Oleh: Selli, Mahasiswa STKIP Pamane Talino Ngabang
MajalahDUTA.Com,Pontianak – Tari Mangkuk Merah merupakan salah satu tari tradisional Dayak Kanayatn. Tarian ini dipentaskan dengan Ritual Sakral adat Dayak yang berfungsi untuk memanggil roh suci leluhur atau yang juga disebut Jubata.
Baca Juga: Lourdes melayani orang sakit selama pandemi COVID
Menurut kerusuhan Dayak-Madura yang pernah terjadi di Singkawang pada tahun 1999, Mangkuk Merah digunakan dalam keadaan genting saja. Inilah salah satu cara masyarakat Dayak untuk berkomunikasi dan mengumpulkan massa kala itu.
Mangkok Merah
Dengan adanya legenda ini, diangkatlah tarian yang menggambarkan kisah serupa sesuai peristiwa tersebut. Kemudian ditampilkan dalam acara Wisuda Ke-IV STKIP Pamane Talino yang diwakili oleh Avila Perenanda, Ayu Sentia, Anas, Elisabet Nanda Ayu, Selli Klara, Sisilia Putri Nita, dan Philipinchia Vinny M.D.V. (14/09/2019).
Baca Juga: Komisi Covid19 Vatikan Menyelenggarakan Acara Kehatan dan Ekologi di Minggu Laudato Si’
Menurut Elisabet, Tari Mangkuk merah merupakan tanda komunikasi dalam keadaan darurat. “Kita mementaskan karena menyadari perlu adanya komunikasi dan kolaborasi dalam hidup ini. Sebab makhluk sosial perlu bantuan dan dukungan org lain” Ujarnya.
Sedangkan menurut Sisil, Tari Mangkok Merah itu sendiri menceritakan tentang ritual adat istiadat yang merupakan tradisi asli masyarakat Dayak Kanayatn.
“Semoga tarian ini terus dilestarikan, agar dapat mengingatkan masyarakat kembali tentang pentingnya tradisi dalam adat Dayak Kanayatn,” harap Sisil dan Elisabet.




