Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 125

    Excorcism- 7 Series Setiap Jumat Hanya di DMtv (Majalah DUTA)

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Halo semua, ada yang masih suka penasaran gak sih soal pengusiran setan? Kejadian-kejadian seperti di film The Conjuring tuh beneran ada apa gak sih?

    Nah kali ini kita akan kupas tuntas tentang apa sih sebenarnya eksorsisme itu, tentunya dengan obrolan santai bersama Pastor Johanes Robini Marianto, OP.

    Bakal ada 7 series yang akan diupload setiap hari Jumat 😉
    So.. pantengin terus ya hanya di kanal youtube Majalah Duta: DMtv (Youtube) 

    Temu Pastores 2022 KA. Pontianak, Anjongan Kalimantan Barat

    Uskup Agustinus- Uskup Agung Pontianak/ KOMSOS KA. Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah- Bertempat di Rumah Retret Anjongan Selasa, 23 Agustus 2022 telah dimulai temu pastores se- Keuskupan Agung Pontianak.

    Temu Pastores hari pertama diikuti oleh 60 imam dan dimulai dengan misa pembukaan.

    Adapun sejumlah imam yang hadir terdiri dari Pastor Paroki dan perwakilan beberapa komisi di Keukupan Agung Pontianak.

    Temu Pastores yang mulai dari Selasa 23 akan berlanjut hingga Kamis 25 Agustus 2022 mendatang. Inti dari Temu Pastores kali ini, Uskup Agustinus (Uskup Agung Pontianak) mengungkapkan bahwa serangkaian pertemuan tersebut memiliki makna penting terlebih perjumpaan kasih antara sesama imam dan sejumlah element (komisi) yang tergabung dalam Keuskupan Agung Pontianak.

    Baca juga: Misa Requem RD. Blasius Blino, Pastor Vikaris Paroki MRPD Pontianak

    Dalam kesempatan hari pembukaan TEPAS di Anjongan itu pula, Uskup Agustinus juga memperkenalkan dua Suster Dominikan Indonesia yang akan bertugas di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan.

    Dalam perkenalan malam itu, Suster Inosensia, OP bersama rekannya Suster Clarita, OP mengaku bangga bisa memenuhi undangan Uskup Agustinus dalam menangani Rumah Retret Anjongan Keuskupan Agung Pontianak.

    Pertemuan TEPAS kali ini selain menjalin relasi dan evaluasi dari setiap komisi, Uskup Agustinus berharap semua informasi yang disampaikan dapat menjadi masukan dan refleksi bagi sesama imam baik dalam perencanaan kerja dan visi dalam memajukan pelayanan di Keuskupan Agung Pontianak.

    Baca juga: PTM Dilaksanakan, Warga SMAK Frateran Menyambut Antusias

    PTM Dilaksanakan, Warga SMAK Frateran Menyambut Antusias

    Pembelajaran Tatap Muka di SMAK Frateran Berjalan Kondusif – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Malang – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sudah mulai dilaksanakan oleh sekolah-sekolah termasuk di wilayah Kota Malang. Bagi siswa, pembelajaran tatap muka bisa dikatakan sebagai kerinduan. Karena selama beberapa tahun ini, siswa harus merasakan pembelajaran daring yang dirasa kurang efektif. Oleh karena itu, wacana pemerintah untuk sekolah dalam pelaksanaan PTM disambut gembira oleh sekolah dan juga para siswa.

    SMAK Frateran yang berada di wilayah Oro-orodowo Kecamatan Klojen juga telah mengizinkan para siswa untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah secara offline dan hal tersebut disambut dengan antuasias. Meskipun demikian, selama di sekolah para siswa tetap mengenakan masker dalam melaksanakan aktivitasnya.

    Bahkan pelaksanaan proyek pembelajaran, entah itu di lapangan maupun di kelas, para pendidik dan siswa tetap konsisten melaksanakan protokol kesehatan. Hal ini menarik perhatian para frater diosesan yang akan melaksanakan pastoral mengajar untuk mengetahui sejauh mana PTM berdampak langsung bagi para siswa.

    Sejak tanggal 18 Juli 2022, SMAK Frateran sudah menerapkan pembelajaran secara penuh atau menerapkan Pembelajaran Tatap Muka. Ironisnya, sejak dua tahun yang lalu pembelajaran secara online dinilai kurang memuaskan bagi orang tua dan para siswa. Menurut Frater Albertus Sukatno, S.Ag., kepala SMAK Frateran, para siswa mengalami Learning Loss yang berdampak pada saat siswa masuk pertama kali untuk mengenal lingkungan sekolah (MPLS).

    Baca Juga: Misa Requem RD. Blasius Blino, Pastor Vikaris Paroki MRPD Pontianak

    Untuk kelas XI dan XII contohnya,  saat berjumpa dengan teman-temannya di sekolah, masih ragu-ragu dan juga merasa kaku. Bahkan saat berjumpa dengan bapak ibu guru, siswa lebih sering merasa asing kepada para guru sekalipun sering berjumpa di ruang maya melalui hybrid learning yang diterapkan di sekolah.

    Pembelajaran hybrid learning masih dirasakan para siswa sebagai keadaan yang belum aman dan nyaman. Apalagi ketika bertemu tatap muka secara tatap nyata. Oleh karena itu, tugas sekolah adalah mengembalikan kesadaran para siswa yang terjebak dari dunia maya ke dunia nyata melalui pembelajaran secara tatap muka.

    Fr. Albertus, selaku Kepala Sekolah, dalam wawancara pada Kamis 4 Agustus 2022 memberikan informasi terkait PTM yang mulai dilaksanakan di SMAK Frateran. Dalam wawancara, Frater Albertus berupaya agar dilema atas kesadaran para siswa mengenai pembelajaran tatap muka tersebut tidak berlarut-larut dan segera diatasi sebelum para siswa kembali belajar di sekolah. Maka dari itu, selama kurang lebih dua minggu para siswa diberikan pembinaan rohani dan pembinaan mental.

    Pendidikan

    Kegiatan tersebut diberikan oleh para Frater BHK baik yang ada di sekolah maupun siswa yang ada di Yayasan Mardi Wiyata. Kegiatan ini juga dibantu oleh bapak-bapak TNI Rampal yang memberikan disiplin, antisipasi dan optimisme untuk menghadapi situasi-situasi bersama dengan teman-temannya yang lain. Siswa tidak perlu merasa takut, namun tetap waspada.

    “Tetapi waspada, jangan sampai terjerumus dalam rasa ketakutan yang sangat dalam,” himbau Frater Albertus.

    Mungkin saja ada orang tua yang sangat keberatan sekali khususnya kelas XI untuk mengijinkan anaknya datang ke sekolah dan melaksanakan PTM, dan bahkan ada yang dilarang. Anaknya ingin belajar tatap muka, tetapi orang tuanya sangat trauma karena banyak keluarga yang meninggal akibat covid itu.

    “Kami juga memfasilitasi tetapi dengan beberapa catatan dari sekolah. Pertama, mengambil materi dari guru di sekolah, kemudian besoknya mengembalikan. Ketika ulangan harian, mata pelajaran ulangan tengah semester atau semester mereka di sekolah,” ungkap Frater  Albertus.

    Baca Juga: Persekolahan Katolik Nyarumkop Sosialisasi Rumah Pendidikan Bersama Orang Tua Peserta Didik

    Hal tersebut bentuk antisipasi sekolah agar dapat menyadarkan dan memberi edukasi kepada orang tua bahwa mereka memiliki tanggung jawab di sekolah. Bukan hanya sekedar mengerjakan tugas-tugas di sekolah, tetapi siswa memang harus belajar di sekolah.

    SMAK Frateran telah memberikan kesempatan kepada orang tua di bulan Oktober. Tetapi pada kenyataannya orang tua tetap tidak bersedia. Kemudian orang tua meminta untuk mengundurkan diri dari sekolah.

    “Kita telah  membuat pelayanan semacam ini karena temannya yang mengatakan;  “Kok enak, kita sudah masuk, kita ingin bertemu, berbincang, bercengkerama tetapi teman kita ini masih di rumah.” bukan kemauannya anak, tetapi orang tuanya,” ungkap Frater Albertus.

    Kemudian muncul pertanyaan, “Yang sekolah siapa? Yang sekolah kan anaknya?”, “Jika merasa anaknya tidak aman dan tidak nyaman di sekolah, teman-temannya yang sudah sekian minggu berada di sekolah saja tidak terjadi apa-apa,” Frater Albertus menambahkan.

    Meskipun demikian, di SMAK Frateran khususnya siswa kelas X memang sudah terbiasa dengan situasi PTM ketika mereka masih SMP. Di SMP sebelum pelaksanaan ujian sekolah, dan pembelajaran dilakukan dengan  tatap muka sehingga tidak merasa canggung bahkan siswa sangat antusias sekali. Dan ketika orang tuanya mendengar bahwa pelaksanaan pembelajaran di tahun 2022/2023 dimulai dengan tatap muka, siswa sangat senang sekali. “Beban mereka terasa terlepas,” ungkap Frater Albertus.

    Baca Juga: 25 Tahun Hidup Bakti, Kaul Kekal dan Profesi Pertama Suster Pasionis Provinsi St. Yosef Indonesia

    Meskipun demikian, Frater Albertus mengungkapkan bahwa ada hal yang harus tetap dipikirkan untuk para siswa. Hal tersebut adalah mengenai cara mengembalikan kesadaran anak-anak dari dunia maya ke dunia nyata. Hal tersebut tentu saja tidak segampang apa yang dibayangkan.

    “Kadang-kadang, ketika setelah istirahat terlihat ngambek-ngambek,” ungkap Frater Albertus. Itulah tanggung jawab sebagai pendidik untuk mengembalikan kesadaran para siswa. Dan sekali lagi, memang harus pelan-pelan karena hal itu  menjadi tanggung jawab bersama.

    Untuk vaksinasi, bagi para karyawan sudah hampir 99% yang telah mendapatkan vaksin ke tiga. Sekolah memang sudah menganjurkan dan mengharuskan bapak ibu pendidik, pegawai, pelaksana belakang, sampai satpam sudah vaksin booster. “Termasuk saya sebagai kepala sekolah sudah divaksinasi,” kata Frater Albertus.

    Pembelajaran Tatap Muka

    Para siswa memang sudah mendapatkan vaksin ke dua. Saat ini, sekolah masih menunggu regulasi untuk vaksin penguat. Pemerintah memberikan regulasi dan izin kepada dinas kesehatan untuk segera datang ke sekolah dan memberikan vaksin kepada siswa.

    Ketika pembelajaran di sekolah akan dimulai, ada beberapa orang yang terindikasi atau terpapar covid. “Sebelumnya ada kejadian di mana satu keluarga terpapar, lalu satu keluarga tersebut isoman. Kemudian hal itu menjadi pembelajaran bagi sekolah. Sekolah tidak takut, tetapi warga sekolah di sini tetap waspada supaya penyebaran covid ini berlalu dari sekolah kita,” ungkap Frater Albertus.

    Sekolah tetap menerapkan prokes secara ketat. Saat akan masuk ke sekolah, sudah disediakan hand sanitizer dan pengukur suhu. Para tamu, pendidik dan siswa mencuci tangan melalui air yang mengalir. Di setiap kelas juga telah disediakan hand sanitizer. Penyemprotan disinfektan dilakukan secara berkala selama dua kali setiap minggu. Setelah pembelajaran, anak-anak disemprot dengan disinfektan. Bahkan pembersihan di kamar mandi, WC dan sebagainya diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

    Baca Juga: Terinspirasi Dengan Romo Prennthaler

    Sekolah juga selalu memberikan informasi kesehatan kepada anak-anak dan kesehatan warga sekolah selama seminggu. Satgas covid di sekolah tetap diadakan dan berkordinasi dengan pihak Puskesmas Arjuno karena sekolah berada di wilayah kelurahan Oro-orodowo.

    Pembelajaran Tatap Muka (PTM) merupakan tanggung jawab bersama. Tidak mudah untuk mengembalikan keyakinan serta kesadaran baik orang tua maupun siswa bahwa segalanya dapat berjalan dengan aman dan lancar. Hal tersebut dapat terjadi apabila sekolah memberikan penanganan yang terbaik serta pro aktif dalam menyediakan informasi dan solusi yang baik dan benar kepada orang tua dan siswa.

    Di masa pemulihan ini, setiap pihak perlu saling bergandeng tangan agar masa depan para siswa dapat kembali dicerahkan. Memang tidak mudah, tetapi hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama baik para orang tua, sekolah dan para siswa.

    Bagi keempat frater yang bertugas dalam pastoral pendidikan di SMAK Frateran di kelas XA dan XB (Fr. Fransesco A.R., Fr. Francisco B., Fr. Maximus A. dan Fr. Barnabas U., BHK), hal tersebut juga menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Para Frater tidak hanya mempersiapkan dengan baik materi-materi Pendidikan Agama Katolik tetapi juga dukungan moral dan spiritual untuk menumbuhkan optimisme para siswa dalam menghadapi PTM di sekolah.

    Misa Requem RD. Blasius Blino, Pastor Vikaris Paroki MRPD Pontianak

    Live Streaming Misa Requem RD. Blasius Blino – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Manusia tidak pernah tahu tentang hidup dan mati. Kapan dan bagaimana ia dipanggil, karena pada waktunya semua akan bertemu dengan hari akhir untuk memenuhi panggilan-Nya.

    Kabar duka datang dari seorang pastor, RD. Blasius Blino. Seorang pastor vikaris di Paroki Maria Ratu Pencinta Damai Pontianak dari tahun 2012 sampai saat ini.

    RD. Blasius Blino adalah seorang imam diosesan. Lahir di kampung halamannya He’o Pu’at, 3 Februari 1964 dan wafat pada Sabtu, 20 Agustus 2022 pukul 22.44 WIB di Rumah Sakit St. Antonius Pontianak karena sakit. Almarhum wafat di usia yang ke-58 dan masa bakti sebagai imam kurang lebih selama 28 tahun.

    Misa Requem

    Almarhum RD. Blasius Blino berasal dari desa He’o Pu’at kecamatan Hewokloang kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Almarhum RD. Blasius Blino adalah anak pertama dari sembilan bersaudara yang terdiri dari tiga orang laki-laki dan enam orang perempuan. Satu orang adik perempuannya adalah seorang biarawati, yaitu Sr. Maria PRR.

    Baca Juga: Apasih Bedanya Imam Diosesan & Imam Religius?

    Misa Requem RD. Blasius Blino dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus yang dilaksanakan pada hari ini Selasa, 23 Agustus 2022 pukul 10.00 WIB/11.00 WITA di Gereja Maria Ratu Pecinta Damai Jalan Gusti Hamzah, Gg Pancasila V No. 1 Pontianak, Kalimantan Barat.

    Selamat jalan RD. Blasius Blino, beristirahatlah dalam damai dan hidup kekal bersama Bapa di surga.

    Konsep Unik Uang Rupiah Tahun Emisi 2022

    Konsep Unik Uang Rupiah Tahun Emisi 2022-Radio Diah Rosanti Suara Pontianak- (95.9 FM)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Kamis yang lalu (18/8/2022) secara resmi Bank Indonesia mengeluarkan uang tahun emisi (TE) 2022 yang cukup unik. Dengan ukuran tiap pecahannya berbeda-beda, semakin kecil pecahannya semakin pendek pula ukuran uangnya.

    Menurut Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono, hal itu dimaksudkan untuk memudahkan penyandang tunanetra membedakan pecahan uang.

    Salah satu masyarakat yang menukarkan uang di Eks Gedung Bank Indonesia lama Jalan Rahadi Usman mengatakan “Saya sangat suka dengan tampilan uang baru ini, tetapi ketika dilihat uang ini seperti uang mainan monopoli.

    Takutnya uang ini masih banyak yang belum tahu, dan akan susah untuk dibelanjakan di pasar” ujar Anjela.

    Walau demikian uang TE 2022 ini sah dan berlaku di Indonesia untuk menggantikan uang Rupiah lama.

    Bagi masyarakat kota Pontianak yang ingin menukar ke uang tahun emisi 2022 ini bisa langsung mendaftar di laman website bi.go.id untuk menetukan tanggal penukaran dan jumlah paket uang dengan besaran 200 ribu.

    25 Tahun Hidup Bakti, Kaul Kekal dan Profesi Pertama Suster Pasionis Provinsi St. Yosef Indonesia

    Para Suster Pasionis yang Merayakan Pesta Perak, Kaul Kekal, dan Kaul Perdana Suster-suster Pasionis – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Sebuah kebahagiaan dan merupakan hari yang istimewah bagi kongregasi suster Pasionis Santo Paulus Dari Salib secara khusus bagi Provinsi Santo Yosef Indonesia. Moment istimewah ini datang dari  9 suster  yang merayakan 25 tahun profesi hidup religius, 3 suster yang akan mengikrarkan kaul kekal, dan 4 novis yang akan mengikrarkan profesi pertama religius, Minggu 14 Agustus 2022.

    Misa syukur perayaan yang membahagiakan ini di Indonesia diadakan di dua tempat. Tempat yang pertama yaitu di Ruteng, Manggarai Flores, dan di Sungai Raya Pontianak, Kalimantan Barat tepatnya di Paroki Santo Agustinus Sungai Raya.

    Suster yang merayakan Pesta Perak atau suster Jubilaris, 25 tahun profesi hidup religius untuk provinsi Indonesia pada tahun 2022 berjumlah 9 (sembilan) orang, yaitu Sr. Yasunta Wula, CP merayakan di Ruteng, Sr. Elisabet Norina, CP merayakan di Kanada, Sr. Fransisca Samikem, CP merayakan di Italia, Sr. Sopian Jemian, CP merayakan di Pontianak, Sr. Maria Emiliana, CP merayakan di Pontianak, Sr. Maria Umbut, CP merayakan di Ruteng, Sr. Marta Liwa, CP merayakan di Ruteng, Sr. Ermelinda Soo, CP merayakan di Ruteng, dan Sr. Waldetrudis Halo, CP merayakan di Ruteng.

    Baca Juga: Saya selalu percaya bahwa Roh Kudus selalu memperbaharui hidup saya

    Suster yang akan mengikrarkan Kaul Kekal berjumlah 3 (tiga) orang, yaitu Sr. Yeni Sofianti Kemba Tae, CP di Pontianak, Sr. Theresia Selinu, CP di Pontianak, dan Sr. Yulenta Liliana Dhelo, CP di Ruteng.

    Dan suster profesi pertama, para novis yang akan mengikrarkan kaul pertama, yaitu Novis Florian Sale merayakan di Ruteng, Novis Kristina Tina merayakan di Pontianak, Novis Emilia Ayu Putri Melni merayakan di Ruteng, dan Novis Teni Susanti merayakan di Pontianak.

    Perayaan ini merupakan moment sakral bagi mereka yang memilih untuk hidup membiara menjadi seorang suster. Menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Menjalani hidup membiara adalah sebuah pilihan untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

    Perayaan Istimewah

    Bapa Uskup Mgr. Agustinus Agus sebagai konselebran utama dalam perayaan 25 tahun hidup membiara, kaul kekal dan profesi pertama para suster Pasionis yang dirayakan di gereja St. Agustinus Sungai Raya, Pontianak Kalimantan Barat.  Selain itu hadir pula Bapa Uskup terpilih keuskupan Sanggau Mgr. Valentinus Saeng, CP.

    “Manusia itu kadang-kadang tidak akan lepas dari perasaan tidak yakin diri. Untuk mengatasi itu kuncinya ada pada diri sendiri. Teladanilah Bunda Maria yang bersyukur luar biasa karena Ia dipanggil oleh Tuhan. Ketika suster merasa yakin bahwa Tuhan memanggil suster untuk suatu karya, maka kekuatan ada di dalam diri. Menurut saya kalau Tuhan mau memanggil saya Tuhan juga memberi banyak berkat” ungkap Mgr. Agus dalam homilinya.

    Menjadi seorang biarawan/biarawati dewasa ini semakin banyak tantangan. Kehidupan duniawi yang terlihat manis dan membahagiakan adalah satu diantara godaan yang harus dibentengi dengan kesetiaan dan iman yang teguh.

    Baca Juga: OMK Santo Carolus Memperingati HUT RI ke-77 Dengan Pakaian Adat dan Baju Lintas Profesi

    Mgr. Agustinus Agus juga menyampaikan pesan nya kepada para suster. Ia mengatakan “semua orang mengalami seperti Maria miskin, tersingkir, tidak diperhitungkan. Sebagai manusia tidak boleh merasa dan mengatakan aku ini orang yang paling hina di dunia ini. Dihadapan Tuhan kita semua punya martabat. Dan bagaimana pun, sekecil dan sehina apapun orang itu jika ia yakin menggunakan talentanya Tuhan bisa memakainya sebagai alat dalam perutusan dan pelayanan karya” ungkap Bapa Uskup.

    Keluarga yang mewakili salah satu suster yang mengucapkan kaul kekal menyampaikan ucapan terima kasih dan rasa bahagia dalam sambutannya. “Tentunya kami mewakili keluarga dari Sr. Yeni sangat merasa bahagia dan juga bergembira karena pada hari ini kita boleh merayakan ucapan syukur atas diterimanya Kaul Kekal, dan juga kepada suster-suster yang pada hari ini merayakan pesta perak dan kaul perdana. Kami patut berbangga dan berterima kasih kepada pimpinan provinsial CP Indonesia” ungkapnya.

    Hidup Membiara

    “Tetaplah bertekun dalam doa dan semoga panggilan ini menjadi bukti bahwa Tuhan mencintai anda. Kami juga berdoa bersama semoga perjalanan panggilannya dalam kaul kekal ini juga menjadi bukti bahwa Tuhan mencintai saudara, bukan karena keluarga atau orang tua tetapi Tuhan yang memanggil saudara Yeni untuk hidup membiara selama-lamanya” pesan salah satu keluarga dari Sr. Yeni yang mengikrarkan kaul kekal.

    Salah satu suster dalam kata sambutan mewakili para suster yang merayakan 25 tahun hidup membiara, kaul kekal dan kaul perdana mengucapkan terima kasih atas kebaikan kepada seluruh pihak yang ikut mendukung dan berpartisipasi dan ikut mendoakan.

    “Kami atas nama yubilaris mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kebaikan. Yang mana pada hari ini mungkin kami seperti Bunda Maria yang memiliki hati bahagia dan gembira, seperti murid Yesus yang mana mereka bergembira dan tidak mau pergi karena sudah beradadi bukit ataupun di puncak gunung. Semua ini bukan karena pribadi kami, tetapi karena karya Tuhan yang bekerja di dalam diri kami melalui kongregasi dan juga melalui karya-karya dimana kami berada” ungkapnya dengan penuh syukur.

    Baca Juga: 75 Tahun Kongregasi Pasionis Berada di Indonesia

    Dalam kata sambutannya Bapa Uskup Mgr. Agustinus Agus mengucapkan selamat kepada para suster yang merayakan 25 tahun hidup membiara, kaul kekal dan kaul perdana. Mgr. Agus juga menyampaikan pesan dan harapan kepada para suster.

    “Pesan saya sederhana, bahagialah dan banggalah bahwa kalian telah dipilih oleh Tuhan. Dan sederhana, bagi saya ada dua kata kunci supaya kita bertahan dalam panggilan yaitu rendah hati dan mau berkorban. Semoga semakin banyak orang muda yang terpanggil untuk hidup membiara” ungkap Mgr. Agus.

    Saya selalu percaya bahwa Roh Kudus selalu memperbaharui hidup saya

    Fr. Alexander Fransesco Agnes Ranubaya Profesi: Calon Imam Diosesan Keuskupan Ketapang Asal: Paroki Katedral St. Gemma Galgani Ketapang

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Bersama Romo Subi dan Bu Ana, saya diantar ke Kentungan untuk melihat-lihat bangunan Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta. Saat itu sedang ada acara doa atas meninggalnya seorang Imam dari KAS.

    Waktu yang tepat di mana Romo Subi memperkenalkan setiap makam almarhum Romo yang meninggal dan dikebumikan di area makam tersebut.

    Saya juga diperkenalkan dengan gedung 4 Sanatha Dharma yang ada di sebelah Seminari Tinggi, dormit, refter, kapel dan lain-lain.

    Berjumpa Dengan Uskup Emeritus

    Tidak jauh dari makam, kami menuju ke Wisma Sepuh para imam KAS. Saya sejak lama berniat untuk menjumpai uskup emeritus Ketapang Mgr. Blasius Pujarahardja. Puji Tuhan, beliau masih sangat sehat dan bugar.

    Perjumpaan itu tidak terlalu lama, sekitar 30 menit. Beliau nantinya akan misa sore bersama penghuni wisma lainnya. Saya bersyukur bisa berjumpa dan mendapatkan berkat langsung dari Mgr. Pujo.

    Perjumpaan ini mengingatkan saya ketika masih OMK dulu. Saya sangat sering bermain ke Pastoran Keuskupan dan sering pula berjumpa dengan Mgr. Pujo. Kadang saya meminta berkat dan mencium cincin beliau sebelum pulang ke rumah. Saya juga berteman dengan para Koster di pastoran Keuskupan.

    Baca juga: Putra Dayak Ketapang Live In di Paroki St. Theresia Lisieux Boro

    Banyak sekali kenangan bersama beliau sehingga perjumpaan ini sangat membahagiakan karena sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan salah satu pemimpin Keuskupan Ketapang ini. Beliau juga masih ingat dengan almarhum kakek saya yang bekerja di Yayasan Usaba dulu.

    Semoga dalam proses formatio saya nanti, beliau selalu sehat dan saya bisa menjumpai beliau lagi sebagai imam. Maka yang harus saya lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin agar proses formatio berjalan lancar.

    Saya merasa bahagia, Tuhan Yesus memberikan perjumpaan yang indah ini sehingga mengobarkan semangat panggilan saya.

    Saya ingin meneladani Mgr. Pujo yang juga setia melayani Tuhan Yesus. Bahkan hingga kini di usia tuanya, beliau dengan penuh semangat mencintai imamat sucinya.

    Museum Misi Muntilan

    Masih berkaitan dengan Romo Prennthaler, di Museum Misi ini saya menemukan banyak sekali hal-hal menarik yang membuat hati saya berkobar, terharu, bangga dan ingin meneteskan air mata. Kunjungan kali ini bersama Romo Subi dan Bu Ida sekeluarga untuk melihat-lihat Museum Misi di Muntilan.

    Sebuah gedung yang besar dan berisi peninggalan-peninggalan bersejarah ini sungguh bukti nyata bahwa perjuangan misi di zaman dahulu tidaklah mudah. Saya juga sempat melihat bukti bagaimana Romo Prennthaler mempersiapkan segalanya dengan baik untuk misi di Bukit Menoreh.

    Baca Juga: Sebuah Kapel Kecil yang Sederhana

    Ia juga membangun situs rohani di Sendangsono, membangun gedung misi, membawa lonceng Angelus, membabtis banyak orang, dan menolong banyak orang yang kesusahan.

    Ada juga Romo Sanjaya dalam catatan Musium Misi Muntilan, menjadi korban fitnah keji orang-orang tidak bertanggungjawab. Beliau gugur sebagai martir, dibunuh secara keji dan kabar pembunuhannya juga diputarbalikkan. Syukurnya, fakta-fakta kasus pembunuhan Romo Sanjaya tersebut diabadikan di Museum Misi. Di situ juga adda catatan mengenai Romo Van Lith yang menginspirasi untuk memperjuangkan nasib orang Jawa dari tangan penjajah Belanda melalui pendidikan.

    Kami juga mengunjungi makam tokoh-tokoh yang ada di Museum tersebut. Lokasinya tidak jauh dari SMA PL Van Lith. Beberapa catatan sejarah mengenai Romo Prennthaler juga sudah saya ketik dalam sebuah artikel online supaya orang-orang mengetahui bahwa upaya dalam melaksanakan karya Misi di Paroki Boro pada masa silam merupakan perjuangan besar.

    Maka, umat masa kini harus menyadari bahwa semangat misi harus terus berkobar di dalam hati sehingga tidak mudah terseret oleh arus zaman.

    Baca juga: Membagikan Tubuh Kristus

    Saya juga merenungi bahwa Tuhan telah merancang dengan begitu sempurna segala karya buatan tangan-Nya yang terpatri dalam sosok-sosok misionaris handal salah satunya Romo Prennthaler dan Romo Van Lith. Semangat serupa dapat saya timba untuk memelihara panggilan saya sebagai calon imam.

    Di masa kini, kecenderungan untuk melayani seperti pada misionaris mungkin sulit ditemukan. Justru dengan keadaan damai seperti sekarang ini, saya menyadari bahwa saya harus mulai memikirkan bagaimana model pelayanan yang akan saya lakukan kelak.

    Bukan bermanja-manja oleh kenyamanan yang diberikan seminari ataupun perhatian besar dari umat. Cara saya membalasnya adalah dengan menjalani panggilan dengan serius dan mantap.

    Simpulan Selama Live In di Paroki Boro

    Saya sangat bersyukur dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui Paroki St. Theresia Lisieux Boro ini. Saya bersyukur memiliki mentor yang selalu mengajari dan menasehati saya baik dari Romo Suby dan Romo Andi.

