MajalahDUTA.Com – Ngabang, 9 Mei 2026 | Pembukaan Bulan Maria di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo berlangsung dalam suasana sederhana, hangat, dan penuh rahmat.
Sejak pagi hari, umat diajak memasuki bulan istimewa ini dengan menyerahkan perjalanan hidup kepada Bunda Maria melalui doa, kebersamaan, dan pengharapan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Misa Kudus pada pukul 07.00 WIB yang diikuti sekitar empat puluh peserta.
Hadir dalam perayaan tersebut mahasiswa, dosen, umat sekitar, serta para suster dari Kongregasi Suster Dominikan Beata Imelda, Suster Dominikan Indonesia, dan Suster Dominikan Annunciata.
Kehadiran para suster Dominikan dari berbagai kongregasi menghadirkan nuansa persaudaraan dan spiritualitas yang khas.

Suasana misa pagi terasa hening dan reflektif, mengajak umat memaknai Bulan Maria bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan kesempatan untuk kembali berjalan bersama Tuhan melalui teladan kesetiaan Bunda Maria.
Panitia sengaja memisahkan misa pagi dengan prosesi sore agar umat dapat mengikuti kedua rangkaian kegiatan dengan lebih tenang dan khusyuk.
Namun momen yang paling membekas justru terjadi pada sore harinya.
Sekitar pukul 16.30 WIB, mahasiswa mulai berkumpul di Asrama Rosa de Lima untuk mengikuti prosesi menuju Kapel Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag. Banyak mahasiswa hadir setelah menyelesaikan kelas agama yang berlangsung sebelumnya.
Jumlah peserta sore itu jauh lebih banyak dibandingkan misa pagi hingga memenuhi area kapel.
Sebelum prosesi dimulai, gerimis sempat turun perlahan dan langit tampak mendung. Situasi itu membuat beberapa peserta khawatir prosesi tidak dapat dilaksanakan. Bahkan sempat muncul rencana untuk mengganti prosesi dengan doa Rosario bersama di dalam asrama.
Namun ketika keputusan hampir diambil, suasana berubah.
Hujan tiba-tiba berhenti. Langit yang semula gelap perlahan menjadi terang. Udara menjadi lebih tenang.
Banyak peserta spontan tersenyum dan saling memandang penuh syukur, seolah Tuhan sendiri membuka jalan agar umat tetap dapat berjalan bersama Maria.
Prosesi pun akhirnya dimulai.
Patung Bunda Maria diarak dari Asrama Rosa de Lima menuju Kapel Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag dengan iringan doa Rosario dan nyanyian pujian sepanjang perjalanan.
Hampir seluruh rangkaian prosesi dipimpin oleh para mahasiswa sendiri. Alan bersama rekan-rekannya memimpin doa, lagu, dan jalannya prosesi dengan penuh semangat dan tanggung jawab.

Beberapa dosen turut berjalan bersama mahasiswa dalam suasana persaudaraan yang hangat. Sementara Romo Petrus CP bersama para suster Dominikan memilih mendampingi secara sederhana, memberi ruang bagi kaum muda untuk terlibat aktif dalam kehidupan iman dan pelayanan Gereja.
Suasana itu menghadirkan gambaran Gereja yang berjalan bersama dan memberi tempat bagi kaum muda untuk bertumbuh, memimpin, dan mengalami Tuhan secara nyata.
Setibanya di Kapel Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag, umat melanjutkan doa bersama dalam suasana hening dan penuh syukur. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan berkat penutup dari Romo Petrus CP.
Pembukaan Bulan Maria tahun ini mungkin berlangsung sederhana dan jauh dari kemeriahan acara besar. Namun justru dalam kesederhanaan itulah banyak hati disentuh.
Tentang hujan yang berhenti tepat pada waktunya. Tentang mahasiswa yang berani memimpin doa. Tentang para suster dan dosen yang berjalan bersama kaum muda.
Dan tentang Bunda Maria yang terus mengajarkan bahwa harapan selalu menemukan jalannya. Sebab terkadang mukjizat hadir bukan dalam hal yang besar, melainkan dalam langit yang tiba-tiba terang ketika umat Tuhan memutuskan untuk tetap berjalan bersama Maria.*akurop.




