Saturday, July 13, 2024
More

    Tempat Yang Mengajariku Tentang Pentingnya Arti Sebuah Kehidupan

    Oleh: Yulina Eviani, Prodi Bahasa Inggris, Semester II, Mahasiswa STKIP Pamane Talino-Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Pada Kamis, 4 Febuari 2021 aku dan teman-teman IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik) melakukan BAKSOS (bakti sosial) di  dusun Selabih Atas, Desa Setia Budi, kabupaten Bengkayang. BAKSOS yang kami lakukan berupa pembangunan Gereja di stasi St. Matius:  “beratap langit, beralaskan bumi” (kondisi gereja yang tidak memungkinkan lagi untuk ditempati).

    Semangat kami semakin berkobar-kobar ketika menyaksikan semangat dan iman umat yang begitu tangguh dalam memuliakan nama Tuhan. Semangat mereka tidak padam, meskipun keadaan gedung gereja mereka tidak layak pakai.

    Semangat dan Iman 

    Dalam perjalanan menuju dusun Selabih Atas, kami mendapat banyak sekali cobaan. Cobaan pertama, aku ingat bahwa waktu itu gerimis, dengan keadaan jalan yang begitu licin, yang kemudian membuat mobil yang aku tumpangi tidak bisa melanjutkan perjalanan kami ke tempat tujuan.

    Baca Juga: Dimana Ada Kasih, disitu ada Tuhan; Mgr. Agus

    Akhirnya, aku dan teman-teman harus berjalan kaki. Setelah lumanyan jauh berjalan kaki, kami dihadapkan lagi oleh cobaan kedua yakni terjadi tanah longsor yang menutup akses jalan untuk bisa masuk ke tempat tujuan. Dan kami pun terpaksa menerobos pepohonan dan dedaunan yang tumbang bersamaan dengan tanah-tanah pekat.

    Melihat situasi seperti ini, hati kecilku pun berkata: “baru kali ini aku disambut oleh bencana alam yang begitu kompak“. Akan tetapi aku percaya kepada Tuhan, apapun yang terjadi di perjalanan pasti ada hikmahnya.

    Yakin dan Percaya

    Meskipun banyak sekali cobaan, aku dan teman-teman tetap merasa gembira dan bahagia, oleh karena mengetahui bahwa kami akan datang, masyarakat sejak pagi sudah menunggu kedatangan kami di desa setia Budi.

    Baca Juga: Saya Semakin Yakin Bahwa Tuhan Tidak Diam

    Aku yakin bahwa Tuhan sungguh mendampingi perjalanan dan rencana kami di tempat ini. Hatiku sungguh senang dan gembira bisa menyaksikan mereka semua yang begitu baik dan sangat bersahabat.

    Hari pertama  di  Selabih, kami semua disambut dengan antusiasme anak-anak yang datang untuk belajar. Mereka semua sangat bersemangat, dan bahkan beberapa dari antara mereka ada yang ingin mengikuti jejak kami, yakni bercita-cita ingin menjadi guru. Menjadi guru supaya bisa mengajari anak-anak di kampung.

    Lalu di hari kedua, aku dan teman-teman melakukan kerja bakti bersama masyarakat yang ada yakni meratakan tanah yang akan dijadikan tempat pembangunan gedung gereja. Aku merasa senang bisa bersama mereka, terutama bisa mempelajari bahasa-bahasa daerah, khususnya bahasa “Bekati” (salah satu bahasa dari suku Dayak – Kalbar).

    Kebersamaan

    Canda dan tawa senantiasa menghiasi kegiatan kami meskipun di bawah teriknya matahari, saling bertanya dan mengucapkan kata menggunakan bahasa Bekati. Saya juga merasa senang, oleh karena masyarakat Selabih Atas sangatlah ramah, dengan itu pula aku bisa belajar banyak hal terutama belajar tentang pentingnya hidup bersama dalam suatu komunitas masyarakat.

    Baca Juga: Apa Makna “Jalan Salib” Bagi Umat Katolik?

    Akhirnya, sepuluh hari rasannya terlalu sebentar bagiku untuk meninggalkan kebahagiaan kami di tempat ini. Rasa sedih dan haru menyelimuti relung hatiku yang paling dalam.

    Meninggalkan tempat yang mengajariku tentang pentingnya artinya sebuah kehidupan; kehidupan dalam kebersamaan dan persaudaraan.

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles