Saturday, June 15, 2024
More

    Pandemi dan Harapan Hidup Baru

    Buku BKSN 2022 Bagian - PENDAHULUAN: Series II

    MajalahDUTA.Com, BKSN- Telah disebutkan bahwa pandemi mengubah segalanya. Semua orang berusaha beradaptasi dengan situasi ini dan berusaha mempertahankan kehidupan dengan sekuat tenaga, sembari berharap semoga pandemi cepat berlalu.

    Salah satu yang muncul dari proses adaptasi ini adalah solidaritas sesama manusia. Di sana-sini, kita temukan orang yang saling berbagi agar sesamanya tidak merasa sendirian atau merasa ditinggalkan. Solidaritas ini menjadi antitesis dari perlakuan yang dianggap kurang bermartabat terhadap orang yang terdampak Covid-19.

    Orang akhirnya menyadari bahwa martabat manusia patut dihargai. Segala sesuatu bisa runtuh, hilang, atau berganti, namun harkat dan martabat manusia harus tetap dijunjung tinggi dalam situasi apa pun.

    Baca juga: Pandemi dan Hidup Baru

    Pola-pola pendekatan terhadap manusia mungkin bisa berubah terutama karena situasi pandemi, namun orang mesti tetap menghargai aspek kemanusiaan setiap individu. Pandemi yang sudah mulai mereda memberikan harapan akan hidup baru.

    Harapan ini bukan hanya sekadar menjalani kehidupan dengan protokol new normal, melainkan harapan yang berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup, relasi sosial, dan relasi dengan Allah.

    Peningkatan kualitas hidup yang dimaksud berkaitan erat dengan meningkatnya pendapatan yang berpengaruh pada terjaminnya kebutuhan untuk hidup yang lebih baik.

    Selama masa pandemi, keadaan ekonomi memang runtuh. Banyak usaha bahkan bangkrut atau tidak dapat memenuhi biaya operasionalnya sendiri. Karena itu, semua orang mengharapkan suasana hidup baru yang lebih memberikan kepastian dalam kehidupan ekonomi, sehingga kualitas kehidupan menjadi lebih baik.

    Baca Juga: Makna Logo BKSN 2022

    Harapan hidup yang baru juga berhubungan dengan relasi sosial. Selama masa pandemi, aspek ini mendapatkan tantangan yang besar. Relasi sosial tidak dapat berjalan dengan semestinya. Semua komunikasi interpersonal tidak dapat sepenuhnya dijalankan secara langsung.

    Hal ini berpengaruh pada keakraban, kedekatan, dan pengenalan yang lebih baik terhadap sesama. Situasi menjadi lebih buruk ketika orang terpapar Covid-19, sebab ia malah dijauhi atau disingkirkan dari pergaulan.

    Karena itu, dalam situasi pemulihan pascapandemi, orang mulai saling mencari dan membina kembali relasi yang terputus. Semua berharap agar relasi dengan orang lain tetap berjalan dengan baik, meskipun mungkin melalui instrumen media sosial atau media komunikasi.

    Adaptasi terhadap cara berelasi mau tidak mau dimulai agar relasi tetap terjalin. Dalam bidang kerohanian, banyak orang mulai merasa bahwa diri mereka tidak berarti apa-apa. Mereka lemah dan tidak berdaya, serta memerlukan pertolongan Tuhan yang mahakuasa agar dapat melewati masa-masa sulit ini.

    Meskipun ada yang acuh tak acuh dengan urusan kerohanian, dalam kenyataan dapat dilihat bahwa aneka cara dibuat oleh berbagai pihak untuk membantu mempertahankan dan meningkatkan relasi dengan Tuhan.

    Di sana-sini muncul kelompok-kelompok media sosial yang membahas hal-hal rohani, membagikan pesan rohani, dan sebagainya. Hidup baru dimulai dengan kesadaran baru akan kekecilan diri di hadapan Tuhan yang mahakuasa.

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles