Monday, May 18, 2026
More
    Home Blog Page 138

    Beruntung: Mereka yang Sudah Menyiapkan Diri

    Samuel| Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, SuaraDUTA- Serangkaian peristiwa besar yang setiap kali terjadi pada manusia, tentunya manusia selalu mengalami apa yang disebut dengan rasa takut.

    Katakanlah ketika terjadi pandemi covid-19 diseluruh dunia saat ini, awal terjadinya pandemi covid19 menimbulkan ketakutan bahkan peristiwa yang baru-baru terjadi yaitu gencatan senjata di Ukraina oleh Russia hampir dan berpotensi untuk membuat dunia terancam, termasuk pula ketakutan yang menyertai kita.

    Jika dilihat dari sudut pandang lain misalnya secara ekonomi, barangkali; barang yang kita beli ini tidak bisa kita jual atau barangkali (pengusaha) jadi takut tidak bisa membayar gaji pegawai karena ekonomi berhenti ditambah dengan PSBB.

    Kemudian situasinya bisa berkembang menjadi lebih jauh. “ ini adalah potensi rasa takut yang belum tentu menjadi kenyataan.

    Namun perlu diwaspadai, ketakutan itu bisa menjadi kenyataan setelah beberapa bulan atau jangka waktu tertentu maka masuklah ia yang awalnya hanya prasangka kemudian menjadi rill yaitu ketakutan yang kemudian menjadi rasa sakit.

    Takut adalah pontensial

    Alangkah sepinya hidup tanpa warna, namun kebanyakan warna juga berpotensi membuat manusia bingung dan bimbang.

    Kebimbangan bisa terjadi saat ia (kita, mereka, atau saya) mengalami kondisi ketakutan atas ketidakpastian tujuan dan arah. Meskipun awalnya ketakutan bermuara dari persepsi peribadinya.

    Kata kuncinya adalah “takut adalah potensial dan sakit adalah rill

    Namun demikian ada pepatah yang mengungkapkan demikian: “Merasa sakit itu normal, mengatasinya adalah sebuah prestasi. Tetapi ada juga kata bijak lain yang menggambarkan tentang kesakitan, bunyinya demikian, “sebelum rasa sakit seseorang melebihi rasa takutnya maka sesungguhnya manusia itu belum mau berubah.”

    Alangkah indahnya jika kita bisa merasakan rasa sakit dan dapat diatasi sampai tuntas. Namun celakanya saat ia hendak mengatasi rasa sakitnya kemudian muncul rasa sakit yang baru. Memang kebanyakan dari kita melihat hal itu sebagai bentuk siklus atau mungkin ada pendapat lain?

    Dari fenomena itu jika dilihat lebih dalam yang dibutuhkan manusia dalam kondisi saat itu adalah sikap perubahan. Dalam mencapai sebuah perubahan tentunya, manusia membutuhkan energi yang menggerakkan manusia atau orang itu sendiri. Saat-saat terhimpit atau dilema itulah biasanya muncul energi (mungkin saja kondisi keterpaksaan) yang menuntut harus ada perubahan.

    Ini sesungguhnya disebut dengan energi perubahan. Energi perubahan itu justru datang dalam situasi seperti ini.

    Bukankah kita harus berubah sebelum waktunya tiba. Namun kadang kita selalu menyangkal dan mengatakan itu tidak benar atau mengatakan itu terlalu kecil. Kita katakan itu tidak terjadi pada diri kita dan masih banyak contoh sebagainya.

    Sebetulnya kondisi ini bisa masuk dalam suatu wilayah perubahan.

    Tentunya kita membutuhkan komitmen (jika tidak maka tidak memulai ), konsistensi (tidak selesai) dan tentunya mau melakukan sesuatu yang tidak mudah ( mau yang mudah maka akan digerus oleh kompetisi).

    Perubahan butuh kecerdasan

    Belum lama ini, saya melihat paparan yang disampaikan oleh seorang Profesor ternama di Indonesia dan juga sudah menulis karya-karya pikirannya dengan buku yang ia terbitkan. Adapun buku yang pernah saya baca diantaranya ada Self Driving, Agility “Bukan Singa yang Mengembek” dan #MO “Sebuah Dunia Baru yang Membuat Orang Gagal Paham” – siapa lagi kalau bukan Prof Rhenald Kasali.

    Dalam akun youtube Rumah Perubahannya dengan Judul “Future Inteligence” – Prof Rhenald Kasali menjelaskan ada enam jenis kecerdasan baru yang dibutuhkan untuk kondisi-kondisi seperti saat ini.

    “Saya tidak tahu apakah anda percaya atau tidak pada ucapan Jack Ma yang mengatakan pada tahun 2030, bahwa 80% perdagangan dunia akan melalui e-commerce. Tapi saya melihat kemungkinan besar bisa saja bergerak lebih cepat dan lebih awal,” kata Prof Rhenald Kasali.

    Rhenal Kasali menjelaskan diperlukannya kecerdasan-kecerdasan untuk menangkap kesempatan ini. Menurutnya kita boleh percaya dan boleh tidak. Jika orang percaya maka mereka harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

    Sejumlah Psikologi menemukan post pandemi Covid-19 ini memerlukan 6 kecerdasan baru. Kecerdasan pertama disebut dengan “Technological Intellingence”- yaitu kecerdasan bagaimana memanfaatkan, mengikuti dan menggunakan teknologi, oleh karena itulah anak-anak mulai dari sekarang harus dilatih untuk terbiasa menggunakan teknologi.

    Kecerdasan kedua yaitu “Contextual Intellingence” – karena bekerjanya dibelakang teknologi maka sering kali orang yang tidak paham konteks dimana dia berada. “Contextual Intellingence” juga harus dilatih dalam kehidupan rill.

    Selanjutnya bagian ketiga kecerdasan yang disebut sebagai “Social & emotional Intelligence“- hal ini sangat diperlukan karena sekarang banyak sekali anak-anak yang sejak kecil hanya aktif didepan teknologi dan akbhirnya tidak memiliki kecerdasan emosional untuk merespon atau menghadapi orang-orang disekitarnya dan dengan beragam perilaku.

    Kemudian keempat ada kecerdasan yang disebut “Generative Intelligence” – yaitu kecerdasan untuk menangkap kesempatan atau peluang betapa banyak kesempatan muncul didunia rill ini, tetapi banyak diantara kita tidak bisa menangkap kesempatan-kesempatan itu.

    Selanjutnya ada kecerdasan yang disebut sebagai “Explorative transformational intelligence” – kecerdasan untuk mengeksplore berbagai kesempatan tadi dan kemudian melakukan transformasi terutama anda yang berada didunia lama.

    Sedangkan kecerdasan yang keenam disebut sebagai “Moral Intelligence” – yaitu kecerdasan untuk bekerja menggunakan nilai-nilai yang berlaku secara universal. So, pada dasarnya untuk mencapai puncak yang paling tinggi apakah itu sebagai ilmuwan, jurnalis/wartawan, organisasi, pengusaha, apakah itu sebagai pegawai atau sebagai pimpinan perusahaan yang diperlukan bukan semata-mata pengetahuan saja.

    Integritas

    Dari pemaparan diatas, mungkin saja manusia boleh sangat cerdas tetapi kuncinya adalah apakah mereka dapat dipercaya atau tidak. Untuk itu maka terdapat nilai-nilai yang disebut sebagai integritas.

    Kemudian integritas inilah basis karakter yang membuat mereka (manusia, kita, anda dan saya) dapat dipercaya atau tidak maka hanya mereka yang siap dan yang mampu mendapatkan kesempatan ini.

    Mari kita hadapi pasca covid-19 ini dengan kewaspadaan tetapi tentu saja tetap harus menyiapkan diri untuk siap menatap perubahan dengan harapan baru. Kemudian akhirnya siapa yang beruntung adalah mereka yang sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari.

    Urgensinya Membaca Bagi Orang Muda Katolik

    Juniardi Sucinda – Guru SMP Kristen Immanuel Pontianak

    MajalahDUTA.Com, SuaraDUTA- Membaca seringkali identik dengan seseorang yang duduk pada posisi yang sama dalam waktu puluhan menit hingga dalam hitungan jam sembari menatap buku atau layar smartphone yang menampilkan e-book. Tentu, seperti kita yang tidak terbiasa maka kegiatan membaca akan sangat membosankan.

    Sebelum membahasnya lebih jauh, ada baiknya kita melihat pengertian membaca dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, disebutkan bahwa membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).

    Oleh karena itu, membaca yang dimaksud dalam tulisan ini adalah membaca karya tulis, misalnya buku, artikel, opini dan lain sebagainya, baik itu secara online maupun karya tulis berbentuk fisik.

    Berdasarkan data yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, tingkat literasi (salah satunya membaca) siswa Indonesia  berada pada peringkat 62 dari 70 negara yang disurvei.

    Dari data ini kita punya gambaran bahwa betapa rendahnya tingkat literasi dalam hal ini minat baca dikalangan siswa Indonesia, barangkali bisa juga menjadi gambaran masyarakat Indonesia secara umum.

    Fondasi ideologis

    Literasi membaca punya kaitan erat dengan kesejahteraan sebuah negara. Literasi sendiri berasal dari kata literatus  yang berarti orang yang belajar. Membaca adalah salah satu proses belajar.

    Suatu fenomena sosial maupun natural akan lebih baik jika telaah oleh mereka yang sudah membaca terlebih dahulu, sehingga ia punya ‘kekuatan’ untuk menginterpretasikan suatu masalah dan memberikan kemungkinan-kemungkinan solusi yang bisa diambil.

    Bayangkan jika para pendiri negara ini dahulu bukan pembaca (buku), tentu pada zaman itu konteksnya adalah pembaca buku atau media massa, maka bisa saja negara Republik Indonesia hari ini tidak punya fondasi ideologis yang kuat, bahkan penamaan Indonesia itu sendiri mesti ada proses ‘membaca’ yang serius, demikian juga ketika memilih bentuk negara Republik, mengorganisir orang-orang untuk setuju dengan bentuk republik tersebut.

    Membaca berarti berusaha mencari tahu akan suatu hal, tentu dimulai dari hal-hal yang diminati oleh seseorang.

    Dunia digital

    Pada zaman yang serba digital ini, ada begitu banyak kesempatan untuk membaca tentang berbagai hal dari sumber mana pun. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak membaca.

    Media sosial membanjiri Indonesia dengan berbagai informasi, sering kali kita mendengar pemberitaan mengenai orang-orang yang menyebar berita hoax atau mungkin membuat tuduhan dan hujatan kepada pihak tertentu tanpa membaca berita secara utuh, melainkan hanya membaca judulnya saja, maka itu artinya literasi dalam hal ini membaca menjadi sesuatu yang amat penting.

    Membaca sangat penting, itu mutlak, setidaknya menurut saya. Tentu juga orang muda katolik, membaca mestinya menjadi suatu kebiasaan yang mesti dilatih setiap hari, apalagi kita diperhadapkan dengan smartphone yang bisa memberikan kita bahan bacaan dengan jutaan tema.

    Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik itu bisa berdiri dan eksis mempengaruhi dunia hingga hari ini, salah satunya karena kekuataan intelektual pada teolog terkemuka, sebut saja misalnya Santo Agustinus dan Santo Dominikus. Intelektualitas itu mereka asah dari membaca, salah satunya.

    Ajaran-ajaran Gereja Katolik masih diterima dan relevan dengan zaman yang terus berubah, tentu tidak lepas dari usaha Gereja menghadapi dan “membina” dunia agar terus berada dalam jalan Kristus. Oleh karena itu, salah satu tugas yang paling penting bagi orang muda katolik adalah membaca, apapun itu, baca.

    Perkaya pengetahuanmu dengan membaca, teruslah belajar, dari buku hingga media elektronik.

    Mengapa? Karena Gereja bisa tetap bertahan jika ditopang juga oleh intelektualitas umat, khususnya kaum mudanya.

    Memuji Ayah yang Selalu Ada

    Ayah yang selalu ada – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, – Ayah yang baik diremehkan justru karena mereka tabah dan dapat diandalkan. Artikel ini dilansir dari portal berita Aleteia oleh Fr. Michael Rennier dan dipublikasikan pada 13/3/2022.

    Ayah saya adalah tipe pria yang memakai kaus kaki dengan sandal. Saya tidak ingat apakah dia pernah memakai ponsel di dalam sarung yang menggantung diikat pinggang celana khaki-nya, tapi sepertinya itu hal yang mungkin dia lakukan. Kepekaan fashion, sejauh itu pernah ada tidak pernah berubah. Setidaknya selama 40 tahun sekarang, dia selalu berpakaian dengan cara yang sama persis, gaya yang kita sebut “Ayah Suburban”.

    Anda semua tahu gaya yang saya bicarakan. Ini adalah penampilan pria yang hampir tidak pernah membeli pakaian sendiri karena semua penghasilannya didedikasikan untuk anak-anak mereka. Mereka berbelanja untuk lemari pakaian mereka dilorong tawar-menawar sebuah toko kotak besar setahun sekali sehingga mereka memiliki cukup uang untuk mengirim anak-anak mereka ke kelas dansa, mendaftarkan mereka untuk mengikuti perkemahan musim panas, dan pergi ke perguruan tinggi.

    Baca Juga: Ajaran para wanita Pujangga Gereja menawarkan terang dan harapan bagi dunia

    Tampilan ayah itu lucu, dan sekarang saya sendiri adalah seorang ayah, putri remaja saya mulai tanpa henti mengejek saya untuk versi saya sendiri, tetapi itu adalah gaya yang mengungkapkan cinta pengorbanan yang kuat. Para ayah yang berjalan-jalan mengenakan celana pendek kargo dan sepatu kets putih kikuk ini adalah pahlawan.

    Ayah tidak pernah berubah. Ayah saya sendiri bangun pada jam yang sama setiap pagi, melakukan rutinitas paginya, pergi ke kantor, pulang dan melatih salah satu tim olahraga kami, dan kemudian menonton setengah episode Star Trek sebelum tertidur. Hari demi hari, dia melakukan pekerjaannya dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Lelucon konyolnya tidak pernah berubah. Potongan rambutnya tidak pernah berubah. (Dia memang bereksperimen dengan kumis di awal 90-an. Anggap saja itu tidak berhasil.) Dia masih membaca biografi pahlawan perang Amerika yang sama. Satu-satunya hal yang benar-benar berubah tentang dirinya adalah, sekitar usia 50 tahun, dia menemukan bahwa dia menyukai kopi. Dia sekarang menggambarkan kegagalannya untuk menghargai kopi di usia yang lebih muda sebagai, “Salah satu penyesalan terbesar dalam hidup saya.”

    Ayah Suburban

    Saudara-saudara saya dan saya, dalam perjalanan ke perguruan tinggi dan pindah ke berbagai kota untuk pekerjaan, mungkin telah pindah rumah belasan kali. Ayah kami telah membantu kami masing-masing bergerak, setiap saat. Jika saya memiliki proyek rumah yang tidak dapat saya tangani, dia membawa peralatannya dan membantu saya. Dia membantu saya menyelesaikan ruang bawah tanah rumah saya. Dia membantu saya mengganti semua dinding. Suatu kali, dia menunjukkan kepada saya cara melepas pintu mobil saya untuk mengganti motor jendela. Dia membantu saya keluar secara harfiah setiap kali saya bertanya. Itu tidak pernah berubah.

    Hidup adalah angin puyuh perubahan, hal-hal yang hilang dan diperoleh. Kami meninggalkan rumah untuk kota baru, beralih karier, memulai keluarga. Perubahan politik, perubahan budaya pop, perubahan mode, anak-anak tumbuh dan menjauh. Lingkungan terus berubah saat orang masuk dan keluar, bisnis buka sementara bisnis lain tutup. Sulit untuk menemukan pijakan yang mantap di dunia yang serba cepat ini.

    Baca Juga: Kardinal Cantalamessa: Ekaristi sama ekstensifnya dengan sejarah keselamatan

    Ayah yang baik, menurut saya, diremehkan justru karena mereka tabah dan dapat diandalkan. Sangat mudah untuk menerima begitu saja. Akhir pekan ini, misalnya, kita merayakan pesta St. Yosef. Dalam Alkitab, Joseph memiliki beberapa momen dimana dia adalah protagonis. Misalnya, mimpinya membawa keluarganya ke Mesir atau keputusan tegas yang diambilnya untuk melindungi Maria dan melanjutkan dengan menikahinya. Selain itu, dia agak memudar ke latar belakang. Dia tidak banyak bicara, kurang lebih menghilang pada saat Yesus menjadi dewasa.

    St. Yosef

    Namun demikian, saya merasakan kehadirannya yang mantap dan kebapaka nya. Sepanjang masa kanak-kanak Kristus, dia pasti ada disana mengikuti rutinitasnya, bekerja, menceritakan lelucon klise, tertidur seperti jarum jam di dini hari, membawa keluarga untuk beribadah.

    Saya memikirkan ayah yang tabah seperti batu di lautan badai. Mereka adalah pelabuhan keselamatan. Sebagai seorang anak, saya bebas untuk berani dan mengambil risiko karena saya tahu ayah saya akan selalu ada untuk membantu. Sekarang sebagai orang dewasa, kepercayaan padanya tidak berubah.

    Dalam iman rohani saya, juga, dan tujuan saya sendiri untuk menjadi ayah yang baik bagi anak-anak saya. Kehadiran St. Yosef yang tenang sangat menghibur. Di gereja paroki kami, dia selalu ada disana, patungnya tepat di sebelah Maria. Dia memegang alat-alat dari perdagangan pertukangannya, siap untuk pergi bekerja lagi di lain hari. Dia tahu siapa dia. Dia adalah seorang ayah, tabah seperti bintang utara.

    Intelektual Ortodoks Rusia: Maafkan kami atas apa yang dilakukan Rusia hari ini!

    Sumber foto: Aleteia – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontinak

    MajalahDUTA.com, Rusia – Andrei dan Karina Chernyak mengecam agresi Rusia di Ukraina dan mengungkapkan komunitas Ortodoks Rusia yang menentang perang Putin. Berita ini dilansir dari portal berita Aleteia oleh Katolicka Agencja Informacyjna pada 03/06/22.

    Saya merasakan sakit, kepahitan, ketakutan, rasa malu dan kemarahan atas apa yang dilakukan Rusia hari ini di Ukraina,” Karina dan Andrei Chernykh, aktivis dan intelektual Ortodoks yang berbasis di Moskow saat ini di Vilnius, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Katolik Polandia, KAI. “Kami merasa sangat menyesal atas orang-orang Ukraina yang sekarat, terutama anak-anak dan juga untuk orang-orang Rusia yang dituntun tanpa alasan ke kematian mereka oleh orang gila. Ini adalah tragedi bagi kedua negara: Ukraina dan Rusia,” tambah mereka.

