Monday, June 15, 2026
More
    Home Blog Page 2

    KOMSOS Ditantang Perluas Jejaring Media, Tak Cukup Hanya Kuasai Teknologi dan AI

    Peserta pelatihan konten PKSN XIII Pontianak saat mendikusikan konsep sebelum eksekusi. Foto: Komsos KAP

    MajalahDUTA.Com | Kemampuan membuat konten menarik, menguasai teknologi informasi, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dinilai belum cukup bagi pengelola media Gereja Katolik.

    Tantangan berikutnya adalah membangun jejaring diseminasi yang luas agar karya-karya Gereja dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, bahkan tingkat internasional.

    Persoalan itu menjadi salah satu fokus pembahasan para utusan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) dari 18 keuskupan se-Indonesia dalam hari kelima Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, Sabtu (30/5/2026).

    Pada saat yang sama, peserta muda PKSN juga menjalani sesi evaluasi hasil praktik produksi konten berupa podcast, video pendek, konten kreatif, dan liputan jurnalistik.

    Sekretaris Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD Petrus Noegroho Agoeng, menegaskan bahwa pegiat komunikasi Gereja tidak boleh hanya berfokus pada media internal seperti media paroki atau keuskupan.

    Menurutnya, sinergi dengan media arus utama menjadi kebutuhan penting agar pesan dan karya Gereja dapat dikenal lebih luas.

    “Ada kalanya suatu eksposur konten cukup di kalangan internal media paroki atau keuskupan. Namun banyak juga konten bernilai universal yang memerlukan sinergi dengan media arus utama. Bahkan untuk kalangan manca negara. Banyak kekayaan Gereja di Indonesia layak diperkenalkan kepada semua bangsa. Maka Komsos perlu berpikir menyediakan konten berbahasa asing, minimal bahasa Inggris,” ujar Agoeng.

    Pandangan serupa disampaikan jurnalis Katolik Gabriel Abdi Susanto.

    Dia menilai banyak karya dan pelayanan Gereja yang memiliki nilai tinggi, tetapi belum dikenal secara luas karena kurangnya publikasi yang berkelanjutan.

    “Harus jaga konsistensi produksi konten. Aktif membagikan publikasi itu agar memperoleh penyebaran lebih luas. Dengan informasi rutin dan konsisten, mudah membangun loyalitas pembaca,” katanya.

    Menurut Abdi, media sosial menjadi sarana yang efektif untuk memperluas jangkauan publikasi.

    Dia juga mendorong penggunaan pendekatan story telling yang dinilai lebih dekat dengan masyarakat dan mudah dipahami oleh pembaca di berbagai daerah.

    Sementara itu, jurnalis senior The Jakarta Post, Kornelius Purba, mengingatkan bahwa jurnalisme Gereja tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan harapan bagi masyarakat.

    “Wartakanlah nilai-nilai Kristiani kepada dunia melalui karya jurnalistik yang humanis dan berorientasi pada good news,” kata Kornelius.

    Dia mendorong para pegiat Komsos untuk lebih banyak mengangkat kisah-kisah dari perspektif masyarakat kecil karena dinilai mampu menghadirkan empati dan makna yang lebih mendalam bagi pembaca.

    “Saya harap para pastor, pegiat Komsos, dan umat lebih aktif membagikan kisah-kisah inspiratif dari lingkungan Gereja maupun masyarakat. Wartakan kepada dunia melalui cerita-cerita yang membawa pengharapan,” ujarnya.

    Bedah Karya Peserta

    Selain diskusi strategis, PKSN XIII juga menjadi ruang pembelajaran bagi para peserta muda yang mengikuti pelatihan produksi konten.

    Di kelas jurnalistik, hasil liputan peserta ditayangkan dan dibedah langsung oleh Gabriel Abdi Susanto.

    Dia menemukan sejumlah tantangan umum yang dihadapi para penulis pemula, mulai dari penyusunan kalimat, pemahaman struktur berita, pengolahan hasil wawancara dan reportase, hingga penulisan judul.

    “Menulis tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi belajar berkomunikasi yang baik dengan pembaca,” katanya.

    Di kelas podcast, seluruh karya peserta diputar secara bergantian untuk mendapat masukan dari para mentor.

    Jose Marwoto menekankan pentingnya kemampuan host membangun percakapan yang hidup dan mengalir.

    “Podcast yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan cerita yang mampu membuat pendengar terlibat secara emosional,” ujar Jose.

    Sementara itu, mentor konten kreatif Ignasius Kristoper Adi Surya menyoroti pentingnya keselarasan antara narasi, visual, dan audio.

    Menurutnya, banyak ide peserta yang sudah menarik, namun masih perlu perbaikan dalam aspek teknis seperti format video, subtitle, kualitas suara, serta pemilihan gambar yang mendukung pesan utama.

    “Konten sederhana sekalipun dapat menjadi kuat apabila didukung naskah yang baik dan penyampaian pesan yang jelas,” katanya.

    Pada kategori video pendek, Samuel Krismanto mengajak peserta memahami karakter dokumenter yang tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga menggali konflik, nilai, dan makna di balik sebuah peristiwa.

    “Buatlah gambar yang bercerita, bukan cerita yang diberi gambar,” tegas Samuel.

    Belajar dari Tahap Pemula

    Sebagian besar peserta mengaku baru pertama kali memproduksi konten secara serius dan terstruktur.

    Selama ini mereka lebih terbiasa membuat konten mengikuti tren media sosial yang mengandalkan viralitas tanpa perencanaan yang matang.

    Peserta kelas podcast, Robert, mengaku mendapat pelajaran penting mengenai peran host dalam membangun percakapan yang natural.

    “Pelajaran paling berharga bagi saya adalah mengubah wawancara yang kaku menjadi percakapan yang natural. Kemampuan host dan kenyamanan narasumber sangat menentukan kualitas,” ujarnya.

    Pengalaman serupa dirasakan Brigita Alma, peserta kelas video pendek. Ia menyadari bahwa kreativitas saja tidak cukup tanpa kemampuan mengemas pesan secara jelas dan menarik perhatian audiens.

    “Harus ada keterkaitan antara alur cerita, visual, dan pesan yang ingin kami sampaikan. Review dari mentor membuat kami melihat bagian-bagian yang masih kurang nyambung dan berkesinambungan dalam video produksi kami,” tuturnya.

    Melalui rangkaian pelatihan dan evaluasi tersebut, PKSN XIII tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan teknis produksi konten, tetapi juga menegaskan pentingnya membangun jejaring komunikasi yang lebih luas agar karya dan pesan Gereja dapat menjangkau masyarakat secara nasional maupun global.(*)

    PKSN XIII Menyusuri Jejak Harmoni Tiga Etnis di Kota Pontianak

    Peserta PKSN XIII tengah menyaksikan permainan Sumpit di Rumah Betang di Pontianak, Jumat (29/05/2026). Foto: Samuel.

    MajalahDUTA.Com | Ratusan peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII menyelami keberagaman budaya Kalimantan melalui kunjungan dan interaksi bersama komunitas tiga etnis di Kota Pontianak, Jumat (29/05/2026).

    Tiga etnis tersebut  Dayak, Melayu, dan Tionghua Hakka  menjadi representasi keharmonisan hidup berdampingan di Pulau Kalimantan.

    Pada hari keempat PKSN XIII, delegasi Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) dari 18 keuskupan se-Indonesia beranjangsana ke komunitas Dayak di Rumah Betang, komunitas Melayu di Kampung Caping dan Rumah Melayu, serta komunitas Tionghoa di Rumah Hakka.

    Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri, mengatakan kunjungan ke rumah budaya tiga etnis itu menjadi cara melihat “wajah dan suara lokal” yang dibalut nilai persaudaraan.

    “Dari kunjungan ini, kami berharap para pegiat komsos dari berbagai keuskupan di Indonesia dapat melihat dan merasakan langsung esensi wajah dan suara lokal melalui pendekatan kultural,” ujar Paulus Mashuri.

    Keuskupan Agung Pontianak menjadi tuan rumah PKSN XIII yang berlangsung pada 26–31 Mei 2026. Pada hari-hari sebelumnya, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pesan Paus Leo XIV dalam merespons perkembangan teknologi komunikasi melalui seminar dan berbagai workshop.

    Berpose di depan rumah Cagar Budaya Melayu di Kampung Wisata Caping, Kota Pontianak, Jumat (29/05/2026). Foto: Samuel
    Kehangatan Sambutan Rumah Budaya

    Kehangatan komunitas etnis langsung terasa ketika rombongan tiba di setiap lokasi kunjungan. Para peserta disambut dengan tarian tradisional, ritual adat, sajian kuliner khas, hingga dialog interaktif.

    Kampung Caping, misalnya, merupakan kawasan wisata berbasis budaya Melayu yang berada di tepian Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Di kawasan ini berdiri rumah panggung berarsitektur Melayu kuno berbahan kayu ulin.

    Rumah yang kini menjadi cagar budaya tersebut merupakan hasil revitalisasi Pemerintah Kota Pontianak dari rumah warga yang telah berdiri sejak 1918. Nama “Kampung Caping” diambil dari tradisi kerajinan caping, topi berbentuk kerucut yang dibuat dari daun.

    Pendamping masyarakat Kampung Caping, Sinta Devianti, menjelaskan bahwa rumah budaya tersebut berkembang menjadi ruang edukasi berbasis kearifan lokal. Berbagai kegiatan dikembangkan, mulai dari pelestarian seni tradisi, kerajinan khas, perpustakaan kampung, hingga kampanye pengurangan penggunaan plastik.

    Makanan ringan yang disajikan kepada rombongan dikemas menggunakan daun pisang dan disajikan dalam nampan berbahan bambu dan rotan.

    Artis senior Lisa A. Riyanto yang turut mendampingi kunjungan mengatakan, pengalaman mengunjungi rumah-rumah tradisional memberi kesempatan memahami cara masyarakat mempertahankan budaya dan tradisi lokal.

    “Kerajinan lokal memiliki nilai budaya dan ekonomi yang besar. Awalnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, lalu berkembang menjadi produk unggulan bahkan mampu menembus pasar ekspor,” tutur Lisa.

    Nilai Kehidupan Komunal

    Di Rumah Hakka Kalimantan Barat, rombongan disambut pengurus Perkumpulan Hakka. Dewan Pengawas Perkumpulan Hakka, Antonius Kadir, memperkenalkan ungkapan “Hari Komunikasi Sosial Sedunia” dalam bahasa Hakka, yakni “si kai sa fui chon bo nyit”.

    “Rumah Hakka menyimbolkan semangat orang Hakka yang memiliki satu hati. Kami berharap semangat ini menginspirasi kita semua untuk memiliki kesatuan hati yang sama,” ujar Kadir.

    Ketua Komisi Komsos Keuskupan Malang, RD Stephanus Jemmy Fantaw, menilai rumah budaya tidak hanya memperlihatkan kekayaan tradisi, tetapi juga memperlihatkan nilai kebersamaan yang tetap terpelihara.

    “Mereka mengembangkan nilai spiritualitas dan semangat hidup positif yang mempererat persaudaraan. Hal seperti ini perlu diperkenalkan lebih luas agar menginspirasi di tengah keberagaman Indonesia,” katanya.

    Dari Rumah Hakka, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Rumah Betang di Jalan Sutoyo. Para pemuda memainkan musik tradisional mengiringi penari putri yang menyambut tamu dengan ritual penaburan beras kuning sebagai simbol penerimaan.

    Sekretaris Komisi Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng didampingi artis Lisa A. Riyanto menjalani tradisi “bepapas” saat penyambutan di Rumah Melayu, Jumat (29/05/2026) di Kota Pontianak. Foto: Komsos KAP

    Rombongan diterima pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat dan Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat (Sekberkesda). Ketua Sekberkesda, Eugene Yohanes Palaoensuka, menjelaskan bahwa Rumah Betang bukan sekadar bangunan tradisional, melainkan simbol kehidupan bersama yang diwariskan turun-temurun.

    “Filosofi utama Rumah Betang terletak pada kehidupan komunal dan kuatnya kebersamaan masyarakat Dayak. Sejak lahir hingga menikah, leluhur kami hidup bersama di Rumah Betang,” ujarnya.

    Menurut Eugene, keberadaan replika Rumah Betang menjadi cara mengenang kearifan tradisi leluhur yang menjunjung harmonisasi antarsesama dan alam. Rumah Betang bukan hanya warisan budaya, tetapi juga pusat kehidupan sosial masyarakat Dayak.

    Kunjungan kemudian berlanjut ke Rumah Melayu. Dua penari putri menyambut rombongan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang. Sebelum memasuki balairungsari, pimpinan rombongan menjalani ritual “bepapas”.

    Tuan rumah meletakkan kain kuning di kaki Sekretaris Komisi Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng, dan Lisa A. Riyanto. Beras kuning ditaburkan ke atas, disusul percikan air mawar ke tangan dan kaki pimpinan rombongan.

    Ketua Departemen Pendidikan dan Kepelatihan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat, M. Rustam, menjelaskan bahwa masyarakat Melayu memelihara berbagai tradisi yang sarat nilai kehidupan dan tetap relevan hingga kini. Salah satunya tradisi “saprahan” dalam musyawarah penyelesaian konflik.

    Dalam filosofi saprahan, persoalan diselesaikan sambil duduk dan makan bersama. Hidangan disusun dalam nampan besar, sementara orang-orang duduk melingkar.

    “Ketika suasana hati tenang dan kebersamaan terjalin, persoalan akan lebih mudah diselesaikan melalui musyawarah,” jelas Rustam. (*)

    Ketika Bernyanyi, Anda Sedang Berdoa

    Tampak Potret Salah Satu Kelompok Lomba Koor (28/5/2026 – foto: Enjelika)

    MajalahDUTA.Com |  Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan lomba koor gereja yang diikuti oleh sejumlah kelompok paduan suara dari berbagai paroki di Keuskupan Pontianak.

    Kegiatan ini menjadi ajang mempererat persaudaraan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan musik liturgi di gereja. Lomba koor tersebut menghadirkan tiga dewan juri, yakni Lisa A. Riyanto, Pastor Ambrosriadi, dan Clara Vania Avelie.

    Kehadiran para juri disambut hangat oleh seluruh peserta dan umat yang hadir.

    Suasana semakin meriah ketika Lisa dan Avelie turut menyanyikan lagu bersama peserta dan umat.

    Adapun peserta yang mengikuti lomba terdiri dari Paroki Menjalin, Paroki Gembala Baik, Koor Santa Sesilia MRPD Pontianak, dan Koor Fransiskus Keuskupan Pontianak.

    Setiap peserta menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam membawakan lagu-lagu liturgi gereja dengan penuh penghayatan.

    Dalam pengumuman hasil perlombaan, Paroki Gembala Baik Senghie berhasil meraih Juara satu.

    Sementara pengumuman juara lainnya disambut meriah oleh para peserta dan pendukung yang memenuhi lokasi kegiatan.

    Tampak Potret Para Dewan Juri(28/5/2026 – Foto: Enjelika)

    Selain menjadi ajang perlombaan, kegiatan ini juga menghadirkan pesan rohani yang mendalam.

    Dalam arahannya, Pastor Ambrosriadi menegaskan bahwa nyanyian liturgi bukan sekadar penampilan seni, melainkan bentuk doa yang dipersembahkan kepada Tuhan.

    Pastor menjelaskan bahwa lagu-lagu liturgi seperti “Tuhan Kasihanilah Kami”, “Gloria”, hingga lagu “Kemuliaan” harus dinyanyikan dengan penuh penghayatan dan ekspresi iman.

    Menurutnya, setiap anggota paduan suara harus menyadari bahwa saat bernyanyi, mereka sedang berdoa dan mengajak seluruh umat untuk ikut berdoa bersama.

    “Ketika kalian bernyanyi, kalian sedang berdoa dan membawa orang lain ikut berdoa,” ungkap Pastor Ambrosriadi, (28/5/2026).

    Dia juga mengingatkan agar syair lagu liturgi tidak diubah sembarangan demi kepentingan musik semata. Pastor menegaskan bahwa musik harus melayani isi syair dan pesan doa yang terkandung di dalam lagu, sehingga makna liturgi dan ajaran gereja tetap terjaga.

    Di akhir arahannya, Pastor Ambrosriadi berharap seluruh pelayan musik gereja dapat menjadikan nyanyian sebagai sarana doa yang hidup, sehingga setiap umat yang mendengarkan dapat semakin dekat dengan Tuhan melalui pujian dan penyembahan yang dibawakan.(*)

    Kemampuan Menulis dan Memahami Nilai Berita, Workshop Jurnalistik PKSN ke-13

    Foto Pemateri PKSN Workshop Jurnalistik - Foto Anjeli Peserta PKSN 2026.

    MajalahDUTA.Com | Dalam rangka kegiatan Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) ke-13, peserta mengikuti kegiatan Workshop Jurnalistik yang dilaksanakan di lantai 2 Ruangan Iman, Gedung Pasifikus Bos, Pontianak.

    Kegiatan ini menghadirkan Kornelis Purba sebagai pemateri utama yang memberikan materi mengenai dasar-dasar jurnalistik, nilai berita, serta teknik menulis berita yang baik dan benar.

    Workshop jurnalistik ini berlangsung dengan suasana interaktif dan penuh antusias dari para peserta. Tidak hanya mendengarkan materi, peserta juga diajak berdiskusi dan belajar secara langsung mengenai bagaimana menentukan angle berita, memahami fakta di lapangan, serta menyusun berita berdasarkan prinsip jurnalistik yang benar.

    Kegiatan workshop dimulai dengan penjelasan mengenai pengertian berita.

    Dalam pemaparannya, Kornelis Purba menjelaskan bahwa berita adalah informasi mengenai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dan disampaikan kepada masyarakat berdasarkan fakta yang ada di lapangan.

    Menurutnya, wartawan memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan informasi yang akurat dan objektif.

    Beliau menegaskan bahwa seorang wartawan tidak boleh menulis berdasarkan opini pribadi atau membuat cerita yang tidak sesuai fakta. Dalam dunia jurnalistik, fakta merupakan dasar utama dalam penyampaian informasi kepada masyarakat.

    Oleh sebab itu, seorang jurnalis harus mampu mencari data yang benar dan melakukan pengamatan secara langsung terhadap suatu kejadian.

    “Berita harus berdasarkan fakta, bukan karangan ataupun opini pribadi. Wartawan bertugas menyampaikan kenyataan yang terjadi di lapangan,” jelas Kornelis Purba di hadapan peserta workshop.

    Selain membahas pengertian berita, pemateri juga menjelaskan bahwa sebuah berita harus memiliki nilai berita atau news value. Nilai berita menjadi ukuran penting untuk menentukan apakah suatu peristiwa layak diberitakan atau tidak.

    Menurutnya, suatu berita harus memiliki bobot dan manfaat bagi masyarakat sehingga informasi yang disampaikan benar-benar penting untuk diketahui publik.

    Dalam penjelasannya, Kornelis Purba memperkenalkan konsep nilai berita yang dikenal dengan istilah CHOPPT. Konsep tersebut terdiri dari Consequences, Human Interest, Prominence, Proximity, dan Timeliness.

    Kelima unsur tersebut menjadi dasar dalam melihat nilai penting suatu berita.

    Consequences berarti dampak atau akibat dari suatu peristiwa terhadap masyarakat. Sebuah berita dianggap penting apabila memiliki pengaruh besar bagi kehidupan banyak orang.

    Contohnya adalah berita mengenai bencana alam, kenaikan harga bahan pokok, ataupun kebijakan pemerintah yang berdampak langsung kepada masyarakat luas.

    Selanjutnya adalah Human Interest, yaitu berita yang menyentuh sisi kemanusiaan dan emosi pembaca.

    Berita seperti ini biasanya mampu menarik perhatian karena menghadirkan kisah yang menyentuh hati, menginspirasi, ataupun menggugah rasa empati masyarakat. Pemateri menjelaskan bahwa berita human interest sering kali dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh pembaca.

    Kemudian terdapat unsur Prominence, yaitu keterlibatan tokoh penting atau terkenal dalam suatu peristiwa. Kehadiran tokoh publik dalam sebuah kejadian biasanya membuat berita menjadi lebih menarik perhatian masyarakat.

    Tokoh tersebut bisa berasal dari kalangan pemerintah, tokoh agama, artis, ataupun figur publik lainnya yang dikenal masyarakat luas.

    Unsur berikutnya adalah Proximity atau kedekatan.

    Menurut pemateri, masyarakat cenderung lebih tertarik pada berita yang dekat dengan kehidupan mereka, baik dari segi lokasi maupun hubungan emosional.

    Sebagai contoh, masyarakat Pontianak akan lebih tertarik membaca berita yang terjadi di Kalimantan Barat dibandingkan berita dari daerah yang sangat jauh dan tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan mereka.

    Sedangkan unsur terakhir adalah Timeliness, yaitu ketepatan waktu atau aktualitas berita. Sebuah berita harus segera disampaikan kepada masyarakat agar informasi tersebut tetap relevan dan tidak kehilangan nilai pentingnya.

    Dalam dunia jurnalistik, kecepatan penyampaian informasi menjadi salah satu hal yang sangat penting, namun tetap harus mengutamakan kebenaran data dan fakta.

    Selain membahas nilai berita, workshop ini juga menjelaskan mengenai jenis-jenis berita dalam dunia jurnalistik. Pemateri membedakan berita menjadi dua jenis utama, yaitu hard news dan soft news.

    Hard news merupakan berita penting yang harus segera disampaikan kepada masyarakat. Jenis berita ini biasanya berisi informasi mengenai peristiwa yang baru saja terjadi dan memiliki dampak besar. Dalam penulisannya, hard news harus disampaikan secara lugas, jelas, singkat, dan langsung pada inti persoalan tanpa bertele-tele.

    Pemateri menjelaskan bahwa hard news tidak boleh dibuat-buat ataupun ditambah dengan opini pribadi wartawan. Penulisan hard news harus fokus pada fakta dan data yang benar-benar terjadi di lapangan. Wartawan harus mampu menyampaikan informasi secara cepat namun tetap akurat.

    Sementara itu, soft news atau feature merupakan jenis berita yang ditulis dengan gaya yang lebih ringan dan mendalam. Soft news biasanya mengangkat sisi menarik dari suatu peristiwa dan disampaikan dengan bahasa yang lebih halus serta naratif. Berita feature tidak selalu harus disampaikan secara cepat karena lebih menekankan pada sisi cerita dan pengalaman manusia.

    Dalam workshop tersebut, peserta juga diajarkan bagaimana menentukan angle atau sudut pandang berita.

    Menurut pemateri, satu peristiwa dapat menghasilkan banyak berita tergantung dari sudut pandang yang dipilih oleh wartawan. Oleh sebab itu, seorang jurnalis harus mampu melihat sisi menarik dan penting dari suatu kejadian agar berita yang dibuat memiliki nilai bagi pembaca.

    Untuk membantu peserta memahami materi, pemateri memberikan contoh kasus mengenai sebuah sekolah dasar di desa yang memiliki sekitar 300 siswa. Pada suatu hari terjadi hujan deras yang menyebabkan atap sekolah bocor sehingga kegiatan belajar terganggu. Dari contoh tersebut, peserta diminta menentukan nilai berita dan angle yang dapat digunakan dalam penulisan berita.

    Melalui contoh tersebut, peserta belajar bahwa sebuah kejadian sederhana dapat menjadi berita penting apabila memiliki dampak bagi masyarakat. Kebocoran sekolah misalnya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, seperti dampaknya terhadap proses belajar siswa, kondisi fasilitas pendidikan di desa, ataupun perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan.

    Kegiatan workshop berlangsung dengan penuh semangat karena peserta tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga berdiskusi secara langsung bersama pemateri. Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, bertanya, dan mencoba membuat berita sederhana berdasarkan contoh kasus yang diberikan.

    Dalam sesi diskusi, Kornelis Purba juga menjelaskan bahwa seorang wartawan harus memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Informasi yang disampaikan harus benar, tidak menyesatkan, serta mampu memberikan manfaat bagi pembaca.

    Beliau menambahkan bahwa perkembangan media digital saat ini membuat arus informasi menjadi sangat cepat. Namun demikian, kecepatan informasi tidak boleh mengorbankan kebenaran fakta. Wartawan tetap harus melakukan verifikasi data sebelum menyampaikan berita kepada masyarakat.

    Menurutnya, tantangan jurnalistik saat ini adalah banyaknya informasi yang belum tentu benar beredar di media sosial. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami pentingnya berita yang dibuat berdasarkan fakta dan proses jurnalistik yang benar.

    Dalam workshop tersebut, peserta juga diajak memahami pentingnya objektivitas dalam menulis berita. Objektivitas berarti wartawan harus bersikap netral dan tidak memihak dalam menyampaikan informasi. Berita harus ditulis berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan, bukan berdasarkan emosi ataupun kepentingan pribadi.

    Pemateri menekankan bahwa seorang jurnalis memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat karena informasi yang disampaikan dapat memengaruhi cara pandang publik terhadap suatu peristiwa. Oleh sebab itu, wartawan harus bekerja secara profesional dan bertanggung jawab.

    Kegiatan workshop jurnalistik ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan PKSN ke-13.

    Menurut salah satu peserta, Enjelika  mengatakan bahwa kegiatan itu adalah kesempatan untuk memperoleh pengetahuan mengenai dunia jurnalistik dan belajar bagaimana menyampaikan informasi yang baik dan benar kepada masyarakat.

    Peserta terlihat aktif mengikuti setiap sesi kegiatan, beberapa diantara peserta yang tertarik untuk belajar lebih dalam mengenai teknik penulisan berita dan dunia media komunikasi. Suasana workshop berlangsung hangat dan penuh interaksi antara pemateri dan peserta.

    “Dengan adanya workshop jurnalistik ini, diharapkan peserta mampu memahami dasar-dasar jurnalistik serta memiliki kemampuan menulis berita yang baik, akurat, dan objektif. Selain itu, peserta juga diharapkan mampu menjadi generasi muda yang bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi di era digital saat ini,” ujar Enjelika.

    Kegiatan workshop ditutup dengan sesi refleksi dan pesan motivasi dari pemateri kepada seluruh peserta.

    Kornelis Purba mengajak peserta untuk terus belajar dan berlatih menulis agar kemampuan jurnalistik semakin berkembang.

    Dia berharap agar peserta mampu menggunakan keterampilan komunikasi dan jurnalistik untuk menyampaikan informasi yang membangun serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (*)

    Media Harus Memanusiakan

    Foto Rm. Purwono SCJ - Bedah Buku 60 Tahun Hari Komsos Soroti Hoaks, AI, dan Krisis Komunikasi Manusia (Foto: Anjeli Peserta PKSN 2026).

    MajalahDUTA.Com | Suasana Aula Magna lantai 3 Gedung Pasifikus BOS Pontianak tampak berbeda pada Kamis siang.

    Di reopa rangkaian kegiatan Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII, para peserta workshop KOMSOS KWI reopag mengikuti sesi ketiga berupa bedah buku bertajuk “60 Tahun Hari Komunikasi Sosial Sedunia”.

    Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30–15.30 WIB tersebut menghadirkan Rm. Purwono SCJ sebagai pembicara dengan moderator Pak Agung Nugroho, Kamis 28 Mei 2026.

    Meski dilaksanakan pada jam-jam yang cukup kritis setelah makan siang, antusias peserta tetap terlihat memenuhi ruangan. Dalam pembukaan materinya, Rm. Purwono bahkan sempat berseloroh mengenai tantangan membawakan materi tebal dan serius di waktu yang rawan membuat peserta mengantuk.

    “Saya tahu persis resiko memberikan sharing di jam-jam kritis seperti ini. Kita harus membahas buku yang sangat tebal,” ujarnya yang langsung disambut tawa ringan peserta.

    Namun perlahan suasana menjadi serius reopa pembahasan mulai masuk pada perkembangan komunikasi Gereja Katolik dari masa ke masa. Bedah buku tersebut tidak hanya membahas reopag Hari Komunikasi Sosial Sedunia, tetapi juga menyoroti perubahan besar media dari era televisi hingga kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang saat ini menjadi perhatian dunia.

    Rm. Purwono menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari refleksi panjang Gereja Katolik melalui pesan-pesan para Paus dalam Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang kini memasuki usia ke-60 tahun.

    Menurutnya, perkembangan media dan teknologi komunikasi menjadi perhatian penting Gereja karena memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia.

    Dia mengatakan bahwa tujuan utama buku ini ialah membantu umat memahami bagaimana Gereja melihat perkembangan media, sekaligus mengajak masyarakat membaca perubahan zaman secara kritis dan bijaksana.

    “Tujuan bedah buku ini bukan hanya memperkenalkan isi buku, tetapi membantu kita memahami perkembangan refleksi Gereja tentang komunikasi sosial, membaca perubahan media dari era televisi sampai AI, menemukan relevansi pastoral dan sosial, serta merefleksikan spiritualitas komunikasi Gereja,” jelasnya.

    Dalam pemaparannya, Rm. Purwono menjelaskan bahwa perhatian Gereja terhadap media sebenarnya sudah dimulai sejak Konsili Vatikan II melalui dokumen Inter Mirifica. Pada masa itu, media seperti televisi dan film dianggap membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia.

    Gereja, menurutnya, tidak pernah menolak media modern. Namun Gereja juga tidak menerima perkembangan media secara buta tanpa pertimbangan etika dan tanggung jawab moral.

    “Media adalah anugerah, tetapi harus dipertanggungjawabkan secara etis dan pastoral,” katanya.

    Dia kemudian menjelaskan bahwa Hari Komunikasi Sosial Sedunia pertama kali dimulai oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967 sebagai tindak lanjut dari Konsili Vatikan II.

    Tujuannya ialah membangun refleksi Gereja mengenai media, reopagus umat, etika komunikasi, dan evangelisasi.

    Dalam sesi tersebut, peserta diajak melihat bagaimana setiap Paus memiliki cara pandang berbeda terhadap media sesuai konteks zamannya masing-masing.

    Pada masa Paus Paulus VI tahun 1967–1978, media dipandang sebagai alat moral dan reopagusn manusia.

    Konteks saat itu ialah masa pasca Konsili Vatikan II, perang dingin, dan ledakan media massa. Fokus utama Paus Paulus VI ialah etika media, reopagus media, serta tanggung jawab moral dalam komunikasi.

    Rm. Purwono menegaskan bahwa salah satu gagasan penting Paus Paulus VI ialah semakin besar kekuatan media, maka semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dimiliki manusia.

    Selain itu, media juga dipandang sebagai sarana reopagusn manusia secara integral, terutama dalam kehidupan keluarga dan kaum muda.

    Memasuki masa Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1979–2005, Gereja mulai melihat media bukan hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai budaya. Pada masa ini dunia mulai memasuki era globalisasi, budaya visual, satelit, dan internet awal.

    Menurut Rm. Purwono, Paus Yohanes Paulus II melihat media sebagai areopagus modern atau ruang baru pewartaan Injil. Gereja tidak cukup hanya memakai media, tetapi harus hadir di dalam budaya media itu sendiri.

    “Gereja tidak cukup memakai media, tetapi harus hadir di dalam budaya media,” jelasnya saat mengutip gagasan penting Paus Yohanes Paulus II. Fokus utama pada masa tersebut ialah evangelisasi baru, budaya media, solidaritas, perdamaian, dan partisipasi umat dalam pewartaan Injil.

    Kemudian berlanjut pada masa Paus Benediktus XVI tahun 2006–2013. Pada periode ini perkembangan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan YouTube mulai berkembang pesat dan mengubah cara manusia berkomunikasi.

    Paus Benediktus XVI memandang dunia digital sebagai ruang hidup baru manusia. Fokus utama komunikasi pada masa itu ialah kebenaran, keaslian hidup, dialog, dan keheningan.

    Rm. Purwono menjelaskan bahwa Paus Benediktus XVI cukup kritis terhadap budaya digital yang sering menampilkan pencitraan diri, narsisme, dan komunikasi dangkal di media sosial.

    “Keheningan adalah syarat komunikasi yang manusiawi,” ujar Rm. Purwono mengutip pesan Paus Benediktus XVI. Menurutnya, di tengah dunia digital yang bising, manusia justru membutuhkan ruang hening agar komunikasi tidak kehilangan makna kemanusiaannya.

    Sementara itu, pada masa Paus Fransiskus tahun 2014–2025, perhatian Gereja mulai tertuju pada persoalan hoaks, polarisasi sosial, budaya post-truth, dan algoritma media sosial.

    Dalam pemaparannya, Rm. Purwono mengatakan bahwa Paus Fransiskus menekankan pentingnya komunikasi yang lahir dari hati. Media sosial dinilai sering menciptakan agresivitas, kebencian, dan konektivitas tanpa komunitas nyata.

    “Komunikasi sejati adalah komunikasi dengan hati,” jelasnya.

    Paus Fransiskus mengajak manusia untuk kembali mendengarkan, melihat, dan bertindak dengan belas kasih di tengah dunia digital yang semakin keras dan penuh pertentangan. Pembahasan paling menarik perhatian peserta ialah saat memasuki topik terbaru mengenai komunikasi di era AI yang menjadi fokus Paus Leo XIV tahun 2026.

    Wajah dan Suara Manusia

    Dalam konteks berkembangnya AI generatif, deepfake, simulasi realitas, dan bias algoritma, Gereja mulai menaruh perhatian serius terhadap ancaman hilangnya sisi kemanusiaan dalam komunikasi digital.

    Menurut Rm. Purwono, Paus Leo XIV menekankan pentingnya menjaga wajah dan suara manusia di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih.

    “Teknologi harus melayani manusia, bukan menggantikan manusia,” tegasnya.

    Dia juga menjelaskan bahwa Gereja menolak berbagai bentuk eksploitasi tubuh, manipulasi emosi, penyalahgunaan data pribadi, hingga reduksi manusia menjadi sekadar algoritma.

    Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa wajah dan suara manusia merupakan tanda kehadiran pribadi yang tidak boleh digantikan sepenuhnya oleh teknologi. Selain membahas perkembangan pandangan Gereja terhadap media, sesi bedah buku tersebut juga mengangkat beberapa tema besar komunikasi sosial Gereja.

    Tema pertama ialah komunikasi dan kebenaran. Gereja menegaskan bahwa media harus melayani kebenaran dan melawan berbagai bentuk propaganda, hoaks, manipulasi, hingga deepfake yang semakin marak terjadi saat ini.

    Tema kedua ialah komunikasi dan martabat manusia. Gereja menekankan bahwa media harus memanusiakan manusia, bukan justru merendahkan atau mengeksploitasi manusia demi keuntungan tertentu.

    Tema ketiga ialah komunikasi sebagai persekutuan. Dalam sesi ini Rm. Purwono menjelaskan bahwa komunikasi bukan sekadar transfer informasi, tetapi sarana membangun dialog, solidaritas, persaudaraan, dan communio atau persekutuan. Ia mengkritik realitas media sosial saat ini yang sering menghadirkan koneksi tanpa relasi dan jejaring tanpa komunitas nyata.

    “Jangan sampai manusia semakin terhubung secara digital tetapi justru semakin jauh secara manusiawi,” katanya.

    Selain itu media juga dipandang sebagai ruang pewartaan Injil yang terus berkembang dari masa ke masa. Jika dahulu pewartaan dilakukan melalui mimbar Sabda, kini media sosial dan ruang digital menjadi tempat baru evangelisasi Gereja.

    Dalam sesi tersebut peserta juga diajak melihat perkembangan etika komunikasi dari era radio, televisi, dan periklanan menuju tantangan baru seperti algoritma, AI, privasi digital, deepfake, hak cipta, hingga tanggung jawab platform media sosial.

    Menurut Rm. Purwono, tantangan komunikasi saat ini bukan lagi sekadar soal teknologi, tetapi juga bagaimana manusia mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat.

    Ia mengatakan bahwa Gereja saat ini menghadapi tantangan besar seperti disinformasi, polarisasi, krisis mendengar, hingga adiksi digital. Karena itu tugas pastoral komunikasi sosial bukan hanya sebatas dokumentasi kegiatan Gereja atau publikasi media sosial semata, tetapi juga pelayanan kebenaran, pendidikan iman, literasi digital, dan kesaksian kasih di tengah masyarakat.

    “Komunikasi Gereja harus menjadi ruang yang menyembuhkan, bukan menambah kebisingan dan kebencian,” ungkapnya.

    Tidak hanya Gereja, masyarakat juga memiliki tanggung jawab bersama dalam membangun komunikasi yang sehat di era digital. Masyarakat dituntut untuk mampu memeriksa sumber informasi, mengenali manipulasi media, menjaga data pribadi, dan membangun kebebasan berpikir secara kritis. Menjelang akhir sesi, peserta tampak aktif mengikuti diskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai AI, media sosial, dan tantangan komunikasi Gereja di masa depan.

    Melalui kegiatan bedah buku ini, peserta diajak semakin sadar bahwa perkembangan teknologi komunikasi harus tetap berpihak pada manusia, kebenaran, dan nilai-nilai kemanusiaan.

    Kegiatan berlangsung dengan antusias hingga akhir acara dan menjadi salah satu sesi yang memberikan refleksi mendalam bagi peserta PKSN XIII mengenai masa depan komunikasi Gereja di tengah dunia digital yang terus berkembang.(*)

    Pontianak Jadi Laboratorium Kreatif Media Gereja, Relawan Belajar Produksi Konten Era Baru

    Para pegiat komunikasi sedang berlatih memproduksi podcast di workshop dalam rangkaian Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII hari ketiga, Kamis (28/05/2026) di Pontianak. Foto: Komsos KAP

    MajalahDUTA.Com | PONTIANAK, 28 MEI 2026 – Para pengelola media Gereja Katolik di bawah Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) keuskupan dituntut berbenah dari persoalan klasik yang membuat sebagian mereka mati suri.

    Pembenahan manajemen semakin mendesak, terlebih lini informasi keagamaan berhadapan dengan riuh-rendahnya jagat maya serta kencangnya perkembangan teknologi informasi termasuk kecerdasan buatan (AI).

    Para Ketua Komisi Komsos dari 18 keuskupan di Indonesia, membahas poin krusial ini di hari ketiga Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, Kamis (28/05/2026).

    Mereka menggodok Draft Pedoman Umum Pastoral Komsos sebagai acuan bersama tata kelola pelayanan komunikasi di keuskupan masing-masing.

    Di antara pembahasan menyentuh dasar teologis, landasan spiritual, hingga langkah taktis menghadapi media siber baru. Dua isu utama yang paling mengemuka berupa penguatan tata kelola keuangan dan panduan etis teknologi baru.

    Sekretaris Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD Petrus Noegroho Agoeng, mengatakan, Komsos setiap keuskupan harus mampu memetakan masalah kemudian menjawab situasi konkret terkait tata kelola ini.

    Dia menjelaskan, tantangan klasik yang masih membayangi Komsos di daerah, di antaranya, belum meratanya ketersediaan sukarelawan yang mempunyai kemampuan memadai hingga tingginya tingkat perputaran (turnover) pegiat media Gereja.

    Setiap Komsos keuskupan memiliki persoalannya sendiri-sendiri yang memerlukan pendekatan khas.

    “Masalah keterbatasan dana dan kebingungan merintis tata kelola organisasi di tingkat lokal juga kerap menjadi batu sandungan.

    Ada tiga solusi strategis, yakni menaruh kepercayaan pada potensi umat di daerah, menggalang donasi publik lewat konsistensi karya media, serta wajib membangun komunikasi yang erat dengan Bapa Uskup sebagai kunci utama dukungan,” papar Agoeng.

    Harapan Mgr Didik

    Ketua Komisi Komsos KWI, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau Mgr Didik, berharap delegasi komsos mampu menghayati pesan Paus Leo XIV “menjaga suara dan wajah manusia” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan perutusan suci.

    Dia mengingatkan agar Komisi Komsos Keuskupan tidak jatuh menjadi ‘kelompok ahli yang eksklusif’.

    Sebaliknya menjadi komunitas ramah dan aktif memberdayakan Orang Muda Katolik (OMK) untuk menghadirkan wajah keuskupan yang penuh keramahan.

    “Komsos harus membangun kolaborasi erat dengan Sekretaris Uskup, kuria, dan komisi-komisi lain agar media resmi keuskupan dapat menguatkan relasi kuria dengan umat secara konsisten. Komsos juga harus berjejaring dengan insan pers lokal sebagai mitra pewartaan,” kata Mgr Didik.

    Keterampilan Teknis Relawan

    Mewujudkan berbagai cita-cita itu, para peserta PKSN XIII yang menjadi relawan di Komisi Komsos masing-masing, dibekali keterampilan teknis memproduksi konten. Ratusan penggerak media paroki dari berbagai keuskupan itu dibagi dalam empat kelas workshop yakni jurnalistik, podcast, video, dan konten kreatif.

    Pada kelas podcast, peserta digembleng oleh Jose Marwoto dan Romo Antonius Steven Lalu, mengenai teknik dasar berbicara di depan kamera, olah vokal diafragma, hingga cara membagi pandangan mata agar tampil komunikatif.

    Seluruh peserta PKSN XIII berpoto bersama saat seremoni pembukaan, Selasa (26/05/2026). Foto: Komsos KAP

    Para peserta berpraktik dalam kelompok, mensimulasikan peran penyusun konsep, host dan narasumber. Simulasi itu kemudian direkam untuk memudahkan evaluasi.

    “Podcast yang baik harus dikonsep terlebih dahulu. Kemasannya harus menarik sehingga orang betah menonton dan pesan tersampaikan,” kata Jose Marwoto.

    Di kelas jurnalistik, peserta dibekali dengan keterampilan merencanakan liputan dan menyusun berita. Gabriel Abdi Susanto dan Kornelius Purba menjadi mentor yang menegaskan pentingnya kedisiplinan dan bijaksana menggunakan AI.

    “Buat perencanaan yang matang agar kalian tetap terarah. AI itu sebatas alat bantu, dan kalian harus disiplin verifikasi atas info dari AI,” tegas Kornelius Purba, wartawan senior The Jakarta Post.

    Sementara itu, proses produksi visual dipelajari di kelas video bersama Ignasius Christopher Adisurya dan Samuel Krismanto. Mereka belajar pembuatan dokumenter naratif pendek.

    Mulai dari taktik memikat penonton pada 10 detik pertama hingga penggunaan log sheet serta editing emosional cerita. Peserta dibagi kelompok dan harus memproduksi video bersama sebagai tindak lanjutnya.

    Dan di kelas konten kreatif yang dipandu Fransiscus Borgia Edgar dan Chrysania Hartanto, peserta mendapatkan pengetahuan cara merancang konten yang menghibur sekaligus edukatif. Mentor mengingatkan pentingnya melakukan validasi ulang setiap informasi yang dihasilkan oleh mesin AI, untuk menghindari pengaruh tren digital yang manipulatif.

    Literasi teknologi di PKSN XIII tidak hanya menyasar para pegiat media, melainkan juga menyentuh ranah keluarga melalui Seminar Konten Kreatif khusus kelompok ibu-ibu. Sesi interaktif yang dipandu oleh Fransiscus Borgia Edgar mengajak kaum ibu mempraktikkan langsung penggunaan AI untuk berbagai produk komunikasi.

    Di antaranya pembuatan poster UMKM, pengumuman paroki, hingga katekese singkat. Karya ibu-ibu ini langsung ditampilkan di layar videotron ruangan, sehingga semua peserta bisa melihatnya.

    PKSN XIII Tegaskan Gereja Tidak Anti Teknologi, tetapi Menjaga Hati Manusia

    Tampak potret pemukulan gong oleh para imam (27/5/2026 – foto: Enjelika)

    MajalahDUTA.Com | Pontianak, Rabu 27 Mei 2026 – Denting gong, tarian Dayak, dan suasana khidmat di Katedral Santo Yoseph Pontianak menjadi pembuka yang menarik dalam Misa Pembukaan PKSN XIII, Rabu (27/5).

    Namun di balik nuansa budaya yang kental, Gereja Katolik justru membawa pesan yang sangat dekat dengan realitas dunia modern, kecerdasan buatan (AI), internet, dan masa depan manusia di era digital.

    Melalui PKSN XIII, Gereja mengajak umat untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga manusia yang mampu menjaga hati, relasi, dan kepekaan nurani di tengah dunia digital yang terus berkembang.

    Dipimpin Agustinus Tri Budi Utomo bersama Agustinus Agus dan para imam peserta PKSN XIII, misa pembukaan tersebut memperlihatkan bagaimana Gereja mencoba menjembatani tradisi iman dengan tantangan teknologi masa kini.

    Dalam homilinya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo tidak berbicara tentang penolakan terhadap teknologi. Sebaliknya, dia mengakui bahwa manusia saat ini hidup di tengah arus kemajuan digital yang bergerak sangat cepat.

    Dia menggambarkan manusia modern seperti berada di atas sebuah sampan yang terbawa derasnya arus teknologi media, komunikasi, internet, hingga Artificial Intelligence (AI).

    “Dengan kecepatan yang sulit kita bayangkan beberapa tahun lalu, apa yang dahulu hanya menjadi imajinasi kini telah menjadi realitas keseharian,” ungkapnya.

    Namun di tengah derasnya arus digital tersebut, Gereja justru mengingatkan pentingnya menjaga ruang sunyi dalam diri manusia. Menurut dia, perkembangan teknologi yang luar biasa tidak boleh membuat manusia kehilangan keheningan batin dan suara hati nurani.

    Pesan itu menjadi menarik karena disampaikan di tengah realitas masyarakat modern yang semakin bergantung pada layar, media sosial, dan komunikasi serba cepat.

    Gereja melihat bahwa persoalan terbesar bukan sekadar teknologi, melainkan kemungkinan manusia kehilangan kemampuan untuk benar-benar hadir dalam relasi dengan sesama maupun dengan Tuhan.

    Dalam refleksinya, Mgr. Agustinus Tri menghubungkan dunia digital modern dengan kisah para murid dan Bunda Maria yang berkumpul di Yerusalem menantikan Roh Kudus.

    Baginya, kisah tersebut menjadi simbol penting bahwa manusia tetap membutuhkan ruang hening untuk mendengarkan suara Tuhan di tengah dunia yang bising oleh informasi.

    Dia menegaskan bahwa PKSN XIII bukan sekadar forum komunikasi sosial Gereja, tetapi juga ruang belajar bersama agar umat mampu menghadirkan wajah dan suara Allah di tengah perubahan zaman.

    Pesan tersebut bahkan diterjemahkan dalam contoh yang sangat sederhana. Dia mengajak para pembina sekolah minggu untuk membiasakan anak-anak berani menatap wajah imam saat menerima berkat dan mengucapkan “amin”.

    Menurutnya, perjumpaan tatap wajah memiliki makna mendalam karena menghadirkan pengalaman relasi yang nyata, bukan sekadar formalitas keagamaan.

    “Seolah-olah Tuhan Yesus sendiri mencintai mereka,” katanya.

    Di tengah budaya digital yang sering membuat komunikasi menjadi cepat namun dangkal, pesan itu menjadi penegasan bahwa Gereja ingin mempertahankan dimensi manusiawi dalam setiap perjumpaan.

    Suasana misa pembukaan yang memadukan budaya lokal Kalimantan Barat dengan refleksi tentang AI juga memperlihatkan sikap Gereja yang tidak memusuhi perkembangan zaman. Sebaliknya, Gereja berupaya hadir di tengah perubahan dengan tetap menjaga nilai iman, budaya, dan kemanusiaan.*Sam | Reporter Enjelika – Peserta PKSN 2026. 

    Gereja Ingatkan Bahaya Hilangnya Keaslian Manusia di Tengah Ledakan Teknologi Digital

    Menjaga Wajah dan Suara Manusia di Era Digital: Pesan Uskup Agustinus Tribudi Utomo dalam Misa Pembukaan PKSN di Pontianak (Dokumentasi Anjeli dan Enjelika) Peserta PKSN 2026.

    MajalahDUTA.Com | Pontianak, Rabu 27 Mei 2026 – Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan budaya digital yang semakin mendominasi kehidupan manusia, Gereja Katolik mengingatkan pentingnya menjaga keaslian identitas dan relasi antarmanusia agar tidak terkikis oleh kemajuan teknologi.

    Pesan dalam Misa Pembukaan PKSN tahun ini menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi yang terus berkembang, manusia tetap harus menjaga identitas, kejujuran, dan nilai kemanusiaannya agar tidak kehilangan makna sebagai pribadi yang utuh.

    Pesan tersebut disampaikan Agustinus Tri Budi Utomo usai Misa Pembukaan PKSN di Katedral Santo Yoseph Pontianak, Rabu (27/5).

    Dalam refleksinya, dia menilai perkembangan teknologi saat ini membawa tantangan baru bagi kehidupan manusia, terutama dalam membangun hubungan yang tulus dengan sesama.

    Menurutnya, masyarakat modern kini semakin terbiasa hidup dalam ritme serba cepat melalui media digital. Kebiasaan scrolling media sosial secara terus-menerus membuat banyak orang hanya melihat sesuatu secara singkat tanpa sungguh-sungguh memahami maknanya.

    “Perjumpaan menjadi dangkal karena manusia semakin jarang hadir secara utuh dalam relasi,” ujarnya.

    Dia menilai kondisi tersebut perlahan dapat membuat manusia kehilangan kemampuan untuk membangun komunikasi yang mendalam. Relasi sosial yang seharusnya lahir dari ketulusan dan perhatian justru berpotensi berubah menjadi hubungan yang serba instan.

    Dalam konteks itu, tema komunikasi sosial Gereja tahun ini, “Rises Voices and Raises Voices”, dipandang sebagai ajakan untuk menjaga wajah dan suara manusia agar tetap otentik di tengah derasnya arus teknologi digital.

    Uskup Agustinus Tri juga menyoroti meningkatnya potensi manipulasi di era digital, baik melalui penyuntingan gambar, rekayasa suara, maupun berbagai bentuk perubahan identitas secara virtual. Karena itu, dia menegaskan bahwa keaslian menjadi nilai yang semakin penting untuk dipertahankan.

    “Kejujuran dalam menampilkan diri merupakan nilai yang luhur dan suci,” katanya.

    Menurut dia, keaslian tidak hanya berkaitan dengan penampilan luar, tetapi juga menyangkut karakter, identitas, dan cara manusia membangun komunikasi dengan orang lain.

    Dia menegaskan bahwa pembentukan manusia yang jujur dan otentik harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai ketulusan, kepedulian, dan kejujuran sejak dini.

    “Kalau dalam keluarga mulai tumbuh kepalsuan dan sikap acuh tak acuh, maka hal yang sama akan terbawa ke masyarakat,” ujarnya.

    Selain keluarga, Gereja juga dinilai memiliki tugas penting untuk terus mendampingi umat melalui komunikasi sosial atau komsos. Gereja dipanggil untuk mengingatkan manusia agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.

    Dia juga menaruh perhatian besar kepada generasi muda yang hidup paling dekat dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, kaum muda harus mampu menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bijaksana sekaligus membantu membimbing generasi berikutnya.

    Di sisi lain, dia menilai negara perlu menghadirkan regulasi yang mampu memastikan perkembangan teknologi tetap membawa manfaat dan tidak merusak kehidupan sosial masyarakat.

    Pada akhir refleksinya, Uskup Agustinus Tri mengajak manusia untuk kembali belajar membangun perjumpaan yang tulus dengan sesama. Dia mengaitkan hal tersebut dengan makna Ekaristi dalam iman Katolik yang mengajarkan umat untuk menatap wajah Tuhan secara mendalam dan penuh penghayatan.

    Menurutnya, keberanian menatap sesama dengan jujur dan tulus merupakan bagian penting dalam membangun relasi manusia yang sehat.

    “Manusia perlu kembali belajar hadir secara utuh dalam setiap perjumpaan,” tuturnya.*Sam | Anjeli – Peserta PKSN 2026. 

    Misa Pembukaan PKSN XIII Ajak Umat Menghadirkan Wajah dan Suara Allah di Era Digital

    Tampak potret Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo (27/5/2026 – foto: Enjelika)

    MajalahDUTA.Com | Perayaan Misa Kudus pembukaan berlangsung khidmat di Katedral St. Yosef Pontianak pada Rabu, 27 Mei 2026. Misa dipimpin oleh Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo dengan konselebran Mgr. Agustinus Agus serta para imam yang hadir dalam kegiatan PKSN XIII.

    Suasana penyambutan berlangsung meriah dan penuh nuansa budaya lokal. Para uskup dan imam disambut dengan tarian Ja’i, kemudian perarakan masuk diiringi tarian Dayak yang menambah kekhidmatan sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya Kalimantan Barat.

    Dalam homilinya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo mengajak seluruh peserta untuk menghayati pesan Bapa Suci Paus Leo XIV mengenai martabat manusia di tengah perkembangan dunia digital dan internet yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia.

    Menurut beliau, perkembangan teknologi tidak dapat dihindari.

    Manusia saat ini seolah sedang berada di dalam sebuah sampan yang mengikuti arus deras kemajuan teknologi media, komunikasi, internet, hingga kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

    “Dengan kecepatan yang sulit kita bayangkan beberapa tahun lalu, apa yang dahulu hanya menjadi imajinasi kini telah menjadi realitas keseharian,” ungkapnya.

    Mgr. Agustinus juga menggambarkan bahwa kemajuan teknologi manusia saat ini sangat luar biasa, namun kehidupan rohani tetap perlu dijaga.

    Dia mengajak umat untuk tetap memiliki keheningan batin dan hati nurani di tengah percepatan dunia digital dan kecanggihan AI.

    Dalam refleksinya, beliau menyinggung kisah para murid bersama Bunda Maria yang berkumpul di yerusalem, ke bukit atas menantikan Roh Kudus. Menurutnya, hal tersebut menjadi gambaran bagaimana umat beriman saat ini juga dipanggil untuk tetap menghadirkan Tuhan di tengah dunia modern.

    Tampak potret pemukulan gong oleh para imam (27/5/2026 – foto: Enjelika)

    Beliau menegaskan bahwa seluruh proses pembelajaran dan pergulatan selama PKSN XIII hendaknya membantu peserta menghadirkan wajah dan suara Allah, baik di paroki, keuskupan, maupun di tengah masyarakat hingga ke kampung-kampung.

    Mgr. Agustinus juga membagikan pengalamannya setelah menyusun pesan-pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia selama 60 tahun. Ia menilai bahwa perutusan Gereja di era digital perlu dimulai sejak usia dini, terutama melalui kehidupan menggereja dan perayaan Ekaristi.

    Menurutnya, para pembina sekolah minggu memiliki peran penting untuk membangun kebiasaan iman anak-anak sejak kecil. Ia memberikan contoh sederhana ketika anak-anak menerima berkat imam.

    “Ajarkan anak-anak memegang dada atau tangan mereka, lalu menatap wajah imam sambil mengatakan amin, sehingga ada perjumpaan tatap wajah. Seolah-olah Tuhan Yesus sendiri mencintai mereka,” pesannya.*Tri – Peserta PKSN 2026. 

    Uskup Agustinus Tribudi Utomo dalam Misa Pembukaan PKSN di Pontianak

    Foto Bersama Uskup Agustinus Tri Budi Utomo (2026)

    MajalahDUTA.Com | Pontianak, Rabu 27 Mei 2026 – Perkembangan teknologi yang semakin pesat, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menjadi salah satu perhatian penting Gereja Katolik dalam menghadapi perubahan zaman.

    Hal tersebut disampaikan dalam wawancara bersama Agustinus Tri Budi Utomo usai Misa Pembukaan PKSN yang dilaksanakan di Katedral Santo Yoseph dan kegiatan lanjutan di Gedung Pasifikus BOS Pontianak.

    Dalam kesempatan tersebut, Bapak Uskup menjelaskan bahwa perkembangan dunia saat ini bergerak sangat cepat, terutama dengan munculnya berbagai teknologi baru yang semakin memengaruhi kehidupan manusia. Menurut beliau, Gereja sejak lama telah memperhatikan perkembangan teknologi dan terus berusaha hadir di tengah perubahan tersebut.

    Beliau menjelaskan bahwa perhatian Gereja terhadap perkembangan teknologi sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak tahun 1967, Gereja telah mengikuti berbagai perkembangan media komunikasi, mulai dari radio, televisi, hingga film.

    Gereja tidak hanya sekadar mengikuti perkembangan itu, tetapi juga memberikan penilaian, melakukan refleksi, mengkritisi, serta melihat sejauh mana perkembangan tersebut memberikan manfaat ataupun dampak yang merugikan manusia.

    Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini bukan sekadar perkembangan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana manusia dapat bersikap dewasa dalam menghadapi kemajuan tersebut. Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu kehidupan manusia, namun manusia juga perlu memiliki kesadaran agar tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

    Dalam proses pembelajaran bersama untuk menghadapi perkembangan zaman, tema yang diangkat dalam komunikasi sosial tahun ini juga menjadi perhatian khusus, yaitu “Rises Voices and Raises Voices” yang menekankan pentingnya menjaga dan memelihara suara serta wajah manusia agar manusia tetap menjadi manusia yang sungguh utuh di hadapan perkembangan teknologi baru.

    Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan situasi saat ini, khususnya dalam menjawab berbagai tantangan di era digital.

    Menurut Uskup Agustinus Tri, kehidupan masyarakat saat ini cenderung bergerak sangat cepat. Banyak orang lebih terbiasa melihat berbagai hal secara singkat melalui media digital, tanpa benar-benar mendalami apa yang dilihat maupun dipahami.

    Beliau menggambarkan bagaimana kebiasaan masyarakat saat ini, terutama generasi muda, yang cenderung terus melakukan scrolling pada media sosial. Kebiasaan tersebut secara perlahan dapat memengaruhi cara manusia membangun hubungan dengan sesama.

    Perjumpaan yang terjadi sering kali hanya berlangsung secara singkat, tanpa adanya kedalaman dalam komunikasi maupun relasi. Akibatnya, seseorang dapat kehilangan makna perjumpaan yang sesungguhnya.

    Menurut beliau, manusia perlu dikembalikan pada makna perjumpaan yang nyata, yaitu dengan berani melihat dan mengenali sesama secara lebih mendalam. Manusia tidak hanya diajak untuk melihat secara fisik, tetapi juga belajar memahami orang lain melalui bahasa hati.

    Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya menyampaikan suara yang otentik dan asli. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, berbagai bentuk manipulasi dapat dengan mudah dilakukan melalui proses penyuntingan maupun perubahan digital. Namun menurut beliau, keaslian merupakan sesuatu yang sangat berharga dan memiliki nilai yang luhur. Kejujuran dalam menampilkan diri menjadi hal penting yang perlu dipertahankan.

    Keaslian bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga menyangkut identitas, karakter, dan cara seseorang berkomunikasi dengan sesamanya.

    Menjadi diri sendiri dan mempertahankan kejujuran dipandang sebagai sesuatu yang benar dan memiliki nilai yang suci. Dalam wawancara tersebut, Uskup Agustinus Tri juga menjelaskan bahwa tanggung jawab dalam membentuk manusia yang otentik tidak hanya berada pada satu pihak saja, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.

    Beliau menempatkan keluarga sebagai pihak pertama yang memiliki peran penting. Menurutnya, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anak sejak dini.

    Apa yang terbentuk di lingkungan masyarakat pada dasarnya berawal dari lingkungan keluarga. Jika dalam keluarga mulai tumbuh sikap acuh tak acuh dan berbagai bentuk kepalsuan, maka hal yang sama juga dapat terbawa ke kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat penting sebagai tempat pertama dalam menanamkan nilai kejujuran, kepedulian, dan ketulusan.

    Selain keluarga, Gereja juga memiliki peranan penting dalam mendampingi umat, khususnya melalui komunikasi sosial atau komsos. Gereja dipanggil untuk terus mengingatkan manusia mengenai panggilan hidup yang suci, terutama dalam menjaga keaslian diri dalam setiap perjumpaan dengan sesama.

    Walaupun dunia berkembang dengan sangat pesat, nilai kemanusiaan menurut beliau tetap harus menjadi pusat perhatian. Gereja diharapkan dapat terus hadir sebagai pendamping bagi umat agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.

    Tidak hanya keluarga dan Gereja, beliau juga menekankan pentingnya peran para guru, dosen, pendamping, serta generasi muda dalam membimbing dan mendampingi mereka yang lebih muda.

    Menurutnya, kaum muda memiliki posisi yang sangat penting karena mereka berada di tengah perkembangan teknologi yang terus bergerak maju. Oleh sebab itu, generasi muda diharapkan dapat menjadi teladan serta membantu membimbing generasi berikutnya agar mampu menggunakan teknologi dengan bijaksana.

    Beliau juga menambahkan bahwa negara memiliki peranan penting dalam membangun regulasi yang mampu mengarahkan perkembangan teknologi agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Pada akhir wawancara, Uskup Agustinus Tri menyampaikan harapannya agar manusia kembali belajar membangun perjumpaan yang tulus dengan sesama.

    Beliau mengaitkan hal tersebut dengan Ekaristi yang dalam iman Katolik dipahami sebagai wajah Tuhan Yesus. Dalam Ekaristi, umat diajak untuk menatap dengan penuh penghayatan serta membangun hubungan yang mendalam dengan Tuhan. Nilai yang sama menurutnya juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Ketika bertemu dengan sesama, manusia perlu berani menatap wajah orang lain dengan tulus dan jujur. Menurut beliau, ketidakmampuan seseorang untuk menatap orang lain terkadang dapat menjadi tanda adanya rasa takut, minder, luka batin, kekecewaan, atau bahkan kebencian yang tersimpan dalam diri.

    Karena itu, manusia diajak untuk terus belajar membangun ketulusan, kejujuran, dan keberanian untuk hadir secara utuh dalam setiap perjumpaan. Melalui komunikasi yang jujur dan otentik, pesan-pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan lebih baik dan hubungan antar manusia pun dapat terjalin secara lebih mendalam.

    Di akhir pesannya, beliau juga menyoroti peran komunikasi sosial atau komsos yang diharapkan dapat terus mempromosikan mentalitas baru, terutama melalui komunitas-komunitas Gereja, media yang dikelola, serta sekolah-sekolah Katolik.

    Upaya tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga wajah dan suara manusia agar tetap otentik di tengah perkembangan teknologi yang semakin maju.

    Pesan yang disampaikan dalam Misa Pembukaan PKSN tahun ini menjadi pengingat bahwa di tengah kecanggihan teknologi, manusia tetap dipanggil untuk menjaga identitas, kejujuran, dan nilai kemanusiaannya agar tetap menjadi manusia yang sungguh utuh di hadapan dunia yang terus berubah.*Anjeli – Peserta PKSN 2026. 

    TERBARU

    TERPOPULER