Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 138

    Tuhan Tidak Melihat Penampilan dan Latar Belakang Keluarga, Tapi Melihat Hati: Misteri Panggilan Religius

    Foto Bersama dalam Prosesi Penjubahan atau penerimaan jubah bagi para frater – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Pertanyaan “Apakah bisa seorang pemuda atau pemudi yang berasal dari keluarga “miskin” dan “tidak menarik dari segi penampilan” menjadi seorang pastor, suster, atau bruder?” Kiranya pertanyaan ini bisa menjadi pemantik bagi kita dalam merefleksikan makna dari sebuah panggilan religius yakni menjadi pastor, suster, atau bruder.

    Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu persoalan yang sedang dihadapi oleh para pemuda atau pemudi yang kemudian enggan menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi seorang religius adalah pertama-tama bukan terletak pada persoalan menikah atau tidak menikah, melainkan lebih pada sikap kurang percaya diri dan dari pihak keluarga yang tidak setuju. Bentuk sikap kurang percaya diri itu ditunjukkan dengan perasaan “minder” karena berpenampilan kurang menarik, tidak pandai dan berani berbicara di depan orang banyak, tidak pintar, dsb. Intinya merasa tidak layak menjadi seorang pastor, suster, atau bruder.

    Baca Juga: Pemda dan DPRD Bengkayang Dukung Pembangunan Destinasi Rohani di Jagoi Babang

    Kemudian sikap keluarga yang tidak setuju itu ditunjukkan lewat kesaksian mereka yang sangat pesimis (ragu-ragu) kepada yang bersangkutan bahwa keadaan keluarga yang sederhana (miskin), yang segalanya yang serba terbatas, belum lagi kondisi keluarga di mata masyarakat kurang baik, lalu kalau di pertengahan jalan memilih untuk mundur.

    Intinya mereka merasa tidak yakin bahwa dengan keadaan “miskin” seperti itu anak mereka bisa menjalani hidup sebagai seorang religius yang identik dengan: pintar, menarik untuk dipandang karena parasnya yg keren dsb. Karena situasi ini, tidak heran banyak dari antara mereka yang akhirnya membatalkan niatnya untuk menjadi seorang religius.

    Panggilan Religius

    Dalam tulisan ini, penulis hendak membagikan sebuah pemahaman kepada para pemuda-pemudi yang memiliki semangat atau keinginan menjadi seorang selibat, dan kepada para orang tua yang terkadang keliru dalam memahami hidup religius.

    Keinginan untuk menjadi dan memilih hidup menjadi seorang religius atau selibat, bukan soal: miskin atau kaya, ganteng – cantik,  pintar – bodoh, berani atau pandai berbicara di depan banyak orang atau tidak, tetapi tentang bagaimana Tuhan melihat. Apa artinya ungkapan terakhir ini?

    Berangkat dari sebuah pengalaman penulis ketika mendengar pengakuan dari seorang OMK (Orang Muda Katolik) yang ada di salah satu stasi di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Seusai melakukan ibadat hari Minggu, penulis didatangi oleh seorang pemuda dan kemudian bertanya: “frater, apakah sudah lama menjadi frater? Dulu, ketika memilih hidup menjadi seorang frater, apakah disetujui oleh orang tua?”.

    Baca Juga: Paus Fransiskus Mengajak seluruh umat untuk mendoakan Para Katekis

    Dari pertanyaan yang sangat menggelitik ini, sebelum menjawab penulis tergugah untuk bertanya terlebih dahulu yaitu tentang alasan dari pertanyaan itu. “mengapa kalian bertanya seperti ini?”. Pemuda itu pun akhirnya bercerita bahwa dulu ketika sudah menyelesaikan studi di bangku SMA, ia memiliki keinginan untuk menjadi seorang pastor. Akan tetapi keinginan tersebut lambat laun sirnah begitu saja, lantaran merasa tidak layak (tidak tampan, cerdas, dan pandai berbicara) dan tidak mendapat restu dari kedua orang tuannya karena alasan keluarga sederhana (miskin).

    Penulis mengira bahwa hal-hal seperti inilah yang marak terjadi kepada anak-anak muda kita yang awalnya berkeinginan memilih hidup sebagai seorang selibat, tapi karena diri sendiri atau orang tua yang memberikan pemahaman “keliru” akhirnya keinginan tersebut dibiarkan sirnah begitu saja.

    Pengalaman

    Sebagai petunjuk dalam memahami kekeliruan berpikir itu, mari kita simak apa yang dikatakan oleh Kitab Suci khususnya Kitab Suci Perjanjian Baru dalam Injil Matius 13: 54-57. Perikop Injil ini kirannya bisa menjadi dasar dalam memahami arti panggilan religius.

    “Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmah itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” (Matius 13: 54-57).

    Dalam perikop Injil tersebut, kita diperlihatkan dengan sebuah peristiwa Yesus yang sedang berkotbah di Sinagoga atau Bait Allah di Nazaret, kampung halamannya. Dari kotbah-Nya, semua orang yang ada di ruangan itu menjadi takjub. Takjub bukan hanya kerena isi kotbah yang dalam dan berisi atau mengena, tetapi juga pada pribadi-Nya yang penuh wibawa.

    Di awal, Yesus di mata orang-orang yang mendengarkan-Nya adalah seorang pewarta firman yang handal dan hebat. Mereka semua terkagum-kagum kepada Yesus. Akan tetapi, kekaguman itu akhirnya sirnah, sebab orang-orang itu kemudian menyadari bahwa Yesus yang mereka kagumi itu ternyata anak Yusuf, tukang kayu. Ibu serta saudara-saudari-Nya adalah orang-orang yang selalu bersama mereka. Karena situasi inilah akhirnya Yesus pun ditolak.

    Atas penolakan itu, Yesus dengan lantang berkata: “Tidak ada nabi yang dihormati di tempat asalnya”. Bahwa hanya karena melihat latar belakang-Nya yang berasal dari keluarga sederhana (miskin) dan keluarga-Nya yang selalu bersama dengan mereka, mereka menjadi sangat kecewa dan tidak lagi menaruh respek kepada Yesus. Inilah sifat yang menjadi ciri khas manusia, dimana orang selalu menilai sesama dan bahkan dirinya hanya dari apa yang ia ketahui.

    Hal ini jugalah yang terjadi kepada nabi Samuel ketika harus memilih untuk mengurapi raja Israel menggantikan Saul (bdk. 1 Samuel 16: 1-7). Ketika Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya bahwa pasti inilah raja yang dikehendaki Tuhan (ay 6). Tetapi Tuhan dengan tegas mengatakan kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakkannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (ay 7).

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Kurangnya Tenaga Imam

    Persoalan ini pulalah yang juga banyak terjadi dalam kehidupan umat Kristiani khususnya. Tidak jarang ditemukan orang-orang yang memiliki sifat seperti orang-orang yang ada di Sinagoga yang awalnya terkagum-kagum mendengar kotbah Yesus, tapi lalu kemudian menolaknya lantaran mengetahui latar belakang Keluarga-Nya.

    Dan banyak juga dari antara kita yang memiliki sifat seperti Samuel, yang terkadang membangga-banggakan seseorang yang dianggap cocok untuk menduduki tahta “raja” (dalam konteks kita: cocok menjadi pastor). Tetapi apa yang terjadi, bahwa apa yang menurut pikiran kita bagus dan cocok ternyata tidak selaras dengan apa yang dipikirkan oleh Allah.

    Bacaan Kitab Suci ini mengajari  kita untuk belajar tentang bagaimana menjadi pribadi yang selalu melihat orang lain dengan kacamata positif. Dalam diri seseorang ada Allah di sana, sekalipun orang tersebut menurut pengamatan kita memiliki latar belakang yang buruk.

    Panggilan

    Pada Minggu, 30 Januari 2022, Seminari Tahun Rohani (TOR) Projo di Lawang melakukan prosesi Penjubahan atau penerimaan jubah bagi para frater-frater baru setelah melangsungkan pendidikan di Seminari Menengah, Postulan, atau Tahun Orientasi Panggilan (TOPANG). Dalam prosesi yang dipimpin langsung oleh Mgr. Hendrikus Pidyarto Gunawan Ocarm., Uskup Keuskupan Malang sebagai Selebran utama dan para Konselebran oleh para pastor formator baik dari Seminari Tahun Rohani maupun Seminari Tinggi Interdiosesan St. Govanni XXIII, para frater yang menerimakan jubah berjumlah tiga puluh dua (32) frater.

    Ketiga puluh dua frater ini berasal dari delapan keuskupan yang tersebar di Indonesia, antara lain: Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, Keuskupan Ketapang, Keuskupan Palangka Raya, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Agung Samarinda, dan Keuksupan Malang sebagai tuan rumah.

    Empat frater yang berasal dari Keuskupan Agung Pontianak itu sendiri berasal dari paroki yang berbeda yang ada dalam lingkup Gerejawi Keuskupan Agung Pontianak. Keempat frater tersebut antara lain:  Fr. Damri berasal dari desa Temia Sio, Kec. Teriak, Paroki Santo Pius X Bengkayang; Fr. Suadi berasal Ngabang, Kab. Landak, Paroki Salib Suci; Fr. Revo berasal dari desa Raba, Kec. Mempawah Hulu, Paroki St. Petrus dan Paulus Menjalin; Fr. Deky berasal dari desa Palanyo, Kec. Mempawah Hulu, Paroki St. Yusuf Karangan.

    Baca Juga: Apasih Bedanya Imam Diosesan & Imam Religius?

    Untuk saat ini, jumlah frater Keuskupan Agung Pontianak yang sedang menempuh pendidikan baik di: Postulat Stela Maris (1 orang), Tahun Orientasi Panggilan (TOR) (4 orang), Seminari Tinggi Interdiosesan St. Giovanni XXIII di Malang (Jatim) (23 frater), Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan (Jateng) (1 orang) dan Seminari Tinggi Pastor Bonus dan yang sedang TOP di Pontianak (9 orang) berjumlah 38 frater.

    Dari tiga puluh delapan frater projo Keuskupan Agung Pontianak ini, siapa yang mengira bahwa pemuda-pemuda yang notabene berasal dari kampung ini dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi gembala bagi domba-domba-Nya kelak. Dan apabila mau ditelusuri lebih dalam tentang kehidupan mereka terutama kehidupan keluarga, bahwa dari masing-masing frater ini, hampir rata-rata mereka berasal dari keluarga yang tingkat ekonominya menengah kebawah (miskin), dan bahkan ada juga yang berlatarbelakang keluarga yang broken home dsb.

    Lalu siapa yang mengira bahwa mereka bisa bersaing dalam study filsafat bersama orang-orang yang berasal dari luar Kalimantan yang hampir rata-rata mengalami akses belajar yang baik, dan mampu menduduki posisi teratas dari teman-teman yang berasal dari kota. Dan siapa mengira, Mgr. Agustinus Agus, uskup Keuskupan Agung Pontianak, yang berasal dari pelosok kampung Lintang Pelaman (yang akses trasnsportasinya saja masih sulit dan ditambah lagi  penerangan yang masih amat terbatas karena belum dialiri listrik dari Pemerintah) bisa menjadi uskup agung.

    Sekali lagi, Tuhan tidak pernah melihat penampilan seseorang seperti apa yang dilihat oleh manusia kebanyakan. Yang Tuhan lihat adalah hati seseorang yang dengan rendah hati, tanpa ada paksaan dari pihak luar, mau dan siap menjadi pelayan dalam menggembalakan domba-domba Allah. Inilah yang namanya misteri panggilan.

    Pemda dan DPRD Bengkayang Dukung Pembangunan Destinasi Rohani di Jagoi Babang

    Foto bersama dalam pertemuan di pastoran paroki St. Pius X Bengkayang – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Bengkayang – Begitulah mimpi Uskup dari Keuskupan Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus kini didukung oleh Pemda dan DPRD Kabupaten Bengkayang yang dimatangkan dalam pertemuan Bupati Bengkayang bersama jajarannya yang dihadiri pula Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang di Paroki Bengkayang pada Selasa malam 8 Februari 2022.

    Sepulang kunjungan mereka dari Rumah Baluk di Sebujit bersama Yori Antar (arsitek), Seniman Instalasi Teguh Ostrentik, Uskup Agustinus mempresentasikan hasil desain patung Yesus sebagai Pangilma Burung (rencana patung setinggi 23 meter) yang nanti berdiri di atas Gong yang menjadi tempat museum khas kalimantan serta rencana gereja Baluk gaya Dayak Bidayuh.

    Adapun lokasi pembangunan sudah ditetapkan yaitu di bukit kompleks Paroki Santo Mikael Jagoi Babang.

    Tepat pada pukul 20.00 WIB di Pastoran Paroki Santo Pius X Bengkayang, Uskup Agustinus bersama Yori Antar dan Teguh Ostenrik menampilkan hasil desain Patung Yesus sebagai Panglima Burung yang berdiri di bangunan Gong (rumah museum Kalimantan) dan Gereja dengan nuansa Gaya Rumah adat Bidayuh Jagoi Babang.

    Baca Juga: Uskup Agustinus: Simbol Keagamaan Kalimantan Patung Yesus Panglima Burung

    Dalam pertemuan itu dihadiri oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis didampingi ketua tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Anita dan hadir pula ketua dewan DPRD Kab Bengkayang Fransiskus.

    Kemudian dalam pertemuan dengan Uskup Agustinus bersama Arsitek dan Seniman itu, Bupati juga mengajak sejumlah kepala dinas di Kabupaten Bengkayang diantaranya hadir Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Ucok Parulian Hasugian.

    Kepala Keuangan Yustianus, Kepala Bidang Cipta Karya Agustinus Sawal dan Kepala Permukiman dan Lingkungan Hidup Dodorikus.

    Didepan pemangku kepentingan pemerintahan daerah Bengkayang malam itu, Teguh Ostenrik yang merupakan seniman internasional itu menampilkan dan menjelaskan filosofi serta makna dari patung Yesus sebagai Panglima Burung.

    Kemudian arsitek Nusantara ternama yakni Yori Antar juga memaparkan desain bagunan Gong yang direncanakan akan menjadi museum dibawah patung Yesus serta memaparkan konsep lokal yang diangkatnya menjadi icon Gereja Paroki dengan gaya rumah Baluk suku Dayak Bidayuh.

    Bupati dan Ketua DPRD Kabuaten Bengkayang dukung progres pembangunan

    Bupati Bengkayang Darwis mengaku sedari awal rencana Uskup Agustinus sudah ia dukung, bahkan sedari pertama kali ide muncul di benak Uskup Agustinus menjadi inspirasi pembangunan di Kabupaten Bengkayang.

    Sebagai umat dan untuk kepentingan Kabupaten Bengkayang Darwis bersama jajarannya bertekad mewujudkan cita-cita Uskup Agustinus untuk menjadikan Jagoi sebagai ‘gula’.

    Darwis menilai misi tersebut sejalan untuk mendukung pembangunan di Kabupaten Bengkayang yang notabene merupakan kantong-kantong Katolik dan Dayak.

    Baca Juga: Bagaimana Kita Ciptakan Gula di Jagoi Babang” Bincang Uskup Agustinus pada Bupati Bengkayang

    Didepan seniman dan arsitek, Sebastianus Darwis sedikit menjelaskan keragaman suku Dayak yang berada di wilayah Bengkayang mulai dari Suku Bidayuh, Bekatik, Kanayatn dan Iban.

    “Ini mimpi Bapa Uskup Agustinus dan ini juga merupakan sebuah mandat yang harus kita dukung, karena ini bersangkut paut dengan kepentingan banyak orang di Kabupaten Bengkayang, terlebih kedepan akan menjadi ‘Icon’ Kalimantan,” kata Bupati Sebastianus Darwis.

    Sejalan dengan itu Fransiskus selaku Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang mendukung penuh wacana pembangunan Patung Yesus sebagai Panglima Burung.

    Fransiskus menganggap langkah ini merupakan langkah yang akan membuat Bengkayang menjadi terkenal dengan ‘Icon’-nya yakni Yesus sebagai Panglima Burung di perbatasan Malaysia-Kalbar tepatnya di Jagoi Babang.

    Baca Juga: Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis Ungkapkan Wacana ‘Icon’ Patung Yesus Raksasa Bengkayang: Letaknya di Bukit Jagoi Babang

    Apalagi di Jagoi Babang sekarang sedang dibangun “border” tentulah itu merupakan kesempatan dan potensi perbatasan menjadi ‘icon’ di daerah perbatasan. Dimana tempat perbatasan adalah garda terdepan wajah Indonesia.

    “Ini adalah kebanggan masyarakat Kabupaten Bengkayang, kalau orang berkunjung di Kalimantan Barat  yang mereka ingat adalah Jagoi Babang yang ada Patung Yesus Panglima Burung,” kata Fransiskus.

    Bengkayang adalah Potensi besar

    Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus melihat Bengkayang adalah  potensi besar untuk tempat parawisata budaya khas Kalimantan.

    Karena itu juga nanti Patung Yesus dibangun diatas museum yang kedepannya akan diisi semua jenis pakaian sub-sub suku yang ada di Kalimantan Barat.

    Mulai dari foto-foto rumah adat Betang dari suku Dayak, Tionghoa, Melayu dan termasuk suku-suku yang tinggal di Kalimantan.

    Uskup Agustinus berharap semoga rencana dan keputusan pada Selasa malam 8 Februari 2022  segera dibentuk kepanitiaan dan mulai berproses.

    Pertemuan malam itu ditutup dengan foto dan ramah tamah bersama di Pastoran Paroki Santo Pius X Bengkayang.

    Rapat Dekanat Landak di paroki Santa Theresia Delta Kapuas Rasau Jaya

    Foto Bersama dengan Pastor Ilwan, CP – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Rasau Jaya – Paroki se-dekanat Landak mengadakan rapat di paroki Santa Theresia Delta Kapuas Rasau Jaya, pada hari Rabu, 9 Februari 2022. Agenda utama dalam tersebut yaitu tentang Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner Indonesia (SEKAMI), rapat dipimpin oleh Pastor Ilwan, CP Dirdios KKI_KAP. Dengan dihadiri oleh setiap perwakilan masing-masing paroki yang tergabung dalam dekanat Landak.