    KAI: Bagaimana Anda — sebagai orang Kristen Ortodoks Rusia — memandang serangan tentara Rusia terhadap negara Ukraina yang merdeka?

    Karina dan Andrei Czerniakow: Kami merasakan sakit, pahit, takut, malu dan marah yang disebabkan oleh apa yang terjadi. Rasanya hampir mustahil untuk dipercaya. Kami tidak tahu bagaimana membantu orang Ukraina dalam situasi ini selain dengan doa. Semua pikiran kami bersama Ukraina sekarang dan kami menyadari bahwa ini adalah tragedi bagi kedua negara, Ukraina dan Rusia. Bangsa kita adalah saudara dan tragedi ini memisahkan kita dan akan terus memecah kita selama beberapa dekade, mungkin selama beberapa generasi. Kami merasa sangat kasihan kepada mereka yang harus menderita melalui serangan gencar ini, serangan udara ini. Kami sangat menyesal atas orang-orang Ukraina yang sekarat, terutama anak-anak dan juga untuk orang-orang Rusia yang sekarat tanpa alasan, yang dibunuh oleh orang gila.

    Bagaimana Anda menafsirkan pidato Vladimir Putin, di mana ia sebenarnya tidak hanya menyangkal hak kemerdekaan Ukraina, tetapi juga menuduh bahwa Ukraina adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Rusia dan diperintah oleh Nazi yang harus dihilangkan?

    Pidato Vladimir Putin bagi kita adalah ocehan orang yang belum dibaca. Mereka adalah omong kosong mengerikan yang dipenuhi oleh propaganda, propaganda yang menawarkan Rusia jalan ke depan yang tidak jelas. Propaganda memiliki efek yang sangat kuat pada otak orang. Banyak orang Rusia, sayangnya sangat banyak, mempercayainya. Itu serupa di Jerman Hitler di mana propaganda menanam omong kosong ideologis di kepala orang. Hari ini hal yang sama terjadi di Rusia.

    Baca Juga: Kegiatan Donor Darah Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak

    Apa makna Ukraina bagi Anda? Bagaimana seharusnya status dan perannya di kawasan Eropa ini?

    Ukraina adalah negara yang kami sayangi. Kami memiliki banyak orang yang dekat dengan kami di sana, sayang kami, yang penting bagi kami sepanjang hidup kami. Kami berhutang budi kepada banyak dari mereka karena mereka adalah tuan dan guru kami. Ini adalah negara yang indah dengan budaya yang indah, mandiri dan kaya. Ukraina harus benar-benar memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, termasuk hak untuk bergabung dengan NATO atau Uni Eropa. Bagaimanapun, Ukraina dapat memainkan peran yang sangat penting dalam budaya seluruh Eropa dan dalam politik Eropa. Itu hanya perlu diizinkan untuk melakukannya.

    Bagaimana kita dapat mengevaluasi sikap Patriarkat Moskow dan Patriarkat Kirill sendiri terhadap agresi terhadap Ukraina?

    Sangat menyakitkan bagi kami karena Gereja Ortodoks, tempat kami berasal, tidak memprotes agresi. Baik Gereja secara keseluruhan maupun Patriarkat Kirill sendiri tidak melakukannya. Agresi ini merupakan pelanggaran terhadap semua perintah Allah. Agresi ini merupakan pelanggaran terhadap semua perintah Allah.

    Apa yang menjelaskan kurangnya kecaman atas agresi ini oleh para uskup Ortodoks Rusia?

    Fusi Rusia antara Gereja dan Negara. Takut akan beberapa sanksi gereja atau kurangnya minat pribadi. Namun, ini tidak berlaku untuk semua uskup dan semua imam. Banyak, terutama para imam, telah maju dengan suara protes mereka. Juga, beberapa uskup tidak setuju dengan apa yang terjadi, meskipun mereka tidak mengatakannya secara terbuka. Para pembangkang ini memimpin doa khusyuk (novena) untuk rekonsiliasi dan untuk penghentian perang yang mengerikan ini.

    Baca Juga: Aksi Puasa Pembangunan Tahun 2022 Keuskupan Agung Pontianak

    Apa yang dilakukan kalangan Ortodoks lain di Rusia, seperti lingkaran mantan murid Fr. Aleksandr Mienia, milik Anda, pikirkan tentang situasi ini?

    Kita tidak dapat berbicara tentang semua lingkaran Ortodoks di Rusia; ada jalinan pendapat yang berbeda dan beragam. Kami hanya dapat berbicara tentang lingkaran kami sendiri, dekat dengan kami, di mana, sayangnya, ada juga pendapat yang berbeda, meskipun sebagian besar teman kami, saudara dan saudari Kristen kami mengutuk perang, berdoa untuk perdamaian dan melakukan apa yang mereka bisa untuk rekonsiliasi dan bantuan bagi mereka yang menderita di Ukraina.

    Apakah ada orang Kristen Ortodoks di Rusia yang mengambil inisiatif untuk menghentikan perang, membantu Ukraina, atau menunjukkan solidaritas dengannya?

    Enam ribu orang Rusia telah dipenjara karena berpartisipasi dalam aksi piket dan protes menentang perang. Setiap upaya, bahkan tanpa tanda-tanda protes, selalu digagalkan, dan orang-orang yang berpartisipasi dimasukkan ke dalam penjara. Karena itu, saya tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukan. Itu benar-benar berbeda di AS, ketika ribuan orang berbicara menentang perang di Vietnam, tetapi tidak ada yang menangkap mereka di sana.

    Enam ribu orang Rusia telah dipenjara karena berpartisipasi dalam aksi piket dan protes menentang perang.

    Di negara kita banyak orang, meskipun mereka tidak setuju dengan kebijakan Putin, takut untuk turun ke jalan dengan protes, tetapi mereka berdoa untuk itu karena dalam hati mereka ingin perang berhenti, mereka menginginkan perdamaian. Mereka mengalami rasa malu, simpati untuk Ukraina dan rasa bersalah.

    Saya tahu bahwa orang-orang Rusia ini ingin membantu Ukraina secara materi, tetapi tidak mungkin mengirim uang, mereka ingin menerima pengungsi, tetapi mereka tidak melarikan diri ke Rusia, mereka ingin mengirim bantuan kemanusiaan, tetapi ini juga tidak. Mungkin. Karena itu, kami tidak melihat kemungkinan bantuan. Itu hanya mungkin dari luar Rusia. Orang-orang dari seluruh dunia mengumpulkan barang-barang, pakaian hangat, uang, makanan, untuk membantu orang Ukraina di negara mereka dan juga mereka yang terpaksa pergi ke luar negeri.

    Baca Juga: ‘Atas nama Tuhan, hentikan pembantaian ini!’- Doa Paus perang di Ukraina

    Sebagai orang Kristen di Rusia, pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada orang Kristen lain di Eropa dan di dunia?

    Pertama-tama, Putin dan lingkaran terdekatnya sama sekali bukan milik Rusia. Tolong jangan berpikir bahwa ini adalah agresi seluruh Rusia. Kita ingat kata-kata seorang imam Italia, Fr. Romano Scalfi, yang merupakan pendiri dan direktur “Rusia Cristiana” dan melakukan banyak hal untuk memulihkan Kekristenan, Ortodoksi di Rusia. Pastor Romano sesaat sebelum kematiannya (wafat 2016) berkata: “Terlepas dari segalanya, cintai Rusia”.

    Terlepas dari segalanya, cintai Rusia

    Saya tidak tahu seberapa banyak dia meramalkan semua mimpi buruk yang terjadi hari ini dan apa lagi yang mungkin dibawa Rusia ke dunia. Tapi ungkapan, “Terlepas dari segalanya, cintai Rusia,” bagi saya adalah tanda bahwa dia bisa meramalkan kemungkinan itu. Rusia tidak hanya Putin, tetapi juga Pushkin, Tolstoy, musisi, pelukis, budaya Rusia yang luas dan banyak orang yang baik dan sopan, serta orang-orang Kristen Ortodoks yang percaya. Saya membayangkan bahwa jika Pdt. Alexander Mien masih hidup hari ini, kata-katanya akan bergema keras: “Perang Niet!”

    Kami juga ingin menambahkan bahwa kami sangat menginginkan hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi di Eropa atau di seluruh dunia.

    Maafkan kami!

    Pewawancara: Marcin Przeciszewski

    Mgr. Agus Adalah Inspirasi Panggilan!

    Kebersamaan Mgr. Agus dengan para Fraternya - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Uskup dari Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus boleh dikatakan sangat dikenal oleh banyak orang sebagai sosok yang ceria dan penuh semangat. Bagi Uskup Agus usia agaknya hanyalah angka belaka.

    Ya, pujian ini tentu tidak berlebihan jika melihat semangatnya dalam melayani umat, baik di Keuskupan Agung Pontianak, maupun di luar keuskupan Agung Pontianak. Semangat beliau dalam melayani sungguh total dan menginspirasi banyak orang.

    Perhatiannya untuk Frater-fraternya

    Dari sekian banyak aktivitas pastoral yang Uskup Agus lakukan, mungkin hanya sedikit orang yang tahu bahwa beliau juga sangat perhatian terhadap para fraternya, khususnya para frater yang berasal dari Keuskupan Agung Pontianak.

    Sejak beliau mengemban tugas sebagai Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak, beliau selalu memberikan perhatian yang lebih bagi para fraternya, baik yang sedang studi di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII, Malang, maupun yang di STT Pastor Bonus Pontianak.

    Baca Juga: Sosialisasi TPE 2020, APP 2022 dan Program Kerja Dewan Paroki Sambas

    Tentang mengunjungi para frater yang sedang studi di Malang, menurut pengakuan beberapa frater Sintang, memang sejak ia menjabat sebagai uskup Sintang, beliau juga sering mengunjungi mereka. Perhatian Bapa Uskup terhadap para fraternya rupanya tidak pudar sama sekali, bahkan ketika beliau menjabat sebagai uskup agung Pontianak.

    Hanya saja, perhatian kini beralih dari frater Sintang kepada frater-frater Pontianak, tempat di mana ia mengemban tugas pengembalaannya saat ini.

    Salah satu moment yang tak akan terlupakan oleh para frater Pontianak adalah saat Bapa Uskup menyempatkan diri untuk rekreasi bersama mereka di Trawas, Mojokerto.

    Rekreasi ini terasa sangat spesial dan mengesankan, sebab di tengah pelbagai kesibukan beliau sebagai uskup, Uskup Agus rupanya masih mau meluangkan waktu untuk bersama-sama berekreasi bersama para frater. Ikut juga dalam kesempatan ini ketua UNIO Keuskupan Agung Pontianak, RD Alexius Mingkar.

    Momen tak terlupa

    Momen lain yang tak kalah mengesankan, ialah saat Uskup Agus memilih merayakan ulang tahunnya yang ke-71 bersama para frater di Malang.

    Pilihan ini tentu cukup mengejutkan, sebab siapa sangka seorang uskup agung mau merayakan ulang tahun jauh di tanah orang.

    Baca Juga: Paroki Salib Suci Ngabang Gelar Pembekalan Calon Anggota DPP Periode 2022-2025

    Perayaan ulang tahun ini berlangsung meriah di provinsialat suster pasionis (CP). Dalam kesempatan ini, turut serta para suster CP, staf formator dan para frater seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang, dan beberapa donatur.

    Ya, sosok Mgr. Agus memang sosok yang sangat inspiratif, khususnya bagi para frater projo K.A. Pontianak. Inspirasi ini bukan hanya terbatas pada kata-kata belaka, melainkan lebih kepada sikap dan gaya pastoral yang beliau tunjukkan. Mgr Agus adalah inpirasi panggilan!

    Sosialisasi TPE 2020, APP 2022 dan Program Kerja Dewan Paroki Sambas

    Foto bersama setelah kegiatan sosialisasi oleh DPP Sambas – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Sambas – Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas menyelenggarakan Sosialisasi Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020, Aksi Puasa Pembangunan Tahun (APP) 2022, serta Sosialisasi Program Kerja dewan pastoral Paroki pada Sabtu, 5 Maret 2022 di Aula Gedung Serbaguna Paroki Kristus Raja Sambas. Hadir dalam acara sosialisasi ini 72 Pengurus Umat dari seluruh stasi di Paroki Kristus Raja Sambas.

    Dalam sambutannya, Romo Cahyo selaku Ketua DPP Kristus Raja Sambas menyampaikan ucapan terima kasih, karena para pengurus umat telah menanggapi dengan baik, undangan dari DPP ini. Harapannya melalui sarana pertemuan ini, DPP Kristus Raja Sambas dan para pengurus umat dapat saling mendengarkan dan berbagi informasi, sehingga dapat saling meneguhkan dan menyemangati dalam karya pastoral di paroki dan stasi masing-masing.

    Baca Juga: Paroki Salib Suci Ngabang Gelar Pembekalan Calon Anggota DPP Periode 2022-2025

    Sebagai narasumber pada sosialisasi TPE 2020 adalah Rm. F. Cahyo Widiyanto OFMCap, yang sekaligus ketua DPP Kristus Raja Sambas. Untuk narasumber Sosialisasi APP 2022 adalah Bapak Maritus, S.Ag dan sebagai narasumber dalam Sosialisasi Program Kerja Paroki adalah Bapak Yosef Yasriadi dan Bapak Laurensius Naga.

    “TPE Indonesia 2020 adalah buah kerja sama dari perbagai pihak. Tujuan utama dari TPE baru adalah agar umat dapat semakin memahami ekaristi dengan baik, berpartisipasi dengan penuh menurut bagiannya dan semakin menyadari pengorbanan dan kasih Allah kepada umat-Nya. Harapan dengan adanya TPE baru adalah TPE ini sungguh menggerakkan dan menjadi motivasi umat untuk menyiapkan liturgi ekaristi dengan lebih baik, lebih benar, lebih indah, lebih hikmat” papar Rm. Cahyo Widiyanto.

    Pewan Pastoral Paroki

    Maksud pengadaan buku TPE Umat adalah terutama untuk  hal-hal yang berhubungan dengan bagian umat, misalnya  jawaban-jawaban umat, aklamasi, nyanyian-nyanyian yang  merupakan bagian Umat.

    Bagian umat ini (jawaban-jawaban, aklamasi) ada semua di  dalam buku TPE Umat, agar melalui buku ini, umat dapat  berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi. Karena itu, buku TPE  Umat tidak selengkap buku TPE Imam (tidak semua bagian Imam ada dalam buku TPE Umat).

    TPE umat ini mulai diberlakukan diseluruh Indonesia sejak 1 November 2021. Kita umat Katolik menggunakan TPE yang sama, karena kesadaran, bahwa kita ada gereja Katolik dengan ritus Latin. Maka sebagai tanda kesatuan dengan seluruh gereja, kita menggunakan buku TPE yang sama.

    Baca Juga: Kegiatan Donor Darah Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak

    Buku TPE baru mengacu pada Buku Missale Romanum 2008 pada masa Paus Benediktus XVI.

    Seksi Liturgi dan Seksi Katekese yang bertanggung jawab dalam kegiatan pertemuan para pengurus umat di Paroki Kristus Raja Sambas ini berharap agar setelah mengikuti acara ini umat dapat merayakan ekaristi dengan benar, sebagaimana diajarkan oleh Gereja Katolik yang kudus, dapat mengisi masa Prapaskah dengan sungguh-sungguh dan akhirnya dapat terlibat dan berpartisipasi dalam seluruh kegiatan Paroki, sehingga Paroki Kristus Raja Sambas dapat menjadi Paroki yang hidup, maju dan berkembang.

    Paroki Salib Suci Ngabang Gelar Pembekalan Calon Anggota DPP Periode 2022-2025

    RP. Pius Barces, CP, Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Pontianak – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Ngabang – Paroki Salib Suci Ngabang menggelar pembekalan bagi para calon Pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) Periode 2022-2025 di aula Maniamas Ngabang. Pembekalan dilaksanakan selama 3 hari, dari hari Jumat, 11 Maret 2022 sampai Minggu 13 Maret 2022 dan diikuti oleh para calon Anggota DPP, Pastor Paroki dan Para Suster KFS Ngabang.

    Hadir sebagai narasumber RP. Pius Barces, CP, Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Pontianak.

    Baca Juga: Pembekalan Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas Periode Tahun 2022-2024

    “Umat paroki menjadi dekat satu sama lain karena dipersatukan oleh cita-cita yang sama (mengikuti Yesus Kristus) pengutusan yang sama (menghadirkan kerajaan Allah) dan tujuan yang sama (keselamatan kekal). Dengan demikian umat paroki adalah umat terpilih yang dipanggil untuk membangun paguyuban alternatif (yang hidup atas dasar lain dibandingkan dengan masyarakat atau organisasi sosial pada umumnya).” demikian Pengantar yang disampaikan RP. Pius Berces, CP tentang sejarah pembentukan DPP pada sesi pertama pembekalan.

    Dewan Pastoral Paroki

    “Paroki adalah komunitas gerejawi yang pertama/dasar. Keluarga spiritual, sekolah iman, doa, yang pertama. Paroki adalah tempat pertama dalam berkarya cinta kasih; lembaga pertama dalam karya pastoral dan sosial, pusat kehidupan gerejawi. Paroki adalah sebuah komunitas umat beriman yang menghayati persekutuan dan partisipasi, mendengarkan Sabda Allah, bertumbuh dalam hidup Kristiani, beribadah dan berbagi dalam pelayanan berjangkauan luas (Gaudium Evangelii).

    Kegiatan Pembekalan yang dibuka langsung oleh Pastor Kepala Paroki Salib Suci Ngabang RP. Filipus. OFM CAP, diikuti dengan antusias oleh calon-calon anggota DPP yang sebagian besar di isi oleh orang-orang muda.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Melantik 71 DPP Paroki St. Pius X Bengkayang: Manajemen Paroki Harus Transparan

    “Ide tentang DPP sudah ada sejak Paus Pius XI, melalui Surat Edaran Quamvis Nostra aetate 27 Oktober 1936 dari Pius XI: DPP untuk memajukan dan mengembangkan serta mengkoordinasikan karya kerasulan paroki”.

    “Dasar teologis munculnya DPP itu dari prinsip communio dan partisipasi Umat Allah dalam hidup dan aktivitas gerejawi. Karena itu para anggota DPP adalah orang-orang beriman yang mau melibatkan diri secara aktif pada Gereja/paroki dan merasa menjadi bagian dari paroki. DPP lebih menjadi sebuah badan pelayanan dan rekomendatif terhadap Pastor Paroki (selaku Gembala umat dan penanggungjawab Paroki) dalam bidang pastoral (aktivitas dan pelayanan pastoral kepada umat paroki).” sambung Romo Barces saat menyampaikan materi tentang sejarah DPP.

    Pada hari kedua dipaparkan materi tentang sejarah DPP, Pedoman DPP Keuskupan Agung Pontianak, dilanjutkan dengan panduan penyusunan Program Kerja. Pada sesi ini Romo Barces mengajak semua peserta membentuk kelompok sesuai dengan bidang, kemudian setiap seksi dibimbing untuk membuat Rancangan Program Kerja sesuai Pedoman DPP Keuskupan Agung Pontianak.

    Pelayanan

    Diakhir sesi hari ke dua, semua bidang mempresentasikan Rancangan Program Kerja yang telah disusun kepada seluruh anggota DPP untuk dibahas bersama.

    Hari ketiga kegiatan Pembekalan calon anggota DPP, para peserta mengawali kegiatan dengan bersama-sama mengikuti misa pertama digereja di pimpin langsung oleh Romo Barces yang merupakan misa hari minggu Prapaskah ke 2.

    Baca Juga: Sidang Pleno Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat (FKRK) di Rumah Retret St. Fransiskus Assisi Tirta Ria Pontianak

    “Belum lama ini, Paus Fransiskus menerbitkan Anjuran Apostolik terbaru, yang disebut Amoris Laetitia atau Sukacita Kasih. Dokumen itu menekankan pentingnya ikatan kasih sayang dalam membangun keluarga harmonis” ujar Romo Barces saat menyampaikan materi di hari ketiga tentang Hukum Perkawinan Kanonik. Tanya jawab tentang perkawinan diakhir sesi diikuti oleh peserta dengan antusias.

    Rangkaian kegiatan pembekalan calon Anggota DPP, ditutup secara resmi oleh Pastor Kepala Paroki Salib Suci Ngabang RP. Filipus. OFM CAP dan diakhiri dengan ramah tamah.

    Kegiatan Donor Darah Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Dalam rangka memperingati Pesta Santo Yosef Pelindung Paroki Katedral, kami dari Sie Bapakat & OMK Katedral St Yosef Pontianak bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) akan mengadakan Kegiatan Donor Darah yang akan diselenggarakan sbb :

    Hari / Tanggal : Sabtu, 19 Maret 2022

    Tempat : Basement Gereja Katedral

    Waktu : Jam 08.00 pagi s/d Jam 11.00 siang

    Persyaratan Donor Darah:

    1. Dalam keadaan sehat walafiat dan tidak dalam keadaan sakit apapun juga
    2. Jika pernah terpapar covid-19, minimal 1 minggu setelah sembuh  (sembuh dari isoman)

    Demikian yang dapat kami sampaikan. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.

    Yuk “Ngulik”- Bareng Kapusin Pontianak

    Buruan Daftarkan diri Anda- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak- Kapusin Pontianak

    MajalahDUTA.Com,- Ngumpul lebih asik bersama saudara Kapusin Pontianak.

    Buruan daftarkan diri anda, di sana banyak hal-hal baru dan pastinya pengetahuan unik baru yang didapatkan dari cara hidup Santo Fransiskus Assisi.

    Yuk… Buruan daftarkan diri anda pada link berikut ini:

    Apasih Kapusin itu? 

    Sedikit penjelasan berdasarkan Web Resmi dari ORDO SAUDARA DINA KAPUSIN DI INDONESIA, bermula dari Santo Fransiskus yang mendirikan tiga ordo.

    Ordo pertama untuk laki-laki, ordo kedua, Klaris dan ordo ketiga untuk awam (regular dan sekular).

    Kemudian ordo pertama dibagi atas tiga ordo; Ordo Fratrum Minorum (OFM), Ordo Fratrum Minorum Konventual (OFM Conv) dan Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFM Cap), yang biasa disebut dengan ordo Kapusin.

    Ketiganya menghidupi Anggaran Dasar yang sama yang disusun oleh Fransiskus Assisi yang disahkan oleh Paus Honorius III.

    Ordo Kapusin, dimulai oleh Matheus dari Bascio. Ordo kapusin resmi berdiri tgl 3 Juli 1528 dengan Bulla Religionis Zelus. Anggota ordo Kapusin terdiri dari klerus (imam) dan laicus yang biasa disebut bruder.

    Panggilan nama Kapusin awalnya berawal dari sorakan anak-anak yang melihat para saudara yang memakai jubah yang punya kap panjang dan runcing. Mereka meneriakkan : Scapucini!, Scapucini! (pakai kap).

    Dari teriakan inilah lahir nama Kapusin. Ordo Kapusin ini sudah tersebar luas ke seantero dunia.

    Kapusin tiba di Indonesia

    Missionaris Kapusin tiba di Indonesia pertama kalinya pada tahun 1905 di Singkawang (Kalimantan Barat).

    Saudara yang pertama tiba di sana adalah: Pastor Pacificus Bos dari Uden yang kemudian jadi Uskup pertama Pontianak, kemudian ada Pastor Eugenius dari Reijen, Pastor Beatus dari Dennenburg, Pastor Camillus dari Pannendern, Bruder Wilhelmus dari Oosterhout dan Theodoricus dari Uden.

    Sekilas catatan tentang Mgr Jan Pacificus Bos yang diterjemahkan dan ditulis ulang dari tulisan Nobessito

    Mgr. Jan Pacificus Bos, O.F.M. Cap, pelopor dakwah Katolik di Kalimantan. Lahir di Uden, Belanda, 9 September 1864 dan meninggal di Pontianak, 21 Maret 1937.

    Mgr Jan Pacificus Bos adalah misionaris Katolik pertama di Kalimantan atau Kalimantan

    Jan merintis Keuskupan Agung Pontianak, yang sekarang menjadi salah satu keuskupan terbesar di Asia Tenggara.

    Pada 21 Maret 1937, genap 80 tahun yang lalu, Jan Pacificus Bos meninggal di Pontianak. Beliau adalah Bapak Misi Kalimantan, wakil Paus di tanah Kalimantan.

    Wajah lelaki tua berjenggot saat menerima sumbangan dari masyarakat Dayak. Jumlahnya adalah 5.000 gulden, terdiri dari 5 buah seribu. Jan, begitu nama depannya, tersentuh melihat ketulusan orang Dayak yang rela menyisihkan uang untuk membantu misi Katolik di Kalimantan. Secara spontan dan berkilau, dia berkata:

    “Ini lebih seperti saya daripada penampilan Masa Kecil Yesus!” Kata Jan seperti dikutip dari buku Indonesianization, From the Catholic Church in Indonesia to the Catholic Church of Indonesia karya Huub J.W.M. Boelaars (2005:389).

    Pemimpin Kapusin dari Belanda

    Jan Pacificus Bos adalah orang Belanda sejati. Lahir di sebuah kota bernama Uden pada tanggal 9 September 1864. Meskipun berasal dari Eropa, Jan mendedikasikan separuh hidupnya ke tanah kuno yang disebut Borneo, salah satu pulau terbesar di Nusantara, yang sebagian besar didominasi oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tanggal dua puluhnya. -perjalanan abad.

    Sejak muda, Jan sudah memilih jalan Tuhan dengan mengabdikan dirinya di gereja. Pada usia 23 tahun, ia terus diterima sebagai anggota Ordo Kapusin, salah satu Ordo Fransiskan (pengikut Fransiskan Assisi) dalam otoritas Katolik. Ordo tersebut secara resmi bernama Ordo Saudara Dina Kapusin atau disingkat Ordo Kapusin.

    Dalam Encyclopedia of the Church yang disusun oleh Adolf Heuken (1993: 17) disebutkan bahwa Ordo Kapusin terpilih Jan Pacificus Bos mulai berkembang di Eropa sejak tahun 1525 dan dipimpin oleh sejumlah pengikut Fransiskus dari Italia tenggara, dan sempat memicu polemik. dalam penampilan awal.

    Sesuai dengan namanya, kapusin bukanlah ordo mayoritas dalam keluarga Katolik, bahkan pengikutnya hanya berjumlah sekitar 11.000 orang pada tahun 2005. Namun, orang-orangnya sangat militan dan total. Mereka menghindari segala bentuk kekayaan dan kehormatan dan memilih melayani anak-anak kecil yang bermasalah (R. Kurris, Pelangi dalam Bukit Barisan, 2006: 202).

    Dan itulah yang dilakukan Jan Pacificus Bos. Melayani dan mengabdikan dirinya untuk rakyat kecil, bahkan sampai ke pedalaman Kalimantan hingga akhir hayatnya.

    Wakil Paus di Kalimantan

    “Pergilah, beritakanlah pertobatan kepada semua orang,” adalah pesan Paus Innosensius III kepada Fransiskus pada tahun 1209.

    Jan Pacificus Boss berkesempatan mengikuti jejak Santo Fransiskus hampir 700 abad kemudian. Pada 21 September 1889, Jan ditahbiskan menjadi imam dan sejak 1903 memimpin Provinsi Kapusin Belanda (Karel Steenbrin, Catholic in Indonesia, 1808-1942: A Documented History, 2014: 556).

    Dua tahun kemudian, pada 10 April 1905, ia diangkat sebagai Prefek Apostolik Borneo (Borneo Olandese) di Hindia Belanda (Indonesia). Jan yang masih berada di Belanda pun siap meninggalkan kampung halamannya untuk mewartakan konversi di tempat yang tentunya sulit dibayangkan, Kalimantan.

    Sebagai catatan, prefek apostolik adalah posisi untuk memimpin prefektur apostolik. Prefektur apostolik adalah wilayah karena keadaan khusus yang belum ditetapkan ke dalam keuskupan. Seorang prefek apostolik memimpin prefektur apostolik yang ia emban atas nama Paus di Vatikan. Dengan demikian, Jan Pacificus Bos adalah wakil kepausan di Kalimantan.

    Prefektur Apostolik Borneo sendiri dibentuk pada 11 Februari 1905 dan Jan adalah pemimpin pertamanya. Jan Pacificus Bos resmi menjalankan jabatannya pada tanggal 30 November 1905 sejak menginjakkan kaki di Singkawang dengan didampingi oleh 3 orang imam dan dua orang frater yang datang bersamanya dari Belanda.

    Delegasi Vatikan di Kalimantan bagikan infografis dan menjadi Bapak Misi di Kalimantan

    Sulit dibayangkan bagaimana perjuangan Jan Pacificus Bos dalam menyiarkan dakwah di Kalimantan saat itu.

    Ia adalah misionaris Katolik pertama di Kalimantan dan tentunya harus menghadapi perlawanan yang berpotensi sangat kuat, baik dalam kontak dengan Melayu-Muslim, maupun dengan orang Dayak yang sebagian besar masih menganut ajaran nenek moyang mereka, dan tentu saja kondisi liar kembali ditantang.

    Usaha Jan di Kalimantan tidak sia-sia. Kurang dari 3 tahun setelah ia resmi menjabat sebagai Prefek Apostolik Kalimantan, didirikanlah gereja yang mungkin merupakan yang pertama di Kalimantan.

    Dipelopori pada 8 Agustus 1908, gereja ini mulai digunakan sejak 9 Desember 1909, dan disebut Gereja Saint Joseph.

    Belakangan, gereja tersebut berkembang menjadi Katedral Saint Yoseph.

    Tahun 1912 Misionaris Kapusin mulai berkarya di Pulau Sumatera.

    Kapusin Propinsi Indonesia semakin hari semakin berkembang dengan jumlah anggota yang semakin banyak.

    Pada tanggal 2 Februari 1994 kapusin Indonesia dimekarkan menjadi tiga propinsi, yakni Propinsi Kapusin Kalimantan, Propinsi Kapusin Sibolga dan Propinsi Kapusin Medan.

     

    Aksi Puasa Pembangunan Tahun 2022 Keuskupan Agung Pontianak

    Poster APP 2022 KAP - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Shalom, sahabat KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak yang terkasih dalam Tuhan.

    Masa Prapaskah bagi kita umat Katolik juga ditandai dengan adanya Aksi Puasa Pembangunan atau yang disingkat dengan APP.

    Tahun ini, tema APP 2022 KAP adalah “ Yesus Menyembuhkan dan Memulihkan Kehidupan”

    Mari bersama-sama dengan gereja lokal di Keuskupan Agung Pontianak, kita wujudkan APP 2022 dalam aksi-aksi yang nyata dan bermanfaat bagi kehidupan.

    TERBARU

    TERPOPULER