Tuesday, May 19, 2026
More
    Home Blog Page 161

    Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    5 Suster Pertama di Pontianak (1912)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Apa yang kita lihat saat ini adalah salah satu buah dari apa yang sudah dimulai sejak dahulu. Kira-kira itulah ungkapan yang bisa kita petik dari berbagai ungkapan bijak yang beredar. Perkembangan zaman dan perkembangan teknologi sampai saat ini tidak terlepas dari kebutuhan akan kehadiran orang-orang yang fokus dalam misi tersebut.

    Selaras dengan narasi diatas di zamannya, karya Missionaris Kapusin saat bermisi di Kalimantan Barat saat itu masih dikatakan perintis. Banyak kekurangan tenaga pengajar terutama penanganan misi yang ada di Kalimantan Barat, terlebih khusus karya yang sudah dirintis di Pontianak kala itu.

    Baca juga: Menilik kembali perjalanan Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak 1909-2009

    Karya pastoral para misionaris dikembangkan melalui pengajaran agama secara pribadi dan berkelompok, serta melalui pendekatan pendidikan sekolah dengan mendirikan pusat-pusat pendidikan formal dan penyediaan asrama-asrama bagi siswa yang dititipkan sebagai anak-anak asuh.

    Berdasarkan keberhasilan karya para suster di Singkawang, maka pusat pelayanan misi dipindahkan dari Singkawang ke Pontianak dan memohon bantuan para suster SFIC untuk menangani sekolah dan asrama di Pontianak.

    Kedatangan suster SFIC di Pontianak

    Pada 13 November 1910, 3 (tiga) orang suster yakni Sr. Ildephonse, Sr. Alexia & Sr. Venantia serta dua orang gadis Tionghoa asal Singkawang yang akan membantu mereka, menumpang sebuah kapal dari Singkawang dan setelah 24 jam perjalanan kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Pontianak.

    Selain mengajar dan membina anak-anak di asrama, para suster SFIC juga melayani anak-anak & orang dewasa yang sakit di rumah mereka masing-masing.

    Baca juga: Bahasa Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    Sembari menunggu tempat yang layak untuk dijadikan rumah sakit dan karena jumlah pasien yang bertambah, para suster SFIC menyewa 2 (dua) rumah orang Tionghoa untuk difungsikan sebagai rumah sakit kecil untuk merawat orang-orang yang tidak mampu.

    Di awal tahun 20an, para suster mendapatkan tawaran untuk memanfaatkan tangsi Polisi yang akan dikosongkan dan dapat digunakan sebagai bangunan rumah sakit. Namun hal ini baru dapat terwujud 8 tahun kemudian.

    Pada tahun 1914, terdapat sebanyak 6 (enam) misionaris dan 7 (tujuh) suster SFIC yang berkarya di kota Pontianak antara itu Prefek Pastor Pacificus Bos, Pastor Eugenius, Pastor Bavo, Pastor Evaristus, Br. Wilhelmus, Br. Trudo.

    Sedangkan untuk suster SFIC antara itu ada Sr. Ildephonse, Sr. Sophia, Sr. Wilhelmina, Sr. Gertruda, Sr. Laurentiana, Sr. Casparine dan Sr. Angella. (Sumber: Dokumen Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak- SFIC, diolah: Samuel- Majalah DUTA).

    “Sebelum Formasi Dibuka, Perlu Koordinasi dan Ketersediaan Data,” ungkap Yosef.

    Drs Yosef- dalam wawancara bersama Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak- Divisi Radio Suara Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian ( PPPK ) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan.

    Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), PPPK dikontrak minimal satu tahun, dan dapat diperpanjang paling lama 30 tahun, tergantung situasi dan kondisi.

    Pada Jumat, 4 Juni 2021, telah dilakukan wawancara di Jl. Sutan Syahrir No.12, Sungai Bangkong, Kec. Pontianak Kota bersama Drs. Yosef, Pembimbing Masyarakat Katolik Kementerian Agama Provinsi Kalbar terkait P3K, khususnya tentang pengangkatan guru agama.

    Dalam wawancaranya, Yosef mengatakan, Pengangkatan guru agama di sekolah umum adalah kewenangan dari Pemerintah daerah, baik itu pemerintah Provinsi maupun Kabupaten.

    “Untuk tingkat SD dan SMP kewenangan Kabupaten, sedangkan untuk tingkat SMA/SMK merupakan kewenangan Provinsi,” Katanya.

    Khusus untuk formasi guru agama, dirinya mengatakan sebaiknya sebelum menentukan formasi, berkoordinasi terlebih dahulu untuk pemenuhan kebutuhan.

    Baca juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    Yosef juga mengatakan, baiknya penentuan formasi juga tidak semerta-merta berdasarkankan analisis jabatan, “Formasi guru agama ada semacam pemahaman yang kurang nyambung sama UU no 20 tahun 2003 tentang ‘Lahirnya Sistem Pendidikan Nasional.’ Pasal 12 ayat 1 peserta didik berhak mendapat pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianut dan diajar oleh pendidik yang seagama,”

    Lanjutnya, formasi maupun dan aturan dibawahnya itu tentu tidak bisa lepas atau bertentangan dengan amanat Undang-undang, “Seberapapun siswanya, harus diajar.” Ujar Yosef.

    Memang, jika kaitannya itu dengan kebutuhan di struktural, mungkin beda dengan kebutuhan di Sekolah, lanjut Yosef, “Mungkin baik kiranya belajar dari pengalaman ini, ditinjau dari kinerja kita hal seperti ini adalah tindakan semacam kepedulian. Tidak hanya saat formasi itu tidak ada baru kita seperti orang kaget mengapa tidak ada, harusnya kita punya data dan kami di Bimas Katolik ada data itu, data kebutuhan untuk pembinaan guru Agama Katolik yang PNS yang Non PNS, itu ada lengkap semua.”

    Baca juga: Bahasa Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    Dirinya mengakui, banyak pihak yang masih bertanya mengapa kementerian agama tidak mengangkat guru agama. “Kementerian agama tidak mengangkat guru agama di sekolah umum, tapi mengangkat guru agama di sekolah-sekolah keagamaan.” lanjut Yosef.

    Di akhir perbincangan Yosef mengatakan mengapa sebabnya asal sumber data dan data yang transparan sangat penting yakni agar saat dipublish ke masyarakat tidak menimbulkan persoalan.-(Romz). 

    Mengapa Santa Perawan Maria Menangis di La Salette?

    Pada suatu hari Sabtu siang, 19 September 1846, dua orang anak, - Maximin Guiraud (11 tahun) dan Melanie Calvat (14 tahun) -

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Pada suatu hari Sabtu siang, 19 September 1846, dua orang anak, – Maximin Guiraud (11 tahun) dan Melanie Calvat (14 tahun) – sedang menggembalakan domba milik majikan mereka dekat La Salette di pegunungan Alpen, Perancis.

    Dampak Revolusi Perancis yang telah meneror Gereja, darah yang tertumpah sepanjang masa berkuasanya Napoleon, meningkatnya sekularisasi pemikiran masyarakat dan maraknya kekacauan politik yang menyelimuti Eropa telah mengakibatkan kerusakan serius atas iman masyarakat.

    Baca juga: Dua Tahun Kebersamaan Komisi Komunikasi Sosial Paroki Singkawang

    Di paroki La Salette, sedikit dan semakin sedikit saja umat yang ikut ambil bagian dalam Misa Kudus dan sakramen-sakramen diacuhkan. Kutuk dan sumpah serapah menggantikan doa; kebejadan moral menggantikan kemurnian; ketamakan dan kesenangan diri menggantikan kesalehan dan matiraga.

    Melanie Calvat, seorang dari delapan bersaudara, berasal dari sebuah keluarga miskin dan harus mulai bekerja ketika usianya tujuh tahun. Ia tidak pernah bersekolah, hanya tahu sedikit saja mengenai Katekese, jarang ke Misa, dan nyaris tak dapat mendaraskan Bapa Kami ataupun Salam Maria.

    Begitu pula, Maximin Guiraud, yang ibunya telah meninggal dunia dan tidak cocok dengan ibu tirinya, hanya mempunyai sedikit saja pendidikan agama dan tidak bersekolah.

    Baca juga: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Ketika dalam sebagian besar penampakan di banyak daerah di seluruh dunia, Bunda Maria menampilkan dirinya tanpa banyak emosi, namun tidaklah demikian dengan penampakan di La Salette. Dalam penampakan kepada dua anak di desa itu, Santa Perawan Maria tampak menangis. Mengapa Bunda Maria menangis?

    Perempuan Cantik

    Ketika sedang menggembalakan domba, mereka melihat suatu cahaya kemilau yang lebih cemerlang dari matahari. Sementara mereka mendekat, mereka melihat seorang “Perempuan Cantik” duduk di atas sebuah batu karang dan menangis.

    Guiraud dan Melanie menggambarkan Santa Perawan Maria yang mereka lihat itu sebagai seorang perempuan yang duduk dengan siku bertumpu pada lutut dengan wajahnya yang tersembunyi di balik tangannya.

    Santa Perawan Maria tampak mengenakan jubah putih bertabur mutiara; dan celemek berwarna emas; sepatu putih dan mawar di sekitar kakinya dan hiasan kepala tinggi. Di lehernya ia mengenakan salib yang tergantung di rantai kecil.

    Dengan berurai air mata, perempuan itu berdiri dan berbicara kepada anak-anak dalam dialek Perancis setempat.

    Baca juga: Paus Fransiskus memuji biarawati AS untuk pekerjaannya menyambut para migran

    Menurut kisah anak-anak itu, salah satu alasan utama di balik kesedihan Bunda Maria adalah karena masyarakat setempat tidak menghormati dan tidak mentaati hari Minggu sebagai hari Tuhan dan hari istirahat.

    Setelah Revolusi Perancis tahun 1789, berbagai upaya dilakukan untuk menghapuskan hari Minggu sebagai hari istirahat. Sementara hari Minggu dikembalikan lagi sebagai hari istirahat tahun 1814, pada tahun 1830 Perancis kembali dalam kerusuhan politik sehingga hari Minggu kembali tidak dihormati.

    Baru pada tahun 1904 hari Minggu menjadi hari istirahat yang wajib bagi semua pekerja. Pada saat penampakan di La Salette, sebagian besar buruh di Perancis tidak membuat perbedaan antara hari Minggu dan sisa minggu kerja.

    Perawan itu menangis

    Bekerja pada hari Minggu mungkin tampak seperti hal sepele yang bisa menjadi alasan mengapa Bunda Perawan Maria menangis. Tetapi Gereja Katolik sejak awal selalu berusaha untuk memberi penekanan pada pentingnya kebutuhan manusiawi kita untuk istirahat. Ini mencapai kedalaman keberadaan kita baik pada tingkat fisik dan spiritual.

    Bunda Maria menyampaikan pesan berikut, “Datanglah kepadaku, anak-anakku. Janganlah kalian takut. Aku ada di sini untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Jika umatku tidak taat, aku akan harus terpaksa melepaskan lengan Putraku. Lengan-Nya begitu berat, begitu menekan, hingga aku tak lagi dapat menahannya.

    Baca juga: Proyek “Alasan untuk Harapan Kita” mempromosikan dialog Kristen-Muslim

    Berapa lama aku telah menderita demi kalian! Jika aku tidak menghendaki Putraku meninggalkan kalian, aku harus memohon dengan sangat kepada-Nya tanpa henti. Tetapi, kalian nyaris tidak mengindahkan hal ini.

    Tak peduli betapa baiknya kalian berdoa di masa mendatang, tak peduli betapa baiknya kalian berbuat, kalian tidak akan pernah dapat memberikan kepadaku ganti atas apa yang telah aku tanggung demi kalian.

    Aku memberikan kepada kalian enam hari untuk bekerja. Hari ketujuh Aku peruntukkan bagi DiriKu Sendiri. Namun, tak seorang pun hendak memberikannya kepada-Ku. Inilah yang menyebabkan lengan Putraku berat menekan.

    Mereka yang mengemudikan kereta tak dapat bersumpah serapah tanpa membawa-bawa nama Putraku. Inilah dua hal yang membuat lengan Putraku begitu berat menekan.

    Apabila panenan rusak, itu adalah karena kesalahan kalian sendiri. Aku telah memperingatkan kalian tahun lalu lewat kentang-kentang. Kalian mengacuhkannya. Malah sebaliknya, ketika kalian mendapati bahwa kentang-kentang itu telah membusuk, kalian bersumpah serapah, dan kalian mencemarkan nama Putraku.

    Kentang-kentang itu akan terus rusak, dan pada waktu Natal tahun ini tak akan ada lagi yang tersisa.

    Apabila ada pada kalian jagung, maka tak akan ada gunanyalah menabur benih. Binatang-binatang liar akan melahap apa yang kalian tabur. Dan semuanya yang tumbuh akan menjadi debu ketika kalian mengiriknya.

    Suatu bencana kelaparan hebat akan datang. Tetapi sebelum itu terjadi, anak-anak di bawah usia tujuh tahun akan diliputi kegentaran dan mati dalam pelukan orangtua mereka.

    Orang-orang dewasa akan harus membayar hutang dosa-dosa mereka dengan kelaparan. Buah-buah anggur akan menjadi busuk, dan biji-bijian akan menjadi rusak.”

    Sungguh, suatu pesan yang serius. Kemudian Bunda Maria mengatakan, “Apabila orang bertobat, maka batu-batu akan menjadi tumpukan gandum, dan kentang-kentang akan didapati tersebar di tanah.”

    Lalu ia bertanya kepada anak-anak, “Adakah kalian berdoa dengan baik, anak-anakku?”

    “Tidak, kami nyaris tak pernah berdoa sama sekali,” gumam mereka.

    “Ah, anak-anakku, sungguh amat penting memanjatkan doa, malam maupun pagi. Apabila kalian tak punya cukup waktu, setidak-tidaknya daraskanlah satu Bapa Kami dan satu Salam Maria. Dan apabila memungkinkan, berdoalah lebih banyak.”

    Bunda Maria kemudian kembali kepada penghukuman orang banyak, “Hanya ada sedikit perempuan tua yang pergi ke Misa pada musim panas. Semua lainnya bekerja setiap hari Minggu sepanjang musim panas.

    Dan pada musim dingin, ketika mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, mereka pergi ke Misa hanya untuk memperolok agama. Sepanjang Masa Prapaskah mereka berkerumun di kedai tukang daging bagaikan anjing-anjing yang kelaparan.”

    Ia mengakhirinya dengan mengatakan, “Anak-anakku, kalian akan menyampaikan ini kepada segenap umatku.” Kemudian ia berjalan pergi, mendaki sebuah jalanan yang tinggi, dan kemudian menghilang dalam cahaya yang cemerlang.

    Anak-anak mengulangi kisah ini kepada majikan masing-masing. Ketika orang banyak memastikan bahwa kedua kisah tersebut cocok sama, dan beberapa orang saleh menyimpulkan bahwa ini adalah penampakan Bunda Maria, maka anak-anak dikirim ke imam paroki La Salette.

    Imam mengisahkan kembali cerita anak-anak pada waktu Misa. Para pejabat pemerintahan memulai suatu penyelidikan dan anak-anak tetap bersikukuh pada kisah mereka walau diancam hukuman penjara.

    Suatu ketika saat menyelidiki tempat kejadian, seseorang mematahkan sebongkah dari batu karang di mana tadinya Santa Perawan duduk; maka memancarlah suatu sumber mata air di tempat yang tadinya kering terkecuali ketika saat salju mencair. Mata air ini terus memancar dengan berlimpah.

    Orang mengambil air dari sumber mata air dan memberikannya kepada seorang perempuan yang menderita suatu penyakit serius yang telah menahun; ia meminum sedikit dari air tersebut setiap hari sambil mendaraskan novena, dan pada hari kesembilan, ia disembuhkan!

    Kasus ini kemudian disampaikan kepada Uskup Bruillard dari Grenoble, yang memprakarsai suatu penyelidikan yang seksama atas penampakan. Sementara itu, semakin banyak mukjizat penyembuhan yang terjadi.

    Baca juga: HUT Tahbisan Episkopal ke-45 Emerius Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM. Cap- Keuskupan Agung Pontianak

    Mukjizat yang terbesar adalah sungguh mukjizat rohani: orang-orang ikut ambil bagian dalam Misa Kudus dengan setia dan mengakukan dosa-dosa mereka secara teratur. Mereka berhenti bekerja pada hari-hari Minggu dan kembali hidup saleh serta penuh devosi.

    Ziarah ke tempat ini menjadi semakin populer. Lima tahun kemudian, pada tanggal 19 September 1851, Uskup Bruillard menetapkan bahwa penampakan “memaklumkan dari dirinya sendiri segala tanda-tanda kebenaran dan bahwa umat beriman dibenarkan untuk mempercayainya sebagai dapat dipercaya dan tak diragukan.” Pertobatan sejati telah terjadi.

    Tahun berikutnya, suatu komunitas religius baru dibentuk, Misionaris dari La Salette. Juga, Uskup Bruillard meletakkan batu pertama untuk sebuah basilika baru. Para peziarah semakin banyak mengunjungi lokasi penampakan, dan Santa Perawan digelari sebagai “Pendamai orang-orang berdosa”, Reconcilatrix of sinners). Banyak orang kudus besar berdevosi kepada Santa Perawan Maria dari La Salette, di antaranya St Yohanes Bosco, St Yohanes Vianney, dan St Madeleine Sophie Barat.

    Pesan Suci Bunda

    Sementara kita merenungkan penampakan ini, pesan Bunda Maria masih sama relevannya dulu dan sekarang: Berapa banyak orang tidak punya waktu untuk Misa hari Minggu, tetapi menyempatkan diri untuk membaca koran, berolah-raga atau pergi shopping? Berapa banyak yang tidak mengakukan dosanya selama bertahun-tahun?

    Berapa banyak yang biasa mempergunakan nama Tuhan sebagai kata-kata carut-marut yang tidak pantas? Berapa banyak yang tidak berdoa setiap hari? Berapa banyak yang menyenangkan diri dengan hujat-hujat macam The Da Vinci Code?

    Baca juga: Wajah Baru Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan

    Pada tahun 1998 St Yohanes Paulus II menulis di seluruh surat apostoliknya tentang “Hari Tuhan,” dan menantikan Milenium Ketiga, melihat ketaatan pada hari Minggu sebagai bagian penting bagi masa depan iman kita.

    Dengan mengenal Gereja, yang setiap hari Minggu dengan penuh sukacita merayakan misteri yang darinya ia menghidupi dirinya, semoga pria dan wanita dari Milenium Ketiga semakin mengenal Kristus Yang Bangkit.

    Dan terus diperbarui dengan peringatan mingguan Paskah, semoga para murid Kristus menjadi semakin kredibel dalam memberitakan Injil keselamatan dan semakin efektif dalam membangun peradaban cinta.

    Jika kita ingin menghibur Perawan yang sedih dan mengeringkan air matanya, kita perlu memeriksa hidup kita sendiri dan memeriksa diri soal bagaimana kita merayakan hari Sabat.

    Baca juga: Mgr Agustinus Larang Orang Muda Katolik Ikuti Praktik Ilmu Kebal

    Apakah hari Sabat benar-benar kita jadikan sebagai hari istirahat? Ini tidak hanya berarti ketiadaan tenaga kerja, tetapi yang terpenting, meninggalkan ruang yang pantas untuk ibadat spiritual dan kegiatan yang memberi kehidupan baru bagi tubuh dan jiwa kita.

    Di zaman ketika kecemasan dan depresi telah menjadi penyakit yang lumrah, mengapa kita tidak mengambil nasihat dan istirahat dari Tuhan? Bukankah seharusnya itu mudah untuk kita lakukan? (Sumber: yesaya.indocell[.]net, web.pewartasabda/ diolah: L-MD)

    Dua Tahun Kebersamaan Komisi Komunikasi Sosial Paroki Singkawang

    2 Tahun Kebersamaan Komisi Sosial Paroki Singkawang- Komisi Komunikasi Keuskupan Agung Pontianak- Singkawang

    Oleh: Cinda- Komsos Paroki Singkawang

    MajalahDUTA.Com, Singkawang- Pengaruh media sosial sangatlah besar, terlebih di era milenial. Jaringan internet yang kini dapat diakses secara luas sangat memudahkan komunikasi semua pihak dan berbagai lapisan masyarakat yang mendapuk media sosial sebagai salah satu kebutuhan primer yang dengan mudah dapat diakses secara praktis hanya dalam genggaman jemari. Lewat media sosiallah berbagai lembaga, organisasi, maupun individu dapat dikenal dan membagi rupa-rupa informasi serta ragam kegiatan.

    Peran Media Sosial

    Laman media sosial berperan sangat urgen di era pandemik. Hal ini dipicu oleh keinginan membangun jejaring komunikasi sosial antar individu, pemenuhan kebutuhan informasi, dan pemuasan hasrat eksistensi diri bagi setiap insan.

    Berdasarkan beberapa alasan humanis di atas, gereja tidak bisa menutup mata mengenai fenomena pentingnya laman media sosial bagi pewartaan, khususnya di era pandemi.

    Baca juga: Michael Haddad: Paus memberkati aktivis iklim, meminta doa di Kutub Utara

    Melalui tim komsos masing-masing paroki laman-laman media sosial paroki bermunculan. Hal ini menjadi jembatan bagi pihak gereja dan umat untuk tetap menjalin komunikasi dalam pemenuhan kebutuhan siraman rohani.

    Tidak dapat dimungkiri, tanpa laman media sosial maka dapat dipastikan gereja akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan umatnya.

    Sebuah Kisah Perjalanan Singkat Kami

    Pada 28 Mei 2021 lalu, Paroki Santo Fransisikus Assisi, merayakan dua tahun kebersamaan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Singkawang.

    Kami akan berbagi kisah perjalanan Komsos Paroki Singkawang yang telah melewati berbagai proses. Bagi kami, sebagai admin media sosial paroki, tentu tidak mudah untuk mewartakan segala liputan terkait kegiatan paroki. Kendala yang sifatnya tinggi, sedang, maupun rendah menempa kami untuk memaknai arti kata sabar secara ekstra.

    Hal lain terkait tenaga kerja yang terkadang membatasi sepak terjang kami adalah minimnya anggota ditambah kenyataan bahwa kemampuan yang kami miliki masih bertaraf standar pemula namun bagi kami, hal itu tidak mematahkan semangat untuk mewartakan berbagai informasi kepada umat.

    Baca juga: Tema Hari Komunikasi Sedunia 2021: “Datang dan Lihat”

    Mulai dari informasi yang diteruskan oleh pastor paroki, informasi langsung dari umat paroki, atau laporan langsung dari pandangan mata tim kami yang berusaha semaksimal mungkin selalu kami bagi agar umat paroki selalu up to date berita terkini.

    Keterbatasan Kami

    Dalam bermedia sosial, tentu kami memiliki keterbatasan dan hambatan antara lain seperti misa online yang disiarkan setiap hari pada pukul 05.00 pagi serta setiap Minggu pukul 07.00 dan 18.00.

    Keterbatasan dalam artian kami menayangkan Perayaan Ekaristi secara live streaming dengan hanya ditunjang perangkat siar seadanya.

    Baca juga: Pandemi Telah Menjadi Waktu yang Menegangkan Bagi Para Imam

    Keadaan perangkat siar yang serba minim ini nyatanya tidak menyurutkan semangat kami untuk terus melayani agar umat Paroki Singkawang tetap merasakan hadirnya roh grerejawi di masa pandemi.

    Pesan Paus dalam Hari Komsos Se-Dunia

    Paus dalam Pesannya terkait Hari Komunikasi Sosial Se-Dunia yang ke-54 menyatakan, Berkat internet kita punya kesempatan untuk menceritakan apa yang kita lihat, apa yang terjadi di depan mata, dan saling berbagi kesaksian satu sama lain.

    Lihatlah, manfaat yang telah diberikan media sosial kepada kita, begitu besar dan begitu berpengaruh.

    Baca juga: Bahasa Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    Oleh karena itu, jangan beranggapan bahwa media sosial selalu memberikan dampak negatif bagi penggunanya, justru media sosial ketika digunakan dengan bijak dan benar akan membawa dampak positif yang sungguh dapat membantu kita dibidang manapun.

    Ucapan Terima Kasih

    Di akhir tulisan ini, kami ingin menghaturkan ribuan terima kasih kepada umat Paroki Singkawang yang selalu mendukung penuh usaha kami, Pastor Paroki, Pastor Joseph Juwono, OFMCap., yang selalu memfasilitasi, Pastor Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap., yang juga merupakan bagian dari pencetus ide pembuatan akun media sosial Paroki, Fr. Benedetto Benno, OFMCap dan Fr. Imanuel Chang, OFMCap, yang juga selalu mendampingi kami agar tetap eksis bersama umat Paroki Singkawang, Bapak Hermanto Halim, S. E, yang selalu mendukung kami terutama PSE Paroki Singkawang, serta Ketua Komisi Komunikasi Sosial kami, yakni Natalia Hesty T.H., M. Pd., yang selalu membimbing kami. Akhir kata, Selamat Merayakan 2 Tahun Kebersamaan Komsos Paroki Singkawang bersama umat. Terima kasih. Tuhan memberkati.)*

    Menilik kembali perjalanan Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak 1909-2009

    Dokumen: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Belajar dari perkembangan iman dari zaman rasul Paulus hingga perekembangan iman sampai ke seluruh dunia adalah sebuah titik bukti bahwa kuasa Allah menyertai perkembangan iman umatnya.

    Penyebaran iman sampai pada tanah Borneo yang dimana kala itu misi khusus Hinda-Belanda diserahkan kepada Jesuit. Melihat geografi Indonesia yang beragam dan luas, akhirnya misi khusus Borneo diserahkan kepada Kapusin negeri Belanda.

    Pasca diserahkannya tugas misi di Kalimantan (Borneo) kepada ordo Kapusin Provinsi negeri Belanda oleh Tahta Suci, kegiatan evangelisasi di Kalimantan tidak dapat dipisahkan dengan semangat Santo Fransiskus dari Assisi yang mengutamakan kerendahan hati, kemiskinan dan cinta kasih.

    Baca juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Evangelisasi menyeluruh merupakan kekhasan karya misionaris Kapusin melalui teladan hidup, karya dan kata.

    Maka, Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak yang didirikan oleh misionaris Kapusin membawa umat untuk hidup seturut Injil dan menyalurkan kesejahteraan kepada masyarakat sebagai bentuk cinta kasih Kristus bagi umat manusia tanpa membeda-bedakan.

    Status Gereja Katedral Pontianak

    Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak yang pada mulanya berstatus stasi kemudian berganti menjadi gereja induk misi di Kalimantan Barat dikarenakan letaknya yang strategis.

    Setelah Prefek Pastor Pacificus secara resmi tinggal di Pontianak, Paroki Katedral Santo Yosef berperan sentral untuk karya misi yang mencakup seluruh Kalimantan.

    Sebagai gereja paroki, kegiatan pembinaan umat dan pelayanan sakramental menjadi karya utama. Selain melaksanakan karya pastoral, gereja juga terlibat dalam karya amal dan sosial seperti mendirikan sekolah, asrama, dan rumah sakit.

    Ingatan awal karya misionaris di Kalimantan

    Baca Juga: Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    Awal abad ke-16, kapal-kapal asing dari belahan Barat mulai intensif berlayar ke dalam perairan pulau Kalimantan. Bersamaan dengan para pendatang asing, datang pula para misionaris Katolik Portugis (ordo Theatijn) untuk evangelisasi.

    Pater Antonius Ventimiglia berangkat dari pelabuhan Goa pada tanggal 5 Mei 1687.

    2 Februari 1688 kapal yang ditumpangi Pater Ventimiglia berlabuh di perairan Banjarmasin. Dari sinilah dimulai misi Katolik berkarya di pulau Kalimantan.

    Setelah sempat meninggalkan Kalimantan, Pater Ventimiglia kembali lagi pada tanggal 8 Januari tahun 1689 untuk memulai karya evangelisasinya.

    Karya Misi di Kalimantan Barat

    Pada tahun 1862, Pater van der Grinten berkeliling mengunjungi orang-orang suku Dayak di daerah pedalaman untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan untuk upaya misi masuk ke Kalimantan Barat.

    Namun dikarenakan tenaga imam yang sangat sedikit, serta kondisi situasi politik di Kalimantan Barat yang diwarnai oleh perselisihan antara kongsi (komunitas demokratis di kalangan masyarakat Tionghoa), pemerintah Belanda, dan penguasa lokal (kesultanan), maka karya misi menjadi agak terhambat pada masa itu.

    Baca Juga: Mulai Misi Parokial di Sambas dengan Sentuhan Kemanusiaan

    Pada tanggal 7 Mei sampai dengan 12 Juli 1874, Pater de Vries, SJ dan Pater Staal, SJ, misionaris dari Batavia (Jakarta) mengunjungi Pontianak, Sintang, Bengkayang, Sambas, Pemangkat, Singkawang & Montrado lalu mengangkat seorang katekis Tionghoa (sinsang) yang ditugaskan untuk mengajar agama Katolik pada masyarakat setempat.

    Pada tahun 1855, Singkawang ditetapkan sebagai Stasi dengan cakupan wilayah ke Kalimantan Barat termasuk Belitung.

    Pater W.J Staal, SJ yang ditetapkan sebagai pastor pertama Singkawang (kemudian ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Jakarta) mulai melayani umat dengan jumlah awal ± 200 orang Katolik Tionghoa yang berasal dari pulau Bangka.

    Perjalanan yang sulit

    Pater Staal menetapkan kampung Sebalau yang masuk wilayah stasi Singkawang sebagai basis utama pelayanan misi dan kemudian berlanjut menjangkau daerah pedalaman Sambas, Bengkayang dan daerah-daerah sekitarnya. Kawasan-kawasan lainnya seperti daerah sepanjang sungai Kapuas sampai Semitau, pemukiman masyarakat suku Dayak Rambai, Sebruwang dan Kantuk juga mendapatkan kunjungan dalam rangka pelayanan misi.

    Namun dikarenakan perjalanan yang sulit (jarak tempuh yang jauh dan harus dilalui dengan transportasi air), kondisi-kondisi lainnya yang memperparah keadaan serta tenaga imam yang terbatas, penginjilan bagi suku-suku Dayak di pedalaman ditunda sampai dengan tahun 1888-1889.

    Baca Juga: Secuplik Surat Tentang Kisah Misi di Borneo- Keuskupan Agung Pontianak

    Pada tanggal 29 Juli 1890, Pater H. Looymans, pastor yang berkarya di Padang, tiba di Kalimantan Barat untuk melakukan misi yang ditugaskan padanya di pedalaman Kalimantan Barat. Pusat kegiatan misinya kemudian difokuskan di daerah Sejiram.

    Buah karya penggelembalaan Pater H. Looymans adalah tujuh orang murid pertama dipermandikan dalam bulan Desember 1892 dan juga mempermandikan 40 orang di wilayah Nanga Badau.

    Pada pertengahan 1892 Pater H. Looymans berupaya mengirim beberapa pemuda suku Dayak ke pulau Jawa untuk dididik menjadi guru dan katekis sebagai usaha mengatasi krisi tenaga.

    Pada tahun 1884, para imam yang ada di Singkawang dan Sejiram ditarik dan dikirim ke Flores, mengingat karya misi di Kalimantan Barat dinilai tidak berjalan dengan baik.

    Pada tanggal 18 Februari 1905, Prefektur Apostolik Borneo didirikan dan mencakup seluruh pulau Kalimantan yang dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda. Prefektur ini dipercayakan kepada Ordo Kapusin dan para biarawan dari Ordo Kapusin Belanda bertugas untuk segera mengisi kekosongan karya misi di Kalimantan Barat.

    Baca juga: Museum Kapusin, Pusaka Dayak & Tionghua di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

    Pada tanggal 10 April 1905. Pastor Pacificus Bos, OFMCap ditunjuk sebgai Prefek Apostolik Borneo.

    Pada tanggal 26 Mei 1905, Pastor Pacificus BOS, OFMCap sebagai Prefek Apostolik Borneo diterima oleh Bapa Suci Paus Pius X dalam audiensi di Roma dan ia mendapat berkat khusus dari Bapa Suci.

    Pada tanggal 28 April 1905, ditetapkanlah para misionaris yang akan diutus untuk melakukan misi di Kalimantan Barat, antara lain: Pastor Pacificus Bos, OFMCap, Pastor Eugenius van Disseldrop, OFMCap, Pastor Beatus Baijens, OFMCap, Pastor Camillus Buil, OFMCap, Bruder Wilhelmus Verhulst, OFMCap dan Bruder Theodoricus van Lanen, OFMCap.

    Pada 17 Oktober 1905, pukul 08:00, didahului dengan misa yang dipersembahkan oleh Pastor Pacificus Bos, ratusan masyarakat Tilburg & Walikota melepas para misionaris Kapusin Belanda menuju Kalimantan.

    Pada tanggal 30 November 1905, sekitar pukul 15:00, mereka tiba di muara sungai Singkawang. Keesokan harinya diadakan misa kudus yang dipersembahkan oleh para misionaris yang baru tiba di Singkawang.

    Baca juga: HUT Tahbisan Episkopal ke-45 Emerius Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM. Cap- Keuskupan Agung Pontianak

    Selama melakukan pewartaan Kabar Baik di Singkawang, para misionaris ini ditemani oleh seorang katekis bernama Tshang A Kang yang telah 10 tahun melayani umat Katolik.

    Dua tahun setelah kehadiran mereka di Singkawang, stasi-stasi baru mulai didirikan antara lain di Pemangkat dan Pelanjau, juga gereja-gereja kecil mulai dibangun di berbagai tempat. Secara berkala para misionaris mendatangi gereja-gereja tersebut untuk mempersembahkan misa dan mengajar.

    Kronologis singkat misi di Pontianak

    Di akhir tahun 1906, Pastor Beatus ditugaskan ke kota Pontianak untuk melihat kemungkinan melakukan karya misi dan kemudian diputuskan bahwa setiap tahun akan dikirim seorang imam untuk melayani umat di Pontianak.

    Pada bulan Maret 1908, Pontianak ditetapkan oleh Pastor Pacificus sebagai bagian dari karya misi mereka karena letaknya yang sangat strategis sebagai tempat transit pergi dan pulang para misionaris Kapusin yang akan ke daerah pedalaman maupun sebaliknya.

    Pada bulan Juni-Juli 1908, dalam kunjungannya ke Pontianak bersama dengan Bruder Wilhelmus Verhulst (melalui bantuan umat), Pastor Pacificus akhirnya dapat menyewa sebuah rumah di daerah pasar di tepi sungai Kapuas.

    Baca Juga: Ulang Tahun Imamat Pastor Edmund C. Nantes, OP Dirayakan dengan Misa Syukur dan Santap Bersama

    Rumah tersebut terdiri dari lantai bawah yang diisi dengan ruang doa, dan ruang pertemuan dengan umat sekaligus dijadikan tempat katekumen. Di bagian atas, tersedia pula sebuah kamar tidur yang dikhususkan bagi imam yang sedang bertugas di kota. Untuk melengkapi rumah itu, dibuat lagi sebuah ruang dapur dan kamar mandi.

    Karena keterbatasan ruangan & belum adanya sebuah gereja, untuk sementara ruang besar Landraad (Kehakiman) dipinjam untuk melangsungkan perayaan Ekaristi yang setiap minggu dipenuhi oleh umat Katolik bangsa Eropa dan orang Tionghoa.

    Pastor Remigius ditetapkan untuk melayani karya pastoral di wilayah ini.

    Setelah berhasil menyewa rumah, Pastor Pacificus bermaksud untuk membangun gereja, tempat tinggal dan sekolah untuk para yatim piatu. Hal ini segera disampaikan kepada Asisten Residen van Pontianak yang langsung menyetujui gagasan tersebut.

    Pada 4 Juli 1908, Pastor Pacificus mengirimkan berita kepada Provinsial Belanda tentang maksud pembelian tanah sekaligus mengundang Tshang A Kang dari Singkawang untuk datang dan membantu menawar harga tanah.

    Baca juga: Paus Fransiskus mendorong jurnalis untuk selalu mencari kebenaran

    Lanjut pada 14 Juli 1908, 3 (tiga) bidang tanah yang akan digunakan untuk gereja, pastoran dan tempat tinggal anak-anak yatim piatu berhasil dibeli dengan harga fl 2.230, juga sebidang tanah seharga fl 500 yang diperuntukkan bagi susteran (fl adalah mata uang Belanda yang digunakan pada saat itu).

    Tepat pada 19 Juli 1908, Pastor Pacificus membeli 1 (satu) bidang tanah lagi yang dialokasikan untuk pekuburan.

    Melalui bantuan Van Noort, arsitek militer pada pemerintahan Belanda, bangunan gereja stasi Pontianak didesain dengan ukuran 20 x 11 meter dan diestimasi memerlukan biaya pembangunan sebesar fl 8.000-fl 9.000.

    Pada 21 Januari 1909, Pastor Pacificus resmi pindah dan menetap di Pontianak bersama Pastor Remigius dan Bruder Wilhelmus.

    Baca juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    Akhirnya pembangunan gereja Katolik pertama di Pontianak berhasil dirampungkan pada Desember 1909 yang ditandai dengan pemberkatan gedung gereja oleh Pastor Pacificus.

    Setelah bangunan gereja telah rampung, bangunan tempat tinggal para suster dan pastor pun turut dirancang. Di akhir bulan Desember 1910, Pastor Pacificus, Pastor Remigius bersama para bruder pindah dari rumah kontrakan dan menetap di gedung samping pastoran.

    Pada awal tahun 1911, pembangunan sekolah dimulai dan dibantu oleh para bruder Kapusin hingga pada 23 Februari 1913. Sekolah tersebut rampung dan diresmikan serta diberkati. Keesokan harinya, sebanyak 35 siswa mendaftar dan diterima.

    Atas antusiasme yang cukup baik terhadap sekolah yang pertama, maka diputuskan untuk dibangun lagi sebuah sekolah yang dikhususkan bagi perempuan. Pada tanggal 3 Agustus 1913 gedung sekolah kedua tersebut rampung dan berhasil menerima 27 orang siswi. (Sumber: Dokumen Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak-Buku Sejarah Katedral Pontianak- diolah kembali: Samuel- Majalah DUTA).

    Ethiopia: Genosida Sedang Terjadi di Tigray

    Anadolu Agency melalui AFP. Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    MajalahDUTA.Com, Ethiopia – Sebuah sumber mengatakan kepada Badan Amal Katolik, Aid to the Church in Need, bahwa tentara dari negara tetangga Eritrea terus membantai dan memperkosa warga sipil.

    Berita ini dirilis dari Aleteia yang diterbitkan pada 06/02/21. Bahwa penargetan kaum muda, pembunuhan tanpa pandang bulu dan kekerasan seksual yang meluas termasuk pemerkosaan terhadap biarawati adalah bagian dari genosida terhadap kelompok etnis Tigrayan di Ethiopia utara, menurut sumber yang dekat dengan Gereja.

    Baca Juga: Michael Haddad: Paus memberkati aktivis iklim, meminta doa di Kutub Utara

    Sumber itu, yang tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan kepada Badan Amal Katolik Aid to the Church in Need (ACN) bahwa tentara dari negara tetangga Eritrea, yang memasuki negara itu untuk mendukung pasukan federal Ethiopia, terus membantai warga sipil.

    Kekerasan Seksual 

    Sumber ACN mengatakan: “Ini jelas genosida terhadap rakyat Tigray. Ini bukan hanya berkelahi; mereka membunuh semua orang dan hal itu adalah tanda genosida. Banyak orang melarikan diri dari Tigray ke Sudan dan beberapa dari mereka, terutama kaum muda, melarikan diri karena menjadi sasaran. Mereka sengaja menyasar kaum muda. Orang-orang muda dibunuh, wanita-wanita kami dilecehkan dengan pelecehan seksual itu adalah tanda genosida itu sendiri.”

    Sumber tersebut adalah yang terbaru untuk mengklaim serangan tersebut merupakan genosida, mengikuti Patriark Mathias, kepala Gereja Ortodoks Ethiopia, yang awal bulan ini menggambarkan peristiwa tersebut termasuk pemerkosaan wanita dan pemboman gereja di wilayah tersebut sebagai genosida.

    Baca Juga: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Sumber itu selanjutnya menggambarkan serentetan pelecehan seksual yang dialami perempuan Tigrayan, termasuk biarawati, di tangan pasukan dari negara tetangga Eritrea: “[Kerabat kami], saudara perempuan kami telah diperkosa. Beberapa dari mereka harus kami bawa ke rumah sakit, bahkan biarawati telah diperkosa. Para wanita dan gadis-gadis menerima jenis pelecehan yang berbeda, seperti yang belum pernah anda dengar sebelumnya, dan hal-hal yang sangat buruk. Beberapa tempat yang dapat membantu untuk mendukung kami ditutup oleh tentara.”

    November lalu, pertempuran pecah di Tigray setelah Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed mengirim pasukan federal, dengan dukungan pasukan dari Eritrea, untuk melawan Front Pembebasan Rakyat Tigray, yang dia tuduh mengadakan pemilihan tidak sah.

    Dukungan Internasional 

    Sumber itu mengatakan: “Situasi seperti yang anda dengar sangat, sangat buruk. Di sini hampir 90 persen orang di Tigray mengungsi. Perang ini telah membawa krisis kemanusiaan yang besar, yang dimanifestasikan dengan jumlah pembunuhan sipil yang luar biasa, jutaan pengungsi, penghancuran fondasi ekonomi dan sosial, rasa sakit dan kepanikan psikologis. Dalam hal ini, yang paling terpengaruh adalah ibu hamil, anak-anak, penyandang cacat. dan anggota masyarakat lanjut usia.”

    Sumber Asli Naskah: https://aleteia.org/2021/06/02/ethiopia-genocide-is-happening-in-tigray/

    Sumber itu menekankan bahwa kawasan itu sangat membutuhkan dukungan internasional: “Gereja ada di mana-mana ia membuka tangannya. Saya ingat Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan, saya ingat untuk waktu yang lama kita adalah mitra, anda sangat baik. Krisis saat ini di Tigray tidak ada bandingannya dengan krisis kemanusiaan yang terjadi pada tanggal yang kita ingat.”

    Bantuan ACN untuk Tigray termasuk dukungan darurat untuk biarawati dan biksu serta tunjangan massal. Sejak 2019 ACN telah mendukung hampir 100 proyek di Ethiopia termasuk pembangunan kapel dan biara, pembentukan katekis dan dukungan untuk transportasi. (Sumber: Aleteia/diolah kembali oleh Winda – MD) 

    Pandemi Telah Menjadi Waktu yang Menegangkan Bagi Para Imam

    Pascal Deloche | Godong. - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Imam-psikolog menawarkan ide-ide tentang cara untuk mengatasinya, dan bagaimana kaum awam dapat membantu pastor mereka.

    Dirilis dari Aleteia, diterbitkan pada 06/02/21. Selama 15 bulan terakhir pandemi COVID-19 membuat banyak imam Katolik melaporkan perasaan kehilangan identitas, menurut seorang psikolog Kanada.

    Baca Juga: Momen Persaudaraan: Mengenang Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak

    Harus berkhotbah di bangku-bangku kosong dan harus membatasi orang masuk ke gereja, tidak dapat mengunjungi orang sakit atau yang terikat di rumah, membatalkan acara, dan tidak mendengar jemaat bernyanyi, semuanya “sangat sulit” bagi para imam, kata Pastor. Stephan Kappler, presiden dan kepala psikolog di Southdown, sebuah organisasi berbasis di Ontario yang mendukung kesehatan mental umat beragama dan pendeta.

    Imam Katolik

    “Banyak yang berkata kepada saya, ‘kami tidak pernah berpikir bahwa kami akan menjadi petugas polisi di paroki,’” Fr. Kappler mengatakan kepada B.C. Catholic, surat kabar Keuskupan Agung Vancouver, British Columbia. “Alih-alih merawat secara pastoral untuk orang-orang mereka, yang mereka lakukan hanyalah mengatakan, ‘Tidak, maaf, Anda harus mendaftar.’”

    Tidak berakhir di sana. Surat kabar itu melaporkan:

    “Apa yang saya lihat bekerja adalah agar orang yang benar-benar sadar tentang dukungan sosial,” kata Kappler kepada surat kabar itu. “Dengan kata lain, Anda harus berusaha dan berencana untuk menjangkau dan terhubung.”

    Baca Juga: Proyek “Alasan untuk Harapan Kita” mempromosikan dialog Kristen-Muslim

    Isolasi dan kesepian untuk waktu yang lama “biasanya tidak memberi makan strategi positif atau adaptif,” katanya. “Mereka biasanya makan hal-hal yang maladaptif, seperti terlalu banyak konsumsi alkohol atau hal-hal lain yang mematikan.”

    Perfeksionisme 

    Dia mendorong para imam untuk menyisihkan waktu melakukan percakapan berkualitas dengan orang-orang yang mereka percayai, lakukan setiap hari pada satu waktu, tetap membumi di dalam Yesus, dan mencari bantuan jika mereka membutuhkannya.

    “Ada persentase yang tinggi dari kita pendeta yang perfeksionis,” lanjutnya. “Perfeksionisme di satu sisi adalah hal yang baik karena membuat anda efisien, bertanggung jawab, dan anda ingin melakukan hal-hal dengan standar yang sangat tinggi, tetapi juga membutuhkan biaya yang cukup tinggi, dan biaya itu adalah tidak ada ruang untuk kelemahan.”

    Sumber Asli Naskah: https://aleteia.org/2021/06/02/the-pandemic-has-been-a-stressful-time-for-priests/

    Sementara orang-orang pada umumnya mengalami kesulitan meminta bantuan, masalahnya lebih buruk bagi pendeta, katanya kepada B.C. Katolik. “Saya telah mengalaminya dengan para pendeta, secara eksponensial lebih menantang untuk mengatakan ‘Saya butuh bantuan.’ Terkadang para pendeta diletakkan di atas alas dan masih ada stigma yang melekat pada kesehatan mental.”

    Orang awam tentu saja bisa membantu dengan doa. Tetapi Kappler juga menyarankan untuk menulis sebuah kartu atau surat dengan pesan dorongan sederhana, jaminan doa, dan kemungkinan tawaran dukungan.

    “Hanya untuk mengetahui bahwa Anda dipikirkan dan Anda tidak sendirian dalam hal ini,” katanya, “itu sudah sangat jauh.” (Sumber: Aleteia/diolah kembali Winda-MD). 

    Michael Haddad: Paus memberkati aktivis iklim, meminta doa di Kutub Utara

    Pope Francis blesses Michael Haddad at Wednesday's General Audience - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Setelah pertemuan singkat dengan Paus Fransiskus di Audiensi Umum mingguan, Michael Haddad menjelaskan berkat Paus atas tujuannya untuk berjalan 100 km melintasi Arktik.

    Diterjemahkan dari Vatikan News pada 02 Juni 2021, 17:03 waktu Vatikan, Michael Haddad yang telah lumpuh dari pinggang ke bawah sejak ia berusia enam tahun, setelah kecelakaan jet ski yang menyebabkan cedera tulang belakang. Namun, dia tidak membiarkan peristiwa tragis itu memengaruhi dorongannya untuk menjalani hidup sepenuhnya.

    Lahir di daerah Gunung Lebanon Lebanon, Michael menjadi atlet profesional dan, sejak 2016, menjadi Duta Besar Niat Baik Regional untuk Aksi Iklim dari Program Pembangunan PBB. Pada hari Rabu, ia bertemu sebentar dengan Paus Fransiskus di akhir Audiensi Umum mingguan.

    “Kecacatan hanyalah keadaan pikiran.”

    Berbicara kepada Vatican News setelah pertemuan itu, Michael menggambarkan bagaimana dia bangkit setelah kecelakaannya pada usia enam tahun dan memulai hidup baru.

    Baca juga: “Kami Bersyukur, Masih Ada Orang yang Peduli,” ujar Asong

    Pekerjaannya sangat berat, kelelahannya luar biasa, dan tantangannya bermacam-macam, katanya. Pada awalnya satu-satunya kemungkinan gerakannya adalah kursi roda, lalu kruk, dan akhirnya beberapa langkah pertama yang tidak pasti.

    Michael, bagaimanapun, telah mengatasi mereka semua. Berkat kemajuan medis dan penelitian ilmiah, ia sekarang dapat bermain ski dan mendaki gunung dengan bebas, dan ia memegang tiga rekor dunia. Berkat imannya, ia didorong oleh nyala api yang membantunya tidak hanya menjadi damai (“Biarkan Disabilitas Anda Menjadi Kekuatan Anda”, yang merupakan motonya, tetapi juga seorang pembicara motivasi dan contoh bagi banyak orang yang menghadapi kesulitan serupa.

    “Tidak ada yang tidak mungkin,” kata Michael kepada Vatican News. “Sebagai orang yang tidak mungkin berjalan atau bahkan berdiri tanpa bantuan, atau bahkan duduk tanpa bantuan, saya memutuskan untuk menggali potensi saya. Dan saya menemukan bahwa tidak ada yang tidak mungkin.

    Dibutuhkan dua hal: Iman dan tekad. Jadi, iman adalah keyakinan pada diri kita sendiri, keyakinan pada Pencipta dan keyakinan bahwa di dalam diri kita ada kekuatan tak terbatas untuk melampaui. Dan tekad adalah bahwa tidak ada yang datang dengan mudah. ​​Kita harus membuat pilihan ini, bertekad dan bergerak maju.”

    Berjalan berkat alat bantu

    Michael dapat bergerak dan berjalan dengan bantuan kerangka luar (exoskeleton) khusus yang dikembangkan oleh tim insinyur, dokter, dan peneliti yang memberikan stabilitas pada batang tubuh, bahu, dan lengannya.

    Dengan demikian, ia mampu mendorong tubuhnya ke depan dan berjalan selangkah demi selangkah. Bangun dari kursi roda, terutama setelah lama duduk, sangat melelahkan, tetapi Michael tidak menyerah.

    Alih-alih duduk, dia bersikeras diwawancarai sambil berdiri di Lapangan Santo Petrus.

    Baca juga: Momen Persaudaraan: Mengenang Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak

    “Aku kuat,” dia meyakinkan. Dia pertama-tama meregangkan kaki kanannya, lalu kirinya, dan akhirnya berdiri dan menyesuaikan dasinya. Tidak pernah sekalipun selama upaya ini dia meringis kesakitan. Senyum terus menyebar di wajahnya, yang—pada usia 40—masih mempertahankan beberapa fitur kekanak-kanakan.

    “Tersenyum, itu juga misi. Itu adalah ekspresi kebahagiaan yang saya bawa ke dalam. Salah satu tujuan hidup adalah bahagia; Yesus menyuruh kita mengubah ketakutan menjadi sukacita.”

    Pertolongan iman

    Michael adalah seorang yang percaya: “Saya seorang Kristen, dan saya percaya kepada Yesus Kristus,” katanya, menegaskan bahwa iman telah membantunya dalam setiap pertempuran. Imannya juga telah membantunya dalam pertempuran sehari-hari—yang disebutnya sebagai “misi agungnya”: untuk menarik perhatian dunia pada masalah lingkungan.

    Baca juga: Kisah Sang Missionaris Bruder Rufinus, MTB berbakat musik, suaranya merdu dan Baik hati

    “Saya memutuskan untuk berjalan,” jelasnya, “karena bumi duduk di kursi roda. Kita harus bersatu untuk menyelamatkan diri kita sendiri, untuk menyelamatkan planet kita dan saya melakukannya di bawah satu panji. Perserikatan Bangsa-Bangsa kita berdiri bersama di seluruh dunia. dunia untuk membuat perubahan ini. Dan kita harus melakukannya sekarang.”

    Mendaki, bermain ski, maraton, dan sekarang: Kutub Utara

    Michael telah mendaki gunung dan melintasi gurun. Dia juga telah berpartisipasi dalam dua maraton: satu di Kairo, yang lain di Beirut—di negara asalnya, Lebanon—untuk mengumpulkan dana bagi rekonstruksi rumah sakit yang hancur akibat ledakan di pelabuhan pada Agustus 2020.

    Sekarang dia memiliki misi lain: berjalan 100 kilometer di Kutub Utara. Itu adalah petualangan yang seharusnya dia lakukan pada tahun 2020, tetapi ditunda karena pandemi. Misi sekarang dijadwalkan untuk Februari atau Maret 2022.

    Baca Juga: Tujuh Pesan Fatima: Penjelasan Kardinal Ratzinger (Paus Benediktus XVI)

    “Tentu saja, ini sebuah tantangan,” kata Haddad. “Perjalanan 100 kilometer ke Kutub Utara bukan hanya sebuah pesan, tetapi juga kontribusi bagi sains. Saya bekerja dengan tim sains yang hebat dan telah dianggap sebagai salah satu dari sedikit orang di dunia yang dapat melakukan hal seperti ini dalam kondisi saya. Jadi, semua yang kami rencanakan sebelum, selama, dan setelah perjalanan ini akan berkontribusi pada penelitian ilmiah untuk membantu orang lain berjalan lagi melalui teknologi baru.”

    Kata Paus kepada Michael: “Berdoalah untukku di Kutub Utara”

    Saat dia duduk di barisan depan Audiensi Umum di Halaman San Damaso Vatikan pada hari Rabu, didampingi oleh Theresa Panuccio, perwakilan resmi dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), Michael memberi tahu Paus tentang tujuannya, dan memintanya untuk berkat untuk misinya di Kutub Utara.

    “Ketika saya menceritakan kisah saya kepada Bapa Suci, dia meletakkan tangannya di atas kepala saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa kami mencoba membawa pesan kemanusiaan, demi bumi dan lingkungan. Dia memberkati saya, dan saya berkata, ‘Bapa , tolong doakan saya.’ Dia menjawab, ‘Anda berdoa untuk saya di Kutub Utara.’ Saya tidak bisa menghilangkan kalimat itu dari kepala saya. Itu memberi saya kekuatan dan begitu banyak bahan untuk dipikirkan. Saya merasa lebih berkomitmen, dan Saya akan menghadapi tantangan ini bersama dengan Paus daripada sendirian.”

    Dua hadiah: simbol Lebanon

    Michael bahkan membawa dua hadiah untuk Paus Fransiskus.

    Yang pertama adalah cabang pohon cedar, simbol tanah airnya, Lebanon, sebuah negara yang oleh Paus St. Yohanes Paulus II disebut “sebuah pesan”.

    “Pohon cedar Lebanon adalah pohon abadi. Disebutkan beberapa kali dalam Alkitab, dan disebut cedar Tuhan,” jelas Michael.

    Dia juga memberi Paus foto sebuah gereja yang terletak di salah satu hutan cedar tertua di dunia.

    Baca juga: Pembedaan Roh: Pastor Eksorsis Keuskupan Agung Pontianak, P. Johanes Robini Marianto, OP

    “Kayu cedar menghubungkan Bumi 10.000 tahun yang lalu. Dengan kayunya, kapal dibuat dan koneksi menyebar ke seluruh dunia. Tanpa planet yang sehat tidak ada manusia yang sehat.”

    “Terima kasih,” ulang Paus beberapa kali, dan Michael meminta Bapa Suci untuk berfoto selfie dengannya. Sekarang dia dengan bangga bisa menampilkan foto itu di layar smartphone-nya. (Sumber terjemahan: VatikanNews- Salvatore Cernuzio & Felipe Herrera-Espaliat/ L-MD).

    Momen Persaudaraan: Mengenang Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak

    Pope Francis in Mosul during his Apostolic Journey to Iraq (Vatican Media)-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Para pemimpin Kristen dan Muslim berkumpul pada hari Kamis untuk webinar untuk berbagi wawasan mereka tentang kunjungan bersejarah Paus ke Irak pada awal Maret.

    Dirilis dari Vatikan News pada 03 Juni 2021, 14:56 waktu vatikan, dikatakan Komite Tinggi untuk Persaudaraan Manusia menyelenggarakan webinar tentang “Momen Persaudaraan Manusia: Dampak dari kunjungan bersejarah Paus Fransiskus ke Irak” pada hari Kamis.

    Acara tersebut mempertemukan para pemimpin agama dan sipil dari seluruh Timur Tengah untuk berbagi wawasan mereka tentang pentingnya Perjalanan Kerasulan Paus ke Irak, dan menawarkan pemikiran mereka tentang langkah selanjutnya dalam membangun kembali Irak, dan bagaimana negara tersebut dapat mempromosikan stabilisasi, rekonsiliasi, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

    Mosaik yang indah untuk koeksistensi (coexistence:  hidup berdampingan)

    Sekretaris Jenderal Komite Tinggi, Hakim Mohamed Abdelsalam, membuka webinar, menjelaskan, “Kita berkumpul di sini hari ini untuk memikirkan bersama tentang bagaimana kita dapat menginvestasikan kunjungan Paus ini dan membantu saudara-saudara kita di Irak tercinta, sebuah negara yang membentuk tatanan sosial yang indah dan mosaik yang indah untuk koeksistensi manusia.”

    Baca juga: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Gambaran indah ini, bagaimanapun, telah dirusak oleh perang, konflik dan terorisme, yang telah “meninggalkan luka besar di tubuh Irak.”

    Perjuangan Irak “menggerakkan Bapa Suci, yang tidak bisa melihat air mata orang-orang ini tanpa ingin menghapusnya.”

    Hakim Abdelsalam meyakinkan peserta bahwa Komite Tinggi akan “melakukan yang terbaik untuk membangun kunjungan bersejarah Bapa Suci ini,” menambahkan bahwa dia berharap Imam Besar Al-Azhar juga dapat mengunjungi Irak, untuk “menyelesaikan gambaran Persaudaraan Manusia.”

    Kita semua bersaudara

    Di antara pembicara utama di webinar adalah Kardinal Luis Raphaël I Sako, Patriark Babel dan kepala Gereja Katolik Kasdim. Dia menyatakan harapannya bahwa para peserta akan “mencapai visi dan rencana kerja untuk mengimplementasikan apa yang ditunjukkan Paus dalam pidato dan pertemuannya.”

    Kardinal Sako menjelaskan bahwa Paus Fransiskus, yang datang ke Irak di tengah konflik, ekstremisme, dan pandemi virus corona, membawa “satu pesan yang berpengaruh”: “Kita semua adalah saudara terlepas dari perbedaan kita, kita harus menghormati keragaman dan bergandengan tangan untuk membangun masyarakat yang lebih baik.”

    Baca Juga: Paus Fransiskus memuji biarawati AS untuk pekerjaannya menyambut para migran

    Patriark mencatat bahwa Paus juga menunjukkan “satu-satunya cara untuk menempuh jalan untuk mencapai perdamaian, stabilitas, kebebasan, dan martabat bagi setiap manusia adalah dengan menahan senjata.”

    Sebuah tonggak untuk dialog antaragama

    Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Kardinal Miguel ngel Ayuso Guixot, mengatakan, “Seluruh perjalanan ke Irak sangat penting. Setiap momen ditandai dengan gerakan dan kata-kata yang meninggalkan bekas.” Bersamaan dengan penandatanganan Document on Human Fraternity di Abu Dhabi pada 2019, kunjungan ke Irak merupakan “tonggak penting dalam jalur dialog antaragama.”

    Menggemakan Patriark, Kardinal Ayuso mengatakan Paus Fransiskus, “pergi ke Irak sebagai seorang pendeta untuk memberi tahu rakyat Irak: Anda semua adalah saudara.” Ini bukan sekadar “persaudaraan teoretis,” Kardinal Ayuso menjelaskan. Sebaliknya, itu adalah panggilan bagi setiap orang “untuk berkomitmen ‘sehingga impian Tuhan menjadi kenyataan: bahwa keluarga manusia dapat menjadi ramah dan menyambut semua anak-anaknya, yang, memandang langit yang sama, berjalan dalam damai di jalan yang sama. bumi.'”

    Baca juga: Paus Fransiskus mengirimkan pesan video untuk Minggu ke-50 Hidup Bakti

    Kardinal Ayuso menyoroti kunjungan kehormatan Paus ke Grand Ayatollah Sayyid Ali al-Husayni al-Sistani sebagai kontribusi yang “sangat penting” untuk membangun persaudaraan di antara orang Kristen dan Muslim.

    Demikian pula, pertemuan doa di Dataran Ur – rumah Abraham, ayah dari tiga agama monoteistik besar – “adalah kesempatan untuk berdoa bersama dengan orang-orang percaya dari tradisi agama lain … untuk menemukan kembali alasan koeksistensi antara saudara, untuk membangun kembali tatanan sosial di luar faksi dan etnis, dan untuk mengirim pesan ke Timur Tengah dan ke seluruh dunia.” Di Ur, lanjutnya, Paus menjelaskan bahwa “religiusitas sejati” adalah yang “menyembah Tuhan dan mencintai sesama.”

    Membangun kembali Irak

    Webinar hari Kamis juga menyertakan Asisten Direktur Jenderal UNESCO, Ernesto Ottone Ramirez yang, bersama dengan Pastor Olivier Poquillon dari Dominika, menyoroti inisiatif “Bangkitkan Semangat Mosul” UNESCO.

    Menteri kebudayaan dari Irak dan UEA menekankan tantangan bersama yang dihadapi masyarakat di wilayah tersebut. Perwakilan komunitas Islam Irak – Dr Sayyed Jawad Al-Khoei, salah satu pendiri Dewan Irak untuk Dialog Antaragama; dan Sheich Abdel-Wahab Taha Al-Sammerai, Imam Masjid Abu Hanifa di Baghad – juga berbicara di acara tersebut. (Sumber: VatikanNews/Christopher Wells-diolah: Semz-MD).

    Proyek “Alasan untuk Harapan Kita” mempromosikan dialog Kristen-Muslim

    Reasons for Our Hope project promotes Christian - Muslim dialogue (©koszivu - stock.adobe.com)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Proyek “Alasan untuk Harapan Kami”,yang dipromosikan oleh Oasis International Foundation dan McGrath Institute for Church Life, bertujuan untuk membantu orang Kristen mencapai “pemahaman baru tentang iman mereka dengan menanggapi pertanyaan Muslim dengan serius.”

    Dirilis dari Vatikannews oleh Vatican News staff writer pada 02 Juni 2021, 13:43 waktu vatikan. Dalam tulisan  berita tersebut mengungkapkan usaha menjawab pertanyaan dan stereotip yang mungkin dimiliki umat Islam tentang Kekristenan, Oasis International Foundation, bekerja sama dengan McGrath Institute for Church Life, telah meluncurkan proyek “Alasan untuk Harapan Kita” untuk membuka jalur pertukaran.

    Rangkaian video dalam proyek ini bertujuan untuk menjelaskan “mengapa orang Kristen tetap menjadi orang Kristen” dan berbagi “alasan untuk harapan kita.” Pada saat yang sama, ia berusaha membantu orang Kristen mencapai “pemahaman baru tentang iman mereka dengan menanggapi pertanyaan Muslim secara serius.”

    Baca Link: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Didirikan pada tahun 2004 di Venesia oleh Kardinal Angelo Scola, Oasis International Foundation mempelajari interaksi dan menumbuhkan saling pengertian antara orang Kristen dan Muslim, di dunia kita yang ditandai dengan hibridisasi peradaban dan budaya.

    Terinspirasi oleh Paus St. Yohanes Paulus II

    Informasi tersebut dijelaskan lebih lanjut bertujuan untuk proyek dan yayasan mengambil inspirasi dari kata-kata Paus St. Yohanes Paulus II dalam suratnya tahun 2001 kepada semua umat Katolik (Novo Millennio ineunte, 55 – 56), di mana ia menguraikan prioritas Gereja untuk milenium baru.

    Paus St. Yohanes Paulus II memberikan tempat khusus untuk berdialog, menekankan bahwa itu “akan menjadi sangat penting dalam membangun dasar yang pasti bagi perdamaian dan menangkal momok yang menakutkan dari perang agama yang telah begitu sering berdarah dalam sejarah manusia.”

    Baca juga: Dari Berpikir Terus-Menerus Menuju Berdoa Terus-Menerus

    Namun, santo Polandia memperingatkan bahwa dialog tidak dapat didasarkan pada ketidakpedulian agama. Sebaliknya, orang Kristen “berkewajiban, ketika terlibat dalam dialog, untuk memberikan kesaksian yang jelas tentang harapan yang ada di dalam kita”, sementara “mendekati dialog dengan sikap kesediaan yang mendalam untuk mendengarkan.”

    Percaya pada Roh Allah yang “bertiup ke mana Dia kehendaki” dan yang membantu “para pengikut Kristus untuk memahami lebih dalam pesan yang mereka bawa,” Paus St. Yohanes Paulus II mendesak umat beriman untuk mengambil “sikap keterbukaan, dikombinasikan dengan penegasan hati-hati” yang diadopsi oleh Konsili Vatikan II dalam kaitannya dengan agama-agama lain.

    Serangkaian video

    Dalam tiga video pendahuluan yang telah dirilis, proyek ini menjawab pertanyaan-pertanyaan penting dan menyajikan pola-pola di alam semesta baik Alkitab maupun Al-Qur’an.

    Video pertama menguraikan persamaan dan perbedaan antara Al-Qur’an dan presentasi Alkitab tentang Yesus dan misinya.

    Sumber Asli Naskah: https://www.vaticannews.va/en/church/news/2021-06/reasons-for-our-hope-oasis-christian-muslim-mcgrath.html 

    Video kedua menunjukkan tempat Yesus dalam Al-Qur’an, mengeksplorasi pemahaman Islam tentang sejarah, hukum yang mengaturnya dan bagaimana Yesus cocok dengannya; sedangkan yang ketiga mengeksplorasi tempat Yesus, Juruselamat kita, di dalam Alkitab.

    Video lebih lanjut akan dirilis dalam beberapa hari mendatang. (Sumber: VatikanNews- oleh Vatican News staff writer/ diolah kembali Semz-MD).

    TERBARU

    TERPOPULER