Sunday, January 11, 2026
More

    STKIP Pamane Talino – Ngabang Menjadi Sandaran dan Harapan Masyarakat Kalimantan Barat

    Oleh: Fr. Mikael Ardi, Calon Imam Diosesan Keuskupan Agung Pontianak, Saat ini berpastoral di STKIP Pamane Talino

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Sejak semula Gereja menyadari bahwa iman harus diwujudkan dalam perbuatan, dan perhatian serta kepedulian dan keberpihakan kepada orang miskin (Preferential Option for the Poor) merupakan salah satu perwujudan iman yang paling penting.

    Karena itu, dengan berbagai cara Gereja berupaya mewujudkan perhatian dan kepedulian itu dalam tata cara kehidupannya.

    Tindakan BAKSOS (Bakti Sosial) dalam koridor masa Pra-paskah yang telah dilakukan oleh Institusi STKIP Pamane Talino-Ngabang, melalui organisasi IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik) adalah salah satu sikap nyata Gereja dalam memperhatian orang miskin.

    Kesadaran akan keberpihakan kepada orang-orang miskin tentunya menjadi sebuah tantangan besar bagi manusia yang hidup di zaman modern saat ini.

    Mentalitas modern yang bercirikan: rasionalitas, sekularisasi, kepercayaan akan kemajuan melalui usaha manusia dan paham akan martabat kemanusiaan, berpotensi menciptakan apatisme-apatisme baru dalam hidup bersama.

    Kesadaran akan Eksistensi

    Sadar akan potensi-potensi itulah, maka kami para mahasiswa/i STKIP Pamane Talino dengan tindakan BAKSOS hendak menegaskan bahwa kami bukanlah manusia-manusia apatis yang dimaksud. Salah satu wujud dari tindakan BAKSOS yang kami lakukan, selain membantu membangun gedung gereja yang hampir roboh adalah juga mendampingi anak-anak yang karena pandemi Covid-19 tidak bisa belajar secara efektif.

    Hal mendasar yang tentunya menjadi tujuan diselenggarakannya kegiatan ini tidak lain adalah demi memunculkan kembali kesadaran akan eksistensi kami dan kita semua sebagai manusia yang relasional.

    BACA JUGA: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19

    Manusia yang relasional adalah manusia yang memiliki kepekaan dan kepedulian akan sesamannya, tanpa memandang latar belakang: suku, ras, dan agama. Dan karena kepekaan dan kepeduliaan itu pulalah, tentu harapan yang hendak disasar adalah kesadaran akan pentingnya sikap bonum commune (kesejahteraan bersama) dalam tata cara hidup bersama, terutama dalam konteks Indonesia.

    Salah satu harapan dari tindakan kami adalah menyaksikan senyum kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah seluruh masyarakat dusun Selabih Atas, Kabupaten Bengkayang.

    Yang tentunya memberi harapan dan optimisme akan masa depan kehidupan, baik dalam hidup beragama maupun dalam hidup bermasyarakat (pendidikan, dll.). Dari kami, tentu manfaat yang bisa diperoleh adalah memunculkan kesadaran akan pentinya kesejahteraan hidup bersama.

    Dan ini menjadi sangat penting, terutama bagi para mahasiswa/i STKIP Pamane Talino yang kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin untuk daerah mereka masing-masing. Semoga melalui pengalaman ini, mereka memiliki rasa, rasa tentang betapa pentingnya keberpihakan kepada sesama, terutama kepada kaum “marjinal” (kaum yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah, dsb.).

    Pendampingan Studi Anak

    Tempat dilaksanakan kegiatan ini adalah Desa Selabih Atas, Kec. Bengkayang, Kabupaten Bengkayang.

    Waktu perealisasian kegiatan ini adalah pada tanggal 4-14 Februari 2021. Lalu berkenaan dengan kegiatan yang kami lakukan, selain membantu masyarakat membangung gedung gereja, kami juga melakukan proses pendampingan belajar kepada anak-anak: mulai dari pendalaman iman (Kitab Suci), hingga pada proses pendampingan belajar anak.

    Dalam proses pendampingan belajar anak, kami tidak mengalami kesulitan sama sekali oleh karena mahasiswa-mahasiswa yang kami bawa adalah mahasiswa yang terdiri dari 3 prodi, yakni prodi bahasa Inggris, prodi Matematika, dan prodi Penjaskes.

    Kemudian berkenaan dengan jadwal harian kami. Tentu sebagai mahasiswa yang memegang teguh semangat kekatolikan, dinamika keseharian kami selalu diawali dan diakhiri dengan doa.

    BACA JUGA: MGR. AGUSTINUS AGUS: GEMBALA PEDULI YANG BANYAK MELAHIRKAN KARYA

    Pada pukul 04.30, teman-teman mahasiswa sudah pada bangun dan melakukan tanggung jawab mereka masing-masing. Setelah itu, sekitar pukul 06.00  sampai pukul 07.30, kami melakukan doa bersama dan dilanjutkan dengan sarapan.

    Setelah Sarapan, sebagian dari kami sudah bersiap-siap untuk bekerja bersama dan ada juga yang karena mendapat tugas piket, terutama membereskan perkakas makan. Untuk teman-teman mahasiswa yang laki-laki, pekerjaan pagi yang dilakukan adalah membantu umat dalam proses pembangunan gedung gereja.

    Sedangkan untuk teman-teman mahasiswi, tangung jawab yang mereka lakukana adalah mendampingi anak-anak dalam belajar (membaca dan menulis).

    Dan setelah melakukan pendampingan studi anak, para mahasiswi juga menyiapkan konsumsi untuk para mahasiswa yang bekerja, yang akan rehat pada pukul 12.30. Kemudian pada pukul 13.00, para mahasiswa pun melakukan istirahat sejenak, demi memulihkan lagi tenaga yang lumayan terkuras.

    Seluruh aktifitas berakhir pada pukul 22.00 yang ditandai dengan doa malam bersama. Intinya adalah bahwa meskipun selalui diwarnai dengan kesibukan ini dan itu, kehidupan rohani selalu menjadi sentral untuk semuannya.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles