Tuesday, May 19, 2026
More
    Home Blog Page 160

    Bantu Warga Sakit, Personil Yonzipur 6/SD Donorkan Darah

    Personil Yonzipur 6/SD Donorkan Darah- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Bentuk kepedulian sesama, Personel Batalyon Zeni Tempur 6/SD donorkan darah untuk warga Desa Anjungan, Kecamatan Anjongan, Rabu (16/05/2021).

    Kegiatan donor darah ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian Personel Yonzipur 6/SD untuk salah satu warga Desa Anjungan, Ibu Domitila kristanti tina yang akan menjalankan operasi kanker servik.

    Baca juga: Ethiopia: Genosida Sedang Terjadi di Tigray

    “Kegiatan donor darah ini selain sebagai wujud kepedulian personel Yonzipur 6/SD juga untuk merespon kekurangan stok darah di PMI Cabang Mempawah sehingga darah yang kita donorkan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan darah di saat situasi pandemi sekarang ini,” ungkap Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    Letnan Dua Muhammad Dahir mengatakan, Untuk donor darah di ikuti 10 personel dan sebelum mendonorkan darah personel di cek suhu dan tensi darah sebelum pengambilan darah.

    Lanjutnya ia mengatakan, darah yang terkumpul tersebut diperuntukan bagi Ibu Domittila kristanti tina yang terkena kanker servik.

    Baca juga: Peduli Kesehatan Warga, Yonzipur 6/ SD Bagikan Masker

    “Inisatif para anggota untuk melakukan donor, membantu warga yang sakit seperti Ibu Domitila ini, selain itu donor darah juga akan membuat badan lebih sehat dan stamina lebih terjaga, kalau di laksanakan secara rutin dan anjuran dari PMI,” tutupnya.

    Peduli Kesehatan Warga, Yonzipur 6/ SD Bagikan Masker

    Peduli Kesehatan Warga, Yonzipur 6/ SD Bagikan Masker - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Batalyon Zeni Tempur 6/SD membagikan masker kepada pedagang di Desa Anjungan, Kecamatan Anjongan, Jumat (18/06/2021).

    Letnan Dua Czi Muhammad Dahir mengatakan, sasaran pembagian masker dan mensosialisasikan bahaya Covid-19 kali ini kepada para pedagang yang membuka lapak di tepi jalan karna para pedagang lebih sering berinteraksi dengan warga lainya.

    “Masker di bagikan ke pedagang, selain membagikan masker kami  juga tidak bosan untuk mengimbau kepada para pedagang untuk terus menerapkan protokol kesehatan,” kata Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    Ia melanjutkan, imbauan kepada para pedagang disampaikan secara humanis. Dengan begitu, diharapkan dapat lebih menyentuh hati pedagang dan meningkatkan kesadarannya untuk lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan.

    “kita harus menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi, karena dengan cara ini dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19, sehingga keluarga dan rekan kita tidak terjangkit virus corona,” tutup Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    Paus Fransiskus ungkapkan bahwa orang miskin memungkinkan manusia untuk menemukan wajah sejati Bapa

    People in need wait in line for food - Vatikan News- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus merilis pesannya untuk Hari Orang Miskin Sedunia kelima. Dia menyoroti perlunya pertobatan dan pendekatan yang melawan bentuk-bentuk baru kemiskinan di dunia dan mempromosikan kebebasan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang memuaskan sesuai dengan kemampuan setiap orang.

    Tema Hari Orang Miskin Sedunia yang kelima adalah “Orang miskin akan selalu ada bersamamu” yang diambil dari Injil Markus.

    Dirilis dari berita VatikanNews yang diolah oleh Staf penulis Berita Vatikan pada 14 Juni 2021, 11:30 waktu vatikan. Dalam berita tersebut dituliskan bahwa Paus Fransiskus merilis pesan untuk peringatan tahunan pada hari Senin, menjelang tanggal sebenarnya dari peringatannya yang dijadwalkan pada 14 November, hari Minggu ketiga puluh tiga dalam Waktu Biasa dalam kalender liturgi Gereja.

    Dua interpretasi

    Terinspirasi oleh tema dari Mrk 14: 7, Paus Fransiskus mencatat bahwa Yesus mengucapkan kata-kata itu pada saat makan di Betania di rumah Simon si penderita kusta, beberapa hari sebelum Paskah. Seorang wanita datang dengan sebotol alabaster berisi salep yang berharga dan menuangkannya ke atas kepala Yesus, menyebabkan keheranan besar dan menimbulkan dua interpretasi.

    Baca juga: Dua Tahun Kebersamaan Komisi Komunikasi Sosial Paroki Singkawang

    Yang pertama adalah kemarahan. Mengingat nilai minyak urapan itu, beberapa dari mereka yang hadir, termasuk para murid, merasa bahwa minyak itu seharusnya dijual dan hasilnya diberikan kepada orang miskin. Yudas, khususnya, sangat vokal, “bukan karena dia peduli dengan orang miskin, tetapi karena dia pencuri” dan ingin mengambil apa yang ada di dalam kotak uang.

    Penafsiran kedua adalah tentang Yesus yang membuat kita menghargai makna tindakan wanita itu. Dia meminta mereka untuk meninggalkannya sendirian karena dia melihat dalam tindakannya, “sebuah antisipasi dari pengurapan tubuhnya yang tak bernyawa sebelum ditempatkan di kubur.”

    “Yesus mengingatkan mereka bahwa dia adalah yang pertama dari yang miskin, yang termiskin dari yang miskin, karena dia mewakili mereka semua. Demi orang miskin, kesepian, terpinggirkan, dan korban diskriminasi, Putera Allah menerima sikap perempuan itu,” kata Paus Fransiskus.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Rumah Dinas Bupati Kapuas Hulu, Ingatkan Bupati Milik Semua Orang

    Dia menambahkan bahwa wanita tanpa nama itu dimaksudkan untuk mewakili semua wanita selama berabad-abad “yang akan dibungkam dan menderita kekerasan.” Yesus kemudian menghubungkannya dengan misi besar penginjilan: “Amin, Aku berkata kepadamu, di mana pun Injil diberitakan ke seluruh dunia, apa yang telah dia lakukan akan diberitahukan untuk mengenang dia” (Mrk 14:9 ).

    Empati yang dibangun antara Yesus dan wanita itu, interpretasinya tentang urapannya berbeda dengan kemarahan Yudas dan murid-murid lainnya, “dapat menghasilkan refleksi yang bermanfaat tentang hubungan tak terpisahkan antara Yesus, orang miskin dan pewartaan Injil,” kata Paus.

    Kepedulian terhadap orang miskin

    “Wajah Tuhan yang diungkapkan oleh Yesus adalah wajah seorang Bapa yang peduli dan dekat dengan orang miskin,” kata Paus Fransiskus. “Dalam segala hal, Yesus mengajarkan bahwa kemiskinan bukanlah hasil dari takdir, tetapi sebuah tanda nyata yang menunjukkan kehadiran-Nya di antara kita.”

    Oleh karena itu, “orang miskin, selalu dan di mana-mana, menginjili kita, karena mereka memungkinkan kita menemukan dengan cara baru wajah Bapa yang sebenarnya.” Jadi, kita dipanggil untuk menemukan Kristus di dalam mereka, memberikan suara kita untuk tujuan mereka, mendengarkan dan memahami mereka, dan menyambut mereka karena “Yesus tidak hanya berpihak pada orang miskin tetapi juga berbagi bagian mereka.”

    Baca juga: Mengapa Santa Perawan Maria Menangis di La Salette?

    Kembali ke tema pesannya, Paus Fransiskus memperingatkan bahwa kehadiran orang miskin yang terus-menerus seharusnya tidak membuat kita acuh tak acuh, “tetapi memanggil kita untuk saling berbagi kehidupan yang tidak mengizinkan proxy.”

    Dia bersikeras bahwa komitmen kami “tidak hanya terdiri dari kegiatan atau program promosi dan bantuan; karena apa yang dimobilisasi Roh Kudus bukanlah aktivisme yang tidak terkendali, tetapi di atas semua itu, perhatian yang menganggap orang lain dalam arti tertentu sebagai satu dengan diri kita sendiri.”

    Menciptakan perbedaan antara tindakan amal dan saling berbagi, dia mengatakan bahwa tindakan amal mengandaikan pemberi dan penerima, sedangkan saling berbagi menghasilkan persaudaraan. Dalam hal ini, sedekah adalah sesekali sementara saling berbagi itu abadi. Yang pertama berisiko memuaskan mereka yang melakukannya dan dapat terbukti merendahkan mereka yang menerimanya; yang terakhir memperkuat solidaritas dan meletakkan dasar yang diperlukan untuk mencapai keadilan.

    Konversi

    Bapa Suci melanjutkan dengan menekankan perlunya kita mengikuti undangan Tuhan untuk “bertobat dan percaya kepada Injil” (Mrk 1:15). Dia menambahkan bahwa pertobatan ini terdiri dari “membuka hati kita untuk mengenali berbagai bentuk kemiskinan dan mewujudkan Kerajaan Allah melalui gaya hidup yang konsisten dengan iman yang kita anut.”

    Menjelaskan lebih lanjut, dia mengatakan bahwa pemuridan Kristen memerlukan keputusan untuk tidak mengumpulkan harta duniawi yang memberikan ilusi keamanan melainkan mengadopsi kesediaan “untuk dibebaskan dari semua yang menghalangi kita untuk mencapai kebahagiaan dan kebahagiaan sejati, untuk mengenali apa yang ada. abadi, apa yang tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun atau apa pun.”

    Baca juga: Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik

    Dalam hal ini, “Injil Kristus memanggil kita untuk menunjukkan perhatian khusus kepada orang miskin dan untuk mengenali bentuk-bentuk kekacauan moral dan sosial yang beragam dan berlebihan yang menghasilkan bentuk-bentuk kemiskinan yang selalu baru,” kata Paus, menambahkan bahwa kita sekarang melihat penciptaan jebakan kemiskinan dan pengucilan baru “yang dibuat oleh pelaku ekonomi dan keuangan yang tidak bermoral yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tanggung jawab sosial.”

    Pandemi covid-19

    Dalam menghadapi kesulitan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 – sebuah “pertanda kemiskinan – yang terus mempengaruhi jutaan orang, khususnya orang miskin dengan cara yang tidak proporsional, Paus Fransiskus menyoroti “kebutuhan yang jelas untuk menemukan cara yang paling cocok untuk memerangi virus di tingkat global tanpa mempromosikan kepentingan partisan.”

