Tuesday, December 5, 2023
More

    Membagikan Tubuh Kristus

    Oleh: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya- Calon Imam Diosesan Keuskupan Ketapang

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA– Selama di Paroki Boro, saya banyak melaksanakan tugas membagikan komuni. Saya sangat bahagia ketika mendapatkan tugas ini sebab saya berpartisipsi langsung dalam Perjamuan Kristus dalam Ekaristi.

    Bagi saya pribadi, Ekaristi merupakan kekuatan yang menjiwai keseharian saya. Tanpa Ekaristi, saya merasa ada bagian hidup saya yang kurang.

    Kebiasaan saya sejak OMK adalah misa harian. Memang, kebanyakan dari orang-orang yang lanjut usia yang hadir dalam Misa Harian. Karena waktu masuk sekolah beberapa menit setelah misa, sekalian saja ikut misa harian karena rumah saya juga tidak jauh dari gereja Katedral.

    Baca juga: Putra Dayak Ketapang Live In di Paroki St. Theresia Lisieux Boro

    Kebiasaan misa harian ini sangat melekat dan membuat saya cinta pada Ekaristi. Teman-teman saya enggan mengikuti Misa Harian karena berbagai alasan. Kebiasaan tersebut saya lakukan hingga saya merantau ke Pontianak hingga saat ini.

    Syukurnya, selama menjalani formatio saya dapat mengikuti misa secara intens setiap hari di kapel seminari.

    Apalagi selama pandemi, kami tetap bisa menyambut Ekaristi di mana setiap orang mengalami pembatasan untuk melaksanakan misa di gereja. Oleh karena itu, saya bisa merasa bersyukur karena di dalam keterbatasan, saya masih dapat menyambut Ekaristi.

    Misa Harian di Paroki Boro terasa sedikit berbeda karena menggunakan Bahasa Jawa. Sedikit demi sedikit saya mulai emahami Ekaristi Bahasa Jawa melalui buku Kidung Adi yang selalu saya bawa dalam misa.

    Biasanya saya duduk di bangku dan menerima hosti, tapi kali ini mendapat tugas membagikan Ekaristi.

    Bukan sekedar sukacita saja, saya dapat membayangkan masa depan ketika saya berdiri dan membagikan hosti sebagai imam.

    Membagikan komuni menjadi proyeksi indah di mana kelak saya akan mempersembahkan Ekaristi dan membagikan sukacita besar itu kepada orang banyak. Tentu saya sangat berterima kasih, atas kemurahan hati Romo Andi dan Romo Suby yang memberikan tugas mulia ini.

    Bagi para frater, tugas membagi komuni adalah hal yang biasa, tetapi saya melihat dari sudut pandang berbeda di mana membagikan Ekaristi berarti membagikan berkat yang sangat besar kepada umat.

    Tuhan Yesus berkenan turun dan memanggil orang berdosa seperti saya untuk ikut ambil bagian dalam pengorbanan-Nya di Kayu Salib setiap hari. Saya tak henti-hentinya mengucap syukur atas rahmat belas kasih Tuhan kepada saya.

    Berdinamika Dengan Kaum Muda

    Di Paroki Boro ini, saya berdinamika bersama anak-anak dan orang muda. Melalui kegiatan-kegiatan bersama kaum muda ini, saya kembali belajar banyak untuk memahami dan mengerti cara hidup anak-anak dan kaum muda.

    Saya juga belajar hal-hal baru seperti materi-materi pembinaan, gerak lagu, permainan-permainan, dan lebih daripada itu, saya belajar untuk melawan diri sendiri terutama melawan ketegangan dan rasa tidak percaya diri.

    Di Paroki Boro ini, saya benar-benar diberikan keleluasaan untuk belajar banyak dari orang-orang muda.

    Perlakuan setiap orang dari anak-anak, remaja hingga dewasa memang berbeda-beda. Cara menyampaikan materi kepada anak-anak dan orang muda tidaklah sama seperti menyampaikan materi kepada orang dewasa. Saya belajar bagaimana mencari cara agar selama penyampaian materi, anak-anak dan orang muda tidak merasa jenuh.

    Baca juga: Sebuah Kapel Kecil yang Sederhana

    Saya berterima kasih kepada Direktur TOR sewaktu saya di Ketapang, Romo Andreas Setyo Budi Sambodo yang mengajarkan saya banyak sekali gerak lagu dan pemainan sehingga saya dapat menerapkannya di Paroki Boro.

    Saya merefleksikan dinamika ini pertama-tama sebagai sarana belajar, juga sebagai sarana pengembangan diri untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan manapun.

    Saya juga merenungkan, meskipun kelihatannya saya dilepas, tetapi saya menganggap hal tersebut sebagai kepercayaan yang diberikan oleh Para Romo di Paroki Boro untuk mengembangkan diri secara langsung dan mandiri, sekaligus melayani kaum muda. Semua itu semata-mata demi memuliakan nama Tuhan Yesus sendiri melalui sesama.

    Belajar Bahasa Jawa

    Dalam setiap perkenalan, Romo Andi selalu berpesan kepada para umat bahwa hadirnya saya di Paroki Boro adalah untuk live in sekaligus belajar bahasa Jawa. Karena keinginan yang kuat ini, saya mulai sedikit demi sedikit mengumpulkan kosa kata bahasa Jawa baik Ngoko maupun Kromo.

    Romo Andi dan Romo Suby sangat sabar setiap kali saya bertanya mengenai arti dari suatu kata dalam bahasa Jawa. Selain itu, para Romo juga menjelaskan kapan dan di saat apa saja kosa kata Jawa tersebut digunakan.

    Setelah saya mempelajarinya selama satu bulan, saya berkesimpulan bahwa Bahasa Jawa tidak dapat dipelajari secara mudah hanya dalam waktu singkat.

    Meskipun demikian, setidaknya saya sudah mempelajari banyak kosa kata yang dapat digunakan sehari-hari minimal memahami maksud homili ketika Romo menggunakan bahasa Jawa. Ketika ada kata yang asing, saya akan mencatat di dalam note handphone dan bertanya kepada Romo.

    Saya bersyukur dipertemukan kepada dua Romo yang masih muda dan energik sehingga sabar dan mau mengajari saya bahasa Jawa walaupun terkadang saya masih mengalami kesalahan baik secara tulisan maupun tulisan.

    Tidak hanya itu, umat juga terkadang membantu saya menterjemahkan Bahasa Jawa ketika saya bertanya. Saya merefleksikan dinamika dalam mempelajari Bahasa Jawa, sama seperti mempelajari bahasa lainnya seperti Bahasa Inggris, Mandarin dan Bahasa Dayak.

    Hanya saja, tingkatan dalam Bahasa Jawa membuat saya harus mampu memutuskan dengan bijak di mana saya harus menggunakan bahasa Ngoko dan bahasa Kromo. Ini membuktikan bahwa orang Jawa masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tata krama dan hormat kepada orang lain.

    Jadi, tidak sembarangan berbicara, tetapi membutuhkan adab yang bergantung kepada siapa saya berbicara. Belajar bahasa sangat menarik, hanya saja rasa-rasanya waktu yang saya lalui terlalu sedikit untuk mempelajarinya.

    Berjumpa Dengan Mantan Guru

    Di Lingkungan St. Yusuf Balong saya berjumpa dengan mantan guru saya yang sudah pensiun. Saya tidak sengaja berjumpa dengan beliau di Kapel. Nama beliau adalah Pak Sukino.

    Saya berjumpa dengan beliau di akhir misa. Beliau mengatakan bahwa pernah mengajar di Ketapang sebagai guru Fisika.

    Teringatlah saya dengan seorang guru yang dulunya berkumis dan gemuk sama seperti bapak ini. Beliau memperkenalkan diri dan barulah saya sadar bahwa orang yang ada di depan saya tersebut adalah bapak guru saya yang mengajar di SMP PL St. Albertus dahulu. Hanya saja, sekarang tampak rapi tanpa kumis dan malahan agak terlihat lebih muda.

    Beliau juga menjelaskan bahwa ada guru lain yang asalnya dari Boro, beliau adalah pak Jayadi yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Pak Jayadi juga adalah guru saya sewaktu bersekolah di SD PL St. Yoseph Ketapang sebagai guru matematika. Anaknya pak Jayadi sendiri merupakan satu angkatan dengan saya.

    Baca juga: Percaya itu, tak sekedar Yakin – (dengan huruf besar P & Y)

    Melalui perjumpaan yang tidak kebetulan ini, saya ditunjukkan oleh Tuhan sendiri bahwa saya pasti akan berjumpa kembali dengan orang-orang yang pernah berjasa dalam pendidikan saya. Tidak hanya dengan guru saya, beberapa orang yang tidak saya duga, terkadang bisa berjumpa di tempat saya bertugas atau tempat yang saya kunjungi.

    Dunia ini memang terlihat sempit, meskipun demikian pikiran kita harus lebih luas agar mampu menimba makna yang mendalam dari secuil peristiwa sederhana menjadi sebuah kejadian yang berharga.

    Bersambung, Lanjut Part 4…

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles