Tuesday, May 19, 2026
More
    Home Blog Page 135

    Perayaan Ulang Tahun Imamat Mgr. Agustinus Agus ke-45 Tahun

    Perayaan HUT Imamat ke-45 Mgr. Agustinus Agus – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Tanggal 19 Juni 2022, merupakan momen penting bagi seluruh umat Katolik karena seluruh umat Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Dalam tradisi Katolik, komuni pertama biasanya di rayakan bertepatan dengan Hari Tubuh dan Darah Kristus. Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus memimpin misa sekaligus memberikan komuni pertama untuk 77 orang peserta di Gereja Paroki Katedral St.Yosef Keuskupan Agung Pontianak.

    Di hari yang istimewa itu juga, uskup agung Pontianak yaitu Mgr. Agustinus Agus, atau yang akrab disapa Mgr. Agus merayakan 45 tahun dirinya di tahbiskan menjadi imam katolik, atau Ulang Tahun Imamat.

    Baca Juga: Suster Caroline, SFIC & Antonius Jabat Perutusan Baru di Persekolahan Katolik Nyarumkop

    “Hari ini juga bertepatan dengan tanggal pentahbisan saya sebagai imam katolik, 45 tahun yang lalu. 45 tahun ini bukanlah waktu yang singkat. Saya harap kita semua selalu setia dalam panggilan kita masing-masing sebagai umat beriman katolik”. Ucap Mgr. Agus dalam kotbahnya di Gereja Katedral St. Yosef Pontianak.

    Setelah misa selesai, seluruh umat yang mengikuti misa di Gereja Katedral St. Yosef diajak untuk memeriahkan Ulang Tahun Imamat Mgr. Agus dengan menyanyikan selamat ulang tahun dan pemotongan kue. Peserta komuni pertama tampak mendampingi Uskup dalam acara pemotongan kue tersebut. Semua umat yang hadir diberi bingkisan saat pulang.

    Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

    Perayaan komuni pertama yang bertepatan juga dengan Ulang Tahun Imamat Mgr. Agus tak cukup sampai disitu, acara ramah tamah berlanjut di gedung Pasifikus. Saat acara ramah tamah ini, Bapa Uskup turut menghibur dan memeriahkan dengan mempersembahkan lagu, kemudian ada penampilan dari beberapa peserta yang juga mempersembahkan bakat mereka lewat nyanyian.

    Senyum dan tawa yang penuh sukacita terlihat di wajah seluruh peserta dan orang tua komuni pertama yang bersyukur merayakan momen ini. Dan diakhir acara ramah tamah adalah acara pengumuman door prize untuk para hadirin di acara ramah tamah tersebut.

    Pada sore hari pukul 16.00 Mgr. Agus merayakan Ulang Tahun Imamat nya dengan meriah yang bertempat di Qubu Resort, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Latar dan suasana terasa mewah dan megah ketika memasuki ballroom dengan ornament yang elegan di dalam ruangan.

    Acara tersebut di hadiri oleh mantan Uskup Agung Pontianak, Mgr. Hieronymus Herkulanus Bumbun, OFM. Cap, tokoh-tokoh penting lintas agama di Kalimantan Barat, dan pejabat daerah seperti Gubernur Kalimantan Barat yang di wakili Sekretaris Daerah (Sekda) Prov. Kaliamantan Barat, ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, bapak Kapolda Kalimantan Barat, bapak Pangdam Tanjungpura Kalimantan Barat, dan pejabat daerah dari Landak, Sanggau, Sekadau, serta Biarawan/Biarawati, Bruder dan perwakilan umat.

    Baca Juga: Rekoleksi Sehari Karyawan Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak

    Acara dimulai dengan doa dalam ritus agama Katolik yang dipimpin oleh Pastor Wiliam Chang, OFM. Cap. Setelah selesai doa, acara secara resmi dibuka. Penampilan pertama adalah video perjalanan Bapa Uskup selama mengemban tugas sebagai Uskup Agung Pontianak. Selanjutnya beberapa kata sambutan dari ketua panitia Drs. Junaidi, MM dan kata sambutan Gubernur Kalimantan Barat yang diwakili Sekda Provinsi Kalimantan Barat. Dalam kata sambutannya, beliau mengatakan kesannya kepada bapa uskup yang telah banyak memotivasi dan menginspirasi karena kesetiaan Mgr. Agus dalam tugasnya. Diharapkan para imam tetap setia melayani umat dengan penuh kasih sayang.

    “Jangan gampang mempercayai oknum yang memecah belah kerukunan. Diharapkan pemimpin umat bisa membimbing, agar semua umat bisa bertoleransi dengan baik di Kalimantan Barat tercinta ini”. Kata sambutan dari Gubernur Kalimantan Barat yang dibacakan oleh Sekda Kalimantan Barat.

    Usai kata sambutan dari Sekda Kalbar, kini Mgr. Agus yang menyampaikan kata sambutan kepada para hadirin.

    Ulang Tahun Imamat

    “Kita 100% katolik, 100% Indonesia. Artinya tanggung jawab kita sebagai warga negara dan kehadiran sebagai orang katolik harus dirasakan untuk orang banyak”. Kata Mgr. Agus kepada para hadirin.

    Wartawan senior, Stevanus Akim bersama Samuel, yang merupakan penulis buku berjudul “Mutiara Kata Hati Mgr. Agustinus Agus Gembala Penggerak & Pelayan Hati Umat” juga turut menyampaikan kesan-kesan kepada Mgr. Agus dan sedikit bercerita terkait buku yang akan diluncurkan tersebut.

    “Bukan sekedar teori melainkan aksi nyata. Kata mutiara bukan lagi sebatas kata melainkan kesempatan orang untuk menghayati buku ini.” Tutur Samuel sang penulis buku.

    Baca Juga: Mgr. Agus Adalah Inspirasi Panggilan!

    Setelah itu buku “Mutiara Kata Hati Mgr. Agustinus Agus Gembala Penggerak & Pelayan Hati Umat” ditandatangani oleh Mgr. Agus sebagai penanda buku resmi diluncurkan. Kemudian Mgr. Agus membagikan bukunya kepada Sekda Provinsi Kalimantan Barat yang mewakili Gubernur Kalimantan Barat, Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Ketua MUI Kalimantan Barat, dan Bruder Yohanes, MTB. Kemudian para perwakilan tersebut turut mendampingi acara pemotongan kue bersama Mgr. Agus.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah semua selesai menyantap hidangan yg disajikan, acara diisi dengan ramah tamah dengan musik dan nyanyian. Mgr. Agus pun turut menyumbangkan lagu favoritnya untuk menghibur para tamu undangan. Semua bergembira ria bersama merayakan Hari Ulang Tahun Imamat ke-45 Mgr. Agus.

    Suster Caroline, SFIC & Antonius Jabat Perutusan Baru di Persekolahan Katolik Nyarumkop

    Serah terima jabatan Kepala Sekolah – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Nyarumkop – Mengakhiri Tahun Pelajaran 2021/2022 Yayasan Perguruan Masyarakat Kalimantan Barat (YPMKB) melakukan penyegaran dua kepala sekolah, SMP dan SMA guna menyongsong pembukaan Tahun Pelajaran 2022/2023. Perutusan dan penyegaran kepala sekolah di dua unit berbeda ini diserahterimakan oleh Ketua Yayasan, Bruder Dionisius Bonevantura Frans, MTB pada 18/06/22 yang dihadiri oleh para Pastor, Suster, Bruder, Pendidik dan Tenaga Kependidikan Persekolahan Katolik Nyarumkop.

    Suster Yudit Caroline, SFIC yang sebelumnya menjabat Kepala Sekolah SMP Santo Aloysius Gonzaga mendapat tugas perutusan menjadi Kepala Sekolah SMA Santo Paulus Nyarumkop mengganti Suster Anuria Agnes Saragih, SVD yang akan melanjutkan studi.

    Baca Juga: Rekoleksi Sehari Karyawan Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak

    Dan Antonius K menerima perutusan sebagai Kepala Sekolah SMP Santo Aloysius Gonzaga yang sebelumnya menjabat Wakil Kepada Sekolah bidang Kurikulum di unit SMP Santo Aloysius Gonzaga.

    Serah terima jabatan (Sertijab) di dua unit sekolah ini diharapkan mampu mendongkrak elektabilitas pelayanan pendidikan yang bercirikan sekolah Katolik yang humanis, religius serta bermartabat dan berinovasi secara dinamis dalam karya perutusan dibidang pendidikan.

    Perutusan

    Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Perguruan Masyarakat Kalimantan Barat, Bruder Dionisius Bonevantura Frans, MTB  berharap kepada Kepala Sekolah SMP dan SMA yang baru

    “Selalu setialah pada nilai-nilai religius yang melekat pada nama sekolah, yakni Santo Aloysius Gonzaga dan Santo Paulus sebagai pilar utamanya” harapnya.

    Selain itu,  karya perutusan yang diemban hendaknya dimulai dengan kerja sama dan komunikasi harmonis antar Yayasan, Pendidik dan Tenaga Kependidikan dimasing-masing unit sekolah. Proficiat PKN.

    Rekoleksi Sehari Karyawan Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak

    Rekoleksi Sehari Karyawan Yayasan Pendidikan Gembala – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Kubu Raya – Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak yang sudah berusia kurang lebih 49 tahun mengadakan Rekoleksi Sehari pada Minggu, 19 Juni 2022 di Rumah Retret St. Fransiskus Dari Asisi, Tirta Ria, Kubu Raya. Dengan tema “Menjadi Karyawan yang Profesional”. Rekoleksi ini diikuti oleh semua unit, mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.

    Hadir pula pengurus yayasan, Dr. Paulus Toni Tantiono, OFM Cap selaku ketua Yayasan, pastor Kosmas Jang, OFM Cap selaku bendahara I, dan pastor Plasida Palius, OFM Cap selaku sekretaris II. Selain itu beberapa pengurus belum bisa turut menghadiri karena beberapa kesibukan lainnya, yaitu pastor Fransiskus Robertus, OFM Cap selaku wakil ketua, pastor Paskalis Leonardo Nojo, OFM Cap selaku bendahara II, pastor Yohanes Wahyudi, M.P., OFM Cap selaku sekretaris I dan pastor Aloysius Anong, OFM Cap selaku anggota.

    Sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan, Yayasan Pendidikan Gembala Baik tentunya memiliki visi dan misi. “Kita mempunyai visi dan misi yang cukup jelas” papar pastor Toni selaku ketua yayasan.

    Baca Juga: Rapat Kerja Daerah dan Serah Terima Ketua Umum LP3KD Provinsi Kalimantan Barat

    Visi: berpartisipasi dalam menumbuhkan, memelihara, meningkatkan dan mengembangkan kemampuan yang ada pada masyarakat dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang demokratis, berkualitas, relevan dan mandiri demi terciptanya manusia yang cerdas dan sejahtera.

    Misi: Sebagai mitra pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; Menghasilkan manusia-manusia yang bertanggung jawab, pancasilais, jujur dan bijaksana sesuai dengan ajaran katolik; Menghasilkan manusia-manusia yang terampil dalam bidang kesenian/musik, berprestasi di bidang akademik dan olahraga serta meningkatkan mutu pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya.

    “Kita harapkan nanti, apalagi dengan adanya kurikulum yang baru lagi diharapkan oleh pemerintah untuk diterapkan, yaitu kurikulum merdeka. Kita bisa semakin mampu menerapkan visi dan misi ini ke dalam sistem pendidikan kita. Tentu tidak mudah, karena kita tahu bahwa untuk mengubah sesuatu yang sudah lama bukan sesuatu yang gampang. Kita masih harus mencoba lagi untuk melatih, kita akan membuat lokakarya-lokakarya dan seminar-seminar. Kita akan mencoba, kalau tahun ini kita sudah bisa mulai melatih semua unit, karena ini tidak bisa menjadi gerakan satu unit saja tapi harus digerakan bersama. Maka, kita coba kalau bisa tahun ini kita melatih semua sehingga tahun depan kita bisa memulai kurikulum merdeka tersebut” harap pastor Toni.

    “Karena itu kan berkesinambungan dari TK ke SD, SD ke SMP dan SMP ke SMA. Jadi tidak bisa hanya satu bergerak yang lain diam, nanti tidak sambung. Ini kan gerakan bersama, kekeluargaan bersama” lanjut pastor Toni.

    Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak

    Kegiatan rekoleksi yang diadakan merupakan kegiatan tahunan, biasanya bukan rekoleksi melainkan retret dan menginap beberapa hari tetapi karena adanya masa transisi pandemi covid-19 maka hanya diadakan rekoleksi sehari saja.

    “Retret sebenarnya, setiap tahun diadakan retret selama 2-3 hari. Tapi karena pandemi, situasi membuat kita berhenti sebentar selama dua tahun. Dan karena ini baru mulai kembali ditahun ini setelah kita dua tahun berhenti karena pandemi maka kita coba dulu tahun ini kita adakan satu hari saja rekoleksinya. Tapi kalau situasi nanti sudah agak normal kita mungkin mulai tahun depan mengadakan retret lagi, sekitar 2-3 hari. Supaya lebih banyak yang bisa dialami terutama. Karena kita tidak hanya ingin memberi masukan di otak tetapi juga mengalami bersama, dimana kita merasa satu keluarga, lebih kompak dan lebih bersatu” ungkap pastor Toni

    Pastor Toni berharap bahwa kegiatan ini dimulai kembali dan menjadi suatu langkah yang bisa kembali ke aktivitas yang lebih normal untuk tahun-tahun mendatang. Sehingga dengan demikian  visi dan misi kita tersampaikan lalu kemudian juga jiwa Fransiskan Kapusin juga pelan-pelan makin ditanamkan dalam semua unit dan semua karyawan yang berkerja di Gembala Baik.

    Baca Juga: Eksotisme Bromo: Tempat Healing Religius

    Diadakannya rekoleksi ini bertujuan untuk mengimbangi proses belajar mengajar disekolah bersama peserta didik dan semua aktivitas yang dilakukan oleh karyawan. Selain karyawan juga diikuti oleh pengurus yayasan sebagai satu keluarga. Tidak hanya memusatkan diri dalam masalah akademis tetapi juga memberikan jiwa iman kekatolikan dan semangat Fransiskan Kapusin.

    “Ini memang suatu usaha dari pihak yayasan supaya para karyawan maupun pengurus juga sebagai satu keluarga tidak hanya memusatkan diri dalam masalah akademis. Karena kita berusaha untuk mendidik para murid tetapi juga kita bukan hanya mendidik otak mereka, kita juga ingin memberi kepada mereka jiwa. Jiwa iman kekatolikan dan semangat Fransiskan Kapusin. Maka ini perlu diimbangi dengan aktivitas yang bersifat lebih rohani dan pengembangan kepribadian. Karena itulah dalam beberapa tahun terakhir ini rutin dibuat kegiatan kerohanian. Bertujuan untuk mengisi terutama memang bagian dari kepribadian dan rohani serta semangat iman kekatolikan dan kekapusinan supaya para karyawan yang bekerja di Yayasan pendidikan Gembala Baik ini juga merasa sebagai keluarga besar, bukan hanya karyawan dan “pemberi kerja dan penerima kerja” tapi sebagai suatu keluarga yang bersama-sama memajukan sekolah kita, jadi ada perasaan memiliki” papar pastor Toni yang juga sebagai dosen di Universitas Widya Dharma Pontianak.

    Dilanjutkan oleh pastor kelahiran Pontianak ini, bahwa semua karyawan sebenarnya harus mempunyai perasaan memiliki yang diimbangi dengan visi yang jelas. “Oh saya berkerja sebagai seorang yang mempunyai juga bagian Pendidikan Gembala Baik yang mau memajukan semangat-semangat dari Fransiskus Dari Asisi. Nah, itu yang mau diterapkan dari setiap rekoleksi kita dan retret kita” lanjutnya.

    Rekoleksi

    Materi yang disampaikan dalam rekoleksi ini tentunya berkaitan dengan tema yang diusung, yaitu mengenai karyawan yang profesional. Ada dua materi yang disampaikan. Materi pertama dari Bank BNI mengenai Standar Layanan dan materi kedua dari pemateri utama mengenai pelayanan yang profesional.

    “Inilah rumah kita, kalau ini kita anggap sebagai rumah maka kita berusaha merawat dan menjaganya seperti kita punya rumah masing-masing. Inilah yang harus kita jaga. Jadi, berdirinya, atau tegaknya atau bahkan robohnya rumah ini tergantung dari teman-teman semua. Kalau teman-teman dalam pelayanannya kurang profesional pelan tapi pasti Gembala Baik kita akan menjadi tinggal nama, tetapi kalau teman-teman menunjukkan pelayanan yang baik maka kita akan terus menjaga rumah kita yaitu persekolahan Gembala Baik” papar pastor Stefanus Gathot, OFM Cap mengawali materinya.

    Baca Juga: Tari Jonggan Sambut Peserta Rapat SIGNIS ke-48 di Anjongan, Kalimantan Barat

    “Selain ini menjadi rumah kita, teman teman juga harus menyadari bahwa ini juga menjadi periuk kita. Jadi, Gembala Baik ini menjadi periuk kita, tempat kita untuk menggantungkan hidup keluarga dan kita semua menggantungkan hidup di Yayasan Gembala Baik” lanjut pastor Gathot sebagai pengantar.

    Sebelum masuk pada materi inti pastor Gathot memberikan pemahaman yang ia sebut menyamakan persepsi terlebih dahulu. Supaya memiliki kesamaan pikiran, ide, gerak dan langkah mengenai apa itu rekoleksi.

    Secara singkat menurutnya, rekoleksi itu mau mengumpulkan kembali. Maksud yang dikumpulkan itu bukanlah uang, bukan pula harta benda. Tetapi di dalam rekoleksi yang dikumpulkan adalah pengalaman-pengalaman hidup secara khusus dalam konteks sebagai karyawan di Yayasan Pendidikan Gembala Baik.

    “Dalam rekoleksi kita tidak mengumpulkan uang, tidak mengumpulkan harta benda meskipun itu penting untuk kita semua. Tetapi yang kita kumpulkan adalah pengalaman-pengalaman hidup. Pengalaman hidup secara khusus dalam konteks kita sebagai karyawan di Yayasan Pendidikan Gembala Baik. Lalu kenapa hal ini mau kita kumpulkan?  Karena ada hal yang mau kita buat” katanya.

    Rekoleksi sehari karyawan Yayasan Pendidikan Gembala Baik menghadirkan beberapa rangkaian acara. Diawali dengan doa pembuka, kemudian gerak dan tari, doorprize, materi, makan siang dan makan malam bersama, perkenalan guru/karyawan baru, misa bersama, kata sambutan, apresiasi guru purnatugas, foto bersama dan sayonara.

    Ketua panitia dari unit SD plus Kartika Citra, S.Pd dalam kata sambutannya menyampaikan terima kasih kepada pihak yang telah berpartisipasi dan kepada Yayasan yang telah memberikan kepercayaan kepada unit SD Plus menjadi panitia serta kepada pihak rumah retret yang telah menyediakan waktu dan tempat sehingga kegiatan rekoleksi dapat terlaksana.

    “Peserta rekoleksi ini terdiri atas guru, staf dan karyawan dari tujuh unit kita yaitu dari unit TK Gembala Baik, unit SD Gembala Baik I, SD Gembala Baik II, SD Plus Gembala Baik, SMP Gembala Baik, SMP Plus Gembala Baik dan SMA Gembala Baik. Secara detail karyawan Yayasan Pendidikan Gembala Baik sebanyak 245 orang. Namun yang dapat hadir berjumlah 216 orang. Semoga kita semakin kompak dan solid menjadi karyawan profesional dan memajukan Yayasan Pendidikan Gembala Baik” paparnya mengakhiri sambutan.

    Kemudian kata sambutan dilanjutkan oleh ketua yayasan, yang diwakili oleh pastor Kosmas Jang, OFM Cap selaku bendahara I. Dalam sambutannya juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh karyawan yang sudah turut hadir dalam kegiatan rekoleksi, pihak bank BNI, tim dari Rumah Retret Tirta Ria pastor Gathot dan kawan kawan, serta kepada panitia dari unit SD Plus. Pastor Kosmas juga berharap bahwa tahun depan bisa kembali mengadakan retret yang lebih lama.

    Baca Juga: https://ypgembalabaik.or.id/

    “Mudah-mudahan pandemi semakin melandai, supaya kegiatan-kegiatan kita bersama yang kita lakukan selama ini dapat kita laksanakan kembali” harapnya.

    Dan yang tidak kalah penting ucapan terima kasih kepada beberapa karyawan atas pengabdian, pelayanan dan pemberian diri kepada Yayasan.

    “Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih. Atas pengabdian, pelayanan, pemberian diri bapak/ibu selama mengabdi dan bekerja dilingkungan yayasan persekolahan Gembala Baik ini. Pasti banyak sumbangsih bapak dan ibu kepada kami semua. Kehadiran, kemudian pekerjaan, kasih, komitmen, loyalitas dan seterusnya yang bapak/ibu berikan terutama kebersamaan dan persaudaraan yang dialami sekian tahun. Kami mendoakan semoga bapak/ibu tetap sehat untuk berkarya dan terus melayani dimana saja. Bapak dan ibu tetap menjadi bagian dari keluarga besar Yayasan Pendidikan Gembala Baik” ungkap pastor Kosmas.

    Dilanjutkan oleh pastor Plasida Palius, OFM Cap yang juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh karyawan dan keluarga besar Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak.

    “Bapak/Ibu seluruh karyawan dan keluarga besar Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak. Terutama para kepala sekolah yang luar biasa dari SMA, SMP, SD dan TK. Beliau-beliau lah yang menjadi perpanjangan tangan yayasan yang senantiasa aktif meningkatkan, menjaga bahkan mengembangkan mutu dan kualitas pendidikan di yayasan kita” ungkap pastor Pale yang menjabat sebagai sekretaris II di Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak.

    Kegiatan dilanjutkan dengan acara apresiasi kepada karyawan yang sudah purnatugas. Telah mengabdi di Yayasan Pendidikan Gembala Baik selama puluhan tahun. Maka pihak yayasan mengapresiasi pengabdian dan pelayanan dengan memberikan penghargaan. Kemudian acara diakhiri dengan foto bersama dan makan malam bersama.

    Rapat Kerja Daerah dan Serah Terima Ketua Umum LP3KD Provinsi Kalimantan Barat

    Mgr. Agustinus Agus menghadiri kegiatan Rakerda LP3KD Kalbar – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Mgr. Agustinus Agus uskup Keuskupan Agung Pontianak menghadiri dan membuka secara resmi Rapat Kerja Daerah yang dilaksanakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Daerah (LP3KD) Kalimantan Barat yang telah dilaksanakan pada  17-18 Juni 2022 di Hotel Orchardz, Pontianak.

    Adapun sub tema yang diusung oleh LP3KD dalam Rapat Kerja Daerah tahun ini adalah “Menggerakan Organisasi untuk Menyukseskan Pesparani Nasional II serta Memperkuat Toleransi dan Moderasi Beragama”.

    Baca Juga: Misa Pembukaan Muskomda ke-IX Pemuda Katolik Kalimantan Barat oleh Mgr Agustinus Agus

    Rakerda dilaksanakan untuk mematangkan persiapan kontingen Kalimantan Barat mengikuti Pesparani Nasional II di Nusa Tenggara Timur pada Oktober 2022 mendatang.

    Pembimas katolik Wilayah Kementerian Agama provinsi Kalimantan Barat, Ketua Umum dan Sekretaris Umum LP3KD provinsi Kalimantan Barat, para Ketua dan Pengurus LP3KD kabupaten/kota se-Kalimantan Barat, dan peserta rapat kerja turut menghadiri kegiatan tersebut.

    Eksotisme Bromo: Tempat Healing Religius

    Eksotisme Bromo – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Yogyakarta – Berawal  dari pembincangan sederhana di ruang refter Wisma Syatikara, Yogyakarta, 6 Mei 2022, para formator Kursus Gabungan Novis (KGN) yang terdiri dari aneka kongregasi imam, bruder dan suster membicarakan rencana refresing  di akhir semester  pembelajaran bersama.

    Pertama kami ingin mengunjungi tempat wisata di Bali sebagai jendela destinasi dunia dan kedua, Labuan Bajo Manggarai, Flores NTT. Karena dari segi biaya begitu mahal maka secara spontan memilih Bromo sebagai pilihan terakhir. Ide ini disambut dengan senang hati oleh para pendamping KGN.

    Baca Juga: On Going Formation Prodiakon Dalam Gereja Katolik

    Para formator berangkat dari Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 2022. Adapun yang mengikut anjangsana ini adalah: Rm. Rukmono OMI, Sr. Hetty CB, Sr. Kolumba PBHK, Br. Neri MTB dan Br. Flavianus MTB. Sedangkan Sr. Immaculatien AK, Sr. Agatha BKK, Sr. Silvi MASF menunggu di Solo. Selama dalam perjalanan dengan melewati jalan Tol Solo-Surabaya, para pendamping tidak ada yang merasa ngantuk. Karena selain hiburan anekdot  gaya religius, rupanya pemandangan tebaran sawah dari Sragen hingga Probolinggo mampu menyegarkan mata kami  saat memandangnya dari dalam mobil yang kami tumpangi.

    Eksotisme Bromo

    Tanggal 9 Juni 2022, pukul 02.30 pagi, kami naik Jeep menuju gunung Bromo. Tempat pertama, kami berjibaku buki Kingkong. Kami menikmati udara yang begitu dingin. Sekitar ratusan para penikmat sunrise, sudah standby berselfi ria di salah satu spot, sembari menanti sinar matahari yang perlahan-lahan muncul di ufuk timur saat itu. Cahayanya di balik awan dan kabut tidak mengurangi decak kekaguman para pendaki gunung yang bukan hanya dari Indonesia saja tetapi juga wistawan mancanegara tak henti-henti merekam sinar matahari saat itu. Sinar matahari waktu itu mulai muncul pukul 05.00 pagi. Cahayanya yang sedikit temaram, memanjakan mata untuk tidak berkedip oleh karena sinarnya sangat unik.

    Selain itu perjumpaan dari aneka latar belakang budaya, bahasa dan ras di tengah suasana yang dingin saat itu, menjadi kenangan berharga dalam dinamika perjalanan panggilan para formatur dalam mendampingi para formandi milenial  saat ini.

    Therapy Healing

    Kami melihat  dan merasakan bahwa meskipun tempat- tempat wisata menarik di Bromo ini  hanya mengunjungi 4 lokasi umum saja yakni Gunung Penanjakan untuk melihat sunrise, Kawah Bromo, Padang Rumput Savanah dan Bukit Teletubies, akan tetapi sangat puas bagi kami.

    “Bagi saya kegiatan ini sangat menyenangkan dan menggembirakan, bukan hanya untuk memuji betapa indahnya Allah menciptakan alam semesta ini khusunya gunung Bromo, akan tetapi semacam therapi healing sangat bermanfaat bagi saya”. Ungkap Rm. Rukmono sembari mensharingkan pengalaman mendaki gunung lain di Pulau Jawa.

    Lanjut Rukmono “Saya bersyukur atas kebersamaan kita. Saling meneguhkan antar formator. Moment ini adalah saat penyembuhan dari kebenaran kita. Semoga di masa mendatang bisa diteruskan. Saya sungguh menjadi segar setelah acara tersebut, penuh inspirasi baru. Menjadi rileks sangat penting. Hanya ketika pikiran kita rileks, kita lebih tenang, sabar, dan produktif. Rileks tidak sama dengan santai, kalau santai ada unsur malasnya sehingga tidak produktif”. Ungkap Magister Novis OMI ini dengan mantap.

    Baca Juga: Berjalan Bersama untuk Bersaksi

    Sr. Silvia juga tidak ketinggalan mengungkapkan perasaan kegembiraannya dalam program wisata Bromo ini. “Saya di NTT sudah biasa naik gunung untuk mencari kayu api atau sekedar melihat indahnya bukit-bukit dan sabana di NTT. Namun saat di biara saya merasa moment ini sangat luar biasa. Ini kenangan terindah bagi magistra, karena bagi saya Bromo adalah gunung yang paling indah dan eksotis di Pulau Jawa”.

    Lanjut Sr. Silvia “Rekreasi doa tetap menjadi yang utama, susasana persaudaraan, kekeluarga, saling mendukung, sangat akrablah, semua bereksprsi dengan bebas hati. Saya juga sering mengajak para novis untuk berenang atau olah raga lainnya dalam menciptakan ruang kegembiraan dalam pola-pola pembinaan para formandinya di Kota Solo.

    “Kami secara berkala   bersama para novis naik gunung Ungaran.” Kata Sr. Immaculatien AK. “Di atas gununglah, kami merayakan ekaristi dan sharing bersama, rasanya memberi kenikmatan sendiri bagi para novis dari segala rutinitas tiap hari di ruang Novisiat.” Ujar Magistra AK ini dengan nada riang.

    Ruang Kontemplasi Alam

    “Pertama-tama saya pantas bersyukur kepada Tuhan yang sungguh luar biasa besar kasih-Nya kepada saya”. Ucap Sr. Immaculatien, AK.

    “Dari pengalaman kecil secara tak sengaja kala itu sampai terealisasi rekreasi “healing” bersama tanggal 8-9 Juni 2022 yang lalu. Saya merasa, Tuhan sangat mengerti sekali kerinduan kita dan Tuhan berkenan akan rencana baik kita, terbukti dengan mudahnya kita saling terlibat dan bersama mengusulkan pilihan tempat, tujuan, waktu yang sekiranya semua bias. Dan akhirnya diputuskan tanggal 8 Juni 2022, ditunjuk Ketua dan bendahara.” Lanjut Sr. Immaculatien

    Baca Juga: Paskah Bersama Kepolisian Resor Mempawah, Uskup Agustinus Sampaikan Refleksi Penderitaan

    Dilanjutkan kembali oleh Sr, Immaculatien “Secepat kilat tujuan dapat disepakati dan ketua bergerak cepat, dapat biro dan akhirnya mulai daftar intinya semua lancar, meski jujur biaya cukup mahal, semua dapat melewati proses harus ‘berembug’ secara terbuka dengan sikon komunitas masing-masing dan “clear” meski akhirnya tidak bisa semua teman bisa bergabung. Setelah kita bisa menikmati ternyata sensasi rasa persaudaraan dan kebersamaan yang terjalin dalam seluruh proses dan dinamika bersama tak bisa dan tak perlu lagi diperbandingkan dengan apapun juga, merasa senasib sepenanggunga. Luar biasa anugerah dapat merasakan dan menyatu dengan alam, perlahan mulai bersahabat dengan “sikon” semuanya, baik yang hidup maupun yang mati, lingkungan hidup /biotik dan abiotic. Luar biasa dapat secara nyata menikmati pergantian waktu, dari detik ke detik, menit ke menit, dari sikon dini hari sampai fajar mereka, dan benar-benar rasanya berhadapan dengan Ke-Mahakuasaan Sang Pencipta yang tiada bandingnya.  Sembah sujud syukur kepada-Mu Bapa-Putra dan Roh Kudus. Aku berhadapan dengan diriku, dengan teman, alam semesta dalam Dia. “Healing”, bersenang-senang bersama, “pelepasan segala kepenatan” berbuah sehat dan sukacita. Keindahan Bromo sangat mengagumkan, bisa dilanjutkan lagi acara “Healing” dalam kebersamaan ini.” Kenang Sr. Imma dengan penuh kagum.

    “Memang sangat perlu diupayakan ada acara rekreasi untuk pendamping, sebagai moment healing, melepas energi negatif dan menghirup energi positif dari alam dan dari kebersamaan”. Sambung Sr. Hetty.

    Nilai-Nilai Wisata Bromo

    Sr. Hetty CB, merasa bahwa  kegiatan wisata Bromo sebagai sebuah pengalaman mensyukuri kebesaran Allah yang mencipta dunia dengan indahnya sekaligus pengalaman yang menyadarkan betapa hidupku tergantung pada Allah. Ujar mantan anggota Dewan Umum ini dengan mantap.

    Para Magistra lain pun ikut melukiskan bahwa melalui eksotis Bromo alam berbicara dan hati merespon atas kekaguman karya lukisan Sang pencipta yang tak tertandingi.  Selain itu kegiatan sangat bermakna bagi kebersamaan para formator KGN Yogyakarta.

    “Syukur atas anugerah kasih Tuhan, dalam dan melalui terlaksananya acara dan kebersamaan kita, kesehatan (hambatan dapat diatasi dengan amat baik)”. Tulis Sr Immaculatien dalam pesanya secara pribadi dalam via WhatsApp.

    Baca Juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Bagi nya persaudaraa dalam kegiatan ini sungguh tak tergantikan. “Kesatuan hati, semakin kenal dengan diri sendiri, sesama, alam semesta. Menghargai waktu, setiap detik perubahan adalah luar biasa membawa pesan-pesan sangat personal dan pem-baru-an. Selain itu dalam aspek budaya kita menerima dan mengenal budaya daerah baru dengan segala kearifan local mereka. Keramahtamahan dengan alam semesta, unik, menghormati, kekompakan, saling mendukung, kerjasama, tanggung jawab. Selalu butuh perjuangan untuk bisa menemukan sesuatu yang indah. Melawan dingin, menunggu, ngantuk, capek” Sharing Sr Imama kembali dengan penuh haru.

    “Menjadi sarana untuk healing, dan penyegaran rohani dengan menyatukan diri dengan alam yang luar biasa ciptaan Tuhan. Di alam inilah kita merasakan kebesaran Tuhan. Kita diajari oleh alam untuk berani berserah pada Tuhan. Kita dapat melaksanakan tugas dalam pembinaan, bukan karya kita tapi karya Tuhanlah dan kita membiarkan Tuhan untuk semakin luas memakai kita untuk menjadi alatNya. Dalam hal ini menyiapkan generasi muda untuk masa depan gereja dan kongregasi. Selain itu bagi dia rekreasi rohani formator diperlukan untuk saling meneguhkan dan menyemangati dalam tugas perutusan sebagai formator.  Saya sungguh bersyukur untuk kesempatan dan moment kebersamaan ini. Nilai yang didapatkan ialah persaudaraan, sukacita, kebersamaan, cinta kasih, kerendahan hati dan iman mendalam.” Sharing Sr. Agatha dengan semangat.

    On Going Formation Prodiakon Dalam Gereja Katolik

    Rekoleksi bersama prodiakon Paroki Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Yogyakarta Kita tahu bahwa setiap orang pada dasarnya adalah umat Allah yang terlibat dalam berbagai karya dan kegiatan Gereja. Setiap orang dilayakkan dengan berbagai karismanya untuk terlibat dan aktif dalam ber-liturgi. Semoga tulisan ini menjadi tawaran untuk mengambil keputusan dengan bijaksana mengenai bagaimana menjadi umat, menjadi pelayan umat, menjadi prodiakon yang terlibat secara aktif, benar, dan bijaksana dalam berliturgi.

    Dalam rangka menyegarkan kembali pelayanan prodiakon Paroki Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta (Prodi Pringgo), tim pelayanan prodiakon di bawah kepala bidang liturgi mengadakan rekoleksi bersama, Minggu, 12 Juni 2022. Acara kerohanian ini berlangsung di Aula Novisiat Bruder MTB Jeruk Legi Bantul, Yogyakarta.

    Bapak Rewang selaku ketua prodi pringgo, dengan senang hati dalam mengikuti acara ini yang sudah lama dirindukan oleh sesama prodiakon. “Sejak resmi dilantik oleh Bapak Uskup dan ditambah lagi fenomena pandemic covid 19, hampir tidak pernah mengadakan acara rekoleksi bersama prodi pringgo, bahkan ada yang belum pernah bertatap muka antara wajah yang lama dan baru”. Kata Bpk. Rewang dalam sambutan pembukanya.

    Baca Juga: Berjalan Bersama untuk Bersaksi

    Menurut pegawai Rumah Sakit Panti Rapih ini, bahwa tujuan rekoleksi ini selain penyegaran dalam pelayanan para prodiakon, pertama-tama adalah menambah wawasan dalam pemahaman tugas prodiakon secara liturgis agar tidak menyimpang dari standar fungsi pelayanan prodiakon dalam lingkungan gereja Katolik khususnya di prodi pringgo tercinta.”

    “Masih banyak prodiakon yunior maupun senior ragu-ragu dan canggung bila menemukan banyak persoalan yang dihadapinya saat melayani umat, maka dengan acara ini kita berbagi/sharing agar saling menguatkan dan peneguhkan satu sama lain, sekaligus mengingakan kita bahwa tugas prodiakon bagian dari pelayanan altar yang tidak dianggap gampang atau mudah dalam melakukanya”. Ujarnya dengan penuh semangat.

    Kegiatan rekoleksi ini didampingi langsung oleh Rama Fl. Hartanto, Pr, dari pukul 8.30- 11.30 wib. Mantan ketua komisi komisi Liturgi DIY, sangat bersyukur dan kagum dengan kegiatan prodi pringgo, di mana masih ada waktu untuk berbagi pelayanan tentang hak ikhwal dalam tugas pelayanan di prodi pringgo salah satunya lewat rekoleki bersama.

    Menurut Rama (baca: Romo) Tanto, sebagai prodiakon tidak hanya sampai pada paham dasar liturgis, sejarah prodiakon, skill dan ktrampilanya, spiritualitasnya, akan tetapi bagaimana kehadiran prodiakon sebagai jembatan membawa Yesus (baca: menerimakan komuni) bagi umat Allah dalam lingkup pelayanannya di Paroki baik di wilayah, maupun lingkungan hendaklah dengan tetap sukacita dalam menjalaninya.

    Sayap Kiri Imam

    Kehadiran pelayanan prodi pringgo dalam pelayanan liturgis ibarat sayap burung merpati yang sama-sama terbang membawa rahmat bagi yang dilayani. Paroki pringgo dengan umat berjumlah 5000 lebih dilayani oleh 50 prodiakon, masih juga dirasai belum terjangkau dalam pelayanannya karena masih kurang dari segi jumlah pelayanan yang ada. Selain itu pelayanan ini sangat bervariati profil keseharian tugasnya di luar gereja. Ada yang masih aktif sebagai dosen, guru, kepala sekolah, pegawai medis, pengusaha, pensiunan pegawai hingga tokoh-tokoh yang masih aktif dalam pemerintahan. Mereka sangat antusias dalam melaksanakan tugasnya meskipun kadang-kadang lelah karena sering dipilih terus sebagai prodiakon oleh karena tidak ada umat yang mau ganti tugasnya. Misalnya, Bapak Ben Galus sebagai dosen dan penulis buku, hampir belasan tahun sebagai prodiakon meskipun aturanya hanya belangsung maksimal 2 periodi yakni, satu periode untuk 3 tahun.

    Prodiakon Berbagi Rasa

    Paroki Santo Paulus Pringgolayan saat ini berjumlah 29 lingkungan dan 5 wilayah tentu saja kehadiran prodiakon sangat membantu dalam pelayanan umat, baik dalam bidang kategorial maupun teritorial terutama dalam pelayanan nonsacramental. Mereka sebagai bapak ibu rumah tangga masih ada waktu untuk berbagi dengan tugas pelayananya dengan penuh heroik.

    “Sebenarnya kami harus jujur bahwa, kami para imam sangat terbantu dalam melaksanakan ekaristi, baik ekaristi harian, mingguan maupun dalam melayani misa di lingkungan, karena berkat pelayanan prodiakon semuanya jadi ringan dan lancar”. Pujian Rama Hartanto disambut dengan tepukan tangan meriah saat itu. Rama yang pernah tugas di paroki Klepu dan Banyumanik ini, ikut merasakan suka dukanya dalam pelayanan saat berhadapan dengan beragam umat dewasa ini.

    Baca Juga: Anggota Signis Indonesia Hadir dalam Festival Gawia Sowa di Jagoi Babang

    Menurut Direktur Domus Pacis Kentungan ini bahwa pelayanan prodiakon dewasa ini banyak sekali tantangan yang dihadapinya terutama dari segi waktu pelayanan, keterampilan berhomili, sikap dalam berliturgi dan ketulusan hati menerima masukan dari umat yang dilayaninya. Menyambung ungkapannya Bapak Joko dari Lingkungan Richardus mensharingkan juga tantangannya sebagai prodiakon. “Kalau saya pribadi materi dalam rekoleksi ini, belum tuntas menyelesaikan persoalan dalam tugas prodiakon di Pringgo, karna waktunya enggak cukup”. “Dan sebetulnya bagus sekali kalau kita sharing, dari beragam tantanganganya, misalnya yang ringan saja yakni sikap liturgi yang bijaksana dalam bertugas, cara memimpin ibadah hingga berhomili yang menarik dan singkat”. Ujar pensiunan pegawai SMA Santa Maria Yogyakarta ini melalui pesanannya via WhatsApp.

    Selain itu, Ibu Indah Nartani mensharingkan bahwa “kadang-kadang busana dan symbol atribut prodiakon belum ada standar yang pas, maka seringkali bingung mana busana liturgis prodiakon sesuai dengan standar liturgis yang sebenarnya”. Kata Dosen UST Yogyakarta ini dengan mantap.

    Selain itu ibu Indah yang juga peran aktif di bagian koordinasi lektor paroki ini, mengharapkan “kita tetap bersama-sama memberi masukan satu sama lain bukan hanya persoalan kelengkapan busana prodiakon, misalnya symbol salib di bagian bawah samir, perlu tidaknya menggunaka tali singel dan lain sebagainya, akan tetapi dengan penuh tajam dan jeli memberikan komuni pada umat yang belum saat atau layak menerima tubuh Kristus”. Pintanya dengan tegas.

    Bapak Rafael juga mengharapkan bahwa “meskipun tali singel dan Samir sebagai pelengkap Alba prodikon, tetap dilihat pakain ini sebagai nilai-nilai yang sangat mendalam kewibawaan seorang pelayan utusan Tuhan yang hadir di tengah umat dengan identitas dan tampil beda”. Pungkasnya dalam mendukung usulan dan masukan dari prodiakon lain perlu tidaknya memakai atribut tambahan.

    Baca Juga: Tari Jonggan Sambut Peserta Rapat SIGNIS ke-48 di Anjongan, Kalimantan Barat

    Menurut Dosen Sospol UGM ini bahwa “kita sudah bersedia menjadi pelayan, maka tetaplah setia memakai busana liturgis prodiakon yang pantas, wajar dan sesuai”. Usulan inipun dikuatkan oleh pendamping rekoleksi tentang busana liturgi yang bermakna dan bernilai kerohanian mendalam.

    Setelah usa sharing demi sharing, rangkaian rekoleksi ini ditutup dengan perayaan ekaristi meriah dan maka siang bersama di Novisiat MTB. Semuanya penuh gembira sebagaimana yel-yel awal pertemuan yang dibawakan oleh Bapak Ratno dalam ice breaking “Prodi Pringgo, Semangat!!, Melayani”!! Penuh Hati!! ”Bagi Kemuliaan!!” Akhirnya, semoga tema yang disusung “On Going Formation Prodiakon” menjadikan Prodiakon bisa menghidupi liturgi dengan bijaksana dalam tugas pelayananya tiap hari, baik dalam lingkup gereja, wilayah dan lingkungan. Bravo Prodiakon.

    Berjalan Bersama untuk Bersaksi

    Panitia Penyelenggara ikut memeriahkan Dies Natalis Pendikkat ke-60 – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Yogyakarta – Peziarahan iman umat Kristiani sampai detik ini tak akan perrnah padam sinarNya. Para pengikutNya tetap bercahaya dan bersaksi, bahwa Yesus lah jalan keselamatan menuju istana keabadian ketika kita berpaling dari dunia ini. Pernyataan reflektif ini menggugah semua orang yang terpesona dan terpikat  cara Yesus menarik orang untuk ikut di jalan terang kasihNya.

    2000 tahun lalu dua belas muridNya sudah memberi contoh dan teladan dari berbagai pengalaman mereka ketika ditangkap oleh Yesus. Misalnya saja panggilan Petrus dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Yesus mengatakan kepada Simon Petrus: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Matius 4:19). Ini adalah awal mula kisah Simon Petrus mengikut Yesus. Yesus memerintahkan Petrus untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai penjala ikan untuk menjadi penjala manusia.

    Baca Juga: Kardinal Cantalamessa: Ekaristi sama ekstensifnya dengan sejarah keselamatan

    Dalam perkembangan Gereja,  muncullah aneka cara hidup orang beriman untuk semakin mendekatkan diri dengan Yesus. Ada panggilan umum dan khusus. Panggilan umum ini mereka yang berkeluarga sebagai Gereja mini. Dari rahim mereka inilah meneruskan warisan iman kepada anak-anaknya. Sedangkan panggilan khusus adalah mereka yang mau hidup selibat untuk secara khusus menjadi seorang imam, suster, frater dan bruder mengabdi Allah dengan  penuh sukacita. Baik panggilan umum maupun khusus sama sama untuk mengabdi dan memuliakan dalam ruang yang beda.

    Panggilan Yang Unik

    Dari aneka panggilan yang ada, ternyata belum banyak yang melirik secara jeli  bahwa dalam perkembangan Gereja Katolik  hingga saat ini, yakni: panggilan ‘’Katekis”. Mereka inilah yang disebut  guru agama yang secara khusus dipakai oleh Allah untuk membantu imam dalam  berbagai kegiatan yang membuat orang bergabung dalam Gereja Katolik. Katekislah menjadi juru kunci untuk mengenal Injil itu sendiri. Dari merekalah lahir banyak orang untuk masuk dalam kerajaanNya dan menjadi keluarga Allah baru. Bahkah lewat pengajaran mereka baik di sekolah, di lingkungan menggereja ada yang terpikat menjadi religius. Berkat kekuatan kata-katanya dalam perwartaan dan  pengajaran katekesenya, sukacita Injil  mampu menghipnotis banyak orang untuk bertobat dan menerima, dan mengakui Yesus. Mereka membawa banyak orang kepada Yesus untuk di selamatkan dan mengakui Yesus sebagai satu-satunya juru selamat dunia.

    Lahirlah Lembaga Keketik

    Untuk menjembatan antara kebutuhan umat dan pelayanan  dalam mewartakan Injil, enam puluh tahun lalu tepatnya tahun 1960 lahirlah sebuah lembaga untuk mencetak tenaga katekis yang bukan amatiran tetapi katekis akademik dan professional. Lembaga ini didirikan oleh P. Heselaars SJ sebagai Pusat Kateketik Indonesia. Lembaga ini memproduksi berbagai kegiatan-kegiatan antara lain: menerbitkan buku-buku, mengadakan panataran para guru dan ceramah-ceramah untuk kelompok-kelompok kategorial lainnya.

    Pada tanggal 1 Agustus 1962, Yayasan Akademi Kateketik Katolik Indonesia (AKKI) didirikan untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi Kateketik. Pada tahun 1968, Pusat Kateketik beserta AKKI berpindah tempat dari Jl. P. Senopati 20 ke Jl. Abubakar Ali 1, Yogyakarta. Tanggal 31 Maret 1971, AKKI berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya. Tahun 1985, Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Pradnyawidya dimulai program sarjana satu (S1).

    Kemudian tanggal 14 Februari 1995, STFK Pradnyawidya merger dengan Universitas Sanata Dharma, sehingga berubah menjadi Fakultas Ilmu Pendidikan Agama (FIPA), Jurusan Pendidikan Agama Katolik, Program Studi Pendidikan Agama Katolik. Di tahun1999, FIPA USD berubah menjadi program studi “Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik” (IPPAK) dan menjadi bagian FKIP USD.  Karena perkembangan kurikulum begitu dinamis, maka tahun 2003 IPPAK mengajukan akreditasi, mendapat peringkat A, sampai sekarang. Pada tanggal 27 September 2019 Prodi (Program Studi) IPPAK berubah menjadi Pendidikan Keagamaan Katolik (Pendikkat) hingga sekarang. Jumlah alumni yang dicetak dari lembaga ini sebanyak 1100 guru agama.

    Alumni Angkat Bicara

    Dalam menyambut Dies Natalis Pendikkat Ke 60, para alumni lintas angkatan angkat bicara. Beragam respon mereka memperkaya dan meneguhkan bagi lembaga dan para panitia yang menyelenggarkan gawe natalis kali ini.  “Bagi saya Dies Natalis Pendikkat ke 60 kali ini  menjadi saat yg tepat bagi kita untuk merayakan dengan penuh syukur kehadiran “Ibu” yang telah membesarkan kita.  Sharing Ibu  Noria dalam menanggapi acara spektakuler ini. Menurut katekis purna karya Keuskupan Agung Pontianak ini, “PRADNYAWIDYA memberikan ilmu hidup, itu yg kuakui”. “Matahatiku justru terbuka luas melihat betapa Kalimantan Barat (Kalbar)  itu Gereja masa depan. “Memahami manusia dan budaya Kalbar itu justru kudapati di bangku kuliah. Ketika berkeliling dari kampung ke kampung, semua ini menjadi bekal yg menyemangati perjalananku”. Ungkap alumni angkatan 1985 ini dengan penuh bangga.

    Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas – Kemenag Bersama Para Uskup Indonesia di Ambon, Ada Apa?

    Bagi putri Dayak Kalimantan Barat ini menilai lembaga Pendidikan sebagai muara semangat untuk hidupnya. Banyak nilai-nilai yang menghidupi ajaran para Dosen bagi mahasiswa. Bahkan sangat diharapkan tetap berkelanjutan dari generasi ke generasi.  “Ini khas kampus kita.”  “Tidak didapat di kampus lain” Puji Noria dengan nada gembira. Bagi dia para dosen yang direpresentasi oleh para imam Yesuit, kehadiran mereka ibarat seperti “gembala mengenal domba-dombanya, itu yang kukagum dari para dosenku saat itu.”  “Dan tiap orang dikenal dengan kekhasannya, didukung untuk berkembang sesuai dengan potensinya. Sungguh kubersyukur atas semua ini.”’ Kenang Wanita yang pernah diundang ke Vatikan dalam memperkenal budaya dan adat Dayak dalam Gereja Katolik Kalbar. Bagi dia filosif kata PRADNYAWIDYA, menjadi pintar dan bijak, seturut pesan Injil,  cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. “TAK PADAM SINARNYA” memberi makna pada nilai juang yang tinggi,  bahwa hidup yang indah ini dihadapkan pada aneka kondisi,  kadang seperti berada dalam sebuah gua, maka temukan secercah sinar,  yang menjadi petunjuk untuk keluar. Papar Sang Mantan Ketua Penyelenggara Filial Nyarumkop – Malang dan Pensiunan KOMKAT KAP ini dengan nada riang.

    Motivasi Memilih Pendikkat

    Suster Marlin RVM, mempunyai pengalaman unik kuliah di lembaga ini.  Pertama-tama dia bersyukur atas diadakannya Dies Natalis ke-60 ini. Bagi dia Dies Natalis kali ini begitu banyak program dan kegiatan yang sifatnya mengakrabkan dan mengikat persaudaraan sebagai Alumni, dosen dan mahasiswa yang masih kuliah aktif  di lembaga tercinta ini. Dia mengharapkan agar peran serta anggota terutama luar daerah lebih digalakan terutama pendataan dan program rencana awal jauh sebelum hari H, terutama pemberian penyegaran Roh katekis. Lebih menjangkau yang tidak terjangkau. Bagi kerja keras Panitia, salut dan ditingkatkan. Pesan Religius yang saat ini sebagai Pembina Asrama di pedalaman NTT. “Motivasi saya belajar di lembaga ini amat sederhan dan tidak elegan.” Yang utama adalah belajar budaya dan karakter dari budaya lain selain di dalam daerah sendiri (NTT) juga program reach out RVM belum dikenal di daerah luar Nusra & Bali. Pemberdayaan tenaga katekis menjawab kebutuhan umat yang kompleks”. Jujur Wanita Kelahiran Flores ini dengan mantap.

    Menurut alumni 2002 ini bahwa selama kuliah dulu dengan segala macam ilmu yang didapat sangat membantu dan mendukung profesinya  kita ini. “Sangat membantu yang terutama pengalaman saya adalah ketangguhan dan kegigihan menjadi pewarta kabar baik yang tanpa pamrih.” “BERIMAN, BERILMU, DEDIKASI dan BEREMPATI”. “Semua mata kuliah sangat berguna dan relevan ketika peranan Katekese Umat disesuaikan dengan budaya setempat”. Sabda yang menyatu dengan budaya, membawa perubahan dan pertobatan”. Papar Sr Marlin ini dengan sukacita.

    Baca Juga: Paskah Bersama Kepolisian Resor Mempawah, Uskup Agustinus Sampaikan Refleksi Penderitaan

    Menurutnya ada harapan bahwa melalui pesta tahun ini dapat  menjaring alumni dan  pendikkat sudah banyak hal  yang sudah dilakukannya”. “Selain itu saatnya lembaga ini lebih memperkenalkan diri melalui jejaring di setiap wilayah keberadaan alumni melalui kegiatan yang terprogram jelas tahunan atau seberapa banyak sesuai kesepakatan dan memilih pengurus dalam wilayah tersebut di setiap daerah seluruh Nusantara agar terorganisir dengan baik.” Pinta Ibu asrama Putra dan putri serta Pemimpin Komunitas dan tenaga Pastoral Paroki ini dengan nada harap.  Dia juga menggaris bawahi bahwa  kita bisa melakukan Kegiatan terprogram yang sudah dibuat oleh panitia Dies Natalis. entah temu alumni, entah penyegaran atau seminar dll disesuaikan kebutuhan.” Untuk memperlancar tentu ada iuran wajib anggota bulanan dan  Kampus Pendikkat pusat tetap menjadi Narasumber dan promotor dalam kegiatan ini. Tandas Putri Suku Lamahelot Flores ini dengan tegas. Bagi dia ada banyak nilai-nilai yang di dapat dari lembaga ini yakni: Semangat dan rela berkorban, Tangguh dalam bersaksi dan memberikan ilmu yang dimiliki dengan pelayanan hati seorang hamba. Nilai bekerja tanpa upah, bekerja dengan upah seorang Murid.

    Tanpa Lelah Melayani Tuhan

    Raimundus Aladim, memberi tanggapan bahwa Dies Natalis Pendikkat ke-60, merupakan suatu kebanggaan dan anugerah yang luar biasa baginya. “Saya bangga karena dalam situasi zaman dewasa ini, lembaga ini masih terus eksis dan selalu memberikan warna dalam karya pelayanan Gereja Katolik di Indonesia.” Kata Alumni 2001 ini dengan penuh haru. Lanjutnya “selain itu moment ini sebagai anugerah yang luar biasa bagi saya secara pribadi bisa menjadi bagian dari lembaga ini.” “Hal ini memberikan motivasi khusus untuk terus tanpa lelah melayani Tuhan di zaman sekarang yang semakin banyak rintangan dan tantangannya. Pungkasnya dengan nada riang. “saya mengharapkan mendapatkan out put atau hasil dari kegiatan Dies Natalis ini apapun bentuknya sebagai bekal bagi saya dalam karya pelayanan yang sedang saya jalani saat ini. Pinta Aladim guru agama SMAN 01 Putusibau Kalbar ini dengan mantap.

    Motivasi yang mendorongnya kuliah di lembaga ini adalah: ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan memiliki ciri khas Katolik yang kuat, ingin menjadi guru agama atau katekis yang memiliki spiritualitas dan kompetensi yang mumpuni dalam karya pelayanan Gereja dan ingin mengembangkan diri sepenuhnya sehingga dapat menemukan jati diri yang sesungguhnya dan menjadi manusia yang utuh. Baginya tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu dan semua dinamika yang dialaminya selama menjalani kuliah di lembaga ini, sangat membantu dan mendukung profesinya saat ini. “Saya yakin sepenuhnya bahwa saya menjadi seperti sekarang ini karena proses yang saya lewati ketika saya menimba ilmu di lembaga ini.”Akunya dengan polos.

    Putra Dayak Kelahiran Sejiram ini melihat bahwa banyak nilai-nilai yang kita tanamkan sebagai alumni. Baginya selama di lapangan dia sangat  berkembang dan tak bosan-bosan mencari inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan perkembangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada visi dan misi lembaga ini. “Tenaga guru agama dan katekis masih sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah karena umat yang membutuhkan pelayanan juga masih banyak.” Sharing alumni ini. Maka baginya, dia terus merawat nilai-nilai yang ditanamkan sebagai alumni yakni kejujuran, persaudaraan, solidaritas, kreativitas, semangat maju terus, dan semangat pantang menyerah.

    Dies Natalis Lebih Terasa Gaungnya

    Selain itu di lain kesempatan Br. Sigit. MSF ikut menanggapi Dies Natalis Pendikkat ke 60 bahwa, Hut kali ini luar biasa gaungnya. “Secara usia sudah dewasa dan matang”. Maka produk dari lembaga ini juga banyak produktif  tidak hanya awam tetapi juga kaum religius baik bruder maupun suster bahkan Romo.”Ujar Penyuka Olah raga THS-THM ini dengan nada serius.

    Menurut tenaga Pastoral dan Pengelola Wisma Emaus Keuskupan Tanjung Selor, Dies Natalis kali ini, menjadi kesempatan untuk refleksi bersama demi perkembangan kampus  tercinta ini Pendikkat sudah memberi banyak sumbangsih bagi perkembangan Gereja dan juga pribadi banyak alumni dan alumnus. Proficiat untuk Pendikkat yang ke 60. “Saya berharap tetap semangat dalam menjalankan tugas besar ini”. Pintanya kepada para Panitia penyelenggara.. “Semoga Dies Natalis menjangkau seluruh alumnus dan alumni  Pendikkat di manapun  berada. Syukur bisa berkumpul dalam persaudaraan yang hangat.” Pesan putra asli Menoreh Sendang Sono ini dengan tegas. Adapun motivasinya kuliah di lembaga ini. “Pertama-tama, karena saya seorang religious yang melaksanakan kaul ketaatan.” “Saya diutus untuk belajar kateketik supaya bisa berpastoral di tengah umat.” Yang kedua, secara pribadi saya sudah sejak kecil mendengar nama besar Sanata Dharma ini membuat saya bangga bisa kuliah di sini. “Tentu saja bagi saya ilmu yang saya dapat dari Pendikkat sangat berguna, sangat membantu dan menginspirasi setiap pelayanan dan perutusan saya saat ini. “Saya merasa sungguh dibesarkan oleh Pendikkat dan karenanya saya sungguh bersyukur dan berterimakasih atas bimbingan dari para dosen dan perjumpaan dengan banyak teman. Apalagi saat ini saya berkarya di Keuskupan Tanjung Selor, ini sangat membantu dan mendukung karya saya untuk berjalan bersama umat”. Ungkap penyuka makan daging ular ini dengan nada riang.

    Baca Juga: Rapat SIGNIS Indonesia ke-48 Digelar di Keuskupan Agung Pontianak

    Selain itu dia memberi masukan bagi Lembaga ini agar ditingkatkan kualitas kurikulum pendikkat, kualitas para dosen pengajar, fasilitas pendukung Pendidikan di Pendikkat, serta Keempat menjaring para calon mahasiswa yang baik, unggul dan siap dibentuk di pendikkat. Sigit pun merasa bangga banyak nilai yang dikembangkan saat ini. Dia bangga tetap menjaga nama baik pendikkat harus jaga dan mempromosikan Pendikkat keanak-anak muda lewat karya saat ini. Selain itu dia merencana untuk mengirimkan putra daerah dari Tanjung Selor dan juga anggota tarekat  religius agar bisa bergabung dengan Lembaga tercinta ini.

    Tema Dies Natalis Yang Menginspirasi

    Tema Dies Natalis ke 60 kali ini “Berjalan Bersama untuk Bersaksi” Melalui tema tersebut kita berharap dapat tercapai tujuan: Terbentuknya jejaring dan sinergi untuk menyegarkan dan mewujudkan misi berjalan bersama yang rapuh melalui aksi, refleksi  dan selebrasi. Adapun kegiatan Dies Natalis ke 60 ini adalah: Sejalan dengan tema, tujuan dan latar belakang diadakannya Dies Natalis Pendikkat ke-60, maka akan diadakan kegiatan-kegiatan untuk mengimplementasikan tema tersebut. Kegiatan Dies Natalis ini mencakup tiga kegiatan besar yaitu: Aksi, Refleksi dan Selebrasi.  Kegiatan bersifat tawaran, maka masing-masing korwil menyesuaikan dengan kebutuhan dan situasi setempat.

    Aksi  Yang Nyata

    Aksi akan dilaksanakan sebelum puncak acara Dies Natalis. Pada kegiatan aksi ini terfokus pada tiga aspek garapan: Gereja, masyarakat dan Ekologi. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan tawaran, maka dalam pelaksanaan disesuaikan dengan situasi kebutuhan masyarakat sekitar. Tiga Kegiatan yang direncakan oleh panitia adalah:  Pertama, kegiatan menggereja Gereja yakni,  Beasiswa untuk calon katekis, Kaderisasi pendamping PIA, PIR, OMK, PA,  membangun jejaring alumni, dll. Kedua, kegiatan Masyarakat dengan Donor darah, pengobatan gratis, bakti sosial, dll dan ketiga, Gerakan Ekologi: Menanam pohon, pengolahan sampah, kerja bakti lingkungan, dll. Selain itu ada hari Refleksi. Dalam kegiatan refleksi ini, ada kegiatan yang  dilaksanakan secara sentral dari pusat yaitu seminar, penulisan buku dan buku kateketik, sedangkan untuk kegiatan retret dan  rekoleksi dapat dilakukan dimasing-masing regio, dan sifatnya adalah tawaran.

    Agenda Untuk Alumni

    Dies Natalis ini sudah dirancang oleh panitia dengan baik, agar para alumni bisa hadir dan menyaksikan secara langsung maupun lewat online. Agenda tersebut yaitu: Jumat, 29 juli 2022 dengan rekoleksi sehari alumni dengan tema:  Berjalan bersama untuk bersaksi Pk 08.00 Tempat kampus Hybrid. Sabtu, 30 juli 2022 Seminar Nasional dengan tema berjalan bersama untuk bersaksi Pk 08.00 tempat auditorium kampus secara Hybrid dengan target peserta: 400 alumni.  Sabtu, 30 juli 2022 Pk 17.00-21.00. Nostalgia angkringan alumni |Nostalgia|Temu kangen, tempat kampus: Stand2 Target: 100 orang. Minggu, 31 juli 2022 Temu alumni |Semiformal |Lintas Angkatan|pembentukan pengurus Pk 08.00 -11.00 tempat auditorium kampus, Hybrid TP: 300 orang dan Minggu, 31 juli 2022 Misa syukur, Pk 11.30 Tempat auditorium kampus secara hybrid. Akhirnya “sekali Pendikkat tetap Pendikkat, Tak Padam SinarNya.”

    Anggota Signis Indonesia Hadir dalam Festival Gawia Sowa di Jagoi Babang

    Gawia Sowa- Jagoi Babang (Foto ini adalah Suku Dayak Sebujit)- Doc KOMSOS KAP

    Bengkayang- Anggota Signis Indonesia beserta para Observer yang telah selesai melaksanakan sidang tahunan ke 48 di Wisma Rumah Retret Santo Yohanes Paulus II Anjongan, bersama Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak, menyaksikan secara langsung acara gawai suku Dayak Bidayuh sekaligus menyaksikan peresmian Boli Panggah Bupokat Kampung budaya Bung Kupu’ak, Kabupaten Bengkayang. Acara pembukaan diresmikan oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis SE., MM, pada Jumat 3 Juni 2022.

    Hadir dalam acara tersebut Uskup Keuskupan Agung Pontianak, sejumlah pejabat pemerintah provinsi, Bupati dan Wakil Bupati Bengkayang, Ketua Tim penggerak PKK Kabupaten Bengkayang, Ketua dan beberapa anggota DPRD, Ketua DAD Kabupaten Bengkayang, Camat, tokoh adat dan masyarakat.

    Baca juga: https://www.majalahduta.com/2022/06/rd-anthonius-steven-l-ajak-jalan-bersama-menuju-kemandirian-finansial-dalam-rapat-signis-indonesia-ke-48.php

    Gawia Sowa merupakan ritual ucapan terima kasih atas panen serta limpahan rezeki yang diterima.

    Dalam sambutannya, Bupati Bengkayang mengatakan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang terus mendukung agar kedepannya acara ini bisa dibuat lebih atraktif, dan melalui instansi terkait, pemerintah juga memiliki komitmen yang kuat untuk terus mendorong dan memberdayakan potensi yang ada agar tetap lestari dan dapat dimanfaatkan perekonomian masyarakat Jagoi Babang dan sekitarnya.

    Bung Kapuak dinobatkan sebagai kampung adat terpopuler pada tahun 2019 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

    Pastor Babey, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Denpasar Bali mengungkapkan bahwa mereka tidak pernah menyangka akan menyaksikan pesta panen yang luar biasa menakjubkan dan bisa membuat merinding saat menyaksikan ritual adatnya. “Tradisi yang bisa menyatukan banyak orang seperti ini sayang jika diabaikan. Bukan gawai biasa, tetapi menyatukan kita dari berbagai wilayah bahkan anggota Signis dari seluruh Indonesia hadir menyaksikan acara ini.”

    Kunjungi: https://www.instagram.com/komsoskap/

    Di kesempatan yang sama, Pastor Renaldo, dari Komsos Keuskupan Agung Jakarta mengingatkan kaum milenial untuk tidak lupa bahwa Indonesia terlahir dari suku-suku dan adat yang ada di dalamnya. Hal ini menurutnya menjadi kekayaan Indonesia.

    “Upacara adat yang luar biasa ini tidaklah banyak lagi, dan salah satunya ada di sini dan patut kita pertahankan.”

    RD Anthonius Steven L. Ajak Jalan Bersama Menuju Kemandirian Finansial dalam Rapat SIGNIS Indonesia ke-48

    SIGNIS INDONESIA - RAPAT ANGGOTA SIGNIS INDONESIA KE 48 DI KEUSKUPAN AGUNG PONTIANAK

    Mempawah – Cahaya dari timur perlahan muncul dan waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Keramaian perlahan mulai memecah keheningan di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan (31/05).

    Terdengar sapaan, “selamat pagi,” saling bersahut-sahutan di sepanjang perjalanan dari penginapan ke ruang makan. Para peserta diikuti panitia lokal berbondong memasuki ruang makan dengan letupan keceriaan yang menyapa siapa pun yang berpapasan. Hari ke-2 Rapat SIGNIS Indonesia ke-48 akhirnya pun dimulai dengan sarapan bersama pada pukul 07.00 WIB.

    Usai menyarap, peserta diajak berkumpul untuk mengabadikan momen di beberapa titik foto di Rumah Retret St. Johanes Paulus II, Kec. Anjongan, Kab. Mempawah, Kalimantan Barat.

    BACA JUGA: https://www.majalahduta.com/2022/05/tari-jonggan-sambut-peserta-pertemuan-signis-ke-48-di-anjongan-kalimantan-barat.php

    Mata yang silau akibat cahaya matahari tidak menyurutkan senyuman dan tawa para peserta.

    Tidak cukup dengan kamera panitia, tangan-tangan peserta pun ikut menyodorkan handphone pribadinya seolah ingin langsung memamerkan momen kebersamaan itu kepada yang lain.

    Beberapa menit sebelum waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB, peserta diarahkan menuju ruang rapat untuk memulai agenda Hari Studi.

    “Rapat anggota tahunan kali ini agak unik, tidak dibuat seperti sebelum-sebelumnya. Salah satu yang baru adalah Hari Studi,” jelas RD. Anthonius Steven Lalu, Ketua Badan Pengurus SIGNIS Indonesia dari Keuskupan Agung Manado.

    Ia mengaku mengadaptasi kegiatan baru ini dari rapat SIGNIS Asia. Namun, berbeda dengan SIGNIS Asia yang mengadakannya hingga tiga hari, Hari Studi dalam Rapat Anggota Tahunan SIGNIS Indonesia ke-48 ini dilakukan dalam satu hari yang terbagi menjadi tiga sesi.

    “Tapi kalau SIGNIS Asia malah Hari Studinya lebih panjang yaitu tiga hari, business meeting-nya cuman satu hari. Kita coba pelan-pelan mengadaptasi supaya ada peningkatan kapasitas untuk semua,” lanjutnya.

    Sembari menunggu narasumber bersiap, sebagai moderator, RD. Anthonius Steven Lalu yang kerap dipanggil Romo Steven mengawali kegiatan dengan sharing seputar rapat SIGNIS Indonesia ke-48 ini. Salah satu yang dibicarakan yaitu mengenai tema rapat.

    Romo Steven bercerita, “Bertahun-tahun kita di komsos kalau bertemu, banyak yang mengeluh tentang dukungan finansial. Inilah latar belakang terbentuknya tema rapat tahun ini.”

    Seturut dengan tema Rapat Anggota Tahunan SIGNIS Indonesia ke-48, “Berjalan Bersama Menuju Kemandirian”, Romo Steven mengajak para peserta untuk berjalan bersama menuju kemandirian finansial.

    Menjawab keresahan tersebut, SIGNIS Indonesia menghadirkan tiga pemateri yang mengisi tiga sesi pada Hari Studi, antara lain:

    1. Bernadetta Widiandayani selaku Sekretaris SIGNIS Asia,
    2. Pastor Yustinus Nana Sujana, Osc., seorang imam yang berpengalaman dalam hal fund-raising, dan
    3. Frangky Parengkuan, , MM., AWM., CRGP., AEPP, seorang Business Coach.

    BACA JUGA: https://www.majalahduta.com/2022/05/dibuka-rapat-signis-indonesia-ke-48-di-keuskupan-agung-pontianak.php

    Lewat tiga narasumber dengan tiga solusi yang berbeda, para peserta diharapkan dapat merenungkan, bersyukur, serta berani menginisiasi langkah perubahan demi terciptanya kemandirian finansial.

    Sebelum mempersilahkan narasumber mengambil alih, Romo Steven mengingatkan peserta, “Jangan lupa kita bergembira dan bersukacita!” – *Mel

    Tari Jonggan Sambut Peserta Rapat SIGNIS ke-48 di Anjongan, Kalimantan Barat

    Tarian Jonggan Sebagai Tarian Pembukaan Signis Indonesia ke 48 di Keuskupan Agung Pontianak

    Mempawah – Matahari mulai menunjukkan waktunya untuk mengakhiri hari, di waktu yang sama juga terlihat enam gadis mengenakan pakaian merah-merah dan selempang gaun nan lembut didampingi dua pria gagah dengan berkalungkan gigi taring di leher nya.

    Satu dari lelaki itu mengenakan senjata Tangkit’n (senjata berbentuk parang yang digunakan untuk perang ataupun berladang), sementara lelaki yang satu membawa persembahan lengkap dengan beras yang siap ditabur untuk menyambut sang tamu kehormatan.

    Kunjungi juga: https://www.instagram.com/komsoskap/

    Tamu kehormatan yang dimaksud yaitu anggota rapat tahunan SIGNIS Indonesia ke-48 yang diselenggarakan di Keuskupan Agung Pontianak persis di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan.

    Dalam momen itulah Presiden SIGNIS Indonesia, RD. Anthonius Steven Lalu beserta seluruh peserta sebanyak 30 orang, diantaranya 22 imam dan 8 orang perwakilan disambut dengan tarian khas Dayak Kanayatn wilayah Kabupaten Mempawah.

    Khas dari Suku Dayak Kanayatn Bukit  

    Orang Muda Katolik se-Paroki St. Christophorus Sungai Pinyuh mempersembahkan tarian Jonggan untuk menyambut kedatangan peserta pertemuan SIGNIS ke-48.

    Sebelumnya para peserta telah disambut langsung di Bandar Udara Supadio dengan pengalungan syal kain tenun khas Dayak Kanayatn Kalimantan Barat.

    Setiba di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan, sambutan turut dimeriahkan dengan tarian Jonggan.

    Tarian Jonggan merupakan salah satu hiburan masyarakat yang telah menjadi tradisi asli kebudayaan masyarakat Dayak Kanayatn.

    Nama Jonggan sendiri diambil dari Bahasa Dayak Kanayatn sub bahasa Ba-Ahe yang berarti ‘joget’ atau ‘menari’.

    Baca juga: https://www.majalahduta.com/2022/05/dibuka-rapat-signis-indonesia-ke-48-di-keuskupan-agung-pontianak.php

    Jonggan biasanya ditarikan  oleh para wanita Dayak Kanayatn yang kerap disebut sebagai ‘We Jonggan’.

    Gerakan dalam tarian ini menggambarkan rasa syukur dan suka cita masyarakat Dayak Kanayatn. Salah satunya adalah syukur atas panen padi yang melimpah pemberian Jubata atau Tuhan dalam acara adat Gawe Naik Dango.

    Sebagai bentuk syukur dan suka cita yang diiringi oleh alunan musik tradisional dengan lagu Jonggan berjudul “Male’en” maka dilampiaskanlah dalam gerak menari dan berjoget bersama.

    Tarian penyambutan  ini merupakan sebuah tradisi penting dalam menyambut tamu apabila berkunjung ke tanah Borneo terutama di tanah tempat di mana Suku Dayak Kanayatn tinggal.

    Maksud dan tujuan tarian sambutan Jonggan yaitu untuk menyampaikan tanda selamat datang kepada para tamu melalui ritual adat dan gerak tari bahwa mereka diterima dengan sangat baik.

    Tarian Jonggan sendiri terdiri dari beberapa ritual adat, yaitu ritual adat Batapukng Tawar, Natak Tarekng, dan Naburatn Baras Kuning.

    Batapukng Tawar” memiliki makna adat meminta keselamatan kepada Jubata agar para penari dan peraga adat dapat menjalankan ritual adat dengan lancar.

    “Natak Tarekng”

    Ritual adat “Natak Tarekng” atau “Pemotongan Bambu” sebagai simbolisasi membuka pagar dan bermakna bahwa para tamu resmi  secara adat memasuki tempat kegiatan berlangsung.

    Pemotongan bambu harus dilakukan dalam sekali tebasan tangkitn (sebutan untuk senjata khas suku Dayak Kanayatn) hingga bambu tersebut terbelah menjadi dua.

    Terakhir, ritual adat “Naburatn Baras Kuning” atau “Penaburan Beras Kuning” sebagai simbolisasi keberkatan dan keselamatan.

    Makna ritual tersebut untuk membersihkan jalanan dan tempat yang akan dilewati sehingga para tamu mendapatkan keselamatan dan dijauhkan dari segala hal yang menghalangi berjalannya kegiatan tersebut.

    Masyarakat Dayak Kanayatn yang menarikan Jonggan juga berharap dengan kedatangan para tamu, masyarakat Dayak Kanayatn di sekitarnya dapat beroleh berkat dari Jubata. *Mel/S

    TERBARU

    TERPOPULER