Friday, May 1, 2026
More
    Home Blog Page 121

    Getaran Hati Menyapa Cinta

    Getaran Hati Menyapa Cinta- Oleh: Farlin Damas, MTB

    MajalahDUTA.Com, Cerpen- Kala itu, tatapanmu sungguh menggoda. Lorong-lorong yang kita lewati tiap hari menjadi saksi bisu antara kau dan aku.

    TerKadang saya bertanya dalam hati. Apakah cinta dan dosa  di balik Murninya panggilan suci ini, merupakan pengalaman manusiawi seorang religius?

    Pernahkah kau menyaksikan kolapsya lapisan kokoh sebuah bendungan oleh tekanan volume air yang kian membesar…? Tak perlu kau jawab.

    Karena kuyakin sebagian besar di antara kamu pasti belum pernah menyaksikannya. Apalagi ini cuman kata-kata kiasan tuk melukiskan suasana hatiku yang rindu akan seseorang yang tak kau kenal.

    Ya…, arus memori tentangmu begitu meluap-luap dalam hati yang terbuat dari daging dan darah ini. Album tentangmu sengaja kubuka tuk merefres kembali ingatan tentangmu. Rambut hitam sepanjang sebahu, senyum tipis yang anggun dan mempesona terlihat jelas di rautmu. Tingkahmu yang lincah dan suara selembut melodi klasik, kini bergejolak dengan hebat dalam sanubari.

    Baca juga: Cium Pertobatan

    Aku tenggelam dalam kenangan masa itu. Dengan album yang sedang kutatap sebagai pemandu petualang disetiap moment yang telah dilewati. Namun satu yang berkesan adalah: moment perjumpaan pertama kita.

    Dinginnya udara malam dan derunya hujan semakin membawaku ke dalam kekhusyukan kalbuku. Imajinasi-imajinasi liar mulai membanjiri diriku. Aku mulai  menatap kosong ketika kubuka album tentangmu. Kuakui, kau memang cantik, seksi, dan mempesona.

    Mengekang Niat

    Hari itu aku masih ingat dalam memoriku. Hari itu Senin, 3 September 2018 tepatnya  di Ruang kelas Timor, kampus PENDIKAT Yogyakarta. Momen ini sebagai  perjumpaan kita pertama. Ketika itu, engkau tampil mempesona bersama teammu yang akan memperkenalkan sebuah tarian khas daerah Lampung.

    Panorama ini masih kuingat sebagai acara pembukaan bersama dalam Kursus Bina Awal (KUBINA). Satu per satu dari kalian, mulai memperkenalkan diri usai menampilkan tarian yang dibawakan dengan penuh emosianal, epik dan ciamik. Singkatnya, performa kalian perfect gitulah.

    Dari sekian yang memperkenalkan diri, entah mengapa nama dan karakteristik pembawaanmu membelalakkan mata ku.  Suaramu terngiang di telingaku, dan kepribadianmu berkesan di hatiku.

    “Hai..perkenalkan… namaku: Pustika Dewi Ratu….” Nama akrab bisa dipanggil Dew, lho… Ucapmu penuh suka-cita dengan wajah berseri-seri. Menambah pesonamu yang istimewa. Kemudian menyebabkan riak dalam tenangnya danau hatiku dengan sejuta imajinasi. Entah mengapa, kau seakan dirasuki oleh seluruh pribadi mu.

    kau bagaikan bidadari yang turun dari surga untuk disaksikan olehku. Entah mengapa kau sendiri menonjol dalam hatiku bagaikan bintang kejora.

    Aku mulai memaksa niatku, tuk berkenalan denganmu secara pribadi setelah acara pembukaan KUBINA. Pesonamu seakan memicu adrenalinku tuk mendekatimu dengan segudang trik. Akan tetapi, aku harus mengekang niatku. Ramainya acara, riuhnya musik, dan kacaunya suasana adalah penyebab gagalnya niat ini.

    Ya… Aku harus mengurung niat. Kubiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja dengan gelombang harapan yang besar dan mengharapkan kesempatan lain tuk bertemu.

    Akhirnya perjumpaan ini berakhir dengan ajakan pulang oleh saudara-saudaraku yang belum memahami artinya cinta.  Atau mungkin juga sudah memahaminya namun sengaja mengabaikannya dengan alasan panggilan suci.

    Baiklah jika perjumpaan ini berakhir begitu saja, aku akan mengumpulkan keberanian tuk berjumpa lagi di lain waktu. Selorohku dalam batin.

    Waktu Yang Tepat Dan Jarak Yang Sakit

    Waktu telah datang dengan banyak kesempatan.  Hari Selasa dan Rabu adalah hari yang telah ditetapkan oleh para formator antar tarekat religius untuk kegiatan KUBINA, selama bulan September 2018 sampai Januari 2019.

    Itu merupakan hari-hari terindah bagiku. Bahkan kuingin menyampaikan pintaku kepada Sang Pencipta Waktu tuk memangkas hari lainnya dan menyisahkan hari Selasa dan Rabu saja. Ahhhh… sungguh konyol.

    Kini niatku terpenuhi. Aku berhasil mendekatimu. Ohh… waktu dan kesempatan ini membuat kita terlampau dekat. Kenyamanan dan kehangatan mulai tercipta antara kita. Motivasi hidup selibat terabaikan.

    Aku menatapmu saat bercumbu seakan-akan ingin membuat album dari kamera mataku kemudian kusimpan dalam memori ingatanku dan kubawa tuk menemani imajinasiku. Aku terpapar virus budak cinta alias “bucin”.

    Baca juga: Preman Berbaik Hati

    Ya, virus ini meracuni hidupku. Pilihanku menjadi dua jalur. Aku bertarung dengan kebimbangan tuk memilih, yang membuatku lelah secara spiritual. Doaku terasa hampa. Kerjaku tidak energik, dan belajarku merosot bagaikan hidup tanpa roh. Namun, Dia yang memanggil dan memilihku tak membiarkanku berlarut dengan virus itu.

    Formatorku telah mengamati gerak-gerikku dalam diam tanpa kata teguran, hingga suatu bimbingan di akhir semester masalah ini turut menjadi perbincangan serius. Dengan pengakuan yang jujur, janji, dan ketegasan pilihan menjadi hasil dari bimbingan itu. Aku keluar dengan niat untuk berubah dan kembali lagi pada maksud dan tujuan kedatanganku di rumah formasio MTB.

    Aku terpaksa harus menjaga jarak yang membuatmu bertanya-tanya. Maafkanlah aku,  bila itu menyakitimu. Namun sesungguhnya bukan niatku tuk menyakitimu. Hasrat tuk memilikimu mulai kupendam. Jarak antara kita kian meluas. Periode KUBINA berakhir dan kita pun berpisah tanpa kata dan motivasi.

    Perjumpaan Melodramatis

    “Far… Far… Far!!!…”.  Ahh… Suara memohon dan terdengar familiar di telingaku saat itu.  Sontak terdengar begitu kuat,  menggelegar, menggetarkan jiwa. Kekuatan kata kata itu  memutus jalan logikaku. Mebekukan otak, dan memilukan hati. Ya, Tuhan… mata dan dan senyuman itu membekukanku seketika.  “i… iya Dew….!” jawabku terbata.

    Duhai bidadari… kau berhasil mebuat lidahku kaku dan mulutku berat tuk menjawabmu. Waktu itu tepatnya   9 Oktober 2019. Perjumpaan yang melodramatis terjadi lagi antara kita di ruangan Kursus Gabungan Novis (KGN) tentang Discernment atau pembedaan Roh Baik dan Roh jahat, khas Latihan rohani ala Serikat Jesuit.

    Wisma Sarasvita menjadi saksi bisu kita. Kita Kembali menjalin relasi yang normal seakan tak terjadi apa-apa di masa lalu. Kuterima dan kuakui perubahan sikap antara kita. Namun, waktu seakan ingin mengubah situasi ini. Kesempatan dan perjumpaan ini kembali menghangatkan rasa. Gelombang cinta yang sengaja dipendam kembali mengamuk dan menghantam segala sekat yang merintangi perjumpaan ini. Tanpa kata, tanpa alasan, dan tanpa ragu. Arus cinta antara kita mulai menyatu kembali.

    **********

    Tanggal 10 sampai14 Desember 2019,  di Wisma Salam yang terletak di pinggir sungai Progo, di bawah kaki gunung Merapi dan Merbabu, dengan sejuta keistimewaan alam yang memanjakan mata, di tenganh Kab.

    Magelang. Kini menjadi tempat yang sengaja dipilih untuk program KGN Psiko-Seksual. Tak dipungkiri bahwa kita akan berjumpa lagi.

    Malam itu, setelah makan malam bersama sebelum melanjutkan materi, aku berjalan menyusuri lorong-lorong bangunan peninggalan Rm. Mangun Wijaya, Pr. Aku mengagumi arsitek bangunan yang ramah lingkungan dengan batu alam dari sungai Progo. Tak sengaja aku berjumpa denganmu. Kemudian sapaan dan ajakanmu menambah kesejukan lingkungan ini.

    “Far… ayo kita jalan-jalan….” Pintamu dengan tulus. “Ok… ayo jalan-jalan, tapi ke mana?” tanyaku dengan penasaran. “Ikut saja” jawabmu.  Jalan dipandu olehmu dan aka tak tahu tujuannya hingga tiba di sebuah Lorong gelap antara Gedung penginapan dan kapel. Kau berhenti melangkah, berbalik dan menatapku serius.

    Tiba-tiba sebuah pertanyaan keluar dari bibirmu bagaikan anak panah yang meleset dari busurnya.

    Baca juga: Pelatihan menulis berita dan Teknik Live Report RADIO

    “Eh, Kamu waktu KUBINA dekat dengan saya, tapi kemudian menjauh apakah kamu membenciku?”Tanyamu penuh harap tuk segera mendapat jawaban dariku.

    Aku terpaku dalam diam. Pertanyaamu memaksa otakku tuk mencari jawaban. Namun nyatanya aku tak menjawabnya apa-apa. Sebuah gerakan spontan di luar kendali.  Terpaksa kulakukan tuk memecah sunyinya malam dan mencairkan ketegangan. Namun tindakan itu melebihi batas. Kukecup keningmu dan kurasakan hangatnya suhu tubuhmu. Kudekapmu erat dan melanjutkan gerakanku. Tubuhku menegang bagaikan arus listrik yang sedang mengalir dalam tubuhku.

    Kutundukkan kepalaku dan kau menyambutnya dengan menegakkan lehermu. Kemudian kurasakan hangat dan manisnya kata-kata yang seksi dari bibirmu. Pekatnya malam menyaksikan tindakan cinta kita penuh sensional romantika. Kuhentikan gerakan di luar kendali ini dan kita mulai membisu. Suasana mencekam. Kaupun tak memaksa jawabku lagi seakan telah mengetahuinya dari tindakanku bahwa aku mencintaimu.

    Kubawa Pesanmu

    Perjumpaan yang menggoda dan merayu nan hangat itu berlalu.  Kita kembali mengikuti materi sebagamana mestinya,  seakan tak terjadi sesuatu antara kita. KGN tahap ini kita lewati bersama hingga selesai. Kita kembali berpisah dengan harapan untuk bertemu lagi di lain waktu. Kenangan manis ini tersimpan dalam tulang dan darah. Tak dapat diambil orang dan menjadi milik kita dengan rasa yang berbeda.

    Hemm aku masih ingat tanggal 16 Agustus 2020. Akhirnya sebuah keberuntungan datang dari wabah covid-19. Semua warga diwajibkan tuk vaksinasi. Ketika itu vaksinasi dikhuskan tuk kalangan religius dan kita bertemu lagi dengan jarak yang diatur 1 (satu) meter. Komikasi yang terbatas, dan menghindari kontak langsung.  Ohh… Tuhan, keberuntungan ini datang dengan persyaratan yang ketat. Pandanganku terarah padamu. Kau membalas pandanganku dengan penuh arti.

    Dari kejauhan kubaca rautmu yang hendak mengatakan sesuatu. Matamu Dew, yang indah dan gerak-gerikmu mengingatkanku pada momen pertamaku menyaksikanmu di depan kelas Timor, kampus PENDIKAT Yogyakarta. Aku menertawakan diriku dalam diam.

    Selesai proses vaksinasi dan semua peserta mulai bergegas tuk meninggalkan antrian menuju tempat parkir. Kita bertemu dengan jarak dekat. Bisikan suara indah, murni, dan menyejukkan terdengar kembali oleh telingga ini.  Bisikan kata-katamu meninggalkan sebuah pesan singkat dan bermakna.

    “Far… jangan nakal lagi di tempat karyamu ya…”. Bisikmu dengan tulus. Hatiku tenang setelah mendengar pesanmu. Akan kusimpan pesanmu dalam lubuk hati terdalamku dan kubawa kemanapun aku diutus.

    Akhirnya kita berpisah dan entah kapan lagi akan berjumpa atau bahkan mungkin takan pernah berjumpa lagi. Aku di utus ke Kalimantan Barat dan kamu ke Lampung. Jarak yang membentang luas dan tak terhingga. Akan tetapi, kenangan dan namamu serta pesanmu kubawa sebagai pengalaman dan cinta terakhir yang kurasakan darimu.

    Pengalaman ini sebagai koleksi terindah dan akan kusimpan dalam museum perjalanan dan sejarah panggilanku.Terima kasih cinta. Terima kasih Maha Cinta, yang menciptkan kami. Terima kasih Dew, untuk semua rasa yang kau torehkan dalam diriku degan tinta permanen yang disebut ‘pengalaman’ sebagai jalan keindahan bersam DIA yang kita temukan. ****

    Untuk Wujudkan Indonesia Kuat, ORARI Ajak RRI Massifkan Kolaborasi

    Untuk Wujudkan Indonesia Kuat, ORARI Ajak RRI Massifkan Kolaborasi

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, adalah suatu ungkapan yang seringkali diucapkan oleh Bung Karno Presiden Pertama RI pada setiap kesempatan, untuk mengingatkan pada setiap warga Indonesia terutama generasi muda, agar tidak mudah melupakan sejarah kehidupan bangsanya, hal ini juga terkait dengan sejarah lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI), yakni tanggal 11 September 1945 silam, menjadi momentum dimulainya siaran dari RRI, yang hingga saat ini di usianya ke 77 ini, tetap mendapat respon positif dari masyarakat di berbagai penjuru negeri.

    Sama halnya dengan ORARI, RRI yang menggunakan Radio sebagai media informasi sangat besar konstribusinya dalam era perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia, juga dalam menghadapi tantangan agar RRI dapat tetap eksis dalam melayani masyarakat di era digitalisasi, demikian disampaikan Suryo Susilo, YBØJTR Ketua ORARI Pusat kepada awak media, Minggu, 11 September 2022 di Jakarta

    “Ibarat kata RRI itu adalah saudara tua ORARI, yang sama-sama berada dalam bidang komunikasi menggunakan perangkat radio, dan tentunya dalam perjalanannya juga memiliki berbagai tantangan yang harus di hadapi” ucap Suryo Susilo, YBØJTR

    Menurut Suryo Susilo, YBØJTR. Radio tidak hanya menjadi sekadar peranti hiburan, tetapi sejak lama juga disadari peran strategis RRI. Mulai dari siaran kebudayaan hingga alat perjuangan melawan penjajah, dan hingga saat ini di usianya ke 77, eksistensi dan peran Radio dihadapkan pada tantangan, terutama dalam perkembangan teknologi informasi di era digitalisasi, yang sarat dengan masuknya berbagai informasi melalui berbagai model alat komunikasi.

    RRI dan ORARI sesuai dengan visi dan misi masing-masing berada pada situasi yang memerlukan adanya sinergisitas dan kolaborasi.

    Dan antara RRI dengan ORARI sudah terbangun sinergitas dan kolaborasi dengan ditanda tanganinya Nota Kesepahaman (MoU) RRI dengan ORARI pada 28 April 2022, yang intinya dalam setiap penyelenggaraan tugasnya RRI membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam melakukan diseminasi informasi.

    “Dengan jumlah anggota yang mencapai lebih dari 49.000, ORARI memiliki potensi untuk membantu menyiarkan layanan informasi publik di daerah yang mungkin tidak terjangkau oleh RRI, misalnya untuk menyebarluaskan informasi tentang kebencanaan yang terjadi di kawasan pegunungan dan lautan yang sulit dijangkau oleh siaran RRI” tukas Suryo Susilo, YBØJTR.

    Karena itu, lanjut Suryo Susilo, YBØJTR, sangatlah tepat apabila pada momentum peringatan HUT RRI ke 77 yang mengambil Tema “Kolaborasi Untuk Indonesia Kuat”, yang memiliki makna bahwa kolaborasi itu merupakan suatu keniscayaan yang harus dijalin, dibangun, dipererat, serta dimassifkan dalam suatu aksi nyata yang dapat berkonstribusi bagi terwujudnya Indonesia Kuat, terutama dibidang komunikasi dalam menghadapi tantangan yang tidak dapat dipandang sebelah mata, terutama dalam situasi dan kondisi yang terjadi akhir-akhir ini. Tanpa berkolaborasi, maka berbagai tantangan tersebut tak dapat diselesaikan dengan baik.

    “Selamat memperingati HUT RRI ke 77, Semoga RRI dapat semakin jaya, semakin eksis, dan semakin massif dalam menjalin kolaborasi dengan pihak manapun, termasuk dengan ORARI, agar bersama-sama dapat mewujudkan Indonesia Kuat, Bravo RRI, Sekali di Udara Tetap Di Udara” pungkas Suryo Susilo, YBØJTR.

    Persiapan Perayaan Pesta Perak 25 Tahun Imamat 5 Imam Kapusin Pontianak di Singkawang

    Suasana Rapat, Oleh Cinda Leo Morgan - Paroki Singkawang

    MajalahDUTA.Com, Singkawang- Perayaan 25 tahun biasanya disebut sebagai Pesta perak. Pesta Perak imamat adalah sebuah momen sukacita, syukur dan berbagi untuk memberi apresiasi, arti dan makna atas sebuah rentang waktu perjalanan seseorang dalam menghidupi panggilannya. 25 tahun menjadi titik istimewa untuk menoleh kembali ke belakang.

    Adapun 5 Imam Kapusin Pontianak yang akan melaksanakan Pesta Imamat kali ini adalah, Pastor Joseph Juwono, OFMCap, Pastor Yanto, OFMCap, Pastor Inno Sialim, OFMCap, Pastor Erwin, OFMCap, dan Pastor Cahyo, OFMCap.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Tema Perayaan Pesta Perak 25 Tahun Imamat 5 Imam Kapusin Pontianak kali ini adalah “Serahkan Hidupmu Pada Tuhan, Percayalah dan Ia Akan Bertindak” (Mzr 37:5).

    Selasa, 07 September yang lalu Dewan Pengurus Paroki (DPP) Paroki Singkawang bersama dengan semua Panitia yang terlibat dalam Pesta Perak 25 Tahun ini mengadakan Rapat Persiapan Pelaksanaan Pesta Perak 25 Tahun Imamat 5 Imam Kapusin Pontianak.

    Rapat kali ini adalah Rapat kedua setelah Rapat Pertama yang diadakan pada Bulan Juli lalu.

    Didampingi Pastor Frederick Samri, OFMCap yang juga sebagai Pastor Penasihat dan Pendamping dalam Perayaan Pesta Perak ini, Ketua Panitia Bpk. Drs. Yulianus Anus, M.T bersama Para Panitia dalam rapat kali ini membahas Rincian Anggaran yang sudah disusun secara detail oleh setia Divisi yang dibentuk.

    Karena anggaran ini nantinya akan digunakan dalam Perayaan Pesta Perak, memang rincian dana tersebut sepertinya belum final, tetapi setelah diadakan diskusi bersama dan ditotalkan, rincian anggaran dana yang akan digunakan sudah mencapai angka 150juta lebih. Adapun anggaran yang dimaksud meliputi, konsumsi, perlengkapan, dekorasi, sekretariat, dokumentasi, humas, dan lain sebagainya.

    Rencananya Perayaan Pesta Perak 25 Tahun Imamat 5 Imam Kapusin Pontianak ini akan digelar di Gereja St. Fransiskus Assisi Singkawang pada Jumat, 21 Oktober 2022. Akan ada Misa bersama umat yang akan di persembahkan langsung oleh Mgr. Agustinus Agus selaku Uskup Agung Pontianak.

    Baca juga: Museum Kapusin, Pusaka Dayak & Tionghua di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

    Mari Bapak/Ibu, Saudara-Saudari yang dikasihi Kristus, Kita dukung bersama acara Perayaan Pesta Perak 25 Tahun Imamat 5 Imam Kapusin Pontianak ini agar Perayaan ini dapat membangkitkan rasa persaudaraan dan kebersamaan yang kuat antara Imam dan umat serta dapat memotivasi umat khususnya para kaum muda dalam menumbuhkan benih-benih panggilan untuk menjadi Imam.

    Semoga Perayaan Pesta Perak 25 Tahun Imamat 5 Imam Kapusin Pontianak berjalan dengan lancar, Tuhan memberkati. Amin.

    Alam pun Berbicara

    Puisi- Alam pun Berbicara

    MajalahDUTA.Com, JPIC- Kupinjamkan kata-katamu, hai manusia

    Untuk mengatakan pedih dan laranya egomu

    Agar kau paham dan insaf betapa sakit dan deritaku

    *

    TANAH: Apakah salahku, hai manusia?

    Engkau dariku dan aku bagianmu

    Kelak engkau kembali menyatu denganku

    Aku menumbuhkan segalanya bagimu

    Darinya engkau bertahan hidup

    Tetapi kau taburi kimia dan mendandani aku dengan sampah

    Dari Nalar yang kau banggakan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

    *

    AIR: Apakah kurangnyaku, hai manusia?

    Aku jauh kau mencariku

    Aku tidak datang engkau merintih

    Aku ada di dalam dirimu,

    tetapi kau cemari aku dengan limbah kimia dan sampah

    aku mengalirkan kehidupan dengan bebas

    namun kau renggut kebebasanku dengan permainan komoditas

    makna dan nilai diriku tidak lebih dari ekonomi

    *

    UDARA: Apakah dosaku, hai manusia?

    Kuberikan diriku dengan cuma-cuma

    Tanpa sedetikpun kutinggalkan dirimu,

    tetapi kau lebih bangga menghirup oksigen dalam tabungan

    Dimanakah pohon-pohon?

    Hutan rimba telah berganti Sawit yang menjanjikan panas membara

    Semuanya bungkam dalam dan demi duit… duit … duit…

    *

    Sadarlah! Kami tidak membutuhkanmu

    Suatu yang pasti kamu membutuhkan kami

    Ilmu dan teknologi telah melenyapkan hidupmu sendiri

    Hidup yang harmonis semakin menjauh

    Seperti mengejar bayanganmu sendiri di siang hari.

    *

    Sikap Hati dan Budi dalam Alam Semesta

    JPIC Kalimantan Barat- Sikap Hati dan Budi dalam Alam Semesta- Oleh: Rofinus Emil Lejap

    MajalahDUTA.Com, JPIC- Fakta menunjukkan dari waktu ke waktu pembangunan pemukiman manusia, berdampak langsung juga bagi hidup manusia sendiri, segala margasatwa, tumbuh-tumbuhan, udara serta air.

    Pengaruh positifnya bahwa pertambahan pemukiman, perluasan lahan perkebunan dan pertanian yang dinikmati langsung oleh manusia dan semua binatang peliharaan.

    Baca juga: JPIC Bruder MTB: Ekopedagogi untuk Masa Depan

    Namun dampak negatifnya relasi kehidupan tidak harmonis lagi yang mendatangkan krisis-sakit sebagai akibat yang tidak dapat dihindarkan, sehingga diperlukan adanya solusi pembaharuan serta perbaikan.

    Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si mengajak seluruh umat manusia untuk merawat dan memelihara bumi sebagai rumah bersama. Memang bumi adalah ‘rumah’ bagi segala ciptaan, sehingga patut dirawat atau dipelihara tanpa tendensi agama, suku bangsa maupun aliran sosial dan politik.

    Teguran Sang Pencipta

    Bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi dan bencana alam lainnya yang sering terjadi, mungkin merupakan teguran Sang Pencipta serta keluhan alam sendiri karena banyak manusia semakin bersikap apatis.

    Pandemi virus corona (Covid-19) seharusnya menjadi kesempatan untuk berdamai dengan semua ciptaan lain, tetapi semua umat bertingkah seperti di “Pasar malam” dan menonjolkan kepercayaan sendiri, sehingga perilaku terhadap alam terabaikan.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Ada bermacam-macam penyebab kerusakan lingkungan alam seperti bencana alam, ulah manusia menggunakan pupuk serta pestisida yang tidak ramah lingkungan, dan sebagainya. Namun ada pihak yang memandang semua itu sebagai hal yang biasa, sehingga tidak perlu dirisaukan.

    Padahal semua bencana alam selalu mengakibatkan duka bagi yang berdampak, seperti bencana kebakaran di Australia, kebakaran di Sumatera dan Kalimantan, letusan gunung Semeru dan Merapi, tanah longsor, banjir bandang di Flores, banjir di Sintang, Melawi, Sekadau, Sanggau dan masih banyak bencana lain.

    Bencana sekecil apapun berdampak kepada kerusakan alam, penderitaan manusia serta semua binatang, dan kekacauan sistem ekologis yang dapat mendatangkan bencana lain. Misalnya bencana kebakaran di benua Australia mengakibatkan badai subtropis yang melanda negara Timor Leste dan Nusa Tenggara Timur.

    Solidaritas ekologis

    Bencana alam dan berbagai kerusakan akibat ulah manusia harus dicari jalan keluar atau solusi untuk mengantisipasi-mengatasinya.

    Manusia hidup di alam dan dari alam yang tidak terpisahkan, sehingga manusia sendiri wajib menjadi pemimpin perbaikan kerusakan alam dan juga duta perbaikan serta pembaharuan.

    Dengan hati manusia dapat merasa senang, gembira, susah dan sedih. Perasaan yang sama dirasakan juga oleh ciptaan yang lain, hanya mereka tidak dapat mengungkapkan semua perasan itu secara naluriah, maka kitalah yang berusaha memahami serta mengartikan perasaan hewani menggunakan rasa solidaritas ekologis.

    Sambil menangis beberapa wanita di Sidney Australia berusaha mengobati kuda, sapi dan kanguru yang luka terbakar dalam bencana kebakaran, sekelompok lain menyiram pepohonan yang sudah menjadi tunggul arang.

    Di Sumatera tampak petugas menarik slang panjang untuk menghentikan kobaran api. Tindakan tersebut dilakukan setelah ada bencana.

    Sikap Santo Fransiskus

    Sementara semua yang aman jauh dari ancaman bencana tersebut, apa yang dapat dibuatnya? Selain mereka hanya menonton, merasa kasihan dan mengelus dada? Tindakan seperti ini tidak akan menyelesaikan persoalan kerusakan lingkungan hidup.

    Untuk itu, kita perlu mengambil sikap hati dan budi dalam menjaga dan merawat alam ini. Kita perlu meningkatkan dan melatih rasa persaudaraan, sehingga memiliki hati dan budi seperti Santo Fransiskus Assisi kepada semua ciptaan.

    Baca juga: Lingkungan dan Kesehatan

    Sikap dan budi dari Santo Fransiskus Assisi seperti di bawah ini menjadi teladan yang harus kita ikuti dalam menjaga dan merawat ibu bumi rumah kita dari krisis multidimensi, sebagai berikut:

    1. Memelihara rasa solidaritas kepada semua ciptaan, biarpun mereka tidak berakal budi.

    2. Semua ciptaan tidak mau disakiti, maka jangan menyakiti mereka, kecuali tumbuh-tumbuhan (Bdk. Kejadian 1:29).

    3. Tanah atau bumi adalah ibu yang memberi makan, minum, dan sebagai tempat berekspresi.

    4. Air tercurah jauh dari langit untuk menghidupkan, menyegarkan, dan menjadi sarana kebersihan, gunakan air secara bermartabat; jaga kebersihan sungai, jangan membuang sampah sembarangan.

    5. Udara adalah napas hidup, minimalisir penggunaan kendaraan yang membuat polusi udara, asap dari cerobong pabrik perlu dicari solusi yang relatif aman untuk semua makhluk hidup.

    6. Untuk skala mini di rumah tangga, gunakan semua sarana secara bermartabat; sabun, sampho, odol gigi, pupuk tanaman pot, dan lain-lain.

    Manusia adalah citra Allah maka peliharalah martabat itu dengan sikap hati dan budi yang positif kepada semua ciptaan. []

    Apasih Tribunal Gerejawi ?

    Andrew Birrell (after Henry Fuseli), Caractacus at the Tribunal of Claudius at Rome (1792)- Gambar dari Wikipedia tentang Tribunal (Ilustrasi)

    MajalahDUTA.Com, TRIBUNAL- Hallo sahabat pembaca setia DUTA, apakah anda salah satu orang yang asing dengan istilah ‘tribunal gerejawi”? Atau apakah anda pernah mendengarnya tapi bingung untuk mengerti konteks itu secara garis besar?

    Semoga artikel ini bisa sedikit membantu para pembaca untuk mamahami garis besar tentang Tribunal Gerejawi.

    Data ini merupakan data yang dikumpulkan oleh Tim DUTA- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak khusus membahas secara singkat apa saja yang ada dalam Tribunal Gerejawi dan fungsinya dalam menangani kasus.

    Apa itu Tribunal Gerejawi?

    Istilah Tribunal Gerejawi umumnya diterjemahkan dengan kata “Pengadilan Gerejawi”. Perkembangan umat Katolik kian pesat. Seiring dengan pertambahan jumlah keluarga Katolik, rentetan masalah keluarga atau masalah-masalah lain mulai bermunculan.

    Terkadang suami -istri tidak sanggup mencapai kesepakatan untuk hidup bersama. Terkait dengan kasus-kasus ini, Gereja Katolik membentuk “Pengadilan Gerejawi”, supaya perkara-perkara ini dapat ditangani dengan baik dan adil.

    Berkenaan dengan pentingnya kesejahteraan umat Katolik, maka Keuskupan Agung Pontianak, tepat pada tanggal 12 Oktober 2010, telah membentuk Tribunal Gerejawi yang terdiri dari (1) Vikaris Yudisial (Vikyud) yang bertugas memimpin Tibunal Keuskupan dan dalam menunaikan tugas pelayanan Vikyud berada dibawah dan atas bimbingan Uskup Diosesan; (2) hakim memegang kuasa yudikatif yang menangani semua perkara di keuskupan.

    Hakim dalam Tribunal Gerejawi

    Berdasarkan kuasa kepemimpinannya, uskup diosesan sendiri adalah hakim tingkat pertama yang dapat melaksanakan kuasa yudisialnya secara pribadi ataupun melalui orang lain.

    Hakim diangkat olehh uskup diosesan untuk membantu vikyud. Hakim adalah orang yang bernama baik dan bergelar doktor atau licensiat dalam bidang hukum gereja (Kan 1421,3).

    Hak dan wewenang antara lain membatalkan keabsahan sebuah tindakan yang dilakukan hanya karena ketakutan yang besar atau yang timbul secara tak adil ataupun karena penipuan; menentukan hukum dalam kasus pidana; memperingan hukuman atau menggantikannya dengan penitensi bagi pelaku pelanggaran karena gangguan akal budi.

    Sedangkan tugas kewajibannya tidak menjatukan hukuman yang terlalu berat (censura) kecuali beratnya perkara menuntut demikian; menjunjung tinggi keadilan dan menolong pihak bersengketa mencari pemecahan dengan mengutamakan penyelesaian secara damai.

    Auditor dan Defensor vinculi

    Auditor ditunjuk oleh hakim atau ketua pengadilan kolegial untuk mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti perkara.

    Dia dapat dipilih dari salah seorang hakim pengadilan atau oranglain yang disetujui oleh uskup.

    Hak dan wewenangnya diatur sesuai mandat dari hakim. Dia tidak berkuasa menjatuhkan vonis di pengadilan. Tugas dan kewajibannya mengumpulkan bukti-bukti perkara sesuai dengan permintaan hakim, baik dari saksi-saksi maupun dokumen-dokumen yang diperlukan.

    Defensor vinculi adalah orang yang diangkat secara khusus untuk mengetengahkan dan menguraikan segala sesuatu secara wajar untuk membela keabsahan ikatan perkawinan dalam perkara pembatalan atau pemutusan perkawinan (Kan 1432).

    Defensor vinculi bertugas bertugas mengajukan kepada hakim daftar pertanyaan untuk menginterogasi pihak-pihak yang bersangkutan dan para saksi.

    Notarius dan Advocatus

    Notarius adalah jabatan yang tidak bisa digantikan dalam memproses sebuah perkara. Tanpa tanda tangannya secara pribadi, segala akta batal ipso iure (menurut hukum).

    Tugas utama, antara lain, menyiapkan data dan instrument mengenai dekrit-dekrit, menjaga kerahasiaan akta, harus hadir dalam pembahasan perkara pembatalan perkawinan.

    Tentu, di samping itu, masih ada promotor iustitia, imam yang ditugaskan untuk meneliti masalah-masalah kriminal yang bisa membahayakan kesejahteraan umum.

    Advocatus (pengacara) ditunjuk dengan bebas oleh pihak berperkara guna membela dan melindungi haknya melalui argument hukum dan fakta. Dia berhak mendampingi terdakwa dalam peradilan pidana.

    Hanya, sebelum sampai ke Pengadilan Gerejawi, sebaiknya, Pastor Paroki dan Komisi Keluarga berusaha menangani masalah-masalah keluarga dengan cara damai sehingga mereka dapat bersatu kembali. Semoga!!!

    JPIC Bruder MTB: Ekopedagogi untuk Masa Depan

    Ilustrasi: Ekopedagogi untuk Masa Depan

    MajalahDUTA.Com, JPIC- Pada tanggal 11 Maret 2021 Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) merayakan 100 tahun berkarya di Indonesia.

    Perayaan yubelium 100 thn tersebut mengusung tema “Mendidik Tanpa Batas.”

    Tema tersebut dimaksudkan bahwa kelima bruder misionaris awal (Br. Canisius van de Ven, Br. Martenus Brouwers, Br. Longinus, Br. Serafinus van Tilborg, dan Br. Leo Geers) datang ke Borneo, Indonesia dengan berkobar-kobar menyebarkan pengetahuan dan menebarkan iman kepada orang muda yang lemah jasmani dan rohani.

    Mereka mengabdikan diri di bidang pendidikan baik di sekolah maupun asrama. Dalam pengabdian tersebut mereka menghidupi semangat Simplisiter et Confidenter (kesederhanaan dan kepercayaan) yang merupakan moto dari Mgr. Johannes van Hooydonk Keuskupan Breda, pendiri Kongregasi Bruder MTB di Huijbergen-Belanda.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Mendidik tanpa batas dimaksudkan bahwa pendidikan atau belajar itu dilakukan terus-menerus sepanjang hayat (long life education). Pendidikan atau pembelajaran tidak terbatas di bangku sekolah. Di bangku sekolah hanya membuka jalan, selanjutnya kita terus-menerus belajar untuk memekarkan diri di segala tempat, waktu dan kesempatan.

    Kita juga dapat belajar dari pengalaman karena pengalaman merupakan guru terbaik. Dunia pengetahuan dan teknologi terus berubah dan sangat cepat perubahannya. Apalagi di saat menghadapi pandemi Covid-19, semua berubah sangat cepat.

    Pendidikan dan pembelajaran yang sebelumnya mengandalkan ruang kelas secara konvensional berubah menjadi pendidikan-pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan internet untuk belajar secara virtual (digital-online).

    Covid-19 mendorong kita berubah dan belajar menggunakan teknologi untuk membantu kita dalam pendidikan-pembelajaran. Dengan demikian, tiap pendidik mau tidak mau belajar menggunakan berbagai aplikasi untuk pembelajaran secara digital (online) bahkan blended learning.

    Pendidikan secara digital

    Pendidikan-pembelajaran secara digital di masa pandemi Covid-19 merupakan alat-sarana untuk membantu proses pemekaran diri orang muda bukan tujuan.

    Kadang-kadang kita sibuk, merasa puas dan berhenti pada penggunaan alat-sarana tersebut, sehingga tidak mencapai esensi dari pendidikan. Pendidikan itu memanusiakan manusia muda agar menjadi manusiawi.

    Artinya dengan pendidikan, pribadi-pribadi mampu membangun relasi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan hidup (alam semesta). Dengan kata lain, pendidikan itu memekarkan diri terutama akal budi (pikiran), hati (afeksi) dan tindakan berupa keterampilan anggota tubuh yang selaras dengan pikiran dan perasaan.

    Selain itu, pendidikan menumbuhkan dalam diri orang muda akan kepekaan, kepedulian, solider, bela rasa dan bela kasih yang sangat diperlukan untuk membangun kesadaran diri akan karakter dan nilai-nilai hidup.

    Pendidikan-pembelajaran secara digital juga perlu membantu orang muda agar memaksimalkan kemampuan mata untuk melihat, telinga untuk mendengarkan, mulut untuk berbicara dan tangan untuk menuliskan pikiran dan perasaannya.

    Baca juga: Tetap Berharap dalam Krisis Ekologi

    Empat hal tersebut dalam Bahasa dikenal sebagai kemampuan untuk membaca, menyimak, berbicara dan menulis. Hal ini menjadi kemampuan dasar dalam pendidikan-pembelajaran (literasi baca tulis). Mustahil kita mengharapkan orang muda belajar dan terus belajar tanpa menguasai kemampuan dasar tersebut.

    Pendidikan dan pembelajaran dewasa ini harus berakar pada konteks lingkungan hidup dan kearifan lokal orang muda (kebutuhan anak).

    Hal ini menjadi point penting yang perlu diperhatikan oleh para pendidik karena kita sedang mengalami Covid-19 dan krisis lingkungan hidup bahkan sedang bergulat dengan krisis multidimensi kehidupan.

    Virus yang menakutkan ini merupakan akibat dari krisis lingkungan hidup, sehingga kita diwajibkan mengikuti peraturan kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

    Walaupun demikian, kita perlu kritis bahwa jangan sampai memakai masker lalu menutup muka (mata) terhadap jeritan sesama dan alam; menjaga jarak lalu menjadikan kita individual; dan mencuci tangan menjadikan kita menjauhkan diri (tenang saja) dari segala krisis lingkungan hidup. Sesungguhnya, bukan alam yang krisis melainkan kita manusialah yang mengalami krisis.

    Generasi Penerus Bangsa

    Pendidikan-pembelajaran mesti peka terhadap krisis manusia dan lingkungan hidup. Perubahan iklim yang ekstrem, polusi atas tanah, air dan udara, kekurangan air bersih, populasi flora dan fauna semakin langka, sampah yang terus meningkat, dan sebagainya menjadi ancaman kehidupan sekarang dan mendatang. A

    kibat perubahan iklim yang ekstrem, ke depan kita akan mengalami kelaparan karena gagal panen dan sulit bagi petani untuk bercocok tanam.

    Maka, persoalan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan ke depan kita sangat tergantung pada impor. Untuk itu, pendidikan-pembelajar perlu mendesain kembali agar model pembelajaran yang menjawab-menanggapi kebutuhan dan kondisi tersebut.

    Orientasi pendidikan orang muda bukan lagi menjadi pegawai negeri karena semakin hari negara semakin sulit membayar gaji pegawainya. Ke depan pendidikan-pembelajaran mendekatkan orang muda pada konteks lingkungan hidup (ekologi) dan berbagai persoalannya.

    Baca juga: Persepsi kami Dayak merawat dan menjaga alam itu penting

    Orang muda diarahkan lebih akrab-dekat dengan tanah, air, flora dan fauna agar bereksplorasi dan kreatif mendayagunakan sumber daya alam tersebut untuk hidupnya. Dengan demikian, gaya hidup konsumsi menjadi penghasil (produsen), sehingga menciptakan lapangan kerja.

    Hal-hal tersebut mendesak ditanggapi, sehingga tiada alasan menjadikan ekologi sebagai bagian dari kurikulum atau diintegrasikan dalam mata pelajaran untuk pembelajaran orang muda sebagai generasi penerus masa depan.

    Dalam buku Punjuru Abad Baru, 100 Tahun Kongregasi Bruder MTB Berkarya di Indonesia telah mengulas persoalan edukasi ekologi dalam perspektif Ekopedagogi.

    Edukasi ekologi dimulai sejak dini dengan memperhatikan 3 pilar ini, pendidikan tentang lingkungan, pendidikan di atau dari lingkungan dan pendidikan untuk lingkungan. Dalam menerapkan ketiga pilar ini, pendidikan ekologi mengacu pada pendekatan ekopedagogi. Dengan demikian, sekolah-sekolah, asrama, kelompok binaan Bruder MTB perlu mendapatnya untuk masa depan.

    Apalagi dalam situasi dan kondisi sekarang ini ibu bumi rumah kita bersama ini sedang sakit-menderita (krisis multidimensi), sehingga sangatlah urgen akan edukasi ekologi dengan model pendekatan ekopedagogi.

    Belajar merespon kebutuhan

    JPIC Bruder MTB mencoba membantu edukasi ekologi dalam menanggapi persoalan krisis tersebut. JPIC menyiapkan tiga tempat (Selat Panjang, Kuala Dua dan Merauke) untuk pembelajaran.

    Pembelajaran yang berbasis lingkungan hidup, kearifan lokal (budaya) untuk menanggapi krisis yang ada. Kita belajar mengolah sampah menjadi pupuk organik, menanam sayuran, buahan, pohon, dan memelihara ikan, ayam, kambing dan sebagainya.

    Kita belajar membuat Eco Enzyme untuk membantu mengatasi pemanasan global-efek rumah kaca dan segala polusi dari bahan kimia. Kita belajar adat budaya kita dalam membangun relasi harmonis antarmanusia, dengan Tuhan pencipta, dan alam semesta beserta isinya.

    Kita belajar pro kehidupan bukan kematian, solider, bela kasih, peduli terhadap penderitaan ibu bumi rumah kita bersama. Dalam bidang Ekopastoral, JPIC Bruder MTB (Br. Joni) merespon kebutuhan anak-anak dengan pondok-bevak pintar kegiatan literasi, pembinaan iman, dan latihan keterampilan yang lain.