    Saya juga bersyukur memiliki partner rekan seperjalanan yaitu Fr. Egi dan Fr. Panji yang hadir dalam proses belajar saya ini.

    Saya juga memiliki kelemahan secara pribadi, namun dalam proses belajar ini saya menggali banyak pengalaman berharga dan model penggembalaan yang diperbaharui dalam hati saya.

    Baca juga: Redaksi Media dalam Jurnalistik

    Meskipun jalan terjal, berliku, sempit, kiri kanan ada jurang, namun panggilan Tuhan untuk melayani umat lebih kuat dari rasa takut, malas, dan sikap menunda-nunda. Dalam sehari mungkin bisa melayani sekian kali, tetapi Tuhan memberikan energi tak terbatas untuk melayani-Nya.

    Jangan kentang atau sayur kentang sangat melimpah di Boro, tetapi makanan yang kelihatan sederhana ini menjadi kerinduan saya saat ini.

    Setiap bangun pagi, saya melihat perbukitan Menoreh dari balik jendela kamar. Selalu ada pertanyaan dalam hati saya,”Hal seru apa lagi yang Tuhan ingin tunjukkan pada saya hari ini?” Dan benar, setiap hari selalu ada saja hal-hal baru. Dan setiap hari pula saya mempelajari banyak pengalaman baru.

    Saya selalu percaya bahwa Roh Kudus selalu memperbaharui hidup saya setiap hari. Yang Tuhan inginkan pada saya adalah kepekaan untuk melihat rencana dan karya Allah yang nyata ada dalam hidup saya. Saya bukanlah manusia yang sempurna, namun saya selalu mampu merasakan bahwa Tuhan Yesus selalu menyempurnakan hidup saya setiap hari.

    Refleksi

    Refleksi ini menjadi suatu pengingat dalam proses formatio bahwa setiap perjalanan hidup bukanlah hal yang kebetulan. Tuhan sudah merancang dengan sempurna penyelenggaraan ilahi di dalam hidup saya.

    Semata bukan sekedar sukacita badani yang memuaskan panca indra dan kesenangan sesaat. Melainkan sukacita sejati yang tersirat dalam setiap peristiwa-peristiwa sederhana sebagai buah karya Tuhan bagi umat-Nya yang dikasihi-Nya. Mengenai panggilan yang pasang surut seperti air laut.

    Biarkan kehendak Tuhan yang bekerja dalam diri kita. Sibakkan sejenak gelombang-gelombang keinginan dalam buih-buih kenyataan. Endapkan dalam kelembutan setiap sapuan ombak kehidupan yang menghapus aneka problema-problema yang ada sebagai pribadi calon imam.

    Yang kita perlukan adalah membuka mata hati selebar-lebarnya untuk melihat sang surya yang terbit dan terbenam setiap hari. Keelokannya akan tetap indah, jika kita duduk tenang dengan menghidup udara sekitar, memandang dengan kagum karya-Nya yang Agung dan terus selalu berharap seperti orang yang menantikan fajar yang menyingsing.

    Baca juga: Undangan untuk Fasilitator Kitab Suci- KAP

    Berdiri tegap menjaga panggilan, jejak-jejak kaki di antara pasir mungkin terhapus ombak, tetapi cinta Tuhan yang sebegitu luas melebihi samudera itu akan abadi di dalam hati yang terbuka oleh rahmat Roh Kudus yang tercurah dalam langkah panggilan kita.

    Matur nuwun, lan Berkah Dalem. 

    Selesai…

    Terinspirasi Dengan Romo Prennthaler

    Camping Rohani/ Frater Sesko

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Romo Prennthaler adalah sosok yang sangat penting dalam perkembangan Paroki St. Theresia Lisieux Boro. Beliau adalah misionaris Jesuit yang dengan segenap pikiran dan tenaga berupaya keras membangun misi di Pegunungan Menoreh. Beliau memperhatikan rakyat Bukit Menoreh dengan kasih baik di bidang kesehatan, pendidikan hingga kesejahteraan rakyat.

    Untuk merintis karya misi, beliau harus mengorbankan banyak hal, waktu, tenaga, pikiran, dan terkadang harus menghadapi tantangan dari pihak-pihak radikal. Karena merupakan karya Roh Kudus, apapun usaha yang menghalangi takkan berhasil mematahkan rencana ilahi.

    Baca juga: Membagikan Tubuh Kristus

    Hingga saat ini karya misi Romo Prennthaler abadi dan umat di Paroki Boro berkembang menjadi umat yang militan dan setia dalam imannya. Saya mulai membaca buku-buku mengenai beliau yang ada di Paroki, membedah sedikit demi sedikit dan menguraikannya menjadi artikel kecil di sebuah situas artikel Katolik.

    Karya Romo Prennthaler ini, menurut hemat saya perlu diketahui oleh banyak orang supaya semangat misi terus digaungkan.

    Umat yang membacanya terinspirasi untuk membangun lingkungannya masing-masing dengan menggali inspirasi serupa dari Romo Prennthaler ini. Masih sedikit media online yang memperkenalkan seluk beluk Paroki Boro dari telaah sejarah. Saya hanya membantu sedikit dari banyak tulisan-tulisan yang ada agar tidak lekang oleh waktu.

    Jangan sampai umat sendiri melupakan sejarah, dalam situasi yang damai terlena pada waktu dan tergerus oleh arus zaman. Dengan catatan sejarah ini, memantik kembali semangat umat yang mungkin mulai redup. Atau bahkan menjadi pengingat bagi siapa saja bahwa karya Tuhan tidak akan mengalami gesekan waktu.

    Seni Slaka

    Hal yang unik dari Paroki Boro adalah inkulturasi yang luar biasa menurut saya antara budaya Islam Salawat sebagai sarana pewartaan umat Katolik. Seni ini disebut sebagai Seni Slaka (Selawatan Katolik).

    Seni Slaka ini merupakan kisah yang ada dalam Kitab Suci yang dinyanyikan menggunakan alat-alat musik Salawat Islam pada umumnya seperti tamborin, rebana dan gendang. Seni Slaka ini didendangkan bersama-sama secara harmoni dalam iringan musik dan juga tepuk tangan.

    Seni Slaka ini biasanya dilaksanakan setiap Malam Jumat Kliwon berdasarkan penanggalan Jawa di Makam Romo Prennthaler.

    Maka dari itu, Seni Slaka ini sangat unik dan perlu sekali untuk dilestarikan. Saya sendiri sangat takjub dan kagum karena keunikan inkulturasi ini. Saya menyaksikan secara langsung seni Slaka tersebut hingga akhir.

    Baca juga: Putra Dayak Ketapang Live In di Paroki St. Theresia Lisieux Boro

    Seni Slaka ini mirip sekali dengan acara gendang yang ada di Kalimantan khususnya Ketapang. Saya sempat terpikir, apakah Nyagahan ala orang Dayak juga bisa diinkulturasikan seperti Seni Slaka ini.

    Nyagahan artinya memanjatkan doa dari para tetua adat dengan menggunakan bahasa Dayak tentunya.

    Seperti Salawat yang berisi doa-doa dalam Alquran, Seni Slaka berisi kisah-kisah dalam Alkitab. Menurut saya, tradisi Nyagahan tersebut juga tidak mustahil diadopsi dengan mendendangkan kisah-kisah dalam Alkitab dan dinyanyikan dengan iringan gendang, kulinang dan gong.

    Sekilas itu hanya pikiran saja, tetapi tidak mustahil dilakukan untuk menumbuhkan iman umat di daerah kami.

    Seni Slaka ini sungguh memiliki daya tarik iman yang kuat di kalangan masyarakat Jawa yang ada di Paroki Boro. Budaya-budaya seperti ini sangat perlu dilestarikan karena selain menumbuhkan iman umat, itu juga dapat menjadi kekayaan tradisi Gereja Katolik lokal yang berdaya seni, religi dan sekaligus kultural.

    Opet dan Coki

    Di Pastoran Boro, ada dua ekor sahabat setia yang bernama Opet dan Coki. Mereka adalah dua ekor anjing penjaga yang selalu setia menjaga pastoran agar tetap aman. Saya menulis tentang mereka berdua ini sebagai bahan refleksi, karena saya menemukan hal menarik yang patut untuk saya renungi.

    Untuk Coki, mungkin agak tidak terlalu sulit untuk didekati karena mudah akrab dengan siapa saja. Kebalikannya, si Opet ini sulit untuk mendekati orang baru. Jadi selama berminggu-minggu saya berusaha untuk mendekati si Opet ini.

    Baca juga: Kapitel Ordo Fransiskan Sekular Regio Kalimantan

    Saya bertanya-tanya kepada Mbok Hendrik dan Mas Dani mengenai perilaku si Opet ini. Dan memang, Opet sulit untuk didekati bahkan ketika saya hendak memberikan makanan. Di ujung akhir live in, saya selalu bermain dan mengelus-elus Coki, induk dari Opet ini.

    Mungkin karena ingin diajak main juga, entah kenapa tiba-tiba Opet rebahan di depan saya sama seperti Coki yang rebahan karena minta dielus. Karena sama-sama rebahan, saya elus kedua-duanya dan Opet mau juga dipegang dan dielus.

    Di hari berikutnya, walau agak waspada, Opet akhirnya mau mendekat dan dielus juga. Opet ini membuat saya merenung sejenak, apakah ada yang salah dari saya pribadi.

    Ternyata tidak! Opet sebagai seekor anjing memiliki kemampuan untuk waspada pada orang baru. Awalnya saya ingin menyerah saja, sampai di akhir live in saya tidak dapat menyentuh anjing tersebut. Tetapi pada akhirnya bisa juga dan bahkan menjadi sangat akrab.

    Seperti seekor anjing, tidak sedikit orang perlu waktu untuk mengenal dan beradaptasi. Sikap waspada memang dianjurkan bahkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Dengan waspada, kita mempelajari gerak-gerik, situasi, kondisi, perubahan, tindak tanduk dan karakter. Waspada juga berarti siap menghadapi situasi yang tak terduga.

    Jadi, secara tidak langsung Opet mengajarkan kepada saya bahwa sikap waspada itu perlu agar tidak mudah terseret arus dan menjadi adaptif seperti Coki juga penting agar mudah memperoleh teman yang banyak.

    Sikap waspada dan adaptif merupakan hal yang bersinergi, karena dalam dunia kerja dan pelayanan, setiap orang diminta untuk mampu bekerja sama, ulet, tekun, terampil dan teliti yang sederhananya diwujudkan dalam sikap waspaada dan adaptif tersebut.

    Camping Rohani

    Camping rohani di sini diselenggarakan secara mandiri oleh teman-teman Putra-putri Altar Samigaluh.

    Mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, saya bersama Fr. Egi turut serta bersama-sama teman-teman panitia. Menurut saya pribadi, mereka ini adalah pribadi-pribadi yang hebat. Alasannya adalah kemandirian dan sikap berani untuk mengadakan kegiatan yang selama ini belum pernah dilaksanakan.

    Mereka paham betul persiapan yang harus dilakukan. Sementara saya hanya memberikan semacam gambaran besar dan mereka mewujudkannya dalam sebuah round down yang sangat rapi.

    Saya dalam hal ini tidak ada apa-apanya dibandingkan teman-teman misdinar yang bertahun-tahun melayani altar. Namun sekali lagi, melalui mereka saya belajar dan juga berbagi pengalaman sehingga memperkaya.

    Inti acara camping rohani adalah berbagi pengalaman antara satu dengan yang lain. Saya tidak menggurui dan justru memberikan keleluasaan pada setiap pribadi untuk saling memotivasi.

    Baca juga: Sebuah Kapel Kecil yang Sederhana

    Sisanya adalah keceriaan bersama yang dipadukan dalam beberapa permainan outdoor. Permainan-permaiann tersebut diadaptasi dari beberapa kegiatan retret yang pernah saya lalui sewaktu masih awam dahulu.

    Camping rohani bagi saya bukan sekedar ajang untuk senang-senang belaka melainkan situasi untuk merenung, bertolak sejenak dari hiruk pikuk dunia dan menyatu dengan alam serta ketenangannya. Sebagai pelayan altar, kekuatan kita tidak lain adalah doa.

    Maka, camping rohani tentu saja berbeda dengan camping gunung yang hanya menghindari keramaian belaka. Di dalam camping rohani, setiap pribadi tetap menjadi dirinya sendiri dan mengalami perenungan baik disadari atau tidak.

    Segala macam penyegaran rohani tersebut tertanam dalam pikiran bawah sadar sebagai suatu energi positif untuk melangkah ke depan. Sementara permainan-permainan menjadi sarana pemantik semangat yang mengandung makna mendalam di antaranya kerja sama, kekompakan, saling percaya, pengertian, teliti dan lain sebagainya.

    Bersambung, Lanjut Part 5…

    Membagikan Tubuh Kristus

    Membagikan Tubuh Kristus- Dokumentasi Frater Fransesko

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA– Selama di Paroki Boro, saya banyak melaksanakan tugas membagikan komuni. Saya sangat bahagia ketika mendapatkan tugas ini sebab saya berpartisipsi langsung dalam Perjamuan Kristus dalam Ekaristi.

    Bagi saya pribadi, Ekaristi merupakan kekuatan yang menjiwai keseharian saya. Tanpa Ekaristi, saya merasa ada bagian hidup saya yang kurang.

    Kebiasaan saya sejak OMK adalah misa harian. Memang, kebanyakan dari orang-orang yang lanjut usia yang hadir dalam Misa Harian. Karena waktu masuk sekolah beberapa menit setelah misa, sekalian saja ikut misa harian karena rumah saya juga tidak jauh dari gereja Katedral.

    Baca juga: Putra Dayak Ketapang Live In di Paroki St. Theresia Lisieux Boro

    Kebiasaan misa harian ini sangat melekat dan membuat saya cinta pada Ekaristi. Teman-teman saya enggan mengikuti Misa Harian karena berbagai alasan. Kebiasaan tersebut saya lakukan hingga saya merantau ke Pontianak hingga saat ini.

    Syukurnya, selama menjalani formatio saya dapat mengikuti misa secara intens setiap hari di kapel seminari.

    Apalagi selama pandemi, kami tetap bisa menyambut Ekaristi di mana setiap orang mengalami pembatasan untuk melaksanakan misa di gereja. Oleh karena itu, saya bisa merasa bersyukur karena di dalam keterbatasan, saya masih dapat menyambut Ekaristi.

    Misa Harian di Paroki Boro terasa sedikit berbeda karena menggunakan Bahasa Jawa. Sedikit demi sedikit saya mulai emahami Ekaristi Bahasa Jawa melalui buku Kidung Adi yang selalu saya bawa dalam misa.

