Oleh: Yopita Angel,Prodi Bahasa Inggris, Semester IV, Mahasiswi STKIP Pamane Talino-Ngabang
MajalahDUTA.Com,Pontianak-Ini kisah ku, kisah dari pengalaman yang aku peroleh saat mengikuti BAKSOS tepatnya di Dusun Selabih Atas, Desa Sebalo, Kec. Bengkayang, Kab. Bengkayang. Sepuluh hari lamanya kami berada di sana, suka dan duka dilalui bersama anggota yang berjumlah 21 orang.
Tujuan kehadiran kami di sana adalah membantu masyarakat membangun Gereja, rumah Tuhan yang telah lama dibiarkan kesepian di tengah hutan dan yang telah dimakan rayap. Selain itu, misi kami ialah menjadi pendamping bagi anak-anak desa yang sudah sekian lama merindukan ocehan dan bentakan guru di sekolah, akibat pandemi Virus Corona.
Sembari membantu membangun gedung gereja dan mendampingi anak dalam belajar, kami juga belajar bersama dengan para ibu terutama dalam hal melantunkan nyanyian Gereja.
Mendampingi Belajar
Di awal perjalanan ketika hendak menuju kampung, hatiku begitu sedih dan gelisah apalagi ketika harus berjalan kaki sejauh 5 km dengan keadaan cuaca yang kurang mendukung, jalan licin, banjir, bahkan sampai melewati tanah longsor di pertengahan jalan.
Baca Juga: Mgr Agustinus Agus Terima Plakat Professional Award 2021
Namun kesedihan itupun akhirnya sirna, terutama setelah kusadari bahwa tujuan dari misi kami tidak lain adalah untuk pelayanan dan mewartakan Kerajaan Allah.
Kebahagiaanku semakin mengebu-gebu yakni ketika menyaksikan semangat masyarakat yang menerima kami dengan penuh ketulusan. Aku dan teman-temanku dijemput dan ditemani dalam berjalan kaki.
Setelah beberapa hari di tempat BAKSOS, aku sadar bahwa ternyata tidak semua orang bisa seberuntung hidupku. Aku bersyukur dengan apa yang telah kuterima saat ini, apalagi jika dibandingkan dengan keadaan masyarakat yang serba kekurangan.
Pelayanan dan Mewartakan Kerajaan Allah
Satu hal yang memberikanku harapan dan optimisme bahwa suatu saat masyarakat di tempat ini bisa maju, yakni ketika melihat semangat belajar anak-anak di sana. Semangat mereka ketika hendak diajak belajar sungguh luar biasa, sampai-sampai makan pun mereka lupa.
Baca Juga: STKIP Pamane Talino – Ngabang Menjadi Sandaran dan Harapan Masyarakat Kalimantan Barat
Dari pengalaman yang demikian pula, aku semakin termotivasi untuk belajar lebih giat lagi, terutama menyangkut profesiku yang kelak adalah menjadi seorang guru.
Pernah suatu ketika aku menyodorkan pertanyaan kepada mereka: “Adik-adik, kira-kira seberapa jauh sih jarak antara rumah kalian dengan sekolah?” Lalu jawab mereka: “Rumah sekolah kami jauh kak, tempatnya di desa Sebalo dan kami harus berangkat dari rumah menuju sekolah pukul 04:00 WIB supaya tidak telat masuk”.
Mendengar itu, hatiku pun menjadi semakin sedih. Apalagi ketika medengar laporan bahwa banyak anak-anak karena jarak tempuh sekolah sangat jauh akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.
Menjadi Seorang Guru
Kurang lebih sembilan hari aku dan teman-temanku berdinamika dalam hal mendampingi anak-anak belajar, perasaan bangga dan senang tentunya senantiasa mengiringi perjuanganku dan teman-teman.
Paling tidak dari pengalaman itu, aku bisa menemukan banyak hal terutama pengalaman mengajar. Dan dari itu semua aku bisa belajar tentang bagaimana menjadi pribadi yang selalu percaya diri. Setelah mengajar, aku dan teman-teman perempuan lainnya pergi ke lokasi pembangunan gereja untuk membantu teman-teman yang laki-laki mencangkul dan mengangkut tanah.
Baca Juga: Memaknai Arti Hidup dan Cinta Kasih Tuhan
Meskipun memikul beban berat, letih dan sebagainya, tetapi semangatku dan teman-teman tidak pudar, apalagi disetiap moment selalu dihiasi dengan canda tawa bersama.
Dan pada akhirnya, aku pun sadar bahwa kasih Tuhan begitu nyata dalam hidupku. Dia selalu menghadirkan orang-orang yang mau mengasihi dan menyayangiku, itu sangat terbukti karena disana aku bertemu dengan seorang ibu yang sudah menganggap ku sebagai anak kandungnya sendiri.
Berdinamika
Aku bahagia sekali bisa mengenal bahkan bertemu dengan nya. Dan aku juga bangga bisa bersama Anak-anak IMK STKIP Pamane Talino, tanpa mereka aku bukan siapa-siapa, aku diterima dengan baik seperti keluarga sendiri, untuk Fr. Ardi aku juga banyak mengucapkan terima kasih.
“Kebersamaan itu seperti permulaan, kemudian menjaga kebersamaan merupakan kemajuan dan bekerja bersama merupakan keberhasilan.” – Henry Ford…. Terima kasih untuk kebersamaannya selama sepuluh hari.




