Monday, May 4, 2026
More
    Home Blog Page 152

    Fr. Mikael Ardi Akhir Masa Top di STKIP Pamane Talino

    Foto Bersama Frater Ardi, Pr di Kampus STKIP Pamane Talino Ngabang- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Ngabang– Setelah menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di STKIP Pamane Talino.

    Momen perpisahan diselenggarakan setiap tahunnya bagi frater yang menerima perutusan tahun orientasi pastoral sebelum melanjutkan pendidikan lebih tinggi.

    Acara yang berlangsung secara sederhana dengan menerapkan protokol kesehatan. Acara yang dihadiri Rufinus Albert ketua STKIP Pamane Talino, RP Sabinus Lohin, CP, Sr. M Hildegardis Afra, Dosen serta Staff dan beberapa Mahasiswa pada hari Selasa (29/06/2021).

    “Tahun orientasi Pastoral (TOP) merupakan kesempatan yang sungguh luar biasa, terutama bagi kami yang adalah calon pastor. Banyak pengalaman unik dan menggembirakan yang kami alami. Rasa sulit dan duka senantiasa dibalut dengan kegembiraan dan  canda tawa. Saya sungguh bahagia bisa berpastoral di STKIP Pamane Talino Ngabang.  Bahagia karena menemukan banyak hal baru yang tentunya menggugah semangat saya untuk semakin bersemangat dalam menjalani hidup sebagai calon imam. STKIP Pamane Talino Ngabang memamg mantap,” jelasnya Frater. Mikael Ardi.

    “Bahwa ia senang Frater datang/TOP ke kampus kita, bisa tinggal sebiara bersama Frater, melihat Frater yang suka bercanda dengan Suster Hilde,” jelasnya Rufinus Albert ketua STKIP Pamane Talino.

    “Ia menjelaskan kata Frater itu berasal dari mana, katanya dari bahasa latin yang berarti anak laki-laki yang akan menjadi seorang rohaniwan/imam,” ujarnya.

    “Terima kasih sudah membimbing kami selama satu tahun ini, semoga selalu setia dalam panggilan. Terima kasih atas segala suka duka selama bersama, serta saran dan komentar frater. Saya mohon maaf jika ada kesalahan yang disengaja ataupun yang tidak sengaja,” jelasnya Eva Kaltari Wana ketua Ikatan Mahasiswa Katolik STKIP Pamane Talino.

    Selama menjalani masa pastoralnya di STKIP Pamane Talino, Fr. Mikael Ardi menangani kapelan, pembina Ikatan Mahasiswa Katolik (IMK) dan tugas lainnya.

    Pontianak Zona Merah Corona

    Info: Pemerintah Kota Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Dirilis dari satuan lalulintas Polresta Pontianak Kota, diberitahukan kepada semua warga kota Pontianak.

    Dalam rangka pencegahan dan penyebaran Covid-19 setiap ruas jalan dikota Pontianak akan diberlakukan pengalihan dan penyekatan arus lalu lintas pada jam-jam tertentu.

    Adapun lokasi penyekatan jalan antara lain dapat dilihat disini:

    Pontianak Utara & Timur

    – Simpang Jl. Parit Nenas

    – Simpang Jl. Tanjung Hulu

    – Simpang Jl. Tanjung Raya

    Pontianak Selatan & Tenggara

    – Simpang Garuda

    – Simpang Jl. Daya Nasional

    – Simpang Flamboyan

    – Simpang Jl. Diponegoro – Jl. Gajahmada

    – Simpang Jl. Ketapang – Jl. Tanjung Pura

    – Simpang Jl. Hijas – Jl. Tanjung Pura

    – Simpang Masjid Jihad

    – Simpang Jl. Veteran – Jl. A Yani

    – Bundaran Digulis Untan

    – U-Turn Zamrud Khatulistiwa Jl. A Yani

    Pontianak Barat

    – Jl. Re Martadinata – Jl. Haruna

    – Jl. Tabrani Achmad – Jl. Tebu

    Pontianak Kota

    – Jl. Putri Candramidi

    – Jl. Danau Sentarum

    Pelaksanaan Wilayah Tersebut Dilakukan Mulai Pukul 19.00 Sampai Dengan Jam 23.00 Wib Malam

    Khusus Untuk Jalan Gajah Mada Dan Jalan Reformasi Pelaksanaan Penyekatan Dilakukan Dimulai Dari Pukul 14.00 Sampai Dengan Pukul 17.00 Wib Sore.

    Hi smart millennials!

    Yuk Kuliah- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Kampus Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta masih membuka penerimaan mahasiswa baru loh…

    Buruan daftar dan dapatkan keringanan biaya pendidikan melaui KIP..
    Gimana ? Keren kan?..

    Secuplik tentang Akper Dharma Insan

    Mungkin tak banyak orang tahu tentang Akper Dharma Insan. Akademi keperawatan Dharma Insan Pontianak ini  terletak di Jalan Merdeka nomor 55 Pontianak.

    Akper Dharma insan juga merupakan konversi dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Dharma Insan, dimana Sekolah Perawat Kesehatan Dharma Insan Pontianak ini adalah Lembaga Pendidikan dibidang Keperawatan milik Keuskupan Agung Pontianak, yang dikelola oleh Yayasan Dharma Insan Pontianak, dan didirikan pada bulan Juli 1984 dan mendapat ijin resmi dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia No. 109/KEP/DIKLAT/KES/84, tertanggal 18 Juli 1984.

    Baca juga: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pintianak Periode 2021-2022

    Kemudian pada tahun 2000 mendapat Ijin Penyelenggaraan Akademi Keperawatan (AKPER) Dharma Insan Pontianak berdasarkan Surat Keputusan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia No: K.00.06.1.3.0504, tertanggal 25 Pebruari 2000.

    Akademi Keperawatan Dharma Insan Pontianak (selanjutnya disingkat AKPER saja) didirikan untuk tujuan mulia yaitu menghasilkan lulusan yang bermutu di tenaga Kesehatan; khususnya Perawat. Mutu bukan hanya soal kemampuan intelektual, melainkan juga segi etika dan integritas kepribadian.

    Sejak awal, dengan beafiliasi dan dikenal di dalam hubungan dengan RS Antonius, AKPER telah banyak berjasa di Kalimantan Barat. Civitas Akademi bangga akan kenyataan sejarah tersebut.

    Tertanggal 27 November 2020 AKPER Dharma Insan Pontianak memasuki babak baru; yaitu pemindahan manajemen pengelolah dari Yayasan Dharma Insan ke Yayasan Landak Bersatu; sebuah Yayasan yang merupakan perpanjangan karya Pendidikan Keuskupan Agung Pontianak di dalam Kerjasama dengan Ordo Dominikan, sebagai pengelolah utama dan rekan pemilik di Pontianak bersama dengan Konggregasi Passionis yang merupakan pendukung utama di dalam Yayasan tersebut.

    Baca juga: Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Di bawah Yayasan Landak Bersatu, AKPER diharapkan bukan hanya menghasilkan lulusan yang secara intelektual berkualitas; melainkan harus juga professional sesuai dengan janji profesi, serta menjunjung tinggi etika dan pengabdian akan kehidupan.

    Pengalaman Pandemi Covid-19 di tahun 2020 merupakan sebuah fakta bahwa tenaga Kesehatan mempunyai peranan yang sangat luar biasa di dalam usaha masyarakat melawan serta menyembuhkan mereka yang terkan pandemic Covid 19.

    Tenaga Kesehatan sekarang merupakan pahlawan baru, yang sebenanya harus diakui dilupakan nama. Harusnya diakui, apalagi di dalam konteks Kalimantan Barat, tenaga Kesehatan, terutama di pedalaman atau pelosok merupakan pahlawan kehidupan. Mereka yang telah memperjuangkan kehidupan sampai titik batas dan membuat masyarakat Kalbar berkembang sampai saat ini.

    Tentang Akbid St. Benedicta

    Selaras dengan itu, selain Akper Dharma Insan, Keuskupan Agung Pontianak juga memiliki Akademi Kebidanan (AKBID) St. Benedicta Pontianak.

    Akademi Kebinadan ini adalah institusi pendidikan tenaga kesehatan milik Keuskupan Agung Pontianak.

    Secara badan hukum, AKBID St. Benedicta Pontianak diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Insan Pontianak.

    AKBID St. Benedicta Pontianak secara resmi didirikan berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi atas nama Menteri Pendidikan Nasional No. 40/D/O/2009 pada tanggal 4 April 2009.

    Baca juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    AKBID St. Benedicta Pontianak menyelenggarakan Program Pendidikan Diploma III Kebidanan. Kampus AKBID St. Benedicta Pontianak terletak di Jln. Merdeka No. 665 Pontianak Kalimantan Barat.

    Dengan mengedepankan kualitas lulusan yang berkualitas dan siap terjun sebagai tenaga kesehatan di masyarakat, AKBID St. Benedicta Pontianak menyelenggarakan sistem tata kelola institusi pendidikan yang transparan, akuntabel, adil dan bertanggungjawab.

    Tunggu apa lagi, yuk kuliah… 

     

    Paus Fransiskus berdoa untuk para korban runtuhnya gedung tinggi Miami

    Miami-Dade Fire Rescue | AFP- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Internasional– Catholic Charities telah memobilisasi upaya untuk mendukung para penyintas dengan konseling duka dan perumahan sementara. Dalam berita yang diangkat angkat oleh J-P Mauro yang diterbitkan pada 29/06/21 dikatakan pada hari Sabtu, Paus Fransiskus berdoa untuk para korban runtuhnya gedung yang mematikan di Miami.

    Paus memanjatkan doa dan belasungkawa kepada semua orang yang terkena dampak bencana, yang telah menyebabkan lebih dari 150 orang belum ditemukan.

    CNA melaporkan bahwa Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin mengungkapkan kesedihan mendalam Paus Fransiskus atas hilangnya nyawa yang menyedihkan.

    Baca juga: Kebakaran yang mencurigakan di gereja-gereja di Kanada barat

    Paus Fransiskus “mengucapkan doa sepenuh hati agar Tuhan Yang Mahakuasa akan memberikan kedamaian abadi bagi mereka yang telah meninggal, penghiburan bagi mereka yang berduka atas kehilangan mereka, dan kekuatan bagi semua yang terkena dampak tragedi besar ini.

    “Dengan rasa terima kasih atas upaya tak kenal lelah dari para pekerja penyelamat dan semua yang terlibat dalam merawat yang terluka, keluarga yang berduka dan mereka yang kehilangan tempat tinggal, Paus Fransiskus memohon kepada seluruh komunitas karunia rohani penghiburan, ketabahan dan ketekunan dalam setiap kebaikan,” pesan yang dinyatakan.

    Runtuhnya bangunan yang menghancurkan terjadi sekitar pukul 01:30 pada 24 Juni.

    Kondominium 12 lantai, yang disebut Menara Champlain, sebagian runtuh di sekitar penduduk saat mereka tidur. Hingga Senin pagi, pekerja bantuan bencana telah mengkonfirmasi 10 orang meninggal, sementara 151 lainnya belum ditemukan.

    Baca juga: Tentang Kerendahan Hati Menurut St. Ignatius

    Upaya pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, namun menghadapi kendala. Daniella Levine Cava, Walikota Miami-Dade county, menjelaskan bahwa api di dalam puing-puing menyebabkan kesulitan. Asap telah menyebar ke samping melalui puing-puing, memperburuk situasi.

    Amal Katolik

    Sebuah laporan dari NCR mencatat bahwa Catholic Charities of the Archdiocese of Miami telah memobilisasi kampanye untuk mengumpulkan sumbangan bagi para korban.

    Layanan mereka termasuk konseling bagi para penyintas, serta mencarikan tempat tinggal sementara bagi warga yang kini menjadi tunawisma.

    Pada hari Kamis, hanya beberapa jam setelah tragedi itu, Uskup Agung Thomas Wenski dari Miami mengungkapkan kesedihannya.

    “Hati kami untuk semua yang terkena dampak tragedi itu.” Dia berjanji untuk berdoa “untuk para korban, keluarga mereka, dan responden pertama. Semoga Tuhan memberi mereka kekuatan,” kata Uskup Agung Thomas Wenski.

    Keuskupan agung telah menyelenggarakan layanan doa untuk semua yang terkena dampak keruntuhan. Pada hari Jumat, Misa khusus diadakan di paroki St. Yosef setempat dengan tujuan berfokus pada mereka yang masih hilang.

    Baca juga: Mgr. Agustinus Agus ungkapkan Nilai-nilai yang ada di Pramuka tak jauh dari Agama Katolik

    Kemudian pada hari Sabtu, doa-doa khusus diadakan di paroki. Vigil berubah menjadi arak-arakan, yang pindah ke lokasi keruntuhan dengan lilin dan bunga.

    Upaya pencarian masih berlangsung, di mana para pemimpin Gereja telah meminta doa dan dukungan yang berkelanjutan.

    Pembaca Majalah DUTA yang budiman, marilah kita doakan upaya pencarian petugas agar semua korban dapat dievakuasi.

    Kebakaran yang mencurigakan di gereja-gereja di Kanada barat

    Jackan | Shutterstock- Aleiteia/Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Kanada– Investigasi berlanjut, karena kebakaran mungkin terkait dengan penemuan kuburan tak bertanda di bekas sekolah adat.

    Tulisan yang diangkat oleh John Burger yang diterbitkan pada 06/29/21 dan  diperbarui pada 06/29/21 dituliskan sebuah gereja Katolik di Provinsi Alberta tampaknya menjadi yang terbaru dalam serangkaian serangan terhadap gereja-gereja di Kanada bagian barat.

    Royal Canadian Mounted Police di sebelah timur Calgary mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki kebakaran yang tampaknya sengaja dilakukan pada hari Senin di gereja, yang berada di tanah penduduk asli Siksika.

    Di tempat lain, RCMP di New Hazelton di barat laut British Columbia mengatakan kebakaran dilaporkan Sabtu pagi di tanah Gitwangak First Nation. Itu adalah gereja Anglikan yang ditinggalkan, dan api dengan cepat dipadamkan dengan kerusakan minimal dan tidak ada cedera, lapor National Post. Investigasi sedang berlangsung.

    Di British Columbia selatan, empat gereja Katolik – dua di dekat Osoyoos dan Oliver, satu di luar Hedley, dan yang lainnya di Chopaka – dihancurkan oleh kobaran api antara 21 Juni dan 26 Juni. Gereja Katolik di Saskatoon dan Edmonton juga dirusak dengan cat merah dalam seminggu terakhir.

    Kebakaran dan perusakan terjadi setelah penemuan apa yang diyakini sebagai sisa-sisa anak-anak di kuburan tak bertanda di bekas sekolah perumahan di Kamloops, BC, dan di tenggara Saskatchewan.

    Banyak sekolah perumahan, dalam sistem yang dibuat oleh pemerintah Kanada, dijalankan oleh ordo agama Katolik.

    Para pemimpin masyarakat adat di Kanada mengatakan sekolah-sekolah itu digunakan untuk mengasimilasi masyarakat adat secara paksa. Ada yang mengatakan bahwa anak-anak dipaksa masuk Kristen dan meninggalkan bahasa dan budaya asli mereka. Ada panggilan, termasuk dari Perdana Menteri Justin Trudeau, agar Paus Fransiskus meminta maaf secara resmi.

    Pada hari Jumat, Oblat Misionaris Katolik Maria Tak Bernoda, yang mengoperasikan 48 sekolah perumahan, termasuk dua bekas sekolah di mana kuburan anak-anak pribumi yang tidak bertanda ditemukan, mengatakan akan merilis semua dokumen yang dimilikinya, Guardian melaporkan.

    Konferensi Waligereja Kanada

    Pada hari Selasa, Konferensi Waligereja Katolik Kanada mengumumkan bahwa delegasi masyarakat adat akan mengunjungi Paus Fransiskus di Roma dari 17-20 Desember untuk “membina pertemuan dialog dan penyembuhan yang bermakna.”

    “Paus Fransiskus berkomitmen untuk mendengar langsung dari Masyarakat Adat, mengungkapkan kedekatannya yang tulus, mengatasi dampak penjajahan dan peran Gereja dalam sistem sekolah perumahan, dengan harapan menanggapi penderitaan Masyarakat Adat dan efek yang berkelanjutan. trauma antargenerasi, sebuah pernyataan dari Konferensi mengatakan.”

    “Para Uskup Kanada sangat menghargai semangat keterbukaan Bapa Suci yang dengan murah hati menyampaikan undangan untuk pertemuan pribadi dengan masing-masing dari tiga kelompok delegasi yang berbeda – First Nations, Métis dan Inuit – serta audiensi terakhir dengan semua delegasi bersama-sama. pada 20 Desember 2021.”

    Delegasi tersebut akan mencakup Penatua dan “Penjaga Pengetahuan,” orang-orang yang menghadiri sekolah perumahan dan pemuda dari seluruh negeri, ditemani oleh sekelompok kecil Uskup dan pemimpin Pribumi.

     

    Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Kalimantan Barat

    Sumber: Satuan Tugas Penanganan Covid-19- Kalbar- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Sehubungan dengan terbitnya peta epidemiologi yang dirilis oleh SATGAS Penanganan COVID-19 Nasional tanggal 27 Juni 2021 dimana Kota Pontianak masuk dalam Zona Risiko Tinggi (merah) maka sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2021 diinstruksikan kepada SATGAS Penanganan COVID-19 Kota Pontianak untuk mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Pembatasan kegiatan perkantoran/ tempat kerja dengan menerapkan Work From

    Home (WFH) 75 % (tujuh puluh lima persen) dan Work From Office (WFO) sebesar 25 % (dua puluh lima persen).

    1. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (sekolah, perguruan tinggi, akademi, tempat pendidikan/ pelatihan) secara daring (online).
    2. Pelaksanaan kegiatan makan/ minum ditempat umum (warung makan, rumah makan, cafe, warung kopi, pedagang kaki lima, lapak jajanan) baik yang berada dilokasi tersendiri maupun di lokasi pada pusat perbelanjaan/ mall:
      1. Makan/ minum ditempat sebesar 25 % (dua puluh lima persen) dari kapasitas ruangan.
      2. Jam operasional dibatasi sampai dengan pukul 20.00 WIB.
    3. Pelaksanaan kegiatan pada pusat perbelanjaan/ mall/ pusat perdagangan jam operasional sampai dengan pukul 20.00 WIB dengan pembatasan kapasitas pengunjung sebesar 25 % (dua puluh lima persen).
    4. Untuk pelaksanaan kegiatan ibadah lebih mengoptimalkan ibadah di rumah.
    5. Pelaksanaan kegiatan pada area publik (fasilitas umum, taman umum, tempat wisata umum atau area publik lainnya) ditutup untuk sementara waktu.
    6. Pelaksanaan kegiatan seni, budaya, dan sosial kemasyarakatan di lokasi seni budaya dan sosial yang dapat menimbulkan keramaian ditutup untuk sementara waktu.
    7. Pelaksanaan kegiatan rapat seminar dan pertemuan tatap muka secara langsung ditiadakan.
    8. Pelaksanaan resepsi, hajatan yang menimbulkan keramaian tidak boleh dilaksanakan sampai dengan tanggal 14 Juli 2021.
    9. Terus menerus melaksanakan kegiatan penemuan kasus suspek dan pelacakan kontak erat serta melakukan testing baik menggunakan Tes Rapid Antigen maupun metode RT-PCR.
    10. Melaksanakan isolasi mandiri/ terpusat pada kasus konfirmasi COVID-19 dengan pengawasan yang ketat.
    11. Menambah kapasitas tempat tidur perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit.
    12. Menyiapkan peralatan, obat-obatan, bahan medis habis pakai dan tenaga kesehatan untuk mendukung operasional Rumah Sakit dalam penanganan COVID-19.
    13. Melaksanakan himbauan dan razia di tempat-tempat umum terhadap disiplinpelaksanaan protokol kesehatan.
    14. Melaksanakan percepatan vaksinasi COVID-19.
    15. Mengoptimalkan pelaksanaan PPKM berskala Mikro hingga tingkat RT.

    Tentang Kerendahan Hati Menurut St. Ignatius

    Ilustrasi Protret: Lokasi-Pemangkat 2019 silam- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Dikutip dari Katolisitas[.]org terdapat tingkatan kerendahan hati, namun yang akan dibahas di sini adalah dua macam tingkatan oleh St. Ignatius.

    Menurut St. Ignatius (1491-1556) mengatakan bahwa terdapat tiga tingkatan kerendahan hati, pertama  ‘necessary humility’.

    Necessary humility berarti penyerahan diri kepada hukum Tuhan untuk menghindari dosa berat.

    Baca juga: Untaian Kerendahan Hati menurut Santo Benediktus

    Kemudian yang kedua adalah perfect humility.

    St. Ignatius menjelaskan bahwa perfect humility berarti ketidakterikatan pada kekayaan ataupun kemiskinan, kesehatan ataupun penyakit… yang terpenting adalah menghindari dosa dan kecenderungan berbuat dosa.

    Sedangkan yang ketiga adalah tentang  ‘most perfect humility’.

    Menurut Santo Ignatius bahwa sikap meniru Kristus, termasuk menerima dengan rela penderitaan dan penghinaan, dalam persatuan dengan Kristus, demi kasih kita kepada-Nya. Lanjutan- Baca ini…. St. Ignatius: Lawan Kesombongan adalah Kerendahan Hati

    St. Ignatius: Lawan Kesombongan adalah Kerendahan Hati

    Dokumen Komsos: Ilustrasi seorang anak kecil menerima bantuan dari kegiatan baksos-Bengkayang- Dok. Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Kerendahan hati berlawanan dengan kesombongan yang berhubungan dengan kelimpahan materi, dan anggapan bahwa diri sendiri adalah orang yang paling berkehendak baik, paling pandai, dan paling maju dalam hal spiritual (‘spiritual pride’).

    Ada tiga tingkatan kesombongan, jika diurut dari yang lebih bersifat material ke tingkat yang lebih bersifat spiritual: Pertama, adalah kesombongan dalam hal materi yang kelihatan, seperti kecantikan, kekayaan, nama baik, pangkat dan kehormatan.

    Baca juga: Untaian Kerendahan Hati menurut Santo Benediktus

    Kesombongan materi adalah jenis kesombongan yang terendah, dan paling mudah diatasi untuk mencapai kerendahan hati.

    Kesombongan dalam hal berkehendak baik adalah yang menyusul setelah ini, yaitu seperti keinginan untuk tidak tunduk di bawah siapapun, memiliki kuasa untuk memerintah, yang menghasilkan ambisi untuk menguasai, menolak untuk melayani atau tunduk pada otoritas, bahkan menolak untuk tunduk kepada Tuhan.

    Baca juga: Doa adalah Akar Kehidupan Spiritual Katolik

    Bersamaan dengan ini adalah kesombongan akan kepandaian, yang berhubungan dengan kebiasaan untuk menghakimi segala sesuatu berdasarkan pendapat sendiri, dan enggan untuk menerima pernyataan sederhana dari pihak yang punya otoritas.

    Sedangkan orang yang rendah hati adalah dia yang sadar akan dosa dan kelemahannya, yang tahu bahwa ia pun dapat menjadi ‘terhukum’, jika hanya keadilan Tuhan yang berlaku di dunia ini. Belas kasihan yang ia terima dari Tuhan harus menjadikannya berbelas kasih kepada orang lain.

    Tingkatan kesombongan

    Tingkatan kesombongan yang paling akhir adalah kesombongan rohani, atau ‘spiritual pride’. Karena spiritualitas adalah karunia, maka kesombongan spiritual sangatlah ‘berbahaya’.

    Karunia-karunia rohani dapat menjadi ladang bagi kesombongan, sebab jiwa yang sombong dapat menggunakan karunia-karunia tersebut untuk meninggikan diri, menarik perhatian, mencari dominasi/kekuasaan, atau untuk memenangkan ide sendiri.

    Baca juga: Apa sih, Tarekat MSA itu?

    Injil menampilkan jenis kesombongan ini dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Yesus menolak kesombongan ini, sebab hal itu membuat orang hidup dalam ‘kebohongan’: dari luar terlihat suci, tetapi sebenarnya jahat. Hal ini bertentangan dengan kerendahan hati yang berlandaskan kebenaran.

    Kesadaran akan Allah

    Menurut St. Ignatius, mengikuti teladan Yesus dan cara hidup-Nya adalah bentuk kerendahan hati yang paling sempurna; yaitu jika seseorang dengan kehendak bebasnya memilih untuk hidup miskin seperti Kristus, menderita bersamaNya daripada menjadi kaya dan dihormati dan dianggap bijak oleh dunia.

    Sikap ini didasari oleh kesadaran bahwa Allah mengasihi kita lebih daripada kita mengasihi diri kita sendiri, sehingga Ia telah menyerahkan diri-Nya untuk membawa kita kepada kebahagiaan sejati.

    Baca juga: Uskup Agus ungkapkan seorang Imam jangan reaktif

    Kebahagiaan sejati ini tidak dapat dibandingkan dengan segala pemahaman kita akan kebahagiaan menurut ukuran dunia.

    Ketetapan hati meninggalkan kebahagiaan duniawi untuk mendapatkan kebahagiaan surgawi adalah sikap kerendahan hati yang paling sempurna.

    Untaian Kerendahan Hati menurut Santo Benediktus

    Ilustrasi: Anak Kecil mengajarkan arti perbuatan yang sederhana- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Dikutip dari Katolisitas[.]org terdapat tingkatan kerendahan hati, namun yang akan dibahas di sini adalah dua macam tingkatan oleh St. Benediktus.

    Menurut St. Benediktus (480-547) dikatakan bahwa nilai-nilai yang termasuk kerendahan hati adalah ketaatan, kesabaran dan kesederhanaan.

    Baca juga: Paus dalam Angelus: Saksi tidak kehilangan kata-kata, melainkan berbuah

    Ketaatan dan kesabaran berkaitan dengan kerendahan hati yang berhubungan dengan sikap hati, sedangkan kesederhanaan berhubungan dengan sikap tubuh yang terlihat dari luar.

    St. Benediktus membagi kerendahan hati menjadi 12 hal dan tujuh di antaranya berhubungan dengan sikap hati, dan lima di antaranya berhubungan dengan sikap tubuh yang terlihat dari luar.

    Pembimbing Rohani

    Dalam uraian diatas dari ketujuh sikap hati yang berdasarkan atas ketaatan dan kesabaran tersebut yakni takut akan Tuhan, ketaatan kepada Tuhan, ketaatan kepada pembimbing rohani, sabar dalam menanggung keadaan yang sukar, mau mengakui kesalahan kita —terutama kepada pembimbing rohani— bersedia menerima hal-hal yang tidak nyaman, dan melihat diri sendiri sebagai yang tidak utama.

    Baca juga: Paus Fransiskus meminta umat Katolik untuk berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah Middle

    Sedangkan kelima sikap tubuh yang berhubungan dengan kesederhanaan adalah: menghindari pemegahan diri sendiri, hening, tertawa tidak berlebihan, tidak banyak bicara, dan kesederhanaan dalam bersikap.

    Meskipun pengajaran ini pertama-tama ditujukan untuk para religius, namun dengan tingkatan yang wajar dapat diterapkan pada kaum awam. Maka pembimbing rohani, yaitu bapa pengakuan (pastor pembimbing), juga diperlukan, jika kita ingin bertumbuh secara rohani.)*

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus tahbiskan dua imam dan satu Diakon Missionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Tahbisan Sua Imam MSA dan satu DIakon MSA- Katedral Pontianak- Dok. Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak,- Belum banyak umat katolik di Indonesia yang mengenal apa itu Misionaris Para Rasul Kudus  alias MSA. MSA ini merupakan sebuah tarekat atau kongregasi religius para imam katolik Roma.

    Tepat pada Selasa, 29 Juni 2021 di hari Raya St. Petrus dan Paulus, telah ditahbiskannya dua imam dan satu diakon MSA di Keuskupan Agung Pontianak. Perayaan dimulai pada pukul 09.00 WIB yang dipimpin lansung oleh Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dan didampingi RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA sebagai animator untuk MSA Indonesia.

    Imam MSA yang ditahbiskan tersebut yakni Diakon Blasius Hide Waton, MSA dan Diakon Yohanes Febi Toring, MSA yang hari ini sudah ditahbiskan menjadi Imam. Kemudian Frater Fransiskus Roke, MSA mulai hari ini menjadi diakon.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Busana Calon Imam Misionaris Para Rasul Kudus (MSA)

    Acara tahbisan dua imam dan satu diakon MSA itu pula dihadiri juga oleh 16 imam lainnya. Dalam awal sambutan misa, Mgr Agustinus Agus mengungkapkan bahwa masa sekarang ini, hidup sebagai gembala penuh dengan tantangan dan hambatan. Ditambah lagi pandemi Covid-19.

    Dengan adanya pandemi ini, secara otomatis gereja juga terkena dampaknya. “Mau atau tidak mau, kita harus hadapi situasi seperti ini, namun justru itulah tantangan bagi seorang gembala,” kata Mgr Agus.

    Kesempatan itu juga, Mgr Agustinus Agus menggarisbawahi sikap seroang imam yang paling penting yaitu hendaknya menjadi gembala yang kreatif, bagaimana pun kondisi dan caranya.

    ”Bagi saya seorang imam adalah seorang gembala,” lanjut Uskup. “Seorang gembala kenal domba-dombanya. Karena ia kenal domba-dombanya maka imam tahu kebutuhan akan umatnya.”

    Pandemi Covid-19, kesempatan Refleksi

    Dalam homilinya Mgr Agustinus Agus menjelaskan pandemi covid-19 memaksa manusia untuk refleksi, terutama untuk kaum berjubah. “Karena sulitnya akses dengan protokol kesehatan dan jaga jarak dengan banyak orang jangan sampai semangat melayani juga sampai redup,” ujarnya.

    Uskup Agung Pontianak menguatkan imam yang ditahbiskan sekaligus mengingatkan para imam lainnya untuk tidak takut berkorban dan menjadi garda depan dalam melayani umat ditengah covid-19.

    Baca juga: Apa sih, Tarekat MSA itu?

    “Jangan takut mau doakan orang yang meninggal karena covid-19, justru imam harus menjadi teladan. Tentunya dengan protokol kesehatan sesuai dengan arahan tenaga medis,” lanjut Uskup. “Sebagai kaum berjubah, sikap tanggung jawab dengan tugas yang diemban haruslah menjadi contoh yang nyata ditengah dunia, itulah yang membedakan kaum berjubah dan orang biasa.”

    Mgr Agustinus Agus mengisahkan dimana pada awal pandemi Covid-19 melanda, Paus Fransiskus pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, berani berkunjung ke Irak. “Bagi saya, bagi seorang gembala dan seroang pastor ini adalah sinyal bahwa, situasi apapun tidak boleh membatasi pelayanan seorang gembala,” tambah Uskup.

    “Bagi saya pribadi,” lanjut Uskup. “Baik oleh diakon maupun oleh imam, semua itu adalah tugas sebagai gembala. Hal itu bukan tidak melulu sebagai gembala saja, tetapi menjadi gembala yang baik.”

    Uskup Agung Pontianak menjelaskan bahwa menjadi seorang gembala yang baik sudah jelas di Kitab Suci yakni, gembala yang baik adalah gembala yang berani meninggalkan 99 dombanya yang sehat-sehat untuk mengunjungi satu yang sakit.

    “Berani meninggalkan kemapanan, berani meninggalkan hidup mewah untuk menyelamatkan satu orang agar ia juga selamat,” tambah Uskup. “Gembala yang baik dalam kitab Suci jelas, yakni mengantar domba-dombanya kepada yang rumput hijau. Gembala yang baik berani menjaga dombanya, dari serangan binatang buas.”

    Mohon doa

    Sebagai perwakilan imam yang baru ditahbiskan RP Yohanes Febi Toring, MSA mengucapkan segenap terimakasih kepada semua pihak yang sudah membantu mereka dalam menyiapkan tahbisan maupun semua donatur yang sudah membantu mereka dengan caranya masing-masing.

    Pastor Yohanes Febi Toring, MSA juga meminta dukungan doa dari semua umat serta sanak keluarga.

    “Sebagai imam muda, kami mohon dukungan doa yang terus-menerus menggiring perjalanan kami dalam proses menjadi imam dan menyertai perjalanan kami selanjutnya sebagai imam dan diakon. Doa anda merupakan kekuatan bagi langkah kami selanjutnya,” ujar Pastor Toring.

    Baca juga: Yang Mana Ya, Bapak Uskup Agung Pontianak itu?

    Animator untuk MSA Indonesia, RP Frey Martin Mancera Lombana, MSA menyampaikan salam damai dan cinta dalam Kristus Yesus atas nama Animator Jeneral, Pastor Luis Luna Barrera, MSA dan dewannya,

    Pastor Frey menceritakan sebenarnya Animator Jeneral ingin berpartisipasi dalam perayaan yang penuh makna itu, tetapi karena pandemi mereka harus menahan diri untuk tidak mengikuti upacara tahbisan.

    “Bagi para anggota MSA, ini adalah suatu kegembiraan yang besar untuk dapat diceritakan bersama  para imam baru Johannnes Ebit, MSA dan Blasius Waton, MSA dan diakon baru Fransiskus Roke MSA dalam pelayanan Gereja universal dalam konteks Karisma dan Misi kami  sebagai Misionaris Para Rasul Kudus di Indonesia,” kata Pastor Frey.

    Kami adalah komunitas yang sangat muda di sini di Indonesia, kami baru berusia 10 tahun, namun Tuhan yang berbelas kasih telah memberkati kami dengan saudara-saudara ini yang merupakan anggota MSA pertama yang dibentuk oleh komunitas MSA sejak novisiat, waktu integrasi dan sekarang sebagai pelayan altar,” lanjut Pastor Frey. “Kenangan dari pendiri kami, Pater Eusebio Enrique Menard OFM, telah dihormati hari ini. Dan masa depan serikat di Indonesia memberi suatu langkah baru, semakin memperteguh  kita di jalan pewartaan  Injil.”

    Sebagai Missionaris Panggilan

    Pastor Frey menitik beratkan bahwa para anggota MSA adalah misionaris panggilan dan karisma serta misi kami di dalam Gereja tidak akan pernah terbatas pada pembentukan, promosi dan pendampingan panggilan semata-mata dan secara eksklusif untuk serikat MSA; “Kami, sebagai misionaris panggilan, dengan senang hati bekerja sama dengan keuskupan tempat di mana kami bekerja, mendukung para uskup, tidak hanya dengan anggota kami, tetapi juga berkolaborasi dalam promosi dan pendampingan panggilan yang berorientasi pada hidup diosesan,” katanya.

    “Terima kasih, Monsinyur, karena memberi kami kehormatan untuk menahbiskan saudara-saudara kami,” tambahnya. “Saya yakin bahwa mereka akan meninggalkan panji-panji iman yang sangat tinggi dan dalam setiap Ekaristi yang mereka rayakan dan hayati, mereka akan menghadirkan Tuhan kita Yesus Kristus di altar dunia.”

    Baca juga: 5 Pertanyaan Teratas Umat Katolik Tentang Vaksin COVID-19 (dan Jawabannya)

    Tak lupa juga Pastor Frey mengungkapkan untuk para saudara MSA di seluruh dunia yang telah mengikuti transmisi melalui internet, semoga  Tuhan mengabulkan doa dan dalam kebersamaan, dan diucapkan juga teruma kasih kepada kaum awam dan  kepada para guru dan dosen yang telah memungkinkan terbentuknya para saudara ini dan telah bermurah hati membantu mempermudah mereka untuk sampai pada hari yang indah ditahbisan pada selasa 29 Juni 2021.

    Menutup sambutanya, Pastor Frey mengingatkan kembali kepada para saudara  yang  telah ditahbiskan, “dengan mengatakan YA seperti Perawan Maria di hadapan Tuhan, terima kasih karena telah menerima misi ini, Anda hari ini menjadi saksi bagi mereka yang akan datang, semoga terus memberi teladan hidup Kristiani dan semoga  kesaksian kalian sebagai jalan terbaik untuk mempromosikan  panggilan,” katanya.

    Tugas yang diemban imam muda dan diakon MSA

    Selaras dengan itu, Pastor Fray mendoakan Pastor Johannes Ebit MSA, semoga misi di Kolombia menginspirasi banyak saudara dari Indonesia untuk berkata sepertinya: “Saya di sini Tuhan,  untuk melakukan kehendak-MU”.

    Ia juga tidak lupa menyampaikan kepada Pastor Blasius Waton, MSA semoga tugas yang diberikan kepadanya oleh komunitas MSA di Indonesia menjadi dasar untuk memberikan kesaksian dan teladan hidup di hadapan para formandi yang dipercayakan kepada Anda dan kepada anggota MSA yang harus Anda bimbing dalam tugas sebagai Penanggung Jawab Formasi di Indonesia.

    Kemudian ia juga menyampaikan tugas untuk Diakon Fransiskus Roke MSA, semoga bantuan tanpa syarat dari –nya di Paroki St. Fransiskus Assisi di Pakumbang, dan di mana diakon akan tinggal dan menjalankan pelayanan masa diakonat,  “menjadi taman di mana Anda menabur benih-benih Sabda Allah, mengolah dan merawatnya ; dan melihatnya berkembang dan berbuah,” lanjutnya.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus ungkapkan Manusia Menjadi Kuat jika Tuhan Campur tangan dalam dirinya

    “Terima kasih kepada Pastor Romanus Sangkur, MSA dan Pastor Rubén, MSA.  Terima kasih karena telah membentuk, membina dan merawat saudara-saudara kita ini, saya mengakui kualitas Anda sekalian, pengorbanan dan dedikasi Anda dalam tugas pembinaan saudara-saudara kita ini, hanya Tuhan yang tahu bagaimana menghargai dan membalas kemurahan hati dan dedikasi Anda,” kata Pastor Fray.

    Akhirnya ia menyampaikan harapannya semoga semua umat menjadi satu dalam Kristus Yesus dan semoga Kepengantaraan yang penuh kasih dari Perawan Maria Ratu Para Rasul, bersama dengan perlindungan dari para Rasul  yang Kudus, menjadi penghiburan bagi  seluruh umat manusia.

    TERBARU

    TERPOPULER