Wednesday, January 21, 2026
More

    Keacuhan dan Ketidakpedulian Menciptakan Bias Kepemimpinan

    Duta, Pontianak | “Sesuatu dasar yang salah di negara ini” …… Akhir-akhir ini kita sering disuguhkan dengan berbagai macam pemberitaan di media massa atau media online terkait bagaimana kinerja pemerintah dan para pejabat yang sangat kontras dengan apa yang diharapkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, pemberitaan bernada miring dan berkonotasi negatif muncul di headline berita ataupun postingan postingan dari masyarakat Indonesia d imedia sosial terkait kebijakan kebijakan yang absurd.

    Kemudian masalah-masalah sosial di Indonesia misalnya kenaikan pajak dibeberapa sektor, korupsi, diringankannya hukuman bagi pelaku korupsi di Indonesia, arogansi pejabat, kenaikan tunjangan dan gaji DPR RI yang tidak melihat kondisi ekonomi negara, ketimpangan sosial di masyarakat antara pejabat hingga kasus bagaimana seorang anak kecil berumur 4 tahun yang meninggal karena cacing yang menggrogoti tubuhnya karena ketidaklayakan tempat tinggal dan kemiskinan. Hal ini jelas bukan situasi yang sederhana yang harus dibiarkan. Ini menjadi indikasi bahwa ada sesuatu yang dasar yang salah di negara ini.

    Apa yang mendasari situasi Indonesia setelah kemerdekaan ke-80 yang baru saja diperingati di tanggal 17 Agustus bulan ini seakan tidak memberikan perubahan yang semakin baik dari tahun ke tahun dari sisi aspek sosial dan aspek lainnya.  Masyarakat tetap merasa dimiskinkan oleh negara. Negara dan pejabatnya masih dianggap sebagai “musuh dalam selimut”.

    Presiden dan para pemimpin silih berganti tetapi perubahan tiap tahunnya tidak membawa kepuasan di rakyat Indonesia itu sendiri. Apa sedang terjadi? Apakah Indonesia akan seperti ini seterusnya. Terdengar ‘klise’ tetapi pemimpin adalah wakil rakyat yang harus-nya menjadi penyambung lidah rakyat. Seperti judul buku semi-otobiografinya presiden pertama Indonesia, Sukarno yaitu penyambung lidah rakyat Indonesia.

    Pejabat negara ini dari level bawah sampai atas harusnya berkiblat dengan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, mengedepankan kepentingan rakyat diatas segala-galanya. Tapi apakah benar seperti itu? Tidak! Kita bisa mengatakan bahwa hampir pejabat di negara ini tidak melakukan amanah tersebut! Yang muncul berikutnya yakni pertanyaan tentang, mengapa?

    Segera Daftarkan diri Anda.

    Bongkahan Gunung Es dari keacuhan dan ketidakpedulian

    Secara garis besar salah satu faktornya adalah karena ketidakpedulian rakyat Indonesia terhadap negara ini. Kok bisa? Tidak, ini adalah salah pejabat karena tidak bisa memimpin. Benar..itu benar sekali..tetapi kenapa para penjabat bisa menjabat?

    Ya karena andil kita sebagai rakyat Indonesia. Pernyataan ini terlalu tajam, tapi ini adalah kenyataannya. Ada statement yang muncul dimasyarakat bahwa sangat sulit memilih pemimpin yang baik saat ini. Hampir semua pemimpin sama saja. Ini merupakan pernyataan yang umum yang mungkin hampir terdengar jika pertanyaan berkaitan dengan karakter calon pemimpin saat ini di Indonesia. Lalu bagaimana?

    Apakah kita harus membiarkan saja..tentu jika melihat fenomena saat ini, sebagai manusia yang memiliki hati dan harapan, ada pengolakan bahwa ini tidak bisa didiamkan. Bagaimana memulainya untuk mengubah ini semua?  Bagaimana kita sebagai rakyat Indonesia memilih pemimpin untuk negara ini?

    Pernah ada dimasa kehidupan seorang filsuf dunia yaitu Sokrates. Sokrates pernah mengkritik Demokrasi di Yunani, Sokrates merasa bahwa banyak pemimpin yang memimpin saat itu tidak memiliki kapasitas sebagai pemimpin sehingga banyak kebijakan yang tidak sesuai untuk rakyat. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap siapa yang mereka pilih. Sangat relevan dengan situasi di Indonesia.

