Friday, April 17, 2026
More

    Menilik Jejak Gereja Kristus Raja Paroki Sambas

    Oleh: Samuel (Sumber: Kristus Raja Paroki Sambas)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Sebagaimana dikatakan pepatah berbunyi demikian: “Peristiwa sekecil apapun, pada saatnya akan  menjadi sejarah” demikian sama halnya dengan sebuah peristiwa yang sengaja diciptakan dan dibuat demi menyebarkan ajaran kasih.

    Dirilis dari akun resmi Blogspot_Paroki Sambas  diceritakan sejarah singkat Gereja Katolik Kristus Raja Sambas yang diambil dari Sumber:  P. Markus Use OFMCap dalam Buku Kenangan Perayaan Satu Abad Paroki Sambas: November , 1913-2013. Paroki Sambas, Sambas, 2013.

    Baca Juga:

    Sebuah Permandangan Belantara 

    Suasana kota Sambas pada zaman masa itu (kisaran tahun 1905-1906) lebih menyerupai kampung daripada kota. Sambas terletak di pinggiran sungai. Tidak ada jalan darat. Yang ada hanyalah jalan setapak yang menghubungkan rumah dengan rumah.

    Sungai menjadi sarana berlalu-lintas. Rumah-rumah di pasar memang berdekatan, tetapi selebihnya rumah berserak-serakan. Banyak tumbuh pohon kelapa dan karet dan sebagiannya adalah semak-semak. Mayoritas penduduk adalah Melayu dan Tionghoa dan kedua bahasa itulah bahasa sehari-hari mereka.

    Sejak dahulu kala, Sambas adalah bagian dari wilayah kesultanan dan Sri Sultan memainkan peranan penting dalam birokrasi pemerintahan. Orang Dayak belum banyak didapati di kota Sambas sebab mereka berdomisili di pedalaman pada waktu itu.

    Lahirnya Paroki Kristus Raja Paroki Sambas

    Kala itu, sebelum Paroki Sambas didirikan secara resmi, daerah ini sudah dikunjungi oleh Pastor Beatus dari Singkawang (1906-1908), kemudian oleh Pastor Marcellus dari Pemangkat (1908-1913).

    Belum ada stasi resmi di Sambas. Kedatangan mereka secara berkala untuk mengunjungi beberapa keluarga Tionghoa. Beberapa anak dibawa ke asrama pastor di Singkawang dan kebanyakan dari mereka dipermandikan. Mereka inilah yang kemudian menjadi pelopor Paroki Sambas.

    Pada 23-25 Oktober 1909 dalam rapat Definitorium Ordo Kapusin dibicarakan usaha untuk untuk mendirikan sebuah stasi baru di Sambas. Pertimbanganya ialah di Sambas sudah ada cukup banyak yang Katolik. Anjuran dari hasil rapat Ordo tersebut belum sepenuhnya ditanggapi, sebab terbatasnya tenaga yang bisa diutus ke wilayah Pantai Utara Borneo itu.

    Awal Desember 1913 Pastor Fidelis A. Tonus menyatakan kesiapannya membuka pelayanan di Sambas. Karena itulah, maka pada 1913 Paroki Sambas secara resmi dinyatakan berdiri dan Pastor Fidelis adalah Pastor Paroki pertama.

    Batas teritorial Paroki Sambas waktu itu mencakup seluruh wilayah Onderafdeling (kewedanan) Sambas dan di wilayah Onderafdeling Bengkayang sampai pada bagian hulu dari sungai Sambas (songkong/sungkung). Setelah diangkat menjadi Pastor di Sambas, Pastor Fidelis masih tinggal di Pemangkat bersama dengan Pastor Marsellus. Sambas belum ada tempat tinggal yang permanen.

    Buku Permandian di bawah tahun 1942 hilang pada zaman Jepang sehingga informasi tidak ada lagi. Misi pelayanan sepenuhnya waktu itu terarah kepada orang Tionghoa, belum ke daerah- daerah yang didiami orang Dayak (Bantanan dan Subah).

    Pertualangan Tourne

    Berangkat dari Pemangkat, Pastor Fidelis tourne ke Sambas hingga menuju Paloh. Saat itu bersama seorang guru agama Tshang A Kang dengan kapal uap. Dengan perahu penumpang beratap mereka berdua menyusuri terusan sungai hingga sampai di Kartiasa yang terletak di Sungai Sambas Besar.

    Perahu terus ke arah hulu sampai sungai Bantanan dan sungai Serabi. Perahu masuk sungai Serabi. Melalui anak sungai mereka sampai di Pimpinan. Malam tiba, mereka mencari tempat untuk menginap, dan mengetuk pintu rumah seorang Tionghoa yang tidak mereka kenal dan bermalam di situ.

    Tourne diteruskan menyusuri jalan tikus dengan kaki telanjang sebab kondisi jalan tanah dan licin. Banyak jembatan terbuat dari kayu-kayu bulat. Sepanjang perjalanan mereka menyusuri hutan rimba dengan pepohonan besar yang masih primer. Ketika keluar dari hutan, mereka sampai di laut Tiongkok.

    Melalui laut Pastor Fidelis sampai di Tanah Hitam. Mereka berdua bermalam di rumah seorang Tionghoa yang dikenal. Jalan diteruskan ke kampung Niku (Liku), dan bermalam di rumah orang Tionghoa, famili seseorang asal Sambas. Waktu malam banyak orang berkumpul, Tshang A Kang berbicara tentang agama Katolik.

    Orang Niku menginginkan agar mereka tinggal lebih lama di situ. Ketika mengunjungi seorang Eropa di Niku, Pastor Fidelis berkesempatan naik kapal layar dan langsung menuju Paloh sasaran tournenya. Di Paloh, mereka menumpang di rumah seorang tauke kaya, rumahnya besar sekali dan semua penghuni belum beragama kecuali seorang anak laki-laki. Si bapak tidak setuju bila cucunya dibaptis namun akhirnya dibaptis juga.

    Terjangan Badai Topan

    Untuk kembali ke Pemangkat, Pastor Fidelis menumpang kapal layar milik tauke tersebut. Perjalanan dari Paloh ke Pemangkat ditempuh kurang lebih tiga hari.

    Dalam perjalanan menuju Pemangkat, Kapal yang mereka tumpangi terdampar di pasir panjang Tanah Jawai akibat badai topan yang menghantam kapal mereka. Topan malam itu mengakibatkan kapal mereka terdampar di pasir.

    Semua harus menunggu hingga air laut naik. Beberapa kali usaha gagal hingga menunggu air laut pasang kembali. Akhirnya usaha itu berhasil dan kapal layar dapat meneruskan perjalanan ke Pemangkat.

    Selama tiga hari Pastor Fidelis berada di laut dengan pakaian yang tak berganti. Ia tiba kembali di rumah dengan tenaga yang habis terkuras karena perjalanan panjang yang melelahkan. (Sz).

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles