Tuesday, May 19, 2026
More
    Home Blog Page 134

    Cium Pertobatan

    Cium Pertobatan- Bruder Flavianus MTB

    Cerpen-MajalahDUTA.Com- Dony….!!!. Dony……….!!! Ada apa kamu nak???.. apa salah saya!!. Kamu tidak pernah berubah sikapmu! Dengarkan saya! Teriakan mamaku tidak kupedulikan. Aku cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Dari kejauhan saya  juga melihat papa dengan wajah kecewa.

    Dan mama lari kedalam rumah sambil menangis dengan kuat. Tapi aku tak peduli situasi di pagi itu. Yang jelas aku mau ingin lari dari rumah. Aku lebih memilih bergabung dengan rekan-rekanku ketimbang situasi dirumah bak kapal pecah. Yeahh.. Aku memang anak remaja dewasa yang ga mau diatur kayak anak kecil lagi. Omelanku menggoda temanku di mobil tertawa terbahak-bahak..

    “Haaa…Dony..Dony…Dony… kamu memang pandai akting di rumah”. Sambung Denis. “ Ngapain kamu bersikap seperti itu dengan papa dan mamamu!  Kitakan bukan anak kecil lagi! Haaa hari gini masih ada ya gaya nasehat seperti itu haaa!!!” Ejekan Tony semakin memojok perasaanku saat itu. Sialan kalian!! Busyet!!! “Sudahlah pokoknya gua mau bebas kayak kalian!!.

    Ketika malam hari aku pulang ke rumah lagi, dan keluarga tetap dengan ramah mengajak  aku untuk makan bersama di malam itu. Saya begitu lahap dengan menu yang disediakan oleh mama.

    Baca Juga: Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Arta Khatulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu (USA)

    Tetapi rasanya ada yang ga beres dalam kebersamaan dengan mereka. Menu mie pangsit pun terasa pahit bagiku. Sungguh ada yang ga beres dengan orang tuaku. Aku terlalu egokah? Pikirku dalam hati. Tetapi mengapa papa memandang saya dengan tatapan menuduh?  Sadis benar sih Papa nih! Bathinku saat itu sambil melirik ke piring adik sebelahku. Mengapa tak ada satu katapun yang keluar dari papa kalau saya sedang mengecewakan mereka?

    Papa sepertinya  diam dengan penuh misteri. Aku pikir biarlah papa dan mama semakin jauh dariku. Untuk apa saya menikmati malam bersama keluarga tak ada satu senyum pun yang bisa menghiasi menu di malam itu. Aku semakin cuek dan sepertinya memang sengaja aku acting tidak peduli dihadapan mereka.

    “Papa dan mama nih ga ngerti dengan perasaanku”. Aku dikekang kayak penjara aja nih hidup ini.

    Papa selalu mengintip saya dari bilik tirai saat saya asyik tidur-tiduran di sofa. Sambil tertawa ria  aku chating dengan teman-temanku, untuk mengimbang kejengkelan terhadap sikap papa. Sepertinya papa terasa jauh dari hadapanku.

    “Bro… Dony.. Let’s go boy!!” Teriakan satu team basket memanggilku dengan gembira di pagi itu. Oke boy!! Da.aa Papa.. da.aaa Mama saya pergi lagi. Tiap hari kerjaku hanya kumpul dengan teman-teman tanpa memikirkan bagaimana masa depanku nanti.

    Baca juga: Preman Berbaik Hati

    “ Hari itu juga semaki lesu semangat hidupku! Aku kecewa dengan teamku! . Masa competisi basket kali ini kalah lagi! Pada hal persiapan kita udah satu tahun. Wahh kalian mematahkan semangatku coi… tulis statusku di twitter, mengundang kicauan miring dari dari teman-temanku.

    Doorr!!… gebrak!!… ini sudah tengah malam Dony!!!. Jam segini orang sudah tidur terlelap dari kerjanya!!  Malahan kamu asyik dengan Handphone tanpa menghiraukan papa lagi!” Mulai sekarang tidak ada lagi makan di tengah malam. Kata-kata papa seperti sambaran petir ditelingaku. Entah setan apa yang menggodaku malam itu aku langsung mendorongnya sekalian  melemparkan semangkok nasi panas ke mukanya.

    Anak durhaka kamu ya!! Keluar!! Dan jangan ada tampang muka kamu lagi di rumah ini!!” aku cepat lari dan lompat lewat jendela belakang rumah dan untungnya ada temanku yang bersedia tumpangan  bagiku dimalam itu.

    “Huhhh…..Kalau ga konflik seperti ini, belum tentu aku kuat menghadapi masalahku”. “Aku juga tidak tahu memecahkanya! Keselku sambil menghirup sebatang rokok kesayangaku saat itu. Ya, aku ga bisa tidur hingga pagi memikirkan kemarahan papa. “Bakalan ga kulupakan selamanya, dari peristiwa ekstrem ini!!!”” Terikan suaraku begitu meggema hingga temanku terbangun dari lelap tidurnya di saat itu.

    Aku harus mandiri!!! Aku tidak mau merepotkan mereka lagi. Saya berjanji demi rasa kehormatan sebagai remaja yang bertanggung jawab atas hidupku. Keesokan harinya aku berangkat kerja. Ahh.. kerjanya dibangunan hotel gini, aku tidak suka !! Kesalku sambil mengepalkan tangan didadaku. “Tuhan jangan menguji aku  dong! Mengapa memberikan pekerjaan seperti ini!!  Lepaskan aku dari derita ini!

    Gugatku pada Tuhan di pagi itu. Jujur bahwa  aku ingin  suatu tantangan baru sesuai dengan kemampuaku. Aku merasa ga nyaman pekerjaan seperti ini. Dan ini  bukan pilihanku. Aku sebenarnya di dunia panggung hiburan. Dunia entertaitment. Entah kenapa nasibku bisa berubah seperti ini. Tetapi saya tetap bersyukur kepada Tuhan karena hampir setahun saya menikmatinya meskipun hati saya bercokol atas nasibku ini. Cetusku sambil membolak balik album kenangan bersama keluarga besarku.

    Suatu hari, saya mengalami despresi. Aku mulai membayangkan kasih sayang papa dan mama di masa kecilku. Aku merindukan lagi bagaimana Papa seorang dokter yang penuh perhatian kepada saya.

    Aku ingin lagi  papa yang setia mengajar saya berjalan, lari, hingga menjadi  driver yang smart. Kenangan itu menjadi kilas balik yang tidak bisa terulang lagi. Saat itulah saya baru sadar kalau saya jatuh dari hotel lantai 5  dan saya memang posisi di Rumah sakit kala itu.

    “Tidak! Tidak!! Oh no!! “Tidak dokter!” Saya tidak mau hidup seperti ini!! Aku tidak siap menerima penderitaan ini!!. Ketika dokter dan perawat meninggalkan aku sendirian di kamar, aku berjuang sekuat tenaga untuk melepas infus yang mengganggu aku untuk bernapas.

    “Aku mau mati dok!! Saya tidak mau mengecewakan orang yang mencintaku selama ini!!. Papa… mama… dimana kalian!! Kalian jahat!!! Kenapa kalian melahirkan saya dengan menderita seperti in!!i. Setiap pagi saya diteraphi oleh dokter untuk bisa berjalan normal seperti biasa, namun sakitnya luar biasa, seperti sendi terlepas semua dari sambungan otot kakiku.

    Baca juga: Paguyuban Wartawan Katolik Anugerahkan Tropi Terima Kasihku KepadaMu kepada Ketua KPK H Firli Bahuri

    Sungguh Tuhan menguji saya dengan menderita seperti ini. Apakah Sakitku ini sebagai awal pertobatanku?. Apakah melalui derita orang baru bertobat? Gumulku dalam hati sambil mata memandang kosong di rumah sakit saat itu. Makanan yang mama bawa pun saya tidak menyentuhnya. Pulang kalian!! Pulang!! Saya tidak butuh kasih sayang kalian!!.  Biarkan aku sendiri di sini!! Aku melihat mama dengan air mata berlinang dan tak  bisa dibendung lagi untuk merangkul aku. Aku terasa  sekali dekapan dan sentuhan tangan mama, seolah-olah  tidak mau saya menderita berkepanjangan di Rumah sakit.

    Kira-kira pukul 09.00 pagi, tiba-tiba ada lelaki yang begitu kuat menggedong saya dan mengajar saya untuk berjalan perlahan-lahan. Aku berteriak dengan keras jangan lakukan itu.

    Mendingan racuni aku supaya saya tidak hidup seperti ini. Aku digendong dari rumah sakit hingga merebah tubuhku di kamar yang begitu lama aku tinggalkan. Lelaki itu ternyata papaku. Teriakanku semakin kuat hingga Papa tidak mau lepas tanganku dari dekapannya.  Please.. papa lepaskan aku dari genggamanmu!!. Papa… Mama…. !! aku minta maaf!!. Aku berjalan terseok-seok  menuju meja makan.

    Menu itu ternyata menyadarkan saya kalau hari itu adalah hari kebersamaan keluarga besarku. Menu Sam sip puam adalah menu yang istimewa dalam perayaan hari itu Pa.ma.. Akong.. Ama… kakak adik makan ya. Maafkan aku untuk segalanya . Hari itu menjadi sukacita yang terbesar dalam hidupku dan memang di hari Imlek itulah aku merasa sukacita kasih sayang Tuhan dan Orang tuaku.  “GONG XI FA CAI”  ke 2566 ya Papa dan Mama”. Ku cium tangan mereka dengan penuh cinta kasih, sebagai cium pertobatan dan cinta kasihku pada mereka.***

     

    Perjumpaan Hati Sebagai Jalan Keindahan

    Foto: Perjumpaan Hati Sebagai Jalan Keindahan- Bruder Flavianus, MTB

    MajalahDUTA.Com-Suasana terasa teduh,  penuh khusuk dan khidmat di Audotorium Pendikkat-USD, Yogyakarta, Minggu (31/7/2022). Empat penari dari mahasiswa mengiring perarakan 16 imam dan 1 diakon MSC  menuju altar diriingi oleh alunan musik khas gamelan semi kontemporer.

    Para kaum berjubah ini diundang khusus oleh panitia,  baik romo dari Kevikepan Barat dan Timur Keuskupan Agung Semarang, para imam alumni Pendikkat maupun  imam SJ selaku dosen di lembaga tersebut. Suara koor yang merdu, semakin mendukung suasana saat itu. Perayaan ekaristi tersebut, sebagai puncak Dies Natalis Pradnyawidya-Penddikat USD ke- 60.

    Rm. Yohanes Dwi Harsanto Pr, selaku selebaran utama, mengungkapkan rasa bangga lembaga pusat katekik ini berdiri, sebagai produk tenaga katekis yang handal dan bermutu.  “Kita bersyukur kepada Allah, karena melalui kampus tercinta ini,  menghasilkan para katekis (guru agama Katolik) yang profesional dalam bidangnya, baik dalam mengajar dan mendidik umat berkatekese maupun mengantar orang (inisiasi) untuk mengenal Kristus dalam Gereja Katolik.

    “Saya percaya banyak lulusan yang sukses, nyatanya banyak yang hadir dengan usia yang masih produktif dan penuh semangat.” Puji Harsanto dalam homilinya di hadapan 300 peserta yang hadir.

    Selain itu Bpk. Albertus Magnus Adiyarto Sumardjono, S.E. M. Hum Plt. Selaku Ditjen Bimas Katolik Kemenag RI ikut hadir dalam acara yang spetakuler ini.  “Tempat ini begitu indah, karena  hari ini kita mengalami sebuah perjumpaan langka saat ini, yakni: perjumpaan hati”. “Kitab bisa berbagi dan sharing bersama tentang pengalaman apa saja dalam hidup ini”.

    Di saat pandemi ini kita masih bisa bertemu dan saya bersyukur lembaga ini bisa menyelenggarakan sebuah kegiatan, dengan prokes ketat dan cermat.” Bagi saya perjumpaan langsung tetap beda.”

    “Selain itu, saya merasa  ikatan emosi tatap langsung begitu kuat, karena respon realistis yang terjadi saat ini, suka tidak suka maupun tidak tahu harus bersahabat dengan pandemi ini”.  “Semoga Dies Natalis ini, kita saling meneguhkan dan bersinergi dalam bersaksi tentang hidup ini. “Ayah saya pensiunan dosen USD. “Sejak kecil saya sudah mengenal tempat ini, ayah saya selalu membawa saya di lembaga ini, maka ruang perjumpaan ini sebagai kenangan indah bagi saya”. Kata Bpk. Albertus Magnus Adiyarto Sumardjono dengan disambut tepuk tangan meriah dari para alumni.

    Aurea Retno Dewanti Retno, selaku ketua paniti sangat gembira. “Saya berterima kasih kepada lembaga ini, para panitia dan donator yang mendukung kegiatan Hut ini sejak 29 Juli  sampai hari ini berjalan dengan lancar”. Di depan 300 peserta yang hadir Retno mengapresiasi kerja keras mahasiswa  HIMKA dan dosen Pendikkat yang tidak patah semangat dan tak padam sinarnya.

    Ketua umum ikatan Alumni Pendikkat terpilih Nikolas Saragih, S.Pd, mengatakan;  “Senang bisa mengikuti acara ini dan lebih-lebih dipercaya untuk menjadi ketua umum ikatan alumni. Hal ini juga dikuatkan oleh ketua Alumni USD,  Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D. “Salah satu  dukungan mutu sebuah lembaga adalah membangun jejaring  kuat dengan alumni”. Kata Sarkim dengan bangga. “Mereka sebagai jembatan bagi kita. “saat ini beberapa alumi sudah membentuk ikatan alumni di regio masing-masing baik di Sumatera, Jawa, Nusra  sampai Papua. “Bangga kita satu keluarga besar Universitas Sanata Dharma”. “Bila mengunjungi untuk sekedar ngopi dan ngobrol, sudah ada lho space khusus buat alumn”.

    Ajak Dekan Sekaligus ketua ikatan Alumni USD ini, sambil mempromosi kaus kampus untuk penggalangan dana pendidikan di USD Yogyakarta. .

    Hadir juga Wakil Rektor I Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D  mewakili  Romo Rektor Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D. “Mohon maaf, Romo Rektor lagi di Amerika, maka saya mewakili beliau untuk ikut memberi apresiasi prodi ini, “Saat masuk di tempat ini, saya sedikit bingung kog  ada kata tulisan Pradnyawidya”.

    Setelah dijelaskan oleh Romo Ruky selaku Kaprodi Pendikkat, ternyata lembaga ini mempunyai sejarah nama yang begitu banyak”. “Semoga perjumpaan  dalam dies natalis ini, tidak hanya sampai di sini saja, akan tetapi kita tetap membangun jejaring demi keutuhan relasi kita di mana saja kita berada sebagai keluarga besar yang berhumanis dan cerdas di USD tercinta”. Tutup Sudi Mungkasi dengan mantap. Semoga kebergegasan dalam gawe ini   menjadi kenangan yang indah untuk dikenang.  Mari kita terus “Berjalan Bersama untuk Bersaksi” sebagai jalan keindahan dalam ziarah hidup ini. ***

    Preman Berbaik Hati

    Bruder Flavianus MTB- foto Ilustrasi Cerpen

    Cerpen-MajalahDUTA.Com- “Seharian aku mencari kost, semuanya ditolak bang,” Kata Boy mengawali percakapan  di malam itu.

    “Terus apa urusan dengan saya?” Sahut Tino dengan nada tidak bersahabat.  “Lho… kamu khan udah lama kuliah di sini bang!”

    “Bagi saya, tidak ada satu kesan yang menarik,  bahwa abang mau membantu saya!” “Apa aku harus balik ke daerahku?” Timpa Boy sambil menendang lemari pakaian yang sudah tidak layak di pakai lagi.

    Malam itu Boy tidak bisa tidur. Ia gelisah karena sudah satu bulan menumpang di tempat tinggalnya Tino, yang sudah lama kuliah di kota itu. Ia merasa malu dan tidak tahu bagaimana caranya agar segera mendapat kost sehingga ia bebas dari pergumulan diri sebagai mahasiswa baru di kota itu.

    Pagi-pagi pukul 07.30 wib, Tino bangun cepat-cepat. Dia tidak biasanya bangun awal. Pada hal sebelum pandemic covid 19, dia malas bangun. Untung saja kuliah online. Tidak semestinya harus buru-buru mandi dan sarapan. Belum lagi sibuk mengambil makalah yang sering dititipkan di tempat  foto copy langgananya.

    Sambil menikmati secangkir kopi kapal api dan mengisap rokok elektrik (baca: vape) kesukanyaa, tiba-tiba ia melihat Boy dengan tidur pulas. “ Hemm… sedang mimpi apa  dia ya?”  Bathin Tino sambil membuka pesanan  di grup WhatsApp melihat teman-teman yang sudah registrasi ujian skripsi  di tengah pandemi.  Tino semakin bingung. Skripsinya sudah lama, tidak ada lagi respon dari dosen pembimbingnya. Entah bab berapa saja yang harus diperbaikinya lagi.

    “Woy….., bangunlah sekarang! “ Sudah jam 10.. Boy?”. Pinta Tino dengan nada jengkelnya. Tino pun  sedikit tidak fokus antara memperhatikan Boy atau  sedang galau, karena teman-temannya hampir 80 % sudah mau pendadaran alias ujian skripsi. Tangan Tino tidak karuan mengotak atik jarinya di depan laptop yang hampir warnanya berubah jadi orange. Maklum kamarnya tiap hari membakar dupa dan kemenyam dari produk kapitalis perusak paru-paru dan ekologi.

    “…Wuah…ahh… segar rasanya udara pagi ini?”  teriakan Boy ini  tidak mengagetkan Tino. Boy pura-pura memuji kamar tidur mereka yang berukuran 3×2 meter persegi. Lantaran asapnya seperti sedang mendupa sang dewi fortuna.  “Boy sering  begitu ya, kalau bangun pagi mirip kicau love bird yang berkicau 24 jam karena belum ada yang kencan neh?” Nada canda dan rayuan Tino tidak memancing Boy untuk memperlebar ruang  berdebat mengapa harus terlambat bangun pagi di saat itu.

    ***

     “Bang Tino?” Sapa Boy dengan ramah. “Apa lagi topik hari ini?” Tanya Boy sambil menikmati secangkir kopi susu buatan Tino. “Bang kemarin saya lewat depan kost, ada nada sumbang yang membuat saya tidak mau ceritakan kepada abang”. Kata Boy sambil menatap Tino dengan serius. “ Maksudnya apa sich?” Sahut Tino dengan tidak sabar. “Aku ingin bicara bang!” Pinta Boy dengan nada serius. “Saya sudah tiga bulan tinggal di tempat abang!” “Sudah terlalu lama buat aku bang”.

    “Selama ini abang sudah membantu saya lebih dari yang saya pikirkan”. Jujur  Boy tentang kebaikan Tino. “Barang kali ini saatnya, saya membuka cerita!” Agaknya sich menyinggung perasaan abang?” “Tapi lebih baik saya jujur apa adanya!” “Dari pada menyiksa bathin bang!”

    Tino tidak gubris dengan kata-kata yang keluar dari lelaki berkumis tipis itu. Karena dia tetap konsen dengan skripsinya yang belum tahu kapan selesainya. Tino tidak tertarik dengan namanya isu berbau  LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) feminisme dan maskulinitas dibahan berduan.  Bagi dia topik itu buang jauh jauh dari otaknya. Boy mendengar gosib pemilik kost, bahwa mereka dua adalah sepasang kekasih yang sudah melanggar norma masyarakat sebagai anak-anak kost pada umumnya. Alias pasangan gay.

    Kurang lebih 30 menit Boy menceritkannya. Tak satu katapun yang keluar dari Tino. Tino membisu dan sekali lagi isu itu tidak menarik untuk meresponnya. Bahkan menanggapi isu yang tidak jelas baginya.  Ibarat bunyi guntur di siang hari. Tidak tahu  dari mana getaran dasar suaranya.  Akan tetapi, dalam hati ia memuji atas kejujuran Boy dalam mengungkapakan perasaanya apa yang menjadi pergumulan dirinya tinggal bersama Tino. Cuma Tino, pura-pura tidak mau bahas lebih luas lagi apa yang terjadi dengan berita tersebut. “..

    “Hemm hari gini masih percaya berita hoaks ya?… Eh Boy.. cerdaslah secara intelektual!”  “Pagi pagi  gini,  bikin abang naik tensi aja lho!”  “Topik kamu tuh bikin abis energi positif dalam diriku lho! “Kalau ga benar ngapain ditanggapi! “ Titik !… “Mulai hari ini jangan bicara sensentif gituan dengan saya!” “Ruang tidur orang  kog diatur oleh tentangga!”  “Kalau ga benar ya diam saja kan?” “Habis Perkara!” Tino mengisap sebatang rokok L.A Menthol dengan menghirup kuat kuat. Dia  tidak bisa menerima  obrolan di saat itu.

    ****

    “…Gubrak..!!” bunyi meja setinggi lutut kaki dari hadapan Tino. Boy kaget dan takut. Karena Tino sebelumnya tidak seperti itu. “Abang marahkah!”. Sahut Boy dengan penuh keheranan. “Sekarang kamu mandi cepat!” Perintah Tino dengan tegas. Boypun dengan segera menikmati dua ember air yang bisa menyegarkan pikirannya, karena  pagi pagi sudah mendapat kopi pahit. Rupanya kejujuran itu bisa membuat masalah baru bagi Boy. Tino dengan Boy, diam sepanjang hari. Mereka tidak saling sapa. Siletium magnum.

    Mereka seharian bermotor tanpa berbicara, sambil mencari kost yang pantas buat si Boy. “Jangan menyentuh aku!”  Pinta Tino dengan tegas. “Bang ada apa sich?” “Awas jatuh lho?” Goda  si Boy sambil melirik kaca spion bagian kanan apakah Tino marah benaran terhadapnya.  “Kita enggak ada ansurasi,  jika kita mengalami kecelakaan demi sebuah kamar kost!. Tino pura-pura senyum dan sengaja untuk memancing kemarahan Boy.

    ***

     “Permisi bu!” Sapa Boy dengan sopan. “Bu mau nanya, di sini masih ada kamar kosongkah?” “Wah mas masuk aja dulu”. Ajak si ibu muda itu dengan senyum yang merekah.  Boy begitu senang. Ia  berpikir,  inilah  saatnya menikmati kost sendiri. “Saatnya saya harus keluar dari ketergantungan dengan Tino”. Bathinya sambil menatap Tino.

    “Mas, boleh saya minta KTP-nya?” pinta ibu kost dengan ramah. Selang 10 menit tiba tiba ibu kost  menghampiri mereka. “Mas… maaf ya, kami udah lama tidak menerima mas-mas dari daerah yang kami anggap mengganggu kohesi sosial kami di sini!”. “ Maksud Ibu bagaimana ya?” Timpal Boy dan Tino bersamaan.

    “Saya tidak bisa berterus terang sama kalian!”  “Jujur mas ini bukan ruang berjumpaan diskusi mas!”. Silakan mas cari kost lain!”  “Maaf ya mas, saya lanjutkan kerjaan saja!”  “Permisi! Pamit ibu itu dengan segera dari hadapan mereka berdua.

    Pada pukul 16.00 mereka lelah dan tiba-tiba bunyi menggelegar  guntur saat itu, membuat mereka ingin cepat-cepat cari tempat aman. Bunyi alam itu seakan-akan memberi isyarat kepada mereka tentang misteri kehidupan manusia di muka bumi ini dalam relasi dan bersaudara.

    Tino mengajak Boy untuk berteduh di sebuah warung yang sering mahasiswa nongkrong untuk sekedar makan bakso atau nge-teh di sore hari.

    “Boy,.. kamu mau makan apa?” Pinta Tino dengan ketus. “Terserah apa aja yang ada bang!” Sahut Boy sambil melap dahinya yang sudah terlanjur basah kuyup dari tetesan air hujan yang mengelinding dari helem baunya Tino.

    Selesai makan, Tino mengajaknya   untuk berdikusi tentang penolakan warga terhadap Boy. “Bu permisi, boleh ga nambah kopi lagi ya? “ Ijinkan kami untuk beberapa jam di sini bu?” Pinta Tino dengan sopan. “Monggo Om… silakan, senang kog Om!” Sahut Bu Nining, sambil merapihkan tempe dan tahu bacem yang sudah menjadi jajanan murah di kota itu.

    Boy semakin bingung. “Bang kenapa ibu itu panggil Om?” “Biasanya disapa mas bang?” “Haaaaaa… haaaa!. Tino tidak gubris pertanyaan yang lebay itu. Tetapi untuk Boy tetap ingin dijelaskan apa perbedaam om dan mas bagi dia pendatang baru di kota itu. “Haaaaa…aaaa Boy! Haaaa, kamu itu aneh?” Haaaaa… gitu aja dipersoalkan?” Tino menjelaskan  bahwa kalau disapa om, biasanya tanda hormat bagi orang asing. Dan bisa saja ditelisik diri mereka yang secara fisik dari warna kulit, rambut bahkan bahasanya sudah dikategori bukan orangnya atau warganya. Boy semakin bingung dengan penjelasan Tino yang tidak masuk akal baginya.

    Tino mengajak Boy untuk semakin serius bercerita tentang penolakan terhadap Boy. Tipe Boy ini memang bukan kategori wajah yang humanis. Tetapi hatinya lembut dan ramah. Bagi Tino, Boy harus cepat menyesuikan diri di mana kita berada di muka bumi ini. Ibarat peribahasa dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Artinya hendaklah patuh pada adat dan aturan yang berlaku di tempat yang kita kunjungi/tinggali.

    Tino pun mulai menceritakan kisah yang menohok baginya dalam politik identitas di kota itu. Menurut cerita Tino, bahwa sekitar tahun 2003 di sebuah Selokan air, dekat tempat  tinggalnya terjadi sebuah konflik yang serem. Gara-gara rebut lahan parkir. Mungkin  juga mempersoalkan urusan perut.  Nyawa  sesamapun melayang tragis. “Kasihan  ya waktu itu mereka meninggal secara tidak manusiawi!”  “Seperti hewan gitu? “  Hemmm mungkin hewan masih terhormat,  kalau dibantai jika memang manusia ingin menghabis hewan itu untuk jadi lauk!” Tutur Tino sambil menatap Boy yang makin sore wajahnya makin ketakutan ada apa dengan warga yang menolaknya.

    Lanjut Tino, bahwa menurut saksi mata saat itu ada ketidakadilan kasus yang menimpa warga tetangganya. “Pokoknya saya kasihanlah Boy!”  “Usia mereka masih produktif mati sia-sia lagi!”  “Begitulah kalau sudah disemat preman, matinya pun tidak diakui sebagai bagian dari masyarakat yang layak menghuni di muka bumi ini!” Cerita Tino semakin menyakinkan Boy bahwa itu benar benar kisah nyata.    “Sure…  Boy, mereka mati tidak wajar!” Tino mengangkat kedua jarinya symbol bahwa dia tidak bohong. “Hemm… mungkin menyakitkan orang-orang yang ditinggakannya, karena tidak tahu mengapa keluarganya dicap sebagai preman dengan dibantai tanpa perikemanusiaan!” Tutup Tino, sambil mereguk kopinya yang tinggal ampasnya lagi.

    ”Bang.. kisahnya kog bikin aku penasaran?” Tanya Boy dengan mendesak supaya diceritakan ke pokok persoalan yang sebenarnya. Ketika Boy mendengar alur kisahnya,  ia juga mulai memikirkan dirinya bahkan curiga dengan Tino.  Jangan-jangan narasi yang dibagun Tino, hanya untuk mengelabui persoalan dalam diri Tino sendiri. Tino pun melanjutkan kisah pilu itu.

    Menurut Tino, di sebuah kafe, tiba-tiba ada seorang berbadan tegap menghampiri para penjaga parkir dengan tidak sopan. Mereka ini  sudah lama diberi kepercayaan mengamankan kafe 24 jam.  Si tukang pukul itu tanpa basa basi meminta KTP dengan kasar.  Jelas saja si penjaga itu takut dan heran. Karena selama 5 tahun kafe itu berdiri, tidak ada  tamu yang perilakunya jauh dari seorang pribadi yang santun dan terhormat sebagaimana tamu awam lainnya.

    Kata Tino waktu itu, demi menyelamat nyawanya ia cepat cepat lari ke dalam Kafe dan menelpon ketua kelompok mereka. Dalam sekejap ketua kelompok penjaga ini menghunus pisaunya hingga si badan tegap ini terkapar tak berdaya. Keesokan harinya peristiwa itu cepat viral di mass media dengan gambar gambar berbau kekerasan. Dua hari kemudian, ditangkaplah sekelompok pemuda yang diduga menghabis teman mereka.  Mereka dijemput dengan paksa.

    Tanpa diadili sebagaimana layaknya  praktik hukum sipil yang tepat bagi masyarakat pada umumnya. Mereka langsung dicebloskan ke dalam penjara, tanpa manusiawi. Di penjara inilah mereka diberondol senjata misterius. Sampai hari ini tidak tahu apakah yang menembak preman atau orang lain. Keluarga, istri dan anak mereka tidak tahu. Karena ditangkap malam hari. Isi berita pun menggelinding narasi yang menyakitkan  bahwa si preman itu merebut bahan rejeki orang yang berjasa bagi negeri ini.

    Mendengar kisah itu pun,  Boy semakin bingung. “Eh bang.. saya makin enggak percaya kisah ini?” Lanjut Boy, “Hem, ya preman itu siapa? “Apakah si badan tegap itu atau penjaga parkir?”. Tanya Boy dengan nada kritis. “Nah… ini dia!”. Sambung Tino sambil memuji Boy yang sudah mulai kritis dari kisah tersebut.

    Dari kisah  tersebut, rupanya Tino diam-diam membuat sebuah penelitian dengan mempersoalkan mengapa stereotip tentang preman masih dipelihara oleh masyarakat di  kota itu. Mengapa orang-orang yang tidak sama dengan mereka langsung dicap preman. Bahkan kalau tampangnya tidak menarik, langsung disemat sebagai preman.

    Bagi Tino persoalan ini perlu dibongkar. Sampai kapan pun kita tidak maju karena belum bisa menerima keberagaman diri seorang menjadi kekayaan dalam hidup bersama. Perlu ada standar yang baku tentang preman. Sebab menurut Tino orang yang tampangnya ganteng, cakep dan berdasi bisa saja di sebut preman. Mana kala mereka merebut hak rakyat kecil. Mereka menguasa tanah dan segala harta dengan tidak adil. Menurut dia inilah preman kelas kakap di negeri ini.

    “Bang apakah kisah ini yang membuat Bang Tino juga menjadi persoalan baru dalam menyelesaikan skripsi?” Tanya Boy semakin memojok dirinya. Tino memang tidak mau mengakui secara jujur bahwa dalam tulisan skripsinya hanya ingin membela para penjaga atau tukang parkir yang sudah mendapat stereotip dari masyarakat yang membelenggu nasib tukang parkir. Bagi Tino, sampai kapan pun di masyarakat kita berbincang soal masalah preman tidak pernah berakhir. Dan  mengapa stereotip tentang preman lebih dilihat dari penampilan fisik ketimbang perilakunya yang jahat.

    Narasi preman semacam dipelihara dalam pikiran masyarakat yang ingin menghindari dari relasi antara mereka golongan superior dan inferior. Jadi diskriminasi sosial selalu muncul dari stereotip yang ada dalam diri seseorang  baik yang tinggal dalam bingkai masyarakat pluralis maupun multikultur di mana saja kita tinggal di negeri ini. Stereotip itu sudah melekat dalam diri kita.

    ****

            Keesokan harinya Boy lari dari Kost  Tino tanpa pamit. Tino seharian mencari Boy. Namun tidak satu tetangga pun yang bisa memberitahu kemana  si rambut ikal dan kulit itam manis itu bersembunyi. “Ah.. saya merasa bersalah!” Kesal Tino sendirian di ruang kamarnya yang sudah bau apek.

    Tiga tahun kemudian,  Boy tiba tiba hadir di hadapan Tino. Secara tidak kebetulan,  waktu itu ada acara Dies Natalis ke-20 kampus mereka berkuliah. Tino kaget, karena Boy berada di atas panggung dalam pentas seni bertajuk “ Seni Serasi Dalam Keberagaman”. Boy membawa berapa  puisi  bertema tentang perlawanan berbau anti rasisme, menolak stereoptif yang mengarah politik identitas memecahkan kesatuan bangsa. Malam itu Boy dengan diiringi  kelompok musical berteriak dengan lantang di hadapan ribuan mahasiswa, dosen dan alumni. Tepukan tangan bergemuruh di ruang auditorium itu, semakin membuat malam itu miliknya si Boy.

    Setelah usai pentas seni, Tino mengajak Boy untuk mendengar kisah apa yang terjadi setelah ia lari dari kostnya si Tino. “Bang.. saya pikir kita terlalu tenggelam bicara stereotip dan rasis yang berlebihan lho?” Buka Boy menghantar Tino untuk memberi ruang berdiskusi semi intelektual organik.

    Dalam kisah Boy, bahwa selama ini terjadi salah paham karena kita terlalu terbelenggu dengan pikiran kita sendiri.  Menurut Boy yang sudah duduk di bangku kuliah tingkat 4 ini bahwa sejak zaman prasejarah, pengalaman diskriminasi sosial  merupakan  masalah biasa yang dialami oleh manusia dalam hidup bersama di masyarakat.

    Dalam kajian postmoderen, persoalan diskriminasi mungkin tidak menarik lagi untuk diperdebatkan, apa lagi diskriminasi ras terlalu sensitif dan naif untuk dibahas di ruang akademik maupun publik. Kata Boy sambil menatap Tino yang sudah lama tidak kuliah  gara-gara skripsi yang berbau rasisme.

    “Begini ya bang, kita sadar bahwa cara pikiran kita pun tidak bisa memaksa kepada orang lain soal stereotip”.  Akan tetapi, ketika masalah tersebut dibahas dalam ranah kajian akademik,  maka kita dapat menemukan ruang dan akar persoalan mengapa diskriminasi  sosial khususnya tentang preman selalu muncul di tengah masyarakat?”

    “Menurut saya bang,  diskursus sosial diskriminasi sosial itu  sangat erat dengan relasi kuasa, konstruksi sosial, kelas sosial, resistensi, hegemoni dan politik identitas  dalam hidup bersama!”. “Misalnya, saya sendiri kadang-kadang  tidak siap mengoreksi identitas saya sebagai Indonesia Timur!”

    “Abainya kita bang,  karena kita sendiri tidak fair dalam mengkontruksi sejarah identitas kita masing-masing!” “Makanya  kita sering terjadi terjebak untuk mengglorifikasi identitas kita masing-masing sebagai terhebat?” Inilah permasalahan terbesar dalam relasi kita selama ini!”   “Jujur bang, kita terpaku pada keegoaan intelektual kita!”

    “Wah.. hebat kamu Boy! “Malam ini kita kuliah tanpa bayar? Pujian Tino semakin Boy mengajaknya  untuk melihat banyak aspek tentang hidup manusia dalam kehidupan di negeri ini. Menurut catatan Boy, Si Tino tergoda dengan kesombongan intelektualnya. Dia semacam anti sosial. Kostnya saja sepi. Dia  tidak mau bergaul dengan teman-teman dari pulau lain.

    Menurut observasi Boy bahwa Tino kehilangan satu dimensi analisis diri yang justru dekat dengan  diri Tino. Tino tidak berani menganalisis identitasnya sendiri. Tino mengabaikan kecacatan, ketidaksempurnaan itu.  Justru Tino menjadi tidak adil, tidak fair.  Justru menjadikan Tino sedang menciptakan rasis secara tak sadar dalam tulisan skripsinya.

    ***

            “Eh.. Tino.. maaf ya, aku harus bongkar masalah ini!” Masalah  Apa Boy? Tino semakin kaget karena Boy bisa melebih cara berpikirnya tentang bagamana membangun opini  untuk tidak memecahkan masyarakat kita sebagai warga yang humanis di negeri tercinta ini.

    Boy mengisahkan waktu dia mencari kost sendirian tanpa Tino, ia mengajak diskusi dengan pemilik indeks kost. Boy mengyakinkan, bahwa tampang dia memang seperti preman. namun hatinya berhelo kitty. Nyatanya ibu kost selama tiga tahun sangat terbantu dengan kehadiran si Boy. Cucunya yang duduk di SMP makin pintar dengan ilmu matematika. Boy mengajarnya dengan humanis bahkan tanpa bayar.

    Ibu kost pun menganggap Boy seperti anaknya sendiri.  Bahkan selama 3 tahun ia tidak membayar kost tempat tinggalnya.Ternyata kata preman itu hanya hoaks bagi Boy.  Mulai saat itu Boy dengan ruang bathin merdeka, meminta Tino untuk memberi semat baru kepadanya dengan menyandang “Preman Berbaik Hati.” ***

    Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Arta Khatulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu (USA)

    Penandatangan Dokumen oleh Pastor Dr. J. Robini Marianto, S. Fil., MA., OP - Ketua Yayasan Landak Bersatu - USA disaksikan oleh Uskup Agustinus.

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Seremoni serah terima alih kelola Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUP) Graha Arta Khatulistiwa kepada Yayasan Landak Bersatu dilakukan di kampus Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (USA) Fakultas Kesehatan, Rabu 3 Agustus 2022. 

    Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Landak Bersatu Pastor Dr. Johanes Robini Marianto, S.Fil., M.A, OP dan Angelina Carolin, SE, M.M. sebagai perwakilan dari AKUP Grha Arta Khatulistiwa, juga di hadiri Mgr. Agustinus Agus serta Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si. selaku perwakilan DPR komisi X dan seluruh tenaga pengajar di Akub Grha Arta Khatulistiwa. 

    Romo Robini bersyukur dan berterima kasih atas bergabungnya AKUP ke dalam Yayasan Landak Bersatu yang mana selanjutnya akan dijadikan sebagai Fakultas Ekonomi Bisnis di USA. 

    “ Kami bersyukur dan berterima kasih kepada Yayasan Cinta Kasih karena mereka terbuka dan percaya kepada kami untuk mengolah seterusnya AKUP Grha Arta Katulistiwa ini,” ujar Angelina Carolin. 

    Membangun SDM- Kalimantan Barat

    Sebagai ketua Yayasan Landak Bersatu, Pastor Robini  juga menyampaikan misi dari pendirian USA yang seperti yang dicita-citakan oleh Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus yaitu untuk menjadikan USA sebagai sarana membangun sumber daya manusia Kalimantan Barat dan dapat menghimpun sampai ke pelosok-pelosok serta tidak bersifat eksklusif hanya untuk anggota gereja Katolik saja.   

    “Untuk memberikan pendidikan yang seluas-luasnya bagi kaum muda Kalimantan Barat bahkan lebih jauh dari Kalimantan Barat,supaya bisa memberikan pendidikan yang bermutu, berkualitas tapi terjangkau dan dimulai dari pinggiran,” ujar Pastor Robini. 

    Melahirkan lulusan yang berkualitas

    Sejalan dengan hal itu, Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si  mengatakan pentingnya untuk meningkatkan daya saing mahasiswa.Hal ini didorong oleh adanya kemajuan digital yang mengharuskan lembaga pendidikan membuat pembelajaran yang mutakhir agar mampu melahirkan lulusan yang mampu bersaing dalam dunia kerja. 

    Adrianus Asia Sidot menegaskan bahwa dunia Keuangan dan Perbankan ke depan akan berubah sesuai kemajuan teknologi digital. Oleh karenanya mau tidak mau lembaga pendidikan harus menyesuaikan diri dengan penyesuaian materi-materi pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kompetensi kerja. 

    Misi dari pelayanan

    Mgr. Agustinus Agus juga mengingatkan kembali bahwa dengan berdirinya USA juga sebagai tanda hadirnya gereja Katolik di tengah masyarakat dalam misi pelayanan, beliau juga mengatakan bahwa UAS terbuka untuk seluruh masyarakat merupakan kampus yang inklusif.

    “Memang Universitas Santo Agustinus universitas Katolik,tapi tidak berarti hanya orang katolik yang bisa ambil bagian. Karena gereja Katolik hadir untuk keselamatan umat manusia, Yesus hadir untuk umat manusia tidak pernah memaksa-maksa orang untuk ikut agama Katolik,” kata Uskup Agustinus. 

    Sebagai  Anggota Dewan Pembina Yayasan Pelita Kasih, Angelina Carolin, S.E., M.M. berharap setelah bergabungnya AKUP ke Yayasan Landak Bersatu dan akan segera menjadi Fakultas Ekonomi Bisnis di USA dapat menjadi lebih berkembang dan maju, terutama dalam kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. 

    “Saya harap semoga AKUP di tangan Yayasan Landak Bersatu semakin maju, semakin besar semakin jaya pastinya,” harap Angelina. 

    Valentina Suryani Pimpin WKRI Cabang Santa Maria Nyarumkop

    Pengucapan Janji Pengurus Baru, 2022/2025 – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Nyarumkop – Setelah melewati masa krisis selama Pandemi Covid-19 pengurus Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang Santa Maria Nyarumkop membuka lembaran baru kepengurusannya untuk masa Bhakti 2022/2025. Pergelaran pergantian pengurus baru ini mengagendakan serangkaian acara  sesuai dengan mekanisme AD/ART organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia.

    Dalam kesempatan itu, dalam arahannya Pastor Fidelis Sabinus, OFM Cap selaku Penasihat Rohani  WKRI Cabang Santa Maria Nyarumkop  merekomendasikan kepada seluruh pengurus berserta jajarannya untuk melakukan penyegaran perutusan anggota dalam memaksimalkan program kerja pengurus yang lama.

    Baca Juga: Suster Caroline, SFIC & Antonius Jabat Perutusan Baru di Persekolahan Katolik Nyarumkop

    Menurutnya, selama Pandemi Covid-19 program kerja pengurus sebelumnya tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, sebagai mitra paroki kepengurusan yang baru boleh mengevaluasi program kerja pengurus yang lama untuk dimaksimalkan.

    Sementara itu, Ketua Presidium DPD WKRI Kalimantan Barat, Ibu Monica Ory. Dalam sambutannya menyampaikan pesan secara dinamis arti kehadiran organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas Wanita Katolik dalam berorganisasi sebagai mitra Gereja seperti yang dikumandangkan para pencetus pendiri Wanita Katolik Republik Indonesia yang diamanahkan oleh  AD/ART organisasi.

    Lembaran Baru

    “Semoga Konfercab V WKRI Santa Maria Nyarumkop membuka lembaran baru kepengurusannya untuk bekerja secara maksimal”, ujarnya.

    Konfercab V WKRI Cabang Santa Maria Nyarumkop disusun menurut alur  mekanisme organisasi melalui beberapa tahapan sidang pleno pada 23/7/2022. Satu diantaranya adalah pemilihan ketua WKRI Cabang Santa Maria Nyarumkop masa Bhakti 2022/2025. Pemilihan secara langsung oleh anggota sidang dengan suara terbanyak memilih Ibu Valentina Suryani sebagai ketua. Proficiat.

    Kemenag RI Menyikapi Kekeliruan Buku Panduan Pendidikan Oleh Kemendikbudristek

    Foto: Ilustrasi buku/Tribun-bali.com – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Menyikapi kekeliruan dalam buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP kelas VII dengan penulis Zaim Uchrowi dan Ruslinawati, penerbit Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Peneliti dan Pengembangan dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang beralamat di jalan Gunung Sahari Raya Nomor 4 Jakarta Pusat. Cetakan pertama tahun 2021 dengan ISBN 978-602-244-312-4 (jilid lengkap), ISBN 978-602-244-313-1.

    Kementerian Agama Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

    1. Pada Bab IV huruf D nomor 3 halaman 79 buku tersebut tertulis “Agama Katolik… Abad ke-16. Tuhannya sama dengan Kristen Protestan, yakni Trinitas Allah, Bunda Maria, dan Yesus Kristus. Kitab sucinya juga injil. Dengan peribadatan tersendiri berbeda dengan Protestan, umat Katolik wajib beribadah setiap akhir pekan di gereja Katolik.” Terhadap kalimat ini, disampaikan koreksi:                        a. Tidak sesuai dengan ajaran agama Katolik;                                                            b. Referensi yang digunakan tidak ada yang bersumber dari buku keagamaan Katolik;    c. Berpotensi mengganggu kerukunan umat bergama dan toleransi serta menimbulkan       penafsiran yang tidak benar.
    2. Berdasarkan pertimbangan di atas, mohon agar buku tersebut ditarik dari peredaran dan dilakukan revisi sebagaimana mestinya. Untuk selanjutnya, terkait publikasi materi yang menyangkut rumusan Ajaran Agama Katolik harap dilkukan dengan berkonsultasi kepada Pimpinan Gereja Katolik/Uskup.

    Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas – Kemenag Bersama Para Uskup Indonesia di Ambon, Ada Apa?

    Dilansir dari portal berita detiknews kekeliruan ini awalnya diketahui dari unggahan seorang warganet bernama Sigit Pranoto lewat akun Twitter nya @mogitscj. Ia mempermasalahkan proses editing buku panduan belajar. Menurutnya, ada yang salah dalam penjelasan terkait konsep Trinitas dalam agama Kristen Protestan dan agama Katolik. Hingga akhirnya unggahan tersebut pun ramai menjadi perbincangan. Kemendikbudristek dinilai lalai dalam proses editing buku karena keliru dalam menjelaskan tentang Trinitas.

    Kemendikbudristek Akan Revisi Buku 

    Mengenai kekeliruan terhadap buku panduan pendidikan yang menjelaskan mengenai Trinitas, Kemendikbudristek melalui akun resminya @Kemdikbud_RI menyampaikan klarifikasi. Kemendikbudristek menerima koreksi tersebut.

    “Kemendikbudristek mengapresiasi masukan, saran, dan koreksi untuk perbaikan berkelanjutan terkait buku pendidikan. Buku pendidikan yang diterbitkan Kemendikbudristek merupakan dokumen hidup yang senantiasa diperbaiki dan dimutakhirkan” ungkapnya.

    Kemendikbudristek akan memperbaiki konten atau penjelasan mengenai konsep Trinitas dalam agama Kristen Protestan dan Agama Katolik.

    “Terkait konten di dalam buku mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMP tersebut, Pusat Perbukuan Kemendikbudristek tengah mengkaji dan menindaklanjuti dengan memperbaiki sesuai masukan, khususnya mengenai penjelasan tentang Trinitas dalam agama Kristen Protestan dan agama Katolik,” tuturnya.

    Baca Juga: Persekolahan Katolik Nyarumkop Sosialisasi Rumah Pendidikan Bersama Orang Tua Peserta Didik

    Kemendikbudristek akan melibatkan para pakar. Sementara itu, buku tersebut akan ditarik dari peredaran dan direvisi.

    “Dalam proses melakukan perbaikan, pusat perbukuan Kemendikbudristek akan melibatkan pakar dari konferensi Waligereja Indonesia dan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia. Buku yang saat ini beredar dengan format elektronik tengah kami tarik dan akan segera kami ganti dengan edisi revisi,” ungkapnya.

    “Untuk versi cetak kami sudah menghentikan proses pencetakan versi lama, dan pencetakan selanjutnya akan menggunakan edisi revisi. Kami juga akan segera mengedarkan suplemen perbaikannya bagi yang sudah menerima buku.” Ujarnya.

    Persekolahan Katolik Nyarumkop Sosialisasi Rumah Pendidikan Bersama Orang Tua Peserta Didik

    Sosialisasi Rumah Pendidikan Nyarumkop – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Nyarumkop – Menjelang Tahun Pelajaran 2022/2023  civitas akademika TK, SD, SMP, SMA, dan TOPANG Yayasan Perguruan Masyarakat Kalimantan Barat (YPMKB) Keuskupan Agung Pontianak melaksanakan pertemuan bersama orang tua peserta didik baru dengan beberapa agenda.

    Pertemuan dengan para orang tua peserta didik dilaksanakan secara serentak di unit sekolah masing-masing yang difasilitasi oleh Kepala Sekolah, Pembina Asrama, dan para Pendidik pada 12/06/2022. Sosialisasi Rumah Pendidikan merupakan Sekolah Berasrama bagi peserta didik SMP, SMA, dan TOPANG dengan ketentuan dan ketaatan kepada seluruh warga sekolah yang tinggal di asrama dengan iman Katolik sebagai indikatornya.

    Sosialisasi Rumah Pendidikan

    Dalam pertemuan, masing-masing unit pendidikan mensosialisasikan alur manajemen secara komunikatif kepada seluruh orang tua peserta didik perihal dinamika akademik maupun non akademik seperti manajemen kurikulum baik intrakurikuler, ekstrakurikuler serta orientasi karakter positif selama mengenyam pendidikan di Persekolahan Katolik Nyarumkop.

    Baca Juga: Suster Caroline, SFIC & Antonius Jabat Perutusan Baru di Persekolahan Katolik Nyarumkop

    Dalam kesempatan itu, Pastor Pimpinan Persekolahan Katolik Nyarumkop Jhon Wahyudi, OFM Cap mengajak para orang tua peserta didik untuk selalu berelasi positif dan berkomitmen dalam memahami prosedur pembinaan rumah pendidikan dengan perasramaan.

    Sementara itu, Suster Udit Karolina, SFIC mengucapkan terima kasih kepada orang tua yang telah mempercayakan pihak sekolah untuk mendampingi anak-anaknya dalam mengenyam pendidikan di Persekolahan Katolik Nyarumkop.

    “Kami berharap kepada seluruh orang tua peserta didik untuk selalu menjalin kerja sama serta komunikasi harmonis dengan Pihak Yayasan, Sekolah, Pembina Asrama serta para Pendidik”.

    Sambas Youth Meet Up: Saatnya Orang Muda Berkreasi, Berinovasi Dan Berprestasi

    Dokumentasi Kegiatan SYMU Di Stasi Karangan – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Sambas – Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kristus Raja Sambas yang dibina oleh Pastor Masseo Clinton, OFMCap mengadakan temu OMK separoki Sambas dengan nama kegiatannya adalah “Sambas Youth Meet Up” yang selanjutnya disebut SYMU. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat orang muda Katolik dalam berkarya di lingkungan gereja, ini sesuai dengan tema yang diusung  yakni “Saatnya orang muda berkreasi, berinovasi dan berprestasi”.

    OMK Paroki Kristus Raja Sambas dipercayakan menjadi Panitia dalam kegiatan tersebut, dengan ketua panitia adalah Marieta Elsa, beserta dengan anggota dari segala bidang.

    Baca Juga: Kapitel Ordo Fransiskan Sekular Regio Kalimantan

    Kegiatan SYMU dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 Juni 2022 sampai dengan Minggu 19 Juni 2022. Stasi Karangan Kecamatan Subah Kabupaten Sambas dipilih dan dipercayakan sebagai pusat pertemuan besar para orang muda Katolik separoki Sambas. Berdasarkan daftar Stasi yang diundang, yaitu ada 52 Stasi, dan yang dapat hadir adalah 24 Stasi dengan total peserta 307 orang.

    Orang Muda Katolik

    Kegiatan berlangsung dengan sangat baik dan lancar, didukung pula oleh kehadiran ibu Camat Subah (Rita Ahie) yang secara resmi membuka acara Sambas Youth Meet Up di Karangan.

    Tentunya kegiatan ini tidak dapat terlaksana tanpa dukungan dan bantuan dari umat Paroki Kristus Raja Sambas yang sudah memberikan sedikit rejekinya untuk kegiatan SYMU. Adapun bentuk dukungan dan bantuan tersebut yakni, Dana, Hadiah, Sembako, Air Mineral, Gula, Kopi, teh, dll.

    Kegiatan SYMU bekerja sama dengan Komisi Kerasulan Kitab Suci dari Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kristus Raja Sambas. Kerja sama ini dilakukan karena Komisi Kitab Suci dari DPP Kristus Raja Sambas dipilih menjadi juri dalam lomba yang diadakan oleh Panitia SYMU, yakni lomba Stand up Comedy Kitab Suci dan Dramatisasi Vocal Grup.

    Baca Juga: Perayaan Ulang Tahun Imamat Mgr. Agustinus Agus ke-45 Tahun

    Hari pertama pukul 09.30 WIB pelaksanaan kegiatan dibuka dengan permainan Outbound para peserta OMK dari 24 Stasi. Masing-masing Stasi berbaur dengan Stasi yang lain dengan cara membentuk kelompok dengan nama-nama para orang Kudus, seperti Santa Fransiska, Santa Corona, Santo Thomas More, dll. Jumlah kelompok ada 12. Kedua belas kelompok ini akan melewati 5 posko, dimana masing-masing poskonya akan ada permainan dan kuis. Kuisnya ini adalah teka-teki, petunjuknya akan didapat disetiap posko setelah permainan selesai. Jawaban untuk teka-teki diselesaikan di garis finish.

    Sambas Youth Meet Up

    Setelah permainan outbound selesai para peserta dipersilahkan untuk persiapan pribadi dulu sebelum mengikuti kegiatan selanjutnya yakni lomba Stand up Comedy dan Dramatisasi Vocal Grup. Pukul 16.00 WIB kegiatan lomba dimulai, peserta pertama adalah dramatisasi Vocal grup, dilanjutkan dengan peserta stand up Comedy Kitab Suci. Melihat iringan lagu peserta Vocal grup dan gelak tawa peserta stand up Comedy Kitab suci membuat suasana di sekitar pentas riuh oleh suara penonton yang mendukung masing-masing Stasi nya, dewan Juri juga bersemangat dan terlihat wajah gembira melihat semangat orang muda Katolik disetiap Stasi percaya diri dan bangga memberikan penampilan yang baik di atas pentas.

    Baca Juga: Rekoleksi Sehari Karyawan Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak

    Kegiatan lomba ini berakhir pada pukul 20.00 WIB dan dilanjutkan dengan acara Malam Keakraban (Makrab) OMK. Acara Makrab berjalan dengan baik karena tim keamanan dari Garda Borneo bekerja keras demi kenyamanan pelaksanaan kegiatan SYMU tanpa ada gangguan.

    Hari kedua pelaksanaan diawali dengan misa Ekaristi Kaum Muda yang dipimpin oleh Pastor Masseo Clinton, OFMCap. Misa berjalan lancar dan baik, animasi misa Ekaristi Kaum Muda meriah diiringi musik yang semangat.

    Selesai misa, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian hadiah lomba dan sayonara.

    Demikian kegiatan “Sambas Youth Meet Up” di Stasi Karangan, 18-19 Juni 2022. Semoga kegiatan ini menambah semangat kaum muda dalam berkarya di lingkungan gereja, karena saatnya orang muda untuk Berkreasi, Berinovasi, dan Berprestasi.

    Kapitel Ordo Fransiskan Sekular Regio Kalimantan

    Para saudara dan saudari peserta Kapitel OFS Regio Kalimantan – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Kubu Raya – Sukacita dan kegembiraan sungguh dirasakan oleh para saudara dan saudari Ordo Fransiskan Sekular (OFS) Santa Elisabeth di Regio Kalimantan, hal ini karena terselenggaranya kapitel regio yang dipimpin langsung oleh sekretaris Dewan Nasional OFS Indonesia Saudari Sulastri Pasaribu, OFS dengan didampingi oleh Pastor Bonaventura Gultom, OFM Conv selaku pendamping rohani perwakilan dari ordo pertama OFM Conventual. Kedua saudara ini berkedudukan di Keuskupan Agung Medan, Sumatera Utara.

    Kapitel itu sendiri adalah suatu sidang atau rapat yang didalamnya dilakukan rekoleksi oleh Pastor pendamping rohani dan pimpinan nasional OFS Indonesia. Bukan hanya rekoleksi kepada para saudara-saudari OFS, namun kapitel ini juga merupakan pertemuan untuk memilih para pelayan persaudaraan OFS di regional Kalimantan yang akan memimpin pelayanan di dalam dan luar ordo.

    Baca Juga: Rekoleksi Sehari Karyawan Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak

    Kapitel ini diselenggarakan pada 24 – 26 Juni 2022 bertempat di Rumah Retret Tirta Ria, Kabupaten Kubu Raya, bagian dari wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Kapitel dimulai dengan Misa Pembukaan yang dipimpin oleh perwakilan dari ordo pertama Kapusin yaitu Pastor Stepanus Gatot Purtomo, OFMCap pada sore yang syahdu tanggal 26 Juni di Gedung Santo Fransiskus Asisi, Tirta Ria.

    Pelayan persaudaraan OFS Regional Kalimantan terpilihlah Saudara Herman Yosef Anem, OFS sebagai Minister Regio beserta dewan regional mencakup Wakil Minister Regio Saudari Emilia Salma Ani, OFS; Formator Regio Saudara Matinus Herculanus, OFS; Sekretaris Regio Saudara Innosensius Dwiputra, OFS serta Bendahara Regio Saudari Fransiska Annita.

    Sukacita dan kegembiraan

    Pada Kapitel kali ini juga diselenggarakan kapitel untuk memilih pelayan lokal, terpilih masing-masing Minister Persaudaraan Lokal yaitu: Saudara Irenius Gedo Gama, OFS sebagai Minister Persaudaraan Lokal Santo Conradus berkedudukan di Pontianak; Saudara Telesforus Terai, OFS selaku Minister Persaudaraan Lokal Santo Ludovikus berkedudukan di Rasau Jaya; Saudara Martinus Herculanus, OFS sebagai Minister Persaudaraan Lokal Santo Padre Pio berkedudukan di Pontianak serta Saudari Emmiliana Karsiyah, OFS sebagai Minister Persaudaraan Lokal Santa Angela Merici berkedudukan di Singkawang. Maka dari itu, saat ini OFS Regio Kalimantan terdiri atas empat persaudaraan lokal.

    Baca Juga: Perayaan Ulang Tahun Imamat Mgr. Agustinus Agus ke-45 Tahun

    Ordo Fransiskan Sekular adalah ordo ketiga regular yang merupakan bagian dari keluarga besar Fransiskan, yaitu sekelompok pentobat yang mengikuti Yesus Kristus menurut teladan Santo Fransiskus dari Asisi. OFS merupakan lembaga hidup bakti yang diresmikan oleh Gereja Katolik. OFS saat ini telah hadir ditengah umat beriman pada 118 negara diseluruh dunia.

    “Saat ini OFS memiliki 19 regio diseluruh Indonesia” demikian disampaikan oleh Saudari Sulastri Pasaribu, OFS.

    Puji syukur atas penyertaan roh kudus atas terselenggaranya kapitel OFS di regional Kalimantan ini, kiranya menjadi kado indah untuk Gereja lokal maupun Gereja universal. Seluruh umat Katolik dipanggil untuk bergabung menjadi saudara-saudari OFS dan bersama-sama menjalani pentobatan serta menjalani ajaran-ajaran Gereja yang bersumber dari Kristus.

    Mutiara Kata-Hati : Menilik Karya Pelayanan Mgr. Agustinus Agus

    Momen Ulang Tahun Imamat ke 45 Mgr. Agus Sekaligus Peluncuran Buku Mutiara Kata Hati – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    “Satu momen yang paling saya ingat waktu pertama kali bapak uskup masuk ke rutan, di Bengkayang. Bapa uskup masuk ke situ semua nangis loh. Di situ saya merinding dan dalam hati saya berkata beliau ini sangat layak untuk ditulis.”

    MajalahDUTA.Com, Pontianak,- Senyum sumringah terlukis di wajah pria dengan pakaian berwarna hitam dan ungu membalut tubuh yang tak lagi muda dengan bubuhan sebuah topi bundar kecil berwarna ungu yang menutupi sedikit kepalanya namun masih menyisakan warna rambut hitam yang telah berubah menjadi keabuan itu.

    Seluruh hadirin berdiri dan memberikan tepuk tangan kepadanya.

    “Kita sambut Yang Mulia  Mgr. Agustinus Agus. Uskup Keuskupan Agung Pontianak” Seru pembawa acara untuk menyambut Mgr. Agustinus Agus atau yang kerap disapa Mgr. Agus itu memasuki ballroom di Qubu Resort Pontianak untuk merayakan 45 tahun pengucapan janji imamatnya (19/6).

    Baca Juga: Perayaan Ulang Tahun Imamat Mgr. Agustinus Agus ke-45 Tahun

    Dihadiri sekitar 300 tamu undangan yang terdiri dari para pejabat pemerintah pusat, provinsi maupun kepala daerah setingkat kabupaten serta dihadiri pula para tokoh lintas agama dan para biarawan-biarawati yang duduk bersama di ruangan berwarna merah yang terkesan meriah, menunjukkan kedekatan Mgr. Agus tidak hanya pada umat Katolik khususnya di wilayah Keuskupan Agung Pontianak namun kepada seluruh lapisan masyarakat di sekitar wilayah perutusannya itu.

    Peduli Terhadap Pendidikan 

    Bunyi tepuk tangan membanjiri ruangan menyambut Junaidi selaku ketua panitia acara Ulang Tahun Imamat Ke-45 Mgr. Agustinus Agus yang berdiri di depan mimbar, ia menyampaikan beberapa kesan terhadap apa yang telah dilakukan Mgr. Agus dalam masa pelayanannya di Keuskupan Agung Pontianak (KAP).

    “Bahkan yang paling penting dalam peningkatan sumber daya manusia Kalimantan Barat dengan mendirikan pendidikan tinggi dan universitas katolik di Kalimantan Barat”  jelas Junaidi dengan rasa bangga melihat apa yang telah dilakukan oleh Uskup Keuskupan AGung Pontianak itu.

    Hubungan yang Baik dengan Pemerintah 

    “Pada bapak ibu juga saya berterima kasih sejak saya bertugas di Pontianak hubungan dengan pemerintahan daerah baik tingkat provinsi, kabupaten, maupun kecamatan saya kira terjalin dengan baik.” Ungkap  Mgr. Agus dalam kata sambutannya pada malam itu.

    Selain itu ia juga mengungkapkan bahwa hubungan baiknya dengan Gubernur Kalimantan Barat.

    “Pak Gubernur bersiap juga mendengarkan masukan dari saya.” Ucap Mgr. Agus di hadapan tamu undangan.

    Peluncuran Buku Mutiara-Hati

    Dalam acara ini juga dilaksanakan peluncuran buku Mutiara Hati hasil karya Samuel sebagai sebuah refleksi perjalanan Mgr. Agus selama berkarya di Keuskupan Agung Pontianak. Suasana terasa hening, kala menyimak penyampaian Samuel selaku penulis buku Mutiara-Hati.

    Baca Juga: Rekoleksi Sehari Karyawan Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak

    “Satu momen yang paling saya ingat waktu pertama kali bapak uskup masuk ke rutan, di Bengkayang. Bapa uskup masuk ke situ semua nangis loh. Di situ saya merinding dan dalam hati saya berkata beliau ini sangat layak untuk ditulis.” ucap Samuel dengan nada lirih mengingat kembali kejadian yang menyentuh hati kecilnya.

    Setelah itu dilakukan seremonial penandatangan secara simbolis oleh Mgr. Agus sebagai peresmian peluncuran buku tersebut.

    TERBARU

    TERPOPULER