Saturday, December 9, 2023
More

    Beratapkan Langit dan Beralaskan Bumi

    Oleh: Yolanda Maranata, Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswi STKIP Pamane Talino-Ngabang

    MajalahDUTA.Com,Pontianak-Pelaksanaan BAKSOS di stasi St. Matius, di wilayah Paroki St. Pius X Bengkayang adalah lembaran baru bagi pengalamanku. Pengalaman yang tentunya tidak bisa kulupakan begitu saja.

    Meskipun letih dan lesu mengawali perjalananku, terutama perjalanan ketika keberangkatanku dan teman-teman ke stasi tersebut.

    Ada banyak hal indah yang kualami meskipun telapak kaki selalu dilumuri lumpur dan ditemani gelap gulita karena tak berlistrik. Panorama keindahan itu terlukis pada raut wajah umat yang menyambut dan menemani dinamika keseharian kami selama sepuluh hari di tempat ini.

    Baca Juga: “SEMAKIN BERIMAN SEMAKIN MEMILIKI ROH KESETIAKAWANAN”

    Dan biasannya dalam beberapa detik notifikasi smart phone selalu mengingatkan kami akan pesan-pesan baik suka maupun duka, di saat ini kami terpaksa harus beranjak untuk keluar dari kesibukan-kesibukan kami demi satu tujuan, tujuan yang membawa orang pada yang namanaya kebahagiaan.

    Membantu membangun rumah Tuhan adalah prioritas utama kami di tempat ini. Kami semua merasa terpanggil untuk memperbaiki rumah-Nya yang saat ini “beratapkan langit dan beralaskan bumi”.

    Beratapkan Langit dan Beralaskan Bumi

    Bangun pagi yang biasa jarang kulakukan, namun harus pula kulakukan. Tempat ini mengajariku untuk tidak terus bertahan dalam hangatnya selimut melainkan membiarkan embun membasahi sekujur tubuhku, membiarkan asap memerihkan mataku dan membiarkan aroma bumbu melekat di jemariku.

    Tempat ini mengajariku juga untuk menjadi pribadi yang tidak cengeng dan manja. Tempat ini mengajariku menjadi pribadi yang kuat. Dan tempat ini membuka kesadaran kepadaku bahwa hidup ternyata tak selamannya nyaman.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Tegaskan: Jadilah Imam Pembawa Perubahan

    Akan tetapi meskipun demikian, tak selamannya nyaman tetapi aku bersyukur bahwa di balik itu semua masih ada orang-orang yang memiliki hati dan kepedulian yaitu teman-temanku di IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik).

    Dari mereka aku belajar bahwa kekompakan itu adalah kunci keberhasilan. Dari kekompakan lahir yang namannya kepedulian dan kerendahaan hati. Ketika ada teman yang mengalami sakit, spontan yang lain langsung mengambil sikap untuk segera menolong.

    Kepedulian dan Kerendahaan Hati

    Ketika ada teman yang mulai marah, spontan semuannya memilih sikap untuk diam demi meredam kemarahannya. Ketika ada teman yang bercerita, spontan yang lain langsung menghentikan seluruh akrivitas pribadi untuk fokus mendengarkan.

    Dan ketika ada yang mengawali dan mengakhiri semuannya dengan doa, spontan yang lain mengambil sikap yang sama. Pengalaman kebersamaan ini telah membuat aku menjadi nyaman, nyaman karena kami semua adalah bersaudara.

    Baca Juga: Saya Semakin Yakin Bahwa Tuhan Tidak Diam

    Dan persaudaraan ini pulalah yang membuat kami menjadi kuat dan semangat, terutama dalam mendampingi anak-anak Allah untuk belajar segala hal. Belajar membaca, menulis, dan bagaimana berperilaku baik dan sehat.

    Di tempat ini juga, anak-anak Allah juga telah banyak mengajariku untuk menjadi seorang mahasiswa yang cerdas dan tangguh. Cita-cita dan harapan mereka telah memacu semangatku untuk menjadi orang yang berguna kelak.

    Persaudaraan dan Doa

    Semua itu mengajariku tentang bagaimana menjadi manusia yang mau bersyukur atas hidup yang hinga kini masih kualami.

    Ingat, “kemarin adalah sejarah, hari ini adalah hadiah, dan besok adalah misteri”. Belajar dari kemarin, berterima kasih untuk hari ini, dan bersiap-siap untuk besok. Terima kasih pengalamanku. Terkenang salamku untuk dusun Selabih Atas.

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles