Tuesday, May 19, 2026
More
    Home Blog Page 156

    Kebakaran yang mencurigakan di gereja-gereja di Kanada barat

    Jackan | Shutterstock- Aleiteia/Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Kanada– Investigasi berlanjut, karena kebakaran mungkin terkait dengan penemuan kuburan tak bertanda di bekas sekolah adat.

    Tulisan yang diangkat oleh John Burger yang diterbitkan pada 06/29/21 dan  diperbarui pada 06/29/21 dituliskan sebuah gereja Katolik di Provinsi Alberta tampaknya menjadi yang terbaru dalam serangkaian serangan terhadap gereja-gereja di Kanada bagian barat.

    Royal Canadian Mounted Police di sebelah timur Calgary mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki kebakaran yang tampaknya sengaja dilakukan pada hari Senin di gereja, yang berada di tanah penduduk asli Siksika.

    Di tempat lain, RCMP di New Hazelton di barat laut British Columbia mengatakan kebakaran dilaporkan Sabtu pagi di tanah Gitwangak First Nation. Itu adalah gereja Anglikan yang ditinggalkan, dan api dengan cepat dipadamkan dengan kerusakan minimal dan tidak ada cedera, lapor National Post. Investigasi sedang berlangsung.

    Di British Columbia selatan, empat gereja Katolik – dua di dekat Osoyoos dan Oliver, satu di luar Hedley, dan yang lainnya di Chopaka – dihancurkan oleh kobaran api antara 21 Juni dan 26 Juni. Gereja Katolik di Saskatoon dan Edmonton juga dirusak dengan cat merah dalam seminggu terakhir.

    Kebakaran dan perusakan terjadi setelah penemuan apa yang diyakini sebagai sisa-sisa anak-anak di kuburan tak bertanda di bekas sekolah perumahan di Kamloops, BC, dan di tenggara Saskatchewan.

    Banyak sekolah perumahan, dalam sistem yang dibuat oleh pemerintah Kanada, dijalankan oleh ordo agama Katolik.

    Para pemimpin masyarakat adat di Kanada mengatakan sekolah-sekolah itu digunakan untuk mengasimilasi masyarakat adat secara paksa. Ada yang mengatakan bahwa anak-anak dipaksa masuk Kristen dan meninggalkan bahasa dan budaya asli mereka. Ada panggilan, termasuk dari Perdana Menteri Justin Trudeau, agar Paus Fransiskus meminta maaf secara resmi.

    Pada hari Jumat, Oblat Misionaris Katolik Maria Tak Bernoda, yang mengoperasikan 48 sekolah perumahan, termasuk dua bekas sekolah di mana kuburan anak-anak pribumi yang tidak bertanda ditemukan, mengatakan akan merilis semua dokumen yang dimilikinya, Guardian melaporkan.

    Konferensi Waligereja Kanada

    Pada hari Selasa, Konferensi Waligereja Katolik Kanada mengumumkan bahwa delegasi masyarakat adat akan mengunjungi Paus Fransiskus di Roma dari 17-20 Desember untuk “membina pertemuan dialog dan penyembuhan yang bermakna.”

    “Paus Fransiskus berkomitmen untuk mendengar langsung dari Masyarakat Adat, mengungkapkan kedekatannya yang tulus, mengatasi dampak penjajahan dan peran Gereja dalam sistem sekolah perumahan, dengan harapan menanggapi penderitaan Masyarakat Adat dan efek yang berkelanjutan. trauma antargenerasi, sebuah pernyataan dari Konferensi mengatakan.”

    “Para Uskup Kanada sangat menghargai semangat keterbukaan Bapa Suci yang dengan murah hati menyampaikan undangan untuk pertemuan pribadi dengan masing-masing dari tiga kelompok delegasi yang berbeda – First Nations, Métis dan Inuit – serta audiensi terakhir dengan semua delegasi bersama-sama. pada 20 Desember 2021.”

    Delegasi tersebut akan mencakup Penatua dan “Penjaga Pengetahuan,” orang-orang yang menghadiri sekolah perumahan dan pemuda dari seluruh negeri, ditemani oleh sekelompok kecil Uskup dan pemimpin Pribumi.

     

    Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Kalimantan Barat

    Sumber: Satuan Tugas Penanganan Covid-19- Kalbar- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Sehubungan dengan terbitnya peta epidemiologi yang dirilis oleh SATGAS Penanganan COVID-19 Nasional tanggal 27 Juni 2021 dimana Kota Pontianak masuk dalam Zona Risiko Tinggi (merah) maka sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2021 diinstruksikan kepada SATGAS Penanganan COVID-19 Kota Pontianak untuk mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Pembatasan kegiatan perkantoran/ tempat kerja dengan menerapkan Work From

    Home (WFH) 75 % (tujuh puluh lima persen) dan Work From Office (WFO) sebesar 25 % (dua puluh lima persen).

    1. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (sekolah, perguruan tinggi, akademi, tempat pendidikan/ pelatihan) secara daring (online).
    2. Pelaksanaan kegiatan makan/ minum ditempat umum (warung makan, rumah makan, cafe, warung kopi, pedagang kaki lima, lapak jajanan) baik yang berada dilokasi tersendiri maupun di lokasi pada pusat perbelanjaan/ mall:
      1. Makan/ minum ditempat sebesar 25 % (dua puluh lima persen) dari kapasitas ruangan.
      2. Jam operasional dibatasi sampai dengan pukul 20.00 WIB.
    3. Pelaksanaan kegiatan pada pusat perbelanjaan/ mall/ pusat perdagangan jam operasional sampai dengan pukul 20.00 WIB dengan pembatasan kapasitas pengunjung sebesar 25 % (dua puluh lima persen).
    4. Untuk pelaksanaan kegiatan ibadah lebih mengoptimalkan ibadah di rumah.
    5. Pelaksanaan kegiatan pada area publik (fasilitas umum, taman umum, tempat wisata umum atau area publik lainnya) ditutup untuk sementara waktu.
    6. Pelaksanaan kegiatan seni, budaya, dan sosial kemasyarakatan di lokasi seni budaya dan sosial yang dapat menimbulkan keramaian ditutup untuk sementara waktu.
    7. Pelaksanaan kegiatan rapat seminar dan pertemuan tatap muka secara langsung ditiadakan.
    8. Pelaksanaan resepsi, hajatan yang menimbulkan keramaian tidak boleh dilaksanakan sampai dengan tanggal 14 Juli 2021.
    9. Terus menerus melaksanakan kegiatan penemuan kasus suspek dan pelacakan kontak erat serta melakukan testing baik menggunakan Tes Rapid Antigen maupun metode RT-PCR.
    10. Melaksanakan isolasi mandiri/ terpusat pada kasus konfirmasi COVID-19 dengan pengawasan yang ketat.
    11. Menambah kapasitas tempat tidur perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit.
    12. Menyiapkan peralatan, obat-obatan, bahan medis habis pakai dan tenaga kesehatan untuk mendukung operasional Rumah Sakit dalam penanganan COVID-19.
    13. Melaksanakan himbauan dan razia di tempat-tempat umum terhadap disiplinpelaksanaan protokol kesehatan.
    14. Melaksanakan percepatan vaksinasi COVID-19.
    15. Mengoptimalkan pelaksanaan PPKM berskala Mikro hingga tingkat RT.

    Tentang Kerendahan Hati Menurut St. Ignatius

    Ilustrasi Protret: Lokasi-Pemangkat 2019 silam- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Dikutip dari Katolisitas[.]org terdapat tingkatan kerendahan hati, namun yang akan dibahas di sini adalah dua macam tingkatan oleh St. Ignatius.

    Menurut St. Ignatius (1491-1556) mengatakan bahwa terdapat tiga tingkatan kerendahan hati, pertama  ‘necessary humility’.

    Necessary humility berarti penyerahan diri kepada hukum Tuhan untuk menghindari dosa berat.

    Baca juga: Untaian Kerendahan Hati menurut Santo Benediktus

    Kemudian yang kedua adalah perfect humility.

    St. Ignatius menjelaskan bahwa perfect humility berarti ketidakterikatan pada kekayaan ataupun kemiskinan, kesehatan ataupun penyakit… yang terpenting adalah menghindari dosa dan kecenderungan berbuat dosa.

    Sedangkan yang ketiga adalah tentang  ‘most perfect humility’.

    Menurut Santo Ignatius bahwa sikap meniru Kristus, termasuk menerima dengan rela penderitaan dan penghinaan, dalam persatuan dengan Kristus, demi kasih kita kepada-Nya. Lanjutan- Baca ini…. St. Ignatius: Lawan Kesombongan adalah Kerendahan Hati

    St. Ignatius: Lawan Kesombongan adalah Kerendahan Hati

    Dokumen Komsos: Ilustrasi seorang anak kecil menerima bantuan dari kegiatan baksos-Bengkayang- Dok. Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Kerendahan hati berlawanan dengan kesombongan yang berhubungan dengan kelimpahan materi, dan anggapan bahwa diri sendiri adalah orang yang paling berkehendak baik, paling pandai, dan paling maju dalam hal spiritual (‘spiritual pride’).

    Ada tiga tingkatan kesombongan, jika diurut dari yang lebih bersifat material ke tingkat yang lebih bersifat spiritual: Pertama, adalah kesombongan dalam hal materi yang kelihatan, seperti kecantikan, kekayaan, nama baik, pangkat dan kehormatan.

    Baca juga: Untaian Kerendahan Hati menurut Santo Benediktus

    Kesombongan materi adalah jenis kesombongan yang terendah, dan paling mudah diatasi untuk mencapai kerendahan hati.

    Kesombongan dalam hal berkehendak baik adalah yang menyusul setelah ini, yaitu seperti keinginan untuk tidak tunduk di bawah siapapun, memiliki kuasa untuk memerintah, yang menghasilkan ambisi untuk menguasai, menolak untuk melayani atau tunduk pada otoritas, bahkan menolak untuk tunduk kepada Tuhan.

    Baca juga: Doa adalah Akar Kehidupan Spiritual Katolik

    Bersamaan dengan ini adalah kesombongan akan kepandaian, yang berhubungan dengan kebiasaan untuk menghakimi segala sesuatu berdasarkan pendapat sendiri, dan enggan untuk menerima pernyataan sederhana dari pihak yang punya otoritas.

    Sedangkan orang yang rendah hati adalah dia yang sadar akan dosa dan kelemahannya, yang tahu bahwa ia pun dapat menjadi ‘terhukum’, jika hanya keadilan Tuhan yang berlaku di dunia ini. Belas kasihan yang ia terima dari Tuhan harus menjadikannya berbelas kasih kepada orang lain.

    Tingkatan kesombongan

    Tingkatan kesombongan yang paling akhir adalah kesombongan rohani, atau ‘spiritual pride’. Karena spiritualitas adalah karunia, maka kesombongan spiritual sangatlah ‘berbahaya’.

    Karunia-karunia rohani dapat menjadi ladang bagi kesombongan, sebab jiwa yang sombong dapat menggunakan karunia-karunia tersebut untuk meninggikan diri, menarik perhatian, mencari dominasi/kekuasaan, atau untuk memenangkan ide sendiri.

    Baca juga: Apa sih, Tarekat MSA itu?

    Injil menampilkan jenis kesombongan ini dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Yesus menolak kesombongan ini, sebab hal itu membuat orang hidup dalam ‘kebohongan’: dari luar terlihat suci, tetapi sebenarnya jahat. Hal ini bertentangan dengan kerendahan hati yang berlandaskan kebenaran.

    Kesadaran akan Allah

    Menurut St. Ignatius, mengikuti teladan Yesus dan cara hidup-Nya adalah bentuk kerendahan hati yang paling sempurna; yaitu jika seseorang dengan kehendak bebasnya memilih untuk hidup miskin seperti Kristus, menderita bersamaNya daripada menjadi kaya dan dihormati dan dianggap bijak oleh dunia.

    Sikap ini didasari oleh kesadaran bahwa Allah mengasihi kita lebih daripada kita mengasihi diri kita sendiri, sehingga Ia telah menyerahkan diri-Nya untuk membawa kita kepada kebahagiaan sejati.

    Baca juga: Uskup Agus ungkapkan seorang Imam jangan reaktif

    Kebahagiaan sejati ini tidak dapat dibandingkan dengan segala pemahaman kita akan kebahagiaan menurut ukuran dunia.

    Ketetapan hati meninggalkan kebahagiaan duniawi untuk mendapatkan kebahagiaan surgawi adalah sikap kerendahan hati yang paling sempurna.

    Untaian Kerendahan Hati menurut Santo Benediktus

    Ilustrasi: Anak Kecil mengajarkan arti perbuatan yang sederhana- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Dikutip dari Katolisitas[.]org terdapat tingkatan kerendahan hati, namun yang akan dibahas di sini adalah dua macam tingkatan oleh St. Benediktus.

    Menurut St. Benediktus (480-547) dikatakan bahwa nilai-nilai yang termasuk kerendahan hati adalah ketaatan, kesabaran dan kesederhanaan.

    Baca juga: Paus dalam Angelus: Saksi tidak kehilangan kata-kata, melainkan berbuah

    Ketaatan dan kesabaran berkaitan dengan kerendahan hati yang berhubungan dengan sikap hati, sedangkan kesederhanaan berhubungan dengan sikap tubuh yang terlihat dari luar.

    St. Benediktus membagi kerendahan hati menjadi 12 hal dan tujuh di antaranya berhubungan dengan sikap hati, dan lima di antaranya berhubungan dengan sikap tubuh yang terlihat dari luar.

    Pembimbing Rohani

    Dalam uraian diatas dari ketujuh sikap hati yang berdasarkan atas ketaatan dan kesabaran tersebut yakni takut akan Tuhan, ketaatan kepada Tuhan, ketaatan kepada pembimbing rohani, sabar dalam menanggung keadaan yang sukar, mau mengakui kesalahan kita —terutama kepada pembimbing rohani— bersedia menerima hal-hal yang tidak nyaman, dan melihat diri sendiri sebagai yang tidak utama.

    Baca juga: Paus Fransiskus meminta umat Katolik untuk berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah Middle

    Sedangkan kelima sikap tubuh yang berhubungan dengan kesederhanaan adalah: menghindari pemegahan diri sendiri, hening, tertawa tidak berlebihan, tidak banyak bicara, dan kesederhanaan dalam bersikap.

    Meskipun pengajaran ini pertama-tama ditujukan untuk para religius, namun dengan tingkatan yang wajar dapat diterapkan pada kaum awam. Maka pembimbing rohani, yaitu bapa pengakuan (pastor pembimbing), juga diperlukan, jika kita ingin bertumbuh secara rohani.)*

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus tahbiskan dua imam dan satu Diakon Missionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Tahbisan Sua Imam MSA dan satu DIakon MSA- Katedral Pontianak- Dok. Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak,- Belum banyak umat katolik di Indonesia yang mengenal apa itu Misionaris Para Rasul Kudus  alias MSA. MSA ini merupakan sebuah tarekat atau kongregasi religius para imam katolik Roma.

    Tepat pada Selasa, 29 Juni 2021 di hari Raya St. Petrus dan Paulus, telah ditahbiskannya dua imam dan satu diakon MSA di Keuskupan Agung Pontianak. Perayaan dimulai pada pukul 09.00 WIB yang dipimpin lansung oleh Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dan didampingi RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA sebagai animator untuk MSA Indonesia.

    Imam MSA yang ditahbiskan tersebut yakni Diakon Blasius Hide Waton, MSA dan Diakon Yohanes Febi Toring, MSA yang hari ini sudah ditahbiskan menjadi Imam. Kemudian Frater Fransiskus Roke, MSA mulai hari ini menjadi diakon.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Busana Calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Acara tahbisan dua imam dan satu diakon MSA itu pula dihadiri juga oleh 16 imam lainnya. Dalam awal sambutan misa, Mgr Agustinus Agus mengungkapkan bahwa masa sekarang ini, hidup sebagai gembala penuh dengan tantangan dan hambatan. Ditambah lagi pandemi Covid-19.

    Dengan adanya pandemi ini, secara otomatis gereja juga terkena dampaknya. “Mau atau tidak mau, kita harus hadapi situasi seperti ini, namun justru itulah tantangan bagi seorang gembala,” kata Mgr Agus.

    Kesempatan itu juga, Mgr Agustinus Agus menggarisbawahi sikap seroang imam yang paling penting yaitu hendaknya menjadi gembala yang kreatif, bagaimana pun kondisi dan caranya.

    ”Bagi saya seorang imam adalah seorang gembala,” lanjut Uskup. “Seorang gembala kenal domba-dombanya. Karena ia kenal domba-dombanya maka imam tahu kebutuhan akan umatnya.”

    Pandemi Covid-19, kesempatan Refleksi

    Dalam homilinya Mgr Agustinus Agus menjelaskan pandemi covid-19 memaksa manusia untuk refleksi, terutama untuk kaum berjubah. “Karena sulitnya akses dengan protokol kesehatan dan jaga jarak dengan banyak orang jangan sampai semangat melayani juga sampai redup,” ujarnya.

    Uskup Agung Pontianak menguatkan imam yang ditahbiskan sekaligus mengingatkan para imam lainnya untuk tidak takut berkorban dan menjadi garda depan dalam melayani umat ditengah covid-19.

    Baca juga: Apa sih, Tarekat MSA itu?

    “Jangan takut mau doakan orang yang meninggal karena covid-19, justru imam harus menjadi teladan. Tentunya dengan protokol kesehatan sesuai dengan arahan tenaga medis,” lanjut Uskup. “Sebagai kaum berjubah, sikap tanggung jawab dengan tugas yang diemban haruslah menjadi contoh yang nyata ditengah dunia, itulah yang membedakan kaum berjubah dan orang biasa.”

    Mgr Agustinus Agus mengisahkan dimana pada awal pandemi Covid-19 melanda, Paus Fransiskus pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, berani berkunjung ke Irak. “Bagi saya, bagi seorang gembala dan seroang pastor ini adalah sinyal bahwa, situasi apapun tidak boleh membatasi pelayanan seorang gembala,” tambah Uskup.

    “Bagi saya pribadi,” lanjut Uskup. “Baik oleh diakon maupun oleh imam, semua itu adalah tugas sebagai gembala. Hal itu bukan tidak melulu sebagai gembala saja, tetapi menjadi gembala yang baik.”

    Uskup Agung Pontianak menjelaskan bahwa menjadi seorang gembala yang baik sudah jelas di Kitab Suci yakni, gembala yang baik adalah gembala yang berani meninggalkan 99 dombanya yang sehat-sehat untuk mengunjungi satu yang sakit.

    “Berani meninggalkan kemapanan, berani meninggalkan hidup mewah untuk menyelamatkan satu orang agar ia juga selamat,” tambah Uskup. “Gembala yang baik dalam kitab Suci jelas, yakni mengantar domba-dombanya kepada yang rumput hijau. Gembala yang baik berani menjaga dombanya, dari serangan binatang buas.”

    Mohon doa

    Sebagai perwakilan imam yang baru ditahbiskan RP Yohanes Febi Toring, MSA mengucapkan segenap terimakasih kepada semua pihak yang sudah membantu mereka dalam menyiapkan tahbisan maupun semua donatur yang sudah membantu mereka dengan caranya masing-masing.

    Pastor Yohanes Febi Toring, MSA juga meminta dukungan doa dari semua umat serta sanak keluarga.

    “Sebagai imam muda, kami mohon dukungan doa yang terus-menerus menggiring perjalanan kami dalam proses menjadi imam dan menyertai perjalanan kami selanjutnya sebagai imam dan diakon. Doa anda merupakan kekuatan bagi langkah kami selanjutnya,” ujar Pastor Toring.

    Baca juga: Yang Mana Ya, Bapak Uskup Agung Pontianak itu?

    Animator untuk MSA Indonesia, RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA menyampaikan salam damai dan cinta dalam Kristus Yesus atas nama Animator Jeneral, Pastor Luis Luna Barrera, MSA dan dewannya,

    Pastor Frey menceritakan sebenarnya Animator Jeneral ingin berpartisipasi dalam perayaan yang penuh makna itu, tetapi karena pandemi mereka harus menahan diri untuk tidak mengikuti upacara tahbisan.

    “Bagi para anggota MSA, ini adalah suatu kegembiraan yang besar untuk dapat diceritakan bersama  para imam baru Johannnes Ebit, MSA dan Blasius Waton, MSA dan diakon baru Fransiskus Roke MSA dalam pelayanan Gereja universal dalam konteks Karisma dan Misi kami  sebagai Misionaris Para Rasul Kudus di Indonesia,” kata Pastor Frey.

    Kami adalah komunitas yang sangat muda di sini di Indonesia, kami baru berusia 10 tahun, namun Tuhan yang berbelas kasih telah memberkati kami dengan saudara-saudara ini yang merupakan anggota MSA pertama yang dibentuk oleh komunitas MSA sejak novisiat, waktu integrasi dan sekarang sebagai pelayan altar,” lanjut Pastor Frey. “Kenangan dari pendiri kami, Pater Eusebio Enrique Menard OFM, telah dihormati hari ini. Dan masa depan serikat di Indonesia memberi suatu langkah baru, semakin memperteguh  kita di jalan pewartaan  Injil.”

    Sebagai Missionaris Panggilan

    Pastor Frey menitik beratkan bahwa para anggota MSA adalah misionaris panggilan dan karisma serta misi kami di dalam Gereja tidak akan pernah terbatas pada pembentukan, promosi dan pendampingan panggilan semata-mata dan secara eksklusif untuk serikat MSA; “Kami, sebagai misionaris panggilan, dengan senang hati bekerja sama dengan keuskupan tempat di mana kami bekerja, mendukung para uskup, tidak hanya dengan anggota kami, tetapi juga berkolaborasi dalam promosi dan pendampingan panggilan yang berorientasi pada hidup diosesan,” katanya.

    “Terima kasih, Monsinyur, karena memberi kami kehormatan untuk menahbiskan saudara-saudara kami,” tambahnya. “Saya yakin bahwa mereka akan meninggalkan panji-panji iman yang sangat tinggi dan dalam setiap Ekaristi yang mereka rayakan dan hayati, mereka akan menghadirkan Tuhan kita Yesus Kristus di altar dunia.”

    Baca juga: 5 Pertanyaan Teratas Umat Katolik Tentang Vaksin COVID-19 (dan Jawabannya)

    Tak lupa juga Pastor Frey mengungkapkan untuk para saudara MSA di seluruh dunia yang telah mengikuti transmisi melalui internet, semoga  Tuhan mengabulkan doa dan dalam kebersamaan, dan diucapkan juga teruma kasih kepada kaum awam dan  kepada para guru dan dosen yang telah memungkinkan terbentuknya para saudara ini dan telah bermurah hati membantu mempermudah mereka untuk sampai pada hari yang indah ditahbisan pada selasa 29 Juni 2021.

    Menutup sambutanya, Pastor Frey mengingatkan kembali kepada para saudara  yang  telah ditahbiskan, “dengan mengatakan YA seperti Perawan Maria di hadapan Tuhan, terima kasih karena telah menerima misi ini, Anda hari ini menjadi saksi bagi mereka yang akan datang, semoga terus memberi teladan hidup Kristiani dan semoga  kesaksian kalian sebagai jalan terbaik untuk mempromosikan  panggilan,” katanya.

    Tugas yang diemban imam muda dan diakon MSA

    Selaras dengan itu, Pastor Fray mendoakan Pastor Johannes Ebit MSA, semoga misi di Kolombia menginspirasi banyak saudara dari Indonesia untuk berkata sepertinya: “Saya di sini Tuhan,  untuk melakukan kehendak-MU”.

    Ia juga tidak lupa menyampaikan kepada Pastor Blasius Waton, MSA semoga tugas yang diberikan kepadanya oleh komunitas MSA di Indonesia menjadi dasar untuk memberikan kesaksian dan teladan hidup di hadapan para formandi yang dipercayakan kepada Anda dan kepada anggota MSA yang harus Anda bimbing dalam tugas sebagai Penanggung Jawab Formasi di Indonesia.

    Kemudian ia juga menyampaikan tugas untuk Diakon Fransiskus Roke MSA, semoga bantuan tanpa syarat dari –nya di Paroki St. Fransiskus Assisi di Pakumbang, dan di mana diakon akan tinggal dan menjalankan pelayanan masa diakonat,  “menjadi taman di mana Anda menabur benih-benih Sabda Allah, mengolah dan merawatnya ; dan melihatnya berkembang dan berbuah,” lanjutnya.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus ungkapkan Manusia Menjadi Kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya

    “Terima kasih kepada Pastor Romanus Sangkur, MSA dan Pastor Rubén, MSA.  Terima kasih karena telah membentuk, membina dan merawat saudara-saudara kita ini, saya mengakui kualitas Anda sekalian, pengorbanan dan dedikasi Anda dalam tugas pembinaan saudara-saudara kita ini, hanya Tuhan yang tahu bagaimana menghargai dan membalas kemurahan hati dan dedikasi Anda,” kata Pastor Fray.

    Akhirnya ia menyampaikan harapannya semoga semua umat menjadi satu dalam Kristus Yesus dan semoga Kepengantaraan yang penuh kasih dari Perawan Maria Ratu Para Rasul, bersama dengan perlindungan dari para Rasul  yang Kudus, menjadi penghiburan bagi  seluruh umat manusia.

    Uskup Agus ungkapkan seorang Imam jangan reaktif

    Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak, dalam Sambutan Penutup Tahbisan Imam MSA- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Menutup sambutannya pada tahbisan dua imam dan satu diakon Misionaris Para Rasul Kudus (MSA), pada 29 Juni 2021 di Katedral Pontianak,  Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, menyampaikan pesan-pesan pokok tentang sikap seorang imam yang harus menjadi panutan bagi siapapun orang yang ditemui.

    “Jadi imam jangan menjadi imam yang reaktif, tetapi harus inovatif dan kreatif. Kalian yang muda-muda ini harus menjadi contoh termasuk bagi kami yang tua-tua,” lanjut Uskup.  Kadang karena idealis imam tua, selalu menganggap dirinya benar, maka karena itu semoga kalian menjadi contoh imam yang baik.”

    Baca juga: Missionaris Para Rasul Kudus (MSA) di Pakumbang – Kalbar

    Uskup juga mengatakan bahwa Tuhan adalah maha tahu dan sumber dari kebaikan. Untuk itu, Mgr Agus mengingatkan jika sudah mengikuti kristus maka harus mengakui Yesus sebagai Tuhan, “dan yang kedua cintailah Yesus,” kata Uskup Agus.

    Uskup berharap, setelah ditahbisan sebagai imam mereka selalu mendapatkan kekuatan karena dekat dengan Tuhan Yesus karena sudah memanggil mereka.

    “Saya juga mohon dukungan dari bapak dan ibu,” lanjut Uskup.  “Doakan kami agar kami menjadi gembala yang mau melayani dari pada dilayani. Semoga dengan semangat ini, kami para kaum berjubah mampu menjalani panggilan hingga akhir hayat.”

    5 Pertanyaan Teratas Umat Katolik Tentang Vaksin COVID-19 (dan Jawabannya)

    Sumber naskah: https://aleteia.org/2021/06/09/catholics-top-5-questions-about-the-covid-19-vaccine-and-the-answers/ - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Washington – Keuskupan Agung Washington membahas kekhawatiran umum tentang etika dan keamanan vaksin virus corona yang tersedia. Berita ini dirilis dari Aleteia yang diterbitkan pada 9/6/2021 Waktu Washington.

    Pandemi virus corona telah menyebabkan penderitaan yang luar biasa di seluruh dunia. Lebih dari 3,7 juta orang telah meninggal, dan 173 juta orang sakit. Vaksin yang telah dikembangkan menawarkan harapan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan etis bagi sebagian umat Katolik. Berikut adalah lima pertanyaan yang paling sering diajukan. Itulah jawaban yang ditawarkan oleh Keuskupan Agung Washington.

    Baca Juga: Para Uskup AS Melihat Ancaman Terhadap Institusi Katolik Menjelang Pekan Kebebasan Beragama

    1. Mengapa vaksin COVID-19 kontroversial?

    Banyak vaksin yang ada, termasuk vaksin MMR, menggunakan garis sel HEK293 yang diturunkan dari dua aborsi yang terjadi pada tahun 1970-an. Sangat penting untuk dicatat bahwa garis sel ini tidak mengandung sel-sel dari aborsi asli; melainkan, garis-garis itu adalah keturunan jauh dan klon dari sel-sel asli, yang berasal dari jaringan ginjal embrio manusia. Hubungan yang jauh ini tidak membuat aborsi awal menjadi kurang jahat.

    Namun, koneksi jarak jauh memang membuat perbedaan dalam tanggung jawab moral pribadi kita. Jika niat kita adalah menerima vaksin untuk melindungi kehidupan, maka “tanggung jawab mereka yang membuat keputusan untuk menggunakannya tidak sama dengan tanggung jawab mereka yang tidak memiliki suara dalam keputusan semacam itu.” [Kongregasi Ajaran Iman, InstructionDignitas Personae (8 Desember 2008), n. 35; AAS (100), 885.] Dengan kata lain, adalah tanggung jawab kita untuk membuat keputusan moral kita sendiri, idealnya dengan maksud melindungi kebaikan bersama.

    Baca Juga: Bocah 5 Tahun Menyela Homili dan Meminta Doa untuk Ayah Baptisnya yang di Intubasi

    Dalam dua dekade terakhir, pernyataan yang dibuat oleh Paus Benediktus XVI dan Akademi Kepausan untuk Kehidupan telah mengklarifikasi bahwa sebagian besar vaksin yang menggunakan garis sel ini diizinkan secara moral karena mereka menyelamatkan nyawa dan membantu melindungi anggota komunitas kita yang paling rentan. Misalnya, vaksin MMR (yang juga menggunakan garis sel HEK293 dalam perkembangannya) mencegah infeksi rubella, yang menyebabkan penyakit serius dan bahkan kematian bagi ibu hamil dan bayinya. Menerima vaksin MMR akan menyelamatkan banyak nyawa, dan terutama akan melindungi kehidupan anak-anak yang belum lahir. Demikian pula, vaksin COVID-19 akan membantu melindungi jutaan nyawa, terutama mereka yang paling rentan dan rentan terhadap penyakit serius dan kematian.

    1. Apa perbedaan vaksin dari Moderna dan Pfizer dengan vaksin Johnson & Johnson?

    Moderna dan Pfizer telah mengembangkan vaksin menggunakan mRNA, dan tanpa menggunakan garis sel janin yang kontroversial. Namun, kedua vaksin telah diuji menggunakan garis sel HEK293. Vaksin Johnson & Johnson dan AstraZeneca menggunakan garis sel HEK293 dalam perkembangannya, yang membuatnya tampak “lebih dekat” asalnya dengan tindakan aborsi.

    Baca Juga: Di Timur Tengah: “Damai datang Langsung dari Hati Yesus”

    Namun, mengingat hubungan jarak jauh antara sel-sel ini dan vaksin, semua vaksin COVID sejalan dengan pernyataan moral sebelumnya yang dibuat oleh Gereja Katolik. Jika Anda ditawari vaksin COVID-19 yang dikembangkan dari garis sel dari aborsi (seperti kasus vaksin Johnson & Johnson), National Catholic Bioethics Center merujuk pada pernyataan dari Paus Benediktus pada tahun 2005, yang diterbitkan melalui Akademi Kepausan untuk Kehidupan. Pernyataan ini menjelaskan bahwa diperbolehkan bagi umat Katolik untuk menggunakan vaksin yang dikembangkan dari sel yang diaborsi bila diperlukan untuk kesehatan dan keselamatan mereka sendiri. Pernyataan terbaru dari Pontifical Academy for Life (2017) berbunyi:

    “Terutama mengingat fakta bahwa garis sel yang saat ini digunakan sangat jauh dari aborsi asli dan tidak lagi menyiratkan bahwa ikatan kerja sama moral sangat diperlukan untuk evaluasi negatif secara etis dari penggunaanny. Kewajiban moral untuk menjamin cakupan vaksinasi yang diperlukan untuk keselamatan orang lain tidak kalah mendesak, terutama keselamatan subyek yang lebih rentan seperti wanita hamil dan mereka yang terkena imunodefisiensi yang tidak dapat divaksinasi terhadap penyakit tersebut.

    Karakteristik teknis dari produksi vaksin yang paling umum digunakan pada masa kanak-kanak membuat kita mengecualikan bahwa ada kerjasama yang relevan secara moral antara mereka yang menggunakan vaksin saat ini dan praktik aborsi sukarela. Oleh karena itu, kami percaya bahwa semua vaksinasi yang direkomendasikan secara klinis dapat digunakan dengan hati nurani yang bersih dan bahwa penggunaan vaksin tersebut tidak menandakan semacam kerjasama dengan aborsi sukarela.”

    1. Vaksin mana yang harus saya terima?

    Umat ​​Katolik yang menerima vaksin COVID-19 untuk melindungi kehidupan dalam keluarga dan komunitas mereka harus merasa nyaman menerima vaksin apa pun yang tersedia bagi mereka. Pernyataan USCCB menjelaskan bahwa kita masing-masing harus menerima vaksin Moderna dan Pfizer, jika tersedia, karena mereka lebih jauh dari garis sel HEK293.

    Baca Juga: Paus Fransiskus meminta umat Katolik untuk berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah Middle

    Namun, pernyataan Desember 2020 dari Kongregasi untuk Ajaran Iman, kelompok yang ditugaskan untuk membuat pernyataan teologis atas nama Kuria Roma dan Paus Fransiskus, mengklarifikasi bahwa “ketika vaksin Covid-19 yang tidak dapat dicela secara etis tidak tersedia dapat diterima untuk menerima vaksin Covid-19 yang telah menggunakan garis sel dari janin yang diaborsi dalam penelitian dan proses produksinya.”

    Pernyataan Kongregasi Ajaran Iman menjelaskan bahwa, karena kebanyakan orang tidak memiliki pilihan dalam vaksin yang mereka terima, secara moral diperbolehkan untuk mengambil vaksin ini untuk melindungi kehidupan mereka yang paling berisiko terkena penyakit serius, virus corona.  Secara moral bermanfaat bagi setiap orang untuk menerima vaksin yang paling siap dan segera tersedia bagi mereka untuk mempercepat berakhirnya pandemi mematikan ini.

    1. Apa yang dapat saya lakukan untuk mewakili nilai-nilai Katolik saya dalam masalah ini?

    Sebagai umat Katolik, kami didorong untuk mempromosikan karya perusahaan yang tidak menggunakan jalur sel kontroversial ini. Silakan terus hubungi perusahaan farmasi secara langsung dan minta mereka untuk tidak menggunakan jalur sel ini dalam pengembangan vaksin di masa mendatang. Panggilan-panggilan ini dapat menjadi strategi yang efektif seperti pada gerakan-gerakan sebelumnya, terutama seiring berkembangnya teknologi dan garis sel HEK293 menjadi kurang diperlukan dalam pengembangan vaksin.

    Baca Juga: Kegiatan Persaudaraan Para Frater Keuskupan Agung Pontianak

    Umat ​​Katolik juga didorong untuk menerima vaksin COVID-19 dan mempromosikan kebaikan bersama dengan mengikuti pedoman dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Kita dipanggil untuk mengejar kebaikan bersama saat kita membela kehidupan manusia. Untuk melindungi mereka yang paling rentan terhadap virus corona, termasuk wanita hamil dan mereka yang kekebalannya terganggu, kita didorong untuk melihat tindakan moral kita sendiri untuk melestarikan kehidupan dan martabat di komunitas kita.

    Umat ​​Katolik juga didorong untuk mengadvokasi atas nama orang miskin dan rentan dengan mendorong para pemimpin mereka untuk berbagi vaksin dengan negara lain, terutama mereka yang memiliki populasi berisiko.

    1. Apakah saya mengorbankan nilai-nilai pro-kehidupan saya dengan menerima vaksin Johnson & Johnson?

    Ajaran moral Katolik memanggil kita untuk peduli pada kebaikan bersama, menghindari pergaulan dengan kejahatan besar. Ajaran moral Katolik kita juga mengajarkan kita untuk mengambil tindakan melindungi setiap orang yang kita temui, terutama yang paling rentan. Ajaran ini tidak berubah dalam kehidupan Gereja, dan tidak akan pernah berubah. Penentangan kami terhadap aborsi dan pengembangan vaksin menggunakan garis sel yang diturunkan dari tindakan aborsi harus dijelaskan kepada perusahaan farmasi.

    Baca Juga: Mgr Agus dalam Audiensi: Semangat Kebersamaan Sebagai Satu Keluarga

    Ketika menerapkan nilai-nilai moral ini pada situasi kompleks dan bernuansa yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil untuk menggunakan kebajikan kehati-hatian. Kehati-hatian memanggil kita untuk mencari yang paling baik dalam setiap situasi, sambil menghindari kejahatan. Ketika dihadapkan dengan nuansa vaksin COVID-19, kita masing-masing dipanggil untuk membedakan bagaimana kita bisa melakukan yang terbaik.

    Bagi banyak orang dari kita, komitmen kita untuk melindungi kehidupan di semua tahap mengharuskan kita masing-masing untuk menerima vaksin COVID-19 jika tersedia, untuk membela mereka yang paling berisiko terkena virus corona yang serius. Kami mendorong setiap anggota Keuskupan Agung Washington untuk menerima vaksin COVID-19 yang paling siap dan mudah tersedia. Dengan mencari vaksinasi, kita dapat membantu melindungi komunitas kita yang rentan dari pandemi mematikan ini.

    Akhirnya, sangat penting bagi umat Katolik untuk mengingat betapa jauhnya hubungan antara aborsi dan vaksin yang dikembangkan baru-baru ini. Ajaran moral kami menentang aborsi dalam semua keadaan, dan ada perbedaan moral antara melakukan tindakan aborsi, mengambil sel untuk digunakan dalam pengobatan dan pengembangan vaksin, dan menerima vaksin dengan maksud untuk melindungi komunitas Anda. Kita harus membedakan tingkat tanggung jawab kita dalam setiap keadaan ini untuk menghindari penyederhanaan tradisi teologis yang rumit.

    Bocah 5 Tahun Menyela Homili dan Meminta Doa untuk Ayah Baptisnya yang di Intubasi

    Sumber: https://aleteia.org/2021/06/13/5-year-old-boy-interrupts-homily-and-asks-for-prayers-for-his-intubated-godfather/ - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Brasil – Anak laki-laki kecil datang kepada imam dengan iman yang sederhana, dan permintaan doanya dijawab. Berita ini dirilis dari Aleteia yang diterbitkan pada 13/6/2021 waktu Brasil.

    Pada 16 Mei lalu, selama Misa Kenaikan Tuhan di sebuah paroki di Patrocinio, Brasil, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun menyela homili dan meminta doa untuk ayah baptisnya, yang menggunakan respirator karena COVID-19.

    Fr. Artur Oliveira merayakan Misa dengan transmisi langsung melalui internet, sehingga momen emosional itu ditangkap dan dibagikan secara luas.

    Baca Juga: Sejarah Singkat Missionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Memang, Fr. Artur membiarkan video itu tersedia di jejaring sosialnya karena seperti yang dia katakan kepada Kantor Berita Katolik ACI Digital, dia berharap itu akan menginspirasi orang.

    “Kita harus seperti anak ini, yang berdoa dengan sederhana, dengan keberanian, dengan iman.” Dia menambahkan bahwa beberapa orang yang melihat video itu mengatakan kepadanya bahwa itu telah menggerakkan mereka, “termasuk anak muda. Dan ada yang berkata, ‘Betapa kecilnya iman saya dibandingkan dengan besarnya iman anak ini!’”

    Gangguan suci

    João Miguel kecil menginterupsi imam “dengan kebebasan penuh,” menurut kesaksian Pater Artur sendiri, untuk bertanya langsung, “Ayah, maukah kamu berdoa untuk ayah baptisku? Dia diintubasi.”

    Baca Juga: Apa sih, Tarekat MSA itu?

    Bocah itu kemudian menjelaskan bahwa “Paman Flavio” telah tertular virus Corona baru.

    Dalam sebuah unggahan yang menyertai video Facebook tentang momen lembut (layak ditonton bahkan jika Anda tidak berbicara bahasa Portugis, untuk melihat bagaimana Pater Artur duduk di samping anak laki-laki kecil di tangga altar dan berdoa bersamanya), imam itu mengomentari episode:

    Bagaimana mungkin saya tidak mengindahkan permintaan ini? Saya mengakui bahwa, dalam hati, saya bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, anak ini mengejutkan saya. Apa yang harus saya lakukan sekarang?” Saya meninggalkan apa yang saya katakan dan duduk di sana di tangga altar. Saya membayangkan Yesus mendengarkan permintaannya. Dan saya tahu bahwa Dia akan melakukannya! Orang-orang yang ada di gereja itu belajar apa artinya memiliki iman.”

    Baca Juga: Komunikasi Sosial Lapisan Masyarakat, Yonzipur 6/SD Laksanakan Pertemuan

    Tepat sebelum permintaan João Miguel, imam itu berbicara dalam homilinya tentang Kenaikan Yesus dan fakta bahwa meskipun Dia naik ke surga, Dia tetap bersama kita: “Bahkan jika saya tidak merasakan Dia setiap saat, Dia bersama saya. Bahkan jika saya tidak melihat-Nya setiap saat, Dia bersama saya.” Setelah berdoa bersama anak itu, imam menyelesaikan homilinya dengan berkata, “Apakah kamu menginginkan tanda yang lebih indah dari itu? Yesus ada di tengah-tengah kita sepanjang waktu.”

    Kenaikan Yesus

    Cara Fr. Artur menghadapi situasi itu mengingat kata-kata Yesus dalam Injil Matius: “Biarkan anak-anak kecil itu datang kepada-Ku, dan jangan menghentikan mereka; karena kepada orang-orang seperti inilah kerajaan surga dimiliki.” (Mat 19:14)

    Baca Juga: Paus Fransiskus meminta umat Katolik untuk berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah Middle

    Dan memang, pada hari Kamis, 27 Mei, Fr. Artur kembali ke Facebook untuk membagikan berita bahwa permintaan João Miguel telah didengar dan dijawab: “Ya, KEAJAIBAN terjadi.”

    Di saluran YouTube-nya, imam memposting video untuk menindaklanjuti cerita, didahului dengan peringatan: “Siapkan sapu tangan Anda!” —karena sulit untuk tidak berlinang air mata ketika melihat cinta anak laki-laki itu kepada ayah baptisnya dan imannya yang sederhana.

    Selama video berdurasi 10 menit (dalam bahasa Portugis) imam mewawancarai ibu anak laki-laki itu, yang menceritakan bagaimana dalam seminggu paman/ayah baptis anak laki-laki itu berhenti bernapas dan bahkan berbicara lagi.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Busana Calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    “Kenapa dia sembuh begitu cepat?” Fr. Artur bertanya pada bocah itu. “Karena kami banyak berdoa dan Tuhan membantu kami!” João Miguel membalas.

    Keajaiban

    Siapa yang dapat meragukan kata-kata Yesus tentang anak-anak—bahwa “malaikat-malaikat mereka di surga terus-menerus melihat wajah Bapa-Ku di surga” (Mat 18:10)? Video itu kemudian menunjukkan “Paman Flavio” meninggalkan rumah sakit dengan kursi roda dan dipeluk oleh putrinya saat keduanya menangis bahagia.

    Semoga Tuhan mendengar doa semua orang, anak-anak dan orang dewasa, yang berdoa untuk orang-orang terkasih yang menderita COVID-19, dan semoga kita bergabung dengan doa-doa kita untuk mereka.

    Di Timur Tengah: “Damai Datang Langsung Dari Hati Yesus”

    Sumber: https://aleteia.org/2021/06/26/in-the-middle-east-peace-comes-directly-out-of-the-heart-of-jesus/ - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Timur Tengah – Seorang uskup Gereja Maronit berbicara kepada Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan tentang “Hari Doa untuk Perdamaian bagi Timur Tengah pada Hari Minggu”. Berita ini dirilis dari Aleteia yang diterbitkan pada 26/6/2021.

    Uskup Agung Maronit Chucrallah-Nabil El-Hage terlibat dalam prakarsa doa “Hari Doa untuk Perdamaian bagi Timur Tengah,” yang akan menyatukan seluruh Timur Tengah mulai hari Minggu. Dalam sebuah wawancara dengan Yayasan kepausan Aid to the Church in Need (ACN) atau dalam bahasa Indonesia “yayasan Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan”, Uskup Agung Emeritus dari Tyros (Lebanon) berbicara tentang keyakinannya bahwa doa dapat memberikan karunia perdamaian.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus ungkapkan Nilai-nilai yang ada di Pramuka tak jauh dari Agama Katolik

    Yang Mulia, pada hari Minggu yang akan datang ini, umat Katolik di Timur Tengah akan menjadikan perdamaian di wilayah itu sebagai fokus doa mereka. Ini akan diikuti oleh inisiatif khusus selama berbulan-bulan. Ide untuk ini muncul di Lebanon. Apa yang menginspirasi ini?

    Idenya dikembangkan oleh komisi “Justitia et Pax” di Lebanon, di mana saya adalah ketuanya. Kami kemudian mempresentasikannya kepada para patriark Katolik di wilayah tersebut dan mereka menerima gagasan itu. Beberapa faktor dibawa untuk menanggung. Yang pertama adalah bahwa bulan Juni didedikasikan untuk Hati Kudus Yesus. Para bapa bangsa percaya bahwa kedamaian tidak hanya muncul melalui atau dari Yesus, tetapi mengalir langsung dari hati-Nya. Untuk itu, Misa pembukaan akan diadakan pada hari Minggu terakhir bulan Hati Kudus Yesus. Kemudian, Paus Fransiskus mencanangkan Tahun Santo Yosef. Inilah sebabnya kami telah menempatkan Keluarga Kudus, di mana St. Yosef adalah pelindungnya, pada fokus inisiatif ini. Kami mendedikasikan seluruh Timur Tengah untuk Keluarga Kudus. Sebuah ikon Keluarga Kudus yang berisi reliks dari Basilika Kabar Sukacita di Nazareth telah ditulis secara khusus untuk inisiatif ini dan akan memulai perjalanannya melalui Timur Tengah.

    Baca Juga: Paus dalam Angelus: Saksi tidak kehilangan kata-kata, melainkan berbuah

    Ini pertama kalinya fokus sepenuhnya pada Keluarga Suci, bukan?

    Ya benar sekali. Seperti yang saya katakan, Tahun St. Joseph, yang diproklamirkan oleh paus untuk Gereja Universal, memainkan peran yang menentukan dalam hal ini. Bagaimanapun, Keluarga Kudus mewakili apa yang dialami oleh banyak keluarga saat ini di seluruh wilayah. Keluarga-keluarga ini juga telah dipaksa untuk melarikan diri dan mengalami kesulitan dan penolakan – seperti yang pernah dialami oleh Keluarga Kudus. Namun, berkat bagi seluruh dunia muncul dari kesulitan yang dialami oleh Penebus. Ini adalah harapan kami untuk dunia saat ini dan untuk wilayah kami. Faktor ketiga juga berperan: tahun ini menandai peringatan 130 tahun penerbitan ensiklik Rerum novarum oleh Paus Leo XIII. Ini adalah dokumen dasar ajaran sosial Katolik. Timur Tengah sangat membutuhkan ajaran ini. Ini adalah seruan abadi untuk keadilan dan perdamaian. Ini akan benar-benar menginspirasi bagi mereka yang mengatur wilayah tersebut.

    Baca Juga: Missionaris Para Rasul Kudus (MSA) di Pakumbang – Kalbar

    Mengapa para bapa bangsa percaya bahwa doa untuk perdamaian sangat penting sekarang? Apakah karena perang terbaru di Tanah Suci?

    Anda lihat, Timur Tengah tidak mengenal perdamaian. Perang menentukan wilayah kami. Ambil contoh Yaman. Hampir tidak ada orang Kristen di sana. Namun, sebagai orang percaya, kita tidak bisa mengabaikan konflik yang telah berkecamuk di sana selama bertahun-tahun. Tanah Suci, di sisi lain, saat ini sedang diguncang oleh putaran kekerasan lainnya. Konflik di Suriah belum terselesaikan. Juga di Libya. Lebanon mengalami krisis ekonomi yang parah. Negara kita ditandai oleh inflasi, pengangguran dan kesulitan. Kami benar-benar membutuhkan doa untuk perdamaian.

    Baca Juga: Paus ungkapkan Perawatan kesehatan adalah misi yang menyatukan sains dan kepenuhan umat manusia

    Apa yang Anda katakan kepada orang-orang skeptis yang tidak atau tidak lagi percaya pada kekuatan doa?

    Tentu saja, ada suara-suara itu juga. Tapi mereka sesat. Tidak akan ada keadilan dan perdamaian tanpa mengubah hati rakyat. Dan selain kemurahan Tuhan yang dapat mengubah hati manusia? Tidak, kita harus berdoa. Apalagi orang yang berdoa dengan keikhlasan tidak bisa merasakan kebencian. Ini sekali lagi merupakan kontribusi terhadap perdamaian.

    Apakah Anda percaya bahwa perhatian Gereja Universal untuk Timur Tengah telah berkurang dengan berakhirnya ISIS?

    Sayangnya ya. Tentu kita menyadari bahwa setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri karena pandemi COVID. Namun, kita semua membutuhkan solidaritas. Oleh karena itu, saya berterima kasih kepada organisasi seperti ACN, yang menunjukkan solidaritas sejati dengan Gereja-Gereja yang membutuhkan. Saya ingin secara tegas mengakui kemurahan hati yang telah ditunjukkan kepada kami.

    Baca Juga: Mengapa ada Spider Man pada Audiensi Umum Paus Fransiskus?

    Inisiatif doa baru ini secara khusus ditujukan kepada umat Katolik. Namun, apakah ada juga dimensi ekumenis atau bahkan antaragama?

    Kami melakukan segala daya kami untuk membuat acara ini ekumenis juga. Saat ini kami sedang bekerja untuk meluncurkan inisiatif di tingkat Dewan Gereja-Gereja Timur Tengah untuk memperkuat keluarga. Saat melakukannya, kami tentu saja secara khusus memikirkan Keluarga Kudus. Selain itu, semua orang yang berkehendak baik diundang untuk bergabung dengan kami dalam doa kami untuk perdamaian menurut iman mereka.

    Bagaimana Gereja Universal dapat bersatu secara rohani?

    Dengan datang bersama-sama untuk berdoa pada hari Minggu dan sesudahnya. Saya secara khusus merekomendasikan Doa Pembaktian kepada Keluarga Kudus. Bapa Suci Fransiskus menulis sebuah surat yang luar biasa kepada para bapa bangsa di mana dia memberi kita berkat-Nya dan mengajak orang-orang untuk berpartisipasi. Kebetulan, ikon Keluarga Kudus diperkirakan akan tiba di Roma pada akhir Tahun Santo Yosef. Ini memberikan kesempatan untuk memuliakan ikon di luar Timur Tengah sebelum kembali ke Tanah Suci.

    TERBARU

    TERPOPULER