    Baca Juga: Uskup Agustinus: Simbol Keagamaan Kalimantan Patung Yesus Panglima Burung

    Adapun paroki yang tergabung dalam dekanat Landak terdiri dari 11 paroki, yaitu paroki St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Bandol, paroki St. Agustinus dan Matias Darit, paroki St. Theresia Delta Kapuas, paroki St. Yusuf Karangan, paroki St. Petrus dan Paulus Menjalin, paroki St. Yohanes Pemandi Pahauman, paroki St. Fransiskus Asisi Pakumbang, paroki St. Yohanes Maria Vianney Serimbu, paroki St. Christophorus Sungai Pinyuh, paroki Salib Suci Ngabang dan Paroki St. Yosef Jelimpo.

    Pertemuan 

    Rapat tersebut dihadiri sebanyak 20 orang yang terdiri dari perwakilan masing-masing paroki. Pada rapat tersebut disepakati bahwa akan diadakan temu Pembina dan Animator/tris SEKAMI yang bertempat di Ngabang pada tanggal 3 Mei 2022. Setiap paroki mengutus sebanyak 10 (sepuluh)  orang yang terdiri dari 2 orang pembina dan 8 orang animator/tris.

    Baca Juga: Pemberkatan dan Pengukuhan Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas

    Harapannya setiap paroki dapat mengutus perwakilannya masing-masing dalam Temu Pembina dan Animator/Tris SEKAMI diwaktu dan tempat yang sudah ditentukan,  sesuai dengan hasil rapat yang sudah disampaikan.

    Uskup Agustinus: Simbol Keagamaan Kalimantan Patung Yesus Panglima Burung

    Menindaklanjuti progres pembangunan Patung Yesus Raksasa khas Kalimantan di Jagoi Babang – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Jagoi Babang – Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus menindaklanjuti progres pembangunan Patung Yesus Raksasa khas Kalimantan dan bertemu dengan sejumlah tokoh masyarakat di Jagoi Babang pada Senin malam 7 Februari 2022.

    Dalam pertemuan itu dihadiri oleh anggota DPRD Dapil 2 Kabupaten Bengkayang, Debit. Ketua dewan adat kecamatan Jagoi Babang, Kasminto. Kepala Benua Jagoi, Lipon. Tokoh Adat Desa Jagoi, Ahau Kadoh. Kepala Adat Desa Jagoi, Nogian. Dihadiri pula oleh Kepala Desa Jagoi, Dedeng dan Camat Jagoi Babang, Saidin.

    Menurut data bahwa Jagoi Babang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Indonesia. Wilayah ini terletak di perbatasan Kalbar-Serawak (batas sebelah timur, kurang lebih 1 jam ke Kota Serawak).

    Sebelah utara Kecamatan ini berbatasan dengan Lundu, Sarawak Malaysia,sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Seluas dan kecamatan Siding, sebelah timur berbatasan dengan Serikin, Sarawak Malaysia.

    Umumnya masyarakat Jagoi Babang adalah mayoritas beragama Katolik.

    Sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agutinus Agus memiliki cita-cita besar bahwa kedepan Kalimantan juga memiliki simbol keagamaan yakni mimpi Uskup Agustinus adalah mendirikan Patung Yesus Raksasa di daerah perbatasan.

    Baca Juga: Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis Ungkapkan Wacana ‘Icon’ Patung Yesus Raksasa Bengkayang: Letaknya di Bukit Jagoi Babang

    Hal itu disampaikannya dalam audiensi Uskup Agustinus bersama tokoh masyarakat pada Senin malam 7 Februari 2022 di Paroki Santo Mikael Jagoi Babang.

    Menindaklanjuti cita-cita besar Uskup Agustinus bersama Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis, pada tanggal 7 Februari 2022 Uskup Agustinus mengajak arsitek profesional yang merancang bangunan khas Suku Dayak Bidayuh, Yori Antar didampingi Kyinan Tegar film-maker muda dan Seniman Patung yakni Teguh Ostrentik.

    Yesus Sebagai Panglima Burung

    Dalam konsep patung yang dipaparkan oleh Teguh Ostrentik yaitu bertema tentang Yesus sebagai Panglima Burung.

    Teguh lebih menekankan pada simbol budaya setempat dengan elemen konsep desain mengandung unsur simbol kasih dan simbol kedamaian.

    Teguh kemudian menjelaskan secara spesifik pula bahwa simbol tersebut dituangkan dengan lembut pada raut wajah dari bentuk hidung, mata dan mulut.

    Selanjutnya elemen konsep dasar desain juga dituangkan dengan gestur tubuh dan pakaian tanpa menghilangkan simbol Budaya Dayak.

    Ikon dalam Budaya Dayak sendiri terdiri dari seni tari, burung enggang, alat musik dan baju adat.

    Dalam kesempatan itu juga Teguh menjelaskan kepada sejumlah tokoh masyarakat yang hadir itu terkait sketsa model patung Yesus yang bertema Yesus sebagai Panglima Burung.

    Gereja gaya Baluk Dayak Bidayuh

    Selain pemaparan oleh Teguh, sebelumnya Yori Antar juga memaparkan kontruksi bangunan gereja dengan gaya Baluk khas Dayak Bidayuh.

    Baluk merupakan rumah adat suku Dayak Bidayuh bentuknya boleh dikatakan berbeda dari rumah adat suku-suku Dayak lainnya khususnya yang berada di Kalimantan Barat, umumya suku-suku Dayak yang berada di Pulau Kalimantan.

    Baca Juga: Bagaimana Kita Ciptakan Gula di Jagoi Babang” Bincang Uskup Agustinus pada Bupati Bengkayang

    Rumah Adat Baluk ini terletak di Kecamatan Siding desa Hlibuei dusun Sebujit, jarak dari ibukota Bengkayang ± 134 KM, dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan waktu tempuh sekitar ± 2-3 jam dari Kota Bengkayang.

    Rumah Adat ini digunakan oleh masyakat Suku Dayak Bidayuh dalam acara ritual tahunan (nibak’ng) yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Juni, setelah usai musim menuai padi dan untuk menghadapi musim penggarapan ladang tahun berikutnya.

    Rumah Baluk yang sudah ada ini berbentuk bundar, berdiameter kurang lebih 10 meter dengan ketinggian kurang lebih 12 meter dan disanggah sekitar 20 tiang kayu dan beberapa kayu penopang lainnya serta sebatang tiang digunakan sebagai tangga yang menyerupai titian.

    Ketinggian ini menggambarkan kedudukan atau tempat Kamang Triyuh yang harus dihormati.

    Nyobeng adalah kegiatan Ritual Suku Dayak Bidayuh di daerah Sebujit desa Hlibeui Kecamatan Siding telah dilakukan secara turun temurun merupakan upacara adat Hliniau yaitu upacara adat permohonan berkat, sejahtera, kedamaian, ketentraman dan lain-lain namun upacara adat budaya ini hanya diperuntukan bagi kaum pria sedangkan bagi kaum wanita adat budaya tersebut dinamakan Nambok. Kedua jenis adat budaya ini merupakan upacara adat baluk dan adat padi.

    Atas dasar itulah Yori Antar yang sudah melalang buana membangun rumah adat dengan prinsip “botom-up” artinya dari masyarakat yang lisan kemudian diterjemahkan menjadi tulisan. Bukan dari tekstual kemudian menjadi lisan, yang Yori sebut dengan istilah “Top-down”.

    Gereja dan bangunan yang mendukung berdirinya patung Yesus Sebagai Panglima Burung ini akan di desain menyesuaikan dengan tata cara adat setempat, dalam hal ini adalah Suku Dayak Bidayuh.

    Simbol Pembebasan dari Kebodohan

    Uskup Agung Pontianak juga menegaskan kepada sejumlah tokoh masyarakat yang hadir saat itu dengan menyampaikan makna dari simbolik tersebut.

    “Sebagai ucapan terima kasih orang Dayak yang mayoritas beragama Kristiani kepada Yesus, maka inilah kesempatan kita untuk menjadikan Jagoi Babang yang persis di Perbatasan dengan mendirikan simbol ini,” kata Uskup Agustinus.

    Baca Juga: Pemberkatan dan Pengukuhan Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas

    Uskup Agustinus juga menjelaskan bahwa tanpa adanya missionaris agama yang datang, kemungkinan orang Dayak sampai saat  ini masih tertinggal.

    Hadirnya missionaris Katolik tempo lalu yang pertama-tama dibangun adalah pendidikan, kesehatan dan mengajarkan orang Dayak tentang kecerdasan keuangan.

    Oleh sebab itu, sebagai tanda terima kasih orang Dayak kepada Yesus salah satunya dengan mendirikan simbol keagamaan dimana posisi strategis Jagoi Babang yang notabene umat Katolik.

    Uskup Agustinus melanjutkan bahwa berdirinya Patung Yesus Sebagai Panglima Burung ini juga sekaligus memberikan simbol pembebasan dari ketertinggalan dan bebas dari pembodohan.

    Dalam diskusi bersama tokoh masyarakat, Uskup Agustinus menggarisbawahi tentang budaya lokal, jangan dihilangkan. Namun tetap harus terlestarikan agar menjadi bekal di masa depan.

    “Patung Yesus adalah tanda terima kasih Orang Dayak pada Yesus yang membebaskan orang Dayak dari kebodohan dan ketertinggalan baik segi pendidikan maupun ekonomi melalui jalan yang dirintis oleh misionaris,” kata Uskup Agustinus.

    Pemberkatan dan Pengukuhan Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas

    Perayaan Ekaristi Pemberkatan dan Pengukuhan DPP Paroki Kristus Raja Sambas Oleh Mgr. Agustinus Agus – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Sambas – Dewan Pastoral Paroki (DPP) di Paroki Kristus Raja Sambas yang ada di Keuskupan Agung Pontianak resmi dilantik Minggu, (30/1/2022). Pelantikan itu sendiri berada dalam rangkaian perayaan ekaristi yang dipimpin langsung oleh Mgr. Agustinus Agus  yang merupakan  Uskup Agung Pontianak dan didampingi oleh Pastor Paroki Kristus Raja, Sambas RP. Franciscus Cahyo Widiyanto, OFM.Cap dan Pastor Vikaris Parokial, RP. Maseo Clinton, OFM.Cap.

    Acara pelantikan dilakukan langsung oleh Mgr. Agustinus Agus selaku Uskup Agung Pontianak. Pelantikan yang berlangsung saat perayaan ekaristi tersebut ditandai dengan pembacaan sumpah dan janji melaksanakan tugas-tugas pengabdian bagi karya-karya pelayanan gereja dihadapan imam dan umat.

    Baca Juga: Pembekalan Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas Periode Tahun 2022-2024

    Cahyo dalam kata sambutannya, mengucapkan terima kasih dan mengucapkan selamat atas pelantikan yg sudah dilakukan. Ia mengharapkan agar DPP yg baru bisa membuat program yg konkret dan relevan utk umat, menyukseskan Sinode KAP 2021-2023 yg bertemakan “Menuju Gereja Sinidal: Persekutuan, Partisipasi dan Mis dan membantu mempercepat pendataan BIDUK”.

    Rm. Cahyo juga meminta agar anggota DPP baru saling bekerja sama, profesional, menjaga kekompakan, dan senantiasa menimba kekuatan dari Tuhan dalam doa. Ia mengajak seluruh umat untuk mendukung dewan paroki yang baru dilantik dalam karya pelayanan gereja.

    Persekutuan

    Franciscus Cahyo Widiyanto, OFMCap yang juga selaku Ketua Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas masa bakti 2022-2024, juga menyampaikan terima kasih kepada Bapa Uskup yang telah memberkati dan mengukuhkan Pengurus DPP periode ini dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut serta mensukseskan acara ini. Dirinya juga meminta umat untuk membantu dan membangun kerja sama yang baik diantara kita.

    Dalam sambutannya Mgr. Agustinus Agus selaku Uskup Agung Pontianak. Gereja ini merupakan milik kita bersama bukan hanya milik pribadi tertentu, maka mari kita bersama melangkah untuk lebih baik dan menjadi lebih mandiri kedepannya.

    Baca Juga: Menilik Jejak Gereja Kristus Raja Paroki Sambas

    Lebih lanjut Mgr. Agustinus Agus menyampaikan  terima kasih kepada Pengurus DPP periode yang lalu dan selamat kepada pengurus DPP periode yang baru.

    Harapannya semangat DPP yang baru tetap membara untuk mensukseskan program kerja yang telah disusun perbidang pada saat pembekalan.

    khusus dalam sambutannya beliau juga mengucapkan selamat atas pelantikan pengurus DPP dan selamat bertugas dan melayani. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan petunjuk, bimbingan kepada Bapak/Ibu dalam mengemban tugas selanjutnya.

    Pembekalan Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas Periode Tahun 2022-2024

    Pembekalan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki Kristus Raja Sambas periode 2022-2024 – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Sambas – Pelaksanaan  Pembekalan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki Kristus Raja Sambas merupakan sebuah langkah tepat  untuk menguatkan tugas pokok dan fungsi DPP. Hal ini sesuai dengan  Pedoman DPP yang telah dirilis oleh Pusat Pastoral Keuskupan Agung Pontianak (KAP).

    Kegiatan ini dilakukan di Aula Persekolahan Amkur Sambas, Paroki Kristus Raja Sambas yang terletak Desa Durian, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Jumat-Minggu 14-16 Januari 2022.

    Kegiatan pembekalan ini digelar menjelang acara pelantikan Badan Pengurus DPP Paroki Kristus Raja Sambas Masa bakti 2022-2024. Pelantikan akan dilakukan oleh Yang Mulia Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Minggu, 30 Januari 2022.  Semua elemen  Pengurus Harian DPP wajib dibekali sebelum menjalankan tugas secara baik, benar, efektif dan efisien. Badan Pengurus DPP telah terpilih tahun 2021  namun belum dilantik karena alasan pandemi corona belum berakhir.

    Baca Juga: Mulai 1 Januari 2022 Stasi Ledo Pisah Administrasi dari Paroki Bengkayang

    Pemateri utama dalam pembekalan ini  adalah Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak (KAP) RP Pius Barces, CP. Sementara moderator adalah Sekretaris 2 DPP Paroki Kristus Raja Sambas, Bapak Yosef Yasriadi, guru SMA Bonaventura Sambas.

    Hadir sebanyak 62 peserta terdiri dari pengurus DPP.  Adapun unsur DPP Paroki Kristus Raja Sambas, meliputi unsur Pengurus DPP Harian, ketua-ketua bidang dan Seksi-Seksi.

    Pembekalan

    Hal ini disusun berdasarkan Pedoman Dewan Pastoral Paroki (PDPP) yang diterbitkan oleh Keuskupan Pontianak tahun 2017, sehingga dalam melaksanakan tugas dan fungsi Pastoral Paroki yang tersirat dan tersurat dalam Pedoman dapat terwujud sesuai Program Kerja, sejalan dengan vi si misi DPP sesuai dengan hakekat, kewenangan, tugas dan tanggung jawab DPP dan yang berada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak.

    Masa kerja Jabatan DPP dan yang baru terhitung mulai tahun 2022-2024 sesuai Pedoman Dewan Pastoral Paroki Keuskupan Agung Pontianak Tahun 2017.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Resmikan Berdirinya Paroki Santo Montfort Kec. Monterado, Kab. Bengkayang Keuskupan Agung Pontianak

    Sebelum menjalankan tugas sesuai tupoksi kepengurusan DPP akan dikukuhkan dalam Surat Keputusan Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, dan dibacakan di hadapan umat Allah yang hadir pada misa Pelantikan secara resmi pada tanggal 30 Januari 2022.

    Harapannya, semoga DPP  dapat bekerjasama secara baik, simultan, dan kompak menuju gereja yang mandiri.

    Monsinyur Turro, yang Berusia 100 Tahun dan Dikenal Karena Homilinya yang Singkat dan Kuat

    Sumber foto: Portal Berita Aleteia oleh Tom Jhonson – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Imam yang terpelajar dan sangat disegani itu telah meninggalkan pengaruh pada umat paroki dan seminaris yang ditemuinya. Berita ini dilansir dari portal berita Aleteia yang dipublikasikan pada 17/1/2022 oleh Cerith Gardiner.

    Pada akhir bulan, Monsinyur Turro akan mencapai tonggak ulang tahun satu abad. Dan sebagian besar hidupnya yang sangat panjang telah dikhususkan untuk melayani Tuhan.

    Dalam sebuah artikel menarik di New Jersey.com, Pastor Alexander Santora memberi kita sedikit wawasan tentang kehidupan penuh iman yang katanya dikenal dengan homili singkatnya yang terdiri dari empat atau enam kalimat. Alasannya sama singkatnya, seperti yang dibagikan oleh pria berusia 99 tahun itu, “Saya berjuang untuk tidak menjadikan mimbar sebagai ruang kelas. Saya ingin itu menjadi lebih dari percakapan, meskipun sepihak.”

    Baca Juga: Motto Tahun Yobel 2025: “Peziarah Harapan”

    Sangat menarik untuk melihat bahwa meskipun mengembangkan banyak pengetahuan dalam banyak bahasa yang terakumulasi selama bertahun-tahun, termasuk gelar doktor dalam bidang Jermanik dari Universitas New York, Monsinyut Turro selalu memilih untuk menggunakan kata-katanya dengan hemat. Namun, singkatnya homili-homilinya yang terkenal, seperti yang dibagikan untuk Paskah ini dalam artikel Santora, telah berdampak pada semua orang yang telah mendengarkan.

    Santora juga berbagi bahwa Turro “adalah salah satu dosen seminari terbaik yang pernah saya miliki, menggunakan penghematan kata-kata dan tidak pernah mengulangi dirinya sendiri.”

    Dan berkat imamatnya yang panjang dan aktif, Monsinyur Turro dapat menginspirasi banyak seminaris yang kepadanya dia mengajar kursus Perjanjian Baru di Seminari Dikandung Tanpa Noda di Universitas Seton Hall selama lebih dari 60 tahun.

    Karir yang memuaskan

    Pekerjaan ini masih hanya sebagian kecil dari apa yang dia capai dalam kehidupannya yang sibuk. Dia juga direktur perpustakaan seminari, yang sekarang tidak hanya dinamai menurut namanya, tetapi juga menampung empat buku yang dia tulis: Doa dan Refleksi: Jalan Menuju Doa (Paulis Press, 1962 dan 1972), Yehezkiel (Liturgical Press, 1967) dan Pertobatan: Refleksi tentang Kehidupan dan Iman (Tabor Press, 1993).

    Baca Juga: Santo Yohanes Paulus II: setiap wanita hamil harus didukung

    Monsinyur Turro juga menjabat di beberapa dewan, termasuk Dewan Presbyteral (Imam), Dewan Personalia Imam, dan dewan redaksi “Pengacara”. Mengingat hidupnya selama bertahun-tahun, pengalamannya dalam imamat, dan pendidikannya yang mengesankan (dijelaskan secara lebih rinci dalam artikel aslinya), Turro memiliki beberapa refleksi menarik tentang bagaimana Gereja Katolik telah berubah selama bertahun-tahun.

    “Saya tidak membenci Konsili Vatikan Kedua. Saya tidak memperkirakan hasil akhirnya. Ada hilangnya rasa hormat yang jelas terlihat di gereja Katolik sebelum ini terjadi.”

    Sekarang, ketika Turro mendekati ulang tahunnya yang ke-100, dia tinggal di Our Lady of Mercy Rectory di Park Ridge, bersama dengan tiga imam lainnya. Ini adalah paroki yang dia kenal dengan baik karena dia menghabiskan lebih dari 50 tahun membantu di sana pada akhir pekan. Umat ​​paroki sangat menantikan hari ulang tahunnya pada 26 Januari untuk membantu merayakan imam yang telah memberikan begitu banyak.

    Baca Juga: Paus Menerima Kepala Pemerintahan Andorra Dalam Audiensi

    Seorang mantan mahasiswa, Pastor Stanley Gomes, yang sekarang menjadi menteri keuskupan agung untuk para pensiunan imam, dengan sangat fasih meringkas kehidupan Monsinyut Turro saat ia menjadi seorang centenarian.

    “Dia mungkin memiliki beberapa keterbatasan fisik sekarang, tetapi pikirannya berkeliling dunia sebagai seorang sarjana, pemikir dan pencari petualangan. Saya merasa bangga dengan profesor kitab suci saya dan berharap dia ‘cent’anni’ dan banyak lagi.”

    Pewahyuan Allah: Allah Datang untuk Menjumpai Manusia

    Sumber foto: Dokumentasi tim KOMSOS KAP - Gereja Katolik Paroki Santo Petrus Sanggau Ledo

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Yang diwahyukan Allah adalah diri-Nya sendiri. Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya, Allah mewahyukan diri. Melalui sabda dan karya-Nya yang berasal dari cinta kasih yang dalam Kristus telah dinyatakan sejak kekal.

    Menurut rencana ini, semua umat manusia, melalui rahmat Roh Kudus, mengambil bagian dalam kehidupan ilahi sebagai “anak-anak angkat” dalam Putra Tunggal Allah. Tahap-tahap awal pewahyuan Allah dimulai sejak awal mula, Allah mengungkapkan diri-Nya kepada leluhur kita yang pertama, Adam dan Hawa, dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam persatuan yang intim dengan-Nya.

    Baca Juga: Kompendium Katekismus Gereja Katolik

    Sesudah kejatuhan mereka ke dalam dosa, Allah tidak menghentikan pewahyuan-Nya kepada mereka, tetapi menjanjikan penebusan bagi semua keturunan mereka. Sesudah bencana air bah, Allah membuat perjanjian dengan Nabi Nuh, perjanjian antara Allah sendiri dengan semua makhluk hidup.

    Mewahyukan Diri 

    Selain itu, pewahyuan Allah berlanjut pada tahap-tahap berikutnya, yaitu Allah memilih Abram, memanggilnya keluar dari tanah airnya, menjadikannya “bapa banyak bangsa” (Kej 17:5), dan berjanji melalui dia “semua bangsa di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej 12:3). Bangsa keturunan Abraham akan menjadi orang-orang kepercayaan dari janji ilahi yang sudah diberikan kepada para bapa bangsa.

    Allah membentuk Israel sebagai bangsa terpilih, membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, menetapkan perjanjian di Gunung Sinai, dan melalui Nabi Musa memberikan hukum-Nya kepada mereka. Para nabi memaklumkan penebusan bagi seluruh umat dan penyelamatan bagi segala bangsa dalam sebuah perjanjian yang baru dan kekal. Dari bangsa Israel, dari keturunan Raja Daud akan lahir sang Mesias, yaitu Yesus.

    Baca Juga: Kompendium Katekismus Gereja Katolik: Kemampuan Manusia Untuk Mengenal Allah

    Tahap-tahap wahyu Allah yang penuh dan definitif terlaksana dalam sabda-Nya yang menjadi daging, Yesus Kristus, pengantara dan kepenuhan wahyu. Sebagai Putra Tunggal Allah yang menjadi manusia, Dialah Sabda Bapa yang sempurnadan definitif. Dalam pengutusan Sang Putra dan pemberian Roh Kudus, sekarang wahyu Allah menjadi lengkap secara penuh, namun iman gereja harus sedikit demi sedikit memahami maknanya yang lengkap selama berabad-abad.

    Bapa Bangsa 

    Santo Yohanes dari Salib Suci mengatakan “sejak Ia menganugerahkan kepada kita Putra-Nya, yang adalah Sabda-Nya yang tunggal dan definitif, Allah tidak mempunyai sabda yang lain lagi untuk kita. Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang satu dan tidak lagi mengatakan hal lain”.

    Wahyu-wahyu pribadi Allah bernilai, walaupun tidak termasuk dalam khazanah iman, wahyu-wahyu pribadi dapat membantu manusia untuk menghidupi imannya sejauh membawa kita kepada Kristus. Kuasa mengajar Gereja yang mempunyai tugas untuk menilai wahyu-wahyu pribadi semacam itu tidak dapat menerima mereka yang mengklaim bahwa wahyu pribadi itu melebihi atau mengoreksi wahyu definitif, yaitu Kristus.

    Santo Yohanes Paulus II: setiap wanita hamil harus didukung

    Antoine Mekary | ALETEIA | I.MEDIA- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com– St. Yohanes Paulus II memulai kepausannya dengan meminta semua orang untuk mengelilingi wanita hamil dengan cinta dan dukungan, menghilangkan rasa takut dan keraguan yang dirasakan banyak orang.

    Hanya beberapa bulan setelah pemilihannya, St. Yohanes Paulus II mulai 1979 meminta agar semua orang untuk mendukung (John Paul II believed every pregnant woman must be supported) wanita hamil dengan cara apa pun yang mereka bisa.

    Kata-kata penyemangatnya diberikan setelah perayaan Natal dan selama audiensi umum pertamanya pada tahun 1979.

    Dia mengulas bagaimana mereka adalah orang yang memperkenalkan kelahiran sebagai “jeritan hebat” dan “tantangan.”

    Fakta yang sedang dibicarakan ini merupakan seruan besar. Kemudian ini merupakan tantangan permanen bagi individu dan semua orang yang khususnya mungkin di jaman kita di mana bukti besar konsistensi moral sering diminta dari ibu hamil.

    Nyatanya apa yang secara halus didefinisikan sebagai “gangguan kehamilan” (aborsi) tidak dapat dinilai dengan kategori manusia yang sesungguhnya selain kategori hukum moral yaitu hati nurani.

    St Yohanes Paulus II kemudian menjelaskan apa yang dia yakini setiap orang harus membantu dan melakukan hal-hal dalam meringankan wanita hamil.

    Dukungan untuk wanita hamil

    Supaya ibu yang akan melahirkan tidak merasa dibiarkan sendiri dengan keraguan, kesulitan, dan godaannya.

    Pasangan harus berdiri di sisinya agar hati nuraninya tidak membebani sehingga ikatan paling mendasar dari rasa hormat pria terhadap wanita tidak akan hancur.

    “Kenyataannya seperti itulah ikatan yang dimulai pada saat pembuahan sebagai akibatnya kita semua dengan cara tertentu harus bersama setiap ibu yang harus melahirkan; dan kita harus menawarkan semua bantuan yang mungkin,” catatan St Yohanes Paulus II dalam tulisan Philip Kosloski yang diterbitkan pada 13/01/22.

    Ini memotong inti masalah, karena banyak wanita yang mencari aborsi, melakukannya karena kurangnya dukungan dari masyarakat, tetapi juga dari kita masing-masing.

    Pasangan harus bertanya pada diri sendiri seberapa besar kita mendukung wanita hamil dan apakah pasangan sudah berbuat cukup di komunitas rumah tangga sendiri.
    Pasangan tidak perlu menunggu program pemerintah, karena pasangan bisa memulainya sekarang dengan mendukung perempuan di keluarga masing-masing dan dilingkungan yang mungkin sedang mempertimbangkan aborsi.

    Dukungan untuk perempuan yang sedang hamil tetap menjadi salah satu kunci utama penghapusan aborsi.

    Motto Tahun Yobel 2025: “Peziarah Harapan”

    Pope Francis inaugurates the Jubilee of Mercy in 2015 with the opening of the Holy Door -Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus telah memberikan persetujuannya untuk tema Tahun Suci mendatang.

    Menurut Presiden Dewan Kepausan untuk Mempromosikan Evangelisasi Baru, perhatian utama Paus adalah agar Tahun Yobel 2025 dipersiapkan dengan sebaik mungkin.

    Berbicara setelah audiensi dengan Paus Fransiskus pada 3 Januari, Uskup Agung Rino Fisichella mengatakan bahwa selama pertemuan itu Paus menyetujui moto yang diusulkan untuk Tahun Yubileum mendatang, sebuah moto yang dia katakan, “yang dapat diringkas dalam dua kata: Peziarah harapan. ”

    Uskup Agung Fisichella menjelaskan bahwa, seperti halnya semboyan lainnya, ia mencoba untuk memadatkan makna dari seluruh perjalanan Yubileum. Dia mencatat bahwa kata-kata yang dipilih – peziarah dan harapan – keduanya mewakili tema utama kepausan Paus Fransiskus.

    “Ada begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan” dalam dua tahun ini, katanya, merujuk secara khusus pada Dikasteri yang dia pimpin dan yang dipercayakan dengan tanggung jawab organisasi acara tersebut.

    Kebutuhannya, ia menekankan, adalah untuk memiliki “dampak persiapan yang solid” untuk menciptakan mesin organisasi yang efisien.

    “Untuk mengaktifkannya sepenuhnya, saya menunggu indikasi lebih lanjut dari Paus,” tambah Uskup Agung Fisichella, meskipun pekerjaan sudah dimulai.

    “Salah satu prioritas menyangkut penerimaan peziarah dan umat, dengan sejumlah besar peziarah diharapkan di Roma selama Tahun Suci – dengan harapan bahwa dalam dua tahun ke depan keadaan darurat kesehatan tidak akan lagi mempengaruhi kegiatan seperti hari ini,” kata Paus.

    Dia menegaskan bahwa kolaborasi dengan “Kotamadya Roma, dengan otoritas Daerah Lazio dan dengan pemerintah Italia” berjalan lancar sehingga semuanya dapat berlangsung dalam keamanan dan sejalan dengan kapasitas kota untuk menerima pengunjung dengan cara terbaik.

    Tahun Yubileum

    Menyusul Tahun Kerahiman Suci 2015 yang luar biasa yang diinginkan oleh Paus Fransiskus, Yubileum yang akan datang akan berlangsung sesuai dengan norma untuk meninggalkan jarak 25 tahun antara masing-masing tahun.

    Yobel biasa sebelumnya terjadi pada tahun 2000 ketika dunia dan Gereja Katolik bersiap untuk memasuki milenium baru.

    Tahun Yubileum adalah tahun rahmat yang istimewa, di mana Gereja menawarkan kepada umat beriman kemungkinan untuk memperoleh indulgensi penuh. Secara tradisional, itu dimulai tepat sebelum Natal dan berakhir pada Epifani tahun berikutnya.

    Paus meresmikan Tahun Suci dengan upacara pembukaan Pintu Suci di Basilika Santo Petrus.
    Setelah itu, Pintu Suci basilika kepausan lainnya – St John Lateran, St Paul Outside the Walls dan St Mary Major – dibuka dan tetap demikian sampai akhir Tahun Yubileum.

    TERBARU

    TERPOPULER