MajalahDUTA.Com | Mungkin suatu analogi dengan menggunakan nakhoda sebagai perumpamaan seorang pemimpin agar tidak terlalu mengajari dalam perspektif suatu opini terhadap beberapa sindiran. Ungkapan kata yang dapat diceritakan ketika seorang nakhoda tidak memiliki kompas disuatu arah dan tujuan membawa kapal mengarungi samudra penuh dengan badai dan ombak menerjang dilautan tanpa singgah sejenak ditepian pelabuhan.
Suatu strategi, dan nilai-nilai sebagai pondasi dari keinginan yang memilih dari ketertarikan visi misi disampaikan sebelumnya. Mungkinkah akan terlaksana, atau hanya buaian rayuan dari kamuflase.
Bagaimana suatu makna kata aksiologi terhadap filosofi olahraga dapat melekat sebagai arah tujuan dalam mencapai keberhasilan diri sang nakhoda. Apakah arti keunggulan untuk suatu pencitraan, atau kemampuan sesungguhnya atas diri terhadap integritas, dan nilai sportivitas membina kehidupan bersama dalam seorang nakhoda sejati.
Bukankah makna kemenangan tidak segalanya dapat berprilaku semena-mena, namun setiap persimpangan pasti ada duri dan kerikil tajam untuk melatih berpikir kebijakan. Bagaimana suatu cermin menjadi retak, mungkin karena kehilangan keseimbangan hanya berpikir melaju lurus ketujuan akan nilai-nilai pesanan yang ditentukan, namun melupakan kekuatan beban yang terbawakan.
Apakah sanggup seorang nakhoda lahir dari jiwa olahraga, bukan karena atlet elit hanya seorang awam mampu berpegang teguh akan nilai- nilai fair play pada filosofinya. Apa arti dari keadilan, kejujuran, penghormatan, kepatuhan, tanggu jawab, perjuangan, kebersamaan, loyalitas dan sportivitas sudah pasti sangat dipahami dan dimengerti. Bagaimana tali pengikat kapal yang bersandar dapat putus dihantam gelombang ditepian dermaga.
Sang nakhoda dapat berbangga hati karena sudah melewati amukan badai dan ombak yang tinggi di lautan samudra luas, tetapi ia lupa akan hal yang kecil pada tali pengikat sudah rapuh. Apakah hal ini terjadi dari human error, atau kah karena ketidak jujuran sang anak buah kapal.
Seorang mandor bangunan dengan rasa tanggung jawab, dapat menyelesaikan suatu gedung apartemen ratusan bertingkat bersama kuli bangunan atau kenek bawahannya yang merasa dihormati dalam kebersamaan.T
anpa rasa kebersamaan mengagumi keindahan, apakah dapat dibentuk kebun yang menarik perhatian penuh dengan warna dari karya seorang tukang kebun, dengan baju compang camping dengan keringat baut menyengat setelah bekerja di teriknya panas sang matahari memenuhi tanggung jawabnya.
Bagaimana sang nakhoda mengetahui keadilan, kejujuran, penghormatan, kepatuhan, tanggu jawab, perjuangan, kebersamaan, loyalitas dan sportivitas ada pada dirinya, mungkin mengerti dan mengetahui tentang hal tersebut, namun apa arti suatu tulisan aturan dapat dilangkahi atau ketegasan kepatuhan itu hanya dua sisi pilihan.
Sang nakhoda terjerat amanah dari pengharap kebaikan dan kesejahteraan, terkadang lupak akan janji yang diangkat di atas kepala ataupun disentuh dari sebuah kitab keyakinan. Terdapat tekanan dan senggolan pesanan dari arah vertikal di atas dan horizontal yang mendatar. Akan kah nilai filosofi olahraga dapat dibangun dari seorang nakhoda.
Sangat berat beban yang telah diberikan dari seorang nakhoda demi kata kesejahteraan bersama. Derasnya dari arus kekuasaan membuat tekanan dari berbagai arah, terkadang luput dari ingatan akan suatu janji yang telah diucapkan, walau telah disaksikan melalui hati yang paling dalam melalui keyakinan.
Tekanan dari atas yang penuh kekuatan membuat dilematis terhadap tataran arah horizontal pada kepentingan sekitar menjadi kesenjangan nyata untuk menguji nilai integritas. Mungkinkah dalam situasi seperti ini nilai filosofi olahraga dibutuhkan supaya menjadi arah dan tujuan.
Bagaimana seorang nakhoda dapat menghidupkan semangat olahraga dalam suatu kepemimpinannya, agar menjadi tangguh terhadap tekanan hingga meraih kemenangan sejati tanpa adanya desakan dari kekuasaan dominan.
Sang nakhoda akan belajar terhadap keadilan, menerima kekurangan atas kritikan dengan lapang dada, akhirnya dapat merayakan kemenangan tanpa harus merasa kesombongan. Betapa sangat penting akannya suatu proses terhadap nilai akhri dari makna nilai filosofi olahraga.
Bagaimana keberhasilan sejati menjadi nakhoda tidak hanya diukur dari hasil pencapaiannya akan tetapi bagaimana cara perjalanan yang dilakukan. Hal ini setidaknya dapat mengingatkan dan membangkitkan kembali terhadap janji amanah yang diberikan menuju nakhoda yang berkeadilan dan berintegritas tinggi.
Seberapa besar pesan ini dapat menggugah para nakhoda lainnya, untuk percaya dan yakin nilai filosofi olahraga sebagai riset metode terbaru dari kemajuan zaman dunia dalam genggaman pada saat ini. Zaman yang dimana keyakinan tentang pengaruh geopolitik lebih dari segalanya akan kepentingan tujuan nasional.
Bagaimana cara pendekatan ini dapat dihadirkan dan sebagai dasar pemikiran sang nakhoda. Nilai-nilai ini bukan hanya berbicara tentang suatu kompetisi dalam pertandingan, tetapi juga memaknai tentang etika, kemampuan terhadap mental, beradaptasi, dan konsistensi dalam suatu tujuan. Mungkin sangat relevan terhadap pencegahan kecurangan terjadi melalu prilaku praktik illegal yang kurang baik pada kejahatan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Melalui pengembangan karakter nilai filosofi olahraga permasalahan ini dapat diatasi, karena sudah tertanam dari diri mengenai suatu prinsip-prinsip idealisme dapat dilakukan dalam pengambilan suatu keputusan tegas dan jelas.
Akan kah nilai filosofi olahraga dapat menjadi penyeimbang atau cara dan gaya baru dari seorang nakhoda melaui kompas dan tujuan akan kepemimpinannya. Sejatinya seorang nakhoda bukan hanya memiliki keahlian mengendalikan arah melainkan memiliki rasa dari nilai-nilai fair play.
Tekanan dari suatu gelombang kepentingan pasti akan terlihat jelas, bagaimana nilai-nilai yang sudah terpatri di sanubari akan menjadi jangkar yang kokoh penuh dengan moral yang kuat.
Namun hal ini, tidak dapat untuk diterka atas jawaban, dari seorang pribadi individu nakhoda. Apakah ia mampu berlabuh di pulau impian dengan integritas kemampuan dimiliki, ataukah karam dilautan sangat dalam karena tidak mengindahkan nilai pedoman yang sudah dipahami.
Nilai filosofi olahraga dan seorang nakhoda mungkin suatu gambaran argumentasi bagaimana sikap seorang yang dipercayai sebagai pemimpin dalam mengarahkan begitu banyaknya dari unsur kepentingan melalui sikap fair play.
Melalui seorang atlet olahraga diuji untuk dapat menghargai setiap aturan,etika, yang berlaku dalam setiap pertandingan, mungkin hal ini juga sama berlaku bagi seorang nakhoda dalam kepemimpinannya. Keadilan, ketegasan, dan konsistensi menjadi acuan dalam tindakan.
Bagaimana dengan rasa kepercayaaan atas kekuasaan diberikan dapat dijadikan suatu nilai tanggung jawab terhadap moralitas, sehingga tercapainya tujuan. Melalui ini nilai filosofi olahraga menjadi luas dan lebih kaya akan makna, secara individu manusia sang nakhoda dari pemimpin.
*Jayadi adalah Dosen PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).




