Saturday, May 18, 2024
More

    Kompendium Katekismus Gereja Katolik: Kemampuan Manusia Untuk Mengenal Allah

    By Winda| MD| KOMSOSKAP

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Santo Agustinus mengatakan “betapa besar dan sungguh agunglah Engkau, ya Allah. Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu, dan tidak tenanglah hati kami sampai kami beristirahat dalam Engkau.”

    Manusia mempunyai kerinduan akan Allah. Hal itu karena Allah sendiri, dalam menciptakan mansusia menurut citra-Nya, telah mengukirkan dalam hati manusia kerinduan untuk melihat Dia. Bahkan walaupun kerinduan ini diabaikan, Allah tidak pernah berhenti menarik manusia kepada Diri-Nya karena hanya dalam Dia lah manusia dapat menemukan kepenuhan akan kebenaran yang tidak pernah berhenti dicarinya dan hidup dalam kebahagiaan. Karena itu, menurut kodrat dan panggilannya, manusia adalah makhluk religius yang memapu masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Hubungan akrab dan mesra dengan Allah mengaruniakan martabat kepada manusia.

    Baca Juga: Kompendium Katekismus Gereja Katolik

    Melalui kerinduan akan Allah menjadi suatu hal yang mungkin bagi manusia untuk mengenal Allah hanya melalui terang akal budi yang dimiliki. Dengan bertolak dari ciptaan, yaitu dari dunia dan pribadi manusia, hanya melalui akal budinya manusia dapat mengenal Allah secara pasti sebagai asal dan tujuan alam semesta, sebagai kebaikan tertinggi, dan sebagai kebenaran dan keindahan yang tak terbatas.

    Kerinduan akan Allah

    Dalam hal ini mungkin akan ada yang mempertanyakan “apakah terang akal budi saja sudah memadai untuk mengenal misteri Allah?”

    Jika hanya melalui terang akal budi saja, manusia mengalami banyak kesulitan untuk mengenal Allah. Dengan kekuatannya sendiri manusia sungguh-sungguh tidak mampu masuk ke dalam kehidupan intim misteri ilahi. Karena itu manusia membutuhkan pencerahan melalui wahyu; tidak hanya untuk hal-hal yang melampaui pemahamannya, tetapi juga untuk kebenaran religius dan moral, yang sebenarnya tidak melampaui daya tangkap akal budi manusia. Bahkan dalam kondisi saat ini, kebenaran-kebenaran tadi dapat dipahami dengan mudah oleh semua manusia, secara pasti dan tanpa kesalahan.

    Sebuah pertanyaan lain muncul “bagaimana manusia dapat bicara tentang Allah?”

    Baca Juga: Kompendium Katekismus Gereja Katolik: Rencana Allah untuk Manusia

    Nah, sebagai titik tolak, manusia berbicara tentang kesempurnaan manusia itu sendiri dan ciptaan lainnya, yang meskipun terbatas merupakan cerminan kesempurnaan Allah yang tak berkesudahan. Namun kita perlu terus-menerus memurnikan bahasa kita sejauh itu mungkin walaupun harus kita sadari bahwa kita tidak akan pernah dapat mengungkapkan misteri Allah yang tak terbatas.

     

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles