Oleh: Yanto, Prodi Matematika, Semester IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang
MajalahDUTA.Com,Pontianak-Pada Kamis, 4 Februari 2021 aku bersama Fr. Ardi dan anggota IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik) melaksanakan BAKSOS (Bakti Sosial) di desa Sebalo, dusun Selabih Atas, kab. Bengkayang.
BAKSOS yang kami lakukan berupa pembangunan gereja stasi st. Matius, pernah tertulis: ”beratapkan langit beralaskan bumi” (kondisi gereja yang tidak memungkinkan lagi untuk ditempati).
Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19
Semangat kami semakin berkobar-kobar ketika menyaksikan semangat dari umat yang begitu tangguh dalam memuliakan nama Tuhan. Semangat mereka tidak padam, meskipun keadaan gereja mereka tidak layak pakai.
Memuliakan Tuhan dengan Pelayanan
Dalam perjalanan menuju dusun Salabih Atas, kami begitu banyak mendapat pengalaman, mulai dari senang hingga pada pengalaman susah. Ada teman yang mabuk, karena tidak kuat naik mobil, ada yang letih karena harus berjalan kaki sekitar kurang lebih 5 kilo.
Tetapi itu tidak menjadi masalah bagi kami, sebab dengan semangat iman yang teguh kami yakin kami bisa menghadapi segala rintangan yang ada.
Musibah di dusun Selabih Atas sangat memperihatinkan, longsor yang menimpa akses jalan dan yang menghentikan seluruh rutinitas perekonomian masyarakat. Melalui pengalaman inilah saya sadar bahwa betapa susahnya ketika mengalami musibah.
Dan bagi saya, musibah itu telah memperlengkap penderitaan masyarakat Selabih Atas, apalagi melihat situasi dan kondisi gedung gereja yang sungguh sangat memprihatinkan.
Kondisi gereja yang atapnya bocor, lantainya masih tanah dan dinding papan yang sudah lapuk, membuat hati saya menjadi terharu. Dari pengalaman itulah saya kemudian yakin bahwa Tuhan pasti memberikan jalan terbaik untuk umat-Nya.
Semangat Iman
Dari hari pertama hingga pada hari perpisahan yakni pada Minggu, 14 Febuari 2021, kami kembali ke Ngabang. Perasaan bahagia yang tercampur kesedihan membuat hati saya menjadi berat terutama ketika harus meninggalkan mereka.
Baca Juga: Rencanaku Terkadang tak Sejalan dengan Rencana-Mu
Di satu sisi kami juga harus kembali ketempat kami masing-masing, akan tetapi di sisi lain berat rasannya meninggalkan mereka.
Banyak pengalaman yang berkesan yang tentunya memberikan kesadaran kepada saya bahwa bahagia dalam kesederhanaan membuat kami bisa memaknai arti hidup dan cinta kasih Tuhan. Meskipun berada dalam keadaan yang serba terbatas yaitu tidak ada jaringan, tidak ada penerangan. Tetapi kami sama sekali tidak menyerah.




