MajalahDUTA.Com | Wakil Ketua I Panitia Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026,Stanislaus Andes, S.E., M.Pd., mengajak mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) untuk tampil sebagai generasi muda Dayak yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecintaan kuat terhadap budaya dan identitas leluhur.
Pesan itu disampaikannya bertepatan dengan rangkaian Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026 yang diawali dengan Misa Syukur pada Jumat (15/5/2026).
Menurut Andes, perayaan PGD bukan sekadar agenda budaya tahunan atau pesta panen, tetapi momentum penting untuk memperkuat jati diri generasi muda Dayak di tengah tantangan zaman modern.
“Ajang Bujang dan Dara bukan sekadar kompetisi untuk mencari siapa yang paling menonjol. Ini adalah panggung pembuktian diri sebagai generasi muda yang berakar kuat pada tradisi, namun tetap visioner menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.

Secara khusus, Andes memberikan motivasi kepada mahasiswa AKUB yang mengikuti ajang Bujang dan Dara PGD XL 2026.
Andes menilai keberanian para mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan budaya merupakan bentuk nyata bahwa intelektualitas harus berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap budaya lokal.
Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya mengejar pencapaian akademik semata, tetapi juga perlu memiliki kepedulian terhadap warisan budaya dan identitas masyarakat Dayak.
“Kepada anak-anakku mahasiswa AKUB, saya menaruh harapan besar. Di AKUB, kita dididik untuk memiliki ketelitian, integritas, dan kecerdasan dalam mengelola masa depan. Bawalah semangat itu ke panggung Pekan Gawai Dayak ini,” katanya.
Ia berharap mahasiswa AKUB mampu menjadi pribadi yang tidak hanya baik dalam penampilan dan komunikasi, tetapi juga memiliki wawasan mendalam tentang budaya Dayak yang luhur.
“Jadilah sosok yang tidak hanya cakap dalam penampilan dan komunikasi, tetapi juga sosok yang memiliki kedalaman wawasan mengenai khazanah budaya Dayak,” pesannya.
Andes melihat bahwa PGD XL 2026 adalah momentum sejarah bagi generasi muda Dayak untuk memperluas jejaring, membangun rasa percaya diri, dan memperkenalkan nilai-nilai positif budaya Dayak kepada masyarakat luas, termasuk di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting sebagai wajah baru masyarakat Dayak yang modern, profesional, dan terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya.
Dalam refleksinya mengenai Misa Syukur PGD XL 2026, Andes juga menegaskan bahwa budaya Dayak dan nilai-nilai Gereja dapat berjalan harmonis. Ia melihat liturgi inkulturatif dalam misa menjadi simbol bahwa adat dan iman saling menghidupi.
Pandangan itu sejalan dengan pesan Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, yang menyebut bahwa di dalam budaya lokal terdapat benih-benih sabda Tuhan.
Menurut Andes, nilai-nilai Dayak seperti gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan semangat kebersamaan merupakan modal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan global.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dan generasi muda dalam seluruh rangkaian PGD XL 2026, mulai dari pelayanan liturgi, publikasi, hingga kegiatan budaya lainnya.
“Keikutsertaan kalian adalah bukti keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan menunjukkan bahwa intelektualitas seorang mahasiswa harus berjalan selaras dengan kecintaan terhadap identitas budaya kita,” tuturnya.
Meski kompetisi Bujang dan Dara menghadirkan persaingan, Andes mengingatkan bahwa menang atau kalah bukan tujuan utama. Baginya, proses belajar, kedisiplinan, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus berkembang jauh lebih penting.
“Menang atau kalah adalah bagian dari proses pendewasaan. Namun memberikan yang terbaik adalah sebuah keharusan,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh mahasiswa AKUB untuk terus melangkah maju dan menjaga nama baik kampus, keluarga, dan masyarakat Dayak melalui dedikasi dan prestasi yang dimiliki.
“Teruslah melangkah, tunjukkan yang terbaik, dan buatlah orang tua, kampus, serta masyarakat bangga atas dedikasi kalian,” pungkas Andes.*Samuel – AKUB Pontianak.




