Saturday, May 16, 2026
More

    Uskup Ketapang, Esensi Budaya Dayak adalah Kebersamaan dan Hati untuk Berbagi

    MajalahDUTA.Com | Pekan Gawai Dayak (PGD) selama ini kerap dikenal sebagai perayaan pesta panen yang penuh kemeriahan. Namun, di balik suasana sukacita itu, tersimpan nilai-nilai budaya yang jauh lebih mendalam tentang kebersamaan, rasa syukur, dan semangat berbagi.

    Pesan itulah yang disampaikan Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, dalam homilinya pada Misa Syukur pembukaan Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026, Jumat (15/5/2026).

    Dalam refleksinya, Uskup Pius mengajak umat melihat kembali makna sejati budaya Dayak melalui kisah penciptaan manusia. Ia mengutip bagian Kitab Suci yang menyatakan bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri.

    Menurutnya, penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam memiliki makna bahwa laki-laki dan perempuan dipanggil untuk hidup sejajar, berdampingan, dan saling menopang dalam kehidupan bersama.

    “Itulah citra Allah yang sesungguhnya, yakni hidup bersama, saling membantu, dan menghidupi semangat gotong royong,” ungkapnya.

    Nilai kebersamaan tersebut, menurut uskup, menjadi salah satu kecerdasan hidup masyarakat Dayak yang diwariskan secara turun-temurun. Ia menilai budaya Dayak mengajarkan bahwa kebahagiaan dan sukacita akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan kepada sesama.

    “Membagikan makanan atau hasil panen adalah bentuk rasa syukur dan sukacita,” katanya.

    Ia juga menegaskan bahwa masyarakat yang berbudaya adalah masyarakat yang memiliki hati untuk berbagi. Karena itu, semangat berbagi perlu terus dijaga sebagai bagian penting dari identitas budaya Dayak.

    Selain menyinggung nilai kebersamaan, Uskup Pius juga mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda di era modern, untuk menerapkan pola hidup sehat dan bijaksana. Ia mengajak umat menjalani gaya hidup dengan prinsip “makan sehat, minum cerdas”.

    Dalam kesempatan itu, ia turut menyoroti fenomena “kemabukan” yang menurutnya tidak hanya berkaitan dengan minuman keras, tetapi juga dapat muncul dalam bentuk kerakusan terhadap kekayaan dan kekuasaan.

    Uskup kemudian mengenang pengalamannya ketika pertama kali datang ke Ketapang sekitar 14 tahun lalu. Ia mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Dayak yang menerimanya sebagai bagian dari keluarga melalui prosesi adat pemberian gelang.

    Menurutnya, budaya Dayak merupakan budaya luhur yang menjunjung perdamaian dan penghormatan terhadap sesama manusia.

    Ia juga menyinggung tradisi minum tuak yang sering disalahpahami sebagian orang. Dengan nada bercanda, ia mengungkapkan filosofi yang ia temukan di balik tradisi tersebut.

    “Setiap kali diberi minum tuak, saya menyadari bahwa tuak bisa berarti Tuhan adalah Kasih,” ujarnya yang langsung disambut senyum dan tawa umat.

    Bagi Uskup Pius, tradisi minum tuak dalam budaya Dayak bukan semata soal minuman, melainkan simbol penghormatan terhadap kehidupan, persaudaraan, dan penerimaan terhadap sesama.*SJ – Sekberkesda.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles