Saturday, February 14, 2026
More

    Olahraga Mengolah Berpikir Cerdas

    Duta, Pontianak | Belajar adalah sesuatu yang terus-menerus dilakukan seseorang untuk mempertahankan kemampuan berpikirnya. Menggali diri secara konsisten akan mengumpulkan informasi, baik melalui komunikasi langsung, membaca buku, maupun mendengarkan. Melalui konsep ini, seseorang harus mampu membuka diri untuk terus mencari ilmu atau dengan rasa ingin tahu yang mendalam hingga menemukan jawabannya.

    Kenyataannya, di era digital saat ini, banyak orang dimanjakan dengan pilihan komunikasi tatap muka. Kita mungkin semua familier dengan penggunaan Zoom, di mana sesuatu yang jauh terasa lebih dekat. Kemajuan teknologi tak lagi membuat hal yang mustahil menjadi tidak mungkin. Perkembangan aplikasi canggih tak terbantahkan. Orang kini lebih jarang bergerak karena segalanya berada dalam genggaman mereka, sehingga menimbulkan obesitas.

    Seseorang mahasiswa lebih senang menggunakan bantuan aplikasi chatgp atau yang lainnya dalam membantu membuat tulisan. Hanya mengetikan judul setelah itu akan mengikuti perintah dari pertanyaan. Sangat sulit membedakan tulisan asli dan tulisan buatan AI bagi reviewer atau dosen pembimbing.

    Segala kemudahan sangat gampang untuk diakses cukup berdiam diri dikursi santai pada penggunaannya dan akhirnya seseorang akan merasa manja untuk tidak bergerak, bahkan membeli makan cukup arahkan jari-jari dan tekan tombol untuk proses menunggu pengantaran tempat tujuan. Belum lagi kemajuan teknologi yang lainya.

    Baik di zaman dahulu maupun saat ini, manusia selalu menggenggam sesuatu. Perbedaan yang mencolok adalah di masa lalu, manusia menggenggam batu atau kayu untuk bertahan hidup dengan berburu dan meramu. Kini, banyak orang menggenggam smartphone, masing-masing dengan fitur dan harga yang dimiliki, berdasarkan kecanggihannya. Hal ini merupakan perbandingan kemajuan teknologi yang semakin meningkat.

    Bagi seorang dewasa, penggunaan smartphone mungkin membantu dalam hubungan pekerjaan, dan bahkan aktivitas lainnya. Namun, penggunaannya pada kalangan balita dan anak sekolah dapat berdampak negatif pada perkembangan kognitif dan pembelajaran mereka karena jarang kita melihat kedua orang tua yang aktif menemani dan mengarahkan pada saat penggunaan. Smartphone digunakan pada kalangan balita hanya sebagai hiburan menenangkan balita agar tidak menangis, dan rewel.  Semakin lama penggunaannya hingga berdampak negatif yang terjadi anak pastinya merasa enggan bersosialisasi dan bahkan mengalami delusi.

    Anak lebih beremosi tinggi, mudah marah karena efek merasa nyamanan pada pengunaan smartphone. Solusi bagaimana harus diberikan sehingga tidak menjadi kecanduan. Untuk menghilangkan pengaruh negatif terhadap kecanduan semestinya anak diperkenalkan aktivitas yang baru, walaupun tidak semudah harapan ini terjadi, namun secara konsisten mungkin dapat mengurangi.

    Aktivitas fisik melalui gerakan dapat digunakan seperti mengatasi kecanduan balita pada smartphone, misalnya dengan membeli bola kecil model dan karakter warna berbeda-beda, dimana mereka dapat diajari cara melempar dan menendang, terfokus pada perkembangan motorik kasar. Masih banyak permainan olahraga yang dapat meningkatkan pemikiran anak untuk melatih kecerdasan berfikir lainnya.

    Aktivitas gerak olahrga membantu mengembangkan pertumbuhan saraf, otot, dan kemampuan kognitif mereka. Saat melempar, anak akan berpikir secara cerdas tentang cara bagaimanan lemparan bola atau pun menendang menjadi lebih kuat, meskipun mereka belum bisa mengukur kemampuan diri sendiri tanpa bimbingan orang tua.

    Anak-anak usia sekolah mungkin juga dapat dibantu dengan menyalurkan bakat mereka melalui olahraga. Banyak sekolah sekarang ini menawarkan kegiatan ekstrakurikuler berbagai cabang olahraga, tetapi terkadang banyak anak yang tidak berpartisipasi mengikuti kegiatan, mungkin karena mereka kurang tertarik, beralasan fasilitas kurang memadai, sarana prasaran sangat minim, dan tenaga pengajar yang terbatas.

    Berdasarkan pengamatan dan keluhan sebagian besar guru mata pelajaran, anak lebih tertarik pada pelajaran pendidikan jasmani. Pertanyaan singkat tentang mengapa pendidikan jasmani menjadi pilihan hal ini patut dipertanyakan.

    Setiap orang, baik anak maupun dewasa, mendambakan bermain. Melalui bermain, mereka merasakan kepuasan mengeksplorasi diri, melepaskan ketegangan dan kelelahan akibat beban kerja sehari-hari, atau beban lainnya. Konsep bermain dalam pendidikan jasmani atau kegiatan olahraga dapat berdampak psikologis. Selain itu juga mungkin lebih penting lagi, olahraga dapat memengaruhi kemampuan anak untuk berpikir cerdas.

    Olahraga bukan hanya tentang membangun tubuh yang sehat secara fisik dan mental, tetapi juga tentang bagaimana konsep latihan dapat meningkatkan kecerdasan. Jelas betapa pentingnya olahraga dalam menghadapi pertandingan dan kompetisi, sehingga memikirkan cara mengalahkan lawan membutuhkan pemikiran yang cerdas dan strategi yang kuat.

    Nilai-nilai kecerdasan diperoleh secara otomatis oleh seseorang melalui pengembangan diri kegiatan olahraga. Bagaimana pemikiran yang cerdas dapat membawa kemenangan. Dengan tingkat pengamatan yang tinggi dalam pertandingan bela diri, petarung secepat kilat dapat menemukan peluang bagaimana satu pukulan dapat melumpuhkan lawan.Sangat dibutuhkan nilai-nilai kecerdasan dalam olahraga, karena dapat mengatasi kualitas dari segi permaianan. Taktik, teknik, dan kemampuan merupakan bagian dari berpikir cerdas untuk suatu kemenangan.

    Penggunaan teknologi setidaknya sangat membatu segala sesuatu kegitan, namun harus berpikir lebih bijak dalam pemberian smartphone terhadap balita dan anak sekolah, cukup dengan cara mengontro dan mengawasi serta memberikan edukasi dari suatu pengertian. Aktivitas olahraga hanya merupakan solusi bagaimana anak dapat diarahkan untuk berpikir cerdas di dalam olahraga.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles