kesenangan diri sendiri.

    Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu

    “Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” (Am. 5:4).

    MajalahDUTA.Com, BKSN- (Series I Pendahuluan) – “Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” (Am. 5:4). Tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa kemunculan wabah Covid-19 akan amat memengaruhi kehidupan dan kegiatan keagamaan.

    Gereja sendiri mengalami hal yang sama. Di masa-masa sulit tersebut, terutama di tahun 2020, perayaan-perayaan sakramen dan sakramental tidak dapat dilaksanakan dengan baik.

    Pelayanan sakramen bahkan ditangguhkan demi menghindarkan terjadinya kerumunan yang dapat berakibat pada penyebaran yang lebih masif dari wabah tersebut.

    Perayaan besar seperti Paskah dan Natal di tahun tersebut dilakukan dengan protokol yang amat ketat, sehingga hanya beberapa orang saja yang bisa mengikutinya secara langsung.

    Dalam situasi seperti itu, Gereja memperkenankan umat untuk mengikuti perayaan Ekaristi dan perayaan lainnya melalui tayangan televisi maupun media daring.

    Baca juga: Mendalami Teks dari Nabi Amos dan Nabi Hosea

    Kebijakan ini mungkin bukan yang terbaik, tetapi perlu sebagai upaya tanggap darurat di samping upaya lain seperti penyebaran teks-teks ibadat agar keluarga-keluarga dapat berdoa atau beribadat di rumah masing-masing.

    Lambat laun, orang mulai terbiasa mengikuti kegiatan ibadat atau perayaan Ekaristi melalui fasilitas streaming dari internet. Ada aspek positif yang bisa muncul dari hal ini, namun praktik demikian bisa memunculkan pemahaman yang salah akan perayaan bersama dari komunitas gerejawi.

    Orang bisa-bisa menjadi mapan dengan pola seperti itu dan menjadi enggan untuk mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung, padahal persatuan yang intim dengan Tuhan dalam komuni pada perayaan Ekaristi tidak dapat tergantikan oleh perayaan secara daring atau melalui fasilitas streaming.

    Hal lain yang bisa jadi muncul adalah tidak lagi merasa terikat pada persekutuan iman dengan sesama anggota jemaat. Orang bisa jadi lebih memilih (dan bisa juga membentuk) komunitas-komunitas sendiri yang menjauhkan mereka dari persatuan dengan jemaat parokinya.

    Persatuan dengan jemaat merupakan perwujudan dari persekutuan di dalam Tuhan, yang merangkum semua orang dari segala lapisan dan golongan, termasuk dengan mereka yang mungkin tidak kita inginkan. Persekutuan iman meminta kehadiran dan kebersamaan setiap anggota jemaat.

    Yesus Kristus sendiri hadir dalam kebersamaan dengan keluarga Nazaret. Injil Lukas menulis, “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka” (Luk. 2:51).

    Ini berarti Yesus juga tinggal bersama semua orang sekampung-Nya dan berjuang bersama dengan mereka. Jemaat perdana juga saling meneguhkan satu sama lain dengan berkumpul dan berdoa bersama (Kis. 2:41-47). Kebersamaan tersebut menjadikan mereka kuat dalam iman kepada Tuhan.

    Baca juga: Allah sebagai Harapan Hidup Baru

    Hal yang sama telah dibuat Maria bersama para rasul. Setelah Yesus naik ke surga, mereka pun berkumpul bersama dan berdoa (Kis. 1:12-14). Di tengah situasi pandemi, kekuatan iman kita dan persatuan kita dengan Gereja diharapkan tetap kokoh.

    Ketika menghadapi tantangan yang amat besar yang mengancam keberadaan mereka, para rasul memilih untuk berkumpul dan berdoa. Sebagaimana mereka, semangat berdoa dan kebersamaan hendaknya menjadi andalan utama kita dalam menghadapi masa yang serba tidak pasti ini.

    Semangat seperti ini akan membantu kita untuk menemukan kehadiran Tuhan di dalam kehidupan pribadi kita masing-masing.

    Pada aspek yang lebih dalam, apakah perubahan-perubahan yang terjadi selama pandemi ini membantu orang untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan dan meningkatkan kepeduliannya kepada sesama?

    Kehidupan keagamaan yang sejati terletak pada pengenalan yang semakin intens dan mendalam akan Tuhan, yang juga menjadi nyata dalam hidup harian. Kepedulian kepada sesama adalah salah satu praktik paling nyata dari iman dan kehidupan keagamaan yang sejati.

    Baca juga: Pandemi dan Hidup Baru & Pandemi dan Harapan Hidup Baru

    Pada pertemuan pertama ini, kita diajak untuk melihat kembali praktik kehidupan keagamaan kita selama masa pandemi. Apakah kita cukup setia pada ajaran dan tata cara yang diajarkan Gereja kepada kita?

    Apakah kita sungguh-sungguh mencari Tuhan di tengah perubahanperubahan cara dan sarana dalam beribadah kepada-Nya? Ataukah kita hanya menjalankan tata cara beribadah kita, sedangkan hati kita jauh dari-Nya? Apakah sikap hidup kita menampakkan iman kita yang nyata?

    Becermin pada teks Am. 5:4-6, kita dituntun untuk mencari Tuhan agar kita tetap hidup, baik kini maupun kelak.

    Mendalami Teks dari Nabi Amos dan Nabi Hosea

    Nabi Amos dan Nabi Hosea - BKSN 2022

    MajalahDUTA.Com, BKSN- Selama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2022 ini kita akan mendalami empat subtema yang semuanya berhubungan dengan hidup baru yang diharapkan.

    Keempat subtema tersebut adalah hidup keagamaan yang sejati, hidup yang adil, hidup yang berdasarkan kasih setia Allah, dan hidup yang penuh dengan kerahiman Allah. Kita akan mengambil teks-teks inspiratif dari kitab Amos dan Hosea. Kedua nabi ini, Hosea dan Amos, aktif berkarya pada pertengahan abad VIII SM.

    Nabi Amos

    Amos merupakan seorang peternak domba dari Tekoa, dekat Betlehem (Am. 1:1), di bagian selatan Israel. Profesi lain dari Amos adalah pemetik buah ara (Am. 7:14).

    Meskipun demikian, ia dipanggil Tuhan menjadi nabi dan bernubuat di wilayah utara Israel. Ia diperkirakan berkarya pada masa pemerintahan Raja Yerobeam II di Kerajaan Utara (760-750 SM) dan Raja Uzia di Kerajaan Selatan (783-743 SM). Pada periode ini, bangsa Israel mengalami kemajuan dan kemakmuran.

    Wilayah kerajaan makin diperluas dan perdagangan makin berkembang. Sayangnya, kemajuan dan kemakmuran ini mendatangkan mentalitas konsumerisme, ketidakadilan sosial, kemerosotan moral, dan hidup keagamaan yang palsu.

    Mereka yang berkuasa dan kaya memakai keunggulan mereka demi kemapanan hidup mereka sendiri. Terjadi penindasan dan ketidakpedulian terhadap masyarakat kecil. Ibadah mereka yang kelihatannya dipenuhi dengan kurban bakaran tidak sesuai dengan praktik hidup harian yang amat jauh dari kebenaran dan keadilan.

    Amos tampil untuk membela hak orang-orang kecil. Ia mengecam terjadinya ketidakadilan sosial, kemerosotan moral, materialisme, dan hidup keagamaan yang palsu. Ia sendiri dianggap gila dan aneh karena mewartakan keruntuhan dan kehancuran Israel di tengah keadaan yang makmur dan kuat.

    Nabi Hosea

    Nabi Hosea, yang namanya berarti “Tuhan adalah keselamatan”, berasal dari wilayah utara dan berkarya di Kerajaan Utara, sezaman dengan Amos.

    Pelayanannya tampaknya berakhir beberapa tahun sebelum kehancuran ibu kota Israel, Samaria, pada tahun 722 SM. Karena sezaman dengan Nabi Amos, situasi yang dihadapinya pun sama.

    Hosea berkonsentrasi pada kehidupan religius orang Israel yang mengalami penurunan drastis. Tema utama dari pewartaannya adalah cinta kasih Allah dan pengkhianatan manusia atas cinta Allah tersebut.

    Baca juga: Allah sebagai Harapan Hidup Baru

    Ia memakai term “zina” (misalnya Hos. 2:1) untuk mengungkapkan ketidaksetiaan Israel terhadap Tuhan. Perkawinannya sendiri dengan seorang pelacur yang bernama Gomer merupakan simbol dari upaya Tuhan untuk memanggil kembali Israel yang tidak setia. Nama anak-anaknya juga menegaskan hal yang sama.

    Secara berturut-turut nama anak-anaknya adalah Yizreel yang berarti “Tuhan menabur” (Hos. 1:4), Lo-Ruhama yang berarti “tidak disayangi” (Hos. 1:6), dan Lo-Ami yang berarti “bukan umat-Ku” (Hos. 1:9).

    Meskipun memberikan banyak kecaman dan kritik terhadap praktik hidup keagamaan yang tidak benar yang berujung pada hukuman, Hosea juga berupaya memberikan jalan keluar. Ia menubuatkan bahwa Israel akan dipulihkan, dan antara Tuhan dan Israel akan terjalin kembali relasi seperti seorang bapak dan anak, atau suami dan istri (Hos. 1:10; 2:15).

    Semuanya itu bergantung pada kesediaan orang Israel untuk kembali kepada Tuhan atau tidak.

    Subtema

    Kedua nabi tersebut memainkan peranan khas dalam sejarah Kerajaan Utara atau Israel. Nabi Amos hadir sebagai seorang pengkritik dalam kehidupan sosial. Ia melihat ketidakadilan dan hal-hal yang dangkal dari kehidupan iman.

    Dua perikop dari kitab Amos, yaitu Am. 5:4-6 dan Am. 5:14-17, menjadi perikop yang didalami dalam pertemuan pertama dan kedua. Sementara itu, Hosea berkonsentrasi membenahi relasi antara umat Israel dan Tuhan, yang kelihatannya sudah tidak baik. Orang Israel tidak lagi mengandalkan Tuhan.

    Baca juga: Allah Sumber Harapan Baru

    Mereka malah berpaling kepada dewa-dewi lain, padahal Tuhan sudah menunjukkan kerahiman dan belas kasihan-Nya kepada mereka, juga berkenan menerima mereka lagi jika mereka berbalik kepada-Nya.

    Dari kitab Hosea, kita akan mendalami subtema ketiga dan keempat, yang berbicara tentang Allah yang setia dan yang penuh dengan kerahiman. Dua teks yang dipilih adalah Hos. 6:1-6 dan Hos. 11:1-11.

    Pertemuan-pertemuan

    1. Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu (Am. 5:4-6).
    2. Allah Sumber Harapan untuk Melawan Ketidakadilan (Am. 5:14-17).
    3. Allah Sumber Harapan karena Kasih Setia-Nya (Hos. 6:1-6).
    4. Allah Sumber Harapan karena Kerahiman-Nya (Hos. 11:1-11).

    Pada pertemuan pertama, kita akan mendalami subtema: Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu.

    Tidak dapat disangkal bahwa selama masa pandemi ini, kehidupan iman kita sungguh diguncang. Menanggapi hal itu, berbagai cara dibuat untuk meningkatkan relasi dengan Allah.

    Baca juga: Metaverse: Semangat mendengarkan dengan telinga hati

    Meskipun demikian, ada yang secara salah memahami dan menjalankan hidup keagamaannya, bahkan ada pula yang memilih cara-cara lain yang bertentangan dengan iman yang dianutnya.

    Seruan Amos di Am. 5:4-6, membantu kita semua untuk melihat dan mengevaluasi kembali mentalitas hidup keagamaan kita yang bisa saja jauh dari yang diharapkan.

    Pada zamannya, orang Israel berupaya membina relasi dengan Tuhan, tetapi mereka tidak menemui-Nya. Itulah sebabnya, melalui Amos, Tuhan dua kali meminta orang Israel untuk mencari-Nya. Kita pun diajak untuk mencari dan mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh.

    Pada pertemuan kedua, kita diajak untuk mendalami subtema: Allah Sumber Harapan untuk Melawan Ketidakadilan. Wabah Covid-19 mengakibatkan terciptanya kesenjangan sosial. Yang miskin menjadi kian miskin, sementara ada segelintir orang yang menikmati keuntungan dari wabah ini.

    Selain itu, terdapat pula ketidakadilan sosial lainnya yang menimbulkan kerentanan dalam relasi sosial. Seruan Tuhan melalui Amos agar umat mencari keadilan dan meninggalkan kejahatan merupakan seruan yang sangat relevan bagi situasi kita sekarang ini.

    Ketidakadilan akan memisahkan relasi satu sama lain dan dengan Tuhan sendiri. Hidup baru adalah hidup yang ditandai dengan merajanya keadilan dan bertumbuhnya kebaikan. Pada pertemuan ketiga, kita akan mendalami subtema: Allah Sumber Harapan karena Kasih Setia-Nya.

    Baca juga: Makna Logo BKSN 2022

    Selama pandemi, Allah kelihatan diam dan tidak menunjukkan kuasa-Nya, tetapi sesungguhnya Ia tetap bekerja dan menuntun umat manusia kepada jalan keselamatan.

    Melalui Nabi Hosea, Allah meminta agar umat Israel setia kepada-Nya. Ia sendiri setia kepada umat-Nya dan terus berupaya agar relasi kasih setia itu tidak putus.

    Bagi Allah, yang terpenting adalah kasih setia, bukannya kurban persembahan. Hidup yang baru adalah hidup yang dipenuhi dengan kasih satu sama lain karena menyadari bahwa setiap pribadi dikasihi Tuhan.

    Pada pertemuan keempat, kita akan mendalami subtema: Allah Sumber Harapan karena Kerahiman-Nya. Di tengah perjuangan dan keputusasaan akibat wabah Covid-19, kerahiman Allah sepertinya hilang dan tidak dirasakan oleh umat.

    Kematian dan kehilangan yang tragis membuat orang merasa tidak lagi menemukan sosok Allah yang berbelaskasihan. Melalui Nabi Hosea, Allah menyatakan bahwa Ia menarik kita dengan tali kesetiaan.

    Sama seperti Ia tidak menyerahkan bangsa Israel ke dalam penderitaan akibat musuh, Ia juga tidak akan membiarkan kita, umat-Nya, terus menderita dalam hidup kita.

    Allah yang maharahim terus berjalan bersama kita dan menuntun kita dengan tali kesetiaan menuju kebebasan sejati.

    TERBARU

    TERPOPULER