    Ini bisa terjadi karena beberapa hal yaitu Pendidikan dan pemahaman politik yang kurang baik dan rasa acuh tak acuh terhadap siapa yang akan memimpin karena pemikiran skepstis akan figure pemimpin serta munculnya kecendrungan dari kita bahwa orang orang yang memiliki kapasitas memilih untuk enggan untuk ikut terlibat dalam memimpin sehingga para pemimpin pemimpin negara ini baik di eksekutif maupun legislatif banyak diisi oleh orang orang yang kurang kompeten dan tidak baik,  alhasil negara ini tidak mengarah para perubahan yang diharapkan.

    Keacuhan ini memang muncul tidak secara instan tetapi bertahap dari tahun ke tahun hingga menjadi bongkahan gunung es yang terlihat biasa tetapi berbahaya sebenarnya untuk masa depan bangsa ini.

    Mulai berubah dari hal yang dasar

    Kapan memulai untuk perubahaan dasar berpikir kita dalam memilih pemimpin atau mulai ingin terlibat dalam kepemimpinan? Mau tidak mau, suka tidak suka dimulai dari diri dan lingkungan saat ini. Hal sederhana yang bisa dilakukan misalnya berorganisasi di lingkungan, mulai memilih pemimpin yang baik dan amanah berdasarkan kemampuan dan kapasitas. Untuk para mahasiswa dan anak muda bisa mulai memiliki kesadaran dan penilaian objektif dalam menentukan pemimpin di organisasi mahasiswa atau kepanitian di lingkungan sekitar.

    Hal-hal ini merupakan bentuk dari usaha kita menciptakan budaya tersebut. Dari sini akan berdampak positif dengan cara kita menilai pemimpin di negara ini sehingga pemimpin pemimpin negara ini bisa membawa sesuatu yang baik untuk negara ini.

    Selain itu juga, perlunya dari kita untuk ikut mulai aktif dan mau memimpin ketika kita memiliki kapasitas tersebut. Kita harus melihat permasalahan ini bagian dari tanggungjawab bersama, bukan lagi tentang mencari jabatan atau ketenaran tapi lebih pada tanggungjawab untuk menjadikan bangsa ini maju dan adil.

    San Agustin Prodi Keuangan dan Perbankan

    Harapan dan refleksi sejenak untuk negara ini

    Apa yang bisa kita lakukan dan kita sumbang untuk negara ini semata mata adalah  memastikan bahwa pemimpin-pemimpin di negara ini memiliki sikap kenegaraan yang memang bertujuan membangun negara ini dengan adil.

    Seperti mengutip pemikiran John Ralws tentang veil of ignorance atau “selubung ketidaktahuan” dimana pemimpin harusnya menentukan kebijakan dengan adil tanpa melihat secara kelompok atau personal atau kepentingan sehingga permasalahan permasalahan yang dari dulu hingga hari ini lambat laun bisa diatasi.

    Tidak ada lagi ketimpangan sosial dan kemiskinan serta kesejahteraan di negara yang sudah merdeka 80 tahun yang lalu ini dapat lebih baik. Jangan sampai bias kepimpinan terus mengakar di tengah tengah harapan kita menjadi negara maju ditahun 2045.

    Ini adalah pilihan kita sebagai rakyat Indonesia. Seperti beberapa kalimat yang terkesan sering kali didengar saat akan pemilu bahwa “suaramu menentukan nasib negaramu atau daerahmu” atau “suaramu menentukan masa depan” kalimat ini bukan omong kosong tetapi instruksi menuju perubahan yang lebih baik yang harus kita akui tidak pernah kita hayati dengan sungguh-sungguh.

    Apakah kita menginginkan atau mau negara ini dikuasai oleh pemimpin pemimpin dengan karakter yang buruk seperti pemimpin yang demagog, manipulatif atau atau bahkan populis? Semua bergantung dari pilihan dan kesadaran kita.

    *Theodorus Yanzens, S.S., M.M. adalah Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, di Kampus II Pontianak – Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles