Tuesday, May 19, 2026
More
    Home Blog Page 157

    Missionaris Para Rasul Kudus (MSA) di Pakumbang – Kalbar

    Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak bersama Animator untuk MSA Indonesia, RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA -Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    Baca artikel sebelumnyaSejarah Singkat Missionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Di Indonesia, kehadiran MSA berpusat di Biara Maria Ratu Para Rasul Tebing Tinggi, Paroki St. Fransiskus Asisi Pakumbang, Keuskupan Agung Pontianak.

    Missionaris Para Rasul Kudus (MSA) melayani reksa pastoral di Paroki St. Fransiskus Asisi Pakumbang dan juga mengelola persekolahan PAUD dan panti asuhan.

    MSA di Indonesia memiliki tiga rumah pendidikan yakni Rumah Pusat di Tebing Tinggi Pakumbang, rumah studi di Malang, dan Yogyakarta.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Busana Calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Prinsip “tak ada kata terlambat untuk menjadi imam” menjadi dasar untuk tidak membatasi umur para calon. Jadi, selama masih bisa dan tidak terhalang, para pemuda ‘berumur’ pun bisa diterima masuk menjadi anggota MSA.

    Bukankah Allah memilih dan memanggil Abraham di usianya yang sudah lanjut? Datanglah ke Pakumbang dan mulailah mengenal lebih intensif Kongregasi MSA. *- Samuel- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.*

    Sejarah Singkat Missionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Kilas Sejarah Singkat Missionaris Para Rasul Kudus (MSA)-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Bagi yang saudara yang sudah membaca artikel ini: Apa sih, Tarekat MSA itu?

    Marilah kita sedikit lihat secuplik perjalanan perkembangan tarekat Missionaris Para Rasul Kudus (MSA) yang kita baca sekarang ini.

    Setelah kapitel umum yang dilaksanakan oleh kedua tarekat pada tanggal 30 Juli – 18 Agustus 1995 untuk proses penyatuan tersebut. Pada tanggal 29 Juni 2000, Serikat MSA menerima hak pontifikalnya sebagai serikat religius imam.

    Pada bulan Maret 2013, Pastor Isaac Martinez MSA dan dewan mengunjungi Vietnam dan Indonesia. Pada tanggal 26 Maret 2013, sebagai superior general MSA, ia memimpin misa di Pakumbang, Keuskupan Agung Pontianak, untuk mengenangkan wafat pendiri MSA dan hal itu juga menandai masuknya MSA ke Indonesia.

    Baca juga: Pemberkatan Busana dan Perlengkapan untuk Imam Baru

    Kharisma MSA adalah mempromosikan, membentuk, dan mendampingi orang-orang muda dan dewasa dalam panggilannya menuju imamat dan panggilan lainnya dalam Gereja.

    Spiritualitas Tubuh Mistik Kristus MSA mendasarkan spiritualitasnya pada hidup, karya dan pewartaan Yesus sendiri, dalam semangat spiritualitas Tubuh Mistik Kristus.

    Sekarang ini, Generalat MSA berpusat di Montreal Kanada. Para imam MSA telah berkarya di Kanada, USA, Peru, Kolombia, Brazil, Venezuela, Kongo, Kamerun, Vietnam, dan Indonesia. Bersambung…

    Apa sih, Tarekat MSA itu?

    Animator untuk MSA Indonesia, RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak– Informasi yang penulis peroleh dari Pastor Ruben, MSA sebagai wakil animator untuk Indonesia, dikatakan bahwa MSA adalah singkatan dari Misioneros de los Santos Apostoles (Spanyol) atau Missionnaires des Saints Apôtres (Perancis) Society of the Missionaries of the Holy Apostles (Inggris), kemudian membakukan namanya dalam bahasa Indonesia sebagai Misionaris Para Rasul Kudus.

    Untuk MSA sendiri merupakan sebuah serikat hidup kerasulan (vita apostolica) yang didirikan berdasarkan dekrit Kardinal Jean-Claude Turcotte pada tanggal 15 Agustus 1995. Gabungan dua tarekat religius Serikat MSA merupakan hasil penggabungan dari dua tarekat religius.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Busana Calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Kedua tarekat yang digabungkan menjadi satu ‘kelompok’ baru itu yakni  Serikat SSsA yang didirikan pada tahun 1950 di Montreal — Kanada. Serikat MSsA yang didirikan di Peru pada tahun 1962.

    Kedua tarekat yang bergabung membentuk ‘kelompok baru’ ini dididrikan oleh Pastor Eusebe Hendri Menard OFM dan Bapak Hector Duran dengan spiritualitas dan kharisma yang sama.

    Pastor Eusebe Hendri Menard OFM meninggal dunia pada tanggal 26 Maret 1987. Setelah kematiannya, dewan pimpinan kedua tarekat sepakat untuk memulai penyatuan kedua tarekat. bersambung…

    Paus dalam Angelus: Saksi tidak kehilangan kata-kata, melainkan berbuah

    El Greco | Public Domain- Aleiteia- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Vatikan- Paus Fransiskus menyoroti kesaksian Santo Petrus dan Paulus selama Angelus, dengan mencatat bahwa meskipun kedua orang kudus itu tidak selalu menjadi teladan, mereka mengingatkan kita bahwa “Tuhan tidak untuk diperlihatkan, tetapi diperlihatkan; tidak diumumkan dengan proklamasi tetapi ditunjukkan dengan contoh.”

    Artikel ini diangkat di VatikanNews oleh Pastor Benediktus Mayaki, SJ pada 29 Juni 2021, 12:26 waktu vatikan. Dalam artikel itu dituliskan selama Angelus pada hari Selasa, Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, Paus Fransiskus merenungkan Injil hari itu (Mat 16:13 – 19) memusatkan perhatiannya pada pertanyaan yang Tuhan tanyakan kepada murid-muridnya: “Siapakah yang kamu katakan bahwa Saya?” (Mat 16:15).

    Baca juga: Komunikasi Sosial Lapisan Masyarakat, Yonzipur 6/SD Laksanakan Pertemuan

    Mengundang umat beriman untuk memberi Tuhan jawaban yang datang dari hati hari ini, Paus Fransiskus menggarisbawahi pentingnya pertanyaan yang Yesus ulangi kepada kita:

    “Siapakah Aku bagimu, yang telah menerima iman tetapi masih takut untuk berlayar di atas Firman-Ku? Siapakah saya bagi Anda, yang telah menjadi orang Kristen begitu lama tetapi, karena kebiasaan, telah kehilangan cinta pertama Anda? Siapa aku bagimu, yang sedang melalui masa sulit dan perlu membangunkan dirimu untuk memulai lagi?”

    “Kata orang aku ini siapa?” kata Paus

    Sebelum pertanyaan ini, Paus Fransiskus mencatat bahwa Yesus bertanya kepada murid-murid yang lain: “Kata orang, siapakah Aku ini?”

    Pertanyaan ini adalah ujian, kata Paus, untuk mengetahui pendapat tentang Yesus dan ketenaran yang dinikmati-Nya, meskipun ketenaran tidak menarik minat Yesus.

    Baca juga: Pemberkatan Busana dan Perlengkapan untuk Imam Baru

    Dia menyoroti bahwa Yesus mengajukan pertanyaan untuk “menggarisbawahi perbedaan” yang merupakan perbedaan mendasar dari kehidupan Kristen – perbedaan antara mereka yang berhenti pada pertanyaan pertama dan pada pendapat dan berbicara tentang Yesus, dan mereka yang, sebaliknya, “berbicara dengan Yesus , membawa hidup mereka kepada-Nya, memasuki hubungan dengan-Nya, membuat langkah yang menentukan.”

    Ini, kata Paus, “adalah apa yang menarik bagi Tuhan: menjadi pusat pikiran kita, menjadi titik referensi kasih sayang kita; menjadi, singkatnya, cinta dalam hidup kita.”

    Kesaksian Santo Petrus dan Paulus

    Mengalihkan perhatiannya kepada Santo Petrus dan Paulus, Paus Fransiskus mencatat bahwa mereka mengambil langkah itu dan menjadi saksi – peniru bukan pengagum, protagonis Injil dan bukan penonton – “mereka tidak percaya pada kata-kata tetapi pada perbuatan.”

    Dalam hal ini, Petrus tidak berbicara tentang misi tetapi dia adalah seorang penjala manusia. Paulus, pada bagiannya, tidak menulis buku-buku yang dipelajari tetapi surat-surat tentang bagaimana dia hidup ketika dia bepergian dan memberikan kesaksian. Kedua pria itu, Paus menjelaskan, “menghabiskan hidup mereka untuk Tuhan dan untuk saudara-saudara mereka.”

    Bapa Suci kemudian mengangkat contoh St. Peter dan Paul untuk memprovokasi kami agar tidak berhenti pada pertanyaan pertama, memberikan pandangan, pendapat, dan mengucapkan kata-kata yang indah tetapi tidak pernah mempraktikkannya. Dia menyesalkan bahwa “sangat menyedihkan melihat banyak yang berbicara, berkomentar dan berdebat, tetapi hanya sedikit yang menjadi saksi.”

    “Saksi tidak kehilangan diri mereka dalam kata-kata, tetapi mereka menghasilkan buah,” kata Paus. “Mereka tidak mengeluh tentang orang lain dan dunia, tetapi mereka mulai dari diri mereka sendiri. Mereka mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak untuk didemonstrasikan, tetapi diperlihatkan; tidak diumumkan dengan proklamasi tetapi ditunjukkan dengan contoh.”

    Saksi tidak selalu menjadi teladan

    Paus Fransiskus melanjutkan dengan menunjukkan bahwa keberatan mungkin timbul dari melihat kehidupan Santo Petrus dan Paulus karena “mereka adalah saksi tetapi mereka tidak selalu menjadi teladan” – Petrus menyangkal Yesus dan Paulus menganiaya orang Kristen.

    Namun, “mereka juga menjadi saksi atas kegagalan mereka,” kata Paus, menambahkan bahwa kisah Santo Petrus keluar “telanjang dan mentah” dalam Injil, dengan segala kesengsaraannya, dan Santo Paulus menceritakan kesalahan dan kelemahannya dalam surat-suratnya.

    Baca juga: Mgr. Agustinus Agus ungkapkan Nilai-nilai yang ada di Pramuka tak jauh dari Agama Katolik

    Di sinilah kesaksian dimulai, dengan “kebenaran tentang dirinya sendiri, dengan perjuangan melawan kepalsuan dan kepalsuannya sendiri,” Paus Fransiskus menggarisbawahi, menambahkan bahwa “Tuhan dapat melakukan hal-hal besar melalui kita ketika kita tidak berhati-hati untuk mempertahankan citra kita, tetapi transparan dengan Dia dan dengan orang lain.”

    Sebagai penutup, Bapa Suci menunjukkan bahwa Tuhan, melalui saksi-saksi-Nya Petrus dan Paulus, mendesak kita untuk “melepas topeng kita, meninggalkan setengah-setengah dan alasan-alasan yang membuat kita suam-suam kuku dan biasa-biasa saja.” Dia berdoa agar Bunda Maria, Ratu Para Rasul, dapat menyalakan dalam diri kita keinginan untuk bersaksi tentang Yesus.

    Komunikasi Sosial Lapisan Masyarakat, Yonzipur 6/SD Laksanakan Pertemuan

    Yonzipur 6/SD Laksanakan Pertemuan Komunikasi Sosial dengan Elemen Masyarakat- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Mempawah-Telah dilaksanakan kegiatan Komunikasi Sosial dengan Komponen Masyarakat oleh Satuan Yonzipur 6/SD pada Minggu, 28 Juni 2021 di Aula Yonzipur 6/SD, Anjungan, Kabupaten Mempawah.

    Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB itu mengusung tema ‘Merajut Persatuan dan Kesatuan Bangsa dengan seluruh elemen masyarakat yang ada di wilayah Toho, Anjungan dan Sungai Pinyuh’ dengan melibatkan, TNI/Polri, Camat, Tenaga Kesehatan, Perangkat Desa, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama.

    Kewajiban agama harus sesuai koridor

    Melalui kegiatan ini, peserta yang hadir ikut ambil bagian dalam kegiatan komunikasi sosial, terutama dalam membela negara ditengah pandemi Covid-19 yang ada di 3 Kecamatan wilayah Kabupaten Mempawah, “Tanpa campur tangan dari elemen masyarakat yang ada di setiap wilayah dan daerah masing-masing, program ini tidak akan berjalan,” ungkap Wakil Komandan Yonzipur 6/SD, Mayor Czi Komang Arya Mas, S.E.

    Baca juga: Tahbisan Dua Diakon Kongregasi CSE (Carmelitae Sancti Eliae)

    Wadan Yonzipur 6/SD menyampaikan harapannya agar kegiatan ini bisa memberikan pemahaman kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama bahwa dalam menjalankan kegiatan agama, harus sesuai dengan koridornya.

    Mayor Czi Komang juga mengatakan, dengan menjalankan tugas masing-masing masyarakat sudah memberikan kontribusi positif untuk perkembangan negara, “Contohnya petani dengan peningkatan hasil pertanian sehingga akan berdampak positif bagi masyarakat lain. Peternak, kalau tidak ada mereka kita akan susah. Kalau komponen tersebut tidak ada, maka akan pincang.” Imbuhnya.

    Baca juga: Pemberkatan Busana dan Perlengkapan untuk Imam Baru

    Letda Czi M. Dahir dalam menegaskan bahwa membela negara adalah sebuah keharusan bagi seluruh komponen bangsa Republik Indonesia.

    “Membela negara bertujuan untuk menghormati dan menghargai para pahlwan yang telah berjuang merebut kemerdekaan, mempertahankan negara agar jangan sampai dijajah kembali, meningkatkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia.” Tutupnya.

    Mgr. Agustinus Agus ungkapkan Nilai-nilai yang ada di Pramuka tak jauh dari Agama Katolik

    Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar Virtual 2021-Tim Kerja Kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Pontianak- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Kegiatan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar Virtual 2021 ini sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan Tim Kerja Kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Pontianak. Kegiatan itu mengusung tema “Menjadi Pembina Pramuka yang Terampil dan Cakap dalam Menghadapi Perkembangan Zaman di Era Digital” yang dimulai pada 28 Juni – 3 Juli 2021 mendatang.

    Kegiatan dimulai dengan misa pembukaan oleh Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dan Mgr Agus juga dipercaya untuk memberikan audiensi usai kegiatan pembukaan oleh H. Syarief Abdullah Alkadrie, SH, MH NTA sebagai ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Barat.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Busana Calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Misa pembukaan dilaksanakan di Gereja Santo Yosef Katedral pukul 08.00-09.00 WIB oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus didampingi oleh P. Plasida Palius Pale, OFMCap dan ada juga P. Lodewijk CDD sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Kalimantan.

    Kemudian acara dilanjutkan di Kompleks Persekolahan Petrus untuk Upacara Pembukaan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar Virtual 2021.

    Dalam homilinya, Mgr Agus menyampaikan ucapan terima kasihnya karena boleh mempersembahkan ekaristi dalam rangka pembukaan Kursus pembina mahir dasar di tahun 2021. Karena bagi Mgr Agustinus Agus bahwa nilai-nilai yang diajarkan dalam kepramukaan serta nilai-nilai yang ada dalam kegiatan pramuka sungguh menjadi daya dorong dalam pendidikan dan pembinaan kaum muda.

    Uskup Agus menilai bahwa apa yang ia lihat tentang pramkua tidak jauh berbeda dengan nilai-nilai yang ada di gereja Katolik.

    Implementasi nilai dan semangat pramuka

    “Oleh karena itu, Gereja Katolik sangat mendukung kegiatan ini dan marilah kita mohon, Tuhan menyertai agar kursus mahir dasar untuk para pembina yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Pontianak berhasil dengan baik dan bisa menjadi bekal dalam mendampingi orang-orang muda,” kata Mgr Agus.

    Mgr Agus juga menambahkan bahwa perkembangan zaman dewasa ini generasi muda harus mampu untuk menyesuaikan diri, karena bagaimanapun Uskup Agus  melihat perkembangan dunia yang pesat tak dapat dihindari.

    Baca juga: Kunjungan Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dalam Progres Pembangunan Persiapan Paroki Di Meranti

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus menggarisbawahi bahwa karena pentingnya nilai-nilai pramuka justru harus diimplementasikan agar mampu menghadapi situasi dengan inovatif, kreatif dan tidak tenggelam oleh situasi zaman yang selalu berubah.

    “Sebagai pembina pramuka disitu sekaligus manusia mengemban tugasnya menjadi seorang pemimpin,”lanjut Uskup. “Sama halnya juga dengan kepala rumah tangga, ketua regu dalam pramuka, wali kelas dan hal-hal kecil yang dipercayakan kepada kita.”

    “Jika saya melihat apa yang dikatakan Yesus betul, untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah kekuatan fisik yang ditonjolkan tetapi kekuatan hati,” kata Mgr Agus.

    Mgr Agustinus Agus juga merasa bahwa apa yang dikatakan Yesus juga dilaksanakan oleh Pramuka, karena hal itu maka pramuka sendiri sudah menunjukkan bahwa seorang pemimpin bukanlah orang lain. Selaras dengan itu panggilan kakak dalam pramuka sudah menunjukkan sudah menunjukkan kedekatan sekaligus persauradaan.

    “Kata lain yang digunakan Yesus adalah jika kamu hendak memimpin harus melayani bukan dilayani,” kata Uskup.

    Uskup Agung Pontianak, memaparkan pandangannya di zaman yang serba maju saat ini banyak orang mengedepankan power-nya dan bukan dengan hati-nya. Namun Uskup yakin semangat yang ada di dalam Pramuka tentu persauradaan yang dikedepankan.

    Insan yang terlibat dalam kepramukaan

    Usai misa pembukaan oleh Mgr Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak, selanjutnya acara dilanjutkan dengan upacara pembukaan kursus yang lansung dibuka oleh oleh H. Syarief Abdullah Alkadrie, SH, MH NTA sebagai ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Barat.

    Dalam kesempatan yang berbahagia itu, H. Syarief Abdullah Alkadrie mengajak semua peserta untuk memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas izinNya lah, Kursus Pembina Pramuka Tingkat Dasar Virtual Tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Tim Kerja Kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Pontianak bekerjasama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Barat yang dilaksanakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Daerah Kalimantan Barat sesuai dengan Petunjuk Penyelenggaraan.

    Baca juga: Yang Mana Ya, Bapak Uskup Agung Pontianak itu?

    “Saya menyambut baik dan perhatian serta menghargai usaha dan upaya Tim Kerja Kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Pontianak yang menyelenggarakan kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar, untuk mengatasi kekurangan Pembina di tingkat Gugus depan khususnya dan di jajaran Kwartir pada umumnya,” kata H. Syarief Abdullah Alkadrie.

    Dalam kesempatan itu, H. Syarief Abdullah Alkadrie menyampaikan bahwa sebagai insan yang terlibat dalam kepramukaan harus terus berusaha, belajar dan bekerja keras serta senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar apa yang direncanakan dan laksanakan mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

    Ia juga berharap semoga kesuksesan selalu menyertai langkah-langkah semua anggota di masa yang akan datang.

    Sebagai ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Barat, H. Syarief Abdullah Alkadrie juga menyampaikan rujukan tentang perihal dari halaman 238 Tahun 1961 dan diresmikan pada tanggal 14 Agustus 1961 oleh Presiden Republik Indonesia, pada dasarnya merupakan kesinambungan Gerakan Kepanduan Nasional yang ada di Indonesia.

    Tujuannya adalah untuk menumbuhkan Tunas Bangsa menjadi generasi yang dapat menjaga keutuhan, persatuan dan kesatuan hangsa, bertanggungjawab serta mampu mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia dengan karya-karya pribadi unggul yang dapat dibanggakan.

    “Kursus Mahir Dasar ini adalah implementasi dari Keputusan Presiden Indonesia atau biasa disingkat Keppres  tersebut diatas yang menjadi tanggungjawab kita semua sebagai pelatih maupun para Pembina pramuka,” lanjut H. Syarief Abdullah Alkadrie. “Untuk melaksanakan kegiatan bagi kaum muda yang bersifat keluarga, non-politik, terbuka untuk semua dan tanpa membedakan asal — usul, ras, suku dan agama yang penyelenggaraannya dilakukan melalui suatu sistem nilai universal kepanduan di Indonesia dikenal sebagai Satya dan Darma Pramuka.”

    Keterlibatan adalah aktualisasi diri dan bentuk tanggungjawab

    Oleh karena itu, kegiatan kepramukaan semestinya tidak hanya bermanfaat bagi anggota untuk membentuk kaum muda yang berkepribadian, berwatak dan berbudi luhur, beriman bertakwa, memiliki kecerdasan, keterampilan yang tinggi dan sehat jasmaninya, tetapi juga bagi masyarakat, bangsa dan negara.

    Syarief Abdullah Alkadrie menggaris bawahi bahwa kehadiran semua peserta yang berkumpul pada pembukaan kursus maupun peserta yang akan mengikuti kursus merupakan aktualisasi dari bentuk tanggungjawab untuk mengantar generasi penerus bangsa ke masa depan yang lebih cerah.

    Baca juga: Media Harus Jadi Jembatan Komunikasi Aparat dan Masyarkat

    Kesempatan itu pula, H. Syarief Abdullah Alkadrie menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Mgr Agustinus Agus, yang merupakan Uskup Agung Pontianak.

    Ia mengaku sudah melihat informasi dan jejak-jejak Uskup dan sumbangsih Mgr Agus dalam kepramukaan Indonesia.

    “Saya berterima kasih kepada Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus karena sumbangsihnya dan perhatiannya dengan kepramukaan Indonesia. Beliau juga saya kenal memiliki banyak kontribusi dan kompetensi yang luar biasa dalam hal kepramukaan,” tambahnya.

    Kursus Pembina Mahir Tingkat Dasar Virtual 2021 menurut data panitia diikuti oleh 91 peserta virtual dan dihadiri lansung oleh Vincentius Martyadinata H sebagai Ketua Tim Kerja Kepramukaan Majelis Nasional Pendidikan Katolik.

    Dihadiri juga oleh Yohanes Baptista, S.Pd, M.Pd, CHt.CT sebagai Ketua Tim Kerja Kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Pontianak, ada Syarifah Salbiah sebagai Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Dewasa Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Barat. Hadir juga Drs. M. Shabriandi, M.Pd sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan beserta pengurus Tingkat Daerah Kalimantan Barat dan seluruh kakak — kakak tim pelatih dan narasumber kursus dan Panitia Kursus Pembina Pramuka Tingkat Dasar Virtual Tahun 2021.

    Menutup audiensi Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agu menyampaikan bahwa kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter dalam kepramukaan harus mengedepankan nilai-nilai yang ada dalam Pramuka.

    Baca juga: Menilik kembali perjalanan Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak 1909-2009

    Uskup Agus mengingatkan bahwa semangat Trisatya dan Dasadarma haruslah menjadi semangat dan kunci utama untuk mampu menghadapi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia yang semakin kompleks dan yang cepat berubah.

    “Sebagaimana yang Baden-Powel sebagai Bapak Kepanduan Dunia susun,” lanjut Uskup. “Bahwa semua anggota Gerakan Kepanduan wajib menganut Trisatya dan Dasadarma. Kata-kata dan kalimat yang dipergunakan boleh jadi berbeda-beda antara Organisasi Kepanduan Nasional yang satu dengan yang lainnya karena disesuaikan dengan budaya setempat, akan tetapi semua itu berdasarkan pada “Promise and Law”.

    Di penghujung audiensi, Uskup Agung Pontianak mendoakan dan memberkati semua peserta yang turut ikut terlibat baik peserta maupun panitia penyelengaraan.-)

    Uskup Agung Pontianak Berkati Busana Calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Diakon Yohanes Febi Toring, MSA , - Frater Fransiskus Roke, MSA-Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus- RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA sebagai animator untuk MSA Indonesia (Pakai Baju Biru), - Diakon Blasius Hide Waton, MSA- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak– Pakaian ini adalah makna dan sekaligus tanda bahwa panggilan itu istimewa. Hal itu Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak ungkapkan dalam ibadat pemberkatan busana Imam untuk calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA) pada 28 Juni 2021 di Kapel Immaculata, Suster SFIC Pontianak.

    “Sebagai kaum berjubah ditambah lagi kondisi pandemi covid-19 saat ini,” imbuh Uskup. “Masa covid-19 saat ini, justru kesempatan kita untuk mewartakan dan menyebarkan ajaran kasih Allah.”

    Baca juga: Paus ungkapkan Perawatan kesehatan adalah misi yang menyatukan sains dan kepenuhan umat manusia

    Dalam homilinya, Mgr Agustinus Agus menggarisbawahi kalau imam sudah menerima pakaian busana imam tersebut dan sudah ditahbiskan menjadi Imam, maka janganlah berpikir untuk berpaling dan mengundurkan diri.

    Ibadat pemberkatan busana tersebut dihadiri juga oleh, RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA sebagai animator untuk MSA Indonesia didampingi juga oleh RP Ruben Ruruk Sandalajuk, MSA sebagai wakil animator MSA dan dihadiri pula sejumlah keluarga dari kedua Calon Imam MSA yaitu Diakon Blasius Hide Waton, MSA dan Diakon Yohanes Febi Toring, MSA serta sejumlah keluarga dari calon Diakon yakni Frater Fransiskus Roke, MSA.

    Hidup doa

    Uskup Agung Pontianak juga menyampaikan bahwa sumber kekuatan dari seorang imam adalah hidup doa dan selalu mempersembahkan ekaristi. Dimana ekaristi merupakan sebuah peristiwa seorang imam mengambil peran Yesus saat malam terakhir-Nya didunia untuk menebus dosa-dosa manusia.

    “Dengan ibadat berkat busana imam ini sekaligus mau menunjukkan bahwa panggilan menjadi seorang Imam adalah panggilan yang istimewa,” lanjut Uskup. “Saya selalu mengatakan campur tangan Tuhan sangat jelas yakni dengan kehadiran Tuhan Yesus ke dunia ini untuk menebus dosa-dosa manusia.”

    Baca Juga: Yang Mana Ya, Bapak Uskup Agung Pontianak itu?

    Pada bagian penutup, Mgr Agustinus Agus mengajak semua umat untuk mendoakan dua calon imam dan satu calon diakon yang esok (29 Juni 2021) akan menerima tugas baru, agar tetap setia dengan tugasnya menjadi bagian dari kaum berjubah.

    Usai ibadat pemberkatan busana imam Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak diajak untuk foto bersama dengan tiga calon tersebut, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.- Samuel-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    Paus ungkapkan Perawatan kesehatan adalah misi yang menyatukan sains dan kepenuhan umat manusia

    Pope Francis highlights need for a culture of community against the "throw-away" mentality (Vatican Media)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Vatikan- Dalam sebuah pesan kepada para peserta Konferensi Nasional Kesehatan Mental Italia kedua, Paus Fransiskus memuji pengorbanan petugas kesehatan di tengah pandemi Covid-19 dan menyoroti bahwa menjaga sesama terwujud sepenuhnya ketika pengetahuan ilmiah bertemu dengan kemanusiaan dan kelembutan.

    Paus Fransiskus pada hari Jumat, berbicara kepada para peserta pada Konferensi Nasional Kesehatan Mental kedua yang dipromosikan oleh Kementerian Kesehatan Italia.

    Baca juga: Paus Fransiskus meminta umat Katolik untuk berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah Middle

    Menyampaikan salamnya kepada mereka, Paus mengatakan bahwa acara tersebut memberinya kesempatan untuk mengungkapkan penghargaannya dan Gereja kepada para dokter dan petugas kesehatan yang terlibat dalam bidang yang sulit ini.

    Lebih lanjut menggarisbawahi pentingnya pekerjaan mereka, Bapa Suci mencatat bahwa komitmen mereka untuk menawarkan perawatan yang tepat kepada orang-orang yang menderita gangguan mental adalah “kebaikan besar bagi orang-orang dan masyarakat” terutama karena mereka “telah merasakan dengan gravitasi tertentu, efek psikologis yang menghancurkan dari pandemi.”

    Kebutuhan akan sistem perawatan kesehatan yang lebih baik

    “Oleh karena itu diinginkan,” tegas Paus, “ di satu sisi, untuk memperkuat sistem perawatan kesehatan untuk perlindungan penyakit mental” termasuk memberikan dukungan bagi mereka yang terlibat dalam penelitian ilmiah tentang patologi semacam itu.

    “Di sisi lain,” lanjutnya, perlu “mempromosikan asosiasi dan organisasi sukarelawan yang bekerja bersama orang sakit dan keluarga mereka.”

    Baca juga: Momen Persaudaraan: Mengenang Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak

    Paus Fransiskus melanjutkan untuk menyoroti perlunya melibatkan konteks hidup pasien kesehatan mental sehingga mereka tidak kekurangan “kehangatan dan kasih sayang dari sebuah komunitas.”

    “Profesionalisme medis itu sendiri mendapat manfaat dari perawatan integral orang tersebut,” tegas Paus, seraya menambahkan bahwa merawat sesama bukan hanya pekerjaan terampil tetapi misi nyata yang sepenuhnya terwujud ketika “pengetahuan ilmiah memenuhi kepenuhan kemanusiaan dan diterjemahkan ke dalam kelembutan yang tahu bagaimana mendekati dan mengambil hati orang lain.”

    Kepekaan baru terhadap pasien kesehatan mental

    Mengalihkan perhatiannya ke konferensi, Paus mengungkapkan harapan bahwa itu akan mengilhami lembaga, lembaga pendidikan dan masyarakat, “kepekaan baru” terhadap mereka yang menderita masalah kesehatan mental untuk menanamkan “kepercayaan yang lebih besar pada saudara-saudari kita, ditandai dengan kerapuhan”.

    Baca juga: Audiensi Mgr Agustinus Agus dalam Safari Kanvas dalam rangka hut 100 th Legio Maria

    Dia melanjutkan dengan mencatat bahwa ini adalah pertanyaan untuk membantu mengatasi stigma yang melekat pada masalah kesehatan mental dan untuk membuat “budaya masyarakat” menang atas mentalitas “membuang” yang lebih menghargai mereka yang membawa keuntungan produktif bagi masyarakat dan lupa bahwa “mereka yang menderita membuat keindahan martabat manusia yang tak tertahankan bersinar dalam hidup mereka yang terluka.”

    Covid-19

    Di tengah keadaan darurat kesehatan yang sedang berlangsung, Bapa Suci menyoroti pengorbanan para petugas kesehatan dan mendorong mereka untuk melanjutkan “di jalan kepedulian dalam solidaritas.”

    Dia mencatat bahwa pandemi menghadapi petugas kesehatan dengan tantangan besar yang mengemuka, kebutuhan untuk memiliki sistem perawatan kesehatan yang tepat yang tidak meninggalkan siapa pun tetapi merawat semua orang “dengan cara yang inklusif dan partisipatif.”

    Mengakhiri pesannya, Paus Fransiskus menyampaikan harapan baiknya kepada para peserta konferensi dan meyakinkan mereka akan doanya untuk semua petugas kesehatan, sukarelawan, pasien, dan keluarga mereka.

    Paus Fransiskus meminta umat Katolik untuk berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah Middle

    Altar inside the Church of the Holy Sepulchre in Jerusalem (AFP or licensors)- VatikanNews- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Vatikan- Paus Fransiskus menulis surat kepada para Patriark Katolik di Timur Tengah, saat mereka bergabung secara spiritual dalam merayakan Liturgi Ilahi untuk perdamaian di wilayah tersebut.

    Dirilis dari VatikanNews yang dilaporkan oleh Devin Watkins pada 27 Juni 2021, 12:48 waktu Vatikan. Dalam tulisan itu dituliskan ketika umat Katolik di Timur Tengah mengambil bagian dalam Liturgi Ilahi pada hari Minggu untuk berdoa bagi perdamaian, Paus Fransiskus mengirim surat kepada Imam mereka dan berterima kasih atas inisiatif mereka.

    Baca juga: Misa syukur Penutupan Tahun Ajaran di STT Pastor Bonus

    Para Patriark Katolik Timur Tengah juga menahbiskan wilayah itu kepada Keluarga Kudus.

    Berbicara di Angelus Minggu, Paus mendesak umat Kristen di seluruh dunia untuk berdoa bagi perdamaian di wilayah tersebut.

    “Semoga Tuhan menopang upaya mereka yang bekerja untuk dialog dan koeksistensi persaudaraan di Timur Tengah, di mana iman Kristen lahir dan hidup, terlepas dari penderitaan,” katanya. “Untuk orang-orang terkasih, semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketekunan, dan keberanian.”

    Baca juga: Audiensi Mgr Agustinus Agus dalam Safari Kanvas dalam rangka hut 100 th Legio Maria

    Secara terpisah, dalam suratnya kepada para Patriark Katolik, Paus mengenang Kunjungan Apostoliknya ke Timur Tengah, dimulai dengan ziarah ke Tanah Suci, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Irak.

    “Sejak awal kepausan saya, saya telah berusaha untuk dekat dengan penderitaan Anda,” katanya, menunjukkan bahwa dia sering mengundang Gereja untuk berdoa dan membantu Suriah dan Lebanon.

    Keluarga Kudus: identitas dan misi

    Paus Fransiskus kemudian merenungkan Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf, di mana Timur Tengah ditahbiskan pada hari Minggu.

    Dia mengatakan Keluarga Kudus mewakili identitas dan misi Katolik Timur Tengah. “Di atas segalanya, itu melindungi misteri Inkarnasi Anak Allah, dan dibangun di sekitar Yesus dan hidup untuk Dia.”

    Baca juga: Mengapa ada Spider Man pada Audiensi Umum Paus Fransiskus?

    Paus menyebut Keluarga Kudus sebagai “misteri kerendahan hati dan ketundukan”, yang diakui secara luas oleh yang besar maupun yang kecil, tetapi yang dianiaya oleh mereka yang hanya mencari kekuatan duniawi.

    Panggilan yang diilhami oleh Roh

    Paus Fransiskus mendesak semua umat Katolik di Timur Tengah untuk menemukan kembali bagaimana setiap komunitas dapat memenuhi panggilannya dalam konsekrasi kepada Keluarga Kudus.

    Dia mengatakan ini berarti “tidak hanya meminta pengakuan yang adil atas hak-hak Anda sebagai warga negara dari tanah tercinta itu, tetapi juga menjalankan misi Anda untuk menjaga dan bersaksi tentang asal-usul kerasulan Anda.”

    Baca juga: Ucapan terima kasih Paus kepada mereka yang melayani Kristus pada orang miskin dan terpinggirkan

    Paus menyesali kekerasan yang sering melanda wilayah tersebut, mengingat bahwa proyek manusia untuk perdamaian harus bergantung pada “kekuatan penyembuhan Tuhan.”

    “Jangan mencoba memuaskan dahagamu pada mata air kebencian yang beracun,” katanya, “tetapi biarkan ladang hatimu diairi oleh sinar Roh, seperti yang telah dilakukan oleh para santo besar dari tradisimu masing-masing: Koptik, Maronit , Melkit, Syria, Armenia, Kasdim, dan Latin.”

    Cahaya iman

    Paus mengakhiri pesannya dengan mengingat banyak peradaban yang telah lahir dan mati di Timur Tengah.

    “Namun, dimulai dari ayah kita Abraham, Firman Tuhan tetap menjadi pelita yang menerangi dan menerangi langkah kita,” katanya.

    Baca juga: Mgr Agus dalam Audiensi: Semangat Kebersamaan Sebagai Satu Keluarga

    Dan dia mendesak umat Katolik Timur Tengah untuk bertekun dalam iman dan dalam doa-doa mereka untuk perdamaian, di bawah panji “nubuat persaudaraan manusia.”

    “Semoga Anda benar-benar menjadi garam bagi tanah Anda,” katanya. “Memberi cita rasa pada kehidupan masyarakat kita, berusaha berkontribusi untuk membangun kebaikan bersama, menurut prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja”.

    RIP P. Firminus Andjioe, OFM. Cap, Wafat di Usia 68 Tahun

    RIP Pastor Firminus Andjioe, OFM. Cap. – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak Umat katolik kembali berduka, kabar dukacita datang dari seorang pastor dari Ordo Fransiskan Kapusin Pontianak yang saat ini bertugas sebagai Pastor Paroki Kristus Raja Sambas. Kita harus merelakan kepergian P. Firminus Andjioe, OFM. Cap kembali ke panggkuan Allah Bapa di surga, biarlah ia beristirahat dalam damai Tuhan.

    Pastor Firminus Andjioe, OFM. Cap lahir di Singkawang pada tanggal 25 September 1953 dan wafat pada Minggu, 27 Juni 2021 pukul 06.15 WIB di Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak. Hasil swab tgl 23 dan 24 Juni 2021 menunjukkan almarhum tidak terindikasi Covid-19.

    Pastor Firminus Andjioe, OFM. Cap (1953 – 2021)

    Almarhum akan disemayamkan di kapel Tirta Ria. Sore ini (27 Juni 2021) pkl. 18.30 Misa Requiem. Pemakaman akan dilangsungkan besok pada Senin, 28 Juni 2021 di Pemakaman St. Yusup Sungai Raya Pontianak, yg didahului dgn Misa Requiem pkl 10.00 WIB pagi di kapel Tirta Ria.

    Semoga jiwa-jiwa kaum beriman beristirahat dengan kekal karena kerahiman Tuhan.

    TERBARU

    TERPOPULER