Saturday, May 16, 2026
More

    Stanislaus Andes, Misa Syukur PGD XL Jadi Fondasi Spiritual dan Bukti Kematangan Budaya Dayak

    MajalahDUTA.Com | Wakil Ketua I Panitia Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026, juga sebagai Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, Unika San Agustin Kampus II Pontianak, Stanislaus Andes, S.E., M.Pd., memandang pelaksanaan Misa Syukur PGD XL 2026 pada Jumat (15/5/2026) bukan sekadar seremoni pembukaan rangkaian Gawai Dayak, melainkan momentum spiritual yang memperlihatkan kuatnya persatuan masyarakat Dayak, budaya, dan Gereja.

    Menurut Andes, Misa Syukur menjadi ruang sakral untuk mengucap syukur kepada Jubata atas hasil panen, kehidupan, dan perjalanan masyarakat Dayak hingga hari ini.

    “Terlaksananya Misa Syukur Perayaan Pekan Gawai Dayak ke-XL ini merupakan sebuah momentum yang sangat sakral dan strategis. Ini bukan sekadar ritual pembuka, melainkan fondasi spiritual yang menyatukan tekad seluruh masyarakat Dayak dan panitia yang terlibat,” ujarnya.

    Mengawali refleksinya dengan falsafah Dayak “Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata”, Andes menilai semangat kebersamaan yang terlihat selama misa menjadi bukti nyata bahwa nilai gotong royong masih hidup kuat di tengah masyarakat Dayak.

    Dokumentasi PGD 2026 – Radangk (15/05).

    Sebagai koordinator bidang Usaha Dana, Dokumentasi dan Publikasi, serta Perlengkapan, ia melihat keberhasilan pelaksanaan misa tidak lepas dari soliditas seluruh panitia yang mampu bekerja melampaui sekat-sekat kepentingan.

    “Suksesnya Misa Syukur ini adalah bukti nyata dari sinergi dan gotong royong. Lintas seksi mampu meruntuhkan ego sektoral demi kelancaran ibadah,” katanya, (16/05).

    Menurut Andes, Pekan Gawai Dayak yang kini memasuki usia ke-40 menunjukkan kematangan dalam penyelenggaraan.

    Andes menilai PGD tidak lagi sekadar dipandang sebagai pesta budaya tahunan, tetapi telah berkembang menjadi ruang yang mampu mempertemukan profesionalisme modern dengan nilai tradisi dan iman.

    “Pelaksanaan misa yang tertata rapi menunjukkan bahwa manajemen modern dan nilai tradisi dapat berjalan beriringan dengan sangat anggun,” ujarnya.

    Ia juga menyoroti kuatnya pesan inkulturasi yang tampak dalam misa syukur tersebut. Liturgi yang dipadukan dengan unsur budaya Dayak, mulai dari penggunaan bahasa sub-suku dalam doa hingga nuansa adat dalam tata ibadah, menurutnya menjadi bukti bahwa budaya dan Gereja tidak saling bertentangan.

    Pandangan itu sejalan dengan pesan Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, yang menegaskan bahwa di dalam budaya lokal terdapat benih-benih sabda Tuhan. Dalam homilinya, Mgr. Pius mengaitkan nilai hukum adat Dayak dengan makna pengampunan dalam Ekaristi.

    “Perkara yang sudah diadatkan tidak boleh diungkit lagi,” kata Mgr. Pius dalam misa tersebut.

    Bagi Andes, pesan itu memperlihatkan bahwa nilai-nilai luhur masyarakat Dayak sejatinya memiliki kedekatan dengan ajaran Gereja tentang perdamaian, pengampunan, dan hidup bersama.

    Hal senada juga disampaikan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, yang mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebudayaan yang baik dan menyatukannya dengan kehidupan Gereja.

    Selain refleksi spiritual, Andes turut memberikan apresiasi kepada seluruh seksi yang bekerja di bawah koordinasinya. Ia menyebut dukungan para sponsor dan donatur menjadi tanda besarnya kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan PGD.

    Menurutnya, pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel menjadi bagian penting dalam menjaga marwah perayaan budaya Dayak.

    Ia juga menilai peran seksi Dokumentasi dan Publikasi sangat strategis dalam memperkenalkan budaya Dayak kepada masyarakat luas melalui media digital.

    “Rekaman visual, audio, dan publikasi yang tersebar di berbagai media berhasil menyampaikan pesan kedamaian, kesakralan, dan kemegahan budaya Dayak kepada khalayak luas,” tuturnya.

    Sementara itu, seksi Perlengkapan dinilai berhasil menghadirkan suasana ibadah yang nyaman dan bernuansa etnik Dayak melalui penataan altar, dekorasi, dan kesiapan teknis lainnya.

    Ke depan, Andes berharap semangat kebersamaan yang tampak dalam Misa Syukur dapat terus dijaga hingga seluruh rangkaian PGD XL 2026 selesai dilaksanakan.

    Andes juga berharap publikasi tentang budaya Dayak semakin luas dan positif sehingga masyarakat nasional maupun internasional dapat melihat Dayak sebagai komunitas yang maju, profesional, namun tetap berakar pada adat dan iman.

    “Perayaan ke-40 ini jangan hanya menjadi pesta seremonial, tetapi harus mampu mempererat tali silaturahmi dan meneguhkan identitas masyarakat Dayak yang maju, mandiri, namun tetap berakar pada adat istiadat dan iman kepada Tuhan,” tegasnya.

    Menutup refleksinya, Andes mengajak seluruh masyarakat Dayak menjaga persatuan dan martabat budaya yang diwariskan leluhur.

    “Selamat merayakan Pekan Gawai Dayak ke-XL. Mari kita jaga marwah, martabat, dan kebersamaan ini,” pungkasnya.*Sam – AKUB Pontianak. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles