MajalahDUTA.Com | Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, peran media dalam membentuk opini publik mengalami transformasi besar.
Jika sebelumnya masyarakat bergantung pada media tradisional seperti surat kabar, radio, dan televisi, kini media sosial menjadi aktor utama dalam arus penyebaran informasi.
Kemudahan akses internet dan penggunaan perangkat mobile memungkinkan masyarakat memperoleh informasi secara cepat dari berbagai sumber. Dalam hitungan menit bahkan detik, sebuah isu dapat menyebar luas dan memengaruhi pandangan publik.
Kondisi ini membawa dampak positif berupa meningkatnya kesadaran terhadap isu-isu penting, namun juga berpotensi menimbulkan masalah seperti maraknya penyebaran hoaks.
Selain itu, penggunaan algoritma pada platform media sosial turut memengaruhi cara masyarakat menerima informasi.
Algoritma cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, sehingga memunculkan fenomena “echo chamber”.
]Dalam situasi ini, individu lebih sering terpapar pandangan yang sejalan dengan keyakinannya, yang pada akhirnya dapat mempersempit sudut pandang dan memperbesar polarisasi di masyarakat.
Daya tarik konten visual juga menjadi faktor penting. Video pendek, gambar, dan infografis terbukti lebih efektif menarik perhatian dibandingkan teks panjang. Namun, penyajian informasi yang terlalu ringkas berisiko menyederhanakan isu kompleks dan mengurangi kedalaman analisis.
Tak kalah berpengaruh, kehadiran influencer dan pemimpin opini di media sosial turut membentuk persepsi publik.
Banyak pengguna yang mempercayai pandangan figur-figur ini tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut. Kondisi tersebut bisa dimanfaatkan untuk kampanye positif, tetapi juga rentan disalahgunakan untuk menyebarkan informasi yang menyesatkan.
Fenomena ini juga terlihat di Kalimantan Barat. Dalam beberapa kasus, media sosial berperan penting dalam menyebarkan informasi terkait bencana banjir, sehingga membantu koordinasi bantuan dan meningkatkan kesadaran masyarakat.
Namun di sisi lain, menjelang pemilihan kepala daerah, media digital kerap menjadi sarana penyebaran isu politik sensitif yang berpotensi memicu ketegangan sosial.
Secara keseluruhan, media digital memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Oleh karena itu, masyarakat dituntut untuk memiliki literasi media yang baik, bersikap kritis, serta mampu memverifikasi informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Upaya ini penting untuk menjaga kualitas informasi, memperkuat demokrasi, dan mempertahankan persatuan di tengah derasnya arus digitalisasi.*Yopita Seli, PJKR 23 B.