    Semuanya itu bermuara pada Gerakan Nurani Ekologi (GNE). Diharapkan dengan GNE dari JPIC Bruder MTB tersebut pada akhirnya untuk membangun gaya hidup cukup-tidak berlebihan, ugahari, bela kasih untuk membangun kasih persaudaraan semesta; gaya konsumsi makanan bukan yang instan melainkan yang alami-natural, organik karena badan-tubuh lebih bersahabat dengan yang organik daripada kimia.

    Baca juga: JPIC (Justice Peace And Integrity Of Creation)

    Selain itu, GNE mendorong kita belajar ramah terhadap lingkungan, merawat, menjaga, melestarikan dan membangun relasi yang harmonis-seimbang satu dengan yang lain.

    Di usia yang ke-100 tahun Kongregasi Bruder MTB, JPIC mendapat “kado”, yaitu rumah di Selat Panjang menjadi sekretariat JPIC dan sebagai tempat kegiatan edukasi ekologi. Gerakan dan kegiatan edukasi ekologi dapat berjalan bila di antara kita (sekolah, asrama, komunitas dan JPIC) mau bekerja sama, kolaborasi, dan bersinergis secara bertanggung jawab.

    Kita mendesain model pembelajaran ekologi dengan pendekatan ekopedagogi secara bersama. Walaupun gerakan kita itu kecil nan sederhana, tetapi bila dilakukan dengan hati yang tulus ikhlas tentu memberi sumbangan berarti dalam meretas krisis multidimensi dan masa depan yang lebih baik.

    Tetap Berharap dalam Krisis Ekologi

    JPIC- Kalimantan Barat

    MajalahDUTA.Com, JPIC- Pemanasan global berdampak langsung pada peningkatan suhu dipermukaan bumi.

    Lapisan ozon sudah berkurang-menipis, sehingga matahari terasa begitu panas yang menyengatkan, kemudian datang hujan dan angin yang dahsyat. Perubahan cuaca-iklim yang ekstrem ini menyebabkan bencana banjir bandang, tanah longsor seperti terjadi di Nusa Tenggara Timur (pulau Timor, Lembata, dan Adonara) setahun yang lalu.

    Selain itu, seperti di Melawi, Sintang, Sekadau, dan Sanggau (Kalimantan Barat) terjadi banjir karena air di sungai meluap, sehingga mengenangi kota dan perkampungan dalam beberapa hari.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Itu semua sebagai tanda bahwa alam-lingkungan hidup tidak bersahabat-harmonis lagi dengan manusia. Lingkungan hidup (ekologi) sedang mengalami krisis atau sakit-menderita bahkan manusia juga ikut merasakannya.

    Bencana yang demikian bukanlah hukuman dari Allah melainkan ulah dari perbuatan manusia sendiri.

    Cerita Nabi Nuh selaras dengan Krisis alam

    Kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya di planet bumi kita sekarang sangat terancam. Ancaman dahsyat dari pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem pada sumber kehidupan, yakni kematian. Hal ini karena egonya manusia yang mencemarkan sarangnya sendiri.

    Bencana banjir bandang dan sungai meluap dalam beberapa hari terendam air mengingatkan kita pada cerita air bah Nabi Nuh (Kej 7:1-24). Cerita itu bukan hanya tentang Allah dan nasib manusia melainkan pemusnahan dan penyelamatan seluruh alam ciptaan.

    Cerita Nabi Nuh ini sangat menarik dan membantu kita menggumuli krisis ekologi. Pengalaman tersebut dapat membangkitkan kesadaran ekologis, memberi peringatan keras akan kerusakan, dan memberi harapan baru bagi kita.

    Kabar Baik Tentang Dunia Ciptaan

    Daging memang lemah, tetapi Roh Allah kuat terus bekerja. Kita tidak dapat mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern mampu memberi solusi teknis atas krisis ekologi. Kita juga tidak terlalu banyak berharap bumi sendiri menyembuhkan dan memulihkan sakit-deritanya sendiri.

    Kita perlu menyadari dan mengakui kesalahan karena sifat serakah, arogan dan eksploitasi, sehingga menimbulkan adanya masalah serius krisis ekologi. Tidaklah cukup hanya menyadari dan mengakui, tetapi kita perlu bertobat secara ekologis. Dosa-dosa ekologis mendorong kita untuk berubah dalam cara pandang, sikap dan tindakan sesuai dengan rencana penciptaan.

    Baca juga: JPIC (Justice Peace And Integrity Of Creation)

    Di sini bukan hanya tugas agama, pendidikan, kebudayaan, melainkan semua bidang kehidupan memberi pencerahan dan dorongan kepada segenap masyarakat untuk menghayati relasi secara baik dan benar terhadap ekologi yang sedang menghadapi krisis dan mengancam kehidupan di planet bumi ini.

    Pertobatan Ekologis

    Pertobatan ekologis didasarkan pada iman. Iman akan Yesus Kristus memberi kita suatu visi yang lebih utuh tentang makna bumi, manusia dan semua makhluk hidup lainnya.

    Iman memotivasi kita untuk melindungi alam ciptaan dan sesama manusia yang paling rentan. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si menyerukan kita perlu menggali motivasi ekologis dalam tradisi iman dan Alkitab.

    Dalam Alkitab kita mendapatkan kabar gembira bagaimana Allah menciptakan alam semesta beserta isinya, kedudukan dan peran manusia atas ciptaan itu.

    Manusia sebagai Citra Allah diberi tanggung jawab untuk mengolah dan mengusahkan alam bukan mengeksploitasi dan merusaknya.

    Kabar gembira ini mestinya diwujudkan juga bila kita berhadapan atau memandang alam raya. Karena alam semesta ini merupakan karya tangan Allah dan jejak Allah, sehingga dengan memandangnya membawa kita sampai pada Sang Pencipta sendiri.

    Hikmat Ekologis dalam Penciptaan

    Kitab Kejadian 1-3 mengisahkan penciptaan dan manusia diberi tanggung jawab khusus terhadap karya ciptaan lainnya. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Manusia diundang untuk masuk dalam relasi harmonis dengan Allah, sesama manusia dan alam semesta.

    Dalam relasi tersebut, manusia berkewajiban merawat, menjamin keberlangsungan- kesuburan bumi demi kepentingan makhluk lain dan generasi yang akan datang. Manusia diberi tanggung jawab untuk menjaga keserasian, keharmonisan, dan keutuhan bumi ciptaan Allah. Hikmat ekologis dari Allah tersebut janganlah disia-siakan demi kepentingan dan kesenangan manusia serta mengorbankan yang lain.

    Bahkan manusia tidak mempunyai hak untuk merusak, mematikan, dan memusnahkannya. Semua ciptaan adalah milik Allah yang dititipkan kepada manusia.

    Walaupun manusia itu lemah, salah, dan dosa, Allah masih mengampuni dan tetap sayang peduli kepadanya. Seperti nabi Nuh, Allah berkenan dan melibatkannya untuk menyelamatkan segala jenis makhluk hidup dalam sebuah bahtera terhadap air bah yang menenggelamkan bumi (Kej. 6:8-10,14, 7:24).

    Pengalaman ini menunjukkan bahwa Allah menyelamatkan dan memulihkan kembali bumi bagi manusia (Kej 8:1-19). Allah tetap setia kepada bumi ciptaan-Nya dengan memanggil Abraham untuk menjadi berkat bagi segala kaum di bumi (Kej. 12:1-3).

    Krisis-krisis ekologi yang kita alami saat ini pun memberi sebuah harapan ada solusi. Krisis ini sebagai ujian bahwa badai pasti berlalu atau habis gelap terbitlah terang. Hikmat akan mendorong manusia selalu berharap pertolongan dan bantuan dari Allah.

    Kristuslah Pendamai Segalanya

    Yesus mendamaikan segala ciptaan, menegakkan keadilan, dan memulihkan keutuhan ciptaan. Hal ini mendorong kita belajar dari Yesus Kristus cara memandang dan menangkap pesan dari setiap makhluk.

    Yesus melihat alam semesta dan manusia sebagai tanda-tanda penyelenggaraan dan kasih Bapa untuk segala makhluk-Nya (Mat. 6:26-30). Mereka semua didandani, dibekali, dan diingat oleh-Nya, sampai yang terkecil pun (Luk. 12:6).

    Benih-benih yang ditaburkan dan jatuh di aneka macam tanah, atau pun biji paling kecil yang menjadi perdu sesawi yang besar, berbicara kepada Yesus tentang hal-ihwal Kerajaan Allah (Mat. 13). Yesus dapat menangkap pesannya sebab Ia hidup dalam keserasian-keharmonisan dengan alam ciptaan. Alam, danau, angin pun taat kepadanya (Mrk. 4:39-41).

    Perjanjian Baru mengajar kita bahwa Kristus berelasi dengan alam ciptaan. Relasi-Nya dengan dunia ciptaan mencakup seluruh perjalanan-Nya dari awal mula penciptaan sampai akhir zaman.

    Baca juga: Persepsi Masyarakat Adat dan Kapitalis terhadap Alam

    Asal dan tujuan seluruh ciptaan ada dalam misteri Kristus. Alam ciptaan bukan hanya baju yang akhirnya kita tanggalkan dan tinggalkan, tetapi berziarah bersama manusia menuju Allah. Di akhir zaman, Anak akan menyerahkan segala sesuatu kepada Bapa, supaya “Allah menjadi segala di dalam segalanya” (1Kor 15:28).

    Tujuan akhir alam semesta pun ada dalam kepenuhan Allah, dan bukan dalam manfaatnya bagi kita (LS 100). Manusia yang diberkati dengan kecerdasan dan cinta, serta ditarik kepada kepenuhan Kristus, dipanggil untuk mengantar semua makhluk kembali kepada Asal dan Tujuan mereka (LS 83).

    Laudato Si

    Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik Laudato Si, “Terpujilah Engkau” (24 Mei 2015) tentang perawatan bumi, rumah kita bersama. Diilhami oleh Gita Sang Surya Santo Fransiskus dari Asisi, Paus mengingatkan kita bahwa bumi bagaikan seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan sebagai seorang ibu yang mengasuh kita.

    Paus berseru agar umat Katolik bersama seluruh masyarakat dunia bangun dari sikap acuh, membuka mata bagi kerusakan bumi, mencari serta mengusahakan suatu solusi sebelum terlambat.

    Baca juga: Paus: Liturgi harus memandang Tuhan tanpa duniawi

    Kerusakan lingkungan hidup sekarang ini merupakan akibat kegiatan manusia dan bukanlah suatu proses alamiah yang memang juga sudah beberapa kali terjadi dalam sejarah panjang kehidupan di bumi.

    Dengan cerita Nabi Nuh, teladan Yesus Kristus dalam relasi serasi-harmonis dengan alam, dan ajakan Paus Fransiskus, kita selalu berharap dan optimis bahwa masih ada kemauan dan semangat dalam mencari solusi untuk mengatasi krisis lingkungan hidup ini.

    Persepsi kami Dayak merawat dan menjaga alam itu penting

    Rumah Betang (rumah adat Dayak Kota Singkawang)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Persepsi kami Dayak merawat dan menjaga alam itu penting karena ia bagian dari hidup.

    Kami sangat anti mereka yang merusak alam terutama di sekitar tempat tinggal masyarakat. Masyarakat Dayak mengikat dirinya dengan adat, sehingga selalu menjaga lingkungannya dan tetap bersahabat dengannya. Berkaitan dengan membuka lahan (ladang), kami sangat terikat dengan adat-budaya.

    Dalam membuka ladang, kami sangat berhati-hati, sehingga tidak menimbulkan kebakaran. Masyarakat adat tidak berdaya terkait dengan pembukaan lahan berskala besar dan pertambangan baik legal maupun ilegal serta perkebunan.

    Baca Artikel Sebelumnya: Persepsi Masyarakat Adat dan Kapitalis terhadap Alam

    Berhadapan dengan big power, masyarakat adat berharap pemerintah baik daerah maupun pusat dapat membantunya. Masyarakat menolak bila membuka lahan yang luas, pertambangan, perkebunan hanya untuk kepentingan-keuntungan pribadi atau golongan.

    Zaman Globalisasi

    Dewasa ini lahan menjadi konflik horizontal-veritakal. Menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat adat tetap mempertahankan, menjaga dan memelihara, tetapi kalah dengan big power (kapitalis).

    Apalagi di zaman globalisasi ini usaha mempertahankan itu diakhiri dengan kekerasan. Perkebunan, perusahaan, pertambang boleh masuk menggarap lahan asalkan sesuai dengan prosedur dan tidak merusak alam, ungkap ketua DAD.

    Usaha tersebut untuk kepentingan dan keuntungan (kesejahteraan dan kemakmuran) bersama tentu masyarakat adat pasti menerima, tetapi bila untuk keuntungan pribadi jelas kami menolaknya.

    Masyarakat adat tetap menolak kegiatan yang sifatnya merusak alam, kami berprinsip bahwa siapa saja boleh membuka usaha di lahan yang ada, tetapi janganlah merusak alam, tegas ketua DAD.

    Fokus ke SDM

    Untuk ke depan ketua DAD memberi fokus perhatian pada sumber daya manusia (SDM) dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, dan keamanan. Untuk bidang ekonomi, ketua DAD mendorong agar tercipta ekonomi kreatif yang berciri ekonomi ekologis.

    Di samping itu, ketua DAD tetap berkewajiban melindungi-mengawal masyarakat kampung dalam berladang karena itu merupakan warisan nenek moyang dahulu.

    Pengaruh arus globalisasi dan peran big power, tidak terelakkan, sehingga ketua DAD tetap bekerja sama dengan masyarakat setempat, berkolaborasi dengan pemerintah berkewajiban melindungi masyarakat yang masih berladang.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Ketua DAD juga terus berpikir dan berkoordinasi untuk pendidikan generasi muda dalam bidang budaya-kearifan lokal dan lingkungan hidup (alam) agar tetap berkelanjutan.

    Senada dengan itu, Bapak Yanto di Desa Pengadang Kec. Sekayam Kab. Sanggau -Kalbar yang diwawancarai oleh Gordianus G, S. Ag. mengatakan demikian juga.

    Bahwa leluhur masyarakat Dayak memiliki kearifan lokal dalam berelasi dengan alam. Tradisi-budaya tersebut diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Prilaku yang mendatangkan Krisis

    Dalam berelasi dengan alam semesta (hutan, tanah, sungai dan binatang), kami memandang alam merupakan bagian yang sangat penting dalam kelangsungan hidup. Maka kami menghormati, menghargainya dan menjaga-merawatnya.

    Namun, sungguh ironis di zaman sekarang ini manusia tidak lagi memikirkan sebab-akibat dari perbuatannya.

    Sebagai contoh manusia menebang pohon-pohon di hutan, membuka lahan perkebunan berskala besar (kelapa sawit), menambang emas secara legal atau ilegal di sungai, dan sebagainya, sehingga terjadi banjir dan merusak serapan air dalam tanah serta mencemarkan air, tanah, udara bagi warga di sekitarnya.

    Selain itu, orang zaman sekarang lebih suka membuang sampah organik dan anorganik, menggunakan pupuk dan pestisida yang kimia, dan limbah industry, sehingga menjadi polusi lingkungan hidup. Perilaku tersebut mendatangkan krisis bagi lingkungan hidup dan muncul wabah penyakit Covid-19 seperti yang kita alami.

    Baca juga: JPIC (Justice Peace And Integrity Of Creation)

    Lanjut Bapak Yanto, bahwa perilaku tersebut sangat bertentangan dengan tradisi-budaya warisan leluhur dan hati nurani. Lingkungan hidup kita sudah rusak, sehingga perlu disembuhkan dan dipulihkan oleh manusia.

    Tanpa terkecuali kita semua mulai bergerak menanam pohon, tidak membuang sampah ke sungai, menjaga dan mempertahankan lahan yang ada supaya tidak dibuka berskala besar lagi, tidak menggunakan bahan-bahan kimia seperti pupuk-pestisida kimia, dan sebagainya yang mana merusak lingkungan hidup.

    “Jika ingin hidup sehat, jagalah kebersihan lingkungan hidup, jika mau alam tetap indah dan lestari jangan menebang pohon dan membuka lahan berskala besar.

    Jika hendak bebas dari Covid-19 gunakan masker, cuci tangan dan jaga jarak-jauh dari kerumunan massa”, demikian pesan Bapak Yanto. Selain itu, dalam menjaga dan merawat lingkungan hidup, perlu ada proses penyadaran dan pendidkan kepada generasi muda zaman milenial ini. Pendidikan perlu mendekatkan mereka dengan lingkungan hidup sesuai dengan kearifan lokal.

    Sejak dini mereka perlu ditanamkan dan dibakali bahwa hidup kita sangat tergantung dan membutuhkan alam sesuai dengan kearifan lokal (adat-budaya Dayak).

    Masyarakat adat bertugas menjaga keharmonisan alam

    Sebagian besar masyarakat adat di setiap tempat memiliki nilai hidup organik, kearifan lokal dalam menjaga biodiversity (keanekaragaman hayati), memiliki perilaku konservasi (menjaga lingkungan secara berkelanjutan) sudah mengakar dan diturunkan dari generasi ke generasi dalam berelasi-berhubungan dengan alam.

    Lingkungan hidup telah membentuk budaya yang kompleks dan menjadi sistem keyakinan masyarakat adat. Perilaku masyarakat adat dalam mengelola lingkungan hidup masih mentaati aturan adat-budaya.

    Sebagai hukum, adat mengatur etika dalam pengelolaan lahan, pemanfaatan hutan dan sungai.

    Hal ini menjadi dasar atas pemikiran, persepsi dan sikap yang diwariskan sepanjang generasi. Masyarakat adat bertugas menjaga keharmonisan alam, dengan cara menghormati dan bertanggung jawab atas hewan dan tanaman (biosfer) di lingkungan hutan.

    Baca juga: Persaudaraan Kontradus OFS Pontianak: Fransiskan Ada Jalan Hidup

    Peralihan dari masyarakat agraris ke industri dan masuk zaman modern (globalisasi-teknologi) dapat menggeser relasi manusia dengan lingkungan hidup. Masyarakat kampung dihadapkan kepada pendatang baru yang bekerja di perkebunan, perkayuan dan pertambangan.

    Perubahan budaya dan sistem tradisional-modern sungguh berdampak pada cara berelasi dan memperlakukan alam sebagai sumber kehidupan.

    Agar pemberdayaan potensi masyarakat adat tetap memperhatikan nilai budaya (kearifan lokal), kesejahteraan, kemerdekaan akses atas hak masyarakat indigenous dalam menentukan (self-determine) model bagi komunitas mereka sendiri.

    Perilaku Ekologis

    Hal ini diperlukan ada perlindungan tata hukum lokal (adat) dan pranata berfungsi dalam mengatur perilaku masyarakat sebagai penguat dan pengontrol perilaku ekologis.

    Tanpa alam semesta kita manusia tidak akan hidup, artinya kita membutuhkan alam, sedangkan alam tidak membutuhkan manusia.

    Maka kita memerlukan persepsi yang sama atas alam-lingkungan hidup yang menyediakan kebutuhan bagi manusia baik masyarakat adat maupun kapitalis, sehingga tidak menimbulkan konflik.

    Paling tidak persepsi yang dibangun bukan lagi eksploitasi yang merusak yang menuju kepunahan melainkan konservasi yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kita semua dipanggil untuk menyembuhkan dan memulihkan ibu bumi rumah kita yang sedang sakit (krisis) ini.

    Selesai…

    Persepsi Masyarakat Adat dan Kapitalis terhadap Alam

    Panorama Sawit di Hutan Kalimantan

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Bumi menyediakan hal yang cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak cukup untuk orang-orang yang serakah (Mahatma Gandhi).

    Manusia terus bertambah, tetapi bumi (tanah, air, dan udara) tidak. Kebutuhan manusia kian meningkat sementara sumber daya alam semakin berkurang. Ada benarnya kata Mahatma Gandhi.

    Bila manusia tidak mengendalikan kebutuhannya, sumber daya alam di bumi ini tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

    Baca juga: JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Inilah bedanya, persepsi masyarakat adat dan kapitalis terhadap kebutuhan dan sumber daya alam yang tersedia di bumi.

    Masyarakat adat memandang alam sebagai bagian penting yang menyatu dengan hidupnya, sehingga perlu dijaga dan dirawat, diperlakukan secara hormat dan bernilai spiritual (rohani). Sementara kapitalis melihat alam sebagai sumber kekayaan, sehingga dieksploitasi untuk mendapat keuntungan yang banyak.

    Perbedaan persepsi tersebut mengakibatkan krisis lingkungan hidup yang mendera kita sekarang ini.

    Paradigma, sikap dan perilaku

    Fenomena pandemi Covid-19 mulai menurun – berkurang, tetapi kita perlu serius berpikir atas krisis lingkungan hidup bahkan multidimensi krisis. Paradigma, sikap dan perilaku manusia masih kurang menghormati, menghargai, peduli pada alam semesta beserta isinya dan memperlakukannya secara tidak bertanggung jawab.

    Ulah manusia tersebut menimbulkan masalah seperti banjir dan erosi akibat deforestation (penggundulan hutan), krisis energi, polusi atas tanah, air, dan udara yang mendatangkan penyakit. Di samping itu, masalah global warming (pemanasan global) berdampak pada anomali iklim dan panas bumi yang ekstrim.

    Perilaku manusia yang berlebihan mengeksploitasi alam dan landskap pembangunan tanpa mempertimbangkan fungsi ekologis merupakan ancaman pemanfaatan lahan secara berkelanjutan.

    Persoalan krisis lingkungan hidup dan pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa perilaku manusia telah kehilangan kepedulian akan lingkungan hidup, menurunnya relasi harmonis antara manusia dan lingkungan hidup, manusia gelap melihat kesakralan-spritual (rohani) dari alam, sehingga perlu dicari solusi agar dapat menyembuhkan dan memulihkan ibu bumi demi keberlangsungan hidup kini dan mendatang.

    Relasi manusia dengan hutan

    Kalimantan sebagai pulau terbesar dan memiliki hutan tropis menjadi penjaga ekosistem bumi dan paru-paru di kawasan Indonesia, Asia, bahkan dunia. Pohon-pohon yang melimpah di hutan dan emas di sungai kini terancam di ambang kepunahan akibat eksploitasi pemegang konsesi hutan dan penambang.

    Hal ini berdampak pada deforestasi dan menurunnya jumlah spesies hutan dan sungai, serta kualitas air yang buruk. Potret perilaku masyarakat industri hutan dan tambang ini bertolak belakang dengan perilaku ekologis masyarakat adat (Dayak) yang tinggal dan hidup selama berabad-abad di sekitar hutan dan sungai.

    Baca juga: JPIC (Justice Peace And Integrity Of Creation)

    Masyarakat lokal memiliki cara tersendiri dalam memelihara dan menjaga hutan, tanah, sungai, binatang, dan sumber daya alam lainnya. Masyarakat mempunyai nilai kearifan lokal yang membangun perilaku dalam menjaga dan merawat lingkungan hidup. Leluhur telah mewariskan nilai-nilai rohani dan etika hidup bagaimana memperlakukan alam semesta dan berelasi dengannya.

    Relasi manusia dengan hutan, tanah, sungai pada masyarakat adat merupakan suatu jalinan yang menyatu dan utuh.

    “Kami selalu ingat Adat dan Budaya”

    Dalam berelasi dengan alam, menurut Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Singkawang, Drs. Stepanus Panus mengatakan bahwa setiap orang Dayak pada dasarnya taat dan patuh kepada adat.

    Setiap kali melangkah dan melakukan, kami selalu ingat akan adat dan budaya. Sejak zaman dahulu leluhur kami sudah terbiasa hidup dengan alam.

    Oleh karena itu, kami menyadari bahwa alam itu sungguh sangat penting, sehingga perlu dijaga dan dirawat ekosistem yang ada di dalamnya. Untuk menjaga relasi ini, DAD menjadi garda terdepan.

    Relasi manusia dengan alam bukan hanya berfungsi sosial melainkan menyatu, sehingga dikatakan alam itu sakral.

    Dalam hal ini ada kebiasaan orang Dayak ketika hendak melakukan sesuatu dengan alam dimulai dengan ritual adat. Artinya kami berelasi-berkontak dengan pemilik alam, yang disebut “Jubata” (Tuhan) untuk mendapat petunjuk dan direstui atau tidak. Misalnya ketika membuka ladang, kami pergi membawa batu asa ke suatu tempat.

    Selang dua atau tiga hari, kami akan mendengar tanda-tanda kicauan burung, apakah boleh atau tidak? Kalau boleh-diizinkan, kami mulai membuka lahan itu karena ada keyakinan tidak ada yang akan merusak ekosistemnya.

    Baca juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Jika tidak direstui, kami akan membatalkannya. Berkaitan dengan tempat sakral itu tergantung di daerah masing-masing. Ketua DAD menegaskan jika itu tempat sakral biasanya dibuat ritual berupa tolak bala, di Singkawang itu namanya “besam besam.”

    Kami membuat ritual bersama-sama di kampung itu, setelah ritual dibuat masyarakat tidak boleh keluar lagi dari kampung selama sehari-semalam, sehingga dengan begitu kampung tersebut dianggap bersih dari macam-macam gangguan atau untuk mengusir roh jahat.

    Berlanjut, Baca Bagian 2…

    TERBARU

    TERPOPULER