    Biasanya saya duduk di bangku dan menerima hosti, tapi kali ini mendapat tugas membagikan Ekaristi.

    Bukan sekedar sukacita saja, saya dapat membayangkan masa depan ketika saya berdiri dan membagikan hosti sebagai imam.

    Membagikan komuni menjadi proyeksi indah di mana kelak saya akan mempersembahkan Ekaristi dan membagikan sukacita besar itu kepada orang banyak. Tentu saya sangat berterima kasih, atas kemurahan hati Romo Andi dan Romo Suby yang memberikan tugas mulia ini.

    Bagi para frater, tugas membagi komuni adalah hal yang biasa, tetapi saya melihat dari sudut pandang berbeda di mana membagikan Ekaristi berarti membagikan berkat yang sangat besar kepada umat.

    Tuhan Yesus berkenan turun dan memanggil orang berdosa seperti saya untuk ikut ambil bagian dalam pengorbanan-Nya di Kayu Salib setiap hari. Saya tak henti-hentinya mengucap syukur atas rahmat belas kasih Tuhan kepada saya.

    Berdinamika Dengan Kaum Muda

    Di Paroki Boro ini, saya berdinamika bersama anak-anak dan orang muda. Melalui kegiatan-kegiatan bersama kaum muda ini, saya kembali belajar banyak untuk memahami dan mengerti cara hidup anak-anak dan kaum muda.

    Saya juga belajar hal-hal baru seperti materi-materi pembinaan, gerak lagu, permainan-permainan, dan lebih daripada itu, saya belajar untuk melawan diri sendiri terutama melawan ketegangan dan rasa tidak percaya diri.

    Di Paroki Boro ini, saya benar-benar diberikan keleluasaan untuk belajar banyak dari orang-orang muda.

    Perlakuan setiap orang dari anak-anak, remaja hingga dewasa memang berbeda-beda. Cara menyampaikan materi kepada anak-anak dan orang muda tidaklah sama seperti menyampaikan materi kepada orang dewasa. Saya belajar bagaimana mencari cara agar selama penyampaian materi, anak-anak dan orang muda tidak merasa jenuh.

    Baca juga: Sebuah Kapel Kecil yang Sederhana

    Saya berterima kasih kepada Direktur TOR sewaktu saya di Ketapang, Romo Andreas Setyo Budi Sambodo yang mengajarkan saya banyak sekali gerak lagu dan pemainan sehingga saya dapat menerapkannya di Paroki Boro.

    Saya merefleksikan dinamika ini pertama-tama sebagai sarana belajar, juga sebagai sarana pengembangan diri untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan manapun.

    Saya juga merenungkan, meskipun kelihatannya saya dilepas, tetapi saya menganggap hal tersebut sebagai kepercayaan yang diberikan oleh Para Romo di Paroki Boro untuk mengembangkan diri secara langsung dan mandiri, sekaligus melayani kaum muda. Semua itu semata-mata demi memuliakan nama Tuhan Yesus sendiri melalui sesama.

    Belajar Bahasa Jawa

    Dalam setiap perkenalan, Romo Andi selalu berpesan kepada para umat bahwa hadirnya saya di Paroki Boro adalah untuk live in sekaligus belajar bahasa Jawa. Karena keinginan yang kuat ini, saya mulai sedikit demi sedikit mengumpulkan kosa kata bahasa Jawa baik Ngoko maupun Kromo.

    Romo Andi dan Romo Suby sangat sabar setiap kali saya bertanya mengenai arti dari suatu kata dalam bahasa Jawa. Selain itu, para Romo juga menjelaskan kapan dan di saat apa saja kosa kata Jawa tersebut digunakan.

    Setelah saya mempelajarinya selama satu bulan, saya berkesimpulan bahwa Bahasa Jawa tidak dapat dipelajari secara mudah hanya dalam waktu singkat.

    Meskipun demikian, setidaknya saya sudah mempelajari banyak kosa kata yang dapat digunakan sehari-hari minimal memahami maksud homili ketika Romo menggunakan bahasa Jawa. Ketika ada kata yang asing, saya akan mencatat di dalam note handphone dan bertanya kepada Romo.

    Saya bersyukur dipertemukan kepada dua Romo yang masih muda dan energik sehingga sabar dan mau mengajari saya bahasa Jawa walaupun terkadang saya masih mengalami kesalahan baik secara tulisan maupun tulisan.

    Tidak hanya itu, umat juga terkadang membantu saya menterjemahkan Bahasa Jawa ketika saya bertanya. Saya merefleksikan dinamika dalam mempelajari Bahasa Jawa, sama seperti mempelajari bahasa lainnya seperti Bahasa Inggris, Mandarin dan Bahasa Dayak.

    Hanya saja, tingkatan dalam Bahasa Jawa membuat saya harus mampu memutuskan dengan bijak di mana saya harus menggunakan bahasa Ngoko dan bahasa Kromo. Ini membuktikan bahwa orang Jawa masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tata krama dan hormat kepada orang lain.

    Jadi, tidak sembarangan berbicara, tetapi membutuhkan adab yang bergantung kepada siapa saya berbicara. Belajar bahasa sangat menarik, hanya saja rasa-rasanya waktu yang saya lalui terlalu sedikit untuk mempelajarinya.

    Berjumpa Dengan Mantan Guru

    Di Lingkungan St. Yusuf Balong saya berjumpa dengan mantan guru saya yang sudah pensiun. Saya tidak sengaja berjumpa dengan beliau di Kapel. Nama beliau adalah Pak Sukino.

    Saya berjumpa dengan beliau di akhir misa. Beliau mengatakan bahwa pernah mengajar di Ketapang sebagai guru Fisika.

    Teringatlah saya dengan seorang guru yang dulunya berkumis dan gemuk sama seperti bapak ini. Beliau memperkenalkan diri dan barulah saya sadar bahwa orang yang ada di depan saya tersebut adalah bapak guru saya yang mengajar di SMP PL St. Albertus dahulu. Hanya saja, sekarang tampak rapi tanpa kumis dan malahan agak terlihat lebih muda.

    Beliau juga menjelaskan bahwa ada guru lain yang asalnya dari Boro, beliau adalah pak Jayadi yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Pak Jayadi juga adalah guru saya sewaktu bersekolah di SD PL St. Yoseph Ketapang sebagai guru matematika. Anaknya pak Jayadi sendiri merupakan satu angkatan dengan saya.

    Baca juga: Percaya itu, tak sekedar Yakin – (dengan huruf besar P & Y)

    Melalui perjumpaan yang tidak kebetulan ini, saya ditunjukkan oleh Tuhan sendiri bahwa saya pasti akan berjumpa kembali dengan orang-orang yang pernah berjasa dalam pendidikan saya. Tidak hanya dengan guru saya, beberapa orang yang tidak saya duga, terkadang bisa berjumpa di tempat saya bertugas atau tempat yang saya kunjungi.

    Dunia ini memang terlihat sempit, meskipun demikian pikiran kita harus lebih luas agar mampu menimba makna yang mendalam dari secuil peristiwa sederhana menjadi sebuah kejadian yang berharga.

    Bersambung, Lanjut Part 4…

    Sebuah Kapel Kecil yang Sederhana

    Frater Fransesko diberkati dan didoakan- Dokumen Frater Fransesko

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA– Paroki Boro: Romo Andi mengendarai mobil hitam milik Paroki. Sebelum menuju Paroki Boro, Romo Andi mengajak saya mengelilingi Kota Yogyakarta dan memperkenalkan beberapa daerah yang cukup terkenal seperti titik nol Yogyakarta, Benteng Kraton Yogyakarta, Gedung-gedung Universitas yang ada di Yogyakarta, serta Tugu Yogyakarta.

    Ketika mulai memasuki jembatan Kali Kulonprogo, saya memperhatikan sekeliling jalanan. Apalagi saat melihat hamparan sawah hijau yang ada di kiri kanan jalan. Situasi pedesaan yang sudah lama sekali saya idam-idamkan. Saya bisa mencium udara yang masih segar dan semuanya masih asri.

    Baca juga: Putra Dayak Ketapang Live In di Paroki St. Theresia Lisieux Boro

    Setibanya di Paroki, saya belum melihat area Gereja. Parkiran Gereja Paroki Boro tersebut seperti model benteng, jalannya menanjak karena berada di atas bukit. Semuanya tampak bersih dan rapi.

    Kamar yang akan saya tempati berada di atas di sebelah kiri menghadap Bukit Menoreh. Di bawahnya ada sebuah Patung Maria berwarna putih di bawah pohon klengkeng raksasa. Di halaman juga masih terdapat banyak pohon dan kandang itik.

    Suasana yang tentu saja jauh dari keramaian kota. Jujur saja, saya sangat menyukai suasana pedesaan seperti Paroki Boro.

    Tentu saja, karena suasana yang sangat tenang, segar dan sejuk seperti inilah yang tentu saja diinginkan oleh banyak orang yang merasakan penat ketika berada di Kota.

    Hiruk pikuk dan keramaian terkadang membuat saya sulit untuk berpikir dengan tenanng. Saya tidak membenci keramaian. Saya sendiri perlu untuk mengalami ketenangan dalam keseharian. Maka ketika berada di situasi perkotaan, saya menekuni semacam healing pribadi melalui doa, refleksi, dan examen.

    Di Paroki Boro ini, tenaga jiwa dan raga tumbuh berkali-kali lipat karena situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk merasakan kehadiran Tuhan baik di tengah keramaian maupun di dalam ketenangan.

    Selain itu, Paroki Boro memiliki umat yang sangat ramah dan senang menyapa. Hal tersebut selalu saya tunggu setiap kali akan misa pagi.

    Tidak pernah saya menyia-nyiakan kesempatan untuk misa demi berjumpa dengan umat yang sangat ramah. Saya sangat bersyukur ditempatkan di Paroki Boro yang tentunya memantik panggilan saya. Aneka pengalaman-pengalaman akan dikisahkan dalam beberapa kejadian yang saya alami serta disyukuri sebagai bagian dari penyelenggaraan Tuhan.

    Bertugas Pertama Kali

    Desa itu bernama Kriyan, dengan nama pelindung Santo Yohanes. Sebuah kapel kecil yang sederhana. Saya begitu terharu melihat umat yang berkumpul untuk melaksanakan misa. Jumlahnya tidak begitu banyak, namun memenuhi seluruh ruangan kapel yang kecil itu.

    Yang membuat saya tambah terharu adalah ketika misa menggunakan bahasa Jawa. Saya agak kebingungan bahkan plonga-plongo karena orang Kalimantan seperti saya tidak fasih menggunakan bahasa Jawa.

    Karena inilah saya kemudian meminta kepada Romo Andi untuk mengajarkan saya bahasa Jawa.

    Di dalam misa tersebut, saya diizinkan Romo Andi untuk meminum air anggur yang sudah dikonsekrasikan. Ini adalah hal yang mengejutkan bagi saya pribadi. S\aya sendiri merasa hal tersebut berada antara mimpi dan kenyataan.

    Baca juga: Undangan untuk Fasilitator Kitab Suci- KAP

    Sesaat saja saya berpikir, tetapi akhirnya saya kemudian meminum air anggur yang telah menjadi darah Kristus ini. Saya sempat bertanya dalam hati apakah saya layak untuk meminum cawan suci berisi Tubuh Tuhan itu.

    Tetapi dorongan jiwa lebih cepat daripada pikiran, saya lekas menghabiskan anggur tersebut. Saya mengamininya dan menyambut hadirat Tuhan dengan sukacita.

    Tentu saja hal tersebut memberikan sukacita besar pada diri saya secara khusus. Melalui peristiwa ini, secara langsung Tuhan mengetuk hati saya dan dengan kesadaran penuh pula saya menerima-Nya meskipun di dalam hati ada rasa tidak enak untuk menerimanya karena masih terlalu dini sebagai seorang frater.

    Peristiwa ini juga menjadi momen yang takkan saya lupakan. Sebab bukan suatu kebetulan cawan ini diberikan kepada saya sebelum memulai tugas live in di Paroki Boro ini.

    Medan Menanjak dan Menurun

    Hal yang menarik ketika memulai pelayanan baik bersama Romo Andi maupun Romo Suby (Pastor Paroki Boro) adalah perjalanan menuju kapel wilayah dan lingkungan. Perjalanan kami melalui jalur-jalur yang menanjak dan juga menurun.

    Hal tersebut tentu saja memancing adrenalin saya yang sudah lama sekali tidak melakukan perjalanan seperti ini. Kadang-kadang, jalanan yang dilalui super-menanjak dan menurun begitu terjal. Syukurnya, kendaraan yang saya gunakan adalah motor Megapro yang cocok untuk medan seperti itu.

    Saya membandingkan dengan medan di Ketapang yang memang tidak securam dan seterjal Paroki Boro, tetapi jauh lebih sulit karena jalanannya berlumpur, berpunggung kuda, di antara selokan, kadang-kadang ada papan miting, dan bahkan jalan terputus oleh banjir dan mobil amblas.

    Baca juga: Meminjam Kata Santo Fransiskus: Bila Terjadi Penghinaan, Jadikanlah Kita Pembawa Damai

    Di Paroki Boro ini sangat-sangat nyaman karena jalanannya mulus dan beraspal. Jadi, tidak ada alasan untuk menunda perjalanan, berbeda dengan stasi di Ketapang di mana terkadang umat menunggu Romo karena harus melalui jalan rusak. Hal ini membutuhkan waktu berjam-jam untuk dilewati.

    Oleh karena itu, medan Paroki Boro menjadi tidak terlalu sulit jika dibandingkan dengan medan di wilayah Keuskupan Ketapang.

    Saya merefleksikan perjalanan tersebut sebagai lika-liku kehidupan saya yang juga mengalami tanjakan dan turunan. Tetapi karena landasan iman yang kuat, meskipun keliatannya jalan itu mulus, harus tetap siaga karena jalan mulus kadang menyebabkan kantuk, ceroboh dan tidak waspada.

    Berbanding terbalik dengan jalanan yang hancur dan rusak, suka tidak suka harus dilalui, mungkin seringkali mengalami jatuh tetapi tidak sampai merusak. Dibutuhkan sikap terbiasa agar semakin fasih melewati jalanan yang sama dalam beberapa waktu. Biasanya jalan rusak malahan membuat kita lebih waspada.

    Sehingga kecelakaan antar kendaraan jarang sekali terjadi. Dinamika kehidupan yang saya renungkan seperti jalanan ini menuntut kewaspadaan, kedewasaan, dan kebijaksanaan yang tajam.

    Bersambung, Lanjut Part 2… 

    TERBARU

    TERPOPULER