    “Sangat mendesak untuk menawarkan tanggapan konkret kepada mereka yang menganggur, yang jumlahnya mencakup banyak ayah, ibu, dan orang muda,” kata Paus, menunjukkan bahwa beberapa negara menderita konsekuensi yang sangat parah dari pandemi, sehingga yang paling masyarakatnya yang rentan kekurangan kebutuhan dasar dan “antrean panjang di depan dapur umum adalah tanda nyata dari kemerosotan ini.”

    Tanggapan konkret

    “Bagaimana kita bisa memberikan respon yang nyata kepada jutaan orang miskin yang seringkali hanya menghadapi ketidakpedulian, jika bukan kebencian? Paus bertanya. “Jalan keadilan apa yang harus diikuti agar ketidaksetaraan sosial dapat diatasi dan martabat manusia, yang sering diinjak-injak, dapat dipulihkan?”

    Mengusulkan langkah-langkah konkrit, ia mengatakan bahwa perlu untuk menghasilkan “proses pembangunan di mana kemampuan semua dihargai sehingga keterampilan yang saling melengkapi dan keragaman peran dapat mengarah pada sumber daya bersama untuk partisipasi bersama” karena “kemiskinan bukanlah hasil dari nasib tetapi itu adalah hasil dari keegoisan” dan “gaya hidup individualistis terlibat dalam menghasilkan kemiskinan, dan sering membebani orang miskin dengan tanggung jawab atas kondisi mereka.”

    Paus Fransiskus kemudian menggarisbawahi perlunya pendekatan yang berbeda terhadap kemiskinan yang seharusnya memotivasi kita “untuk perencanaan kreatif, yang bertujuan untuk meningkatkan kebebasan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang terpenuhi sesuai dengan kemampuan setiap orang,” daripada berbicara tentang orang miskin. dalam abstrak dan dalam hal statistik.

    Baca juga: Paus Fransiskus mendorong jurnalis untuk selalu mencari kebenaran

    “Kita perlu terbuka untuk membaca tanda-tanda zaman yang meminta kita menemukan cara baru untuk menjadi penginjil di dunia kontemporer,” desak Paus Fransiskus, memperingatkan bahwa bantuan segera dalam menanggapi kebutuhan orang miskin tidak boleh menghalangi kita dari menunjukkan kejelian dalam menerapkan tanda-tanda baru cinta dan kasih Kristen sebagai tanggapan terhadap bentuk-bentuk baru kemiskinan yang dialami umat manusia saat ini.

    Baca juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    Mengakhiri pesannya, Bapa Suci mengungkapkan harapan bahwa Hari Sedunia akan tumbuh di Gereja-Gereja lokal kita dan “mengilhami gerakan evangelisasi yang bertemu secara pribadi dengan orang miskin di mana pun mereka berada.”

    Dia mendesak semua orang untuk tidak menunggu orang miskin mengetuk pintu kami, tetapi untuk segera menjangkau mereka di rumah, rumah sakit, di jalanan.

    Persit Kartika Candra Kirana Cabang LVIII PD XII/Tanjungpura Yonzipur 6/SD Laksanakan Suntik Vaksin Tahap Pertama

    Persit Kartika Candra Kirana Cabang LVIII PD XII/Tanjungpura Yonzipur 6/SD Laksanakan Suntik Vaksin Tahap Pertama- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Batalyon Zeni Tempur 6/SD melakasanakan Vaksinasi tahap pertama bagi Ibu-ibu Persit untuk mencegah penularan Covid-19 di Aula Yonzipur 6/SD, Senin (14/06/2021).

    Kegiatan Vaksinasi ini di khususkan untuk Ibu-ibu Persit yang berada di Kesatuan Yon Zipur 6/SD,  agar semuanya mendapatkan suntik vaksin tahap pertama. Kegiatan ini bertujuan agar Ibu-ibu Persit Yonzipur 6/SD seluruhnya mendapatkan haknya untuk memperoleh vaksin dari pemerintah.

    Baca juga: Yonzipur 6/SD Rutin Laksanakan Patroli Protokol Kesehatan

    Ketua Persit KCK Cabang LVIII mengatakan, vaksinasi memiliki pengaruh yang lebih besar ketimbang efek samping yang di timbulkan setelah vaksin dilakukan, vaksinasi ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar lebih kebal terhadap virus Covid-19.

    ”Meskipun telah di vaksin tidak menutup kemungkinan masih akan terpapar virus Covid-19, namun untuk reaksi dan gejalanya tidak akan separah orang yang belum mendapatkan suntik Vaksin, ” ujar Ketua Persit KCK Cabang LVII.

    Baca juga: Mengapa Santa Perawan Maria Menangis di La Salette?

    Dengan melaksanakan protokol yang ditetapkan oleh pemerintah kita akan terhindar dari virus Covid-19 ini, saya berpesan kepada Ibu-ibu Persit meskipun telah di vaksin tetap terus menjaga kesehatan tubuh sesuai anjuran dari pemerintah, “ tutup Ibu  Ketua Persit KCK Cabang LVIII.

    Tahta Suci: Tempat-tempat warisan budaya religius harus dilindungi dan dipromosikan

    The transfiguration of Christ, mosaic in the Basilica of Sant'Apollinare in Ravenna, Italy - a UNESCO world heritage site (© Maurizio Rovati - Tutti i diritti riservati - riproduzione vietata)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Pengamat Takhta Suci untuk UNESCO, Mgr. Francesco Follo, menyoroti pentingnya upaya kolaboratif dalam melindungi situs warisan budaya keagamaan sambil melestarikan signifikansi dan nilai sejarah, budaya dan agama mereka untuk generasi mendatang.

    Dirilis dari VatikanNews yang ditulis oleh Staf penulis Berita Vatikan pada 11 Juni 2021, 12:05 waktu Vatikan.

    Dalam berita tersebut Mgr Francesco Follo mengungkapkan pentingnya melestarikan warisan budaya-agama, baik nasional maupun internasional terutama yang dimiliki masing-masing agama. Untuk jenis warisan itu, perlu untuk menciptakan bentuk-bentuk penilaian dan penggunaan yang inovatif melalui kerja sama yang erat dengan badan-badan publik negara bagian, regional dan kota.

    Baca juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    Pengamat Takhta Suci untuk UNESCO membuat panggilan ini pada hari Kamis di sebuah pertemuan antarbudaya yang diadakan secara online, yang diselenggarakan oleh PRERICO, Komite Ilmiah Internasional ICOMOS tentang Tempat-tempat Agama dan Ritual.

    Webinar bertema: “Penggunaan Kembali dan Regenerasi Warisan Budaya Agama di Dunia – Perbandingan Antar Budaya,” bertujuan untuk memulai kerja kolektif dengan dokumen bersama tentang warisan budaya-agama.

    Baca juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Dalam berita tersebut dibahas pula makna bersama dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi landasan bangsa-bangsa harus membangun kebijakan budaya dalam hubungannya dengan negara lain untuk melestarikan warisan budaya-agama.

    ICOMOS – Dewan Internasional untuk Monumen dan Situs, adalah organisasi non-pemerintah yang bekerja untuk melestarikan dan melindungi tempat-tempat warisan budaya.

    Melestarikan warisan agama-budaya

    Dalam intervensinya Mgr. Follo menekankan bahwa pelestarian warisan budaya agama memberikan kontribusi yang signifikan terhadap tujuan mendidik generasi baru, mewariskan kepada mereka, melalui akar budaya-agama ini, “keamanan masa lalu yang dapat menjadi dasar masa kini dan panduan di masa depan. masa depan.”

    Dalam hal ini, ia menyoroti empat rekomendasi dari Takhta Suci yang meliputi: mengidentifikasi secara jelas warisan budaya-agama untuk dipulihkan, dijaga, dikatalogkan dan dipromosikan; membangun “filsafat” barang-barang budaya yang mendukung pengetahuan yang lebih baik dan menggunakannya dalam pengajaran agama, ritus dan budaya; mendukung pembentukan seniman pada isi teologis, liturgi dan ikonografi tempat-tempat suci, dan mempromosikan kerjasama antara pemimpin sipil dan agama tanpa melupakan pemilik barang-barang agama-budaya.

    Nilai warisan budaya religius

    Lebih lanjut menjelaskan, Mgr. Follo mengatakan bahwa situs warisan budaya-agama penting untuk nilai-nilai budaya atau sejarah mereka dan nilai-nilai agama dan saat ini. Oleh karena itu, mereka diberkahi dengan nilai-nilai agama yang memberi mereka karakter khusus yang layak mendapatkan disiplin dan perlindungan khusus.

    Baca juga: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Dia mencatat bahwa situs budaya adalah, dan bisa lebih dari itu, “jembatan antara negara dan masyarakat yang berbeda, mempromosikan budaya perjumpaan dalam damai,” melalui referensi mereka pada transendensi Tuhan, yang merupakan sumber persaudaraan.

    Oleh karena itu, pendekatan yang harus kita lakukan terhadap warisan budaya tidak hanya dalam upaya melestarikan karya seni sebagai pembawa keindahan, “tetapi juga dan terutama dalam menyoroti makna dan nilai budaya-religius dari berbagai elemen yang menjadi bagian. sebuah situs, identitas budayanya, perjumpaan dengan komunitas tempat mereka berasal, dengan menempatkannya dalam konteks arsitektur, geografis, dan perkotaannya.”

    Melindungi warisan budaya, lanjutnya, “berarti menjamin dialog inklusif, pertemuan permanen dengan masyarakat untuk mendukung regenerasi sejati, menghormati nilai-nilai properti yang akan dilindungi.”

    Tahta Suci mendukung perlindungan warisan budaya-agama

    Mgr. Follo melanjutkan untuk menegaskan kembali dukungan Takhta Suci untuk inisiatif yang bertujuan mempromosikan budaya dan barang-barang yang dihasilkannya “sehingga kehidupan pribadi dan sosial dapat berkembang dalam kebaikan, kebenaran dan keindahan.”

    Dia menekankan bahwa ini adalah masalah membantu melestarikan ingatan sejarah untuk diteruskan ke generasi baru, dengan elemen-elemen yang telah membentuk identitas suatu bangsa, dan yang membawa “komponen harmoni, keindahan, dan rasa kebersamaan”. kebenaran” yang membantu setiap pria dan wanita tumbuh dalam kemanusiaan integral mereka sendiri.

    Nilai penting

    Menarik perhatian pada rencana pekerjaan restorasi dan rekonstruksi gereja, sinagoga, masjid dan kuil, serta tempat-tempat keagamaan lainnya yang dilindungi oleh UNESCO, Mgr Follo menyoroti bahwa pekerjaan restorasi dan rekonstruksi menyiratkan “menyusun kembali asal-usul sebuah karya” dan menemukan “fakta pembangkit yang menciptakan signifikansinya.”

    Ia mengatakan bahwa nilai kebermaknaan merupakan prioritas yang memperhatikan kebutuhan ibadah dan amalan-amalan yang terkait dengannya yang harus terus dijalankan di sana. Oleh karena itu, penting untuk melindungi “makna” ini di tempat-tempat ibadah dan merekonstruksi elemen-elemen yang sesuai dengan tujuan didirikannya bangunan tersebut.

    Baca juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    “Bentuk mempertahankan dan mentransmisikan keindahannya hanya jika sesuai dengan tujuannya, untuk melestarikan persepsi identitasnya,” tegasnya.

    Mgr. Follo selanjutnya menyerukan upaya untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai bentuk perusakan tempat ibadah, mencatat bahwa hanya “pengetahuan tentang alasan, konteks, dan niat dari proses penghancuran warisan agama yang memungkinkan kita untuk mendefinisikan tanggung jawab dalam jangka pendek, menengah dan panjang dan untuk mengembangkan dan menerapkan strategi perlindungan yang berkelanjutan.”

    Baca juga: Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik

    Terakhir, ia menegaskan kembali keinginan Takhta Suci agar tempat-tempat ibadah diserahkan kepada umat beriman, tidak beriman, dan generasi mendatang sesuai dengan pelestarian warisan budaya dan dimensi keagamaan fundamentalnya.)*

    Yonzipur 6/SD Rutin Laksanakan Patroli Protokol Kesehatan

    Yonzipur 6/SD Rutin Laksanakan Patroli Protokol Kesehatan- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Personel Batalyon Zeni Tempur 6/SD bersama Polsek Anjungan  melaksanakan penegakan disiplin protokol kesehatan dan meberikan edukasi kepada warga  tentang bahaya dan pencegahan penularan Covid-19 di Desa Anjungan, Kecamatan Anjongan, Sabtu (12/06/2021).

    “Penegakan prokes rutin kita laksanakan  guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 diwilayah Anjongan, kita juga memberikan edukasi ke masyarakat  pentingnya menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan,” ungkap letnan Dua Czi  Muhammad Dahir.

    Baca juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    Letnan Dua Czi Muhammad Dahir mengatakan, bila ingin pandemi segera berakhir maka masyarakat harus disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

    “kita melaksanakan penegakan Prokes di kedai-kedai yang ada di wilayah anjongan dimana masih banyak didapat masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan dan kita  menpampaikan bahaya Covid-19 kepada masyrakat agar kedepanya bisa lebih disiplin untuk menerapkan protokol kesehatan,” kata Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    Baca juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    “Kegiatan ini juga harus didukung semua pihak termasuk masyarakat itu sendiri. Dan masyarakat harus disiplin dalam menjalankan protokol covid – 19 jika masalah ini mau secepatnya berakhir,” tutup Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    Bakti Pendidikan oleh mahasiswa/i STKIP Pamane Talino di Dusun Adong 1, Tubang Raeng- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Ngabang/Landak- STKIP Pamane Talino dikenal sebagai kampus dominikan, dimana setiap kegiatan dan aktivitas kampus harus dilaksanakan dan disesuaikan dengan nilai-nilai utama dominikan. Adapun nilai-nilai utama dominikan tersebut yaitu belajar, berdoa, komunitas dan pelayanan.

    Nilai-nilai utama itulah yang saat ini sedang diimplementasikan oleh STKIP Pamane Talino melalui kegiatan pengabdian masyarakat salah satunya bakti pendidikan di Dusun Adong 1, Tubang Raeng.

    Baca juga: Pembersihan Lingkungan Dusun Adong 1, Desa Tubang Raeng oleh Mahasiswa STKIP-PATA

    Kegiatan bakti pendidikan yang diadakan oleh STKIP Pamane Talino telah dimulai pada tanggal 10 Juni 2021 di Dusun Adong 1, Tubang Raeng. Kegiatan tersebut diadakan karena  kekhawatiran mereka terhadap pendidikan disana selama masa pandemi dimana anak-anak perlu dibimbing  dalam belajar.

    “Bakti pendidikan ini laksanakan karena kekhawatiran kami terhadap pendidikan di Dusun Adong 1 yang masih dibilang kurang. Dan setelah kami terjun ke lapangan kami sadar mereka sangat membutuhkan pendamping untuk membimbing mereka belajar.” Jelas Irene Puspita Theresia mahasiswi pendidikan bahasa inggris STKIP Pamane Talino.

    Baca juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Julis salah satu mahasiswa pendidikan bahasa inggris yang ikut andil dalam kegiatan tersebut mengatakan sebagai mahasiswa yang kuliah dalam lingkup pendidikan, kegiatan ini melatihnya menjadi seorang tenaga pendidik yang mampu mendidik anak-anak dengan baik.

    “Perasaan saya tentu sangat bangga. Karena saya bisa berbagi ilmu. Kemudian saya juga bisa  memahami dan belajar mengenal karakter  anak-anak yang ada di dusun Adong 1 ini.”Ujarnya.

    Mengajar sambil belajar

    Kegiatan bakti sosial tersebut berlangsung sejak tanggal 10 Juni 2021 dengan tetap mematuhi protokol kesehatan seperti rajin mencucui tangan, memakai masker, menjaga jarak dan rutin cek SWAB. Untuk tingkatan yang diajar berbeda-beda yaitu anak-anak paud, SD dan SMP. Masing-masing diajarkan dengan materi yang berbeda sesuai tingkatannya.

    Baca juga: Secuplik Surat Tentang Kisah Misi di Borneo- Keuskupan Agung Pontianak

    Natalia salah satu anak didik yang berpartisipasi merasa senang bisa diajarkan oleh mahasiswa/i STKIP Pamane Talino.”Perasaannya senang karena kita belajar sambil bermain sama teman-teman dan kakak-kakak dari STKIP Pamane Talino. ”

    Natalia juga berharap kedepannya agar mahasiswa/i dari STKIP Pamane Talino  mengajar lagi supaya pemahaman belajar mereka lebih baik lagi.

    Julis dan Irene mengatakan meskipun mengalami banyak tantangan, seperti terbatasnya kelas, terbatasnya fasilitas mengajar dan perbedaan umur diantara banyaknya anak-anak namun hal itu tidak menyulutkan semangat mereka untuk tetap mengajar. ia berharap kegiatan ini tetap berlanjut.

    Baca juga: Mgr. Agustinus Agus: Jadilah Imam yang Inovatif dan Memiliki Kemampuan Membaca Tanda Zaman

    “Saya berharap kegiatan ini tetap berlanjut.  Saya ingin anak-anak di sini menjadi orang yang tahu dan mengenal tentang  pendidikan. Saya tau mereka dari desa, tetapi saya yakin ketika melihat semangat mereka saat belajar mereka akan menjadi orang yang sukses.” Harap Julis.

    Pembersihan Lingkungan Dusun Adong 1, Desa Tubang Raeng oleh Mahasiswa STKIP-PATA

    Pembersihan Lingkungan dan Sungai Dusun Adong 1, Desa Tubang Raeng oleh Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Landak- STKIP Pamane Talino Ngabang melaksanakan kegiatan bakti sosial di Dusun Adong 1, Desa Tubang Raeng, Kec. Jelimpo Kab. Landak pada 11 Juni 2021 dengan salah satu kegiatannya yaitu membersihkan lingkungan dan sungai.

    STKIP Pamane Talino Ngabang saat ini mengadakan bakti sosial di Dusun Adong 1 yang bertujuan untuk mengatasi masalah yang ada di dusun tersebut. Salah satu masalah yang ditemui di Dusun Adong ini adalah terkait dengan sanitasi, dimana warga sekitar masih kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan terutama kebersihan sungai, sebagian besar warga masih buang air besar di sungai padahal sungai itulah yang mereka manfaatkan untuk kehidupan mereka sehari-hari dan masih ada warga yang membuang sampah sembarangan. Tujuan besar dari kegiatan ini adalah menjadikan Dusun Adong sebagai Desa Wisata.

    “Kegiatan pembersihan lingkungan ini mulai dilaksanakan pada Kamis, 10 Juni 2021, dengan perencanaan awal pada tanggal 27 Mei 2021. Oleh karena beberapa pertimbangan maka kegiatan ini dilaksanakan menjadi tanggal 10 Juni 2021” ujar Albertus Agung, salah satu panitia dalam kegiatan ini.

    Rangkaian Kegiatan

    Terdapat beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dari kegiatan ini yang dimulai dengan membersihkan lingkungan sekitar dusun dan sungai, kemudian melakukan penataan lingkungan warga seperti menanam pohon dan bunga, memperbaiki sarana prasarana yang ada di sana seperti membuat wc dan mengecat jembatan, dilanjutkan dengan membuat objek destinasi wisata nya seperti mengecat rumah warga dan membuat sangkar dari ranting di titik tertentu.

    Baca juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Tidak hanya mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang yang turut serta dalam kegiatan ini, namun juga masyarakat sekitar Dusun Adong 1 “yang terlibat ada mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang, warga dusun Adong 1 menyangkut perangkat dusun dan juga beberapa pemuda yang ada di dusun” ungkap Agung.

    Meski dilakukan di tengah masa pandemi Covid-19, tidak menyurutkan semangat para mahasiswa dan warga Dusun Adong 1 dalam melaksanakan kegiatan ini. Mengingat saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19 maka kegiatan ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. “Semua orang yang terlibat harus menggenakan masker dan tetap menjaga jarak, mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan” tegas Agung.

    Baca juga: Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik

    Lebih lanjut ia juga berharap agar kegiatan ini bisa membuat masyarakat Dusun Adong memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, kebersihan diri sendiri terutama kebersihan air yang mereka manfaatkan untuk kehidupan sehari-hari agar mereka bisa hidup lebih bersih dan nyaman.

    Salah satu mahasiswa yang berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan lingkungan dan sungai ini Medi, mengatakan bahwa ia senang mengikuti kegiatan ini “kegiatan ini bagus, kita bisa terlibat langsung dalam kegiatan sosial, mendapatkan pengalaman baru dan bisa membantu warga sekitar.”

    Inilah cerita kami

    Cukup banyak kedala dan tantangan yang dihadapi dalam melakukan kegiatan ini, mulai dari keterbatasan alat dan juga kerjasama dalam tim, dan yang utama adalah bagaimana cara kita supaya bisa menumbuhkan kesadaran diri warga akan kebersihan lingkungan mereka sehingga Dusun Adong 1 bisa menjadi dusun yang lebih bersih, nyaman dan tenteram.

    Baca juga: Tarian Kreasi Mangkok Merah oleh UKM Seni Tari Catur Merak di Wisuda STKIP Pamane Talino 2019

    Medi menuturkan bahwa kegiatan yang dilakukan STKIP Pamane Talino ini sangat bagus, STKIP memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat sekitar. “Harapan saya semoga masyarakat disini dapat peduli terhadap lingkungan mereka sendiri dan sadar akan kebersihan lingkungan.” Lanjut Medi.

    Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Ngabang/Landak- STKIP Pamane Talino  resmi pindah gedung baru, di Jalan Ilong, Kec. Ngabang, Kab. Landak pada Senin(10/5/2021). Segala aktivitas akademik dan non akademin mulai diberlakukan oleh dosen, staff, mahasiswa dan civitas akademik yang berjalan berdasarkan protokol kesehatan, membatasi kegiatan pembelajaran dan tetap menerapkan 5 M.

    Baca juga: Ketua Komsos KAP Paulus Mashuri: Jangan Mandai-mandai Buat Berita

    Dalam wawancara, Marselus Suarta Kasmiran selaku WK III Bidang Kemahasiswaan mengatakan, kegiatan pindah kampus ini bagus dalam menambah semangat penghuninya, karena dengan adanya gedung baru juga menciptakan semangat baru.

    “Semoga di kampus baru ini membuat mahasiswa, dosen, staf dan seluruh civitas akademi lebih bersemangat dalam melakukan aktivitasnya baik itu bekerja, belajar dan mengajar sehingga dapat tangguang jawab sesuai dengan moto Dies Natalis tahun ini be new be productif,” harap Kasmiran.

    Baca juga: Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Topang

    Dalam wawancara kepada salah satu mahasiswa, saat itu sedang menjalankan aktivitas pertamanya di gedung baru. Anggelica Jean mengungkapkan, Perasaan senang dan haru membuatnya bersemangat hebat seperti petasan yang ingin meledak.

    “Semoga kampus baru ini membuat adanya semangat baru untuk mahasiswa-mahasiswa stkip pamane talino dan semakin giat ikut kegiata. Kiranya gedung baru ini menjadi wadah yang lebih baik lagi dari yang lama,“ harap Jean.

    Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    Pope Francis meets the community of Church of St. Louis of the French in Rome. (Vatican Media)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus pada hari Senin bertemu dengan sekelompok imam Prancis yang mengejar studi gerejawi yang lebih tinggi di Roma, dan berbicara kepada mereka tentang karya pastoral masa depan mereka dan kesaksian komunitas mereka.

    Diterjemahkan dari VatikanNews yang ditulis oleh Robin Gomes pada 07 Juni 2021, 12:13 waktu vatikan. Paus Fransiskus pada hari Senin mengingat citra favorit seorang imam, meminta agar para imam menjadi “gembala dengan ‘bau domba'”, didasarkan pada situasi kawanan mereka. Paus membuat pernyataan kepada komunitas imam mahasiswa Prancis yang tinggal di sebuah komunitas di asrama Gereja St. Louis Prancis di Roma.

    “Bau domba”

    “Studi yang Anda lakukan di berbagai universitas Romawi mempersiapkan Anda untuk tugas masa depan Anda sebagai pendeta dan memungkinkan Anda untuk lebih menghargai kenyataan di mana Anda dipanggil untuk mewartakan Injil sukacita”, katanya kepada sekitar 19 imam dari ‘gereja nasional Perancis’ di ibukota Italia.

    Ia mengatakan mereka tidak boleh terjun ke lapangan untuk menerapkan teori tanpa mempertimbangkan lingkungan di mana mereka akan bekerja atau orang-orang yang dipercayakan kepada mereka. “Saya berharap Anda menjadi gembala dengan ‘bau domba'”, kata Paus, mengulangi sekali lagi analogi yang dia gunakan dalam homilinya pada Misa Krisma pada 28 Maret 2013, dua minggu setelah pemilihannya.

    Baca juga: Mengapa Santa Perawan Maria Menangis di La Salette?

    Dia mengatakan para pendeta harus menjadi “orang-orang yang mampu hidup, tertawa dan menangis dengan umat Anda, dengan kata lain, berkomunikasi dengan mereka”. Ia mengungkapkan keprihatinannya bahwa terkadang refleksi dan pemikiran tentang imamat adalah sampel laboratorium: imam ini, imam itu, dan sebagainya. Dia mengatakan imamat yang terisolasi dari umat Allah, bukanlah imamat Katolik atau Kristen.

    Baca juga: Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    “Lepaskan diri Anda dari ide-ide Anda yang sudah terbentuk sebelumnya, impian Anda akan kebesaran, penegasan diri Anda, untuk menempatkan Tuhan dan orang-orang di pusat perhatian Anda sehari-hari,” kata Paus, menekankan bahwa seorang pendeta adalah orang yang menguduskan Tuhan. orang-orang yang setia di tengah. Bagi para imam yang ingin menjadi intelektual, bukan pendeta, kata Paus, lebih baik mereka menjadi orang awam. Seorang imam harus menjadi seorang pendeta di tengah-tengah umat Tuhan karena Tuhan telah memilih dia untuk itu.

    Kehidupan komunitas

    Paus Fransiskus juga menasihati para imam Prancis mengenai kehidupan komunitas mereka, dengan mengatakan individualisme, penegasan diri, dan ketidakpedulian adalah beberapa tantangan hidup bersama. Dia memperingatkan mereka terhadap “godaan untuk membuat kelompok tertutup kecil, untuk mengisolasi diri sendiri, untuk mengkritik dan berbicara buruk tentang orang lain, untuk percaya diri lebih unggul, lebih cerdas”.

    Baca juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    Paus mengatakan bahwa gosip adalah kebiasaan kelompok tertutup, “imam bujangan yang berbicara dan memfitnah orang lain, merusak semuanya. “Kita harus melepaskan kebiasaan ini dan melihat dan memikirkan kemurahan Tuhan”. Paus berharap mereka selalu saling menyambut sebagai hadiah. “Dalam persaudaraan yang hidup dalam kebenaran, dalam ketulusan hubungan dan dalam kehidupan doa, kita dapat membentuk komunitas di mana kita dapat menghirup udara sukacita dan kelembutan.”

    Bapa Suci mendorong kehidupan komunitas untuk berbagi dan berdoa dengan sukacita. Dia berkata, “Imam adalah seorang pria yang, dalam terang Injil, menyebarkan cita rasa Tuhan di sekelilingnya dan mengirimkan harapan ke hati yang gelisah”. Kepada mereka yang mengunjungi komunitas mereka, mereka dapat mengomunikasikan nilai-nilai Injil tentang “persaudaraan yang beragam dan saling mendukung”, dan membuat mereka merasakan kesetiaan kasih Allah dan kedekatan-Nya.

    St Yosef

    Dalam hal ini, Paus menawarkan kepada mereka teladan St Yosef, mengundang mereka untuk “menemukan kembali wajah orang beriman ini, bapa yang lembut ini, teladan kesetiaan dan penyerahan penuh kepercayaan kepada rencana Allah”. St Yosef, katanya. , mengajarkan kita bahwa iman kepada Tuhan termasuk percaya bahwa Dia dapat bekerja bahkan melalui ketakutan kita, kelemahan kita dan kelemahan kita.

    Baca juga: Paus Fransiskus mendorong jurnalis untuk selalu mencari kebenaran

    Kelemahan kita adalah “tempat teologis perjumpaan dengan Tuhan”, kata Paus, menambahkan, “imam rapuh”, yang mengetahui kelemahannya dan membicarakannya dengan Tuhan, akan berhasil. Sebaliknya, pendeta “superman” berakhir dengan buruk. “Bersama Joseph,” kata Paus, “kita dipanggil untuk kembali ke pengalaman tindakan sederhana penerimaan, kelembutan, dan

    Kegembiraan dan selera humor

    Paus juga mendesak para imam muda Prancis untuk membangun Gereja yang sepenuhnya melayani dunia yang lebih persaudaraan dan solidaritas. Mereka tidak perlu takut untuk berani, mengambil risiko dan maju, yakin bahwa bersama Kristus mereka dapat menjadi rasul sukacita dan bersyukur karena melayani saudara dan saudari mereka dan Gereja.

    Kegembiraan ini harus dibarengi dengan rasa humor, kata Paus seraya menambahkan, seorang imam yang tidak memiliki selera humor tidak disukai, ada yang salah. “Tirulah para imam besar yang menertawakan orang lain, pada diri mereka sendiri dan bahkan pada bayangan mereka sendiri,” katanya, seraya menambahkan, “rasa humor adalah salah satu ciri kekudusan”, seperti yang ia tunjukkan dalam Seruan Apostoliknya, Gaudete et Bergembiralah.

    Baca juga: Baksos Ikatan Mahasiswa Katolik STKIP Pamane Talino Ngabang-Tuhan Tidak Diam

    Mengingat penahbisan imamat mereka, dia mengingatkan mereka bahwa mereka telah diurapi dengan minyak sukacita dan harus mengurapi orang lain dengan minyak sukacita. Dia berkata hanya dengan tetap berakar di dalam Kristus mereka dapat mengalami sukacita yang menggerakkan mereka untuk memenangkan hati. “Sukacita imamat adalah sumber tindakan Anda sebagai misionaris di zaman Anda”, katanya.

    Syukur

    Kebajikan lain yang didorong oleh Bapa Suci kepada para imam muda untuk ditanamkan adalah rasa syukur kepada Tuhan atas apa adanya mereka satu sama lain. “Dengan keterbatasan Anda, kelemahan Anda, kesengsaraan Anda”, Paus Fransiskus mengingatkan mereka, “selalu ada tatapan penuh kasih yang tertuju pada Anda dan memberi Anda kepercayaan diri”.

    Syukur “selalu ‘senjata ampuh'”, katanya, yang “memungkinkan kita untuk menjaga api harapan tetap menyala di saat-saat putus asa, kesepian, dan cobaan”. (Sumber: VatikanNews/Robin Gomes/Semz-MD).

    TERBARU

    TERPOPULER