Monday, June 15, 2026
More
    Home Blog Page 3

    Lawan Kebisingan di Ruang Digital, Uskup Didik Ajak Pegiat Komunikasi Masuki “Ruang Hening”

    Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo (Mgr Didik). Foto: Komsos KAP

    MajalahDUTA.Com | PONTIANAK, 27 MEI 2026 – Teknologi komunikasi, internet, hingga kecerdasan buatan (AI) bergerak sangat cepat dan jadi realitas keseharian. Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau Mgr Didik, menegaskan, Gereja Katolik sama sekali tidak menolak kemajuan itu.

    Dia mengingatkan, pemanfaatan teknologi komunikasi tidak sekadar alat teknis, melainkan sarana menghadirkan wajah dan suara Allah yang penuh kasih. Pegiat komunikasi harus aktif menghadirkan wajah kasih Allah di ruang digital.

    “Pesan Paus Leo IV, komunikasi haruslah menjadi sarana pewartaan kasih, kebenaran, dan persaudaraan. Dunia digital sering menghadirkan kebisingan, sarana kebencian, dan ruang manipulatif. Jangan hanya jadi pengguna, tetapi teknologi harus menghadirkan wajah kasih Allah bagi dunia,” kata Mgr Didik, Rabu (27/05/2026) di Pontianak.

    Penegasan itu dia sampaikan pada Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII yang digelar di Pontianak. Keuskupan Agung Pontianak menjadi tuan rumah “gawe nasional” yang berlangsung sejak Selasa (26/05/2026) hingga Minggu (31/05/26).

    Ekspresi sebagian peserta Bapak-bapak Katolik saat paparan mengenai potensi bahaya AI. Foto: Komsos KAP

    PKSN merupakan bagian integral dari peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, sebagai momentum strategis Gereja Katolik Indonesia merespons tantangan etis di era digital. Memadukan refleksi iman, kajian akademis, dan kekayaan budaya nusantara.

    Persaudaraan dalam Keberagaman

    Semangat persaudaraan itu sangat terasa sejak Misa Pembukaan PKSN XIII di Katedral Santo Yosef, pagi harinya. Sebelum misa dimulai, kehangatan relasi multi-kultur terpancar melalui tarian Jai khas Flores, mengiringi Mgr Didik dan Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, serta sejumlah pastor konselebran, melintasi lorong menuju pintu Katedral.

    Keberagaman yang harmonis terasa kental saat perarakan mencapai tangga Katedral, saat tarian etnik Dayak menyambut mereka. Ratusan peserta PKSN dari keuskupan se-Indonesia, menghadiri misa itu.

    Para peserta dibekali pemahaman melalui seminar nasional “Membumikan Pesan Paus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 60 tahun 2026”. Sebagai keynote speaker, Mgr Didik mengajak para pegiat komunikasi seluruh keuskupan di Indonesia, untuk “masuk ruang hening” merefleksikan esensi komunikasi sebagai anugerah Tuhan, sekaligus menjawab seruan Paus untuk menjaga wajah dan suara manusia.

    “Bukan hanya Gereja yang menjadi ruang aman dan kudus, tapi bagaimana ruang media sosial kita juga menjadi ruang yang aman dan suci. Bukan malah memprovokasi kebencian di sosial media. Kemajuan teknologi harus jadi pilar penjaga martabat manusia,” papar Mgr Didik.

    Gereja mengajak umat menjadi manusia yang otentik, bukan dengan membenci teknologi. Tidak terpancing mengadopsi kepalsuan, tetapi kritis berhadapan dengan deepfake.

    Dalam forum yang sama, Rektor Universitas Pradita, pakar teknologi informasi, Prof. Richardus Eko Indrajit, menegaskan, penggunaan AI cukup sekadar alat, bukan sebagai pengganti manusia. AI bersifat melayani perjumpaan, bukan menggantikannya.

    “Wajah adalah icon Allah, dia sakral. Wajah dan suara manusia tidak untuk dipalsukan, karena sifatnya unik dan tak bisa ditiru. Kecuali dapat izin dari orangnya, untuk kepentingan yang baik,” tegas Eko.

    F. Deliana Winki (Delly Sape’), influencer lokal berbagi pengalaman dan tips untuk kaum muda. Foto: Komsos KAP

    Di sela paparannya, Eko menampilkan contoh video singkat yang dia buat dengan suatu aplikasi AI, menampilkan podcast antara dirinya dengan Paus Leo IV. Dia menambahkan, video tersebut hanya boleh dipergunakan jika mendapat izin dari Vatican, tidak boleh langsung disebarkan.

    Kaum Muda yang Tergoda Viralitas

    Mempertajam pemahaman peserta, talkshow digelar untuk kaum muda dan Bapak-bapak Katolik. Kesempatan ini mengetengahkan pengalaman nyata pegiat komunikasi digital.

    Talkshow Orang Muda memperbincangkan pentingnya menjaga privasi dari bahaya penipuan digital. Ketua Komisi Kepemudaan KWI, RD. Frans Kristi Adi, menyinggung kecenderungan kaum muda untuk selalu viral dan terlihat “keren” di media sosial. Penggunaan AI sering jadi pilihan untuk mendukung kecenderungan itu.

    “Bisa saja kita terlihat hangat di media sosial tapi di dunia nyata menjadi dingin,” kata Adi, mengingatkan AI hanya alat bantu yang tidak pernah mampu menggantikan hati nurani manusia.

    Influencer lokal yang telah melanglang buana ke sejumlah negara, F. Deliana Winki atau Delly Sape’, mengatakan, justru ciri khas diri yang asli yang harus ditampilkan, bukan realitas palsu.

    Dia mencontohkan dirinya, seorang gadis muda pemain sape’–alat musik petik tradisional Dayak–membranding diri dengan identitas budaya lokal. Sape’ menjadi pilihan karena alat musik itu mewakili “suara hutan” yang lekat dengan komunitas masyarakat Dayak.

    “Andalkan Tuhan dalam setiap usaha. Aku bisa sampai ke Vatikan karena berkat Tuhan. Setiap pribadi itu unik,” ujar Delly Sape’.

    Bapak-bapak Penjaga Keluarga

    Di talkshow khusus Bapak-bapak Katolik, tampil artis senior Lisa A. Riyanto, selain dua pembicara perempuan lainnya. Lisa mengingatkan pentingnya peran kaum bapak menjaga keharmonisan keluarga di tengah pesatnya AI.

    Dia mengatakan, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan anggota keluarga, bukan justru menjauhkan hubungan yang sudah dekat.

    Ekspresi sebagian peserta Bapak-bapak Katolik saat paparan mengenai potensi bahaya AI. Foto: Komsos KAP

    “Kebiasaan sederhana seperti makan bersama, saling mengabari melalui grup keluarga di WhatsApp saat berjauhan, dan meluangkan waktu untuk berbincang secara langsung sebagai cara menjaga kehangatan dalam keluarga,” ujar penembang lagu lawas “Terserah Kasih” ini.

    Lisa punya tips bagi kaum bapak, agar keluarga tetap harmonis di tengah berisiknya AI. Memperbanyak komunikasi tatap muka jangan sampai terlewat di tengah kenyataan hampir semua orang memiliki gawai.

    “Komunikasi yang hanya melalui media sosial kerap memunculkan salah paham, karena perbedaan nada bicara maupun penafsiran bahasa. Interaksi langsung kunci utama kehangatan dalam keluarga,” ujar Lisa.

    Tak hanya itu, Lisa menganjurkan kaum Bapak tidak melupakan permainan tradisional untuk menghangatkan relasi orangtua dan anak. Seperti permainan gasing dan kelereng, agar anak-anak tidak hanya terpaku pada game online di handphone.*PKSN 2026.

    Kekayaan Budaya Kalbar Sambut Peserta PKSN XIII 2026 di Pontianak

    Ketua Komisi Komsos KWI, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo (Mgr Didik) didampingi Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus saat prosesi penyambutan peserta PKSN XIII 2026 di Pontianak. Foto: Komsos KAP.

    MajalahDuta.Com | PONTIANAK, 26 MEI 2026 – Ratusan peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII berdatangan, Selasa (26/06/2026) di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) sejak pagi hingga siang. Prosesi penyambutan berlangsung di Gedung Pasificus Bos, Kompleks Katedral Santo Yosef, sore harinya.

    Ratusan pegiat komunikasi Katolik dari berbagai Keuskupan se-Indonesia disambut dengan tradisi budaya lokal berupa seperti tarian etnik Dayak.

    Penari menyerahkan sebilah mandau–pedang khas Dayak–kepada Ketua Komisi Komsos KWI, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo atau Mgr Didik, yang didampingi Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus.

    Ini merupakan tradisi “pancung buluh muda”, sebagai simbol keterbukaan hati tuan rumah acara yakni Keuskupan Agung Pontianak. Mgr Didik memasang ancang-ancang dan sekali tebas dengan mandau, tebu yang dilintangkan di gerbang terputus. Resmilah seluruh peserta memasuki arena kegiatan selama sepekan ke depan.

    Mgr. Didik bersama Mgr. Agustinus, Sekretaris Komisi Komsos KWI, RD. Petrus Noegroho Agoeng, dan para ketua Komsos dari berbagai Keuskupan, menerima pengalungan syal bermotif Dayak.

    Selain kaum muda, para peserta berasal dari unsur Badan Pengurus Komisi Komsos KWI serta para Ketua atau perwakilan Komsos Keuskupan se-Indonesia. Penyambutan segera dilanjutkan dengan jamuan malam.

    Seluruh peserta berkenalan sambil menikmati sejumlah penampilan di antaranya tarian etnik Dayak dan musik etnik Tionghoa, serta permainan musik sape’–gitar tradisional Dayak.

    Panitia menyuguhkan sebuah film pendek. Konten resmi produksi Komsos KWI khusus untuk PKSN 2026 dan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. Judulnya “Wajah dan Suara”. Isinya tentang refleksi iman dan katekese, menggambarkan teknologi digital masa kini mampu memanipulasi identitas manusia, disalahgunakan untuk menipu, dan menyimulasikan kehangatan relasi semu.

    Film pendek ini menjadi media visual utama untuk menerjemahkan ajakan Paus Leo XIV dan Mgr Didik, agar umat Katolik menjaga orisinalitas, empati, serta martabat kemanusiaan di tengah perkembangan Kecerdasan Buatan (AI).

    Tarian etnik Dayak menyambut rombongan peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII 2026 di Kompleks Katedral St Yoseph Pontianak, Selasa (26/5/2026). Foto: Komsos KAP.

    Memperkuat Persaudaraan

    Pastor Kepala Paroki Katedral St Yosef Pontianak, RD Alexius Alex mengatakan, teknologi memang memberikan banyak manfaat. Namun harus tetap disadari agar manusia tidak kehilangan empati, hati nurani, dan kepedulian terhadap sesama.

    “Gereja dipanggil untuk menghadirkan komunikasi yang menyejukkan, jujur, dan membawa harapan. Media dan teknologi hendaknya dipakai bukan untuk memecah, melainkan untuk memperkuat persaudaraan, membela kebenaran, dan menjaga martabat manusia,” kata RD Alexius.

    Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak, RP Adiantus Aloysius CP, mewakili Administrator Apostolik, Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap, menyebut, komunikasi yang sejati bukan sekadar menyebarkan informasi.

    Tarian etnik Dayak menyambut rombongan peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII 2026 di Kompleks Katedral St Yoseph Pontianak, Selasa (26/5/2026). Foto: Komsos KAP.

    Melainkan membangun perjumpaan antar wajah, mendengarkan suara hati sesama, dan mewartakan kebenaran dengan penuh belas kasih.

    Sementara Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, menyebut, seni pantun bisa menghangatkan suasana komunikasi.

    Dia memulai sambutannya dengan berpantun: Sudah lama tidak ke ladang/Batang tebu sudah meninggi/Sudah lama rasanya kita tidak saling pandang/Rasa rindu setengah mati.

    “Kita tidak bisa menolak dan menghindari tantangan komunikasi yang sangat modern ini. AI itu bisa membantu dalam banyak hal, tetapi tetap itu produk-produk manusia,” ujar Mgr Agus.

    Mgr Didik berharap, Komisi Komsos di setiap Keuskupan mampu menghadirkan wajah dan suara Gereja bagi masyarakat. Di samping mewujudkan wajah sinodalitas Gereja, juga mewujudkan misi untuk menaburkan, menebarkan, menggarami, mengurapi seluruh dunia dengan kabar sukacita.

    “Di sini kita lintas batas untuk saling menjumpai dan mewujudkan wajah tulus dan otentik antara kita sekalian. Saat kita berjumpa, agar terjadi proses untuk belajar. ​Akhirnya kita juga berbagi satu sama lain,” ujar Mgr Didik.*PKSN 2026. 

    Pemprov Kalbar Tegaskan Komitmen Lestarikan Budaya pada Penutupan PGD ke-40

    Gambar: Antonius Rawing SE.M.Si. Asisten 1 Kantor Gubernur didampingi Bujang dan Dara 2026.

    MajalahDUTA.Com | Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menegaskan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya daerah pada malam penutupan Pekan Gawai Dayak ke-40 Kalimantan Barat yang berlangsung di Rumah Radakng, Minggu (24/5/2026) malam.

    Gubernur Kalbar Ria Norsan diwakili oleh Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Kalbar, Antonius Rawing, dalam acara puncak penutupan yang berlangsung meriah dan penuh nuansa kebudayaan Dayak.

    Dalam sambutan tertulis Gubernur yang dibacakan Antonius Rawing, disampaikan rasa syukur atas suksesnya seluruh rangkaian Pekan Gawai Dayak ke-40 yang dinilai berlangsung baik, meriah, dan penuh makna.

    Pemerintah Provinsi Kalbar juga mengapresiasi semangat masyarakat Dayak dalam menjaga adat dan budaya yang terus diwariskan lintas generasi.

    “Pekan Gawai Dayak yang tahun ini memasuki pelaksanaan ke-40 menunjukkan bahwa semangat masyarakat dalam menjaga budaya dan adat istiadat tetap hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi,” demikian kutipan sambutan Gubernur.

    Gambar: Antonius Rawing SE.M.Si. Asisten 1 Kantor Gubernur menghadiri malam penutupan PGD 2026. Gambar: SS Youtube Sekberkesda. 

    Selama pelaksanaan kegiatan, kawasan Rumah Radakng dipenuhi berbagai pertunjukan tradisi adat, seni budaya, kuliner khas, hingga pameran kreativitas masyarakat. Pemerintah menilai hal tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup dan mampu berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman.

    Dalam sambutannya, pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat. Perbedaan suku, agama, adat, dan budaya disebut sebagai kekuatan yang mempererat persaudaraan masyarakat.

    Selain menjadi ruang pelestarian budaya, Pekan Gawai Dayak juga dinilai memberi dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

    Aktivitas UMKM meningkat, kerajinan lokal semakin dikenal, kuliner tradisional diminati pengunjung, serta sektor pariwisata ikut bergerak. Bahkan, sejumlah wisatawan asing turut hadir dalam perhelatan budaya tahunan tersebut.

    Pemerintah Provinsi Kalbar menilai budaya dapat menjadi kekuatan dalam memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

    Kepada generasi muda, Gubernur Kalbar melalui sambutan tersebut berpesan agar tetap mencintai budaya daerah di tengah perkembangan zaman. Generasi muda diharapkan mampu menjaga nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat Kalbar.

    Pada kesempatan itu juga disampaikan ucapan selamat kepada para pemenang lomba seni budaya dan Bujang Dara Gawai Tahun 2026. Mereka diharapkan menjadi generasi muda yang berkarakter dan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.

    Menutup sambutan, Pemerintah Provinsi Kalbar menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat, sponsor, relawan, aparat keamanan, dan masyarakat yang telah mendukung terselenggaranya Pekan Gawai Dayak ke-40 dengan aman dan tertib.

    Dengan penuh rasa syukur, Pekan Gawai Dayak Kalimantan Barat ke-40 Tahun 2026 secara resmi dinyatakan ditutup.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni budaya yang menambah semarak malam penutupan di Rumah Radakng.*Samuel | Sumber: Antonius Rawing SE.M.Si. Asisten 1 Kantor Gubernur. 

    Sinergi Bangun Daerah, Wagub Kalbar Apresiasi Stan AKUB Pontianak

    Sinergi Bangun Daerah, Wagub Kalbar, Krisantus Apresiasi Stan AKUB Pontianak (22 Mei 2026) - PGD 2026

    MajalahDUTA.Com | Stan pameran Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Pontianak mendapat perhatian khusus dalam sebuah kegiatan pameran yang digelar dalam Pekan Gawai Daerah 2026, pada Jumat pekan lalu, 22 Mei 2026.

    Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan berkunjung langsung ke stan tersebut dan berdialog bersama civitas akademika, dosen, serta mahasiswa AKUB.

    Kehadiran Krisantus Kurniawan disambut hangat oleh pihak kampus. Kunjungan tersebut ditutup dengan sesi foto bersama antara Wakil Gubernur dan civitas akademika AKUB.

    Kehadiran Wakil Gubernur hari itu dinilai oleh Direktur AKUB Pontianak, Stanisluas Andes menjadi suntikan motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan memperkuat kontribusi nyata bagi pembangunan daerah di Bumi Khatulistiwa.

    Dalam kunjungannya, dia meninjau berbagai program pendidikan dan inovasi mahasiswa, sekaligus mendengarkan pemaparan mengenai kontribusi AKUB dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul di bidang keuangan dan perbankan di Kalimantan Barat.

    Dalam dialog tersebut, Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan memberikan sejumlah arahan strategis agar AKUB mampu terus menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia industri dan kebutuhan zaman.

    Sinergi Bangun Daerah, Wagub Kalbar, Krisantus Apresiasi Stan AKUB Pontianak (22 Mei 2026) – PGD 2026

    Salah satu poin utama yang disampaikan adalah pentingnya akselerasi digitalisasi keuangan melalui penguatan kurikulum berbasis financial technology (fintech) dan digital banking.

    Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami sistem perbankan konvensional, tetapi juga harus mampu menguasai ekosistem keuangan digital yang kini berkembang pesat.

    Selain itu, Krisantus juga mendorong penguatan literasi keuangan di daerah.

    Dia berharap pihak kampus semakin aktif turun ke tengah masyarakat, khususnya pelaku UMKM di Kalbar, untuk memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan dan akses layanan perbankan.

    “Saya berharap AKUB terus menjadi motor penggerak dalam mencetak SDM lokal yang kompeten, berdaya saing tinggi, dan siap kerja. Tantangan ekonomi ke depan semakin dinamis, dan Kalbar membutuhkan anak-anak muda lulusan AKUB yang mampu mengambil peran strategis di sektor industri keuangan, baik daerah maupun nasional,” ujarnya, (22/05). *Samuel | Sumber: Dir AKUB Pontianak, Stanislaus Andes. 

    Belajar dan Bertumbuh Lewat International Conference: Pengalaman Srikandi PBI San Agustin di UNCLLE 2026

    Belajar dan Bertumbuh Lewat International Conference: Pengalaman Srikandi PBI San Agustin di UNCLLE 2026

    MajalahDUTA.Com | April 2026, menjadi bulan yang sangat berkesan bagi lima mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Untuk pertama kalinya, mereka mengikuti konferensi internasional UNCLLE (Undergraduate Conference on Linguistics, Literature, and Culture) yang diselenggarakan oleh Universitas Dian Nuswantoro secara daring dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia.

    Perjalanan ini tentu tidak mudah. Ada rasa ragu yang harus kami taklukkan, deadline yang terasa mepet, teori-teori baru yang harus dipahami dari nol, konsep penulisan akademik yang belum sepenuhnya dipahami, hingga momen-momen yang awalnya terasa sangat berat. Namun, di balik semua itu, tersimpan pengalaman, proses belajar, dan cerita yang luar biasa.

    “Saat pertama kali mendapat kesempatan ikut UNCLLE, rasanya campur aduk. Saya memilih topik tentang bagaimana Queen Charlotte dalam serial Bridgerton menavigasi kekuasaan sebagai seorang perempuan.

    Awalnya saya sangat bingung dan terus bertanya ke diri sendiri: apakah judul saya cukup kuat? Apakah saya mampu?

    Gambar 01: Belajar dan Bertumbuh Lewat International Conference: Pengalaman Srikandi PBI San Agustin di UNCLLE 2026

    Tapi Mr. Anton selalu hadir dengan semangat yang luar biasa. Beliau terus membimbing dan menyemangati kami. Dosen-dosen lain juga ikut memberi support, masukan, bahkan makanan saat proses penulisan berlangsung.

    Kami hanya punya waktu yang cukup singkat untuk menyusun manuskrip. Saat hari presentasi tiba, saya benar-benar takut dan gugup.

    Tapi saya berkata kepada diri sendiri, ‘You can do that, Linsi!’ dan akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai berpresentasi.

    Gambar 02:Belajar dan Bertumbuh Lewat International Conference: Pengalaman Srikandi PBI San Agustin di UNCLLE 2026

    Memang saya belum berhasil menjadi pemenang, tapi saya bangga karena tanpa sadar saya sedang mengalami hal yang sama seperti perempuan yang saya teliti: berani bertahan di tengah keterbatasan.

    Untuk teman-teman San Agustin, ayo jangan takut untuk ikut conference berikutnya. Lebih baik kecewa karena gagal daripada kecewa karena tidak pernah mencoba. Kadang yang membuat kita takut itu pikiran kita sendiri, bukan realitanya,” ungkap Linsi.

    Tak hanya itu, Cindy yang berhasil meraih kategori Best Paper juga membagikan pengalamannya.

    “Proses menulis paper ini cukup ekstrem bagi saya. Saat penyusunan berlangsung, jadwal benar-benar padat: belajar, membuat PPT, persiapan presentasi kelas, dan berbagai tugas lain berjalan bersamaan.

    Burnout mulai terasa nyata. Tantangan terbesar saya adalah memahami teori fenomenologi yang biasanya digunakan dalam kajian psikologi, tetapi juga digunakan untuk menginterpretasikan makna simbolik dalam sajian ritual masyarakat Dayak.

    Awalnya saya merasa teori semiotik mungkin lebih cocok. Namun, melalui arahan Mr. Anton, saya akhirnya memahami bahwa fenomenologi justru memberi sudut pandang yang lebih mendalam karena setiap sajian bukan hanya tentang simbol, tetapi juga tentang pengalaman hidup dan cara masyarakat memaknainya secara langsung.

    Gambar 03: Belajar dan Bertumbuh Lewat International Conference: Pengalaman Srikandi PBI San Agustin di UNCLLE 2026

    Itu menjadi momen yang benar-benar mengubah cara saya memandang penelitian budaya.

    Saat pengumuman pemenang dan nama Claudia disebut, kami ikut bahagia. Dan ketika ternyata nama saya juga masuk sebagai pemenang, rasanya benar-benar luar biasa.

    Di era ketika banyak orang memilih topik yang sedang tren, saya justru memilih membahas sajian ritual yang terlihat sederhana, padahal di baliknya tersimpan makna dan nilai kehidupan yang sangat kaya. Jadi jangan takut mengangkat budaya lokal sebagai topik penelitian. Hal-hal sederhana sering kali menyimpan makna yang paling dalam,” tuturnya.

    Mutiara, salah satu peserta lainnya, juga menambahkan bahwa pengalaman mengikuti konferensi internasional ini menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam hidupnya.

    “Awalnya saya merasa takut dan terus mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Tapi saya sangat beruntung karena dikelilingi dosen pembimbing dan teman-teman yang suportif.

    Gambar 04: Belajar dan Bertumbuh Lewat International Conference: Pengalaman Srikandi PBI San Agustin di UNCLLE 2026

    Mereka tidak pernah lelah meyakinkan saya bahwa saya bisa. Kami benar-benar dibimbing dari nol, dari yang awalnya bingung harus mulai dari mana sampai akhirnya paham bagaimana menulis paper dengan baik dan benar.

    Saya mendapat ilmu baru, pengalaman baru, dan rasa bangga yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

    Untuk teman-teman yang lain, jangan pernah takut mencoba hal baru. Proses belajar itu akan terasa indah ketika kita berada di lingkungan yang tepat; dan San Agustin adalah lingkungan yang tepat itu,” ujarnya.

    Claudia, yang juga berhasil meraih kategori Best Presenter, mengungkapkan bahwa awalnya ia sangat gugup ketika ditawari mengikuti conference tersebut. “Ini pengalaman pertama saya, dan jujur, tampil di depan peserta dari berbagai universitas terasa sangat menakutkan.

    Tapi setelah dijalani, ternyata seru sekali. Saya mendapat pengalaman yang tidak akan saya dapatkan di kelas biasa.

    Mendengarkan presentasi peserta lain juga membuka wawasan saya bahwa ternyata banyak topik menarik (yang selama ini tidak pernah terpikirkan) yang sedang diteliti oleh mahasiswa-mahasiswa di luar sana.

    Pengalaman ini benar-benar berkesan dan tidak terlupakan. Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan dengan topik-topik yang semakin menarik. Dan untuk teman-teman lain, jangan ragu untuk ikut!” katanya.

    Sementara itu, Melin juga mengaku mendapatkan banyak pelajaran baru selama mengikuti UNCLLE.

    “Awalnya saya merasa gugup dan kurang percaya diri, tetapi melalui kegiatan ini saya belajar menjadi lebih berani, disiplin, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.

    Selain itu, kegiatannya juga menyenangkan karena kami bisa saling berbagi pengalaman dan saling support satu sama lain.

    Dosen pembimbing dan dosen-dosen lainnya juga sangat sabar dalam membekali, dan membimbing kami selama proses berlangsung.

    Semoga UNCLLE di tahun-tahun berikutnya bisa semakin baik dan terus memberikan dampak positif bagi para peserta. Untuk teman-teman San Agustin, beranikanlah diri untuk mencoba!” tuturnya.

    Setiap cerita dan pencapaian ini tentu tidak terlepas dari peran dosen-dosen yang mendampingi dengan penuh dedikasi serta dukungan sistematis dari Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Dalam proses persiapan menuju UNCLLE 2026, kami tidak berjalan sendirian karena ada yang selalu ada, yaitu Mr. Anton bersama Ms. Efrika dan Mam.

    Monik aktif membantu, mendampingi, merevisi, hingga memfinalisasi paper dan bahan presentasi mahasiswa dengan penuh perhatian dan kesabaran.

    Bahkan saat hari presentasi berlangsung, kami juga difasilitasi untuk mengikuti conference bersama di rumah Mam. Monik agar suasananya lebih nyaman, hangat, dan saling mendukung.

    Ms. Upa selaku Kaprodi PBI turut hadir mendampingi bersama Ms. Efrika selama proses presentasi berlangsung. Hal-hal sederhana seperti menyediakan makanan dan minuman, bahkan menyiapkan masakan untuk menjaga energi mahasiswa selama conference, menjadi bentuk perhatian yang sangat membekas bagi para peserta.

    Dukungan seperti inilah yang membuat mahasiswa merasa bahwa belajar di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo bukan hanya tentang akademik, tetapi juga tentang bertumbuh bersama dalam lingkungan yang suportif, hangat, dan penuh semangat untuk berkembang.

    Pengalaman ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada bagaimana mahasiswa didukung untuk bertumbuh secara personal dan profesional.

    Gambar 05: Belajar dan Bertumbuh Lewat International Conference: Pengalaman Srikandi PBI San Agustin di UNCLLE 2026

    Budaya saling mendampingi, komunikasi yang dekat antara mahasiswa, dosen, dan staf, serta sistem pembinaan yang suportif menjadi kekuatan yang dirasakan lintas program studi, mulai dari Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, dan PJKR di FKIP, hingga Agribisnis, Sistem Informasi, Teknik Logistik, Keperawatan, Kebidanan, serta Keuangan dan Perbankan.

    Bagi mahasiswa, dukungan seperti inilah yang membuat proses belajar terasa lebih manusiawi, hangat, dan memberi ruang untuk berkembang dengan percaya diri, baik di dalam maupun di luar kelas.

    “Jangan pernah takut untuk mencoba, karena yang paling menyesal bukanlah mereka yang kalah, tetapi mereka yang tidak pernah memulai”

    Conference bukan hanya untuk mereka yang sudah siap. Conference adalah tempat kita bertumbuh menjadi siap!

     

    Menggemakan Misi “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”

    Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos), Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo. Foto: Komsos KWI

    MajalahDUTA.Com | PONTIANAK, 25 MEI 2026 – Keuskupan Agung Pontianak menjadi tuan rumah pagelaran akbar Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII yang akan berlangsung mulai Selasa, 26 Mei hingga Minggu, 31 Mei 2026.

    Peristiwa nasional ini menjadi puncak selebrasi Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 yang melibatkan para pegiat komunikasi, pewarta, dan insan Gereja Katolik dari seluruh Keuskupan di Indonesia.

    PKSN 2026 bertemakan “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”, mengacu pesan gembala Paus Leo XIV. Sri Paus menegaskan pentingnya mempertahankan martabat, empati, dan kehadiran personal manusia di tengah kepungan arus teknologi digital dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI).

    Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Samuel Oton Sidin, OFM Cap, berharap peristiwa ini sungguh menjadi kesempatan bagi kita untuk menjaga suara dan wajah manusia.

    “Dengan demikian, kehidupan dalam kebersamaan pada masa-masa mendatang sungguh lebih membahagiakan dan mensejahterakan kita semua, dalam berkat Tuhan mari kita berupaya agar PKSN kita laksanakan dengan baik seturut kehendakya,” kata Mgr Samuel.

    Ketua Komisi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, mengatakan, saat ini kita hidup di tengah pesatnya kecerdasan buatan. Teknologi kini seolah mampu memanipulasi wajah kita.

    Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos), Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo. Foto: Komsos KWI

    “Kita harus ingat bahwa AI adalah alat bantu. Sekali lagi, alat bantu bagi manusia,” kata Mgr Didik, yang juga Uskup Surabaya.

    Selama enam hari ke depan, Keuskupan Agung Pontianak telah menyiapkan empat pilar rangkaian kegiatan utama, yakni Aksi Kreativitas, sebagai wadah ekspresi bagi para kreator melalui berbagai perlombaan dan unjuk bakat komunikasi yang humanis.

    Kedua, edukasi dalam bentuk seminar dan diskusi interaktif mengenai pemanfaatan teknologi digital dan AI secara bijak dalam pewartaan iman. Ketiga, aktivitas literasi sebagai gerakan membaca, menulis, dan menyaring informasi demi membangun ruang siber yang sehat serta bebas dari hoaks.

    Ditutup dengan Kunjungan Solidaritas Kemanusiaan, sebagai aksi nyata turun ke lapangan untuk menjumpai sesama yang membutuhkan, sebagai wujud konkret komunikasi yang menghadirkan perjumpaan tulus.

    Dan di setiap akhir kegiatan harian, selalu ditutup dengan refleksi bersama, untuk semakin merenungkan pesan Paus agar mampu diperjuangkan dalam kehidupan nyata.

    Sekitar 200-an peserta akan menghadiri kegiatan sepekan ini. Mereka berasal dari sejumlah Keuskupan Agung dan Keuskupan Sufragan di Indonesia. (*)

    Kalau Kuliah, Nanti Kerja di Mana?

    MajalahDUTA.Com | Malam itu, Jaky (nama samaran) duduk cukup lama di teras rumahnya di pinggiran Pontianak (Kubu Raya).

    Di tangannya ada telepon genggam yang sejak sore dipakainya mencari informasi kampus. Sesekali ia menghela napas panjang. Setelah lulus SMA, pikirannya justru semakin penuh pertanyaan.

    “Kalau kuliah, nanti kerja di mana?”
    “Kalau salah pilih jurusan bagaimana?”
    “Kalau biaya kuliahnya mahal?”

    Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi banyak anak muda setelah lulus sekolah, pertanyaan itu bisa menjadi kegelisahan yang diam-diam melelahkan.

    Mahasiswa AKUB Pontianak Ikuti Seminar Pekan Gawai Dayak 2026.

    Tidak semua lulusan SMA memiliki kemewahan untuk memilih kampus tanpa memikirkan biaya. Banyak yang harus menyesuaikan dengan kondisi keluarga. Ada yang ingin cepat bekerja membantu orang tua, tetapi tetap ingin punya pendidikan tinggi agar masa depannya lebih baik.

    Di tengah kebingungan itu, Jaky menemukan informasi tentang Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Pontianak.

    Awalnya dia hanya melihat sebuah poster penerimaan mahasiswa baru di media sosial. Namun semakin dia membaca, semakin dia merasa kampus ini tidak sekadar menawarkan kuliah, tetapi juga menawarkan arah.

    AKUB Pontianak membuka penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 untuk Program Studi Keuangan dan Perbankan.

    Kampus ini mencoba menjawab keresahan yang paling sering dirasakan calon mahasiswa: pendidikan berkualitas, biaya yang masih terjangkau, dan peluang kerja yang nyata.

    Bagi banyak keluarga, biaya masuk perguruan tinggi sering menjadi tembok pertama yang sulit dilewati.

    Karena itu, informasi tentang uang masuk mulai dari Rp500 ribu untuk 50 pendaftar pertama menjadi perhatian tersendiri. Bahkan biaya masuk dapat dicicil sesuai ketentuan yang berlaku.

    Namun persoalannya bukan hanya soal murah atau mahal. Anak muda hari ini juga mulai berpikir realistis. Mereka tidak hanya ingin kuliah demi gelar, tetapi ingin memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja.

    AKUB mencoba menjawab kebutuhan itu melalui pendekatan pendidikan berbasis praktik dan dunia industri. Kampus ini menyediakan laboratorium komputer, ruang praktik, hingga laboratorium bank mini yang memungkinkan mahasiswa mengenal dunia kerja sejak dini.

    Mahasiswa tidak hanya belajar teori keuangan dan perbankan di kelas, tetapi juga memahami praktik lapangan yang akan mereka hadapi setelah lulus.

    Yang menarik, kampus ini juga menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga dan industri seperti Bank Mandiri, BRI, BCA, PKSS, hingga sejumlah mitra lainnya.

    Bagi calon mahasiswa, kerja sama seperti ini bukan sekadar formalitas, melainkan harapan bahwa setelah lulus mereka memiliki peluang lebih dekat dengan dunia kerja.

    Di era sekarang, memilih kampus memang bukan perkara gengsi semata. Banyak anak muda mulai sadar bahwa pendidikan harus relevan dengan kenyataan hidup. Mereka ingin kampus yang bukan hanya memberi ijazah, tetapi juga membentuk kemampuan dan membuka jalan masa depan.

    Kebingungan setelah lulus sekolah sebenarnya sangat manusiawi. Sebab memilih kampus pada dasarnya adalah memilih arah hidup.

    Tidak sedikit anak muda yang akhirnya berhenti kuliah karena salah memilih jurusan atau tidak siap menghadapi realitas biaya pendidikan.

    Karena itu, keputusan memilih kampus perlu dilihat secara jernih, apakah tempat itu benar-benar membantu mahasiswa bertumbuh?

    AKUB Pontianak hadir di tengah kebutuhan itu dengan menawarkan lingkungan belajar yang kondusif, fasilitas kampus yang lengkap, akses internet kampus hingga 200 Mbps, serta tenaga pengajar yang kompeten di bidangnya.

    Bagi sebagian anak muda, mungkin inilah yang mereka cari, kampus yang terasa dekat dengan realitas mereka sendiri.

    Kini Jaky tidak lagi terlalu bingung seperti beberapa minggu lalu. Setidaknya dia mulai menemukan kemungkinan tentang masa depannya.

    Jaky sadar bahwa masa depan memang tidak pernah sepenuhnya pasti. Namun langkah kecil untuk memilih pendidikan yang tepat bisa menjadi awal penting untuk mengubah hidup.

    Dan mungkin, di luar sana, ada banyak anak muda lain yang sedang berada di posisi yang sama, berdiri di persimpangan, mencoba menentukan arah, sambil berharap menemukan kampus yang bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat menyiapkan masa depan.*Samuel, AKUB Pontianak. 

    Kampung Kehilangan Suara

    Dokumentasi Samuel - Tengah Menyampaikan materi Jurnalistik dan Manajemen waktu menulis di SMA N 1 Siantan (Mempawah) - 2025

    MajalahDUTA.Com | Manusia modern hidup di tengah paradoks yang aneh. Semakin canggih teknologi yang diciptakannya, semakin jauh pula ia dari dirinya sendiri. Kita menyaksikan masyarakat yang makin terhubung melalui layar digital, tetapi pada saat yang sama kehilangan kedekatan sosial yang nyata.

    Orang dapat berbicara dengan siapa saja di dunia, tetapi tidak lagi mengenal cerita kampungnya sendiri. Anak-anak hafal budaya populer global, tetapi gagap menjelaskan makna tradisi yang hidup di tanah kelahirannya. Di titik inilah perubahan sosial bukan lagi sekadar gejala kemajuan, melainkan juga pertanyaan filosofis tentang arah peradaban manusia.

    Pada hakikatnya, manusia bukan hanya makhluk biologis yang hidup untuk memenuhi kebutuhan material. Manusia adalah makhluk yang mencari makna. Ia hidup melalui hubungan sosial, simbol, bahasa, dan kebudayaan.

    Karena itu, kebudayaan sesungguhnya bukan sekadar tarian adat, pakaian tradisional, atau festival tahunan. Kebudayaan adalah cara manusia memahami dunia dan dirinya sendiri. Ia adalah ingatan kolektif tentang bagaimana manusia hidup, mencintai, bekerja, menghormati alam, dan memaknai kehidupan.

    Ketika kebudayaan melemah, yang hilang bukan hanya tradisi, melainkan juga orientasi hidup masyarakat.

    Hari ini, perubahan sosial bergerak terlalu cepat. Teknologi digital mempercepat arus informasi hingga manusia nyaris tidak memiliki waktu untuk merenung. Globalisasi menghadirkan gaya hidup baru yang perlahan menyeragamkan manusia menjadi konsumen tanpa akar budaya.

    Segala sesuatu diukur berdasarkan kecepatan, efisiensi, dan keuntungan pasar. Akibatnya, manusia modern perlahan berubah menjadi makhluk yang sibuk mengejar kemajuan, tetapi lupa bertanya, untuk apa kemajuan itu?

    Di banyak tempat, termasuk di Kalimantan Barat, perubahan itu tampak nyata. Kampung-kampung perlahan kehilangan ruang sosialnya. Tradisi lisan mulai menghilang. Bahasa daerah semakin jarang terdengar di rumah-rumah. Anak muda lebih mengenal algoritma media sosial daripada cerita leluhur mereka sendiri. Bahkan pendidikan sering kali tanpa sadar ikut mempercepat keterputusan itu.

    Sekolah hari ini terlalu sibuk mencetak manusia kompetitif, tetapi kurang memberi ruang bagi manusia untuk mengenal dirinya sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan. Pendidikan lebih sering diarahkan pada pasar kerja daripada pembentukan kesadaran sosial. Anak-anak diajarkan menjadi tenaga profesional, tetapi tidak cukup diajak memahami mengapa solidaritas, gotong royong, dan penghormatan terhadap budaya itu penting.

    Padahal pendidikan sejatinya bukan hanya proses mencerdaskan otak, melainkan juga proses memanusiakan manusia.

    Filsuf Paulo Freire pernah mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh menjadi alat yang membuat manusia sekadar menyesuaikan diri dengan sistem. Pendidikan harus membantu manusia sadar terhadap realitas sosialnya. Dalam konteks kita, pendidikan semestinya menjadi ruang di mana generasi muda belajar memahami akar budayanya sendiri, bukan malah tercerabut darinya.

    Sebab manusia tanpa akar budaya akan mudah kehilangan arah. Ia mungkin modern secara penampilan, tetapi rapuh secara identitas. Ia mengenal dunia luar, tetapi asing terhadap dunianya sendiri.

    Kebudayaan lokal sebenarnya menyimpan filsafat hidup yang dalam. Dalam tradisi masyarakat Dayak, misalnya, terdapat cara pandang tentang relasi harmonis antara manusia dan alam.

    Dalam budaya Melayu hidup nilai kesantunan dan musyawarah. Di banyak komunitas lokal, gotong royong bukan hanya aktivitas sosial, tetapi cara memahami bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian. Nilai-nilai seperti ini justru menjadi penting ketika dunia modern semakin individualistis.

    Ironisnya, masyarakat sering menganggap kebudayaan lokal hanya sebagai romantisme masa lalu. Tradisi dipertontonkan dalam festival, tetapi tidak sungguh dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Kita merayakan budaya di panggung-panggung seremoni, sementara nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlahan mati dalam praktik sosial masyarakat.

    Di sinilah pendidikan seharusnya hadir dengan keberanian moral. Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan teknis, tetapi juga harus menjadi ruang refleksi kebudayaan. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa identitas budaya bukan penghalang kemajuan. Justru dari akar budaya itulah manusia memiliki pijakan untuk menghadapi dunia yang terus berubah.

    Modernitas tanpa kebudayaan hanya akan melahirkan manusia yang cerdas tetapi kosong. Manusia yang mampu menciptakan teknologi, tetapi gagal menciptakan kedamaian sosial. Manusia yang pandai berbicara tentang masa depan, tetapi kehilangan hubungan dengan masa lalunya.

    Perubahan sosial memang tidak bisa dihentikan. Tidak ada masyarakat yang benar-benar statis. Namun, perubahan yang tidak disertai kesadaran budaya akan melahirkan kegelisahan baru: manusia kehilangan rumah batinnya sendiri. Kampung bukan lagi sekadar wilayah geografis, melainkan ruang makna tempat manusia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

    Karena itu, mempertahankan kebudayaan lokal bukan berarti menolak modernitas. Yang diperlukan adalah kemampuan berdialog dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri. Teknologi harus dipakai untuk menghidupkan budaya, bukan menghapusnya. Pendidikan harus menjadi jembatan antara kemajuan dan kemanusiaan.

    Jika tidak, kita mungkin akan menjadi masyarakat yang maju secara ekonomi, tetapi sunyi secara batin. Kampung-kampung masih ada di peta, tetapi kehilangan suara. Ketika sebuah masyarakat kehilangan suara budayanya, sesungguhnya ia sedang perlahan kehilangan dirinya sendiri. Semoga!!!. *Samuel. 

    Komisi XIII DPR RI, Sibarani Soroti Pelayanan Inklusif Imigrasi Ngurah Rai

    Anggota Komisi XIII DPR RI, Franciscus Maria Agustinus Sibarani dalam kunjungan Komisi XIII DPR RI ke Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, (13/5)

    MajalahDUTA.Com | Komitmen Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai dalam menghadirkan pelayanan publik yang inklusif mendapat apresiasi dari Franciscus Sibarani saat kunjungan kerja Komisi XIII DPR RI ke Bali, Rabu (13/5/2026).

    Dalam peninjauan tersebut, Franciscus Sibarani menilai pelayanan keimigrasian di Bandara Ngurah Rai tidak hanya mengedepankan kecepatan dan teknologi, tetapi juga memperhatikan aspek kemanusiaan, khususnya bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.

    Menurutnya, pelayanan publik yang baik harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.

    “Saya mengapresiasi langkah petugas Imigrasi Ngurah Rai yang memberikan pelayanan ramah HAM kepada pemohon tuli. Ini menjadi contoh bahwa pelayanan publik harus hadir secara setara bagi semua warga,” ujarnya.

    Apresiasi itu muncul setelah pelayanan pembuatan paspor bagi pemohon tuli di Imigrasi Ngurah Rai ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam video yang beredar, petugas imigrasi terlihat menggunakan bahasa isyarat untuk memudahkan komunikasi selama proses pelayanan berlangsung.

    Sibarani menyebut kemampuan petugas dalam menggunakan bahasa isyarat menjadi bentuk nyata pelayanan publik yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

    Dia juga menilai perhatian kepada kelompok prioritas seperti penyandang disabilitas, lanjut usia, dan ibu hamil menunjukkan adanya peningkatan kualitas layanan publik yang semakin inklusif.

    “Pelayanan seperti ini menunjukkan wajah birokrasi yang humanis dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” katanya.

    Selain mengapresiasi kinerja Imigrasi Ngurah Rai, Sibarani mendorong agar pola pelayanan inklusif tersebut dapat diterapkan secara luas di seluruh unit pelayanan keimigrasian di Indonesia.

    Menurutnya, standar pelayanan publik berbasis kemudahan akses dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan perlu menjadi budaya kerja di setiap instansi pemerintah.

    Kunjungan kerja Komisi XIII DPR RI tersebut juga dilakukan untuk memantau pelaksanaan pelayanan dan pengawasan keimigrasian di salah satu gerbang utama wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia.*S|M – Sumber: Tim Sibarani. 

    Paus Leo XIV Ajak Umat Doakan Perdamaian Lebanon dan Timur Tengah

    Catholicos Aram I bergabung dengan Paus Leo di atas panggung pada Audiensi (@Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com | Paus Leo XIV kembali menyerukan doa bagi perdamaian di Lebanon dan kawasan Timur Tengah yang masih dilanda konflik dan kekerasan.

    Seruan tersebut disampaikan Paus saat menyapa Aram I dalam Audiensi Umum mingguan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Rabu (21/5).

    Catholicos Aram I hadir bersama delegasinya dan mendampingi Paus Leo XIV di atas panggung audiensi.

    Kehadiran pemimpin Gereja Apostolik Armenia itu berlangsung dua hari setelah keduanya mengadakan pertemuan dan doa bersama di Istana Apostolik Vatikan pada Senin (18/5).

    Dalam sambutannya di awal Audiensi Umum, Paus Leo XIV menyampaikan sukacita atas kunjungan persaudaraan tersebut.

    Paus menilai pertemuan itu menjadi kesempatan penting untuk mempererat hubungan antara Gereja Katolik dan Gereja Apostolik Armenia.

    “Ini merupakan kesempatan penting untuk memperkuat ikatan persatuan yang sudah ada di antara kita, seiring kita semakin mendekati persekutuan penuh antara Gereja-gereja kita,” ujar Paus.

    Paus Leo XIV berjabat tangan dengan Catholicos Armenia Aram I saat tiba di Audiensi Umum hari Rabu (@Vatican Media)

    Paus juga mendoakan agar Roh Kudus memberkati ziarah Catholicos Aram I ke makam Santo Petrus dan Santo Paulus di Roma. Ia mengajak seluruh umat yang hadir untuk mendoakan agar pertemuan tersebut menjadi langkah baru menuju persatuan penuh antar Gereja.

    Dalam kesempatan yang sama, Paus Leo XIV secara khusus mengajak umat untuk mendoakan perdamaian di Lebanon dan seluruh kawasan Timur Tengah.

    “Marilah kita berdoa bagi perdamaian di Lebanon dan Timur Tengah, yang sekali lagi terkoyak oleh kekerasan dan perang,” katanya.

    Keuskupan Agung Kilikia yang dipimpin Catholicos Aram I meliputi wilayah Lebanon, Suriah, Siprus, Kuwait, Uni Emirat Arab, kawasan Teluk, Iran, Yunani, hingga Amerika. Sejak tahun 1930, pusat Keuskupan Agung Kilikia berada di Antelias, Lebanon.

    Pada pertemuan sebelumnya di Vatikan, Paus Leo XIV juga menegaskan doa dan kepeduliannya setiap hari bagi rakyat Lebanon serta Gereja-gereja di Timur Tengah yang menghadapi berbagai tantangan akibat konflik berkepanjangan.

    Selain itu, Paus menyampaikan apresiasi atas komitmen Catholicos Aram I dalam membangun dialog ekumenis, khususnya melalui dialog teologis antara Gereja Katolik dan Gereja-gereja Ortodoks Oriental.

    Menutup sambutannya, Paus Leo XIV mengajak umat memohon perantaraan para santo Gereja Armenia serta Bunda Maria agar perjalanan menuju persatuan Gereja semakin diteguhkan.

    “Bersama-sama marilah kita memohon perantaraan Santo Gregorius Sang Penerang, Santo Gregorius dari Nareg, Santo Nerses yang Mulia dan, di atas segalanya, Bunda Maria, agar mereka menerangi jalan kita menuju kesempurnaan persatuan yang kita semua dambakan,” tutupnya.*Samuel | Sumber: Vatikan News. 

    TERBARU

    TERPOPULER