Wednesday, February 11, 2026
More

    Putra Dayak Ketapang Live In di Paroki St. Theresia Lisieux Boro

    Oleh: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya- Calon Imam Diosesan Keuskupan Ketapang

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Awal Perutusan: Tidak pernah terbayangkan atau atau bahkan terpikirkan bagaimana bentuk, situasi, kondisi, atau gambaran apapun mengenai tempat putusan yang akan saya kunjungi. Sebelum mendapatkan tugas perutusan, saya hanya diberitahu bahwa akan ditugaskan di Paroki Boro.

    Maka dari itu, tanpa berpikir terlalu lama, orang yang manut seperti saya ini menyetujui apapun tempat perutusan saya tersebut.

    Karena rasa penasaran, saya mencoba untuk mencari di internet apakah dan di manakah Paroki Boro yang dimaksud tersebut. Dari hasil pencarian, saya melihat sebuah gambar tampilan gereja yang sangat indah dan klasik dengan model budaya Jawa di bagian dalamnya. Terbesit di dalam benak saya, ada keinginan untuk mempelajari bahasa Jawa.

    Apalagi Paroki Boro merupakan daerah yang berada di Yogyakarta, sebuah tempat yang sejak dahulu ingin saya kunjungi. Saya juga mencari informasi tentang Romo Paroki yang melayani wilayah tersebut.

    Baca juga: Undangan untuk Fasilitator Kitab Suci- KAP

    Saya juga tertarik dengan gambar taman doa yang ada di website Paroki Boro. Melalui informasi inilaih, saya juga mulai mencari kontak Romo Paroki dan melakukan komunikasi untuk pertama kali.

    Saat itu, saya melakukan kontak dengan Romo Andi Muda. Menurut informasi, Romo Andi Muda pernah menjalani diakonat di Keuskupan Ketapang. Tentu saja hal tersebut menjadi jalan lebar untuk lebih dekat dan akrab dengan sifat serta ciri khas orang Ketapang seperti saya ini.

    Saya merenungkan bahwa Tuhan sudah mempersiapkan jalan untuk membakar semangat panggilan saya di sebuah Paroki yang kurag lebih memiliki situasi geografis yang nyaris persis seperti Keuskupan Ketapang

    Sendirian ke Yogyakarta

    Sebelum melaksanakan live in, saya bersama beberapa frater melaksanakan lokakarya Misi Umat Vinsensian di Kediri.

    Maka saya akan pergi ke Yogyakarta melalui Kediri. Setelah melaksanakan lokakarya selama tiga hari, saya menumpang di rumah sepasang umat yang saya kenal baik yakni Bu Endang dan Pak John. Saya sendiri belum pernah naik travel semenjak berada di Jawa. Saya pikir, travel di Jawa kurang lebih sama seperti travel di Ketapang.

    Ternyata, mobil travel yang menjemput saya itu bentukannya mirip minibus dan penuh dengan penumpang. Travel yang akan mengantar saya ke Yogyakarta itu diestimasikan tiba pada malam hari sekitar pukul 10.00 malam.

    Saya sudah menghubungi Romo Andi bahwa saya mungkin akan turun di Yogyakarta pada pukul 05.00 pagi. Akhirnya, di hari yang sama itu pula, saya pamitan dengan Bu Endang dan Pak John yang telah berbaik hati memberikan tumpangan sembari menunggu travel akan tiba.

    Baca juga: OMK Santo Carolus Memperingati HUT RI ke-77 Dengan Pakaian Adat dan Baju Lintas Profesi

    Di tengah perjalanan, kejadian membingungkan terjadi. Ketika dalam perjalanan menuju Yogyakarta, travel berhenti di sebuah stasiun dan istirahat makan di situ.

    Tiba-tiba travel yang saya tumpangi mengganti rutenya sehingga kami harus pindah ke travel yang akan mengantarkan kami ke Yogyakarta. Tentu saja untuk orang yang pertama kali menggunakan travel di Jawa, perasaan saya tidak karu-karuan. Dengan berpasrah, saya percaya saja dan naik ke angkutan tersebut.

    Dalam beberapa perjalanan saya berkali-kali terbangun karena tidak tenang. Sewaktu langit mulai menampakkan cahayanya dan waktu menunjukkan pukul 05.00.

    Saya bertanya kepada salah satu penumpang,”Apakah perjalanan ke Yogyakarta masih lama?” Penumpang itu menjawab bahwa jarak tempuh menuju Yogyakarta masih sangat jauh. Baterai handphone saya juga hampir habis.

    Saya kemudian mulai menghubungi Romo Andi dan memberitahukan bahwa kemungkinan besar saya tiba di Yogyakarta agak telat. Bus tersebut ternyata mengantarkan barang-barang ke alamat yang dituju. Ketika ditanya, di manakah tempat perhentian yang akan saya tuju ketika sudah sampai di Yogyakarta.

    Saya memberitahukan kepada sopir, bahwa saya akan turun ke Malioboro. Sesampainya di Malioboro, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Ketika turun di Malioboro, saya merasa lega dan mulai menghubungi Romo Andi kembali.

    Bersambung, Lanjut Part 2…

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles