Monday, May 18, 2026
More
    Home Blog Page 139

    ‘Atas nama Tuhan, hentikan pembantaian ini!’- Doa Paus perang di Ukraina

    A Ukrainian woman in front of the Volnovakha hospital destroyed from the bombardments-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com,- Mengingat para korban di Ukraina, Paus Fransiskus membuat seruan tulus lainnya untuk gencatan senjata di negara yang dilanda perang itu. Berita yang dirilis oleh berita Vatikan pada 13 Maret 2022, 12:24 waktu Vatikan dituliskan dalam berita tersebut diakhir Minggu Angelus, Paus Fransiskus mengingat bahwa umat beriman baru saja berdoa kepada Perawan Maria, karena kota yang menyandang namanya “Mariupol” telah “menjadi kota para martir dalam perang mengerikan yang melanda Ukraina.”

    Kengerian atas kebiadaban pembunuhan anak-anak dan orang tak berdosa dari warga sipil yang tidak bersenjata diungkapkan Paus Fransiskus. Perbuatan yang menyerukan agresi orang-orang bersenjata tidak dapat diterima sebelum kota menjadi kuburan.

    Sebagaimana bahwa Agresi Militer merupakan tindakan perusakan atau penyerangan suatu wilayah atau tempat yang biasanya bertujuan untuk merebut kedaulatan atau Kesejahteraan sebuah Negara.

    “Dengan rasa sakit di hati saya, saya menggabungkan suara saya dengan suara rakyat biasa, yang memohon diakhirinya perang,” kata Paus.

    “Atas nama Tuhan, biarkan tangisan mereka yang menderita didengar dan biarkan pengeboman dan serangan berhenti! Biarkan ada fokus yang nyata dan tegas pada negosiasi, dan biarkan koridor kemanusiaan menjadi efektif dan aman. Atas nama Tuhan, saya meminta Anda: hentikan pembantaian ini!”

    Kristus Hadir dalam mereka

    Paus meminta banyak orang yang telah melarikan diri dari Ukraina untuk disambut, dengan mengatakan “Kristus hadir” di dalam mereka.

    Dia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya atas jaringan solidaritas yang besar yang telah muncul sebagai tanggapan atas jutaan orang yang melarikan diri dari perang di Ukraina.

    Paus meminta agar semua keuskupan dan komunitas agama meningkatkan upaya mereka dalam berdoa untuk perdamaian.

    “Tuhan hanyalah Tuhan kedamaian. Dia bukan dewa perang, dan mereka yang mendukung kekerasan mencemarkan nama-Nya.”

    Sebagai penutup, Paus Fransiskus mengundang semua orang yang hadir di Lapangan Santo Petrus untuk berdoa dalam keheningan bagi mereka yang menderita dan agar Tuhan mengubah hati menjadi tekad yang teguh untuk perdamaian.

    Metaverse: Semangat mendengarkan dengan telinga hati

    Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia - KOMSOS KWI

    MajalahDUTA.Com, – Sahabat KOMSOS yang terkasih. Dalam semangat mendengarkan dengan telinga hati.

    Mari kita diskusikan bersama perkembangan yang sedang terjadi.

    Dalam metaverse. Apa sih metaverse? Metaverse secara singkat bisa dijelaskan sebagai komunitas virtual yang saling terhubung dan tak memiliki ujung.

    Dalam sesi ini nanti akan ditelaah lebih dalam dan bagaimana generasi saat menyikapinya.

    Mari bergabung dalam diskusi bersama pada Jumat, 18 Maret 2022 nanti.

    Adapun narasumber yang hadir nanti diantaranya ada Prof Richardus Eko Indrajit sebagai narasumber pertama.

    Kemudian untuk narasumber kedua ada Rm Mutiara Andalas SJ dan selanjutnya sebagai narasumber yang ketiga diisi oleh Frans Budi Santika.

    Jangan lewatkan, KOMSOS Listening series bersama KOMSOS KWI.

    Mari dan ajaklah komsos-komsos paroki dan anak-anak KOMSOS kita.

    Barangkali ada yang berminat dan mau ikut.

    Kardinal Cantalamessa: Ekaristi sama ekstensifnya dengan sejarah keselamatan

    Cardinal Raniero Cantalamessa (ANSA)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com- Dalam renungannya untuk Prapaskah tahun 2022 ini, pengkhotbah untuk Kepausan berfokus pada Ekaristi dalam sejarah keselamatan, menyoroti pentingnya karya Roh Kudus dalam Liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi.

    Dalam homilinya Kardinal Cantalamessa mengungkapkan selain banyak kejahatan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, setidaknya ada satu efek positif dari sudut pandang iman.

    “ Hal itu membuat kita, sadar akan kebutuhan kita akan Ekaristi dan kekosongan yang diciptakan oleh kekurangannya,” kata Kardinal.

    Dalam artikel yang ditulis oleh Pastor Benedict Mayaki SJ yang diterbitkan pada 11 Maret 2022, 12:00 waktu Vatikan News, Pastor Benerdict Mayaki SJ mengulas pikiran dari Kardinal Cantalamessa saat Kardinal homili pada awal masa prapaskah.

    Keajaiban Ekaristi

    Dalam Khotbah Prapaskah pertamanya untuk tahun 2022 ini, Kardinal Raniero Cantalamessa, yang merupakan Pengkhotbah Rumah Tangga Kepausan, mengundang orang-orang Kristen untuk ‘menemukan kembali keajaiban Ekaristi’.

    Baginya, karena setiap kemajuan kecil dalam pemahaman Ekaristi dapat diterjemahkan ke dalam kemajuan dalam kehidupan rohani orang tersebut hingga komunitas gerejawi.

    Kardinal Cantalamessa mengatakan, berbicara tentang Ekaristi di masa pandemi covid19, dan sekarang di tengah kengerian perang, tidak berarti mengalihkan pandangan umat Allah dari realitas dramatis yang manusia alami.

    Justru dalam peristiwa ini, Kardinal mau mengingatkan untuk mampu melihat bahwa peristiwa itu lebih membantu manusia dalam melihat dari “yang lebih tinggi dan lebih baik”.
    “Sudut pandang yang kurang kontingen” karena Ekaristi “menawarkan kita kunci yang benar untuk interpretasi sejarah,” kata Kardinal (berdasarkan berita yang dirilis oleh Vatikan News pada 11 Maret 2022, Pukul 12.00 waktu Vatikan).

    Ekaristi dalam sejarah keselamatan

    Kardinal juga menjelaskan bahwa ekaristi bersamaan dengan sejarah keselamatan dan hadir dalam Perjanjian Lama sebagai figur, dalam Perjanjian Baru sebagai sebuah peristiwa, dan di jaman sekarang yaitu jaman Gereja adalah sebagai Sakramen.

    Dalam Homilinya, Kardinal sedikit menguraikan dari Perjanjian Lama yang didalamnya ada contoh Ekaristi sebagai “figur” termasuk manna (include the manna), pengorbanan Melkisedek dan pengorbanan Ishak.

    Selanjutnya dengan kedatangan Kristus dan misteri kematian serta kebangkitan-Nya, Ekaristi menjadi “peristiwa”, yang terjadi dalam sejarah – peristiwa unik yang terjadi sekali dan tidak dapat diulang.

    Kemudian pada masa Gereja, Ekaristi hadir dalam tanda roti dan anggur, yang ditetapkan oleh Kristus.

    Memperbarui dan merayakan

    Selaras dengan penjelasan itu, Kardinal juga menjelaskan dalam praktiknya ada perbedaan antara acara dan sakramen.

    Hal itu terletak pada perbedaan antara sejarah dan liturgi. Untuk menelusuri hubungan antara kurban salib dan Misa, Santo Agustinus membedakan antara dua kata kerja: “memperbarui” dan “merayakan.”

    “Dalam terang ini, Misa memperbaharui peristiwa salib dengan merayakannya (bukan mengulanginya) dan merayakannya dengan memperbaruinya (bukan hanya mengingatnya),” terang Kardinal Cantalamessa.

    Selanjutnya dalam sejarah hanya ada satu Ekaristi yaitu Ekaristi yang dilaksanakan oleh Yesus dengan hidup dan mati-Nya.

    Di sisi lain, menurut sejarah, berkat sakramen, ada “sebanyak Ekaristi yang telah dirayakan dan akan dirayakan sampai akhir dunia.

    Kardinal menggarisbawahi yakni melalui sakramen Ekaristi, manusia secara misterius menjadi sejaman dengan peristiwa itu karena “hadir bagi manusia dan umat pada peristiwa itu.

    Liturgi Sabda, Doa Syukur Agung

    Berfokus pada Ekaristi sebagai sakramen, Kardinal Cantalamessa mengeksplorasi perkembangan Misa dalam tiga bagian: Liturgi Sabda, liturgi Ekaristi (Kanon atau Anaphora), dan Komuni, menambahkan pada bagian akhir, refleksi tentang ibadat Ekaristi di luar Massa.

    Kardinal menegaskan bahwa pada hari-hari awal Gereja, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi tidak dirayakan di tempat yang sama dan pada saat yang sama ketika para murid berpartisipasi dalam kebaktian di Bait Suci tempat mereka membaca Alkitab.
    “Membacakan mazmur dan doa, lalu pulang setelah itu untuk berkumpul untuk memecahkan roti. Praktek ini ditinggalkan menyusul permusuhan dari komunitas Yahudi dan para murid tidak lagi pergi ke Bait Suci untuk membaca dan mendengarkan Kitab Suci melainkan memperkenalkannya ke tempat-tempat ibadah Kristen mereka sendiri, menjadikannya Liturgi Sabda yang mengarah ke Ekaristi, Doa,” imbuh Kardinal Cantalamessa.

    Kardinal Cantalamessa juga menerangkan tentang membaca Kitab Suci dalam Liturgi yang dapat membantu umat untuk mengenal lebih baik Dia yang menghadirkan diri-Nya dalam pemecahan roti.

    Lalu setiap kali menyingkapkan aspek misteri yang akan umat terima maka itulah yang menonjol dalam pengalaman murid-murid di Emaus ketika mereka mengenali Yesus dalam pemecahan roti.

    Bukan hanya menjadi pendengar

    Kata-kata Alkitab yang diucapkan dan kisah-kisahnya yang diceritakan kembali dalam Misa, dihidupkan kembali sedemikian rupa sehingga apa yang diingat menjadi nyata dan hadir “saat ini”, “hari ini”; dan manusia bukan hanya pendengar Sabda tetapi dipanggil untuk menempatkan diri di tempat orang-orang dalam cerita itu.

    Setidaknya itulah gambaran yang disampaikan oleh Kardinal Cantalamessa melanjutkan homilinya.

    Setalah itu, Kardinal Cantalamessa juga mengatakan saat diwartakan selama liturgi, Kitab Suci bertindak dengan cara yang melampaui penjelasan dan mencerminkan bagaimana Sakramen bertindak.

    Menurutnya teks-teks yang diilhami ilahi memiliki kekuatan penyembuhan yang telah menyebabkan beberapa peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Gereja, sebagai akibat langsung dari mendengarkan bacaan selama Misa.

    Misalnya, Gerakan Fransiskan dimulai di Assisi ketika seorang pemuda yang baru bertobat dan temannya pergi ke gereja dan Injil hari itu adalah Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jangan membawa apa pun untuk perjalanan, jangan membawa tongkat, atau karung, atau makanan, atau uang, dan janganlah seorang pun mengambil jubah kedua” (Luk 9:3).

    Persiapan homili bagi imam

    Kardinal Cantalamessa menyoroti Liturgi Sabda sebagai “sumber daya terbaik yang kita miliki untuk menjadikan Misa sebagai perayaan yang baru dan menarik setiap kali kita merayakannya.”

    Dalam hal ini, lebih banyak waktu dan doa perlu dicurahkan dalam persiapan homili.

    Dia menggarisbawahi bahwa mengandalkan pengetahuan dan preferensi pribadi seseorang untuk mempersiapkan homili dan kemudian berdoa kepada Tuhan untuk menambahkan Roh-Nya ke dalam pesan adalah metode yang baik tetapi “tidak bersifat kenabian.”

    Sebaliknya untuk menjadi kenabian, langkah pertama adalah meminta “Tuhan untuk firman yang ingin Dia katakan,” kemudian konsultasi buku, para Bapa Gereja, guru, dan penyair.

    Dengan cara itu, menurut Kardinal Cantalamessa bukan lagi “Firman Tuhan untuk melayani pembelajaran [Anda], tetapi pembelajaran [Anda] untuk melayani Firman Tuhan.”

    Pekerjaan Roh Kudus

    Kardinal Cantalamessa mengatakan bahwa perhatian pada Firman Tuhan saja tidak cukup, “kuasa dari atas” harus turun padaNya.

    Dia mengatakan karena tindakan Roh Kudus tidak terbatas hanya pada saat konsekrasi saja selama Ekaristi, demikian juga kehadiran Roh sangat diperlukan untuk Liturgi Sabda dan persekutuan.

    Selanjutnya Kardinal Cantalamessa menjelaskan bahwa Kitab Suci “harus dibaca dan ditafsirkan dengan bantuan Roh yang sama yang melaluinya itu ditulis” (Dei Verbum, 12).

    Dalam Liturgi Sabda, tindakan Roh Kudus “dilaksanakan melalui urapan rohani yang ada dalam pembicara dan pendengar”.

    “Urapan diberikan oleh kehadiran Roh; dan berkat baptisan dan pengukuhan – dan bagi sebagian orang, penahbisan imam dan uskup – kita telah memiliki urapan yang terpatri dalam jiwa kita dalam karakter yang tak terhapuskan (2 Kor 1, 21-22),” terang Kardinal.

    Melalui iman

    Kardinal Cantalamessa juga melanjutkan kotbahnya dengan menerangkan tentang urapan yang tidak bergantung pada imam untuk menciptakannya, tetapi sebenarnya juga bergantung pada imam untuk menghilangkan rintangan yang mencegah pancaranNya.

    Seperti wanita dalam Injil (Mrk 14:3) yang memecahkan toples pualam dan wewangian memenuhi rumah.

    “Kita harus memecahkan vas pualam: vas itu adalah “kemanusiaan kita, diri kita, kadang-kadang intelektualisme kita yang gersang” melalui iman, doa, dan permohonan yang rendah hati,” katanya.

    Dalam terang ini Kardinal Cantalamessa menegaskan agar imam harus meminta urapan sebelum memulai khotbah atau tindakan penting dalam pelayanan Kerajaan. Urapan ini tidak hanya diperlukan bagi pengkhotbah untuk mewartakan Sabda Tuhan secara efektif, tetapi juga bagi pendengar untuk menyambutnya.

    Dia juga mengatakan hal itu bukan berarti pelatihan manusia tidak berguna; itu, bagaimanapun, tidak cukup.

    “Guru batinlah yang benar-benar mengajar, Kristus dan ilham-Nya yang mengajar. Ketika ilham dan urapan-Nya kurang, kata-kata eksternal hanya membuat kebisingan yang tidak berguna,” terang Kardinal Cantalamessa.

    Ajaran para wanita Pujangga Gereja menawarkan terang dan harapan bagi dunia

    St Theresa of Avila, the first woman to be declared a Doctor of the Church - Vatikan News- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com- Dalam sebuah pesan kepada para peserta konferensi internasional tentang Doktor Wanita Gereja dan Rekan Pelindung Eropa, Paus Fransiskus mengatakan bahwa ajaran para santa ini sangat tepat waktu karena kedalaman dan relevansinya yang awet dan bertahan lama.

    Paus Fransiskus mencontohkan seperti Santa Teresa dari Avila, Santa Catherine dari Siena, Santa Thérèse dari Lisieux dan Santa Hildegard dari Bingen.

    Kemudian ada juga Santa Bridget dari Swedia dan Santa Theresa Benedicta dari Salib.
    “Menyoroti beberapa elemen yang membentuk feminitas itu begitu penting bagi Gereja dan dunia,” kata Paus Fransiskus pada hari Selasa (8 Maret 2022).

    Cahaya dan harapan untuk dunia

    Dalam sebuah pesan untuk konferensi akademis internasional tentang Doktor Wanita Gereja dan Co-Pelindung Eropa, Paus mengungkapkan bahwa ajaran-ajaran utama mereka (Santa-santa)… sangat tepat waktu karena kedalaman dan relevansinya yang bertahan lama.
    Termasuk di dalam keadaan sekarang, ajaran itu dapat menawarkan cahaya dan harapan untuk dunia kita yang terfragmentasi dan terpecah belah.

    Paus Fransiskus mencatat bahwa semua wanita ini memberikan kesaksian hidup kudus.

    Belajar untuk patuh kepada Roh Kudus melalui kasih karunia baptisan dan mendapatkan kekuatan dari kasih Allah yang memenuhi hati mereka.

    Feminitas yang diperlukan

    Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa Dunia saat ini mengakui bahwa martabat dan nilai intrinsik yang dianugerahkan Pencipta kepada manusia dipulihkan oleh ajaran dari para wanita kudus itu.

    “Dalam Doctors of the Church and Patrons of Europe, kita dapat melihat elemen yang membentuk feminitas yang begitu penting bagi Gereja dan dunia, termasuk “keberanian untuk menghadapi kesulitan; kapasitas untuk menjadi praktis; keinginan alami untuk mempromosikan apa yang paling indah dan manusiawi menurut rencana Tuhan; dan visi kenabian yang berpandangan jauh ke depan tentang dunia dan sejarah,” terang Paus.

    Paus Fransiskus juga menyoroti cinta mereka yang besar kepada Gereja dan Paus, sambil mengakui panggilan mereka untuk membantu memperbaiki dosa dan penderitaan di zaman di mana mereka hidup.

    Kekudusan feminin

    Paus mengakhiri pesannya dengan harapan bahwa konferensi dapat membuktikan insentif untuk mempromosikan “’kekudusan feminin’ yang membuat Gereja dan dunia begitu bermanfaat.”

    Diolah dari artikel Christopher Wells- Pada 08 Maret 2022, 19:04 waktu Vatikan.

    Suara damai dan harapan Paus, dalam puing-puing Mosul hingga puing-puing di Ukraina

    Pope Francis in Mosul, Iraq, on 7 March 2021- Diangkat kembali dari artikel Andrea Tornielli Vatikan News- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    MajalahDUTA.Com- Paus Fransiskus memulai tahun kesepuluh kepausannya. Peringatan itu secara dramatis ditandai dengan kengerian perang di jantung Eropa.

    Sangat mengejutkan untuk mendengarkan kembali beberapa kata yang diucapkan oleh Paus setahun yang lalu, selama perjalanan apostolik yang paling penting dan berani dari kepausannya: perjalanan ke Irak.

    Peristiwa ini juga menunjukkan kunjungan yang sangat diinginkannya, terlepas dari risiko dan hambatan yang berasal dari masalah keamanan yang sangat besar dari perjalanan seperti itu, terutama bagi mereka yang berpartisipasi dalam perayaan dan pertemuan.

    Melawan segala rintangan, pada bulan Maret 2021, Paus Fransiskus melakukan ziarah itu, salah satu impian St. Yohanes Paulus II yang tidak pernah terwujud, untuk menunjukkan kedekatannya dengan semua korban fundamentalisme, untuk memberikan dorongan kepada jalan sulit rekonstruksi negara, untuk mengulurkan tangan kepada banyak Muslim damai yang ingin hidup damai dengan orang Kristen dan dengan anggota agama lain.

    Puncak perjalanan kunjungan

    Puncak dari perjalanan itu adalah kunjungan, oleh Uskup Roma, ke kota Mosul yang penuh puing-puing.

    Pada kesempatan itu, Paus Fransiskus berkata, “Hari ini kita semua mengangkat suara kita dalam doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa untuk semua korban perang dan konflik bersenjata. Di sini, di Mosul, konsekuensi tragis perang dan permusuhan terlalu nyata. Betapa kejamnya itu. adalah bahwa negara ini, tempat lahirnya peradaban, seharusnya terkena pukulan yang begitu biadab, dengan hancurnya tempat-tempat ibadah kuno dan ribuan orang – Muslim, Kristen, Yazidi, yang dimusnahkan dengan kejam oleh terorisme, dan lainnya – dipindahkan secara paksa atau dibunuh!”

    Satu tahun kemudian, sekali lagi, konsekuensi tragis dari perang kotor di Ukraina, yang secara munafik didefinisikan sebagai “operasi militer khusus,” berada di depan mata dunia, dengan beban rasa sakit, penderitaan, tubuh orang-orang yang tidak bersalah terkoyak, anak-anak terbunuh, keluarga terpecah, jutaan pengungsi terpaksa meninggalkan segalanya untuk menghindari bom, kota-kota berubah menjadi medan perang, rumah-rumah dihancurkan dan dibakar.

    Paus juga menyampaikan bahwa masih ada hati yang terluka, mereka yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sembuh.

    Kali ini perang sudah dekat. Itu tidak jauh seperti yang ada di Irak, di mana Paus Wojtyla – tanpa diindahkan – telah secara nubuat memohon, dengan sia-sia, bahwa itu tidak dilakukan. Sebuah perang yang mengubah tanah Abraham menjadi tangki septik terorisme.

    Perang adalah “petualangan tanpa pengembalian”.

    Paus menyampaikan, kali ini kebencian dan kekerasan tidak bisa diselubungi teori tentang “benturan peradaban”, tidak ada hubungannya dengan motivasi agama fiktif.

    Kali ini, di dua front ada pria dan wanita yang memiliki iman Kristen yang sama dan baptisan yang sama. Menghadapi malapetaka yang disebabkan oleh agresi tentara Rusia di Ukraina, dan eskalasi perang yang berisiko menyeret dunia ke dalam konflik nuklir, tidak mudah menemukan tanda-tanda harapan.

    Keyakinannya bahwa persaudaraan lebih tahan lama daripada pembunuhan saudara

    Pada kesempatan itu, Paus Fransiskus juga menegaskan seperti setahun yang lalu di Mosul keyakinannya bahwa persaudaraan lebih tahan lama daripada pembunuhan saudara.

    Paus Fransiskus menegaskan bahwa harapan lebih kuat daripada kebencian, bahwa perdamaian lebih kuat daripada perang, “bahkan hari ini, terlepas dari semua, adalah mungkin untuk berharap,” kata Paus.

    Memohon kepada Tuhan untuk karunia perdamaian, tanpa pernah berhenti mencari dan mengejarnya, tanpa meninggalkan kebutuhan bisnis yang terlewat untuk mendapatkan gencatan senjata dan awal dari negosiasi yang sebenarnya.

    Paus Fransiskus mengingatkan jika manusia menginginkan perdamaian, maka manusia harus mempersiapkan perdamaian, bukan perang. Diperlukan keberanian dan kreativitas untuk menempuh jalan baru untuk membangun koeksistensi antar bangsa yang tidak berdasarkan balance of force dan deterrence.

    “Hari ini adalah mungkin untuk berharap dengan melihat gelombang besar solidaritas yang telah memancar dalam hitungan hari dan kemurahan hati negara-negara seperti Polandia, yang telah membuka pintu mereka bagi jutaan pengungsi,” kata Paus (di Mosul, Iraq, pada 7 Maret 2021).

    Satu tahun yang lalu, pada pertemuan antaragama di Dataran Ur, Paus Fransiskus berkata: “Kalau begitu, dari mana perjalanan perdamaian dapat dimulai? Dari keputusan untuk tidak memiliki musuh. Siapa pun yang berani menatap bintang, siapa pun yang percaya pada Tuhan, tidak memiliki musuh untuk dilawan.

    Dia hanya memiliki satu musuh untuk dihadapi, musuh yang berdiri di pintu hati dan mengetuk untuk masuk.

    Musuh itu adalah kebencian. Sementara beberapa orang mencoba memiliki musuh lebih dari sekadar bertemanlah, sementara banyak yang mencari keuntungan mereka sendiri dengan mengorbankan orang lain, mereka yang melihat bintang-bintang janji, mereka yang mengikuti jalan Tuhan, tidak dapat melawan seseorang, tetapi untuk semua orang.

    Jalan menuju perdamaian

    Paus telah mengajarkan kepada umatnya bahwa jalan menuju perdamaian dimulai dengan perlucutan senjata hati.
    mereka tidak dapat membenarkan segala bentuk pemaksaan, penindasan dan penyalahgunaan kekuasaan; mereka tidak dapat mengambil sikap berperang.” Dalam sembilan tahun masa kepausannya ini.

    Menyebut diri seorang pengikut Kristus berarti menjadi milik manusia yang diciptakan Tuhan, yang mengizinkan dirinya untuk dibunuh di kayu salib demi cinta.

    “Memilih untuk menjadi korban yang tak berdaya, selama dua ribu tahun dia telah meminta kita untuk berada di pihak yang tertindas, dari mereka yang diserang, yang dikalahkan, yang terakhir, dari yang dibuang Dia meminta kita untuk menabur perdamaian, tidak pernah kebencian, perang atau kekerasan,” pesan Paus Fransiskus.

    Catatan: Diangkat kembali dari artikel Andrea Tornielli Vatikan News.

    Misa peringatan kanonisasi: Paus mengajak untuk ‘Doa mengubah dunia’

    Celebration at the Jesuit Church of the Most Holy Name of Jesus, "the Gesù" in Rome- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com- Paus Fransiskus menghadiri Misa di Gereja Yesuit Nama Tersuci Yesus, yang dikenal sebagai “Ges,” di Roma, pada peringatan 400 tahun kanonisasi St Ignatius dari Loyola, St Francis Xavier, St Teresa of Jesus, St Isidore Petani, dan St Philip Neri.

    Artikel ini ditulis oleh Christopher Wells dalam berita Vatikan News pada 12 Maret 2022, 18:47 waktu Vatikan.

    Dalam tulisan itu, Paus Fransiskus pada hari Sabtu melakukan perjalanan ke jantung kota Roma pada hari Sabtu, ke Ges, gereja induk ordo Jesuit di Roma, di mana ia menghadiri Misa dan berkhotbah pada peringatan 400 tahun kanonisasi pendiri Serikat.

    St Ignatius dari Loyola dikanonisasi pada 12 Maret 1622, bersama dengan sesama Yesuit Francis Xavier, Teresa dari Avila, St Isidore si Petani, dan St Philip Neri, yang dikenal sebagai Rasul Kedua Roma.

    Bapa Suci memberikan homili selama Misa untuk Minggu Kedua Prapaskah, merenungkan kisah Injil tentang Transfigurasi Tuhan. Dia berfokus pada empat tindakan Yesus dalam Injil: Yesus “mengambil” murid-murid-Nya bersama-Nya; Dia “naik” gunung; Dia berdoa; dan Dia “tetap.”

    Berbicara dengan Allah

    Dalam homilinya, Bapa Suci mencatat bahwa Yesus mengambil para murid sebagai sebuah komunitas, menunjukkan kepada kita bahwa kita adalah bagian dari Gereja, dan memanggil kita untuk membentuk dan membina persekutuan.

    “Yesus memilih murid-murid-Nya, termasuk diri kita sendiri, dan membawa kita ke gunung suci-Nya untuk diubah rupa oleh kasih-Nya,” kata Paus.

    Paus Fransiskus juga menggarisbawahi bahwa orang-orang kudus yang hari jadinya kita rayakan hari ini adalah “pilar-pilar persekutuan,” dan mengundang kita semua untuk “menghargai keindahan karena telah ‘diambil,’ disatukan, oleh Yesus.

    Naik ke atas

    Dalam konteks yang Paus sampaikan, dikatakannya juga kata kerja kedua adalah “naik.”
    Bapa Paus melihat bahwa jalan Yesus adalah salah satu pendakian, bukan keturunan, itu bukan jalan yang mudah, tetapi perjalanan yang sulit. Hal itu berarti pergi ke ekstrem, ke ujung bumi, dan tidak tetap statis.

    “Bagi murid-murid Yesus, sekarang bukan waktunya untuk tidur, untuk membiarkan jiwa kita dibius, dibius oleh budaya konsumerisme dan individualistis saat ini,” kata Paus.

    Sebaliknya, seperti yang kita pelajari dari St Teresa dari Avila, kita dipanggil untuk melampaui diri kita sendiri, untuk menyadari bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui perjuangan saudara-saudari kita.

    Berdoa

    Paus Fransiskus mencatat bahwa Transfigurasi adalah pengalaman yang lahir dari doa: Yesus naik gunung untuk berdoa.

    “Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri tentang kehidupan doa kita sendiri,” kata Paus.

    Apakah kita berdoa hanya karena kebiasaan?

    Atau apakah kita menyadari bahwa doa benar-benar mengubah dunia. “Berdoa berarti mengubah kenyataan,” kata Paus. Itu adalah “misi aktif, syafaat yang konstan… [doa] tidak jauh dari dunia, tetapi mengubah dunia.”

    Bapa Suci mengundang umat untuk bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah doa membenamkan kita dalam perubahan ini? Apakah itu mengubah situasi kita?” Doa, katanya, “menyalakan api misi, mengobarkan kembali kegembiraan kita” dan mengilhami kita untuk “bermasalah” bagi mereka yang menderita.

    Secara khusus, dia berkata, “Mari kita juga bertanya pada diri sendiri bagaimana kita membawa perang saat ini ke dalam doa kita.”

    Dia kemudian menunjuk contoh Philip Neri, yang doanya mengilhami dia untuk membantu anak-anak Roma; atau St Isidore, yang membawa pekerjaan pertaniannya ke dalam doa.

    Untuk tetap Setia

    Menyimpulkan tiga tindakan pertama Yesus, Paus mengatakan bahwa, “Mengambil setiap hari secara baru panggilan pribadi kita dan sejarah komunitas kita; kemudian naik menuju ketinggian yang ditunjukkan Tuhan kepada kita; dan berdoa untuk mengubah dunia tempat kita tenggelam ini.”

    Namun, katanya, ada juga kata kerja keempat dalam Injil hari ini: tetap. Di akhir Transfigurasi, kata Paus, Yesus tetap tinggal. Di zaman sekarang ini, katanya, kita sering fokus pada hal-hal sekunder, pada apa yang berlalu, melupakan apa yang tersisa. Namun, dalam Transfigurasi, kesaksian tentang Tuhan mengingatkan apa yang penting. “Betapa pentingnya,” kata Paus, “bagi kita untuk bekerja di hati kita, sehingga mereka dapat membedakan antara hal-hal Tuhan yang tersisa, dan hal-hal duniawi yang berlalu!”

    Dia mengakhiri homilinya dengan doa agar St Ignatius dapat membantu kita melestarikan kearifan sebagai harta yang selalu abadi bagi gereja dan dunia – harta yang memungkinkan kita untuk melihat kembali segala sesuatu di dalam Kristus.

    Ucapan Syukur untuk Orang Suci

    Pada akhir Misa – yang dirayakan oleh Pemimpin Umum Serikat Yesus, Pater Arturo Sosa – sebuah upacara singkat berlangsung di kapel St Ignatius. Di hadapan relik lima orang kudus yang hari jadinya diperingati, para pemimpin komunitas mereka bersyukur kepada Tuhan atas karunia kesucian mereka.

    Ibadah ditutup dengan doa:

    Ya Tuhan, di dalam orang-orang kudus-Mu Isidore si Petani, Ignatius dari Loyola,
    Francis Xaverius, Teresa dari Yesus, dan Philip Neri,
    beri kami keberanian orang yang rendah hati,
    keberanian mereka yang percaya,
    kesederhanaan orang miskin dalam roh,
    dan semangat para prajurit yang dilucuti,
    agar kami mengizinkanmu untuk menang
    dan untuk membimbing Gereja Anda dan dunia
    menuju Pentakosta baru rahmat dan damai sejahtera, persekutuan.

    Di masa pandemi, perang,
    tetapi juga harapan, jadikanlah kami orang-orang kudus,
    sesuai keinginan dan keinginan.

    Semoga kehendak-Mu yang kudus terjadi, selalu dan dalam diri kita masing-masing.

    Uskup Agustinus Ucapkan Belasungkawa Kepergian Bupati Pertama Bengkayang

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Amsterdam Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengucapkan belasungkawa atas kepergian mantan Bupati Bengkayang yang pertama Drs.Yakobus Luna.Msi yang merupakan ayahanda dari Darwis Bupati Bengkayang sekarang.

    Setelah mendengar kabar duka dari Bengkayang Kalimantan Barat, Indonesia kemudian Uskup Agustinus langsung mengucapkan belasungkawanya menggunakan via WA (WhatsApp).

    Dalam pesan WhatsApp yang disampaikan Uskup Agustinus dari Amsterdam pada 11 Maret 2022, menuliskan pesan demikian.

    “Turut berduka yg mendalam serta berdoa atas telah dipanggilnya Bpk.Drs.Yakobus Luna.Msi Ayahanda  Bpk.Darwis Bupati Bengkayang ke rumah Bapak di surga. Doa saya juga utk keluarga besar yg ditinggalkan, agar tetap teguh dalam iman menerima kenyataan ini. Amsterdam, 11 Maret 2022,” oleh Mgr. Agustinus. Agus.

    Dalam pesan dari Amsterdam itu, Uskup Agustinus mendoakan agar keluarga besar yang ditinggalkan tetap teguh dalam iman untuk menerima kenyataan itu.

    Rest in peace, Yakobus Luna.

    Sidang Pleno Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat (FKRK) di Rumah Retret St. Fransiskus Assisi Tirta Ria Pontianak

    Rangkaian Kegiatan Sidang Pleno FKRK – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Kelompok jaringan kerjasama antar tarekat religius se-Provinsi Kalbar kembali menggelar pertemuan bersama.

    “Wadah ngobar” alias ngobrol bareng lintas tarekat religius ini diberi nama FKRK (Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat).

    Anggota forum ini terdiri dari berbagai Kongregasi, Ordo, Tarekat yang berkarya di Kalimantan Barat.

    Anggota FKRK ada dan tersebar di empat keuskupan: Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, dan Keuskupan Ketapang.

    32 tarekat religius

    Saat ini tercatat ada 32 jumlah Kongregasi, Ordo, Tarekat yang ada di Kalbar. Terdiri dari:

    • 12 tarekat imam;
    • 2 tarekat bruder;
    • 18 kongregasi suster.

    Merekat berkarya dibidang pendidikan, sekolah, asrama dan pembinaan generasi muda, sosial kemanusiaan, pastoral kategorial, dan pastoral parokial.

    Baca Juga: FKRK: Evaluasi & Progja Panitia Sidang Pleno FKRK Masa Bakti 2021-2024

    Adapun maksud dan tujuan dibentuknya FKRK adalah untuk:

    • Membina kerjasama yang semakin erat antar tarekat religius.
    • Saling meneguhkan dalam hidup dan karya berdasarkan kolegialitas dalam meningkatkan pelayanan bagi Gereja dan masyarakat.
    • Berefleksi bersama berdasarkan spiritualitas tarekat masing-masing agar semakin mampu menyesuaikan kehadiran tarekat di tengah ke-bhinnekaan NKRI

    FKRK ini biasanya mengemban tugas kepengurusan dalam periode tiga tahun. Setelah masa bakti berakhir, maka kepengurusan akan dipilih kembali.

    Badan pengurus FKRK lintas Ordo, Kongregasi religius ini diwakili oleh para Provinsial, Pemimpin Umum Kongregasi atau Ordo yang ada di Kalimantan Barat.

    Badan Pengurus FKRK dipilih dalam sidang pleno yang dihadiri oleh perwakilan dari setiap Kongregasi, Ordo, Tarekat.

    Bertempat di Rumah Retret St. Fransiskus Assisi Tirta Ria Pontianak, 5 Maret 2022 dilaksanakan kegiatan untuk pemilihan kepengurusan FKRK yang baru.

    Baca Juga: Surat Gembala APP Keuskupan Agung Pontianak 2022 “Kita Hanyalah Debu dan Akan Kembali Menjadi Debu (Kejadian 3: 19)”

    Berikut beberapa agenda dalam rapat pleno pemilihan pengurus FKRK yang baru yakni:

    • Seminar Pendalaman Sinode Keuskupan Agung Pontianak 2021-2023
    • Laporan Pertanggungjawaban Program Kerja kepengurusan FKRK:
    • Laporan umum FKRK.
    • Laporan keuangan FKRK.
    • Laporan BPA (Badan Pembina Asrama).
    • Laporan KGN (Kursus Gabungan Novis).
    • Sidang pleno pemilihan pengurus FKRK masa bakti 2022-2025
    • Perayaan Ekaristi Penutupan

    Dalam pengantar, Ketua FKRK Br. Rafael MTB, menyampaikan bahwa kepengurusan periode 2018-2021 telah berakhir, maka perlu diadakan pemilihan kepengurusan yang baru.

    “Sebenarnya sidang pleno pemilihan pengurus baru FKRK sudah direncanakan pada 15 Juni 2021 yang lalu. Namun berhubung pandemi, rencana tersebut terpaksa ditunda dan akhirnya baru bisa dilaksanakan pada 5 Maret 2022.

    Bruder Pemimpin Umum Kongregasi Bruder MTB (Maria Tak Bernoda) ini menyampaikan bahwa selama mengemban tugas kepengurusan FKRK (periode 2018-2021) ada beberapa program yang tidak bisa dilaksanakan (vakum) karena pandemi.

    “Dua tahun berjalan program-program masih berjalan, namun karena pandemi terpaksa tertunda. Inilah saat yang tepat untuk mengadakan pemilihan kepengurusan FKRK yang baru. Semoga program kerja yang belum terlaksanakan bisa dilanjutkan oleh pengurus yang baru,” harapnya.

    Baca Juga: Peresmian Gedung Baru UWDP: Tonggak Penting Sejarah Perguruan Tinggi Widya Dharma

    Para peserta yang hadir berjumlah 67 terdiri dari para provinsial tarekat, formator, perwakilan tarekat, karya pendidikan, rumah sakit, rumah pembinaan/retret, dan asrama.

    Mengingat situasi masih pandemi, Panitia Sidang Pleno FKRK menghimbau kepada seluruh peserta agar wajib mentaati protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan)

    Juga demi menjaga keamanan dari penularan virus Covid-19, panitia mewajibkan swab antigen untuk seluruh peserta satu jam sebelum kegiatan dimulai.

    Petugas swab antigen dari tenaga kesehatan Rumah Sakit St. Antonius Pontianak

    Seminar Pendalaman Sinode Keuskupan Agung Pontianak 2021-2023

    Guna memberikan kesempatan kepada seluruh umat Allah untuk mengambil keputusan dengan cermat secara bersama tentang bagaimanakah melangkah maju pada jalan menuju sebuah Gereja yang lebih sinodal di masa depan (poin 1 tujuan sinode).

    Pengurus FKRK bersama panitia memutuskan perlu diadakan semacam seminar pendalaman Sinode Keuskupan Agung Pontianak 2021-2023.

    Panitia mendapuk Pastor Prof. Dr. William Chang, OFMCap sebagai pembicara.

    Menurut Vikjen Keuskupan Agung Pontianak dari Ordo Fransiskan Kapusin Pontianak ini, sangatlah penting bagi kita sebagai warga Gereja, khususnya di wilayah Keuskupan Agung Pontianak ini, paham dan menghayati semangat dari sinode dengan tajuk “Persekutuan, Peran Serta, dan Pengutusan” dalam aspek hidup kerohanian dalam suatu konteks hidup sosial, kebudayaan, dan politik.

    Poin penting “jantung” dalam sinode tingkat keuskupan ini, kata dia, adalah mendengarkan Allah dengan mendengarkan satu dengan yang lain, yang diilhami oleh Sabda Allah.

    Baca Juga: Rapat Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Para pengurus Dewan Stasi Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang

    Kita saling mendengarkan untuk bisa dengan lebih baik mendengarkan suara Roh Kudus yang berbicara dalam dunia dewasa ini

    “Kita harus secara personal menjangkau mereka yang berada di daerah-daerah pinggiran, mereka yang telah meninggalkan Gereja, mereka yang jarang atau tidak pernah menunaikan iman-kepercayaannya, mereka yang dicengkam kemiskinan atau peminggiran, pengungsi, mereka yang disingkirkan, mereka yang tidak bersuara, dll,” demikian ungkapnya.

    Sidang Pleno Pemilihan Pengurus FKRK 2022-2025

    Setelah menimba semangat sinode dalam seminar, kegiatan pun berlanjut dengan sidang pleno untuk memilih kepengurusan FKRK yang baru.

    Dalam sidang itu, Minister Provinsial Kapusin Provinsi Pontianak Pastor Faustus Bagara OFMCap terpilih sebagai ketua FKRK periode 2022-2025.

    Berikut ini jajaran badan pengurus FKRK periode 2022-2025 terpilih:

    • Ketua: Pastor Faustus Bagara OFMCap.
    • Sekretaris: Sr. Yulita Imelda SFIC.
    • Bendahara: Br. Rafael MTB.
    • Anggota: Sr. Kristina Unau SMFA, Sr. Ignasia OSA, dan Sr. Elisa KFS.

    Proficiat kepada pengurus FKRK terpilih periode 2022-2025. Terima kasih disampaikan kepada pengurus FKRK periode 2018-2021.

    Kegiatan ini ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Prof. Dr. William Chang, OFMCap selaku selebran utama. Hadir pula di altar konselebran Direktur Rumah Retret Tirta Ria Pontianak Pastor Stephanus Gathot OFMCap dan Minister Provinsial Kapusin Provinsi Pontianak, Pastor Faustus Bagara OFMCap.

    Surat Gembala APP Keuskupan Agung Pontianak 2022 “Kita Hanyalah Debu dan Akan Kembali Menjadi Debu (Kejadian 3: 19)”

    Gereja Katedral Santo Yosep Pontianak – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Berikut ini isi Surat Gembala Keuskupan Agung Pontianak 2022 dalam masa puasa yang diawali dengan Hari Rabu Abu.

    Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih, kembali kita memasuki masa puasa.

    Seperti tahun-lahun sebelumnya dan semua sudah mengetahuinya, masa puasa selalu diwarnai suasana mati-raga, ulah tapa dan semangat doa sebagai ungkapan bahwa dihadapan Allah kita hanyalah debu dan akan kembali menjadi debu (Kej 3: 19) penuh dosa dan perlu melakukan pertobatan.

    Didalam masa puasa kita diajak untuk merenungkan apakah praktek hidup keagamaan kita sudah sesuai dengan apa yang kita imani.

    Masa puasa selalu ditandai dengan kegiatan “pantang dan puasa”.

    Keyakinan bahwa kita ini, hanya debu dan pendosa yang akibatnya adalah hubungan dengan Tuhan Sang Pencipta menjadi putus dan kita menjadi jauh dari keselamatan, ini yang seharusnya menjadi dasar bagi kita dalam mengisi masa puasa ini.

    Pengalaman 2 tahun hidup bersama Covid-19 makin menegaskan apa artinya bahwa kita ini “hanyalah” debu. Dihadapan Tuhan kita semua sama, “hanyalah debu”. Sesudah Covid-19 mulai bisa ditanggulangi, pecah perang antara Rusia dan Ukraina.

    Dewasa ini banyak sekali bahan yang mudah diakses melalui media elektronik yang bisa membantu kita sampai kepada kesadaran bahwa kita, umat manusia hanyalah “debu. Hanya dengan kerendahan hati kita mampu sampai kesadaran ini! Bukankah Tuhan sudah merendahkan diri serendah-rendahnya (Filipi 2:7) untuk menyelamatkan kita umat manusia.

    PSE Regio Kalimantan telah menetapkan Tema Aksi Puasa Pembangunan 2022 adalah “Yesus Menyembuhkan dan Memulih Kehidupan”.

    Sebagai pengikut-pengikut Yesus kita semua dipanggil untuk menyembuhkan setiap orang dari penyakitnya dan dengan pulihnya kesehatannya maka dia bisa melakukan seperti sediakala. Tentu saja peran kita tergantung dari talenta yang kita miliki. sekecil apapun peren kita yang kita berikan secara tulus, Tuhan pasti menghargainya.

    Kita mungkin termasuk sebagian besar masyarakat yang harus bersyukur karena tidak mengalami dampak langsung dari mewabahnya Covid-19.

    Dipihak lain, ungkapan keprihatinan dan belarasa sebagai pengikut Kristus sangat layak dan pantas dinampakan secara nyata terhadap orang-orang yang terdampak langsung Covid-19.

    Seperti tahun yang sudah-dudah, kegiatan dalam rangka masa puasa, tidak banyak mengalami perubahan baik yang bersifat ritual maupun yang bersifat seremonial. Ada kegiatan pengumpulan derma APP, pantang dan puasa, mengikuti ritual Jalan Salib dan sebagainya. Masa puasa adalah masa bagi umat kristiani merupakan ungkapan pertobatan. Dan tanda penyangkalan diri dan tanda keinginan untuk ambil bagian dalam pengorbanan Kristus di Kayu Salib. Sebagai silih dosa-dosa kita dan demi keselamatan dunia.

    Masa puasa adalah masa untuk mawas diri dan akhirnya berani mengatakan bahwa “aku ini memang debu dan akan kembali menjadi debu”.

    Tentu semua orang dipanggil untuk menjadi kudus, namun tetap menghadapi banyak tantangan dalam hidup. Tuhan tidak menuntut yang muluk-muluk atau yang luar biasa.

    Kita lihat contoh-contoh dalam Kitab Suci, persembahan dari jandi miskin dihragai karena diberikan dari kekurangannya. (Mk 12, 41-44).

    Contoh lain “aku berkata kepadamu, apa yang tidak kamu lakukan kepada salah seorang saudaraku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untukku (Mt 25: 40). Tuhan hadir dalam wujud yang sering tidak kita kenal.

    Oleh karena itu ada baiknya untuk dipikirkan, kalau selama ini karya amal dan sedekah kita salur lewat panitia paroki, dalam masa puasa kali ini, tanpa mengabaikan kewajiban, kita dapat salurkan kapan saja dan dimana saja contohnya pada saat sedang minum-minum kopi kemudian kita melihat orang yang membutuhkan tanpa mempertimbangkan latar belakang kita bisa membantu mereka, atau bisa saja ditempat kita bekerja membantu rekan kerja yang sedang mengalami kesulitan dan banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk berbuat amal kasih terhadap sesama.

    Mari kita memasuki masa puasa 2022 ini dengan semboyan “tiada  hari tanpa amal kasih”.

    Badai Covid-19 belumlah berlalu!

     

    Pontianak, pada Hari Rabu Abu, 2 Maret 2022

    Tertanda

    Mgr. Agustinus Agus

    Uskup Agung Pontianak

    Duta Besar Inggris: Tidak Ada Harapan Atau Perdamaian Tanpa Suara Perempuan

    Salah satu relawan wanita yang menyiapkan materi untuk pertahanan Ukraina, membuat hati dengan tangannya, di Odessa, Ukraina (ANSA) - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Duta Besar Inggris Chris Trott berbicara tentang pentingnya mempromosikan perempuan sebagai mediator perdamaian dan dialog, terutama mengingat kengerian yang terjadi di Ukraina. Berita ini dirilis dari portal berita Vatican News yang diterbitkan pada 7 Maret 2022 Oleh Francesca Merlo.

    Tujuan dari seminar yang berjudul “Gereja dan Masyarakat: Perempuan sebagai Pembangun Dialog”, adalah untuk menyoroti pesan yang sangat kuat bahwa “itu penting, ketika Anda membangun dialog dalam bentuk apa pun dalam masyarakat, dan khususnya dalam proses perdamaian, bahwa Anda melibatkan perempuan dalam dialog itu sejak awal dan disetiap tingkat, agar dialog itu berhasil”.

    Duta Besar Inggris untuk tahta Suci Chris Trott, yang kedutaannya mendukung Caritas Internationalis dalam seminar bersama yang menandai Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret, berbicara kepada Vatican News sebelum acara tersebut, menjelaskan tujuannya dalam menekankan vitalitas perempuan sebagai pembangun harapan, disemua konteks dan diseluruh masyarakat.

    Mediator perdamaian

    Duta Besar Trott mencatat bahwa ketika semua pikiran kita beralih ke perang di Ukraina, “tidak ada keraguan sama sekali bahwa perempuan memiliki peran penting untuk dimainkan baik dalam menanggapi krisis dan kemudian dalam upaya mencari solusi untuk krisis itu”.

    Baca Juga: Perang Di Ukraina: Paus Fransiskus Pergi Ke Kedutaan Rusia Untuk Menyatakan Keprihatinan

    Perempuan harus mengambil bagian tidak hanya dengan duduk mengelilingi meja, atau di baris kedua, tambahnya. “Suara mereka pertama-tama harus didengarkan saat Anda merancang proses dan solusi Anda”, dan “perempuan kemudian harus diberdayakan untuk berpartisipasi dalam diskusi yang sebenarnya”.

    Ukraina

    Tetyana Stawynchy, Presiden Caritas Ukraina juga akan berbicara kepada peserta seminar tersebut, dan menurut Duta Besar Trott dia akan dapat memberikan “wawasan kritis tentang situasi yang sangat hidup”, mencatat bahwa sehubungan dengan Ukraina, serta informasi yang jelas dan sangat baik, ada juga sangat banyak disinformasi. “Mendengar dari seseorang di lapangan akan sangat kuat”, katanya, dan mendengar dia mengadvokasi keterlibatan perempuan dalam dialog… “pesan yang saya harap dunia akan mendengarnya”, tambahnya.

    Korban kejahatan perang

    Duta Besar Trott kemudian berbicara tentang kejahatan pemerkosaan yang keji yang digunakan sebagai senjata perang. “Ini benar-benar menjijikkan. Perempuan, anak perempuan dan anak laki-laki adalah korban dari ini dan itu harus dihentikan. Komunitas internasional harus bersatu dan membuat suaranya benar-benar jelas bahwa ini sama sekali tidak dapat diterima”.

    Menghentikan kejahatan ini sulit, “karena perang itu sendiri sama sekali tidak dapat diterima”, tetapi menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang adalah sesuatu yang tidak boleh kita lakukan. bertoleransi di abad ke-21, pungkasnya.

    Terakhir, Duta Besar Trott mengucapkan selamat Hari Perempuan “Untuk Semua Perempuan”.

    TERBARU

    TERPOPULER