Tuesday, May 19, 2026
More
    Home Blog Page 154

    Paus pulih secara normal; Minggu ‘Angelus’ dari rumah sakit

    Rome's Gemelli Hospital where Pope Francis underwent surgery on July 4, 2021. (AFP or licensors)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Vatikan- Setelah operasi 4 Juli di Rumah Sakit Gemelli Roma, Paus Fransiskus pada hari Kamis kembali bekerja dan merayakan Misa bersama mereka yang membantunya.

    Dirilis dari Staf reporter Berita Vatikan dikatakan bahwa Paus Fransiskus “menghabiskan hari yang tenang”, Kamis, dengan “kemajuan klinis yang normal”. “Dia terus makan secara teratur dan melanjutkan perawatan yang dijadwalkan,” Matteo Bruni, direktur Kantor Pers Takhta Suci, mengatakan dalam sebuah pernyataan singkat pada hari Jumat.

    Baca juga: Paus ungkapkan Perawatan kesehatan adalah misi yang menyatukan sains dan kepenuhan umat manusia

    Bapa Suci pulih secara normal setelah operasi yang dijadwalkan untuk “stenosis divertikular usus besar” pada hari Minggu di Rumah Sakit Gemelli Roma.

    Dalam pembaruannya tentang pemulihan Paus, Bruni mengatakan dia “berjalan di koridor dan melanjutkan pekerjaannya, bergantian dengan saat-saat membaca teks”. Kamis sore, “ia merayakan Misa Kudus di kapel apartemen pribadinya” di rumah sakit, “dihadiri oleh semua orang yang membantunya selama dirawat di rumah sakit”.

    Membaca doa Angelus

    Setelah sedikit peningkatan suhu pada malam sebelumnya, Bapa Suci tidak mengalami demam lagi.

    Bruni mengatakan bahwa pada hari Minggu, Paus akan membacakan doa Angelus dari lantai 10 rumah sakit. “Bapa Suci berterima kasih atas banyak pesan kasih sayang dan kedekatan yang dia terima setiap hari dan meminta agar kita terus berdoa untuknya,” tambahnya.

    Setelah operasi, Minggu malam, Bruni mengatakan Paus “diharapkan tetap berada di rumah sakit selama kurang lebih tujuh hari, kecuali ada komplikasi”. Stenosis divertikular usus besar adalah penyempitan (stenosis) usus karena “divertikula”, atau kantong atau kantung, yang terbentuk di dinding usus besar yang mempersempit salurannya. Selama operasi yang berlangsung sekitar 3 jam, Paus menjalani “hemikolektomi kiri”, yaitu pengangkatan usus besar yang turun.

    Bagaimana Seorang Imam Menyelamatkan Kota Prancis dari Pengeboman di Perang Dunia II

    Sumber: https://aleteia.org/2021/07/03/how-a-priest-saved-a-french-town-from-bombing-in-world-war-ii/ - Komisi Komunikasi sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Ketika kotanya akan dibom, Fr. Aubourg mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya. Pada tanggal 6 Juni 1944, D-Day yang terkenal, serangan pasukan Sekutu di pantai Normandia, adalah awal dari salah satu operasi militer paling tangguh dalam sejarah. Keberhasilan operasi ini, yang diberi nama Overlord, bergantung pada hasil perang melawan Hitler dan Third Reich.

    Tetapi pertempuran yang terjadi di pedesaan Normandia dan kota-kota di wilayah itu membawa kehancuran. Rouen, Caen, Lisieux, Le Havre. Banyak kota di Normandia yang lebih dari 50% hancur dan ribuan warga sipil kehilangan nyawa mereka.

    Baca Juga: Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia Terima 18 Postulan, 15 Novis, 3 Suster Kaul Perdana

    Mengejutkan karena kelihatannya mengingat lokasi geografisnya—hanya beberapa mil dari pantai D-Day—Bayeux adalah salah satu dari sedikit kota yang selamat. “Keajaiban” ini disebabkan oleh seorang imam Benediktin, Fr. Aubourg (1887-1967).

    Keajaiban

    Dia pernah menjadi biarawan di Biara Solesmes (terkenal di dunia karena nyanyian Gregorian) dan pada saat pendaratan D-Day adalah Frater komunitas Suster Cinta Kasih di Saint-Vigor-le-Grand, sebuah desa berbatasan dengan Bayeux. Di gerbang Bayeux, jembatan Saint Loup dihancurkan, dan Jerman menunggu untuk menyergap. Kemungkinan hasilnya adalah Sekutu akan mengebom kota.

    Namun, pada malam tanggal 6-7 Juni 1944, Fr. Aubourg mendengar suara, seolah-olah Jerman meninggalkan posisi mereka. Keesokan harinya, sangat awal setelah merayakan Misa, Fr. Aubourg bergegas memberi tahu Sekutu tentang perkembangan ini.

    Baca Juga: Kardinal Parolin menandai peringatan kematian 1.300 tahun St. Odile

    Setelah ditugaskan untuk pelayanan di Isle of Wight selama beberapa tahun (setelah meninggalkan Biara Solesmes), Fr. Aubourg berbicara bahasa Inggris dengan sangat baik. Oleh karena itu dia dengan cepat mengumumkan kepada para perwira Inggris bahwa Jerman telah meninggalkan kota.

    Biarawan Benediktin

    Awalnya curiga, mereka memeriksa informasi imam untuk memastikannya. Setelah jelas bahwa dia benar, keputusan dibuat: Bayeux tidak akan dibom.

    Dalam sepucuk surat tertanggal 20 Juni 1959 yang disampaikan oleh Fr. Soltner, arsiparis biara Saint-Pierre de Solesme, dan di mana situs web Prancis Ouest-France melaporkan beberapa tahun yang lalu, Fr. Aubourg mengingat episode ini. “Saya telah disebut sebagai penyelamat Bayeux, tetapi saya tidak dapat mengatakan apakah saya telah menyelamatkan Bayeux,” katanya kepada para imam di Solesmes.

    Baca Juga: Sebuah Konsep Pendidikan Berkarakter Dominikan

    “Saya hanya tahu bahwa pada pagi hari tanggal 7 Juni 1944, selama Pertempuran Normandia, saya mempertaruhkan hidup saya untuk memperingatkan Inggris, yang telah mendarat sehari sebelumnya dan dihentikan lima kilometer (sekitar 3 mil) jauhnya, bahwa mereka dapat memasuki Bayeux, yang ditinggalkan Jerman pada malam hari. Dan nyatanya, tank Sekutu tiba satu jam kemudian. “

    Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia Terima 18 Postulan, 15 Novis, 3 Suster Kaul Perdana

    Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia Terima 18 Postulan, 15 Novis, 3 Suster Kaul Perdana. – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Di tengah situasi mencekam akibat wabah pandemi Covid-19 yang semakin masif, lonjakan panggilan dengan penambahan anggota baru bagi Kongregasi yang baru saja merayakan HUT ke-177 tahun berdirinya (24 Juni 1844-2021) di Veghel-Belanda ini justru meningkat.

    Kabar bungah ini terjadi bertepatan dengan perayaan Pesta St. Thomas Rasul dalam Kalender Liturgi Gereja, pada Sabtu, 3 Juli 2021 yang lalu.

    Prosesi penerimaan 18 Postulan, 15 Novis dan 3 suster novis berkaul perdana ini dibawa dalam perayaan Ekaristi di aula Rumah Retret Wisma Immaculata Pontianak yang dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, didampingi oleh Pastor Ambrosius Pr, Pastor Elenterius SVD dan Pastor Yosef Astono Aji OFMCap.

    Baca Juga: Komunitas PSM STKIP Pamane Talino: “Stand For Humanity”

    Namun perayaan syukur pesta kebiaraan Kongregasi SFIC tahun ini masih berlangsung dalam suasana berbeda- ketat protokol kesehatan.

    Tidak ada undangan yang disebarkan. Misa pun disiarkan secara live streaming melalui kanal youtube; SFIC INDONESIA.

    Perayaan Syukur

    Langkah ini merupakan alternatif terbaik sehingga para suster SFIC yang berada di luar kota Pontianak, bahkan di luar negeri bisa mengikuti misa dan acara kebiaraan ini melalui nirkabel (online).

    Berikut nama-nama 18 aspiran yang diterima masuk sebagai postulan SFIC:

    • Monika Anni asal paroki Malaikat Agung St. Mikael Simpang Dua, Keuskupan Ketapang
    • Prisila Pebi Melenia asal paroki St. Yohanes Pemandi Pahauman, Keuskupan Agung Pontianak
    • Meliyanti Sari asal paroki St. Mikael Monterado, Keuskupan Agung Pontianak
    • Marsiana Anjeli asal paroki St. Alfonsus Maria De Liguori Bonti, Keuskupan Sanggau
    • Afra Diktari / Lara asal paroki St. Fidelis Sungai Ambawang, Keuskupan Agung Pontianak
    • Teodora / Ecin asal paroki St. Yusuf Mempawah Hulu Karangan, Keuskupan Agung Pontianak
    • Benadikta Angela / Lina asal paroki Salib Suci Ngabang, Keuskupan Agung Pontianak
    • Krisna Teresia Tampubolon asal paroki St. Petrus dan Paulus Keuskupan Agung Medan
    • Anastasia Tasia asal paroki Gembala Yang Baik Kuala Dua / Kembayan, Keuskupan Sanggau
    • Maria Aliana asal paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Lintang Kapuas, Keuskupan Sanggau
    • Rosalia Agata asal paroki St. Agustinus dan Mattias Darit, Keuskupan Agung Pontianak
    • Zaneta Nicola Inez asal paroki Santo Petrus dan Paulus Menjalin, Keuskupan Agung Pontianak
    • Putri Tarigas asal paroki St. Paulus dari Salib Mandor, Keuskupan Agung Pontianak
    • Yanti Sinarti Dina asal paroki St. Nikolaus dan Roh Kudus-Pacar, Keuskupan Ruteng
    • Anastasia Lisa asal paroki St. Fransiskus Asisi Pakumbang, Keuskupan Agung Pontianak
    • Hertina Yesi asal paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Bonti, Keuskupan Sanggau
    • Brigita Yolanda asal paroki St. Christophorus Sui Pinyuh, Keuskupan Agung Pontianak
    • Natalia Lilit asal paroki St. Petrus dan Paulus Menjalin, Keuskupan Agung Pontianak

    Baca Juga: Pengen Kuliah Kampus Terbaik, Kami Solusinya

    Pada saat yang sama juga berlangsung pula upacara penerimaan 15 novis, dan tiga Suster berkaul perdana.

    Berikut 15 postulan yang diterima sebgai novis adalah:

    • Anastasia Trisnawati dengan nama biara Sr. Giovani Trisnawati
    • Yulita Rosdiati dengan nama biara Sr. Aurelia Rosdiati
    • Maria Francisca Dwi Hartiningtyas dengan nama biara Sr. Louis Marie
    • Anastasia Anjeli dengan nama biara Sr. Ignatia Anjeli
    • Yulita Pa’ong dengan nama biara Sr. Yosephio Pa’ong
    • Florentina Ola Griana dengan nama biara Sr. Florentina Ola
    • Cinda Farida dengan nama biara Sr. Claudia Cinda
    • Paula Adevita Dede dengan nama biara Sr. Paula Adevita
    • Tarsisia Ranata Tiara dengan nama biara Sr. Tarsisia Ranata Tiara
    • Elisabet Elita dengan nama biara Sr. Regina Elita
    • Emilia Maya Anggela dengan nama biara Sr. Elfrida Anggela
    • Resi Agricolatera dengan nama biara Sr. Agricola Resi
    • Aprianti Sari Apra dengan nama biara Sr. Zitalia Sari
    • Nerdawati dengan nama biara Sr. Hildegardis Nerdawati
    • Te’ek dengan nama biara Sr. Rafaella Te’ek

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus: Kongregasi Suster SFIC Panen Calon Suster

    Tiga suster novis mengikrarkan kaul pertama dan tugas perutusan sebagai berikut:

    • Geselle Indrisari di tempatkan di komunitas St. Anna Pahauman untuk tugas di keuangan Sekolah
    • Giacinta Marsedes di tempatkan di komunitas St. Wilibrordus Pontianak untuk tugas membantu di dapur komunitas
    • Gemma Batu Salu di tempatkan di komunitas St. Fransiskus Asisi Singkawang untuk tugas   membantu di Panti Lepra Alverno

    Dalam sambutan Suster Provinsial SFIC Indonesia, Sr. Yulita Imelda mengatakan sungguh bersyukur kepada Tuhan yang masih menghendaki kelangsungan karya kongregasi SFIC dengan menambah jumlah anggota baru dan terus   mengirim orang – orang yang oleh karena rahmat Allah tergerak hati untuk mengabdikan diri dan mempersembahkan seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan.

    “Semoga Tuhan meneguhkan apa yang telah Dia mulai dalam diri para calon dan suster muda kita, sebagai penerus masa depan kongregasi.”

    Baca Juga: Uskup Menjelaskan Tujuan Dokumen Ekaristi

    Berkat doa dan dukungan kita, mereka dimampukan untuk tetap setia pada cita – cita mulia dan mampu terbuka pada bimbingan Roh Kudus dalam pembinaan diri agar dapat semakin mencintai panggilan hidup membiara sebagai SFIC,”ungkap suster yang pernah diutus oleh Dewan Pimpinan General untuk belajar mendalami Spiritualitas Fransiskan di FISC (Franciscan International Study Centre ) di Canterbury, UK ( United Kingdom – London),

    Sedangkan Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus dalam homilinya menegaskan bahwa setiap keputusan panggilan itu mengandung kepercayaan iman.

    Mengutip dari Injil Yohanes (20:24-29) mengisahkan keraguan dan ketidakpercayaan St. Tomas.

    kepercayaan iman

    Uskup yang baru merayakan tahbisan episkopal ke-21 pada 6 Februari 2021 yang lalu ini mengatakan bahwa karakter St. Tomas juga ada dalam setiap pribadi manusia.

    Baca Juga: Kardinal Parolin menandai peringatan kematian 1.300 tahun St. Odile

    “Para aspiran yang akan memasuki masa postulan, novis dan juga yang akan berkaul ini pasti merasa ragu ketika memutuskan. Namun belajar dari pribadi St. Tomas yang pada awalnya juga ragu, namun akhirnya menjadi rasul yang unggul dalam iman kepercayaan,”ungkap Monsinyur.

    Mgr. Agus juga menegaskan bahwa dipanggil berarti menjadi orang spesial/istimewa. Namun menjadi istimewa membutuhkan pengorbanan yang disertai iman kepercayaan kepada Tuhan.

    “Kepercayaan itu bagi saya bahwa jika Tuhan mau pasti jadi, jika langkah ini benar Tuhan pasti membantu. Yakinlah bahwa kamu adalah orang istimewa dan jadilah diri sendiri,”ungkap Monsinyur menutup homilinya.  Proficiat untuk para suster SFIC.

    Komunitas PSM STKIP Pamane Talino: “Stand For Humanity”

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta,Com, Landak- Kamis malam 1 Juli 2021, bertempat di auditorium Perpustakaan STKIP Pamane Talino.

    Kegiatan yang bertemakan Stand For Humanity yaitu berdiri tegak untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Komunitas Paduan Suara Mahasiswa (PSM) PATA, yang dihadiri Rufinus Albert ketua STKIP Pamane Talino, Marselus Suarta Kasmiran WK III bidang kemahasiswaan, Dosen serta Staff dan Mahasiswa yang ikut serta memeriahkan.

    Adapun kegiatan yang dilaksanakan penampilan tarian adat dayak, stand up comedy, puisi, nyanyian dan penampilan puisi dari Rufinus Albert Ketua STKIP Pamane Talino sebagai penutup dipenghujung kegiatan.

    Menyuarakan keprihatinan

    Kegiatan berlangsung dengan lancar dengan menerapkan protokol kesehatan, untuk mengindahkan keselamatan kesehatan supaya selalu tetap terjaga.

    “Kita (segenap komunitas PSM) hendak berdiri dan menyuarakan keprihatinan kita terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang semakin memudar, media kita menyalurkan itu semua adalah dengan dan melalui kegiatan ini. Singkatnya, kami mau menjadi saksi yang berdiri tegak untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya Iko Logam pembina komunitas PSM STKIP Pamane Talino.

    Baca juga: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pontianak Periode 2021-2022

    Dengan adanya kegiatan itu mereka berharap agar manusia semakin menyadari bahwa nilai kemanusiaan yang hilang, akan meruntukan manusia itu sendiri, maka kesadaran untuk saling menegakkan nilai kemanusiaan itu harus muncul. Hal ini menyangkut soal masa depan komunitas dapat diterima sebagai bagian dari UKM STKIP Pamane Talino.

    Melihat situasi dunia

    Komunitas konsisten untuk selalu menyelenggarakan acara-acara yang seperti ini sebagai media penyaluran bakat dan minat mahasiswa.

    “Kami mengangkat tema ini karena melihat situasi didunia yang pada saat ini butuh semangat untuk terus maju dari keterpurukan karena keadaan. Tujuan kegiatan ini bermaksud agar kedepannya kami bisa diterima sebagai UKM PSM di STKIP Pamane Talino. Sekarang usaha pertama kami adalah kegiatan ini kami tunjukkan exsistensi kami disini/kehadiran kami sebagai Komunitas dapat mengembangkan bakat dan minat mahasiswa khususnya,” kata Yulita Oktavia selaku ketua komunitas.

    Baca juga: Pengen Kuliah Kampus Terbaik, Kami Solusinya

    Tujuannya dari penyelenggaraan kegiatan ini pertama-tama adalah sebagai media penyuaraan (segenap Komunitas PSM) terhadap persoalan masa kini, bertitik tolak dari tema penyelenggaraan yakni “Stand For Humanity“.

    Tema ini di angkat dan dituangkan dalam bentuk yg berbeda. Yakni melalui kreativitas seni yang dimiliki oleh para Mahasiswa khususnya. Poin pertama yang ingin di raih tentunya adalah mau menyampaikan bentuk keprihatinan kita terhadap persoalan sosial-humanis yang tampak sudah sampai di ambang batas ketidakwajaran.

    Pengen Kuliah Kampus Terbaik, Kami Solusinya

    -Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta, Pontianak- Buat adik adik SMA, SMK, sederajat

    Yang ingin jadi Guru, Perawat, Bidan Yuk merapat ikuti Expo ini:

    Banyak  informasi menarik dalam kegiatan tersebut diantaranya sekma tentang kuliah dengan biaya murah.

    Pihak yayasan juga akan menjelaskan kuliah dengan peluang kerja tinggi.

    Selaras dengan itu, Keuskupan Agung Pontianak sudah mengelola penuh dengan standar professional kampus. Untuk itu bagi mereka yang ingin kuliah di kampus terbaik bisa lansung menghubungi kontak yang tertera di poster.

    Mgr Agustinus Agus: Kongregasi Suster SFIC Panen Calon Suster

    Sumber: Majalah DUTA- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus dalam kesempatan homilinya di Aula Immaculata mengucapkan selamat kepada Kongregasi Suster “Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Suster-Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah” alias Suster SFIC.

    Mgr Agustinus Agus merayakan misa penerimaan 18 aspiran Suster SFIC masuk Postulan, 15 Postulan  menerima jubah kebiaraan dan 3 Suster SFIC menerima kaul pertama. Misa syukur dilaksanakan pada Sabtu, 3 Juli 2021 di Jl. A.R. Hakim 104, Pontianak aula Immaculata.

    Baca juga: Kardinal Parolin menandai peringatan kematian 1.300 tahun St. Odile

    “Sekarang masa pandemi covid-19, dimana banyak kegaduhan dan kesulitan, namun Kongregasi Suster SFIC justru menuai,” kata Mgr Agus.

    “Dalam hidup, semua orang mengalami keraguan sama halnya dengan calon suster tentu akan mengalami rasa ragu-ragu,” lanjut Mgr Agus. “Begitu anda mencari kesempurnaan, maka anda sudah salah melangkah. Bagi saya iman dalam hidup adalah esensi yang sangat penting dan tiap hari kita membutuhkannya.”

    Sehubung dengan bacaan injil hari itu, Mgr Agustinus Agus mengutib tentang perkataan Yesus kepadanya Tomas yang berbunyi: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (TB Yoh 20:29).

    Setiap langkah harus didasarkan iman

    Homilinya, Mgr Agus mengisahkan pengalamannya saat vaksin pertama kali didengungkan, sebagai Pemimpin Umat Katolik di Pontianak, Kalimantan Barat, Mgr Agus dengan usia 71 tahun, memberikan contoh dan ikut mengkampanyekan dukungan Katolik kepada Pemerintah.

    Baca juga: Uskup Menjelaskan Tujuan Dokumen Ekaristi

    “Banyak yang takut kala itu, namun justru saat itulah kesempatan bahwa gereja juga harus mengambil peran dalam penyadaran pentingnya vaksin kepada masyarakat,” tambah Mgr Agus. “Salah satu peristiwa ini saya mau menyampaikan bahwa langkah yang kita ambil setiap hari, harus mengandung unsur kepercayaan dan itulah iman.”

    Harapan baru Kongregasi Suster SFIC

    Provinsial Kongregasi Suster SFIC, Sr. Yulita Imelda SFIC bersyukur dengan kehadiran postulan, novis dan tiga suster yang mengucapkan kaul sementaranya. Suster Yulita, melihat bahwa ini adalah sebuah kesempatan baru dan tantangan baru apalagi ditengah pandemi Covid-19. “Merekalah bibit dan gerenasi penerus Suster SFIC ,” ujarnya.

    Pada kesempatan itu pula, Sr Yulita mengumumkan untuk ke tiga suster yang menerima kaul sementara.

    Baca juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    Sr Yulita menyampaikan kepada tiga suster kaul sementara bahwa, mereka sudah memiliki sayap yang mulai tumbuh. “Dan mesti meninggalkan kenyamanan yang ada di Novisiat dan terbang dengan sayap yang sudah mulai tumbuh,” katanya.

    “Jadi sudah waktunya untuk belajar terbang dan belajar serta mencari pengalaman ditempat yang baru,” imbuhnya kepada tiga suster yang menerima kaul sementara.

    Berkat penutup

    Upacara misa syukur yang dipimpin oleh Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak didampingi oleh RP. Yosep Astono Aji, OFMCap, RP Elenterius, SVD dan RD Ambrosisus, ditutup dengan berkat melalui tangan Uskup Agung Pontianak.

    Kemudian dilanjutkan dengan foto bersama calon suster dan suster SFIC, kemudian santap siang bersama.

    Kardinal Parolin menandai peringatan kematian 1.300 tahun St. Odile

    Sumber: Vatikan-Saint Odile. - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Vatikan- Sekretaris Negara Vatikan berada di Strasbourg, Prancis, untuk memperingati 1.300 tahun kematian biarawati lokal, Santa Odile dan juga 90 tahun Adorasi Ekaristi abadi di Mont Sainte-Odile.

    Berita yang ditulis oleh Robin Gomes di VatikanNews, 05 Juli 2021, 13:18 waktu Vatikan dijelaskan bahwa Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin pada hari Minggu merayakan Misa di Katedral Strasbourg, Prancis timur laut, pada kesempatan peringatan 1.300 tahun kematian Santa Odile, pelindung wilayah Alsace.

    Baca juga: Mgr Agustinus Agus: Kongregasi Suster SFIC Panen Calon Suster

    Pada tanggal 26 Mei, Paus Fransiskus telah menunjuk kardinal sebagai utusan pribadinya untuk perayaan 4 Juli. Keuskupan Agung Strasbourg sedang memperingati Yubileum Agung peringatan kematian 1300 tahun Santo Odile dari 13 Desember 2020 hingga 13 Desember 2021

    Siapakah St Odile?

    Santa Odile, putri Adipati Adalrich dari Alsace, lahir buta sekitar tahun 660. Gadis itu, yang nama depannya berarti “Cahaya Tuhan”, secara ajaib disembuhkan selama pembaptisannya pada usia 15 tahun. Ia kemudian menjadi seorang biarawati dan mendirikan sebuah biara di Kastil Hohenbourg, di sebuah bukit yang kemudian mengambil namanya, Mont Sainte-Odile. Biara adalah tempat wisata dan ziarah yang terkenal di Alsace. St Odile meninggal pada 720, 1300 tahun yang lalu.

    Santa Odile dikanonisasi oleh Paus Leo IX pada abad ke-11, dan dia dinyatakan sebagai santa pelindung Alsace oleh Paus Pius XII pada tahun 1946, setahun setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua yang secara khusus mempengaruhi wilayah ini, yang dianeksasi oleh Nazi Jerman dengan pemerintahan yang sangat kejam. Sejak 13 Desember 2020, Keuskupan Agung Strasbourg telah menyelenggarakan Jubilee Agung untuk 1300 tahun kematian Santa Odile.

    Musim dingin demografis Eropa

    Dalam homilinya pada Misa di Katedral Strasbourg, Kardinal Parolin mengenang sosok St. Odile, yang dihormati di berbagai wilayah Eropa, memuji “teladannya yang bersinar”.

    Strasbourg adalah kursi resmi parlemen Eropa. Kardinal dengan demikian menarik perhatian pada “musim dingin demografis” yang sedang dialami benua Eropa saat ini, yang telah dikecam Paus Fransiskus sebagai keadaan darurat di zaman kita.

    Baca juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    “Eropa membutuhkan harapan jika ingin musim dingin demografis berakhir, yang terutama bukan akibat krisis ekonomi atau sosial, tetapi melemahnya harapan dan makna otentik kehidupan dan keberadaan”, kata kardinal itu. Oleh karena itu, dia membuat seruan sepenuh hati ke Eropa untuk menyambut yang paling lemah dan rentan. Dia mengatakan bahwa Eropa perlu menempatkan yang terpinggirkan, yang miskin dan yang terpinggirkan sebagai pusat perhatiannya. Benua perlu mengelola fenomena migrasi dengan kebijaksanaan dan pandangan ke depan agar integrasi benar-benar efektif. Migrasi sebagai sumber peluang dan persaudaraan, kata Kardinal Parolin, menghilangkan risiko perpisahan dan kesalahpahaman yang menyakitkan, yang merupakan tanda-tanda budaya yang menyangkal bahwa semua manusia adalah saudara dan saudari dalam semangat Fratelli tutti.

    Selama Misa, Kardinal Parolin juga menahbiskan Pastor Gilles Reithinger sebagai uskup. Paus Fransiskus pada 26 Mei mengangkat imam, yang telah menjadi Pemimpin Umum Misi Luar Negeri Paris, sebagai Uskup Pembantu Strasbourg.

    Pada hari Senin, Sekretaris Negara Vatikan dijadwalkan untuk merayakan misa di biara Mont Sainte-Odile untuk kaum muda Keuskupan Agung Strasbourg, pada kesempatan 90 tahun Adorasi Ekaristi abadi di tempat kudus.

    Uskup Menjelaskan Tujuan Dokumen Ekaristi

    Sumber: Aleteia- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Mengajar adalah untuk semua, dan tidak ditujukan kepada individu mana pun, kata konferensi dalam pernyataannya. Berita ini dirilis dari Aleteia yang dipublikasikan pada 4/7/2021.

    Diberitakan bahwa seminggu setelah pertemuan musim semi Konferensi Waligereja Katolik Amerika Serikat, konferensi tersebut telah memposting di situs webnya klarifikasi dari pemungutan suara yang diambil untuk menulis dokumen pengajaran tentang Ekaristi.

    Baca Juga: Lebanon, surga bagi orang Kristen, berada dalam masalah besar

    Menanggapi liputan media yang menggambarkan pemungutan suara sebagai penolakan Komuni kepada Presiden Joe Biden, seorang Katolik, atas dukungannya terhadap aborsi, para uskup mengatakan bahwa dokumen yang akan ditulis adalah untuk semua, dan tidak ditujukan untuk satu orang.

    Dokumen Ekaristi

    “Ada banyak perhatian pada pemungutan suara yang diambil untuk menyusun dokumen tentang Ekaristi,” bunyi pernyataan itu. “Pertanyaan apakah menolak Komuni Kudus individu atau kelompok tidak ada dalam surat suara. Pemungutan suara oleh para uskup minggu lalu menugaskan Komite Doktrin Konferensi Waligereja Katolik AS untuk memulai penyusunan dokumen pengajaran tentang Ekaristi.”

    Baca Juga: Perdana Menteri Trudeau Berbicara Tentang Pembakaran Gereja di Kanada

    Menegaskan kembali ajaran Konsili Vatikan II bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak” kehidupan Kristiani, para uskup menekankan bahwa “pentingnya memelihara pemahaman yang semakin dalam tentang keindahan dan misteri Ekaristi dalam hidup kita bukanlah topik baru. ” untuk mereka.

    “Dokumen yang sedang disusun tidak dimaksudkan untuk bersifat disipliner, juga tidak ditargetkan pada satu individu atau kelas orang,” kata pernyataan itu. “Ini akan mencakup bagian tentang ajaran Gereja tentang tanggung jawab setiap orang Katolik, termasuk uskup, untuk hidup sesuai dengan kebenaran, kebaikan dan keindahan Ekaristi yang kita rayakan.”

    Perdana Menteri Trudeau Berbicara Tentang Pembakaran Gereja di Kanada

    Sumber: Aleteia- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Daftar kebakaran gereja dan tindakan vandalisme terus bertambah. Berita ini dirilis dari Aleteia yang dipublikasikan pada 3 Juli 2021. Diberitakan bahwa Kebakaran mencurigakan terbaru di sebuah gereja di Kanada Barat terjadi pada hari Kamis di Katedral Bersama St. Patrick di Yellowknife, Wilayah Barat Laut. Sejak 21 Juni, sekarang telah terjadi setidaknya delapan kebakaran di gereja-gereja, kebanyakan dari gereja Katolik dan banyak dari kebakaran tersebut telah menghancurkan.

    Selain itu, sejak tanggal tersebut, banyak gereja telah dirusak.

    Baca Juga: Lebanon, surga bagi orang Kristen, berada dalam masalah besar

    Hingga Jumat, hanya satu pejabat senior pemerintah, Perdana Menteri Alberta Jason Kenney, yang angkat bicara tentang insiden tersebut. Namun dalam menjawab pertanyaan wartawan pada konferensi pers Jumat pagi, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau berkomentar, hampir dua minggu sejak kebakaran pertama.

    Trudeau mengatakan dia “memahami kemarahan yang ada di luar sana terhadap pemerintah federal, terhadap institusi seperti Gereja Katolik, mengingat sejarah memalukan yang kita semua menjadi semakin sadar. Tapi saya tidak bisa tidak berpikir bahwa membakar gereja sebenarnya menghilangkan orang-orang yang membutuhkan duka dan penyembuhan dan berkabung” dari tempat-tempat di mana mereka dapat pergi untuk itu.

    Baca Juga: Para Pemimpin Gereja di Filipina Meminta Duterte Untuk Bertanggung Jawab atas Pembunuhan

    Dalam bahasa Prancis, Trudeau menambahkan bahwa membakar gereja adalah “bukan sesuatu yang harus kita lakukan sebagai orang Kanada. Sebaliknya, kita harus saling mendengarkan, kita harus saling memahami dan perasaan kuat yang dimiliki orang-orang, dan kita harus melakukan kerja keras untuk membangun kembali masyarakat kita.”

    Gereja Katolik

    Trudeau juga mengatakan bahwa pemerintah federal telah menempatkan “sistem infrastruktur keamanan yang bermitra dengan tempat-tempat ibadah untuk dapat memasang kamera dan sistem keamanan untuk menjaga lembaga-lembaga itu aman dari apapun, tapi sayangnya muncul intoleransi dan rasisme dan kebencian yang kita lihat di seluruh negeri.”

    Kebakaran dimulai setelah ditemukannya ratusan situs pemakaman tak bertanda di properti bekas sekolah perumahan di Kanada barat. Sistem sekolah perumahan, yang dihapus pada akhir abad ke-20, adalah program federal untuk mengasimilasi Penduduk Asli ke dalam masyarakat Kanada.

    Menurut laporan, sistem tersebut mengambil anak-anak dari keluarga mereka dan menempatkan mereka di sekolah asrama, banyak dari mereka dijalankan oleh organisasi keagamaan, dan memaksa mereka untuk meninggalkan bahasa dan budaya asli mereka. Rupanya ada juga pelecehan terhadap anak-anak di sekolah. Tuberkulosis dan penyakit menular lainnya menyebabkan kematian dini banyak orang, tetapi banyak keluarga tidak pernah menemukan mayat anak-anak mereka atau diberitahu sepenuhnya tentang apa yang terjadi pada mereka.

    Baca Juga: Gereja Katolik lain di Kanada terbakar habis

    Trudeau dan para pemimpin suku telah menyerukan permintaan maaf resmi dari Paus Fransiskus, yang telah berjanji untuk bertemu dengan perwakilan Penduduk Asli di Vatikan pada bulan Desember.

    “Berdoa untuk kedamaian”

    Sementara penyelidikan masih harus dilakukan, diperkirakan bahwa setidaknya beberapa kebakaran gereja dan tindakan vandalisme mungkin sebagai tanggapan atas temuan kuburan.

    Kebakaran di katedral bersama Yellowknife terjadi tak lama setelah tengah malam Kamis. Bangunan mengalami kerusakan ringan, dan tidak ada yang terluka. Dalam rilis berita, polisi di Yellowknife mengatakan bahwa karena kebakaran baru-baru ini dan vandalisme di gereja lain, mereka menganggap api itu mencurigakan dan telah meluncurkan penyelidikan kriminal.

    Uskup Jon Hansen dari Mackenzie-Fort Smith mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Kami sepenuhnya menyadari bahwa kebakaran ini adalah salah satu dari banyak peristiwa serupa yang telah terjadi di seluruh Kanada. Jadi, kami hanya meminta orang-orang untuk berdoa bagi perdamaian.”

    Pada hari Rabu, seorang pemimpin First Nations di Alberta merilis sebuah video yang mengutuk kebakaran dan vandalisme.

    Baca Juga: Peresmian Aula Paulus VI di Vatikan 50 tahun yang lalu

    “Kami meminta Anda sebagai anggota, sebagai Nehiyaw dan Dene, dan komunitas, di komunitas Anda, di mana Anda memiliki gereja-gereja ini, bahwa kami meminta Anda untuk menahan diri dari tindakan main hakim sendiri terhadap bangunan gereja,” kata Treaty 8 Grand Chief Arthur Noskey, berbicara dalam bahasa Cree dan bahasa Inggris.

    Berikut adalah daftar insiden sejauh ini:

    1. 21 Juni (Hari Masyarakat Adat Nasional di Kanada), pukul 01:30: Gereja Hati Kudus di tanah Penticton Indian Band, British Columbia: terbakar habis.
    2. 21 Juni, pukul 3 pagi: Gereja St. Gregorius di tanah Band Indian Osoyoos di Oliver, British Columbia: terbakar habis.
    3. 26 Juni, pukul 1 pagi: Gereja Anglikan St. Paul di tanah Gitwangak First Nations, British Columbia. kerusakan kecil.
    4. 26 Juni, pukul 3:52: Gereja Katolik St. Ann di Upper Similkameen Indian Band dekat Hedley, British Columbia: hancur total.
    5. 26 Juni, pukul 4:45: Gereja Katolik Our Lady of Lourdes di Band Indian Similkameen Bawah, Chopaka, British Columbia: hancur total.
    6. 27 Juni, malam: Patung Paus St. Yohanes Paulus II di Gereja Katolik Rosario Suci di Edmonton, Alberta: ditutupi cetakan tangan merah; jejak kaki merah dilacak ke pintu depan gereja.
    7. 28 Juni, malam: Gereja Katolik Bangsa Pertama Sikika, Alberta: padam sebelum menyebabkan kerusakan parah.
    8. 30 Juni, dini hari: Gereja Katolik St. Jean Baptiste di Morinville, tepat di luar Edmonton, Alberta: terbakar habis.
    9. 1 Juli (Hari Kanada), 12:30: Katedral Bersama St. Patrick di Yellowknife, Wilayah Barat Laut: sebagian terbakar; kerusakan kecil.
    10. 1 Juli: Setidaknya 11 gereja di Calgary – banyak di antaranya Katolik – dirusak dengan cat merah, termasuk cat yang berceceran di atas patung Yesus, cetakan tangan yang dicat di pintu dan teks bertuliskan “Biarkan para imam” dan “Hidup kita penting.” Juga, jendela gereja yang pecah, dengan cat terlempar ke dalam dan nomor 751 dicat di papan nama gereja — referensi yang jelas ke 751 kuburan tak bertanda yang diidentifikasi di lokasi bekas Sekolah Perumahan Indian Marieval.

    Lebanon, surga bagi orang Kristen, berada dalam masalah besar

    Shutterstock I Eyad Al Hakeem-Sanctuaire Notre-Dame du Liban.- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Internasional- Karena krisis ekonomi dan politik, status Lebanon sebagai tempat yang aman bagi umat Kristen tidak lagi aman.

    Krisis ekonomi dan politik di Lebanon, rumah bagi komunitas Kristen terbesar di Timur Tengah, semakin dalam menjelang pertemuan bersejarah 1 Juli antara Paus Fransiskus dan para pemimpin Kristen dari negara itu.

    Diangkat dari Aleiteia yang diterbitkan pada 06/30/21, dikatakan bahwa minggu ini, mata uang negara itu jatuh ke rekor terendah 17.000 terhadap dolar AS, setelah kehilangan 90% nilainya sejak krisis ekonomi dimulai pada 2019.

    Peningkatan ekstremisme

    Meningkatnya kemarahan terhadap pemerintah telah diperburuk oleh krisis bahan bakar. Kekurangan cadangan devisa yang diperlukan untuk mengimpor bahan bakar telah membuat banyak orang Lebanon bangun pada pukul 3:00 pagi untuk mengantre di pompa bensin, dalam pemandangan yang lebih mengingatkan pada Venezuela daripada salah satu negara yang lebih makmur di kawasan itu.

    Selama bertahun-tahun, Lebanon telah berdiri terpisah di Timur Tengah sebagai surga bagi orang-orang Kristen.

    Itu tidak mengamanatkan Islam sebagai agama negara, dan kesepakatan informal bahkan menyatakan bahwa Presiden adalah seorang Katolik Maronit. Untuk alasan ini, ia telah menyambut ribuan pengungsi Kristen yang melarikan diri dari penganiayaan di Irak atau Suriah.

    “Selama bertahun-tahun, ketika kami melihat peningkatan ekstremisme di negara lain, Lebanon telah menjadi tempat di mana orang Kristen dan Muslim dapat hidup bersama, dididik bersama, bekerja bersama, dan kami ingin ini terus berlanjut”, kata Regina Lynch, Direktur proyek amal Aid to the Church in Need (ACN).

    Baca juga: Paus dalam Angelus: Saksi tidak kehilangan kata-kata, melainkan berbuah

    Hari ini, bagaimanapun, statusnya sebagai surga bagi orang Kristen berada di bawah ancaman.

    Krisis mata uang telah diperburuk tidak hanya oleh dampak ekonomi dari pandemi tetapi juga oleh dampak ledakan tahun lalu di Beirut, salah satu ledakan non-nuklir terbesar yang pernah tercatat.

    Ledakan itu menghancurkan sebagian besar lingkungan Kristen di sekitar area pelabuhan Beirut, menewaskan sedikitnya 200 orang.

    Hampir 100.000 bangunan hancur dan beberapa ratus ribu orang kehilangan tempat tinggal dalam satu kejadian.

    “Sekolah-sekolah Katolik terancam ditutup. Institusi Katolik seperti rumah sakit dan klinik berjuang untuk bertahan hidup, bahkan untuk mencari dana yang mereka butuhkan untuk membeli obat-obatan penting dan peralatan medis penting, jadi sekarang benar-benar lima menit hingga nol jam saat ini di Lebanon”, kata Regina Lynch.

    Perlunya dukungan internasional

    Dalam konteks ini, Paus Fransiskus mengumumkan pertemuan puncak yang akan diadakan pada 1 Juli di Roma.

    Para pemimpin Kristen Lebanon, termasuk Kardinal Bechara Boutros Rai, akan berdoa untuk solusi bagi krisis yang semakin dalam di negara itu. Salah satunya adalah doa untuk kepemimpinan politik: Kardinal Rai telah berulang kali menyerukan pemerintah baru dan konferensi internasional yang dipimpin PBB untuk mengatasi masalah negara. Dengan tidak adanya pemerintahan reguler selama 10 bulan terakhir, kekosongan kepemimpinan politik telah membuat negara itu tidak dapat mengatasi kesengsaraannya — apalagi COVID-19.

    Di bawah tekanan ini, orang Lebanon berbondong-bondong meninggalkan negara itu. Lebih dari 380.000 orang Lebanon, kebanyakan dari mereka adalah orang Kristen, telah mengajukan visa ke Barat sejak krisis dimulai.

    Baca juga: Doa Paus untuk Lebanon: Semoga kita menenggelamkan akar kita dalam mimpi perdamaian

    Umat ​​Kristen Lebanon juga berharap pertemuan itu akan memberikan kesempatan untuk mengulangi permintaan Paus untuk mengunjungi negara itu. Menyusul perjalanan sukses Paus ke Irak awal tahun ini, ia menyatakan minatnya untuk mengunjungi negara itu sesegera mungkin.

    Pastor Jad Chlouk, dari Keuskupan Agung Maronit Beirut, beberapa hari yang lalu mengulangi perlunya dukungan internasional dalam presentasi tentang kegiatan tahunan ACN.

    “Yang penting sekarang adalah dukungan kemanusiaan untuk semua orang Lebanon,” katanya kepada ACN. “Orang-orang Kristen mengalami masa-masa sulit, keraguan, dan kebingungan setelah pandemi, krisis ekonomi, dan di atas semua ini, ledakan. Sayangnya, negara kita sekarang mengalami brain drain.”

    Sementara semua orang Lebanon menderita, orang-orang Kristen sangat rentan untuk beremigrasi ke Barat, di mana banyak yang sudah memiliki keluarga dari kalangan diaspora Lebanon yang besar.

    “Mayoritas orang Kristen menderita kemiskinan,” kata Pastor Chlouk. “Orang Kristen tidak meminta sumbangan. Kami meminta stabilitas dan negara yang aman untuk ditinggali. Kami membutuhkan lingkungan yang terjamin untuk membantu anak-anak kami tumbuh di tengah komunitas Kristen yang erat.”

    Baca juga: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pintianak Periode 2021-2022

    “Kami meminta Anda, seperti yang dilakukan Bapa Suci, untuk mendesak pemerintah Anda dan komunitas internasional untuk menjauhkan Lebanon dari konflik di kawasan itu.”

    ACN, sebuah yayasan kepausan Katolik, telah memberikan dukungan ekstensif kepada Lebanon dalam krisis saat ini, dengan bantuan lebih dari 5,3 juta euro setelah ledakan dermaga Agustus 2020, termasuk bantuan darurat dan perbaikan untuk gedung-gedung gereja di kawasan Kristen yang bersejarah di ibu kota.

    Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Aid to the Church in Need dan diterbitkan ulang di sini dengan izin yang baik. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang misi ACN untuk membantu Gereja yang menderita, kunjungi www.churchinneed.org (dari AS) dan www.acninternational.org (di luar AS), dan diangkat oleh Aleteia, dan diolah oleh Majalah DUTA.

    TERBARU

    TERPOPULER