Friday, March 6, 2026
More

    Eksotisme Bromo: Tempat Healing Religius

    Oleh: Br. Flavianus Ngardi, MTB

    MajalahDUTA.com, Yogyakarta – Berawal  dari pembincangan sederhana di ruang refter Wisma Syatikara, Yogyakarta, 6 Mei 2022, para formator Kursus Gabungan Novis (KGN) yang terdiri dari aneka kongregasi imam, bruder dan suster membicarakan rencana refresing  di akhir semester  pembelajaran bersama.

    Pertama kami ingin mengunjungi tempat wisata di Bali sebagai jendela destinasi dunia dan kedua, Labuan Bajo Manggarai, Flores NTT. Karena dari segi biaya begitu mahal maka secara spontan memilih Bromo sebagai pilihan terakhir. Ide ini disambut dengan senang hati oleh para pendamping KGN.

    Baca Juga: On Going Formation Prodiakon Dalam Gereja Katolik

    Para formator berangkat dari Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 2022. Adapun yang mengikut anjangsana ini adalah: Rm. Rukmono OMI, Sr. Hetty CB, Sr. Kolumba PBHK, Br. Neri MTB dan Br. Flavianus MTB. Sedangkan Sr. Immaculatien AK, Sr. Agatha BKK, Sr. Silvi MASF menunggu di Solo. Selama dalam perjalanan dengan melewati jalan Tol Solo-Surabaya, para pendamping tidak ada yang merasa ngantuk. Karena selain hiburan anekdot  gaya religius, rupanya pemandangan tebaran sawah dari Sragen hingga Probolinggo mampu menyegarkan mata kami  saat memandangnya dari dalam mobil yang kami tumpangi.

    Eksotisme Bromo

    Tanggal 9 Juni 2022, pukul 02.30 pagi, kami naik Jeep menuju gunung Bromo. Tempat pertama, kami berjibaku buki Kingkong. Kami menikmati udara yang begitu dingin. Sekitar ratusan para penikmat sunrise, sudah standby berselfi ria di salah satu spot, sembari menanti sinar matahari yang perlahan-lahan muncul di ufuk timur saat itu. Cahayanya di balik awan dan kabut tidak mengurangi decak kekaguman para pendaki gunung yang bukan hanya dari Indonesia saja tetapi juga wistawan mancanegara tak henti-henti merekam sinar matahari saat itu. Sinar matahari waktu itu mulai muncul pukul 05.00 pagi. Cahayanya yang sedikit temaram, memanjakan mata untuk tidak berkedip oleh karena sinarnya sangat unik.

    Selain itu perjumpaan dari aneka latar belakang budaya, bahasa dan ras di tengah suasana yang dingin saat itu, menjadi kenangan berharga dalam dinamika perjalanan panggilan para formatur dalam mendampingi para formandi milenial  saat ini.

    Therapy Healing

    Kami melihat  dan merasakan bahwa meskipun tempat- tempat wisata menarik di Bromo ini  hanya mengunjungi 4 lokasi umum saja yakni Gunung Penanjakan untuk melihat sunrise, Kawah Bromo, Padang Rumput Savanah dan Bukit Teletubies, akan tetapi sangat puas bagi kami.

    “Bagi saya kegiatan ini sangat menyenangkan dan menggembirakan, bukan hanya untuk memuji betapa indahnya Allah menciptakan alam semesta ini khusunya gunung Bromo, akan tetapi semacam therapi healing sangat bermanfaat bagi saya”. Ungkap Rm. Rukmono sembari mensharingkan pengalaman mendaki gunung lain di Pulau Jawa.

    Lanjut Rukmono “Saya bersyukur atas kebersamaan kita. Saling meneguhkan antar formator. Moment ini adalah saat penyembuhan dari kebenaran kita. Semoga di masa mendatang bisa diteruskan. Saya sungguh menjadi segar setelah acara tersebut, penuh inspirasi baru. Menjadi rileks sangat penting. Hanya ketika pikiran kita rileks, kita lebih tenang, sabar, dan produktif. Rileks tidak sama dengan santai, kalau santai ada unsur malasnya sehingga tidak produktif”. Ungkap Magister Novis OMI ini dengan mantap.

    Baca Juga: Berjalan Bersama untuk Bersaksi

    Sr. Silvia juga tidak ketinggalan mengungkapkan perasaan kegembiraannya dalam program wisata Bromo ini. “Saya di NTT sudah biasa naik gunung untuk mencari kayu api atau sekedar melihat indahnya bukit-bukit dan sabana di NTT. Namun saat di biara saya merasa moment ini sangat luar biasa. Ini kenangan terindah bagi magistra, karena bagi saya Bromo adalah gunung yang paling indah dan eksotis di Pulau Jawa”.

    Lanjut Sr. Silvia “Rekreasi doa tetap menjadi yang utama, susasana persaudaraan, kekeluarga, saling mendukung, sangat akrablah, semua bereksprsi dengan bebas hati. Saya juga sering mengajak para novis untuk berenang atau olah raga lainnya dalam menciptakan ruang kegembiraan dalam pola-pola pembinaan para formandinya di Kota Solo.

    “Kami secara berkala   bersama para novis naik gunung Ungaran.” Kata Sr. Immaculatien AK. “Di atas gununglah, kami merayakan ekaristi dan sharing bersama, rasanya memberi kenikmatan sendiri bagi para novis dari segala rutinitas tiap hari di ruang Novisiat.” Ujar Magistra AK ini dengan nada riang.

    Ruang Kontemplasi Alam

    “Pertama-tama saya pantas bersyukur kepada Tuhan yang sungguh luar biasa besar kasih-Nya kepada saya”. Ucap Sr. Immaculatien, AK.

    “Dari pengalaman kecil secara tak sengaja kala itu sampai terealisasi rekreasi “healing” bersama tanggal 8-9 Juni 2022 yang lalu. Saya merasa, Tuhan sangat mengerti sekali kerinduan kita dan Tuhan berkenan akan rencana baik kita, terbukti dengan mudahnya kita saling terlibat dan bersama mengusulkan pilihan tempat, tujuan, waktu yang sekiranya semua bias. Dan akhirnya diputuskan tanggal 8 Juni 2022, ditunjuk Ketua dan bendahara.” Lanjut Sr. Immaculatien

    Baca Juga: Paskah Bersama Kepolisian Resor Mempawah, Uskup Agustinus Sampaikan Refleksi Penderitaan

    Dilanjutkan kembali oleh Sr, Immaculatien “Secepat kilat tujuan dapat disepakati dan ketua bergerak cepat, dapat biro dan akhirnya mulai daftar intinya semua lancar, meski jujur biaya cukup mahal, semua dapat melewati proses harus ‘berembug’ secara terbuka dengan sikon komunitas masing-masing dan “clear” meski akhirnya tidak bisa semua teman bisa bergabung. Setelah kita bisa menikmati ternyata sensasi rasa persaudaraan dan kebersamaan yang terjalin dalam seluruh proses dan dinamika bersama tak bisa dan tak perlu lagi diperbandingkan dengan apapun juga, merasa senasib sepenanggunga. Luar biasa anugerah dapat merasakan dan menyatu dengan alam, perlahan mulai bersahabat dengan “sikon” semuanya, baik yang hidup maupun yang mati, lingkungan hidup /biotik dan abiotic. Luar biasa dapat secara nyata menikmati pergantian waktu, dari detik ke detik, menit ke menit, dari sikon dini hari sampai fajar mereka, dan benar-benar rasanya berhadapan dengan Ke-Mahakuasaan Sang Pencipta yang tiada bandingnya.  Sembah sujud syukur kepada-Mu Bapa-Putra dan Roh Kudus. Aku berhadapan dengan diriku, dengan teman, alam semesta dalam Dia. “Healing”, bersenang-senang bersama, “pelepasan segala kepenatan” berbuah sehat dan sukacita. Keindahan Bromo sangat mengagumkan, bisa dilanjutkan lagi acara “Healing” dalam kebersamaan ini.” Kenang Sr. Imma dengan penuh kagum.

    “Memang sangat perlu diupayakan ada acara rekreasi untuk pendamping, sebagai moment healing, melepas energi negatif dan menghirup energi positif dari alam dan dari kebersamaan”. Sambung Sr. Hetty.

    Nilai-Nilai Wisata Bromo

    Sr. Hetty CB, merasa bahwa  kegiatan wisata Bromo sebagai sebuah pengalaman mensyukuri kebesaran Allah yang mencipta dunia dengan indahnya sekaligus pengalaman yang menyadarkan betapa hidupku tergantung pada Allah. Ujar mantan anggota Dewan Umum ini dengan mantap.

    Para Magistra lain pun ikut melukiskan bahwa melalui eksotis Bromo alam berbicara dan hati merespon atas kekaguman karya lukisan Sang pencipta yang tak tertandingi.  Selain itu kegiatan sangat bermakna bagi kebersamaan para formator KGN Yogyakarta.

    “Syukur atas anugerah kasih Tuhan, dalam dan melalui terlaksananya acara dan kebersamaan kita, kesehatan (hambatan dapat diatasi dengan amat baik)”. Tulis Sr Immaculatien dalam pesanya secara pribadi dalam via WhatsApp.

    Baca Juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Bagi nya persaudaraa dalam kegiatan ini sungguh tak tergantikan. “Kesatuan hati, semakin kenal dengan diri sendiri, sesama, alam semesta. Menghargai waktu, setiap detik perubahan adalah luar biasa membawa pesan-pesan sangat personal dan pem-baru-an. Selain itu dalam aspek budaya kita menerima dan mengenal budaya daerah baru dengan segala kearifan local mereka. Keramahtamahan dengan alam semesta, unik, menghormati, kekompakan, saling mendukung, kerjasama, tanggung jawab. Selalu butuh perjuangan untuk bisa menemukan sesuatu yang indah. Melawan dingin, menunggu, ngantuk, capek” Sharing Sr Imama kembali dengan penuh haru.

    “Menjadi sarana untuk healing, dan penyegaran rohani dengan menyatukan diri dengan alam yang luar biasa ciptaan Tuhan. Di alam inilah kita merasakan kebesaran Tuhan. Kita diajari oleh alam untuk berani berserah pada Tuhan. Kita dapat melaksanakan tugas dalam pembinaan, bukan karya kita tapi karya Tuhanlah dan kita membiarkan Tuhan untuk semakin luas memakai kita untuk menjadi alatNya. Dalam hal ini menyiapkan generasi muda untuk masa depan gereja dan kongregasi. Selain itu bagi dia rekreasi rohani formator diperlukan untuk saling meneguhkan dan menyemangati dalam tugas perutusan sebagai formator.  Saya sungguh bersyukur untuk kesempatan dan moment kebersamaan ini. Nilai yang didapatkan ialah persaudaraan, sukacita, kebersamaan, cinta kasih, kerendahan hati dan iman mendalam.” Sharing Sr. Agatha dengan semangat.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles