Friday, May 8, 2026
More

    Sungai Landak Keruh? Cermin Lukanya Lingkungan!

    MajalahDUTA.Com | Pemandangan dari jembatan baja di Kalimantan Barat, seperti yang tampak dalam foto, menghadirkan kontras yang begitu kuat. Di satu sisi terlihat keindahan konstruksi jembatan, deretan rumah yang tertata rapi, serta langit timur yang dihiasi awan besar dan megah.

    Namun, di sisi lain, air Sungai Landak yang mengalir di bawahnya tampak keruh, pekat, dan berwarna cokelat tua.

    Pemandangan ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan gambaran dari persoalan lingkungan yang telah berlangsung lama dan terus menimbulkan keprihatinan masyarakat maupun para pemerhati lingkungan.

    Kekeruhan air Sungai Landak sebenarnya tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Persoalan ini lahir dari perpaduan antara kondisi alam Kalimantan yang khas dan dampak aktivitas manusia yang semakin besar dari waktu ke waktu.

    Secara alami, Kalimantan memiliki kawasan gambut yang luas serta tanah mineral yang kaya akan zat besi dan tanah liat.

    Pelapukan batuan dan tanah secara alami menghasilkan partikel-partikel halus yang mudah terbawa aliran air. Ketika hujan deras turun, terutama pada musim penghujan, erosi tanah meningkat dan membawa lumpur ke sungai. Partikel tanah liat dan oksida besi inilah yang menyebabkan warna air menjadi cokelat kehitaman.

    Selain itu, kondisi topografi di beberapa wilayah aliran Sungai Landak juga mempercepat proses erosi. Tebing sungai yang curam dan kemiringan lahan membuat air hujan mengalir lebih deras di permukaan tanah.

    Walaupun vegetasi masih terlihat di sejumlah bagian tepi sungai, daya tahan akar tanaman sering kali tidak mampu menahan derasnya aliran air dan banyaknya sedimen yang masuk ke sungai.

    Namun demikian, faktor alam hanya menjadi sebagian kecil dari keseluruhan persoalan. Penyebab terbesar dari kekeruhan Sungai Landak justru berasal dari aktivitas manusia. Salah satu faktor utama ialah deforestasi atau pembukaan hutan secara besar-besaran.

    Hutan sesungguhnya berfungsi sebagai penyangga alami yang menyerap air hujan, menjaga kestabilan tanah, dan mencegah erosi. Ketika hutan dibuka untuk pembangunan permukiman, infrastruktur, maupun perkebunan kelapa sawit, perlindungan alami itu hilang.

    Akibatnya, air hujan tidak lagi terserap dengan baik ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir di permukaan sambil membawa lapisan tanah menuju sungai.

    Praktik pertanian dan perkebunan yang tidak ramah lingkungan, terutama di lahan miring, semakin memperburuk kondisi tersebut karena meninggalkan banyak permukaan tanah terbuka yang mudah terkikis air.

    Di samping itu, aktivitas pertambangan menjadi penyumbang terbesar kerusakan kualitas air sungai.

    Di Kalimantan Barat, penambangan emas tanpa izin (PETI) masih menjadi persoalan serius.

    Aktivitas ini umumnya menggunakan metode “tembak”, yaitu menyemprotkan air bertekanan tinggi ke tebing atau tanah di sekitar sungai untuk mencari emas.

    Proses tersebut menghasilkan lumpur dalam jumlah besar yang langsung dibuang ke aliran sungai.

    Limbah dari aktivitas PETI mengandung sedimen pekat yang jauh melampaui kemampuan alami sungai untuk menetralisirnya. Akibatnya, air sungai terus berubah menjadi keruh dan berlumpur.

    Selain penambangan emas ilegal, aktivitas pertambangan batu bara dan mineral dalam skala besar juga menyebabkan kerusakan lahan, pembukaan kawasan baru, serta munculnya sumber sedimen dari area galian dan jalan angkut tambang.

    Dampak dari tingginya tingkat kekeruhan air atau total suspended solids (TSS) sangat serius, baik bagi lingkungan maupun kehidupan manusia. Bagi ekosistem sungai, air yang terlalu keruh menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam air.

    Akibatnya, proses fotosintesis tumbuhan air dan fitoplankton terganggu, padahal keduanya merupakan dasar rantai makanan dalam ekosistem perairan.

    Ketika tumbuhan air mati, kadar oksigen di dalam air ikut menurun dan keseimbangan ekosistem menjadi terganggu.

    Sedimen yang berlebihan juga dapat menempel pada insang ikan sehingga menghambat pernapasan, bahkan menutupi telur ikan dan mengurangi tingkat keberhasilan reproduksi. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan berkurangnya populasi ikan asli dan rusaknya habitat alami sungai.

    Bagi masyarakat, air sungai yang keruh jelas tidak layak digunakan secara langsung. Air tersebut membutuhkan proses pengolahan yang rumit dan mahal sebelum dapat dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

    Masyarakat yang masih bergantung pada sungai untuk mandi, mencuci, dan sumber air minum menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit akibat pencemaran air. Selain itu, buruknya kualitas sungai juga berdampak pada sektor perikanan dan menurunkan potensi ekonomi masyarakat sekitar.

    Jika diperhatikan lebih jauh, perkembangan urbanisasi di sekitar sungai juga ikut memengaruhi kondisi lingkungan. Deretan bangunan dan pembangunan infrastruktur, termasuk jembatan, memang penting untuk mendukung konektivitas dan pertumbuhan wilayah.

    Namun, tanpa sistem pengelolaan air permukaan yang baik, pembangunan tersebut justru memperbesar aliran limpasan yang membawa sedimen ke sungai.

    Karena itu, penanganan persoalan kekeruhan Sungai Landak membutuhkan langkah yang menyeluruh dan berkelanjutan. Penegakan hukum terhadap aktivitas PETI harus dilakukan secara tegas dan konsisten.

    Selain itu, program reboisasi di kawasan hutan dan daerah sempadan sungai perlu diperkuat agar fungsi hutan sebagai penahan erosi dapat kembali pulih.

    Praktik pertanian dan perkebunan juga harus diarahkan pada metode yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan tanaman penutup tanah dan sistem terasering di lahan miring. Sementara itu, pembangunan infrastruktur dan permukiman perlu dirancang dengan memperhatikan sistem drainase dan pengelolaan air permukaan yang baik agar tidak memperparah sedimentasi sungai.

    Pemandangan Sungai Landak yang keruh di bawah jembatan baja seharusnya menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dianggap sepele. Air sungai yang berubah warna bukan hanya masalah estetika, tetapi tanda bahwa ekosistem sedang mengalami tekanan yang serius.

    Kekeruhan Sungai Landak adalah hasil dari perpaduan antara tantangan alam dan kelalaian manusia. Namun, kondisi ini bukan berarti tidak dapat diperbaiki.

    Dengan kesadaran bersama, kebijakan yang tegas, dan komitmen untuk menjaga lingkungan, harapan untuk melihat aliran Sungai Landak yang lebih bersih dan sehat di masa depan tetap terbuka.*Yopita Seli, PJKR 23 B.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles