Tuesday, May 19, 2026
More
    Home Blog Page 159

    Misa Krisma Oleh Mgr. Agustinus Agus di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak

    Dokumentasi Krismawan dan Krismawati Bersama Para Imam. - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Minggu, 30 Mei 2021, di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak telah diadakannya Misa Krisma oleh Mgr. Agustinus Agus Didampingi empat Pastor paroki dan diikuti oleh 434 peserta krismawan dan krismawati yang menggunakan pakaian putih-putih.

    Baca Juga: Penjubahan Sembilan Novis Ordo Pewarta

    Misa Krisma dilaksanakan setelah misa kedua yaitu pukul 11.00 WIB. Di awal misa, Mgr. Agustinus Agus mengingatkan tentang pesta Hari Raya Tri Tunggal Mahakudus dan menjelaskan secara singkat makna dari Sakramen Krisma.

    Misa Krisma

    “Hari ini gereja merayakan Pesta Tri Tunggal Mahakudus, sering dikatakan dengan istilah sederhana satu Allah tiga pribadi. Tiap hari kita mengucapkan tanda salib. Atas Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus Amin, tapi dari mana kita tahu? ini kita membaca kitab suci khususnya perjanjian baru, berkali kali Yesus mengatakan Aku dan Bapa adalah satu roh, kita tahu dari kitab suci. Tapi yang kedua, Allah itu adalah kasih hubungan antara Bapa Putra dan Roh Kudus adalah kasih yang mengatasi kasih manusia biasa,” ucap Mrg. Agustinus Agus.

    Baca Juga: Mgr Agus: Saling Mendukung adalah Hal Paling Pokok dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

    Lanjutnya menjelaskan makna dari Sakramen Krisma “Krisma artinya pengurapan. Disebut Krisma karena nanti kita akan diurapi dengan minyak suci. Sakramen artinya tanda, tanda yang selalu menandai sesuatu yang lebih tinggi dari wujud tanda itu sendiri. Dengan permandian kita resmi disebut anak-anak Allah, dengan krisma kita resmi menjadi anak-anak Allah yang dewasa yang ditandai dengan pengurapan dengan minyak suci. Sakramen Krisma sering juga disebut konfirmasi penguatan, kenapa? Karena melalui Sakramen Krisma kita mengakui diri kita itu lemah hanya bisa menjadi kuat kalau Tuhan ikut campur tangan dalam diri kita.

    Pesta Tri Tunggal Mahakudus

    Mgr. Agustinus Agus juga mengisahkan tentang peristiwa para Rasul “sama seperti para Rasul, mereka menjadi berani mengakui Yesus sebagai Tuhan setelah campur tangan Tuhan melalui karunia Roh Kudus. Dalam masa Kitab Suci orang melihat ada lidah-lidah api di kepala para Rasul. Oleh karena itu, kami pada perayaan Krisma menggunakan pakaian merah. Disebut juga sakramen kedewasaan, karena orang dewasa bisa hidup tanpa bantuan orang lain, kedewasaan dalam apa? dewasa dalam iman. Tetapi untuk hidup dewasa dalam iman tidaklah mudah oleh karena itu kita minta Tuhan campur tangan dalam hidup kita melalui karuni Roh Kudus”.

    Baca Juga: Paus dalam Audiensi: Evangelisasi mengharuskan kita untuk mengikuti jalan yang tidak terduga

    Pada pertengahan misa, penerimaan Sakramen Krisma dilakukan disesi sebelum penerimaan sakramen Ekaristi. Penerimaan Sakramen Krisma ini dilakukan sesuai arahan yang sudah dilakukan pada saat pelatihan seminggu sebelum dilaksanakannya misa tersebut.

    Setiap calon krisma memakai name tag yang telah diberikan oleh panitia agar mudah dalam penyebutan nama pada saat penerimaan sakramen Krisma oleh Mrg. Agustinus Agus.

    Pada sesi penerimaan Sakramen Krisma, para calon Krisma diurapi oleh minyak yang diberikan oleh Mrg. Agustinus Agus dengan sedikit menyentuh pipi tiap Krismawan dan Krismawati.

    Baca Juga: Kunjungan Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dalam Progres Pembangunan Persiapan Paroki Di Meranti

    Setelah menerima sakramen tersebut diberikan kenang-kenangan berupa kertas doa dan Rosario untuk para penerima Sakramen Krisma. Setelah menerima sakramen Krisma, para peserta kembali ke tempat duduk lalu berdoa. Terlihat salah satu Krismawan terharu saat setelah menerima sakramen Krisma tersebut.

    Pengurapan Minyak Suci

    Sebelum menutup misa adanya ucapan selamat dari RD Alexius Alex kepada seluruh Krismawan dan Krismawati karena telah menerima sakramen Krisma pada akhir bulan Mei di 2021.

    RD Alex juga mengucapkan terima kasih kepada Mgr Agustinus Agus yang sudah memimpin perayaan serta kepada seksi katekese DPP paroki Katedral yang sudah membantu menyelenggarakan pelajaran krisma secara online bekerja sama dengan Frater STT.

    Kesempata itu pula, RD Alex menyampaikan terima kasih kepada para Frater, sekretariat paroki yang sudah membantu di bagian administrasi, terlebih kepada Suster Agusta dan Bruder Hironimus yang sudah menjadi wali krisma pada hari ini. “Ini mungkin kali pertama suster dan bruder terlibat,”katanya.

    Kepada kelompok Koor Remaja Sisilia yang sudah membantu melayani pada misa dan kepada juga prodiakon kepada lektor misdinar tim komsos sound system, lanjut RD Alex “Segenap umat yang turut hadir mengantar anggota keluarga yang pada hari ini menerima sakramen krisma. Terima kasih untuk semuanya sekali lagi selamat bagi para krismawan dan krismawati.”

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Diakhir misa, para Krismawan dan Krismawati berfoto bersama dengan para Imam untuk mendokumentasikan perayaan tersebut. Diatur oleh panitia untuk berbaris agar foto dapat diambil keseluruhan.

    Kunjungan Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dalam Progres Pembangunan Persiapan Paroki Di Meranti

    Dokumentasi di Kecamatan Meranti, Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Meranti/Landak- Kunjungan Mgr Agustinus Agus,  Uskup Agung Pontianak dalam progres pembangunan persiapan paroki di Meranti, Kunjungan tersebut dilaksankan pada Selasa, 22 Juni 2021 didampingi oleh RP Aloysius HO Tombokan MSC sebagai Pastor Paroki Stella Maris Siantan, Pontianak Utara.

    Baca juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    Acara kunjungan tersebut dilakukan dengan tujuan kunjungan Pastoral Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus dalam memantau perkembangan Pembangunan persiapan Paroki Meranti.

    Acara kunjungan tersebut dihadiri oleh Elly Kornelia sebagai Camat Meranti, Kabupaten Landak. Sebagai Camat, Elly mengaku senang mendapat kunjungan dari Uskup Agung Pontianak.

    Baca juga: Paus dalam Audiensi: Evangelisasi mengharuskan kita untuk mengikuti jalan yang tidak terduga

    Sebagai Pastor rekan di Paroki Darit yang ditugaskan memantau perkembangan pembangunan progres untuk paroki baru di Meranti, RP Mikael Jeksen Warouw MSC mengaku selama ini ada kerjasama yang sangat baik antara Imam dan umat.

    Tak hanya sampai disitu saja, kerjasama yang dilakukan oleh umat sampai saat ini juga dirasakan juga oleh pihak pemerintahan setempat.

    Sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus menyampaikan salam dan berkat untuk persiapan Paroki untuk daerah kecamatan Meranti.

    Baca juga: Komisi kebebasan beragama memukul Aljazair atas perlakuan terhadap orang Kristen

    Dalam Audiensinya dengan umat Mgr Agustinus Agus mengungkapkan bahwa kunjungan semacam ini adalah salah satu bentu cintanya dengan umatnya.

    Sebagai Pastor Paroki Stella Maris Siantan, RP Aloysius HO Tombokan MSC menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Uskup Agung Pontianak karena sudah mau mengujungi tempat misi dari sesama saudaranya MSC di Paroki Darit.

    Kunjungan tersebut ditutup dengan makan bersama dan santap malam bersama umat perwakilan stasi. Berhubung kondisi Pandemi Covid-19, maka kegiatan kunjungan Pastoral Uskup Agung Pontianak dilaksanakan berdasarkan Protokol Kesehatan.

    Penjubahan Sembilan Novis Ordo Pewarta

    Sumber: Majalah DUTA- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Penjubahan menandakan peralihan jenjang seorang lelaki awam menjadi seorang religius. Sembilan saudara ordo Pewarta pada hari Jumat, 11 Juni 2021 di Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus menyerahkan pakaian duniawi mereka untuk menerima dan mengenakan Jubah Dominikan sebagai simbol penerimaan Kristus, model hidup setiap religius.

    Penjubahan yang diawali dengan perayaan ekaristi itu dipimpin oleh RP. Johanes Robini Marianto OP, dengan konselebrannya Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP, Pastor Andreas Kurniawan OP, Pastor Edmund C. Nantes OP, dan RD. Robert Ambrosius Dhai Mosa.

    Dalam homilinya, Romo Robini mengucapkan terima kasih kepada Prior Provincial Fr. Filemon I. dela Cruz Jr., OP yang mendelegasikan penjubahan ini kepadanya.

    Baca juga: Paus dalam Audiensi: Evangelisasi mengharuskan kita untuk mengikuti jalan yang tidak terduga

    “Romo Nantes ini mantan Provinsial yang jauh lebih pantas daripada saya. Saya didelegasikan karna saya superior, bukan karna saya lebih dari saudara-saudara lainnya.”

    Dia mengatakan, Ordo dominikan dikenal karna intelektualnya dan ia menanyakan mengapa novisiat minta kerahiman, bukan otak yang cemerlang. “Setelah 21 tahun saya masuk dalam hidup dominikan, saya mengerti sekarang dan ini diperkuat dengan perayaan hari ini yang bertepatan dengan hari raya Hati Kudus Tuhan Kita Yesus Kristus. Inti dari pewartaan kita, seberapa dalam kasih Allah kepada manusia.”

    Baca juga: Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Beragama: Pesan Menyambut Datangnya Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H. / 2021 A.D.

    Romo mengatakan kepada sembilan Novis Ordo Pewarta, “Kamu tidak seragam, kamu berbeda satu sama lain, dan hari ini kamu mulai mencoba menjadi saudara satu sama lain sampai mati, dan kamu akan tau sama tau orang ini modelnya seperti apa, kamu modelnya seperti apa. Kamu akan menemukan kalian semua tidak ada yg sempurna. Dan yang paling menyakitkan langsung atau tidak langsung saling menyakiti, itu kenyataan yang paling menyedihkan.” Imbuhnya.

    Lanjutnya, masuk novisiat dengan harapan bisa menjadi suci, bisa bersama dengan teman yang suci, tapi yang terjadi ternyata malah sebaliknya, bisa saling menyakiti, saling melukai dan hidup bersama-sama itu tidak gampang, sulit jika tidak saling memberi kerahiman.

    Baca juga: Surat Bapa Suci Kepada Brother Gerard Francisco Timoner, O.P., Master Jenderal Order of Preachers

    “Pengalaman saya mengembangkan saya, saya di dorong untuk mengembangkan talenta saya. Ketika hari ini saya melihat kamu lebih banyak dari orang Philippine, saya percaya kamu generasi kedepan bisa lebih hebat dari saya, bisa menjadi apa yang tidak mungkin di zaman saya. Belajar yang baik, jangan tidur. Kamu bisa lihat bagaimana Romo Nantes, Romo Ming, Romo Andre menyiapkan semuanya untuk penjubahan kamu, bagaimana komunitas ini bekerjasama dalam segala kesibukan tugas yang ada untuk membuat semua ini terjadi. Menurut saya semua ini luar biasa.” Katanya.

    Romo Robini juga menyampaikan harapan dari dirinya dan saudara seordonya saat awal para Novis memasuki kehidupan religius, Novis bisa merenungi semua bacaan dengan seksama: ”Kami berdoa supaya kamu dengan semua orang kudus dapat memahami betapa lebar dan panjangnya, betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus, juga supaya kamu dapat mengenal kasih Kristus itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku dan kami berdoa supaya kamu dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah. Saya harap pesta hari ini menjadi permulaan yang menjadi titik tolak permenungan sampai akhir. Kami berempat kalau tanpa kasih tidak akan bertahan di depan kalian. Dari Provincial mengucapkan Terima kasih kepada mgr. Agustinus Agus sudah hadir, atas Keuskupan, Novisiat dapat diadakan di tempat ini.” Terangnya.

    Jubah Dominikan terdiri dari:

    Jubah Putih yang menjadi simbol penyerahan diri dalam baptisan, yang kemudian dikukuhkan oleh jawaban kandidat untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya sebagai seorang Dominikan.

    Sabuk yang menyimbolkan keinginan seorang Dominikan untuk menundukan hasrat dan hal-hal duniawi yang ada demi tujuan surgawi.

    Setiap pewarta membawa Rosario. Melalui tradisinya, Gereja sudah menyerahkan dan mempercayakan devosi Rosario kepada putra dan putri Santo Dominikus untuk mewartakan devosi ini kepada Dunia.

    Skapulir yang panjang dan lebar yang dipadukan dengan jubah putih sebagai tanda kasih dan perlindungan Perawan Maria yang tersuci.

    Santo Dominikus mendirikan perkumpulan para pria-pria yang hidup untuk melayani Gereja sebagai pewarta dan guru di dalam tugas seorang Uskup. Hal ini disimbolkan dengan Kapus Putih yang dikenakan di bahu. Tudung yang meliputi kepala mereka menggambarkan kontemplasi, sumber dari hidup doa dan hidup studi.

    Baca juga: Ulang Tahun Imamat Pastor Edmund C. Nantes, OP Dirayakan dengan Misa Syukur dan Santap Bersama

    Pada Hari Raya, Mantel Hitam dikenakan menyelubungi semua. Mantel Hitam menjadi simbol akan kematian terhadap dosa dan pertobatan Jubah Putih dan Mantel Hitam meliputi keseluruhan jubah seorang Saudara Pewarta.

    Dalam pesan dan kesannya, Frater Hengky Padaunan yang merupakan perwakilan dari Novis yang telah menerima penjubahan mengatakan, momen kesedihan dimana mereka harus berpisah bersama dunia luar terutama bersama keluarga, dan boleh jadi dianggap aneh oleh dunia karena setelah pesta perayaan penjubahan, mereka akan segera meninggalkan gaya hidup yang lama.

    “Selama ini mungkin kami sering boros, menghabiskan waktu bersama internet, games, jalan-jalan, menonton bioskop, dan segala sesuatu yang bersifat menghibur diri. Ini adalah barang-barang duniawi kami yang telah kami kumpulkan, didalamnya adalah barang-barang yang berharga, ATM kami, uang kami, jadi saat ini kami tidak memiliki uang sepeserpun.

    Melalui tahap ini kami diajak untuk bermenung, jauh dari keramaian dunia yang tentu ini adalah tantangan bagi kami. Dalam hal ini kami dibentuk untuk menjadi dewasa, dewasa secara kepribadian, dewasa dalam iman secara katolik dan dewasa dalam panggilan yang telah kami pilih.” Imbuh Frater.

    Baca juga: KONGREGASI DOMINIKAN BUNDA MARIA ROSARIO SUCI

    Dirinya juga mohon doa dan dukungan dari seluruh umat yang menyaksikan, baik secara langsung maupun melalui streaming, “Bagi orang tua kami, mohon bersabar setahun. Kami berharap bahwa kami tidak dicoret dari Kartu Keluarga, walaupun kami telah menyerahkan diri kepada Ordo, namun hubungan kami dengan keluarga harus tetap terjalin karena sumber motivasi kami juga berasal dari keluarga.” Kata Frater Hengky.

    Di akhir kalimatnya, ia mewakili saudara-saudaranya, mengucapkan terima kasih untuk semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan.

    Sementara itu, Frater Yohanes Kasra yang menjadi perwakilan dari komunitas Seminari Tinggi Antonio Ventimiglia mengucapkan selamat kepada kesembilan saudara Ordo Pewarta karena sudah melangkah jauh, “Pesan kami jangan berhenti berjuang, perjalanan masih jauh, karena kita masih tahap dipanggil, belum sampai tahap dipilih seperti para Romo yang telah sampai pada tahap ditahbiskan menjadi Imam.” Imbuhnya.

    Dalam sambutannya, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus mendoakan Ordo Dominikan Philippine khususnya Dominikan di Indonesia agar mampu mengembangkan gereja di Indonesia dan khususnya gereja di KAP dan Kalimantan Barat.

    Komisi kebebasan beragama menyerang Aljazair atas perlakuan terhadap orang Kristen

    Sumber: pixabay-Aleteia/ John Burger- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Internasional- USCIRF prihatin dengan hukuman untuk penodaan agama dan dakwah. Dirilis dari berita Aleteia yang ditulis oleh John Burger – diterbitkan pada 24/06/21 yang diperbarui pada 24/06/21.

    Tulisan itu memuat tentang Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF) yang dimana minggu ini mengutuk beberapa keputusan pengadilan di Aljazair yang membatasi kebebasan beragama orang Kristen di negara itu.

    Baca juga: Paus dalam Audiensi: Evangelisasi mengharuskan kita untuk mengikuti jalan yang tidak terduga

    Dalam tulisan tersebut dikatakan “Keputusan baru-baru ini oleh pengadilan Aljazair untuk menghukum orang Kristen yang dituduh melakukan penistaan ​​dan penyebaran agama dengan hukuman penjara beberapa tahun dan untuk menyegel gereja-gereja Protestan yang telah ditutup secara paksa menunjukkan bahwa negara itu menuju ke arah yang salah,” kata Ketua USCIRF Nadine Maenza.

    Keputusan Pengadilan

    Tulisan itu memuat narasi yang mengungkapkan umat ​​Kristen di Aljazair telah menghadapi tantangan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, kata USCIRF. Mengutip laporan media, komisi mengatakan bahwa:

    Pada 22 Maret, Pengadilan Kota Oran menguatkan hukuman penjara lima tahun yang dijatuhkan terhadap Christian Hamid Soudad yang berusia 42 tahun karena menghina Nabi Muhammad.

    Baca juga: Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Pada 6 Juni, sebuah pengadilan di Oran menghukum pendeta kota dan pemilik toko buku Rachid Mohamed Seighir satu tahun penjara karena “mencetak, menyimpan, atau mendistribusikan materi yang dapat ‘menggoyahkan’ iman seorang Muslim.”

    Pada tanggal 4 Juni, pengadilan tata usaha negara di Oran memerintahkan penyegelan fisik tiga gereja Protestan yang telah ditutup paksa oleh pemerintah pada tahun 2020. Banding penutupan sedang berlangsung.

    Baca juga: Ketua Komsos KAP Paulus Mashuri: Jangan Mandai-mandai Buat Berita

    “Keputusan pengadilan ini adalah upaya terang-terangan untuk menyangkal hak orang Kristen Aljazair atas kebebasan beragama dan berkeyakinan,” kata Komisaris USCIRF Frederick A. Davie. “Kami mendorong pejabat pemerintah AS untuk menghadiri banding atas putusan ini untuk menunjukkan komitmen tegas kami terhadap kebebasan beragama bagi orang Kristen dan semua agama minoritas di Aljazair.”

    Dalam laporan

    Dalam Laporan Tahunan 2021, USCIRF merekomendasikan agar Departemen Luar Negeri menunjuk Aljazair untuk “Daftar Pengawasan Khusus” karena terlibat atau menoleransi pelanggaran berat kebebasan beragama sesuai dengan Undang-Undang Kebebasan Beragama Internasional (IRFA).

    Pada tahun 2020, Pew Research Center mengatakan bahwa pihak berwenang di Aljazair telah menahan beberapa orang Kristen karena melanggar larangan penyebaran agama oleh non-Muslim.

    Paus dalam Audiensi: Evangelisasi mengharuskan kita untuk mengikuti jalan yang tidak terduga

    Pope Francis salutes the faithful gathered at the General Audience on Wednesday (Vatican Media)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan-Pada Audiensi Umum pada hari Rabu, Paus Fransiskus memulai siklus katekese baru dengan tema-tema dari Surat St. Paulus kepada Jemaat Galatia, menyoroti masalah-masalah yang dihadapi oleh komunitas-komunitas Kristen di Galatia.

    Dirilis dari berita Vatikannews yang ditulis oleh Fr Benediktus Mayaki, SJ pada 23 Juni 2021, 10:30 waktu vatikan, dikisahkan Paus Fransiskus memulai siklus katekese baru pada Audiensi Umum pada hari Rabu, yang didedikasikan untuk tema-tema yang diusulkan oleh Rasul Paulus dalam Suratnya kepada Jemaat Galatia.

    Baca juga: Paus Fransiskus ungkapkan bahwa orang miskin memungkinkan manusia untuk menemukan wajah sejati Bapa

    Dalam Surat itu, kata Paus, St. Paulus membuat banyak referensi biografis yang memungkinkan kita untuk memahami pertobatannya dan keputusannya untuk menempatkan hidupnya untuk melayani Kristus.

    Dia juga menyentuh topik-topik penting seperti kebebasan, rahmat, dan cara hidup Kristen – topik-topik yang “menyentuh banyak aspek kehidupan Gereja di zaman kita.”

    Bapa Suci menekankan bahwa ini adalah surat yang penting dan menentukan, tidak hanya untuk mengenal St. Paulus lebih baik, tetapi di atas segalanya, untuk menunjukkan keindahan Injil.

    Karya evangelisasi St. Paulus

    Dalam berita itu dituliskan fitur pertama dari Surat kepada Jemaat Galatia, Paus menunjukkan, adalah “karya besar evangelisasi” oleh Rasul yang mengunjungi komunitasnya setidaknya dua kali selama perjalanan misionarisnya.

    Baca juga: Mgr Agus: Saling Mendukung adalah Hal Paling Pokok dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

    Memberikan beberapa konteks pada Surat itu, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa meskipun tidak pasti wilayah geografis mana yang dimaksud Paulus, atau tanggal ia menulis surat itu, orang Galatia adalah penduduk Celtic kuno yang menetap di wilayah Anatolia yang luas, dengan Ancyra sebagai ibukotanya (sekarang Ankara di Turki).

    Di wilayah ini, Santo Paulus menceritakan bahwa ia terpaksa tinggal karena sakit, kata Paus. Namun, St Lukas, dalam Kisah Para Rasul, memberikan motivasi spiritual, mencatat bahwa “mereka pergi melalui wilayah Frigia dan Galatia, yang telah dilarang oleh Roh Kudus untuk memberitakan Firman di Asia” (Kisah Para Rasul 16 :6).

    Baca juga: Wajah Baru Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan

    Lebih jauh menjelaskan, Bapa Suci mengatakan bahwa kedua fakta ini tidak bertentangan karena menunjukkan bahwa “jalan evangelisasi tidak selalu bergantung pada kehendak dan rencana kita, tetapi membutuhkan kesediaan untuk membiarkan diri kita dibentuk dan mengikuti jalan lain yang telah ditentukan. tidak

    “Apa yang kita lihat,” lanjut Paus, “adalah bahwa dalam karya evangelisasinya yang tak kenal lelah, Rasul berhasil mendirikan beberapa komunitas kecil yang tersebar di seluruh wilayah Galatia.”

    Kepedulian pastoral di tengah krisis

    Paus Fransiskus melanjutkan untuk menyoroti kepedulian pastoral Paulus, ketika, setelah mendirikan Gereja, ia menemukan bahwa beberapa orang Kristen yang berasal dari Yudaisme mulai menabur teori yang bertentangan dengan ajarannya.

    Orang-orang Kristen ini berargumen bahwa bahkan orang-orang bukan Yahudi pun harus disunat menurut Hukum Musa, dan, implikasinya, orang Galatia harus meninggalkan identitas budaya mereka untuk tunduk pada norma dan kebiasaan orang Yahudi. Selain itu, musuh-musuh Paulus ini mengklaim bahwa Paulus bukanlah rasul sejati dan karena itu tidak memiliki wewenang untuk memberitakan Injil.

    Paus Fransiskus mencatat ketidakpastian yang memenuhi hati orang-orang Galatia di tengah krisis ini, terutama karena mereka telah mengetahui dan percaya bahwa keselamatan yang dibawa oleh Yesus adalah awal dari kehidupan baru, terlepas dari sejarah mereka yang terjalin dengan perbudakan, termasuk apa yang membuat mereka tunduk pada kaisar Roma.

    Tidak jauh dari hari ini

    Membawa situasi ke hari ini, Paus Fransiskus mengatakan kehadiran para pengkhotbah yang, terutama melalui sarana komunikasi baru, menampilkan diri mereka sebagai “penjaga kebenaran” di jalan terbaik untuk menjadi orang Kristen, alih-alih mengumumkan Injil Kristus.

    Ia menyayangkan bahwa para pengkhotbah ini dengan tegas menegaskan bahwa kekristenan yang sejati adalah yang mereka anut – sebuah kekristenan yang sering diidentikkan dengan masa lalu – dan menawarkan sebagai solusi atas krisis hari ini, kembali ke masa lalu “agar tidak kehilangan keaslian iman.”

    Baca juga: Bahas Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    Hari ini juga, seperti saat itu, Paus menambahkan, “ada godaan untuk menutup diri dalam beberapa kepastian yang diperoleh dalam tradisi masa lalu.”

    Menekankan bahwa ajaran Rasul Paulus dalam Suratnya kepada Jemaat Galatia “akan membantu kita untuk memahami jalan mana yang harus diikuti,” Bapa Suci menggarisbawahi bahwa itu adalah “jalan Yesus, Disalibkan dan Bangkit yang selalu baru dan membebaskan.”

    “Ini adalah jalan pewartaan, yang dicapai melalui kerendahan hati dan persaudaraan; itu adalah jalan kepercayaan yang lemah lembut dan patuh, dalam kepastian bahwa Roh Kudus bekerja di Gereja di setiap zaman,” kata Paus.

    Mgr Agus: Saling Mendukung adalah Hal Paling Pokok dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

    Sumber Foto: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak- 1.Kombes pol benyamin sapta, Dir Polair 2.Kombes Pol Yohanes Hernowo ,Dir Narkoba 3.Akbp.Y.Andis APP, Pamen Dit Lantas Penyerahan Bingkisan untuk Mgr Agustinus Agus-dalam rangka Ulang Tahun Bahyangkara ke-75

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Di tengah suasana Pandemi Covid-19, refleksi etika tentang tindakan heroik menarik untuk dilakukan. Hal itu tampak dalam refleksi etika tentang tindakan heroic, yang  terasa melawan arus.

    Semua bisa berupa hanya terdengar lirik, dilakoni oleh jingle iklan, slogan kampanye, pertikaian politik, dan gosip selebriti yang hingar bingar, suasana gemerlap dan memesona yang tampak seolah mendukung percepatan penanganan Covid, namun masih banyak juga yang tak mengindahkan dukungan itu.

    Baca juga: PROFICIAT! 177 Th Kongregasi SFIC Merawat Spirit para Pendahulu (24 Juni 1844-2021)

    Sebagaimana yang Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus katakan bahwa saling mendukung adalah hal paling pokok dalam menghadapi situasi Pandemi Covid-19.

    Hal itu Mgr Agustinus Agus katakan dalam silahturahmi hari Bahyangkara ke 75 dalam kunjungan Kombes Pol Benyamin Sapta, Dir Polair, Kombes Pol Yohanes Hernowo, Dir Narkoba dan AKBP Y.Andis APP,Pamen Dit Lantas, di Keuskupan Agung Pontianak pada 24 Juni 2021 pagi.

    Dalam wawancara dengan Kombes Pol Benyamin Sapta, Dir Polair- ia mengatakan kegiatan kunjungan ini merupakan ajangsana pelaksanaan rangkaian kegiatan hari Bahyangkara ke 75.

    “Sesuai dengan perintah Bapak Kapolda Kalimantan Barat untuk melaksanakan ajangsana kepada masyarakat dan salah satunya kami mengunjungi Mgr Agustinus Agus sebagai tokoh Agama Katolik Kalimantan Barat,” kata Kombes Pol Benyamin Sapta, Dir Polair.

    Baca juga: Bahas Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    “Kegiatan ini harapannya apa yang sudah Polri lakukan di hari Bahyangkara ke 75 agar bisa meningkatkan silahturahmi,” lanjut Benyamin, “hubungan masyarakat dan untuk kami sendiri agar bisa meningkatkan kinerja khususnya kepolisian untuk memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan untuk masyarakat.”

    Kombes Pol Benyamin Sapta, Dir Polair juga menyampaikan karena situasinya sedang pandemi covid-19 maka Polda Kalbar berharap bisa memberikan edukasi kepada masyarkat dan sama-sama menjaga situasi covid yang ada ditengah masayarkat. Sejalan dengan itu diharapkan bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bisa melaksanakan vaksin.

    Teladan baik ditengah Pandemi

    Kata “heroisme” atau “tindakan heroik” dapat pula dimengerti secara lebih luas, yakni dengan melepaskan keterkaitannya dengan konflik fisik atau peperangan mana pun. Dalam arti luas, tindakan heroik malah dapat dikaitkan dengan sikap “anti kekerasan’, sikap menghindari semua jenis kekerasan, apalagi kekerasan fisik dan peperangan.

    Chris Lowney adalah salah seorang yang menggunakan arti “kepahlawanan” dalam arti luas. Dalam buku Heroic Leadership (2005), ditulisnya bahwa ciri kepemimpinan heroik ialah keberanian untuk senantiasa melakukan mawas diri, kemampuan merasa nyaman di dunia yang selalu berubah, memiliki cinta kasih untuk mengakui bakat terpendam pada setiap orang yang dijumpai, memotivasi tiap orang untuk mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki secara maksimal.

    Baca juga: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Narasi diatas selaras dengan apa yang dikatakan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus selaku tokoh Agama Katolik bangga dan mengapresiasi tindakan Polri yang mengayomi masyarakat, termasuk didalamnya Polri sudah berusaha untuk menjalin silahturahmi bersama tokoh agama.

    “Siapapun sebagai warga negara Indonesia apalagi sebagai tokoh kita perlu mendukung, pihak-pihak yang sungguh peduli terdahap situasi masyarakat semacam ini,” kata Uskup Agus.

    Mgr Agustinus Agus juga menambahkan apalagi yang dihadapi sekarang adalah Covid-19 yang makin meningkat.

    “Saya juga mendukung TNI/Polri turun lansung ke lapangan, bukan karena kurang menghargai kinerja gugus tugas yang seharusnya dilakukan pemerintah tetapi memang situasi khusus,” kata Mgr Agus.

    Pesan untuk memikirkan dan memperjuangkan kebebasan, kesetaraan, dan kesejahteraan kalangan yang membutuhkan bantuan, meski kalangan itu bukan sanak keluarga, sahabat, rekan sekerja, seiman, separtai atau sesuku, sangatlah relevan disuarakan.

    Baca juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    “Jadi kehadiran dari Polda dalam rangka Hut Bahyangkara ke 75 saya lihat hal ini menunjukkan teladan,” lanjut Uskup, “dan pihak aparat juga butuh dukungan dari masyarakat apalagi tokoh-tokoh agama.”

    Uskup Agus juga menyayangkan, kadang-kadang terkait ideologi, pemberitaan yang tidak utuh, membuat masayarakat takut untuk divaksin.

    “Kalau hal ini terus dibiarkan, kapan kita akan selesai dalam hal ini?” Tanya Uskup, “Tetapi puji Tuhan dari pandangan saya, orang Katolik sangat mendukung ini bahkan mencari-cari kapan bisa divaksinasi.”

    Pesan tindakan heroik ini amat relevan. Ketika semua hanya sibuk memikirkan kesejahteraan keluarga masing-masing dan hanya sedikit berbagi dengan tetangganya kiri kanan, pertanyaan itu kembali menghunjam sanubari, “Who is my neighbour?” terlebih dalam situasi covid-19 saat ini.

    Sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mengucapkan terima kasih kepada Kapolda Kalimantan Barat, dan bangga karena diajak terlibat dalam hal ini. “Pandemic ini adalah masalah kita bersama,” tambah Uskup, “Saya harap instansi lain juga bisa melakukan hal serupa seperti ini. Misalnya saat ini Polri, nanti TNI, ada Sipil, dan sebagainya karena saling mendukunglah yang paling pokok.” Selamat Hari Bahyangkara ke 75.

    PROFICIAT! 177 Th Kongregasi SFIC Merawat Spirit para Pendahulu (24 Juni 1844-2021)

    PROFICIAT! HUT SFIC Ke- 177 Tahun - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Pada kesempatan itu, para suster SFIC Provinsi Indonesia juga untuk mengenang spirit kelima suster misionaris muda SFIC van Veghel yang pada tanggal 28 November 1906 silam berhasil tiba berlabuh di Borneo  guna memulai karya monumental mereka di Singkawang.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Ke-5 suster perintis karya misi SFIC di Indonesia –tepatnya di Singkawang—ini adalah Sr. Rogeria Vissers SFIC, Sr. Silvestra van Grinsven SFIC, Sr. Alexia Helings SFIC, Sr. Emerentiana SFIC, dan Sr. Fidelia Grassens SIFC.

    Karya Misi SFIC

    Pada masa itu mereka sungguh sadar diri dan tahu, sekali berangkat ke Tanah Misi maka kemungkinan besar mereka takkan bisa kembali lagi pulang “mudik” ke Nederland. Entah karena sakit terkena virus penyakit khas wilayah tropis –malaria, kolera dan tifus—atau mengalami kecelakaan atau masalah lain.

    “Sampai berjumpa kembali di surga” demikian dikisahkan dalam format kronologis dalam sebuah buku sejarah rumah (historia domus).

    Baca Juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    Namun dengan motto “Demi Cinta Allah” inilah yang membangkitkan cinta besar mereka kepada Gereja melalui Kongregasi SFIC. Plus semangat muda ingin menjadi misionaris untuk merangkul jiwa-jiwa yang terlantar, menyembuhkan yang terluka, menyatukan yang remuk, dan memanggil kembali yang tersesat (Konstitusi Kongregasi SFIC Dasar Spiritualitas Bab 1, baris 25-35).

    Demi Cinta Allah

    Kelima suster perintis karya misi Kongregasi SFIC ke Indonesia ini sudah lama meninggal dunia. Kisah-kisah heroik mereka dan utamanya spirit mereka untuk berkarya dengan semangat “tahan banting” itulah yang ingin diperingati kembali.

    Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Orang yang bekerja di dalam lembaga misi pendidikan milik Keuskupan Agung Pontianak harus serius dan mampu melihat kemungkinan perkembangan zaman. Hal ini diungkapkan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus dalam sambutannya di Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021.

    Acara pelantikan direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dilaksanakan di Gedung Akper dan Akbid yang dihadiri langsung oleh segenap pengurus Yayasan dan Imam yang bertugas dalam misi Pendidikan itu.

    Acara tersebut dimulai tepat pada Pukul 10.00 WIB yang didahuli dengan menyayikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, doa pembukaan yang dibawa oleh RP Mingdry Hanafi Tjipto, OP dan langsung dilanjutkan pembukaan sidang senat terbuka.

    Acara tersebut dilakukan dengan pembacaan surat keputusan dan dilanjutkan dengan pelantikan direksi Akper Dharma Insan dan Direksi Akbid Santa Benedicta untuk masa bakti 2021-2022. Adapun yang dilantik yakni Ns Florensius Andri, M.Kep sebagai direktur Akper Dharma Insan, Ns Lydia Moji Lautan, M.Kep sebagai W.K I, Ns Eben Haezer Kristian, M.Kep sebagai W.K II dan Ns Usu Sius, S.Kep, M. Biomed sebagai W.K III.

    Baca Juga: Para Imam di Mozambik mengecam penculikan “ratusan” anak-anak oleh para Jihadis

    Sedangkan untuk kepengurusan Akbid yaitu, Trivina, SST., M.Kes sebagai Direktur Akbid St. Benedicta, Agnes Dwiana Widi Astuti, S.Si.T.,M.Kes sebagai W.K I, Tri Maharani, SST., M.K.M sebagai W.K II dan Efrosina Ludovika Kalista, SST., M.K.M sebagai W.K III.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus mengucapkan selamat kepada pengurus Direksi baru untuk Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dan sekaligus berterima kasih kepada pengurus yang lama karena paling tidak sudah pernah mengambil andil dalam kepengurusan dan perkembangan pendidikan selama ini.

    Dalam sambutannya, Mgr. Agustinus Agus mendukung penuh langkah-langkah yang diambil oleh ketua Yayasan.

    “Jangan menoleh ke belakang, kedepan kita harus berani berubah, berani mengambil langkah-langkah yang tidak biasa. Karena yang kita hadapi ini sudah tidak biasa lagi. Maka jika kita mengambil langkah yang biasa lagi maka kita akan ketinggalan,” kata Uskup Agus.

    Baca Juga: Paus Fransiskus ungkapkan bahwa orang miskin memungkinkan manusia untuk menemukan wajah sejati Bapa

    Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa hati nya sungguh ada untuk Akper dan Akbid selaras dengan mimpinya bahwa anak kampung pun bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

    “Saya tidak mau kembali pada politik masa lalu,” lanjut Uskup, “dan tolong mari kita bangkit bersama. Berani berubah dan berani mengambil langkah-langkah yang luar biasa. Agar eksistensi Akper dan Akbid sungguh-sungguh dirasakan semua orang.”

    Iman Katolik Harus Menjadi Inspirasi

    Sebagai pemilik Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa seluruh karya gereja dimanapun ia berada, harus mengedepankan kepentingan orang banyak Akper dan Akbid ini jelas milik Katolik dengan nuansa Katolik.

    “Dan iman katolik harus menjadi inspirasi dan kita harus melaksanakannya terutama pelayanan untuk kepentingan orang banyak tetap menjadi fokus utama dan harus kita kedepankan,” lanjut Uskup. “Bukan hanya untuk kepentingan umat katolik saja, apalagi untuk karyawan-karyawan saja tetapi untuk banyak umat dan banyak orang, mohon maaf.”

    Baca juga: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pintianak Periode 2021-2022

    Dalam sambutannya Uskup Agung Pontianak mengutip Gaudium et Spes nomor 1 dalam salah satu ensiklik yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan ke II tahun 1965 dikatakan “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Yesus.”

    Mgr. Agus menegaskan tidak pernah gereja Katolik hanya memperhatikan kelompoknya. “Ini harap diketahui,” tambah Uskup, Yang paling penting cara orang katolik berkarya harus didorong dari inspirasi iman katolik itu.

    Baca Juga: Tahta Suci: Tempat-tempat warisan budaya religius harus dilindungi dan dipromosikan

    Dalam sambutan itu, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus juga mengungkapkan pentingnya belajar teknologi yang ada dewasa ini. “Memang sekarang zamannya kecepatan dan perkembangan Teknologi, maka dari itu pentingnya kita menghayati itu semua dan mempraktekkanya untuk kepentingan banyak orang dan pelayanan.”

    Inovasi adalah kata kunci

    Kesempatan yang sama itu pula, RP Johanes Robini Marianto, OP sebagai ketua Yayasan mengisahkan kisah tentang brand HP Nokia yang melegenda namun sangat kelam perjalanan bisnis Nokia tersebut.

    RP Robini mengisahkan “siapa dari kita yang tidak kenal brand HP Nokia? Merk ini melegenda di akhir 1990-an dan tahun 2000-an,” katanya. “Kita semua pasti pernah memegang HP Nokia. Tetapi sekarang: “Siapakah yang memakai HP merk Nokia?” Nokia bahkan dikabarkan bangkrut dan diakuisisi oleh Microsoft di tahun 2013. Dikatakan factor utama dari awal kehancuran Nokia adalah mulai adanya Apple di tahun 2007 dengan Iphone.”

    Ia juga mengutip Kompas.com yang mengatakan ada tiga (3) kesalahan Nokia; yaitu (1) kualitas teknologi, (2) arogansi manajemen yang tidak mau mendengar dan melihat perubahan, dan (3) lemahnya visi misi (Kompas.com 30 Maret 2021). Ketiga kesalahan ini membuat Nokia tidak bisa inovasi. Inovasi adalah kata kunci untuk perkembangan (kemajuan), mendengarkan pasar, dan kreativitas untuk selalu memunculkan hal baru yang menantang dan canggih. Kegagalan ini membuat Nokia tidak lagi menjadi “leading” (bahkan jatuh terperosok) di teknologi HP dunia,

    Tiga puluh (30) tahun yang lalu semua pasti mengenal SPK yang kemudian berevolusi menjadi AKPER dan AKBID. Saat itu kita ini “leading industry” (kalau boleh dikatakan demikian) di dunia Pendidikan keperawatan dan kebidanan. Mungkin saat itu kita satu-satunya yang ada dan masyarakat Kalbar tidak ada pilihan.

    Baca Juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    “Sepuluhan (10-an) tahun yang lalu mulai muncul AKPER/AKBID lainnya di kota Pontianak atau Kalbar,” lanjut Pastor Robini, “Mereka bahkan sudah mendahului kita di program studi yang bukan hanya D3, melainkan S1. tu sudah satu inovasi! Kita belum bicara, dan saya belum tahu juga, bagaimana dosen mereka (tentu ada hubungan dengan rekruitmen) dan juga visi-misi mereka serta jaringan yang mereka miliki. Sekarang kita berteriak kurang mahasiswa/mahasiswi dst dst. Indikator utama memang angka mahasiswa. Belum lagi isu-isu yang berkembang tentang kita. Saya katakana “isu” karena bisa benar/bisa tidak.”

    “Kita memang masih punya nama. Yes! Bupati Carolin mengatakan di depan umum dan kepada saya pribadi. Namun banyak yang mengingatnya sebagai kejayaan tempo doeloe,” tambah Pastor Robini.

    Business is NOT as usual

    Dalam sambutan itu, RP Johanes Robini Marianto, OP mengungkapkan bahwa masalah manajemen menjadi besar kalau saya katakan, secara alam bawah sadar, kita jatuh pada “arogansi manajemen” yang turut menghancurkan Nokia; yaitu tidak mau mendengar pasar, tidak mau berubah dan adaptasi serta inovasi, dan hanya mengandalkan kejayaan masa lalu. “Kita kalau tidak sadar dan terbuka mengakui masalah kita (bukan hanya menyangkal atau denial), saya khawatir kita akan menjadi Nokia baru!” tambahnya.

    “Ketika kita melantik direksi-direksi baru, sebagai Ketua Yayasan, saya mengingatkan beberapa hal,” kata Pastor Robini.

    Business is NOT as usual! Hal ini diperparah dengan pandemi Covid-19. Tidak ada yang paten lagi. Dahulu kita tidak kenal Zoom. Sekarang semua tahu dan terpaksa harus tahu Zoom. Prediksi ke depan, paling tidak lima (5) tahun ke depan, masalah Covis-19 masih akan menghantui kita. Dan bukan hanya itu saja, pola yang tercipta dengan pemakaian tehnologi di dunia Pendidikan sudah mulai memasuki generasi 4.0. Disrupsi, kata orang.

    “Maka kalau kita masih berpikir, sadar atau di bawah sadar, dunia masih kayak 3 tahun yang lalu, kita sudah sangat sangat salah,” katanya.

    Untuk itu inovasi dibutuhkan. Inovasi di dalam kurikulum, metode pengajaran dengan mengikutsertakan tehnologi, kebutuhan akan daya saing dengan para “competitor,” dan strategi marketing yang up to date. Kalau tidak ada, maka kita akan menjadi Nokia.

    Baca Juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    Pandemi, sekali lagi, adalah “winter is coming!” Maka akan terjadi kompetisi hebat untuk bisa hidup; dan kompetisi kali ini bukan lagi dengan competitor melainkan dengan kenyataan pandemi dan pasca pandemi. Untuk menjadi inovatif, maka lepaskanlah arogansi masa lalu karena kenyataannya kita sudah jatuh banyak. Pengurus baru harus berani inovasi dan itu dibutuhkan bukan hanya keberanian melainkan kreativitas dan tidak bisa mengandalkan masa lalu.

    Pastor Robini mengingatkan pengurus agar perlu meredefinisikan masa depan institusi ini yang akan dituju. Untuk itu direvisi Statuta yang menekankan visi dan misi baru. Pendidikan kalau sekarang hanya mencari pemasukkan atau kasarnya uang; akan gagal. Institusi Pendidikan harus memberikan value (nilai).

    Nilai (value) ini akan menjadi uang! Value yang benar terletak pada efeknya dirasakan para mahasiswa-mahasiswi, masyarakat pengguna dan tentunya pemerintah daerah. Untuk meningkatkan value mereka harus mulai dengan Jaringan (supply chains) dan tentunya merupakan kerja berat tiga periode jabatan para direksi ini.

    Pengurus yang baru harus bisa membuat jaringan (supply chains), inovasi dan kerja keras. Ini tentu bukan hanya para direksi; melainkan semua. Sebenarnya, jujur, tugas Direktur adalah jalan-jalan membuka koneksi (connectedness). Kalau direktur selalu di kantor urus administrasi saja; maka anda semua bukan pemimpin.

    Baca Juga: Prajurit Yonzipur 6/SD Ikuti Uji Kenaikan Sabuk Hijau ke Putih

    Pengurus hanyalah “penjaga kendang/gawang.” Para Direktur haruslah menjadi leader yang bisa membuat koneksi dengan semua stakeholders untuk menaikkan nilai (value) kedua Lembaga ini dan menjadikan kedua Lembaga ini mempunyai reputasi. Koneksi yang pengurus bangun harus berbentuk program dan proyek yang, bisa mengembangkan kedua Lembaga ini. Pengurus dibantu para wakil direktur dan yayasan tambah lagi Sekjend. Itu artinya administrasi sudah ada yang urus. Tugas para direktur adalah bertemu dengan masyarakat, pemda dan users (pengguna lulusan).

    Maka Pastor Robini harap ini sungguh dipikirkan dan direnungkan.

    Pastor Robini mengharapkan dengan pelantikkan kali ini merupakan awal kebangkitan dari kedua Lembaga yang telah susah payah dirintis para Misionaris dalam Misi Gereja di Borneo.

    Baca Juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Sebagai Dewan Pembina Yayasan Landak Bersatu dan Anggota DPR RI, Dr. Adrianus Asia Sidot mendukung penuh misi pendidikan yang dimulai oleh Keuskupan Agung Pontianak.

    Ini adalah tonggak baru perkembangan pendidikan di Akademi Perawat Dharma Insan dan Akademi Kebidanan St. Benedicta.

    Ia berdoa dengan adanya tonggak baru dan sejarah baru ini, apa yang menjadi harapan oleh Uskup Agung Pontianak dan ketua yayasan harus betul diwujudkan, apalagi sekarang di era 4.0, atau barangkali di negara lain sudah 5.0.

    Kita sendiri masih berkutat pada 4.0 yang dimana kita sendiri juga masih belajar untuk menguasai perkembangan tersebut. Untuk itu harapan saya direksi yang baru ini harus responsive dan peka dengan perkembangan dunia yang terjadi, “ karena perubahan tidak bisa kita hindari.”-)*

    Prajurit Yonzipur 6/SD Ikuti Uji Kenaikan Sabuk Hijau ke Putih

    Prajurit Yonzipur 6/SD Ikuti Uji Kenaikan Sabuk Hijau ke Putih-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Dalam Rangka mengasah dan menguji  kemampuan beladiri sekaligus menjalin tali silaturahmi dengan masyarakat, Prajurit Satgas Yonzipur 6/SD (Kompi C) melaksanakan uji kenaikan sabuk Pencak Silat PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) bertempat di Asmil 631/Antang, Kalimantan Tengah, Jumat (18/06/2021).

    Sebanyak 25 personel Yonzipur 6/SD yang berada di Kompi C bersama dengan 50 masyarakat  mengikuti ujian kenaikan sabuk dari hijau ke putih, sabuk putih adalah tingkatan tertinggi bagi siswa Setia Hati.

    Baca juga: Ethiopia: Genosida Sedang Terjadi di Tigray

    “Sabuk putih berarti bahwa seseorang yang telah mencapai tingkatan ini adalah orang yang telah mengerti arah yang sebenarnya dan telah mengetahui perbedaan antara benar dan salah. Pada tingkatan ini, seorang siswa akan menamatkan pelajaran SH Terate baik pelajaran olah kanuragan (beladiri) maupun pelajaran kerohanian, “ kata Letnan Satu Czi Agus Supriadi.

    Letnan Satu Czi Agus menambahkan, pelaksaan kegiatan kenaikan sabuk ini tetap mematuhi anjuran dari pemerintah yaitu Protokol Kesehatan karena masih dalam masa pandemi Covid-19.

    Baca juga: Vaksin Covid-19: NAKES RS. St.Vincentius Singkawang Terima Vaksin Perdana

    “Saya berharap untuk Prajurit Yonzipur 6/SD yang melaksanakan kenaikan sabuk meuju sabuk putih dapat bersikap tenang dalam bertindak, warna putih melambangkan kesucian, oleh karena itu sifat dan watak yg diharapkan dari siswa tingkat putih adalah siswa tersebut dapat bertindak berdasarkan prinsip kebenaran, dan bersikap tenang seperti air yg mengalir, “ tutup Letnan Satu Czi Agus.

     

    Para Imam di Mozambik mengecam penculikan “ratusan” anak-anak oleh para Jihadis

    Aid to the Church in Need Refugees after the recent attacks in Cabo Deldado province during COVID-19 pandemic.- KOmisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mozambik- Anak laki-laki dan perempuan telah dipaksa menjadi pejuang anak dan “pengantin anak”.

    “Itu adalah luka yang akan sulit untuk disembuhkan,” kata Pastor Kwiriwi Fonseca dari Keuskupan Pemba di Mozambik utara. Dia berbicara kepada badan amal pastoral Katolik internasional dan yayasan kepausan Aid to the Church in Need (ACN International). Dirilis dari Aleteia oleh Paolo Aido-ACN – diterbitkan pada 17/06/21 dan diperbarui pada 16/06/21.

    ACN International memperkirakan bahwa selain lebih dari 2.500 orang tewas dan lebih dari 750.000 kehilangan tempat tinggal sejak serangan teroris dimulai pada Oktober 2017 di provinsi paling utara Mozambik, Cabo Delgado, sejumlah besar orang juga telah diculik, kebanyakan dari mereka adalah anak laki-laki dan perempuan.

    Baca juga: Bantu Warga Sakit, Personil Yonzipur 6/SD Donorkan Darah

    Tidak ada statistik resmi mengenai jumlah mereka, tetapi Pastor Fonseca tidak ragu-ragu untuk menegaskan bahwa “kita dapat berbicara tentang ratusan, karena jika kita memasukkan semua desa dari mana orang-orang telah diculik, kita pasti dapat menyatakan sebanyak ini.” Menurutnya, anak laki-laki telah diculik untuk tujuan yang sangat spesifik: “para teroris menggunakan anak-anak ini dan secara paksa melatih mereka untuk bertarung di barisan mereka, sedangkan anak perempuan diperkosa dan dipaksa menjadi ‘pengantin’ mereka. Dalam beberapa kasus, ketika mereka sudah bosan dengan mereka, gadis-gadis ini hanya ‘dibuang.’”

    Pastor Fonseca bertanggung jawab atas komunikasi di Keuskupan Pemba dan memelihara kontak dengan sejumlah korban yang mengungsi akibat kekerasan teroris.

    Ia juga terus berhubungan dengan para imam dan karya religius lainnya di provinsi Cabo Delgado.

    Baca juga: Media Harus Jadi Jembatan Komunikasi Aparat dan Masyarkat

    Biarawati di antara yang diculik Salah satu orang yang pertama kali memberitahunya tentang penculikan ini adalah religius Brasil, Suster Eliane da Costa. Dia berada di kota utara Mocímboa da Praia pada Agustus tahun lalu ketika kota pelabuhan ini jatuh ke tangan teroris, dan setelah itu lusinan orang diculik. Dia sendiri ada di antara mereka, bersama dengan religius lain, Suster Inés Ramos, keduanya berasal dari kongregasi yang sama dari Saint Joseph dari Chambéry.

    “Suster Eliane sendiri ditahan selama 24 hari oleh para teroris, di pegunungan, dan dia memohon kepada saya, ‘Padre Fonseca, tolong jangan lupakan orang-orang yang telah diculik, terutama anak-anak dan remaja, yang sedang dilatih untuk menjadi teroris,’” kenang Pastor Fonseca dalam sebuah wawancara melalui Zoom dengan ACN International.
    Mereka menculik putra-putranya dan menggorok leher suaminya.

    Kota lain yang menjadi saksi serangan teroris adalah Mucojo, sebuah pusat administrasi di pesisir di distrik Macomia. Tinggal di sana pada saat itu adalah Mina, seorang wanita yang sekarang benar-benar hancur oleh ingatannya yang mengerikan. Setiap kali dia mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan keluarganya, pada suaminya, anak-anaknya dan saudara laki-lakinya, itu membuka kembali luka mengerikan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan pernah sembuh.

    Pastor Fonseca pergi menemuinya dan mendengarkan kisah tragisnya.

    “Lima pria tiba-tiba muncul, mengejutkan mereka, dan penduduk setempat menyadari bahwa mereka adalah teroris Al-Shabaab. Para teroris menemukan Mina di rumah bersama suaminya, saudara laki-lakinya dan keempat anaknya. Mereka mengatakan kepadanya, ‘Kami akan mengambil dua anak laki-laki ini.’

    Pada akhirnya mereka mengambil tiga anak laki-laki, berusia 14, 12 dan baru berusia 10 tahun. Mereka mengikat suami dan saudara laki-lakinya dan menyuruhnya pergi karena mereka akan membunuh mereka.

    Baca juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Dia menolak untuk pergi. Jadi, dia terpaksa menonton saat mereka menggorok leher suaminya dan saudara laki-lakinya. Tidak hanya itu, gadis kecilnya sendiri yang berusia dua atau tiga tahun juga menyaksikan pembunuhan itu. Gadis kecil itu masih shock sampai hari ini dan terus bersikeras bahwa mereka kembali ke kota untuk melihat ayahnya. Dia menyaksikan seluruh adegan itu.”

    Masa depan seperti apa yang bisa diharapkan oleh anak-anak ini?

    Pastor Fonseca sama sekali tidak ragu bahwa anak-anak ini akan mengalami proses radikalisasi untuk merekrut mereka ke dalam barisan teroris. “Saya yakin objeknya adalah radikalisasi. Kita berbicara tentang anak-anak dan orang muda yang direnggut dari rumah mereka tahun lalu, atau tahun sebelumnya … Ini adalah waktu yang lama untuk berhubungan dengan kejahatan, dan seseorang akhirnya mengasimilasi kejahatan ini. Berinteraksi dengan mereka dapat mengubah mereka menjadi jenis teroris yang paling buruk.”

    Ini adalah situasi yang menimbulkan banyak pertanyaan, termasuk dari perspektif militer. Anak-anak dan remaja ini telah dipisahkan secara paksa dari keluarga mereka, desa mereka dan lingkungan yang akrab di mana mereka selalu tinggal.

    Baca juga: Bahas Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    “Jika mereka mengintensifkan perang ini dan sekutu internasional, pemerintah dan negara lain datang untuk mencoba dan membantu Mozambik melenyapkan teroris, apa artinya itu?” Pastor Fonseca bertanya pada dirinya sendiri. “Itu berarti banyak anak yang tidak bersalah juga bisa mati.”

    TERBARU

    TERPOPULER